Anda di halaman 1dari 10

MODUL PERKULIAHAN

Manajemen
Keuangan
Internasiona
l
1.
2.

Fakultas
Fakultas Ekonomi
dan Bisnis

Forex Exposure
Transaction Exposure

Program
Studi

Manajemen

Online

04

Kode MK

Disusun Oleh

84076

Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Abstract

Kompetensi

Modul ini menjelaskan tentang


mengukur eksposur terhadap fluktuasi
nilai tukar valas.

Diharapkan mahasiswa mampu


memahami dan mampu mengukur
eksposur terhadap nilai tukar valas.

Forex Exposure

Forex exposure (FE) dapat diartikan sebagai suatu risiko yang akan dihadapi oleh
perusahaan sebagai akibat perubahan atau fluktuasi kurs valas. Suatu perusahaan MNC
atau perusahaan yang melakukan transaksi internasional (ekspor dan impor) tentu arus
kasnya (cash flow-nya) akan terpengaruh secara langsung oleh fluktuasi kurs valas.
Misalnya jika terjadi depresiasi domestic currency atau Rupiah terhadap USD dan JPY tentu
beban impor akan semakin meningkat, tetapi sebaliknya penerimaan ekspor akan Rupiah
dapat pula meningkat baik karena depresiasi ataupun elastisitas permintaan barang naik.
Exposure ini timbul karena, sebagai berikut;
1. Pembelian atau penjualan barang/jasa secara kredit, dimana harganya dinyatakan
dalam valas.
2. Peminjaman atau pemberian pinjaman dan dimana pembayaran bunga dan cicilan
utang dibuat dalam mata uang asing.
3. Memperoleh aktiva ataupun mendatangkan kewajiban yang didenominasi dalam valas
4. Menjadi suatu kontrak valas yang tidak jadi.
Bila exposure benar ada, maka perusahaan menghadapi dua tugas utama, yaitu;
1. Perusahaan harus identifikasi derajat exposure transaksi
2. Perusahaan harus memutuskan perlu atau tidak menghilangkan (hedging) exposure
ini, perusahaan harus memilih berbagai tehnik lindung nilai yang tersedia.
Umumnya perusahaan MNC mengantisipasi risiko penyimpangan aliran kas dari yang
diharapkan,perusahaan menempuh strategi pemagaran risiko (hedging). Hedging dilakukan
untuk membatasi kemungkinan kerugian karena perubahan yang tidak terantisipasi
sebelumnya. Berdasarkan teori keuangan, tujuan manajemen adalah mengoptimalkan nilai
perusahaan. Nilai perusahaan ditunjukkan oleh jumlah nilai sekarang dari seluruh aliran kas
yang diharapkan dimasa yang akan datang.
Perubahan kurs valuta asing sesungguhnya hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi
aliran kas perusahaan. Ada faktor lain yang turut mempengaruhi aliran kas perusahaan,
seperti harga produk dan tingkat bunga.
Untuk membatasi besarnya penyimpangan realisasi aliran kas dari yang diharapkan atau
meningkatkan kepastian besarnya aliran kas yang akan diterima, maka manajemen
menempuh hedging.

201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Pokok permasalahannya sekarang adalah pengurangan variabilitas aliran kas karena


perubahan kurs valuta asing tidak dapat disamakan dengan menambah keuntungan
perusahaan. Manajemen valuta asing (melalui hegding) memang dapat mengurangi risiko
penyebaran aliran kas tetapi ia tidak memberikan tambahan tingkat keuntungan. Apakah
dengan demikian hedging untuk membatasi risiko perubahan kurs valuta asing masih
relevan untuk dilakukan?
Mereka yang tidak setuju terhadap hedging, berpendapat sebagai berikut;
1. Pemegang saham jauh lebih mampu untuk mendiversifikasikan risiko mata uang
(currency risk) dibanding manajemen perusahaan. Apabila pemegang saham ingin
menghindari risiko mata uang, mereka dapat mendiversifikasikan portfolio investasinya
untuk mengelola risiko tersebut sesuai dengan preferensinya.
2. Manajemen risiko mata uang tidak menambah niai perusahaan. Sebaliknya, ia hanya
memboroskan sumber daya perusahaan, yang pada akhirnya justru akan menurunkan
niai perusahaan.
3. Manajemen tidaklah lebih pintar dari pasar. Apbila pasar berada pada kondisi
keseimbangan, maka hedging tidak memberikan manfaat apapun.
Sementara itu para pakar yang setuju dengan upaya hedging, mengajukan argumen
sebagai berikut;
1. Pemegang saham memang lebih mampu untuk mendiversifikasikan risiko mata uang.
Tetapi hal itu baru bisa dilakukan kalau setiap individu memiliki informasi yang lengkap
tentang pasar. Umumnya, manajemen mempunyai kemampuan yang lebih baik
daripada pemegang

saham dalam

mengakses informasi.

Dengan demikian,

manajemen akan lebih mampu mengelola risiko mata uang.


2. Manajemen risiko mata uang memang tidak menambah nilai perusahaan secara
langsung. Tetapi dengan melakukan hedging manajemen akan mampu meningkatkan
mutu perencanaan, salah satunya adalah dalam memperkirakan aliran kas dimasa
yang akan datang. Perbaikan kualitas perencanaan akan meningkatan akurasi
keputusan.
3. Apabila perusahaan tidak mempunyai perencanaan yang akurat atas aliran kasnya,
perusahaan akan lebih mudah terjebak dalam posisi keuangan yang sulit, karena tidak
likuid.
Kondisi keseimbangan sulit sekali terjadi karena ketidaksempurnaan struktural dan
institusional, serta kejutan-kejutan eksternal (misalnya krisis energi atau perang) dalam hal
ini manajemen lebih mampu untuk mengenali ketidakseimbangan pasar dibanding
pemegang saham.
201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Bahkan perusahaan yang tidak melakukan transaksi internasional pun secara tidak
langsung akan terpengaruh dengan fluktuasi kurs valas. Adanya perubahan kurs valas tentu
akan mempengaruhi suplly dan demand di dalam negeri sehinggaakan berpengaruh pula
pada cash flow perusahaan. Pada dasarnya pengaruh kurs valas tidak hanya terjadi
terhadap transaksi perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap nilai sekarang (present
value) dan future valued dari transaksi yang dilakukan dan neraca serta laporan rugi laba
perusahaan.
Secara umum, pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap perusahaan dapat dibedakan atas
tiga macam, yaitu:
1. Transaction Exposure (TE)
Transaction exposure diartikan sebagai risiko pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap
future cash transaction.
Pengukuran risiko ini dapat dilakukan dengan dua tahapan, yaitu sebagai berikut:
a. Menentukan perkiraan netto dari inflow dan outflow dalam setiap valas.
b. Menentukan tingkat risiko atau exposure dari seluruh valas.
2. Economic/Operating Exposure (E/OE)
Economic/Operating Exposure diartikan sebagai suatu pengaruh dari fluktuasi forex
rate atau kurs valas terhadap present value dari future cash flow suatu perusahaan.
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa transaction exposure merupakan bagian dari
economic exposure.
Besarnya Economic/Operating Exposure ditentukan oleh dampak dari perubahan kurs
valas terhadap volume penjualan, harga dan biaya di masa yang akan datang.
Transaction exposure dan Economic/Operating Exposure berhubungan dengan
perubahan pada aliran kas perusahaan. Perbedaannya adalah dampak transaction
exposure memiliki jangkauan waktu yang lebih pendek, karena hanya melibatkan
transaksi-transaksi

yang

belum

jatuh

tempo.

Sebaliknya

Economic/Operating

Exposure mengukur kemungkinan penyimpangan aliran kas dari yang diharapkan,


baik aliran kas jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.
3. Transiation/Accounting Exposure (T/AE)
Translation/accounting exposure diartikan sebagai risiko perubahan/fluktuasi kurs
valas terhadap consolidated financial statement perusahaan. Translation/accounting
exposure ini timbul pada saat MNC membuat laporan keuangan konsolidasi dari
seluruh anak perusahaannya yang tersebar diberbagai Negara.
Besar atau kecilnya pengaruh translation/accounting exposure terhadap perusahaan
internasional atau MNC tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:
a. Tingkat/kadar pengaruh subsidiary luar negeri.
b. Lokasi foreign subsidiary berada.
201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

c. Metode akuntansi yang digunakan.


Perbedaan Konseptual Exposure Transaksi, Operasi, Akuntansi
Eksposure Akuntansi

Eksposure Operasi
Saat terjadinya perubahan
Kurs valuta Asing

Perubahan pada laporan


Keuangan konsolidasi karena
Perubahan kurs valuta asing

perubahan pada aliran kas


yang diharapkan karena
perubahan kurs valuta asing
Yang tak terantisipasi
Eksposure Transaksi

Perubahan pada aliran kas yang diharapkan


dari transaksi, yang kesepakatannya dilakukan
sebelum terjadi perubahan kurs valuta asing,
tetapi penyelesaiannya dilakukan setelah
kurs valuta asing berubah

Transaction Exposure
Transaction Exposure adalah mengukur perubahan pada nilai transaksi karena terdapat
perbedaan antara kurs valuta asing pada saat transaksi disepakati dan saat transaksi
diselesaikan/dipenuhi. Jadi eksposur ini berhubungan dengan transaksi-transaksi yang
sudah ada, tetapi belum jatuh tempo. Eksposur transaksi akan mempengaruhi aliran kas
jangka pendek perusahaan. Sebelum perusahaan memutuskan untuk melakukan hedging
atau tidak, ia mau tidak mau harus mengidentifikasikan masing-masing eksposure transaksi
bersih (net transaction exposure) pada setiap mata uang. Istilah bersih mengacu kepada
201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

konsolidasi semua aliran kas masuk dan kas keluar yang diharapkan pada kurun waktu dan
dalam mata uang tertentu. Manajemen pada setiap cabang memegang peranan penting
dalam setiap proses pelaporan aliran kas masuk dan keluar yang diharapkan. Kemudian,
kantor pusat grup perusahaan akan melakukan konsolidasi laporan-laporan cabang untuk
mengidentifikasi posisi keuangan bersih yang diharapkan pada setiap valas selama
beberapa periode mendatang, suatu TNC/MNC dapat mengidentifikasikan eksposurnya
dengan meninjau ulang konsolidasi posisi keuangan perusahaan-perusahaan cabang.
Untuk mengetahui eksposur bersih di setiap mata uang pada semua cabang perusahaan,
TNC/MNC pertama-tama harus mengidentifikasikan posisi masing-masing cabangnya untuk
seluruh mata uang yang digunakan.

a. Menentukan Perkiraan Netto dari Inflow dan Outflow


dalam Setiap Valas
Misalnya, suatu perusahaan internasional memiliki dua subsidiary yang mempunyai
transaksi sebagi berikut:
Subsidiary X mempunyai net inflow

: USD 500,000.00

Subsidiary Y mempunyai net outflow

: USD 600,000.00

Konsolidasi net outflow

: -USD 100,000.00

Dalam hal ini, jika USD apresiasi terhadap rupiah, maka net effect-nya akan merugikan
perusahaan karena nilai outflow-nya meningkat dan sebaliknya jika USD depresiasi
terhadap rupiah, maka akan menguntungkan perusahaan karena nilai outflow-nya menurun
jika dinilai dalam rupiah.
Perkiraan net transaction inflow dan outflow juga dilakukan oleh perusahaan MNC dengan
non-centralized approach atau centralized approach. Non-centralized approach dilakukan
oleh MNC dengan menetapkan masing-masing subsidiary-nya melakukan net transaction
inflows dan outflow-nya sendiri-sendiri. Akan tetapi kebijaksanaan ini dapat menimbulkan
biaya hegding yang lebih tinggi.
Misalnya suatu MNC memiliki:

Subsidiary I yang mempunyai transaction inflow dari ekspor bulanannya ke UK sebesar


GBP 20 juta

201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Subsidiary II yang mempunyai transaction inflow dari impor bulanannya dari supplier di
UK sebesar GBP 20 juta

Jika masing-masing subsidiary melakukan hegding atas transaction exposure-nya sendirisendiri, tentu biaya akan lebih tinggi. Hal ini dapat terjadi karena biasanya spread antara
kurs jual dan kurs beli untuk forward rate pada bank sekitar 1%. Dengan demikian, spread
untuk GBP 20 juta = GBP 200,000 per bulan atau mencapai GBP 2,4 juta per tahun.
Dalam hal ini, jika dilakukan centralized approach tentu biaya hedging yang harus dibayar
pada bank dapat dihindari atau dikurangi dan perusahaan akan menghemat biaya tersebut.

b. Menentukan Tingkat Risiko atau Exposure dari Seluruh


Valas
Perusahaan yang memiliki beberapa transaksi dalam berbagai valas dapat menjumlahkan
seluruh hasil konversi transaksi valas ke dalam mata uang lokal atau domestic currency
seperti contoh transaksi pada sebuah MNC Amerika sebagaimana dicontohkan dalam table
di bawah ini:
Currency Inflow
Outflow
CAD
2M
6M
DEM
10M
12M
FRF
100M
60M
CHF
1M
6M
Keterangan: M = Millions (juta)

Netto
4M (-)
2M (-)
40M (+)
5M (-)

Range of Forex
USD0.79-0.81
USD0.48-0.52
USD0.09-0.11
USD0.56-0.64

Range of Netto
USD3.16M-3.24M
USD0.96M-1.40M
USD3.60M-4.40M
USD2.80M-3.20M

Dari data/informasi di atas dapat dicatat beberapa hal penting sebagai berikut:
Pada posisi diatas, net position dalam forex tidak dapat dilakukan offsetting.
Open position terbesar (nonoffset) adalah dalam FRF, yaitu net inflow FRF40M.
Dengan menggunakan kemungkinan range of forex rate untuk USD, dapat ditentukan
nilai minimun dan nilai maximum kemungkinan nilai inflow dan outflow untuk masingmasing forex seperti tercantum dalam kolom range of netto.
Transaction exposure untuk setiap forex akan ditentukan oleh,
1. Besarnya open position untuk masing-masing forex,
2. Besarnya kemungkinan range forex rate untuk suatu periode dan forex tertentu
Berdasarkan kemungkinan range forex rate pada kolom range of forex ternyata,

201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

1. Risiko atau transaction exposure terbesar berdasarkan nilai open position adalah
FRF, yaitu FRF4.40M
2. Transaction exposure terbesar adalah dalam CHF, yaitu USD0.058 (USD0.56-0.64)
Faktor penting lain yang menentukan risiko atau transaction exposure adalah forex
correlation, yaitu kuat atau tidaknya hubungan antara berbagai valas atau forex.
Berdasarkan pengamatan terhadap forex correlation, dapat dikemukakan bahwa secara
umum mata uang Eropa mempunyai korelasi yang kuat dan positif dengan USD. Ini berarti
bahwa apabila DEM apresiasi terhadap USD, mata uang Eropa lainnya seperti FRF, CHF,
dan lain lain akan apresiasi juga dengan tingkat yang relatif sama dan demikian pula
sebaliknya. Nilai tukar USD terhadap CAD relatif stabil atau tetap.
Hal yang sama juga dapat diamati terhadap korelasi rupiah dengan valas hard currency
pada umumnya, terutama sekali USD. Bila USD apresiasi terhadap rupiah dengan tingkat
tertentu, maka JPY, DEM, FRF, dan lain lain juga akan apresiasi dengan tingkat yang relatif
sama dan demikian pula sebaliknya.
Pada contoh di bawah ini akan ditunjukkan bagaimana menentukan transaction exposure
dari suatu MNC USA yang memiliki beberapa transaction dalam berbagai valas.

Misalkan MNC USA mempunyai transaksi sebagai berikut:


Inflows FRF 40,000,000 x USD 0.10/FRF =
USD 4,000,000.00
Outflow ke Eropa:
GBP 2,000,000 x USD 1.50/GBP
= USD 3,000,000.00
CHF 5,000,000 x USD 0.60/CHF
= USD 3,000,000.00
Total Outflow ke Eropa
= USD 6,000,000.00
Outflow ke Kanada:
CAD 4,000,000 x USD 0.80/CAD
= USD 3,200,000.00
Jika ketiga mata uang Eropa tersebut mempunyai korelasi yang kuat dan positif dengan
USD,

maka

individual

transaction

exposure

dari

masing-masing

mengkompensasi atau offsetting satu sama lain dengan cara sebagai berikut:
1. Jika USD depresiasi:
Outflow dalam GBP dan CHF
201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

unfavorable

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

valas

akan

Inflow dalam EUR


2. Jika USD apresiasi:
Outflow dalam GBP dan CHF
Inflow dalam EUR

favorable

favorable

unfavorable

Dalam keadaan demikian, transaction exposure yang dihadapi perusahaan, terutama


berkaitan dengan CAD (outflow), sebesar CAD 3,200,000.00. Dengan demikian, dapat
ditarik kesimpulan bahwa secara umum transaction exposure yang dihadapi MNC - USA
seperti contoh di atas ini relatif kecil karena:
1. Adanya kompensasi (offsetting) dari fluktuasi valas Eropa (USD 6,000,000 USD
4,400,000);
2. Adanya stabilitas nilai tukar CAD dengan USD.
Dari uraian di atas, dapat dibuat suatu matrik transaction exposure sebagai berikut:
Transaction Exposure
Transaction Exposure

Forex
Apresiasi

Depresiasi

Inflow

Untung

Rugi

Outflow

Rugi

Untung

Setiap apresiasi/depresiasi rupiah akan mempengaruhi tingkat penerimaan dan pengeluaran


perusahaan. Hal ini berarti mempengaruhi tingkat keuntungan/profit. Dalam hal ini, besarnya
tingkat kenaikan/penurunan keuntungan perusahaan akan ditentukan oleh tingkat apresiasi
atau depresiasi rupiah terhadap masing-masing valas.

Daftar Pustaka
Madura, Jeff. (2003). International Financial Management. 7th. The Edition West Publishing
Comp.
Hamdy Hady. (2005). Manajemen Keuangan Internasional. Mitra Wacana Media. Jakarta.
__________, (2001). Valas untuk Manajer. Edisi ke empat. Ghalia Indonesia. Jakarta.

201
6

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

201
6

10

Manajemen Keuangan
Internasional
Dinar Nur Affini, S.E., MM.

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id