Anda di halaman 1dari 69

PENGUJIAN KONSTRUKSI KAIN

I. MAKSUD DAN TUJUAN

Mampu menghitung nomor benang dari kain.


Mampu menghitung tetal benang pada kain.
Mampu menghitung mengkeret benang dari kain.

II. TEORI DASAR


A. Anyaman Kain Tenun
Anyaman kain tenun adalah silangan benang lusi dan benang pakan
sehingga terbentuk kain tenun. Benag lusi adalah benang yang sejajar
dengan panjang kain tenun dan biasanya digambarkan ke arah vertical,
sedangkan benang pakan adalah benag yang sejajar dengan lebar kain
dan biasanya digambarkan ke arah horizontal.
Untuk menyatakan anyaman suatu kain tenun dapat dilakukan
dengan cara :
Dengan menyebut nama anyaman
Nama anyaman beragam dari mulai anyaman dasar, yaitu anyaman
polos (plain/plat), anyaman keper (twill),dan anyaman satin (satine).
Anyaman lain adalah turunan dari anyaman dasar misalnya
anyaman panama, anyaman keper runcing,dan lain-lain.
Dengan gambar anyaman
Anyaman selain dinyatakan dengan nama anyaman juga dapat
dinyatakan dengan gambar yang disebut gambar disain anyaman.
Penggambaran anyaman dapat dilakukan dengan cara :
Dengan gambar
Untuk menempatkan gambar anyaman diperlukan kertas disain,
yang berupa kertas kotak-kotak, dengan ukuran sesuai dengan
perbandingan tetallusi dan tetalpakan. Kotak-kotak ke arah
vertical mewakili benang lusi dan ke arah horizontal mewakili
benang pakan. Tiap kotak mewakili satu titik persilangan. Cara
penggambaran silangan sebagai berikut : jika benang lusi berada

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

diatas benang pakan maka pada kotak tersebut diberi tanda


silang atau arsir, tetapi bila benang pakan berada diatas benang

lusi makakotak tersebut dibiarkan kosong.


Dengan tanda
Tanda-tanda yang digunakan berupa angka

diatas

garis

datar,angka dibawah garis datar, garis miring, dan angka


dibelakang garis miring. Angka diatas garis datar menunjukkan
efek lusi dan dibawah garis datar menunjukkan efek pakan
dengan cara pembacaan angka mulai dari angka paling kiri atas
kemudian bawah dan seterusnya. Garis miring menunjukkan
arah dari pergeseran benang dan angka dibelakang garis miring
merupakan angka loncat dari anyaman.
B. Nomor Benang
Nomor benang (yarn count) adalah kehalusan benang, yang
dinyatakan dalam satuan berat setiap panjang tertentu atau panjang
setiap berat tertentu.
Table 1.1 Satuan Inggris
Satuan Berat
1 pound (lbs) = 16 ounces
= 7000
grains

Satuan Panjang
1 hank

1 lea
1 yard
= 453,6 gram
1 inchi

= 840 yard
= 768 meter
= 120 yard
= 36 inchi = 0,914 meter
= 2,54 cm

Tabel 1.2 Satuan Metrik

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Satuan Berat
Kilogram (kg)
Gram (g)
Milligram (mg)
Dst

Satuan Panjang
Kilometer
Meter
Centimeter
Milimeter, dst

Penomoran benang dibagi menjadi dua bagian besar yaitu :


Penomoran langsung
Penomoran langsung adalah penomoran benang yang didasarkan
pada berat benang setiap panjang tertentu. Nomor benang
langsung yaitu :
Nomor benang cara Denier (TD)
TD
= berat (gram) / panjang (9000 m)
= [9000 x berat (gram)] / panjang (m)

Nomor benang caraTex


Tex = berat (gram) / panjang (1000 m)
= [1000 x berat (gram)] / panjang (m)

Penomoran Tidak langsung


Penomoran benang tidak langsung adalah penomoran benang yang
didasarkan pada panjang benang setiap berat tertentu. Nomor
benang tidak langsung yaitu :
Penomoran cara Inggris
Ne1 = panjang (hank) / berat (lbs)
Penomoran cara Metrik
Nm = panjang (m) / berat (gram)

Table 1.3 Rumus Cepat Untuk Menghitung Konversi Nomor


Benang
Nomor

Ne1

Nm

TD

Tex

Ne1

0,59 Nm

5315/TD

590/Tex

Nm

1,69 Ne1

9000/TD

1000/Tex

TD

5315/Ne1

9000/Nm

9 Tex

Tex

590/Ne1

1000/Nm

TD/9

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

C. Tetal Benang
Tetal benang adalah kerapatan benang pada kain atau jumlah
benang setiap satuan panjang tertentu, misalnya jumlah benang setiang
inchi atau cm. Ada beberapa cara menentukan tetal benang, yaitu :
Dengankaca pembesar
Dengan kaca penghitung secara bergeser
Dengan cara urai
Dengan proyektor
Dengan parallel line grating
Dengan taper line grating
D. Mengkeret Benang
Apabila benang ditenun maka akan berubah panjangnya, hal ini
karena adanya silangan pada kain. Untuk menyatakan perubahan
ukuran tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
Crimp
Adalah prosentase perubahan panjang benang dari keadaan lurus
(pb) menjadi panjang kain tenun (pk) terhadap panjang kain tenun.
Crimp
= [(Pb Pk) / Pk] x 100%

Take Up
Adalah prosentase perubahan panjang benang dari keadaan lurus
(pb) menjadi panjang kain tenun (pk) terhadap panjang benang
dalamkeadaan lurus.
Take Up (T)
= [(Pb Pk) / Pb] x 100%

III. PRAKTIKUM
A.

Pengujian Anyaman Kain Tenun


1. Peralatan
Kaca pembesar
Gunting
Jarum
Kertas disain
Pensil
2. Persiapan Contoh Uji

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Kondisikan kain yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian.


3. Cara Pengujian
Tentukan arah lusi dan arah pakan dan arah pakan diberi tanda
panah, dengan pedoman :
Arah lusi sejajar dengan pinggir kain.
Pada kain biasanya terdapat garis-garis sisir, berupa garis

lurus,arah garis lurus tersebut searah lusi.


Bila salah satu arah adalah benang gintir maka benang gintir

adalah benang lusi.


Untuk kain grey bila kedua benang adalah benang tunggal

maka yang dikanji adalah benang lusi.


Tetal lusi biasanya lebih tinggi dari tetal pakan.

Tentukan pada kertas disain yang mewakili lusi dan pakan.


Pada kain tentukan mana yang dipakai acuan sebagai lusi pertama

dan pakan pertama, demikian juga pada kertas disain.


Dengan kaca pembesar dan dibantu jarum, buka dan amati lusi
pertama dan pakan pertama, kedua, ketiga ,dan seterusnya,untuk

efeklusi diberi tanda silanga tau arsiran pada kertas disain.


Seterusnya amati lusi kedua dan seterusnya.
Apabila dengan cara diatas sukar maka yang dibuka adalah pakan
pertama dan lihat efeknya terhadap lusi pertama, kedua, dan
seterusnya. Untuk efeklusi diberi tanda silanga tau arsiran pada

kertas disain.
Apabila efek

anyaman

sudah

berulang

berarti

satu

raport

anyaman telah tercapai dan pada kertas pola diberi tanda satu

raport anyamannya.
Gambar pada kertas disain satu raport anyaman, buat rumus
anyamannya dan nama anyamannya.

B.

Pengujian Nomor Benang


1. Peralatan
Meteran dengan skala milimeter
Jarum

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Gunting
Timbangan

2. Persiapan Contoh Uji


Kondisikan kain yang akan diuji dalam ruangan standar contoh uji.
3. Cara Pengujian
Potong contoh uji sejajar dengan benang lusi dan benang pakan

dengan ukuran 20 cm x 20 cm.


Ambil 20 helai benang lusi/pakan dari kain diatas, masing-masing

10 helai dari kedua pinggirnya.


Timbang 20 helai benang

lusi/pakan

dengan

timbangan

(sensitifitas 0,01 mg), kemudian ukur panjang masing-masing


benang lusi/pakan dengan tegangan benang tidak terlalu besar

C.

juga tidak kendor.


Hitung nomor benang dalam Ne1, Nm, TD, dan Tex.
Pengujian Tetal Benang Lusi/Pakan

1. Peralatan
Kaca pembesar dengan skala inci
Jarum
2. Persiapan Contoh Uji
Kondisikan kain yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian.
3. Cara Pengujian
Ratakan kain tanpa tegangan pada meja pemeriksaan.
Dengan kaca pembesar dibantu jarum, hitung jumlah lusi atau

pakan setiap inci.


Pengujian dilakukan paling sedikit di lima tempat yang berbeda

secara merata.
Jika tetal lusi atau pakan kurang dari 10 helai tiap cm maka
lakukan pengujian setiap 7,5 cm.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Jika lebar kain kurang dari 7,5 cm maka seluruh benang dihitung.
Hitung rata-rata tetal lusi dan tetal pakan.

D.

Pengujian Mengkeret Lusi/Pakan


1. Peralatan
Meteran dengan skala milimeter
Gunting
2. Persiapan Contoh Uji
Kondisikan kain yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian.
3. Cara Pengujian
Potong contoh uji sejajar benang lusi dan benang pakan dengan
ukuran 20 cm x 20 cm.
Ambil 20 helai benang lusi/pakan dari kain.

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


No.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Tetal hl/ inch


Lusi
Pakan
98
98
98

54
54
54

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Panjang (cm)
Lusi
Pakan
21
21
21
21
21
21
21

21
21
21
21
21
21
21

Kain

Berat
Lusi(mg)

Pakan(mg)

(g)
3,79

32

30

8.
9.
10.

294
98

162
54

Mengkeret Lusi

21
21
21
210
21

21
21
21
210
21

=
= 4,76 %

Mengkeret Pakan =

=
= 4,76 %

Nomer Benang Lusi

Nm =

65,62

Ne1 = 0,59 Nm = 0,59 X 65,62 = 38,71

Tex =

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

15,23

Td =

137,15

Nomer Benang Pakan

Nm =

70

Ne1 = 0,59 Nm = 0,59 X 70 = 41,31

Tex =

14,28

Td =

131,004

Gramasi Kain :
Berat kain / m2 = 3,79 X 25= 94,75 g

V. DISKUSI
Dalam

praktikum

kali

ini

ada

beberapa

masalh

yaitu

penimbangan benang yang menggunakan neraca elektrik dank arena


bantalan tidak rata maka nilai di skala tidak pas 0

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Anyaman kain tenun yaitu anyaman polos


Gramasi kain tersebut adalah 94,75 g
Nomor benang Lusi 38,71
Nomor benang pakan Ne 41,31

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

Lampiran Kontruksi Kain

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

10

BENANG
PAKAN
BENANG
LUSI

PENGUJIAN KEKUATAN TARIKAN CARA PITA TIRAS

I. MAKSUD TUJUAN :
melakukan pengukuran terhadap beban maksimum yang dapat ditahan
oleh suatu contoh uji kain tenun dengan ukuran (3 x 20) cm.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

11

II. TEORI DASAR :


Contoh uji digunting ukuran (3 x 20) cm, ditiras menjadi (2,5 x 20) cm,
dipasangkan pada dua buah penjepit. Dan pada salah satu penjepit
ditarik, sedangkan penjepit yang lainnya diam. Penirasan dimaksudkan
agar benang pada kain tidak melesak ke pinggir, sehingga sebagian
benang benang tersebut tidak putus sebelum waktunya. Bila benang
sampai melesak keluar, maka kekuatan tarik yang dihasilkan akan
menjadi lebih kecil dari yang semestinya. Pengujian jenis ini dilakukan
untuk kain kain yang mudah terurai. Untuk mendapatkan hasil
pengujian yang maksimal, sebelum dilakukan pengujian, harus dilihat
dahulu kontruksi dari kain yang yang akan diuji. Setelah hal itu
teridentifikasi dengan baik, maka baru ditentukan metoda pengujian yang
harus digunakan pada kain tersebut. Jadi pengujian ini ditujukan untuk
mengukur beban maksimum yang dapat ditahan oleh kain, hingga kain
tersebut putus. Pada saat putus, kain tersebut mendapat pertambahan
panjang yang disebut mulur kain. Jadi kekuatan kain yang diukur
merupakan kekuatan minimum dari kain tersebut, baik untuk arah lusi
maupun arah pakan. Sedangkan mulur yang diukur merupakan mulur
pada saat putus.

III. PRAKTIKUM :
A.
ALAT BAHAN

Dinamometer yang merupakan sistem kecepatan penarikan tetap


(constant rate of traverse), yang dilengkapi dengan:

Penjepit atas

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

12

Penjepit bawah, yang dapat bergerak ke bawah atau ke atas.

Beban 100 Kg

Jarak jepit 7,5 cm

Skala mulur dalam centimeter dan skala kekuatan dalam kilogram.

Penggerak motor.

Kecepatan penarikan 30 1 cm per menit dengan waktu putus 20


3 detik sejak penarikan.
Adapun bahan yang digunakan yaitu kain tenun dengan ukuran (3 x
20) cm, yang ditiras menjadi (2,5 x 20) cm.

20 cm

3 cm

B.

20 cm

2,5 cm

CARA KERJA

Gunting contoh uji dengan ukuran (3 x 20) cm, lalu tiras arah
panjang kain, hingga lebar kain 2,5 cm. Besarnya tirasan di kedua
pinggir hendaknya sama. Hasil tirasan tidak digunting.

Kondisikan contoh uji, hingga mencapai keseimbangan lembab.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

13

Aturlah jarak jepit sehingga 7,5 cm. Pasangkan beban sesuai


dengan contoh uji.

Skala mulur harus dinolkan.

Aturlah jarum skala kekuatan pada titik nol.

Pasangkanlah kain contoh uji pada penjepit. Pada saat pemasangan


contoh uji, pada penjepit atas seluruh contoh uji boleh dipasangkan
semuanya. Hal ini agar tidak terlalu berulangnya bongkar-pasang
contoh uji pada penjepit. Pemasangan contoh uji yang sekaligus
mengakibatkan mengecilnya kemungkinan contoh uji untuk slip dari
penjepit atas. Namun demikian bila pemasangannya kurang teliti,
yang terjadi malah sebaliknya.

Pasangkanlah contoh uji bagian bawah, pada penjepit bawah.


Namun, pemberian tegangan awal hendaknya tidak melebihi batas
toleransi. Adapun batas toleransinya yaitu sebesar 6 ons atau kira
kira 3 kg.

Jalankan motor dengan menekan tombol penggerak motor ke atas.

Putar tombol penarik penjepit bawah ke bawah. Injak pedal motor,


maka penjepit bergerak ke bawah. Ketika mulur tepat pada saat
putus, pedal motor dilepas.

Amati skala kekuatan dan mulur yang dihasilkan dari hasil


pengujian. Pada saat putus kedudukan ayunan terletak diantara 9
45o terhadap garis tegak lurus.

Skala yang dibaca, yaitu skala bagian tengah, karena digunakan


bebannya 100 kg.

Untuk mengembalikan penjepit bawah ke posisi semula, dengan


cara memutar tombol penjepit bawah ke atas, dan pedal motor
diinjak.

Lakukan pengujian untuk 3 contoh uji. Masing masing untuk arah


lusi dan pakan.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

14

IV. DATA DAN PERHITUNGAN

No.

Kekuatan (Kg)

Lusi

Mulur (%)

Pakan

( xx )

( xx )

Kekuatan
Lusi
Pakan

Lusi

Paka

0,6889

Mulur

Lusi

Pakan

1,3689

0,129

4.84

1.

22

17.5

44

n
46.6

2.

24,6

18.5

46.6

46.6

4,7089

0,4489

5.01

4.84

3.

29,5

16.5

42.6

40

1,7689

3,3489

3.09

19.36

76,1

52.5

133.1

133.2

7,1667

5,1667

8.22

29.04

25,3

17.5

44.36

44.4

2,38

1,72

2.74

9.68

Rata rata kekuatan tarik lusi (N)

kekuatan 9,8

= 25.3 9,8
= 247.98 N

Rata rata kekuatan tarik pakan (N) =

x kekuatan 9,8

= 17.5 9,8
= 171.5
Lusi

Kekuatan
S=
=

(x x )
n1
28.93
2

= 3.80

CV =

S
x

3.80
25.3

100 %
100 %

= 15.01 %

Mulur

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

15

S=
=

(x x )
n1

CV =

8.22
2

S
x

100 %
2.02
44.36

100 %

= 4.5 %

= 2.02

Pakan
Kekuatan
S=
=

(x x )
n1
2
2

S
x

1
17.5

100 %
100 %

= 5.71 %

=1

CV =

Mulur
S=
=

(x x )
n1
29.04
2

= 3.81

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV =
=

S
x

100 %
3.81
44.4

100 %

= 8.5 %

16

V. DISKUSI :
Pemotongan contoh yang tidak tepat membuat ukuran contoh uji kurang
dari semestinya sehingga membuat kekuatan berkurang karena terlalu
mudah untuk ditarik.

VI. KESIMPULAN:

Rata rata kekuatan tarik lusi (N) = 247.98 N

Rata rata kekuatan tarik pakan (N) = 171.5 N

Rata rata mulur lusi = 44,36 %

Rata rata mulur pakan = 44,40 %

S dan CV
Lusi
Kekuatan
S = 3.80

CV = 15.0

Mulur
S = 2.02

CV = 4.5 %

Pakan
Kekuatan
S=1

CV = 5.71 %

Mulur
S = 3.81

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV = 8.5 %
17

Lampiran Kekuatan Tarik Kain Cara Pita Tiras

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

18

PENGUJIAN KEKUATAN TARIKAN CARA PITA POTONG

I. MAKSUD TUJUAN :
Untuk melakukan pengukuran terhadap beban maksimum yang dapat
ditahan oleh suatu contoh uji kain tenun dengan ukuran (2,5 x 20) cm.

II. TEORI DASAR :


Kain tenun dipotong dengan ukuran (2,5 x 20) cm, pada kedua ujung
contoh uji dijepit dan diberi tegangan sampai kain tersebut menjadi
putus. Jadi yang diukur adalah beban maksimum yang

dapat

ditahan

oleh kain, hingga kain tersebut putus. Pada saat putus, kain tersebut
mendapat pertambahan panjang yang disebut mulur kain. Jadi kekuatan
kain yang diukur merupakan kekuatan minimum dari kain tersebut, baik
untuk arah lusi maupun arah pakan. Sedangkan mulur yang diukur
merupakan mulur pada saat putus. Kekuatan tarik kain merupakan daya
tahan kain terhadap tarikan baik pada arah lusi maupun pakan.
Pada pengujian kekuatan tarik ini ada 3 cara yang digunakan, yaitu:
-

Cara pita potong


Cara pita tiras
Cara cekau

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

19

Ketiga pengujian dari mulai perlakuan contoh uji sampai dengan tata cara
pengujiannya pun sama. Yang membedakan ketiga cara ini hanyalah
ukuran contoh uji. Jadi dalam perhitungan hasil pengujian yang dihitung
adalah kekuatan serta mulur dari kain yang diuji. Pengujian dengan cara
pita potong umumnya digunakan untuk kain kain yang dilapisi.

III. PRAKTIKUM :
A. ALAT BAHAN

Dinamometer yang merupakan sistem kecepatan penarikan tetap

(constant rate of traverse), yang dilengkapi dengan:


Penjepit atas
Penjepit bawah, yang dapat bergerak ke bawah atau ke atas.
Beban 50 Kg
Jarak jepit 7,5 cm
Skala mulur dalam centimeter dan skala kekuatan dalam kilogram.
Penggerak motor.
Kecepatan penarikan 30 1 cm per menit dengan waktu putus 20
3 detik sejak penarikan.
Adapun bahan yang digunakan yaitu kain tenun dengan ukuran (2,5 x
20) cm.

20 cm

2,5 cm

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

20

B. CARA KERJA
Kondisikan contoh uji hingga mencapai keseimbangan lembab.
Gunting contoh uji dengan ukuran (2,5 x 20)cm
Aturlah jarak jepit sehingga 7,5 cm. Pasangkan beban sesuai dengan
contoh uji.
Skala mulur harus dinolkan.
Aturlah jarum skala kekuatan pada titik nol.
Pasangkanlah kain contoh uji pada penjepit. Pada saat pemasangan
contoh uji, pada penjepit atas seluruh contoh uji boleh dipasangkan
semuanya. Hal ini agar tidak terlalu berulangnya bongkar-pasang
contoh uji pada penjepit. Pemasangan contoh uji yang sekaligus
mengakibatkan mengecilnya kemungkinan contoh uji untuk slip dari
penjepit atas. Namun demikian bila pemasangannya kurang teliti, yang
terjadi malah sebaliknya.
Pasangkanlah contoh uji bagian bawah, pada penjepit bawah. Namun,
pemberian tegangan awal hendaknya tidak melebihi batas toleransi.
Adapun batas toleransinya yaitu sebesar 6 ons atau kira kira 3 kg.
Jalankan motor dengan menekan tombol penggerak motor ke atas.
Putar tombol penarik penjepit bawah ke bawah. Injak pedal motor,
maka penjepit bergerak ke bawah. Ketika mulur tepat pada saat putus,
pedal motor dilepas.
Amati skala kekuatan dan mulur yang dihasilkan dari hasil pengujian.
Pada saat putus kedudukan ayunan terletak diantara 9 45 o terhadap
garis tegak lurus.
Skala yang dibaca, yaitu skala bagian tengah, karena digunakan
bebannya 100 kg.
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

21

Untuk mengembalikan penjepit bawah ke posisi semula, dengan cara


memutar tombol penjepit bawah ke atas, dan pedal motor diinjak.
Lakukan pengujian untuk 3 contoh uji. Masing masing untuk arah lusi
dan pakan.

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


No.

Kekuatan (Kg)

Lusi

Pakan

Mulur (%)

( xx )

( xx )

Mulur

Lusi

Paka

Kekuatan
Lusi
Pakan
1,69

0.25

9.61

1.79

Lusi

Pakan

1.

20

17

40

n
49.3

2.

21

17.5

45.3

48

0.09

4.84

0,0016

3.

23

18

44

46.6

2.89

0.25

0.81

1.84

64

52.5

129.3

143.9

4.67

0.5

15.26

3.64

21.3

17.5

43.1

47.96

1.55

0.166

5.08

1.21

Rata rata kekuatan tarik lusi (N)

kekuatan 9,8

= 21.3 9,8
= 208.74 N

Rata rata kekuatan tarik pakan (N) =

kekuatan 9,8

= 17.5 9,8
= 171.5 N
Lusi

Kekuatan
S=
=

(x x )
n1
4.67
2

= 1.52

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV =

S
x

1.25
21.3

100 %
100 %

= 7.31 %

22

Mulur
S=
=

(x x )
n1
15.25
2

= 2.76

CV =
=

S
x

100 %

2.76
43.1

100 %

= 6.40 %

Pakan
Kekuatan
S=
=

(x x )
n1
0.5
2

= 0.5

CV =

S
x

0.5
17.5

100 %
100 %

= 2.85 %

Mulur
S=
=

(x x )
n1
3.64
2

= 1.34

CV =
=

S
x

100 %
1.34
47.96

100 %

= 2.79 %

V. DISKUSI :
Pada saat praktikum kali ini ada beberpa masalah yang dihadapi
yang mmbuat data kurang valid yaitu saat pemasangan contoh uji di klep

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

23

yang kurang lurus membuat kain terkadang selip, selain itu pemotongan
contoh uji diawal yang kurang lurus mempengaruhi dat yang didapat.

VI.

KESIMPULAN :

Rata rata kekuatan tarik lusi (N)

Rata rata kekuatan tarik pakan (N) = 171.5 N

Rata rata mulur lusi

Rata rata mulur pakan = 47,96 %

= 208.74 N

= 43,1%

S dan CV

Lusi

Kekuatan
S = 1.52

CV = 7.31 %

Mulur
S = 2.76

CV = 6.40 %

Pakan
Kekuatan
S = 0.5

CV = 2.85 %

Mulur
S = 1.34

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV = 2.79 %
24

Lampiran Kekuatan Tarik Kain Cara Pita Potong

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

25

PENGUJIAN KEKAKUAN KAIN

I. MAKSUD TUJUAN :
Melakukan serangkaian pengujian terhadap kekakuan kain dengan
menggunakan alat Stiffness Shirley Tester agar kita mengetahui tentang
kekakuan kain.

II. TEORI DASAR :


Kekakuan pada kain merupakan salah satu sifat dari kain yang susah
ditentukan dalam angka pada suatu pengujian. Dan definisi tentang
kekakuan ada beberapa macam, yaitu :
a. Kekakuan lentur (flexual rigidity) ialah besarnya momen pada ujung
kain dengan lebar kain tertentu membentuk lengkungan tertentu.
Dasar kekakuan lentur dinyatakan dalam mg cm. Kekakuan lentur
berhubungan dengan rasa pegangan. Kain dengan kekakuan lentur
tinggi cenderung mempunyai rasa pegangan kaku.
b. Panjang lengkung (bending length) ialah panjang kain damal cm
membentuk

lengkungan

sampai

mencapai

sudut

7,1 o.

Untuk

mendapatkan ketelitian yang baik maka dalam pelaksanaan pengujian


panjang

lengkungan

dihitung

setelah

panjang

kain

membentuk

lengkungan pada 41,5o.


c. Kekakuan lentur lusi atau panjang lengkung lusi ialah lenturan atau
lengkungan yang hanya disebabkan benang lusi.
d. Kekakuan lentur pakan atau panjang lengkung pakan ialah lenturan
atau lengkungan yang hanya disebabkan benang pakan.
Prinsip pengujian menggunakan Stiffness Shirley Tester ialah kain
contoh uji berukuran 20 x 2,5 cm disangga oleh bidang datar yang
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

26

kemudian digeser sehingga tepi depan kain menyinggung suatu bidang


miring yang membentuk sudut 41,5o. Kekakuan lentur dihitung dari
panjang langsung dan berat per satuan luas.

III. PERCOBAAN :
B.

ALAT BAHAN
Stiffness Shirley Tester
Gunting
Penggaris
Alat tulis.

C.

CARA KERJA

Mempersiapkan bahan contoh uji dengan ukuran 20 x 2,5 cm


sebanyak 3 buah untuk masing-masing arah benang (lusi dan

pakan).
Melakukan pengujian dengan meletakkan contoh uji pada bidang

datar di alat.
Mengatur posisi contoh uji agar ujungnya berhimpit dengan tepi
skala yang ada pada alat, lalau menghimpitkan bidang geser pada

contoh uji yang telah siap.


Kemudian menggeserkannya hingga contoh uji menjulur dan kedua

ujungnya berhimpit pada kedua garis yang ada.


Dan setelah beberapa saat barulah membaca skala kekakuan.
Melakukan pengujian lagi untuk 3 buah contoh uji untuk masingmasing arah benang (lusi dan pakan) dan tiap contoh uji bagian
yang diuji adalah ujung bagian depan; belakang; sehingga dari satu
contoh uji mendapatkan 2 data sekaligus.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

27

IV DATA DAN PERHITUNGAN


No.

Lusi (cms)

Pakan (cms)

1.

2.3

1,9

1,8

2.

2.3

2.3

1,9

1,9

3.

2.1

2.1

2.5

1,9

1,8

4.

2.3

2.2

1,9

28.4

23.1

2.36

1.92

W (Berat Kain)
Tebal Kain

= 94.75 g
= 0,205 mm

a. GL

= 0,1.W.CL3
= 0,1.94.75.(2.36)3
= 124.54 mg.cm

b. GP

= 0,1.W.CL3
= 0,1.94.75.(1,92)3
= 67.06 mg.cm

c. GT

=
=

= 0,0205 cm

GL >

124.54 67.06

= 91.38 mg.cm
d. Q

12> 106
3
0,02

12.91 .38 10
3
0,0205

= 127.28

V. DISKUSI :

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

28

Pada praktikum kali ini maslaah yang ada yanitu saat melakukan
penyetrikan untuk dibalik kearah sebaliknya yang kurang maksimal
membuat data yang didapat kurang sesuai.

VI.

KESIMPULAN :
Kesimpulan yang dapat dicapai ialah sebagai berikut :

KL (Kekakuan Lusi)
KP (Kekakuan Pakan)
K (Kekakuan Total)
Bending Modulus (Q)

=
=
=
=

124.54 mg.cm
67.06 mg.cm
91.38 mg.cm
127.28

Lampiran

UJI KEKUATAN JEBOL KAIN RAJUT


( CARA DIAGFRAMA )
I.

MAKSUD TUJUAN

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

29

Untuk menentukan besarnya kekuatan atau gaya yang diperlukan untuk


menjebol atau memecahkan kain rajut.
II.

TEORI DASAR
Kekuatan jebol adalah tekanan maksimum yang diperlukan untuk
menjebol kain rajut dan dinyatakan dengan Kpa atau Kg/cm.Untuk
menghitung ketahanan jebol ini digunakan alat uji kekuatan jebol yang
dilengkapi dengan diagframa dari karet dan penunjuk tekanan dalam
satuan Kg/cm.Alat ini memberikan tekanan pada kain rajut sampai kain
rajut tersebut jebol atau berlubang.
Pengujian tahan jebol atau tahan pecah dilakukan terhadap beberapa
jenis kain yang memperhatikan ketahanan pecah. Selain itu diperlukan
pula untuk pengujian tahan pecah kertas.
Pengujian tahan jebol dikenal dua macam cara, yaitu :

Pengujian dengan penarikan tetap dengan bola penekan


Pengujian dengan car diafragma

Alam praktek pengujian dilakukan dengan penarikan tetap dengan bola


penekan. Pengujian ini dilakukan dengan tipe pendulum yang dilengkapi
engan bola baja yang mendorong contoh penjepit yang berbentuk cincin
untuk menegengkan contoh uji.
Peralatan ini terpasang pada alat pendulum sedemikiam rupa sehingga
pada saat jalan bola akan mendorong kain ke atas.

Beban yang

diperlukan untuk memecahkan/menjebol kain oleh bola menunjukan


kekuatan peca/jebol suatu contoh uji.

III. PRAKTIKUM
A.
ALAT BAHAN

Kain Rajut

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

30


B.

Burstreng Tester
Langkah Kerja
Mengatur

diagframa

pada

alat

sampai

rata

dengan

menghilangkan tekanannya.Setiap pengujian skala harus menunjukan

angka nol.
Menjepit contoh uji dengan kuat.
Menaikan terhadap tekanan setelah kain itu jebol,lalu dilihat

sakalanya.
Mengulanginya 4 kali pada tempat yang berbeda.

IV. DATA dan PERHITUNGAN


Percobaan ke

Kekuatan (kg/cm)

( xx )

1
2
3
4

7
10
6
9
32
8

1
4
4
0,0625
9,0625
2.26

S=
=

(x x )
n1
9.06
3

= 1.73

V.

CV =
=

S
x

100 %

1.73
8

100 %

= 21.62 %

DISKUSI
Setelah dilakukan percobaan,ternyata hasilnya 8 untuk sudut-sudut kain
yang berbeda, ini dapat digolongkan sebagi kain yang sedang atau
lumyan bagus

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

31

VI.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat diperoleh data sebagai berikut :

RATA RATA Kekuatan tahan jebol kain contoh uji = 8 Kg/cm

Standard deviasi = 1.73

CV

= 21.62 %

Lampiran

PENGUJIAN DAYA TEMBUS UDARA (DTU)

I. MAKSUD TUJUAN :
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

32

Menguji Daya Tembus Udara yang dilakukan pada kain contoh


Menghitung Harga Daya Tembus Udara pada kain contoh

II.

TEORI DASAR :
Daya Tembus Udara (Air Permeability), yaitu untuk menyatakan
berapa volume udara yang dapat melalui kain pada suatu satuan luas
tertentu dengan tekanan tertentu, satuan misalnya Cm 3/detik/Cm2/I Cm
tekanan air.
Tekanan terhadap udara (Air Resistsnt), adalah untuk menyatakan
berapa lama waktu tiap volume udara tertentu dapat melalui kain tiap
satuan luas tertentu dengan tekanan tertentu pada tekanan udara tertentu,
satuannya misalnya detik/m3/Cm2/I Cm tekanan air.
Rongga udara (Air Porosity)
1.

Kadang-kadang ada yang menyamakan dalam pemakaian seperti


iar permeability.

2.

Adalah untuk menyatakan berapa prosentase volume udara


dalam kain terhadap volume keseluruhan air tersebut.

Dari beberapa alat yang dipakai untuk mengukur daya tembus udara,
semuanya dilengkapi dengan bagian sebagai berikut :

Pemegang contoh dengan luas lubang tertentu

Alat penghisap udara

Pengatur tegangan udara yang melalui contoh dengan


skala besarnya tekanan.

Skala untuk mencatat hasilnya

Pada praktikum kali ini alat yang dipergunakan adalah IN. ELLISON
INCLINED CAGE DRAFT buatan United States Testing Company Inch, Hoboken
N.G.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

33

Alat ini terdiri dari suatu tabung yang pada salah satu sisinya terdapat
klem pemegang contoh kain dengan luas lubang tertentu. Juga terdapat
cincin klem dengan beberapa ukuran untuk disesuaikan dengan tebal kain
yang diuji. Sisi lain dari tabung tersebut dihubungkan dengan kipas (fan)
penghisap udara yang dapat diatur kecepatannya oleh sebuah Rheostat.
Ditengah tengah tabung diberi sekat yang berlubang, dimana besar lubang
dapat diatur dengan menggunakan mulut (Orifice). Ada 8 buah orifice dari
ukuran 2 mm sampai 16 mm diameternya, disesuaikan dengan besar
kecilnya daya tembus udara dari kain yang diuji. Kapasitas alat, dapat
mengukur daya tembus udara 4,0 794 ft 3/menit/ft2 dengan tekanan udara
inch tinggi air.
Dibawah ini adalah tabel yang menyatakan hubungan antara diameter
Diameter Orifice
(mm)
2

Daya Tembus Udara (ft3/menit/ft2)


Harga Minimal
Harga Maksimal
4,0
11,4

9,3

26,6

20,0

58,0

32,0

92,0

40,0

113,0

72,0

197,0

11

137,0

375,0

16
292,0
794,0
orifice dengan harga minimal dan harga maksimal daya tembus udara
terhadap kain contoh.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

34

III.

PRAKTIKUM :
A.
ALAT BAHAN

IN. ELLISON INCLINED CAGE DRAFT buatan USA

Kain contoh

B. LANGKAH KERJA :

Pasang kain contoh uji pada lubang tempat contoh uji, kemudian jepit
dengan cincin yang sesuai hingga kain cukup tegang dan kemudian
lubang ditutup

Pasang Orifice terpilih yang cocok untuk kain tersebut sehingga angka
pada manometer air ada diantara 2 sampai 4

Jalankan kipas penghisap udara

Atur rheostat agar tekanan udara sesuai dengan tekanan 12,7 mm (0,5
inch) air dengan indicator baca pada manometer minyak menunjukkan
skala 0,5 dan konstan

Baca manometer air dan hitung harga daya tembus udaranya

X = Harga Daya Tembus Udara


H = Harga Maksimal Orifice
h = Harga Minimal Orifice

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

35

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


Diameter orifice yang digunakan : 11 mm
Percobaan

Harga Manometer air

Harga Manometer

5
5
5
15
5

Air
10
10,8
10,2
31
10,31

1
2
3

air2
(Hh) }
{ Harga Manometer
152
10.332
= 137 + { 152 (375137) }

X= h +

= 289.5 ft3/menit/ft2

air2
(Hh) } 0,508
{ Harga Manometer
152
10.332
= 137 + { 152 (375137) } 0,508

X= h +

= 214.47 cm3/menit/cm2

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

36

V. DISKUSI :
Pada praktikum kali ini yang perlu diperhatikan yaitu saat memilih
orifice dimana itu membutuhkan waktu. Pembacaat manometer air dan
manometer minyak yang kurang teliti menyebabkan data yang didapat tidak
begitu tepat namun masih bisa ditoleransi.

VI.

KESIMPULAN :
Orifice yang dipakai = 11
Harga rata rata manometer air 10,31
X(1) = 289.5 ft3/menit/ft2
X (2)= 214.47 cm3/menit/cm2

Lampiran

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

37

PENGUJIAN DRAPE KAIN (KELANGSAIAN KAIN)

I.

MAKSUD TUJUAN
Maksud dari praktikum kali ini yaitu agar praktikan dapat mengetahui
pengujian

drape

kain

dengan

alat

alat

software

drape

tester.

Sedangkan tujuannya yaitu agar praktikan dapat melakukan praktikum


tersebut sesuai dengan prosedur yang telah diberikan.

II.

TEORI DASAR
Drape adalah kemampuan kain untuk memiliki kemampuan nilai
estetika ketika dikenakan baik sebagai bahan busana atau produk
tekstil lainnya. Adapun tidak semua jenis kain harus memiliki drape
yang baik. Pada percobaan drape kain ini ada dua hal yang perlu
diperhatikan diantaranya adalah proses pemisahan bahan-bahan yang
memiliki pegangan dan drape serta disain instrument yang cocok
untuk menyukai sifat-sifat kain secara individu. Yang kedua adalah
menggunakan

teknik

statistic

untuk

menentukan

kesimpulan

mengenai hubungan antara hasil-hasil pengujian yang dinilai secara


individu.

III.

PRAKTIKUM
A. ALAT BAHAN

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

38

Seperangkat alat computer yang dilengkapi dengan drape


tester.
Kain contoh uji dengan diameter 25,4 cm.

B. Cara Kerja
1. Mengaktifkan computer terlebih dahulu.
2. Mempersiapkan contoh uji yang pada bagian tengahnya diberi
lubang yang kecil hingga membentuk seperti bulatan kecil.
3. Menyalakan drape tester dengan cara membuka kaca ( dengan cara
ditarik ).
4. Kemudian contoh uji dimasukan dan dikaitkan pada piringan yang
tersedia didalam.
5. Klik reset, ketika nama praktikan dan warna dari contoh uji.
IV.

DATA DAN PERHITUNGAN

N
O
1
2
3
4
5
6
7

PENGAMATAN
Jari-jari sample (B)
Jari jari landasan (A)
Luas Sample (B)
Luas Landasan (A)
Jari-jari Rata-rata Drape (C)
Luas Drape (C)
Dape %

DEPAN
125 mm
63.5 mm
50670.75 mm
12468.98 mm
90.42 mm
25684.96 mm
34.60 %

BELAKANG
127 mm
63.5 mm
50670.75 mm
12468.98 mm
90.67 mm
25827.19 mm
34.97 %

Perhitungan

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

39

(Depan) % Drape =
=

Luas DrapeLuas Landasan


Luas SampelLuas Landasan
25684.9612468.98
50670,7512468,98

100%

100%

= 34.59 %

(Belakang) % Drape =
=

Luas DrapeLuas Landasan


Luas SampelLuas Landasan

25827.1912468,98
50670,7512468,98

100%

100%

= 34.96 %
Total Drape : Drape depan + Drape Belakang / 2
: 43.59 + 34.96 / 2
: 34.77 %
V. DISKUSI
Pada praktikum kali ini ada sedikit masalah yang mengganjal yaitu
masalah vital dimana pemotongan bentuk bulat yang tidak benar
benar bulat atau kurang dari ukuran yang semestinya membuat hasil
yang didapat kurang sesuai

VI.

KESIMPULAN
Dari praktikum uji kelangsaian kain ini didapatkan koefisien drape
sebesar
(Depan) % Drape = 34.59 %
(Belakang) % Drape = 34.96 %
Total Drape
= 34.77 %

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

40

PENGUJIAN KEMAMPUAN KEMBALI DARI LIPATAN (SUDUT KUSUT)

I. MAKSUD TUJUAN :
Mengetahui kemampuan kain contoh uji untuk kembali dari sudut kusut
yang ditentukan

II.TEORI DASAR :
Ada dua istilah yang digunakan dalam pengujian ini, yaitu ketahanan
terhadap kekusutan dan kembali dari kekusutan. Kalau suatu barang
tekstil jelek crease resistencenya, maka jelek pula crease recoverynya,atau dengan kata lain kain tersebut mudah kusut. Masalah ini penting
karena menyangkut juga kenampakan/keindahan suatu kain. Ada macammacam alat yang dipakai untuk menentukan terhadap kekusutan
tersebut. Untuk pengujian contoh uji dipotong dengan lebar dan tidak
boleh kurang dari 0,4 inch (1 cm) dan tidak boleh lebih dari 1 inch (2,5
cm). Panjang contoh dua kali dari lebarnya. Kemudian contoh dikondisikan
dalam ruang standar. Siapkan alat pengukur crease recovery agar
setimbang.

Contoh

dilipat,

ujung-ujungnya

ditemukan

lalu

dijepit.

Masukkan contoh yang sudah dilipat ini diantara permukaan atas dan
bawah dari pemberat, sehingga lipatan contoh dan setengah luas contoh
tertutup

antara

dua

permukaan

tersebut.

Dibebani

4,5

pound/inch800gram/Cm) selama 3 menit. Setelah itu beban diangkat dan


contoh dipindahkan ke alat pengukur sudut crease recovery. Pindahkan
contoh yang telah diimpit tadi dengan menggunakan penjepit, kemudian
dengan hati-hati ujung contoh yang lain dimasukkan kedalam penjepit

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

41

yang dipasang pada piringan sedemikian, sehingga ujung contoh masuk


kedalam penjepit sejauh mungkin. Kemudian ujung yang lain dilepaskan
dari capit dan akan menggantung. Dari hal tersebut baca sudut yang
tertera pada alat.

Standar
x < 115o

Jelek

135 > x > 115

Cukup

x > 135

Baik

Jika sudut antara muka dan belakang < 15o maka data yang didapat
disatukan dan jika sudut antara muka dan belakang > 15o data yang
didapat dipisahkan.

III.

PRAKTIKUM :
A. ALAT BAHAN

Crease Recovery Tester ( AATC & SHIRLEY)

Beban 500 g (AATC) & 800 g (SHIRLEY)

Waktu 5 menit (AATC) & 8 menit (SHIRLEY)

Kain contoh uji

B. CARA KERJA

Lipat contoh uji jadi dua bagian kearah panjang, kemudian


letakkan dibawah beban seberat 500 gram dan diamkan selama
5 menit

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

42

Setelah 5 menit ambil salah satu ujung contoh uji kemudian


ujung yang lain dimasukkan pada penjepit yang ada pada alat.
Dengan posisi bagian lipatan menempel tepat pada ujung
penjepit dan ujung yang lainnya yang menjuntai segaris dengan
garis penunjuk horizontal diamkan selama 5 menit

Setelah 5 menit contoh uji yang menjuntai diatur kembali


posisinyaagar segaris dengan garis penunjuk horizontal,baca
sudut kembali sampai derajat terdekat dari busur derajat

Pengujian dilakukan untuk lipatan arah muka dan belakang kain


pada uji yang berbeda.

IV.

DATA DAN PERHITUNGAN

Depan
Belakang

Arah Lusi (derajat)


156
153

Arah Pakan (derajat)


137
143

130
145

132
140

*Cara Shirley beban 800 g = 3 menit

Depan
Belakang

Arah Lusi (derajat)


160
144

Arah Pakan (derajat)


149
148

132
136

144
150

*Cara AATC beban 500 g = 5 menit

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

43

V. DISKUSI
Ada sedikit masalah saat melakukan pengujian ini, yaitu Posisi contoh uji
tidak benar-benar tepat bertemu antara ujung yang satu dengan yang
lainnya agar didapatkan hasil yang maksimal dalam melakukan percobaan,
selain itu kain contoh uji harus benar-benar terimpit selama waktu yang
ditentukan, hal ini dilakukan agar mendapatkan hasil percobaan yang
maksimal dan dengan sendirinya akan maksimal juga pada perhitungan
akhir percobaan

VI. KESIMPULAN
Rata rata kembali dari lipatan pakan (Shirley) = 138 derajat
Rata rata kembali dari lipatan pakan (AATC) = 147,75 derajat
LAMPIRAN

PENGUJIAN TAHAN GOSOK

I.

MAKSUD TUJUAN

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

44

Untuk mengetahui ketahanan kain contoh terhadap gosokan yang


digunakan sebagai pembanding dari keadaan sebenarnya sewaktu kain
dipakai.
II.

TEORI DASAR
Salah satu factor yang menyebabkan kain mengalami keausan adalah
akibat adanya gosokan ,yaitu:

Friksi antara kain dan kain lainnya,misalnya antara lengan dan jas

Friksi antara kain dan benda lain

Friksi

antara

serat

dengan

kotoran

pada

kain,menyebabkan

putusnya serat
Pengujian tahan gosok hanyalah pengujian yang sederhana terhadap
mutu kain. Mengenai ketahanan kain terhadap kombinasi antara tekanan
dan pemotongan serat-serat,hasilnya masih harus dipertimbangkan lagi
dalam pengujian.Gosokan tidak hanya satu-satunya yang mempebgaruhi
keausan.
Beberapa hal yang penting diperhatikan sebelum seseorang akan
melakukan pengujian antara lain :
a. Pemilihan contoh
Contoh kain sebaiknya dikondisikan dalam ruang standar atmosfir.
b. Pemilihan alat
Tergantung

dari

karakter

pengujian

yang

diperlukan,apakah

menggunkan gosokan datar,tekanan dan lain-lain.


c. Karakter gerakan
Apakah arah gerakan bolak-balik,memutar dan lain-lain.
d. Pemilihan bahan penggosok
Mungkin berupa contoh kain itu sendiri,kain standar ,kain pelapis
dan lainnya.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

45

e. Pelapis contoh
Factor ini juga dapat mempengaruhi hasil pegujian
f. Kebersihan contoh dan alat
Daerah yang harus digosok dan penggosok harus dicegah dari
pengaruh tegangan dan bersih dari kotoran,hal ini akan sangat
berpengaruh juga pada hasil pengujian.
g. Tegangan pada contoh
h. Tekanan antara penggosok dan contoh
Beberapa cara untuk menilai kerusakan pada kain contoh adalah :

Kenampakan terhadap bagian contoh yang tidak tergosok.

Jumlah cycle yang diperlukan untuk mengosok sampai berlobang


benang putus atau contoh yang putus.

Kehilangan berat setelah penggosokan.

Perubahan tetal,yaitu karena tinggi

bulunya berkurang setelah

penggosokan.

III.

Kehilangan kekuatan.

PRAKTIKUM
A. ALAT BAHAN

Alat uji tahan gosok : Martindale wear & abrasian wear

Thickness tester

Neraca teknis

Kain contoh uji

B. LANGKAH KERJA
1. Mempersiapkan contoh uji dan alat uji tahan gosok.
2. Membuat sketsa lingkaran pada kain contoh uji dengan diameter 4
cm sebanyak 2 buah lalu dipotong.
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

46

3. Menimbang kedua contoh uji pada neraca teknis


4. menjadikan

nol

counter

penghitung

beberapa

kali

gosokan.kemudian conto uji dipasang kemesin dan siap dijalankan.


IV. DATA DAN PERHITUNGAN
Pengujian

Berat

Berat

Tebal

Tebal

1
2
3
4
x

awal(g)
0,140
0,136
0,138
0,134
0,137

akhir(g)
0,138
0,135
0,137
0131
0,135

awal(mm)
0,21
0,20
0,21
0,20
0,205

akhir(mm)
0,22
0,23
0,215
0,22
0,221

Persentase penambahan berat


100%
=

0,2210,205
0,205

= 7.80 %
Persentase penambahan tebal
=

x Berat akhirx Berat awal


x Berat awal

100%

x tebal akhirx tebal awal


x tebal awal

0,1370,135
0,137

100%

100%

= 1.45 %

V.

DISKUSI

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

47

Dari hasil yang diperoleh, terutama dalam masalah berat terjadi


pengurangan namun pada bagian ketebalan malah bertambah besar
nilainya. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya serat serat yang keluar
dan menebal akibat digosok.

VI.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan praktikum dapat diperoleh data sebagai berikut :
1. Tebal kain
% pengurangan tebal kain = 1,45 %
2. berat kain

% penambahan berat kain = 7,80 %

Lampiran

PENGUJIAN KEKUATAN SOBEKAN KAIN CARA ELMENDORF

I. MAKSUD TUJUAN :

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

48

Menguji sifat kain perihal kekuatannya terhadap sobekan menggunakan


alat penyobek Elmendorf.

II. TEORI DASAR :


Gaya impak rata-rata yang diperlukan untuk menyobek suatu contoh uji
yang telah diberi sobekan awal, diperoleh dengan mengukur kerja yang
dilakukan dalam jarak penyobekan pada jarak yang sudah ditentukan.
Alat uji ini terdiri dari pendulum berbentuk sektor yang dilengkapi dengan
penjepit. Bila pendulum dinaikan sampai kedudukan siap ayun,
kedudukan penjepit pada pendulum harus satu garis dengan penjepit
yang kedudukannya tetap.Kedudukan ini mempunyai energi potensial
maksimum. Contoh uji dipasang pada kedua penjepit, kemudian diberi
sobekan awal diantara kedua penjepit tersebut. Pendulum dibebaskan
mengayun sehingga penjepit pada pendulum bergerak menyobek contoh
uji. Kekuatan sobek dapat dibaca langsung pada skala yang dipasang
pada pendulum. Skala tersebut menunjukan gaya dalam satuan gram
atau persen dari energi potensial pendulum yang digunakan sehingga
kekuatan sobek dapat dihitung.

III. PRAKTIKUM :
A. ALAT BAHAN

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

49

Peralatan yang digunakan dalam pengujian tahan sobek ini yaitu:


a. Elemendorf, pendulum penguji sobek (elemendorf) yang digunakan
mempunyai kapasitas 0 32000 gr. Hal ini disesuaikan dengan kain
yang akan diuji, semakin tebal kain yang akan diuji, maka kapasitas
elemendorf harus makin besar.
b. Alat ukur dan penggari serta alat tulis, kedua peralatan ini
dipergunakan untuk pembuatan pola pada contoh uji.
c. Pemotong contoh uji / Gunting,
Sedangkan bahan pengujian berupa kain tenun, dengan ukuran
contoh uji (7,5 x 20) cm, baik untuk contoh uji ke arah lusi maupun
pakan. Adapun bentuk contoh uji sebagai berikut:

7,5 cm

1,2 cm 1,2 cm

10,2 cm

B. CARA KERJA

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

50

Kedua pinggir contoh uji / kain, digunting 10% dari lebar kain
seluruhnya. Hal ini untuk menghindari adanya perbedaan tetal,
tegangan, kekuatan serta hal-hal lain pada pinggir kain.

Contuh uji harus dalam keadaan mencapai keseimbangan lembab,


hal ini dapat diperoleh bila contoh uji disimpan pada ruangan
standar, yang lamanya disesuaikan dengan kontruksi kain yang
akan diuji.

Membuat pola pada contoh uji, sesuai dengan kebutuhan alat uji.
Pembuatan pola harus lurus dengan arah benang baik ke arah lusi
maupun pakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu penyobekan
oleh alat uji posisi kain dalam posisi lurus, sehingga penyobekan
dapat

berlangsung

menyebabkan

dengan

terjadinya

baik.

pengambilan

Pembuatan
lusi

atau

pola

harus

pakan

yang

berbeda.

Memotong pola yang telah dibentuk, pemotongan ini pun harus


sesuai dengan pola yang telah ada.

Pergunakan alat uji yang sesuai dengan kontruksi kain. Hal ini dapat
diketahui dengan cara, kain diuji terlebih dahulu pada alat yang
mempunyai kapasitas yang lebih kecil. Bila kain tersebut tidak
sobek seluruhnya (kekuatan sobek harus terbaca antara 20 60 %
dari kekuatan maksimum), maka kain tersebut harus diuji dengan
menggunakan alat yang mempunyai kapasitas yang lebih besar.
Atau dengan memperkirakan ketebalan kain dan disesuaikan
dengan penggunaan alat uji.

Alat uji harus diatur sedemikian rupa, sehingga dasar alat terletak
datar dan garis indeks berimpit dengan penunjuk.

Contoh uji dipasang pada sepasang penjepit sedemikian rupa


sehingga terletak di tengah-tengah dan di tepi bawah contoh uji
segaris dengan dasar penjepit. Pada kedudukan ini, tepi atas contoh
uji akan sejajar dengan permukaan atas penjepit dan benang-

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

51

benang yang sejajar lebar contoh uji akan tegak lurus padanya.
Kedua penjepit dirapatkan dengan memutar sekrup pengencang,
sehingga

tegangan

hendaknya

kedua

terpasang

penjepit

bebas

sama

dengan

besar.

bagian

Contoh

atasnya

uji

diatur

melengkung searah ayunan pendulum.

Contoh uji yang telah terpasang pada alat uji di bagian bawahnya
diberikan sobekan awal.

Penahan pendulum ditekan sampai pendulum berayun mencapai


lintasan penuh sehingga kain sobek sempurna. Setelah tiga kali
ayunan

balik,

pendulum

ditangkap

dengan

tangan

tanpa

mengubahkedudukan jarum penunjuk.

Kekuatan sobek dibaca sampai skala terkecil yang terdekat.

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


Pendulum = Newton
No.

ST Lusi

ST Pakan

1.
2.
3.

34.4
35.2
36
105.6
35.2

28.2
28
34
89.2
29.73

( xx )

( xx )

Lusi

Pakan
6.4
2.9
18.23
27.53
9.1

0,64
0
0.64
1.28
0.42

Lusi

S=

(x x )
n1

1.28
2

CV =

S
x

0.8
35.2

= 0.8
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

100 %
100 %

=2%

52

Pakan

S=

(x x )2
n1

27.5
2

CV =
=

S
x

100 %

3.70
29.73

100 %

= 12 %

= 3.70

IV. DISKUSI :
Pada peraktikum kali ini kami menggunakan skala newton. Pada saat kita
menggunakan kapasitas 6400 kain yang kita miliki tidak terlalu kuat
sehingga menggunakan skala newton. Karena struktur kain yang terlalu
tipis maka harus menggunakan yang skala newton.
V. KESIMPULAN
Kekuatan sobek (lusi) = 35,2 N
Kekuatan sobek pakan = 29,73 N
S dan CV =

Lusi
S = 0.8

CV = 2 %

Pakan
S = 3.70

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV = 12 %
53

Lampiran

PENGUJIAN KEKUATAN SOBEKAN CARA TRAPESIUM

I. MAKSUD TUJUAN :
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

54

Melakukan pengujian terhadap bahan kain contoh uji perihal kekuatan


sobeknya menggunakan alat cara trapesium

II. TEORI DASAR :


Mengukur beban maksimal yang dapat ditahan oleh kain contoh uji
sehingga kain tersebut putus seratnya. Jadi pengujian kekuatan kain
adalah menguji daya tahan minimum kain terhadap sobekan. Pengujian
dengan cara trapesium ini meniru keadaan dari kejadian dimana sepotong
kain ditarik dengan gunting pada bagian pinggir kain, dan contoh
dipegang dengan kedua tangan, lalu disobek mulai dari tarikan yang telah
dibuat. Pengujian ini hanya ukuran dan persiapan contoh uji yang berbeda
dengan pengujian kekuatan tarik. Pengujian kekuatan sobek kain sangat
penting untuk kain-kain militer seperti kain untuk kapal terbang dan
payung udara; kain terpal dan kain-kain yang memerlukan kekuatan
tinggi.

III. PRAKTIKUM :
A. ALAT BAHAN
Peralatan yang digunakan pada pengujian tarik kain cara trapesium
adalah peralatan jenis pembebanan tetap dengan kecepatan tarik 200
mm/menit. Alat penguji ini dilengkapi dengan :

Penjepit atas.
Penjepit bawah yang bisa bergerak keatas atau kebawah.
Skala kekuatan ada yang terbagi atas 3 bagian, yaitu untuk
pembebanan 50 kg yang sebelah dalam; untuk pembebanan 100 kg
yang di tengah- tengah dan untuk pembebanan 50 kg yang sebelah

luar. Pembebanan yang di gunakan dalam praktikum adalah 20 kg.


Kertas grafik kekuatan dan mulur.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

55

Penggerak motor atau tangan. Serta Jarak jepit 2,5 cm .

Sedangkan bahan yang digunakan yaitu kain terpal dengan ukuran 7,5 x
15 cm baik untuk arah lusi maupun pakan

7,5 cm

10 cm

2,5 cm

15 cm

B. CARA KERJA
Potonglah kain dengan ukuran panjang 15 cm dan lebar 7,5 cm.
Gambarlah bentuk trapesium sama kaki dengan tinggi 7,5 cm dan
panjang garis sejajar 10 cm dan 2,5 cm pada kain contoh uji
tersebut.
Potonglah sepanjang 0,5-1 cm ditengah-tengah garis 2,5 cm dan
tegak lurus pada garis sejajar.
Jumlah contoh uji 1 contoh uji untuk pengujian ke arah lusi dan
pakan.
Aturlah kedudukan dan jarak titk penjepit supaya 2,5 cm.
Periksalah kedudukan alat-alat yang lain.
Pilihlah beban yang sesuai dengan contoh uji sehingga pada saat
kain sobek, beban terdapat pada kedudukan seperempat atau
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

56

sepertiga dari kekuatan mesin, untuk kain terpal beban yang


dipergunakan sekitar 20 kg.
Periksalah alat-alat pencatat pembebanan pada kertas grafik
supaya kedudukannya tepat.
Kecepatan penarikan 200 mm/menit.
Jepitlah contoh uji sepanjang garis yang tidak sejajar dari trapesium,
sehingga

potongan

terdapat

di

tengah-tengah

antara

kedua

penjepit dan tepi yang pendek tegang sedangkan yang panjang


dibiarkan terlipat.
Tariklah contoh uji sampai contoh uji sobek.
Amatilah kekuatan pada skala baca atau pada kertas grafik.
Jumlah pengujian masing-masing 1 kali untuk lusi dan pakan. Dari 1
contoh uji didapatkan suatu grafik, dari grafik tersebut dibuat
menjadi beberapa bagian. Untuk pengujian kali ini hanya dilihat 5
bagian saja. Masing masing bagian tersebut diambil skala tertinggi
dan terendahnya. Dalam pengambilan skala terendah, bukan dilihat
dari lembah grafik, tetapi tetap dari pincak grafik yang terpendek /
terendah.
Dalam pembacaan skala, perlu diperhatikan skala terkecil dari grafik
yaitu 0,5 kg.

IV. DATA DAN PERHITUNGAN


Lusi
No.

1.
2.
3.
4.

Puncak

Puncak

Tertinggi (

Terendah (

x1

x2

7
6.7
6.6
6,5

3,2
3.4
3.3
3.3

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

( x 1+ x 2 )

5.1
5.05
4.95
4.9

( xx )

0.0121
0,0004
0,001
0,008
57

5.

6.4
32.2
6.64

3.5
16.7
3.34

S=

(x x )2
n1

0.0225
4

4.95
24.95
4.99

0,001
0,0225
0,0045

100 %
0,075
4.99

100 %

= 1.50 %

= 0,075

S
x

CV =

Kekuatan Sobek Lusi


= rata-rata kekuatan sobek (Kg) x 9,8
= 4,99 x 9,8
= 48,90 N

Pakan
No

Puncak

Puncak

Tertinggi

Terendah

1.
2.
3.
4.
5.

6.7
6.5
6.5
6.4
6.4
32.5
4.6.5

2.9
2.8
2.8
2.5
2.4
13.4
2.68

S=

( x 1+ x 2 )

( xx )

4.8
4.8
4.8
4.45
4.4
23.35
4.65

Terendah
0,022
0,022
0,0022
0,04
0,625
0,1685
0,0337

(x x )
n1

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

0,1685
4

58

= 0,205
S
CV = x 100 %

0,205
4.65

100 %

= 4.40 %

Kekuatan Sobek Lusi


= rata-rata kekuatan sobek (Kg) x 9,8
= 4,65 x 9,8
= 45.57 N

V. DISKUSI :
Pada praktikum kali ini ada beberapa masalah yaitu saat pemasangan
kurang lurus sehingga membuat kemungkinan kai slip dan membuat
gagal dalam pengujian. Selain menyebabkan gagala juga menyebabkan
slip dan data kurang sesuai dengan hasil sebenarnya.
VI.

KESIMPULAN :
Dari hasil pengujian diperoleh data sebagai berikut:

Kekuatan sobek kain kearah lusi = 48,90 N

Kekuatan sobek kain kearah pakan

= 45.57 N

Lampiran

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

59

PENGUJIAN KEKUATAN SOBEK KAIN CARA LIDAH

I. MAKSUD TUJUAN

Mampu melakukan pengujian kekuatan sobek kain cara lidah.


Mampu menggunakan alat pengujian.
Mampu menganalisis hasil pengujian.

II. TEORI DASAR


Kekuatan kain dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu :
Kekuatan tarik kain
Kekuatan sobek kain
Kekuatan jebol kain
Kekuatan Sobek Kain
Pengujian kekuatan sobek kain adalah menguji daya tahan kain
terhadap sobekan. Pengujian kekuatan sobekkain sangat diperlukan untuk
kain-kain militer seperti kain untuk kapal terbang, payung udara, dan tidak
NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

60

kalah pentingnya juga untuk kain sandang. Pengujian kekuatan sobek kain
dapat dikakukan dengan tiga cara, yaitu :
Kekuatan sobek kain cara trapesium
Pengujian cara trapesium ini meniru keadaan dari kejadian sebagai
berikut : apabila sepotong kain ditarik dan digunting pada bagian
pinggir kain, dan contoh dipegang dengan kedua tangan, kemudian

disobek mulai dari sobekan yang telah dibuat.


Kekuatan sobek kain cara lidah
Pengujian kekuatan sobek cara lidah, yaitu apabila sepotong kain
digunting menjadi dua sampai kira-kira setengahnya, kain kemudian
disobek dengan memegangkedua lidah kemudian ditarik. Pengujian
dengan cara lidah tidak dapat dilakukan pada kain tidak seimbang.
Kain dengan tetal lusi lebih besar dari tetal pakan, apabila disobek
pada arah lusi, maka arah sobekan pada saat pengujian akan
berubah ke arah pakan yang lebih lemah. Oleh karena itu orang

lebih suka melakukan pengujian dengan cara trapesium.


Kekuatan sobek kain cara Elmendorf
Pengujian kekuatan sobek kain cara Elmendorf menggunakan alat
khusus yaitu Elmendorf, dengan system ayunan pendulum, berbeda
dengan cara trapesium dan cara lidah yang menggunakan alat uji
kekuatan tarik kain untuk mengujinya.

III. PRAKTIKUM
A. Peralatan
Alat uji kekuatan tarik sistem laju mundur (Instron)
Jarak jepit 7 cm untuk cara lidah
Kecepatan penarikan 30 1 cm/menit
Ukuran klem 7,5 cm x 2,5 cm
Penggerak mesin
Gunting
Kertas grafik
Pena/tinta

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

61

B. Persiapan Contoh Uji


Kondisikan kain yang akan diuji dalam ruangan standar pengujian.
Potong contoh uji dengan ukuran seperti gambar dibawah ini
sebanyak 5 helai lusi dan 5 helai pakan
20 cm
7,5 cm
7,5 cm sobekan

C. CARA KERJA
a) Kalibrasi Alat
Nyalakan mesin dengan menekan tombol ON.
Pasang kertas grafik pada tempat yang disediakan.
Pasang load cell yang sesuai untuk pengujian kekuatan sobek kain.
Pasang klem atas dan bawah.
Pasang pena penunjuk harga skala pengujian.
Pindahkan switch uji kekuatan tarik dan mulur pada posisi ON.
Atur posisi pena pada posisi 0 (nol) tanpa beban/tombol beban
pada 0 (nol), kemudian pindahkan posisi tombol beban pada 5 kg

atur posisi pena pada 0 (nol).


Pasang beban 5 kg pada klem atas, lihat posisi pena harus pada

skala 10, jika tidak maka atur sehingga pada posisi 10.
Untukmengecek kebenaran pembacaan, pindahkan beban pada
skala 10, cek apakah pena pada posisi angka 5, jika tidak ulangi
langkah diatas.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

62

b) Pengujian
Atur posisi tombol beban pada skala 5 kg atau 10 kg (sesuai

dengan kekuatan sobek kain).


Pasang kain contoh uji pada klem.
Pindahkan switch kekuatan tarik dan mulur pada posisi ON.
Atur kertas grafik sehingga kedudukan pena pada kertas grafik

berada pada salah satu titik potong absis dan ordinat grafik.
Tekan tombol UP sehingga mesin bergerak menarik contoh uji

keatas.
Biarkan penarikan sampai selesai (dalam grafik didapat mulur 5

cm).
Setelah itu hentikan mesin dengan menekan tombol OFF.
Off kan switch kekuatan tarik dan mulur,kemudian turunkan klem

dengan menekan tombol down.


Lakukan pengujian pada lima sampel arah lusi dan pakan.
Beri tanda pada lima titik puncak tertinggi dan hitung rata-rata

lima titik puncak tertinggi.


Hitung rata-rata, standar deviasi dan koefisien variasi dari data
hasil pengujian.

IV. Data dan Perhitungan


No.
1.
2.

Lusi (kg)
40
46

Pakan
(kg)
60
60

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

( xx )

Lusi

19.36
5.76

( xx )

Pakan

23.04
23.04
63

3.
4.
5.

44
40
40
218
43.6

54
52
50
276
55.2

0.16
12.96
12.96
46.2
9.24

Lusi

S=

(x x )
n1

46.2
4

CV =

S
x

100 %
3.39
43.6

100 %

= 4.60 %

= 3.39

1.44
10.24
27.04
84.8
16.96

Pakan

S=

(x x )2
n1

084.8
4

CV =

S
x

100 %
4.60
55.2

100 %

= 8.33 %

= 4.60

IV. DISKUSI :
Pada

praktikum

kali

ini

hamper

sama

masalahnya

yaitu

kurang

kencangnya klep dan membuat selip dan hasil yang dihasilkan kurang

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

64

maksimal. Bilamana ingin hasil yang bagus maka klep dua duanya harus
sangatkencang dan mantap agar tidak selip kain yang dijepit.

V. KESIMPULAN :
Dari hasil pengujian diperoleh :
a. Lusi

Kekuatan sobek rata-rata


= 43,6 kg

Standar deviasi
= 3,39

Koefisien variasi
= 4,0 %
b. Pakan

Kekuatan sobek rata-rata


= 2,42 kg
Standar deviasi
= 4,60
Koefisien variasi
= 8,33 %

Lampiran

UJI KEKUATAN JAHITAN

I.

Maksud dan Tujuan


Untuk megetahui kekuatan tarik dan mulur kain tenun (kekuatan jaitan)
dengan memakai alat dinamometer dengan beban 50 kg dan jarak jepit 7
cm.

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

65

II.

Teori Dasar
Kekuatan tarik jahitan adalah kekuatan yang menunjukan berapa beban
maksimal sampai jahitan itu putus
Kekuatan tarik jahitan besar kekuatannya tergantung kepada banyaknya
jahitan per inchi dan kekuatan kainnya sendiri.

Dengan demikian

banyaknya jahitan per inchi disesuaikan dengan kekuatan kainnya.


Kalaulah tidak demikian bisa jadi saat diuji ketika mendapat tarikan
kainnya sendiri yang putus bukan jahitannya.
III.

PRAKTIKUM

A. ALAT BAHAN
1.
2.
3.
4.

Kain contoh uji.


Mesin jahit.
Penggaris dan gunting
Dinamometer.

B. Langkah Kerja

Menyiapkan contoh uji dengan menggunting kain yang

disediakan menjadi bentuk T.


Bagian kepala contoh uji tersebut dijahit.
Setelah kain contoh uji siap, lalu melakukan langkahlangkah seperti pada pengujian cara pita tiras.

IV.

DATA DAN PERHITUNGAN


Percobaan

Kekuatan Lusi

Kekuatan

(kg)

Pakan (kg)

(benang

20.5

tergelencir)

(benang

tergelencir)

9.5

(benang

( putus

Lusi

( xx )

0.25

Pakan
0.01

6.25

4.41

5.76

15.5

10.18

jahitan)

18.5

(putus

jahitan)

23

(benang

tergelencir)

tergelencir)

19.5

62

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

( xx )

66

6.5

20.6

5.16

2.54

Perhitungan

Lusi

S=

(x x )2
n1

15.5
2

S
x

100 %

278
6.5

100 %

= 42.76 %

= 2,78

CV =

Pakan

S=

(x x )
n1

10.18
2

= 2,25

NOMAS AKBAR Y.P. / 3T3 / 13010050

CV =
=

S
x

100 %

2.25
20.6

100 %

= 10.92 %

67

V.

DISKUSI
Masalah praktikum kali ini adalah posisi jahitan yang tidak lurus sehingga
mengurangi kekuatan jahitan .

VI.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan praktikum dapat diperoleh data sebagai berikut :

Rata rata kekuatan jahitan lusi = 6,5 kg


Rata rata kekuatan jahian paka = 20,6 kg
Arah lusi
: S (2,08) ;
CV (44,07 %)

Arah pakan

: S (2,25) ;
CV (43,67 %)

Rata rata penyebab rusaknya kain yaitu karena benang pada kain
tergelincir