Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Sejarah dan Perkembangan Pabrik
Minyak bumi pertama kali ditemukan pada tahun 221 SM ketika
penggalian sumur-sumur sampai kedalaman 3500 ft dengan menggunakan alat
yang sangat sederhana. Namun demikian, Pengeboran secara komersial pertama
kali dilakukan pada tahun 1859 di Titusville, Pennsylvania, Amerika Utara yang
dilakukan oleh Colonel Drake. Hal yang mendorong Colonel Drake untuk
melakukan pengolahan minyak secara komersial tersebut karena telah
ditemukannya pengolahan minyak murni untuk lampu di Glasglow pada tahun
1847 di Inggris. Penemuan pengolahan minyak bumi di Inggris pada saat itu
dianggap sebagai awal dari sejarah perkembangan industri perminyakan di dunia.
PT. PERTAMINA (PERSERO) adalah

Badan

Usaha Milik Negara

(BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan Minyak dan Gas Bumi (MIGAS)
di Indonesia. PT. PERTAMINA (PERSERO) berkomitmen mendorong proses
transformasi internal dan pengembangan yang berkelanjutan guna mencapai
standar internasional dalam pelaksanaan operasional dan tata kelola lingkungan
yang lebih baik, serta peningkatan kinerja perusahaan sebagai sasaran bersama.
Sejarah berdirinya PT. PERTAMINA (PERSERO) dimulai pada tahun
1871, ketika Jhon Reenik melakukan eksplorasi sumber minyak bumi pertama
kali di Indonesia, tepatnya di kaki Gunung Ceremai dan selanjutnya proses
pengeboran dilakukan oleh Aleko Jan Zooen Zijkler pada tanggal 15 Juni 1885 di
Pangkalan Brandan. Tanggal tersebut menjadi tanggal yang bersejarah bagi dunia
perminyakan di Indonesia.
Pada tahun 1960, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang (UU) untuk
membentuk tiga perusahaan negara di sektor minyak dan gas bumi. Ketiga
perusahaan tersebut adalah :
1.

PN. PERTAMIN (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Indonesia).


Disahkan berdasarkan PP No.3/1961. Perusahaan ini bermula dari perusahaan
Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij (NIAM) yang didirikan

2
tahun 1921. Pada tanggal 1 Januari 1959 namanya berubah menjadi
PT. Pertambangan Minyak Indonesia (PT. Permindo).
2.

PN. PERMINA (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Nasional).


Disahkan berdasarkan PP No.198/1961. Perusahaan ini merupakan peralihan
nama dari PT. ETMSU. Sejak tahun 1961, PN inilah yang melakukan operasi
penyediaan dan pelayanan bahan bakar minyak dalam negeri.

3.

PN. PERMIGAN (Perusahaan Negara Pertambangan Minyak dan Gas


Nasional). Disahkan berdasarkan PP No.199/1961. Perusahaan ini semula
berasal dari Perusahaan Tambang Minyak Rakyat Indonesia (PTMRI) yang
berlokasi di Sumatera Utara, namanya berubah menjadi PN Permigan pada
tahun 1961.
Pada tanggal 20 Agustus 1961, dibentuk Perusahaan Negara Pertambangan

Minyak dan Gas Negara (PN. PERTAMINA) yang melebur PN. PERMINA dan
PN. PERTAMIN. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan produktivitas,
efektivitas, dan efisiensi di bidang perminyakan nasional di dalam wadah suatu
Integrated Oil Company dengan satu manajemen yang sempurna. Kemudian
PN. PERTAMINA diubah menjadi PERTAMINA (Pertambangan Minyak dan Gas
Negara). Pada tahun 2003, PERTAMINA dijadikan Persero dengan nama PT.
PERTAMINA (PERSERO).
Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri,
PT. PERTAMINA (PERSERO) hingga saat ini telah mengoperasikan tujuh
Refinery Unit (RU) yang tersebar di Indonesia. Ketujuh unit tersebut adalah :
1. Refinery Unit (RU) I berlokasi di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara dengan
kapasitas 5 MBSD (berhenti beroperasi pada tahun 2007)
2. Refinery Unit (RU) II berlokasi di Dumai, Riau dengan kapasitas 170 MBSD
3. Refinery Unit (RU) III berlokasi di Plaju-Sungai Gerong, Sumatera Selatan
dengan kapasitas 126,2 MBSD
4. Refinery Unit (RU) IV berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah dengan kapasitas 348
MBSD
5. Refinery Unit (RU) V berlokasi di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan
kapasitas 260 MBSD

3
6. Refinery Unit (RU) VI berlokasi di Balongan, Jawa Barat dengan kapasitas 125
MBSD
7. Refinery Unit (RU) VII berlokasi di Kasim, Papua dengan kapasitas 9,5 MBSD
Adapun peta ke 6 Refinery Unit (RU) yang aktif saat ini dapat dilihat pada
Gambar 1 berikut :

Gambar 1. Peta Refinery Unit PT. PERTAMINA (PERSERO) di Indonesia


Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2012

PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III, Plaju merupakan satu dari tujuh


unit pengolahan yang dimiliki oleh PT. PERTAMINA (PERSERO). Daerah
operasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III ini meliputi Kilang Plaju dan
Kilang Sungai Gerong serta Terminal Pulau Sambu dan Tanjung Uban.

4
Kilang minyak Plaju didirikan oleh Shell sebuah perusahaan asing milik
Belanda pada tahun 1903, yang mengolah minyak mentah dari Prabumulih dan
juga mengolah minyak mentah dari Jambi di tahun 1923. Pada tahun 1965
pemerintah Indonesia mengambil alih kilang Plaju dari PT. Shell Indonesia.
Kilang Plaju mempunyai kapasitas produksi 110 MBCD (Million Barrel Calender
Day). Kilang Sungai Gerong didirikan oleh Stanvac sebuah perusahaan minyak
asing milik Amerika Serikat pada tahun 1922. Kilang yang berkapasitas produk 70
MBCD ini kemudian dibeli PT. PERTAMINA (PERSERO) pada tahun 1970.
Pada tahun 1971, Kilang Polypropilene didirikan di Plaju dengan kapasitas
produksi 20.000 ton per tahun. Kemudian pada tahun 1972 dilakukan proyek
integrasi Kilang Plaju dan Sungai Gerong. Pada tahun 1973, kedua kilang ini
mengalami proses integrasi, kedua kilang ini disebut dengan Kilang Musi.
Kilang musi berada di bawah pengawasan PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III
dan bertanggung jawab dalam pengadaan BBM untuk wilayah Jambi, Sumatera
Selatan, Bengkulu dan Lampung.
Sebagian besar peralatan di Kilang Plaju menggunakan teknologi lama,
normalnya umur pabrik adalah 20 tahun dan sampai sekarang pabrik tersebut
sudah beroperasi melebihi umurnya sehingga tidak begitu efisien lagi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut direncanakanlah pembuatan kilang minyak
baru yang disebut Proyek Kilang Musi (PKM). Sesuai dengan kebijakan
pemerintah yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 dan 13
tahun 1983 tentang penjadwalan kembali PKM, maka pelaksanaan PKM
dilakukan secara bertahap. PKM tahap 1 dijalankan tahun 1982 dengan
menitikberatkan pada konservasi energi dengan tujuan untuk meningkatkan
efisiensi unit-unit proses.
Hal ini diwujudkan dengan melakukan revamping (penambahan alat) dan
pembangunan unit baru yakni penambahan kapasitas sebesar 98 MBSD dengan
modifikasi dapur CD II, CD III, CD IV, CD V melalui penambahan APH. Selain
itu, juga dilakukan pembangunan unit HVU II serta pembaharuan proses kilang
FCCU. Upaya yang telah dilakukan pada PKM tahap I adalah sebagai berikut:
1. Revamping dapur dan beberapa peralatan CD Plaju untuk menurunkan
pemakaian bahan bakar.

5
2. Revamping FCCU dan Unit Light End Sungai Gerong.
3. Pembangunan destilasi bertekanan hampa bernama New Vacuum Distilation
Unit (NVDU) di Sungai Gerong dengan kapasitas produksi 48 MBCD Long
Residue.
4. Mengganti koil pemanas tangki.
5. Melengkapi fasilitas transfer produk antara kilang Plaju dan Sungai Gerong.
6. Memanfaatkan feed semaksimal mungkin.
Proyek kilang Musi Tahap I telah selesai bulan September 1986.
Memasuki tahun 90-an, Debottlenecking Kilang Teraphthalic Acid/ Purified
Teraphthalic Acid (1990) dengan kapasitas 225.000 ton/tahun. Pada tahun 1993
dilakukan Total Plant Test dengan kapasitas 131,1 MBSD dan proyek Rencana
Tindak Lanjut (RTL) hasil Plant Test. Proyek besar lainnya yakni Proyek Kilang
Musi II yang dilakukan pada tahun 1994 meliputi revamping Kilang RFCCU,
pembangunan New Polypropilene, perubahan frekuensi listrik Kilang Sungai
Gerong dari 60Hz menjadi 50Hz, modifikasi Unit Redistilling I/II Plaju, dan
Redesign Cyclone Unit FCCU sungai gerong. Modifikasi unit Redistilling I/II
Plaju menjadi CDU dilakukan pada tahun 1996.
1.2 Lokasi Pabrik
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju merupakan salah satu unit
proses produksi dalam jajaran direktorat pengolahan yang terletak di Sumatera
Selatan dan merupakan RU terluas diantara 6 RU lainnya.
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III ini mempunyai dua buah kilang yaitu:
1. Kilang Plaju.
2. Kilang Sungai Gerong.
Kilang Plaju terletak di sebelah selatan Sungai Musi, di sebelah barat
Sungai Komering, di sebalah Timur dan Utara terdapat pemukiman warga Plaju,
sedangkan kilang Sungai Gerong terletak di persimpangan Sungai Musi dan
Sungai Komering. Untuk lebih jelasnya lokasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU
III Area Plaju dapat dilihat pada Gambar 2 berikut:

Gambar 2. Peta Lokasi Kilang PT. PERTAMINA RU III Area Plaju


Sumber : PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III Plaju, 2016

Luas wilayah kerja PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III 1812,6 Ha


sedangkan luas wilayah efektif yang dipergunakan oleh PT. PERTAMINA
(PERSERO) RU III terbagi menjadi 7 tempat yakni, Area Perkantoran Kilang
Plaju 229,60 Ha, Area Kilang Sungai Gerong 153,90 Ha, Diklat-SDM Sungai
Gerong 34,95 Ha, RDP dan Lap.Golf Bagus Kuning 51,40, RDP Kanten 21,20,
Lapangan Golf Kenten 80,60, dan RDP Plaju, Sungai Gerong dan Ilir 349,37 Ha.
1.3

Jenis Produk yang Dihasilkan

7
PT. PERTAMINA RU III menghasilkan produk-produk berupa produk
BBM, produk non- BBM, serta produk petrokimia. Produk BBM meliputi avigas,
avtur, premium, kerosin, ADO, IDO, dan fuel oil. Untuk produk non-BBM, PT.
PERTAMINA RU III memproduksi Liquified Petroleum Gas (LPG), Special
Boiling Point X (SBPX), Low Aromatic White Spirit (LAWS), Low Sulfur Wax
Residue (LSWR), dan MusiCool. Sedangkan untuk produk petrokimia, PT.
PERTAMINA RU III menghasilkan produk Polypropylene dengan tipe Film
Grade, Injection Molding Grade, Yarn Grade, dan Non-Standard Grade.
1.3.1 Produk Bahan Bakar Minyak (BBM)
Berikut ini merupakan penjelasan lebih detail mengenai produk-produk
BBM yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU III:
1. Avigas
Avigas merupakan bahan bakar pesawat baling-baling dengan warna hijau yang
dihasilkan dari unit Gas Plant dengan kapasitas produksi 0,06 MBCD. Avigas
merupakan produk khas dari PERTAMINA RU III karena avigas hanya
diproduksi di kilang ini di lingkup Asia Tenggara. Negara lain yang
memproduksi avigas di seluruh dunia hanya Australia dan Italia.
2. Avtur
Avtur merupakan bahan bakar pesawat turbin atau jet yang dihasilkan dari unit
Gas Plant dengan kapasitas 1,67 MBCD. Avtur berwarna kuning muda.
3. Premium
Premium merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang memiliki standar
bilangan oktan 88 dan berwarna kuning. Premium didapat dari hasil blending
bahan bakar beroktan tinggi, yaitu catalytic naphta dari unit RFCCU dengan
bahan bakar beroktan rendah, yaitu naphta II dari unit CD sehingga
menghasilkan bilangan oktan 88. Kapasitas produksi premium adalah 22,1
MBCD.
4. Pertamax
Pertamax merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang memiliki standart
bilangan oktan yang tinggi dari premium, yaitu 92. Pertamax dihasilkan dengan
cara menambahkan zat aditif pada proses pengolahannya di kilang.

8
5. Pertamina DEX
Pertamina DEX merupakan bahan bakar mesin diesel modern yang telah
memenuhi dan mencapai standar emisi gas buang European Emission
Standards (EURO) 2.
6. Kerosin
Kerosin atau minyak tanah merupakan bahan bakar keperluan rumah tangga
yang dihasilkan oleh unit CD dengan kapasitas produksi sebesar 14,33 MBCD.
Kerosin berwarna kuning muda.
7. Solar/ADO (Automotive Diesel Oil)
Solar atau ADO merupakan bahan bakar kendaraan bermotor bermesin diesel
yang dihasilkan oleh unit CD dengan kapasitas produksi sebesar 30,82 MBCD.
Solar berwarna orange.
8. IDO (Industrial Diesel Oil)
IDO merupakan bahan bakar mesin diesel dengan harga dan kualitas di bawah
solar yang dipasarkan untuk keperluan industri (mesin-mesin pabrik). IDO
dihasilkan oleh CDU dengan kapasitas produksi 1,75 MBCD. IDO bewarna
hitam.
9. Racing Fuel
Racing Fuel merupakan bahan bakar kendaraan balap dengan bilangan oktan
sangat tinggi, yaitu 105 dan sedang dikembangkan oleh PT. PERTAMINA RU
III. Harga bahan bakar ini juga mahal mencapai Rp 75.000 per liter.
1.3.2 Produk Non Bahan Bakar Minyak (Non BBM)
Berikut ini merupakan penjelasan mengenai produk-produk non BBM
yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU III:
1.

LPG (Liquified Petroleum Gas)


LPG merupakan bahan bakar campuran dari propane dan butane untuk
keperluan rumah tangga (kompor gas). LPG dihasilkan dari unit Gas Plant
dengan kapasitas produksi 3,75 MBCD.

2.

SBPX (Special Boiling Point X)


Merupakan pelarut berwarna bening yang sering digunakan pada industri kimia

9
yang diperoleh dari unit Stabilizer C/A/B dengan kapasitas produksi 1,19
MBCD.
3.

LAWS (Low Aromatic White Spirit)


Merupakan pelarut yang digunakan pada industri-industri kimia yang diperoleh
dari CDU dengan kapasitas produksi 1,19 MBCD.

4.

LSWR (Low Sulfur Wax Residue)


Merupakan bottom produk dari Crude Destilling Unit yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar industri kimia.

5.

MusiCool
MusiCool merupakan produk alternatif pengganti refrijeran freon dan bersifat
tidak merusak lapisan ozon. Produk ini merupakan produk khas dari PT.
PERTAMINA RU III yang sedang dikembangkan karena refrijeran ini lebih
efisien dibanding refrijeran konvensional yakni dapat menghemat penggunaan
refrijeran sebesar 70%. MusiCool terdiri dari tiga jenis yakni propane murni,
isobutane murni, dan campuran propan-isobutan. Jenis musicool yang
dipasarkan yakni MC-12 yang menggantikan R-12, MC-22 yang menggantikan
R-22, MC-134 yang menggantikan R-134, dan MC-600.

1.3.3 Produk Petrokimia


Produk-produk petrokimia yang dihasilkan dari unit polypropylene yakni :
1. Film Grade
Film grade merupakan bahan baku pembuatan plastik untuk bahan
pembungkus makanan, barang-barang, pakaian, rokok dan sebagainya.
2. Injection Molding Grade
Injection molding grade merupakan bahan baku pembuatan plastik untuk
machine parts, automotive part, houseware, tray, cups dan sebagainya.
3. Yarn Grade
Yarn grade merupakan bahan baku pembuatan plastik yang digunakan untuk
filament seperti ropes, nets, carpets, textiles dan sebagainya.
4. Non-Standard Grade
Non-standard grade merupakan bahan baku pembuatan plastik dengan kualitas

10
di bawah Film Grade, Injection Molding Grade, dan Yarn Grade
1.4 Sistem Pemasaran
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III bergerak di sektor hilir yang
mengoperasikan kilang BBM dan petrokimia. Bahan baku crude oil dari
Prabumulih, Pendopo, dan Jambi disalurkan melalui pipa-pipa. Sedangkan hasil
produksi berupa BBM, non BBM, Bahan bakar khusus, dan petrokimia
didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan minyak dan gas di wilayah Sumatera
Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung, Pangkal Pinang, Medan, Pontianak, Jakarta
dan ekspor melalui kapal-kapal tanker dan mobil-mobil pendistribusian.
Pemasaran produk PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dilakukan oleh
Unit Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri (UPPDN).
1.5 Sistem Manajemen
Strukur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III dipimpin oleh
General Manager yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Pengolahan
PT. PERTAMINA Pusat di Jakarta. Struktur Organisasi PT. PERTAMINA
(PERSERO) RU III, Plaju berbentuk line and staff Organization. Line and staff
organization merupakan gabungan kedua jenis organisasi, yaitu line organization
dan staff organization. Dalam organisasi ini staff bukan sekedar pelaksana tugas
tetapi juga memberikan wewenang untuk memberikan masukan demi tercapainya
tujuan dengan baik. Demikian juga pimpinan tidak sekedar memberikan perintah
atau nasehat tetapi juga bertanggung jawab atas oerintah dan nasehat tersebut.
Struktur organisasi PT PERTAMINA (PERSERO) RU-III dilihat pada
Gambar 3 berikut ini.

11

Gambar 3. Struktur Organisasi PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III


Sumber: Pedoman BPST Angkatan XIV.Penerbit Pertamina,Palembang,2012

Stuktur organisasi pada PT.PERTAMINA (PERSERO) RU III dipimpin


oleh General Manager Refenery Unit III. General yang dalam melaksanakan
kegiatan administrasi dibantu oleh Secretary, sedangkan dalam melaksanakan
tugas yang terkait dalam manajemen perusahaan dan produksi dibantu oleh Senior
Manager Operation and Manufacturing yang membawahi Kepala Bidang/
Manager. Adapun tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh struktur organisasi
PT. PERTAMINA (PERSERO) RU III sebagai berikut :
1. General Manager Refenery Unit III
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh General Manager Refenery Unit
III adalah :
a. Menetapkan kebijakan perusahaan dengan menentukan rencana dan tujuan
perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b. Mengkoordinir dan mengawasi seluruh aktivitas pengolahan yang
dilaksanakan dalam perusahaan.
c. Membantu peraturan itern pada perusahaan yang tidak bertentangan dengan
kebijakan perusahaan.
d. Memperbaiki dan menyempurnakan segi penataan agar tujuan organisasi
dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

12
e. Menjadi perantara dalam mengkomunikasikan ide, gagasan dan strategi
antara pimpinan dan staf.
f. Membimbing bawahan dan mendelegasikan tugas-tugas yang dapat
dikerjakan oleh bawahan secara jelas.
2. Secertary
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Secretary adalah :
a. Koordinasi perencanaan dan penyelenggaraan RUPS
b. Memastikan perseroan mematuhi ketentuan tentang persyaratan keterbukaan
dan pengungkapan dalam laporan tahunan
c. Mengkoordinasikan rapat direksi dan rapat gabungan direksi dan komisaris
d. Membuat dan mendokumentasikan risalah RUPS, risalah rapat direksi dan
e.
f.
g.
h.

risalah rapat gabungan direksi dan komisaris


Menyiapkan daftar pemegang saham dan daftar khusus
Memastikan kepatuhan atas pelaksanaan GCG
Mewakili perseroan untuk berkomunikasi dengan stakeholders
Menyeleksi informasi yang relevan untuk dipublikasikan kepada

stakeholders
3. Senior Manager Operating and Manufacturing.
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Senior Manager Operating and
Manufacturing adalah:
a. Membawahi 5 Manager yang terdiri Manager Production, Manager Ref. Planning
& Optimazion, Manager Maint. Planning & Support, Manager Maintenance
Execution dan Manager turn Arround.
b. Membantu General Manager dalam mengkoordinir dan mengawasi seluruh
aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan.
4. Manager Engineering and Development
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Engineering and Development
adalah :
a. Mengupayakan kemajuan dan pengembangan kilang.
b. Mengupayakan kondisi operasi kilang yang optimum agar diperoleh produk
yang bernilai jual tinggi.
5. Manager Reliability
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh Maneger Reliability adalah :
a. Menganalisa kehandalan atau kinerja instrumen pada kilang.
b. Melakukan perawatan terhadap instrumen yang sudah tidak optimal.
c. Menguji kehandalan instrumen setelah dilakukan perawatan.

13
6. Manager General Affairs and Legal
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh General Affairs and Legal
adalah :
a. Pengamanan aset-aset yang dimiliki kilang, perizinan, pengkajian undangundang, dan menganalisa peraturan.
b. Sebagai media penghubung publik (public relations) yang mencakup
relations, CSR, internal relations and protokoler, dan media relations.
7. Manager HSE (Health Safety and Environment)
Tugas dan tanggung jawab yang dimiliki oleh HSE adalah :
a. Melindungi keselamatan, kesehatan, dan lingkungan kerja karyawan melalui
unit HSE.
b. Sebagai pengelola lingkungan hidup.
8. Manager Procurement
Kegiatan utama Procurement bergerak dalam bidang-bidang antara lain :
a. Pengendalian persediaan (inventory controlling).
b. Pengadaan material (purchasing).
c. Kontrak jasa (officers).
d. Service and warehousing
9. Manager OPI (Operational Performance Improvement)
Tugas dan fungsi OPI adalah memberikan pelatihan yang berguna dalam hal :
a. Meningkatkan performance pekerja.
b. Mengubah budaya kerja yang tidak baik.
c. Menjaga sustainability dari improvement yang sudah terlaksana.
Berdasarkan peraturan waktu kerjanya, karyawan PT. PERTAMINA
(PERSERO) RU III terbagi menjadi 2 jam kerja yakni karyawan kerja reguler dan
karyawan kerja shift. Karyawan kerja reguler adalah karyawan yang bekerja pada
bagian yang tidak berhubungan langsung dengan pengolahan pada kilang minyak,
sedangkan karyawan kerja shift adalah karyawan yang berhubungan langsung
dengan pengolahan pada kilang minyak.
Karyawan kerja shift dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok A, B, C,
dan D dengan sistem hari kerja adalah 3 hari kerja dan 1 hari libur, sedangkan jam
kerja karyawan shift yakni shift pagi pukul 07.00 s.d 15.00 wib, shift siang pukul
15.00 s.d 23.00 wib, dan shift malam pukul 23.00 s.d 07.00 wib. Untuk karyawan
regular jadwal kerjanya yakni Senin s.d Kamis pada pukul 0.7 s.d 15.30 dengan

14
istirahat pukul 12.00 s.d 12.30 wib dan Jumat pukul 07.00 s.d 15.30 wib dengan
istirahat pukul 11.30 s.d. 13.00 wib.