Anda di halaman 1dari 2

Proses berkemih berlangsung dibawah control dan koordinasi sistem saraf pusat (SSP)

dan sistem saraf tepi di daerah sakrum. Sensasi pertama ingin berkemih timbul saat volume
kandung kemih atau vesica urinaria (VU) mencapai antara 150-350 ml. Kapasitas VU normal
bervariasi sekitar 300-600 ml (Pranarka, 2000). Bila proses berkemih terjadi, otot-otot detrusor
VU berkontraksi, diikuti relaksasi dari sfingter dan uretra. Tekanan dari otot detrusor meningkat
melebihi tahanan dari muara uretra dan urin akan memancar keluar (Van der Cammen dkk,
Reuben dkk dalam Pranarka, 2000). Sfingter uretra eksternal dan otot dasar panggul berada di
bawah control volunter dan disuplai oleh saraf pudendal, sedangkan otot detrusor kandung kemih
dan sfingter uretra internal berada di bawah kontrol sistem saraf otonom, yang mungkin
dimodulasi oleh korteks otak (Setiati dan Pramantara, 2007).
Proses berkemih diatur oleh pusat refleks kemih di daerah sakrum. Jaras aferen lewat
persarafan somatik dan otonom membawa informasi tentang isi VU ke medulla spinalis sesuai
pengisian VU (Pranarka, 2000). Ketika VU mulai terisi urin, rangsang saraf diteruskan melalui
saraf pelvis dan medulla spinalis ke pusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat subkortikal (pada
ganglia basal dan cerebellum) menyebabkan VU relaksasi sehingga dapat mengisi tanpa
menyebabkan seseorang mengalami desakan untuk berkemih. Ketika pengisian VU berlanjut,
rasa penggembungan VU disadari, dan pusat kortikal (pada lobus frontalis) bekerja menghambat
pengeluaran urin. Gangguan pada pusat kortikal dan subkortikal karena obat atau penyakit dapat
mengurangi kemampuan menunda pengeluaran urin (Setiati dan Pramantara, 2007).
Ketika terjadi desakan berkemih, rangsang dari korteks disalurkan melalui medulla
spinalis dan saraf pelvis ke otot detrusor. Aksi kolinergik dari saraf pelvis kemudian
menyebabkan otot detrusor berkontraksi. Kontraksi otot detrusor tidak hanya tergantung pada
inervasi kolinergik, namun juga mengandung reseptor prostaglandin. Karena itu, prostaglandininhibiting drugs dapat mengganggu kontraksi detrusor. Kontraksi VU juga calcium-channel
dependent, karena itu calcium-channel blockers dapat mengganggu kontraksi VU. Interferensi
aktivitas kolinergik saraf pelvis menyebabkan pengurangan kontraktilitas otot (Setiati dan
Pramantara, 2007).
Aktivitas adrenergik-alfa menyebabkan sfingter uretra berkontraksi. Karena itu,
pengobatan dengan agonis adrenergik-alfa (pseudoefedrin) dapat memperkuat kontraksi sfingter,
sedangkan zat alpha-blocking dapat mengganggu penutupan sfingter. Inervasi adrenergik-beta
merelaksasi sfingter uretra. Karena itu zat beta-adrenergic blocking (propanolol) dapat
mengganggu dengan menyebabkan relaksasi uretra dan melepaskan aktifitas kontraktil
adrenergic-alpha (Setiati dan Pramantara, 2007).
Mekanisme sfingter berkemih memerlukan angulasi yang tepat antara uretra dan VU.
Fungsi sfingter uretra normal juga tergantung pada posisi yang tepat dari uretra sehingga dapat
meningkatkan tekanan intra-abdomen secara efektif ditransmisikan ke uretra. Bila uretra di posisi
yang tepat, urin tidak akan pada saat terdapat tekanan atau batuk yang meningkatkan tekanan
intra-abdomen (Setiati dan Pramantara, 2007).
Mekanisme dasar proses berkemih diatur oleh berbagai refleks pada pusat berkemih.
Pada fase pengisian, terjadi peningkatan aktivitas saraf otonom simpatis yang mengakibatkan
penutupan leher VU, relaksasi dinding VU, serta penghambatan aktivitas parasimpatis dan

mempertahankan inervasi somatik pada otot dasar panggul. Pada fase pengosongan, aktivitas
simpatis dan somatik menurun, sedangkan parasimpatis meningkat sehingga terjadi kontraksi
otot detrusor dan pembukaan leher VU. Proses refleks ini dipengaruhi oleh sistem saraf yang
lebih tinggi yaitu batang otak, korteks serebri dan serebelum. Peranan korteks serebri adalah
menghambat, sedangkan batak otak dan supra spinal memfalisitasi (Setiati dan Pramantara,
2007)