Anda di halaman 1dari 4

Nama : Luh Putu Arisanti

NIM

: 1308105006

Nama

Umum Contoh enzim

Substratnya

kegunaannya

amilum

Pembuatan bir

Protein

Deterjen

Selulase

pepsin, renin.
pektoselulosa dan 3.2.1.4

Selulosa

Limbah

Hemiselulase

lignoselulosa
-xilosidase,

Hemiselulosa

Industry kertas

Enzim
Amylase

Protease

E. C. number

Alfa

amylase, 3.2.1.1

Beta

amylase,

glukoamilase
tripsin,

3.4.23.6

kimotripsinpapain
, bromeli, Fisin,
aminopeptidase,

3.2.1.8

eksoxilanase, dan
endoxilanase

Selulosa merupakan homopolisakarida dengan glukosa sebagai monomernya. Molekul


selulosa berbentuk linier dan tak bercabang yang terdiri dari 10.000 sampai 15.000 unit Dglukosa (Lehninger, 2008). Perbedaan selulosa dengan amilosa yang juga polisakarida dari
glukosa terletak pada konfigurasi residu glukosa penyusunnya.Selulosa tersusun dari residuresidu -glukopiranosil yang dihubungkan dengan ikatan (14), sedangkan amilosa oleh ikatan
(14) akibatnya terdapat perbedaan yang kontras dalam hal struktur dan sifat fisik keduanya.
Pemanfaatan selulosa telah dilakukan di berbagai bidang, diantaranya untuk produksi
kertas, fiber, dan senyawa kimia turunannya untuk industri plastik, film fotografi, rayon, dan
lainnya. Produk hidrolisis selulosa yaitu gula (glukosa) juga merupakan senyawa yang vital
dalam industri bioproses. Oleh karena itu penggunaan selulosa sebagai sumber glukosa, di
samping sebagai sumber energi terbarukan yang murah dan melimpah untuk berbagai keperluan
semakin berkembang. Hidrolisis selulosa dapat dilakukan dengan menggunakan asam kuat

maupun enzim selulase.Hewan herbivora dapat menggunakan selulosa sebagai bahan makanan
karena memiliki rumen mikroflora untuk menghasilkan enzim selulase. Rumen mikroflora
merupakan komunitas dari berbagai jenis mikroorganisme yang hidup di dalam perut hewan
herbivora tersebut.
Mikroorganisme yang digunakan untuk mendapat selulase adalah Myrothecium
verrucaria, Penicillium pusillum, dan Trichoderma viridae. Penggunaan Enzim selulase dalam
industri pangan masih sangat terbatas.
Produksi selulase umumnya menggunakan campuran substrat selulosa (atau sejenisnya:
selobiosa, dll) dan inducer lain yg lebih murah misalnya laktosa. Selulosa sendiri tidak larut
dalam air, sehingga dibutuhkan surfaktan untuk menurunkan surface tension larutan. Dengan
demikian, induksi selulosa untuk produksi selulase dapat ditingkatkan.
Satu unit aktivitas enzim selulase adalah jumlah enzim yang dibutuhkan untuk melepas 1mol
gula reduksi per menit.

Dari sebuah jurnal dipaparkan bagai mana cara mengaktivasi enzim selulosa dari Variasi

Isolat Kapang Wonorejo Surabaya pada Media Eceng Gondok yaitu :


A. Persiapan Kultur Kapang
Isolat jamur Penicillium sp. LM1003, Aspergillus niger LM1031, danPaecilomyces sp.LM1025
koleksi Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Biologi ITS.diinokulasi pada media PDA
(Potato Dextrose Agar) sebagai kultur kerja dan kultur stok. Kultur diinkubasi pada suhu 30C
hingga tumbuh merata selama 7 hari.
B. Pretreatment Eceng gondok
Eceng gondok 10kg dipotong berukuran 1cm. Kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari
dan digiling. Serbuk eceng gondok sebanyak 0,5kg ditambah 5LNaOH 2% dalam erlenmeyer,
dipanaskan pada suhu 85oC selama 6 Jam Lalu substrat disaring. Padatan substrat yang telah
terpisah dibilas dengan air hingga pH larutan menjadi 7. Padatan substrat dioven pada suhu 80o
C sampai kering, lalu didinginkan pada suhu kamar 15 menit.
C. Pembuatan Medium Basal
Sebanyak 1.4 g (NH4)2SO4, 2.0 g KH2PO4, 0.34 g CaCl2.2H2O, 0.30 g MgSO4.7H2O, 5 mg
FeSO4.7H2O, 1.6 mg MnSO4.H2O, 1.4 mg ZnSO4.7H2O dan 2.0 mg CoCl2.6H2 ditambahkan

akuades hingga volume 1 L dididihkan dengan magnetic stirer. Setelah itu dilakukan proses
sterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121C 1,5 atm selama 15 menit.
D. Pembuatan Starter Kapang
Kultur jamur usia 7 hari pada agar miring disuspensikan masing-masing dengan menambahkan
10 ml larutan salin steril 0,85% yang mengandung 0,1% tween 80. Suspensi masing-masing
jamur konsentrasi 106-107 diinokulasikan ke dalam 12,5 ml medium basal dan 2,5 gram eceng
gondok sterilsebanyak 10% medium. Kemudian diinkubasi pada suhu 30o.
E. Produksi Filtrat Enzim
Media basal sebanyak 25 ml ditambah dengan5 gram eceng gondok steril diatur pada pH 6.
Selanjutnya starter Penicillium sp., Aspergillus niger dan Paecilomyces sp. , diinokulasikan
kedalamnya secara monokultur dan kultur campuran dengan perbandingan 1:1. Total volume
starter yang diinokulasikan sebesar 10% medium. Kemudian diinkubasi selama 12 hari pada
suhu 30oC. Hasil fermentasi ditambahkan larutan pengekstrak tween 80 0,1 % pH 6 sebanyak
100ml. Kemudian disentrifuge dengan kecepatan6000 rpm selama 15 menit untuk menghasilkan
filtrat enzim kasar.
F. Analisa Gula Reduksi
Sampel yang terdiri dari Campuran kertas saring5gr, buffer asetat (pH 5)1mL, dan filtrat
enzim0,5mLdiinkubasi dalam waterbath selama 30 menit pada suhu 45oC. Kemudian
ditambahkan 0,1 mL TCA pada menit akhir dan divorteks. Sampel ditambahkan 0,5 mL reagen
Nelson C dengan pengenceran yang tepat. Dipanaskan selama 20 menit dalam penangas air
mendidih, didinginkan, serta diberi penambahan 0,5 mL reagen arsenomolibdat dan 3,5 mL
akuades. Lalu divortex hingga homogen. Diukur nilai absorbansi pada spektrofotometer dengan
panjang gelombang 520 nm.
G.Penghitungan Aktivitas Enzim
Dengan menggunakan kurva standar gula maka didapatkan konsentrasi gula reduksi yang
digunakan untuk menghitung aktivitas enzim selulase.Aktivitas enzim selulase dinyatakan
dengan perumusan:
Aktivitas enzim(U/ml) =( [gula reduksi sampel-kontrol] x 1000 x FP):(t (menit) x BM gula
reduksi x Vol. enzim)
Keterangan
FP: faktor pengenceran enzim

1U : mol gula produk/men