Anda di halaman 1dari 132

TEORI KONSUMSI DALAM EKONOMI ISLAM

Menurut Kahf (1995), Chapra (2002;309), konsumsi agregat merupakan salah satu
variabel kunci dalam ilmu ekonomi konvensional. Konsumsi agregat terdiri dari konsumsi
barang kebutuhan dasar (Cn) serta konsumsi barang mewah (Ci). Barang-barang kebutuhan
dasar (termasuk untuk keperluan hidup dan kenyamanan) dapat didefinisikan sebagai barang
dan jasa yang mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga
memberikan perbedaan yang riil dalam kehidupan konsumen. Barang-barang mewah sendiri
dapat didefinisikan sebagai semua barang dan jasa yang diinginkan baik untuk kebanggaan
diri maupun untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan perubahan berarti bagi
kehidupan konsumen.
Lebih lanjut Chapra (2002;309) mengatakan bahwa konsumsi agregat yang sama
mungkin memiliki porsi barang kebutuhan dasar dan barang mewah yang berbeda ( C = Cn +
Ci ) dan tercapai tidaknya pemenuhan suatu kebutuhan tidak tergantung kepada proporsi
sumber daya yang dialokasikan kepada masing-masing konsumsi ini. Semakin banyak
sumber daya masyarakat yang digunakan untuk konsumsi dan produksi barang dan jasa
mewah (Ci), semakin sedikit suumber daya yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan dasar
(Cn). Dengan demikian, meski terjadi peningkatan pada konsumsi agregat, ada kemugkinan
bahwa kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik dilihat dari tingkat pemenuhan dasar
penduduk miskin (Cn), jika semua peningkatan yang terjadi pada konsumsi tersebut lari ke
penduduk kaya untuk pemenuhan kebutuhan barang-barang mewah (Ci).
Fungsi konsumsi di dalam ilmu makroekonomi konvensional tidak memperhitungkan
komponen-komponen konsumsi agrega ini (Cn dan Ci). Yang lebih banyak dibicarakan dalam
ilmu makroekonomi konvensional terutama mengenai pengaruh dari tingkat harga dan
pendapatan terhadap konsumsi. Hal ini dapat memperburuk analisis, karena saat tingkat harga
dan pendapatan benar-benar memainkan peran yang subsstansial dalam menentukan
konsumsi bagregat (C), ada sejumlah faktor moral, sosial, politik, ekonomi, dan sejarah yang
memengaruhi pengalokasiannya pada masing-masing komponen konsumsi (Cn dan Ci).
Dengan demikian, faktor-faktor nilai dan kelembagaan serta preferensi, distribusi pendapatan
dan kekayaan, perkembangan sejarah, serta kebijakan-kebijakan pemerintah tentunya tak
dapat diabaikan dalam analisis ekonomi.
Sejumlah ekonom Muslim diantaranya adalah Zarqa (1980 dan 1982), Monzer Kahf
(1978 dan 1980), M.M Metwally (1981), Fahim Khan (1988), M.A Manan (1986), M.A
Choudhury (1986), Munawar Iqbal (1986), Bnedjilali dan Al-Zamil (1993) dan Ausaf

Ahmad(1992) telah berusaha memformulasikan fungsi konsumsi yang mencerminkan faktrfaktor tambahan ini meski tidak seluruhnya. Mereka beranggapan bahwa tingkat harga saja
tidaklah cukup untuk mengurangi konsumsi barang mewah (Ci) yang dilakukan oleh orangorang kaya. Diperlukan cara untuk mengubah sikap, selera dan preferensi, memberikan
motivasi yang tepat, serta menciptakan lingkungan sosial yang memandang buruk konsumsi
seperti itu (Ci). Disamping itu perlu pula menyediakan sumber daya bagi penduduk miskin
guna meningkatkan daya beli atas barang-barang dan jasa-jasa yang terkait dengan kebutuhan
dasar (Cn). Hal inilah yang coba dipenuhi oleh paradigma religius, khususnya islam, dengan
menekankan perubahan individu dan sosial melalui reformasi moral dan kelembagaan (dalam
Chapra, 2002;310)
Norma konsumsi Islam mungkin dapat membantu memberikan orientasi preferensi
individual yang menentang konsumsi barang-barang mewah (Ci) dan bersama dengan jaring
pengaman sosial, zakat serta pengeluaran-pengeluaran untuk amal mempengaruhi alokasi dari
sumber daya yang dapat meningkatkan tingkat konsumsi pada komponen barang kebutuhan
dasar (Cn). Produsen kemudian mungkin akan merespon permintaan ini sehingga volume
investasi yang lebih besar dialihkan kepada produksi barang-barang yang terkait dengan
kebutuhan dasar (Cn).

Sumber : Buku Eko suprayitno, Ekonomi Islam Pendekatan Ekonomi Makro Islam dan
Konvensional, ( yogyakarta : Graha Ilmu, 2005 ).

Ekonomi Makro Islam


PEREKONOMIAN TERTUTUP TANPA KEBIJAKAN PEMERINTAH
Perekonomian tertutup artinya tidak mengenal hubungan luar negeri, sehingga tidak ada
kegiatan ekspor-impor. Perekonomian sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah
dalam kegiatan perekonomian. Jadi, perekonomian tertutup sederhana adalah perekonomian
yang melibatkan dua pelaku, yaitu rumah tangga dan perusahaan (swasta). Perekonomian
sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah dalam kegiatan

perekonomian.

Keseimbangan perekonomian sederhana atau dua sektor dapat dituliskan dengan notasi
berikut:
Y = C+I

Dimana,C = Konsumsi
I = Investasi
Jika sebagian pendapatan digunakan untuk konsumsi dan sebagian digunakan untuk
menabung (saving atau diberi notasi S) maka dapat di tuliskan sebagai berikut:
Y=C+S
Hubungan uang dengan modal dalam perspektif ekonomi Islam
Modal (capital) mengandung arti barang yang dihasilkan oleh alam atau buatan
manusia, yang diperlukan bukan untuk memenuhi secara langsung keinginan manusia tetapi
untuk memproduksi barang lain yang pada gilirannya akan dapat memenuhi kebutuhan
manusia secara langsung dan menghasilkan keuntungan. Modal terbagi dua yaitu modal tetap
dan modal yang bersirkulasi, perbedaan keduanya dalam syariah adalah modal tetap pada
umumnya bisa disewakan tetapi tidak bisa dipinjamkan (qardh) . sedang modal bersirkulasi
bersifat konsumtif bisa dipinjamkan (qardh) tetapi tidak bisa disewakan.
Pembahasan fungsi konsumsi dalam pendekatan ekonomi Islam, banyak dilakukan oleh
para ahli ekonmi Islam, diantaranya adalah sebagai berikut:
Fahim Khan merumuskan fungsi konsumsi sebagai berikut: C* = A0+AU + YU
Munawar Iqbal menyatakan bahwa pengaruh pada konsumsi yang dikeluarkan pada jalan
Allah, termasuk zakat, menjadi ketentuan Islam tentang hidup yang tidak berlebih-lebihan.

PEREKONOMIAN TERTUTUP DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH


Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup dengan Kebijakan Pemerintah dalam
Perspektif Ekonomi Islam
Dalam negara Islam, kebijakan fiskal merupakan salah satu perangkat untuk mencapai
tujuan syariah yang dijelaskan Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan
dengan tetap menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.
Dalam konsep ekonomi Islam, kebijaksanaan fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu
masyarakat yang didasarkan atas distribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilanilai material dan spritual pada tingkat yang sama.
Terkait dengan dampak zakat terhadap aggregate output khususnya dengan pendekatan
expenditure analysis dapat dijelaskan pandangan dari Yosoff sebagai berikut, dari sudut
expenditure pendapatan nasional dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
Y = C 1 + CZ + I + G

Keterangan :
C = C1 + CZ
C : pengeluaran konsumsi rumah tangga
C1 : konsumsi individu yang membayar zakat
Cz : konsumsi dari penerima zakat
Y = C1 + S + Z + T
Keterangan :
Z : zakat
T : pajak
S : saving
Masuknya komponen zakat dapat diuraikan dampak awalnya melalui persamaan
konsumsi yang dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
1) Persamaan konsumsi untuk pembayar zakat
C1 = C01 + c1 (Y-Z-T) ; 0 < c1 < 1
Keterangan :
C1 : MPC / pembayar zakat
C01 : autonomous consumption
Y-Z-T : pendapatn yang digunakan untuk konsumsi
2) Persamaan konsumsi untuk penerima zakat
CZ = C0Z + cZ ZE

; 0 < cz < 1

Keterangan :
Cz : penerima zakat
C0z : besarnya konsumsi yang dilakukan dengan sumber diluar zakat misalnya berupa
shadaqah
ZE : jumlah zakat yang didistribusikan pemerintah
Jika zakat yang diterima semuanya digunakan untuk konsumsi (C z = 1) maka
persamaan (1.4) menjadi :
CZ = C0Z + ZE
Dengan mengasumsikan fungsi konsumsi zakat yang diterima sebagai garis horizontal,
maka persamaan zakat sebagai berikut :
ZE = CZ + SZ
Keterangan :

Cz : konsumsi dari zakat yang diterima


Sz : saving dari zakat yang diterima
Jika persamaan (1.6) dikalikan total differential dan kedua sisi persamaan dibagi
dengan

ZE, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :


ZE/

ZE =

SZ/

ZE

Atau
1=

CZ /

ZE +

SZ/

ZE

1 = MPCZ + MPSZ
Keterangan :
MPCz : marginal propensity to consume dari zakat yang diterima
MPSz : marginal propensity to save dari zakat yang diterima
Jika MPSz =0, maka MPCz =1. Tetapi ada sejumlah penerima zakat yang bisa memilih
untuk menyimpan bagian dari zakat yang mereka terima seperti pengumpul zakat (amil).
Sehingga MPCz dari penerima zakat sebagai suatu kelompok menjadi lebih kecil, tetapi masih
relatif lebih besar dari MPC pembayar zakat.
Maka persamaan konsumsi aggregate sebagai berikut :
C = C1 + CZ
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + cZ ZE
Jika cz = 1, maka
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + ZE
UANG DAN PERMINTAAN UANG
Uang dalam Pandangan Islam
Dalam sejarah Islam uang merupakan sesuatu yang diadopsi dari peradaban Romawi
dan Persia. Ini dimungkinkan karena penggunaan dan konsep uang tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Dinar adalah mata uang emas yang diambil dari Romawi dan dirham adalah
mata uang perak warisan peradaban Persia.
Permintaan dan Penawaran Uang dalam Pendekatan Ekonomi Islam
Ada dua alasan utama memegang uang dalam ekonomi Islam, yaitu motivasi transaksi
dan berjaga-jaga. spekulasi dalam pengertian Keynes, tidak pernah ada dalam ekonomi Islam,
sehingga permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi nol dalam ekonomi Islam.

Keperluan uang tunai yang dipegang dalam jangka waktu penerimaan pendapatan dan
pembayarannya. Besarnya persediaan unag tunai akan berhubungan dengan tingkat
pendapatan dan frekuensi pengeluaran.
Jika seseorang menerima pendapatan dalam bentuk uang tunai dan dalam waktu
bersamaan dikeluarkan juga secara tunai, maka tidak perlu memegang uang untuk transaksi.
Disini tidak ada interval waktu untuk menjembataninya. Seseorang yang yang mendapat
bayaran bulananakan memerlukan persediaan uang tunai yang rata-rata lebih dibandingkan
dengan seseorang yang yang mendapat bayaran harian, dengan asumsi bahwa perilaku
konsumsi mereka sama.
DINAR-DIRHAM
Sejarah Uang Dinar
Pada masa sebelum datangnya Islam, uang dinar merupakan uang yang digunakan
dalam transaksi perdagangan. Berbagai jenis uang dinar emas dan perak dirham beredar
dalam perdagangan sebagai akibat dari banyaknya bangsa Arab yang berdagang dengan
bangsa Ronawi, Byzantium, dan para pedangang yang melewati negeri Arab. Pada saat itu,
kota Mekkah menjadi pusat perdagangan dan pertukaran mata uang, sehingga banyak para
pedangan dari berbagai negri datang ke kota Mekkah untuk bertemu dan melakukan transaksi
perdagangan.
Secara bahasa, dinar berasal dari kata denarius (Romawi Timur) dan dirham berasal
dari kata drachma (Persia). Menurut hukum islam, uang dinar yang dipergunakan adalah
setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah ditetapkan
pada masa Rasulullah dan telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization
(WITO) hingga saat ini. Sedang uang dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar
dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya
Islam maupun sesudahnya.
Dinar dan dirham dicetak pertama kali pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik
bin Marwan pada tahun 695 M/77 H. Dalam perjalanannya sebagai mata uang yang
digunakan, dinar dan dirham cenderung stabil dan dan tidak mengalami inflasi yang cukup
besar selama 1500 tahun. Penggunaan dinar dan dirham berakhir pada runtuhnya khalifah
Islam Turki Usmani 1924.
Dampak penggunaan Uang Dinar dalam Perdagangan Internasional

Penggunaan uang dinar merupakan suatu solusi atas perekonomian dunia yang
menggunakan uang fiat. Penggunaan uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian
dunia, untuk mengatasi hal ini dibutuhkan mata uang yang lebih stabil, yaitu dinar emas.
Pada tahun 1250M/648 H di negara Mesir uang dinar yang dijadikan sebagai dasar moneter
pernah dipengaruhi oleh uang fulus, yaitu uang campuran dari kunningan dan tembaga.
Penggunaan uang fulus dan ditambah oleh kondisi perekonomian yang buruk telah
menyebabkan harga tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut Al-Maqrizi (768-845H) dalam
bukunya Ighotstul Ummah bi Kasyfil Ghummah menjelaskan kondisi tersebut secara
terperinci serta memberikan jalan keluar bagi kondisi perekonomian Mesir pada waktu itu.
Diantara pemikiran Al-Maqrizi tersebut adalah:
a. Hanya dinar dan dirham yang digunakan sebagai uang,
b. Menghentikan penurunan uang (debasement of Money), dan
c. Membatasi penggunaan uang fulus.
Menurut al-Maqrizi untuk mengatasi kondisi tersebut, uang dinar dan dirham harus
kembali digunakan dalam perdagangan barang dan jasa seperti pembayaran upah para
pekerja. Untuk mendukung penggunaan uang dinar dan dirham tersebut, maka pemerintah
harus menghentikan penurunan nilai uang serta membatasi penggunaan uang fulus hanya
untuk transaksi dalam skala kecil dan hanya untuk transaksi kebutuhan sehari-hari rumah
tangga. Sedangkan dinar dan dirham digunakan untuk transaksi dalam skala besar seperti
perdangangan luar negeri dan transaksi domentik lainnya.
Pada saat ini, peran uang fulus sudah digantikan oleh uang fiat yang digunakan untuk
semua transaksi perdagangan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Penggunaan dinar
merupakan suatu solusi untuk mengatasi berbagai dampak perekonomian yang ditimbulkan
oleh penggunaan uang fiat dalam perekonomian dunia.
Ketika perdagangan menggunakan emas, maka indeks harga akan mempertahankan
kesesuaian, karena menggunakan sistem emas sangat berperan penting untuk menjaga
stabilitas harga di berbagai negara. Sebagai contoh, terjadinya kerja sama dagang antara
Suriah dengan Perancis dengan menggunakan sistem emas. Suriah mengimpor komoditi
dalam jumlah besar dari Perancis , hal ini akan menyebabkan eluarnya emas dari Suriah
menuju Perancis dan persediaan emas akan menipis di Suriah. Saat ini harga-harga akan
mengalami penurunan di Suriah. Ketika harga-harga komoditi di Suriah, negara lain akan
melakukan impor dari Suriah dan pada saat itu pula emas-emas kembali masuk dan menguat
di Suriah. Tetapi, ketika perdagangan di dunia tidak lagi berjalan dengan bebas, keberadaan
uang emas digantikan dengan uang kertas yang berkaitan pada perbedaan indeks harga-harga.

Penggunaan uang dinar dan uang dosmetik secara bersamaan akan menimbulkan
terjadinya spekulasi nilai tukar antara uang kertas dan uang dinar yang pada ahirnya akan
menyebabkan runtuhnya sistem uang dinar. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka
diperlukan adanya pengaturan terhadap uang dinar itu sendiri, berupa:
a. Uang dinar hanya boleh digunakan untuk pertukaran barang dan jasa
b. Nilai moneter dari uang dinar harus lebih tinggi dari nilai intrinsiknya
Penggunaan uang dinar diperlukan adanya peran dari bank sentaral untuk mengontrol
dan menentukan jumlah dinar yang eksis dan yang beredar.

KESEIMBANGAN IS-LM DENGAN PENDEKATAN EKONOMI ISLAM


1. Keseimbangan Kurva IS-LM
a. Keseimbangan Pasar Barang dan Kurva IS
Dalam

kehidupan

sehari-hari,kita

melakukan

banyak

sekali

transaksi.Seperti

berbelanja,minum kopi,membeli buku,mengisi bahan bakar,dan lainnya.Dalam transaksi


ini,yang diperjual belikan adalah semua barang dan jasa.Jika keseluruhan barang dan jasa
yang ditransaksikan ini,kita satukan secara agregat,maka pasar ini kita sebut istilahnya
dengan pasar barang.jadi,dengan demikian dapat kita defenisikan bahwa pasar barang adalah
pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam jangka waktu
tertentu.
Setelah kita mendefinisikan pasar barang,maka selanjutnya kita masuk lebih jauh untuk
menelaah tentang pasar barang tersebut.Jika kita telaah lebih jauh,selayaknya sebagai sebuah
pasar, maka ada penawaran dan permintaan.Demikian juga dengan pasar barang,maka ada
permintaan dan penawaran.Permintaan dalam pasar barang merupakan agregasi dari semua
perminataan akan barang dan jasa didalam negri,sementara yang menjadi penawarnya adalah
semua barang dan jasa yang di produksi didalam negeri.
Jika permintaan total dari barang dan jasa dalam suatu negara diasumsikan merupakan
penjumlahan dari konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah,maka rumusnya adalah
sebagai berikut:
Z = C + I +G

Dari persamaan sebelumnya didapatkan bahwa besaran konsumsi ditentukan oleh


besaran disposable income yang dalam hal ini adalah total pendapatan dikurangi dengan
pajak,sehingga persamaan menjadi:
Z = C (Y-T) + I + G
Secara lebih lengkap,dengan menjabarkan fungsi konsumsi bahwa
C = co + c1 Yd, maka persamaan diatas diturunkan sebagai berikut :
Z = Co + C1 Yd + I + G
Z = Co + C 1 ( Y T ) + I + G, dimana C1 = marginal propensity to costume
Jika total produksi dalam suatu negara sama dengan total pendapatan Y, dan
permintaan sama dengan penawaran, maka :
Y = Z, dengan demikian,secara matematis kita dapat mengganti Y dengan Z,sehingga
persamaan diatas dapat menjadi :
Y = Co + C1 (Y-T) + I + G

2. Keseimbangan Pasar Uang dan Kurva LM


Kondisi perekonomian suatu negara juga dapat dipengaruhi oleh pasar uang.pasar
uang merupakan suatu tempat dimana terjadi transaksi keuangan.sama halnya dengan pasar
lainnya,keseimbangan akan terjadi pada saat jumlah permintaan uang dipasar sama dengan
jumlah penawaranya.Dalam sistem ekonomi diluar ekonomi islam permintaan uang
dipengaruhi oleh tingkat bunga sedangkan penawarnya merupakan otoritas dari bank
sentral,sehingga bentuk kurva penewarnya menjadi inelastis sempurna.
Besarnya permintaan uang dipengaruhi oleh pendapatan nominal dan suku
bunga.Secara matematis hubungan ini akan dapat ditulis sebagai berikut:
M = $YL (i)
Berdasarkan hubungan ini dinyatakan bahwa kenaikan pendapatan

akan

meningkatkan permintaan nominal,sedangkan kenaikan suku bunga akan menurunkan


permintaan uang.jika hubungan dalam bentuk nominal ini akan di rubah dalam bentuk riil,
maka:
M/P = YL (i)
Dari persamaan ini diketahui bahwa permintaan uang riil akan dipengaruhi oleh
pendapatan riil dan tingkat bunga.perbedaan antara uang nominal dan uang riil akan dilihat
dari daya belinya.uang nominal hanya menyatakan jumlah uang yang tertera di uang

fiat,sedangkan uang riil mengukur uang dari daya belinya.misalkan,kita akan membawa yang
cukup untuk membeli 4 mangkuk sup,maka jumlah uang yang harus kita siapkan adalah
sebesar 4 kali harga semangkuk bakso.Jika harga semangkuk bakso sama dengan Rp 10.000,
maka jumlah yang harus kita sediakan untuk membeli 4 mangkuk bakso sama dengan Rp
40.000,-

Perhatikan pada saat terjadi kenaikan pendapatan, pemintaan jumlah uang beredar
akan meningkat,jika jumlah uang yang beredar tidak berubah (karena ototritasya ada pada
BI) maka hal ini akan mengakibatkan suku bunga meningkat.Perhatikan keseimbangan lama
ada pada titik A dengan jumlah uang Beredar M,dan suku bunga i.Sedangkan ekuilibrium
yang baru ada pada kombinasi jumlah keseimbangan sebesar M,dengan suku bunga i.
3. Keseimbangan Kurva IS-LM
Pada bagian sebelumnya,kita telah membahas kurva IS maupun kurva LM secara
terpisah.pada bagian selanjutnya akan dibahas bagaimana kedua kurva ini berada dalam suatu
grafik.Keseimbangan yang terjadi merupakan keseimbangan antara pasar uang dan pasar
barang.
IS : C (Y-T) + (Y,i) + G
LM : M/P = Yl (i)

Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya bahwa kurva IS, merupakan kurva yang
menghubungkan antara i dan Y pada saat pasar barang dalam kondisi ekuilibrium.Sedangkan
kurva LM merupakan kurva yang menghubungkan antara Y dan i pada saat pasar uang dalam
kondisi ekuilibrium .
TEORI INFLASI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
Inflasi adalah kenaikan harga umum secara terus menerus dari suatu perekonomian.
Bebera kelompok besar dari inflasi adalah sebagai berikut:
a.

Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


b. Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada
c.

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

kenaikan tingkat harga umum.


d. Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian
ekonomi yang menyebabkan berubah.
Perbedaan inflasi menurut ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dapat di lihat dari
penyebab dan solusi dalam menghadapi inflasi.
1. Sebab-sebab Inflasi
a. Ekonomi Konvensional:
Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

kenaikan tingkat harga umum.


Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian

ekonomi yang menyebabkan berubah.


b. Ekonomi Islam:
Natural cause inflation, inflasi yang terjadi dikarena kondisi alam yang tidak bisa dicegah.
Human error cause inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena kesalahan manusai itu sendiri,
seperti korupsi, penetapan pajak yang tinggi, penambahan jumlah uang yang beredar dan
2.
a.

penimbunan barang.
Solusi dalam mengatasi Inflasi
Ekonomi Konvensional:
Kebijakan moneter
Kebijakan fiskal

Kebijakan non-moneter, yaitu dengan cara menaikkan hasil produksi, kebijaksanaan upah,

pengawasan harga
b. Ekonomi Islam:
Menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar
Menjadikan emas perak sebagai standart nilai tukar uang dunia

Islam telah mengitkan emas dan perak dengan hukum yang baku dan tidak berubah-ubah,

diamana ketika Islam mewajibkan diat, maka harus menggunakan standart emas perak
Ketika Allah mewajibkan pembayaran zakat, maka nisabnya berdasarkan emas dan perak.

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN PENDEKATAN AGGREGATE DEMAND DAN


SUPPLY
Pasar tenaga kerja adalah suatu keadaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang
berasal dari angkatan kerja dan permintaan tenaga kerja yang berasal dari perusahaan.
Beberapa persamaan yang akan di ulang pada bagian ini adalah:
persamaan wage setting relation dan
price setting relation.
Bentuk-bentuk kerja yang disyariatkan dalam islam adalah pekerjaan yang
dilakukannya dengan kemampuannya sendiri dan bermanfaat, antara lain:
a) Menghidupkan tanah mati (tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak dimanfaatkan oleh
satu orang pun).
Menggali kandungan bumi
Berburu.
Makelar (samsarah)
Perseroan atau harta dengan tenaga (mudharabah)
Mengairi lahan pertanian (musaqaf)
Kontrak tenaga kerja (ijarah)
Ada dua hal penting yang dimiliki oleh kurva aggregate supply:
1) Output yang meningkat akan meningkatkan harga.
2) Harga yang meningkat tidak terlepas dari adanya ekspektasi yang meningkat.
Berbeda dengan kurva aggregate supply (AS) yang diturunkan dari keseimbangan di

b)
c)
d)
e)
f)
g)

pasar tenaga kerja, maka kurva AD diturunkan dari keseimbangan yang terjadi di pasar uang
dan pasar barang.
Penetapan harga dalam prespektif ekonomi dalam islam
Distorsi harga ketika kaum Qurais menetapkan blokade ekonomi terhadap umat islam.
Kenaikan harga di Madinah, Rasulullah menyatakan Allah adalah Dzat yang menentukan dan
mengatur harga, penahanan, pencurah serta penentu rezeki, aku berharap menemui Tuhanku
dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kedzaliman dalam hal darah dan
harta.

Abu Yusuf (731-798), dalam kitabnya yang terkanal al-Kharaj. Abu Yusuf merupakan
ulama terawal yang mulai menyinggung mekanisme pasar. Ia misalnya memperhatikan
peningkatan dan penurunan produksi dalam kaitannya dengan perubahan harga. Pemahaman
saat itu mengatakan bahwa bila tersedia sedikit barang, maka harga akan mahal dan demikian
sebaliknya. Pada kesimpulan Abu Yusuf menyatakan murah dan mahalnya suatu harga
merupakan ketentuan Allah.
Ibnu Taimiyah (1263-1328), dalam kitabnya Majmu Fatawa Syakh Al-Islam dan kitab
Al-Hisbah fi Al-Islam. Ibnu Taimiyah menyatakan perubahan dalam penawaran digambarkan
sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan. Sedangkan
permintaan ditentukan selera dan pendapatan. Dan menurut Ibnu Taimiyah bila seluruh
transaksi sudah sesuai dengan aturan, kenaian harga yang terjadi merupakan kehendak Allah.
Ibnu Khaldun (1332-1404) dalam bukunya Muqaddimah menulis secara khusus satu
bab tentang harga-harga di kota. Selain itu, Ibnu Chaldun juga menjelaskan mekanisme
permintaan dan penawaran dalam mencipkatakan harga keseimbangan. Kemudian dijelaskan
pula meningkatnya biaya produksi karena pajak mempengaruhi penawaran.

Ekonomi Makro Islam


PEREKONOMIAN TERTUTUP TANPA KEBIJAKAN PEMERINTAH
Perekonomian tertutup artinya tidak mengenal hubungan luar negeri, sehingga tidak ada
kegiatan ekspor-impor. Perekonomian sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah
dalam kegiatan perekonomian. Jadi, perekonomian tertutup sederhana adalah perekonomian
yang melibatkan dua pelaku, yaitu rumah tangga dan perusahaan (swasta). Perekonomian
sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah dalam kegiatan

perekonomian.

Keseimbangan perekonomian sederhana atau dua sektor dapat dituliskan dengan notasi
berikut:
Y = C+I
Dimana,C = Konsumsi
I = Investasi
Jika sebagian pendapatan digunakan untuk konsumsi dan sebagian digunakan untuk
menabung (saving atau diberi notasi S) maka dapat di tuliskan sebagai berikut:
Y=C+S
Hubungan uang dengan modal dalam perspektif ekonomi Islam

Modal (capital) mengandung arti barang yang dihasilkan oleh alam atau buatan
manusia, yang diperlukan bukan untuk memenuhi secara langsung keinginan manusia tetapi
untuk memproduksi barang lain yang pada gilirannya akan dapat memenuhi kebutuhan
manusia secara langsung dan menghasilkan keuntungan. Modal terbagi dua yaitu modal tetap
dan modal yang bersirkulasi, perbedaan keduanya dalam syariah adalah modal tetap pada
umumnya bisa disewakan tetapi tidak bisa dipinjamkan (qardh) . sedang modal bersirkulasi
bersifat konsumtif bisa dipinjamkan (qardh) tetapi tidak bisa disewakan.
Pembahasan fungsi konsumsi dalam pendekatan ekonomi Islam, banyak dilakukan oleh
para ahli ekonmi Islam, diantaranya adalah sebagai berikut:
Fahim Khan merumuskan fungsi konsumsi sebagai berikut: C* = A0+AU + YU
Munawar Iqbal menyatakan bahwa pengaruh pada konsumsi yang dikeluarkan pada jalan
Allah, termasuk zakat, menjadi ketentuan Islam tentang hidup yang tidak berlebih-lebihan.

PEREKONOMIAN TERTUTUP DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH


Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup dengan Kebijakan Pemerintah dalam
Perspektif Ekonomi Islam
Dalam negara Islam, kebijakan fiskal merupakan salah satu perangkat untuk mencapai
tujuan syariah yang dijelaskan Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan
dengan tetap menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.
Dalam konsep ekonomi Islam, kebijaksanaan fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu
masyarakat yang didasarkan atas distribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilanilai material dan spritual pada tingkat yang sama.
Terkait dengan dampak zakat terhadap aggregate output khususnya dengan pendekatan
expenditure analysis dapat dijelaskan pandangan dari Yosoff sebagai berikut, dari sudut
expenditure pendapatan nasional dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
Y = C 1 + CZ + I + G
Keterangan :
C = C1 + CZ
C : pengeluaran konsumsi rumah tangga
C1 : konsumsi individu yang membayar zakat
Cz : konsumsi dari penerima zakat

Y = C1 + S + Z + T
Keterangan :
Z : zakat
T : pajak
S : saving
Masuknya komponen zakat dapat diuraikan dampak awalnya melalui persamaan
konsumsi yang dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
1) Persamaan konsumsi untuk pembayar zakat
C1 = C01 + c1 (Y-Z-T) ; 0 < c1 < 1
Keterangan :
C1 : MPC / pembayar zakat
C01 : autonomous consumption
Y-Z-T : pendapatn yang digunakan untuk konsumsi
2) Persamaan konsumsi untuk penerima zakat
CZ = C0Z + cZ ZE

; 0 < cz < 1

Keterangan :
Cz : penerima zakat
C0z : besarnya konsumsi yang dilakukan dengan sumber diluar zakat misalnya berupa
shadaqah
ZE : jumlah zakat yang didistribusikan pemerintah
Jika zakat yang diterima semuanya digunakan untuk konsumsi (C z = 1) maka
persamaan (1.4) menjadi :
CZ = C0Z + ZE
Dengan mengasumsikan fungsi konsumsi zakat yang diterima sebagai garis horizontal,
maka persamaan zakat sebagai berikut :
ZE = CZ + SZ
Keterangan :
Cz : konsumsi dari zakat yang diterima
Sz : saving dari zakat yang diterima
Jika persamaan (1.6) dikalikan total differential dan kedua sisi persamaan dibagi
dengan

ZE, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :

ZE/

ZE =

SZ/

ZE

Atau
1=

CZ /

ZE +

SZ/

ZE

1 = MPCZ + MPSZ
Keterangan :
MPCz : marginal propensity to consume dari zakat yang diterima
MPSz : marginal propensity to save dari zakat yang diterima
Jika MPSz =0, maka MPCz =1. Tetapi ada sejumlah penerima zakat yang bisa memilih
untuk menyimpan bagian dari zakat yang mereka terima seperti pengumpul zakat (amil).
Sehingga MPCz dari penerima zakat sebagai suatu kelompok menjadi lebih kecil, tetapi masih
relatif lebih besar dari MPC pembayar zakat.
Maka persamaan konsumsi aggregate sebagai berikut :
C = C1 + CZ
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + cZ ZE
Jika cz = 1, maka
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + ZE
UANG DAN PERMINTAAN UANG
Uang dalam Pandangan Islam
Dalam sejarah Islam uang merupakan sesuatu yang diadopsi dari peradaban Romawi
dan Persia. Ini dimungkinkan karena penggunaan dan konsep uang tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Dinar adalah mata uang emas yang diambil dari Romawi dan dirham adalah
mata uang perak warisan peradaban Persia.
Permintaan dan Penawaran Uang dalam Pendekatan Ekonomi Islam
Ada dua alasan utama memegang uang dalam ekonomi Islam, yaitu motivasi transaksi
dan berjaga-jaga. spekulasi dalam pengertian Keynes, tidak pernah ada dalam ekonomi Islam,
sehingga permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi nol dalam ekonomi Islam.
Keperluan uang tunai yang dipegang dalam jangka waktu penerimaan pendapatan dan
pembayarannya. Besarnya persediaan unag tunai akan berhubungan dengan tingkat
pendapatan dan frekuensi pengeluaran.
Jika seseorang menerima pendapatan dalam bentuk uang tunai dan dalam waktu
bersamaan dikeluarkan juga secara tunai, maka tidak perlu memegang uang untuk transaksi.

Disini tidak ada interval waktu untuk menjembataninya. Seseorang yang yang mendapat
bayaran bulananakan memerlukan persediaan uang tunai yang rata-rata lebih dibandingkan
dengan seseorang yang yang mendapat bayaran harian, dengan asumsi bahwa perilaku
konsumsi mereka sama.
DINAR-DIRHAM
Sejarah Uang Dinar
Pada masa sebelum datangnya Islam, uang dinar merupakan uang yang digunakan
dalam transaksi perdagangan. Berbagai jenis uang dinar emas dan perak dirham beredar
dalam perdagangan sebagai akibat dari banyaknya bangsa Arab yang berdagang dengan
bangsa Ronawi, Byzantium, dan para pedangang yang melewati negeri Arab. Pada saat itu,
kota Mekkah menjadi pusat perdagangan dan pertukaran mata uang, sehingga banyak para
pedangan dari berbagai negri datang ke kota Mekkah untuk bertemu dan melakukan transaksi
perdagangan.
Secara bahasa, dinar berasal dari kata denarius (Romawi Timur) dan dirham berasal
dari kata drachma (Persia). Menurut hukum islam, uang dinar yang dipergunakan adalah
setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah ditetapkan
pada masa Rasulullah dan telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization
(WITO) hingga saat ini. Sedang uang dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar
dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya
Islam maupun sesudahnya.
Dinar dan dirham dicetak pertama kali pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik
bin Marwan pada tahun 695 M/77 H. Dalam perjalanannya sebagai mata uang yang
digunakan, dinar dan dirham cenderung stabil dan dan tidak mengalami inflasi yang cukup
besar selama 1500 tahun. Penggunaan dinar dan dirham berakhir pada runtuhnya khalifah
Islam Turki Usmani 1924.
Dampak penggunaan Uang Dinar dalam Perdagangan Internasional
Penggunaan uang dinar merupakan suatu solusi atas perekonomian dunia yang
menggunakan uang fiat. Penggunaan uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian
dunia, untuk mengatasi hal ini dibutuhkan mata uang yang lebih stabil, yaitu dinar emas.
Pada tahun 1250M/648 H di negara Mesir uang dinar yang dijadikan sebagai dasar moneter
pernah dipengaruhi oleh uang fulus, yaitu uang campuran dari kunningan dan tembaga.
Penggunaan uang fulus dan ditambah oleh kondisi perekonomian yang buruk telah

menyebabkan harga tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut Al-Maqrizi (768-845H) dalam
bukunya Ighotstul Ummah bi Kasyfil Ghummah menjelaskan kondisi tersebut secara
terperinci serta memberikan jalan keluar bagi kondisi perekonomian Mesir pada waktu itu.
Diantara pemikiran Al-Maqrizi tersebut adalah:
a. Hanya dinar dan dirham yang digunakan sebagai uang,
b. Menghentikan penurunan uang (debasement of Money), dan
c. Membatasi penggunaan uang fulus.
Menurut al-Maqrizi untuk mengatasi kondisi tersebut, uang dinar dan dirham harus
kembali digunakan dalam perdagangan barang dan jasa seperti pembayaran upah para
pekerja. Untuk mendukung penggunaan uang dinar dan dirham tersebut, maka pemerintah
harus menghentikan penurunan nilai uang serta membatasi penggunaan uang fulus hanya
untuk transaksi dalam skala kecil dan hanya untuk transaksi kebutuhan sehari-hari rumah
tangga. Sedangkan dinar dan dirham digunakan untuk transaksi dalam skala besar seperti
perdangangan luar negeri dan transaksi domentik lainnya.
Pada saat ini, peran uang fulus sudah digantikan oleh uang fiat yang digunakan untuk
semua transaksi perdagangan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Penggunaan dinar
merupakan suatu solusi untuk mengatasi berbagai dampak perekonomian yang ditimbulkan
oleh penggunaan uang fiat dalam perekonomian dunia.
Ketika perdagangan menggunakan emas, maka indeks harga akan mempertahankan
kesesuaian, karena menggunakan sistem emas sangat berperan penting untuk menjaga
stabilitas harga di berbagai negara. Sebagai contoh, terjadinya kerja sama dagang antara
Suriah dengan Perancis dengan menggunakan sistem emas. Suriah mengimpor komoditi
dalam jumlah besar dari Perancis , hal ini akan menyebabkan eluarnya emas dari Suriah
menuju Perancis dan persediaan emas akan menipis di Suriah. Saat ini harga-harga akan
mengalami penurunan di Suriah. Ketika harga-harga komoditi di Suriah, negara lain akan
melakukan impor dari Suriah dan pada saat itu pula emas-emas kembali masuk dan menguat
di Suriah. Tetapi, ketika perdagangan di dunia tidak lagi berjalan dengan bebas, keberadaan
uang emas digantikan dengan uang kertas yang berkaitan pada perbedaan indeks harga-harga.
Penggunaan uang dinar dan uang dosmetik secara bersamaan akan menimbulkan
terjadinya spekulasi nilai tukar antara uang kertas dan uang dinar yang pada ahirnya akan
menyebabkan runtuhnya sistem uang dinar. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka
diperlukan adanya pengaturan terhadap uang dinar itu sendiri, berupa:
a.

Uang dinar hanya boleh digunakan untuk pertukaran barang dan jasa

b. Nilai moneter dari uang dinar harus lebih tinggi dari nilai intrinsiknya
Penggunaan uang dinar diperlukan adanya peran dari bank sentaral untuk mengontrol
dan menentukan jumlah dinar yang eksis dan yang beredar.

KESEIMBANGAN IS-LM DENGAN PENDEKATAN EKONOMI ISLAM


1. Keseimbangan Kurva IS-LM
a. Keseimbangan Pasar Barang dan Kurva IS
Dalam

kehidupan

sehari-hari,kita

melakukan

banyak

sekali

transaksi.Seperti

berbelanja,minum kopi,membeli buku,mengisi bahan bakar,dan lainnya.Dalam transaksi


ini,yang diperjual belikan adalah semua barang dan jasa.Jika keseluruhan barang dan jasa
yang ditransaksikan ini,kita satukan secara agregat,maka pasar ini kita sebut istilahnya
dengan pasar barang.jadi,dengan demikian dapat kita defenisikan bahwa pasar barang adalah
pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam jangka waktu
tertentu.
Setelah kita mendefinisikan pasar barang,maka selanjutnya kita masuk lebih jauh untuk
menelaah tentang pasar barang tersebut.Jika kita telaah lebih jauh,selayaknya sebagai sebuah
pasar, maka ada penawaran dan permintaan.Demikian juga dengan pasar barang,maka ada
permintaan dan penawaran.Permintaan dalam pasar barang merupakan agregasi dari semua
perminataan akan barang dan jasa didalam negri,sementara yang menjadi penawarnya adalah
semua barang dan jasa yang di produksi didalam negeri.
Jika permintaan total dari barang dan jasa dalam suatu negara diasumsikan merupakan
penjumlahan dari konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah,maka rumusnya adalah
sebagai berikut:
Z = C + I +G

Dari persamaan sebelumnya didapatkan bahwa besaran konsumsi ditentukan oleh


besaran disposable income yang dalam hal ini adalah total pendapatan dikurangi dengan
pajak,sehingga persamaan menjadi:
Z = C (Y-T) + I + G
Secara lebih lengkap,dengan menjabarkan fungsi konsumsi bahwa
C = co + c1 Yd, maka persamaan diatas diturunkan sebagai berikut :
Z = Co + C1 Yd + I + G
Z = Co + C 1 ( Y T ) + I + G, dimana C1 = marginal propensity to costume
Jika total produksi dalam suatu negara sama dengan total pendapatan Y, dan
permintaan sama dengan penawaran, maka :
Y = Z, dengan demikian,secara matematis kita dapat mengganti Y dengan Z,sehingga
persamaan diatas dapat menjadi :
Y = Co + C1 (Y-T) + I + G

2. Keseimbangan Pasar Uang dan Kurva LM


Kondisi perekonomian suatu negara juga dapat dipengaruhi oleh pasar uang.pasar
uang merupakan suatu tempat dimana terjadi transaksi keuangan.sama halnya dengan pasar
lainnya,keseimbangan akan terjadi pada saat jumlah permintaan uang dipasar sama dengan
jumlah penawaranya.Dalam sistem ekonomi diluar ekonomi islam permintaan uang
dipengaruhi oleh tingkat bunga sedangkan penawarnya merupakan otoritas dari bank
sentral,sehingga bentuk kurva penewarnya menjadi inelastis sempurna.
Besarnya permintaan uang dipengaruhi oleh pendapatan nominal dan suku
bunga.Secara matematis hubungan ini akan dapat ditulis sebagai berikut:
M = $YL (i)
Berdasarkan hubungan ini dinyatakan bahwa kenaikan pendapatan

akan

meningkatkan permintaan nominal,sedangkan kenaikan suku bunga akan menurunkan


permintaan uang.jika hubungan dalam bentuk nominal ini akan di rubah dalam bentuk riil,
maka:

M/P = YL (i)
Dari persamaan ini diketahui bahwa permintaan uang riil akan dipengaruhi oleh
pendapatan riil dan tingkat bunga.perbedaan antara uang nominal dan uang riil akan dilihat
dari daya belinya.uang nominal hanya menyatakan jumlah uang yang tertera di uang
fiat,sedangkan uang riil mengukur uang dari daya belinya.misalkan,kita akan membawa yang
cukup untuk membeli 4 mangkuk sup,maka jumlah uang yang harus kita siapkan adalah
sebesar 4 kali harga semangkuk bakso.Jika harga semangkuk bakso sama dengan Rp 10.000,
maka jumlah yang harus kita sediakan untuk membeli 4 mangkuk bakso sama dengan Rp
40.000,-

Perhatikan pada saat terjadi kenaikan pendapatan, pemintaan jumlah uang beredar
akan meningkat,jika jumlah uang yang beredar tidak berubah (karena ototritasya ada pada
BI) maka hal ini akan mengakibatkan suku bunga meningkat.Perhatikan keseimbangan lama
ada pada titik A dengan jumlah uang Beredar M,dan suku bunga i.Sedangkan ekuilibrium
yang baru ada pada kombinasi jumlah keseimbangan sebesar M,dengan suku bunga i.
3. Keseimbangan Kurva IS-LM
Pada bagian sebelumnya,kita telah membahas kurva IS maupun kurva LM secara
terpisah.pada bagian selanjutnya akan dibahas bagaimana kedua kurva ini berada dalam suatu

grafik.Keseimbangan yang terjadi merupakan keseimbangan antara pasar uang dan pasar
barang.
IS : C (Y-T) + (Y,i) + G
LM : M/P = Yl (i)
Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya bahwa kurva IS, merupakan kurva yang
menghubungkan antara i dan Y pada saat pasar barang dalam kondisi ekuilibrium.Sedangkan
kurva LM merupakan kurva yang menghubungkan antara Y dan i pada saat pasar uang dalam
kondisi ekuilibrium .
TEORI INFLASI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
Inflasi adalah kenaikan harga umum secara terus menerus dari suatu perekonomian.
Bebera kelompok besar dari inflasi adalah sebagai berikut:
a.

Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


b. Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada
c.

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

d.

kenaikan tingkat harga umum.


Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian
ekonomi yang menyebabkan berubah.
Perbedaan inflasi menurut ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dapat di lihat dari
penyebab dan solusi dalam menghadapi inflasi.

1. Sebab-sebab Inflasi
a. Ekonomi Konvensional:
Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

kenaikan tingkat harga umum.


Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian

ekonomi yang menyebabkan berubah.


b. Ekonomi Islam:
Natural cause inflation, inflasi yang terjadi dikarena kondisi alam yang tidak bisa dicegah.
Human error cause inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena kesalahan manusai itu sendiri,
seperti korupsi, penetapan pajak yang tinggi, penambahan jumlah uang yang beredar dan
penimbunan barang.
2. Solusi dalam mengatasi Inflasi

a.

Ekonomi Konvensional:
Kebijakan moneter
Kebijakan fiskal
Kebijakan non-moneter, yaitu dengan cara menaikkan hasil produksi, kebijaksanaan upah,

pengawasan harga
b. Ekonomi Islam:
Menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar
Menjadikan emas perak sebagai standart nilai tukar uang dunia

Islam telah mengitkan emas dan perak dengan hukum yang baku dan tidak berubah-ubah,

diamana ketika Islam mewajibkan diat, maka harus menggunakan standart emas perak
Ketika Allah mewajibkan pembayaran zakat, maka nisabnya berdasarkan emas dan perak.

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN PENDEKATAN AGGREGATE DEMAND DAN


SUPPLY
Pasar tenaga kerja adalah suatu keadaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang
berasal dari angkatan kerja dan permintaan tenaga kerja yang berasal dari perusahaan.
Beberapa persamaan yang akan di ulang pada bagian ini adalah:
persamaan wage setting relation dan
price setting relation.
Bentuk-bentuk kerja yang disyariatkan dalam islam adalah pekerjaan yang
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
1)
2)

dilakukannya dengan kemampuannya sendiri dan bermanfaat, antara lain:


Menghidupkan tanah mati (tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak dimanfaatkan oleh
satu orang pun).
Menggali kandungan bumi
Berburu.
Makelar (samsarah)
Perseroan atau harta dengan tenaga (mudharabah)
Mengairi lahan pertanian (musaqaf)
Kontrak tenaga kerja (ijarah)
Ada dua hal penting yang dimiliki oleh kurva aggregate supply:
Output yang meningkat akan meningkatkan harga.
Harga yang meningkat tidak terlepas dari adanya ekspektasi yang meningkat.
Berbeda dengan kurva aggregate supply (AS) yang diturunkan dari keseimbangan di
pasar tenaga kerja, maka kurva AD diturunkan dari keseimbangan yang terjadi di pasar uang
dan pasar barang.
Penetapan harga dalam prespektif ekonomi dalam islam
Distorsi harga ketika kaum Qurais menetapkan blokade ekonomi terhadap umat islam.
Kenaikan harga di Madinah, Rasulullah menyatakan Allah adalah Dzat yang menentukan dan
mengatur harga, penahanan, pencurah serta penentu rezeki, aku berharap menemui Tuhanku

dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kedzaliman dalam hal darah dan
harta.
Abu Yusuf (731-798), dalam kitabnya yang terkanal al-Kharaj. Abu Yusuf merupakan
ulama terawal yang mulai menyinggung mekanisme pasar. Ia misalnya memperhatikan
peningkatan dan penurunan produksi dalam kaitannya dengan perubahan harga. Pemahaman
saat itu mengatakan bahwa bila tersedia sedikit barang, maka harga akan mahal dan demikian
sebaliknya. Pada kesimpulan Abu Yusuf menyatakan murah dan mahalnya suatu harga
merupakan ketentuan Allah.
Ibnu Taimiyah (1263-1328), dalam kitabnya Majmu Fatawa Syakh Al-Islam dan kitab
Al-Hisbah fi Al-Islam. Ibnu Taimiyah menyatakan perubahan dalam penawaran digambarkan
sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan. Sedangkan
permintaan ditentukan selera dan pendapatan. Dan menurut Ibnu Taimiyah bila seluruh
transaksi sudah sesuai dengan aturan, kenaian harga yang terjadi merupakan kehendak Allah.
Ibnu Khaldun (1332-1404) dalam bukunya Muqaddimah menulis secara khusus satu
bab tentang harga-harga di kota. Selain itu, Ibnu Chaldun juga menjelaskan mekanisme
permintaan dan penawaran dalam mencipkatakan harga keseimbangan. Kemudian dijelaskan
pula meningkatnya biaya produksi karena pajak mempengaruhi penawaran.

Ekonomi Makro Islam


PEREKONOMIAN TERTUTUP TANPA KEBIJAKAN PEMERINTAH
Perekonomian tertutup artinya tidak mengenal hubungan luar negeri, sehingga tidak ada
kegiatan ekspor-impor. Perekonomian sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah
dalam kegiatan perekonomian. Jadi, perekonomian tertutup sederhana adalah perekonomian
yang melibatkan dua pelaku, yaitu rumah tangga dan perusahaan (swasta). Perekonomian
sederhana tidak mengenal keterlibatan pemerintah dalam kegiatan

perekonomian.

Keseimbangan perekonomian sederhana atau dua sektor dapat dituliskan dengan notasi
berikut:
Y = C+I
Dimana,C = Konsumsi
I = Investasi
Jika sebagian pendapatan digunakan untuk konsumsi dan sebagian digunakan untuk
menabung (saving atau diberi notasi S) maka dapat di tuliskan sebagai berikut:
Y=C+S

Hubungan uang dengan modal dalam perspektif ekonomi Islam


Modal (capital) mengandung arti barang yang dihasilkan oleh alam atau buatan
manusia, yang diperlukan bukan untuk memenuhi secara langsung keinginan manusia tetapi
untuk memproduksi barang lain yang pada gilirannya akan dapat memenuhi kebutuhan
manusia secara langsung dan menghasilkan keuntungan. Modal terbagi dua yaitu modal tetap
dan modal yang bersirkulasi, perbedaan keduanya dalam syariah adalah modal tetap pada
umumnya bisa disewakan tetapi tidak bisa dipinjamkan (qardh) . sedang modal bersirkulasi
bersifat konsumtif bisa dipinjamkan (qardh) tetapi tidak bisa disewakan.
Pembahasan fungsi konsumsi dalam pendekatan ekonomi Islam, banyak dilakukan oleh
para ahli ekonmi Islam, diantaranya adalah sebagai berikut:
Fahim Khan merumuskan fungsi konsumsi sebagai berikut: C* = A0+AU + YU
Munawar Iqbal menyatakan bahwa pengaruh pada konsumsi yang dikeluarkan pada jalan
Allah, termasuk zakat, menjadi ketentuan Islam tentang hidup yang tidak berlebih-lebihan.

PEREKONOMIAN TERTUTUP DENGAN KEBIJAKAN PEMERINTAH


Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup dengan Kebijakan Pemerintah dalam
Perspektif Ekonomi Islam
Dalam negara Islam, kebijakan fiskal merupakan salah satu perangkat untuk mencapai
tujuan syariah yang dijelaskan Imam Al-Ghazali termasuk meningkatkan kesejahteraan
dengan tetap menjaga keimanan, kehidupan, intelektualitas, kekayaan, dan kepemilikan.
Dalam konsep ekonomi Islam, kebijaksanaan fiskal bertujuan untuk mengembangkan suatu
masyarakat yang didasarkan atas distribusi kekayaan berimbang dengan menempatkan nilanilai material dan spritual pada tingkat yang sama.
Terkait dengan dampak zakat terhadap aggregate output khususnya dengan pendekatan
expenditure analysis dapat dijelaskan pandangan dari Yosoff sebagai berikut, dari sudut
expenditure pendapatan nasional dapat dituliskan dengan persamaan berikut :
Y = C 1 + CZ + I + G
Keterangan :
C = C1 + CZ
C : pengeluaran konsumsi rumah tangga
C1 : konsumsi individu yang membayar zakat
Cz : konsumsi dari penerima zakat

Y = C1 + S + Z + T
Keterangan :
Z : zakat
T : pajak
S : saving
Masuknya komponen zakat dapat diuraikan dampak awalnya melalui persamaan
konsumsi yang dapat dibagi atas dua bagian, yaitu :
1) Persamaan konsumsi untuk pembayar zakat
C1 = C01 + c1 (Y-Z-T) ; 0 < c1 < 1
Keterangan :
C1 : MPC / pembayar zakat
C01 : autonomous consumption
Y-Z-T : pendapatn yang digunakan untuk konsumsi
2) Persamaan konsumsi untuk penerima zakat
CZ = C0Z + cZ ZE

; 0 < cz < 1

Keterangan :
Cz : penerima zakat
C0z : besarnya konsumsi yang dilakukan dengan sumber diluar zakat misalnya berupa
shadaqah
ZE : jumlah zakat yang didistribusikan pemerintah
Jika zakat yang diterima semuanya digunakan untuk konsumsi (C z = 1) maka
persamaan (1.4) menjadi :
CZ = C0Z + ZE
Dengan mengasumsikan fungsi konsumsi zakat yang diterima sebagai garis horizontal,
maka persamaan zakat sebagai berikut :
ZE = CZ + SZ
Keterangan :
Cz : konsumsi dari zakat yang diterima
Sz : saving dari zakat yang diterima
Jika persamaan (1.6) dikalikan total differential dan kedua sisi persamaan dibagi
dengan

ZE, maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut :

ZE/

ZE =

SZ/

ZE

Atau
1=

CZ /

ZE +

SZ/

ZE

1 = MPCZ + MPSZ
Keterangan :
MPCz : marginal propensity to consume dari zakat yang diterima
MPSz : marginal propensity to save dari zakat yang diterima
Jika MPSz =0, maka MPCz =1. Tetapi ada sejumlah penerima zakat yang bisa memilih
untuk menyimpan bagian dari zakat yang mereka terima seperti pengumpul zakat (amil).
Sehingga MPCz dari penerima zakat sebagai suatu kelompok menjadi lebih kecil, tetapi masih
relatif lebih besar dari MPC pembayar zakat.
Maka persamaan konsumsi aggregate sebagai berikut :
C = C1 + CZ
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + cZ ZE
Jika cz = 1, maka
C = C01 + c1 (Y-Z-T) + C0Z + ZE
UANG DAN PERMINTAAN UANG
Uang dalam Pandangan Islam
Dalam sejarah Islam uang merupakan sesuatu yang diadopsi dari peradaban Romawi
dan Persia. Ini dimungkinkan karena penggunaan dan konsep uang tidak bertentangan dengan
ajaran Islam. Dinar adalah mata uang emas yang diambil dari Romawi dan dirham adalah
mata uang perak warisan peradaban Persia.
Permintaan dan Penawaran Uang dalam Pendekatan Ekonomi Islam
Ada dua alasan utama memegang uang dalam ekonomi Islam, yaitu motivasi transaksi
dan berjaga-jaga. spekulasi dalam pengertian Keynes, tidak pernah ada dalam ekonomi Islam,
sehingga permintaan uang untuk tujuan spekulasi menjadi nol dalam ekonomi Islam.
Keperluan uang tunai yang dipegang dalam jangka waktu penerimaan pendapatan dan
pembayarannya. Besarnya persediaan unag tunai akan berhubungan dengan tingkat
pendapatan dan frekuensi pengeluaran.
Jika seseorang menerima pendapatan dalam bentuk uang tunai dan dalam waktu
bersamaan dikeluarkan juga secara tunai, maka tidak perlu memegang uang untuk transaksi.

Disini tidak ada interval waktu untuk menjembataninya. Seseorang yang yang mendapat
bayaran bulananakan memerlukan persediaan uang tunai yang rata-rata lebih dibandingkan
dengan seseorang yang yang mendapat bayaran harian, dengan asumsi bahwa perilaku
konsumsi mereka sama.
DINAR-DIRHAM
Sejarah Uang Dinar
Pada masa sebelum datangnya Islam, uang dinar merupakan uang yang digunakan
dalam transaksi perdagangan. Berbagai jenis uang dinar emas dan perak dirham beredar
dalam perdagangan sebagai akibat dari banyaknya bangsa Arab yang berdagang dengan
bangsa Ronawi, Byzantium, dan para pedangang yang melewati negeri Arab. Pada saat itu,
kota Mekkah menjadi pusat perdagangan dan pertukaran mata uang, sehingga banyak para
pedangan dari berbagai negri datang ke kota Mekkah untuk bertemu dan melakukan transaksi
perdagangan.
Secara bahasa, dinar berasal dari kata denarius (Romawi Timur) dan dirham berasal
dari kata drachma (Persia). Menurut hukum islam, uang dinar yang dipergunakan adalah
setara 4,25 gram emas 22 karat dengan diameter 23 milimeter. Standar ini telah ditetapkan
pada masa Rasulullah dan telah dipergunakan oleh World Islamic Trading Organization
(WITO) hingga saat ini. Sedang uang dirham setara dengan 2.975 gram perak murni. Dinar
dan dirham adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar baik sebelum datangnya
Islam maupun sesudahnya.
Dinar dan dirham dicetak pertama kali pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik
bin Marwan pada tahun 695 M/77 H. Dalam perjalanannya sebagai mata uang yang
digunakan, dinar dan dirham cenderung stabil dan dan tidak mengalami inflasi yang cukup
besar selama 1500 tahun. Penggunaan dinar dan dirham berakhir pada runtuhnya khalifah
Islam Turki Usmani 1924.
Dampak penggunaan Uang Dinar dalam Perdagangan Internasional
Penggunaan uang dinar merupakan suatu solusi atas perekonomian dunia yang
menggunakan uang fiat. Penggunaan uang fiat menimbulkan ketidakstabilan perekonomian
dunia, untuk mengatasi hal ini dibutuhkan mata uang yang lebih stabil, yaitu dinar emas.
Pada tahun 1250M/648 H di negara Mesir uang dinar yang dijadikan sebagai dasar moneter
pernah dipengaruhi oleh uang fulus, yaitu uang campuran dari kunningan dan tembaga.
Penggunaan uang fulus dan ditambah oleh kondisi perekonomian yang buruk telah

menyebabkan harga tidak stabil. Untuk mengatasi hal tersebut Al-Maqrizi (768-845H) dalam
bukunya Ighotstul Ummah bi Kasyfil Ghummah menjelaskan kondisi tersebut secara
terperinci serta memberikan jalan keluar bagi kondisi perekonomian Mesir pada waktu itu.
Diantara pemikiran Al-Maqrizi tersebut adalah:
a. Hanya dinar dan dirham yang digunakan sebagai uang,
b. Menghentikan penurunan uang (debasement of Money), dan
c. Membatasi penggunaan uang fulus.
Menurut al-Maqrizi untuk mengatasi kondisi tersebut, uang dinar dan dirham harus
kembali digunakan dalam perdagangan barang dan jasa seperti pembayaran upah para
pekerja. Untuk mendukung penggunaan uang dinar dan dirham tersebut, maka pemerintah
harus menghentikan penurunan nilai uang serta membatasi penggunaan uang fulus hanya
untuk transaksi dalam skala kecil dan hanya untuk transaksi kebutuhan sehari-hari rumah
tangga. Sedangkan dinar dan dirham digunakan untuk transaksi dalam skala besar seperti
perdangangan luar negeri dan transaksi domentik lainnya.
Pada saat ini, peran uang fulus sudah digantikan oleh uang fiat yang digunakan untuk
semua transaksi perdagangan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Penggunaan dinar
merupakan suatu solusi untuk mengatasi berbagai dampak perekonomian yang ditimbulkan
oleh penggunaan uang fiat dalam perekonomian dunia.
Ketika perdagangan menggunakan emas, maka indeks harga akan mempertahankan
kesesuaian, karena menggunakan sistem emas sangat berperan penting untuk menjaga
stabilitas harga di berbagai negara. Sebagai contoh, terjadinya kerja sama dagang antara
Suriah dengan Perancis dengan menggunakan sistem emas. Suriah mengimpor komoditi
dalam jumlah besar dari Perancis , hal ini akan menyebabkan eluarnya emas dari Suriah
menuju Perancis dan persediaan emas akan menipis di Suriah. Saat ini harga-harga akan
mengalami penurunan di Suriah. Ketika harga-harga komoditi di Suriah, negara lain akan
melakukan impor dari Suriah dan pada saat itu pula emas-emas kembali masuk dan menguat
di Suriah. Tetapi, ketika perdagangan di dunia tidak lagi berjalan dengan bebas, keberadaan
uang emas digantikan dengan uang kertas yang berkaitan pada perbedaan indeks harga-harga.
Penggunaan uang dinar dan uang dosmetik secara bersamaan akan menimbulkan
terjadinya spekulasi nilai tukar antara uang kertas dan uang dinar yang pada ahirnya akan
menyebabkan runtuhnya sistem uang dinar. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka
diperlukan adanya pengaturan terhadap uang dinar itu sendiri, berupa:
a.

Uang dinar hanya boleh digunakan untuk pertukaran barang dan jasa

b. Nilai moneter dari uang dinar harus lebih tinggi dari nilai intrinsiknya
Penggunaan uang dinar diperlukan adanya peran dari bank sentaral untuk mengontrol
dan menentukan jumlah dinar yang eksis dan yang beredar.

KESEIMBANGAN IS-LM DENGAN PENDEKATAN EKONOMI ISLAM


1. Keseimbangan Kurva IS-LM
a. Keseimbangan Pasar Barang dan Kurva IS
Dalam

kehidupan

sehari-hari,kita

melakukan

banyak

sekali

transaksi.Seperti

berbelanja,minum kopi,membeli buku,mengisi bahan bakar,dan lainnya.Dalam transaksi


ini,yang diperjual belikan adalah semua barang dan jasa.Jika keseluruhan barang dan jasa
yang ditransaksikan ini,kita satukan secara agregat,maka pasar ini kita sebut istilahnya
dengan pasar barang.jadi,dengan demikian dapat kita defenisikan bahwa pasar barang adalah
pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam jangka waktu
tertentu.
Setelah kita mendefinisikan pasar barang,maka selanjutnya kita masuk lebih jauh untuk
menelaah tentang pasar barang tersebut.Jika kita telaah lebih jauh,selayaknya sebagai sebuah
pasar, maka ada penawaran dan permintaan.Demikian juga dengan pasar barang,maka ada
permintaan dan penawaran.Permintaan dalam pasar barang merupakan agregasi dari semua
perminataan akan barang dan jasa didalam negri,sementara yang menjadi penawarnya adalah
semua barang dan jasa yang di produksi didalam negeri.
Jika permintaan total dari barang dan jasa dalam suatu negara diasumsikan merupakan
penjumlahan dari konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah,maka rumusnya adalah
sebagai berikut:
Z = C + I +G

Dari persamaan sebelumnya didapatkan bahwa besaran konsumsi ditentukan oleh


besaran disposable income yang dalam hal ini adalah total pendapatan dikurangi dengan
pajak,sehingga persamaan menjadi:
Z = C (Y-T) + I + G
Secara lebih lengkap,dengan menjabarkan fungsi konsumsi bahwa
C = co + c1 Yd, maka persamaan diatas diturunkan sebagai berikut :
Z = Co + C1 Yd + I + G
Z = Co + C 1 ( Y T ) + I + G, dimana C1 = marginal propensity to costume
Jika total produksi dalam suatu negara sama dengan total pendapatan Y, dan
permintaan sama dengan penawaran, maka :
Y = Z, dengan demikian,secara matematis kita dapat mengganti Y dengan Z,sehingga
persamaan diatas dapat menjadi :
Y = Co + C1 (Y-T) + I + G

2. Keseimbangan Pasar Uang dan Kurva LM


Kondisi perekonomian suatu negara juga dapat dipengaruhi oleh pasar uang.pasar
uang merupakan suatu tempat dimana terjadi transaksi keuangan.sama halnya dengan pasar
lainnya,keseimbangan akan terjadi pada saat jumlah permintaan uang dipasar sama dengan
jumlah penawaranya.Dalam sistem ekonomi diluar ekonomi islam permintaan uang
dipengaruhi oleh tingkat bunga sedangkan penawarnya merupakan otoritas dari bank
sentral,sehingga bentuk kurva penewarnya menjadi inelastis sempurna.
Besarnya permintaan uang dipengaruhi oleh pendapatan nominal dan suku
bunga.Secara matematis hubungan ini akan dapat ditulis sebagai berikut:
M = $YL (i)
Berdasarkan hubungan ini dinyatakan bahwa kenaikan pendapatan

akan

meningkatkan permintaan nominal,sedangkan kenaikan suku bunga akan menurunkan


permintaan uang.jika hubungan dalam bentuk nominal ini akan di rubah dalam bentuk riil,
maka:

M/P = YL (i)
Dari persamaan ini diketahui bahwa permintaan uang riil akan dipengaruhi oleh
pendapatan riil dan tingkat bunga.perbedaan antara uang nominal dan uang riil akan dilihat
dari daya belinya.uang nominal hanya menyatakan jumlah uang yang tertera di uang
fiat,sedangkan uang riil mengukur uang dari daya belinya.misalkan,kita akan membawa yang
cukup untuk membeli 4 mangkuk sup,maka jumlah uang yang harus kita siapkan adalah
sebesar 4 kali harga semangkuk bakso.Jika harga semangkuk bakso sama dengan Rp 10.000,
maka jumlah yang harus kita sediakan untuk membeli 4 mangkuk bakso sama dengan Rp
40.000,-

Perhatikan pada saat terjadi kenaikan pendapatan, pemintaan jumlah uang beredar
akan meningkat,jika jumlah uang yang beredar tidak berubah (karena ototritasya ada pada
BI) maka hal ini akan mengakibatkan suku bunga meningkat.Perhatikan keseimbangan lama
ada pada titik A dengan jumlah uang Beredar M,dan suku bunga i.Sedangkan ekuilibrium
yang baru ada pada kombinasi jumlah keseimbangan sebesar M,dengan suku bunga i.
3. Keseimbangan Kurva IS-LM
Pada bagian sebelumnya,kita telah membahas kurva IS maupun kurva LM secara
terpisah.pada bagian selanjutnya akan dibahas bagaimana kedua kurva ini berada dalam suatu

grafik.Keseimbangan yang terjadi merupakan keseimbangan antara pasar uang dan pasar
barang.
IS : C (Y-T) + (Y,i) + G
LM : M/P = Yl (i)
Sebagaimana telah dibahas pada bagian sebelumnya bahwa kurva IS, merupakan kurva yang
menghubungkan antara i dan Y pada saat pasar barang dalam kondisi ekuilibrium.Sedangkan
kurva LM merupakan kurva yang menghubungkan antara Y dan i pada saat pasar uang dalam
kondisi ekuilibrium .
TEORI INFLASI DALAM PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM
Inflasi adalah kenaikan harga umum secara terus menerus dari suatu perekonomian.
Bebera kelompok besar dari inflasi adalah sebagai berikut:
a.

Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


b. Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada
c.

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

d.

kenaikan tingkat harga umum.


Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian
ekonomi yang menyebabkan berubah.
Perbedaan inflasi menurut ekonomi konvensional dan ekonomi Islam dapat di lihat dari
penyebab dan solusi dalam menghadapi inflasi.

1. Sebab-sebab Inflasi
a. Ekonomi Konvensional:
Policy induced, disebabkan oleh kebijakan ekspansi moneter yang juga bisa merefleksikan

defisit anggaran yang berlebihan dan cara pembiayaannya.


Cost-push inflation, disebabkan oleh kenaikan biaya-biaya yang bisa terjadi walaupun pada

saat tingkat pengangguran tinggi dan tingkat penggunaan kapasitas produksi rendah.
Demand-full inflation, disebabkan oleh permintaan agregat yang berlebihan yang mendorong

kenaikan tingkat harga umum.


Inertial inflation, cenderung untuk berlanjut pada tingkat yang sama sampai kejadian

ekonomi yang menyebabkan berubah.


b. Ekonomi Islam:
Natural cause inflation, inflasi yang terjadi dikarena kondisi alam yang tidak bisa dicegah.
Human error cause inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena kesalahan manusai itu sendiri,
seperti korupsi, penetapan pajak yang tinggi, penambahan jumlah uang yang beredar dan
penimbunan barang.
2. Solusi dalam mengatasi Inflasi

a.

Ekonomi Konvensional:
Kebijakan moneter
Kebijakan fiskal
Kebijakan non-moneter, yaitu dengan cara menaikkan hasil produksi, kebijaksanaan upah,

pengawasan harga
b. Ekonomi Islam:
Menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar
Menjadikan emas perak sebagai standart nilai tukar uang dunia

Islam telah mengitkan emas dan perak dengan hukum yang baku dan tidak berubah-ubah,

diamana ketika Islam mewajibkan diat, maka harus menggunakan standart emas perak
Ketika Allah mewajibkan pembayaran zakat, maka nisabnya berdasarkan emas dan perak.

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN PENDEKATAN AGGREGATE DEMAND DAN


SUPPLY
Pasar tenaga kerja adalah suatu keadaan dimana terdapat penawaran tenaga kerja yang
berasal dari angkatan kerja dan permintaan tenaga kerja yang berasal dari perusahaan.
Beberapa persamaan yang akan di ulang pada bagian ini adalah:
persamaan wage setting relation dan
price setting relation.
Bentuk-bentuk kerja yang disyariatkan dalam islam adalah pekerjaan yang
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
1)
2)

dilakukannya dengan kemampuannya sendiri dan bermanfaat, antara lain:


Menghidupkan tanah mati (tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak dimanfaatkan oleh
satu orang pun).
Menggali kandungan bumi
Berburu.
Makelar (samsarah)
Perseroan atau harta dengan tenaga (mudharabah)
Mengairi lahan pertanian (musaqaf)
Kontrak tenaga kerja (ijarah)
Ada dua hal penting yang dimiliki oleh kurva aggregate supply:
Output yang meningkat akan meningkatkan harga.
Harga yang meningkat tidak terlepas dari adanya ekspektasi yang meningkat.
Berbeda dengan kurva aggregate supply (AS) yang diturunkan dari keseimbangan di
pasar tenaga kerja, maka kurva AD diturunkan dari keseimbangan yang terjadi di pasar uang
dan pasar barang.
Penetapan harga dalam prespektif ekonomi dalam islam
Distorsi harga ketika kaum Qurais menetapkan blokade ekonomi terhadap umat islam.
Kenaikan harga di Madinah, Rasulullah menyatakan Allah adalah Dzat yang menentukan dan
mengatur harga, penahanan, pencurah serta penentu rezeki, aku berharap menemui Tuhanku

dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kedzaliman dalam hal darah dan
harta.
Abu Yusuf (731-798), dalam kitabnya yang terkanal al-Kharaj. Abu Yusuf merupakan
ulama terawal yang mulai menyinggung mekanisme pasar. Ia misalnya memperhatikan
peningkatan dan penurunan produksi dalam kaitannya dengan perubahan harga. Pemahaman
saat itu mengatakan bahwa bila tersedia sedikit barang, maka harga akan mahal dan demikian
sebaliknya. Pada kesimpulan Abu Yusuf menyatakan murah dan mahalnya suatu harga
merupakan ketentuan Allah.
Ibnu Taimiyah (1263-1328), dalam kitabnya Majmu Fatawa Syakh Al-Islam dan kitab
Al-Hisbah fi Al-Islam. Ibnu Taimiyah menyatakan perubahan dalam penawaran digambarkan
sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan. Sedangkan
permintaan ditentukan selera dan pendapatan. Dan menurut Ibnu Taimiyah bila seluruh
transaksi sudah sesuai dengan aturan, kenaian harga yang terjadi merupakan kehendak Allah.
Ibnu Khaldun (1332-1404) dalam bukunya Muqaddimah menulis secara khusus satu
bab tentang harga-harga di kota. Selain itu, Ibnu Chaldun juga menjelaskan mekanisme
permintaan dan penawaran dalam mencipkatakan harga keseimbangan. Kemudian dijelaskan
pula meningkatnya biaya produksi karena pajak mempengaruhi penawaran.

Teori Konsumsi (Konsumsi dalam Islam)


Dilihat dari arti ekonomi, konsumsi merupakan tindakan untuk mengurangi atau
menghabiskan nilai guna ekonomi suatu benda. Sedangkan menurut Draham Bannoch dalam
bukunya economics memberikan pengertian tentang konsumsi yaitu merupakan pengeluaran
total untuk memperoleh barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu
tertentu (dalam satu tahun) pengeluaran.
Konsumsi berasal dari bahasa Inggris yaitu

Consumption. Konsumsi adalah

pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan
tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut.
Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang
lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang diproduksi untuk
digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.1[1]
Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat
1

konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan


disposabel) perekonomian tersebut. Fungsi konsumsi dapat dinyatakan dalam persamaan:
C = a + bY .............. dimana a adalah konsumsi rumah tangga ketika pendapatan
nasional adalah 0, b adalah kecondongan konsumsi marginal, C adalah tingkat konsumsi dan
Y adalah tingkat pendapatan nasional.
1.1

Prinsip Konsumsi dalam Islam


Bila dikatakan kepada mereka,Belanjakanlah sebagian rizqi Allah yang diberikanNya kepadamu,orang-orang kafir itu berkata,Apakah kami harus memberi makan orangorang yang jika Allah menghendaki akan diberi-Nya makan? Sebenarnya kamu benar-benar
tersesat. (Q.S 36 : 27)
Dalam ekonomi islam konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip dasar :
A.
Prinsip Keadilan
Syarat ini mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari rezeki secara halal
dan tidak diarang hukum. Dalam soal makanan dan minuman, yang terlarang adalah darah,
daging binatang yag telah mati sendiri, daging babi, daging binatang yang ketika disembelih
diserukan nama selain nama Allah (Q.S AL-Baqarah, 2 :173)
B.
Prinsip Kebersihan
Syarat kedua ini tercantum dalamkitab suci Al-Quran maupun Sunnah tentang
makanan. Harus baik atau cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga
merusak selera. Karena itu, tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum
dalam semua keadaan. Dari semua yang diperbolehkan makan dan minumlah yang bersih dan
bermanfaat.
C.
Prinsip Kesederhanaan
Prinsip ini mengatur perilaku manusia mengenai makanan dan minuman adalah sikap
tidak berlebih-lebihan, yang berarti janganlah makan secara berlebihan.
Dalam Al-Quran dikatakan :
...... Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orangyang berlebih-lebihan (Q.S, Al-A;raaf 7:31)
Arti penting ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan dapat mempengaruhi
pembangunan jiwadan tubuh,demikian pulabila perut diisi secara berlebih-lebihan tentu akan
ada pengaruhnya pada perut. Praktik memantangkan jenis makanan tertentu dengan tegas
tidak dibolehkan dalam islam.
D.
Prinsip Kemurahan Hati
Dengan mentaati perintah islam tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan
dan meminum makanan halalyang disediakan Allah karena kemurahan hati-Nya. Selama

maksudnya adalah untuk kelangsungan hidup dankesehatan yang lebih baik dengan tujuan
menunaikan perintah Allah dan perbuatan adil sesuai dengan itu, yang menjamin persesuaian
bagi semua perintah-Nya (Q.S Al Maidah 5:96).
E.
Prinsip Moralitas
Tujuan lain yaitu untuk peningkatan atau kemajuan nilai-nilai moral dan
spiritual.seorang muslin diajarkan untuk menyebut nama-nama Allah sebeum makan dan
menyatakan terimakasih-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan merasakan kehadiran
Illahi pada waktu memenuhi keinginan-keinginan dalam dirinya. Hal ini penting artinya
karena islam menghendaki perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang
berbahagia.
Teori Konsumsi Islami - Konsumsi Interporal dalam Islam - Hubungan terbalik riba
dengan sedekah - Hubungan terbalik rasio tabungan dengan konsumsi akhir Investasi Tabungan
Perbedaan Teori Konsumsi Konvensional dengan Islam adalah dalam
konvensional pendapatan merupakan jumlah konsumsi dan tabungan, dapat
dirumuskan sebagai berikut: Y= C + S (Y= pendapatan, C= konsumsi, S=
tabungan). Namun dalam islam terdapat perbedaan yaitu Y= (C + infak)+ S.

Menurut Mannan bahwa perintah Islam mengenai konsumsi dikendalikan oleh lima
prinsip, yaitu: prinsip keadilan, prinsip kebersihan, prinsip kesederhanaan, prinsip kemurahan
hati dan prinsip moralitas.[27]
1. Prinsip keadilan
Firman Allah:
[28]

Prinsip ini mengandung arti ganda, baik mengenai mencari rizki secara halal dan yang
dilarang menurut hukum. Barang-barang yang baik adalah segala sesuatu yang bersifat
menyenangkan, manis, baik, enak dipandang mata, harum dan lezat.[29]

[27]
[28]
[29]

Hal ini diperkuat oleh ayat :


[30]

2. Prinsip kebersihan
Islam mengajarkan barang yang dikonsumsikan harus bersih dan suci, sesuai dengan
firman Allah SWT:

[31]

Hal ini diperkuat oleh ayat :


.
[32]

Kebebasan yang diberikan Islam dalam pemanfaatan atau pembelanjaan harta untuk
membeli barang-barang yang baik dan yang halal demi kepentingan hidup manusia agar tidak
melanggar batas-batas kesucian yang telah ditetapkan.
Dengan demikian tidak semua yang diperkenankan boleh dimakan dan diminum
dalam semua keadaan. Jadi semua yang diperbolehkan makan dan minum itu adalah yang
bersih dan bermanfaat.
3. Prinsip kesederhanaan
Islam menetapkan satu jalan tengah antara dua hidup yang ekstrim yaitu antara paham
materialisme dan kezuhudan. Di satu sisi dilarang membelanjakan harta secara berlebihlebihan semata-mata menuruti hawa nafsu, di sisi lain juga dilarang berbuat menjauhkan diri

[30]
[31]
[32]

dari kesenangan menikmati barang yang baik dan halal di dalam kehidupan. Sebagaimana
dalam firman Allah SWT. :
[33]


[34]


Menurut Muhammad, arti penting dari ayat ini adalah kenyataan bahwa kurang makan
dapat mempengaruhi pembangunan jiwa dan tubuh, begitu pula bila perut diisi secara
berlebihan tentunya akan berpengaruh pada pencernaan dalam perutnya.[35]
4. Prinsip kemurahan hati
Dalam Islam diperintahkan agar dalam mengkonsumsi suatu barang yang halal, yang
telah disediakan Allah karena kemurahan hati-Nya, selama dimaksudkan untuk kelangsungan
hidup dan kesehatan yang baik dengan tujuan menunaikan perintah-Nya dengan keimanan
yang kuat dalam tuntunannya. Maka dalam hal ini terdapat peralihan berangsur yang sifatnya
elastis dan memperhitungkan barang yang dikonsumsinya. Terdapat pengecualian terhadap
barang yang merusak kesejahteraan diri maupun kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana
firman Allah SWT:

[36]

5. Prinsip moralitas
Prinsip yang terakhir ini adalah prinsip penting yang menjelaskan tentang kondisi
moralitas bagi seorang konsumen muslim dalam melakukan aktifitas ekonomi, konsumsi
[33]
[34]
[35]
[36]

terhadap makanan bertujuan untuk keuntungan langsung tetapi juga bagaimana tujuan
akhirnya, yakni untuk meningkatkan nilai-nilai moral dan spiritual. Hal ini penting karena
Islam menghendaki perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang bahagia.
Prinsip ini didasarkan pada kaidah al-Quran, bahwa seseorang akan merasakan
sedikit kenikmatan atau keuntungan yang diperoleh dari minum-minuman keras dan makanmakanan yang terlarang lainnya, disebabkan hal tersebut dilarang dan karena adanya bahaya
yang mungkin timbul lebih besar dari pada kenikmatan atau keuntungan yang mungkin
diperolehnya.

Dalam kaitan ini, M.M. Metwally (1995)[13] mendefinisikan Ekonomi


Islam sebagai, ilmu yang mempelajari perilaku muslim dalam suatu masyarakat
Islam yang mengikuti Al-Quran, As-Sunnah, Qiyas dan Ijma. M.M. Metwally
(1995)[14] memberikan alasan bahwa dalam ajaran Islam, perilaku individu dan
masyarakat

dikendalikan

kearah

bagaimana

memenuhi

kebutuhan

dan

menggunakan sumber daya yang ada. Dalam Islam disebutkan bahwa sumber
daya yang tersedia adalah berkecukupan, dan oleh karena itu, dengan
kecakapannya, manusia dituntut untuk memakmurkan dunia yang sekaligus
sebagai ibadah kepada Tuhannya. Ekonomi dengan demikian, merupakan ilmu
dan sistem, yang bertugas untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan
berkecukupan itu dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam
konteks kemaslahatan bersama.

paya memenuhi kebutuhan baik jasmani maupun rohani sehingga mampu memaksimalkan
fungsi kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT untuk mendapatkan kesejahteraan atau
kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah). Dalam melakukan konsumsi maka prilaku
konsumen terutama Muslim selalu dan harus di dasarkan pada Syariah Islam

Pengertian konsumsi dalam ekonomi Islam adalah memenuhi kebutuhan


baik

jasmani

maupun

rohani

sehingga

mampu

memaksimalkan

fungsi

kemanusiaannya sebagai hamba Allah SWT untuk mendapatkan kesejahteraan


atau kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah).

Berdasarkan ayat Al Quran dan Hadist di atas dapat dijelaskan bahwa yang dikonsumsi itu
adalah barang atau jasa yang halal, bermanfaat, baik, hemat dan tidak berlebih-lebihan
(secukupnya). Tujuan mengkonsumsi dalam Islam adalah untuk memaksimalkan maslahah,
(kebaikan) bukan memaksimalkan kepuasan (maximum utility) (P3EI UII. 2008) seperti di
dalam ekonomi konvensional. Utility merupakan kepuasan yang dirasakan seseorang yang
bisa jadi kontradiktif dengan kepentingan orang lain. Sedang-kan maslahah adalah kebaikan
yang dirasakan seseorang bersama pihak lain.
Dalam memenuhi kebutuhan, baik itu berupa barang maupun dalam bentuk jasa atau
konsumsi, dalam ekonomi Islam harus menurut syariat Islam. Konsumsi dalam Islam bukan
berarti memenuhi keinginan libido saja, tetapi harus disertai dengan niat supaya bernilai
ibadah. Dalam Islam, manusia bukan homo economicus tapi homo Islamicus. Homo
Islamicus yaitu manusia ciptaan Allah SWT yang harus melakukan segala sesuatu sesuai
dengan syariat Islam, termasuk prilaku konsum-sinya.
Dalam ekonomi Islam semua aktivitas manusia yang bertujuan untuk kebaikan merupakan
ibadah, termasuk konsumsi. Karena itu menurut Yusuf Qardhawi (1997), dalam melakukan
konsumsi, maka konsumsi tersebut harus dilakukan pada barang yang halal dan baik dengan
cara berhemat (saving), berinfak (mashlahat) serta men-jauhi judi, khamar, gharar dan
spekulasi. Ini berarti bahwa prilaku konsumsi yang dilakukan manusia (terutama Muslim)
harus menjauhi kemegahan, kemewahan, kemubadziran dan menghindari hutang. Konsumsi
yang halal itu adalah konsumsi terhadap barang yang halal, dengan proses yang halal dan
cara yang halal, sehingga akan diperoleh man-faat dan berkah.
Parameter kepuasan seseorang (terutama Muslim) dalam hal konsumsi tentu saja parameter
dari definisi manusia terbaik yang mempunyai keimanan yang tinggi, yaitu memberikan
kemanfaatan bagi lingkungan. Manfaat lingkungan ini merupakan amal shaleh. Artinya
dengan mengkonsumsi barang dan jasa selain mendapat manfaat dan berkah untuk pribadi
juga lingkungan tetap terjaga dengan baik bukan sebaliknya. Lingkungan disini menyangkut
masyarakat dan alam. Menyangkut masya-rakat, maka setiap Muslim dalam mengkonsumsi
tidak hanya memperhatikan kepentingan pribadi tetapi juga kepentingan orang lain tetangga,
anak yatim dan lain sebagainya.
Mengkonsumsi barang dan jasa merupakan asumsi yang given karena sekedar ditujukan
untuk dapat hidup dan beraktifitas. Maksudnya bahwa konsumsi dilakukan agar manusia
tetap hidup, bukan hidup untuk meng-konsumsi. Dalam memenuhi tuntutan konsumsi, setiap
orang diminta untuk tetap menjaga adab-adab Islam dan melihat pengaruhnya terhadap
kesejahteraan masa depan.
Islam melarang umatnya melakukan konsumsi secara berlebihan. Sebab konsumsi diluar dari
tingkat kebutuhan adalah pemborosan. Pemborosan adalah perbuatan yang sia-sia dan
menguras sumber daya alam secara tidak terkendali. Sebagai contoh, apabila prilaku
konsumsi seseorang bersifat boros, misalnya saja pada saat makan seseorang masih
menyisakan makanannya sekitar 15% dari yang dikonsumsinya. Sisa tersebut dianggap setara
dengan 5 gram beras dan jika dari 6,5 milyar penduduk dunia ternyata 5% saja melakukan hal
yang demikian, maka sisa makanan yang terbuang sia-sia per hari nya yaitu sekitar 5 gram x
2 kali makan sehari x (0,05 x 3,25 milyar) = 16.250 ton beras. Artinya makanan yang
terbuang sia-sia per hari adalah 16.250 ton dan dalam setahun sebanyak 5,850 juta ton setara
beras. Selain itu berapa banyak tenaga yang terbuang sia-sia, termasuk energi lain yang

dibutuhkan untuk memproduksi makan yang terbuang tadi. Dengan demikian jelas bahwa
pemborosan akan mempercepat kehancuran bumi ini.
Seorang muslim sejati, meskipun memiliki sejumlah harta, ia tidak akan memanfaatkannya
sendiri, karena dalam Islam setiap muslim yang mendapat harta diwajib-kan untuk
mendistribusikan kekayaan pribadinya itu kepada masyarakat yang membutuhkan (miskin)
sesuai dengan aturan syariah yaitu melalui Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (ZISWA).
Masyarakat yang tidak berpunya atau miskin berhak untuk menerima ZISWA tersebut
sebagai bentuk distribusi kekayaan. Intinya bahwa tingkat konsumsi seseorang itu (terutama
Muslim) didasarkan pada tingkat pendaapatan dan keimanan. Semakin tinggi pendapatan dan
keimanan sesorang maka semakin tinggi pengeluarannya untuk hal-hal yang bernilai ibadah
sedangkan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar tidak akan banyak
pertambahannya bahkan cenderung turun.
Gambar 1. Kurva Konsumsi Islami

Karena itu, konsumsi dalam Islam dapat dirumuskan sebagai berikut :


Konsumsi = Maslahah = Manfaat + Berkah
Dengan mengkonsumsi sesuatu, maka diharapkan akan didapat manfaat, yang dapat dirinci
sebagai berikut:
1. Manfaat material, seperti murah, kaya, dan lainnya.
2. Manfaat fisik/psikis meliputi rasa aman, sehat, nyaman dan lain sebagainya.
3. Manfaat intelektual, seperti informasi, pengetahuan dan lainnya.
4. Manfaat lingkungan, eksternalitas positif.
5. Manfaat secara inter-generational dan antar-generationnal, yaitu adanya kelestarian,
bermanfaat untuk keturunan dan generasi yang akan datang.
Sedangkan berkah yang diharapkan didapat dari aktivitas konsumsi tersebut yaitu:
1. Kehalalan barang dan jasa yang dikonsumsi.

2. Idak Israf artinya memberikan kegunaan bagi yang mengkonsumsinya maupun bagi
yang lainnya
3. Mendapat Ridho Allah.
2. Fungsi Konsumsi Islam
Dalam ekonomi Islam, setiap aktivitas konsumsi, bagi semua orang akan selalu menghadapi
kendala. Kendala utama yang dihadapi dalam melakukan konsumsi adalah:
1) anggaran
2) berkah minimum,
3) Israf dan moral Islam.
Denga kendala tersebut, maka setiap orang akan selalu berusaha untuk memaksimalkan
maslahah dari kegiatan konsumsinya. Dengan kendala tersebut, maka fungsi konsumsi Islami
adalah fungsi maslahah yang secara umum (Ikhwan A. Basri. 2009) adalah sebagai berikut:
Fungsi konsumsi = fungsi maslahah:
M = m + (Mf, B)Yd
M = m + Mf Yd + B Yd
M = maslahah dalam berkonsumsi
m = konsumsi rata-rata = kebutuhan dasar
Mf = manfaat
B = berkah atau amal saleh
Yd = pendapatan halal personal (pendapatan halal yang siap dibelanjakan)
Berdasarkan fungsi konsumsi di atas, maka seseorang atau suatu rumahtangga akan berupaya
memaksimalkan maslahanya dalam setiap melakukan aktivitas konsumsi. Memaksimalkan
maslaha dalam arti dapat memenuhi kebutuhan dasar dan sekaligus meningkatkan manfaat
dan berkah. Dengan makin tingginya manfaat dan berkah akan semakin tinggi amal saleh
yang didapatkan oleh seseorang atau suatu rumahtangga.
Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa semua aktivitas manusia yang bertujuan untuk
kebaikan adalah ibadah, maka konsumsi merupakan aktivitas ibadah. Menyangkut ibadah ini,
maka setiap orang atau rumahtangga secara umum dapat dibedakan dalam 2 (dua) katergori,
yaitu:
1). Orang atau rumah tangga yang ber-Iman tinggi
2). Orang atau rumahtangga yang ber-Iman rendah

Bagi seseorang atau suatu rumahtangga yang mempunyai kelebihan harta dan tingkat
keimanan yang tinggi, maka mereka wajib mengeluarkan zakat dan mereka tersebut disebut
Muzakki. Karena itu, tambahan pengeluaran Muzakki dapat ditulis sebagai berikut:
MPCmuzakki = MPCriil + MPCamal shaleh
Dengan demikian apabila;
= MPCmuzakki;
= MPCriil;
d = MPC amal shaleh;
maka fungsi konsumsi Islami-nya dapat ditulis sebagai berikut;
C = + ( + d) Yd
C = + Yd + dYd
Dengan kondisi:
d = 0; =
d<
d=
d>
d=;=0
Keimanan yang semakin meningkat membuat nilai d (amal shaleh) akan semakin mendekati
nilai . Dengan semakin tingginya nilai d maka para Muzakki akan meminimalkan preferensi
konsumsi untuk diri sendiri.
3. Prilaku Konsumsi Islami
Dalam melakukan kegiatan konsumsi, Islam telah mengaturnya secara baik. Prilaku
konsumsi Islami membedakan konsumsi yang dibutuhkan (needs) yang dalam Islam disebut
kebutuhan hajat dengan konsumsi yang dinginkan (wants) atau disebut syahwat. Konsumsi
yang sesuai kebutuhan atau hajat adalah konsumsi terhadap barang dan jasa yang benar-benar
dibutuhkan untuk hidup secara wajar. Sedangkan konsumsi yang disesuai dengan keinginan
atau syahwat merupakan konsumsi yang cenderung berlebihan, mubazir dan boros.
Dalam melakukan konsumsi yang bersifat me-menuhi keinginan (wants) atau syahwat
adalah konsumsi yang kurang bahkan tidak mempertimbangkan;
1) Apakah yang dikonsumsi tersebut ada maslahanya atau tidak

2) Tidak mempertimbangkan norma-norma yang disyariat-kan dalam Islam.


3) Kurang atau tidak mempertimbangkan akal sehat.
Konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan atau konsumsi yang disebut hajat
merupakan konsumsi yang betul-betul dibutuhkan untuk hidup secara wajar dan
memperhatikan maslahatnya. Artinya konsumsi tersebut dilakukan karena barang dan jasa
yang dikonsumsi mempunyai maslahat dan dibutuhkan secara riil serta memperhatiakan
normanya. Mempunyai mashlahat itu artinya bahwa barang dan jasa yang dikonsumsi memberikan manfaat untuk kehidupan dan berkah untuk hari akhirat.
Konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan atau konsumsi yaang bersifat hajat ini dapat
pula dibagi dalam 3 (tiga) sifat (Mustafa Edwin dkk. 2006) yaitu:
1)
Kebutuhan (hajat) yang bersifat dhoruriyat yaitu kebutuhan dasar dimana apabila tidak
dipenuhi maka kehidupan termasuk dalam kelompok fakir seperti sandang, pangan, papan,
nikah, kendaraan dan lain lain.
2)
Kebutuhan (hajat) yang bersifat hajiyaat yaitu pemenuhan kebutuhan (konsumsi)
hanya untuk mempermudah atau menambah kenikmatan seperti makan dengan sendok.
Kebutuhan ini bukan merupakan kebutuhan primer.
3)
Kebutuhan (hajat) yang bersifat tahsiniyat yaitu kebutuhan di atas hajiyat dan di bawah
tabzir atau kemewahan
Selain hal-hal di atas yang harus diperhatikan oleh konsumen dalam aktivitas konsumsi, ada
hal-hal lain yang juga perlu menjadi perhatian. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalm
konsumsi yaitu;
1) Memenuhi kebutuhan diri sendiri, kemudian keluarga, kerabat baru orang yang
memerlukan bantuan.
2) Penuhi dulu dhoruriyat, hajiyat kemudian baru tahsi-niyat.
3) Pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga dan mereka yang memerlukan
bantuan sebatas kemampuan finansialnya.
4) Tidak boleh mengkonsumsi yang haram.
5) Melakukan konsumsi yang ideal yaitu antara bathil dan mengumbar (berlebih-lebihan).
Pusat Pengkajian dan pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII. 2008. Ekonomi Islam. PT
Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Qardahawi, Syeikh Yusuf. 1997. Pesan Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Jakarta.
Robbani Press.
Ikhwan Basri. 2009. Tazkia Cendekia. Jakarta, Indonesia. All rights reserved. Situs ini
dikelola dan dikembangkan oleh Tazkia Group

Mustafa Edwin Nasution dkk. 2010. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam. Jakarta Kencana.
2010.
1.2

Teori Konsumsi dalam Ekonomi Islam


Menurut Kahf (1995), Chapra (2002;309),konsumsi agregat merupakan salah satu
variabel kunci dalam ilmu ekonomi konvensional. Konsumsi agregat terdiri dari konsumsi
barang kebutuhan dasar (Cn) serta konsumsi barang mewah (C1). Barang-barang kebutuhan
dasar (termasuk untuk keperluan hidup dan kenyamanan) dapat didefinisikan sebagai barang
dan jasa yang mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga
memberikan perbedaan yang riil dalam kehidupan konsumen. Barang-barang mewah sendiri
dapat didefinisikan sebagai semua barang dan jasa yang diinginkan baik untuk kebanggaan
diri maupun untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan perubahan berarti bagi
kehidupan konsumen.
Lebih lanjut Chapra (2002;309) mengatakan bahwa konsumsi agregat yang sama
mungkin memiliki porsi barang kebutuhan dasar dan barang mewah yang berbeda ( C = Cn +
C1 ) dan tercapai tidaknya pemenuhan suatu kebutuhan tidak tergantung kepada proporsi
sumber daya yang dialokasikan kepada masing-masing konsumsi ini. Semakin banyak
sumber daya masyarakat yang digunakan untuk konsumsi dan produksi barang dan jasa
mewah (C1), semakin sedikit suumber daya yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan dasar
(Cn). Dengan demikian, meski terjadi peningkatan pada konsumsi agregat, ada kemugkinan
bahwa kehidupan masyarakat tidak menjadi lebih baik dilihat dari tingkat pemenuhan dasar
penduduk miskin (Cn), jika semua peningkatan yang terjadi pada konsumsi tersebut lari ke
penduduk kaya untuk pemenuhan kebutuhan barang-barang mewah (C1).
Fungsi konsumsi di dalam ilmu makroekonomi konvensional tidak memperhitungkan
komponen-komponen konsumsi agrega ini (Cn dan C1). Yang lebih banyak dibicarakan dalam
ilmu makroekonomi konvensional terutama mengenai pengaruh dari tingkat harga dan
pendapatan terhadap konsumsi. Hal ini dapat memperburuk analisis, karena saat tingkat harga
dan pendapatan benar-benar memainkan peran yang subsstansial dalam menentukan
konsumsi bagregat (C), ada sejumlah faktor moral, sosial, politik, ekonomi, dan sejarah yang
memengaruhi pengalokasiannya pada masing-masing komponen konsumsi (Cn dan C 1).
Dengan demikian, faktor-faktor nilai dan kelembagaan serta preferensi, distribusi pendapatan
dan kekayaan, perkembangan sejarah, serta kebijakan-kebijakan pemerintah tentunya tak
dapat diabaikan dalam analisis ekonomi.

Sejumlah ekonom Muslim diantaranya adalah Zarqa (1980 dan 1982), Monzer Kahf
(1978 dan 1980), M.M Metwally (1981), Fahim Khan (1988), M.A Manan (1986), M.A
Choudhury (1986), Munawar Iqbal (1986), Bnedjilali dan Al-Zamil (1993) dan Ausaf
Ahmad(1992) telah berusaha memformulasikan fungsi konsumsi yang mencerminkan faktrfaktor tambahan ini meski tidak seluruhnya. Mereka beranggapan bahwa tingkat harga saja
tidaklah cukup untuk mengurangi konsumsi barang mewah (C 1) yang dilakukan oleh orangorang kaya. Diperlukan cara untuk mengubah sikap, selera dan preferensi, memberikan
motivasi yang tepat, serta menciptakan lingkungan sosial yang memandang buruk konsumsi
seperti itu (C1). Disamping itu perlu pula menyediakan sumber daya bagi penduduk miskin
guna meningkatkan daya beli atas barang-barang dan jasa-jasa yang terkait dengan kebutuhan
dasar (Cn). Hal inilah yang coba dipenuhi oleh paradigma religius, khususnya islam, dengan
menekankan perubahan individu dan sosial melalui reformasi moral dan kelembagaan (dalam
Chapra, 2002;310)
Norma konsumsi Islam mungkin dapat membantu memberikan orientasi preferensi
individual yang menentang konsumsi barang-barang mewah (C 1) dan bersama dengan jaring
pengaman sosial, zakat serta pengeluaran-pengeluaran untuk amal mempengaruhi alokasi dari
sumber daya yang dapat meningkatkan tingkat konsumsi pada komponen barang kebutuhan
dasar (Cn). Produsen kemudian mungkin akan merespon permintaan ini sehingga volume
investasi yang lebih besar dialihkan kepada produksi barang-barang yang terkait dengan
kebutuhan dasar (Cn).
1.3

Fungsi Konsumsi Agregat


Asumsi-asumsi yang dapat diangkat menurut Susamto(2002) :
1. Zakat dikenakan atas semuaharta perniagaan dan investasi yang dimiliki kaum muslimin, baik
individumaupun badan usaha.
2. Pembayar zakat perniagaan cukup besar dan menguasai satu bagian tertentu dari pendapatan
nasional
3. Gerakan dakwah dan penyadaran zakat berhasi baik, sehingga setiap muslim yang wajib
berzakat (muzakki) bersedia membayar zakat.
4. Proporsi zakat yang dibayarkan trsebut tetap, dengan jumlah tertentu dari pendapatan nasional
5. Zakat yang terkumpul dibagikan kembali kepada orang yang berhak menerima zakat
(mustahiq)
6. Mustahiq yang menerima zakat mempunyai kecendrungan mengonsumsi marginal (MPC)
yang lebih tinggi secara signifikan dibanding muzakki

7. Zakat pendapatan dapat dihitung sebagai komponen pengurangan penghasilan kena pajak dan
zakat yang diterima mustahiq tidak wajib dikenai pajak.
Jika C adalah tingkat konsumsi agregat, a adalah konsumsi otonom pada pendapatan sama
dengan nol, b adalah kecenderungan mengonsumsi MPC dan Y adalah pendapatan nasional,
maka persamaan fungsi tersebut adalah :
C1 = a + bYd; Yd = (bY - aY) (muzakki)
C2 = dY ; Z = aY
(mustahiq)
= d [(1-b)Y +aY]
C = C1 +C2
C = a +b (bY -aY) + d[(1 - b)Y +aY]
Dimana a adalah besarnya zakat yang dibayarkan.
1.4

Hipotesis Pendapatan Mutlak


Pengaruh zakat terhadap pengeluaran pribadi akan dianalisis dengan fungsi konsumsi
linier dan non-linier. Jika diansumsikan Y sebagai pendapatan bersih, C sebagai pengeluaran
konsumsi dan t sebagai waktu , akan diperoleh hubungan sesuai dengan hipotesis ini , yaitu :
0<
<1
Keynes membuat fungsi konsumsi sebagai pusat teori fluktuasi ekonominya, dan
teori itu telah memainkan peran penting dalam analisis makroekonomi sampai saat ini.

a.

Menurut Mankiw , dugan keynes tentang fungsi konsumsi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kecenderungan mengonsumsi marginal (marginal propensity to consume) adalah antara nol

b.

dan satu.
Rasio konsumsi terhadap pendapatan atau kecenderungan mengonsumsi marginal (average

c.

propensity to consume), turun ketika pendapatan naik.


Pendapatan merupakan determinana konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak
memiliki peran yang penting.
Berdasarkan tiga dugaan tersebut, fungsi konsumsi dapat dibagi kedalam fungsi
konsumsi linier dan non-linier.

Fungsi Konsumsi Linier


a. Fungsi konsumsi Linier Konvensional (Metwally ,1995;49-53) Katakanlah fungsi konsumsi
untuk ekonomi non islam (tidak ada zakat dan tidak ada tindakanfiskal yang sama dengan itu,
maka Z=0) adalah sebagai berikut:
C = a+ bY

b.

Dimana :
C = konsumsi; Y =Pendapatan
a dan b adalah konstan untuk a > 0; 0 < b < 1
Fungsi konsumsi Linier dalam Ekonomi Islam

Menurut Metwally fungsi konsumsi dalam ekonomi islam, untuk menyederhanakan


masalah, dianggap besarnya zakat ditunjukkan oleh fungsi:
Z=Y
Dimana :
0<<1
Katakanlah bY merupakan pendapatan pembayaran zakat yang menguasai satu bagian
tertentu dari pendapatan nasional; dan sisanya (1-)Y adalah pendapatan penerima
zakat , dimana 0 < < 1 .
Dimisalakan juga sebagai hasrat konsumsi marginal penerima zakat, dimana : 0 < <
<1

Fungsi Konsumsi Non-Linier


a. Fungsi Konsumsi Non-Linier dalam ekonomi Konvensional
Fungsi konsumsi Non-Linier yang lebih realistis dengan persyaratan asumsi sebagai
berikut:
i) untuk Y = 0 ; C = 0
ii)
> 0 tetapi

)<0

iii)

)<0

> 0 tetapi

Dengan kata lain , tingakat konsumsi otonom/ outonomus (positif) dan hasrrat konsumsi
rata-rata dan hasrat konsumsi marginal adalah positif, tetapi menurun dengan
meningkatkan pendapatan.
Implikasinya : 0 < (
)<(

b.

Fungsi Konsumsi Non-Linier dalam Ekonomi Islam


Dalam Ekonomi Islam diperoleh persamaan :

= g ( 1 - - ) [(-1)Y-2- b(b-1) Yb-2) > 0


Siddiqi (1988) dan Kahf (dalam khurshid ahmad) menyebutkan bahwa dengan adanya
zakat maka hasrat konsumsi rata-rata dan hasrat konsumsi marginal dalam jangka pendek
akan menurun. Akan tetapi penurunan ini lebih kecil di Ekonomi Islam dibandingkan
dengan ekonomi Non-Islam yang tidaka punya tindakan fiskal yang sama, tetapi dalam
jangka panjang tingkat konsumsi masyarakat kan mengalami peningkatan karena:
1. Taraf hidup masyarakatpenerima zakat akan meningkat. Penurunan konsumsi tersebut
disebabkan oleh permintaan akan barang-barang mewah yang menurun.
2. Permintaan akan barang -barang pokok dari masyarakat tersebut akan meningkat seiring
meningkatnya taraf hidup masyarakat yang menerima zakat. Namun, ajaran Islam tidak

menganjurkan konsumsi boros, dan barang mewah, dan ingat tentang hari kemudian
(aakhirat). Ajaran Islam dalam batas-batas tertentu dapar mengimbangi efek zakat terhadap
konsumsi.
1.5

Fungsi Konsumsi Intertemporal


Konsumsi intertemporal (dua periode) adalah konsumsi yang dilakukan dalam dua waktu
yaitu masa sekarang (periode pertama) dan masa yang akan datang (periode kedua). Dalam
konsep Islam, konsumsi intertemporal dijelaskan oleh hadis Rasulullah s.a.w yang maknanya
adalah yang kamu miliki adalah apa yang telah kamu makan dan apa yang telah kamu
infakkan. Oleh karena itu persamaan pendapatan menjadi:
Y = (C+Infak) + S
Persamaan ini disederhanakan menjadi:
Y = FS + S
FS adalah final spending (konsumsi akhir) di jalan Allah.
Dalam Ekonomi Islam tidak berlaku sistem bunga, sehingga bunga yang dibayarkan kepada
penabung adalah nol dan digantikan dengan sistem bagi hasil. Selain itu dalam ekonomi
Islam jika z adalah besarnya total zakat, maka persamaannya bagi orang yang membayar
zakat menjadi:
Di mana : y = pendapatan total
rr = tingkat bagi hasil (mudharabah)
z = besarnya zakat 2,5%
t = tingkat pajak
sedangkan bagi orang yang mendapatkan bantuan zakat persamaannya menjadi:
ct =
= yt + yt+1 + zt +
hal ini terjadi karena pendapatan kaum miskin yang tadinya hanya sebesar;

ct +,ct+1 = yt + yt+1
jika mereka memiliki pendapatan yang kecil maka akan ditambah dengan zakat yang sebesar
z1 +
, dan jika penduduk miskin tidak memiliki penghasilan sebelumnya maka
konsumsinya sebesar bagian zakatnya atau sebesar;

ct + ct+1 = zt +
1.6

Hipotesis Pendapatan Relatif


Metwally mengatakan menurut hipotesis pendapatan relatif konsumsi sekarang tidak
saja ditentukan sebagai fungsi pendapatan siap konsumsi sekarang, tapi juga pendapatan
sebelumnya.
Menurut hipotesis ini, konsumsi rata-rata dan konsumsi marginal adalah konstan.
Keduanya tetap sama meskipun pendapatan naik ke tingkat pendaptan puncak. Jika
pendapatan sekarang lebih kecil dari pendapatan puncak, maka hasrat konsumsi marginal
akan lebih kecil dari hasrat konsumsi rata-rata. Akan tetapi hasrat konsumsi rata-rata akan
meningkat jika pendapatan sekarang meningkat.

1.7

Penerima zakat dan sedekah akan mengeluarkan seluruh pendapatan mereka hanya
cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pembayar zakat dan sedekah mungkin sekarang
dapat menabung sebagian pendapatan atau membeli barang dan jasa guna mengimnbangi
pengeluarannya (Metwally).
Oleh karena itu, zakat dan sedekah akan mengurangi konsumsi, menguraangi
ketidakmerataan. Sebab itu, jika konsumsi menurut hipotesis pendapatan relatif berlaku
dalam ekonomi Islam, maka zakat dan sedekah dapat meningkatkan jumlah tabungan yang
dapat diarahkan untuk investasi.
Franco Modigliani dan Hipotesis Daur Hidup
Modigliani berpendapat bahwa pendapatan bervariasi secara sistematis selama
kehidupan seseorang dan tabungan membuat konsumen dapat menggerakkan pendapatan dari
masa hidupnya ketika pendapatan tinggi ke masa hidup ketika pendapatan rendah.
Metwally berpendapat sesuai dengan hipotesis siklus hidup/daur hidup, konsumsi
tidak saja bergantung pada pendapatan rumah tangga pada saat ini, tapi juga pada kekayaan
dan pendapatan yang diharapkan di masa mendatang. Konsumen akan mendistribusikan
sumber daya yang ada untuk mengatur konsumsi selama hidupnya, karena itu konsumsi harus
dihubungkan dengan kehidupan individu dan tidak untuk satu periode saja.
Sebuah fungsi konsumsi:
Ct= aWt-1 + bYt =cYt
di mana: W sebagai jumlah kekayaan, dan Ye sebagai nilai sekarang pendapatan yang akan
datang. Hipotesis ini menganjurkan untuk menggunakan pendapatan sekarang sebagai
pengganti Ye, dan karena itu fungsi konsumsi menjadi:
Ct= aWt-1 + a2 Yt
Hipotesis ini, menunjukkan bahwa redistribusi pendapatan menguntungkan kelompok miskin
dan kelompok yang memerlukan, namun tidak berpengaruh besar pada pengeluaran konsumsi
agregat.

1.8

Milton Friedman dan Hipotesis Pendapatan Permanen


Friedman menawarkan hipotesis pendapatan-permanen untuk menjelaskan perilaku
konsumsi. Hipotesis pendapatan-permanen menekankan bahwa manusia mengalami
perubahan acak dan temporer dalam pendapatan mereka dari tahun ke tahun.
Pendapatan permanen adalah pendapatan yang diharapkan diperoleh selama jangka
waktu lama, tetapi pendapatan tidak kekal/tetap, menambah atau mengurangi pendapatan
permanennya. Biasanya rata-rata pendapatan tidak kekal dalam jangka panjang positif dalam
periode tertentu atau bahkan negatif dalam periode yang lain. Pendapatan tidak kekal ini tidak
besar pengaruhnya pada konsumsi.
Menurut Metwally, pendapatan permanen dapat didefinisikan sebagai rata-rata
tertimbang pendapatan sekarang dan pendapatan yang lalu. Hasrat konsumsi dalam jangka
pendek (cG0) akan lebih kecil dari hasrat konsumsi marginal jangka panjang, atau:
c > cG0
Menurut pendekatan ini, redistribusi pendapatan akan menguntungkan kelompok
miskin dan kelompok yang memerlukan, dan tidak memengaruhi pengeluaran agregat, kalau
redistribusi tersebut memengaruhi konsumsi dan pendapatan permanen, dan bukan konsumsi
dan pendapatan tidak kekal.
Dalam ekonomi Islam, besarnya zakat adalah tetap, tidak seperti pajak. Jadi
pengeluaran tersebut atas pertimbangan agama, dan karena Allah. Konsumsi permanen tidak

1.9

akan berpengaruh terhadap redistribusi pendapatan di suatu negara Islam.


Konsumsi Agregat dalam Ekonomi Islam

Dalam Ekonomi Islam perekonomian secara makro terdiri atas dua karakteristikyang
berbeda, yaitu muzzaki dan mustahiq .
C = C1+ C2
C = a + b ( Y-Y) + [(1-)Y + Y]
Dimana adalah besarnya zakat yang dibayarkan.
Dalam persamaan diatas belum memperhitungkan adanya pajak yang harus dibayarkan
oleh muzzaki , sedangakan mustahiq tidak berkewajiban membayar pajak. Oleh karna itu,
untuk memudahkan pemahaman, dianggap Y merupakan pendapatan pembayaran zakat
yang menguasai satu bagian tertentu dari pendapatan nasional ; dan sisanya (1-) Y adalah
pendapatan penerimaan zakat. Jika transfer pemerintah atau Tr dianggap nol, dan pajak
(Tx=tY). Kecenderungan mengkonsumsi rata-rata (APC) adalah tingkat konsumsi dibagi
pendapatan nasional, dan kecenderungan mengkonsumsi.
Zakat perniagaan, di satu sisi akan mengurangi penghasilan kena pajak muzzaki, dan
di sisi lain tidak termasuk objek pajak yang wajib bagi mustahiq.

Kecenderungan

mengonsumsi rata-rata (APC) adalah tingkat konsumsi dibagi pendapatan nasional, dan
kcenderungan mengonsumsi marjinal (MPC) adalah turunan pertama dari tingkat konsumsi.

Proses penentuan pendapatan didalam suatu ekonomi Islam dapat juga diuji dengan
bantuan suatau diagram. Diansumsikan kondisi ekonomi berada pada perkonomian tertutup,
pengeluaran agregat (konsumsi) diukur pada garis yang vertikal dan pendapatan agregat
sepanjang garis horisontal di dalam gambar (1). Garis 45

menunjukkan suatu fungsi

penawaran agregat yang memiliki pengertian bahwa konsumsi dan pendapatan selalu sama
sepanjang garis ini. Garis C adalah fungsi konsumsi. Slope atau kemiringan dari garis ini
menunjukkan kecenderungan marginal untuk mengkonsumsi. Garis C + 1 menunjukkan
pengeluaran agregat yang terdiri dari pengeluaran untuk konsumsi dan investasi .
Jarak yang vertikal antara garis C dan C + 1 mmberi jumlah investasi yang mana
adalah sama dengan tingkatan pendapatan sebab semua investasi diamsumsikan otonomi.
Slope C + 1 sama persis halnya slope garis C dan bahwa mengapa garis C + 1 sama persis

halnyaslope garis C dan bahwa mengapa garis C + 1 persisnya pararel dengan garis C .
( Ausaf Ahmad , 1987)
Keseimbangan terjadi pada perpotongan antara garis C1 + C2 + I dengan garis
penawaran agregat (450). Pada gambar 1 ditunjukkan pada tingkat pendapatan sebesar Y.
1.10 Konsumsi Agregat pada Perekonomian Dua Sektor
Dalam perekonomian tertutup dua sektor, dimisalkan diketahui ;
Y = Total Pendapatan Nasional
C = Pengeuaran konsumsi pada seluruh masyarakat
Z = Pengeluaran untuk zakat
E = Pengeluaran amal ibadah lain seperti infaq, dan shadaqah
I = Pengeluaran untuk investasi
Diasumsikan investasi tetap I = I0 dan pemerintah tidak ikut campur dalam perekonomian,
hanya ada pengeluaran zakat, infaq dan shadaqah, maka :
Y=C+I
C = C 1 + C2
C1 = a + b (Y - Z - E)
Berdasarkan asumsi ini, fungsi konsumsi penerima zakat adalah :
Y=
(a +I0)
Dimana :
z = tingkat marginal dan rata-rata beban zakat
Y = pendapatan
g = kecenderungan pembayaran infaq dan shadaqah
1.11 Fungsi Pajak dan Subsidi
Pajak (Tx)dan subsidi (Tr) memengaruhi pengeluaran konsumsi dan tabungan. Di dalam
periode Islam Klasik, penerimaan utama berasa dari unsur-unsur sebagai berikut :
1. Zakat
Sumber utama pendapatan di dalam suatu pemerintahan negara islam pada periode
klasik serta di negara-negara islam pada umumnya adalah zakat yang nota bene merupakan
salah satu rukun islam. Zakat berpengaruh besar terhadap berbagai sifat dan cara pemilikan
harta benda ( atau kekayaan). Harta benda tersebut dikenakan zakat jika telah melampaui
nilai minimum yang sering disebut nishab berdasarkan cara dan kriteria perhitungan yang
berbeda, tergnatung harta benda yang dizakatinya.
Zakat dalam berbagai fungsinya membangun pajak kekayaan negara, karena
mendayakagunakan semua bentuk kekayaan yang ada. Tidak seperti halnya dalam pajak
modern, pengaturan pengumpulan zakat begitu sederhana dan tidak memerlukan pengetahuan
khusus. Berkaitan dengan tata cara pengumpulan zakat ini, terhadap hal penting yang perlu di
garis bawahi, yakni perbedaan antara zakat kekayaan yang tampak dan yang tidak tampak
(kelihatan).

Pelaksanaan pemungutan zakat secara semestinya, secara ekonomi menghapus tingkat


perbedaan kekayaan yang mencolok, serta sebaliknya dapat menciptakan redistribusi
pendapatan yang merata, dismaping pula membantu mengekang laju inflasi. Selain
perkembangan tak menentu dari peredaran mata uang di dalam negeri, kekurangan barang
dan kecepatan peredaran uang.
2. Jizyah
Sumber penerimaan lain adalah jizyah atau pajak yang dikenakan pada kalangan non
muslim, sebagai imbalan untuk jaminan yang diberikan oleh suatu negara islam pada mereka
guna melindungi kehidupannya misalnya harta benda, ibadah keagamaan dan untuk
pembebasan dari dinas militer.
3. Kharaj atau Pajak Bumi
Kharaj adalah sejenis pajak yang dikenakan pada tanah yang terutama ditaklukan oleh
kekuatan senjata, terlepas dari apakah si pemilik itu seorang yang dibawah umur, seorang
dewasa, seorang bebas, budak, muslim, atau yang tidak beriman. Cara pungutan kharaj dibagi
menjadi 2 jenis yaitu :
Kharaj menurut perbandingan dan kharaj tetap.
Kharaj menurut perbandingan ditetapkan porsi hasil seperti setengan atau sepertiga hasil itu.
Sebaliknya kharaj tetap adalah beban khusus pada tanah sebanyak hasil alam atau uang per
satuan lahan. Kaharaj menurut perbandingan pada umumnya dipungut pada setiap kali panen,
sedangkan kharaj tetap menjadi wajib setelah lampau satu tahun.
4. Ushoor atau Barang Rampasan Perang
Barang rampasan perang merupakan salah satu sumber pendapatan negara islam yang
berkurang. Islam menbatasi tuntuan tentara penakluk pada empat per lima dari seluruh hasil
dengan menahan seperlima bagian rampasan untuk kesejahteraan masyarakat. Hal ini
berdasarkan ayat Al-Quran :
ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka
sesungguhnya seperima untuk Allah, Rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan musafir (Q.S an Anfal 8:41)
5. Pajak atas Pertambangandan Harta Karun
Negara memiliki hak untuk mengekploitasi sumber tambang atau mineral untuk
kesejahteraan masyarakat. Namun nasionalisasi juga tidak sepenuhnya dibenarkan, oleh
karena itu negara islam harus membuat ketentuan untuk pembayaran ganti rugi yang wajar
dan adil yang selalu relatif bagi kebutuhan masyarakat dan harus ditentukan dengan
memperhatikan gangguan dan kesusahan yang dialamioleh para pemilik dan penduduk tanah
tersebut.

6. Bea Cukai dan Pungutan


Pengertian bea cukai dan pungutan mempunyai bentuk praktis selama masa
pemerintahan khalifah Umar yang mengangkat para Ashir dan memerintahkan mereka
memungutnya dari para pedagang Dhimmi dan para Harbi suatu negara tetangga non muslim
sampai sejumlah yang dipungut oleh negara tersebut. Perbedaan antara tingkat bea cukai dan
pungutan yang ditarik dari kaum muslimin dan yang ditarik dari kaum Dhimmi adalah karena
pada kenyataannya mereka lebih banyak membutuhkan perlindungan dari para perampok
daripada kaum muslimin, berbeda dengan kaum muslimin yang harus membayar zakat dari
barang dagangan mereka baik melalui ataupun tidak melalui seorang Ashir, kaum Dhimmi
hanya dikenai pungutan 5 %, sejauh mereka berada di bawah yurisdiksi seorang Ashir bila
mereka melakukan perjalanan untuk dagang.
Para pedagang Harbi tunduk pada peraturan pajak yang berlaku di negara islam,
karena golongn Harbi memperoleh perlindungan negara islam selama mereka berdiam di
sana. Karena walaupun golongan Harbi memungut pajak dari keseluruhan harta benda para
pedagang muslim, namun Ashir tidak memungut keseluruhan dari harta benda golongan
Harbi. Golongan Ashir membiarkan harta benda golongan Harbi secukupnya sehingga
memungkinkan merka untuk dapat pulang, dan tentu mereka memerlukan pangan dan
kebutuhan lainnya. Karena harta miliknya yang sangat sedikit tidak membutuhkan
perlindungan dari kaum perampok.

BAB II
KAJIAN TEORI
Pendapat beberapa ahli tentang teori konsumsi, antara lain:2[1]
1. Teori J.M Keynes
Teori ini terkenal dengan Absolut Income Theory (teori pendapatan absolute). Keynes
menyatakan tentang hubungan pengeluran konsumsi dengan pendapatan nasional yang di
ukur berdasarkan harga konstan. Dan besarnya konsumsi sangat bergantung pada besarnya
pendapatan, maka semakin tinggi pula konsumsi dan sebaliknya. Keynes mengatakan bahwa
ada batas konsumsi minimal yang tidak tergantung pada tingkat pendapatan. Jadi,
pengeluaran konsumsi minimum tersebut harus tetap dipenuhi oleh masyarakat meskipun
tingkat pendapatan sama dengan nol (outonomous consumtion). Jika penghasilan bertambah,
maka pengeluaran konsumsi akan meningkat. Akan tetapi tambahan konsumsi tidak sebesar
tambahan pendapatan disposabel. Seperti halnya dalam negara yang makin makmur dan
sejahtera atau di negara-negara maju. Porsi pertambahan pendapatan yang digunakan untuk
konsumsi makin berkurang, sedangkan kemampuan menabung meningkat. Ini berarti,
persediaan dana investasi dalam negeri juga meningkat. Keynes juga menyatakan: apabila
pendapatan makin tinggi, MPC tetap sedangkan APC akan menurun. Jadi semakin tinggi
pendapatan maka APC semakin turun aatau kecil.
2. Teori Keuzen
Dalam teori ini kenzen mengutarakan penemuannya,antara lain;
1. Perlu dibedakan antara fungsi konsumsi jangka panjang dan fungsi konsumsi jangka pendek,
karena kedua fungsi tersebut dari hasil struktur empirisnya berbeda.
2. Fungsi konsumsi jangka pendek ternyata mengalami pergeseran ke atas. Dapat dikatakan
bahwa nilai konsumsi meningkat dari waktu kewaktu
Dari penemuan inilah maka keuzen menyatakan bahwa yang dibahas Keynes adalah
teori konsumsi jangka pendek. Konsumsi jangka panjang dimulai dari nol dan konsumsi
masyarakat jangka pendek berubah setiap saat. Perubahan ini akan menambah konsumsi,jadi
dalam jangka panjang MPC = APC.
2[1] http//www.konsumsidalam islamvskonvensional.html

3. Teori Ando,R.Bruimberg dan F.Modigliani.S


Dalam teori ini mereka menyatakan bahwa begitu seseorang lahir, ia sudah
mempunyai kebutuhan-kebutuhan hidup yang menuntut untuk dipenuhi, meskipun jelas usia
tersebut sama sekali belum dapat berpartisipasi dalam pembentukan produk nasional. Ini
berarti pendapatan sebesar nol dan jumlah pengeluaran konsumsinya positif, memaksa orang
tersebut melakukan dissaving. Baru setelah dewasa dan memasuki anngkatan kerja ia dapat
memperoleh pendapatan dan pada usia berikutnya baru lagi terjadi dissaving kemudian
pendapatan tersebut meningkat sehingga terjadi saving sampaai umur berikutnya. Bila
umurnya masih panjang, maka kembali terjadi dissaving.
4. Teori James Desenbery
James Desenbery mengemukakan pendapatnya bahwa pengeluaran konsumsi
suatu masyarakat ditentukan terutama oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah
dicapainya. Ia berpendapat bahwa apabila pendapatan berkurang, konsumen tidak akan
banyak mengurangi pengeluarannya untuk konsumsi. Untuk mempertahankan tingkat
konsumsi yang tinggi ini, mereka terpaksa mengurangi saving. Selanjutnya Desenbery juga
sependapat dengan penemuan Kuznets bahwa untuk setiap pendapatan yang dicapai
mempunyai fungsi konsumsi jangka pendek sendiri-sendiri.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Hukum Perilaku Konsumen
Islam adalah agama yang ajarannya mengatur segenap perilaku manusi dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula dalam masalah konsumsi, Islam mengatur
bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan-kegiatan konsumsi yang membawa manusia
berguna bagi kemashlahatan hidupnya. Seluruh aturan Islam mengenai aktivitas konsumsi
terdapat dalam al-Quran dan as-Sunnah. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan alQuran dan as-Sunnah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan
hidupnya.
Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah SWT
kepada sang khalifaf agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Dalam
satu pemanfaatan yang telah diberikan kepada sang khalifah adalah kegiatan ekonomi dan
lebih sempit lagi kegiatan konsumsi. Islam mengajarkan kepada sang khalifah untuk
memakai dasar yang benar agar mendapat keridhaan dari Allah SWT.
Adapun dasar hokum konsumsi dalam Islam antara lain;3[2]
a.

Al-Quran
Dalam al-Quran yang menjadi dasar hokum konsumsi adalah surat Al-Araaf ayat 31
yang artinya: .makan dan minumlah,namun janganlah berlebih-lebih,sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Dalam ayat tersebut jelah bahwa
Allah memerintahkan kita untuk makan dan minum. Namun dalam melakukan konsumsi
islam melarang untuk bersikap berlebihan, karana sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

b. As-Sunnah
Dari Abu Said Al-chodry berkata; ketika kami bepergian bersama Nabi SAW, mendadak
dating seseorang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan dan kekiri seolah-olah
mengharapkan bantuan makanan, maka, Nabi bersabda; siapa yang mempunyai kelebihan
kendaraan harus dibantukan pada yang tidak mempunyai kendaraan. Dan siapa yang
mempunyai kelebihan bekal harus dibantukan kepada orang yang tak berbekal. Kemudian
Rasulullah menyebut berbagai macam jenis kekayaan hingga kita merasa seseorang tidak
berhak memiliki sesuatu yang lebih dari kebutuhan hajatnya. (H.R. Muslim). Dari hadits

3[2]

tersebut dapat disimpulkan bahwa kita boleh melakukan konsumsi, namun tidak boleh lebih
dari apa yang kita butuhkan. Dan kita harus berbagi dengan orang lain yang tak punya.
c.

Ijtihad para Ahli Fiqh


Ijtihad berarti meneruskan setiap usaha untuk menentukan sedikit banyaknya
kemungkinan suatu persoalan syariat.

B. Prinsip Konsumsi Dalam Islam


Etika ilmu ekonomi Islam berusaha untuk mengurangi kebutuhan materi yang luar
biasa sekarang ini, untuk mengurangi energy manusia dalam mengejar cita-cita spiritualnya.
Perkembangan batiniah yang bukan perluasan lahiriah telah dijadikan cita-cita tertinggi
manusia dalam hidup. Tetapi semangat modern dunia barat sekalipun tidak merendahkan nilai
kebutuhan akan kesempurnaan batin, namun rupanya mengalihkan tekanan kea rah perbaikan
kondisi-kondisi kehidupan material. Dalam ekonomi Islam, konsumsi dikendalikan oleh lima
prinsip dasar, antara lain;
1. Prinsip Keadilan
Syarat ini mengandung arti ganda yang penting mengenai mencari reaeki secara halal dan
tidak dilarang hokum. Dalam soal makanan dan minuman, yang dilarang adalah darah,daging
binatang yang telah mati sendiri,daging babi dan daging binatang yang ketika disembelih
tidak disebutkan nama selain Allah, seperti yang tertulis dalam al-Quran surat Albaqarah
ayat 173. Tiga golongan pertama yang dilarang karena hewan-hewan itu berbahaya bagi
tubuh, sebab yang berbahaya bagi tubuh juga berbahaya bagi jiwa. Larangan terakhir
berkaitan dengan segala sesuatu yang langsung membahyakan moral dan spiritual, karena
seolah-olah hal ini sama dengan mempersekutukan Allah. Kelonggaran diberikan kepada
orang-orang yang terpaksa dan bagi orang-orang yang pada suatu ketika tidak mempunyai
makanan untuk dimakan. Ia boleh makan makanan yang terlarang itu sekedar yang dianggap
perlu untuk kebutuhan saat itu juga.
2. Prinsip Kebersihan
Syarat yang ke dua ini tercantum dalam al-Quran maupun as-Sunnah tentang makanan.
Makanan yang akan dikonsumsi haruslah baik dan cocok untuk dimakan, yang berarti tidak
kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Karena itu, tidak semua yang
diperkenankan boleh dimakan dan diminum dalam semua keadaan.
Prinsip ini memiliki manfaat bagi kesehatan, karena bila semua orang menerapkan prinsip ini
denga baik maka akan kecil kemungkinan tubuhnya terkena penyakit. Dengan makan
makanan yang bersih badan akan menjadi sehat dan tentunya akan tumbuh jiwa yang kuat.

Dengan tubuh dan jiwa yang kuat tentunya orang muslim tidak akan terhalang dalam
melakukan ibadah sehari-hari. Selain itu kebersihan juga merupakan sebagian dari iman.
3. Prinsip Kesederhanaan
Prinsip ini mengatur perilaku manusia dalam melakukan konsumsi. Dalam prinsip ini
diajarkan bahwa tidak baik bila seseorang itu berlebihan. Seperti yang tercantum dalam alQuran surat Al-Maidah ayat 87, yang artinya; hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu
melampaui batas. Arti penting dalam ayat ini adalah kurang maka adalah dapat
mempengaruhi pembangunan jiwa dan tubuh, demikian juga bila perut diisi secara berlebihan
tentu akan ada pengaruhnya bagi perut. Maka hendaklah orang-orang muslim hidup
sederhana saja. Baik itu dalam makanan ataupun dalam belanja sehari-hari. Karena dengan
hidup sederhana tidak akan menjadikan seseorang bersikap sombong terhadap yang lain.
Hendaklah kebutuhan hidup dipenuhi sesuai dengan tingkat kebutuhannya, yang berarti tidak
membelanjakan harta untuk barang-barang yang tidak perlu.
4.

Prinsip Kemurahan Hati


Dengan menaati perintah Islam yang tidak ada bahaya maupun dosa ketika kita memakan
dan meminum makanan halal yang disediakan Tuhan karena kemurahan hatinya. Selama
maksudnya adalah untuk kelangsungan hidup dan dan kesehatan yang lebih baik, dengan
tujuan untuk menunaikan perintah Tuhan dengan keimanan yang kuat dalam tuntutan-Nya.
Kemurahan hati Allah tercermin dari Qs.Almaidah ayat 93, yang artinya; Dihalalkan bagimu
binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat
bagimu dan bagi orang-orang dalam perjalanan, dan diharamkan atasmu (menangkap)
binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang
kepadaNya lah kamu akan dikumpulkan. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa,
hendaknya seseorang senantiasa bersyukur atas kemmurahan hati Allah. Karena dengan
kemurahannya kita dapat makan dan minum makanan yang lezat, dimana itu merupakan
kebutuhan pokok dalam hidup. Dan dengan prinsip ini tidak akan menjadikan manusia lupa
bahwa semua kenikmatan yang didapat adalah berasal dari Allah karena kemurahan hati-Nya.

5. Prinsip Moralitas
Prinsip ini menekankan pada tujuan akhir dalam konsumsi, yaitu bukan hanya sekedar
terpenuhinya kebutuhan tubuh, melainkan untuk peningkatan nilai-nilai moral dan spiritual.
Seseorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan, dan berterimakasih
kepada-Nya setelah makan. Dengan demikian ia akan measakan kehadiran Tuhan pada waktu

memenuhi keinginan-keinginan fisiknya. Hal ini sangat penting karena Islam menghendaki
perpaduan nilai-nilai hidup material dan spiritual yang seimbang.
C. Teori Konsumsi Dalam Islam
Barang-barang kebutuhan dasar dapat didefinisikan sebagai barang dan jasa yang
mampu memenuhi suatu kebutuhan atau mengurangi kesulitan hidup sehingga memberikan
perbedaan yang nyata dalam kehidupan konsumen. Barang-barang mewah sendiri dapat
didefinisikan sebagai semua barang dan jasa yang diinginkan baik untuk kebanggaan diri
ataupun untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memberikan peubahan yang berarti bagi
kehidupan konsumen.
Lebih lanjut Chapra mengatakan bahwa konsumsi agregat yang sama mungkin
memiliki proporsi kebutuhan dasar dan barang mewah yang berbeda, dan tercapai tidaknya
pemenuhan suatu kebutuhan tidak bergantung pada proporsi sumberdaya yang dialokasikan
kepada masing-masing konsumsi. Semakin banyak sumberdaya masyarakat yang digunakan
untuk konsumsi dan produksi barang barang dan jasa mewah, semakin sedikit sumberdaya
yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan demikian, meski terjadi
peningkatan pada konsumsi agregat, ada kemungkinan bahwa kehidupan masyarakat tidak
menjadi lebih baik dilihat dari tingkat pemenuhan kebutuhan dasar penduduk miskin, jika
semua peningkatan yang terjadi pada konsumsi tersebut lari ke penduduk kaya untuk
pemenuhan kebuuhan barang-barang mewah.
Fungsi konsumsi dalam ilmu makroekonomi konvensional tidak memperhitungkan
komponen-komponen konsumsi agreget ini. Yang lebih banyak dibicarakan dalam ilmu
ekonomi konvensional terutama mengenai pengaruh dan tingkat harga dan pendapatan
terhadap konsumsi. Hal ini dapat memperburuk analisis, karena saat tingkat harga dan
pendapatan benar-benar memainkan peran yang substansi dalam menentukan konsumsi
agregat. Ada sejumlah factor moral, social ,politik, ekonomi dan sejarah yang mempengaruhi
pengalokasiannya pada masing-masing konsumen. Dengan demikian faktor-faktor nilai dan
kelembagaan serta preferensi, distribusi pendapatan dan kekayaan, perkembanga sejarah,
serta kebijakan-kebijakan pemerintah tetunya tidak dapat diabaikan dalam analisis ekonomi.
Sejumlah ekonom muslim, diantarnya; Zarqa, monzer Kahf, M.M Metwallay, Fahim
khan, M.A. Manan, M.A choudury, munawar iqbal, dan lain-lain telah beruha
memformalisaikan fungsi konsumsi yan g mencerminkan factor- factor tambahan ini
meskipun tidak seluaruhnya, mereka beranggapan bahwa tingkat harga saja tidaklah cukup
mengurangi tingkat konsumsi barang mewah yang dilakukan oleh orang kaya. Diperlukan

cara untuk mengubah sikap, selera preferensi, memberikan motivasi yang tepat, serta
menciptakan lingkungan social yang memandang buruk konsumsi sseperti itu. Disamping itu
perlu juga untuk menyediakan sumberdaya bagi penduduk miskin guna meningkatkan daya
beli atas barang dan jasa yang terkait dengan kebutuhan dasar. Hal inilah yang mencoba
dipenuhi oleh paradigm religious, khusunya Islam, dengan menekankan perubahan individu
dan social melaui reformasi moral dan kelembagaan.
Norma konsumsi Islami mungkin dapat memmbantu memberikan orientasi prefensi
individual yang menentang konsumsi barang-barang mewah. Dan bersama denga jaringan
pengaman social, zakat, serta pengeluaran-pengeluaran untuk amal mempengaruhi alokasi
dari sumberdaya yang dapat meningkatkan tingkat konsumsi pada komponen barang
kebutuhan dasar. Produsen kemudian mungkin akan merespon permintaan ini sehingga
volume investasi yang lebih besar dialihkan kepada produksi barang-baranng yang terkait
dengan kebutuhan dasar.

Latar belakang
Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhi
kebutuhan. Dalam kerangka Islam perlu dibedakan dua tipe pengeluaran yang dilakukan oleh
konsumen muslim yaitu pengeluaran tipe pertama dan pengeluaran tipe kedua. Pengeluaran
tipe pertama adalah pengeluaran yang dilakukan seorang muslim untuk memenuhi kebutuhan
duniawinya dan keluarga (pengeluaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dunia namun
memiliki efek pada pahala diakhirat). Pengeluaran tipe kedua adalah pengeluaran yang
dikeluarkan semata mata bermotif mencari akhirat.
Konsumsi adalah kegiatan ekonomi yang penting, bahkan terkadang dianggap paling
penting. Dalam mata rantai kegiatan ekonomi, yaitu produksi, konsumsi, distribusi, seringkali
muncul pertanyaan manakah yang paling penting dan paling dahulu antara mereka. Jawaban
atas pertanyaan itu jelas tidak mudah, sebab memang ketiganya merupakan mata rantai yang
terkait satu dengan yang lainnya, lebih jelasnya akan dibahas dalam isi makalah.

Etika Konsumsi dalam Islam


Konsumsi berlebih lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal
Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah israf (pemborosan)
atau tabzir (menghambur hamburkan harta tanpa guna). Tabzir berarti menggunakan barang

dengan cara yang salah, yakni, untuk menuju tujuan tujuan yang terlarang seperti
penyuapan, hal hal yang melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan.
Pemborosan berarti penggunaan harta secara berlebih lebihan untuk hal hal yang
melanggar hukumdalam hal seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan sedekah.
Ajaran ajaran Islam menganjurkan pada konsumsidan penggunaan harta secara wajar dan
berimbang, yakni pola yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan. Konsumsi diatas dan
melampaui tingkat moderat (wajar) dianggap lisraf dan tidak disenangi Islam.
Salah satu ciri penting dalam Islam adalah bahwa ia tidak hanya mengubah nilai nilai
dan kebiasaan kebiasaan masyarakat tetapi juga menyajikan kerangka legislatif yang perlu
untuk mendukung dan memperkuat tujuan tujuan ini dan menghindari penyalahgunaannya.
Ciri khas Islam ini juga memiliki daya aplikatif terhadap kasus orang yang terlibat dalam
pemborosan atau tabzil. Dalam hukum (Fiqh) Islam, orang semacam itu seharusnya dikenai
pembatasan pembatasan dan, bila dianggap perlu,dilepaskan dan dibebaskan dari tugas
mengurus harta miliknya sendiri. Dalam pandangan Syariah dia seharusnya diperlukan
sebagai orang yang tidak mampu dan orang lain seharusnya ditugaskan untuk mengurus
hartanya selaku wakilnya.

Model Keseimbangan Konsumsi Islam


Keseimbangan konsumsi dalam ekonomi Islamdidasarkan pada prinsip keadilan
distribusi. Jika tuan A mengalokasikan pendapatannya setahun hanya untuk kebutuhan materi,
dia tidak berlaku adil karena ada pos yang nbelum dibelanjakan, yaitu konsumsi sosial. Jika
demikian, sesungguhnya dia hanya bertindak untuk jalannya diakhirat nanti. Dalam
ekonomi islam. Kepuasan konsumsi seorang Muslim bergantung pada nilai-nilai
agama yang diterapkan pada rutinitas kegiatanya, tercermin pada alokasi uang
yang dibelanjakanya.

Secara sederhana Metwally (1995: 26-23) telah memberikan kontribusi yang sangat berarti
dalam perumusan keseimbangan konsumsi Islami.
Dimana :
S : Sedekah
H : Harga barang dan jasa
BR : Barang
JS : Jasa
Z : Zakat (25%)
P : Jumlah pendapatan

Batasan Konsumsi Dalam Syariah


Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan
keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang
cenderung mempengaruhi kepribadian manusia, yang dalam bentuk perilaku, gaya hidup,
selera, sikap sikap terhadap sesama manusia, sumberdaya, dan ekologi. Keimanan sangat

mempengaruhi sifat kuantitas, dan kulitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan materil
maupun spiritual. Dalam konteks inilah kita dapat berbicara tentang bentuk bentuk halal
dan haram, pelarangan terhadap israf, pelarangan terhadap bermewah mewahan dan
bermegah megahan, konsumsi sosial, dan aspek aspek normatif lainnya. Kita melihat
batasan konsumsi dalam Islam sebagaimana diurai dalam Alquran surah Al-Baqarah [2]: 168
-169 :
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang
nyata bagi kamu. Sesungguhnya setan hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan
mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Sedangkan untuk batasan terhadap minuman merujuk pada firman Allah dalam al quran
surah Al-Maidah[5] : 90 :
Hai orang orang yang beriman, sesungguhnya (minuman khamer, berjudi,(berkorban
untuk) berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka
jauhilah perbuatan perbuatan itu agar kamu beruntung.

Ketentuan Islam Dalam Konsumsi


Konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penyediaan. Kebutuhan
konsumen yang kini dan yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan insentif pokok
bagi kegiatan kegiatan ekoniminya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap
pendapatannya tetapi juga memberi insentif untuk meningkatkannya. Hal ini berarti
pembicaraan mengenai konsumsi adalah penting dan hanya para ahli ekonomi yang
mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami dan menjelaskan prinsip produksi dan
konsumsi. Perbedaan antara ekonomi modern dan ekonomi Islam dalam hal konsumsi
terletak pada cara pendekatan dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui
kegemaran materialistis semata mata dan pola konsumsi modern. Islam berusaha
mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini.
PERILAKU KONSUMEN MUSLIM
Dalam bidang konsumsi, Islam tidak menganjurkan pemenuhan keinginan yang tak
terbatas. Secara hirarkisnya, kebutuhan manusia dapat meliputi ; keperluan, kesenangan dan
kemewahan. Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, Islam menyarankan agar manusia dapat
bertindak ditengah tengah (moderity) dan sederhana (simpelicity). Pembelanjaan yang
dianjurkan dalam Islam adalah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan
dengan cara rasional. isharf dilarang dalam al Quran. Tabzir berarti membelanjakan uang
ntuk sesuatu yang dilarang menurut hukum Islam. Perilaku ini sangat dilarang oleh Allah swt.
Dasar Hukum prilaku konsumen
Hasan sirry menyatakan bahwa sumber hukum konsumsi yang tercactum dalam AlQuran adalah,
Artinya:

Makanlah dan minumlah,namun janganlah berlebih lebihan, Sesungguhnya Allah itu tidak
menyukai orang orang berlebih lebihan.
Sumber yang berasal dari Hadits Rasul adalah,
Artinya:
Abu Said Al Chodry r.a. berkata: ketika kami dalam bepergian bersama Nabi saw.
Mendadak datang seseorang berkendara, sambil menoleh kekanan kekiri seolah olah
mengharapkan bantuan makanan, maka bersabda Nabi: siapa yang mempunyai kelebihan
kendaraan harus dibantukan pada yang tidak mempunyai kendaraan. Dan siapa yang
mempunyai kelebihan bekal harus dibantu kepada yang tidak berbekal. Kemudian
Rasulullah menyebut berbagai macam jenis kekayaan hingga kita merasa seseorang tidak
berhak memiliki sesuatu yang lebih dari kebutuhan hajatnya..

HubunganKonsumsi,Investasi,danTabungan
1. KonsumsidanPendapatan
Perbedaanyangterjadidalamfungsikonsumsiseorangmuslimdengannonmuslimakan
berpengaruhpadafungsilainsepertifungsiTabunngandanInvestasi.Halinidisebabkan
karena dalam fungsi konsumsi perilaku konsumen muslim dipengaruhi adanya keharusan
pembayaranzakatdalamkonseppendapatanoptimumsertaadanyalaranganpengambilan
ribadalamtransaksiapapuntermasukkonsumsi,investasidantabungan.
Pendapatanyangsiapdibelanjakanseorangmuslimakanberbedadenganbukanmuslim,
sebab terdapat zakat. Pendapatan seseorang yang telah memenuhi syarat akan dikenakan
zakatsebesar2,5%.Seseorangbiasanyaakanmenabungsebagiandaripendapatannyadengan
beragammotif,antaralain:
1.Untukberjagajagaterhadapketidakpastianmasadepan
2.Untukpersiapanpembeliansuatubarangkonsumsidimasadepan
3.Untukmengakumulasikankekayaan
Demikianpula,seseorangakanmengalokasikandarianggarannyauntukinvestasi,yaitu
menanamkannya pada sector produktif. Secara sederhana, alokasi pendapatan seorang
muslimakandapatdiformulasikansebagaiberikut:
Yz=C+S+I
Dimana:
Y:pendapatan
Ct:konsumsi
S:tabungan
I:investasi
Z:zakat
Ajaran agama Islam sangat mendorong kegiatan menabung dan investasi. Rasulullah
SAWbersabda,Kamulebihbaikmeninggalkananakketurunanmukayadaripadamiskin
danbergantungkepadabelaskasihoranglain(HR.BukhariMuslim)
1. KonsumsidanTabungan

Alokasianggaran(pendapatan)untukkonsumsitotalberbandingterbalik(negatif)dengan
tabungan.Semakintinggikonsumsiberartisemakinkeciltabungandansebaliknyasemakin
besartabunganakanmenguragitingkatkonsumsi.Untukmencapaitingkatkepuasanyang
optimalsesuaidengantujuanmaslahah,makaseorangmuslimakanmencarikombinasiyang
tepatantaratingkatkonsumsidantingkattabungan.
Dampakyangdapatdianalisadaripenerapanzakatdanlaranganribapadakonsumsidan
tabunganantaralain:
1. Zakatdikenakanatastotalpendapatanatauhartayangmenganggur(idlecapacity)
yang kurang atau tidak produktif bagi seorangmuzakky. Hal ini berdampak pada
peningkatannilaikonsumsidanpenurunannilaitabungan.
2. Pelaranganpraktekribadalamsetiaptransaksiekonomijugaakanberdampakpada
berkurangnya jumlah konsumsi yang dibiayai oleh bunga tapi hanya bersifat
sementarakarenadialihkankebentukkonsumsilain.
3. Penerapan zakat bagimustahiqakan berdampak pada peningkatan pendapatan dari
perolehanzakat,sehinggapeningkataniniakanmempengruhipulapadapeningkatan
konsumsimereka,danbahkandapatdikatakanmeningkatkantabunganmereka.
Darigambarandiatas,diasumsikanbahwamanusiamempunyaikecenderunganuntuk
menghindar dari zakat. Sehingga ada beberapa pilihan bagi seseorang yang mempunyai
tingkatpendapatantertentuuntukmengambiltindakan.
1. KonsumsidanInvestasi
Berpijakpadaasumsibahwahartayangdigunakanuntuktransaksitabungandianggap
sebagaihartayangmenganggur.Keadaanyangmungkinterjadidenganpenerapanzakatdan
laranganribaterhadapfungsikonsumsidaninvestaiadalahsebagaiberikut:
1. Penerapanzakatatasasetyangkurangataubahkantidakproduktifberpengaruhpada
peningkatankonsumsidaninvestasi.
2. Pelarangan atas riba akan berdampak bagi seorang pelaku ekonomiuntuk
mengalokasikananggarannyalebihkepadabentukinvestasidanbukantabunganyang
mengandungbunga.
3. Denganpeningkatankonsumsimasingmasingindividuakanmenimbulkankenaikan
konsumsisecaranasional.
Melihatpaparandiatassungguhmerupakansuatukondisiyangdiharapkanolehsetiap
masyarakatdimanapertumbuhanekonomimeningkatdenganadanyakesempatankerjayang
adasertamenurunnyaangkakemiskinan.

Sumber: http://ihsanamirul.blogspot.com/2012/06/teori-konsumsi-dalam-ekonomiislam.html
Diposkan oleh Ema Nurul Afifah di 22.07

Teori Konsumsi Islam


BAB I
PENDAHULUAN
Konsumsi adalah kegiatan ekonomi yamg penting, bahkan terkadang dianggap paling
penting. Dalam mata rantai kegiatan ekonomi, yaitu produksi-konsumsi-distribusi, seringkali
muncul pertanyaan manakah yang paling penting dan paling dahulu diantara mereka.
Jawaban atas pertanyaan ini jelas tidak mudah, sebab memang ketiganya merupakan mata
rantai yang terkait satu dengan lainnya. Kegiatan produksi ada karena ada yang
mengkonsumsi, kegiatan konsumsi ada karena ada yang memproduksi, dan kegiatan disribusi
muncul karena ada gap atau jarak antara konsumsi dan produksi.
Dalam ekonomi konvesional perilaku konsumsi dituntun oleh dua nilai dasar, yaitu
rasionalisme dan utilitarianisme. Kedua nilai dasar ini kemudian membentuk suatu perilaku
konsumsi yang hedonistic materialistik serta boros (wastefull). Karena rasionalisme ekonomi
konvensional adalah self-interst, perilaku konsumsinya juga cenderung individualistik
sehingga seringkali mengabaikan keseimbangan dan keharmonisan social. Secara sederhana
dapat dikatakan bahwa prinsip dasar bagi konsumsi adalah saya akan mengkonsumsi apa
saja dan dalam jumlah berapapun sepanjang: (1) anggaran saya memadai, (2) saya
memperoleh kepuasan yang maksimum. Apakah perilaku konsumsi yang seperti ini dapat
dibenarkan oleh ajaran Islam?

1.
2.
3.
4.
5.

Bab ini akan membahas perilaku konsumsi yang lebih Islami, yaitu perilaku konsumsi
yang dibimbing oleh nilai-nilai agama Islam. Di makalah ini kita akan membahas tentang:
Konsep kebutuhan dan keinginan
Kualitas dan kemurnian
Motif dan tujuan konsumsi
Perilaku konsumen muslim
Hubungan konsumsi, investasi, tabungan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Kebutuhan dan Keinginan
Seperti yang kita pelajari sebelumnya, bahwa teori konsumsi lahir karena adanya teori
permintaan akan barang dan jasa. Sedangkan permintaan akan barang dan jasa timbul karena
adanya keinginan (want) dan kebutuhan (need) oleh konsumen riil maupun konsumen
potensial. Dalam ekonomi konvensial motor penggerak kegiatan konsumsi adalah adanya
keinginan.
Islam berbeda pandangan tentang teori permintaan yang didasar atas keinginan tersebut.
Keinginan identik dengan sesuatu yang bersumber dari nafsu. Sedangkan kita ketahui bahwa
nafsu manusia mempunyai kecenderungan yang bersifat ambivalen, yaitu dua kecenderungan

yang saling bertentangan, kecenderungan yang baik dan kecenderungan yang tidak baik. Oleh
karena itu teori permintaan dalam ekonomi Islam didasar atas adanya kebutuhan (need).[1]
Kita harus membedakan secara tegas antara keinginan dan kebutuhan ini. Kebtuhan lahir
dari suatu pemikiran atau identifikasi secara objektif atas berbagai sarana yang diperlukan
untuk mendapatkan suatu manfaat bagi kehidupan. Kebutuhan dituntun oleh rasionalitas
normative dan positif, yaitu rasionalitas ajaran Islam, sehingga bersifat terbatas dan terukur
dalam kuantitas dan kualitasnya. Jadi, seorang muslim berkonsumsi dalam rangka untuk
memenuhi kebutuhannya sehingga memperoleh kemanfaatan yang setinggi-tingginya bagi
kehidupannya. Hal ini merupakan dasar dan tujuan dari syariah Islam sendiri, yaitu maslahat
al ibad(kesejahteraan hakiki bagi manusia), dan sekaligus sebagai cara untuk
mendapatfalah yang maksimum.
Al Shatibi, yang mengutip pendapat Al Ghazali, menyebutkan 5 kebutuhan asar yang
sangat bermanfaat bai keidupan manusia, yaitu:
1. Kebenaran (faith, ad dien)
2. Kehidupan (life, an nas)
3. Harta material (property, al mal)
4. Ilmu pengetahuan (science, al aql, al ilmu)
5. Kelangsungan keturunan (postery, an nasl)
Kelima kebutuhan ini semuanya penting untuk mendukung suatu perilaku kehidupan
yang Islami, karenya harus diupayakan untuk dipenuhi. Menurut Al Ghazali tujuan utama
syariat Islam adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak kepada perlindungan
yang menjamin terlindungnya kelima kebutuhan ini akan memenuhi kepentingan umum dan
kehendaki.
Untuk menjaga kontinuitas kehidupan, maka manusia harus memelihara keturunannya
(an nasl / posterity). Meskipun seorang muslim meyakini bahwa horizon waktu kehidupan
tidak hanya menyangkup kehidupan dunia-melainkan hingga akherat, tetapi kelangsungan
kehidupan dunia amatlah penting. Kita harus berorienasi jangka panjang dalam
merencanakan kehidupan dunia, tentu saja dengan tetap berfokus kepada kehidupan akherat.
Oleh karenanya, kelangsungan keturunan dan keberlanjutan dari generasi ke generasi harus
diperhatikan. Ini merupakan suatu kebutuhan yang amat penting bagi eksistensi manusia.[2]
Kewajaran
Dalam hidup ini Islam mengambil jalan tengah antara materialism dan kesuhudan, terlalu
bersifat menjahui benda-benda yang dihalalkan juga dilarang oleh Allah, seperti ditetapkan
dalam surat Al-Maidah ayat 87 berikut:[3]
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah
Allah halalkan bagi kamu dan janganlah engkau melampaui batas.
Dalam ayat ini sangatlah jelas disebutkan, manusia dilarang untuk menjahui hal-hal yang
dihalalkan, seperti pada agama Kristen dan budha. Tetapi juga dilarang melakukan tindakan
yang berlebihan dalam berkonsumsi, karena kebaikan itu berada diantara kedua halt u
(kewajaran).[4]
Pemborosan Harta Benda
Mengenai pandangan pentingnya kekayaan, Islam sangat memberikan penekanan tentang
cara membelanjakan harta, dalam Islam sangat dianjurkan untuk menjaga harta dengan hati-

hati termasuk menjaga nafsu supaya tidak terlalu berlebihan dalam menggunakan seperti
dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 5:[5]
:Artinya
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka
yang ada dalam kekuasaanMu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.
Sangat dilarangnya pemborosan, bahkan untuk memberikan harta (yang berlebihan) bagi
anak-anak yan belum sempurna akalnya pun itu dilarang dalam Islam.
Makanan Terlarang
Dalam perilaku konsumsiIslam sangat dilarang untuk memakan barang-barang yang telah
diharamkan oleh Allah. Pada hakekatnya makanan-makanan yang dilarang ole Allah akan
menimbulkan efek yang tidak baik untuk tubbuh diantaranya adalah:
1. Bangkai
2. Darah
3. Daging babi
4. Khamar
Ciri-Ciri Penggunaan
Dalam Islam penggunaan kekayaan mempunyai cirri-ciri tertentu:
1. Tidak ada perbedaan antara keperluan duniawi dan spiritual
Semua keperluan dalam Islam hanyalah bertujuan untuk terus meningkatkan ketaqwaan
kepada Allah sehingga harta-harta kaum muslimin yang dibelanjakan tepat sasaran dan tidak
dipergunakan untuk hal-hal yang dapat mengurangi ketaqwaan kepada Allah.
2. Kepemilikan harta tidak terbatas kepaada efisiensi dan untuk kecukupan hidup semata, tapi
juga diperbolehkan memiliki harta yang melimpah asalkan dengan cara yang telah
diperbolehkan dalam Islam.
B. Kualitas dan Kemurnian (Keaslian)
Al-Quran karim memberikan kepada kita peunjuk-petunjuk yang sangat jelas dalam, hal
konsumsi, ia mendorong pengguna barang-barang yang baik, dan bermanfaat serta melarang
adanya pemborosan dan pengeluaran terhadap hal-hal yang tidak penting, juga melarang
orang muslim untuk makan dan berpakaian kecuali hanya yang baik, berdasarkan ayat yang
berbunyi:[6]
Artinya:
mereka menanyakan kepadamuapakah yang dihalalkan bagi mereka?katakanlah:
dihalalkan bagimu yang baik-baik (Al-Maidah: 4)
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa barang-barang yang kita konsumsi haruslah
barang-barang yang bersih, baik, halal.
Pada dasarnya Al-Quran tidak menyebutkan satu-persatu barang yang boleh
dikonsumsi, tetapi hanya diberi batasan bahwa yang dikonsumsi hauslah barang-barang yang
halal, hal tersebut bertujuan untuk memberikan keleluasaan dalam melakukan konsumsi.
C. Motif Ekonomi dan Tujuan Konsumsi[7]
Motif ekonomi adalah alasan ataupun tujuan seseorang sehingga seseorang itu melakukan
tindakan ekonomi. Motif ekonomi terbagi dalam dua aspek:

Motif Intrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi
atas kemauan sendiri.

Motif ekstrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi
atas dorongan orang lain.

Pada prakteknya terdapat beberapa macam motif ekonomi:

Motif memenuhi kebutuhan

Motif memperoleh keuntungan

Motif memperoleh penghargaan

Motif memperoleh kekuasaan

Motif sosial / menolong sesama

tujuan manusia mengkonsumsi sesuatu yaitu :[8]


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup


Mempertahankan status sosial
Mempertahankan status keturunan
Mendapatkan kesimbangan hidup
memberikan bantuan kepada orang lain (tujuan sosial)
Menjaga keamanan dan kesehatan
Keindahan dan seni
Memuaskan batin
Demonstration effect (keinginan untuk meniru)
Dalam menuju tujuan konsumsi tersebut manusia haruslah mencapai dengan kerja keras.
Pengeluaran konsumsi seseorang yang satu dengan yang lain berbeda ada yang lebih besar,
ada yang sama dan ada yang lebih kecil dari pendapatannya yang menggunakan barangbarang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dialah konsumen.
D. perilaku konsumen muslim[9]
Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di
antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources)
yang dimilikinya.
Teori perilaku konsumen muslim yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki
perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut nilai dasar
yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi
anggaran untuk berkonsumsi.

Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim :
1.
Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan
seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia.
Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah
merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat), sedangkan
konsumsi duniawi adalah present consumption.
Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam,
dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi
pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan
2.

kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya
bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk
mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar.(QS.2.265)
3.

Perilaku konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat
mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki
suatu produk dan jasa mereka. Focus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu
membuat keputusan untuk menggunakan sumber daya mereka yang telah tersedia untuk
mengkonsumsi suatu barang.

E. Hubungan Konsumsi, Investasi, dan Tabungan[10]


1. Konsumsi dan Pendapatan
Perbedaan yang terjadi dalam fungsi konsumsi seorang muslim dengan non muslim akan
berpengaruh pada fungsi lain seperti fungsi Tabunngan dan Investasi. Hal ini disebabkan
karena dalam fungsi konsumsi perilaku konsumen muslim dipengaruhi adanya keharusan
pembayaran zakat dalam konsep pendapatan optimum serta adanya larangan pengambilan
riba dalam transaksi apapun termasuk konsumsi, investasi dan tabungan.
Pendapatan yang siap dibelanjakan seorang muslim akan berbeda dengan bukan muslim,
sebab terdapat zakat. Pendapatan seseorang yang telah memenuhi syarat akan dikenakan
zakat sebesar 2,5%. Seseorang biasanya akan menabung sebagian dari pendapatannya dengan
beragam motif, antara lain:
1. Untuk berjaga-jaga terhadap ketidakpastian masa depan
2. Untuk persiapan pembelian suatu barang konsumsi dimasa depan
3. Untuk mengakumulasikan kekayaan
Demikian pula, seseorang akan mengalokasikan dari anggarannya untuk investasi, yaitu
menanamkannya pada sector produktif. Secara sederhana, alokasi pendapatan seorang
muslim akan dapat diformulasikan sebagai berikut:
Yz=C+S+I
Dimana:
Y : pendapatan
Ct : konsumsi
S : tabungan
I
: investasi
Z : zakat
Ajaran agama Islam sangat mendorong kegiatan menabung dan investasi. Rasulullah
SAW bersabda, Kamu lebih baik meninggalkan anak keturunanmu kaya daripada miskin
dan bergantung kepada belas kasih orang lain (HR. Bukhari-Muslim)
2. Konsumsi dan Tabungan
Alokasi anggaran (pendapatan) untuk konsumsi total berbanding terbalik (negatif) dengan
tabungan. Semakin tinggi konsumsi berarti semakin kecil tabungan dan sebaliknya semakin
besar tabungan akan menguragi tingkat konsumsi. Untuk mencapai tingkat kepuasan yang
optimal sesuai dengan tujuan maslahah, maka seorang muslim akan mencari kombinasi yang
tepat antara tingkat konsumsi dan tingkat tabungan.

Dampak yang dapat dianalisa dari penerapan zakat dan larangan riba pada konsumsi dan
tabungan antara lain:
Zakat dikenakan atas total pendapatan atau harta yang menganggur (idle capacity) yang
kurang atau tidak produktif bagi seorang muzakky. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai
konsumsi dan penurunan nilai tabungan.
Pelarangan praktek riba dalam setiap transaksi ekonomi juga akan berdampak pada
berkurangnya jumlah konsumsi yang dibiayai oleh bunga tapi hanya bersifat sementara
karena dialihkan kebentuk konsumsi lain.
Penerapan zakat bagi mustahiq akan berdampak pada peningkatan pendapatan dari
perolehan zakat, sehingga peningkatan ini akan mempengruhi pula pada peningkatan
konsumsi mereka, dan bahkan dapat dikatakan meningkatkan tabungan mereka.
Dari gambaran diatas, diasumsikan bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk
menghindar dari zakat. Sehingga ada beberapa pilihan bagi seseorang yang mempunyai
tingkat pendapatan tertentu untuk mengambil tindakan.
3. Konsumsi dan Investasi
Berpijak pada asumsi bahwa harta yang digunakan untuk transaksi tabungan dianggap
sebagai harta yang menganggur. Keadaan yang mungkin terjadi dengan penerapan zakat dan
larangan riba terhadap fungsi konsumsi dan investai adalah sebagai berikut:
1. Penerapan zakat atas aset yang kurang atau bahkan tidak produktif berpengaruh pada
peningkatan konsumsi dan investasi.
2. Pelarangan atas riba akan berdampak bagi seorang pelaku ekonomiuntuk mengalokasikan
anggarannya lebih kepada bentuk investasi dan bukan tabungan yang mengandung bunga.
3. Dengan peningkatan konsumsi masing-masing individu akan menimbulkan kenaikan
konsumsi secara nasional.
Melihat paparan di atas sungguh merupakan suatu kondisi yang diharapkan oleh setiap
masyarakat dimana pertumbuhan ekonomi meningkat dengan adanya kesempatan kerja yang
ada serta menurunnya angka kemiskinan.

BAB III
KESIMPULAN
Seperti yang kita pelajari sebelumnya, bahwa teori konsumsi lahir karena adanya teori
permintaan akan barang dan jasa. Sedangkan permintaan akan barang dan jasa timbul karena
adanya keinginan (want) dan kebutuhan (need) oleh konsumen riil maupun konsumen
potensial. Dalam ekonomi konvensial motor penggerak kegiatan konsumsi adalah adanya
keinginan.
Al Shatibi, yang mengutip pendapat Al Ghazali, menyebutkan 5 kebutuhan asar yang
sangat bermanfaat bai keidupan manusia, yaitu:
1. Kebenaran (faith, ad dien)
2. Kehidupan (life, an nas)
3. Harta material (property, al mal)

4. Ilmu pengetahuan (science, al aql, al ilmu)


5. Kelangsungan keturunan (postery, an nasl)
Motif ekonomi adalah alasan ataupun tujuan seseorang sehingga seseorang itu
melakukan tindakan ekonomi.
tujuan manusia mengkonsumsi sesuatu yaitu :
a. Untuk memenuhi kebutuhan hidup
b. Mempertahankan status sosial
c. Mempertahankan status keturunan
d. Mendapatkan kesimbangan hidup
e. memberikan bantuan kepada orang lain (tujuan sosial)
f. Menjaga keamanan dan kesehatan
g. Keindahan dan seni
h. Memuaskan batin
i. Demonstration effect (keinginan untuk meniru)

Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim :
a. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan seorang
konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan
konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan
future consumption (karena terdapat balasan surga di akherat), sedangkan konsumsi duniawi
adalah present consumption.
b. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan
bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula
kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan
kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan
bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan.
c. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya
bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk
mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar.(QS.2.265)
Dampak yang dapat dianalisa dari penerapan zakat dan larangan riba pada konsumsi dan
tabungan antara lain:
Zakat dikenakan atas total pendapatan atau harta yang menganggur (idle capacity) yang
kurang atau tidak produktif bagi seorang muzakky. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai
konsumsi dan penurunan nilai tabungan.
Pelarangan praktek riba dalam setiap transaksi ekonomi juga akan berdampak pada
berkurangnya jumlah konsumsi yang dibiayai oleh bunga tapi hanya bersifat sementara
karena dialihkan kebentuk konsumsi lain.
Penerapan zakat bagi mustahiq akan berdampak pada peningkatan pendapatan dari
perolehan zakat, sehingga peningkatan ini akan mempengruhi pula pada peningkatan
konsumsi mereka, dan bahkan dapat dikatakan meningkatkan tabungan mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Anto, Hendri. 2003. Pengantar Ekonomika Mikro Islam, Yogyakarta: Ekonisia Kampus
Fakultas Ekonomi UII
Masykuroh, Ely. 2008. Pengantar Teori Ekonomi, Ponorogo: TAIN Ponorogo press
Rahman, Afzalur. 1995. Doktrin Ekonomi Islam, Jilid 2 Alih bahasa Soeroyo dan
Nastangin, Yogyakarta: PT Dana Bhakti wakaf
http://Id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi
http://id.shvoong.com/business-management/management/2077037-tujuankonsumsi/#ixzz1cnWAwmVl
http://kaqun.wordpress.com/2010/09/23/32

PEREKONOMIAN DUA SEKTOR :


MPC DAN MULTIPLIER
A. Fungsi Konsumsi dalam Pendekatan Konvensional Versus
Ekonomi Islam:
Konsumsi dalam suatu Negara terdiri dari pada
Konsumsi pemerintah, yang terdiri dari; belanja pegawai negeri, penyediaan sarana
public, dan subsidi
Konsumsi Rumah Tangga
Pendekatan Ekonomi Konvensional :
Besar dan kecilnya konsumsi dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Tingkat pendapatan/Kekayaan
2. Tingkat suku bunga dan spekulasi
3. Sikap berhemat
4. Budaya dan Gaya Hidup
Dalam suatu Negara, ketika Pemerintah merubah konsumsi/ pembeliannya terhadap
barang atau jasa, maka kurva aggregate demand bergeser secara langsung.
Perubahan Konsumsi Pemerintah
Ada dua akibat makro ekonomi dari perubahan konsumsi pemerintah :
The multiplier effect

The

crowding- out effect (nanti dibahas oleh peserta lain yang berkaitan dengan
kebijakan fiskal)

The multiplier effect :


Pembelian pemerintah dikatakan mempunyai ekfek multiplier terhadap
Aggregate Demand..
Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh pemerintah dapat meningkatkan
aggregate demand untuk barang dan jasa lebi besar dari satu rupiah.
Formula untuk Multiplier adalah :
Multiplier = 1/(1-MPC)
Angka yang penting adalah MPC (Marginal Popensity of Consume)
Pengertian dari MPC adalah bagian dari tambahan pendapatan yang dikonsumsi oleh
rumah tangga (tidak ditabung)
Dalam hal ini jika MPC adalah 3/4 , maka multiplier adalah :
Multiplier = 1/(1- 3/4) = 4

A. Fungsi konsumsi dalam pedekatan ekonomi Islam :


Pengaruh prinsip-prinsip Islam terhadap pengeluaran konsumsi dengan pendapatan
yang muncul dalam suatu ekonomi. Dalam hal ini ada 4 hipotesa teoritis sbb :
1. Hipotesa Pendapatan mutlak
2. Hipotesa Pendapatan Relatif
3. Hipotesa Pendapatan Permanen
4. Hipotesa Siklus Kehidupan
Hipotesa Pendapatan Mutlak :

Menurut hipotesa ini konsumsi dalam periode waktu tergantung pada pendapatan siap
konsumsi (dispossable income) pada periode tersebut. Naik pendapatan konsumsi
akan naik juga. Namun peningkatan konsumsi lebih kecil dari kenaikan pendapatan.
LPC dan MPC menurun dengan meningkatnya pendapatan, dengan penurunan yang
lebih besar yaitu LPC. Elastisitas konsumsi terhadap pendapatan positif namun
kurang dari satu.
Ct = f (Yt) dimana C = pengeluaran, Y =pendapatan bersih & t= waktu.
Zakat dan sedekah mempengaruhi lereng fungsi konsumsi dan juga besanya intesep.

Zakat manfaat cukup besar antara lain :


Zakat dapat meningkatkan asset dan peningkatan pendapatan.
Jumlah penerima zakat kecil dibandingkan pemberi zakat sehingga zakat
dapat keperluan negara yang lain.
Zakat dapat dikumpulkan setiap saat, saat pendapatan telah melebihi nisab.
Muslim beriman tidak akan meghindar untuk membayar zakat, dan dapat
dipaksakan dengan undang-undang.
Pengaruh zakat untuk pengeluaran pribadi, dianalisa dengan fungsi konsumsi
liner, dan non liner.
Pada ekonomi konvensional APC dan MPC sbb :
APC = ( C ) =

a+b

Y z=0 Y
MPC = ( dC ) =

dY z=0
Untuk ekonomi Islam persamaannya menjadi:
APC = ( C ) =

a + b b + (1- ) +

Y z>0 Y
MPC = ( dC ) = b b + (1- ) +
dY z>0
Hipotesa Pendapatan Relatif:

Konsumsi rata-rata dan Kosumsi Marginal sama.

Zakat dan sedekah akan mengurangi konsumsi , mengurani ketidak


merataan.
Zakat dan sedekah dapat meningkatkan jumlah tabungan yang akan
diarahkan untuk investasi.
Hipotesa Pendapatan Permanen :

Besar zakat tetap misalnya zakat profesi adalah 2, 5 % berapapun


penghasilannya zakat tetap 2,5 %, karena pertimbangan agama dan
ketentuan atau hukum dari ALLAH, tidak seperti pajak. Sehingga konsumsi
permanen agregat tidak akan berpengaruh terhadap redistribusi pendapatan
Hipotesa Siklus kehidupan :

Kosumsi tidak tergantung dengan pendapatan saat ini, namun juga dari
pendapatan yang diharapkan untuk masa yang akan datang telah diatur
konsumsi selama hidup.

B. Perilaku Pengeluaran Konsumen di Negara Islam


Dalam hipotesa dan pengujian sampel dari beberapa Negara Islam ditemukan
bahwa dalam jangka panjang hasrat konsumsi marginal meningkat.
Penemuan ini tampak bertenangan dengan hipotesa yang menyebutkan
bahwa hasrat konsumsi stabil dan konstan dalam jangka panjang.
Hipotesa mengejar konsumsi ( HMK);
Sebelumnya merupakan barang mewah,
kebutuhan dan tingkat pendapatan baru.

sekarang

berubah

menjadi

Hasrat konsumsi akan stabil dan proporsi konsumsi terhadap pendapatan


tercapai.
Dari bukti empiris terhadap 17 negara Islam menunjukan bahwa perilaku
konsumsi negara Islam tidak mendukung Hipotesa Pendapatan Absolut,
Hipotesa Pendapatan Relatif dan Hipotesa Siklus Kehidupan.
Kosumsi tertinggi terdapat pada Negara-nara Timur Tengah penghasil minyak
dan Afrika Utara.
Islam tidak mengajari pola hidup mewah dan boros atau pengeluaran yang
berlebihan. Bila ha ini diterapkan akan dapat mengurangi konsumsi total dan
dapat meningkatkan volume tabungan.

Fungsi Tabungan dan Investasi Dalam Pendekatan


Konvensional versus Ekonomi Islam
A. Pendekatan Konvensional

Suatu Pemikiran alternatif Dalam Equilibrium Pasar Barang, Investasi = Tabungan


Ada suatu pemikiran dalam suatu pasar barang yang terkait antara produksi dan permintaan.
Teori ini menyatakan bahwa tingkat investasi dalam suatu pasar barang adalah sama dengan
tingkat tabungan. . Teori ini dikemukanan oleh John M.Keynes pada tahun 1936 dalam
bukunya The General Theaory of Employment, Income and Money.
Tabungan perorangan dapat didefinisikan sbg tabung oleh konsumen, yg merupakan sia
penerimaan sesudah dikurangi konsumsinya. Hal itu dapat digambarkan dalam persamaan
berikut :
S = YD C dan
S=YTC
Tabungan Masyarakat dapat didefinisikan sbg pajak sesudah dikurangi belanja pemerintah, T
G.
Jika penerimaan pajak melebihi belanja pemerintah , pemerintah akan mendapat surplus
anggaran tabungan masyarakat positif
Sebaliknya jika penerimaan pajak lebih kecil dari belanja pemerintah , maka pemerintah akan
mengalami defisit anggaran tabungan masyarakat negatif
Hal tsb dapat digambarkan dengan persamaan berikut :
S=I+GT
Atau
I = S + (T-G)
Untuk memperjelas hal tsb, dapat di bayangkan dalam suatu perekeonomian sederhana
dengan hanya satu orang penduduk yang melakukan keputusan konsumsi, investasi dan
tabungan . Misalkan seorang yang terdampar dan tinggal seorang diri di suatu pulau, maka
keputusan menabung dan berinvestasi merupakan hal yang sama. Apa yang diinvestasikan
merupakan tabungannya pula
Dalam suatu perekonomian yang modern, keputusan investasi dilakukan oleh perusahaan,
sementara tabungan dilakukan oleh konsumen dan pemerintah
Sebagai ringkasan, maka ada 2 persamaan untuk menggambarkan kondisi equilibrium di
pasar barang , yaitu
Produksi = Permintaan
Investasi = Tabungan
B. Pendekatan Ekonomi Islam :

Fungsi Investasi dalam ekonomi Islam amat berbeda dengan fungsi investasi dalam ekonomi
konvensional. Perbedaan terjadi terutama karena pengusaha Islam tidak menggunakan tingkat
bunga dalam menghitung investasi
Implikasi dari Ajaran Islam thd Investasi
Investasi di negra penganut ekonomi Islam dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu
o Ada sangsi untuk pemegang aset yang tidak produktif
o Dilarang melakukan berbagai bentuk spekulasi dan judi
o Tingkat bunga untuk penjaman = 0
Menurut pandangan sejumlah tkoh agama, seorang muslim yang menginvestasikan
tabungannya tidak akan terkena zakat, tetapi ia harus membayar Zakat atas hasil yang
diperoleh dari investasi tsb. Islam juga melarang berbagai bentuk spekulasi , jual beli barang
tanpa melihat barang serta transaksi di depan.
Larangan spekulasi dalam ekonomi Islam berimplikasi thd perilaku ekonomi, yaitu
Tidak ada tabungan yg disalurkan ke usaha yg mencari kuntung dari capital gains.
Tabungan harus dibuat aktif dg melakukan investasi nyata
Permintaan uang untuk spekulasi tidak ada dalam ekonomi Islam. Maka tidak dijumpai
permintaan akan uang utk tujuan spekulasi
Dalam jangka pendek , tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi akan lebih
stabil , krn tidak ada aktivitas spekulasi di pasar modal
Fungsi Investasi dalam Ekonomi Islam , dapat digambarkan sbb :

I = (r, ZA , Z, u) dan
R = r ( SI )
SF
__ __
Karena ZA = ZA dan Z = Z , maka dapat ditulis juga :

I = (r, )
Permintaan investasi akan meningkat jika
Meningkatnya tingkat keuntungan yg diharapkan
Meningkatnya tingkat iuran thd aset yg tidak produktif

Tingkat keuntungan yang diharapkan bukan sbg variable kontrol , maka variable yg dipakai
oleh otoritas Islam adalah tingkat biaya atas aset yang tidak produktif. Variabel ini merupakan
alternatif tingkat bunga yang biasa berlaku dalam negara non Islam

Pada gambar memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan ,
semakin besar volume investasinya. Dalam ekonomi yang menerapkan hukum Islam,
permintaan investasi akan menurun sampai nol pada titik dimana tingkat keuntungan
menjeadi negatif , yaitu pada nilai

ZA
Z 1
Diatas titik tsb, investasi menjadi suatu fungsi dari keuntungan yang diharapkan meningkat
Dalam ekonomi Islam , tidak akan terjadi kasus dimana ongkos opportunitas menjadi nol.
Dengan kata lain semua bentuk aset yang tidak produktif (termasuk pinjaman tanpa bunga)
yang melebihi nisab dan kebutuhan hidup akan dikenakan zakat. Karena itu kemungkinan
untuk r (Z-1) = 0 tidak akan pernah terjadi
Bunga bukan merupakan hambatan untuk meningkatkan investasi.
Dari hal tsb , maka permintaan investasi Islam memenuhi kualifikasi sbb :
1. Sebagian besar investasi dalam ekonomi Islam adalah otonom. Penabung Islam
tidak semata-mata mencari motif keuntungan, tetapi juga mencari ridho Allah
2. Investor muslim mengharapkan keuntungan investasinya dalam batas-batas yang
wajar dan menjauhi berbagai bentuk pemerasan diharapkan tingkat keuntungan
investasi adalah lebih tinggi pada masyarakat penganut ekonomi Islam

3. Motivasi individu muslim tidak semata mencari keuntungan maksimal tetapi juga
mencari prinsip kejujuran

Kesimpulan
Kesimpulan
1. Penerapan prinsip Islam tampaknya akan mendistribusikan pendapatan secara
berkelanjutan yang menguntungkan orang liskin dan kelompok yg memerlukannya. Hal
ini disebabkan oleh adanya Zakat dan pengeluaran karena Allah
2. Pengaruh distribusi akan bergantung pada perilaku pengeluaran konsumen.
3. Tingkat bunga tidak masuk dalam perhitungan investasi ekonomi Islam. Volume investasi
ditentukan oleh tingkat keuntungan yg diharapkan
4. Biaya yang dikeluarkan atas aset yang tidak produktig menjadi variable kontrol dan dapat
digunakan untuk mendorong investasi
5. Permintaan investasi baru di negara ekonomi Islam akan turun ke tingkat nol, hanya pada
situasi dimana tingkat keuntungan yang diharapkan nilainya negatif
Dalam ekonomi konvensional , permintaan investasi akan turun menjadi nol, jika tingkat
keuntungan yang diharapkan menurun ke tingkat minimum, tetapi masih positif.
Daftar Pustaka :
1. Bahan Kuliah dari Bapak Nurul Huda
2. Buku Teori dan Model Ekonomi Islam, Prof. Dr. MM Metwally
3. Bahan Matrikulasi
Dalam kaitan ini, M.M. Metwally (1995) mendefinisikan Ekonomi Islam sebagai,
ilmu yang mempelajari perilaku muslim dalam suatu masyarakat Islam yang
mengikuti Al-Quran, As-Sunnah, Qiyas dan Ijma. M.M. Metwally (1995)
memberikan alasan bahwa dalam ajaran Islam, perilaku individu dan masyarakat
dikendalikan kearah bagaimana memenuhi kebutuhan dan menggunakan
sumber daya yang ada. Dalam Islam disebutkan bahwa sumber daya yang
tersedia adalah berkecukupan, dan oleh karena itu, dengan kecakapannya,
manusia dituntut untuk memakmurkan dunia yang sekaligus sebagai ibadah
kepada Tuhannya. Ekonomi dengan demikian, merupakan ilmu dan sistem, yang
bertugas untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan berkecukupan itu
dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam konteks kemaslahatan
bersama.

Halaman 1
1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1.
Data pribadi
Nama
Mokhtar M. Metwally
Kebangsaan
Australia
Status perkawinan
Menikah
Posisi saat ini
1. Visiting Fellow Guru
University of Wollongong
2. Presiden
(i) Asosiasi Pemimpin Akademik Arab untuk Kemajuan Bisnis dan
Pengetahuan ekonomi (AAALABEK) Incorporated di (www. Aaalabek.org.)
(ii) Asosiasi Timur Tengah Riset Ekonomi (Ameer) Incorporated di
Alamat bisnis:
School of Economics
University of Wollongong
Wollongong,
NSW 2522, AUSTRALIA
Telp: (612) 4221 4977; (612) 9543 9521; HP: (61) 40.236 5.691
Fax: (612) 4221 3725
E-mail: metwally@uow.edu.au
2. Bidang Spesialisasi
Perdagangan Internasional, Keuangan dan Pembangunan Ekonomi
Analisis Kuantitatif dan Metode (Matematika Bisnis, Bisnis
Statistik, Ekonometrika dan Riset Operasi)
Riset Pemasaran dan Pemasaran Internasional
3. Kualifikasi Akademik; Penghargaan dan Keanggotaan
Ph.D. Leeds University, (UK)
MA Leeds University, (UK)
B.Com. Ain Shams University, Mesir (Medali Emas) ,.
Anggota: Royal Economic Society, Inggris
Anggota: Amerika Ekonomi Masyarakat
Anggota: Australia Masyarakat Ekonomi
Anggota: Masyarakat Australia Riset Operasi
Terdaftar di Profesional Siapa Internasional Who, 2000
University of Wollongong Wakil Kanselir Teaching Award,
(Australia, 1996)
Amerika bibliografi Institute International Award untuk
Kontribusi luar biasa untuk Pengajaran Profesi 1994
4. Posisi Sebelumnya Dimiliki
Profesor Ekonomi, Universitas Wollongong di Dubai (20042005)
Halaman 2
2
Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Qatar,
(2000-2003)
Profesor Ekonomi, Universitas Qatar, (2000-2003)

A / Profesor: University of Wollongong 1991-2000


Profesor: University of Papua New Guinea, 1988-1990
Profesor: King Saud University, 1984-1988
Reader, Queensland University, 1976-1984
Dosen Senior, Queensland University, 1971-1976
Dosen Senior, Extended-Skala, Victoria University of Wellington,
NewZealand, 1970-1971
Dosen Senior, Universitas Waikato, Selandia Baru, 1968-1970
Dosen, Ain Shams University, 1965-1968
Pascasarjana Mahasiswa, Leeds University, 1960-1965
Tutor, Universitas Ain Shams, Mesir, 1959-1960
5. Aktivitas Profesional
Editor: The Middle East Bisnis dan Economic Review,
1989 Editor: International Journal of Applied Bisnis dan Ekonomi
Penelitian, 2002 Associate Editor: Humanomics, Kanada, 1986 Anggota: Dewan Riset Penasehat, The American
Bibliografi Institute, 1991-.
Anggota Dewan Editorial, Journal of Applied Ekonometrika
dan Pembangunan Internasional, Spanyol, 2004 Anggota Dewan Editorial, Bisnis Internasional dan
Ekonomi Jurnal Penelitian, USA, 2004 Anggota Dewan Editorial, India Journal of Social
Pengembangan, India, 2004 Anggota Dewan Editorial
.
International Journal of
Riset dan Teknologi manajemen, 2007 Editor: Jurnal Ilmu Administrasi, Arab Saudi, 1984-1988
Editor: Analisis dan Kebijakan Ekonomi, Australia, 1974-1983
Koordinator Akademik, Pusat Nasional untuk Penelitian Ekonomi,
(NCER), University of Qatar, 2000- 2003
6. Pengalaman yang relevan lainnya
Koordinator Akademik: Konferensi Internasional tentang Tindakan Praktis untuk
Membangun Pasar Bersama Antara Negara Muslim, Qatar: 13-15 Mei
2002
Koordinator Akademik dan Ketua: Konferensi Internasional
Struktur, Kinerja dan Masa Depan Lembaga Keuangan di Negara Anggota
dari Gulf Cooperation Council (GCC), Qatar: 7-9 April 2001
Koordinator Akademik: Penelitian Timur Australia-Tengah Hubungan Bisnis
Proyek 1999.
Koordinator: Penelitian University of Wollongong Bisnis Internasional
Group, 1993-1998
halaman 3
3
Koordinator Akademik dan Ketua: Keempat International Conference on
Ekonomi Dan Pengembangan Bisnis di Timur Tengah dan Mediterania
Negara, Sydney: 7-9 November 1995.

Koordinator Akademik dan Ketua: Konferensi Internasional tentang Islam


Perbankan, Dan Keuangan, Sydney: 11-13 November, 1994
Koordinator Akademik dan Ketua: Ketiga Konferensi Internasional tentang
Ekonomi dan Bisnis Pengembangan di Timur Tengah dan Mediterania
Negara, Istanbul: 5-7, Juli 1993.
Koordinator Akademik dan Ketua: Konferensi Internasional Kedua
Ekonomi dan Bisnis Pengembangan di Timur Tengah dan Mediterania
Negara, Malta: 25-28 Mei 1992.
Koordinator Akademik dan Ketua: Konferensi Internasional Pertama tentang
Ekonomi Dan Pengembangan Bisnis di Timur Tengah dan Mediterania
Negara, Kairo: 13-15 Januari 1990.
Sekretaris Organizing: Kesembilan Konferensi Ekonom Australia,
Australia, tahun 1980.
Sekretaris Organizing: The Fifth Konferensi Ekonom Australia,
Australia, 1975.
7. Pengalaman Administrasi
Dean: College of Bisnis dan Ekonomi, Universitas Qatar, 2000-2003
Plt Kepala, Departemen Ekonomi, Universitas Wollongong (beberapa
kesempatan) 1995-2000.
Presiden, Asosiasi untuk Riset Ekonomi Timur Tengah
(Ameer) Inc., Sydney, Australia, 1990-.
Direktur, Pusat Internasional untuk Timur Tengah Bisnis dan Ekonomi
Penelitian, 1989-1993
Presiden: Ekonomi Masyarakat Papua New Guinea, 1989-1990.
Presiden: Ekonomi Masyarakat Australia (QLD Branch), 1978-1983
Sekretaris: The Economic Society of Australia (Qld Branch), 1976-1977
Wakil Presiden: The Australian Society of Operations Research (QLD Branch),
1981- 1983.
Anggota Komite Eksekutif Fakultas: Fakultas Perdagangan,
University of Queensland, 1973-1983
Sub-Dekan: Fakultas Perdagangan, University of Queensland, 1975-1977
.
8. Kunjungan Professorship
Kunjungan Fellow Guru, University of Wollongong, Australia,
2001-.
Visiting Research Advisor, KISR, Kuwait, 1997, 1998
Profesor Tamu., Kuwait University, 1994
Mengunjungi profesor, Assumption University of Thailand, 1994;
Visiting Professor, Universitas Islam Internasional Malaysia, 1988
Visiting Professor, Raja Abdul-Aziz University, 1979
Visiting Professor, University of Malta, 1976-7
External Examiner: Universitas Wales, Suderland dan Anantapur.
halaman 4
4
9. MENGAJAR
Dinilai dengan standar apapun, catatan mengajar saya tidak dapat dianggap kurang dari
luar biasa:
Pengalaman mengajar Saya telah diperoleh di sebelas Barat dan Tengah -Eastern
universitas. Saya telah mengajarkan berbagai mata pelajaran di tingkat sarjana dan

tingkat pascasarjana. Saya telah mengajar kelas kecil (kurang dari 10 siswa) dan
kelas besar (lebih dari 500 siswa), dan saya telah diawasi sejumlah besar
Ph.D., Masters dan Honors siswa, banyak dari mereka sekarang menempati senior yang
posisi di Australia dan Timur Tengah. Saya telah dimulai, direncanakan,
memperkenalkan banyak program yang dikembangkan di berbagai perguruan tinggi.
Saya percaya bahwa pendekatan pengajaran saya, metodologi dan gaya semua diarahkan
menuju menyederhanakan materi pelajaran dari kursus yang relevan dan mencapai
pemahaman maksimal sambil mempertahankan kekakuan akademis. Hasil saya
evaluasi pengajaran di berbagai perguruan tinggi menyarankan pengajaran yang sangat baik
kinerja, baik untuk kelas kecil dan besar. .
Saya selalu mendorong staf junior untuk mendaftar untuk gelar yang lebih tinggi dan
menyatakan
kesiapan untuk membantu, baik melalui pengawasan langsung atau sendi atau dengan
menawarkan
ide penelitian, teknik, referensi dan sejenisnya. Selain itu, saya telah menulis
beberapa buku untuk membantu dengan kegiatan mengajar dan telah berpartisipasi secara
efektif
dalam review program yang ada, dan dalam memulai dan merencanakan program baru.
Kualitas mengajar saya ini terbukti dari fakta-fakta berikut:
1. Saya telah memenangkan penghargaan internasional dari Amerika Biografi Institute for
kontribusi luar biasa untuk profesi guru.
2. Saya telah dinominasikan sebagai salah satu yang terbaik 5 guru persen di Australia
Universitas.
3. Saya telah dianugerahi University of Wollongong VC mengajar penghargaan untuk
mengajar
keunggulan pada tahun 1996.
10. Pascasarjana Pengawasan:
Orang-orang berikut telah berhasil menyelesaikan Ph.D. mereka (dalam
tahun yang ditentukan) di bawah pengawasan saya:
A / Profesor Rick Tamaschke, Queensland University, 1979
A / Profesor G. Barat, Queensland University, 1981
Dr. G. Davy, Queensland University, 1983
Dr. M.Heriani, University of Wollongong, 1996
Dr. Abul Jalaluddin, University of Wollongong, 1999
Dr Waleed Al-Sultan, University of Wollongong, 2000
Dr. Mohammad Rammadhan, University of Wollongong, 2000
Dr. Abdulla M Al-hemoud, University of Wollongong, 2000
Orang-orang berikut telah berhasil menyelesaikan gelar Master mereka (di
ditentukan tahun) di bawah pengawasan tunggal saya:
Profesor L.Briguglio, University of Malta, 1977
halaman 5
5
Ibu H. Higgs, Queensland University, 1981
A / Profesor A. McDevitt, Queensland University, 1982
Mr. MA Yusufi, University of Wollongong, 1996
Ms. U. Anukul, University of Wollongong, 1996
Saat ini saya superviose Ph.D. berikut mahasiswa di UOW:
o Abdusalam Yahia, Ph.D. Ekonomi (Major atasan).
o Hamed Ali H Al-Rashidi, Ph.D. Ekonomi (Major Supervisor)

o Nandini Kaul, (UOWD), Ph.D. Ekonomi (Joint Pengawas


o Nabi Alduwaila, Ph.D. Akuntansi (atasan Joint)
o Alsadek Kiprah, Ph.D. Akuntansi (atasan Joint)
o Anwar Choudhry, Ph. D. Akuntansi (Joint Supervisor).
11. PENELITIAN
Selain kegiatan mengajar saya luas, pengawasan mahasiswa pascasarjana dan
pelayanan administrasi dan akademik, khususnya di tingkat internasional, saya telah
melakukan penelitian mendalam di bidang spesialisasi saya. Penelitian saya dibedakan oleh:
saya. KONTINUITAS:
Saya memiliki aliran berkelanjutan artikel dan buku sejak tahun 1965, yaitu output yang tak
henti-hentinya selama lebih dari
40 tahun.
ii. PRODUKTIFITAS:
Karena saya menyelesaikan gelar Ph.D saya, saya telah menerbitkan 12 buku, 8 monograf, 11
bab
dalam buku-buku, 146 artikel di jurnal internasional wasit dan disajikan 51 makalah dalam
konferensi internasional di seluruh dunia, di samping sejumlah besar kerja dan
makalah diskusi. Daftar publikasi ditampilkan di bawah ini
aku aku aku. PENELITIAN fleksibilitas:
Penelitian saya mencakup berbagai bidang di bidang ekonomi dan pemasaran. Penelitian ini
memberikan kontribusi baik untuk teori dan aplikasi.
iv. KEKUKUHAN:
Hampir semua hasil penelitian saya telah substansial dalam hal konten dan volume. juga saya
hasil penelitian yang diterbitkan dalam berbagai jurnal internasional wasit.
v. PENTINGNYA PENELITIAN
Pekerjaan saya banyak dibaca dan sering dikutip oleh para sarjana dan pengambil keputusan.
saya akan
lebih dari senang untuk menyajikan berbagai komentar dalam mendukung pentingnya
penelitian saya.
vi. PENELITIAN PROMOSI:
Saya telah mempromosikan penelitian selama tiga dekade terakhir melalui penunjukan saya
sebagai
Direktur Riset dari pusat penelitian internasional dan Koordinator Penelitian di
sejumlah universitas dan lembaga di Australia dan Timur Tengah
halaman 6
6
vii. PENELITIAN KUALITAS:
131 makalah saya yang diterbitkan dalam jurnal wasit berikut:
1. Ulasan Ekonomi dan Statistik (Harvard)
2. Oxford Bulletin Ekonomi dan Statistik (Oxford)
3. Ilmu Manajemen (USA)
4. Kyklos (Jerman)
5. Jurnal Ekonomi Industri (UK)
6. Ekonomi Terapan, (UK)
7. Metroeconomica (Italia)
8. Economia Internazionale (Italia)
9. Ekonometrika Terapan dan Pembangunan Internasional (Italia)
10. Sosial Ekonomi Ilmu Perencanaan (USA)
Pembangunan 11. Ekonomi dan Budaya Perubahan (USA)

12. Pembangunan Dunia (UK)


13. Journal of Energy (USA)
14. International Journal of Energy Research (UK)
15. Finanzarchiv (Jerman)
16. Buletin Riset Ekonomi (UK)
17. International Journal Ekonomi Sosial (USA)
Manajemen Pemasaran Industri 18. (USA)
19. Journal of Advertising Research (USA)
20. Asia-Pacific Journal of Energy (India)
21. Jurnal Internasional Pemasaran dan Riset Pemasaran (UK)
22. International Journal of Bank Marketing (UK)
23. Jurnal Internasional Jual dan Manajemen Penjualan (UK)
24. Ekonomi Record (Australia)
25. Jurnal Keuangan dan Perbankan (Australia)
26. global Jurnal Keuangan dan Ekonomi
27. Global Review Riset Ekonomi Bisnis dan
28. Journal of Modeling Kebijakan (USA)
29. Eropa Ulasan Bisnis (UK)
30. International Journal of Riset Ekonomi
31. International Journal of Applied Bisnis dan Riset Ekonomi
(Australia)
Analisis 32. Ekonomi dan Kebijakan (Australia)
33. Australian Journal of Politics and History (Australia)
34. Journal of Public Administration (Australia)
35. Jurnal Dunia Economic Review (Yunani)
East Bisnis 36. Tengah dan Economic Review (Australia)
37. African Ulasan Uang, Keuangan dan Perbankan (Italia)
38. Humanomics (Kanada)
39. International Journal of Riset dan Teknologi Manajemen (India)
40. American Journal Ekonomi Islam (USA)
41. Sankhya (The Indian Journal of Statistics) (India)
42. India Economic Journal (India)
43. India Jurnal Ekonomi dan Bisnis (USA)
44. India Jurnal Pembangunan Sosial (India)
45. India Development Review (India)
46. Jurnal Sosial dan Kebijakan Ekonomi
halaman 7
7
47. Asian Profil (Singapore)
Survei Sosial 48. (Australia)
49. Asian Economic Review (India)
50. Bank of Valletta Ulasan (Malta)
51. Jurnal Studi Teluk (Kuwait)
52. L'Mesir Contemporaine (Mesir)
53. Jurnal Ilmu Administrasi (Saudi Arabia)
54. Jurnal King Abdulaziz University (Admin. Sciences), (Saudi
Arabia)
55. Jurnal Perbankan dan Keuangan Islam (Pakistan)
56. Jurnal Penelitian Ekonomi Islam (Arab Saudi)

12. HIBAH PENELITIAN


Kegiatan penelitian saya menarik ribuan dolar dalam bentuk hibah penelitian. Pengikut
hibah dapat disebutkan:
1. Saya menerima hibah penelitian dari NZ2000 pada tahun 1968 dari NZ Research Council
untuk melakukan
belajar pada kinerja Selandia Baru manufaktur industri.
2. Saya menerima hibah pada tahun 1982 dari bisnis Australia (The QLD Permanent Building
Masyarakat, Mingguan Wanita dan Hungry Jacks) sebesar $ 6000 untuk melakukan
penelitian tentang
efektivitas Advertising bisnis ini.
3. Saya menerima hibah dari $ 125.000 dari Gar Younis Universitas pada tahun 1981 untuk
mengatur dan kursi
konferensi internasional tentang bisnis dan ekonomi implikasi dari ketiga
Universal Teori, di Universitas Queensland (Australia)
4. Saya menerima $ 45.000 ARC hibah pada tahun 1993 untuk melakukan studi ke AustraliaTimur Tengah
Hubungan ekonomi. Saya yakin ini adalah ARC terbesar Hibah pernah diperoleh di
Departemen Ekonomi di Universitas Wollongong untuk proyek penelitian satu tahun.
5. Saya menerima ARC hibah kecil $ 5.000 pada tahun 1995 untuk melakukan studi tentang
sikap
Konsumen GCC terhadap pelayanan Australia.
6. Saya menerima $ 13.000 hibah pada tahun 1995 dari Bank Islam di Jeddah dan Al-Baraka
Banking
Kelompok untuk menyelenggarakan Konferensi internasional untuk menilai sikap Barat
konsumen untuk Perbankan Syariah. Kabar konferensi memukul halaman depan The
Australian Financial Review.
7. Saya menerima $ 5.000 ARC hibah kecil pada tahun 1997 untuk melakukan studi tentang
dampak
Multikulturalisme pada pola konsumsi di Australia
8. Pusat Nasional Riset Ekonomi di Universitas Qatar, dari yang saya adalah
Koordinator selama periode 2001-2003, menerima hibah sekitar US $ 765.000
9. dari National Bank of Qatar untuk menghasilkan enam produk penelitian utama; empat
dari yang saya
10. telah menyelesaikan secara pribadi dengan sejumlah asisten peneliti.
halaman 8
8
PUBLIKASI
A. Buku:
1. Metwally, MM (2000), Teknik Terapan multivariat statistik dalam Bisnis dan
Ekonomi, DE Publishing, Wollongong, Australia
2. Metwally, MM (2000), Analisis Kuantitatif untuk Pengambilan Keputusan dalam Bisnis
dan
Ekonomi, DE Publishing, Wollongong, Australia
3. Metwally, MM (1995), Model Makroekonomi Matematika, Penerbit Akademik,
Calcutta, 240 halaman.
4. Metwally, MM (1994), Teknik Matematika Untuk Analisis Bisnis, Raja Saud
university Press
5. Metwally, MM (1994), Teori Ekonomi: A Matematika Pendahuluan, Raja Saud
University Press, Riyadh.

6. Metwally, MM (1993), Esai tentang Ekonomi Islam, Penerbit Akademik, Calcutta,


182 halaman.
7. Metwally, MM (1982), Model Makroekonomi Islam Doktrin, JK Penerbit,
London, 78 halaman.
8. Metwally, MM Tamaschke, HU, dan Barat, GR (1981), Riset Operasi: Teori
Dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi, JK Penerbit, London, 211 halaman.
9. Metwally, MM (1977), Struktur Dan Kinerja Ekonomi Maltese, AC
Acquilina, Malta, 169 halaman.
10. Metwally, MM (1976), Harga Dan Kompetisi Non-Harga: Dinamika Pemasaran,
Asia Publishing House, London, 144 halaman.
11. Metwally, MM (1974), Matematika Perumusan Microeconomics, Asia
Publishing House, London, 414 halaman.
12
Metwally, MM (1967), Model Arab Kerjasama Ekonomi, Kairo, Ain Shams
Tekan.
B. Monograf:
13. Metwally; MM (2003); Analisis Qatar Intra-Trade dengan Anggota lain dari Teluk
Dewan Kerjasama (GCC), Pusat Nasional untuk Riset Ekonomi, Universitas
Qatar
14. Metwally; MM (2002); Penentu National Employment di Negara Qatar,
Pusat Nasional untuk Penelitian Ekonomi, Universitas Qatar.
halaman 9
9
15. Metwally; MM (2001); Konsumen Evaluasi Layanan Perbankan di Negara Bagian
Qatar, Pusat Nasional untuk Penelitian Ekonomi Universitas Qatar.
16. Metwally; MM (2001); Peramalan Permintaan Untuk Listrik dan Air di Negara Bagian
Qatar: Sebuah Pendekatan Box-Jenkins, Pusat Nasional untuk Penelitian Ekonomi,
Universitas Qatar.
17. Metwally; MM (1997); Peramalan Permintaan Untuk Listrik di Kuwait: A Box-Jenkins
Pendekatan, Kuwait Institute For Scientific Research, Kuwait.
18. Metwally, MM (1994), Australia-Timur Tengah Trade: Sebuah Ekonomi dan Pemasaran
Penelitian Studi, University of Wollongong, Australia.
19. Metwally, MM (1986), Menuju Menghapus Tingkat Bunga di Islam
Ekonomi, Raja Saud UniversityPress, Riyadh, 59 halaman. Penelitian ini memenangkan
Dallah
Hadiah untuk penelitian di bidang Ekonomi Islam ($ 10.000) pada tahun 1987.
20.
Metwally, MM, dan Abdel-Rahman, AMM (1985), An ekonometrik Studi
Pengaruh Pertumbuhan Ekspor Minyak di Ekonomi Arab Saudi Selama Periode
1970-1982, Raja Saud University Press, Riyadh, 63 halaman.
C. Bab dalam Buku:
21. Metwally, MM (2006), 'Dampak Pertumbuhan dan Kinerja pada Kapitalisasi Pasar:
Bukti perusahaan di Bursa Efek Doha "dalam Reformasi Sektor Keuangan di
Dunia, diedit oleh VB Jugale, Delhi, Serials
Publikasi. PP. 171-182
22. Metwally, MM (2004), "
Pekerjaan
dari
ekspatriat

vis--vis
Nationals di Sektor Swasta di Negara GCC: Studi Kasus ", di
Golbalisation, Pertumbuhan dan Kemiskinan, diedit oleh VB Jugale, Delhi, Serials
Publikasi, pp. 156-177
23.
Metwally, MM (1998), "Perdagangan Australia dengan negara-negara Timur Tengah" di
S.Paul
(ed), Perdagangan dan Pertumbuhan, Sydney, Allen & Unwin.
24. Metwally; MM (1995), 'Sebuah Model ekonometrik untuk Malta' di Gotz Vebe (ed.)
Dunia
Model Ekonomi, Avebury, Brookfield, USA, pp. 249-250.
25. Metwally, MM (1993), 'Penggunaan Iklan di Pasar untuk Consumer Goods: The
Pengalaman Australia ', di D. Kumar Das, Ekonomi markes (ed.): Teori dan
Bukti, Deep dan Deep Publikasi, New Delhi, pp. 160-174.
26. Metwally, MM (1993), 'Internasional Interdependensi dan Pembangunan Ekonomi di
Negara Asia ', di Ghosh, RN, Moore, RF dan Siddique, A., Perdagangan,
Teknologi dan Pengembangan, Academic Press International, Singapura, 1993, hal.
23-40.
27. Metwally, MM (1992), 'A Perilaku Model dari Kantor Islam', di S. Tahir et al. (ed.),
Bacaan di Ekonomi mikro: Sebuah Perspektif Islam, Longman, Kuala Lampur,
pp. 139-147.
halaman 10
10
28. Metwally, MM (1990), 'Struktur Papua Nugini Perdagangan dengan Eropa, di GP
Casadio (ed.), The Co-operation Antara Eropa / Italia China-Korea dan Selatan
Timur
Negara Asia ', F. Angeli, Milan, pp. 199-207.
29. Metwally, MM (1984), 'Kebijakan Fiskal dalam Ekonomi Islam', di Ahmed Z., et.al. (ed.),
Kebijakan fiskal dan Alokasi Sumber Daya dalam Ekonomi Islam, Institute of Policy
Studi Islamabad, pp. 59-98.
30. Metwally, MM (1979), 'Pasar Keterbatasan dan Industrialisasi di Arab Countries'in J.
K. Bowers (ed.), Inflasi, Pengembangan dan Integrasi, Leeds University Press,
Leeds, pp. 149-169.
31. Metwally, MM (1977), 'Optimal Layanan Iklan di Australia', di KA Tucker (ed.),
Ekonomi Australia Sektor Jasa, London, Croom Helm, pp. 361384.
D. Artikel Diterbitkan di Internasional wasit jurnal:
32. Metwally, MM (akan datang) "Evaluasi Pengelolaan Potensi
Kapasitas Menentukan Market Share "International Journal of Management
Riset dan Teknologi "
33. Metwally, MM, JN Perrera (yang akan datang) "Jangka Panjang Hubungan
antara Intra-Perdagangan dan Total Perdagangan Negara-Negara Anggota ASEAN ",
International Journal of Riset Ekonomi
34. Hamed Ali Al-Rashidi dan Metwally MM (yang akan datang) "Struktur
Pasar Tenaga Kerja di Negara Kuwait "Journal of Sosial dan Kebijakan Ekonomi
35. Abdusalam Yahia, MM Metwally dan Ali Saleh "Trade Hubungan antara Libya dan
nya Mitra Dagang Utama "(yang akan datang), jurnal dari World Economic Ulasan
36. Abdusalam Yahia dan MM Metwally "Dampak Fluktuasi Minyak
Harga Investasi dalam Ekonomi Libya ", (yang akan datang), Global Review of

Bisnis dan Riset Ekonomi


37 Nabi Alduwaila dan Mokhtar M Metwally "Dampak Profil Demografi di
Penggunaan Jasa Auditor Asing: Studi Kasus "(yang akan datang) Jurnal
Internasional Pemasaran dan Pemasaran Researc
38 .. Nandini Kaul, MM Metwally dan Nelson Pererea (2007) "Pengaruh Feed-belakang
Intra-perdagangan antara negara-negara GCC ", International Journal of Applied
Bisnis dan Riset Ekonomi, Vol.5, No.1, (2007) pp.71-85
39. Abdusalam Yahia dan MM Metwally (2007) "Dampak Fluktuasi Minyak
Harga pada Pertumbuhan Ekonomi Libya ", The Middle East Bisnis dan Ekonomi
Ulasan, Vol.9, No.1, Juni, pp.39-55
40. Metwally, MM, J. Roudaki dan W. Sultan (2006) "Analisis Keuangan
Kinerja Bank Nasional di Negara GCC "Global Journal of Finance
dan Ekonomi, Vol.3, No.2, pp.193-201
halaman 11
11
41. Metwally, MM, Ann Hodgkinson dan A. Jordaan (2006) "Perdagangan Hubungan antara
Australia dan Afrika Selatan ", International Journal of Applied Bisnis dan
Penelitian ekonomi, Vol.4, No.2, pp.79-93
42. Metwally, MM (2006) "Jangka Panjang Penjualan Efek Advertising di Australia: A Case
Penelitian, Global Review of Business dan Penelitian Ekonomi, Vol. 3, No.1, pp.209219
43. Metwally, MM (2006), "Interaksi Perdagangan antara China dan GCC
Negara "International Journal of Economic Research, Vol.3 No.2, pp.209-219
44. Metwally, MM, dan N. Perrera (2006) "Preferensi studens 'untuk Strategi Pengajaran
yang
Memperkuat Belajar Ekonomi di Timur Universitas Tengah "The Tengah
Bisnis timur dan EconomicsReview, vol.18, No.1, Juni, pp. 59-74
45. Metwally, MM (2006), "Konsekuensi Ekonomi Menerapkan Islam
Prinsip dalam Masyarakat Muslim ", Journal of Islamic Banking dan
Finance.Vol. 23, No.2, April-Juni, pp. 11-32
46. Metwally, MM (2005) "Sikap Perusahaan Swasta di Negara GCC terhadap
Mempekerjakan Nationals India: Studi Kasus ", Pembangunan India
Review, Vol. 3, No.1, pp.29-37
47. Metwally, MM, J. Roudaki dan W. Al-Sultan (2005) "Keuangan
Analisis Kinerja Bank Islam di Negara GCC ", Journal of
Perbankan Syariah dan Keuangan, Vol. 23, No.2, pp.51-65
48. Metwally, MM dan Saif. S Alsowaidi (2005), "Menuju Unifying Moneter
Kebijakan di Negara GCC "Global Jurnal Keuangan dan
Ekonomi, Vol.2, No.2, pp.149-162
49. Metwally, MM (2005),
"
Negara-of-Origin Pengaruh Persepsi Kualitas
Produk Terjual di Negara GCC: Studi Kasus
"
Journal of International
Pemasaran dan Riset Pemasaran, Vol.30, No.2, pp.55-66
50. Metwally, MM dan JN Parsad, (2004), "Faktor Membatasi Penggunaan Kartu Kredit
di Negara Berkembang: Studi Kasus "International Journal of Business Applied
dan Riset Ekonomi, Vol.2, No.2, pp.171-188

51. Metwally, MM (2004), "Penentu Agregat Impor GCC


Negara: Co-Integrasi Analisis ", Ekonometrika Terapan dan
Pengembangan Internasional. Vol.4, No.3, pp.59-76
52. Metwally, MM (2004), 'Dampak Faktor demografi pada Pemilihan
Tourist Resorts oleh GCC Warga: Sebuah Studi Kasus
"
jurnal
Pemasaran Internasional dan Riset Pemasaran, Vol.29, No.3,
pp.131-138
53. Metwally, MM (2004), 'Dampak Uni Eropa-FDI pada Pertumbuhan Ekonomi di Timur
Tengah
Negara, Eropa Business Review, Vol. 16, No.4, pp. 381-389
halaman 12
12
54. Metwally, MM (2004), 'Dampak fluktuasi Pendapatan Minyak pada
Investasi di negara-negara GCC ". Economia Internazionale, Vol.
LVII, No.2, pp. 173-189
55. Metwally, MM dan S. Al-Sowaidi. (2004), 'Penentu Inflasi di
Mesir 'The Middle East Bisnis dan Ekonomi Review.Vol.16, No.1,
Juni, pp. 31-40
56. Metwally, MM (2003), 'Efek Masukan dari Qatar Perdagangan dengan lainnya
Anggota Dewan Kerjasama Teluk "Pembangunan .Indian
Ulasan. Vol.1, No.2, Desember pp.151-161
57. Metwally, MM (2003), 'Sikap Konsumen di Negara Berkembang Menuju
Penggunaan Kartu Kredit: Kasus Negara Qatar "Journal of International
Pemasaran dan Riset Pemasaran. Vol. 28, No.2, pp.83-96
58. Metwally, MM (2003), 'Sikap Sektor Swasta Negara-Negara GCC Menuju
Mempekerjakan Nationals: Studi Kasus ", India Economic Journal, Vol.50, No.2,
Oktober-Desember, 64-75
59. Metwally, MM (2003), 'Pembentukan Pasar Islam umum melalui
Integrasi Ekonomi Regional "The Middle East Bisnis dan Economic Review.
Vol.15, No.1, Juli, pp.11-25
60. Metwally, MM (2003), 'Dampak Harga Elastisitas Ekspor pada Syarat
Perdagangan: Kasus Negara GCC ". Asia Pacific Journal of Energy
, Vol. 13, No.1, Juni, pp.17-24
61. Metwally, MM (2003), 'Dampak Postulat Islam tentang Konsumen
Equilibrium, Jurnal Perbankan dan Finance.Vol Islam. 20, No.2,
April-Juni, pp. 17-23
62. Metwally, MM (2003) "Sikap Menganggur GCC Citizens terhadap Ketenagakerjaan
di Sektor Swasta: Studi Kasus ", India Jurnal Pembangunan Sosial.
Vol.3, No.1, Juni, pp.1-13
63. Metwally, MM (2002), "Potensi Manfaat bagi Negara Qatar dari
Keanggotaan dalam GCC Bea Cukai Union ", Ekonometrika Terapan dan
Pengembangan Internasional. Vol.2, No.2, pp.7-26
64. Metwally, MM (2002), 'Dampak Faktor demografi pada konsumen Pemilihan
Khususnya Bank dalam Dual Banking System: Kasus Studi "Journal of
Pemasaran Internasional dan Riset Pemasaran, Vol. 27, No.1, pp.35-44.
65. Metwally, MM (2002), 'Faktor Menentukan particpation Perempuan Qatar di
Angkatan Kerja: Sebuah Analisis Diskriminan "Asian Economic Review, Vol. 44, No.2,

Agustus, pp.193-206.
66 Metwally, MM et al, (2002), 'Determininants Agregat GCC Pengeluaran
Pariwisata: A Simultaneous Persamaan Model "The Business Timur Tengah dan
Economic Review, Vol. 14, No.1, pp.1-6.
halaman 13
13
67. Metwally, MM (2002), 'Efek Umpan Balik di Perdagangan Hubungan antara India dan
Negara GCC "Indian Journal Ekonomi dan Bisnis, Vol.1, No2.,
Desember, pp.184-196.
68. Metwally, MM (2001) 'Kebijakan Kredit dari Negara Anggota Kerjasama Teluk
Dewan ', The Business Timur Tengah dan Economic Review, Vol. 13, No.2, pp.1729.
69. Al-Khulaifi, A. S; K.Al-Sulaiti dan MM Metwally (2001) 'Sikap Menuju
Layanan perbankan di Negara Qatar ', The Journal of Marketing International
dan Marketing Research, Vol.26, No.2, pp.77-90.
70. Metwally, MM, dan R. Tamaschke (2001), 'Trade Hubungan Antara Teluk
Dewan Kerjasama dan Uni Eropa ', The European Business Review,
Vol.13, No.5, pp.292-296. Sangat dipuji Award oleh Liuterati Club.
71. Metwally; MM dan M. Rammadhan (2000) 'Dampak Fuctuations di Harga Minyak di
Sumber daya Neraca Negara 'GCC Timur Tengah Bisnis dan
Ulasan ekonomi, Vol.12, No.2, pp. 1-9.
72. Metwally, MM (2000), 'Panjang-istilah Hubungan Antara Pendapatan Minyak dan
Pengeluaran pemerintah di negara-negara 'GCC International Journal of Energy
Penelitian, Vol.24, pp. 605-613
73. Metwally, MM, dan A. Alhemoud, (2000), 'Strategi Pemasaran Tourist Australia
Resorts Bertujuan Menarik GCC Turis ", Journal of Marketing International
dan Marketing Research, Vol.25, No.3, pp.125-136.
74. Alhemoud, A. dan MM Metwally, (2000), 'GCC Konsumen' Evaluasi Australia
Tourist Resorts: Analisis Diskriminan ', The Business Timur Tengah dan Ekonomi
Review, Vol. 12, No.1, pp.32-42.
75. Metwally; MM (1999) 'Dampak Modal Asing Inflow pada Pertumbuhan Ekonomi di
Mesir Timur Tengah Bisnis dan Ekonomi Review, vol.11, No.2, pp. 22-27
76.
Alhemoud, A. dan MM Metwally (1999), 'GCC Konsumen' Evaluasi Tourist
Resorts: Analisis Faktor 'Journal of International Marketing dan Pemasaran
Penelitian, Vol. 24, No.3, pp.161-166
77. Abul Jalaluddin dan MM Metwally (1999), 'Laba / Rugi Sharing: Sebuah Alternatif
Metode Bisnis Pembiayaan Kecil di The East Business Tengah Australia '
dan Economic Review, Vol. 11, No.1, pp. 8-14.
78. Metwally, MM (1998), 'Sikap Konsumen Terhadap Bank Islam di Dual
Sistem perbankan 'Journal of International Selling dan Manajemen Penjualan, Vol.4,
No.1, pp.21-28.
79. Metwally, MM dan W. Al-Sultan (1998), 'Sebuah Analisis Permintaan Teluk untuk
Domba Australia 'The Middle East Bisnis dan Economic Review, Vol.10, No.
1 & 2. pp. 23-31.
halaman 14
14
80. Aly HY dan MM Metwally, (1998), 'Sebuah Aplikasi Lemah pakai Input

Fungsi Produksi untuk Faktor Produktivitas: Studi Kasus 'The Indian Ekonomi
Jurnal, Vol.45, No.2, pp.112-121
81. Metwally, MM (1997), 'Konsekuensi Ekonomi menerapkan prinsip-prinsip Islam di
Negara Muslim kontemporer 'The International Journal of Social
Ekonomi, Vol.24, No.7-9, pp.941-957. Anbar Citation of Excellence
82. Metwally, MM (1997), 'Penentu Pertumbuhan Belanja Iklan di
Konsumen Barang dan Jasa ', Journal of Marketing International dan
Marketing Research, vol.22, No.3, pp. 147-156.
83. Metwally, MM (1997), 'Perbedaan Antara karakteristik Keuangan Menariknya
Gratis Bank dan Bank Konvensional; Eropa Business Review, .Vol.97, No.2,
pp. 92- 99.
84. Metwally; MM (1997), 'Penyebab dan Konsekuensi Diferensial Upah di GCC
Negara: Studi Kasus 'The Middle East Bisnis dan Economic Review,
Vol.9, No.2, PP.22-32
85. Metwally; MM (1996), 'Sikap Muslim Terhadap Perbankan Islam di Dual
Sistem perbankan 'American Journal of Islamic Finance, Vol.6, pp. 12-17
86. Metwally, MM (1996), 'Faktor Menentukan Pemasaran Jasa Australia untuk
Kuwait; Jurnal International Selling dan Manajemen Penjualan. Vol. 2, No.2,
pp.85-92.
87. Metwally, MM (1996), 'Tujuan Eksportir Australia di Pengaturan Harga Untuk
Pasar internasional ', Journal of International Marketing dan Pemasaran
Penelitian, Vol.21, No.2, Juli, pp. 105-110
88. Metwally, MM dan M. Ghars El-Din (1996), 'Estimasi Multipliers Ekonomi
Perencanaan Sosial Ekonomi di Negara-negara GCC ', The Business Timur Tengah dan
Ulasan ekonomi. Vol. 8, No.1, pp.49-56.
89. Metwally, MM (1996), 'Tujuan Promosi Penjualan dari Australia
Eksportir ', Journal of International Selling dan Manajemen Penjualan
Vol. 12, No.2, pp.55-60.
90. Metwally, MM (1995), 'Kuwait Versus Sikap Arab Saudi Menuju Asing
Layanan ', (yang akan datang), Jurnal Internasional Pemasaran dan Pemasaran
Penelitian., Vol.20, No.3, pp.139-146.
91. Metwally, MM, dan R. Tamaschke (1995), 'Faktor Bertanggung jawab untuk Perdagangan
Persistent
Defisit di Berbagai Negara Berkembang ', The Indian Ekonomi Journal, Vol.42,
No.3, Jan-Maret, pp.76-91
92. Metwally, MM (1995), 'Jual Produk Makanan ke Timur Tengah: The Australian
Mengalami Journal of International Selling dan Manajemen Penjualan. Vol.2, No.1,
pp.65-72.
halaman 15
15
93. Metwally, M M. (1995), 'The Interaksi Antara Pertumbuhan Ekonomi di Uni Eropa dan
Asia Tenggara ', Eropa Business Review., Vol.95, No.2, pp.40-47.
94. Metwally, MM (1995), 'Pemasaran Jasa Internasional di Kuwait: A Beberapa
Analisis diskriminan ', Journal of International Marketing dan Pemasaran
Penelitian. Vol. 20, No.1, Februari, pp.31-40.
95. Metwally, MM (1995), 'Peran Faktor Sosial-Ekonomi di Menentukan Kuwait
Permintaan untuk Layanan Asing ', The Middle East Bisnis dan Economic Review,
Vol. 7, No 1, Januari, pp. 76-84.
96. Metwally, MM dan N. Perera (1995), 'Pengaruh Penurunan di Harga Minyak di

Efisiensi relatif Pengeluaran Pemerintah di Negara-negara GCC,


International Journal of Energy Research. Vol.19, 639-643.
97. Metwally, MM (1994), 'Bunga-Free Banking: Sebuah Konsep Baru di Finance' Journal of
Perbankan dan Keuangan: Hukum dan Praktik, Vol.5, No.2, 110-127.
98. Metwally, MM, dan R. Tamaschke (1994), 'The Utang Luar Negeri Masalah Utara
Ulasan Afrika Negara Afrika 'Uang, Keuangan dan Perbankan, Vol. 1, No.
2, pp. 109-121.
99. Metwally, MM dan R. Tamaschke (1994), 'The Interaksi Antara Utang Luar Negeri,
Arus modal dan Pertumbuhan: Studi Kasus ', Journal of Policy Modeling, Vol. 16,
No 6, Desember pp. 597-608.
100. Metwally, MM (1994), 'Pemasaran Consumer Goods di Negara Timur Tengah: A
Diskriminan Analisis Hasil Survei ', Journal of Marketing International dan
Marketing Research, Vol. 19, No. 1, Februari, pp. 37-46.
101. Metwally, MM (1994), 'The Debt-Pelayanan Masalah Beberapa Negara Asia', The
India Ekonomi Journal, Vol. 41, No 3, pp. 98-110
102. Metwally, MM (1993), 'Efektivitas Belanja Iklan dari Australia
Bank, International Journal of Bank Marketing, Vol. 11, No 7, pp. 20-28.
103. Metwally, MM (1993), 'Sebuah Analisis Ekspor Australia untuk Timur Tengah
Negara, Bisnis Timur Tengah dan Economic Review, Vol. 5, No 2, hlm.
19-37
104. Metwally, MM (1993), 'The Pengaruh Penurunan Pendapatan Minyak Impor yang
Pola dari Anggota Gulf Co-operation Council ', The International
Jurnal Penelitian Energi., Vol. 17, No. 5, Juli 1993, pp.413-422
105. Metwally, MM (1993), 'Sikap Timur Konsumen Tengah Menuju Impor
Produk: Hasil Survey ', Journal of International Marketing dan Pemasaran
Penelitian, Vol. 18, No. 2, pp. 81-94.
106. Metwally, MM (1993), 'The Pengaruh Krisis Harga Minyak di Eksternal
Surplus Negara-negara GCC ', The International Journal of Energy Research,
Vol. 17, No 3, pp. 173-182
halaman 16
16
107. Metwally, .MM (1993), 'Pembangunan Ekonomi di Negara Asia', The Indian
Jurnal Ekonomi, Vol. 42, Jan-Maret, pp. 56-76
108. Metwally, MM (1992), 'The Humanomics dari Konsumen Muslim', Humanomics,
Vol.7, No 3, pp. 63-72.
109. Metwally, MM (1992), 'Penegakan Zakat di Kontemporer Negara Muslim: A
Model praktis ', Journal of Islamic Banking dan Keuangan, Vol. 10, No. 3, Julipp September 28-41.
110. Metwally, MM (1992), 'Sebuah Investigasi Iklan Rivalitas di Australia
Industri perbankan ', Metroeconomica, Vol. 43, No 3, pp. 59-76.
111. Metwally, MM (1992), 'Equilibrium di Komoditi dan Pasar Uang dalam
Ekonomi Islam dengan Zero Tingkat Bunga ', Journal of Islamic Banking dan
Keuangan, Vol. 9, No. 4, Oktober-Desember pp. 12-25.
112. Metwally, MM dan Vadlamudi, YR (1992), 'Trade Hubungan Antara Australia
dan Timur Tengah Negara ', The Middle East Bisnis dan Economic Review,
Vol. 4, No. 2, pp. 13-22.
113. Metwally, MM (1992), 'Bank Islam: Isu dan Potensi', Bank of Valletta
Ulasan, No 6, Autumn, pp. 15-26.
114. Metwally, MM dan O'Brien, D. (1992), 'Perdagangan Internasional Hubungan Antara

Australia dan tetangga Negara Pasifik ', Asian Economic Review, Vol. 34,
No 1, April, pp. 105-130.
115. Metwally, MM (1992), 'Pembiayaan Perumahan, Konsumen tahan lama dan Pribadi
Pengeluaran dalam ekonomi Islam ', Journal of Perbankan dan Keuangan Islam,
Vol. 9, No. 1, Maret, pp. 23-32.
116. Metwally, MM (1991), 'The Sektor Moneter di ASEAN', Ekonomi Asia
Review, Vol. 33, No. 2, pp. 205-222.
117. Metwally, MM dan Dsowki, S. (1991), 'Faktor yang Mempengaruhi Kontribusi ke Sosial
Keamanan di Arab Saudi ', Journal Ilmu Administrasi, Vol. 16, hlm. 79-97.
118. Metwally, MM dan Dwyer, M. (1991), 'Struktur dan Kinerja Australia
Industri perbankan ', Bank of Valletta Review, Vol. 4, No. 2, pp. 35-44.
119. Metwally, MM (1991), 'Peran Iklan di oligopolistik Pasar: Teori dan
Bukti ', India Jurnal Ekonomi, pp. 89-106.
120. Metwally, MM (1991), 'Pengaruh Boom Minyak di Pengeluaran Konsumen Swasta
di Timur Tengah dan negara-negara Afrika Utara. Konsumsi Catch-Up
Hipotesis ', The Business Timur Tengah dan Economic Review, Vol. 3, No 1, pp.
23-35.
121. Metwally, MM dan Abdel-Rahman, AMM (1990), 'The Permintaan Untuk Uang di
Ekonomi Arab Saudi, India Ekonomi Journal, Vol. 38, No. 2, pp. 8992.
halaman 17
17
122. Metwally, MM dan Abdel-Rahman, AMM (1990), 'The Struktur dan Kinerja
dari Saudi Bisnis Usaha ', Journal Ilmu Administrasi, Vol.15 (1)
pp. 3-14.
123. Metwally, MM (1990), 'The Perilaku Agregat Pengeluaran Konsumen Swasta
di Negara Islam ', Humanomics, Vol. 6, No 1, hlm. 62-81.
124. Metwally, MM (1989), 'Peran Tingkat Bunga di Islam Kontemporer
Negara, Bisnis Timur Tengah dan Economic Review, Vol. 1, No 1, pp. 3247.
125. Metwally, MM (1989), 'Sebuah Studi ekonometrik Syari'at Islam (Hukum) Aturan dan
Fungsi Konsumsi di Kontemporer Negara Muslim ', Journal of Raja
Abdulaziz University (Admin. Sciences), Vol. 1, No. 1, pp.3-42.
126. Metwally, MM, dan Abdel-Rahman, AM (1988), 'Hubungan Antara Buruh
Produktivitas dan Rate of Return on Investment ', Journal of Administrative
Ilmu, Vol. 13, No. 2, pp. 107-123.
127. Metwally, MM (1988), 'Dampak Pertumbuhan Ekonomi Industri pada Eksternal
Neraca Ekonomi Papua Nugini, Asia Economic Review, Vol.30,
No 3, pp. 328-338.
128. Metwally, MM (1988), 'Trade Hubungan Antara Arab Saudi dan Jepang', Journal
Ilmu Administrasi, Vol.13, No. 1, pp. 3-16.
129. Metwally, MM (1987), 'Penentu dari Surplus Eksternal Negara Anggota dari
Teluk Co-operation Council ', Ekonomi Terapan, Vol. 19, No 3 hal. 305-316
130. Metwally, MM dan Daghistani, AI (1987), 'The Interaksi Antara Ekonomi
Negara-Negara Anggota dari Gulf Co-operation Council dan industri
Negara, India Ekonomi Journal, Vol. 35, No 3, pp. 51-59.
131. Metwally, MM, Martin, SS dan Al-Habib, FI (1987), 'Pengaruh Boom Minyak
pada Impor Saudi: Sebuah Studi ekonometrik ', Journal Ilmu Administrasi,
Vol. 12, No. 1, pp. 107-153.

132. Metwally, MM dan Arab, AT (1987), 'Harga Elastisitas Permintaan Minyak dan
Ketentuan Perdagangan Negara-negara Teluk ', The Energy Journal, Vol. 8, No.1, pp. 53-67.
133. Al-Habib, FI dan Metwally, MM (1986), 'An Analytical Studi Neraca Perdagangan
Negara-Negara GCC ', Profil Asia, Vol. 14, No. 1, pp. 61-72.
134. Metwally, MM, Al-Habib, FI, dan Martan, SS (1986), 'Sebuah Studi ekonometrik dari
yang Penentu Saudi Impor dari Berbagai Negara ', Journal of
Ilmu Administrasi, Vol. 11, No. 2, pp. 241-267.
135. Metwally, MM (1986), 'Pengaruh Pajak Agama Zakat Investasi dalam
Ekonomi Islam, Humanomics, Vol. 2, No. 2, pp.43-55.
halaman 18
18
136. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1986), 'Sebuah catatan tentang Penentu Biaya yang
Struktur Produk Domestik Bruto ', Analisis Ekonomi dan Kebijakan, Vol. 16,
No.2, pp. 136-144.
137. Metwally, MM (1985), 'Peran Bursa Efek dalam ekonomi Islam',
Jurnal Penelitian Ekonomi Islam, Vol. 2, No 1, hlm. 21-30.
138. Metwally, MM dan Abdel-Rahman, AMM (1985), 'Pengaruh Ekspor Minyak di
Saudi Arabian Ekonomi ', Asian Economic Review, Vol. 27, No.3, pp. 1-25.
139. Metwally, MM dan Abdel-Rahman, AMM (1985), 'Pembangunan Ekonomi di
Negara GCC ', Journal of Gulf Studies, Vol. 43, No. 2, pp. 113-140.
140. Metwally, MM dan Abdel-Rahman, AMM (1985), 'Penentu Agregat
Pengeluaran Negara-negara GCC, Asia Economic Review, Vol. 27, No.2, pp.
14-33.
141. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1984), 'Pengaruh Inflasi pada Pola
Konsumsi ', The Indian Ekonomi Journal, Vol. 32, No. 1, pp. 81-93.
142. Metwally, MM (1984), 'General Equilibrium dan Ekonomi Kebijakan dalam Islam
Ekonomi ', Journal of Research in Ekonomi Islam, Vol. 1, No.1, pp. 1-33
143. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1983), 'Pengaruh Inflasi dan Teknologi
Factor Saham ', Ekonomi Terapan,
Vol. 11, No 6, hal. 777-792.
144. Tamaschke, HU dan Metwally, MM (1983), 'A Metodologi untuk Berurusan Dengan
Non
Kesalahan Pengukuran acak dalam Ekonometrika ', Sankhya: The Indian Journal of
Statistik, Vol. 41, Seri D, Bagian 1 & 2, pp. 48-74.
145. Gunton, R. dan Metwally, MM (1981), 'The Kinerja Relatif dan Mutlak dari
Sektor Jasa di Industri dan Negara Berkembang ', Analisis Ekonomi dan
Kebijakan, Vol. 11, No. 1 & 2, pp. 93-102.
146. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1981), 'Iklan dan Kecenderungan untuk
Mengkonsumsi ', Oxford Buletin Ekonomi dan Statistik, Vol. 43, No 3, pp. 273286.
147. Metwally, MM (1981), 'Sebuah Catatan tentang Reaksi Fungsi Harga-Iklan', Ekonomi
Analisis dan Kebijakan, Vol. 11, Nos. 1 & 2, pp. 120-124.
148. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1980), 'Ekspor Minyak dan Pertumbuhan Ekonomi
di
Timur Tengah dan Afrika Utara, Kyklos, Vol. 33, No 3, pp. 499-522.
149. Metwally, MM (1980), 'Penjualan Responses to Iklan Produk Australia',
Journal of Advertising Research, Vol. 20, No. 5, pp. 59-64.
150. Metwally, MM (1980), 'Kategori Produk yang Beriklan Paling', Journal of
Advertising Research, Vol. 20, No. 1, pp. 25-31.

151. Metwally, MM (1979), 'Optimal Iklan Dalam Kondisi Risiko keengganan',


Analisis Ekonomi dan Kebijakan, Vol. 9, No 1, hlm. 60-65.
halaman 19
19
152. Metwally, MM (1979), 'Pengganda Ekonomi Perekonomian Maltese', SosialPerencanaan Ekonomi Ilmu, Vol. 13, No. 1, pp. 1-5.
153. Metwally, MM (1978), 'Perusahaan' Kemampuan Potensi dan Upaya Terapan
Mempengaruhi mereka
Saham pasar ', Metroeconomica, Vol. 28, No 3, pp. 75-82.
154. Metwally, MM (1978), 'Tendencies Eskalasi Advertising', Oxford Buletin
Ekonomi dan Statistik, Vol. 40, No. 2, pp. 153-163.
155. Metwally, MM (1977), 'Sumber Pertumbuhan Output dalam Manufacturing Maltese
Industri ', Pembangunan Dunia, Vol. 5, No 6, hal. 748-752.
156. Metwally, MM (1977), 'Konsentrasi Pasar dan Periklanan: The Australian
Pengalaman ', Ilmu Manajemen, Vol. 23, No 6, hal. 557-566.
157. Metwally, MM dan Davy, GD (1976), 'Iklan-Harga Persaingan dan Pasar
Stabilitas ', Manajemen Pemasaran Industri, Vol. 6, No 3, pp. 237-240.
158. Metwally, MM (1976), 'Relevansi dari Harrod-Domar Model Pertumbuhan
Negara Berkembang ', L'Mesir Contemporaine, Vol. 67, No. 364, pp. 49-55.
159. Metwally, MM (1976), 'The Case Untuk dan Terhadap Iklan di Australia', Sosial
Survey, Vol. 4, No. 11, hlm. 325-328.
160. Metwally, MM (1976), 'Profitabilitas Iklan di Australia', Journal of Industrial
Ekonomi, Vol. 24, No 3, pp. 221-231.
161. Metwally, MM (1975), 'Praktek Harga dan Teori Ekonomi', Analisis Ekonomi
dan Kebijakan, Vol. 6, No 2, hlm. 59-64.
162. Metwally, MM (1975), 'Optimal Iklan dan Pedagang' Margin ', Industri
Manajemen Pemasaran, Vol. 4, No 4, pp. 227-233.
163. Metwally, MM (1975), 'Iklan dan Perilaku Kompetitif Dipilih Australia
Perusahaan ', The Ulasan Ekonomi dan Statistik, Vol. 57, No. 2, pp. 417-427.
164. Metwally, MM (1974), 'Menuju Fungsi Promosi Pemasaran', Industri
Manajemen Pemasaran, Vol. 3, No 3, pp. 177-184.
165. Metwally, MM (1974), 'The Ukuran Serikat dan Biaya Jasa Pemerintah di
Australia, Administrasi Publik, Vol. 3, No 3, pp. 36-42.
166. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1974), 'Akomodasi dan Transportasi
Kondisi Mahasiswa ', Analisis Ekonomi dan Kebijakan, Vol. 5, No 2,
pp. 69-87.
167. Metwally, MM dan Riha, T. (1974), 'Alokasi Optimal Pemilihan Kampanye Dana',
Australia Jurnal Politik dan Sejarah,
Vol. 20, No. 2, pp. 223-226.
168. Metwally, MM dan Timmaiah, G. (1974), 'Sebuah catatan tentang Fungsi Utilitas Klasik
untuk
Purpose Teori Pajak ', Finanzarchiv, Vol. 31, No 3, pp. 441-445.
halaman 20
20
169. Metwally, MM (1974), 'Sebuah Catatan tentang Sumber Pertumbuhan output di Mesir',
L'Mesir
Contemporaine, Vol. 65, No.3, pp. 81-87.
170. Metwally, MM (1973), 'Belanja Iklan Australia dan Hubungan untuk

Permintaan ', The Economic Record, Vol. 46, No. 128, pp. 290-299.
171. Metwally, MM (1973), 'Strategi Ekonomi Perusahaan Menghadapi Permintaan
Asymptotic',
Ekonomi Terapan, Vol. 5, No 4, pp. 271-280.
172. Metwally, MM (1973), 'Economies of Size di Butter Produksi: The Selandia Baru
Pengalaman ', Analisis Ekonomi dan Kebijakan,
Vol. 4, No 1, hlm. 33-44.
173. Metwally, MM (1973), 'The Entry Gap di Selandia Baru Pasar untuk Diproduksi
Barang ', The Economic Record, Vol. 46, No. 130, pp. 575-587.
174. Metwally, MM dan Jensen, RC, (1973), 'Sebuah Catatan tentang Pengukuran Regional
Pendapatan Dispersion ', Pembangunan Ekonomi dan Budaya Perubahan, Vol. 22, No.1,
pp. 135-136.
175. Metwally, MM (1970), 'Rumah Tangga Pola Pengeluaran di Hamilton Kota - New
Selandia ', The Record Ekonomi, Vol. 43, No. 113, pp. 73-85.
176. Metwally, MM (1967), 'Pengaruh Pasar Pembatasan pada Industrialisasi di kurangNegara industri dengan Referensi Khusus untuk
Mesir'
, The Yorkshire Bulletin
Penyelidikan Ekonomi dan, Vol. 19, No. 1, pp. 34-48.
177. Metwally, MM (1965), 'Perbandingan Antara Ukuran Perwakilan Tanaman di
Industri Manufaktur di negara-negara industri dan Kurang-Industri Maju ', The
Yorkshire Buletin Penelitian Ekonomi dan Sosial, Vol. 17, No. 2, pp. 139-155.
E. Artikel Disajikan dalam Konferensi Internasional
178. Metwally, MM (2007) (yang akan datang), "Sikap Konsumen Terhadap Penggunaan
Bank Islam: Analisis Diskriminan "Konferensi Riset Ekonomi Islam,
Jeddah, Arab Saudi, Desember
179. Metwally, MM (2005), 'Penentu Agregat Impor di Negara GCC "
2
nd
Konferensi Internasional tentang Ekonomi Bisnis, Manajemen dan
Pemasaran, Athena, Yunani, 24-27 Juni
180. Metwally, MM (2004), 'Dampak Pertumbuhan Ekonomi Perdagangan
Hubungan antara China dan GCC Negara "The 16
th
Tahunan
Konferensi Asosiasi Studi Ekonomi Cina,
Brisbane, Australia, 19-02 Juli
181. Metwally, MM (2004), 'Penentu Agregat Impor di GCC
Negara "The 2
nd
Konferensi Internasional tentang Ekonomi Bisnis, Manajemen
dan Pemasaran, Athena, Yunani, 24-27 Juni
halaman 21
21
182. Metwally, MM (2004) "Karakteristik Tourist Resorts dikunjungi oleh GCC Citizens",
Konferensi Prospek Investasi di Mengembangkan Industruin Tourist di
Negara GCC ", Ras Al Khaimah, UEA, 03-04 Januari.
183. Metwally, MM (2003) "Dampak Investasi Asing Langsung di Pertumbuhan Ekonomi di
-Timur Tengah Negara ", 4

th
Kongres Internasional Kemitraan dan
Perusahaan di Eropa, Sheffield, UK, 06-08 Maret.
184. Metwally, MM (2002) "Sikap Bisnis Swasta di Negara GCC Menuju
Mempekerjakan Nationals: Studi Kasus "The 2002 International Riset Terapan
Konferensi, Puerto Vallarta, Meksiko, 14-19 Maret.
185. Metwally, MM (2002) "Jangka Panjang Hubungan Antara Qatar Intra Perdagangan
dengan
Negara GCC dan Qatar Jumlah Trade "Konferensi Internasional tentang Perdagangan Dunia
Organisasi dan Negara Arab, Exeter, UK, September 23-25
186. Metwally, MM (2002) "Pembentukan Sebuah Pasar Umum Islam Melalui
Integrasi Ekonomi Regional ", Konferensi Internasional tentang Tindakan Praktis
untuk Membangun Pasar Bersama Antara Negara Muslim ", Doha, 13-15 Mei.
187. Metwally, MM (2002) "Keputusan Perempuan Nasional Qatar untuk Berpartisipasi
dalam
Angkatan Kerja: Sebuah Analisis diskriminan
*"
Ketujuh Asia Pacific Keputusan
Sciences Institute Conference. Bangkok, 24-27 Juli.
188. Metwally, MM (2001) "Kinerja GCC Bank Umum" International
Konferensi Masa Depan Lembaga Keuangan dalam Ekonomi Berubah ",
University of Western Sydney, Sydney, 12-13 Februari.
189. Metwally, MM, dan R. Tamaschke (2001) "Dampak Fluktuasi Harga Minyak di
Perdagangan Hubungan antara GCC dan Uni Eropa "Konferensi Internasional tentang
Perubahan global dan Integrasi Regional: The Menghargai Ekonomi
Batas di Timur Tengah dan Afrika Utara, London, 20-22 Juli.
190. Metwally, MM (2001) "Model Perdagangan dan Pertumbuhan: Pengujian Masukan
Pengaruh
Perdagangan Internasional "Konferensi Dampak Internationalizationon Ekonomi
Pertumbuhan, Gavle, Swedia, 7-9 November.
191. Metwally, MM et al (2001) "Sikap dari Qatar Konsumen Menuju lokal
Bank konvensional, Bank Islam lokal dan Bank Asing konvensional "
Konferensi Internasional tentang Struktur, Kinerja dan Masa Depan Keuangan
Lembaga Negara Anggota Dewan Kerjasama Teluk ", Doha, 7-9
April.
192. Metwally, MM (2001) 'Jangka Panjang Hubungan Antara Kredit dan PDB nonmigas di
Negara GCC ", Konferensi Internasional tentang Struktur, Kinerja dan
Masa Depan Lembaga Keuangan Negara Anggota Kerjasama Teluk
Dewan ", Doha, 7-9 April.
193. Metwally, MM (1999), 'Dampak Size Terhadap Kinerja Bank Umum:
Aplikasi untuk Bank 100 Arab Top ", Konferensi Internasional tentang Perbankan
Kinerja, Jakarta, Sydney, 14-16 Juli
halaman 22
22
194. Metwally, MM (1999), 'Prospek Membuka Cabang Perbankan Syariah dalam
Ada Tradisional Bank ', Konferensi Internasional tentang Perbankan Dergulation di
Australia, Sydney, 09-11 Agustus.
195. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1998), 'Dampak Pertumbuhan Dunia Persyaratan
Perdagangan Negara Berkembang ", Konferensi 29 ekonom, Sydney, 27-30

Juli.
196. Metwally, MM (1997) "Diferensial Upah di Kuwait" Konferensi Internasional tentang
Pasar Tenaga Kerja di Timur Tengah, Kairo, 23-26 Mei,
197. Metwally, MM dan R. Tamaschke (1996) 'Debt Servicing dan Pertumbuhan Ekonomi:
The
Pengalaman Timur Tengah dan negara-negara Afrika Utara, The Fifth
Konferensi Internasional tentang Bisnis dan Ekonomi Pembangunan di Tengah
Timur dan Negara-negara Mediterania ', Sydney, 11-13 Maret
198. Metwally, MM (1995), 'Dampak Fluktuasi Harga Minyak di Pengeluaran Konsumen
di Negara "Konferensi-Memproduksi Minyak Peran Minyak di Pertumbuhan Ekonomi
Asia Tenggara, Bangkok, 24-26 Januari.
199. Metwally, MM (1995), 'Konsumen Sikap Menuju Bebas bunga Bank: A
Analisis diskriminan Hasil Survei ', Konferensi Internasional tentang Ganda
Perbankan, Kuala Lampur, 26-27 September
200. Metwally, MM (1995), 'Laba-Rugi Sharing Banks:? Bisakah Mereka Survive',
Internasional
Konferensi Perbankan, Keuangan dan Lepas Pantai Kegiatan di Kepulauan dan Kecil
Negara, Malta, 19-21 Januari.
201. Aly, HY dan MM Metwally (1995) 'Sebuah catatan tentang Lemah pakai Masukan
Fungsi produksi Ekonomi: Studi Kasus ', Mid-West Economic Association
Konferensi, USA, 27-31 Maret.
202. Metwally, MM (1994), 'Australia Perdagangan dengan negara-negara Timur Tengah,
Konferensi
Perdagangan dan Pengembangan, Sydney, 26 November.
203. Metwally, MM (1993), 'Pengaruh Resesi Minyak pada Function Impor
Berbagai Grup Komoditi di Negara GCC ', Third International
Konferensi Bisnis dan Ekonomi Pembangunan di Mediterania dan
Negara Timur Tengah, Istanbul, 5-7 Juli.
204. Metwally, MM (1993), 'Perbankan Islam', Keyote Alamat, Konferensi Internasional
Perbankan Islam, Sydney, 9-10 November.
205. Metwally, MM (1993), 'Pembiayaan Non Komersial Kredit oleh Bunga-Free Bank',
Konferensi Internasional tentang Perbankan Syariah, Sydney, 9-10 November.
206. Metwally, MM (1992), 'Alat Baru Keuangan Bank Islam', Internasional
Konferensi Ekonomi Islam, Jakarta, 17-18 Januari.
halaman 23
23
207. Metwally, MM (1992), 'Pengaruh Resesi Minyak pada Sumber Daya Neraca Minyak
Eksportir Timur Tengah ', Konferensi Internasional Kedua Bisnis dan
Pembangunan ekonomi di Mediterania dan negara-negara Timur Tengah, Malta,
25-28 Mei.
208. Metwally, MM (1992), 'Interdependensi Antara Ekonomi Asia dan Industri Maju
, Konferensi Internasional negara 'Pembangunan di Abad Berikutnya,
Calcutta, 10-13 Januari.
209. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1991), 'Penentu Saldo Sumber Daya
Beberapa Negara Berkembang ', Konferensi ke-20 dari ekonom, Hobart, 30
September-2 Oktober.
210. Metwally, MM (1990), 'The Ekonomi Mesir dan Tantangan Puluh
Pertama Century ', Konferensi Masa Depan Ekonomi Negara Berkembang,
Universitas Canal, Port Said, 20-22 Desember.

211. Metwally, MM (1990), 'Dampak Krisis di Harga Minyak di Impor dari


Negara ', Konferensi ke-18-Timur Tengah dari ekonom, Melbourne, 11-14
Agustus.
212. Metwally, MM (1989), 'Penentu Investasi di Negara GCC', The First
Konferensi Internasional tentang Timur Tengah Bisnis dan Riset Ekonomi,
Kairo, 27-29 Januari.
213. Metwally, MM (1989), 'Perkembangan Baru di Teori Konsumsi: The
Konsumsi Catch-Up Hipotesis ', Seminar, Nanyang University, Singapura,
14 November.
214. Metwally, MM (1989), 'Uang di Fungsi Produksi: Studi Kasus',
Konferensi Internasional tentang Uang dan Pertumbuhan ', Sydney, 3-5 Agustus.
215. Metwally, MM (1988), 'The Perilaku Belanja Konsumen Agregat di Islam
Negara, Seminar, Universitas Islam Internasional, Kuala Lampur, 31
Oktober.
216. Metwally, MM (1988), 'The Debt Masalah Negara Berkembang', Seminar,
University of Papua New Guinea, Port Moresby, 11 Maret
217. Metwally, MM (1985), 'Model Perencanaan untuk Negara-negara GCC', Internasional
Konferensi Koperasi Perencanaan, Dubai, 17-19 Januari.
218. Metwally, MM dan Al-Habib, FI (1984), 'Trade Hubungan Antara Arab Saudi
dan negara-negara Asia ', The Sixth Simposium Internasional Studi Asia,
Hong-Kong 21-23 Juli.
219. Metwally, MM dan Tamaschke, HU (1982), 'Pengaruh Inflasi pada
Pola konsumsi ', Kedelapan Konferensi Ekonom, Adelaide, 11-14th
Agustus.
halaman 24
24
220. Metwally, MM (1981), 'Kebijakan Fiskal dalam Ekonomi Islam', Internasional
Konferensi Moneter dan Ekonomi Fiskal Islam, Islamabad, 24-27
Januari.
221. Metwally, MM (1981), 'Pembiayaan Investasi melalui Profit Sharing', Seminar,
University College of Bahrain, Manama, 3 Februari.
222. Metwally, MM (1981), 'Euler Teorema dan Faktor Saham Non-kompetitif
Situasi, Seminar, Gar Younis University, Ben Ghazi, Libya, 30 Januari.
223. Metwally, MM (1979), 'Menuju Teori Umum Ketenagakerjaan dan Harga
Ekonomi Islam ', Studi Budaya Konferensi Islam, Brisbane, 23-25
Agustus.
224. Metwally, MM (1978), 'Sebuah Investigasi ekonometrik ke Tendencies Eskalasi
Periklanan Nasional: The Experience Australia ', ORSA / TIMS Conference,
Los Angeles, 14-16 November.
225. Metwally, MM (1978), 'Penggunaan Multipliers jangka pendek dalam Perencanaan
Ekonomi',
Konferensi Internasional tentang Perencanaan Ekonomi, Universitas Hindia,
Barbados, 17 Juli.
226. Metwally, MM (1978), 'General Equilibrium dengan Zero Bunga dan Pajak pada Idle
Aset ', Konferensi Internasional tentang Kebijakan Moneter, Freie Universitat dari
Berlin, Berlin Barat tanggal 18 November.
227. Metwally, MM (1977), 'Pareto optimalitas dan Negara Berkembang', Internasional
Konferensi Ekonomi Sosial, Malta 11-14 April.
228. Metwally, MM (1975), 'Ukuran Pasar dan Ukuran Optimal Tanaman di Manufaktur

Industri ', The Fifth Konferensi Ekonom, Brisbane, 11-14 Agustus.

Tugas Kuliah

Beranda

Selasa, 03 April 2012


perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

System Perekonomian yang ada di Indonesia begitu banyak, sehingga


perlu adanya kebijakan-kebijakan. Apabila suatu kegiatan usaha ekonomi yang
kita lakukan tentu ada hal-hal yang harus kita penuhi. Perekonomian suatu
negara ada pembagian dua system, perekonomian tertutup dan terbuka. Dalam
perekonomian tertutup juga dikenal dengan kebijakan pemerintah atau tanapa
kebijakan pemerintah. Dan dalam hal ini kita akan membahas mengenai
Perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah.

B.
1.
2.

C.
1.

Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian dan Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup Tanpa
Kebijakan Pemerintah !
Bagaimana Fungsi Konsumsi dan Tabungan ?

Tujuan Masalah
Mengetahui pengertian dan Ruang Lingkup Perekonomian Tertutup Tanpa

Kebijakan Pemerintah.
2.
Mengetahui Fungsi Konsumsi dan Tabungan.

BAB II
PEMBAHASAN

a.

Pengertian

dan

Ruang

Lingkup

Perekonomian

Tertutup

Tanpa

Kebijakan Pemerintah dalam Perspektif Ekonomi Konvensional


Dalam

membahas

perhitungan

pendapatan

nasional

dengan

pendekatan

pengeluaran, perekonomian suatu Negara dapat digolongkan atas :


(1) Perekonomian Tertutup (closed economy), yang meliputi atas perekonomian
sederhana (perekonomian dua sector) dan perekonomian tiga sector,
(2) Perekonomian Terbuka (opened economy).
Perekonomian dua sector adalah perekonomian yang terdiri dari pengeluaran
yang dilakukan rumah tangga konsumen yang biasanya disebut dengan
consumption (C) dan pengeluaran yang dilakukan rumah tangga produsen(firm)
yang biasanya disebut investment (I).4[1]
Keseimbangan perekonomian sederhana atau dua sector dapat dituliskan
dengan notasi berikut.
Y = C+1..( 3.1)
Persamaan ini mencerminkan kondisi antara output yang diproduksi (Y) sama
dengan output yang dijual (C+1).
Jika sebagian pendapatan digunakan untuk konsumsi dan sebagian pendapatan
digunakan untuk menabung (saving atau diberi notasi S) maka dapat ditulis:

4[1], Nurul Huda et al. Ekonomi Makro Islam. Pendekatan Teoritis (2009). Kencana. Jakarta.h. 35.

Y= C+S...(3.2)
Sehingga identitas (3.1) dan (3.2) dapat digunakan menjadi :
C+1 = C+S(3.3)
Identitas (3.3) mencerminkan komponen penerimaan (C+S) sama dengan
komponen

pengeluaran

(C+1).

Identitas

untuk

persamaan

(3.3)

dapat

dirumuskan kembali untuk melihat hubungan antara tabungan dan investasi..


dengan memperoleh konsumsi dari setiap sisi dari persamaan (3.3) sehingga
diperoleh :
1=Y-C=S(3.4)
Persamaan

diatas

menunjukkan

bahwa

dalam

perekonomian

sederhana

tabungan identik dengan pendapatan dikurangi konsumsi.


b.

Fungsi Konsumsi dan Tabungan dengan Pendekatan Ekonomi dan


Konvensional

Dalam perhitungan pendapatan nasional, pendapatan yang dihasilkan rumah


tangga

konsumen

(household)

merupakan

sisi

pendapatan

sedangkan

pengeluaran konsumsi rumah tangga (household) merupakan sisi pengeluaran.

Menurut Keynes, konsumsi merupakan fungsi pendapatan (C=f(Y)) yang


dalam bentuk persamaan dapat ditulis sebagai berikut:
C= a+bY(3.5)
Dimana :
C
= besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga
a
= besarnya konsumsi yang tidak menguntungkan pada jumlah
pendapatan atau konsumsi jika tidak ada pendapatan.
b
= marginal propensity to consume (MPC = C/

Y) atau hasrat marginal

dari masyarakat untuk melakukan konsumsi


Y
= pendapatan disposable (pendapatan yang siap digunakan untuk
mengonsumsi ) a>0 dan 0 < b < 1
Rasio perubahan pengeluaran konsumsi dengan perubahan pendapatan
(MPC) lebih besar nol mencerminkan pengeluaran konsumsi rumah tangga akan
meningkat seiring dengan

meningkatnya tingkat pendapatan. Sedangkan

perubahan pengeluaran konsumsi dengan perubahan pendapatan (MPC) kurang

dari satu mencerminkan kenaikan pengeluaran konsumsi akan selalu lebih kecil
dari kenaikan pendapatan.
Selain itu, Keynes juga mengatakan bahwa Average Propensity to
consume (APC) yang merupakan perbandingan antara konsumsi yang dilakukan
dengan tingkat pendapatan disposble

(APC= C/Y) akan mengalami penurunan

sebagai akibat kenaikan pendapatan. Yang menarik dari pandangan Keynes yang
lain yang menyatakan pendapatan merupakan penentu / determinan konsumsi
yang terpenting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Menurut
Keynes pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori.
Fungsi konsumsi Keynes dapat digambarkan pada sebuah kurvasebagai
berikut :
Y=C

C1

C2

Y1

Y2

Gambar
Fungsi Konsumsi Keynes

Berdasarkan gambar diatas jika terjadi kenaikan dari Y1 ke Y2 atau


sebesar ( Y) akan mengakibatkan kenaikan konsumsi sebesar C1 ke C2 atau
sebesar C, terlihat pula proporsi kenaikan pendapatan lebih besar dibandingkan
proporsi kenaikan konsumsi.
Jika

dikaitkan

dengan

keseimbangna

perekonomian

dengan

hanya

memp[erhatikan sector konsumsi yang dilakukan dirumah tangga konsumen


(household), maka diperoleh persamaan seperti dihalaman berikut ini
Y= C.(3.6)
Dan

sesuai

dengan

persamaan

(3.5),

maka

diperoleh

keseimbangan

perekonomian :
Y= a+bY(3.7)
Jika diselesaikan persamaan tersebut, maka diperoleh persamaan :
Y = (1/1-b)a(3.8)
Dimana : 1/1-b merupakan

multiplier dalam perekonomian yang hanya

memasukkan unsure konsumsi yang dilakukan rumah tangga konsumen.

Terkait

dengan

model

fungsi

konsumsi

yang

dikemukakan

Keynes

tersebut, kemudian muncul beberapa pandangan yang mengomentari fungsi


konsumsi yang dikemukakan Keynes antara lain dapat dikemukakan (Mankiw,
2000 ) sebagai berikut :

1.

Franco Modigliani dengan Hipotesis Daur Hidup (life cycle hyphothesis )


Modigliani menekankan bahwa tingkat pendapatan bervariasi secara sistematis
selama kehidupan seseorang yang dapat menggerakkan pendapatan dari masa
hidupnya. Fungsi konsumsi yang ditawarkan sebagai berikut :
C = (W+RY)/T(3.9)
Dimana :
W = Kekayaan
Y = pendapatan
T = periode lama hidup
R = masa pension
Persamaan konsumsi (3.9) dapat ditulis sebagai berikut :
C = (1/T) W+ (R/T) Y.(3.10)
Contoh
Seseorang mengharapkan hidup selama 60 tahun dan bekerja selama 30 tahun,
maka

T = 60 dan R = 30 maka fungsi konsumsinya :

C = 0,017 W+ 0,5 Y
Persamaan ini menyatakan bahwa konsumsi sangat bergantung pada
pendapatan dan kekayaan. Pendapatan ekstra sebesar Rp 1 per tahun akan
meningkatkan konsumsi sebesar Rp 0,5 per tahun kekayaan ekstra senilai Rp 1
akan meningkatkan konsumsi sebesar Rp 0,017 per tahun. Maka dapat dituliskan
:

C = W+Y(3.11)
Dimana :
= kecendrungan mengkonsumsi marginal dari kekayaan
= kecendrungan mengkonsumsi marginal dari pendapatan

2.

Milton Friedman dengan Hipotesis Pendapatan Permanen (permanent income


hyphotheis)
Menurut Friedman pendapat (Y) merupakan penjumlahan antara pendapatan
permanen (Yp) dan pendapatan Transitoris (Y1). Yang dimaksud dengan
pendapatan permanen adalah bagian pendapatan yang diharapkan orang tetap
terus bertahan dimas depan. Sedangkan pendapatan transitoris adalah bagian
pendapatan yang tidak diharapkan terus bertahan, konsumsi seharusnya
bergantung pada pendapatan permanen sehingga persamaan untuk fungsi
konsumsi dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut;
C = Yp..(3.12)
Dimana :
= bagian dari pendapatan permanen yang dikonsumsikan
Yp = pendapatan permanen

c.

Pandangan Fahim Khan tentang Fungsi Konsumsi dan Tabungan

Mengacu

pada

pandangan

Keynes

yang

menyatakan

konsumsi

yang

dilakukan rumah tanngga konsumen dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, Khan


membagi tingkat pendapatan masyarakat menjadi (1) pendapatan yang berada
diatas nisab (angka minimal asset yang terkena kewajiban zakat) yang
dinotasikan dengan Yu (upper classes / golongan kaya) dan (2) pendapatan yang
berada dibawah nisab yang dinotasikan dengan YL (lower classes / golongan
miskin). Menurut Khan (1995) dibagi dua bentuk atas pengeluaran (1) konsumsi
yang dilakukan oleh rumah tangga tersebut untuk kebutuhan sendiri (for self)

yang dilambangkan dengan notasi E1 dan (2) konsumsi yang dilakukan rumah
tangga untuk menuju keridhaan Allah (cause of Allah) yang dinotasikan dengan
E2. Berdasarkan tersebut Khan, menawarkan fungsi konsumsi
C* = A+AuYu(3.14)

a1
E2

Yu

d.

Y = income

Pandangan Metwally tentang fungsi Konsumsi dan Tabungan

Dalam mengembangkan fungsi konsumsi dalam perspektif islam, Metwally


menggunakan beberapa pendekatan hipotesis teori yang dapat dijelaskan
secarasederhana sebagai berikut :
Hipotesis pendapatan Mutlak
Hipotesis

ini

menyatakan

bahwa

konsumsi

dalam

periode

waktu

tergantung pada pendapatan siap konsumsi (disposable income) pada periode


tersebuut.

Naiknya

opendaopatan

akan

meningkatkan

konsumsi,

tetapi

peningkatan konsumsi lebih kecil dari peningkatan pendapatan.


Metwally (1995) memasukkan peranan zakat terhadap fungsi konsumsi, untuk
menyederhanakan masalahdianggap besarnya zakat ditunjukkan oleh fungsi :
Z =Y (3.16)
Dimana :
0<a<1
Selain itu, dimisalkan bY merupakan pendapatan pemabayaran zakat dan (1-) Y
adalah pendapatan penerima zakat,dimana :
0<<1
Dimisalkan pula sebagai hasrat konsumsi marginal penerima zakat, dimana :
0<b<<1
Berdasarkan hal itu maka fungsi konsumsi dalam ekonomi islam menjadi :
C = a+b (Y-Y)+[(1-)Y+Y]..(3.17)
Dimana :
a + b ( Y Y) = Fungsi konsumsi untuk pembayaran zakat
[(1-) Y+Y] = Fungsi konsumsi untuk menerima zakat
Hipotesis pendapatan Relatif (the Relative Income Hyphothesis)
Hipotesis ini menyatakan konsumsi sekarang saja ditentukan pendapatan
siapkonsumsi

pada

masa

sekarang

( pendapatan masa puncak atau Yp).

(Ys)

tetapi

pendapatan

sebelumnya

C = a + b (Y-Y) +[(1-)Y+Y]
Y=C+S
e.

Pandangan Munawar Iqbal tentang Konsumsi


Iqbal dalam catatannya Zakat, Moderation, and Aggregate Consumption in an
Islamic Economy (1985) mengulas beberapa tulisan ia memulai dengan
persamaan yang sama C = a0 + cY, ia menyederhanakan yang lainnya untuk
penggunaannya.

Fungsi Investasi dengan Pendekatan Ekonomi Konvensional


Investasi merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli barangbarang

modal

dan

pelengkapan-pelengkapan

produksi

untuk

menambah

kemampuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam


perekonomian..5[2]
Ada 3 bentuk pengeluaran investasi :
a)

Investasi tetap bisnis (business fixed investment), yaitu pengeluaran investasi


untuk pembelian berbagai jenis barang modal yaitu mesin-mesin dan peralatan
produksi lainnya untuk mendirikan berbagai jenis industry dan perusahaan.

b)

Investasi
mendirikan

residensial
rumah

(residensial

temapat

investment),

tinggal,

bangunan

yaitu

pengeluaran

kantor,

bangunan

untuk
pabrik,

bangunan pabrik,dan bangunan lainnya.


c)

Investasi persedian (intervetory investment) yaitu berupa pertambahan nilai


stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah, dan barang yang lain
yang belum diproses

produksi pada akhit tahun perhitungan pendapatan

nasional.

Fungsi Investasi dengan Pendekatan Ekonomi Islam

5[2] [2], Nurul Huda et al. Ekonomi Makro Islam. Pendekatan Teoritis (2009). Kencana. Jakarta. h.
46

Perbedaan dengan pendekatan ekonomi

konvensional karena fungsi

investasi dalam ekonomi konvensional dipengaruhi tingkat suku bunga, hal ini
tentunya tidak berlaku dalam pendekatan ekonomi islam.
Menurut Metwally (1995), investasi dinegara-negara penganut ekonomi
islam dipengaruhi 3 faktor (1) ada sanksiterhadap pemegang asset yang kurang
atau tidak produktif (hoarding idle asset) ; (2) dilarang melakukan berbagai
bentuk spekulasi dan segala macam judi ; (3) tingkat bunga berbagai pinjaman
sama dengan nol. Sehingga seorang muslim boleh memilih tiga alternative atas
dananya, yaitu ; (a) memegang kekayaannya dalam bentuk uang kas ; (b)
memegang

tabungannya

dalam

bentuk

asset

tanpa

berproduksi

seperti

deposito, real estate, permata; atau (c) menginvestasikan tabungannya (seperti


memiliki proyek proyek yang menambah persedian capital nasional).

BAB III
PENUTUP

Simpulan
Perekonomian tertutup tanpa kebijakan pemerintah adalah Perekonomian
dua sector yang merupakan perekonomian yang terdiri dari pengeluaran yang
dilakukan rumah tangga konsumen.
Investasi merupakan pengeluaran perusahaan untuk membeli barang-barang
modal dan pelengkapan-pelengkapan produksi untuk menambah kemampuan
untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian.

DAFTAR PUSTAKA

Huda, Nurul et al. Ekonomi Makro Islam. Pendekatan Teoritis (2009). Kencana.
Jakarta

Latar belakang
Konsumsi pada hakikatnya adalah mengeluarkan sesuatu dalam rangka memenuhi
kebutuhan. Dalam kerangka Islam perlu dibedakan dua tipe pengeluaran yang dilakukan oleh
konsumen muslim yaitu pengeluaran tipe pertama dan pengeluaran tipe kedua. Pengeluaran
tipe pertama adalah pengeluaran yang dilakukan seorang muslim untuk memenuhi kebutuhan
duniawinya dan keluarga (pengeluaran dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dunia namun
memiliki efek pada pahala diakhirat). Pengeluaran tipe kedua adalah pengeluaran yang
dikeluarkan semata mata bermotif mencari akhirat.
Konsumsi adalah kegiatan ekonomi yang penting, bahkan terkadang dianggap paling
penting. Dalam mata rantai kegiatan ekonomi, yaitu produksi, konsumsi, distribusi, seringkali
muncul pertanyaan manakah yang paling penting dan paling dahulu antara mereka. Jawaban
atas pertanyaan itu jelas tidak mudah, sebab memang ketiganya merupakan mata rantai yang
terkait satu dengan yang lainnya, lebih jelasnya akan dibahas dalam isi makalah

Etika Konsumsi dalam Islam


Konsumsi berlebih lebihan, yang merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal
Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah israf (pemborosan) atau tabzir
(menghambur hamburkan harta tanpa guna). Tabzir berarti menggunakan barang dengan
cara yang salah, yakni, untuk menuju tujuan tujuan yang terlarang seperti penyuapan, hal
hal yang melanggar hukum atau dengan cara yang tanpa aturan. Pemborosan berarti
penggunaan harta secara berlebih lebihan untuk hal hal yang melanggar hukumdalam hal
seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, atau bahkan sedekah. Ajaran ajaran Islam
menganjurkan pada konsumsidan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni pola
yang terletak diantara kekikiran dan pemborosan. Konsumsi diatas dan melampaui tingkat
moderat (wajar) dianggap lisraf dan tidak disenangi Islam.
Salah satu ciri penting dalam Islam adalah bahwa ia tidak hanya mengubah nilai nilai
dan kebiasaan kebiasaan masyarakat tetapi juga menyajikan kerangka legislatif yang perlu
untuk mendukung dan memperkuat tujuan tujuan ini dan menghindari penyalahgunaannya.
Ciri khas Islam ini juga memiliki daya aplikatif terhadap kasus orang yang terlibat dalam
pemborosan atau tabzil. Dalam hukum (Fiqh) Islam, orang semacam itu seharusnya dikenai
pembatasan pembatasan dan, bila dianggap perlu,dilepaskan dan dibebaskan dari tugas
mengurus harta miliknya sendiri. Dalam pandangan Syariah dia seharusnya diperlukan

sebagai orang yang tidak mampu dan orang lain seharusnya ditugaskan untuk mengurus
hartanyaselaku wakilnya.

Model Keseimbangan Konsumsi Islam


Keseimbangan konsumsi dalam ekonomi Islamdidasarkan pada prinsip keadilan
distribusi. Jika tuan A mengalokasikan pendapatannya setahun hanya untuk kebutuhan materi,
dia tidak berlaku adil karena ada pos yang nbelum dibelanjakan, yaitu konsumsi sosial. Jika
demikian, sesungguhnya dia hanya bertindak untuk jalannya diakhirat nanti.
Secara sederhana Metwally (1995: 26-23) telah memberikan kontribusi yang sangat berarti
dalam perumusan keseimbangan konsumsi Islami.
Dimana :
S : Sedekah
H : Harga barang dan jasa
BR : Barang
JS : Jasa
Z : Zakat (25%)
P : Jumlah pendapatan

Batasan Konsumsi Dalam Syariah


Dalam Islam, konsumsi tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Peranan
keimanan menjadi tolak ukur penting karena keimanan memberikan cara pandang dunia yang
cenderung mempengaruhi kepribadian manusia, yang dalam bentuk perilaku, gaya hidup,
selera, sikap sikap terhadap sesama manusia, sumberdaya, dan ekologi. Keimanan sangat
mempengaruhi sifat kuantitas, dan kulitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan materil
maupun spiritual. Dalam konteks inilah kita dapat berbicara tentang bentuk bentuk halal
dan haram, pelarangan terhadap israf, pelarangan terhadap bermewah mewahan dan
bermegah megahan, konsumsi sosial, dan aspek aspek normatif lainnya. Kita melihat
batasan konsumsi dalam Islam sebagaimana diurai dalam Alquran surah Al-Baqarah [2]: 168
-169 :
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang
nyata bagi kamu. Sesungguhnya setan hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan
mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Sedangkan untuk batasan terhadap minuman merujuk pada firman Allah dalam al quran
surah Al-Maidah[5] : 90 :

Hai orang orang yang beriman, sesungguhnya (minuman khamer, berjudi,(berkorban


untuk) berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka
jauhilah perbuatan perbuatan itu agar kamu beruntung.

Ketentuan Islam Dalam Konsumsi


Konsumsi adalah permintaan sedangkan produksi adalah penyediaan. Kebutuhan
konsumen yang kini dan yang telah diperhitungkan sebelumnya merupakan insentif pokok
bagi kegiatan kegiatan ekoniminya sendiri. Mereka mungkin tidak hanya menyerap
pendapatannya tetapi juga memberi insentif untuk meningkatkannya. Hal ini berarti
pembicaraan mengenai konsumsi adalah penting dan hanya para ahli ekonomi yang
mempertunjukkan kemampuannya untuk memahami dan menjelaskan prinsip produksi dan
konsumsi. Perbedaan antara ekonomi modern dan ekonomi Islam dalam hal konsumsi
terletak pada cara pendekatan dalam memenuhi kebutuhan seseorang. Islam tidak mengakui
kegemaran materialistis semata mata dan pola konsumsi modern. Islam berusaha
mengurangi kebutuhan material manusia yang luar biasa sekarang ini.
PERILAKU KONSUMEN MUSLIM
Dalam bidang konsumsi, Islam tidak menganjurkan pemenuhan keinginan yang tak
terbatas. Secara hirarkisnya, kebutuhan manusia dapat meliputi ; keperluan, kesenangan dan
kemewahan. Dalam pemenuhan kebutuhan manusia, Islam menyarankan agar manusia dapat
bertindak ditengah tengah (moderity) dan sederhana (simpelicity). Pembelanjaan yang
dianjurkan dalam Islam adalah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan melakukan
dengan cara rasional. isharf dilarang dalam al Quran. Tabzir berarti membelanjakan uang
ntuk sesuatu yang dilarang menurut hukum Islam. Perilaku ini sangat dilarang oleh Allah swt.
Dasar Hukum prilaku konsumen
Hasan sirry menyatakan bahwa sumber hukum konsumsi yang tercactum dalam AlQuran adalah,
Artinya:
Makanlah dan minumlah,namun janganlah berlebih lebihan, Sesungguhnya Allah itu tidak
menyukai orang orang berlebih lebihan.
Sumber yang berasal dari Hadits Rasul adalah,
Artinya:

Abu Said Al Chodry r.a. berkata: ketika kami dalam bepergian bersama Nabi saw.
Mendadak datang seseorang berkendara, sambil menoleh kekanan kekiri seolah olah
mengharapkan bantuan makanan, maka bersabda Nabi: siapa yang mempunyai kelebihan
kendaraan harus dibantukan pada yang tidak mempunyai kendaraan. Dan siapa yang
mempunyai kelebihan bekal harus dibantu kepada yang tidak berbekal. Kemudian
Rasulullah menyebut berbagai macam jenis kekayaan hingga kita merasa seseorang tidak
berhak memiliki sesuatu yang lebih dari kebutuhan hajatnya..
Pandangan Fahim Khan tentang Fungsi Konsumsi dan Tabungan
Mengacu pada pandangan Keynes yang menyatakan konsumsi yang dilakukan rumah
tanngga konsumen dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, Khan membagi tingkat pendapatan
masyarakat menjadi (1) pendapatan yang berada diatas nisab (angka minimal asset yang
terkena kewajiban zakat) yang dinotasikan dengan Yu (upper classes / golongan kaya) dan
(2) pendapatan yang berada dibawah nisab yang dinotasikan dengan YL (lower classes /
golongan miskin). Menurut Khan (1995) dibagi dua bentuk atas pengeluaran (1) konsumsi
yang dilakukan oleh rumah tangga tersebut untuk kebutuhan sendiri (for self) yang
dilambangkan dengan notasi E1 dan (2) konsumsi yang dilakukan rumah tangga untuk
menuju keridhaan Allah (cause of Allah) yang dinotasikan dengan E2. Berdasarkan tersebut
Khan, menawarkan fungsi konsumsi
C*
(3.14)

A+AuYu

a1
E2
a

Yu

Y = income

d. Pandangan Metwally tentang fungsi Konsumsi dan Tabungan


Dalam mengembangkan fungsi konsumsi dalam perspektif islam, Metwally menggunakan
beberapa pendekatan hipotesis teori yang dapat dijelaskan secarasederhana sebagai berikut :
Hipotesis pendapatan Mutlak
Hipotesis ini menyatakan bahwa konsumsi dalam periode waktu tergantung pada
pendapatan siap konsumsi (disposable income) pada periode tersebuut. Naiknya
opendaopatan akan meningkatkan konsumsi, tetapi peningkatan konsumsi lebih kecil dari
peningkatan pendapatan.
Metwally (1995) memasukkan peranan

zakat terhadap fungsi konsumsi, untuk

menyederhanakan masalahdianggap besarnya zakat ditunjukkan oleh fungsi :


Z =Y (3.16)
Dimana :
0<a<1
Selain itu, dimisalkan bY merupakan pendapatan pemabayaran zakat dan (1-) Y adalah
pendapatan penerima zakat,dimana :
0<<1
Dimisalkan pula sebagai hasrat konsumsi marginal penerima zakat, dimana :
0<b<<1
Berdasarkan hal itu maka fungsi konsumsi dalam ekonomi islam menjadi :
C = a+b (Y-Y)+[(1-)Y+Y]..(3.17)
Dimana :
a + b ( Y Y) = Fungsi konsumsi untuk pembayaran zakat
[(1-) Y+Y] = Fungsi konsumsi untuk menerima zakat
Contoh Soal
1 . Pada tingkat pendapatan Rp. 500.000,00 besarnya konsumsi Rp. 400.000,00 dan pada
tingkat pendapatan Rp. 1.000.000,00 besarnya konsumsi Rp. 600.000,00. Berdasarkan data
tersebut fungsi konsumsinya adalah ...
A.

C = -200 0,4Y

D. 5C = 1.000 + 2Y

B.

C = -200 + 0,4Y

E. 5C = 1.000 2Y

C.

C = 200 + 0,6Y

Jawab : Dik : Y1 = Rp. 500.000,00

Dit : Fungsi konsumsi?

C1 = Rp. 400.000,00
Y2 = Rp. 1.000.000,00
C2 = Rp. 600.000,00
Jawab : MPC = Y2/Y1 = 1.000.000/500.000 = 0,4
APC = C1/Y1 = 400.000/500.000 = 0,8
a = (0,8 - 0,4) x 500.000 = 0,4 x 500.000 = 200
Jadi, C = a + bY
C = 200 + 0,4Y
2. Diketahui fungsi konsumsi masyarakat adalah C = 60 milyar + 0,7 Y. Jika pendapatan
nasionalnya Rp. 300.000 milyar maka besarnya tabungan masyarakat adalah ...
A.

Rp. 89.940 milyar

D. Rp. 210.000 milyar

B.

Rp. 90.000 milyar

E. Rp. 210.060 milyar

C.

Rp. 90.000 milyar

Jawab :

Dik : C = 60 milyar + 0,7 Y

Dit : S?

Y = 300.000
Jawab : C = 60 M + 0,7 Y
S = -60 M + 0,3 x 300.000
S = -60 M + 90.000
S = 89.940 Milyar
3. Diketahui fungsi konsumsi C = 200.000,00 + 0,70 Y. Jika besarnya tabungan masyarakat
Rp. 100.000,00 maka besarnya konsumsi adalah ...
A.

Rp. 270.000,00

D. Rp. 900.000,00

B.

Rp. 370.000,00

E. Rp. 1.000.000,00

C.

Rp. 628.570,00

Jawab : Dik : C = 200.000,00 + 0,70 Y

Dit : C?

S = 100.000
Jawab : C = 200.000 + 0,70 Y
C = 200.000 + 0,70 x 100.000
C = 200.000 + 70.000
C = 270.000
4. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 100 + 0,75 Y maka pendapatan saat Break Even
Income adalah ...
A. Rp. 500

D. Rp. 350

B. Rp. 450

E. Rp. 300

C. Rp. 400
Jawab :

Dik : C = 100 + 0,75 Y


Dit : Titik keseimbangannya?
Jawab : Y = C
Y = 100 + 0,75 Y
Y 0,75 Y = 100
0,25 Y = 100
Y = 100/0,25

Y = 400
5. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 200 + 0,80 Y maka pendapatan pada saat Break Even
Income adalah ...
A. Rp. 1.000

D. Rp. 4.000

B. Rp. 2.000

E. Rp. 5000

C. Rp. 3.000
Jawab :

Dik : C = 200 + 0,80 Y


Dit : Titik keseimbangannya?
Jawab : Y = C

Y = 200 + 0,80 Y
Y 0,80 Y = 200
0,20 Y = 200
Y = 200/0,20
Y = 1000
6. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 500 + 0,75 Y maka pendapatan pada saat Break Even
Income adalah ...
A. Rp. 1.000

D. Rp. 4.000

B. Rp. 2.000

E. Rp. 5000

C. Rp. 3.000
Jawab :

Dik : C = 500 + 0,75 Y


Dit : Titik keseimbangannya?
Jawab : Y = C
Y = 500 + 0,75 Y
Y 0,75 Y = 500
0,25 Y = 500
Y = 500/0,25
Y = 5000

7. Jika diketahui fungsi konsumsi C = 100 + 0,75 Y maka MPC adalah ...
A. 0,25

D. -100

B. 0,75

E. 0,30

C. 100
Jawab : C
MPC

= 100 + 0,75 Y
= 0,75

8. Jika diketahui fungsi konsumsi S = -100 + 0,25 Y maka MPC adalah ...

A. 0,25

D. 100 + 0,75 Y

B. 0,75

E. 0,30

C. -100
Jawab : MPC + MPS

=1

MPC + 0,25

=1

MPC

= 1 0,25

MPC

= 0,75

9. Jika diketahui fungsi konsumsi S = -100 + 0,25 Y maka MPS adalah ...
A. 0,25

D. 100 + 0,75

B. 0,75

E. 0,30

C. -100
Jawab : S

= -100 + 0,25 Y

MPS
= 0,25
10. Dalam suatu masyarakat memiliki fungsi konsumsi sebesar C = 70.000 + 0,25y.
Kemudian, pendapatan nasional Negara tersebut adalah Rp 160.000,00. Maka hitunglah besar
tabungan masyarakat !
Jawab :
Diketahui
:
a
= 70.000
b
= 0,25
y
= 160.000
c
= 110.000
Ditanya
:
S
=?
Jawab
:
S
=
-a + (1 b)y
=
-70.000 + (1 0,25) y
=
-70.000
+ 0,75 . 160.000
=
-70.000
+ 120.000
=
50.000
11.

Saat YoonA memiliki pendapatan sebesar $ 5,000, dia memiliki tabungan sebesar $ 1,500 .
Kemudian, pendapatan Badrun naik menjadi $ 8,000, karena itu tabungannya naik menjadi $
2,700. Tentukan fungsi konsumsi dari YoonA!
Diketahui
:
Y1
=
5000
Y2
=
8000
S1
=
1500

S2
=
2700
Ditanya
:
Fungsi Konsumsi
Jawab
:

Masukkan ke rumus fungsi konsumsi

12. Michael Essien, memiliki pendapatan sebesar $ 1,000,000 dengan pendapatan hasil
bermainnya di klub besar Real Madrid, dia mengkonsumsi banyak benda dengan
menghabiskan $ 1,300,000. Tapi ketika dia naik gaji karena berhasil menjebol gawang
Hendro Kartiko, pendapatannya naik menjadi $ 1,250,000 tapi besar konsumsinya pun naik
demi memenuhi hasrat laparnya sebesar $ 1,500,000. Tentukan pendapatan Essien pada titik
keseimbangan antara pendapatan dan konsumsi yang dilakukan Essien !
Jawab :
Diketahui
:
Y1
=
1.000.000
Y2
=
1.250.000
C1
=
1.300.000
C2
=
1.500.000
Ditanya
:
Pendapatan pada titik keseimbangan
Jawab
:

Sebelum bekerja pengeluaran Daniel sebesar Rp. 1.500.000,00 sebulan. setelah


bekerja dengan penghasilan sebesar Rp. 5.000.000,00 pengeluarannya sebesar Rp.
4.500.000,00. Fungsi konsumsi Daniel adalah....

Pembahasan :
dik :
- a = 1.500.000 (Konsumsi pada saat y=0)
- C = C1 - C0 = 4.500.000 - 1.500.000 = 3.000.000
- Y = Y1 - Y0 = 5.000.000
- Y = 5.000.000 - 0 = 5.000.000
dit : Fungsi Konsumsi ?

jawab :

Fungsi konsumsi dinyatakan dengan :


C = a + bY atau C a + mpcY
pada soal diatas sudah diketahui nilai a, Y, Y, dan C, jadi langkah selanjutnya kita mencari
MPC
MPC = C / Y
MPC = 3.000.000 / 5.000.000 = 3/6
MPC = 0,6
setelah MPC kita ketahui, maka fungsi konsumsi untuk Daniel dapat kita tentukan sebagai
berikut :
C = a + mpcY,
================
C = 1.500.000 + 0,6Y
=================

Soal Kedua : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2009).

Konsumsi masyarakat suatu negara ditunjukan oleh persamaan C = 30 + 0,8Y. bila


tabungan sebesar Rp.20,00 maka besarnya konsumsi adalah ....

Pembahasan :
dik : - fungsi konsumsi C = 30 + 0,8Y
- tabungan S = 20
dit : Besar Konsumsi (C) ?

Jawab :
untuk mengetahui besarnya konsumsi, maka langkah yang paling pertama adalah kita harus
mencari terlebih dahulu berapakah nilai Pendapatan (Y) dari fungsi tersebut.

untuk mencari nilai Y maka kita bisa menggunakan fungsi tabungan dan nilai tabungannya,
C = 30 + 0,8Y maka fungsi tabungannya adalah S = -a + (1 - MPC)Y==&gt;
S = -30 + 0,2Y diketahui nilai S = 20, lalu kita masukan kedalam fungsi tabungan (S) untuk
memperoleh nilai Y
S

= -30 + 0,2Y

20

= -30 + 0,2Y

0,2Y = 20 + 30
0,2Y = 50
Y

= 50 / 0,2

= 250

Langkah selanjutnya untuk mencari besarnya konsumsi (C) adalah kita memasukan nilai Y
kedalam fungsi konsumsi.
C = 30 + 0,8Y
C = 30 + 0,8(250)
C = 30 + 200
C = 230
=======
Jadi besarnya konsumsi (C) adalah 230.

Soal Ketiga : (Soal Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) Ekonomi 2008).

Keluarga Ibu Tutik mempunyai penghasilan Rp. 8.000.000,00 sebulan, dengan pola
konsumsi yang dinyatakan dengan fungsi C = 1.500.000 + 0,70Y. Berdasarkan data
tersebut maka besarnya tabungan keluarga ibu Tutik adalah ....

Pembahasan:
Diketahui :
Y = 8.000.000
Fungsi Konsumsi ==&gt; C = 1.500.000 + 0,70Y

Ditanya :
besarnya tabungan (S) ?

Jawab :
untuk mengetahui besarnya nilai tabungan (S) maka langkah pertama yang harus kita lakukan
adalah merubah fungsi konsumsi kedalam fungsi tabungan kemudian memasukan nilai
pendapatan (Y) kedalam fungsi tabungan.
C = 1.500.000 + 0,70Y
maka fungsi tabungannya adalah :
S = -a + (1-MPC)Y
S = - 1.500.000 + 0,30Y
untuk mencari besarnya tabungan (S) ibu tutik maka kita masukan nila Y kedalam fungsi
konsumsi:
S = -1.500.000 + 0,30(8.000.000)
S = -1.500.000 + 2.400.000
S = 900.000
============
Jadi besarnya Tabungan keluarga ibu Tutik adalah Rp.900.000,00

Soal Keempat : (Soal Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2008)

Bila diketahui fungsi tabungan : S = -50 + 0,15Yd, maka besarnya Marginal


Propensity to Consume (MPC) adalah.....

Pembahasan :
untuk menjawab pertanyaan diatas, kita hanya memerlukan waktu 30detik,
diketahui MPS = 0,15 maka
MPC = 1 - MPS
MPC = 1 - 0,15
MPC = 0,85
===========
Jadi besarnya Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah 0,85

soal selanjutnya : (Soal Olimpiade Sains Propinsi (OSP) Ekonomi 2007)


1. Bila diketahui, Fungsi konsumsi C = 200 + 0,8Y, maka besarnya Marginal Propensity
to Save (MPS) adalah....

Pembahasan:
Sama dengan soal sebelumnya, untuk membahas soal ini kita hanya membutuhkan waktu 30
detik.
Diketahui MPC = 0,8 Maka
MPS = 1 - MPC
MPS = 1 - 0,8
MPS = 0,2
========
Jadi besarnya Marginal Propensity to Save (MPS) adalah 0,2

Contoh Soal
Diketahui fungsi konsumsi C = 100.000 + 0,6 Y
Ditanya:
a. Berapa besar konsumsi bila Y = 0 (tidak memiliki pendapatan)
b. Berapa besar konsumsi bila Y = 500.000
c. Berdasarkan fungsi konsumsi di atas, tentukan fungsi tabungannya.
d. Berapa besar tabungan bila Y = 600.000
Jawab :
a. Diketahui:
C = 100.000 + 0.6 Y
Sekarang kita masukkan Y = 0 ke dalam persamaan tersebut
C = 100.000 + 0.6 Y
C = 100.000 + 0.6 x 0
C = 100.000 + 0
C = 100.000
Jadi, bila Y = 0 maka besar konsumsi adalah Rp100.000,b. Diketahui:
C = 100.000 + 0,6 Y
Sekarang kita masukkan Y = 500.000 ke dalam persamaan tersebut
C = 100.000 + 0.6 x 500.000
C = 100.000 + 300.000
Jadi, bila Y = 500.000 maka besar konsumsi adalah Rp400.000,-.
c. Diketahui:
C = 100.000 + 0,6 Y
Dari persamaan di atas diketahui
a = 100.000 b = 0,6
Karena S = a + (1b) Y
Maka, fungsi tabungan adalah S = 100.000 + 0,4 Y
Jadi bila diketahui C = 100.000 + 0,6 Y
maka fungsi tabungannya adalah S = 100.000 + 0,4 Y
d. Diketahui:
S = 100.000 + 0,4 Y
Sekarang kita masukkan Y = 600.000 ke dalam persamaan tersebut
S = 100.000 + 0,4 x 600.000
S = 100.000 + 240.000
S = 140.000
Jadi, bila Y = 600.000 maka besar tabungan Rp140.000,2. Diketahui fungsi konsumsi
C = 20 + 0,8 Y
Ditanya:
a. Tentukan fungsi tabungannya!
b. Gambarkan kurva (grafik) fungsi konsumsi dan fungsi tabungannya!
Jawab:

a. C = 20 + 0,8 Y
S = a + (1b) Y (dari fungsi konsumsi diketahui a = 20
dan b = 0,8) Sehingga,
S = 20 + (10,8) Y
S = 20 + 0,2 Y, jadi fungsi tabungannya adalah:
S = 20 + 0,2 Y
b. Untuk menggambar fungsi konsumsi dan fungsi tabungan, gunakan langkahlangkah
berikut:
1) Kurva Fungsi Konsumsi
C = 20 + 0,8 Y
Titik potong dengan sumbu C (sumbu vertikal) bila Y= 0, terjadi pada titik (0,20)
Titik potong dengan scale line (garis skala), garis skala adalah garis yang membagi sudut
menjadi dua bagian yang sama dengan menunjukkan Y = C. Untuk mencari titik potong
dengan garis skala kita harus mensubstitusikan Y = C ke dalam fungsi konsumsi di atas.
Y=C

C = 20 + 0,8 Y (karena Y = C maka C akan diganti Y)

sehingga,

Y = 20 + 0,8 Y
Y 0,8 Y = 20
0,2 Y = 20

Jadi, titik potong dengan garis skala terjadi saat Y = C = 100


2) Kurva fungsi tabungan S = 20 + 0,2 Y
Titik potong dengan sumbu S (bila Y = 0) terjadi pada titik (0,20)
Titik potong dengan sumbu Y (bila S = 0) terjadi pada titik (100,0)

Pada saat Y = C maka tidak ada


tabungan (S = 0), sebab semua
pendapatan habis untuk konsumsi

3). Diketahui fungsi konsumsi C = 10 + 0,60 Y. Bila pendapatan sebesar 60 tentukan besar
tabungannya?
Jawab:
Karena yang ditanya besar tabungan, agar lebih mudah kita harus membuat fungsi
tabungannya lebih dulu, yakni S = 10 + 0,40 Y. Berapa S (tabungan) bila Y (pendapatan) =
60?
Y = 60 S = 10 + 0,40 Y
S = 10 + (0,40 x 60)
S = 10 + 24 = 14
Jadi, bila pendapatan 60 maka tabungannya adalah 14.

Anda mungkin juga menyukai