Anda di halaman 1dari 49

PEMAHAMAN HAK HAK TANAH ADAT MENURUT

UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA

PEMAHAMAN HAK HAK TANAH ADAT


MENURUT UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA[1]

Oleh : Ny. Vally A.Pieter,SH, MH


Pendahuluan
24 September adalah salah satu tanggal bersejarah dalam sejarah perkembangan agrarian/pertanahan di
Indonesia pada umumnya dan dalam pembaharuan Hukum Agraria/Hukum Tanah Indonesia pada
khususnya. Karena pada tanggal tersebut, 24 September 1960, Presiden Republik Indonesia yang
pertama, Soekarno mensahkan Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria yang dikenal dengan nama Undang Undang Pokok Agraria (UUPA) yang telah diundangkan
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 104 tahun 1960. (Harsono, 2008 : 1)
Sejak dahulu tanah memiliki daya tarik tersendiri dan selalu berkaitan dengan kekuasaan. Seorang raja
yang Jaya atau makmur pada jaman dahulu digambarkan dengan luasnya tanah kekuasaannya. Seorang
bangsawan dikatakan kaya jika dia memiliki sejumlah tanah yang luas. Tanah menjadi target penguasaan
sebuah resim atau dinasti yang berkuasa, perang selalu berakhir dengan hasil yang mengakibatkan pihak
kalah memberikan tanah mereka kepada pihak yang menang.
Pada abad modern, nilai tanah tersebut tidak berubah. Tanah tetap memiliki nilai yang sangat berharga
karena merupakan bentuk kekayaan yang memiliki nilai investasi tetap bahkan akan terus naik.
Pertambahan penduduk menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi pertambahan nilai tanah. Jumlah
penduduk yang terus bertambah menuntut kebutuhan akan tanah, pembangunan yang terus berjalan
dalam bingkai persaingan pasar global, menuntut kebutuhan akan infranstruktur yang menjadikan tanah
sebagai kebutuhan pokok. Nilai tanah akan terus naik selama manusia itu ada. Nilai tanah yang naik/tinggi
tentunya mengakibatkan pertambahan masalah seputar tanah tersebut.
Sejumlah kasus penyerobotan lahan, sengketa tanah, dan klaim kepemilikan selalu menjadi bahan dalam
persoalan tanah. Di Maluku sejumlah kasus kekerasan dan konflik didasari oleh perebutan tanah. Laporan
tertulis Catatan Kebijakan Pemantuan Konflik Kekerasan di Indonesia dari The Habibie Center tentang
Peta Kekerasan di Indonesia periode Januari April 2012, menyatakan bahwa penyebab dan isu yang

menonjol terjadinya kekerasan terutama di Maluku adalah sengketa tanah.[2] The Habibie Center mencatat
bahwa dalam satu dekade terjadi sebanyak 175 insiden kekerasan akibat sengketa tanah yang
menyebabkan 45 tewas, 347 cedera dan 388 bangunan rusak. Tiga hal yang mendominasi dalam akar
masalah sengketa tanah yang terus menerus menjadi penyebab, antara lain : Batas wilayah antardesa/negeri, klaim kepemilikan adat, dan tumpang tindihnya wilayah adat dengan wilayah administratif.
Dalam catatannya, The Habibie Center menyatakan bahwa dari jumlah insiden konflik akibat sengketa
tanah, kabupaten Maluku Tengah merupakan wilayah tertinggi dan diikuti oleh kota Ambon. Sengketa
tanah ini terjadi antar-negeri/desa yang memiliki identitas yang sama, misalnya Porto-Haria (Kecamatan
Saparua, Kabupaten Maluku Tengah)[3], Mamala-Morela (Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah),
Hitulama Hitumessing (Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah) dan beberapa desa yang lain.
Sengketa tanah yang menjadi latar belakang konflik antar-negeri ini terjadi oleh karena batas wilayah
antar-negeri dan klaim kepemilikan adat oleh kedua belah pihak, batas wilayah tanah adat menjadi
persoalan utama, dengan demikian penulisan ini akan membahas masalah seputar tanah adat menurut
Undang Undang Pokok Agraria.

Tanah Dalam Pemahaman Masyarakat Adat Maluku


Menggali pemahaman dan pandangan masyarakat adat Maluku tentang tanah berarti menggali
pemahaman mereka tentang alam semesta. Karena masyarakat Maluku pada umumnya adalah
masyarakat yang kosmik. Pemahaman tentang sesuatu di alam tidak terpisahkan dari pemahaman dan
pandangan mengenai alam semesta dan manusia sebagai satu kesatuan. Pintu masuk untuk memahami
konsep tanah dalam masyarakat adat Maluku yaitu pemahaman masyarakat Maluku tentang penguasa
alam semesta yang dikenal dengan sebutan dalam bahasa Ambon Melayu, Upu Lanite dan Upu Tapele
(Tuhan Langit dan tuhan Bumi / Tanah). Konsep Lanite dan Tapele ini masih menjadi perdebatan karena
dalam tradisi masyarakat adat Maluku konsep ini tidak banyak yang ditemukan. Konsep yang banyak
ditemukan di masyarakat adat Maluku adalah tentang adat dan leluhur. Karena itu tepat bagi kita untuk
memahami konsep tanah dalam pandangan masyarakat adat Maluku, dari cara mereka memahami adat
dan leluhur.
Frank Cooley dalam Ambonese Adat : A General Description, menghubungkan pentingnya adat dan
leluhur dalam pandangan masyarakat Adat Maluku. Karena adat adalah pemberian nenek moyang atau
leluhur dan harus di patuhi, adat juga merupakan representasi dari perintah leluhur sebagai pendiri
komunitas. Adat adalah sebuah hukum dalam mengatur kehidupan bermasyarakat didalam komunitas
(1962: 2-4). Kedua dimensi ini saling berhubungan satu dengan yang lain. Dalam penjelasannya, Cooley

menguraikan bahwa Leluhur yang adalah pendiri dari komunitas, mendirikan desa dan menetapkan adat
sebagai sebuah sistem yang mengatur hidup mereka dimasa kini maupun mengatur hidup keturunan
mereka di masa depan. Sehingga mereka yang menjalankan adat mendapat berkat dari leluhur,
sedangkan mereka yang mengabaikan adat mendapat sebuah kutukan, seperti dalam penulisannya
berikut ini :
.., it becomes clear that adat is obligatory upon all members of the community precisely
because it is believed to have been established and handed down to them by the
ancestors. It represents the will of the ancestors. Observance of it is an expression of
respect for the ancestors. To ignore or neglect it is to flout the will of the ancestors, and
this is exceeedingly hazardous because of the power which they continue to hold.The
sanctions of adat are thus rooted primarily in this power attributed to the ancestors. (5)
Penjelasan diatas menggambarkan bagaimana leluhur menjadi tokoh penting dalam kepercayaan orang
Maluku. Leluhur menjadi tokoh sentral hadirnya adat dan komunitas negeri, karena itulah pelaksanaan
adat menjadi penting, leluhur selalu dikaitkan dengan semua keberadaan adat dan Negeri, termaksud
Tanah didalamnya. Inilah yang menjadi salah satu alasan bahwa tanah memiliki posisi yang penting dalam
pemahaman adat masyarakat Maluku, sehingga konflik konflik tanah adat selalu menjadi konflik yang
panjang karena tanah merupakan bagian dari integritas adat, komunitas (negeri) dan individu yang menjadi
satu kesatuan utuh.

Tanah Adat Menurut Undang Undang Pokok Agraria


Masyarakat Hukum adat mengenal juga adanya hak ulayat, ulayat artinya wilayah atau yang merupakan
serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat yang berhubungan dengan tanah
yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Dalam sebuah buku berbahasa Belanda, Ter Haar,
Beginselen en stelsel van het adatrecht menyebutkan bahwa di Indonesia masing masing daerah
memiliki nama nama tertentu untuk lingkungan wilayahnya, misalnya nama untuk wilayah yang dibatasi,
di Kalimantan disebut dengan nama pewatasan, di Jawa dikenal dengan nama wewengkon, di Bali dikenal
dengan nama prabumian. Di Maluku pada umumnya tanah wilayah biasa disebut dengan nama petuanan.
(Harsono,2008 : 185 186)
Pemahaman dan pandangan masyarakat adat Maluku tentang tanah didukung dalam pengertian Hukum
Tanah Adat yang dimuat Undang Undang Pokok Agraria (UUPA), sehingga hak hak atas tanah adat
dapat diperjuangkan lewat jalur hukum yang benar.

Hukum Adat tentang tanah memiliki kedudukan yang istimewa dalam UUPA, karena sebagian besar
rakyat Indonesia menganut hukum adat sehingga hukum adat menjadi dasar pembentukan Hukum Tanah
Nasional. Hukum tanah adalah suatu sistem dari cabang hukum yang mandiri yang mengatur aspek yuridis
dari sebuah tanah, yang disebut hak hak penguasaan atas tanah. Ketentuan ketentuan hukum yang
mengatur hak hak penguasaan atas tanah dapat disusun menjadi satu kesatuan yang merupakan satu
sistem. (Harsono, 2008 : 17). Ketentuan ketentuan yang mengatur tersebut menjadikan hukum adat
menjadi suatu dasar pembentuk. Santoso, Urip dalam tulisannya yang berjudul Hukum Agraria Dan Hak
Hak Atas Tanah mengemukakan Hukum Adat menjadi dasar utama dalam pembentukan Hukum Agraria
Nasional dapat disimpulkan dalam Konsideran UUPA yang menyatakan;
bahwa berhubungan dengan apa yang disebut dalam pertimbangan pertimbangan perlu adanya
Hukum Agraria Nasional, yang berdasarkan atas hukum adat tentang tanah, yang sederhana, dan
menjamim kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia dengan tidak mengabaikan unsur
unsur yang bersandar pada hukum agama (2010 : 5 6)
Hal ini sejajar dengan apa yang ditulis oleh Supriadi, yang membuktikan pernyataannya dengan
menguraikan apa yang tertera penjelasan konsiderans dalamUUPA yang menyatakan bahwa hukum tanah
nasional disusun berdasarkan hukum adat. Pernyataan ini dapat ditemukan antara lain dalam;
a.

Penjelasan Umum angka III (1);

b.

Pasal 5 dan penjelasannnya.

Dalam Penjelasan Umum angka III (1) UUPA dinyatakan bahwa :


Dengan sendirinya Hukum Agraria yang baru itu harus sesuai dengan kesadaran hukum daripada
rakyat banyak. Oleh karena rakyat Indonesia sebagian besar tunduk pada hukum adat, maka
hukum agrarian baru tersebut akan didasarkan pula pada ketentuan ketentuan hukum adat itu
sebagai hu`kum asli, yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat
dalam negara yang modern dan dalam hubungannya dengan dunia internasional serta
disesuaikan dengan sosialisme Indonesia. Sebagaimana dimaklumi maka hukum adat dalam
pertumbuhannya tidak terlepas pula dari pengaruh politik dan masyarakat kolonial yang kapitalis
dan masyarakat swapraja yang feudal.
Sejalan dengan Penjelasan Umum angka III (1) UUPA di atas, dalam pasal 5 dinyatakan bahwa ;
Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan

bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan peraturan lainnya, segala sesuatu
dengan mengindahkan unsur unsur yang bersandar pada hukum agama. (2007 : 52 53)
Hukum adat yang menjadi sumber utama dalam penyusunan hukum tanah nasional, menjadikan segala
hal dari kerangka dasar hukum adat sebagai sumber pertama, hal ini ditegaskan oleh Budi Harsono dalam
Supriadi, bahwa ;
Hukum Tanah baru yang dibentuk dengan menggunakan bahan bahan dari hukum adat, berupa
norma norma hukum yang dituangkan dalam peraturan perundang undangan sebagai hukum
yang tertulis, merupakan hukum tanah nasional positif yang tertulis. UUPA merupakan hasilnya
yang pertama.
Dalam penulisannya Supriadi memberi contoh dalam kasus yang bersifat komunalistik religious yang
memungkinkan penguasaan tanah secara individual, dengan hak hak atas tanah yang bersifat pribadi,
sekaligus mengandung unsur kebersamaan. Lebih lanjut dalam tulisannya Supriadi menguraikan bahwa
sifat komunalistik religious dari konsepsi hukum tanah nasional diatur Pasal 1 ayat (2) UUPA yang berbunyi
sebagai berikut Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, adalah bumi, air dan
ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional.
Selain menguraikan sifat komunalistik religious yang juga menyumbang konsep dalam hukum tanah
nasional, Supriadi juga menyebutkan sejumlah asas- asas lain yang ada dalam asas hukum adat yang
digunakan dalam hukum tanah nasional, adalah ; asas religius (Pasal 1), asas kebangsaan (Pasal 1, 2,
dan 9), asas demokrasi (Pasal 9), asas kemasyarakatan, pemerataan dan keadilan sosial (Pasal 6, 7, 10,
11 dan 13), asas penggunaan dan pemeliharaan tanah secara berencana (Pasal 14 dan 15), serta asas
pemisahan horizontal. (54)
Walalupun hukum adat menjadi sumber utama, tetapi dalam pengguraiannya Supriadi menjelaskan bahwa
ada peluang atau kemungkinan untuk mengadopsi lembaga lembaga baru yang tidak dimiliki dalam
hukum adat untuk memperkaya dan memperkembangkan hukum tanah nasional, dengan syarat yang tidak
bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, salah satunya Pendaftaran Tanah. Pernyataan Supriadi ini
tidak sesuai dengan Boedi Harsono, karena menurut Boedi Harsono masyarakat adat memiliki kearifan
dan pengetahuan tersendiri tentang batas batas tanah, sehingga jika ada individu yang berbuat
melanggar ketentuan hukum adat mengenai suatu tanah, masyarakat pun mengetahui. Tetapi Supriadi
menjelaskan bahwa lembaga ini diperlukan dalam konsepsi hukum tanah nasional karena semua proses
yang berkaitan dengan hak hak atas tanah didaftarkan, dibukukkan dalam buku tanah dan kemudian
diterbitkan sertifikat sebagai bukti pemilikan tanahnya. (55) Hal ini sangat diperlukan untuk menghindari

konflik konflik yang terjadi, seperti yang telah dikemukakan dalam pendahuluan. Walaupun terkadang
terdapat beberapa kasus yang terjadi oleh karena klaim kepemilikan oleh dua pihak pada lahan (tanah )
yang sama.

Penutup
Kasus kasus kekerasan dan konflik di Maluku yang dilatarbelakangi oleh sengketa tanah adat harus
menjadi salah satu agenda pekerjaan bagi pemerintah Propinsi Maluku, karena tanah adalah sebuah
konsep yang utuh antara manusia adat Maluku dengan alam semesta, sehingga konflik yang terjadi tidak
berkepanjangan. Tentunya penyelesaian lewat jalur hukum pun harus ditempuh agar masyarakat mengerti
bahwa kekerasan bukan jalan keluar dalam menyelesaikan perbedaan. Sebuah pemahaman juga harus
ditanamkan kepada masyarakat, bahwa jalur hukum yang ditempuh sebenarnya menggunakan hukum
adat sebagai dasar pembentuknya. Jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan dapat menjadi salah
satu jalan keluar dalam penyelesaian konflik akibat sengketa tanah. Karena itu tersedianya perangkat
hukum tertulis yang lengkap, jelas dan dilaksanakan secara konsisten sangat diperlukan, juga sebuah
peyelenggaraan pendaftaran tanah secara efektif.
Penulisan jurnal ini merupakan sebuah langkah awal dalam memberi sebuah sumbangan pemikiran
terhadap kasus kekerasan dan konflik di Maluku yang selalu dilatar belakangi oleh persoalan tanah.
Tulisan ini juga dapat menjadi sebuah sumbangan pikiran bagi dunia akademik dalam pembangunan
masyarakat Maluku, juga sebuah sumbangan penawaran bagi seluruh mahasiswa fakultas Hukum yang
berfokus pada bidang Hukum Agraria untuk melaksanakan sebuah penelitian yang baru, karena masih
banyak kasus kasus yang dapat menjadi sumber penulisan dan penelitian.

Model-Model Pembelajaran Aktif (Drs. Hartono, M.Pd Dosen UIN Suska Riau)
3 Maret , 2013 , Category : Tak Berkategori

A. Latar Belakang
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar
sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran
hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik
merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama
dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan
individual anak tersebut, sehingga pembelajaran benar-benar dapat merobah kondisi anak dari yang tidak
tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi paham serta dari yang berperilaku kurang baik menjadi
baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat
dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak
perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian. Gejala yang
lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama
setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pembelajaran yang kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan didasarkan pada keinginan guru,
akan sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti
inilah yang pada umumnya terjadi pada pembelajaran konvensional. Konsekuensi dari pendekatan
pembelajaran seperti ini adalah terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang
kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak diperolehnya
ketuntasan dalam belajar, sehingga sistem belajar tuntas terabaikan. Hal ini membuktikan terjadinya
kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Menyadari kenyataan seperti ini para ahli berupaya untuk mencari dan merumuskan strategi yang dapat
merangkul semua perbedaan yang dimiliki oleh anak didik. Strategi pembelajaran yang ditawarkan adalah
strategi belajar aktif (active learning strategy).
B. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
1. Pengertian
Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang
dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai
dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga
dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian anak didik berkurang bersamaan dengan berlalunya
waktu. Penelitian Pollio (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan
pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986)
menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang
sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.
Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang sering terjadi di lingkungan sekolah. Hal ini
menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di

ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual, sehingga apa yang
dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan. Sebagaimana yang diungkapkan Konfucius:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketiga pernyataan ini menekankan pada pentingnya belajar aktif agar apa yang dipelajari di bangku sekolah
tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas sekaligus menjawab permasalahan yang sering
dihadapi dalam proses pembelajaran, yaitu tidak tuntasnya penguasaan anak didik terhadap materi
pembelajaran.
Mel Silberman (2001) memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius di atas menjadi apa yang
disebutnya dengan belajar aktif (active learning), yaitu :
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai
paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai
Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung
melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan
antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan
guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu
mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena siswa
mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder
yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu
pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak
juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus
secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula.
Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak
didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio
(pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling
menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh
audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang
sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.

Penelitian mutakhir tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan korteks otak manusia bekerja 10.000
kali lebih cepat dari belahan kiri otak sadar. Pemakaian bahasa membuat orang berpikir dengan kecepatan
kata. Otak limbik (bagian otak yang lebih dalam) bekerja 10.000 kali lebih cepat dari korteks otak kanan,
serta mengatur dan mengarahkan seluruh proses otak kanan. Oleh karena itu sebagian proses mental jauh
lebih cepat dibanding pengalaman atau pemikiran sadar seseorang (Win Wenger, 2003:12-13). Strategi
pembelajaran konvensional pada umumnya lebih banyak menggunakan belahan otak kiri (otak sadar) saja,
sementara belahan otak kanan kurang diperhatikan. Pada pembelajaran dengan Active learning (belajar
aktif) pemberdayaan otak kiri dan kanan sangat dipentingkan.
Thorndike (Bimo Wagito, 1997) mengemukakan 3 hukum belajar, yaitu:
a.

law of readiness, yaitu kesiapan seseorang untuk berbuat dapat memperlancar hubungan antara
stimulus dan respons.

b.

law of exercise, yaitu dengan adanya ulangan-ulangan yang selalu dikerjakan maka hubungan antara
stimulus dan respons akan menjadi lancar

c.

law of effect, yaitu hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik jika dapat
menimbulkan hal-hal yang menyenangkan, dan hal ini cenderung akan selalu diulang.

Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada anak didik, agar
terjadinya respons yang positif pada diri anak didik. Kesediaan dan kesiapan mereka dalam mengikuti
proses demi proses dalam pembelajaran akan mampu menimbulkan respons yang baik terhadap stimulus
yang mereka terima dalam proses pembelajaran. Respons akan menjadi kuat jika stimulusnya juga kuat.
Ulangan-ulangan terhadap stimulus dapat memperlancar hubungan antara stimulus dan respons, sehingga
respons yang ditimbulkan akan menjadi kuat. Hal ini akan memberi kesan yang kuat pula pada diri anak
didik, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memory (ingatan) nya.
Hubungan antara stimulus dan respons akan menjadi lebih baik kalau dapat menghasilkan hal-hal yang
menyenangkan. Efek menyenangkan yang ditimbulkan stimulus akan mampu memberi kesan yang
mendalam pada diri anak didik, sehingga mereka cenderung akan mengulang aktivitas tersebut. Akibat dari
hal ini adalah anak didik mampu mempertahan stimulus dalam memory mereka dalam waktu yang lama
(longterm memory), sehingga mereka mampu merecallapa yang mereka peroleh dalam pembelajaran tanpa
mengalami hambatan apapun.
Active learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan
respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan,
tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Dengan memberikan strategi active learning (belajar
aktif) pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan
kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional.
Dalam metode active learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan
berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan
secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu
menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang
tinggi untuk belajar. (Mulyasa, 2004:241)
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa perbedaan antara pendekatan pembelajaran Active
learning (belajar aktif) dan pendekatan pembelajaran konvensional, yaitu :

Pembelajaran konvensional
Berpusat pada guru
Penekanan pada menerima
pengetahuan
Kurang menyenangkan
Kurang memberdayakan semua

Pembelajaran Active learning


Berpusat pada anak didik
Penekanan pada menemukan
Sangat menyenangkan

indera danpotensi anak didikMembemberdayakan semua


indera dan potensi anak didikMenggunakan metode yang

monotonMenggunakan banyak metodeKurang

banyak media yang digunakanMenggunakan banyak mediaTidak perlu disesuaikan dengan pengetahuan
yang sudah adaDisesuaikan dengan pengetahuan yang sudah ada
Perbandingan di atas dapat dijadikan bahan pertimbangan dan alasan untuk menerapkan strategi
pembelajaran active learning (belajar aktif) dalam pembelajaran di kelas.
Selain itu beberapa hasil penelitian yang ada menganjurkan agar anak didik tidak hanya sekedar
mendengarkan saja di dalam kelas. Mereka perlu membaca, menulis, berdiskusi atau bersama-sama
dengan anggta kelas yang lain dalam memecahkan masalah. Yang paling penting adalah bagaimana
membuat anak didik menjadi aktif, sehingga mampu pula mengerjakan tugas-tugas yang menggunakan
kemampuan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis, membuat sintesis dan mengevaluasi. Dalam
konteks ini, maka ditawarkanlah strategi-strategi yang berhubungan dengan belajar aktif. Dalam arti kata
menggunakan teknikactive learning (belajar aktif) di kelas menjadi sangat penting karena memiliki pengaruh
yang besar terhadap belajar siswa.
2.

Aplikasi Active learning (belajar aktif) dalam Pembelajaran

L. Dee Fink (1999) mengemukakan model active learning (belajar aktif) sebagai berikut.
Dialog dengan diri sendiri adalah proses di mana anak didik mulai berpikir secara reflektif mengenai topik
yang dipelajari. Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengenai apa yang mereka pikir atau yang
harus mereka pikirkan, apa yang mereka rasakan mengenai topik yang dipelajari. Pada tahap ini guru dapat
meminta anak didik untuk membaca sebuah jurnal atau teks dan meminta mereka menulis apa yang mereka
pelajari, bagaimana mereka belajar, apa pengaruh bacaan tersebut terhadap diri mereka.
Dialog dengan orang lain bukan dimaksudkan sebagai dialog parsial sebagaimana yang terjadi pada
pengajaran tradisional, tetapi dialog yang lebih aktif dan dinamis ketika guru membuat diskusi kelompok
kecil tentang topik yang dipelajari.
Observasi terjadi ketika siswa memperhatikan atau mendengar seseorang yang sedang melakukan sesuatu
hal yang berhubungan dengan apa yang mereka pelajari, apakah itu guru atau teman mereka sendiri
Doing atau berbuat merupakan aktivitas belajar di mana siswa berbuat sesuatu, seperti membuat suatu
eksperimen, mengkritik sebuah argumen atau sebuah tulisan dan lain sebagainya.

Ada banyak metode yang dapat digunakan dalam menerapkan active learning (belajar aktif) dalam
pembelajaran di sekolah. Mel Silberman (2001) mengemukakan 101 bentuk metode yang dapat digunakan
dalam pembelajaran aktif. Kesemuanya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan jenis
materi dan tujuan yang diinginkan dapat dicapai oleh anak. Metode tersebut antara lain Trading
Place (tempat-tempat perdagangan), Who is in the Class?(siapa di kelas), Group Resume (resume
kelompok), prediction (prediksi), TV Komersial, the company you keep (teman yang anda jaga), Question
Student Have (Pertanyaan Peserta Didik), reconnecting (menghubungkan kembali), dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba menyajikan beberapa model pembelajaran aktif yang dikemukakan
oleh Silberman.

a. Pengajaran Sinergetik (Synergetic Teaching)


Metode ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada siswa membandingkan pengalamanpengalaman (yang telah mereka peroleh dengan teknik berbeda) yang mereka miliki.
Prosedur :
1.

Bagi kelas menjadi dua kelompok

2.

Salah satu kelompok dipisahkan ke ruang lain untuk membaca topik pelajaran

3.

Kelompok yang lain diberikan materi pelajaran yang sama dengan metode yang diinginkan oleh guru.

4.

Pasangkan masing-masing anggota kelompok pembaca dan kelompok penerima materi pelajaran dari
guru dengan tugas menyimpulkan/meringkas materi pelajaran.

b. Kartu Sortir (Card Sort)


Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep,
penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Prosedur :
1.

Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang


berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat
berpasangan berdasarkan
definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris
dengan kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa
makin banyak pula
pasangan kartunya.

2.

Guru
menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta
berpasangan
dengan siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya
memiliki kesamaan definisi atau
kategori.

3.

Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman


hukuman dibuat atas
kesepakatan bersama.

4.

Guru

bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis

dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.

c. GROUP TO GROUP EXCHANGE


Prosedur:
1.

Pilih sebuah topik


yang mencakup perbedaan ide, kejadian, posisi, konsep atau pendekatan untuk
ditugaskan. Topik haus
mengembangkan sebuah pertukaran pandangan atau informasi (kebalikan
teknik aktif debat)

Contoh :
a.

Dua

pertempuran terkenal selama perang saudara

b.

Ide

c.

Tahapan

d.

Cara-cara

e.

Perbedaan sistem

dua orang penulis atau lebih


perkembangan anak
yang berbeda pengembangan nutrisi
perorganisasian komputer

2.

Bagilah
kelas ke dalam kelompok sesuai jumlah tugas. 2 sampai 4 kelompok cocok
untuk
aktivitas ini. Berikan cukup waktu mempersiapkan bagaimanamereka
dapat menyajikan topik yang
telah mereka kerjakan

3.

Ketika
fase persiapan selesai, mintalah kelompok memilih seorang juru bicara
kepada kelompok lain.

4.

Setelah presentasi
mereka sendiri.

5.

Lanjutkan
sisa presentasi agar setiap kelompok memberikan informasi dan merespon
pertanyaan
juga komentar peserta. Bandingkan dan bedakan pandangan serta
informasi yang saling ditukar.
Setelah presentasi kelompok diarahkan untuk
menganalisis mengapa terjadi perbedaan.

menyampaikan

singkat, doronglah peserta bertanya pada presenter atau tawarkan pandangan

d. WRITING IN THE HERE AND NOW


PROSEDUR :
Pilih jenis pengalaman yang akan ditulis siswa. Seperti : problem baru, peristiwa keluarga, hari
pertama di pekerjaan baru, presentasi, pengalaman dengan teman, situasi

belajar.

1.

Informasikan
deskriptif

kepada peserta didik tentang pengalaman yang telah dipilih untuk tujuan

penulisan

2.

Persiapkan permukaan yang jelas untuk ditulis. Bangunlah privacy dan

3.

Perintahkan peseta didik menulis, saat sekarang,

4.

Berilah waktu yang cukup untuk menulis. Peserta


didik seharusnya tidak merasa terburu-buru.
Setelah mereka selesai ajaklah
mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan sekarang.

ketenangan

tentang pengalaman yang telah dipilih.

5.

Diskusikan tindakan-tindakan baru yang bisa mereka

lakukan di masa depan.

e. Active Debate (Debat aktif)


Strategi Pembelajaran yang dipergunakan adalah Active Debate (Debat aktif). Ini merupakan strategi yang
secara aktif melibatkan siswa di dalam kelas bukan hanya pelaku debatnya saja.
Langkah-langkah
1. Siswa mengembangkan sebuah pernyataan yang controversial yang berkaitan dengan materi pelajaran.
Pertanyaannya adalah Guru seringkali menjadi destroyer (perusak) dalam pembelajaran.
2. Membagi kelas ke dalam dua tim. Satu kelompok yang pro dan kelompok lain yang kontra
3. Mempersiapkan kursi untuk para juru bicara pada kelompok yang pro dan kontra. Siswa yang lain duduk
di belakang juru bicara. Memuulai debat dengan para juru bicara mempresentasikan pandangan mereka.
Proses ini disebut argument pembuka.
4. Setelah mendengar argument pembuka, siswa menghentikan debat dan kembali ke kelompok masingmasing untuk mempersiapkan argument mengkounter argument pembuka dari kelompok lawan. Setiap
kelompok memilih juru bicara yang baru (lain).
5. Melanjutkan kembali debat. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberikan counter
argument. Ketika debat berlansung, peserta yang lain didorong untuk memberikan catatan yang berisi
usulan argumen atau bantahan.
6. Meminta mereka untuk bersorak atau bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari para wakil
kelompok.
7. Mengakhiri debat pada saat yang tepat. Memastikan bahwa kelas terintegrasi dengan meminta mereka
duduk berdampingan dengan mereka yang berasal dari kelompok lawan mereka
8. Menyampaikan point-point penting dari debat tersebut dan menghubungkan dengan materi pelajaran.

f. Jigsaw Learning (Belajar Model Jiqsaw)


Strategi ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi
menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi
ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
Langkah-langkah:
1.

Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian (segmen)

2.

Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa
adalah 50 sementara jumlah segmen ada 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Jika
jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga setiap kelompok terdiri dari 5 orang,
kemudian setelah proses telah selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.

3.

Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.

4.

Setiap kelompok mengirimkan anggota-anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang
telah mereka pelajari di kelompok.

5.

Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak
terpecahkan dalam kelompok.

6.

Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.

g. Assessment Search (Menilai Kelas)


Strategi ini dapat dilakukan dalam waktu yang cepat dan sekaligus melibatkan siswa untuk saling mengenal
dan bekerjasama.
Langkah-langkah:
1.Buatlah tiga atau empat pertanyaan untuk mengetahui kondisi kelas, pertanyaan itu dapat berupa:
1.

Pengetahuan siswa terhadap materi pelajaran

2.

Sikap mereka terhadap materi

3.

Pengalaman mereka yang ada hubungannya dengan materi

4.

Keterampilan yang telah mereka peroleh

5.

Latarbelakang mereka
Harapan yang ingin didapat siswa dari mata pelajaran ini

2. Tulislah pertanyaan tersebut sehingga dapat dijawab secara

kongkret. Contohnya: Apa yang anda

ketahui tentang .?
3. Bagi siswa menjadi kelompok kecil, beri masing-masing siswa satu pertanyaan dan minta masing-masing
untuk menginterview teman satu group untuk mendapatkan jawaban dari mereka,
4. Pastikan bahwa setiap siswa mempunyai pertanyaan sesuai dengan bagiannya. Dengan demikian, jika
jumlah siswa adalah 18, yang dibagi menjadi tiga kelompok, maka akan ada 6 orang yang mempunyai
pertanyaan yang sama,
5. Mintalah masing-masing kelompok untuk menyeleksi dan meringkas data dari hasil interview yang telah
dilakukan,

6. Minta masing-masing kelompok untuk melaporkan hasil dari apa yang telah mereka pelajari dari
temannya ke kelas.
Catatan:
1.

Siswa dapat diminta untuk membuat pertanyaan sendiri.

2.

Dengan pertanyaan yang satna, buat mereka berpasangan dan menginterview pasangannya secara
bergantian.

3.

Minta mereka melaporkan hasilnya ke kelas. (Variasi ini cocok dalam kelas besar).

h. JIGSAW LEARNING
Model pembelajaran ini merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari
dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian.
Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar dan sekaligus mengajarkan
kepada orang lain.
Langkah-langkah:
1.

Pilihlah materi pelajaran yang dapat dibagi menjadi beberapa bagian (segmen)

2.

Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah siswa
adalah 50 sementara jumlah segmen ada 5, maka masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang. Jika
jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi menjadi dua sehingga setiap kelompok terdiri dari 5 orang,
kemudian setelah proses telah selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.

3.

Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi pelajaran yang berbeda-beda.

4.

Setiap kelompok mengirimkan anggota-anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan apa yang
telah mereka pelajari di kelompok.

5.

Kembalikan suasana kelas seperti semula kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan yang tidak
terpecahkan dalam kelompok.

6.

Sampaikan beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.

i. TRUE OR FALSE
Model ini merupakan aktifitas kolaboratif yang dapat mengajak siswa untuk terlibat dengan materi
pembelajaran segera. Hal ini dapat menumbuhkan kerjasama tim, berbagi pengetahuan dan belajar secara
lansung.
Langkah-langkah :
1.

Buatlah list pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran yang separoh benar dan
separohnya lagi salah.

2.

Beri setiap siswa satu kertas kemudian minta kepada mereka untuk mengidentifikasi mana pernyataan
yang benar dan yang salah.

3.

Jika proses ini selesai, bacalah masing-masing pernyataan dan mintalah jawaban dari kelas apakah
pernyataan tersebut benar atau salah.

4.

Beri masukan setiap jawaban tersebut.

j. INDEX CARD MATCH


Ini adalah model pembelajaran yang cukup menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang
telah diberikan sebelumnya. Artinya, siswa sudah memiliki bekal pengetahuan ketika masuk kelas.
Langkah-langkah :
1.

Buatlah potongan kertas sejumlah siswa yang ada di kelas.

2.

Bagi jumlah kertas menjadi dua bagian yang sama.

3.

Sebagian kertas ditulis pertanyaan tentang materi dan separoh bagian kertas lainnya ditulis jawaban
materi.

4.

Kocok kertas hingga tercampur soal dan jawaban.

5.

Beri setiap siswa satu kertas dan jelaskan bahwa kertas mereka memiliki pasangannya.

6.

Suruh siswa mencari pasangannya. Jika sudah menemukan, mintalah siswa membacakan secara
berpasangan.

k. SORTIR KARTU (CARD SORT)


Metode ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep,
penggolongan sifat, fakta tentang suatu objek, atau mengulangi informasi.
Langkah-langkah :
1.

Masing-masing siswa diberikan kartu indek yang berisi materi pelajaran. Kartu indek dibuat
berpasangan berdasarkan definisi, kategori/kelompok, misalnya kartu yang berisi aliran empiris dengan
kartu pendidikan ditentukan oleh lingkungan dll. Makin banyak siswa makin banyak pula pasangan
kartunya.

2.

Guru menunjuk salah satu siswa yang memegang kartu, siswa yang lain diminta berpasangan dengan
siswa tersebut bila merasa kartu yang dipegangnya memiliki kesamaan definisi atau kategori.

3.

Agar situasinya agak seru dapat diberikan hukuman bagi siswa yang melakuan kesalahan. Jenis
hukuman dibuat atas kesepakatan bersama.

4.

Guru dapat membuat catatan penting di papan tulis pada saat prosesi terjadi.

l. THE POWER OF TWO


Aktivitas belajar ini digunakan untuk mendorong pembelajaran kooperatif dan memperkuat arti penting serta
sinergi dua orang dengan prinsip bahwa berpikir berdua lebih baik dari pada berpikir sendiri.
Langkah-langkah :
1. Ajukan pertanyaan satu atau lebih yang menuntut perenungan dan pemikiran.
2. Siswa diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut secara individual.
3. Kemudian minta kepada mereka berpasangan dan saling bertukar jawaban dan membahasnya.
4. Mintalah pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk setiap pertanyaan dan sekaligus memperbaiki
jawaban individual.
5. Minta masing-masing pasangan untuk menjawab dan bandingkan jawaban setiap pasangan tersebut.
m. SNOW BALLING
Model ini digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi siswa secara bertingkat.
Strategi ini akan berjalan dengan baik apabila materi yang dipelajari menuntut pemikiran yang mendalam.
Langkah-langkah :
1. Sampaikan topik materi yang akan disampaikan.
2. Minta siswa untuk menjawab secara berpasangan.
3. Setelah pasangan tersebut mendapat jawaban, gabungkan pasangan itu dengan pasangan di
sampingnya. Dengan ini terbentuk kelompok empat orang.
4. Kelompok berempat ini mengerjakan tugas yang sama dengan membandingkan jawaban masing-masing
pasangan dengan pasangan lain dan mengambil sebuah kesimpulan baru.
5. Kemudian kelompok emat orang digabung dengan kelompok empat orang di sampingnya. Kelompok
menjadi delapan orang.
6. Begitu seterusnya sesuai dengan jumlah siswa dan jumlah waktu yang digunakan.
7. Masing-masing kelompok diminta menyampaikan hasilnya.
n. QUESTION STUDENT HAVE

Metode Question Student Have ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan anak didik
sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Metode ini menggunakan sebuah teknik
untuk mendapatkan partisipasi siswa melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada siswa yang kurang
berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.
Langkah-langkah :
1.

Bagikan kartu kosong kepada siswa

2.

Mintalah setiap siswa menulis beberapa pertanyaan yang mereka miliki tentang mata pelajaran atau
sifat pelajaran yang sedang dipelajari

3.

Putarlah kartu tersebut searah keliling jarum jam. Ketika setiap kartu diedarkan pada peserta
berikutnya, peserta tersebut harus membacanya dan memberikan tanda cek di sana jika pertanyaan
yang sama yang mereka ajukan

4.

Saat kartu kembali pada penulisnya, setiap peserta telah memeriksa semua pertanyaan yang diajukan
oleh kelompok tersebut. Fase ini akan mengidentifikasi pertanyaan mana yang banyak dipertanyakan.
Jawab masing-masing pertanyaan tersebut dengan :
1.

Jawaban langsung atau berikan jawaban yang berani

2.

Menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sampai waktu yang tepat

3.

Meluruskan pertanyaan yang tidak menunjukkan suatu pertanyaan

4.

Panggil beberapa peserta berbagi pertanyaan secara sukarela, sekalipun pertanyaan mereka
tidak memperoleh suara terbanyak

5.

Kumpulkan semua kartu. Kartu tersebut mungkin berisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin
dijawab pada pertemuan berikutnya.

Variasi :
1.

Jika kelas terlalu besar dan memakan waktu saat memberikan kartu pada siswa, buatlah kelas menjadi
sub- kelompok dan lakukan instruksi yang sama. Atau kumpulkan kartu dengan mudah tanpa
menghabiskan waktu dan jawab salah satu pertanyaan

2.

Meskipun meminta pertanyaan dengan kartu indeks, mintalah peserta menulis harapan mereka dan
atau mengenai kelas, topik yang akan anda bahas atau alasan dasar untuk partisipasi kelas yang akan
mereka amati.

3.

Variasi dapat pula dilakukan dengan meminta peserta untuk memeriksa dan menjawab semua
pertanyaan yang diajukan oleh kelompok tersebut, sehingga fase ini akan dapat mengidentifikasi
pertanyaan mana yang mendapat jawaban terbanyak, sebagai indikasi penguasaan anak terhadap
objek yang dipertanyakan.

o. RESUME KELOMPOK
Teknik resume secara khusus menggambarkan sebuah prestasi, kecakapan dan pencapaian individual,
sedangkan resume kelompok merupakan cara yang menyenangkan untuk membantu para peserta didik
lebih mengenal atau melakukan kegiatan membangun tem dari sebuah kelompok yang para anggotanya
telah mengenal satu sama lain.
Langkah-langkah :

1.

Bagilah peserta didik ke dalam kelompok sekitar 3 sampai 6 anggota

2.

Beritahukan kelas itu bahwa kelas berisi sebuah kesatuan bakat dan pengalaman yang sangat hebat

3.

Sarankan bahwa salah satu cara untuk mengenal dan menyampaikan sumber mata pelajaran adalah
dengan membuat resume kelompok.

4.

Berikan kelompok cetakan berita dan penilai untuk menunjukkan resume mereka. Resume tersebut
seharusnya memasukkan beberapa informasi yang bisa menjual kelompok tersebut secara
keseluruhan. Data yang disertakan bisa berupa :a). latar belakang pendidikan; sekolah-sekolah yang
dimasukib). pengetahuan tentang isi pelajaran
c). pengalaman kerja
d). posisi yang pernah dipegang\keterampilan-keterampilan
e). hobby, bakat, perjalanan, keluarga
f). prestasi-prestasi

g). Ajaklah masing-masing kelompok untuk menyampaikan resumenya

p. Point-counter point
Strategi ini sangat baik digunakan untuk melibatkan mahasiswa dalam mendiskusikan issu-issu kompleks
secara mendalam. Strategi ini mirip dengan debat, hanya saja dikemas dalam suasana yang tidak terlalu
formal.
Langkah-langkah:
1.

Pilihlah issu yang mempunyai beberapa perspektif

2.

Bagilah mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok sesuai dengan jumlah perspektif yang telah anda
tentukan

3.

Minta masing-masing kelompok untuk menyiapkan argumen-argumen sesuai dengan pandanganpandangan kelompok yang diwakili

4.

Mulailah debat dengan mempersilahkan kelompok mana saja yang akan memulai

5.

Setelah salah seorang mahasiswa menyampaikan satu argumen sesuai dengan pandangan
kelompoknya mintalah bantahan, tanggapan atau koreksi dari kelompok yang lain perihal issu yang
sama.

6.

Lanjutkan proses ini hingga waktu yang memungkinkan

7.

Rangkum debat yang baru saja dilaksanakan dengan menggarisbawahi atau mungkin mencari titik
temu dari argumen-argumen yang muncul.

q. LISTENING TEAMS

Strategi ini membantu siswa untuki tetap konsentrasi dan fokus dalam pelajaran yang menggunakan metode
ceramah. Strategi ini bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang mempunyai tugas atau tanggungjawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran
Langkah-langkah
1.

Bagi siswa menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok mendapat salah salah satu dari tugastugas berikut in i:
1.

Penanya: Betugas membuat minimal dua pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang
baru saja disampaikan

2.

Pendukung: Bertugas mencari ide-ide yang disetujui atau dipandang berguna dari materi
pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa

3.

Penentang: Bertugas mencari ide-ide yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari
materi pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa

4.

Pemberi contoh: Bertugas memberi contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang
baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa

5.

Sampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan
kepada masing-masing kelompok untuk menyelesaikan tugas mereka.

6.

Minta masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil dari tugas mereka.

Modifikasi:

Kalau jumlah siswa banyak, buat kelompok ganda, artinya terdapat dua kelompok sebagai
Penanya dan begitu pula pada kelompok lainnya.

Juga bisa diawali dengan


Two bahkan Snowballing.

tugas Individual

(Minute

Paper),

kemudian Powers

of

r. LIGHTENING THE LEARNING CLIMATE


Satu kelas dapat degan cepat menemukan susasana belajar yang rileks. Informal dan tidak menakutkan
dengan meminta siswa untuk membuat humor-humor kreatif yang brhubungan dengan matei kuliah. Strategi
ini sangatlah Informal, akan tetapi pada waktu yang sama dapat mengajak siswa untuk berpikir.
Langkah-langkah
1.

Jelaskan kepada siswa bahwa Anda akan memulai pelajaran dengan aktivitas pembuka yang
menyenangkan sebelum masuk pada materi pelajaran yang lebih serius.

2.

Bagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil. Beri masing-masing kelompok satu tugas untuk membuat
kegembiraan atau kelucuan dari topik, konsep atau issu mata pelajaran yang Anda ajarkan, sebagai
contoh:

1.

Ilmu Pemerintahan: Buatlah satu sistem pemerintahan yang menurut Anda paling tidak efekif

2.

Matematika: Buatlah satu cara menghitung yang tidak efisien

3.

Ilmu Kesehatan: Buatlah menu makanan yang sama sekali tidak bergizi

4.

Grammar: Tulislah kalimat yang memuat kesalahan-kesalahan grammar sebanyak mungkin

5.

Teknik: Buatlah satu jembatan yang nampak akan jatuh

6.

Minta kelompok-kelompok tadi untuk mempresentasikan kreasi mereka. Hargai setiap kreasi

7.

Tanyakan: Apakah yang mereka pelajari tentang materi kita dari latihan ini?

8.

Guru memberi penjelasan atau melanjutkan pelajaran dan materi lain.

s. CRITICAL INCIDENT
Strategi ini digunakan untuk memulai pelajaran.Tujuan dari penggunaan strategi ini adlah nuntuk melibatkan
siswa sejak awal dengan melihat oengalamn mereka
Langkah-langkah
1.

Sampaikan kepada siswa topik atau materi yang akan dipelajari dalam pertemuan hari itu

2.

Beri kesempatan beberapa menit kepada siswa untuk mengingat-ingat pengalaman mereka yang tidak
terlupakan berkaitn dnegn materi yang ada

3.

Tanyakan pengalaman apa yang menurut mereka tidak terlupakan

4.

Sampaikan perkuliahan dengn mengaitkan pengalaman-pengalaman siswa dengan materi yang akan
Anda sampaikan

Dari jawaban-jawaban yang muncul guru bisa memulai pelajaran dengan mengaitkan pengalaman siswa
dengan topik yang diajarkan
Modifikasi:
Pengalaman bisa yang menyenangkan atau yang menyedihkan atau yang paling lucu, memalukan
pokoknya Unforgettable Memory
t. PREDICTION GUIDE
Strategi ini membantu siswa untuki tetap konsentrasi dn fokus dalam pelajaan yang menggunakan metode
ceramah. Strategi ini bertujuan membentuk kelompok-kelompok yang mempunyai tugas atau tanggungjawab tertentu berkaitan dengan materi pelajaran
Langkah-langkah
1.

Bagi siswa menjadi empat kelompok, masing-masing kelompok mendapat salah salah satu dari tugastugas berikut ini:

Penanya: Betugas membuat minimal dua pertanyaan berkaitan dengan materi pelajaran yang baru saja
disampaikan

Pendukung: Bertugas mencari ide-ide yang disetujui atau dipandang berguna dari materi pelajaran yang
baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
Penentang: Bertugas mencari ide-ide yang tidak disetujui atau dipandang tidak berguna dari materi
pelajaran yang baru saja disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
Pemberi contoh: Bertugas memberi contoh spesifik atau penerapan dari materi pelajaran yang baru saja
disampaikan dengan memberikan alasan kenapa
1.

Sampaikan materi pelajaran dengan metode ceramah. Setelah selesai, beri kesempatan kepada
masing-masing kelompok untuk menyelesaikan tugas mereka.

2.

Minta masing-masing kelompok untuk menyampaikan hasil dari tugas mereka.

Modifikasi:

Kalau jumlah siswa banyak, buat kelompok ganda, artinya terdapat dua kelompok sebagai
Penanya dan begitu pula pada kelompok lainnya. Kedua kelompok bisa melakukan
proses Power of Two

Juga bisa diawali dengan tugas Individual (Minute Paper), kemudian Powers of Two kemudianSnowballing

21.

Dan

lain-lain.

DAFTAR BACAAN
Bonwell,

Charles

C.,

dan

James

A.

Eison, Active

Learning:

Creating

Excitement

in

the

Classroom, http://www.gwu.edu/eriche.
Dee Fink, L., Active Learning, reprinted with permission of the Oklahoma Instructional Development
Program, 1999,http://www.edweb.sdsu.edu/people/bdodge/Active/ActiveLearning.html
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
McKeachie W., Teaching Tips: A Guidebook for the Beginning College Teacher, Boston, D.C. Health,
1986.
Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Konsep, Karakteristik dan Implementasi,
Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004.
Pollio, H.R., What Students Think About and Do in College Lecture Classes dalam Teaching-Learning
Issues No. 53, Knoxville, Learning Research Centre, University of Tennesse, 1984.
Silberman, Mel, Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (terjemahan Sarjuli et al.) Yogyakarta,
YAPPENDIS, 2004.

Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, Andi Offset, 1997.


Wenger, Win, Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching & Learning,
(terjemahan Ria Sirait dan Purwanto), Nuansa, 2003.
Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Jakarta, Gaung Persada Press, 2003.

Info Terbaru

Produk Terbaru

Produk Lainnya

Para Konsumen Yang Beruntung Undian Berhadiah Promo Buku Murah Mizan
13 Januari , 2016 , Kategori : Tak Berkategori

Dan inilah Konsumen yang beruntung bisa mendapatkan dan membawa pulang hadiah dari promo
pembelian buku murah MIZAN dan mereka berhak membawa pulang Hadiah berupa, Sepeda, Magic Com,
Kompor Gas, dan Kaligrafi. Yang mendapatkan Sepeda yaitu Bapak... baca selengkapnya

Bazar Buku Murah


23 Desember , 2015 , Kategori : Tak Berkategori

Dalam menyambut pergantian tahun Toko Buku Zanafa mengadakan suatu Terobosan dengan
mengadakam BAZAR BUKU MURAHbuku buku yang dijual mulai dari harga Rp 5.000 sampai dengan
harga Rp 30.00. Buku yang dijual terdiri dari buku Pelajaran, Novel, Agama, DLL. Dengan... baca
selengkapnya

Promo Pembelian Buku Terbitan Mizan


29 November , 2015 , Kategori : Tak Berkategori

Untuk memberikan tanda terima kasih kepada para pelanggan dan konsumen, kami dari toko buku Zanafa
dan Penerbit Buku Mizan Berkerja sama untuk memberikan suatu tanda terima kasih yaitu berupa Promo
Buku Murah dan Berhadiah. Kami dan Penerbit Mizan mengadakan Promo... baca selengkapnya

Toko Buku Zanafa Buku Bazar di Hotel Mona


6 November , 2013 , Kategori : Tak Berkategori

Dalam rangka mensukseskan program pemerintah yaitu program SERTIFIKASI GURU, maka toko buku
Zanafa Pekanbaru turut ambil bagian mensukseskan program tersebut, yaitu dengan membuka Bazar buku
di Hotel Mona. Pemilihan tempat di hotel Mona karena ada 2 kegiatan sertifikasi guru... baca
selengkapnya

Zanafa Buka Cabang di Simpang Tiga Pekanbaru


6 November , 2013 , Kategori : Tak Berkategori

Toko buku Zanafa akan membuka cabang di wilayang Simpang Tiga Pekanbaru, tepatnya di Jl. Kaharudin
Nasution sekitar 1 Km dari Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dan 1,2 Km dari kampus Universitas
Islam Riau (UIR). Saat ini sedang dilakukan proses... baca selengkapnya

* klik gambar produk

BUKU KONTROVERSIAL
1. Dari Surau ke Gereja
2. 100 Jejak Kemaksiatan di Masjid Allah
Buku tersebut ditolak oleh beberapa toko buku karena dianggap kontroversial. PENASARAN?
Silahkan dapatkan di toko buku Zanafa.
HALAMAN

Alamat Kami

Daftar Isi

Download Katalog

Website Toko Online zanafa


KALENDER

M
Agu
4
11
18
25

5
12
19
26

6
13
20
27

September 2016
R

7
14
21
28

1
8
15
22
29

KOMENTAR

Zanafa Publishing padaBiografi Syekh Haji Abdul Ghani Al-Khalidi

Hartono pada Perpajakan Isu-Isu Kontemporer

Ediwan pada Daftar Isi


ARSIP
ARSIP

J
2
9
16
23
30

S
3
10
17
24

DESAIN PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN


(PAIKEM) MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM MENINGKATKAN MUTU
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DESAIN PEMBELAJARAN AKTIF, INOVATIF, KREATIF, EFEKTIF, DAN MENYENANGKAN
(PAIKEM)
MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM MENINGKATKAN
MUTU PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI SMP NEGERI 4 KUPANG
Oleh : Abdulchalid Badarudin

A.
IDENTIFIKASI MASALAH PEMBELAJARAN
Tulisan ini berusaha menggambarkan bagaimana inovasi yang pernah dilakukan
oleh penulis selaku Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 4 Kupang.
Tentunya inovasi yang dilakukan oleh penulis berangkat dari upaya penulis
mendiagnosis rendahnya motivasi belajar siswa sebagai usaha yang
dilakukan untuk memahami dan menetapkan sejumlah solusi. Juga
mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar
siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Islam serta cara menetapkan dan
kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif maupun secara preventif
berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin. Dengan demikian,
semua kegiatan yang dilakukan oleh penulis selaku Guru Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 4 Kupang untuk menemukan rendahnya motivasi belajar
siswa adalah bagian dari usaha diagnosis. Perlunya diadakan diagnosis
terhadap siswa karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa di SMP Negeri 4
Kupang harus mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang
secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat,
minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem
pengajaran di SMP Negeri 4 Kupang seharusnya memberi kesempatan pada
siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat, untuk
menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, maka penulis
berkewajiban dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan,
sikap yang terbuka dan mengasah keterampilan dalam mengidentifikasi
kesulitan belajar siswa.
Terkait dengan kegiatan diagnosis yang dilakukan oleh penulis di SMP Negeri 4
Kupang, secara garis besar dapat diklasifikasikan ragam diagnosis ada dua
macam, yaitu diagnosis untuk mengerti masalah dan diagnosis yang
mengklasifikasi dan memunculkan solusi terhadap masalah. Diagnosa untuk
mengerti masalah merupakan usaha untuk dapat lebih banyak mengerti
masalah secara menyeluruh. Sedangkan diagnosis yang mengklasifikasi
masalah merupakan pengelompokan masalah sesuai ragam dan sifatnya
serta memberikan sejumlah solusi yang tepat.
Beberapa hasil identifikasi masalah pembelajaran di SMP Negeri 4 Kupang
sebagai upaya diagnosis penulis adalah:
1.
Siswa kurang semangat mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam,

2.

Siswa menganggap pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang


menyenangkan,
3.
Siswa lebih banyak membolos pada saat pelajaran Pendidikan Agama Islam,
4.
Dalam proses pembelajaran, siswa kurang aktif dan kreatif dalam
melibatkan diri pada interaksi pembelajaran,
5.
Hasil pree test dalam rangka menguji daya serap siswa pada setiap
memulai pelajaran sangat rendah.
Beberapa masalah yang dialami oleh siswa di atas secara langsung memberi
dampak negativ terhadap perkembangan belajar siswa. Hal ini berimbas pada
pencapaian perolehan nilai yang dicapai oleh siswa.
Setelah penulis mengidentifikasi beberapa kali, ternyata hal ini disebabkan oleh
cara mengajar Guru Pendidikan Agama Islam, yakni penulis sendiri. Metode,
model, pendekatan, strategi dan teknik pembelajaran yang penulis gunakan
selama ini sudah pernah dilakukan oleh guru mata pelajaran lain dan bukan
hal yang baru bagi siswa sehingga menumbuhkan sikap bosan bagi siswa.
Akhirnya penulis menyadari kelemahan penulis dan memandang kelemahan
tersebut sebagai kekurangan yang harus diperbaiki di antaranya
menampilkan cara mengajar yang menyenangkan siswa dengan
menggunakan media pembelajaran yang didesain sendiri oleh penulis, yakni
mendesain pembelajaran PAIKEM melalui multimedia interaktif.
Untuk memudahkan pembaca memahami secara baik tulisan ini, maka penulis
menyajikan kerangka dasar sebagai gambaran umum sebagai berikut:

Rounded Rectangle: DESAIN

Rounded Rectangle: PAIKEM

Rounded Rectangle: Aplikasi utama:


1. Powerpoint
2. LCD
3. Macromedia Flash
4. Windows Media Player
5. VCD Cuter
6. Remot control
7. Quiz Maker
8. SWF Qiucker
9. Corel Draw
10. Cool Edit Pro
11. Nonosoft
12. Digital Al-quran
13. Flas Player
14. Total Video Converter
15. Corel Video Studyo Pro
16. Ispring Suite
17. Khalil MP3 Quran
18. Quraan In The Word

B. DESAIN PEMBELAJARAN PAIKEM MELALUI MULTIMEDIA INTERAKTIF


Penulis sendiri adalah salah seorang Guru yang telah mengantongi
sertifikat/piagam pendidikan dan pelatihan ICT tingkat Nasional. Pada Juni
2010 penulis mendapat piagam penghargaan sebagai Instruktur ICT melalui
pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI
di Hotel Aston Bandung-Jawa Barat. Pada Bulan Oktober 2010 Kementerian
Agama Provinsi NTT menyelenggarakan Lomba Kreatifitas Guru PAI se-NTT
dengan tema KREASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ICT DAN PAIKEM
DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PAI. Penulis juga turut
berpartisipasi dalam lomba tersebut sebagai peserta utusan Guru PAI SMP
Negeri 4 Kupang, dan meraih juara I. Kemudian pada tahun 2013 penulis juga
mengikuti jenis lomba yang sama dan juga meraih juara I.
Berkat prestasi yang diraih oleh penulis pada sejumlah lomba di NTT, maka
Kementerian Agama Kota Kupang maupun Provinsi NTT sering
mempercayakan Penulis untuk menyajikan materi pembelajaran PAI berbasis
ICT pada kegiatan-kegiatan workshop, seminar dan lokakarya yang
diselenggarakan oleh Kementerian Agama maupun Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP) PAI tingkat Kota dan Provinsi. Jadi, untuk pengelolaan ICT,
penulis tidak berbangga diri, namun penulis cukup menguasai bidang
tersebut, sehingga bagi penulis, penerapan pembelajaran berbasis
multimedia interaktif pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas
tidak menemukan kendala yang berarti.
Desain pembelajaran PAIKEM berbasis multimedia interaktif yang dilakukan oleh
penulis merupakan sebuah inovasi yang dilatarbelakangi oleh tuntutan
menjadi pribadi yang inovatif dalam proses pendidikan. Inovasi guru dalam
proses pembelajaran sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik
dalam memahami materi pelajaran, Inovasi multimedia interaktif merupakan
media rancangan yang mana di dalam penggunaannya sangat diperlukan
perancangan khusus dan didesain sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan.
Perangkat keras (hardware) yang difungsikan dalam mengispirasikan media

tersebut adalah menggunakan satu unit komputer lengkap dan LCD. Terbukti
pada saat pembelajaran Pendidikan Agama Islam, penulis menggunakan
media multimedia interaktif, dikombinasikan menjadi sesuatu yang lebih
menarik, sehingga peserta didik semangat dan termotivasi pada saat
pembelajaran berlangsung.
Penggunaan multimedia interaktif dapat menambah motivasi belajar peserta
didik sehingga perhatian siwa terhadap materi pelajaran dapat lebih
meningkat. Seperti halnya media pembelajaran komputer, dengan
lengkapnya program-program komputer dengan tampilan penuh warna (full
colour), musik, dan grafis animasi dapat menambahkan kesan realisme dan
menuntut latihan, simulasi, sangat menarik minat dan perhatian peserta didik
dalam mengikuti proses pembelajaran, yang akhirnya bisa menambah gairah
dan motivasi belajar peserta didik terutama melalui media power point.
Perpaduan komputer dengan program multimedia interaktif dapat menyajikan
pesan atau materi pelajaran sesuai desain atau rancangan yang telah
disiapkan. Desain pesan dapat berwujud audio visual diam, visual gerak atau
audio visual gerak, yang dapat ditampilkan sewaktu-waktu.
Membantu memudahkan belajar bagi siswa dan memudahkan mengajar bagi
guru merupakan pengalaman nyata yang dialami oleh penulis sendiri.
Multimedia interaktif digunakan tidak hanya memberikan kemudahan tetapi
juga objek yang nyata dapat dipelajari dan sebagai alat bantu yang praktis
dan menarik. Belajar dengan menggunakan media pembelajaran komputer
sangatlah menarik bagi siswa karena dengan menggunakan komputer apalagi
program power point siswa dapat mengingat pelajaran yang telah diajarkan
oleh guru dengan mudah.
Semua indera siswa dapat diaktifkan. Dengan adanya penggunaan media seperti
ini, sebagian siswa tidak sepenuhnya konsen terhadap tanyangan multimedia
interaktif namun mereka masih mendapatkan informasi dari guru, ataupun
sebaliknya ketika mereka fokus terhadap multimedia interaktif dan kurang
mendengarkan guru, mereka tetap mendapatkan informasi. Lama waktu
pengajaran yang diperlukan dapat dipersingkat. Sebelum pembelajaran
berlangsung guru sudah mempersiapkan media pembelajaran, sehingga
pemanfaatan waktu lebih maksimal.
Di bawah ini penulis menampilkan salah satu contoh desain yang pernah
dilakukan oleh penulis di SMP Negeri 4 Kupang:

Pokok Bahasan
: Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah
Tujuan Pembelajaran
: 1. Siswa dapat menjelaskan pengertian
iman kepada Malaikat-Malaikat Allah
2. Siswa dapat mencontohkan prilaku beriman kepada Malaikat-Malaikat Allah
dalam kehidupan sehari-hari

Untuk mendukung tercapainya pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif,


dan menyenangkan yang sesuai dengan karakterisitik pokok bahasan di atas,
maka penulis menentukan model, pendekatan, strategi dan teknik yang tepat
dan sistematis. yakni:
Model pembelajaran
: Cooperative Learning
Pendekatan Pembelajaran: Contekstual Teaching And Learning (CTL)
Startegi Pembelajaran
: Jigsaw
Teknik Pembelajaran
:
1. Siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim yang terdiri atas 4 siswa;
2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda;
3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan;
4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang
sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan
sub bab mereka;
5. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok
asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang
mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguhsungguh;
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi;
7. Guru memberi evaluasi;
8. Penutup.
Kemudian didesain melalui multimedia interaktif, yakni:
1.
Tahap persiapan
Yang dilakukan penulis pada tahap persiapan antara lain:
*
Menyiapkan Leptop yang berisi aplikasi Office mutakhir yaitu Office
2010 sehingga tampilan lebih menarik dari office sebelumnya,
*
Menyiapkan remot control sehingga dapat mengoperasionalkan leptop
dari jarak jauh,
*
Menginstal aplikasi utama ke dalam leptop, antara lain: Quiz Maker,
Macromedia Fles 8, SWF Maker Easy, SWF Qiucker, Corel Draw, Cool Edit Pro,
dan lain-lain.
*
Memasukkan beberapa aplikasi pendukung antara lain: animasi statis
maupun dinamis, dan picture yang berlatar indah dan menarik yang akan
dijadikan becround pada tampilan slide, menginstal aplikasi Quraan In The
Word, aplikasi Digital Al-quran, aplikasi Khalil MP3 Quran, aplikasi Nonosoft,
aplikasi Ispring Suite, aplikasi Flas Player, KM Player, Windows Medya Player,
Total Video Converter, Corel Video Studyo Pro, dan lain-lain.
*
Memeriksa memori speed internal Leptop sehingga penggunaannya
tidak macet dan lamban,

*
*
*
*
*

Mengecek USB Leptop yang dapat conek dengan LCD/proyektor


sehingga pada saat tampil di kelas alat tersebut tidak bermasalah.
Mendesain bahan ajar materi yang akan diajarkan ke dalam power point
Mendesain soal tanya jawab pratest dan posttest dalam rangka
mengukur daya serap siswa melalui quiz maker,
Mendesain tujuan pembelajaran melalui power point,
Memasukkan berbagai permainan melalui media yang akan digunakan
dalam proses pembelajaran melalui KMP player atau Windows Medya Player,

2.
Tahap Pelaksanaan di Kelas
Pelaksanaan di kelas dengan menjadikan RPP sebagai rujukan, antara lain:
Fase 1 : Kegiatan pendahuluan, antara lain:
a) Orientasi; sebagai kegiatan awal pembelajaran yang menyangkut salam
pembukaan, mengecek kehadiran/ absen, mengatur posisi duduk sesuai
dengan pembelajaran, dan mengecek kerapian berpakaian.
b) Apreseasi; sebagai kegiatan awal pembelajaran yang menyangkut
questioning/ bertanya tentang kesiapan siswa, mengajukan pertanyaan
secara komunikatif terhadap materi sebelumnya untuk menguji daya serap
siswa melalui quiz maker, kemudian ilustrasi.
c)
Motivasi; sebagai kegiatan awal pembelajaran yang menyangkut
pemotivasian terhadap siswa dengan menayangkan video motivasi belajar
melalui Windows Media Player.

Fase 2,3,4 dan 5 : Kegiatan inti, antara lain:


a)
Penyampaian tujuan pembelajaran melalui slide power point.
b)
Menguraikan materi pembelajaran berdasarkan indikator pencapaian
kompetensi melalui slide power point,
c)
Penerapan media pembelajaran menggunakan Leptop, LCD, dan remot
Control dan power point,
d)
Penerapan model pembelajaran Jigsaw di pandu melalui power point,
e)
Pembimbingan; yakni membimbing dan memberikan arahan terkait
bermain peran dengan menampilkan slide power point.
f)
Pelaksanaan evaluasi melalui lembaran pengamatan dan tes lisan dengan
menampilkan Quiz Maker dan slide power point. Pertanyaan dilakukan oleh
computer dan dijawab pula oleh computer, serta pemberian nilai juga diolah
sendiri oleh computer dengan program otomatis.
Fase 6 : Penutup, antara lain:
a)
Memberikan koreksi dan umpan balik.
b)
Menyimpulkan materi pembelajaran dengan menampilkan slide power
point.
c)
Memberikan penguatan dengan menampilkan slide power point.
d)
Refleksi mengenai kegiatan belajar; bermanfaat atau tidak, menyenangkan
atau tidak.

e)

Memberikan penghargaan untuk menghargai upaya atau hasil belajar


siswa.
f)
Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran berikutnya.
g)
Pengayaan; bagi siswa yang memenuhi KKM
h)
Remedial; bagi siswa yang belum memenuhi KKM
Fakta yang diperoleh setelah penerapan pembelajaran PAIKEM yang didesain
melalui multimedia interaktif di atas adalah:
1.
Memunculkan antusias siswa yang cukup tinggi, indikatornya antara lain
siswa berbicara dengan spontan/ lepas, jelas dan lancar, berani
menyampaikan pendapat dan pertanyaan, siswa mengikuti pembelajaran
dengan semangat dan antusias, cukup aktif dan disiplin dalam bermain
peran.
2.
Siswa cukup aktif dalam pembelajaran, yakni aktif membaca dan menulis
tugas yang diberikan guru, aktif bertanya dan menjawab pertanyaan, aktif
memberikan umpan balik, aktif berbagi pengetahuan dengan siswa lain.
3.
Siswa cukup kreatif menemukan dan memecahkan masalah.
4.
Melahirkan pembelajaran yang efektif, indikatornya adalah siswa
menguasai kompetensi yang telah diajarkan.
5.
Pembelajaran menyenangkan karena siswa belajar sambil bermain.
6.
Interaksi siswa cukup baik dan tidak mengambil jarak antara siswa dengan
siswa dan siswa dengan guru.
7.
Terwujudnya situasi kelas yang kondusif,
8.
Melahirkan prestasi belajar yang cukup tinggi bagi siswa pada mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam, indikartornya adalah nilai LKS siswa pada
setiap pertemuan tatap muka di atas standar KKM yang yang telah
ditentukan,
9.
Hasil belajar dalam pembelajaran yang didesain melalui multimedia
interaktif telah mengubah pola kegiatan pembelajaran yang biasanya
berpusat dari guru (teacher centre) menjadi berpusat pada siswa (student
centre), sehingga tercapainya tujuan pembelajaran baik ranah kognitif,
afektif, maupun psikomor.
10. Menumbuhkan semangat siswa dalam mengikuti pelajaran.
11. Adanya hubungan yang akrab antara guru dengan siswa dan siswa dengan
siswa.
Selain inovasi di atas, ada beberapa inovasi yang pernah dilakukan oleh penulis,
antara lain:
1.
Menampilkan suara atau video yang berkaitan dengan materi yang
diajarkan. Misalnya, dalam materi pembelajaran tentang Iman Kepada Hari
Akhir. Melalui program ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan
materi tersebut, tetapi juga dapat ditampilkan ilustrasi tentang kiamat sughra
dan kubra. Pengalaman penulis, melaui pembelajaran seperti itu, ternyata
siswa lebih mudah memahami dan tertarik.
2.
Menggunakan e-mail untuk mengumpulkan tugas dari siswa. Sekarang ini
yang telah dilakukan oleh penulis kepada siswa di SMP Negeri 4 Kupang.
Berbeda dengan sebelumnya dalam mengumpulkan tugas melalui buku atau

kertas. Bisa dibayangkan bagaimana penulis mengajar di 18 kelas. Masingmasing kelas berjumlah 40 siswa. Berarti ada 720 buku tugas atau makalah
yang menumpuk di bawah atau atas meja guru. Pengumpulan tugas melalui
e-mail justru sekaligus mendidik siswa untuk mengurangi global warming.
Kita tahu bahwa bahan baku kertas berasal dari kayu. Artinya semakin
banyak peserta didik menggunakan kertas, maka bertambah banyak
penebangan kayu untuk bahan baku kertas. Tidak salah kalau sekarang hutan
di Indonesia semakin berkurang. Karenanya, peserta didik perlu dilatih untuk
mencegah global warming sekaligus menyelamatkan dunia dengan cara
meminimalisasi penggunaan kertas.
3.
Menggunakan mailing list untuk diskusi kelas yang diajarkan. Melalui
mailing list guru dapat membuat grup atau kelompok sendiri, bisa berupa
satu kelas atau satu sekolah untuk berkomunikasi. Di sini penulis
menginformasikan materi pembelajaran yang akan disampaikan pada
pertemuan ke depan via mailing list. Sedangkan seluruh anggota grup akan
mengetahuinya dalam waktu bersamaan. Saat itu juga siswa dapat mendownload materi tersebut dari rumah atau di mana pun tempatnya asalkan
ada jaringan internet. Selain itu, melalui mailing list guru dapat membuka
ruang diskusi dengan siswa. Selama ini kesempatan bertanya peserta didik
masih terbatas di ruang kelas. Melalui program tersebut, guru dapat
membantu masalah yang dihadapi siswa kapan pun dan di mana pun mereka
berada.
4.
Menggunakan web blog untuk pembelajaran di dalam atau di luar kelas.
Ketika disebut web blog, banyak guru bertanya-tanya: mahalkah biayanya?
Memang, untuk website yang komersial, pengguna (user) harus membayar
sesuai tarif. Tetapi untuk web blog, pengguna tidak harus membayar alias
gratis. Dibanding fasilitas ICT, web blog lebih sempurna. Di antara
kelebihannya, guru dapat menampilkan semua karya atau hasil pemikiran
yang dimiliki. Guru dapat mengunggah (upload) semua materi pembelajaran
PAI ke website. Melalui media ini siswa dapat belajar tanpa dibatasi ruang
kelas. Tidak hanya materi pembelajaran, tetapi juga latihan soal, hasil
ujian/ulangan atau materi lain yang berhubungan dengan materi PAI. Khusus
hasil ujian, selama ini siswa atau orang tua hanya mengetahui hasil ujian
miliknya sendiri, sedangkan hasil ujian temannya belum tentu tahu. Melalui
web blog, siswa dapat melihat hasil ujian secara keseluruhan. Sehingga,
apabila ada kekeliruan, siswa atau orang tua dapat konfirmasi pada guru
tentang mata pelajaran tersebut.
Dari keempat inovasi pembelajaran PAI yang pernah dan sedang dilakukan oleh
penulis di atas, maka memberikan berdampak positif pada ketertarikan
peserta didik terhadap mata pelajaran PAI di sekolah. Sehingga siswa dalam
mengikuti mata pelajaran PAI tidak terpaksa, melainkan kesadaran diri
sendiri. Pengalaman penulis dalam memanfaatkan ICT dalam pembelajaran
PAI, peserta didik selalu menunggu hal yang baru. Suatu saat, penulis sengaja
tidak menggunaan ICT, peserta didik banyak yang bertanya dan lebih senang
menggunakan ICT.

Selain itu, dengan keseringan penulis menggunakan ICT dan multimedia


interaktif di dalam pembelajaran, maka secara langsung telah menyebarkan
"virus positif" pada guru mata pelajaran lain sehingga mereka akan
melakukan hal yang sama. Memang masih banyak guru baik di SMP Negeri 4
maupun sekolah-sekolah di Kota Kupang umumnya masih buta tentang
mengoperasionalkan ICT dan multimedia interaktif, tetapi bukanlah suatu
alasan untuk tidak pernah mau mencoba dan belajar agar terlepas dari
berbagai ketinggalan. Last but not least (Tidak ada kata terlambat) untuk
melakukan perubahan dalam pembelajaran.

65 Model Pembelajaran Aktif dan Inovatif


Macam-Macam
1.

model

pembelajaran

Koperatif

PAIKEM

(CL,

dijabarkan

sebagai

Cooperative

berikut:
Learning).

Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh
ketergantungan dengan otrang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama,
pembegian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar
berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
berinteraksi-komunikasi-sosialisasi

karena

koperatif

adalah

miniature

dari

hidup

bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok
untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep, menyelesaikan persoalan,
atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap
anggota kelompok terdiri dari 4 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter),
ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau
presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok
heterogen,
2.

kerja

Kontekstual

kelompok,

presentasi

(CTL,

Contextual

hasil

kelompok,
Teaching

dan

pelaporan.

and

Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab
lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life
modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar
muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan
menyenangkan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan
dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan
sosialisasi.
Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model
lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan,
pengarahan-petunjuk,

rambu-rambu,

contoh),

questioning

(eksplorasi,

membimbing,

menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning


community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on,
hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur,
generalisasi,

menemukan),

constructivism

(membangun

pemahaman

sendiri,

mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut),


authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian
terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya

darei

berbagai

3.

aspek

Realistik

(RME,

dengan
Realistic

berbagai
Mathematics

cara).
Education)

Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola
guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization,
yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan
dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi
matematik

melalui

proses

dalam

dunia

rasio,

pengemabngan

mateastika).

Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi),


pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), intertwinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas
sosial,
4.

sharing),

dan

Pembelajaran

bimbingan

(dari

Langsung

guru

(DL,

dalam

penemuan).

Direct

Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar
akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah
menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri,
dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah
bervariasi).
5.

Pembelajaran

Berbasis

masalah

(PBL,

Problem

Based

Learning)

Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan
mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada
masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat
tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi,
demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi,
induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
6.

Problem

Solving

Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal
cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Sintaknya adalah: sajiakn
permasalah yang
mengidentifikasi

memenuhi
pola

atau

mengeksplorasi,menginvestigasi,
7.

criteria di atas, siswa berkelompok


atuiran

yang

menduga,
Problem

dan

disajikan,
akhirnya

siswa

atau individual
mengidentifkasi,

menemukan

solusi.
Posing

Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing, yaitu pemecahan masalah dngan
melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih

simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi


kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
8.

Problem

Terbuka

(OE,

Open

Ended)

Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan


permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa
beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide,
kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi.
Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang
bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda
diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Denga demikian model
pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola
piker,

keterpasuan,

keterbukaan,

dan

ragam

berpikir.

Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar,
diagram, table), kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa,
kaitakkan dengan materui selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit
dilepas

mandiri).

Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan


catat

reson

siswa,

bimbingan

dan

pengarahan,

membuat

9.

kesimpulan.

Probing-prompting

Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian


petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang
mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang
sedang dipelajari. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi
pengetahuan

baru,

dengan

demikian

pengetahuan

baru

tidak

diberitahukan.

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa
secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa
menghindar dari prses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya
jawab. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk
mngurang kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah
ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga
suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa
yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah
berpartisipasi
10.

Pembelajaran

Bersiklus

(cycle

learning)

Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari
eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif).
Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat, eksplnasi berarti menghenalkan konsep

baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks
yang

berbeda.

11.

Reciprocal

Weinstein

&

Meyer

(1998)

Learning

mengemukakan

bahwa

dalam

pembelajaran

harus

memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan
memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara
membaca

bermakna,

merangkum,

bertanya,

representasi,

hipotesis.

Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran
resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membacamerangkum.
12.

SAVI

Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah


memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan
dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar
dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan
melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan
penndepat, dan mennaggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan
indra

mata

melallui

mengamati,

menggambar,

mendemonstrasikan,

membaca,

menggunbakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar
haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan
konsentrasi

pikiran

dan

berlatih

menggunakannya

melalui

bernalar,

menyelidiki,

mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan


menerapkan.
13.

TGT

(Teams

Games

Tournament)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok
bisa sama bis aberbeda. SDetelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam
bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta
tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti
dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut,
santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok
sehuingga

terjadi

diskusi

kelas.

Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau
dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah
sebagai

berikut:

a. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan
\mekanisme

kegiatan

b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4

siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap
kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah.
Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok.
c. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah
disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit).
Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai, sehingga
diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada
tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior,
very

good,

good,

medium.

Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan
pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa
superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang
lainnya

diisi

oleh

siswa

dengan

gelar

yang

sama.

e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan
penghargaan
14.
Model

kelompok
VAK

pebelajaran

dan

(Visualization,
ini

menganggap

individual.

Auditory,

bahwa

pembelajaran

Kinestetic)
akan

efektif

dengan

memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi
siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama
halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.
15.

AIR

(Auditory,

Intellectualy,

Repetition)

Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu
pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih
melalui

pemberian

16.

TAI

tugas
(Team

atau
Assisted

quis.
Individualy)

Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK)
dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. Oleh
karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola
komunikasi

guru-siswa

adalah

negosiasi

dan

bukan

imposisi-intruksi.

Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan
bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai
anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi
diskusi,

(3)

17.

STAD

penghargaan

kelompok

(Student

dan

Teams

refleksi

serta

Achievement

tes

formatif.
Division)

STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat
kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif,

sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor
perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan
reward.
18.

NHT

(Numbered

Head

Together)

NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat
kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan
ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa,
tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok,
presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing
sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa,
umumkan

hasil

kuis

dan

beri

19.

reward.
Jigsaw

Model pembeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini.
Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang
terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota
kelompok bertugas membahasa bagian tertentu, tuiap kelompok bahan belajar sama, buat
kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi,
kembali ke kelompok aasal, pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok
ahli,
20.

penyimpulan
TPS

dan

evaluasi,

refleksi.

Pairs

Share)

(Think

Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi
klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara
berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual,
buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan
21.

GI

hasil kuis

(Group

dan

berikan reward.
Investigation)

Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan
orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek
tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis
kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru
dan staf sekolah), pengoalahn data penyajian data hasi investigasi, presentasi, kuis
individual, buat skor perkem\angan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.
22.

MEA

(Means-Ends

Analysis)

Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah
dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic,
elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun

sub-sub

masalah

23.

sehingga

CPS

terjadli

koneksivitas,

(Creative

pilih

strategi

Problem

solusi
Solving)

Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik
sistematik

dalam

mengorganisasikan

gagasan

kreatif

untuk

menyelesaikan

suatu

permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar
melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran
sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.
24.

TTW

(Think

Talk

Write)

Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan
alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan
kemudian buat laopran hasil presentasi. Sinatknya adalah: informasi, kelompok (membacamencatatat-menandai),
25.

presentasi,

TS-TS

(Two

diskusi,

Stay

melaporkan.
Two

Stray)

Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman
dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok
lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok
lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, laporan kelompok.
26.

CORE

(Connecting,

Organizing,

Refleting,

Extending)

Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk
memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan,
memperluas,
27.

SQ3R

menggunakan,
(Survey,

dan

Question,

Read,

menemukan.
Recite,

Review)

Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa,
yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat,
dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci,
Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan
bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan
pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama), dan Review dengan cara
meninjau
28.

SQ4R

ulang
(Survey,

Question,

menyeluruh
Read,

Reflect,

Recite,

Review)

SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu
aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang
relevan.

29.

MID

(Meaningful

Instructionnal

Design)

Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan


efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitifkonstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan
pengalaman, analisi pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi
pengalaan

belajar;

(3)

production

melalui

ekspresi-apresiasi

30.

konsep
KUASAI

Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk
sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahuimemahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta
koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya
belajar.
31.

CRI

(Certainly

of

Response

Index)

CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat
keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan
pengetahuan

yang

telah

dimilikinya.

Hutnal

(2002)

mengemukakan

bahwa

CRI

menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest,
2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain.
32.

DLPS

(Double

Loop

Problem

Solving)

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan
pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan
jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan
cara

menghilangkan

gap

uyang

menyebabkan

munculnya

masalah

tersebut.

Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis
kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesdai maslah
sebagai

berikurt:

menuliskan

pernyataan

masalah

awal,

mengelompokkan

gejala,

menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasui kausal, imoplementasi


solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi
utama.
33.

DMR

(Diskursus

Multy

Reprecentacy)

DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan


pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya
adalah:
34.

persiapan,
CIRC

pendahuluan,

(Cooperative,

pengemabangan,

Integrated,

penerapan,

Reading,

and

dan

penutup.

Composition)

Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara

koperatif kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru


memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama
(membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana
kemudian
35.

menuliskan

hasil

kolaboratifnya,

IOC

presentasi

(Inside

hasil

kelompok,

Outside

refleksi.
Circle)

IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer
Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan
pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. Sintaksnya adalah: Separu dari
sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk
lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan berbagi informasi secara
bersamaan, siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada
teman

(baru)

di

depannya,

36.

dan

seterusnya

Tari

Bambu

Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi
pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok
untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa.
Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja
dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama, siswa
yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah
satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.
37.

Artikulasi

Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi, sajian materi,
bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru
diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya,
guru

membimbing

siswa

untuk

menyimpulkan.

38.

Debate

Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian
duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing
kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian
ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing
membuat
39.

kesimpulan

dan

menambahkannya
Role

biola

perlu.
Playing

Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran,
menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok
siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah

dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi
hasil

kelompok,

bimbingan

40.

penimpoulan

dan

refleksi.

Talking

Stick

Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa
mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat
kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat
diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya, guru
membimbing

kesimpulan-refleksi-evaluasi.

41.

Snowball

Throwing

Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua
dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok
menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara
bergantian,
42.

penyuimpulan,
Student

Langkah-langkahnya

refleksi

dan

Facilitator

adalah:

informasi

evaluasi

and
kompetensi,

Explaining

sajian

materi,

siswa

mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi,


refleksi.
43.

Course

Review

Horay

Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan,


siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru
membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan
nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa
menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan
evaluasi,

refleksi.

44.

Demonstration

Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen.
Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar,
membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok
untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
45.

Explicit

Instruction

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural,


langkah

demi

langkah

bertahap.

Sintaknya

adalah:

sajian

informasi

kompetensi,

mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural, membimbing pelatihanpenerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

46.

Scramble

Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan
diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban,
siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.
47.

Pair

Checks

Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan


temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan dan
evaluasi,

refleksi.

48.

Make-A

Match

Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi
jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha
menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa
yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya
pembelajaran

seperti

babak

pertama,

49.

penyimpulan

dan

evaluasi,

Mind

refleksi.
Mapping

Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah:
informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi
dan membuat berbagai alternatiu jawababn, presentasi hasuil diskusi kelompok, siswa
membuat
50.

kesimpulan

dari

hasil

setiap

kelompok,

Examples

evaluasi

dan

Non

refleksi.
Examples

Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan
gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi
kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan,
valuasi

dan

51.

refleksi.

Picture

and

Picture

Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan
materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan
gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi
dan

refleksi.

52.

Cooperative

Script

Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa
mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan
yang

lain

menanggapi,

bertukar

peran,

penyimpulan,

evaluasi

dan

refleksi.

53.

LAPS-Heuristik

Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi
masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya,
adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya
mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.
54.

Improve

Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing,


Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya
adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latian dan bertanya, balikanperbnaikan-pengayaan-interaksi.
55.

Generatif

Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan idekonsep awal, tantangan dan restruturisasi sajiankonsep, aplikasi, ranguman, evaluasi, dan
refleksi
56.

Circuit

Learning

Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan


dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar
kondusif dan focus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsepbahasa

khusus,

57.

Tanya

jawab

dan

Complete

refleksi
Sentence

Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan blanko
isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa
ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph
yang
58.

kaliatnya

belum

lengkap,

siswa

berkelompok

Concept

melengkapi,

presentasi.
Sentence

Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok


heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tia kelompok membeuat
kalimat
59.

berdasarkankata

kunci,
Time

presentasi.
Token

Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial
agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah
kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1
menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah

selesai

kupon

60.

dikembalikan.

Take

and

Give

Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan
yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan kompetensi,
sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan
saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian
mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan
refleksi
61.

Superitem

Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap
dari simpel ke kompleks, berupa opemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan
konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan sal tes bentuk
super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.
62.

Hibrid

Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa
mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusiworkshop,

virtual

workshop

menggunakan

computer-internet.

63.

Treffinger

Pembelajaran

kreatif

dengan

basis

kematangan

dan

pengetahuan

siap.

Sintaks:

keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasapikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriosititanya,

kelompok-kerjasama,

kebebasan-terbuka,

64.

reward.
Kumon

Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga
suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa
selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki
dan
65.

diperiksa

lagi,

lima

kali

salah

guru

membimbing.
Quantum

Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru


harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling
menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan,
konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan
minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai
konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-

rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.


Rumus quantum fisika asdalah E = mc2, dengan E = energi yang diartikan sukses, m =
massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi), c = communication, optimalkan komunikasi +
dengan aktivitas optimal.