Anda di halaman 1dari 8

FIA AMALIA

60400114026/ FISIKA B
Sumber: Drs. Abdullah Renreng. Asas-Asas Metode Matematika dalam
Fisika

7
PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA
UNTUK FUNGSI-FUNGSI KHAS
7.1.
Pola
Umum
Persamaan
Penyelesaian sebagai Deret.

Diferensial

dengan

Sebelum kita membahas jenis-jenis persamaan diferensial yang


mempunyai penyelesaian sebagai deret dengan sifat-sifatnya
yang khas, maka ada baiknya kita meninjau dulu pola umum
persamaan diferensial biasa yang dapat diselesaikan sebagai
deret. Tentu saja sifat pembahasan kita di sini masih bersifat
kualitatif, namun dengan uraian tersebut kiranya akan dapat
dijadikan sebagai landasan untuk uraian-uraian kita terhadap
setiap jenis persamaan diferensial yang berbentuk khas.
Penyelesaian persamaan tersebut karena bentuknya yang tidak
bersahaja, maka dinamakan fungsi khas atau biasa disebut juga
sebagai fungsi trancendental (trancendental function).
Sehubungan dengan maksud uraian ini, kita tinjau persamaan
diferensial orde dua
d2y / dx2 + A(x)dy / dx + B (x)y = 0.
(7.1a)
Dalam hal ini kita mensyaratkan penyelesaian persamaan ini
bersifat analitik untuk semua harga perubah x, maka A(x) dan
B(x) pun juga harus analitik. Bila A(x) dan B(x) tidak analitik;
misalnya pada suatu titik x = a, maka titik a merupakan titik
singular persamaan diferensial tersebut.

Selanjutnya bila kita dapat mengubah bentuk persamaan


diferensial (7.1a) menjadi
(x - a)2 d2y / dx2 + (x - a) P(x)dy / dx + Q(x)y = 0,
(7.1b)
dengan P(x) dan Q(x) keduanya analitik di x = a, maka titik yang
kita sebutkan ini dinamakan titik singular regular persamaan
diferensial; dimana A(x) = P(x) / (x - a) dan B(x) = Q(x) / (x - x)2.
Bahwa titik x = a bersifat sebagai titik singular tersebut dapat
dibikin terhindar dari keadaan singularitas dengan mengandaikan
ia dapat dinyatakan sebagai deret yang kita ansatz diberikan
oleh

y= C r (x a)r+ q . ( 7.2 )
r=0

Karena P(x) dan Q(x) juga kita andaikan analitik di x = a, maka


kita dapat pula mengekspansikannya secara deret TaylorMcLaurin di sekitar x = a sebagai:

P ( x )= P s ( xa) , dengan Ps =
s

s=0

1 (s)
s
(d P( x) dx )
s!
x=a

Q ( x )= Q s ( xa) , dengan Q s =
s

s=0

1 (s)
s
(d Q(x) dx )
s!
x=a

Kalau dengan ekspansi-ekspansi ini kita masukkan ke dalam


persamaan (7.1b), maka akan diperoleh
2

(xz)

r+ q2

C r ( r+ q ) ( r1 ) (x a)
r =0

+( xa) Ps (xa) C r (x a)
s =0

r+ q1

r=0

+ Qs ( xa)
s=0

Cr( x
r=0

Dengan variasi indeks koefisien Cr dan pangkat suku yang


mengandung Ps dan Qs, maka akan diperoleh:

r+q

C r ( r +q )( r +q1 ) ( xa) + rs (r +qs ) P s( xa)


r =0

r=0 s=0

r +q

Cr s Q s (xa)r +q=0.
r=0 r=0

Tanda sigma ganda dapat kita keluarkan slaah satunya,


mengingat keduanya memiliki indeks yang berjalan dari 0,
sehingga kita dapatkan
C

C rs Qs

r ( r+ q ) ( r +q1 ) + C rs ( r +qs ) Ps + ( xa)r +q=0.


s=0

s=0

r =0

Karena (x - a) tidak nol, maka semua koefisien dari (x - a)r+q


harus lenyap untuk semua r. Dengan demikian kita peroleh
rumus ulang koefisien

. Cr ( r +q ) ( r+ q1 )+ Cr s ( r+ q1 ) ( P s+ Q s )=0(7.3)
s=0

Persamaan (7.3) ini menyatakan sangkutan antara koefisien Cr


dan Cr-s. Bila kita ambil r = 0 dan s = 0, maka terdapat sangkutan
baru dari rumus ulang tersebut yang dinamakan persamaan
indisial (indicial equation). Persamaan itu menurut (7.3) dapat
dituliskan sebagai
q ( q1 ) +q P0 +Q0 =0.
C0

yang karena C0 kita anggap sebagai koefisien terendah dan tidak


lenyap, maka sekali lagi persamaan indisial di atas dapat
dinyatakan sebagai
2

q ( 1P0 ) q +Q0=0.(7.4 )

Persamaan ini adalah merupakan persamaan kuadrat yang akarakarnya diberikan oleh:
(1P 0)
( 1P 0 )
1
2

( 24 Q0 )
.
2
2=

( 1P 0 )

( 24 Q0) 2
1P
+
, q
(
0)
2
q 1=
Dengan demikian penyelesaian umum persamaan diferensial
yang kita tinjau akan dapat dinyatakan sebagai:

.. y1 = Cr q ( xa )

r +q1

r=0

, y 2= Cr ( xa )
r=0

r+q2

. ( 7.5 )

Kita tinjau kemungkinan-kemungkinan penyelesaian umum ini


sebagai berikut:
(1)Untuk q1 q2 dan q1 q2 bukan bilangan bulat.
Buat keadaan ini penyelesaian y1 dan y2 pada (7.5) satu sama
lain tak akan bergantung, sehingga penyelesaian totalnya
dapat dituliskan sebagai kombinasi linear dari keduanya; yaitu

y= A C r ( xa )
r =0

(2)Untuk

r +q1

+ B Cr ( xa )

r+q 2.

r=0

(7.6 )

q1 =q2 .

Buat keadaan ini y1 (x) dengan y2 (x) akan identik kecuali bila
kita dapat memperoleh
y1
y 2=
q=q 1 .
q

| |

Kalau ini dihitung, akan diperoleh

C r q
1

y 2= ( Cr q)q=q ( xa)
r =0

r +q1

+ C r (xa)
r=0

r +q1

(3)Untuk q1 q2 = n (bilangan bulat).

ln ( xa )= y 1 ( x ) ln ( xa ) + ( xa )q q=q ( x
1

r=0

Seperti halnya dengan (2), maka di sini bila q2 dimasukkan


untuk y2(x), akan ternyata bahwa y1(x) dengan y2(x) akan
saling bergantung satu sama lain. Dengan cara seperti pada
(2) di atas kita dapat menuliskan penyelesaian bagi y2(x)
sebagai

y 2 ( x )= C r (xa)

r+q 2

r=0

q2

ln ( xa )+( xa)

( Cr
r =0

q)q=q ( xa)r .
1

Kalau diambil q2 saa dengan q1-n dengan n sebagai bilangan


bulat positif, maka

Cr
y 2 ( x )= pC r ( xa )r +q lnx( xa )+ ( x a )q
( xa )r ,

q
q=q
r=0
r =0
1n

( )
2

Dimana p =

Cr
.
Cr

( )
2

Akhirnya dengan menyatakan p(x - a)-n =

Bn(x), kita peroleh penyelesaian


y 2 ( x )=Bn ( x ) y 1 ( x ) ln ( xa )+(xa)q

r =0

Cr
q

( )
2

( xa )r .

q=q2

(7.7)
Sebagai penutup uraian, kita tinjau kemungkinan penyelesaian di
tak berhingga. Untuk keperluan itu, kita tinjau kembali
persamaan (7.1a) dengan mengadakan pemasukan perubah
baru x=1/z, maka diperoleh:
z4d2y / dz2 + (2z3 z2 A(1 / z)dy / dz + B(1 / z)y = 0, atau
d2y / dz2 + (2 / z 1/z2 A(1 / z)dy / dz + 1 / z4B(1 / z)y = 0.
(7.8)
Bila (2 / z 1 / z2 A(1 / z)) dan 1 / z4B(1 / z) keduanya analitik di z
= 0, maka di x juga persamaan tersebut analitik, sehingga
penyelesaian yang kita harapkan akan berbentuk:

y= C r x

(r +q)

.(7.9)

r=0

Buat x, maka bentuk asimtosis koefisien:

a0
b0
2
3
(
)
+
0
x
dan
B
(
x
)
=
+0 ( x ) .
2
A(x)= x
x
Kalau ini dimasukkan pada persamaan indisial:
q 2+ ( 1a0 ) q +b0 =0,(7.10)
dengan akar-akar misalkan q1 dan q2. Dengan demikian
penyelesaian umumnya akan berbentuk:

y 1 ( x )= Cr x q r , y 2 ( x )= C r xq r .(7.11)
1

r=0

r=0

Mengenai kemungkinan-kemungkinannya, polanya akan serupa


saja dengan cara kita di atas untuk x di sekitar a. sistem
1. Buat prosedur format link yang bisa melinkkan sesama
slide, sesamaword. Padukan dengan software yg berbeda
mis. Ppt, xl atw software yg berbeda, linkan juga dengan
suatu gambar atau film dalam bentuk makalah
2. Buat satu modul teknik melink seperti soal no.1 (dijelaskan
tkniknya sehingga terbuat makalah seperti soal no.1
disertai dengan contoh gambar)
3. Buat sebuah flowchart mulai dari masuk di UIN sampai
keluar dari UIN
Klp 1
Nikma
Ulfi
Ikram
rinaldi
El
Fira riana
Klp 2
Indah

Nida
Baim
Ria
Wenni
Klp 3
Arwin
Fia
ashar
Kadri
Sami
Klp 4
Ima
Fian
Iin
Reka
Titi
Klp 5
Vera talib
Tina
Syaif
Rahmah
fira
ifa