Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat
1. Ilmu Pengetahuan
2. Ilmu Pengetahuan untuk Forensik
3. Ilmu Pengetahuan untuk Hukum

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Informasi Kesehatan
Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berarti
bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau
mendatang.1
Informasi kesehatan adalah
B. Sistem Informasi Kesehatan
1. Definisi
Sistem informasi terdiri dari dua kata, yaitu

System

dan

Information. Sistem adalah kumpulan elemen yang berintegrasi untuk


mencapai tujuan tertentu, sedangkan informasi adalah data yang telah
diolah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya dan
bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang.1
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah seperangkat tatanan yang
meliputi data, informasi, indikator, prosedur, perangkat, teknologi, dan
sumber daya manusia yang saling berkaitan dan dikelola secara terpadu
untuk mengarahkan tindakan atau keputusan yang berguna dalam
mendukung

pembangunan

kesehatan.

Bagian

atau

ranah

yang

menyebutkan sistem informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor


004/Menkes/SK/I/2003 tentang kebijakan dan strategi desentralisasi
bidang kesehatan dan Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002
tentang petunjuk pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi
kesehatan kabupaten/kota. Kebutuhan akan data dan informasi disediakan
melalui penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan, yaitu dengan cara
pengumpulan, pengolahan, analisis data serta penyajian informasi.
2. Sejarah Sistem Kesehatan Indonesia
Perkembangan sistem informasi Kesehatan di Indonesia diawali
dengan sebuah sistem informasi Rumah sakit yang berbasis komputer
(Computer Based Hospital Information System). Dan yang menginovatori
hal ini adalah Rumah Sakit Husada pada akhir dekade 80 an. Beriringan

dengan hal itu rupanya Departemen Kesehatan juga mengembangkan


sistem informasi kesehatan berbasis komputer dengan dibantu oleh
proyek luar negeri dengan bantuan beberapa tenaga ahli dari universitas
gadjah mada. Namun perjuanagan diawal ini mengalami kemerosotan, hal
ini dilihat darei segi perencanaan yang tidak tersusun dengan baik dimana
identifikasi faktor penentu keberhasilan masih sangat tidak lengkap juga
tidak menyeluruh.
Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia telah dan akan
mengalami 3 pembagian masa sebagai berikut :
a. Era manual (sebelum 2005)
Pada era manual ini dimulai sebelum tahun 2005. Pada era
manual Aliran data terfragmentasi. Aliran data dari sumber data
(fasilitas kesehatan) ke pusat melalui berbagai jalan. Data dan
informasi dikelola dan disimpan oleh masing-masing Unit di
Departemen Kesehatan. Bentuk data nya agregat. Kelemahan nya
adalah Sering terjadi duplikasi dalam pengumpulan data dan Sangat
beragamnya bentuk laporan. Kemudian Validitas nya masih diragukan.
Data

yang

ada

sulit

diakses.

Karena

banyaknya

duplikasi,

permasalahan kelengkapan dan validitas, maka data sulit dioah dan


dianalisis. Dan terpenting dalam Pengiriman data masih banyak
menggunakan kertas sehingga tidak ramah lingkungan.
b. Era Transisi (tahun 2005 2011)
Dimulai masa transisi pada tahun 2005 sampai 2011 Komunikasi
data sudah mulai terintegrasi (mulai mengenal prinsip 1 pintu, walau
beberapa masih terfragmentasi). Peresebaran data Sebagian besar data
agregat dan sebagian kecil data individual. Sebagian data sudah
terkomputerisasi dan sebagian masih manual. Keamanan dan
kerahasiaan data kurang terjamin. Pada masa transisi ini posisi nya
masih setengah setengah karena mulai menggunakan sistem
komputerisasi tapi masih belum meninggalkan sistem manual.
c. Era Komputerisasi (mulai 2012)
Baru pada 2012 era komputerisasi dimulai , pada era ini
Pemanfaatan data menjadi satu pintu (terintegrasi). Data yang ada

adalah individual (disagregat). Data dari Unit Pelayanan Kesehatan


langgsung diunggah (uploaded) ke bank data di pusat (e-Helath).
Penerapan teknologi m-Health dimana data dapat langsung diunggah
ke bank data. Keamanan dan kerahasiaan data terjamin (memakai
secure login). Lebih cepat, tepat waktu dan efisien yang pastinya
Lebih ramah lingkungan.
SIK di Indonesia sendiri sudah ada di susunan undang undang yang
menjelaskan tentang informasi yaitu UUD 1945, Pasal 28; Setiap orang
berhak

untuk

berkomunikasi

dan

memperoleh

informasi

untuk

mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk


mencari,

memperoleh,

memiliki,

menyimpan,

mengolah

dan

menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang


tersedia.
Peraturan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia diatur Menurut
Keputusan Mentri Kesehatan dalam undang undang nomer 36 tahun 2009
tentang kesehatan disebutkan bahwa untuk menyelenggarakan upaya
kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan yang
dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas sector. Di dalam
undang undang ini dinyatakan pula bahwa ketentuan lebih lanjut
mengenai

Sistem

informasi

kesehatan

pemerintah.
Peraturan

menteri

1144/MENKES/PER/VII/2010

tentang

diatur

dengan

peraturan

kesehatan
Organisasi

dan

nomor
tata

kerja

kementrian kesehatan mengamanatkan pusat data dan informasi


(PUSDATIN) sebagai pelaksana tugas kementrian kesehatan di bidang
data dan informasi kesehatan, maka pusdatin sebagai sekretariat SIK
melakukan inisuatif penyusunan regulasi dan standar SIK berupa
rancangan

peraturan

pemerintah

dan

NSPK

yaitu

panduan ROADMAP rencana aksi penguatan SIK. Dalam penyusunan


standar dan regulasi SIK perlu dibentuk suatu Komite Ahli SIK dan Tim
Perumus

SIK.

Melalui

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Nomor

805/Menkes/SK/IV/2011 telah dibentuk Komite Ahli dan Tim Perumus

Penyusunan

Peraturan

Pemerintah,

Pedoman

dan Roadmap Sistem

Informasi Kesehatan. Komite Ahli dan Tim Perumus ini merupakan para
ahli yang berasal dari berbagai institusi/sektor yang mempunyai kaitan
dan peran dalam Sistem Informasi Kesehatan. Setelah tugasnya selesai,
komite ini akan dilebur menjadi Komite Ahli SIK.
Pengorganisasian pelaksanaan SIK yang merupakan implementasi
dari regulasi dan standar perlu melibatkan berbagai sektor. Untuk itu perlu
tersedia suatu Forum yang dijalankan oleh suatu Komite Ahli untuk
mengoordinasikan seluruh upaya SIK. Komite Ahli terbagi dalam tujuh
divisi yang diadaptasi dari komponen SIK, yang akan bertugas memberi
rekomendasi

atas

hasil

pelaksanaan Roadmap Rencana

pemantauan
Aksi

Penguatan

dan
SIK.

evaluasi
Dalam

pelaksanaannya masing-masing divisi Komite Ahli dapat membentuk


kelompok-kelompok kerja untuk membahas setiap masalah/isu yang
timbul. Rekomendasi dari Komite Ahli akan disampaikan kepada Menteri
Kesehatan untuk dilaksanakan oleh pelaksana.
3. Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Sistem informasi kesehatan sudah diterapkan sejak tahun 1980 dan
sistem informasi ini terus mengalami perkembangan. Saat ini diterapkan
suatu sistem informasi kesehatan nasional yang mana mencakup sistem
informasi kesehatan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.
Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) adalah sistem
informasi yang berhubungan dengan sistem - sistem informasi lain baik
secara nasional maupun internasional dalam

rangka kerjasama yang

saling menguntungkan. SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri


sendiri, melainkan merupakan bagian dari sistem kesehatan. Oleh karena
itu, SIK di tingkat pusat merupakan bagian dari sistem kesehatan
nasional, di tingkat provinsi merupakan bagian dari sistem kesehatan
provinsi, dan di tingkat kabupaten atau kota merupakan bagian dari sistem
kesehatan kabupaten atau kota. SIKNAS di bangun dari himpunan atau
jaringan sistem-sistem informasi kesehatan provinsi dan sistem informasi

kesehatan provinsi di bangun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem


informasi kesehatan kabupaten atau kota.
Jaringan SIKNAS adalah sebuah koneksi/jaringan virtual
sistem informasi kesehatan elektronik yang dikelola oleh Kementrian
Kesehatan dan hanya bisa diakses bila telah dihubungkan. Jaringan
SIKNAS merupakan infrastruktur jaringan komunikasi data terintegrasi
dengan

menggunakan Wide

Area

Network

(WAN),

jaringan

telekomunikasi yang mencakup area yang luas serta digunakan untuk


mengirim data jarak jauh antara Local Area Network (LAN) yang berbeda,
dan arsitektur jaringan lokal komputer lainnya. Pengembangan jaringan
komputer (SIKNAS) online ditetapkan melalui keputusan Mentri
Kesehatan (KEPMENKES) No. 837 Tahun 2007. Dengan Tujuan
pengembangan SIKNAS online adalah untuk menjembatani permasalahan
kekurangan data dari kabupaten/kota ke depkes pusat dan memungkinkan
aliran data kesehatan dari kabupaten/kota ke pusdatin karena dampak
adanya kebijakan desentralisasi bidang kesehatan di seluruh Indonesia.
Alur siknas
Pada Model ini terdapat 7 komponen yang saling terhubug dan
saling terkait yaitu:
a. Sumber Data Manual
Merupakan kegiatan pengumpulan data dari sumber data yang
masih dilakukan secara manual atau secara komputerisasi offline.
Model SIK Nasional yang memanfaatkan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi masih tetap dapat menampung SIK
Manual

untuk

fasilitas

kesehatan

yang

masih

mempunyai

keterbatasan infrastruktur (antara lain, pasokan listrik dan peralatan


komputer serta jaringan

internet). Fasilitas pelayanan kesehatan

yang masih memakai sistem manual akan melakukan pencatatan,


penyimpanan dan pelaporan berbasis kertas.
Laporan dikirimkan dalam bentuk hardcopy (kertas) berupa data
rekapan/agregat ke dinas kesehatan kabupaten/ kota. Fasilitas
pelayanan kesehatan dengan komputerisasi offline, laporan dikirim
dalam bentuk softcopy berupa data individual ke dinas kesehatan

kabupaten/kota. Bagi petugas kesehatan yang termasuk dalam


jejaring puskesmas yang belum komputerisasi, laporan dikirim
dalam bentuk data rekapan/agregat sesuai jadwal yang telah
ditentukan. Sedangkan bagi yang sudah komputerisasi offline,
laporan

dikirim

dalam

bentuk softcopy untuk

dilakukan

penggabungan data di puskesmas.


b. Sumber Data Komputerisasi
Pada sumber data komputerisasi pengumpulan data dari sumber
data yang sudah dilakukan secara komputerisasi online. Pada
fasilitas pelayanan kesehatan dengan komputerisasi online, data
individual langsung dikirim ke Bank Data Kesehatan Nasional dalam
format yang telah ditentukan. Selain itu juga akan dikembangkan
program mobile health (mHealth) yang dapat langsung terhubung ke
sistem informasi puskesmas.
c. Sistem Informasi Dinas Kesehatan
Merupakan sistem informasi kesehatan yang dikelola oleh dinas
kesehatan baik kabupaten/kota dan provinsi. Laporan yang masuk ke
dinas kesehatan kabupaten/kota dari semua fasilitas kesehatan
(kecuali milik Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat) dapat
berupa laporan softcopy dan laporan hardcopy. Laporan hardcopy
dientri ke dalam aplikasi SIKDA generik. Laporan softcopy diimpor
ke dalam aplikasi SIKDA Generik, selanjutnya semua bentuk
laporan diunggah ke Bank Data Kesehatan Nasional. Dinas
kesehatan provinsi melakukan hal yang sama dengan dinas
kesehatan kabupaten/kota untuk laporan dari fasilitas kesehatan
milik provinsi.
d. Sistem Informsi Pemangku Kepentingan
Sistem informasi yang dikelola oleh pemangku kepentingan
terkait kesehatan. Mekanisme pertukaran data terkait kesehatan
dengan pemangku kepentingan di semua tingkatan dilakukan dengan
mekanisme yang disepakati.
e. Bank Data Kesehatan Nasional
Bank Data Kesehatan Nasional selanjutnya akan mencakup
semua data kesehatan dari sumber data (fasilitas kesehatan), oleh

karena

itu

unit-unit

program

tidak

perlu

lagi

melakukan

pengumpulan data langsung ke sumber data.


f. Pengguna Data oleh Kementrian Kesehatan
Data kesehatan yang sudah diterima di Bank Data Kesehatan
Nasional dapat dimanfaatkan oleh semua unit-unit program di
Kementerian Kesehatan dan UPT-nya serta dinas kesehatan dan
UPTP/D-nya.
g. Pengguna Data .
Semua pemangku kepentingan yang tidak/belum memiliki
sistem informasi sendiri serta masyarakat yang membutuhkan
informasi kesehatan dapat mengakses informasi yang diperlukan dari
Bank

Data

Kesehatan

Nasional

melalui website Kementerian

Kesehatan.
4. Manfaat Sistem Informasi Kesehatan
a. Mendukung manjemen kesehatan
b. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
c. Mengintervensi masalah kesehatan berdasarkan prioritas
d. Pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan

kesehatan

berdasarkan bukti (evidence-based decision)


e. Mengalokasikan sumber daya secara optimal
f. Membantu peningkatan efektivitas dan efisiensi
g. Membantu penilaian transparansi
C. Peran Dokter dalam Informasi Kesehatan
1. Prinsip Moral Kedokteran
Sifat hubungan antara dokter dengan pasien berkembang dari sifat
paternalistik hingga ke sifat kontraktual dan fiduciary (atas dasar niat baik
dan kepercayaan). Pada masa sebelum tahun 1950-an paternalistik
dianggap sebagai sifat hubungan yang paling tepat, dimana dokter
menentukan apa yang akan dilakukan terhadap pasien berdasarkan prinsip
beneficence (semua yang terbaik untuk kepentingan pasien, dipandang dari
kedokteran). Prinsip ini telah mengabaikan hak pasien untuk turut
menentukan

keputusan.

Sampai

kemudian

pada

tahun

1970-an

dikembangkanlah sifat hubungan kontraktual antara dokter dengan pasien


yang menitikberatkan kepada hak otonomi pasien dalam menentukan apaapa yang boleh dilakukan terhadapnya. Kemudian sifat hubungan dokter-

pasien tersebut dikoreksi oleh para ahli etika kedokteran menjadi


hubungan fiduciary, yaitu hubungan yang menitikberatkan nilai-nilai
keutamaan

(virtue

ethics).

Sifat

hubungan

kontraktual

dianggap

meminimalkan mutu hubungan karena hanya melihatnya dari sisi hukum


dan peraturan saja, dan disebut sebagai bottom line ethics.
Dalam profesi kedokteran dikenal empat prinsip moral utama, yaitu:
a. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak
pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination);
b. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan
yang ditunjukkan ke kebaikan pasien;
c. Prinsip non maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan
yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal
sebagaiprimum non nocereataudo no harm;
d. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan
keadilan dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice).
2. Otonomi Pasien dan Informed Consent
Otonomi pasien dianggap sebagai cerminan konsep self governance,
liberty rights, dan individual choices. Immanuel Kant mengatakan bahwa
setiap orang memiliki kapasitas untuk memutuskan nasibnya sendiri,
sedangkan Johns S Mills berkata bahwa kontrol sosial atas seseorang
individu hanya sah apabila dilakukan karena terpaksa untuk melindungi
hak orang lain.
Salah satu hak pasien yang disahkan dalam Declaration of Lisbon dari
World Medical Association (WMA) adalahthe rights to accept or to
refuse treatment after receiving adequate information (hak untuk
menerima atau menolak suatu tindakan setelah mendapatkan informasi
yang adekuat). Secara implisit amandemen UUD 45 pasal 28G ayat (1)
juga menyebutnya demikian Setiap orang berhak atas perlindungan diri
pribadi, ...dst. Selanjutnya Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan juga memberikan hak kepada pasien untuk memberikan
persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hak ini
kemudian diuraikan dalam Permenkes tentang Persetujuan Tindakan
Medis.
Prinsip otonomi pasien ini dianggap sebagai dasar dari doktrin
informed consent. Tindakan medis terhadap pasien harus mendapat

persetujuan (otorisasi) dari pasien tersebut, setelah ia menerima dan


memahami informasi yang diperlukan (a patient with substantial
understanding and in substantial absence of control by others,
intentionally authorizes a professional to do something). Informed consent
dapat dianggap sebagai bentuk pengejawantahan otorisasi pasien dalam
pelaksanaan tindakan medis. Apabila suatu tindakan medis dilakukan
terhadap seseorang pasien tanpa memperoleh persetujuan terlebih dahulu
dari pasien tersebut, dapat dianggap sebagai penyerangan atas hak orang
lain atau perbuatan melanggar hukum.
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi
yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran
tentang apa yang akandan apa yang tidak akan dilakukan terhadappasien.
Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian
antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan
yang ditawarkan pihak lain:
Informed consent memiliki 3 elemen, yaitu:
a. Treshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak dianggap sebagai elemen, oleh karena
sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah
seseorang yang kompeten. Kompeten disini diartikan sebagai
kapasitas untuk membuat keputusan (medis). Kompetensi manusia
untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suatu kontinuum,
dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki
kompetensi yang penuh. Diantaranya keputusan tertentu (keputusan
yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable).
Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) adalah
apabila telah dewasa, sadar dan berada dalam keadaan mental yang
tidak dibawah pengampuan. Dewasa diartikan sebagai usia telah
mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan
mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila ia mempunyai
penyakit mental sedemikian rupa atau perkembangan mentalnya
terbelakang sedemikian rupa, sehingga kemampuan membuat
keputusannya terganggu7.

b. Information elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian, yaitu disclosure (pengungkapan)
dan

understanding

(pemahaman).

Pengertian

berdasarkan

pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga


medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa agar
pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat.
Dalam hal ini, seberapa baik informasi harus diberikan kepada
pasien dapat dilihat dari 3 standar, yaitu :
1) Standar praktek profesi
Bahwa kewajiban memberikan

informasi

dan

kriteria

keadekuatan informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan


dalam komunitas tenaga medis (constumary practices of a
professional community-Faden and Beauchamp, 1986). Standar ini
telah terlalu mengacu pada nilai-nilai yang ada dalam komunitas
kedokteran tanpa memperhatikan keingin tahuan dan kemampuan
pemahaman individu yang di harapkan menerima informasi
tersebut.
Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut
diatas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat, misalnya :
resiko yang tidak bermaknamenurut medis tidak diinformasikan,
padahal mungkin bermakna dari sisi sosial/pasien.
2) Standar Subyektif
Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai-nilai yang dianut
oleh pasien secara pribadi, sehingga informasi yang diberikan harus
memadai untuk pasien tersebut didalam membuat keputusan.
Sebaliknya dari standar sebelumnya, standar ini agak sulit
dilaksanakan atau hampir mustahil. Adalah mustahil bagi tenaga
medis untuk memahami nilai-nilai yang secara individual dianut
oleh pasien.
3) Standar pada reasonable person
Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar
sebelumnya, yaitu dianggap cukup apabila informasi yang
diberikan telah memenuhi kebutuhan pada umumnya orang awam.

Sub-elemen

pemahaman

(understanding)

dipengaruhi

oleh

penyakitnya, irrasionalis dan imaturitas.


Banyak ahli yang mengatakan bahwa apabila elemen ini tidak
dilakukan maka dokter dianggap telah lalai melaksanakan tugasnya
memberi informasi yang adekuat.
c. Consent elements
Elemen ini juga terdiri dari dua bagian, yaitu : voluntariness
(kesukarelaan,

kebebasan)

dan

authorization

(persetujuan).

Kesukarelaan mengharuskan tidak adanya tipuan, misrepresentasi


ataupun paksaan. Pasien juga harus bebas dari tekanan yang
dilakukan

tenaga

medis

yang

bersikap

seolah-olah

akan

dibiarkan apabila tidak menyetujui tawarannya.


Banyak ahli masih berpendapat bahwa melakukan persuasi
yang tidak berlebihan masih dapat dibenarkan secara moral.
Consent dapat diberikan :
1) Dinyatakan (expressed)
a) Dinyatakan secara lisan
b) Dinyatakan secara tertulis. Pernyataan tertulis diperlukan
apabila diperklukan bukti dikemudian hari, umumnya pada
tindakan yang invasif atau yang beresiko mempengaruhi
kesehatan pasien secara bermakna. Permenkes tentang
Persetujuan Tindakan Medis menyatakan bahwa semua
jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan
tertulis.
2) Tidak dinyatakan (implied)
Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun
tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang
menunjukan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak
memiliki bukti namun, consent jenis inilah yang paling banyak
dilakukan didalam praktek sehari-hari. Misalnya adalah
seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan
lengannya ketika akan diambil darahnya.
Informed consent memiliki lingkup terbatas pada halhal yang telah
dinyatakan sebelumnya, tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas
semua tindakan yang akan dilakukan. Dokter dapat bertindak melalui yang

telah disepakati hanya apabila gawat darurat dan keadaan tersebut


membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya.
Proxy-consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan
si pasien itu sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu
memberikan consent secara pribadi, dan consent tersebut harus mendekati
apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabila ia mampu
memberikannya (baik buat pasien, bukan baik untuk orang banyak).
Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy-consent adalah
suami/istri,anak, orang tua, saudara kandung, dan lain-lain.
Proxy-consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang
matang dan ketat. Suatu kasus telah membuka mata orang Indonesia
betapa riskannya proxy-consent ini, yaitu ketika seorang kakekkakek
menurut dokter yang telah mengoperasinya hanya berdasarkan persetujuan
anaknya, padahal ia tidak pernah dalam keadaan tidak sadar atau tidak
kompeten.
Hak menolak terapi lebih sukar diterima oleh profesi kedokteran
daripada hak menyetujui terapi. Banyak ahli yang mengatakan bahwa hak
menolak terapi bersifat tidak absolut, artinya masih dapat ditolak atau
tidak diterima oleh dokter. Hal ini karena dokter akan mengalami konflik
moral dengan kewajiban menghormati kehidupan, kewajiban untuk
mencegah perbuatan yang bersifat bunuh diri atau self inflicted, kewajiban
melindungi pihak ketiga, dan integritas etis profesi dokter.
3. Pembatalan Informed Consent
Doktrin informed consent tidak berlaku pada lima keadaan, yaitu: (1)
keadaan darurat medis, (2) ancaman terhadap kesehatan masyarakat, (3)
pelepasan hak memberikan consent (waiver), (4) clinical privilege, dan (5)
pasien yang tidak kompeten memberikan consent. May menambahkan
bahwa penggunaan clinical previlege hanya bisa dilakukan pada pasien
yang melepaskan haknya memberi consent.
Contextual circumstances juga seringkali

mempengaruhi

pola

perolehan informed consent. Seorang yang dianggap sudah pikun, orang


yang dianggap memiliki mental yang lemah untuk dapat menerima
kenyataan, dan orang yang dalam keadaan terminal seringkali tidak

dianggapcakapmenerima informasi yang benar- apalagi membuat


keputusan medis. Banyak keluarga pasien melarang para dokter untuk
berkata benar kepada pasien tentang keadaan sakitnya.
Pengaruh budaya Indonesia atau budaya timur pada umumnya sangat
terasa dalam praktek informed consent. Sebagaimana dituliskan oleh
Kazumasa Hoshino bahwa orang Jepang cenderung untuk menyerah
kepada pendapat umum dalam kelompoknya. Umumnya keputusan medis
dipahami sebagai proses dalam keluarga, pasien sendiri umumnya
mendesak untuk berkonsultasi dahulu dengan keluarganya untuk menjaga
keharmonisan keluarga. Budaya sebagian besar suku bangsa di Indonesia
tampaknya sangat sesuai dengan budaya Jepang diatas. Persetujuan
tindakan medis umumnya diberikan oleh keluarga dekat pasien oleh karena
pasien cenderung untuk menyerahkan permasalahan medisnya kepada
keluarga terdekatnya. Nilai yang lebih bersifat kolektif seperti ini juga
terlihat dalam rahasia kedokteran.
Budaya, kebiasaan dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi cara
dan keadekuatan berkomunikasi antara dokter dan pasien. Penelitian
dilakukan oleh Cassileth menunjukkan bahwa dari 200 pasien pengidap
kanker yang ditanyai sehari sesudah dijelaskan, hanya 60% yang
memahami tujuan dan sifat tindakan medis, hanya 55% yang dapat
menyebut komplikasi yang mungkin timbul, hanya 40% yang membaca
formulir dengan cermat, dan hanya 27% yang dapat menyebut tindakan
alternatif yang dijelaskan. Bahkan Grunder menemukan bahwa dari lima
rumah sakit yang ditelitinya, empat diantaranya membuat penjelasan
tertulis yang bahasamya ditujukan untuk dapat dimengerti oleh mahasiswa
tingkat atas atau sarjana, dan satu lainnya berbahasa setingkat majalah
akademis spesialis.
Permasalahan yang berkembang dalam mendapatkan informed consent
yang baik datang dari pihak dokter maupun pasien. Keluhan pasien tentang
proses informed consent antara lain bahasa yang digunakan untuk
menjelaskan terlalu teknis, perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau
tidak perhatian, atau tidak ada waktu untuk tanya-jawab, pasien sedang

stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi, dan pasien


dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk. Sebaliknya dokter juga
mengeluhkan bahwa pasien tidak mau diberitahu informasi lengkap
mengenai penyakitnya, pasien tidak mampu memahami informasi yang
diberikan, risiko tindakan medis terlalu umum atau terlalu jarang terjadi,
dan adanya situasi gawat darurat atau waktu yang sempit dalam melakukan
suatu tindakan medis.
D. Pengungkapan Informasi Kesehatan
1. Syarat Pengungkapan Informasi Kesehatan
Pengungkapan informasi kesehatan seseorang pasien kepada pihak
lain hanya dapat dilakukan apabila:
a. Dengan persetujuan atau otorisasi pasien, misalnya informasi
kesehatan untuk kepentingan asuransi kesehatan, perusahaan, pemberi
kerja dan lain-lain. Dalam hal ini harus diingat prinsip minimal,
relevan dan cukup, yaitu bahwa informasi kesehatan yang diberikan
harus minimal tetapi harus relevan dengan yang dibutuhkan serta
cukup dalam menjawab pertanyaan.
b. Dengan perintah undang-undang, misalnya:
1) UU wabah dan UU karantina
2) UU acara pidana: visum et repertum, surat/dokumen, keterangan
ahli di persidangan, keterangan ahli di depan penyidik/ penuntut
umum.
c. Untuk kepentingan pasien, misalnya pada waktu konsultasi medis
antara tenaga kesehatan/medis, terutama dalam hal pasien berada
dalam keadaan darurat dan tidak bisa memberikan consent.
Lebih lanjut dapat ditambahkan bahwa informasi kesehatan yang
tidak mencantumkan ciri identitas pasien dapat dipergunakan untuk tujuan
yang lebih luas, seperti kepentingan statistik kesehatan dan kesakitan,
kepentingan audit medis/klinis dan audit utility, penelitian dan lain-lain.
(Permenkes 749a).
Masalah dapat saja timbul pada saat keluarga pasien meminta
informasi kesehatan pasien. Pada umumnya keluarga inti-terutama budaya
timur, dianggap secara implied memiliki hak akses atas informasi

kesehatan, namun menjadi tidak berlaku apabila pasien secara eksplisit


melarangnya.
Pengecualian juga dapat diberlakukan, yaitu pada informasi
tentang, psikoterapi, informasi yang dikumpulkan dalam rangka untuk
kepentingan penyidik/pengadilan, informasi yang dapat membahayakan
jiwa atau fisik pasien atau orang lain,yang dapat disimpan dengan lebih
ketat sebagai rahasia, bahkan kadang juga bagi pasien itu sendiri.
Dalam upaya hal pembuatan surat-menyurat, pengiriman dokumen
atau hal lain sebagaimana diuraikan di atas yang membutuhkan biaya,
maka biaya tersebut dapat dibebankan kepada peminta informasi.
2. Penggunaan Informasi Kesehatan untuk Kepentingan Peradilan
Sebagaimana disebutkan diatas, UU Praktik Kedokteran
memberikan peluang untuk mengungkapkan informasi kesehatan untuk
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum. Dalam hal ini perlu digarisbawahi kata-kata dalam rangka
penegakan hukum, yang berarti bahwa permintaan atas informasi
kesehatan tersebut haruslah diajukan dengan mengikuti aturan yuridisformiel.
Pasal 43 Undang-Undang No.8 tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana mengisyaratkan bahwa rekam medis tidak dapat disita tanpa
sepersetujuan sarana kesehatan atau orang yang bertanggung jawab atas
rekam medis tersebut.
Penyitaan surat atau tulisan lain dari mereka yang
berkewajiban

menurut

undang-undang

untuk

merahasiakannya, sepanjang tidak menyangkut rahasia


negara, hanya dapat dilakukan atas persetujuan mereka
atau atas ijin khusus Ketua Pengadilan Negeri setempat
kecuali undang-undang menentukan lain
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa penggunaan IK untuk
kepentingan peradilan dapat dilakukan, baik pada saat pemeriksaan oleh
penyidik, penuntut umum maupun di depan sidang pengadilan. Namun
demikian untuk menjaga agar dokumen rekam medis tidak hilang maka
sebaiknya rekam medis hanya dikeluarkan dari sarana pelayanan

kesehatan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan. Sebuah fotokopi


rekam medis yang disahkan pimpinan sarana kesehatan dapat diserahkan
atas permintaan resmi penyidik atau penuntut umum. Rekam medis asli
dapat ditunjukkan untuk membuktikan orisinalitas rekam medik tersebut.
Selain itu, pemberi layanan kesehatan dapat saja menetapkan
sebagian

informasi

kesehatan

sebagai

rahasia

dan

tidak

menyampaikannya ke petugas penuntut umum, sepanjang informasi


tersebut tidak relevan dengan perkaranya. Hak menjaga kerahasiaan
informasi tertentu tersebut dilindungi oleh pasal 120 KUHAP.
3. Penggunaan Rekam Medis untuk Peningkatan Mutu
Dalam audit medis, umumnya sumber data yang digunakan adalah
rekam medis pasien, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap.
Rekam medis adalah sumber data yang paling baik di rumah sakit,
meskipun banyak memiliki kelemahan. Beberapa kelemahan rekam medis
adalah sering tidak adanya beberapa data yang bersifat sosial-ekonomi
pasien, seringnya pengisian rekam medis yang tidak lengkap, tidak
tercantumnya persepsi pasien, tidak berisi penatalaksanaan pelengkap
seperti penjelasan dokter dan perawat, seringkali tidak memuat kunjungan
kontrol pasca perawatan inap, dan lain-lain.
Dampak dari audit medis yang diharapkan tentu saja adalah
peningkatan mutu dan efektifitas pelayanan medis di sarana kesehatan
tersebut. Namun di samping itu, kita juga perlu memperhatikan dampak
lain, seperti dampaknya terhadap perilaku para profesional, tanggung
jawab manajemen terhadap nilai dari audit medis tersebut, seberapa jauh
mempengaruhi beban kerja, rasa akuntabilitas, prospek karier dan moral,
dan jenis pelatihan yang diperlukan.
Aspek legal terpenting dari audit medis adalah penggunaan
informasi medis pasien, yang tentu saja terkait dengan kewajiban
menyimpan rahasia kedokteran. Pada Permenkes RI tentang rekam medik
disebutkan bahwa salah satu tujuan dari rekam medis adalah untuk riset
dan sebagai data dalam melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan
medis. Permenkes ini juga memberikan peluang pembahasan informasi
medis seseorang pasien di kalangan profesi medis untuk tujuan rujukan

dan pengembangan ilmiah. Demikian pula Asosiasi dokter sedunia (WMA


Oktober 1983) menyatakan bahwa penggunaan informasi medis untuk
tujuan riset dan audit dapat dibenarkan.
It is not a breach of confidentiality to release or
transfer confidential health care information required for
the

purpose

of

conducting

scientific

researchs,

management audits, financial audits, program evaluation,


or similar studies, provided the information released does
not identify, directly or indirectly, any individual patient in
any report or such research, audit or evaluation, or
otherwise

disclose

patient

identities

in

any

manner

(Statement of World Medical Association, 1983)


Ketentuan model yang diajukan oleh the American Medical Record
Association menyatakan bahwa informasi medis dapat dibuka dalam hal:
(a) memperoleh otorisasi tertulis dari pasien, (b) sesuai dengan ketentuan
undang-undang, (c) diberikan kepada sarana kesehatan lain yang saat ini
menangani pasien, (d) untuk evaluasi perawatan medis, (e) untuk riset dan
pendidikan sesuai dengan peraturan setempat. (2)
Di pihak lain, audit medis yang mereview rekam medis dapat saja
menemukan kesalahan-kesalahan orang, kesalahan prosedur, kesalahan
peralatan dan lain-lain, sehingga dapat menimbulkan rasa kurang nyaman
bagi para profesional (dokter, perawat, dan profesi kesehatan lain). Oleh
karena itu perlu diingat bahwa audit medis bertujuan untuk mengevaluasi
pelayanan medis dalam rangka untuk meningkatkan kualitas pelayanan
dan bukan untuk mencari kesalahan dan menghukum seseorang. Tindakan
manajemen yang diusulkan oleh panitia untuk mengoreksi perilaku dan
atau kapasitas perorangan harus dilakukan secara bijaksana sehingga tidak
terkesan sebagai sanksi hukuman. Boleh dikatakan bahwa audit medis
tidak mencari pelaku kesalahan (liable person/parties), melainkan lebih
ke arah menemukan risiko yang dapat dicegah (avoidable risks) sehingga
arahnya benar-benar menuju peningkatan kualitas dan safety.

Dengan demikian dalam melaksanakan audit medis perlu


diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Semua orang/staf yang turut serta dalam audit medis adalah mereka
yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan kedokteran, dikenal
memiliki integritas yang tinggi dan memperoleh penunjukan resmi dari
direksi.
b. Semua formulir data yang masuk dalam rangka audit medis tetap
memiliki tingkat kerahasiaan yang sama dengan rekam medis,
termasuk seluruh fotokopi dan fax.
c. Harus disepakati tentang saksi bagi pelanggaran atas rahasia
kedokteran ini, misalnya penghentian penugasan/akses atas rekam
medis, atau bahkan penghentian hubungan kerja.
d. Seluruh laporan audit tidak diperkenankan mencantumkan identitas
pasien, baik secara langsung maupun tidak langsung.
e. Seluruh hasil audit medis ditujukan untuk kepentingan perbaikan
pelayanan medis di rumahsakit tersebut, tidak dapat dipergunakan
untuk sarana kesehatan lain dan tidak digunakan untuk menyalahkan
atau menghukum seseorang atau satu kelompok orang.
Seluruh hasil audit medis tidak dapat dipergunakan sebagai bukti di
pengadilan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah suatu sistem pengelolaan data
dan informasi kesehatan di semua tingkat pemerintahan secara sistematis dan
terintegrasi

untuk

mendukung

manajemen

kesehatan

dalam

rangka

peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Peraturan perundang


undangan.
Pengungkapan informasi kesehatan pasien dapat dilakukan atas dasar
pertimbangan kepentingan peradilan dan upaya peningkatan mutu layanan
sesuai peraturan perundangan dan atau aspek etik yang berlaku.
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA