Anda di halaman 1dari 11

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS


OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA
NizarImam Hanafi

(1)

, Dr. Ir. Heru Purboyo Hidayat Putro., DEA.

(2)

(1)

Program Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, ITB.
Kelompok Keilmuan Sistem Infrastruktur Wilayah dan Kota. Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan,
ITB.
(2)

Abstrak
Pada saat ini, industri pariwisata semakin berkembang dan semakin diminati. Selain telah menjadi
kebutuhan masyarakat, sektor pariwisata dapat memberikan dampak positif bagi sektor
perokonomian seperti meningkatkan produk hasil kebudayaan daerah, bertambahnya lapangan
pekerjaan, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan berbagai dampak positif lainnya. Kebun
binatang merupakan salah satu contoh objek wisata alam yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari
seluruh lapisan usia karena selain relatif murah kebun binatang juga menawarkan pendidikan bagi
anak-anak mengenai keragaman satwa. Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu
kebun binatang tertua di Indonesia selain itu kebun binatang ini juga pernah menjadi kebun
binatang terlengkap se-asia tenggara. Namun seiring dengan banyaknya kabar melalui media baik
surat kabar maupun dunia maya mengenai kematian satwa di Kebun Binatang Surabaya
dikhawatirkan dapat memberikan dampak negatif bagi obyek wisata, oleh karena itu untuk
mengembalikan nama baik KBS diperlukan perncanaan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk
mengidentifikasi informasi dari pengunjung yang dapat meliputi persepsi, tingkat kepuasan dan
tingkat kepentingan pengunjung terhadap komponen-komponen pariwisata seperti atraksi dan
fasilitas objek wisata. Diharapkan dengan mengetahui tingkat kepentigan dan persepsi wisatawan
dapat menjadi masukan bagi pihak yang terkait dalam merencanakan dan mengembangkan obyek
wisata Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Berdasarkan tinjauan literatur dapat disusun variabel dan atribut penilaian terhadap atraksi
dan fasilitas objek wisata. Secara keseluruhan terdapat 13 variabel yang tersusun dari 36 atribut.
Atribut tersebut meliputi keragaman satwa, kebersihan kandang, keindahan kandang, keragaman
wahana, daya tarik wahana, keragaman event, daya tarik event, kenyamanan musholla, keamanan
musholla, keterjangkauan lokasi musholla, jumlah restoran, kenyamanan restoran, keamanan
restoran, keterjangkauan lokasi restoran, pelayanan restoran, jumlah toko souvenir, kenyamanan
toko souvenir, keamanan toko souvenir, pelayanan toko souvenir, jumlah toilet, keamanan toilet,
kenyaman toilet, keterjangkauan lokasi toilet, jumlah loket penjualan tiket masuk, pelayanan
penjualan tiket masuk, jumlah ATM, keamanan ATM, keterjangkauan lokasi ATM, luas lahan parkir,
keamanan lahan parkir, keterjangkauan lokasi lahan parkir, jumlah shelter, keamanan sheleter,
keterjangkauan lokasi shelter, jumlah papan penunjuk arah, kejelasan informasi dari papan penunjuk
arah.
Hasil studi menunjukan bahwa sebagian besar pengunjung menilai kondisi atau performa
dari atraksi dan fasilitas objek wisata Kebun Binatang Surabaya masih kurang baik atau sudah cukup
baik. sebagian besar pengunjung juga menilai mengenai tingkat kepentingan dari atraksi dan
fasilitas objek wisata Kebun Binatang Surabaya sebagai atribut yang penting atau sangat penting.
Nilai selisih dari rata-rata persepsi dan tingkat kepentingan pengunjung dapat menghasilkan nilai
tingkat kepuasan. Hasil selisih tersebut memperlihatkan bahwa seluruh atribut bernilai negatif yang
menandakan bahwa pengunjung belum puas dengan atraksi dan fasilitas yang ada di Kebun
Binatang Surabaya. Penelitian ini juga dapat menentukan prioritas pengembangan dari tiap atribut.
12 atribut termasuk kedalam kelompok prioritas utama, 9 atribut kedalam kelompok pertahankan, 6
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 106

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA

atribut kedalam kelompok prioritas rendah dan 9 atribut kedalam kelompok berlebihan. Rekomendasi
studi untuk pengembangan dari tiapatribut disusun berdasarkan prioritas yang telah ditentukan.
Kata Kunci : Fasilitas, Atraksi, Persepsi, Tingkat Kepentingan, Kebun Binatang Surabaya(KBS)

Pendahuluan
Pada saat ini, industri pariwisata semakin
berkembang dan semakin diminati. Diperkirakan
pertumbuhan pariwisata di Asia Timur dan Asia
Pasifik pada tahun 2000 hingga 2010 akan
meningkat sebesar 6,5 % (WTO, dalam Warpani
2007).
Di Indonesia,
sektor
pariwisata
merupakan salah satu saktor yang diharapkan
mampu meningkatkan perumbuhan ekonomi.
Sektor pariwisata dapat memberikan dampak
positif bagi sektor perokonomian, khususnya
perekonomian bagi masyarakat lokal seperti
meningkatkan produk hasil kebudayaan daerah,
bertambahnya
lapangan
pekerjaan
dan
meningkatkan
Pendapatan
Asli
Daerah.
Keberhasilan pembangunan sektor pariwisata
tidak akan terlepas dari dukungan sektor-sektor
lain dan kerjasama yang baik oleh berbagai
stakeholder, Oleh karena itu untuk mendorong
pembangunan di sektor pariwisata diperlukan
adanya perencanaan sektoral yang matang
sehingga pembangunannya lebih terarah dan
terencana dan manfaatnya dapat dimaksimalkan
serta dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Indonesia
sebagai
negara
yang
memiliki iklim tropis dan curah hujan tinggi
memiliki banyak potensi pariwisata yang dapat
dikembangkan. Salah satu jenis pariwisata yang
memiliki potensi untuk dikembangkan di
indonesia adalah wisata alam yang identik
dengan mengunjungi tempat-tempat yang
memiliki cuaca yang bagus, pemandangan yang
indah atau flora dan fauna yang menarik.
Wisata alam dapat didefinisikan sebagai wisata
ke tempat atau daerah cagar alam, taman
lindung, hutan daerah pegunungan dan
sebagainya yang kelestariannya diatur oleh
undang-undang (Pendit 2005). Kebun binatang
merupakan salah satu contoh objek wisata alam
yang dapat dinikmati oleh masyarakat dari
107 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1

seluruh lapisan usia karena selain relatif murah


kebun binatang juga menawarkan pendidikan
bagi anak-anak mengenai keragaman satwa, hal
tersebut tidak dapat diperoleh melalui objek
wisata lain di perkotaan seperti mall dan cafe.
Disamping fungsi kebun binatang sebagai
tempat perlindungan berbagai flora dan fauna,
keberadaan kebun binatang di perkotaan dapat
menjadi paru-paru kota karena kebun binatang
menyediakan berbagai jenis pepohonan yang
dapat menghasilkan oksigen, selain itu
keberadaan berbagai pepohonan tersebut juga
dapat menjadi penyedia Ruang Terbuka Hijau
(RTH) dalam konteks tata ruang. Berdasarkan
banyaknya manfaat yang diperoleh dari
keberadaan
kebun
binatang,
diperlukan
perencanaan yang tepat bagi objek wisata alam
kebun binatang.
Kebun Binatang Surabaya (KBS)
merupakan salah satu kebun binatang yang
populer di Indonesia. Didirikan pada tanggal 31
agustus 1916 pada saat rezim belanda
menjadikan Kebun Binatang Surabaya sebagai
kebun binatang tertua yang dimiliki oleh
Indonesia. Selain itu, Kebun Binatang Surabaya
pernah menjadi kebun binatang yang memiliki
satwa terlengkap di Asia Tenggara (situs resmi
pemerintah www.surabaya.go.id). Hal tersebut
memperlihatkan potensi besar Kebun Binatang
Surabaya sebagai salah satu objek wisata di
Kota Surabaya. Namun seiring dengan
banyaknya kabar melalui media baik surat kabar
maupun dunia maya mengenai kematian satwa
di Kebun Binatang Surabaya dikhawatirkan
dapat memberikan dampak negatif bagi objek
wisata tersebut, contohnya seperti penurunan
jumlah pengunjung dan yang terburuk adalah
penutupan kebun binatang tersebut. oleh
karena itu untuk mengembalikan nama baik
Kebun Binatang Surabaya sebagai salah satu
objek wisata sekaligus maskot bagi Kota

Nizar Imam Hanafi

Surabaya diperlukan perencanaan yang baik dan


tepat.
Untuk mewujudkan perencanaan dan
penataan ruang yang baik terhadap objek
wisata alam Kebun Binatang Surabaya,
dibutuhkan informasi dari pengunjung kebun
binatang. Informasi mengenai apa yang
diminati, diingini, dan
diharapkan oleh
wisatawan kala berkunjung ke suatu destinasi
menjadi amat penting artinya dalam kaitan
dengan pemasaran objek wisata (Warpani
2007).
Penelitian
ini
dilakukan
untuk
mengidentifikasi informasi dari pengunjung yang
dapat meliputi persepsi, tingkat kepuasan dan
tingkat kepentingan pengunjung terhadap
komponen-komponen pariwisata seperti atraksi
dan fasilitas objek wisata. Diharapkan dengan
mengetahui tingkat kepentigan dan persepsi
wisatawan dapat menjadi masukan bagi pihak
yang terkait dalam merencanakan dan
mengembangkan objek wisata Kebun Binatang
Surabaya (KBS).
Tujuan dari studi ini adalah mengidentifikasi
penilaian pengunjung terhadap atraksi dan
fasilitas objek wisata di Kebun Binatang
Surabaya. Adapun sasaran untuk mencapai
tujuan tersebut daintaranya:
1.

2.

3.

Teridentifikasinya persepsi dan tingkat


kepentingan dari pengunjung terhadap
atraksi dan fasilitas objek wisata Kebun
binatang Surabaya.
Teridentifikasinya
tingkat
kepuasan
pengunjung terhadap atraksi dan fasilitas
objek wisata Kebun Binatang Surabaya.
Teridentifikasinya prioritas pengembangan
atraksi
dan
fasilitas
objek
wisata
berdasarkan
persepsi
dan
tingkat
kepentingan dari pengunjung kebun
binatang.

Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam studi ini
dibagi menjadi metode pengumpulan data,
tahapan studi dan metode analisis data. Pada
bagian metode pengumpulan data adalah
survey primer. Pada tahapan studi dibahas
mengenai langkah-langkah yang dilakukan

dalam studi ini. Pada metode analisis data


adalah bagaimana mengolah data yang
diperoleh.

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data dilakukan dengan
survei primer. Survei dilakukan dengan
penyebaran kuesioner yang ditujukan kepada
pengunjung KBS serta dilakukan observasi untuk
mengetahui kondisi eksisting KBS. Penentuan
jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan
rumpus populasi diketahui. Rumus tersebut
dapat ditulis dengan persamaan sbagai berikut :

(S) adalah ukuran sampel, (N) adalah ukuran


populasi, (P) adalah proporsi dalam populasi, (d)
adalah error dan (x) adalah nilai tabel chi square
sesuai tingkat kepercayaan.
Dari perhitungan yang dilakukan, jumlah sampel
yang didapatkan adalah 67 responden.

Tahapan Pelaksanaan Studi


Tahapan yang dilakukan dalam studi ini yaitu:
1.

Melakukan
tinjauan
literatur
untuk
menentukan variabel besera atribut yang
akan dinilai oleh pengunjung

2.

Identifikasi kondisi eksisting atraksi dan


fasilitas objek wisata di KBS.

3.

Mengidentifikasi penilaian pengunjung


terhadap atraksi dan fasilitas objek wisata
Kebun Binatang Surabaya.

4.

Mengidentifikasi
tingkat
kepuasan
pengunjung terhadap atraksi dan fasilitas
objek wisata.

5.

Menentukan prioritas pengembangan dari


atraksi dan fasilitas objek wisata yang ada
di Kebun Binatang Surabaya.

Metode Analisis Data


metode analisis yang digunakan di dalam
penelitian ini adalah metode analisis deskriptif
kuantitatif. Selain itu untuk menentukan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 108

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA

prioritas pengembangan maka akan dilakukan


metode analisis evaluatif yaitu metode IPA
(Importance Performance Analysis). Metode IPA
pertama kali diperkenalkan oleh Martilla dan
James pada tahun 1977 dengan tujuan
mengukur hubungan antara persepsi konsumen
terhadap atribut suatu produk atau jasa. IPA
merupakan metode yang tidak menggunakan
biaya besar, mudah untuk mengorganisasikan
informasi mengenai atribut dari produk atau
jasa dan memberikan strategi bisnis untuk
menentukan prioritas dari perubahan potensi.
Teknik IPA merujuk pada proses menentukan
atribut yang menjadi karakter dari suatu produk
dan jasa, mengevaluasi tingkat kepentingan dari
atribut tersebut, mengevaluasi tingkat performa
produk dari atribut tersebut, kemudian
merepresentasikan skala kepentingan dan
performa dari tiap atribut ke dalam kuadran.
Label tiap kuadran akan mengindikasikan
tindakan yang akan diambil pada tiap atribut
(Martilla & James 1977 dalam Tyrell & Okrant
2004).

untuk
meningkatkan
berbagai
faktor
tersebut. Kesimpulannya faktor-faktor yang
terletak pada kuadran ini merupakan
prioritas untuk ditingkatkan.
2. Keep Up With the Good Work (Pertahankan)
Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini
dianggap penting dan diharapkan sebagai
faktor penunjang bagi kepuasan konsumen
sehingga pihak manajemen berkewajiban
memastikan bahwa kinerja institusi yang
dikelolanya dapat mempertahankan prestasi
yang telah dicapai.
3. Low Priority (Prioritas Rendah)
Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini
mempunyai tingkat persepsi atau kinerja
aktual yang rendah sekaligus dianggap tidak
terlalu penting dan atau terlalu diharapkan
oleh konsumen sehingga manajemen tidak
perlu
memprioritaskan
atau
terlalu
memberikan perhatian pada faktor-faktor
tersebut.
4. Possibly Overkill (Berlebihan)

Gambar 1. Kuadran IPA

Berikut adalah penjelasan masing-masing kuadran


yang ditulis Callista di tahun 2013.
1. Concentrate Here (Prioritas Utama)
Faktor-faktor yang terletak dalam kuadran
ini dianggap sebagai faktor penting dan atau
diharapkan oleh konsumen tetapi kondisi
persepsi dan atau kinerja aktual yang ada
pada saat ini belum memuaskan sehingga
pihak
manajemen
berkewajiban
mengalokasikan sumber daya yang memadai
109 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1

Faktor-faktor yang terletak pada kuadran ini


dianggap tidak terlalu penting dan tidak
terlalu
diharapkan
sehingga
pihak
manajemen perlu mengalokasikan sumber
daya yang terkait dengan faktor-faktor
tersebut kepada faktor-faktor lain yang
mempunyai prioritas penanganan lebih tinggi
yang masih membutuhkan peningkatan
terutama yang ada di kuadran prioritas
utama.
Untuk mengaplikasikan metode IPA maka
diperlukan kriteria penilaian terhadap masingmasing atribut, kriteria tersebut disusun
menggunakan skala likert. Setelah didapatkan
hasil penilaian konsumen dari tiap atribut
kemudian dihitung nilai rata-rata dari tiap
atribut, nilai rata-rata tersebut yang kemudian
digunakan untuk membagi koordinat dari
kuadran IPA menjadi 4 bagian.

Nizar Imam Hanafi

Penilaian Pengunjung Terhadap Atraksi


dan Fasilitas Objek wisata di Kebun
Binatang Surabaya.

Variabel dan Atribut Terpilih


Berdasarkan hasil tinjauan dari beberapa
literatur yang membahas mengenai atraksi dan
fasilitas objek wisata khususnya di kebun
binatang maka dapat dirumuskan 13 jenis
variabel yang didalamnya terdapat 36 atribut.
Variabel dan jenis atribut tersebut meliputi
keragaman dan jumlah satwa, kebersihan
kandang, keamanan kandang, keragaman
wahana, daya tarik wahana, keragaman event,
daya tarik event, kenyamanan musholla,
keamanan musholla, keterjangkauan lokasi
musholla,
jumlah
restoran,
kenyamanan
restoran, keamanan restoran, keterjangkauan
lokasi restoran, pelayanan restoran, jumlah toko
souvenir, kenyamanan toko souvenir, keamanan
toko souvenir, pelayanan toko souvenir, jumlah
toilet, keamanan toilet, kenyamanan toilet,
keterjangkauan lokasi toilet, jumlah loket
penjualan tiket masuk, pelayanan penjualan
tiket masuk, jumlah ATM, keterjangkauan lokasi
ATM, luas lahan parkir, keamanan lahan parkir,
keterjangkauan lokasi parkir, jumlah shelter,
keamanan
shelter,
kenyamanan
shelter,
keterjangkauan lokasi shelter, jumlah papan
penunjuk arah, kejelasan informasi papan
penunjuk arah.

aj
ai
ah
ag
af
ae
ad
ac
ab
aa
z
y
x
w
v
u

Tidak
Penting

t
s
r

Kurang
Penting

Cukup

Penting

o
n

Sangat
Penting

m
l
k

Nilai Persepsi dan Tingkat Kepentingan


Hasil Penilaian terhadap persepsi dan tingkat
kepentingan pengunjung terhadap atraksi dan
fasilitas objek wisata di KBS menunjukan bahwa
sebagian besar pengunjung menilai variabel dan
atribut yang telah ditentukan sebagai atribut
yang cukup baik dan kurang baik. selain itu juga
dapat diketahui bahwa sebagian besar
pengunjung menilai bahwa variabel dan atribut
yang telah ditentukan sebagai atribut yang
penting dan sangat penting. hasil penilaian
persepsi dan tingkat kepentingan pengunjung
dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2.

j
i
h
g
f
e
d
c
b
a
0%

50%

100%

Gambar 2. Nilai Persepsi


Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 110

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA

Keterangan Gambar 1 dan 2 :

Kurang
Baik

(a) keragaman dan jumlah satwa, (b)


kebersihan kandang, (c) keamanan kandang,
(d) keragaman wahana, (e) daya tarik wahana,
(f) keragaman event, (g) daya tarik event, (h)
kenyamanan musholla, (i) keamanan musholla,
(j) keterjangkauan lokasi musholla, (k) jumlah
restoran, (l) kenyamanan restoran, (m)
keamanan restoran, (n) keterjangkauan lokasi
restoran, (o) pelayanan restoran, (p) jumlah
toko souvenir, (q) kenyamanan toko souvenir,
(r) keamanan toko souvenir, (s) pelayanan toko
souvenir, (t) jumlah toilet, (u)keamanan toilet,
(v) kenyamanan toilet, (w) keterjangkauan
lokasi toilet, (x) jumlah loket penjualan tiket
masuk, (y) pelayanan penjualan tiket masuk, (z)
jumlah ATM, (aa) keterjangkauan lokasi ATM,
(ab) luas lahan parkir, (ac) keamanan lahan
parkir, (ad) keterjangkauan lokasi parkir, (ae)
jumlah shelter, (af) keamanan shelter, (ag)
kenyamanan shelter, (ah) keterjangkauan lokasi
shelter, (ai) jumlah papan penunjuk arah, (aj)
kejelasan informasi papan penunjuk arah.

Cukup

Nilai Tingkat Kepuasan

aj
ai
ah
ag
af
ae
ad
ac
ab
aa
z
y
x
w
v

Tidak
Baik

u
t
s
r
q
p

Baik

o
n

Sangat
Baik

m
l
k
j
i
h
g
f
e
d
c
b
a

0%

50%

100%

Gambar 3. Nilai Tingkat Kepentingan


111 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1

Untuk mengetahui tingkat kepuasan pengunjung


terhadap atraksi dan fasilitas objek wisata maka
akan dilakukan perhitungan terhadap nilai
persepsi dan nilai tingkat kepentingan. Nilai
tingkat kepuasan dihasilkan melalui selisih nilai
persepsi dan nilai tingkat kepentingan.
Pengunjung dapat dikatakan puas apabila nilai
selisih tersebut lebih dari atau sama dengan nol,
pengunjung dapat dikatakan tidak puas apabila
hasil nilai selisah menghasilkan angka negatif,
semakin besar nilai negatif yang dihasilkan
maka
tingkat
ketidakpuasan
pengunjung
terhadap atraksi atau fasilitas di KBS juga
semakin tinggi, untuk selengkapnya nilai selisih
persepsi dan tingkat kepentingan pada tiap
atribut dapat dilihat pada grafik dan gambar
berikut.

Nizar Imam Hanafi

Tabel 1. Nilai tingkat Kepuasan


Nilai Tingkat
Kepentingan

Tingkat
Kepuasa
n

4.492537

-1.91045

4.38806

-2

4.358209

-1.28358

3.985075

-1.34328

3.985075

-1.28358

3.791045

-0.95522

3.80597

-0.97015

4.313433

-1.43284

4.238806

-1.26866

4.223881

-1.49254

3.58209

-0.49254

3.626866

-0.64179

3.656716

-0.64179

3.761194

-0.73134

3.761194

-0.76119

3.268657

-0.73134

3.298507

-0.53731

3.268657

-0.34328

3.343284

-0.49254

4.343284

-1.97015

4.268657

-1.58209

4.38806

-1.85075

4.41791

-2.07463

3.671642

-0.56716

3.059
701

3.686567

-0.62687

Jumlah ATM

1.805
97

3.820896

-2.01493

Keterjangkauan

1.805

3.865672

-2.0597

Variabel
Keragaman dan
Jumlah Satwa
Kebersihan
Kandang
Keamanan
Kandang
Keragaman
Wahana
Daya Tarik
Wahana
Keragaman
Event
Daya Tarik
Event
Kenyamanan
Musholla
Keamanan
Musholla
Keterjangkauan
lokasi Masjid
Jumlah Restoran
Kenyamanan
Restoran
Keamanan
Restoran
Keterjangkauan
Lokasi Restoran
Pelayanan
Restoran
Jumlah Toko
Souvenir
Kenyamanan
Toko Souvenir
Keamanan Toko
Souvenir
Pelayanan Toko
Souvenir
Jumlah Toilet
Keamanan Toilet
Kenyamanan
Toilet
Keterjankauan
Lokasi Toilet
Jumlah Loket
Tiket
Pelayanan
Penjualan Tiket
Masuk

Nilai
Persep
si
2.582
09
2.388
06
3.074
627
2.641
791
2.701
493
2.835
821
2.835
821
2.880
597
2.970
149
2.731
343
3.089
552
2.985
075
3.014
925
3.029
851

Variabel

3
2.537
313
2.761
194
2.925
373
2.850
746
2.373
134
2.686
567
2.537
313
2.343
284
3.104
478

Lokasi ATM
Luas Lahan
Parkir
Keamanan
Lahan Parkir
Keterjangkauan
Lokasi Parkir
Jumlah Shelter
Keamanan
Shelter
Kenyamanan
Shelter
Keterjangkauan
Lokasi Shelter
Jumlah
Penunjuk Arah
Informasi
Penunjuk Arah

Nilai
Persep
si
97
2.716
418
3.014
925
2.910
448
3.134
328
3.074
627
3
3.119
403
2.776
119
2.805
97

Nilai Tingkat
Kepentingan

Tingkat
Kepuasa
n

4.134328

-1.41791

4.044776

-1.02985

4.119403

-1.20896

3.985075

-0.85075

4.074627

-1

4.134328

-1.13433

4.134328

-1.01493

4.208955

-1.43284

4.298507

-1.49254

Berdasarkan tebel diatas dapat diketahui bahwa


dari 36 atribut yang dinilai oleh pengunjung
Kebun Binatang Surabaya seluruhnya bernilai
negatif. Dominasi nilai negatif pada atribut di
masing-masing variabel secara tidak langsung
menunjukan bahwa atraksi dan fasilitas yang
ada di Kebun Binatang Surabaya masih belum
dapat memuaskan pengunjung

Prioritas Pengembangan Atraksi dan Fasilitas


Objek Wisata
Berdasarkan hasil analisis persepsi dan tingkat
kepentingan pengunjung terhadap atraksi dan
fasilitas objek wisata Kebun Binatang Surabaya,
maka dapat diketahui prioritas utama yang
harus segara diperbaiki atau dikembangkan oleh
pihak pengelola Kebun Binatang Surabaya
dengan menggunakan analisis kuadran. Analisis
kuadran akan membagi atribut-atribut yang
dinilai menjadi empat bagian yaitu kelompok
prioritas utama, pertahankan, prioritas rendah
dan berlebihan. Kuadran yang akan digunakan
dalam analisis ini memiliki dua sumbu yaitu
sumbu x dan sumbu y, sumbu x adalah nilai
persepsi sedangkan sumbu y adalah nilai tingkat
kepentingan. Analisis kuadran membagi empat
kelompok atribut dengan menggunakan garis
rata-rata nilai persepsi dan nilai tingkat
kepentingan, rata-rata nilai persepsi pengunjung
adalah 2.78 sedangkan nilai rata-rata tingkat
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 112

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA

kepentingan adalah 3.96. Berikut adalah hasil


analisis kuadran terhadap persepsi dan tingkat
kepentingan pengunjung.
Tabel 2. Analisis Kuadran
Prioritas
Utama
Keragaman
dan Jumlah
Satwa
Kebersihan
Kandang
Keragaman
Wahana
Daya Tarik
Wahana
Keterjangka
uan lokasi
Masjid

Pertahank
an
Keamanan
Kandang
Kenyaman
an
Masjid/Mu
sholla
Keamanan
Masjid/Mu
sholla
Keamanan
Lahan
Parkir
Keterjang
kauan
Lokasi
Parkir

Jumlah
Toilet

Jumlah
Shelter

Keamanan
Toilet

Keamanan
Shelter

Kenyamana
n Toilet

Kenyaman
an Shelter

Keterjangka
uan Lokasi
Toilet

Keterjang
kauan
Lokasi
Shelter

Prioritas
Rendah

Berlebihan

Keragam
an Event

Jumlah
Restoran

Daya
Tarik
Event

Kenyamana
n Restoran

Jumlah
Toko
Souvenir
Kenyama
nan Toko
Souvenir

Keterjangka
uan Lokasi
Restoran

Jumlah
ATM

Pelayanan
Restoran

Keterjang
kauan
Lokasi
ATM

Keamanan
Toko
Souvenir

Keamanan
Restoran

Pelayanan
Toko
Souvenir
Jumlah
Loket
Penjualan
Tiket Masuk
Pelayanan
Penjualan
Tiket Masuk

Luas Lahan
Parkir
Jumlah
Penunjuk
Arah
Kejelasan
Informasi
Penunjuk
Arah

Kesimpulan
Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan
salah satu kebun binatang yang populer di
Indonesia..
Kebun
Binatang
Surabaya
merupakan kebun binatang tertua di Indonesia,
selain itu Kebun Binatang Surabaya pernah
menjadi kebun binatang yang memiliki satwa
113 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1

terlengkap di Asia Tenggara (situs resmi


pemerintah
www.surabaya.go.id).
Namun
seiring dengan banyaknya kabar melalui media
baik surat kabar maupun dunia maya mengenai
kematian satwa di Kebun Binatang Surabaya
dikhawatirkan dapat memberikan dampak
negatif bagi obyek wisata tersebut, contohnya
seperti penurunan jumlah pengunjung. Untuk
mewujudkan perencanaan dan penataan ruang
yang baik terhadap obyek wisata alam Kebun
Binatang Surabaya, dibutuhkan informasi dari
pengunjung kebun binatang. Penelitian ini
dilakukan untuk mengidentifikasi informasi dari
pengunjung yang dapat meliputi persepsi,
tingkat kepuasan dan tingkat kepentingan
pengunjung terhadap komponen-komponen
pariwisata seperti atraksi dan fasilitas obyek
wisata.
Setelah melakukan tinjauan terhadap
literatur terkait didapatkan jenis variabel atraksi
dan fasilitas objek wisata yang akan dinilai.
Didalam variabel tersebut terdapat beberapa
atribut, jumlah keselurahan atribut yang akan
dinilai dalam penelitian ini adalah 36 jenis yaitu
keragaman
satwa,
kebersihan
kandang,
keamanan kandang, keragaman wahana, daya
tarik wahana, keragaman event, daya tarik
event, kenyamanan musholla, keamanan
musholla, keterjangkauan lokasi musholla,
jumlah
restoran,
keamanan
restoran,
keterjangkauan lokasi restoran, pelayanan
restoran, junlah toko souvenir, kenyamanan
toko souvenir, keamanan toko souvenir,
pelayanan toko souvenir, jumlah toilet,
kenyamanan
toilet,
keamanan
toilet,
keterjangkauan lokasi toilet, jumlah loket tiket,
pelayanan penjualan tiket masuk, jumlah ATM,
keterjangkauan lokasi ATM, luas lahan parkir,
keamanan lahan parkir, keterjangkauan lokasi
parkir, jumlah shelter, keamanan shelter,
kenyamanan shelter, keterjangkauan lokasi
shelter, jumlah penunjuk arah dan kejelasan
informasi dari papan penunjuk arah.
Berdasarkan hasil analisis yang telah
dilakukan dapat diketahui nilai persepsi dan
tingkat kepentingan pengunjung terhadap
atraksi dan fasilitas objek wisata yang ada di
Kebun Binatang Surabaya. Nilai persepsi pada

Nizar Imam Hanafi

masing-masing atribut sebagian besar dinilai


oleh pengunjung sebagai atribut yang kurang
baik atau cukup baik, sedangkan nilai tingkat
kepentingan pada masing-masing atribut
sebagian besar dinilai oleh pengunjung sebagai
atribut yang penting atau sangat penting.
Berdasarkan nilai persepsi dan nilai tingkat
kepentingan pengunjung terhadap atraksi dan
fasilitas objek wisata yang telah didapatkan,
dapat diketahui tingkat kepuasan pengunjung
terhadap masing-masing atribut. Nilai tingkat
kepuasan tersebut didapatkan melalui nilai
selisih persepsi dan tingkat kepentingan
pengunjung. Selisih nilai persepsi dan tingkat
kepentingan pada seluruh atribut menghasilkan
nilai negatif, hal tersebut merepresentasikan
bahwa pengunjung belum puas dengan
performa atau kondisi atraksi dan fasilitas objek
wisata di Kebun Binatang Surabaya.
Selain
nilai
persepsi,
tingkat
kepentingan dan tingkat kepuasan, dapat
diketahui pula prioritas pengembangan dari tiap
atribut dengan menggunakan analisis kuadran.
Analisis kuadran membagi atribut-atribut yang
dinilai menjadi empat bagian yaitu kelompok
prioritas utama, pertahankan, prioritas rendah
dan berlebihan. Atribut yang ada dalam
kelompok prioritas utama adalah atribut
keragaman
satwa,
kebersihan
kandang,
keragaman wahana, daya tarik wahana,
keterjangkauan lokasi, jumlah toilet, keamanan
toilet, kenyamanan toilet, keterjangkauan lokasi
toilet, luas lahan parkir, jumlah papan penunjuk
arah serta kejelasan informasi dari papan
penunjuk arah. Untuk atribut yang berada
dalam kelompok pertahankan adalah atribut
keamanan
kandang,
kenyamanan
masjid/musholla, keamanan masjid/musholla,
keamanan lahan parkir, keterjangkauan lokasi
shelter, jumlah shelter, keamanan shelter,
kenyamanan shelter dan keterjangkauan lokasi
shelter. Untuk atribut yang berada dalam
kelompok prioritas redah adalah atribut
keragaman event, daya tarik event, jumlah toko
souvenir, kenyamanan toko souvenir, jumlah
ATM, dan keterjangkauan lokasi ATM. Kelompok
berikutnya adalah kelompok atribut yang dinilai
berlebihan yaitu atribut jumlah restoran,
kenyamanan restoran, keamanan restoran,
keterjangkauan lokasi restoran, pelayanan

restoran, keamanan toko souvenir, pelayanan


toko souvenir, jumlah loket tiket dan pelayanan
penjualan tiket masuk.
satu kali parkir dirasa kurang dapat mendukung
pergeseran penggunaan moda sepeda motor.
Pergeseran penggunaan moda sepeda motor
dengan strategi penerapan biaya parkir diduga
akan terjadi jika biaya parkir yang diterapkan
adalah biaya parkir progresif. Pemberian subsidi
bagi pekerja industri pengguna angnkutan kota
dirasa
dapat
mendukung
pergeseran
penggunaan moda sepeda motor ke angkutan
kota. Pekerja industri juga bersedia untuk
menggunakan angkutan pekerja ketika industri
tempat mereka bekerja memfasilitasi dengan
menyediakan angkutan pekerja tersebut secara
gratis.
Rekomendasi
Bentuk
rekomendasi
diantaranya:

yang

diusulkan

1. Rekomendasi terkait atraksi wisata yang


perlu menjadi prioritas utama untuk dibenahi
terlebih dahulu adalah jumlah koleksi satwa,
kebersihan kandang, keragaman wahana
dan daya tarik wahana. Pengelola perlu
menambah lagi jumlah koleksi satwa
miliknya terutama beberapa satwa yang
jumlahnya masih sedikit seperti jerapah,
singa dan lainnya. Kebersihan kandang juga
perlu diperhatikan lagi, apabila diperlukan
pengelola juga dapat merenovasi kembali
kandang yang mungkin sudah tidak layak.
Penambahan wahana juga perlu dilakukan,
terutama jenis-jenis wahana yang memiliki
daya tarik cukup tinggi seperti kolam renang
dan beberapa wahana seperti di kebun
binatang lain.
2. Untuk
jenis
fasilitas
yang
perlu
dikembangkan terlebih dahulu adalah
fasilitas keterjangkauan masjid, luas lahan
parkir, papan penunjuk arah dan toilet.
Beberapa pengunjung belum mengetahui
lokasi musholla yang ada di dalam Kebun
Binatang Surabaya, mungkin lokasi musholla
tidak perlu dipindahkan melainkan hanya
diberi papan penunjuk arah tambahan agar
mempermudah
pengunjung
untuk
mengetahui lokasi musholla. Selain musholla
pihak pengelola perlu menambah luas lahan
parkir, karena pada puncak keramaian di
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 114

PENILAIAN PENGUNJUNG TERHADAP ATRAKSI DAN FASILITAS OBJEK WISATA KEBUN BINATANG SURABAYA

hari libur lahan parkir di KBS overloaded


sehingga pengunjung harus menggunakan
fasilitas parkir off-street yang harganya lebih
mahal. fasilitas toilet di KBS juga menjadi
prioritas utama untuk diperbaiki terutama
dalam segi, jumlah keamanan, kenyamanan
dan keterjangkauan. Papan penunjuk arah di
KBS juga perlu ditambah dan diperjelas
informasinya, karena beberapa pengunjung
masih bingung untuk membaca papan
penunjuk arah di KBS.
3. Setelah jenis fasilitas pada poin pertama dan
kedua telah diperbaiki maka atribut yang
menjadi prioritas rendah dapat diperbaiki.
Atribut prioritas rendah turut diperbaiki agar
tingkat kepuasan pengunjung juga semakin
meningkat. Jenis variabel yang perlu6.
diperhatikan
oleh
pengelola
setelah
mengembangkan variabel pada prioritas
pertama adalah event, toko souvenir dan
ATM. Pengelola perlu menambah jenis event
yang menarik untuk meningkatkan jumlah
pengunjung seperti mendatangkan bandband yang cukup terkenal. Pengelola juga
perlu menambah beberapa mesin ATM agar
dapat mempermudah pengunjung menarik
uang tunai. Selain itu pengembangan jumlah
toko souvenir juga diperlukan.
4. Pengelola Kebun Binatang Surabaya juga
dapat
mempertimbangkan
untuk
mengalokasikan sumber daya beberapa
atribut yang dinilai berlebihan. Alokasi7.
sumber daya dipindahkan pada atribut yang
menjadi prioritas utama seperti atribut di
poin pertama dan kedua. Pengelola Kebun
Binatang
Surabaya
tidak
perlu
lagi
mengalokasikan biaya untuk menambah
jumlah restoran, dan jumlah loket tiket, lebih
disarankan agar mengalokasikan biaya untuk
menambah jumlah wahana, toilet dan lahan
parkir.
Pengelola
juga
tidak
perlu
mengalokasikan
petugas
untuk
meningkatkan pelayanan restoran, toko
souvenir dan penjualan tiket masuk, lebih
disarankan mengalokasikan petugas untuk
menjaga kebersihan kandang satwa.
5. Kebun Binatang Surabaya pada saat ini
dikelola oleh PDTS (Perusahaan Daerah
Taman Satwa) Kebun Binatang Surabaya.
Bentuk Perusahaan Daerah merupakan salah
satu bentuk BUMD yang berada dibawah
pengawasan
kepala
daerah.
Penulis
menyarankan
bentuk
lembaga
ini
dipertahankan
karena
selain
diawasi
langsung oleh kepala daerah terkait,
115 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1

Perusahaan Daerah berdasarkan UU No. 5


Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah
menyebutkan bahwa modal dapat dimiliki
100% oleh pemerintah daerah sehingga
hasil keuntungan pengelolalaan Perusahaan
Daerah dapat digunakan kembali untuk
pembangunan daerah tersebut. penulis lebih
menyarankan bentuk PD dibandingkan
bentuk UPT karena dalam mengelola kebun
binatang tidak hanya membutuhkan faktor
teknis tetapi juga faktor managerial. Penulis
juga lebih menyarankan
bentuk ini
dibandingkan bentuk PT karena bentuk
tersebut lebih Profit Oriented dibandingkan
bentuk PD.
Dalam penelitian ini penulis membahas
mengenai komponen-kompenen pariwisata yang
terdiri dari atraksi, fasilitas, transportasi,
informasi dan promosi. Pembahasan komponen
tersebut dapat menjadi masukan bagi UndangUndang Republik Indonesia. Nomor 10 Tahun
2009 tentang Kepariwisataan, untuk memperinci
pembahasan mengenai pengelolaan komponen
pariwisata seperti pengelolaan daya tarik dan
pengelolaan fasilitas pada objek wisata. Sebagai
contohnya dalam undang-undang tersebut telah
dibahas mengenai promosi pariwisata Indonesia
secara rinci
Daftar Pustaka

Buku Referensi
Gunn, Clare A. 1988. Tourism Planning. New
York : Taylor & Francis
Inskeep, Edward. 1991. Tourism Planning : An

Integrated
And
Sustainable
Development Approach. England : John

Willey and Sons.

Mukti, Sti Handoyo. 2006. Model Pengembangan

Pariwisata
Kepulauan
Kabupaten
Natuna. Jakarta : P2KT-PUDPKM

BPPT

Pendit, Nyoman S. 1990. Ilmu Pariwisata :


Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta :
Pradnya Paramita
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kualitatif dan
Kuantitatif R&D. Bandung : Alfabeta
Simamura, Bilson. 2005. Analisis Multivariat.
Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Nizar Imam Hanafi

Sumadi.
2008.
Metodologi
Jakarta : RajaGrafindo
Persada
Swarbrooke, John. 1995. The Development and

Perundang-Undangan

Oxford : Butterworth-Heinemann Reed


Educational and Proffesional Publishin
Ltd
Warpani, Suwardjoko. 2007. Pariwisata Dalam
Tata Ruang Wilayah. Bandung : ITB
Yoeti, Oka A. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata.
Bandung : Angkasa

Peraturan
Menteri
Kehutanan
Republik
Indonesia. Nomor : P.31/MenhutII/2012. Tentang Lembaga Konservasi

Suryabrata,

Penelitian.

Management

of

Visitor

Attractions.

Jurnal Ilmiah dan Laporan Studi


Brahmantoro, Maylano Adhi. 2011. Identifikasi

Dampak Sosial Akibat Perkembanganan


Pariwisata di Pulau Pramuka Kepulauan
Seribu. Tugas Akhir. Program Studi

Perencanaan Wilayah dan Kota ITB.


Callista, Emiria. 2013. Penilaian Wisatawan dan

Masyarakat Terhadap Fasilitas Objek


Wisata Religi KH.Abdurrahman Wahid.

Tesis.
Program
Studi
Magister
Perencanaan Wilayah dan Kota ITB.
Ida, Nur. 2013. Pengembangan Fasilitas Taman

Wisata Kebun Binatang Kasang Kulim


(Kubang Jaya) Kecamatan Siak Hulu
Kabupaten Kampar. Jurnal. Universitas

Riau.
Ikhwan, Muhammad. 2013. Dampak Sosial

Akibat Pengembangan Pariwisata di


Kecamatan Togean, Kabupaten Toju
Una-Una. Tugas Akhir. Program Studi

Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 10


Tahun 2009. Tentang Kepariwisataan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia.


Nomor 50 Tahun 2011. Tentang
Rencana
Induk
Kepariwisataan
Nasional Tahun 2010 0 2025
Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 5
Tahun 1962. Tentang Perusahaan
Daerah

Media Lain
http://golondon.about.com/od/thingstodoinlond
on/ss/LondonZoo_5.htm
http://www.ibimapublishing.com/journals/CIBIM
A/2010/486866/fig2.jpg
http://www.sciencedirect.com
http://www.surabaya.go.id/eng/tourism.php?pa
ge=zoo
http://www.tempo.co/read/news/2013/12/26/05
8540298/Kotor-Kebun-Binatang-SurabayaMasih-Favorit

Perencanaan Wilayah dan Kota ITB.


Kitcharoen, Krisana. 2004. The Importance

Performance Analysis of Service Quality


in Administrative Departments of
Private universities in Thailand. Journal.

Ejournal Narotama ac.id


Tyrell, Timothy J and Mark J Okrant. 2004.

Importance-Performance Analysis :
Some Recommendations From An
Economic
Planning
Perspective.
Journal. Cognizant Comm.Corp.

Terbitan Terbatas
Perth Zoo Master Plan twenty twenty vision.
2004. Australia. Perth Zoo
Secretary of States Standards of Modern Zoo
Practice.
2012.
Bristol.
Defra
Department for Environment, Food and
Rural Affairs.

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota A SAPPK V3N1 | 116