Anda di halaman 1dari 22

KARAKTERISTIK PULAU

BURU
Rangkuman geografis dan potensi

OKTOBER 2016

IWAMAHA
JAKARTA

KARAKTERISTIK WILAYAH PULAU BURU

1. Kondisi Geografi
a. Letak Geografis
Dengan telah disahkannya Undang Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Kabupaten
Buru Selatan, maka luas wilayah Kabupaten Buru telah berkurang menjadi 7.594,98 Km
yang terdiri dari luas daratan 5.577,48 Km dan luas lautan 1.972,5 Km serta luas
perairan 57,4 Km dengan panjang garis pantai 232,18 Km. Sedangkan berdasarkan letak
astronomi, Kabupaten Buru berada pada titik koordinat :
Bujur Timur : 12570 12721 BT
Lintang Selatan : 225 355 LS
b. Luas Wilayah
Kabupaten Buru dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Propinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara
Barat, yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2000. Dengan
memperhatikan

kepentingan

pelayanan

publik

dan

tuntutan

rentang kendali

pemerintahan, sampai dengan awal tahun 2008 wilayah pemerintahan kecamatan di


Kabupaten Buru mencakup 10 kecamatan. Selanjutnya, dengan telah diberlakukannya
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Buru Selatan,
maka 5 wilayah kecamatan yang secara geografis berada di bagian selatan Kabupaten
Buru

terpisah

menjadi

wilayah

otonom,

yakni

Kabupaten

Buru

Selatan.

Namun pada akhir Tahun 2012 terjadi pemekaran 5 Kecamatan baru yang tertuang
dalam Peraturan Daerah No. 20,21,22,23 dan 24 Tahun 2012 Tentang Pembentukan
Kecamatan Lolong Guba, Kecamatan Waelata, Kecamatan Fena Leisela, Kecamatan Teluk
Kaiely dan Kecamatan Lilialy, sehingga Kabupaten Buru menjadi 10 Kecamatan :
1. Kecamatan Namlea

: Ibukota Namlea

2. Kecamatan Airbuaya

: Ibukota Airbuaya

3. Kecamatan Waeapo

: Ibukota Waenetat

4. Kecamatan Waplau

: Ibukota Waplau

5. Kecamatan Batabual

: Ibukota Ilath

6. Kecamatan Lolong Guba : Ibukota Kubalahin


7. Kecamatan Waelata

: Ibukota Basalale
1

8. Kecamatan Fena Leisela : Ibukota Wamlana


9. Kecamatan Teluk Kaiely : Ibukota Kaiely
10. Kecamatan Lilialy

: Ibukota Sawa

Tabel I.1.
Luas Wilayah Kabupaten Buru dirinci Menurut Kecamatan
No. Kecamatan

Luas (Km2)

Jumlah Desa

1.

Namlea

951,15

2.

Airbuaya

1.702,35

10

3.

Waeapo

102,5

4.

Waplau

585,23

10

5.

Batabual

108,6

Lolong Guba

457,02

10

Waelata

234,50

10

Fena Leisela

2.831,65

13

Teluk Kaiely

141,08

10

Lilialy

481,50

Jumlah

7.595,58

81

Sumber : Simrenda 2014

Tabel I.2.
JUMLAH DESA DAN DUSUN
Jumlah

No.

Kecamatan

Jumlah Desa

1.

Namlea

2.

Airbuaya

10

3.

Waeapo

4.

Waplau

10

5.

Batabual

Lolong Guba

10

24

Waelata

10

21

Fena Leisela

13

22

Teluk Kaiely

Lilialy

Jumlah

81

103

Dus

Sumber : Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Buru


Selain wilayah adminitrasi pemerintahan dengan cakupan luas 7.595,58 Km2 yang
tercaver pada 10 kecamatan, 82 desa dan 103 dusun, di Kabupaten Buru terdapat 4
(empat) wilayah petuanan (regentshape) dengan karakteristik dan sistem peradatan,
kultur dan kearifan lokal yang kental, dimana pengaruh karakteristik itu dalam dimensi
keberagaman dan kehidupan sosial kemasyarakatan masih melekat kuat termasuk
proses jalinan asimilasi dan akulturasi antar sesama warga masyarakat yang berlangsung
aman dan harmonis. Keempat wilayah petuanan/regentshape dimaksud, antara lain ; (1)
Petuanan Leisela, (2) Petuanan Tagalisa, (3) Petuanan Lilialy, dan (4) Petuanan Kaiely, yang
masing-masing wilayah petuanan/regentshape dipimpin oleh pemerintahan adat dan
dikepalai oleh seorang Raja.
c. Fisiografi dan Topografi Wilayah
Secara fisiografi (makro relief), bentuk wilayah Kabupaten Buru dikelompokan
berdasarkan dataran, pantai dan perbukitan termasuk dataran tinggi (plateau/pedmont)
dengan

bentuk kelerengan variatif. Kabupaten Buru didominasi oleh kawasan


3

pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam dengan kemiringan lereng
kurang dari 40 % yang meliputi luas 15,43 % dari keseluruhan luas wilayah daerah ini.
Jenis kelerengan lain yang mendominasi adalah elevasi rendah berlereng bergelombang
serta agak curam dan elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak curam dengan
penyebaran lereng di bagian utara dan barat rata-rata berlereng curam. Sedangkan di
bagian timur terutama di sekitar Sungai Waeapo merupakan daerah elevasi rendah
dengan jenis lereng landai sampai agak curam. Sedangkan secara geomorfologis,
bentang alam di Kabupaten Buru dapat dikelompokan menjadi 4 (empat), yaitu ; bentang
alam asal vulkanik yang dicirikan dengan adanya topografi bergunung-gunung dan lereng
terjal, bentang alam asal denudasional yang membentuk rangkaian pegunungan dan
perbukitan berbentuk kubah, bentang alam asal solusial dan bentang alam asal fluvial
yang cenderung membentuk topografi datar pada lembah-lembah sungai.
d. Geologi dan Jenis Tanah
Kabupaten Buru merupakan salah satu kawasan di luar busur banda (jalur gunung api)
dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik. Dalam Peta
sketsa geologi Pulau Buru dan Pulau Seram, ditemukan 3 (tiga) material utama penyusun
Pulau Buru. Ketiga formasi dimaksud berada pada bagian selatan, utara dan formasi
deposisi di bagian timur laut, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut ;

Batuan Sedimen di bagian selatan yang kebanyakan dijumpai pada tempattempat dengan permukaan air yang dangkal, Sistem Informasi Perencanaan
Pembangunan Daerah (SIMRENDA) Kabupaten Buru Tahun 2014 -6-

Batuan Metamorfik yang mirip dengan tipe batuan benua yang meliputi filit, batu
sabak, sekis, arkose serta greywacke meta yangdomin an berada pada bagian
utara Pulau Buru,

Endapan Batuan sedimen berumur neogen bagian atas ditemukan pada bagian
timur laut sekitar Kawasan Waeapo tersusun dari endapan Aluvium dan Kolovium
berupa bongkahan, kerikil, lanau, konglomerat, lumpur dan gambut. Sedangkan
di sepanjang

pantai utara terdapat jalur endapan pantai dan aluvio-kolovium yang diselingi
dengan terumbu karang angkatan (uplifed coral reef).

Sebagian besar tanah di Pulau Buru adalah jenis tanah kompleks, dimana persebaran
jenis tanah ini meliputi ; alluvial, podsolik merah kuning, organosol, grumasol dan tanahtanah kompleks. Peralihan antara formasi batuan sedimen dan metamorfik terdapat di
TanjungBebek sekitar Wa esabak dan Waenekat di bagian utara barat menuju Danau
Rana bagian tengah ke arah Waeapo bagian hulu dan terus menyebar sampai ke Waeula
dan Waenani di sekitar Tanjung Wamsaba bagian timur.

e. Klimatologi
Iklim yang berlaku di Kabupaten Buru, yaitu low tropis yang dipengaruhi oleh angin
musim serta berhubungan erat dengan lautan yang mengelilinginya. Selain itu, luas
daratan yang berbeda-beda memungkinkan berlakunya iklim musim. Ciri umum dari
curah hujan tahunan rata-rata dibagi dalam empat kelas untuk tiga wilayah, antara lain ;

Buru Bagian Utara : 1400 - 1800 mm / tahun,

Buru Bagian Tengah : 1800 - 2000 mm / tahun,

Buru Bagian Selatan : 2000 - 2500 mm / tahun,

Pada kawasan yang berelevasi lebih dari 500 m dpl dengan rata-rata 3000 4000
mm / tahun berkaitan erat dengan perubahan ketinggian yang dimulai dari zona
pesisir, yang selanjutnya dapat diikuti pada bagian berikut. Sedangkan kondisi
suhu rata-rata 260 C.

f. Vegetasi
Dengan kondisi iklim yang tropis dan cukup hangat sepanjang tahun, berpengaruh
alamiah terhadap pertumbuhan jenis vegetasi tanaman kayu putih (tanaman khas),
selain itu kondisi alamnya relatif merangsang pertumbuhan jenis tanaman padi dan jenis
tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan lainnya. Sungai-sungai besar yang
terletak pada Dataran Waeapo merupakan sumber irigasi bagi pengembangan lahan
basah (persawahan). Sedangkan jenis tanaman kehutanan yang terdapat di Kabupaten
Buru adalah jenis Meranti, Kayu Besi, Jati, Rotan dan Damar.
g. Penggunaan Lahan
Keadaan lahan Pulau Buru dipengaruhi oleh kondisi tanah dan topografi, iklim dan curah
hujan yang sangat variatif, sehingga pada wilayah ini terdapat variasi pada kondisi
bebatuan dan jenis tanahnya. Penggunaan lahan terbesar adalah hutan tropis, semak,
belukar dan hutan sejenis. Daerah perkebunan tersebar hampir di semua kecamatan
sedangkan pengembangan lahan persawahan di Dataran Waeapo. Pengunaan lahan di
Kabupaten Buru secara umum dibagi dalam 4 (empat) tipe penggunaan lahan (TPL)
utama :

Pemukiman (desa induk dan dusun/desa bawahan) dan pekarangan,

Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah (SIMRENDA) Kabupaten


Buru Tahun 2014 -8-

Pertanian (persawahan, kebun campuran, perkebunan rakyat, tegalan dan ladang


termasuk pertanian lahan kering),

Penggunaan lahan diluar pertanian (alang-alang, semak belukar, hutan


didalamnya termasuk areal pengusahaan hutan oleh HPH),

Danau, rawa, endapan bahan galian C (pasir, kerikil, kerakal dan batu) tersebar
pada sungai dan pesisir pantai.

Kondisi Geografi dan Geologi Pulau Buru


Buru pulau terletak di antara dua lautan Samudera Pasifik - Laut Seram (Laut Seram) di
utara dan Laut Banda (Indonesia: Laut Banda) ke selatan dan barat. Di sebelah timur, itu
dipisahkan oleh Selat Manipa (Selat Manipa) dari Pulau Seram (Pulau Seram). Dengan
luas 9.505 km2 (3.670 sq mi), Buru adalah yang ketiga terbesar di antara Kepulauan
Maluku

(Kepulauan

Maluku)

setelah

Halmahera

dan

Seram.

Buru berbentuk oval memanjang sebagai dari barat ke timur. Panjang maksimum adalah
sekitar 130 km (81 mil) dari timur ke barat dan 90 km (56 mil) dari utara ke selatan. Pantai
yang halus, dengan lekukan-satunya yang Kayeli Bay terletak di pantai timur. Teluk ini
juga memiliki bentuk oval mulus. Ini meluas ke pulau untuk 8-12 km dan memiliki lebar
maksimum 17 km, lebar menurun hingga 9 km di mulut, panjang pantai Teluk adalah
sekitar 50 km. Pada bagian utara mulut berdiri Namlea -. Kota terbesar pulau.
Titik tertinggi di pulau (2.700 m (8.900 kaki) adalah puncak Gunung Kapalatmada (juga
disebut Kepala Madan, Kepalat Mada atau Ghegan). Di lepas pantai Buru terdapat
beberapa pulau kecil, yang dihuni secara permanen adalah Ambelau (yang

terbesar,

sekitar 10 km dengan diameter, terletak sekitar 20 km sebelah selatan-timur dari Buru)


dan Tengah (Pulau Tengah). Pulau-pulau tak berpenghuni terbesar adalah Fogi (Pulau
Fogi),

Oki

(Pulau

Oki)

dan

Tomahu

(Pulau

Tomahu).

Relief itu kebanyakan bergunung-gunung, terutama di bagian tengah dan barat.


dari 9.505 km dari luas pulau, 1.789 km ketinggian 900 m di atas
872 km di atas 1.200 m dan 382 km di atas 1.500 m. Daerah

datar

permukaan laut,
yang terletak di

garis-garis sempit dekat pantai dan sepanjang tepi sungai Apo - sana
membentuk sebuah lembah dengan nama yang sama. Sebagian besar
dengan

hutan

hujan

Jadi

mereka

pulau ditutupi
tropis.

Dengan panjang sekitar 80 km (50 mil), Apo adalah sungai terbesar Buru. Ini mengalir
hampir lurus ke utara-timur dan bermuara di Teluk Kayeli, namun tempat tidur yang
sangat berkelok-kelok pada skala meter ratusan, dengan loop sepanjang panjang. Dua
sungai permanen lainnya adalah Geren dan Nibe, sisanya adalah sungai periodik dengan
aliran terputus. The debit sungai bervariasi secara signifikan sepanjang tahun mencapai
maksimum pada musim hujan Perhatikan bahwa sumber-sumber Indonesia sering
termasuk wae (artinya sungai) sebelum nama sungai;. Sehingga Apo sering disebut
6

sebagai Waeapo atau Wae Apo, ia juga disebut Apu dalam beberapa dialek lokal. Di
tengah-tengah pulau di ketinggian 767 meter (2.516 kaki) terletak sebuah danau air tawar
Rana (Indonesia: Danau Rana). Ini adalah danau hanya signifikan di Buru, ia memiliki
bentuk hampir persegi panjang dengan panjang sekitar 4,3 km, lebar sekitar 2,7 km dan
luas

11,5

km2

(4,4

sq

mi).

Kerak bumi terdiri dari beberapa jenis deposito. Hal ini didominasi oleh batuan sedimen
Kenozoikum, mungkin berasal dari benua Australia, Juga hadir adalah batuan vulkanik
muda dan endapan aluvial yang lebih baru deposito sedimen berupa lumpur, gambut,
pasir dan lumpur yang sebagian besar ditemukan di. lembah-lembah sungai. Batuan
metamorf batu tulis, sekis dan arkose mendominasi bagian utara pulau itu. Deposit
mineral sangat sedikit Buru memiliki nilai industri, dan hanya kapur yang ditambang
secara komersial. Namun, cadangan besar minyak dan gas ditemukan di rak pada tahun
2009. Ada banyak terumbu karang di sekitar pulau. Tanah sebagian besar terdiri dari
kuning-merah Podsol, Organosol, grumosol dan berbagai campuran.

GEOGRAFI REGIONAL PROVINSI MALUKU

Kepulauan Maluku adalah sekelompok pulau di Indonesia yang merupakan bagian


dari Nusantara. Kepulauan Maluku terletak di lempeng Australia. Ia berbatasan dengan
Pulau Sulawesi di

sebelah

barat, Nugini di

timur,

dan Timor Leste

di

sebelah

selatan, Palau di timur laut. Pada zaman dahulu, bangsa Eropa menamakannya
Kepulauan rempah-rempah istilah ini juga merujuk kepadaKepulauan Zanzibar.
Sejak 1950 1999, Kepulauan Maluku Utara secara administratif merupakan bagian dari
Provinsi Maluku. Kabupaten Maluku Utara kemudian ditetapkan sebagai Provinsi Maluku
Utara.
Maluku sebagai salah satu beberapa provinsi di Indonesia Timur, yang memiliki lokasi
strategis karena berlokasi antara Pemerintah Pusat dan barat Provinsi Papua di bagian
timur Indonesia dan juga sebagai penghubung dari Australia Selatan dan Timor-Leste
dengan Northern Territory di Maluku Utara dan Sulawesi.
1. Geografis
Secara geografis batas-batas antara Maluku Utara dan Provinsi Maluku di bagian Bagian
Utara, barat papua provinsi di timur, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah di Barat,
dan The Republik Demokratik Timor-Leste dan Australia di Selatan. Sementara secara
total 581 daerah 376 km2 yang terdiri dari 527 191 km2 wilayah laut laut, dan 54 185 km2
wilayah laut, atau dengan kata lain sekitar 90% Provinsi Maluku merupakan daerah laut.
Sebagai Provinsi Kepulauan, Maluku memiliki 559 pulau yang memiliki pulau-pulau yang
relatif besar beberapa, antara lain: pulau Seram (18 625 km2), Pulau Buru (9000 km2)
Yamdena (5085 km2) dan Pulau Wetar (3624 km2). Dengan kondisi dominan perairan
daerah, Provinsi Maluku sangat terbuka untuk berinteraksi dengan yang lain Provinsi dan
negara-negara sekitarnya.
2. Iklim
Pulau Maluku memiliki iklim monsoon tropis iklim ini sangat dipengaruhi oleh
keberadaan laut perairan yang luas dan berlangsung seirama dengan musim climatc
sana. Suhu rata-rata berdasarkan stasiun Meteorologi di Ambon, Tual dan Saumlaki
masing C 26,80, 27,70 C dan 27,40 C. Suhu minimum masing-masing 24,00, 24,70 C dan
23,80 C, sedangkan suhu Tual, kelembaban rata-rata mencapai 85,4% ketika merekam
Saumlaki Stasiun Meteorologi menunjukkan kelembaban rata-rata adalah 80,2%.

3. Topografi
Topografi kondisi rata-rata wilayah Kota Ambon agak datar, mulai dari pantai ke daerah
pemukiman. Morfologi daratan Kota Ambon juga bervariasi dari datar, bergelombang,
daerah bergelombang, berbukit dan bergunung dengan lereng curam yang lembut untuk
8

sedikit dominan. Daerah datar memiliki kemiringan 0-3%, kemiringan bergelombang 38%, daerah bergelombang 8-15%, daerah perbukitan elevasi kemiringan 15-30% dan
daerah pegunungan lebih besar dari 30%. Sedangkan untuk Kabupaten Maluku Tengah,
Seram Barat dan timur Seram, topografi umumnya berbukit.

0-2%, miring /

bergelombang 3-15% agak curam 15-40% dan sangat curam 40%.


Topografi Kabupaten Maluku Tenggara dibagi atas dataran, perbukitan dan pegunungan
dengan lereng datar (0-3%), datar / bergelombang (0-3%), bergelombang (8-15%), agak
curam (15-30% ) dan sangat curam (> 50%). Tinggi luas permukaan laut dibagi menjadi
tiga kelas, yaitu di ketinggian rendah daerah (elevasi 000-100 m), tengah (100-500 m), dan
dataran tinggi dengan ketinggian (> 500 m).
Topografi Kabupaten Buru sebagian besar berbukit dan daerah pegunungan dengan
kemiringan 15-40% dan sedangkan 40%, sisa tinggi dari varietas biasa. Puncak gunung
tertinggi terletak di wilayah Kapalamada barat utara Buru dengan ketinggian 2736 meter
di atas permukaan laut (ASL), setelah Danau Rana dengan ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan laut, Danau Rana diperkirakan di kisaran 700 -750 meter di atas
permukaan laut. Dengan menggunakan pendekatan bentang alam, kabupaten Buru
diklasifikasikan atas, bukit pesisir dataran dan pegunungan termasuk varietys dari
dataran tinggi dan lereng.
4. Luas wilayah
Luas wilayah Provinsi Maluku adalah581.376 km2, terdiri dari lautan 527.191 km2 (90,7%)
dan 54.185 km2 daratan (9,3%). Provinsi Maluku terdiri dari 9 kabupaten, 2 kota, 90
kecamatan, 33 kelurahan, dan 989 desa. Wilayah kepulauan Maluku memiliki posisi yang
strategis karena terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia yang
mempunyai karakteristik masa air yang berbeda, menjadikan perairan Maluku subur
sehingga menjadi jalur ruaya atau migrasi ikan dan terletak di tengah segitiga terumbu
karang dunia yang berfungsi sebagai amazonnya lautan dunia.

5. Sejarah Maluku: Moluccas (Maluku)


Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas dan Molukken adalah
provinsi tertua yang ada di Indonesia dimana lintasan sejarah Maluku sudah dimulai
sejak zaman kerajaan-kerajaan besar di Timur Tengah, seperti kerajaan Mesir yang
dipimpin Firaun. Bukti bahwa sejarah Maluku adalah yang tertua di Indonesia adalah
catatan tablet tanah liat yang ditemukan di Persia, Mesopotamia dan Mesir menyebutkan
adanya negeri dari timur yang sangat kaya, merupakan tanah surga, dengan hasil alam
berupa cengkeh, emas dan mutiara, daerah itu tak lain dan tak bukan adalah tanah
Maluku yang memang merupakan sentra penghasil Pala, Fuli, Cengkeh dan Mutiara. Pala
dan Fuli dengan mudah didapat dari Banda Kepulauan, Cengkeh dengan mudah ditemui

di negeri-negeri di Ambon, Pulau-Pulau Lease (Saparua, Haruku & Nusa laut) dan Nusa
Ina serta Mutiara dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar di Kota Dobo, Kepulauan.
a. Lintasan Sejarah
Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku memiliki perjalanan
sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara
keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal
di dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan
Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari
rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya
bangsa-bangsa

lain

kedaerah

ini.

Pada abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi
Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota
pelabuhan seperti Konstatinopel. Abad ke-14 adalah merupakan masa perdagangan
rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan
Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai
1400. Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku.
Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia Tenggara.
Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-rempah di
Maluku.
Dimasa Dinas Ming (1368 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam
berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang
berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang
hijau dan dipenuhi pohon cengkih sebuah oase ditengah laut sebelah tenggara. Marco
Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di
Sumatra.
b. Era Portugis
Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512.
Pada waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony dAbreu
dan Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah
mereka menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat seperti
dengan Kerajaan Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng
di Pikaoli, begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon.Namun hubungan
dagang rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem
monopoli sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.
Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546,
kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal
10

lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan


penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570.
Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis
harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.
c. Era Belanda
Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan
kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk
menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore
kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram,
dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar
wilayah Maluku.
Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602,
dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Di bawah kepemimpinan
Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di Maluku sepunuh
di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini VOC tidak segansegan mengusir pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan puluhan ribu orang
Maluku menjadi korban kebrutalan VOC. Pada permulaan tahun 1800 Inggris mulai
menyerang dan menguasai wilayah-wilayah kekuasaan Belanda seperti di Ternate dan
Banda. Dan, pada tahun 1810 Inggris menguasai Maluku dengan menempatkan seorang
resimen jendral bernama Bryant Martin. Namun sesuai konvensi London tahun 1814
yang memutuskan Inggris harus menyerahkan kembali seluruh jajahan Belanda kepada
pemerintah Belanda, maka mulai tahun 1817 Belanda mengatur kembali kekuasaannya
di Maluku.
d. Pahlawan
Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari
rakyat.

Hal

ini

disebabkan

karena

kondisi

politik,

ekonomi,

dan

hubungan

kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit
mengangkat senjata di bawah pimpinan Thomas Matulessy yang diberi gelar Kapitan
Pattimura, seorang bekas sersan mayor tentara Inggris. Pada tanggal 15 Mei 1817
serangan dilancarkan terhadap benteng Belanda Duurstede di pulau Saparua. Residen
van den Berg terbunuh. Pattimura dalam perlawanan ini dibantu oleh teman-temannya
; Philip Latumahina, Anthony Ribok, dan Said Perintah. Berita kemenangan pertama ini
membangkitkan semangat perlawanan rakyat di seluruh Maluku. Paulus Tiahahu dan
putrinya Christina Martha Tiahahu berjuang di Pulau Nusalaut, dan Kapitan Ulupaha di
Ambon. Tetapi Perlawanan rakyat ini akhirnya dengan penuh tipu muslihat dan kelicikan
dapat ditumpas kekuasaan Belanda. Pattimura dan teman-temannya pada tanggal 16
Desember 1817 dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan, di Fort Niew Victoria, Ambon.
11

Sedangkan Christina Martha Tiahahu meninggal di atas kapal dalam pelayaran


pembuangannya ke pulau Jawa dan jasadnya dilepaskan ke laut Banda.
e. Era Perang Dunia Ke Dua
Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II
mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jendral Belanda
A.W.L. Tjarda van Starkenborgh , melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia
Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang. Tentara Jepang tidak banyak kesulitan
merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara
melalui pulau Morotai dan dari timur melalui pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh
Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang. Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II,
tentara Australia sempat bertempur melawan tentara Jepang di desa Tawiri. Dan, untuk
memperingatinya dibangun monumen Australia di desa Tawiri (tidak jauh dari Bandara
Pattimura).
Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan
sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan
Propinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang
menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali
sistem pemerintahan colonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah
yang kaya dengan rempah-rempahnya ini bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan
kedaulatan pada tahun 1949 dengan mensponsori terbentuknya Republik Maluku
Selatan (RMS).
6. Keadaan Sosial Ekonomi
a. Pemerintahan
Provinsi Maluku terdiri dari 9 kabupaten, 2 kota, 90 kecamatan, dan jumlah desa/
kelurahan definitive sebanyak 1.022 terdiri dari 33 kelurahan dan 989 desa. Kabupaten/
kota tersebut adalah Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Maluku
Tenggara, Kabupaten Buru, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Kabupaten Seram Bagian
Barat, Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Buru
Selatan, Kota Tual, dan Kabupaten Maluku Barat Daya. Ibu kota Provinsi Maluku adalah
Kota Ambon.

b. Pendidikan
Berdasarkan hasil SP2010, penduduk Provinsi Maluku usia 5 tahun ke atas yang tamat
SM/sederajat sebesar 23,24 persen, tamat DI/DII/DIII sebesar 2,35 persen, tamat DIV/S1
sebesar 3,29 persen dan tamat S2/S3 sebesar 0,21 persen.

12

c. Tenaga Kerja
Jumlah penduduk yang merupakan angkatan kerja di Provinsi Maluku sebesar 586 718
orang, di mana sejumlah 574 948 orang diantaranya bekerja, sedangkan 11 770 orang
merupakan pencari kerja. Dari hasil SP 2010, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di
Provinsi Maluku sebesar 60,28 persen, di mana TPAK laki-laki lebih tinggi daripada TPAK
perempuan, yaitumasing-masing sebesar 74,35 persen dan 46,39 persen. Sementara itu,
bila dibandingkan menurut perbedaan wilayah, TPAK di perkotaan lebih rendah daripada
perdesaan, masing-masing sebesar 51,87 persen dan 65,82 persen. Tiga kabupaten/kota
di Provinsi Maluku dengan TPAK tertinggi berturut-turut adalah Kabupaten MalukuBarat
Daya (71,37), Kabupaten Maluku Tenggara Barat (70,70), dan Kabupaten Seram Bagian
Barat (68,10).Dengan jumlah pencari kerja sejumlah 11 770 orang, Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) di provinsi ini mencapai 2,01 persen.
d. Penduduk
Jumlah penduduk Provinsi Maluku sebanyak 1 533 506 jiwa yang bertempat tinggal di
daerah perkotaan sebanyak 569 395 jiwa(37,13 persen) dan di daerah perdesaan
sebanyak 964 111 jiwa (62,87 persen). Penduduk laki-laki Provinsi Maluku sebanyak 775
477 jiwa dan perempuan sebanyak 758 029 jiwa.
e. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Angka PDRB atas dasarharga berlaku, pada tahun 2011 sebesar 9.594.886 (juta rupiah),
mengalami peningkatan sebesar 18,68 persen dari tahun 2010 yang hanya sebesar
8.084.807 (juta rupiah). Kemudian bila PDRB ini dilihat atas dasar harga konstan 2000,
maka PDRB pada tahun 2011 adalah sebesar 4.507.336 (juta rupiah) atau mengalami
kenaikansebesar 6,02 persen dari tahun 2010 yang sempat mencapai 4.251.356 (juta
rupiah). Angka 6,02 persen tersebut merupakan laju pertumbuhan ekonomi daerah
Maluku padatahun 2011 dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada tahun 2010. Nilai
PDRB sektor kehutanan belum bisa ditampilkan secara detail.
f. Budaya dan Nilai
Nilai-nilai sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Maluku
merupakan salah satu modal dasar bagi peningkatan persatuan dan kesatuan termasuk
menyemangati masyarakat dalam melaksanakan pembangunan di daerah ini.
Hubungan-hubungan kekerabatan adat dan budaya harus terus didorong sehingga
dapat menciptakan sinergitas yang andal bagi upaya bersama membangun Maluku Baru
di masa mendatang. Salah satu diantaranya adalah filosofi Siwalima yang selama ini telah
melembaga sebagai world view atau cara pandang masyarakat tentang kehidupan
bersama. Dalam filosofiini, terkandung berbagai panata yang memiliki common values

13

dan dapat ditemukan di seluruh wilayah Maluku. Sebutlah pranata budaya seperti
Masohi, maren, swen, sasi, hawear, pela-gondong dan lain sebagainya.
Siwalima adalah pendekatanyang mempunyai posisi sentral dalam suatu susunan
pendekatan yang berwatak jamak. Artinya, hanya di dalam pendekatan Siwa Lima,
pendekatan-pendekatan lainnya dimodulasikan dan berproses secara utuh dan dinamis
untuk merencanakan, rakyat di daerah Maluku, kemarin, hari ini dan yang akan datang.
Dalam konteks pembangunan daerah nilai-nilai budaya lokal yang masih ada dan hidup
di kalangan masyarakat, dapat dipandang sebagai modal sosial yang perlu dimanfaatkan
bagi kepentingan pembangunan daerah. Filsafat Hidup Masyarakat Setempat
Manggurebe maju, lawamena hau lala, artinya bersatu membangun Maluku maju terus
pantang mundur. Katong samua satu gandong satu jantung dan satu hati, artinya kita
semua sekeluarga/saudara.
1. Fisiografi dan Topografi Wilayah
Bentuk wilayah Kabupaten Buru dikelompokkan berdasarkan pendekatan fisiografi
(makro relief), yaitu dataran, pantai, perbukitan dan pegunungan termasuk didalamnya
dataran tinggi (plateau / pedmont) dengan kelerengan yang bervariasi. Kabupaten Buru
didominasi oleh kawasan pegunungan dengan elevasi rendah berlereng agak curam
dengan kemiringan lereng > 40% yang meliputi luas 15,43% dari keseluruhan luas daerah
ini. Jenis kelerengan lain yang mendominasi kawasan ini adalah elevasi rendah berlereng
bergelombang dan agak curam serta elevasi sedang berlereng bergelombang dan agak
curam dengan penyebaran lereng di bagian Utara dan Barat rata-rata berlereng curam
terutama di sekitar Gunung Kepala Madan. Sedangkan di Bagian Timur terutama di
sekitar Sungai Waeapo merupakan daerah elevasi rendah dengan jenis lereng landai
sampai agak curam.
Kabupaten Buru merupakan salah satu kawasan di luar busur banda (jalur gunung api)
dengan formasi geologi bervariasi antara batuan sedimen dan metamorfik. Dalam peta
sketsa Pulau Buru dan Seram, diuraikan bahwa secara umum ditemukan 3 (tiga) material
utama penyusun Pulau Buru. Tiga formasi dimaksud berada pada bagian Selatan, Utara
dan formasi disposisi di bagian Timur Laut, yang masing-masing dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Batuan sedimen di bagian selatan yang kebanyakan dijumpai pada tempattempat dengan permukaan air yang dangkal.
2. Batuan metamorfik yang mirip dengan tipe batuan benua yang meliputi filit, batu
sabak, sekis, arkose serta greywacke meta yang dominan berada pada bagian
Utara Pulau Buru.

14

3. Endapan batuan sedimen berumur neogen bagian atas ditemukan pada bagian
Timur Laut sekitar kawasan Waeapu tersusun dari endapan aluvium dan kolovium
berupa bongkahan, kerikil, lanau, konglomerat, lumpur dan gambur. Sedangkan
di sepanjang pantai Utara terdapat jalur endapan pantai dan aluvio-kolovium yang
diselingi dengan terumbu karang angkatan (uplifted coral reef).
1. Geomorfologi dan Hidrogeologi
Kondisi geomorfologi Pulau Buru dan pulau-pulau kecil lainnya yang termasuk kedalam
Kabupaten Buru dikontrol oleh geologi regional Provinsi Maluku, dimana wilayah ini
merupakan ujung barat busur kepulauan non magmatik dari lingkaran sirkam pasifik.
Oleh karena itu, Kepulauan Buru dapat dikelompokan kedalam beberapa satuan
geomorfologi, sebagai berikut :
1. Satuan geomorfologi perbukitan / pegunungan lipatan patahan yang menempati
wilayah bagian tengah Kabupaten Buru;
2. Satuan geomorfologi pegunungan homoklin yang meliputi wilayah Bagian Utara
dan Selatan Kepulauan Buru;
3. Satuan geomorfologi lembah dan bataran sungai yang mengikuti lembah sungaisungai besar juga menjadi wilayah permukiman.
Kondisi hidrogeologi Pulau Buru dan pulau-pulau kecil lainnya yang termasuk dalam
Kabupaten Buru adalah sebagai berikut :
1. a) Pola Aliran Sungai
Sebagaimana telah dijelaskan didepan, sungai sebagai unsur geografi yang ada di
Kabupaten Buru (28 sungai) mempunyai pola aliran ; dendritik (menurun), paralell, trellis,
rektanguler dan radier mengalir menuju pantai kontrol oleh struktur geologi (patahan,
ekahan dan sistem perlipatan batuan) yang terdapat di wilayah ini. Tingkat kerapatan
sungai sangat intensif, dimana hampir seluruh wilayah Kabupaten Buru tertutup oleh
pola aliran sungai baik yang bersifat permanen maupun intermittent.
Berdasarkan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka kondisi pola aliran sungai dapat
dibagi kedalam 4 (empat) arah aliran sungai, yaitu :
1. DAS Air Buaya yang mengalir kearah utara dengan tingkat kecepatan sedang;
2. DAS Namlea yang mengalir kearah timur dengan tingkat kecepatan tinggi sangat
tinggi;
3. DAS Leksula yang mengalir kearah selatan dengan tingkat kecepatan sedang
tinggi;
15

4. DAS Labuan Leko yang mengalir kearah barat dengan tingkat kecepatan rendah
sedang.
b). Zona Air Tanah
Dari kondisi tersebut di atas dan didukung oleh kontrol batuan dan struktur geologi,
maka secara umum neraca air tanah menunjukkan terdapat 2 (dua) zona air tanah, yaitu
:
1. Zona air tanah rendah, yang pada umumnya menempati punggung pemisah air
morfologi (morphological water devided) sebagai pemisah daerah tangkapan hujan
(catchment area) keempat wilayah DAS tersebut diatas serta pada 2 (dua)
punggung yang terdapat di selatan daerah studi.
2. Zona air tanah sedang tinggi menempati hampir seluruh wilayah studi, yang
mengelilingi Pulau Buru. Kawasan ini dapat tercapai jika sistem vegetasi tetap
terjaga, sehingga tingkat peresepan (recharged) dapat dipertahankan dan surface
run off dapat dicegah dan diperkecil.
c). Hidro Oceanografi
Sesuai dengan kondisi geografinya Kabupaten Buru dikelilingi oleh Laut Seram di Utara
dan Laut Banda di Selatan dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan sebagai kabupaten
yang berada di dalam Provinsi Maluku. Oleh karena itu, pada bagian utara dan selatan
berada pada posisi gapura energi gelombang yang tinggi pada musim barat maupun
musim timur, dengan arus laut dari selatan yang sangat kuat pada musim timur yang
berlangsung Juni sampai September.
Berdasarkan kondisi tersebut dan sesuai dengan posisi Pulau Buru yang berada di busur
luar kepulauan non magmatik, maka Laut Seram di Utara dan Laut Banda di Selatan
merupakan 2 (dua) palung laut dalam (samudera) yang sangat mempengaruhi wilayah
ini, dengan kondisi batimetri yang sangat dalam. Disisi lain Pulau Buru memiliki potensi
sumber daya perikanan yang tinggi didukung keberadaan di jalur ALKI III
menghubungkan Timur, Barat, dan Utara seperti telah dijelaskan sebelumnya.
2. Geologi
Kondisi geologi di Kabupaten Buru adalah sebagai berikut :
1. Satuan litostratigrafi Kabupaten Buru disusun oleh batuan metamorfosa /
malihan, yang ditutup oleh batuan sedimen baik selaras maupun tidak selaras
diatasnya, serta batuan terobosan / intrusi yang memotong batuan metamorfosa
dan batuan sedimen.

16

2. Struktur geologi, sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa batuan tertua di


Pulau Buru adalah kompleks, metamorfosa / malihan regional dinamotermal yang
berumur pra tersier (permo).
Poros lipatan (antiklin dan sinklin) yang berarah Barat Laut Tenggara menunjukkan
bahwa tekanan gaya kompressoal berasal dari Timur Laut Barat Daya untuk batuan
yang berumur pra tersier. Kemudian pada tersier pola arah umum perlipatan menjadi
Timur Barat, yang berarti bahwa arah gaya kompressional berarah Utara Selatan, hal
ini menunjukkan adanya rotasi dari pra tersier ke tersier.
1. Aspek Kawasan
2. Hutan Negara
3. Luas Kawasan Hutan
Luas Kawasan hutan di Provinsi Malukusesuai SK Menhut No. 415/Kpts-II/1999 tanggal
15 Juni 1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Maluku adalah
seluas 7.264.707 ha, sedangkan luas daratan kawasan hutannya mencapai 7,146,109 ha.
Kawasanhutan tersebut meliputi :
1. Hutan Konservasi seluas 443.345 ha
2. Hutan Lindung seluas 1.809.634 ha
3. Hutan Produksi Terbatas seluas 1.653.625 ha
4. Hutan Produksi Tetap seluas 1.053.171 ha
5. Hutan Produksi yang dapat dikonversi 2.304.932 ha
Berdasarkan gambar dapat diketahui bahwa 31.73% kawasan hutan (daratan) yang ada
di Provinsi Maluku merupakan Hutan produksi yang dapat dikonversi, 24.91% hutan
lindung, 22.76% hutan produksi terbatas, 17,914.503% hutan produksi tetapi, dan 6.10%
merupakan hutan konservasi.
2. Luas Penutupan Lahan
Kondisi penutupan lahan di Provinsi Maluku berdasarkan hasil penafsiran Citra Landsat
7 ETM+ Tahun 2009/2010 adalah sebagai berikut :
3. Posisi kawasan hutan dalam DAS
Kawasan hutan yang berada di Provinsi Maluku masuk kedalam 429 DAS dengan luas
4.584.127,59 ha dengan rincian sebagai berikut :

prioritas I sebanyak 21 DAS


17

prioritas II sebanyak 351 DAS, dan

prioritas III sebanyak 57 DAS.

Adapun DAS prioritas utama nasional sebanyak 3 DAS yaitu DAS Wae Apu Batu Merah
(Pulau Ambon), DAS Wae Apu (Pulau Buru), dan DAS Wae WokamBenjina (Kepulauan
Aru).
4. Penggunaan dan tukar menukar kawasan hutan
Perkembangan atau progres pinjam pakai kawasan hutan di Provinsi Maluku sampai
dengan tahun 2012 yaitu :
1. Pertambangan
2. Izin pinjam pakai seluas 10.392 ha(6 IUP di Pulau Romang dan Bula)
3. Rekomendasi Gubernur Maluku seluas 114.274 ha (28 IUP di Pulau Wetar
dan Pulau Damar)
1. Jalan Umum
2. Izin pinjam pakai seluas 5.397 ha (Pulau Buru di Wamlana Danau Rana)
3. Izin prinsip seluas 111,30 ha (SalemanBesi dan Ilwaki lurang Pulau Wetar)
1. Usaha Perkebunan:
2. Izin pelepasan kawasan hutan seluas 2.249 ha (Seram Bagian Barat)
3. Rekomendasi Gubernur Maluku seluas 618.222,50 ha (Seram Utara dan
Kepulauan Aru)
1. Usaha Pemukiman transmigrasi:
2. Izin pelepasan kawasan hutan seluas 1.850,58 ha (Seram Utara/ PasahariSawai)
3. Persetujuan Prinsip seluas 34.039 ha(Seram Utara dan Seram Timur).

1. Aspek Sumberdaya Hutan


2. Potensi kayu atau non kayu
3. Potensi Kayu

18

Dengan luas kawasan hutan produksi yang dapat dimanfaatkan (Hutan Produksi atau
Hutan Produksi Tetap) mencapai 36persen dari total luas kawasan hutan, potensi hasil
hutan kayu diMaluku diperkirakan 700.000 m3 per tahun. Jenisjenis komersial dominan
meliputi meranti (Shorea sp), nyatoh (Palaquium spp), matoa (Pometia spp), merbau
(Intsia spp), nanari (Canarium sivetre), kenari (Canarium commune), pulai (Alstonia spp),
durian (Durio spp), torem (Manilkara kanosiensis H.j. L. et B. M.), binuang (Octomeles
sumatrana Miq), bintangur (Calophyllum spp), samama (Anthocephalus spp), ketapang
(Terminalia catappa), gijawas hutan (Parastemon vresteeghii). Jenis lainnya meliputi kayu
burung (Elaeoucarpus ganitrus), makila (Letsea angulata), pulaka (Octomeles sp), kayu
merah (Eugenia spp), eucalyptus (Eucalyptus spp), lasi (Adinauclea fagifolia Ridsd), rengas
(Gluta spp), uhun (Eucalyptus papuana), jambu hutan (Eugenia spp), sengon (Albizzia
falcataria), linggua (Pterocarpus indicus Willd), eboni (Diospyros sp), melur (Podocarpus
spp), dahu (Dracontomelon spp), batu (Irvingia malayana Oliv), mersawa (Anisoptera spp),
medang (Cinnamomum spp), simpur (Dillenia obovata), jambu hutan (Eugenia spp),
mangga hutan (Mangifera spp) dan jenis komersial lainnya.
2. Potensi Non Kayu
Sedangkan potensi hasil hutan bukan kayudominan adalah minyak kayu putih, gaharu/
kemedangan, damar, dan rotan dengan penyebaran potensi hasil hutan kayu meliputi:
1. Rotan tersebar di Pulau Buru, Pulau Seram, Pulau Yamdena, Kei Besar dan PulauPulau Terselatan (belum dimanfaatkan secara komersial/ diperdagangkan)
2. Damar tersebar di Pulau Buru dan Pulau Seram
3. Bambu tersebar di Pulau Seram (belum dimanfaatkan secara komersial/
diperdagangkan)
4. Minyak Kayu Putih tersebar di Pulau Buru dan Seram Bagian Barat.
5. Minyak Lawang tersebar di Pulau Seram dan Kei Besar (baru diperdagangkan/
dimanfaatkan secara terbatas)
6. Madu tersebar di Seram Bagian Timur, Pulau Kisar dan Wetar (baru
diperdagangkan/ dimanfaatkan secara terbatas)
7. Gaharu/ Kemedangan tersebar di Pulau Seram dan Pulau Buru (baru
diperdagangkan secara terbatas dan belum dibudidayakan)
8. Sagu tersebar di Pulau Seram dan Kepulauan Aru
9. Satwa liar di Pulau Buru, Pulau Seram, Kepulauan Aru dan Kepulauan Tanimbar

19

POTENSI UNGGULAN PROVINSI


Potensi unggulan yang dapat dikembangkan antara lain:
1. Budidaya gaharu
Potensi kayu gaharu di Maluku saat ini cukup menjanjikan dan bila potensi Hasil Hutan
Bukan Kayu (HHBK) seperti gaharu ini menjadi perhatian dan dikelola dengan baik, maka
dipastikan akan meningkatkan pendapatan petani, sehingga dengan sendirinya dapat
menekan angka kemiskinan di Maluku. Lahan di Maluku yang tersebar pada pulau-pulau
terutama pulau Buru, Seram dan Maluku Tenggara menjadi salah satu daya dukung
untuk pengembangan gaharu.
2. Minyak kayu putih
Tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi subsp.cajuputiatau dalam literatur lama sering
juga disebut dengan Melaleuca leucadendron(Doran and Turnbull 1997)) merupakan
tanaman asli Indonesia yang cukup penting bagi industri minyak esensial. Daun kayu
putih saat ini ada yang mengandung 2,3% cineole, yang merupakan salah satu jenis
monoterpenes dari jenis monocyclic, dalam jumlah besar (15-60%) yang mempunyai
fungsi pengobatan (Turnbull 1986, Boland et al. 1991). Di samping itu juga mengandung
sesquipentene alcohols globulol, viridiflorol, dan spathulenol sebagai minyak esensial
utama (Brophy and Doran 1996). Hasil penelitian BP3PTH menunjukkan bahwa tanaman
yang berasaldari Ambon, mempunyai sifat rendemen dan kadar minyak yang lebih baik.
3. Damar
Damar adalah resin yang diperoleh dari beberapa jenis pohon dari marga
Dipterocarpaceaediantaranya meranti (Shorea spp). Resin tersebut dipanen dengan
menyadap batang pohon yang masih hidup. Di Maluku terdapat 4 jenis damar yaitu
damar mata kucing, damar pilau, damar batu dan damar daging. Penyebarannya di
wilayah Seram Bagian Barat. Dalam tradisi masyarakat, resin damar dijadikan bahan
bakar lampu, penambal perahu dan kerajinan tangan. Di luar Maluku dalam skala
industri, resin damar dimanfaatkan pula sebagai bahan baku semir, kertas karbon, pita
mesin ketik, plastik, vernis dan bantalan objek mikroskopik.
4. Tempat wisata
TWA Pulau Pombo Taman Wisata Alam Pulau Pombo memiliki pemandangan laut berupa
batu-batu karang yang sangat indah yang tersusun rapi dan sangat alamiah, dipadukan
dengan kehidupan sebagai jenis ikan hias, zooplankton dan jenis kerang-kerangan.
Kondisi perairan Pulau Pombo yaitu adanya arus berputar (up-welling) dan ketersediaan
makanan, memungkinkan keanekaragaman keberadaan satwa laut, antara lain Ikan Puri
(Stolephorus sp.), Momar (Decapterus sp.), Komu (Auxis thzard), Lema (Rastreliger
20

kanagurta), jenis-jenis Lolasi (Caesionidae) serta moluska seperti Kima (Tridacnidae), Bia
jalang (Strombus luhuanus), Lola (Trochus niloticus), Bia kambing (Lambis sp.), Bia gengge
(Nautilus pompilius), Japing-japing (Pinctada margaritifera) dan jenis lain dari
Cypreanidae, Strombidae, dan Connidae.

21