Anda di halaman 1dari 43

EKONOMI INTERNASIONAL PAUL R.

KRUGMAN & MAURICE


OBSTEFLD (Hasil Ringkasan)
BAB 1
PENDAHULUAN
Ekonomi Internasional menggunakan metode-metode dasar yang sama dengan yang
digunakan cabang- cabang lainnya dari ilmu ekonomi, karena pada dasarnya motif dan
perilaku dari setiap individu dan perusahaan dalam perdagangan internasional persis sama
dengan yang dijumpai dalam traksaksi-transaksi domestik.
Tema khusus yang akan selalu muncul dalam pembahasan Ekonomi internasional, yaitu:
1. Keuntungan Perdagangan (Gain from trade)
Apabila suatu negara menjual barang dan jasa kepada negara lain, maka manfaat atau
keuntungan hampir akan diperolah kedua belah pihak.
2. Pola Perdagangan
Para ekonom tidak akan dapat membahas dampak-dampak perdagangan internasional atau
menyarankan perubahan kebijakan pemerintah mengenai perdagangan secara meyakinkan
tanpa pemahaman teoritis yang memadai untuk menjelaskan perdagangan internasional yang
diamati dari kondisi nyata. Itulah sebabnya setiap upaya dalam menjelaskan pola
perdagangan internasional- siapa yang menjual apa kepada siapa- telah menjadi topik yang
paling menarik perhatian di kalangan ahli ekonomi internasional
3. Proteksionisme
Merupakan suatu kebijakan pembatasan perdagangan internasional untuk menghindarkan
persaingan internasional yang ditimbulkan industri-industri domestik.
4. Neraca Pembayaran (Balance of Payments)
Catatan atas seluruh transaksi ekonomi dari suatu negara dangan negara-negara lain.
5. Penentuan Nilai Tukar
Selama hampir seabad silam, nilai tukar ditetapkan oleh keputusan pemerintah dan bukannya
ditentukan berdasarkan mekanisme pasar. Sebelum Perang Dunia Pertama, nilai sebahagian
besar mata uang ditetapkan dengan acuan emas, sedangkan setelah Perang Dunia kedua nilai
kebanyakan mata uang ditetapkan dengan mengacu pada Dolar Amerika serikat. Analisis
tentang sistem moneter internasional yang mengatur penentuan nilai tukar masih dalam
pokok bahasan penting, khususnya karenaa kemungkinan bagi kembalinya sistem moneter
internasional kepada sistem nilai tukar tetap/ baku masih cukup besar.
6. Koordinasi kebijakan Internasional
7. Pasar Modal Internasional
Pasar modal Internasional berbeda dari pasar modal nasional (domestik). Pasar Internasional
mampu menembus peraturan-peraturan khusus yang diberlakukan oleh banyak negara
terhadap investasi asing; pasar internasional itu tidak jarang juga mampu menciptakan
peluang peluang untuk menghindari peraturan-peraturan ketat yang diberlakukan oleh suatu
negara terhadap passar domestik.
Ekonomi Internasional : Perdagangan dan Keuangan

Ilmu ekonomi tentang perekonomian internasional pada dasarnya dapat dibagi ke dalam dua
sub bidang besar: studi tentang perdagangan internasional dan studi mengenai keuangan
internasional. Analisis perdagangan internasional terutama menitikberatkan pembahasannya
kepada transaksi-transaksi rill dalam perekonomian internasional, yaitu transaksi yang
meliputi pergerakan barang dan jasa secara fisik atau suatu komitmen atas sumber daya
ekonomi yang konkret.
Dalam kenyataanya tidak ada garis pemisah yang tegas antara persoalan-persoalan
perdagangan dan moneter. Sebagian besar perdagangan internasional melibatkan transaksitransaksi moneter. Pembedaan antara perdagangan internasional dan kuangan internasional
merupakan hal yang berfaedah.

BAB 2 PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DAN KEUNGGULAN KOMPARATIF


MODEL RICARDO
Setiap negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama, yaitu : negaranegara berdagang karena mereka berbeda satu sama lain. Yang kedua negara-negara
berdagang satu sama lain dengan tujuan untuk mencapai apa yang lazim disebut skala
ekonomis dalam produksi.
Dalam-dalam dunia nyata, pola-pola perdagangan internasional mencerminkan adanya
interaksi yang terus menerus dari kedua motif ini.
Konsep Keunggulan Komparatif
Perdagangan Internasional dapat meningkatkan output dunia karna memungkinkan setiap
negara sesuatu yang keunggula komparatifnya dapat ia kuasai. Suatu negara memiliki
keunggulan komperatif dalam memproduksi suatu barang kalau biaya pengorbanannya dalam
memproduksi barang tersebut lebih rendah dari pada negara-negara lain.
Pada bab ini akan diuji model perdagangan Ricardo, model paling sederhanan yang ternyata
bisa menunjukkan bagaimana perbedaan-perbedaan di antara negara-negara membuka
peluang bagi berlangsungnya hubungan perdagangan di antara semua negara itu untuk
memperoleh keuntungan perdagangan . Dalam model Ricardo ini, tenaga kerja merupakan
salah satu produksi dan negara- negara hanya berlainan dalam tingkat produktivitas tenaga
kerja di industri-industri tertentu.
Dalam model Ricardo, suatu negara diprediksikan akan mengekspor barang barang yang
mampu diproduksi oleh tenaga kerjanya relatif labih efisien, dan mengimpor barang-barang
yang diproduksi tenaga kerja nya relatif kurang efisien. Dengan kata lain, pola produksi suatu
negara ditentukan oleh keunggulan komperatif.
Perdagangan memberikan keuntungan bagi suatu negara, dan ini dapat ditunjukkan lewat dua
cara. Pertama, kita dapat meninjau perdagangan sebagai metode produksi secara tidak
langsung. Sebagai alternatif dari memproduksi sendiri suatu barang, suatu negara dapat
memproduksi barang lain dan memperdagangkannya sebagai penukar untuk memperoleh
barang yang diinginkan. Model Ricardo yang sederhana itu bisa menunjukkan bahwa melalui
kegiatan impor negara bersangkutan akan duntungkan karena produksi secara tidak langsung

ini membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan dengan produksi secara
langsung.Kedua, kita dapat menunjukkan selalu adanya keuntungan-keuntungan dari kegiatan
perdagangan atas dasar fakta semakin luasnya kemungkinan-kemungkinan konsumsi bagi
penduduk suatu negara, yang pada hakikinya merupakan salah bentuk dari keuntungan
perdagangan itu sendiri.
Distribusi keuntungan perdagangan tergantung pada harga relatif barang yang diproduksi
oleh negara-negara yang aktif melakukan perdagangan internasional. Untuk menentukan
harga relatiif ini, kita perlu memperhatikan aspek aspek penawaran dan aspek permintaan
relatif dunia atas barang yang diperdagangkan. Harga relatif ini selajutnya menentukan
tingkat upah relatif.
Dalil yang mengatakan bahwa perdagangan memberikan manfaaatau keuntungan berlaku
secara umum. Karenanya, tidak ada persyaratan bahwa suatu negara harus menang mutlak
dalam persaingan, atau perdagangan harus adil. Kita dapat menunjukkan kekeliruan yang
meliputi tiga keyakinan yang umumnya dianut oleh kalangan awam . Pertama, suatu negara
akan memperoleh keuntungan perdagangan meskipun negara tersebut memiliki produktivitas
yang lebih rendah dengan mitra dagangnya di semua industri atau sektor ekonomi. Kedua,
perdagangan akan menguntungkan meskipun industri diluar negeri memiliki daya saing
hanya karena tingkat upahnya rendah. Ketiga, perdagangan akan tetap bisa membuahkan
keuntungan meskipun ekspor suatu negara membutuhkan lebih banyak tenaga kerja
dibandingkan dengan impornya.
Meskipun sebagian prediksi model Ricardo memang tidak realistik, namun prediksi
utamanya,yakni bahwa suatu negara cendrung mengekspor barang-barang dimana mereka
memiliki produktivitas yang relatif tinggi, benar-benar ditunjang oleh bukti empiris yang
diperoleh dari sejumlah penelitian.
Contoh
Jutaan mawar Ribuan komputer
Amerika serikat -10 +100
Amerika selatan +10 -30
Total 0 +70
Perbedaan biaya opurtunitas membuka peluang bagi pembagian kerja yang akan
meguntungkan semua pihak. AS tidak perlu menanam mawar sediri dan lebih baik
memproduksi komputer. Sedangkan Amerika Selatan tidak perlu membuuat komputer dan
berkonsentrasi menanam bunga mawar. Dengan demikian
Amerika Selatan memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi mawar musim dingin
sedangkan AS memiliki keunggulan komparatif dalam membuat komputer standart hidup di
kedua negara akan sama-sama meningkat jika kemudian AS memasok kebutuhan komputer
untuk Amerika Selatan, sedangkan Amerika Selatan memasok kebutuhan mawar di AS.
Perdagangan antar kedua negara akan menguntungkan kedua pihak jika masing-masing
negara memproduksi dnmengekspor produk yang keunggulan komperatifnya ia kuasai.

BAB 3 FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI SPESIFIK DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

Menurut david ricardo model ini mengasumsikan adanya suatu perekonomian rekaan yang
hanya memproduksi dua jenis barang, dan perekonomian tersebut bisa mengalokasikan
seluruh tenaga kerjanya di antara kedua sektor tersebut. Namun, tidak seperti model ricardo,
model faktor spesifik memperhitunkan adanya faktor-faktor produksi lain di luar tenaga
kerja.
Perdagangan Internasional sering kali memberikan pengaruh yang kuat, baik positif maupun
negatif terhadap pola distribusi pendapatan di dalam suatu negara, sehingga pendapatan suatu
negara itu sering memunculkan pihak-pihak yang dirugikan , dan sebaliknya pihak-pihak
yang memetik keuntungan.dampak perdagangan internasional terhadap pola distribusi
pendapatan tersebut mencuat karena dua alasan, faktor-faktor produksi tidak dapat berpindah
dengan cepat dan murah dari satu sektor ke lain sektor dan perubahan-perubahan dalam
keragaman output yang mempunyai dampak yang berbeda terhadap tingkat permintaan atas
berbagai faktor produksi.
Model yang paling relevan dan bermanfaat untuk membahas dampak perdagangan terhadap
distribusi pendapatan adalah model faktor spesipik. Dikatakan paling relevan dan bermanfaat,
karena model ini memungkinkan diperhitungkannya perbedaan antara faktor-faktor produksi
yang bisa dignakan di sektor mana pun dan bisa berpindah antar sektor, dan faktor-faktor
spesifik yang hanya bisa digunakan dalam sektor-sektor tertentu saja. Dalam model ini
diperlihatkan bahwa perbedaan-perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dapat
menyebabkan negara-negara memiliki kurva penawaran relatif yang berbeda satu sama lain .
hal itulah sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional.
Dalam model faktor spesifik, faktor-faktor produksi yang spesifik pada sektor ekspor di
setiap negara biasanya memperoleh keuntungan dari adanya kegiatan perdagangan ,
sementara faktor-faktor spesifik pada sektor yang besaing dengan impor menderita kerugian.
Faktor-faktor yang bisa berpindah dan dapat bekerja di sektor mana saja bisa beruntung
namun bisa juga merugi dengan adanya perdagangan.
Kegiatan perdagangan dapat menghasilkan keuntungan bagi suatu perekonomian secara
keseluruhan, namun ini hanya diletakkan dalam pengertian yang terbatas mengingat bahwa
tidak semua pihak dalam perekonomian itu diuntungkan. Dikatakan menguntungkan secara
keseluruhan karena peningkatan kesejahteraan dari pihak-pihak yang memperoleh
keuntungan pada dasarnya dapat mengkompensasi penurunan kesejahteraan dari pihak-pihak
yang merugikan.Ddengan demikian, kesejahteraan dari suatu perekonomian yang melakukan
perdagangan cendrung lebih baik daari perekonomian lain yang sama sekali tidak melakukan
perdagangan.
Kebanyakan ekonom tidak bersedia menempatkann dampak negatif yang ditimbulkan oleh
perdagangan internasional terdhadap distribusi pendapatan sebagai alasan yang kuat bagi
suatu negara untuk membatasi perdagangan internasonalnya. Ini karena mereka yakin bahwa
damapak-dampak negatif terhadap distribusi yang ditimbulkan oleh perdagangan tersebut
tidak ada bedanya dengan dampak negatif serupa yang diakibatkan oleh berubahanperubanhan ekonomi lainnya. Lebih lanjut, para ekonom lebih suka membahas persoalan
distribusi yang ditimbulkan oleh perdagangan tersebut biasanya lebih suka membahas
masalah distribusi pendapatan secara langsung tanpa harus mengaitkannya dengan
keedudukan perdagangan sebagai salah satu penyebabnya (karena itu akan memancing

campur tangan pemeritah untuk membatasi lalulintas perdagangan)


Meskipun demikian, daklam politik kebijakan perdagangan yang ada sesungguhnya,
distribusi pendapatan merupakan sesuatu yang amat penting. Hal ini berlaku khususnya
karena pihak-pihak yang dirugikan dalam perdagangan bisanya merupakan lebih terdidik ,
lebih kohesif (lebih kompak), dan juga lebih terorganisir dari pada pihak-pihak memperoleh
keuntungan dari perdagangan.

BAB 4 SUMBER DAYA DAN PERDAGANGAN MODEL: HECKHER OHLIN


Model Heckher Ohlin ini menunjukan bahwa keunggulan komparatif dipengaruhi secara
timbale balik oleh perbedaan-perbedaan di dalam karunia sumber daya antar negara sebagai
satu-satunya famtor penentu terjadinya perdagangan internasional.
Model Perekonomian Dengan Dua Faktor Produksi
Setiap perekonomian diasumsikan dapat memproduksi dua barang, dan produksi setiap
barang mensyaratkan penggunaan dua faktor produksi. Kedua faktor yang sama digunakan
dikedua sektor.
Asumsi
Negara atau perekonomian yang kitaanalisis dapat memproduksi dua jenis barang, yakni:
kain (diukur dalam satuan meter) dan bahan pangan atau makanan (diukur dalam satuan unit
atau kalori).
Arc = luas tanah (dala satuan hektar) untuk memprosuksi satu meter kain
Alc = jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi satu meter kain,
Atf = luas tanah yang dibutuhkan untuk memproduksi satu jenis barang,
Alf = jumlah jam kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi satu kalori makanan,
L = total penawaran tenaga kerja dalam perekonomian yang bersangkutan,
T total penawaran tanah dalam perekonomian yang bersangkutan
Seorang petani dapat memproduksi satuan kalori makanan dengan menggunakanlebih banyak
pekerja dan lebih sedikit tanah,atau sebaliknya. maksudnya adalah seorang petani dapat
menghasilkan bahan pangan lebih banyak jika pada sebidang tanah yang tetap ia
mengerahkan lebih banyak pekerja ( atau bibit, pupuk, dll) untuk menggarapnya. karena itu
petani dapat mengurangi pemakaian tanah dan meningkatkan pengguaan tenaga ikerha
perunit output. Dengan demikian pada setiap sektor produsen tidak terikat dengan persyaratan
input (model Ricardo), melainkan menghadapi berbagai pilihan yang berbeda.
Jika sewa tanah tinggi sedangkan upah pekerja rendah, maka tentunya para petani akan
memilih lebih sedikit tanah dan merekrut lebih banyak pekerja. Sebaliknya, kalau sewa tanah
murah sedangkan upah pekerja tinggi, petani akan memakai lebih banyak tanah dan
membatasi pemakaian tenaga kerja.
Peranan sumber daya dalam perdagangan, kita perlu mengembangkan sebuah model dimana
dua barang diproduksi dengan dua macam faktor produksi. Kedua barang itu berbeda dalam
kepadatan kandungan atau intensitas faktor produksinya; maksudnya pada nisbah upah sewa
tertentu, produksi satu barang menggunakan nisbah tanah terhadap tenaga kerja yang lebih
tinggi ketimbang dalam produksi barang lainnya.

Selama satu negara memproduksi dua jenis barang, terdapat hubungan langsung antara harga
relatif barang dan harga relatif faktor (maksudnya faktor produksi) yang digunakan untuk
membuat barang tersebut. Kenaikan harga barang relatif padat karya akan mengeser distribusi
pendapatan; pekerja akan memperoleh kenaikan pendapatan rill(dalam satuan dua jenis
barang yang terkait), sedangkan pemilik faktor produksi lain (pemilik tanah) akan berkurang
pendapatan riilnya.s
Peningkatan penawaran salah satu faktor produksi, seperti tanah dalam satu perekonomian
akan menggeser batas-batas kemungkinan produksi ke sebelah luardengan arah yang bias.
Jika harga-harga relatif barang tidak berubah output barang yang banyak menggunakan faktor
itu akan bertambah, sedangkan outpun barang lainnya yang banyak menggunakan faktor itu
akan berkurang.
Satu negara yang memiliki penawaran sumber daya yang relatif besar terhadap sumber daya
lainnya berarti punya kelimpahan atas sumber daya yang bersangkutan. Negara ini akan
cendrung, secara relatif memproduksi lebih banyak barang yang secara intensif menggunakan
sumber daya yang dimilikinya secara melimpah itu. Hasil dari observasi ini adalah landasan
pokok dari teori Hecksher-Ohlin tentang perdagangan. Setiap negara cendrung mengekspor
barang yang secara intensif menggunakan faktor-faktor yang dimilikinya secara melimpah.
Karena perubahan harga-harga relatif barang menimbulkan dampak yang sangat kuat
terhadap pendapatan relatif dari setiap pemilik sumber daya , karena perdagangan mengubah
harga-harga relatif, maka perdagangan internasonal juga mengakibatkan dampak yang sangat
kuat terhadap distribusi pendapatan. Pemilik faktor-faktor yang melimpah di suatu negara
akan memperoleh keuntungan dari adanya hubungan dagang itu, namun pemilik faktor-faktor
yang langka akan menderita kerugian.
Dalam model yang ideal (sempurna) hubungan internasional akan menyebabkan penyamaan
harga-harga faktor seperti tenaga kerja dan modal diantara negara-negara yang berdagang.
Namun dalam kenyataanya, penyamaan harga-harga faktor tidak sepenuhnya terjadi sehbung
dengan adanya perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kepemilikan sumber daya ,
hambatan-hambatan perdagangan dan juga perbedaan penguasaan teknlogi antar negara.
Bukti-bukti empiris pada umumnya bersifat negatif terhadap (menyanggah) gagasan yang
mengatakan bahwa perbedaan dalam kepemilikan sumberdaya merupakan faktor penentu
utama pola perdagangan dunia (baik barang maupun faktor produksi). Dalam kenyataanya,
perbedaan teknologilah yang nampaknya memegang peran yang menentukan. Meskipun
begitu, model Heckher- Ohlin tetap berguna untuk memahami dampak perdagangan terhadap
distribusi perdagangan.

BAB 5 MODEL PERDAGANGAN STANDAR


Model Perdagangan Internasional sbb:
Model Ricardo : Kem Model Ricardo : Kemungkinan-kemungkinan produksi ditentukan
oleh alokasi satu faktor produksi tunggal, yakni tenaga kerja, ke berbagai sektor ekonomi.
Model ini menyampaikan gagasan dasar yang penting mengenai keunggulan komparatif,
namun tidak memungkinkan kita membahas distribusi pendapatan.

Model factor spesifik. Kalau tenaga kerja bisa bergerak bebas antar-sektor, ada sejumlah
faktor produksi yang bersifat spesifik atau terikat pada sektor tertentu. Model ini sangat baik
untuk memahami distribusi pendapatan, namun tidak mampu menjelaskan soal pola
perdagangan.
Model Heckscher-Ohlon: Dalam model ini berbagai faktor produksi dimungkinkan
bergerak antar-sektor. Rumusannya lebih rumit, namun perlu diketahui model menyampaikan
pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana keberadaan sumber daya menentukan
pola perdagangan.
Model Standar Perekonomian Dagang
Model perdagangan standar (standard trade model) dikembangkan berdasarkan empat
hubungan inti:
1. Hubungan antara batas batas kemungkinan produksi dengan kurva penawaran relative
2. Hubungan antara harga-harga relative dengan tingkat permintaan
3. Penentuan kesimbangan dunia dengan penawaran relative dunia dan permintaan relatif
dunia
4. Dampak nilai tukar perdagangan (terms of trade)
Model perdagangan standar membentuk kurva penawaran relative dunia dari kemungkinan
kemungkinan produksi dan kurva permintaan relative dunia atas dasar prefensi prefensi
masyarakat. Harga ekspor relative terhadap impor atau nilai tukar perdagangan suatu Negara,
sepenuhnya akan ditentukan oleh perpotongan antara kurva penawaran relative dan kurva
permintaan relative dunia. Jika faktor-faktor lain tak berubah (cateris paribus), kenaikan nilai
tukar perdagangan suatu Negara akan meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Sebaliknya,
penurunan nilai tukar perdagangan dari suatu Negara akan menyebabkan Negara tersebut
mengalami kerugian sehingga tingkat kesejahteraan penduduknya terancam akan merosot.
Pertumbuhan Ekonomi dan Batas-batas Kemungkinan Produksi
Dampak pertumbuhan terkadang mengalami bias. Pertumbuhan bias (biased growth), ini
terjadi jika batas kemungkinan produksi bergeser ke luar, dimana pergeseran lebih tertuju ke
suatu arah daripada kearah arah yang lain. Pertumbuhan ekonomis di suatu Negara berarti
adanya suatu pergeseran ke luar dari batas batas kemunkinan produksinya Negara tersebut.
Pertumbuhan ini biasanya berarti, batas kemungkinan produksi tersebut biasa bergeser ke luar
secara tidak proporsional, melainkan bergerak lebih jauh ke salah satu arah, yakni kearah
produksi beberapa barang tertentu, dibandingkan dengan arah ke produksi barang lainnya.
Dampak seketika dari adanya pertumbuhan yang bias adalah kalau hal hal lainnya tidak
berubah terjadinya peningkatan penawaran relative dunia dari barang barang di mana
pertumbuhan bias terhadapnya. Pergeseran kurva relative dunia nin selanjutnya menyebabkan
perubahan dalam nilai tukar perdagangan, yang dapat menuju kepada salah satu arah.
Seandainya nilai tukar perdagangan Negara tersebut mengalami kemajuan atau perbaikan,
amaka perbaikan ini akan memperkuat pertumbuhan ekonomi yang mulai bersemi sejak awal
di dalam negeri, namun di sisi lain akan merugikan Negara Negara lain. Jika pertumbuhan
nilai tukar perdagangan Negara tersebut memburuk, penurunan ini akan menghilangkan
beberapa dampak yang menguntungkan dari adanya pertumbuhan di dalam negeri dan justru
akan menguntungkan Negara Negara lain.
Arah dampak terhadap nilai tukar perdagangan bergantung kepada karakteristik pertumbuhan

ekonomis yang berlangsung. Pertumbuhan yang bias terhadap ekspor (pertumbuhan yang
lebih meningkatkan kemampuan perekonomian yang bersangkutan untuk memproduksi
barang barang yang sejak lama telah menjadi andalan eksponyar lebih besar daripada
meningkatkan kemampuan untuk memproduksi barang barang yang bersaing dengan impor)
akan memperburuk nilai tukar perdagangan. Sebaliknya, pertumbuhan yang bias terhadap
impor, yang secara tidak proporsional akan meningkatkan kemampuan untuk memproduksi
barang barang yang bersaingdengan impor, cenderung memperbaiki nilai tukar perdagangan
suatu Negara. Mungkin saja pertumbuhan yang bias terhadap impor itu akan merugikan
Negara yang bersangkutan. Hal ini dialami oleh Amerika Serikat pada masa yang panjang
sejak usainya Perang Dunia Kedua.
Transfer pendapatan internasional seperti pampasan perang dan arus bantuan luar negeri bias
mempengaruhi nilai tukar perdagangan suatu Negara lewat pergeseran kurva permintaan
relative dunia. Jika suatu Negara yang menerima transfer pendapatan keudian
membelanjakan dalam proporsi yang lebih besar daripada peningkatan pendapatan berupa
transfer itu, maka transfer tersebut meningkatkan permintaan relative dunia terhadap barang
barang yang diekspor oleh Negara penerima dan karenanya akan dapat memperbaiki nilai
tukar perdagangannya. Perbaikan ini memperkuat dampak transfer dan memberikan
keuntungan secara tidak langsung yang menambah transfer pendapatan langsung. Pada sisi
lain, jika Negara penerima mempunyai kecenderungan pembelanjaan marjinal yang lebih
rendah dibandingkan dengan Negara sumber atau pemberi transfer, maka transfer tersebut
akan memperburuk nilai tukar perdagangan Negara penerima, atau paling tidak mengurangi
dampak positif langsung yang akan dibuahkan oleh transfer itu.
Dalam kenyataannya, banyak Negara yang lebih banyak mengadakan pembelanjaan atas
barang barang yang diproduksi di dalam negeri daripada barang barang impor. Hal ini tidak
selamanya disebabkan oleh perbedaan perbedaan dalam selera, akan tetapi bisa juga
disebabkan oleh adanya berbagai macam hambatan perdagangan, baik itu yang alamiah
maupun yang artificial, yang selanjutnya menyebabkan banyak barang menjadi tidak dapat
diperdagangkan secara internasional. Jika barang barnag yang tidak dapat diperdagangkan
secara internasional itu bersaing dengan barang barang ekspor dalam penggunaan sumber
daya, maka keberadaan transfer biasanya akan meningkatkan nilai tukar perdagangan Negara
penerima. Bukti bukti empiris yang berhasil dikumpulkan menunjukkna secara jelas bahwa
hal tersebut memang sering terjadi.
Tarif impor dan subsidi ekspor menimbulkan pengaruh yang kuat, baik terhadap penawaran
relatif maupun permintaan relative dari barang barang yang diimpor oleh suatu Negara.
Penerapan tariff akan meningkatkan penawaran relative produk impor dari suatu Negara, dan
sekaligus akan menurunkan permintaan relatifnya. Pemberlakuan tariff akan dapat
memperbaiki nilai tukar perdagangan dari suatu Negara dan merugikan Negara Negara lain.
Subsidi ekspor memunculkan dampak dampak yang sebaliknya yakni ia akan meningkatkan
penawaran relative dan menurunkan permintaan relative untuk barang ekspor suatu Negara
dan karenanya memperburuk nilai tukar perdagangan.
Adanya dampak dampak terhadap nilaitukar perdagangan yang bersumber dari subsisdi
ekspor cenderung merugikan Negara yang memberikan subsidi dan menuntungkan Negara
Negara lain. Sementara ini, penerapan tariff berdampak sebaliknya. Ini berarti pemberian
subsidi ekspor sesungguhnya sama sekali tidak mengandung alas an atau logika ekonomis

bila ditinjau dari sudut kepentingan nasional. Betapa tidak, subsidi ekspor justru akan
menguntungkan Negara lain atas dasar kerugian Negara pelakunya. Itulah sebabny kalau ada
Negara lain yang memberikan subsidi ekspor kepada kalangan pengusahanya, maka hal tiu
hendaknya kita sambut dengan gembira karena hal itu akan menguntungkan kita (bukannya
ditentang atau dikecam). Namun, baik tariff maupun subsidi sama sama menimbulkan
dampak negative yang kuat terhadap distribusi pendapatan di dalam suatu Negara, dan
dampak ini lebih diperhtungkan dalam perumusan kebijakan dibandingkan dengan
pertimbangan atas dampaknya terhadap nilai tukar perdagangan.
BAB 6 SKALA EKONOMIS, PERSAINGAN TIDAK SEMPURNA DAN
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Skala Ekonomis dan Struktur Pasar
Skala ekonomis eksternal (external economisof scale) akan tercipta apabila jumlan biaya per
uhit sudah tergantung pada besarnya industri, tidak perlu pada besarnya. Hubungan
perdagangan tidak harus bertolak dari keunggulan komparatif. Sebagai alternatifnya,
hubungan perdagangan juga dapat bersumber dari imbalan yang terus meningkat (increasing
returus) atau skala ekonomis- artinya, dari kecenderungan bahwa biaya makin turun dengan
meningkatnya output, skala ekonomis memberikan suatu dorongan bagi Negara Negara untuk
melakukan spesialisasi dan melakukan perdagangan satu sama lain, meskipun sumber sumber
daya dan tingkat teknologi mereka tidak berbeda. Skala ekonomis bias bersifat internal
(tergantung pada ukuran perusahaan) atau eksternal (tergantung pada ukuran sector industry).
Skala ekonomis biasanya menyebabkan terciptanya struktur persaingan sempurna tidak dapat
terwujud, sehingga arus perdagangan di tengah tengah keberadaaan skala ekonomis harus
dianalisis dengan menggunakan model model persaingan tidak sempurna. Dua model penting
dari jenis ini adalah model persaingan monopolistic dan model dumping. Model yang ketiga,
yakni model ekonomis eksternal, konsisten dengan persaingan sempurna.
Persaingan Monopolistik
Dalam persaingan monopolistik, suatu sektor industry berisi sejumlah perusahaan yang
menghasilkan produk produk yang berbeda (differentiated product). Perusahaan perusahaan
ini bertindak bagaikan perusahaan monopolistic tunggal, akan tetapi perusahaan perusahaan
yang lain dapat dengan bebas memasuki sector industry yang menguntungkan tersebut
sampai keuntungan keuntungan monopoli yang dikandungnya habis sama sekali. Kondisi
keseimbangannya akan dipengaruhi oleh besarnya ukuran pasar. Pasar yang besar akan
mampu menyangga keberadaan lebih banyak perusahaan, dank arena itu biaya rata rata
produksi di sector industry atau pasar yang berukuran lebih besar tersebut akan lebih rendah
apabila dibandingkan dengan yang ada di pasar kecil.
Perdagangan internasional menciptakan suatu pasar global gabungan yang lebih besar dari
pasar nasional yang manapun, dank arena itu memungkinkan ditawarkannya berbagai macam
produk yang semakin beragam dengan harga lebih rendah kepada para konsumen.
Dalam model persaingan monopolistik, perdagangan bisa dibagi ke dalam dua jenis.
Perdagangan dua arah dalam produk produk yang berbeda di dalam suatu industry yang
biasanya disebut sebagai perdagangan industry, serta perdagangan yang menukarkan produk
produk suatu industry dengan produk produk industry lainnya yang lazim disebut dengan

perdagangan antarindustri. Perdagangan industry itu bertumpu pada skala ekonomis,


sedangkan perdagangan intraindustri bertolak dari keunggulan komparatif. Di samping itu,
perdagangan intraindustri tidak menciptakan dampak yang kuat terhadap distribusi
pendapatan sebagaimana perdagangan intraindustri.
Dumping
Dumping terjadi bila perusahaan monopolistic mengenakan harga yang lebih rendah atas
produk ekspor daripada yang dikenakan pada produk yang sama yang dijual di pasaran
domestic. Ini merupakan strategi yang seringkali dilakukan untuk memaksimalkan
keuntungan, selama penjualan ekspor memang lebih responsive daripada penjualan domestic
dan jika perusahaan perusahaaan tersebut dapat dengan efektif memilah milah pasar, artinya
ia bias mengatur sedemikian rupa sehingga konsumen domestic tidak akan membeli barang
yang ditujukan untuk pasar ekspor. Dumping timbale balik (reciprocal dumping) terjadi jika
perusahaan perusahaan saling melakukan dumping dalam setiap pasar domestic pihak
lainnya, dumping timbale balik seperti ini bias menyulut pembukaan dan perkembangan
hubungan hubungan perdagangan internasional.
Keuntungan eksternal adalah skala ekonomis yang terjadi pada tingkat industry secara
keseluruhan, bukannya pada tingkat perusahaan secara individual. Gejala ini memberikan
peranan penting pada factor factor historis, termasuk yang bersifat kebetulan, dalam penetuan
pola perdagangan internasional. Jika ekonomis eksternal itu benar benar terjadi, makan suatu
Negara yang memulai suatu industry yang besar bias memelihara keunggulan tersebut
sekalipun Negara lain secara potensial dapat memproduksi barang barang yang sama dengan
biaya lebih murah. Jika ekonomis eksternal itu terjadi sebagian Negara justru bias mengalami
kerugian dari berlangsungnya perdagangan.

BAB 7 PERPINDAHAN FAKTOR INTERNASIONAL


Perpindahan faktor (produksi) meliputi migrasi tenaga kerja, transfer moda melalui aneka
kegiatan hutang-piutang internasional dan suatu pertalian internasional harus yang terbentuk
sehubungan yang beroperasinya perusahaan-perusahaan multinasional. Kecondongan dari
fungsi produksi mengukur peningkatan output yang dapat dicapai dengan menggunakan
sedikit lebih banyak tambahan tenaga kerja dan ini dikenal sebagai produk marjinal tenaga
kerja.
Perubahan Tenaga kerja akan mempengaruhi jumlah output jika jumlah tanahnya sama.
Semakin besar penawaran tenaga kerja akan seaki besr outputnya, namun produk marjinal
tenaga kerja terus menurun seiring dengan terus semakin banyaknya jumlah pekerja.
Berdasarkan tingkat penyerapan tenaga kerja yang ada produk marjinal menentukan upah riil,
karena itu pembayaran total untuk tenaga kerja (upah riil kali pekerja).
Bentuk lain dari integrasi, yaitu peri pindahan internasional dari faktor-faktor produksi atau
yang biasa disebut sebagai perpindahan faktor (factor movements). Perpindahan faktor
produksi meliputi migrasi tenaga kerja, transfer modal mealalui aneka kegiatan hutangpiutang internasional dan suatu pertalian internasional yang terbentuk sehubungan dengan
beroperasinya perusahaan multinasional.
Secara keseluruhan perpindahan faktor antar negara cenderung mengandung lebih banyak
masalah dan kesukaran politis bila dibandingkan dengan perdagangan. Oleh karena itu,

penrpindahan faktor dengan sendirinya juga cenderung menghadapi kendala lebih besar
daripada yang ditemui oleh kegiatan perdagangan barang-jasa.
Asumsikan saja bahwa Domestik dan asing mempunyai teknologi yang sangat tinggi atau
kualitasnya, akan tetapi nisbah kepemilikan faktor produksi tanah-tenaga kerjanya secara
keseluruhan berbeda. Domestik adalah sebuah negara dengan jumlah tenaga kerja yang
melimpah, sedangkan luas tanah yang tersedia terbatas. Sebaliknya, Asing memiliki lahan
luas namun jumlah pekerjanya relatif terbatas. Karena itu para pekrja di domestik akan
memperoleh pendapaan lebih sedikit dari pekerja asing, sementara pemilik tanah di Domestik
akan memperoleh pendapatan lebih besar daripada penghasilan pemilik tanah di Asing. Ini
jelas menciptakan suatu rangsangan bagi faktor-faktor produksi itu untuk berpindah. Para
pekerja di Domestik akan berusaha pindah ke pemilik asing dan mempeloleh upah yang lebih
tinggi, sedangkan para pemilik tanah di Asing, kalau bisa, juga akan senang memindahkan
tanah mereka ke Domestik.Karena tanah tidak mungkin di pindahkan maka hanyalah para
pekerja yang dipindahkan.
Mobilitas Tenaga Kerja Internasional
Dalam dunia modern, pembatasan-pembatasan terhadap arus tenaga kerja bias dijumpai di
semua tempat. Oleh karena itu, mobilitas tenaga kerja internasional, dalam kenyataan seharihari, jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan mobilitas modal internasional.
Perpindahan Tenaga Kerja Internasional
Tiga hal pokok yang perlu diperhatikan berkenaan dengan redistribusi total angkatan kerja
dunia yaitu:
1. Perpindahan tenaga kerja tersebut akan mengarah pada konvergensi (penyamaan) tingkat
upah riil di semua negara. Upah riil akan naik di Domestik, dan turun di Asing sehingga
keduanya sama.
2. Perpindahan tersebut akan meningkatkan output dunia secara keseluruhan. Output di Asing
akan naik sebesar daerah yang terletak di bawah kurva produk marjinal, sementara output
Domestik akan turun sebesar daerah yang sama yang terletak di u bawah kurva produk
marjinal.
3. Selain terciptanya keuntungan ini, ada beberapa pihak yang dirugikan oleh perpindahan
tenaga kerja yakni para pekerja yang sejak semula mencari nafkah di Asing yang mengalami
pengurangan upah.
PEMBERIAN DAN PENERIMAAN PINJAMAN (DANA) INTERNASIONAL
Perpindahan modal antar-negara merupakan salah satu aspek utama dari kegiatan ekonomi
internasional. Adalah menarik untuk menganalisis perpindahan modal ini dengan cara yang
senada dengan analisis yang telah kita lakukan mengenai mobilitas tenaga kerja dan
kadangkala hal ini merupakan latihan yang berguna bagi kita.
Analisis tentang aspek-aspek finansial dari perekonomian internasional merupakan topik
penbahasan pada bagian besar buku ini. Dalam beberapa hal, pinjam-meminjam internasional
dapat diartikan sebagai suatu jenis perdagangan internasional. Perdagangan ini tidak untuk
satu barang ditukar dengan barang lain pada suatu waktu tertentu, tetapi merupakan
perdangangan barang-barang yang ada sekarang dengan barang yang baru ada di masa
mendatang. Perdagangan semacam ini lazim dikenal sebagai perdagangan antar waktu atau
intemporal (intertemporal trade).
PENANAMAN MODAL ASING LANSUNG DAN PERUSAHAAN MULTINASIONAL

Perpindahan modal antar negara mengambil bentuk yang berbeda, yakni berupa penanaman
modal asing langsung. Yang dimaksud dengan penanaman modal asing langsung adalah suatu
arus modal internasional di mana perusahaan dari suatu negara mendirikan atau memperluas
operasi atau jaringan bisnisnya di negara-negara lain. Satu ciri yang menonjol dari
penanaman modal asing langsung ini adalah hal tersebut melibatkan bukan hanya
pemindahan sumber daya, akan tetapi juga memberlakukan pengendalian asing (pihak
pemilik modal itu).
Perusahaan-perusahaan multinasional sejak lama telah berfungsi sebagai wahana bagi
kegiatan pinjam-meminjam internasional. Perusahaan-perusahaan induk sering mengirimkan
modal bagi anak-anak perusahaan di luar negeri, dan ini adalah penanaman modal asing
langsung yang merupakan salah satu alternatif untuk mencapai hal yang sama dengan
peminjaman internasioanal. Meskipun perusahaan-perusahaan terkadang memang berfungsi
wahana untuk arus modal internasional, namun belum tentu penanaman modal asing
langsung itu merupakan alternatif utama (yang terbaik) bagi penanaman modal asing adalah
untuk memungkinkan pembentukan organisasi-organisasi multinasional. Jadi tujuan
utamanya adalah perluasan pengendalian.
Teori Perusahaan Multinasional
Teori modern tentang perusahaan multinasional bertolak dari perbedaan antara dua
pertanyaan berikut yang melandasi pertanyaan lalu yang lebih penting atau lebih besar.
Pertama, mengapa suatu barang di produksi di dua negara yang berbeda dan bukatentangan di
satu Negara saja?Pertanyaan ini dikenal dengan pertanyaan tentang lokasi. Kedua, mengapa
produksi di lokasi-lokasi yang berbeda dilakukan oleh perusahaan yang sama, bukannya oleh
perusahaan-perusahaan yang berbeda?
Faktor-faktor yang menentukan keputusan perusahaan multinasional mengenai di mana ia
akan membuka suatu fasilitas produksi tidak banyak berbeda dari keputusan untuk
menentukan pola perdagangan secara umum.
Ada dua pandangan yang cukup berpengaruh. Pertama menekankan pada aspek keungulan
internalisasi bagi berlangsungnya alih teknologi. Teknologi secara luas didefenisikan sebagai
jenis pengetahuan yang berguna secara ekonomi, yang kadangkala dapat dijual atau diberikan
lisensinya. Namun, ada kesukaran yang cukup penting dalam melakukan hal ini.Pardagangan
kedua menekankan pada keunggula-keunggulan internalisasi bagi terciptanya integrasi
vertikal. Apabila suatu perusahaan memproduksi suaru barang yang digunakan sebagai input
atau bahan baku untuk perusahaan lain, maka hubungan yang timpang seperti itu dapat
menimbulkan beberapa masalah.
Faktor yang kurang menguntungkan berkenaan dengan perusahaan multinasional adalah
bahwa teori ekonomi tentang organisasi yakni apa yang sebenarnya kita bicarakan tatkala kita
mengembangkan teori multinasional. Namun aspek pokok yang membawa kita pada posisi
yang tidak menguntungkan adalah bahwa keberadaan perusahaan multinasional tersebut,
pada prakteknya merupakan persoalan yang kontroversial.
Perusahaan Mulitinasional dalam Praktek
Perusahaan-perusahaan multinasional bias dimiliki oleh pihak domestic atau asing.
Perusahaan-perusahaan multinasional milik asing memegang peranan sangat penting di
kebanyakan perekonomian, dan dewasa ini semakin memegang peranan penting di Amerika
Serikat.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa banyak dari apa yang biasa dilakukan
oleh juga perusahaan multinasional sebenarnya dapat dilakukan pihak-pihak lain (bukan
perusahaan-perusahaan multinasional). Perusahaan multinasional kadangkala merupakan
agen perubahan sehingga kadang dipuji namun sering pula dikutuk atas tindakantindakannya. Pergeseran-pergeseran ini sesungguhnya mencerminkan aspek lokasi yang
menjadi salah satu bagian dari teori kita mengenai perusahaan multinasional.

BAB 8 INSTRUMEN-INSTRUMEN KEBIJAKAN PERDAGANGAN


Kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah berbagai negara berkenaan dengan
perdagangan internasional. Masing-masing kebijakan mencakup berbagai macam langkah
atau tindakan yang berbeda-beda. Tindakan-tindakan ini antara lain pengenaan pajak terhadap
beberapa macam transaksi internasional, pemberian subsidi oleh pemerintah kepada pihak
swasta untuk transaksi-transaksi dagang lainnya, pembatasan resmi terhadap nilai atau
volume impor, dan berbagai bentuk pengaturan lainnya.
Analisis Dasar Tentang Tarif
Tarif merupakan kebijakan perdagangan yang paling umum adalah sejenis pajak yang
dikenakan atas barang-barang yang diimpor. Tarif spesifik dikenakan sebagai beban tetap unit
barang yang diimpor. Sedangkan tarif ad valorem adalah pajak yang dikenakan berdasarkan
presentase tertentu dari nilai-nilai barang-barang yang diimpor.
Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara tradisional telah
digunakan sebagai sumber penerimaan pemerintah sejak lama. Maksud utama pengenaan
tarif biasanya tidak semata-mata untuk memperoleh pendapatan pengisis kas pemerintah,
melainkan juga sebagai alat untuk melindungi sektor-sektor tertentu di dalam negeri dari
tekanan persaingan produk impor.
Peranan tarif kini telah menurun dalam era modern sekarang ini, karena pemerintah dari
berbagai negara lebih suka dan terbiasa melindungi industri-industri domestic mereka dengan
memberlakukan berbagai macam dan bentuk hambatan non-tarif seperti kuota impor yakni
pembatasan lansung jumlah impor atau kuota ekspor atau pembatasan ekspor yang dikenakan
langsung kepada pihak mitra dagang. Meskipun demikian, pemahaman tentang dampak tarif
tetap merupakan landasan yang amat penting untuk memahami kebijakan-kebijakan
perdagangan lainnya yang ada sekarang ini.
Biaya Dan Manfaat Tarif
Tarif dapat meningkatkan harga barang di negara pengimpor dan menurunkan harga barang
tersebut di negara-negara pengekspor. Sebagai akibat dari perubahan harga ini, maka
kalangan konsumen di negara pengimpor merugi, sedangkan para konsumen di Negara
pengekspor beruntung. Produsen di negara pengimpor memperoleh keuntungan, sedangkan
produsen di negara pengekspor megalami kerugian. Cara untuk mengukur biaya dan manfaat
tarif bergantung pada dua konsepyang lazim digunakan didalam analisis mikro ekonomi
yaitu: surplus konsumen dan surplus produsen.
Surplus Konsumen dan Surplus Produsen
Surplus Konsumen mengukur besar kecilnya keuntungan konsumen dari pembelian karena
perbedaan antara harga yang sebenarnya dibayarkannya dengan tingkat harga yang akan

sanggup ia bayar. Surplus Produsen merupakan konsep yang sekias (analog) dengan surplus
konsumen.
Instrumen-Instrumen Kebijakan Lainnya
Instrumen kebijakan perdagangan lainnya yang paling menonjol adalah pemberian subsidi
ekspor, pembatasan impor, konsep pengekangan ekspor secara sukarela, dan persyaratan
kandungan lokal.
Subsidi Ekspor
Subsidi ekspor adalah pembayaran oleh pemerintah dalam jumlah tertentu kepada suatu
perusahaan atau perseorangan yang giat menjual barang ke luar negeri. Subsidi ekspor dapat
berbentuk spesifik (nilai tertentu per unit barang) atau dalam bentuk ad valorem (angka
persentase dari nilai produk yang diekspor). Jika pemerintah memberikan subsidi ekspor,
pengirim akan menekspor barang sampai batas di mana selisih harga domestik dan harga luar
negeri sama dengan nilai subsidi.
Kuota Impor
Merupakan pembatasan langsung atas jumlah barang yang boleh diimpor. Pembatsan ini
biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau
perusahaan domestik untuk mengimpor suatu produk yang jumlahnya langsung dibatasi.
Kerancuan yang penting dihindari dalam memahami pembatasan impor adalah mengenal
suatu pandangan yang mengatakan bahwa kuota pasti mampu membatasi kuantitas impor
tanpa meningkatkan harga domestik. Dalam kenyataannya, pembatasan impor selalu
meningkatkan harga barang yang diimpor di pasar dalam negeri. Jika impor dibatasi akibat
langsungnya adalah bahwa pada tingkat harga semula permintaan untuk barang yang
bersangkutan lebih besar dari pada penawaran domestik plus input. Langkah pembatasan
impor juga akan meningkatkan harga di dalam negeri yang besarnya sama dengan tarif yang
akan menurunkan impor ketingkat yang sama. Perbedaan dampak yang ditimbulkan oleh
kuota dari yang ditimbulkan oleh tarif adalah bahwa dengan menerapkan kuota pemerintah
tidak memperoleh pendapatan secara langsung.
Pengekangan Ekspor Sukarela
Instrumen atau bentuk lain dari kebijakan pembatasan impor adalah pengekangan ekspor
secara sukarela (voluntary export restraint, VER).VER adalah suatu bentuk pembatasan
(kuota)atas jangkauan atau tingkat intensitas hubungan perdagangan internasional yang
dikenakan oleh pihak negara pengekspor, jadi bukan oleh pihak pengimpor. VER pada
umumnya dilaksanakan aatas permintaan negara pengimpor dan disepakati oleh negara
pengekspor untuk mencegah pembatasan-pembatasan perdagangan lainnya yang mungkin
saja lebih ketat.
VER selalu lebih mahal bagi negara pengimpor apabila dibandingkan dengan instrument tarif
yang mampu membatasi impor dengan jumlah yang sama. Dimana bagian terbesar dari biaya
yang terkandung dari instrument ini lebih merupakan alih pendapatan ke pihak luar daripada
kerugian efisiensi. Perhitungan ini juga menegaskan bahwa dari sudut pandang nasional VER
lebih merugikan daripada tarif.
Persyaratan Kandungan Lokal
Sebagai sebuah instrumen kebijakan perdagangan, persyaratan kandungan lokal merupakan
suatu pengaturan yang mensyaratkan bahwa bagian-bagian tertentu dari suatu produk secara
fisik harus dibuat di dalam negeri, atau menggunakan bahan-bahan baku atau koponen

setempat. Ketentuan kandungan lokal ini telah digunakan secara luas oleh pemerintah negaranegara berkembang yang menginginkan beralihnya basis industri manufakturnya dari sekedar
perakitan kepad kegiatan pengolahan aneka barang.
Perangkat Kebijakan Perdagangan Lainnya
1. Subsidi kredit ekspor. Ini semacam subsidi ekspor, hanya saja wujudnya berupa pinjaman
yang disubsidi kepada pembeli.
2. Proyek Pengadaan Pemerintah. Pemebelian-pembelian oleh pihak pemerintah taupun
perusahaan-perusahaan yang diatur secara ketat dapat diarahkan pada barang-barang yang
diproduksi dalam negeri, meskipun barangkali barng-barang tersebut sebenarnya lebih mahal
daripada barang sejenis yang diimpor.
3. Hambatan-hambatan birokrasi. Terkadang pemerintah ingin membatasi impor tanpa
melakukannya secara formal. Untungnya, begitu mudahnya pemerintah dari suatu Negara
untuk membelitkan standar kesehatan, keamanan, dan prosedur pabean yang serba berbelitbelit sehingga sedemikian rupa sehingga merupakan perintang efektif dalam perdagangan.

BAB 9 EKONOMI POLITIK KEBIJAKAN PERDAGANGAN


Alasan yang membuat pihak pemerintah tidak bias sepenuhnya mendasarkan kebijakanya
semata-mata berdasarkan perhitungan biaya manfaat saja. Langkah pertama untuk memahami
kebijakan perdagangan dari suatu negara adalah dengan mengetahui alasan-alasan yang
membuat pemerintah selanjutnya tidak melakukan campur tangan dalam kegiatan
perdagangan artinya kita dituntut pula untuk mengetahui apa yang akan terjadinya seandainya
perdagangan terjadinya secara jadi bebas.
Sesungguhnya sangat sedikit sekali negara yang melaksanakan perdagangan secara benarbenar bebas. Banyak ekonom menyakini bahwa perdagangan bebas mampu menciptakan
keuntungan tambahan yang tidak dapat diperoleh jika terjadi pluh produksi dan konsumsi.
Terakhir, meskipun tidak begitu banyak para ekonom yang merasa yakin bahwa perdagangan
bebas itu sedikit banyak merupakan suatu kebijakan yang sempurna, namun pada umumnya
kalangan ekonom masih percaya bahwa perdagangan bebas dalam bebagai hal lebih baik dari
kebijakan-kebijakan lainnya yang mungkin ditempuh pemerintah.
Kasus efisiensi bagi perdagangan bebas merupakan kebalikan dari analisis biaya-manfaat dari
tarif. Tarif menyebabkan kerugian netto bagi perekonomian, hal ini terjadi karena adanya
distorsi terhadap rangsangan ekonomi bagi produsen maupun konsumen.
Keuntungan Tambahan dari Perdagangan Bebas
Salah satu bentuk keuntungan tambahan adalah terpupuknya skala ekonomi. Pasar yang
diproteksi tidak saja akan memecah-belah kegiatan produksi secara internasional,melainkan
juga mengurangi daya saing dan potensimeningkatan laba, serta juga cenderung merangsang
berbagai perusahaan untuk memasuki industry yang diproteksitersebut sehingga semuanya
akan terjebak ke dalam pola produksi yang tidak efisien. Banyak ekonom mengingatkan
tentang perlunya pemerintah menghalangi perusahaan-perusahaan baru untuk memasuki
sektor industri otomotif yang mulai jenuh. Terciptanya skal produksi yang tidak efisien
merupakan alasan tambahan bagi suatu negara tambahan bagi suatu negara untuk

menjalankan perdagangan bebas yang belum diperhitungkan dalam perhitungan biayamanfaat yang standar.
Argument Politik bagi Perdagangan Bebas
Argumen politik bagi perdagangan bebas mencerminkan kenyataan bahwa di kalangan
tertentu terdapat suatu komimen politik bagi dilangsungkannya hubungan perdagangan bebas.
Ada beberapa hal pokok dalam argument yakni:
1. Biaya-biaya atu kerugian akibat adanya penyimpangan terhadap kaidah-kaidah
perdagangan bebas yang diukur secara konvensional ternyata sedemikian besarnya.
2. Di samping manfaatnya yang telah dikenal secara luas, masih ada berbagai keuntungan
lain dari perdagangan bebas secara tidak langsung merupakan tambahan biaya atau potensi
kerugian ats kebijakan-kebijakan yang proteksionis.
3. Setiap upaya guna melakukan penyimpangan-penyimpangan guna memanipulir
perdagangan bebas akan senantiasa dilaksanakan melalui proses atau usaha-usaha yang
bersifat politik.
Argumen Kesejahteraan Nasional Yang Menentang Perdagangan Bebas
Sebagian besar perangkat tarif, kuota impor, daaan kebijakan perdagangan lainnya pada
dasarnya dipilih dan ditetapkan untuk melindungi atau pendapatan dari kelompok-kelompok
kepentingan tertentu. Para ekonom mengatakan bahwa setiap bentuk penyimpangan dari
kaidah-kaidah perdagangan bebas akan menurunkan kesejahteraan nasional, dalam
kenyataannya memang terdapat sejumlah landasan teoritis untuk menyakini bahwa aktivitas
kebijakan perdagangan kadang-kadang dapat menigkatkan kesejahteraan suatu negara secara
keseluruhan.
Argumen Nilai Tukar Perdagangan yang Menghendaki Pengenaan Tarif
Yang membenarkan penerapan suatu kebijakan perdagangan tidak berasal dari analisis biayamanfaat. Bagi sebuah negara besar, yakni yang mampu mempengaruhi harga dari para
eksportir luar negeri, tarif memang dapat menurunkan harga impor dan karenanya dapt
menciptakan keuntungan nilai perdagangan. Namun, keuntungan ini harus dibandingkan
dengan kerugian yang ditimbulkan oleh tarif, antara lain berupa pluh atau distorsi insentifinsentif produksi dan konsumsi. Terjadinya keuntungan nilai tukar perdagangan dari tarif
melebihi biaya-biaya atau kerugian yang ditimbulkan melandasi munculnya dan
berkembangnya argumen nilai tukar perdagangan bagi tarif.
Namun argumen nilai tukar perdagangan yang tidak menginginkan perdagangan bebas ini
memiliki keterbatasan atau kelemahan.
Argumen Perdagangan Domestik yang Menolak Perdagangan Bebas
Sejumlah ekonom telah melontarkan gagasan yang mempersoalkan keunggulan perdagangan
bebas atau dasar argument tandingan yang mengatakan bahwa konsep-konsep dasar tersebut,
terutama konsep surplus produsen, tidak cocok untuk mengukur biaya atau manfaat.
Tenaga kerja yang digunakan di suatu sektor tidak dimanfaatkan atau tidak bekerja penuh
adanya ketidaksempurnaan pasar modal dan tenaga kerja yang menghalangi pengaluhan
sumber-sumber daya secepat mungkin ke sektor-sektor tertentu yang menghasilkan imbalan
relative tinggi, dan adanya kelebihan-kelebihan teknologi dari sejumlah sector industri baru
khususnya yang bersifat inovatif. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya argumen
kegagalan pasar domestik.

Argumen ini mengakui bahwa perdagangan internasional bukan merupakan sumber


persoalan, akan tetapi menyakini kegunaan kebijakan perdagangan, yang setidak-tidaknya
mampu memberikan suatu pemecahan parsial.
Distribusi Pendapatan Dan Kebijakan Perdagangan
Perumusan kebijakan perdagangan lebih banyak didominasi oleh pertimbangan-pertimbangan
distribusi pendapatan.tidak ada satupun model politik kebijakan perdagangan , namun ada
beberapa perdagangan yang bermanfaat telah diajukan. Yang pertama konsep kesejahteraan
social terimbang. Yang kedua adalah gagasan tentang kesejahteraan social konservatif.
Menurut pandan ga ini, pemerintah dari negara mana pun tidak akan membiarkan suatu
kelompok domestiknya menderita kerugian besar sehingga pemerintah akan menerapkan
proteksi. Ketiga adalah persoalan aksi kolektif. Menurut pandangan ini, kebijakan
perdagangan ditentukan oleh kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda dari berbagai
kelompok yang menempuh cara-cara politis demi kepentingan kolektif.
Negosiasi Internasional Dan Kebijakan Perdagangan
Jika perdagangan dibuat atas dasar kepentingan domestik semata, kemajuan ke arah
terciptanya perdagangan yang lebih bebas akan sangat sulit tercapai. Dalam praktek, negaranegara berhasil melakukan penurunan-penurunan tarif yang mendasar, sehingga
meningkatkan kadar kebebasan atas hubungan perdagangan melalui proses perundingan
internasional. Perundingan atau negosiasi internasional membantu maksud penurunan tarif.
Selain penurunan tarif secara keseluruhan yang telah dihasilkan lewat serangkaian ngosiasi
multilateral, beberapa kelompok negara telah merundingkan perjanjian perdagangan
preferensial. Melalui wahana ini mereka menurunkan tarif satu sama lain di antara sesama
anggota, akan tetapi tidak terhadap negara lain yang bukan anggota.

BAB 10 KEBIJAKAN PERDAGANGAN DI NEGARA-NEGARA BERKEMBANG


INDUSTRIALISASI SUBSTITUSI IMPOR
Negara berkembang ingin memacu perkembangan mereka dengan membatasi impor barang
manufaktur guna mengembangkan sendiri kekuatan manufakturuntuk memenuhi kebutuhan
pasar domestik. Pemerintah di banyak negara berkembang sangat terpengaruh oleh argumentargumen teoritis yang menonjolkan perlunya kebijakan perdagangan untuk memajukan sektor
manufaktur. Yang terpenting dari sekian banyak argument semacam itu adalah argumen
industri bayi yang masih rapuh.
Kebijakan pemerintah negara-negara berkembang untuk memacu industrialisasi acapkali
didasarkan pada argument industri bayi yang masih rapuh, yang mengatakan bahwa sektorsektor industri baru di negara-negara berkembang amat memerlukan perlindungan. Argumen
industri bayi yang masih rapuh ternyata hanya berlaku jika argument ini dilontarkan sebagai
argumen mengenai terjadinya kegagalan pasar memang merupakan alasan yang sah bagi
dilancarkannya campur tangan pemerintah. Dua pembenaran yang lazim ialah adanya pasar
modal yang tak sempurna dan persoalan kebaikan ilmu pengetahuan yang dikembangkan
oleh perusahaan-perusahaan pelopor.

Dengan menggunakan hujah industry yang masih rapuh sebagai dasar pembenarannya,
banyak negara berkembang yang telah menempuh kebijakan-kebijakan industrialisasi
subsitusi impor, sektor-sektor industry domestik tertentu sengaja diberi perlakuan istimewa
dan dilindungi di bawah payung proteksi tarif atau kuota impor. Meskipun secara umu
kebijakan-kebijakan ini telah berhasil dalam memajukan sektor manufaktur di negara-negara
berkembangm akan tetapi kemajuan itu tidak memberikan keuntungan seperti yang
diharapkan. Banyak ekonom yang mengkritik secara terbuka hasil-hasil dari industrialisasi
substitusi impor.
MASALAH PEREKONOMIAN DUALISTIK
Sebagian besar negara berkembang dicirikan oleh dualisme ekonomi. Sektor industry dengan
upah tinggi dan padat modal yang berada di tengah-tengah sektor-sektor tradisional dengan
upah dan produktivitas rendah. Suatu perekonomian dualistik juga sering kali mengalami
persoalan pengangguran yang serius di daerah perkotaan.
Gejala-Gejala Dualisme Ekonomi
Tidak ada defenisi yang tepat bagi perekonomian dualistik. Namun, secara umum,
perekonomian dualistik adalah suatu ekonomi yang memiliki sektor modern yang sangat
kontras dengan karakteristik-karakteristik perekonomian umumnya dalam beberapa hal:
1. Nilai out put pekerja di sektor modern jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan nilai
output per pekerja yang terdapat pada sektor-sektor lainnya.
2. Sejalan dengan nilai output per pekerja yang tinggi maka tingkat upah di sektor modern itu
juga lebih tinggi.
3. Meskipun upah di sektor manufaktur modern itu lebih tinggi, tingkat pengembalian modal
tidak selalu lebih tinggi.
4. Salah satu penyebab dari tingginya nilai output per pekerja di sektor modern adalah
intensitas modal dalam produksinya yang lebih tinggi.
5. Banyak negara berkembang yang menghadapi persoalan pengangguran akut.
Pasar Tenaga Kerja Dualistik dan Kebijakan Perdagangan
Gelaja-gejala dualisme terjadi di banyak negara berkembang, dan semua itu merupakan
pertanda yang jelas bahwa perekonomian yang bersangkutan tidak berfungsu dengan baik,
terutama pasar tenaga kerjanya. Implikasi-implikasi kebijakan perdagangan berkenaan
dengan gejala-gejala di atas sejak lama telah menjadi pokok perbantahan di antara mereka
yang menekuni ilmu ekonomi pembangunan.
Perbedaan tingkat upah antara sektor-sektor modern dan tradisional terkadang dimanfaatkan
sebagai alasan bagi pengenaan proteksi tarif bagi sektor-sektor industri. Ini merupakan kasus
atau argumen perbedaan upah yang juga pro terhadap pemberian proteksi. Namun, pandangan
ini tak begitu dipercaya lagi oleh banyak ekonom. Analisis-analisis yang lebih mutakhir
meninjukkan bahwa pemberian proteksi justru akan mendorong lebih banyak migrasi desakota, yang akan memperburuk masalah pengangguran di kota dan bias memperburuk gejala
dualisme ekonomi sendiri.
Industrialisasi Berorientasi Ekspor
Pandangan industrialisasi yang dilakukan yakni pengupayaan ekspor produk manufaktur,
khususnya ke negara-negara maju telah dilaksanakan oleh sejumlah negara dan oleh Bank
Dunia mereka dikategorikan sebagai perekonomian Asia berkinerja tinggi (high performance

Asian economies, HPAEs).


Pandangan yang menyatakan bahwa pembangunan ekonomi harus dilakukan melalui
substitusi impor dan pesimisme bahwa pembanguna ekonomi yang mengandalkan subtitusi
impor akan gagal, ramai diperdebatkan kembali oleh fakta pertumbuhan ekonomi pesat
sejumlah negara Asia. Perekonomian Asia berkinerja tinggi (HPAEs) itu ternyata tidak
bertumpu pada substitusi impor, melainkan pada ekspor produk-produk manufaktur.
Umumnya, perekonomian itu ditandai oleh tingginya rasio perdagangan terhadap pendapatan
nasional, serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sebab-sebab keberhasilan
HPAEs itu sendiri masih diperdebatkan. Sebagian pengamat menyoroti fakta bahwa
meskipun mereka tidak menjalankan perdagangan bebas, namun tingkat tarif mereka lebih
rendah ketimbang negara-negara berkembang lainnya. Pengamat lain berpendapat
keberhasilan mereka disebabkan oleh peran yang tepat yang dijalankan pemerintahnya,
melalui pemberlakuan kebijakan-kebijakan industri.
BAB 11
KEBIJAKAN PERDAGANGAN STRATEGIS DI NEGARA NEGARA MAJU
Kebijakan Perdagangan Strategis dalam Praktek
Teori kebijakan perdagangan strategis merupakan kasus khusus dari analisis kegagalan pasar
domestic yang telah diutarakan pada Bab 9. Kebijakan perdagangan strategis (strategic trade
policy) merupakan suatu upaya meningkatkan kinerja perekonomian dengan cara
mempromosikan sector ekspor tertentu. Kebijakan kebijakan perdagangan strategis lebih
dijalankan oleh banyak Negara, dan sebagian membuahkan keberhasilan cukup besar, seperti
yang terjadi di Jepang dan Korea Selatan.
Para penganjur kebijakan perdagangan strategis acapkali mendasarkan dukungan mereka
pada argument bahwa dukungan aktif pemerintah diperlukan untuk mendukung
perekonomiannya yang bertarung dalam perekonomian dunia yang penuh persaingan, dimana
hanya ada pihak kalah dan yang menang, dan di mana harga serba stabil. Dukungan terutama
diperlukan untuk sector sector industry tertentu. Kriteria popular yang paling sering disebut
sebut sebagai landasan pembenaran penerapan kebijakan perdagangan strategis
menonojolkan pentingnya sector sector industry yang memiliki nilai tambah per pekerja yang
tinggi, berupa tinggi, dan yang menggunakan teknologi tinggi. Namun kemudian terbukti
bahwa argument yang menonjolkan sector industry dengan nilai tambah per pekerja ini
sesungguhnya tidak didasarkan pada logika ekonomi yang kuat. Sedangkan kecemasan
terhadap hilangnya pekerjaan pekerjaan berupah tinggi biasanya terkait dengan kekhawatiran
terhadap deindustrialisasi. Para ekonom juga menilai argument ini kurang masuk akal. Tetapi
penonjolan sector industry berteknologi tingggi nampaknya lebih bias diterima karena sector
sector ini memang membuahkan imbasan teknologi. Namun argument ini pun nampaknya
lebih mencerminkan argument yang menginginkan intervensi pemerintah dalam konteks
kegagalan pasar yang telah dibahas pada bab bab terdahulu.
Ada dua argument canggih pro kebijakan perdagangan strategis yang banyak menarik
perhatian para pakar ekonomi internasional. Yang pertama adalah hujah bahwa pemernitah
juga harus berusaha mendorong industry industry yang menghasilkan eksternalitas
teknologis. Sedangkan yang kedua adalah analistis Brander-Spencer, yang menekanka
perlunya pemerntah untuk membantu perusahaan perusahaan domestic meningkatkan
keuntungan dengan menekan perusahaan asing yang menjadi pesaing. Meskipun persuasive,

banyak ekonom meragukannya karena mereka menilai alas an alasannya terlalu kabur dan
memerlukan sangat banyak informasi (yang sialnya sulit diperoleh) agar pelaksanaan
kebijakan perdagangan strategos itu benar benar dapat dilaksanakan dan bermanfaat.
Praktek kebijakan perdagangan strategis sangat beragam dan dampaknya pun lebih sulit
dipastikan bila dibandingkan dengan apa yang dikemukakan oleh argument argument yang
tergolong popular. Kebijakan perdagangan strategis Jepang telah bergeser dari pengendalian
pemerintah secara besar besaran terhadap perekonomian secara keseluruhan di tahun 1950-an
dan 1960-an kearah campur tangan pemerintah yang lebih selektif dan halus (tak kentara)
dewasa ini. Negara Negara lain sebenarnya juga menempuh kebijakan perdagangan strategis,
namun pada umumnya kurang konsisten. Pemerintah Amerika Serikat sebenarnya juga
menempuh kebijakan perdagangan strategis di bidang pertanian. Banyak yang percaya
bahwasanya undang undang anggaran pertahanan Amerika Serikat tidak ubahnya dengan
sebuah kebijakan perdagangan strategis yang dimaksudkan untuk mendukung pengembangan
industry-industri berteknologi tinggi.
Penilaian atas dampak-dampak kebijakan perdagangan strategis bukan perkara sepele. Acuan
pada data pangsa pasar yang berhasil dikuasai atau tingkat pertumbuhan industi yang berhasil
dicapainya, ternyata belum cukup untuk menetukan apakah suatu kebijakan perdagangan
strategis benar benar berhasil atau tidak. Kita jua harus melakukan analisis biaya-manfaat.
Kajian terhadap kasus-kasus penerapan kebijakan perdagangan strategis yang menonjol
ternyata tidak memunculkan gambaran yang cukup jelas mengenai keberhasilan tindakan
pemerintah dalam melakukan pentargetan.

BAB 12 PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL DAN NERACA PEMBAYARAN


Tahun 1997 dan 1998 perekonomian di kawasan Asia terjebak dalam resesi yang parah, yang
ditandai oleh lonjakan pengangguran. Sementara itu Amerika Serikat dan Negara-negara di
Eropa terus menikmati pertumbuhan ekonomi yang sehat. Apakah keadaan ekonomi
antarkawasan yang begitu timpang itu hanya kebetulan? Atau, dapatkah analisis ekonomi
memberikan penjelasan mengapa sebagian Negara sejahtera sedangkan yang lainnya
mengalami stagnasi, dan bisakah analisis itu merumuskan suatu petunjuk agar Negara-negara
dapat menghindari kontraksi-kontraksi ekonomi di masa mendatang?
Salah satu cabang ilmu ekonomi yang disebut mikroekonomi (microeconomics) mempelajari
masalah tersebut dari perspektif perusahaan dan konsumen secara individual. Analisis
mikroekonomi bergerak dari dasar ke atas yang menunjukkan bagaimana setiap pelaku
ekonomi, mengejar kepentingan mereka masing-masing, secara kolektif akan menentukan
penggunaan sumber daya.
Faktor-faktor apa saja yang menentukan kapasitas suatu perekonomian dalam menghasilkan
berbagai macam barang dan jasa dari waktu ke waktu? Untuk menjawab pertanyaanpertanyaan ini, maka kita harus menguasai makroekonomi (macroeconomics), yakni cabang
ilmu ekonomi yang mempelajari bagaimana tingkat penggunaan sumber daya, produksi dan
pertumbuhan secara keseluruhan dari suatu perekonomian ditentukan.

Analisis makroekonomi menekankan pada empat aspek dalam kehidupan ekonomi. Keempat
aspek itu adalah:
1. Pengangguran
2. Tabungan
3. Ketidakseimbangan perdagangan
4. Uang dan tingkat harga
Neraca Pendapatan Nasional
Perhatian utama dari analisis makroekonomi adalah Produk nasional bruto/PDB (GNP/ Gross
National Product) suatu Negara. Produk nasional bruto atau GNP (kedua istilah ini akan
dipakai secara bergantian) dari suatu Negara adalah nilai seluruh barang dan jasa yang
dihasilkan oleh faktor-faktor produksi Negara itu dan dijual ke pasar pada kurun waktu
tertentu
Untuk membedakan jenis-jenis pengeluaran yang membentuk GNP, para ahli ekonomi dan
ahli statistik yang menyusun akuntansi pendapatan nasional membagi GNP menjadi empat
unsur kemungkinan pengeluaran yang bisa dilakukan oleh suatu Negara. Keempat unsur
tersebut adalah: (1) konsumsi (consumption), yaitu jumlah yang dikonsumsi oleh penduduk
domestic swasta (di luar pemerintah), (2) investasi (investment), yaitu jumlah yang disisihkan
oleh perusahaan swasta untuk membangun pabrik dan peralatan baru untuk keperluan
produksi di waktu mendatang; (3) belanja pemerintah (goverment purchases) yaitu jumlah
yang digunakan oleh pemerintah, serta (4) neraca transaksi berjalan atau neraca lancar
(current account balance) yaitu jumlah ekspor barang dan jasa netto ke luar negeri.

Produk (Output) Nasional dan Pendapatan Nasional


Langkah pertama untuk memahami bagaimana para ahli ekonomi menganalisis GNP adalah
merinci mengapa GNP suatu Negara dalam kurun waktu tertentu harus sama dengan
pendapatan nasional (national income), yakni jumlah pendapatan yang dihasilkan selama
periode tersebut oleh faktor-faktor produksinya.
Prinsip dasar bahwa output pendapatan adalah sama juga berlaku untuk barang, termasuk
barang yang dihasilkan dengan banyak faktor.
Penyusutan Modal, Transfer Internasional dan Pajak Usaha yang bersifat Tidak Langsung
ada beberapa penyesuaian yang harus ditambahkan pada defenisi GNP agar identifikasi GNP
dan pendapatan nasional dalam prakteknya benar-benar tepat
1. GNP tidak memperhitungkan kerugian-kerugian ekonlomis yang diakibatkan oleh
kecenderungan pengikisan fungsi mesin dan bangunan selama proses penggunaannya.
Kerugian ini, biasa disebut penyusutan/depresiasi (depreciation), mengurangi pendapatan
pemilik modal. Oleh karena itu, untuk menghitung pendapatan nasional pada kurun waktu
tertentu, kita harus mengura ngi GNP dengan faktor penyusutan modal selama kurun waktu
yang bersangkutan. GNP yang telah dikurangi oleh nilai depresiasi dise but produk nasional

bersih / neto (net national product = NNP).


2. Pendapatan suatu Negara juga meliputi berbagai pemberian dari penduduk Negara- Negara
lain yang dikenal sebagai transfer unilateral (unilateral transfer). Contohnya adalah
pembayaran pensiunan untuk penduduk yang bermukim di luar negeri, pembayaran ganti rugi
dan dana-dana luar negeri seperti sumbangan yang diberikan kepada Negara yang tengah
menerima musibah kekeringan yang berkepanjangan.
3. Pendapatan nasional t
antung pada harga-harga yang diterima oleh berbagai perusahaan atas barangbarang yang dihasilkan, sedangkan GNP tergantung pada harga-harga yang
dibayarkan oleh para pembeli. Namun, kedua perangkat harga ini tidak harus
identik. Sebagai contoh, pahak penjualan menyebabkan pembeli membayar
lebih banyak daripada jumlah yang diterima perusahaan (penjual). Akkibatnya ,
GNP cenderung lebih besar daripada pendapatan nasional. Karena itu, pajak
perdagangan atau yang seringkali disebut sebagai pajak-pajak usaha tidak
langsung (indirect business taxes) itu juga harus dikurangkan dari GNP sebelum
kita memperoleh angka pendapatan nasional yang sebelumnya.
Jadi pendapatan nasional sama dengan GNP dikurangi depresiasi, ditambah
transfer unilateral bersih (selisih antara transfer dana ke luar dan transfer yang
diterima), dikurangi penguatan pajak usaha tidak langsung. Meskkipun demikian,
ternyata perbedaan antara angka GNP dengan angka pendapatan nasional tidak
bisa dihilangkan meskipun jumlahnya tidak seberapa. Namun makroekonomi
mempermasalahkannya karena hal itu dianggap tidak terlalu penting dalam
analisis makroekonomi. Itu sebabnya dalam tulisan ini istilah GNP dan
pendapatan nasional dianggap sama dan dipergunakan secara bergantian.
Perbedaan antara keduanya hanya akan ditekankan apabila memang perlu.

- Dalam suatu perekonomian yang tertutup terhadap perdagangan internasional seluruh GNP
atau pendapatan nasionalnya harus habis dikonsumsikan, diinvestasikan atau di belanjakan
pemerintah. Investasi mengubah outpout sekarang menjadi output di masa mendatang, karena
pada dasarnya investasi merupakan satu-satunya cara menabung pada tingkat agregat; oleh
karena itu seluruh tabungan dari sector swasta maupun pihak pemerintah, atau secara
bersama disebut sebagai tabungan nasional, harus sama dengan investasi.
- Dalam sebuah perekonomian tertutup, GNP adalah penjumlahaan konsumsi, investasi ,
belanja pemerintah, dan saldo ekspor barang dan jasa. Perdagangan tidak harus selalu
seimbang, karena di antara perekonomian terbuka bisa melakukan usaha pinjam-meminjam.
Saldo transaksi berjalan, yakni selisih antara nilai ekspor dan impor dari suatu Negara (atau
suatu perekonomian) sama dengan selisih antara jumlah output yang dihasilkannya dengan
jumlah barang-barang dan jasa yang digunakannya.
- Saldo transaksi berjalan sama dengan saldo pinjaman suatu Negara kepada Negara lain.
Berbeda dengan perekonomian tertutup, perekonomian terbuka dapat menabung dengan cara
melakukan kegiatan-kegiatan investasi domestic dan investasi luar negeri. Oleh karena itu,
tabungan nasional dari sebuah perekonomian yang terbuka sama dengan jumlah investasi
domestic ditambah dengan saldo transaksi berjala n.
- Sebuah neraca pembayaran menyajikan suatu gambaran terinci mengenai komposisi dan
pembiayaan transaksi berjalan. Semua transaksi suatu Negara dengan Negara-negara lain

dicatat secara sistematis dalam neraca pembayarannya. Tata cara pembayaran neraca ini
didasarkan pada kebiasaan bahwa setiap transaksi yang menghasilkan pembayaran bagi pihak
luar negeri akan tercatat masuk ke dalam neraca dengan tanda (-), sedangkan transaksitransaksi yang menghasilkan penerimaan dari pihak luar negeri masuk ke dalam neraca
dengan tanda (+).
- Seluruh transaksi yang menyangkut barang dan jasa tercatat pada neraca transaksi berjalan,
sedangkan penjulan atau pembelian aset-aset tercatat pada neraca modal, kedua neraca ini
merupakan bagian dari neraca pembayaran. Defisit transaksi berjalan harus diimbangi dengan
surplus neraca modal dalam jumlah yang sama. Sebaliknya surplus transaksi berjalan harus
diimbangi oleh defisit neraca modal. Dengan demikian, selisih antara pendapatan ekspor dan
pengeluaran impor harus diimbangi dengan penarikan pinjaman yang kelak harus dibayar
kembali beserta bunganya.
- Transaksi asset internasional yang dilakukan oleh bank-bank sentral akan tercatat dalam
neraca modal. Setiap transaksi bank sentral di pasar asset valuta asing swasta disebut sebagai
intervensi devisa resmi. Intervensi ini penting karena merupakan cara yang harus ditempuh
oleh bank sentral untuk menyesuaikan jumlah uang beredar. Suatu Negara yang mengalami
defisit neraca pembayaran harus menarik sebagian cadangan internasionalnya atau menarik
pinjaman dari bank sentral luar negeri guna menutup defisit itu. Sedangkan Negara yang
mengalami surplus akan melakukan hal yang sebaliknya.
BAB 13 KURS DAN PASAR VALUTA ASING : PENDEKATAN AKTIVA
Kurs atau nilai tukar (exchange rate) adalah harga sebuah mata uang dari suatu Negara, yang
diukur atau dinyatakan dalam mata uang lainnya. Kurs memainkan peranan yang amat
penting dalam keputusan-keputusan pembelajaran, karena kurs memungkinkan kita
menerjemahkan harga-harga dari ber bagai Negara ke dalam satu bahasa yang sama. Bila
semua kondisi lainnya tetap, depresiasi mata uang dari suatu Negara terhadap segenap mata
uang lainnya (kenaikan harga valuta asing bagi Negara yang bersangkutan) menyebabkan
ekspornya lebih murah dan impornya lebih mahal. Seda ngkan apresiasi (penurunan harga
valuta asing di Negara yang bersangkutan) akan membuat harga-harga produk ekspornya
lebih mahal, dan sebaliknya, impornya menjadi lebih murah.
Kurs memainkan peranan yang sangat pen ting dalam pasar valuta asing (foreign exchange
market). Para pelaku utama di pasar valuta asing tersebut adalah bank-bank komersial, lalu
perusahaan-perusahaan internasional, lembaga-lembaga keuangan nonbank, dan bank-bank
sentral nasional. Bank-bank komersial memegang peranan; kunci di pasar tersebut karena
merekalah yang melangsungkan transaksi melalui simpanan bank (deposit) yang membentuk
sosok atau wujud konkret atas perdagangan valuta asing itu. Walaupun perdagangan valuta
asing berlangsung di berbagai pusat keuangan yang tersebar di seluruh dunia, teknologi
telekomunikasi modern telah mempertautkan mereka menjadi sebuah rangkaian pasar tunggal
yang beroperasi selama 24 jam setiap hari, tujuh hari dalam seminggu. Salah satu kategori
penting dalam perdagangan valuta asing adalah perdagangan berjangka (forward trading),
dimana beberapa pihak sepakat untuk mempertukarkan mata uang di waktu mendatang atas
dasar kurs yang mereka sepakati. Sedangkan kategori lainnya, yakni perdagangan spot (spot
trading) langsung melaksanakan pertukaran tersebut (ini biasanya keperluan-keperluan yang

benar-benar mendesak, atau untuk suatu kebutuhan yang bersifat praktis).


Karena kurs merupakan harga relatif dari dua asset, maka sangat layak bila kurs dianggap
sebagai harga asset itu sendiri. Prinsip dasar penetapan harga asset adalah bahwa nilai asset
saat ini ditentukan oleh perkiraan daya belinya di masa mendatang. Dalam mengevaluasi
asset, para penabung (atau investor) senantiasa memperlihatkan aspek perkiraan imbalan (rate
of return) yang dibuahkan asset itu, atau tingkat pertambahan nilai investasi yang tertanam
dalam ases tersebut di waktu-waktu selanjutnya dengan cara-cara lain, sesuai dengan unit
atau satuan perhitungan nilai asset tersebut. Unsur asset yang sangat diperhatikan para
penabung adalah unsur riilnya (real rate of return), yakni perkiraan tambahan nilai suatu asset
dalam ukuran daya beli atau jumlah tambahan output yang bisa diperoleh dengannya.
Apabila imbalan asset relatifnya relevan, seperti yang ada di pasar valuta asing, kita bisa
membandingkan perkiraan perubahan nilai valuta asing (dinyatakan dalam satuan valuta
asing) dari asset-aset tersebut, yakni dengan menyatakan nilai-nilai dalam satu mata uang
yang sama. Bila faktor-faktor resiko dan likuiditas tidak terlalu banyak mempengaruhi
permintaan terhadap asset-aset valuta asing yang menawarkan perkiraan imbalan tertinggi
Imbalan dari simpanan yang diperdagangkan di pasar valuuta asing ditentukan oleh angka
suku bunga (interest rate) dan perkiraan perusahaan kurs. Guna membandingkan perkiraan
imbalan yang ditawarkan oleh simpanan Dolar dan simpanan Euro, misalnya, kita harus
menghitu ng imbalan dari simpanan Euro dalam Dolar, yakni dengan menjumlahkan suku
bunga Euro dan perkiraan tingkat depresiasi Dolar terhadap Euro (atau, tingkat apresiasi Euro
terhadap Dolar) selama kurun waktu kepemilikan siimpanan tersebut.
Keseimbangan (equlibrium) di dalam pasar valuta asing mensyarat kan adanya kondisi
paritas suku bunga (interest parity), yakni suatu kondisi di mana berbagai simpanan dalam
mata uang apapun menawarkan perkiraan imbalan yang sama besarnya (yakni apabila diukur
atau dihitung dengan satuan yang sama)
Andaikata suku bunga dan perkiraan kurs masa mendatang tetap, maka kondisi paritas suku
bunga dapat menjamin bagi adanya keseimbangan kurs. Seandainya saja perkiraan imbalan
dari simpanan Euro lebih besar dari pada simpanan Dolar, misalnya, maka Dolar akan segera
mengalami depresiasi terhadap Euro. Bila semua kondisi lainnya tetap, depresias,I Dolar pada
saat ini akan mengurangi perkiraan tingkat depresiasi Dolar terhadap Euro di masa
mendatang. Demikian pula halnya bila perkiraan imbalan dari simpanan Euro lebih kecil dari
pada simpanan Dolar, maka dolar segera mengalami apresiasi terhadap Euro. Bila semua
kondisi lakin tak lebih menarik (menguntungkan) di mata para pemilik simpanan, oleh karena
apresiasi tersebut meningkatkan perkiraan tingkat depresiasi Dolar terhadap mata uang Eropa
itu di masa akan datang.
Bila semua kondisi lain tetap, kenaikan suku bunga Dolar akan menyebabkan apresiasi Dolar
terhadap Euro sedangkan kenaikan suku bunga Euro akan menyebabkan Dolar mengalami
depresiasi terhadap Euro. Kurs yang tengah berlaku juga dipengaruhi oleh berbagai macam
perubahan atas perkiraan kurs untuk kurun waktu mendatang. Sebagai contoh, apabila terjadi
perkiraan kurs Dola/ Euro untuk masa yang akan datang, maka jika suku bunganya tetap, kurs
Dolar/ Euro yang tengah berlaku akan meningkat.

BAB 14 UANG, SUKU BUNGA DAN KURS Uang Sebagai Alat Tukar

Fungsi dari uang adalah sebagai alat tukar ( medium of exchange) atau sebagai alat
pembayaran yang diterima secara luas. Arti penting fungsi sebagai alat tukar ini bisa kita
hayati dengan cara membayangkan bagaimana bentuk konsumsi, bagaimana masyarakat
membeli barang dan jasa di dunia yang hanya mengenal cara perdagangan barter, yakni
dimana setiap barang dan jasa harus langsung dipertukarkan secara langsung dengan barang
dan jasa. Bayangkan, jika Anda memiliki seekor kambing, dan Anda tengah membutuhkan
pakaian. Berapa banyak, tenaga dan waktu yang harus anda habiskan untuk mencari
seseorang yang ingin menjual pakaian dan sekaligus tengah memerlukan kambing.
Uang menghemat biaya pencocokan kepentingan yang begitu besar dalam sistem barter
karena uang telah diterima secara universal. Uang dapat menghemat biaya-biaya, oleh karena
uang memungkinkan seseorang untuk menjual suatu barang dan jasa yang dihasilkannya ke
orang lain yang tidak harus merupakan produsen barang dan jasa yang hendak
dikonsumsikan. Perekonomian modern yang begitu kompleks akan lumpuh tanpa adanya alat
pembayaran standar dan mudah dipergunakan.
Uang Sebagai Satuan Hitung
Peranan penting uang yang kedua adalah sebagai satuan hitung (unit of account) atau sebagai
pengukur nilai yang diterima secara luas. Peranan inilah yang kita temui di dalam Bab 13. Di
situ kita lihat harga-harga barang, jasa dan asset selalu dinyata,kan dalam satuan uang.
Sedangkan kurs memungkinkan kita untuk menerjemahkan harga-harga uang dari berbagai
Negara atas dasar ukuran yang sama. Kembali ke contoh tadi. Kalau pun anda beruntung
menemukan seorang penjahit yang istrinya tengah mengidam sate kambing, lantas berapa
helai pakaian yang harus Anda minta untuk seekor kambing? Jika pakaian yang tersedia
hanya satu helai, haruskah Anda memotong bagian kepala atau kaki kambing itu saja?
Kebiasaan menyatakan harga dalam satuan uang jelas menyederhanakan berbagai kalkulasi
ekonomi karena hal itu memudahkan perbandingan harga-harga dari aneka komoditi yang
diperdagangkan. Perbandingan harga internasional pada Bab 13, yang menggunakan kurs
untuk membandingkan harga-harga output dari berbagai Negara, mirip dengan kalkulasi yang
harus Anda lakukan setiap hari seadainya aneka harga komoditi tidak dinyatakan dengan
satuan hitung yang standar. Kalau kalkulasi di Bab 13 saja sudah memusingkan, bayangkan
saja apa yang terjadi seumpama setiap kali kita harus menghitung harga-harga berbagai
barang dan jasa yang kita konsumir dalam nilai satuan baranng dan jasa lainnya.
Uang Sebagai Penyimpan Nilai / Daya Beli
Oleh karena uang dapat mengalihkan daya beli sekarang menjadi daya beli di masa
mendatang, maka uang juga merupakan asset atau sebuah penyimpanan nilai/daya beli (strore
of value). Unsur ini penting sekali bagi setiap benda yang menjadi alat pembayaran, karena
tak seorang pun mau menerima alat pembayaran yang daya belinya (atau nilainya dalam
satuan barang dan jasa) menyusut terlalu cepat. Mungkin kambing Anda tadi juga bisa
dipelihara sebagai penyimpan kekayaan. Apalagi kalau ia betina sehingga bisa beranak pinak.
Namun, tentu saja uang jauh lebih praktis disimpan daripada seekor kambing yang harus
senantiasa dijaga, diurus dan diberi makan.
Namun manfaat uang sebagai alat tukar secara angsung menjadikannya sebagai asset paling
likuid. Sebagaimana kita ketahui dari Bab 13, sebuah asset dikatakan likuid bila ia bisa
dijadikan (atau ditukarkan) barang dan jasa dengan cepat tanpa memerlkukan biaya transaksi

yang tinggi, misalnya untuk memberi imbalan untuk pihak perantara. Karena uang selalu siap
diterima sebagai alat pembayaran, maka uang menjadi stadar likuiditas (liquidity) asset-aset
lainnya. Kalau Anda menyimpan uang, maka kapan saja Anda membutuhkannya, seketika itu
juga Anda bisa menggunakannya. Tapi kalau yang disimpan kambing, maka Anda harus
bersusah payah menjualnya terlebih dahulu, belum lagi harganjya tera ncam turun karena
Anda tengah kepepet.
Proses Pembentukan Penawaran Uang
Penawaran uang dari suatu perekonomian dikendalikan oleh Bank Sentral. Bank Sentral
secara langsung mengatur jumlah uang kartal yang beredar dan secara tidak langsung
mengendalikan jumlah simpanan atau uang giral yang dikelola oleh bank-bank swasta.
Prosedur-prosedur yang digunaka Bank Sentral dalam mengendalikan penawaran uang sangat
kompleks. Di sini kita cukup berasumsi bahwa sebuah Bank Sentral dari suatu Negara selalu
mampu mengatur dan mengelola besarnya penawaran uang sesuai dengan kehendaknya.
Uang dimiliki (disimpan dalam bentuk tunai) karena unsur likuiditasnya. Bila diperhitungkan
dalam konteks riil, maka permintaan uang agregat bukanlah permintaan akan sejumlah unit
uang tunai, melainkan suatu permintaan terhadap sejumlah daya beli (purcnhasing power).
Permintaan uang riil agregat secara negatif ditentukan oleh opportunity cost kepemilikan
uang (diukur berdasarkan suku bunga domestic ) dan secara positif ditentukan oleh volume
transaksi dalam perekonomian secara keseluruhan (diukur atas dasar GNP riil)
Pasar uang berada dalam kondisi keseimbangan apa penawaran uang riil sama dengan
permintaan uang riil agregat. Bila tingkat harga atau output riil dia baikan, maka kenaikan
dalam penawaran uang akan menurunkan suku bunga, sedangkan penurunan penawaran uang
akan meningkatkan suku bunga. Kenaikan output riil juga meningkatkan suku bunga (dengan
catatan, tingkat harga diabaikan atau dianggap tidak akan berubah), sedangkan penurunan
output riil menimbilkan dampat sebelumnya.
Kenaikan penawaran uang menurunkan suku bunga domestic sehingga selanjutnya
mendorong mata uang domestic mengalami depresiasi di pasar valuta asing (meskipun
perkiraan kurs di masa mendatang tidak berubah). Demikian pula, penurunan penawaran
uang domestik menyebabkan mata uang domestik mengalami apresiasi terhadap valuta-valuta
asing
Asumsi bahwa tingkat harga tidak berpengaruh dalam jangka pendek merupakan
penyederhanaan yang bisa diterima atas kenyataan yang ada di Negara-negara yang tingkat
inflasinya rendah. Namun dalam jangka panjang, asumsi ini tidak dapat dipertahankan.
Perubahan permanen dalam penawaran uang mendorong keseimbangan jangka panjang dari
tingkat harga secara proporsional kearah yang sama, namun tidak akan mempengaruhi nilainilai jangka panjang dari output, suku bunga atau harga relatif yang mana pun. Salah satu
harga uang (money price) terpenting yang nilai keseimbangan jangka panjangnya meningkat
secara proporsional dengan kenaikan permanen dalam penawaran uang adalah nilai tukar,
yakni harga uang domestik dari valuta asing atau kurs.
Kenaikan penawaran uang dapat menimbulkan lonjakan kurs; kenaikan kurs pada jangka
pendek biasanya melalui kurs jangka panjangnya. Jika output tidak berubah, maka kenaikan
penawaran uang secara permanen, misalnya menyebabkan depresiasi jangka pendek mata
uang Negara yang bersangkutan yang lebih besar dari sekedar proporsional, yang kemudian
akan disusul dengan apresiasi mata uang tersebut menuju ke nilai kurs jangka panjangnya.

Lonjakan kurs (exchange rate overshooting) membuat kurs makin mudah berubah-berubah.
Ini merupakan akibat langsung dari gejolak jangka pendek yang mengiringi proses
penyesuaian tingkat harga dan kondisi paritas suku bunga (interest parity)

BAB 15 TINGKAT HARGA DAN KURS DALAM JANGKA PANJANG


Teori paritas daya beli (PPP Purchasing Power Parity), secara definitive, menyatakan bahwa
kurs antar-mata uang sama dengan nisbah tingkat harga masing-masing Negara pemilik nya;
tingkat harga ini dihitung berdasarkan harga uang dari suatu komoditi acuan. PPP sama
artinya dengan pernyataan bahwa daya beli suatu mata uang sama besarnya di setiap Negara.
Selain PPP absolute, teori PPP masih memiliki versi yang lain, yakni PPP relatif yang
memprediksikan bahwa perubahan persentase kurs sama dengan selisih tingkat inflasi
nasional.
Landasan utama teori PPP adalah dalil suatu harga (law of one price). Dalil ini pada dasarnya
menyatakan bahwasannya apabila perdagangan benar-benar bebas dan sama sekali tidak ada
hambatan, tariff maupun non-tarif, apa pun terhadapnya, maka suatu barang pasti dijual di
bagian manapun dari dunia ini dengan harga yang persis sama. Para pendukung dari teori PPP
bahkan sering menegaskan bahwa kesahihan teori PPP tidak ditentukan oleh keberlakuan
dalil satu harga atas setiap komoditi.
Pendekatan moneter terhadap kurs (monetary approach to the exchange rates) juga
menggunakan PPP untuk menjelaskan perilaku kurs dalam jangka panjang semata-mata
berdasarkan penawaran dan permintaan uang. Menurut pendekatan ini selisih suku bunga
internasional dalam jangka panjang bersumber dari perbedaan tingkat inflasi masing-masing
Negara (inilah yang dipredkiksi sebagai Efek Fisher). Adapun perbedaan tingkat inflasi dalam
jangka panjang tersebut disebabkan oleh perbedaan tingkat pertumbuhan moneter dari
masing-masing Negara. Pendekaan moneter juga mendapati bahwa kenaikan suku bunga
yang terjadi di suatu Negara akan segera diikuti dengan depresiasi mata uang nasionalnya.
Dengan adanya PPP relatif, maka selish suku bunga internasional (yang sama dengan
perkiraan perubahan persentase kurs) juga akan sama dengan perkiraan selisih inflasi
internasional
Data-data empiris yang ada ternyata kurang sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh PPP
maupun dalil suatu harga gagalnya konsep-konsep tersebut sesungguhnya berkaitan dengan
terus menjamurnya hambatan-hambatan perdagangan dan mengikisnya semangat dan
praktek-praktek persaingan bebas. Selain itu, penyusutan tingkat harga yang berbeda di
Negara yang satu dengan Negara lain turut mempersulit upaya pengujian yang menggunakan
indeks-indeks harga resmi terbitan pemerintah. Pada beberapa jenis produk tertentu, termasuk
berbagai macam produk jasa, biaya transportasinya begitu tinggi sehingga produk-produk
tersebut tidak bisa diperdagangkan secara internasional (inilah yang disebut sebagai produk
non - tradable)
Penyimpangan dari PPP relatif bisa dipandang sebagai suatu perubahan kurs riil (real
exchange rate) suatu Negara kurs riil ini adalah harga serangkakian komoditi luar negeri yang
dinyatakan dalam satuan (in iterms of) serangkaian komoditi domestik. Apabila semua
kondisi lainnya tetap (cateris paribus), mata uang suatu Negara akan mengalami apresiasi riil

dalam jangka panjang terhadap mata uang asing apabila permintaan relatif terhadap produkproduk dari Negara itu mengalami peningkatan. Dalam kasus ini, kurs riilnya turun. Mata
uang domestik dari Negara yang bersangkutan akan mengalami depresiasi riil dalam jangka
panjang terhadap mata uang asing jika output domestik mengalami kenaikan secara relatif.
Untuk kasus ini, kurs riil mata uang mengalami kenaikan.
Terbentuknya kurs nominal (nominal exchange rate) di dalam jangka panjang bisa dianalisis
dengan gabungan dua teori. Yakni teori kurs riil jangka panjang dan teori mengenai
bagaimana faktor-faktor moneter domestik bisa menentukan tingkat-tingkat harga jangka
panjang. Peningkatan cadangan uang suatu Negara pada akhirnya mengakibatkan kenaikan
yang proporsional dalam tingkat harganya dan penurunan yang juga proporsional atas nilai
mata uangnya di pasar valuta asing (ini sesuai dengan prediksi PPP relatif). Perubahan tingkat
pertumbuhan moneter (penawaran uang) juga menimbulkan dampak jangka panjang yang
konsisten dengan PPP. Perubahan penawaran dan permintaan dalam pasar output
menciptakan kurs yang tidak sesuai dengan PPP.
Kondisi paritas suku bunga menyamakan selisih suku nominal antar-negara dengan perkiraan
perubahan persentase dalam kurs nominal. Apabila kondisi paritas suku bunga tersebut
terpenuhi, maka kondisi paritas suku bunga riil akan menyamakan selisih perkiraan kurs riil
internasional dengan perkiraan atas perubahan dalam kurs riil. Dengan adanya paritas suku
bunga riil, maka selisih suku bunga nominal internasional sama dengan selisih atau perbedaa
n inflasi ditambanh perkiraan perubahan persentase kurs riil.
Pembahasan berikut ini menggabungkan apa yang telah kita pelajari pasar asset dan perilaku
kurs dalam jangka panjang, dengan sebuah elemen baru, yaitu sebuah teori yang mencoba
untuk menjelaskan bagaimana pasar output menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan
tingkat permintaan apabila tingkat harga pada perekonomian yang bersangkutan terlalu
lambat untuk menyesuaikan diri.
Perubahan-perubahan output mampu menggeser perekonomian dari kondisi full employment
yang ideal itu. Perubahan ini seringkali juga dibarengi dengan terjadinya perubahan posisi
atau pun saldo neraca perdagangan barang (merchandise trade account) dan neraca transaksi
berjalan (current account). Oleh karena itu, keterkaitan antara output dengan variable-variabel
makroekonomi lainnya senantiasa sangat diperhatikan oleh para pembuat kebijakan
e,konomi. Kebijakan akan memakai model di dalam bab inki untuk mengetahui bagaimana
alat-alat kebijakan makroekonomi dan mempengaruhi perekonomian secara umu, serta
bagaimana alat-alat tersebut harus digunakan dalam rangka mempertahankan kondisi full
employment.

BAB 16 OUTPUT DAN KURS DALAM JANGKA PANJANG


Teori yang mencoba untuk menjelaskan bagaimana pasar output menyesuaikan diri terhadap
perubahan-perubahan tingkat permintaan apabila tingkat harga pada perekonomian yang
bersangkutan terlalu lambat untuk menyesuaikan diri.
Perubahan-perubahan output mampu menggeser perekonomian dari kondisi full employment
yang ideal itu. Perubahan ini seringkali juga dibarengi dengan terjadinya perubahan posisi
ataupun saldo neraca perdagangan barang ( merchandise trade account) dan neraca transaksi

berjalan (curret account). Oleh karena itu, keterkaitan antara output dengan variabel-variabel
makroekonomi lainnya senantiasa sangat diperhatikan oleh para pembuat kebijakan ekonomi.
Kita akan memakai model di dalam Bab ini untuk mengetahui bagaimana alat-alat tersebut
harus digunakan dalam rangka mempertahankan kondisi full employment
Apa yang disebut sebagai permintaan agregant (aggregate demand) dari suatu pere konomian
terbuka terdiri dari empat komponen, sama halnya seperti keempat komponen GNP, yaitu,
permintaan konsumsi, permintaan investasi, permintaan pihak pemerintah, serta transaksi
berjalan (permintaan ekspor bersih, atau permintaan ekspor dikurangi permintaan impor).
Determinan utama neraca transaksi berjalan adalah kurs riil, yakni nisbah atau rasio tingkat
harga luar negeri (yang diukur berdasarkan nilai mata uang domestik) dengan tingkat harga
domestik.
Dalam jangka pendek, output terbentuk oleh persamaan antara permintaan dan penawaran
agregat. Bila permintaan agregat lebih besar daripada output, maka perusahaan-perusahaan
segera meningkatkan produksinya guna mencegah habisnya persediaan mereka dan
memanfaatkan peluang untuk mencetak laba maksimal. Ada pun bila permintaan agregat
lebih kecil daripada output, perusahaan akan mengurangi produksi demi mencegah
menumpuknya persediaan
Keseimbangan (ekuilibrium) jangka pendek suatu perekonomian tercipta pada tingkat kurs
dan output dimana permintaan agregat sama dengan tingkat penawarannya (dengan catatan,
tingkat harga, perkiraan kurs dimasa mendatang, serta segenap kondisi ekonomi luar negeri
diabaikan) dan pasar-pasar asset berada dalam posisi keseimbangan. Melalui sebuah diagram
dengan dua sumbu yang masing-masing melambangkan kurs dan output rill, keseimbangan
jangka pendek tersebnut dapat digambarkan sebagai titik perpotongan antara skedul DD yang
menaik dari kiri bawah ke kanan atas (di garis inilah pasar output berada pada posisi
keseimbangan dan skedul AA yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah ( di sinilah pasar
asset berada dalam kondisi keseimbangan).
Kenaikan temporer dalam penawaran uang (yang tidak mengubah perkiraan kurs jangka
panjang) mengakibatkan mata uang perekonomian yang bersangkutan mengalami depresiasi
serta meningkatkan output. Ekspansi fiscal temporer juga dapat meningkatkan output, akan
tetapi ia membuat mata uang domestik mengalami apresiasi. Kebijakan moneter (moneter
policy) dan kebijakan fiskal (fiscal policy) bisa dan biasa digunakan pemerintah untuk
mengatasi berbagai gangguan pada output dan employment.
Pergeseran permanen dalam penawaran uang (yang mengubah perkiraan kurs jangka
pannjang) mengakibatkan perubahan kurs lebih tajam sehingga pengaruh yang ditimbulkan
oleh pergeseran yang sementara skifatnya. Jika perekonlomian berada pada kondisi full
employment, kenaikan permanen dalam penawaran uang menjurus kepada kenaikan tingkat
harga yang pada akhirnya membalikkan pengaruh depresiasi nominal (akibat kenaikan
penawaran itu) terhadap kurs riil. Dalam jangka panjang, output pada akhirnya akan kembali
ke tingkatnya yang semula dan semua harga yang dinyatakan dalam satuan uang juga akan
meningkat secara proporsional terhadap kenaikan penawaran uang tersebut.
Ekspansi fiscal permanen menyebabkan apresiasi mata uang yang lebih tajam bila
dibandingkan dengan apresiasi yang ditimbulkan oleh ekspansi fiscal secara permanen, oleh
karena ekspansi tersebut mengubah perkiraan kurs jangka panjang. Seandainya perekonomian
mula-mula berada pada keseimbangan jangka panjangnya, apresiasi tambahan tersebut

membuat barang dan jasa domestik demikian mahalnya sehingga dengan sendirinya
memperburuk kondisi neraca transaksi berjalan dan mementahkan pengaruh kebijakan fiscal
tersebut terhadap output dan employment. Dalam kasus ini, ekspansi fiscal permanen tersebut
tidak akan menghasilkan pengaruh ekspansioner sama sekali.
Ada masalah praktis serius yang tidak memungkinkan pemerintah menyalahgunakan
kemampuannya merang perekonomian hanya untuk kepentingan politik jangka pendek, yakni
masalah bias inflasi (inflation bias). Selain itu masih ada beberapa masalah lainnya seperti
sulitnya mengidentifikasikan sumber atau lamanya perubahan-perubahan ekonomi dan
adanya kelambatan dari saat penerapan kebijakan hingga terjadinya efek yang diinginkan
Jika ekspor dan impor mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan kurs riil, maka neraca
transaksi berjalan akan bergerak sesuai dengan pola kurva-J setelah terjadinya suatu
depresiasi mata uang secara riil; jadi pertama-tama memburuk, selanjutnya membaik. Jika
efek kurva-J seperti itu tercipta, maka depresiasi riil tersebut mula-mula menimbulkan efek
kontraksioner terhadap output serta memacu pelonjakan kurs. Efek Beachhead akan
menyertai efek kurva-J dalam memperlambat reaksi perusahaan terhadap perubahan kurs
tersebut. Terobosan (pass-through) yang tidak penuh, yang disertai dengan lonjakan hargaharga domestic, juga dapat menurunkan kadar pengaruh yang ditimbulkan oleh kurs nomi nal
terhadap kurs riil.

BAB 17
KURS BAKU DAN INTERVENSI VALUTA ASING
Empat hal penting yang perlu diketahui untuk menyadari mengapa kita harus memahami
sistem kurs baku sebelum menganalisis masalah-masalah kebijakan makroekonomi
kontemporer yaitu :
1. Mengambang terkendali (managed floating). Seperti telah disinggung di atas, bank-bank
sentral acapkali melakukan intervensi ke pasar valuta asing untuk mempengaruhi kurs. Jadi,
kurs Dolar dan mata uang Negara-negara industry tidak dilakukan oleh pemerintah, tapi juga
tidak mengambang (bisa berubah-ubah) dengan bebas. Sistem kurs Dolar (nilai suatu mata
uang diukur dengan uang dengan Dolar) yang bisa mengambang ini seringkali disebut sistem
mengambang semu (dirty float). Istilah ini sengaja dibuat untuk membedakannya dari sistem
mengambang murni, di mana pemerintah sama sekali tidak melakukan intervensi untuk
mengubah kurs, yang kemudian disebut sebagai sistem mengambang bersih (clean float).
Model yang kita kembangkan pada bab-bab dibuat berasumsi bahwa kurs yang ada
sepenuhnya mengambang, atau clean float). Karena sistem moneter yang ada saat ini
merupakan campuran antara sistem kurs buku murni dan sistem mengambang bersih, maka
kita perlu mengetahui apa itu sistem kurs baku agar kita dapat memahami dampak-dampak
intervensi terhadap pasar valuta asing pada sistem kurs mengambang.
2. Pengelolaan mata uang secara regional. Ada beberapa Negara yang bergabung membentuk
serikat kurs (exchange rate unions). Melalui organisasi ini, para Negara anggota sepakat
untuk membakukan kurs mata uang mereka satu sama lain dan membiarkan berfluktuasi
dengan mata uang Negara bukan anggota. Sebagai contoh, dewasa ini Denmark dan Yunani
membakukan nilai tukar mata uang mereka terhadap Euro dalam kerangka Exchange Rate

Mekanism (ERM) Eropa.


3. Negara-negara berkembang dan yang tengah mengalami transisi. Bila kebanyakan Negara
industry membiarkan mata uangnya berfluktuasi terhadap Dolar, Negara-negara berkembang
tidak mampu melakukannya karena porsi mereka hanya seperenam perekonomian dunia.
Banyak Negara berkembang termasuk bekas Negara komunis mencoba mematri atau
melakukan nilai mata uangnya terhadap nilai Dolar, atau terkadang, terhadap sehimpunan
mata uang kuat non-Dolar. Tabel 17-1 memperlihatkan bahwa hampir separuh Negara di
dunia ini membakukan mata uangnya terhadap suatu mata uang atau sehimpunan mata uang.
Sebagai contoh, Islandia melakukan nilai tukar matanya terhadap sekeranjang mata uang
tertentu. Argentina mematri nilai mata uangnya terhadap Dolar AS; sedangkan Senegal
terhadap franc Perancis. Kita tidak akan mampu memahami sepenuhnya masalah Negaranegara berkembang ini tanpa mengetahui berbagai implikasi sistem kurs baku.
4. Pelajaran-pelajaran masa lalu untuk masa mendatang. Di masa lalu, sistem kurs baku
merupakan norma. Kehadirannya begitu mantap pada decade-dekade sebelum Perang Dunia
Pertama, antara pertengahan 1920-an hingga 1931, dan antara 1945 hingga 1973. Dewasa ini
banyak perekonomian/Negara serta para pembuat kebijakan merasa tidak puas dengan sistem
kurs mengambang. Mereka kerapkali menawarkan berbagai pengaturan internasional yang
baru yang mengarah ke bentuk-bentuk khas sistem kurs buku. Akankah rencana ini
menguntungkan perekonomian dunia? Siapa yang akan diuntungkan, dan siapa yang akan
dirugikan oleh sistem tersebut? Agar kita dapat membandingkan keunggulan-keunggulan
sistem baku dan sistem mengambang (ini merupakan topic khusus Bab 19), kita harus
mengerti bagaimana sistem kurs baku ini berfungsi.
Intervensi Bank Sentral Dan Penawaran Uang
Pada Bab 14 kita telah mendefenisikan penawaran uang sebagai jumlah total uang tunai dan
uang giral (berupa simpanan-simpanan di bank) yang dimiliki oleh seluruh rumah tangga dan
perusahaan, di sini juga diasumsikan bahwa sirkulasi jumlah uang tersebut dikendalikan oleh
bank sentral. Guna memahami dampak-dampak intevensi bank sental dalam pasar valuta
asing, terlebih dahulu kita perlu mengetahui bagaimana transaksi-transaksi bank sentral
mempengaruhi penawaran uang.
Neraca Keuangan Bank Sentral dan Penawaran Uang
Alat utama yang akan kita gunakan untuk mempelajari transaksi-transaksi bank sentral adalah
neraca keuangan bank sentral (central-bank balance sheet) yang mencatat aktiva (harta) dan
passiva (kewajiban atau hutang) bank sentral. Sama seperti neraca keuangan lainnya, neraca
keuangan bank sentral juga tersusun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dasar akuntansi
(double-entry principle: setiap transasksi dicatat dua kali, sekali di sisi aktiva, sekali di sisi
pasiva). Setiap penambahan asset oleh bank sentral menghasilkan perubahan positif
(pertambahan) pada sisi Aktiva (atau Aset) pada neraca tersebut. Sebaliknya, kenaikan
kewajiban bank sentral akan menghasilkan pertambahan positif pada sisi Pasiva neraca
keuangan itu.
Sterilisasi
Bank-bank sentral acapkali melakukan transakski asset luar negeri dan domestik yang
sengaja dimaksudkan untuk meredam dampak-dampak tertentu yang ditimbulkan oleh
operasi-operasi pasar valuta asing . kebijakan seperti ini disebut intervensi valuta asing sterill
(sterilized foreign-exchange intervention). Kita dapat memahaminya melalui contoh berikut

ini.
Umpamakan lagi bahwa Bank Sentral Pecunia menjual asset luar negerinya senilai $ 100 dan
menerima cek senilai $ 100 dari bank swasta Pecunia pembayarannya. Transaksi ini
menyebabkan penurunan serentak jumlah asset luar negeri dan kewajiban bank sentral
tersebut, masing-masing senilai $100, sehingga mengurangi penawaran uang Pecunia. Jika
bank sentral itu berniat meredam dampak penjualan asset luar negeri tersebut terhadap
penawaran uang domestic, bank sentral dapat melakukannya dengan cara membeli asset-aset
domestik, misalnya dalam bentuk obligasi pemerintah, senilai $ 100. Tindakan kedua ini
meningkatkan jumlah asset domestic Pecunia dan kewajibannya senilai $ 100, sehingga
sepenuhnya menghapus dampak yang ditimbulkan penjualan asset luar negerinya senilai $
100 tadi terhadap tingkat penawaran uang. Jika bank sentral membeli obligasi pemerintah itu
dengan sehelai cek, misalnya kedua transaksi terse but (penjualan asset luar negeri $ 100 dan
pembelian asset domestik senilai $ 100 menimbulkan dampak terhadap neraca keuangan
bank).
Terdapat suatu berkaitan langsung antara intervensi bank se ntral ke pasar valuta asing
dengan tingkat penawaran uang domestic. Bila bank sentral suatu negara membeli asset-aset
luar negeri, maka secara otomatis tingkat penawaran negara itu meningkat. Begitu pula
sebaliknya, bila ia menjual asset-aset luar negeri, maka tingkat penawaran uangnya dengan
sendirinya menurun. Neraca keuangan bank sentral (central-bank balance sheet)
menunjukkan pengaruh intervensi bank sentral kepasar valuta asing yang mempengaruhi
tingkat penawaran uang itu. Pada dasarnya, jumlah pasiva atau kewajiban (liabities) bank
sentral, yang naik bila aktiva atau asset bank sentral naik dan turun jika asetnya turun,
merupakan dasar proses penciptaan penawaran uang. Bank sentral dapat meredam intervensi
terhadap tingkat penawaran uang dengan melakukan sterilasasi. Tanpa adanya, sterilisasi
muncullah keterkaitan langsung antara kondisi neraca pembayaran dengan tingkat penawaran
uang nasional yang tergantung pada bagaimana bank sentral mengelola celah
pembayarannya.
Bank sentral dapat membakukan kurs mata uangnya terhadap mata uang lain jika ia bersedia
memperjualbelikan uang domestic dengan uang luar negeri dalam jumlah tak terbatas pada
kurs yang tengah berlaku yang hendak dibakukan itu. Agar kurs tetap baku, bank sentral
harus mengintervensi pasar valuta asing kapan pun itu diperlukan demi tercegahnya
kelebihan tingkat penawaran atau permintaan asset-aset mata uang domestik. Jadi bank
central harus senantiasa menyesuaikan jumlah asset luar negeri-dan juga tingkat penawaran
uang agar pada kurs yang baku itu pasar asset tetap berada dalam kondisi keseimbangan
Komitmen pembakuan kurs memaksa bank sentral mengorbankan kemampuannya
menggunakan kebijakan moneter untuk maksud-maksud stabilisasi. Pembelian asset domestic
oleh bank sentral menimbulkan kemerosotan cadangan internasionalnya dalam jumlah yang
sama, sehingga tingkat penawaran uang maupun output tidak berubah. Demikian pula
sebaliknya, penjualan asset domestik akan meningkatkan jumlah cadangan internasionalnya
dalam jumlah yang sama, tanpa menimbulkan pengaruh terhadap tingkat penawaran uang dan
output.
Tidak seperti kebijakan moneter, pengaruh kebijakan fiskal terhadap output pada kurs baku
justru lebih kuat daripada yang ada pada kurs mengambang. Pada sistem kurs bakku, dalam
jangka pendek, ekspansi fiskal tidak menimbulkan apresiasi riil yang mengacaukan

permintaan agregat. Melainkan, hal itu memaksa bank sentral untuk membeli aset-aset luar
negeri dan memperbesar penawaran uang. Devaluasi juga meningkatkan permintaan agregat
maupun penawaran uang dalam jangka pendek. (Revaluasi menimbulkan pengaruh yang
sebaliknya). Dalam jangka panjang, ekspansi fiskal mengakibatkan apresiaski riil, kenaikan
penawaran uang, dan lonjakan tingkat harga domestik; sedangkan devaluasi menyebabkan
meningkatkan tingkat penawaran uang dan tingkat harga jangka yang sama besarnya dengan
perubahan kurs itu.
Krisis neraca pembayaran terjadi bila para pelaku pasar memperkirakan bahwa bank sentral
hendak mengubah kurs yang tengah berlaku. Jika pasar menganggap devaluasi segera terjadi,
misalnya maka suku bunga domestic segera melonjak melebihi suku bunga dunia (suku
bunga negara-negara lain), dan cadangan internasional merosot tajam akibat pelarian modal
swasta. Krisis mata uang yang meluncur sendiri (self fulfilling currency crisis) bisa terjadi
pada sebuah perekonomian yang rentan terhadap spekulasi. Lazimnya krisis keuangan
merupakan akibat tak terelakan dari kesalahan atau inkonsistensi kebijakan-kebijakan
pemerintah.
Sistem mengambang terkendali memungkinkan bank sentral mempertahankan sebagian
kemampuannya untuk mengendalikan tingkat penawaran uang domestic, dengan resiko
timbulnya gejolak kurs yang lebih parah. Tetapi jika obligasi domestik dan luar negeri
merupakan substitusi yang sempurna, bank sentral akan mampu mengendalikan tingkat
penawaran uang maupun kurs melalui intervensi pensterilan terhadap valuta asing. Data
empiris ternyata tidak mendukung gagasan yang menyatakan bahwa intervensi pensterilan
menimulkan pengaruh yang besar secara langsung terhadap kurs. Sekalipun obligasi domestic
dan luar negeri merupakan substitusi yang sempurna (jadi premi risiko tidak perlu ada)
intervensi pensterilan hanya berpengaruh secara tidak langsung melalui signaling effect yang
mengubah pandangan pasar atas kebijakan-kebijakan yang akan diberlakukan.
Sistem kurs baku dunia, dimana setiap negara membakukan kurs mata uangnya terhadap
suatu mata uang cadangan (reserve currency), mengandung asimetri atau ketimpangan yang
mencolok. Negara pemilik mata uang cadangan, yang tidak berkewajiban membakukan kurs
mata uang nya terhadap mata uang mana pun, mampu mempengaruhi kegiatan
perekonomiannya sendiri maupun perekonomian seluruh dunia. Sebaliknya, negara- negara
lain tidak berdaya mempengaruhi tingkat output mereka sendiri atau output negara lain
melalui kebijakan moneter. Ketimpangan ini mencerminkan kenyataan bahwa reserve center
terbebas dari beban pengelolaan neraca pembayara nnya.
Sedangkan standar emas, di mana semua negara membakukan kurs mata uan nya terhadap
emas, terbebas asimetri standar reserve currency, sekalipun menenpatkan batasan terhadap
pertumbuhan moneter semua negara. Namun standar emas ini mengandung beberapa
kelemahan serius yang membuatnya tidak praktis sebagai cara pengorganisasian sistem
moneter internasional dewasa ini. Bahkan standar kurs emas pasca Perang Dunia Kedua
bertumpu pada Dolar pun terbukti tidak tahan.
Ekuilibrum Pasar Valuta Asing Dengan Substitusi Aset Tak Sempurna
Permintaan
Karena setiap orang tidak menyukai risiko, yang akan menurunkan nilai riil kekayaan
mereka, maka mereka berusaha mencari aset yang selain keuntungannya cukup tinggi

risikonya juga tidak terlalu membahayakan. Seseorang yang menyimpan seluuh kekayaannya
ke dalam Pound Inggris, misalnya mungkin bisa memetik keuntungan yang besar, tapi bila
secara tak terduga Pound Inggris mengalami depresiasi, ia akan sangat terpukul. Dari sini
muncul strategi yang lebih cermat, yakni menanamkan kekayaan dalam berbagai macam
mata uang; jadi salah satu mengalami depresiasi, kenaikan seimbang atas mata uang lain akan
mengimbangi. Dengan cara lain, seorang investor dapat memecah atau memperkecil resiko.
Untuk mengetahui tinggi rendahnya permintaan individu /swasta secara agregat
(keseluruhan), maka kita harus menambahkan suatu permintaan atau
dan semua individu atau i. Penjumlahan ini akan membentuk tingkat permintaan agregat atas
obligasi dalam mata uang domesik, atau
yang juga merupakan fungsi kenaikan perkiraan keuntungan riil yang dijanjikan obligasi
dalam mata uang domestik. Sebab itu
Permintaan = Bd [R-R* -(Ee-E)/E ]
= Penjumlahan seluruh i dari
[R-R* -(Ee-E)/E ]
Dengan adanya beberapa individu atau investor yang meminjam mata uang domestic,
sehingga memasok obligasi dalam mata uang domestic, Bd harus ditafsirkan sebagai
permintaan bersih (netto) sector swasta obligasi dalam uang domestik.

Penawaran
Dengan penafsiran tersebut, maka tingkat penawaran yang harus ada (demi terciptanya
keseimbangan pasar) merupakan (atau sama dengan) seluruh tingkat penawaran bersih
obligasi dalam mata uang domestik kepada sector pemerintah, yakni suplai Bd atau
penawaran obligasi yang tidak jatuh ke tangan sector swasata / individu. Oleh karena itu, total
penawaran harus sama dengan nilai obligesi dalam mata uang domestic yang berada di
tangan pemerintah, atau B, dikurangi nilai asset-aset dalam mata uang domestic yang
dikuasai oleh Bank Sentral, atau A: Penawaran = B - A
A harus dikurangkan dan B untuk memperoleh penawaran bersih obligasi itu, karena
pembelian obligasi oleh Bank Sentral mengurangi tingkat penawarannya bagi sector swasta.
Biasanya, kita juga harus mengurangkan dan B atau total asset dalam mata uang domestic
yang dikuasai oleh berbagai bank sentral negara-negara lain).
Keseimbangan
Premi resiko atau P, terbentuk oleh interaksi permintaan dan penawaran. Rumusnya adalah:
p = R- R* - (Ee - E)/E,
artinya, premi risiko merupakan selisih antara perkiraan hasil keuntungan obligasi domestic
dan luar negeri. Dengan demikian, kita juga bisa merumuskan permintaan bersih sector
swasta atas obligasi dalam mata uang domestic sebagai suatu fungsi kenaikan premi risiko.
Peraga 17AI-1 memperlihatkan hubungan tersebut melalui garis permintaan obligasi
domestic yang mengarah ke atas.

Pendekatan Moneter Terhadap Neraca Pembayaran

Seperti telah dibahas sebelumnya, ikatan yang erat antara neraca pembayaran dengan tkingkat
penawaran uang domestik menunjukkan bahwa fluktuasi volume cadangan bank sentral dapat
dianggap sebagai akibat dan berbagai perubahan di pasar uang. Metode analisis neraca
pembayaran seperti ini disebut pendekatan moneter terhadap neraca pembayaran (moneter
approach to the balance of payments). Pendekata ini dikembangkan pada 1950-an dan 1960an oleh departemen riset IMF yang dikepalai oleh Jacques J, Polak, Harry G. Jhonson, dan
Robert E. Mundell serta para mahasiswa mereka di Universitas Chicago
Pendekatan moneter ini dapat diilustrasikan melalui sebuah model sederhana yang
mempertautkan neraca pembayaran dengan berbagai perkembangan atau perubahan di pasar
uang. Pertama-tama ingatlah bahwa pasar uang berada dalam kondisi ekuilkibrium jika
tingkat permintaan uang riil sama dengan tingkat penawarannya, atau:
Ms/P = L (R,Y) (17AII-1)
Kini, kkita simbolkan saja F* sebagai seluruh aset luar negeri milik bank sentral (terhitung
dalam satuan mata uang domestik), dan A adalah aset-aset domestic (kredit domestik). Jika
adalah faktor penggandaan uang (money multiplier) yang mendefenisikan hubungan antara
total asset milik sentral (F*+ A) dan penawaran uang :
Ms = (F* + A) (17AII-2)
Perubahan aset luar negeri bank sentral selama beberapa waktu, atau F*, sama dengan saldo
neraca pembayaran (bagi negara- negara selain negara pemilik mata uang cada ngan; atau
selain Amerika Serikat). Dengan menggabungkan persamaan (17AII-1) dan (17AII-2), kita
dapat merumuskan asset luar negeri bank sentral sebagai berikut :
F* = (1/ ) PL (R,Y) A
Jika kita asumsikan konstan, maka surplus neraca pembayaran adalah :
F* = (1/ ) [PL (R,Y)] A
Persamaan terakhir itu merupakan inti pe ndekatan moneter. Faktor pertama sebelanh kanan
mencerminkan berbabgai perubahan permintaan uang nominal, ini menunjukkan bahwa,
caterisparibus, kenaikan permintaan uang akan mendatangkan surplus neraca pembayaran
dan kenaikan penawaran uang yang pasti mengiringinya demi terpeliharanya keseimbangan
pasar uang. Faktor kedua persamaan neraca pembayaran mencerminkan berbagai faktor
penawaran dalam pasar uang. Kenaikan kredit domestic menimbulkan kenaikan relatif
penawaran uang terhadap permintaan uang (cateris paribus), sehinga neraca pembayaran
ekuilibrium pasar uang.
Penentuan Krisis Neraca Pembayaran
Penentuan saat terjadinya krisis neraca pembayaran tidak bisa didasarkan pada kebijakan
pemerintah semata. Kita tidak hanya harmus memperhatikan kebijakan yang tengah
dijalankan, tapi juga rencana-rencana pemerintah dalam menata perekonlomian di masa
mendatang. Di sini ada dua asumsi mengenai perilaku pemerintah, yaitu ; (1) Bank Sentral
memungkinkan penimbunan kredit domestic, atau A sehingga jumlahnya terus men,ingkat
sampai batas waktu yang ditentukan ; (2) Bank Sentral tengah membakukan kurs pada tingkat
E 0 tapi segera mengambangkannya secara bebas jika cadangan asset luar negerinya, atau F*,
mulai habis. Kurs pada tingkat E0 akan dicoba dipertahankan dengan cara menjual asset
cadangan luar negerinya pada tingkat harga itu selama aset itu selama asset itu masih mereka
miliki.

BAB 18 SISTEM BRETTON WOODS DAN DANA MONETER INTERNASIONAL (IMF)


Pada bulan Juli 1994, para wakil empat puluh empat negara bertemu di Bretton Woods New
Hampshire, Amerika Serikat, untuk merangsang dan menandatangani pasal-pasal perjanjian
(Article of Agrreement) pembentukan Dana Moneter Internasional (IMF-International
Monetary Fund). Meskipun perang masih berjecamuk, para negarawan Sekutu telah
berpandangan jatu ke depan, mereka merasa merumuskan sesuatu untuk memenuhi berbagai
kebutuhan ekonomi dunia seusai perang. Mereka masih ingat betapa kacaunya situasi
ekonomi sebelum perang berlangsung, dan mereka ingin merancang suatu sistem moneter
internasional yang menja min terciptanya full employment dan stabilitas harga, sekaligus
memungkinkan semua negara menggapai keseimbangan eksternal tan pa melakukan
pembatasan perdagangan.
Sistem yang dirancang dalam perjanjian Bretton Woods me nsyaratkan suatu kurs yang baku
antara berbagai mata uang terhadap Dolar Amerika Serikat, dan antara Dolar dengan emas
pada tingkat $ 35 per ons. Semua negara peserta akan menggunakan emas atau Dolar sebagai
bagian negara peserta akan menggunakan emas dan dolar itu untuk memperoleh emas kepada
Federal Reserve dengan harga resmi. Dengan demikian, sistem ini merupakan sistem standar
tukar emas, di mana Dolar merupakan mata uang cadangan (reserve currency) yang utama.
Menurut terminologi Bab 17 , Dolar adalah mata uang ke-N yang khusus berbeda dari
semua mata uang yang secara definitive merupakan mata uang N-1 dari sistem (lihat kembali
Bab 17). A merika Serikat hanya dibenarkan melakukan inter vensi terhadap pasar valuta
asing dalam keadaan darurat, yakni dalam ranbgka menstabilkan harga atau nilai tukar Dolar
terhadap emas, sedangkan bank sentral negara lain dibenarkan untuk melakukan intervensi
selama itju diperlukan untuk menjaga kesta bilan kurs mata uangnya secara umum.
Tujuan-tujuan dan Struktur IMF
Isi perjanjian pembentukan IMF sangat dipengaruhi oleh pengalaman buruk selama periode
selang dua perang dunia dimana tingkat harga kondisi keuangan umumnya sangat tidak stabil,
yang telah mengakkibatkan pengganguran dan disintegrasi ekonomi internasional pasal-pasal
nya sedapat mungkin disusun untuk menghindari terulangnya semua pengalaman buruk
tersebut, meskipun cukup ketat, tapi perjanjian IMF ini mas,ih menyisipkan beberapa
kelonggaran tertentu.
Salah satu unsur pokok manajemen moneter di dalamnya adalah kenharusan bagi semua
negara untuk membakukan kurs mata uangnya terhadap Dolar, seda ngkan Dolar harus
dibakukan nilainya terhadap e mas. Jika bank sentral suatu negara selain Amerik Serikat
menerapkan ekspansi moneter yang berlebihan, ia akan rugi sendiri karena kehilangan
cadangan internasional dan pada akhirnya takkan mampu mempertahankan kebakuan kurs
mata uangnya terhadap Dolar. Bank sentral juga tidak diharapkan melakukan ekspansi
moneter yang terlalu tinggi karena hal itu mengakibatkan terakumulasinya Dolar ke cadangan
bank-bank sentral berbagai negara Fed tentu akan mengalami kesulkitan jika bank-bank
sentral itu.
Dalam suatu perekonomian terbuka, para pembuat kebijakan memusatkan perhatian pada
tercapainya keseimbangan internak (berupa full employement dan tingkat harga yang stabil)
serta keseimbangan internal (berupa full employement dan tingkat harga yang optimal, yang
memungkinkan negara membayar kembali utang luar negeri, tapi juga tidak memaksanya

memberikan pinjaman ke negara lain besar-besaran). Definisi keseimbangan eksternal


ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk bentuk rezim moneter dan kondisi perekonomian
dunia. Karena kebijakan makroekonomi suatu negara selalu mempengaruhi negara-negara
lain.
Sistem stndar emas mengandung makanisme penjaga keseimbangan eksternal yang cukup
efektif, yakni mekanisme arus harga-logam mulia. Arus emas yang menyertai surplus dan
deficit menimbulkan perubahan harga yang mengurangi ketidakseimbangan transaksi
berjalan, sehingga cenderung mendorong semua negara menuju keseimbangan eksternal.
Berbagai upaya mengembalikan sistem standar emas sejak 1918 tidak membuahkan hasil.
Ketika perekonomian dunia terjebak dalam resesi mulai tahun 1929, standar emas yang baru
saja dibangun kembali langsung lumpuh dan ekonomi internasional mengalami perpecahan.
Dalam kondisi ekomi yang serba tak menentu itu, pemerintah menjadikan keseimbangan
internal sebagai prioritas utama. Dalam rangka menghindarkan kesulitan eksternal, mereka
membatasi hubungan ekonomi dengan negara-negara lain.
Para arsitek IMF berkeinginan merancang suatu sistem kurs baku yang bias memacu
pertumbuhsn perdagangan internasional sekaligus memungkinkan tercapainya keseimbangan
eksternal tanpa harus mengorbankan kepentingan internal. Untuk IMF dilengkapi dengan
fasilitas pembayaran bagi negara yang mengalami defisit, serta kelonggaran bagi setiap
negara yang mengalami dis-ekuilibrium fundamental untuk mengadakan penyesuaian kurs.
Semua negara membakukan kurs mata uang terhadap Dollar. Sedangkan Amerika Serikat
membakukan Dollar terhadap emas, dan ia bersedia menukarkan setiap Dollar milik bankbank sentral negara lain dengan emas simpananya atas dasar harga resmi, yakni $35 per ons
emas.
Setelah koversibilitas mata uang di Eropa pulih pada tahun 1958, pasar keuangan di berbagai
negara makin terintegrasi sehingga kebijakan moneter makin kurang efektif, dan arus
cadangan internasional semakin deras. Untuk mencapai keseimbangan internasional dan
eksternal secara serempak, kebijakan pengalihan pembelanjaan dilakukan. Kemungkinan
dilakukannya pengalihan-pembelanjaan (=perubahan kurs) mendorong timbulnya arus
permodalan spekulatif yang melemahkan kebakuan kurs. Sebagai negara mengalami pemilik
mata uang cadangan yang utama, Amerika Serikat menghadapi masalah keseimbangan
eksternal yang lain dari yang lain, yakni masalah kepercayaan. Masalah ini timbul jika Dollar
yang diakumulasikan bank-bank sentral negara lain lebih banyak daripada jumlah emas milik
Amerika yang harus menyangganya.
BAB 19 KEBIJAKAN MAKROEKONOMI DAN KOORDINASI DALAM SISTEM KURS
MENGAMBANG
Keunggulan Sistem Kurs Mengambang
Ketika krisis kurs internasional semakin rumit dan sering terjadi di penghujung 1960-an, para
ekonom mulai menyarankan perlunya kelonggaran yang lebih besar bagi fluktuasi kurs.
Banyak diantaranya meyakini bahwa sistem kurs mengambang (yang tidak mengharuskan
bank sentral mengintervensi pasar valuta asing dalam rangka membakukan kurs) tidak
hannya secara otomatis menjamin terciptanya kelonggaran kurs, tapi juga akan menghasilkan
sejumlah manfaat lain bagi perekonomian dunia. Sistem kurs mengambang dimiliki tiga

keunggulan pokok, yakni:


1. Otonomi Kebijakan Moneter
2. Simetri
3. Kurs sebagai stabilisator otomatis
Kelemahan Kurs Mengambang
Pengalaman kurs mengambang yang kurang memaskan pada tahun-tahun antara dua perang
dunia membuat banyak pihak meragukannya sebagai penggati sistem Bretton Woods.
Sejumlah ekonom merasa skeptis terhadap saran-saran para pendukung sistem kurs
mengambang. Bahkan ada yang berpendapat bahwa penerapan sistem kurs mengambang
justru akan lebih merugikan perekonomian dunia. Ada lima hal yang dikemukakan sebagai
kelemahanutama sistem kurs mengambang, yaitu:
1. Disiplin
2. Spekulasi dan gangguan pasar uang yang merusak stabilitas
3. Ancaman terhadapinvestasi dan pengadaan Internasional
4. Kebijakan kebijakan ekonomi yang tak terkoordinasi
5. Ilusi mengenai otonomi yang lebih besar
Spekulasi dan Gangguan Pasar Perusak Stabilitas
Pengalaman buruk sistem kurs mengambang pada tahun-tahun antara dua perang adalah
selalu terbukanya kemungkinan spekulasi mata uang yang sangat mengacaukan kurs. Jika
para pedagang valuta asing mengetahui bahwa suatu mata uang akan mengalami depresiasi,
maka mereka akan segera menjual mata uang itu karena mengharapkan depresiasi itu benarbenar terjadi atau berlangsung terus. Spekulasi perusak stabilitas ini cenderung memperbesar
gejolak nilai jangka panjang kurs yang seharusnya hannya terjadi akibat suatu gangguan
ekonomi tak terduga. Terlepas dari dampak negatifnya terhadap merangsang timbulnya
keyakinanakan terjadi inflasi dan mendorong keyakinan tingkat harga serta upah, sehingga
pada akhirnya memicu terjadinya depresiasi lebih lanjut. Negara yang bersangkutan pun
terjebak dalam lingkaran setan depresiasi dan inflasi dan sulit untuk terlepas.
Penurunan drastis laju pertumbuhan moneter Amerika Serikat, dibarengi dengan lonjakan
defisit anggaran pemerintah federal, mengakibatkan apresiasi Dollar secara besar-besaran
antara 1980 hingga awal 1985. Amerika maupun negara maju laninnya terlanda inflasi yang
membuat laju pertumbuhan moneter sedunia merosot. Selama 1990an, stabilitas kurs kurang
diperhatikan sebagai sasaran kebijakan ekonomi. Pemerintah di banyak negara justru lebih
mementingkan upah menekan inflasi domestic sembari terus memacu terus pertumbuhan
ekonomi.
Periode 1973-1980 merupakan periode dimana sistem kurs mengambang nampaknya mampu
berfungsi cukup baik secara keseluruhan. Terutama, sistem ini telah melepas banyak negara
dan keharusan mempertahankan kebakuan kurs dalam menghadapi stagnasi yang diakibatkan
oleh dua kejutan harga minyak. Dolar mengalami depresiasi tajam sejak 1976 karena
Amerika Serikat menerapkan kebijakan makroekonomi yang lebih ekpansioner daripada
negara indusri lainnya.
Pengalaman sistem kurs mengambang selama ini tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang
diprediksikan oleh para pendukung maupun penantangnya. Namun ada satu pelajaran yang
pasti dari pengalaman tersebut, yakni bahwa tidak ada sistem kurs yang mampu berfungsi
dengan baik tanpa adanya kerjasama ekonomi internasional. Berbagai kelemahan kurs

mengambang akan senantiasa terjadi. Namun, bila konsultasi dan kerja para perumus
kebijakan di negara-negara industri ditingkatkan, maka fungsi kurs mengambang bisa
menjadi lebih baik.

BAB 20 AREA MATA UANG OPTIMAL DAN PENGALAMAN EROPA


1 Januari 1999, 11 dari 15 negara anggota Uni Eropa (UE) memberlakukan mata uang
bersama, Euro. Wilayah yang turut mengguankan Euro lazim disebut Zona Euro. Kelahiran
Euro membakukan secara permanen kurs antar mata uang negara-negara EMU. Namun untuk
turut menggunakan mata uang bersama, para anggota EMI harus merelakan lebih banyak
kedaulatan dalam penggunaan kebijakan moneter ketimbang yang dituntut oleh sebuah rezim
kurs baku. Mereka bahkan harus merelakan hilangnya mata uang nasional dan menyerahkan
wewenang kebijakan moneternya kepada Sistem Bank Sentral Eropa (ESCB).
Perkembangan Mata Uang Tunggal Eropa
Sistem moneter Internasional Bretton Woods yang runtuh pada tahun 1973 menetapkan
standar nilai tukar baku (tetap) kepada setiap negara anggotanya terhadap nilai tukar Dollar
Amerika Serikat dan sebagai hasilnya juga menetapkan tingkat nilai tukar antara setiap
pasang mata uang non-Dollar.
Insiatif Reformasi Mata Uang Eropa, 1969-1978
Sebenarnya apa yang mendesak negara-negara uni Eropa dalam tersebut untuk mencapai
koordinasi yang lebih kukuh atas kebijakan-kebijakan moneter dan usaha pemeliharaan
stabilitas nilai tukar selama penghujung dasawarsa 1960-an. Ada dua motif utama yang
melandasinya, yang juga merupakan alas an-alasan pokok pemberlakuan Euro.
1) Untuk meningkatkan peran Eropa dalam sistem moneter dunia. Krisis mata uang kesiapan
dan kesungguhan pemerintah Amerika Serikat untuk lebih mengedepankan tanggung jawab
moneter internasionalnya daripada kepentingan-kepentingan nasionalnya sendiri. Dengan
adanya satu suara dalam isu-isu moneter, negara-negara anggota Uni Eropa berharap bisa
mempertahankan kepentingan-kepentingan ekonominya sendiri secara lebih efektif,
khususnya dalam rangka menghadapi apa yang mereka anggap sebagai tekanan-tekanan dari
AS.
2) Untuk membawa Uni Eropa ke suatu pasar tunggal dalam pengertian yang sesungguhnya.
Meskipun dalam perjanjian Roma tahun 1957 tentang pembentukan Uni Eropa telah
ditetapkan mengenai penyatuan pabean, masih terdapat hambatan-hambatan di dalam wilayah
Eropa. Suatu hal yang merupakan tujuan konsisten negara-negara Uni-Eropa sebuah pasar
tunggal raksasa yang integrative sebagaimana halnya perekonomian AS sangat besar itu.
Bagaimana juga, para pejabat Eropa berpendapat bahwa ketidakmampuan kurs atau nilai
mata uang.
Teori Area Area Mata Uang Optimal
Untuk menimbang biaya ekonomis dari penggabungan sekelompok negara dalam suatu
pengaturan nilai tukar baku, dan juga berbagai keuntungan yang bisa dibuahkannya,
memerlukan suatu kerangka pemikiran sistematis tentang daya stabilitasi yang mungkin harus
dikorbankan oleh negara pelakunya, dan manfaat berupa peningkatan efisiensi dan
kredibilitas yang mungkin diraihnya dari pembakuan nilai tukar mata uangnya tersebut.

Traktat Maastrcht menetapkan serangkaian kriteria kovergensi makroekonomi yang harus


dipenuhi setiap negara Uni Eropa yang berniat bergabung ke dalam EMU. Tujuan pokok
adanya kriteria kovergensi ini adalah untuk meyakinkan para pemilik suara di negara-negara
inflasi rendah bahwa mata uang yang baru dikelola bersama itu akan kuat menghadapi
tekanan inflasi seperti hanya DM. Pakta Stabilitas dan Pertumbuhan yang membatasi
kelonggaran para anggota EMU dan SPG dapat merumuskan kebijakan fiskal nasionalnya
secara bersama-sama.
Teori area mata uang optimal menyatakan bahwa negara-negara yang hendak membakukan
kurs atau menyatukan mata uang yang mereka harus perhatikan derajat keterkaitan
perekonomian mereka yang terbentuk melaui perdagangan dan mobilabilitas faktor.
Keputusan suatu negara untuk bergabung dengan suatu area mata uang optimal atau
mekanisme pembakuan nilai tukar, ditentukan oleh perbedaan (selisih) antara besar kecilnya
keuntungan efisiensi moneter dari tindakan penggabungan tersebut dan besar kecilnya
keuntungan stabilitas ekonomi yang juga diakibatkan oleh penggabungan tersebut.
Uni Eropa tampaknya tidak memenuhi persyaratan sebagai suatu area mata uang yang
optimal. Meskipun pelaksanaan program 1992 telah menghapus banyak hambatan terhadap
intergasi pasar dalam uni eropa lebih terbatas dibandingkan dengan yang berlangsung di area
mata uang lain yang lebih luas, seperti Amerika Serikat. Yang akhirnya tingkat pelaksanaan
federalisme fiskal di lingkungan Uni Eropa juga terlalu kecil untuk melindungi negara-negara
anggota dari tragedi, kesulitan atau peristiwa-peristiwa ekonomi yang negatif.

BAB 21 PASAR MODAL GLOBAL KINERJA DAN PERSOALAN KEBIJAKAN


Pasar penduduk dari berbagai negara memperdagangkan aset disebut sebagai pasar modal
internasional (Internastional Capital Market). Pasar ini tidak berupa sebuah pasar tunggal
saja, melainkan merupakan gabungan pasar modal di seluruh dunia yang membentuk mata
rantai raksasa di mana segala macam aset Internasional diperjual-belikan. Perdagangan valuta
internasional juga berlangsung di pasar ini, bahkan merupakan komponen utamanya. Para
pelaku terbesar dalam pasar ini sama dengan para pelaku utama dalam pasar valuta asing,
yakni bank-bank komersial, perusahaan-perusahaan raksasa, lembaga-lembaga keuangan
bukan bank, bank-bank sentral, serta instansi pemerintah lainnya yang bergerak di bidang
keuangan. Sama halnya dengan pasar valuta asing, berbagai kegiatan dalam pasar modal
internasional berlangsung melalui suatu mata rantai pusat-pusat keuangan dunia yang
dihubungkan oleh jaringan sistem komunikasi yang canggih. Aset-aset yang diperdagangkan
dalam pasar tersebut juga meliputi saham dan obligasi berbagai negara, serta berbagai bentuk
deposito yang terdenominasi dalam berbagai jenis mata uang.
Sejauh Mana Kinerja Modal Internasional?
Struktur pasar modal internasional yang ada saat ini mengandung risiko instabilitas yang
hannya bisa dikurangi melalui kerja sama terpadu para pengawas bank dari berbagai negara.
Namun di dalamnya juga terkandung banyak potensi laba yang selain menjadi motif
lembaga-lembaga finasial multinasional untuk melakukan berbagai inovasi guna menembus
pengawas otorita nasional, juga menyajikan berbagai manfaat bagi para konsumen. Seperti
diketahui, pasar modal internasional memungkinkan penduduk berbagai negara

menganekaragamkan portofolio (kepemilikan aset) mereka dengan cara tukar menukar asetaset yang mengandung risiko. Selain itu pasar juga menyediakan informasi hangat berskala
internasional mengenai berbagai peluang investasi yang menguntungkan di seluruh dunia,
sehingga pasar ini membantu alokasi tabungan dunia ke sektor-sektor yang paling produktif.
Bagaimana kinerja pasar modal internasional.
Pasar modal internasional adalah pasar tempat berlangsungnya perdagangan aset antar
penduduk dari berbagai negara. Salah satu komponen antar-penduduk dari berbagai negara.
Salah satukomponen terpentingnya adalah pasar valuta asing. Lembaga perbankan
merupakan jantung modal internasional, dan banyak diantaranya yang beroperasi di luar
negeri (offshore).
Secara umum, perbankan kurang mendapatkan perlindungan pemerintah dalam pencegahan
kegagalan bank, seperti yang diterima oleh bank-bank domestik. Peluang yang hendak
dimanfaatkan oleh bank itu dengan memperluas usahanya ke luar negeri itu sendiri telah
melemahkan daya pengawasan otorita moneter nasional Sejak 1974, komite basle yang terdiri
dari para regulator bank itu dengan memperluas usahanya ke luar negeri sendiri tanpa
melemahkan daya pengawasan otorita moneter nasional. Kecenderungan meningkatkanya
sekuritisasi memperbesar perlunya kerjasama pemantauan dan pengaturan lembaga-lembaga
keuangan nonbank.
Pasar modal internasional turut memacu diversifikasi portofolio internasional sejak 1970;
namun cakupan diversifikasi itu relatif kecil bila dibandingkan dengan prediksi teoritisnya.
Beberapa pengamat, juga berpendapat bahwa cakupan perdagangan berjangka, diukur atas
dasar neraca transaksi berjalan setiap negara, masih terlalu kecil.
Kinerja pasar pasar valuta asing dalam mengkomunikasikan sinyal-sinyal harga yang cukup
tepat kepada para pedagang dan investor internasional juga sulit dikemukakan dalam satu
kalimat tegas. Berbagai tes terhadap kondisi paritas suku bunga agaknya menunjukan bahwa
pasar itu cenderung mengabaikan informasi yang tersedia dalam proses pembentukan kurs;
tapi karena teori paritas suku bunga tidak memperhitungkan penghindaran risiko.

BAB 22 NEGARA-NEGARA BERKEMBANG: PERTUMBUHAN, KRISIS DAN


REFORMASI
Sejak awal 1980-an masalah makroekonomi negara-negara yang belum maju telah menjadi
masalah terberat yang paling mengancam stabilitas dan masa depan perekonomian
internasional. Selama lebih dari 4 dekade sesuai dengan Perang Dunia Kedua, perdagangan
antara kelompok negara maju dengan kelompok negara yang belum maju (biasa disebut
negara-negara belum berkembang) dan pinjaman pokok kedua dari kelompok pertama
telahmeningkat tajam.
Pendapatan, Kemakmuran, Dan Pertumbuhan dalam Perekonomian Dunia
Kemiskinan adalah masalah mendasar yang dihadapi oleh negara-negara
berkembang. Bagaimana melepaskan diri dari kemiskinan itulah yang menjadi
dasar tantangan ekonomi dan politik yang utama. Dibandingkan negara-negara
industri, negara-negara berkembang begitu miskin akan faktor-faktor produksi
yang dibutuhkan untuk membangun perindustrian modern, khususnya modal

dan tenaga kerja terampil. Kelangkaan faktor-faktor produksi yang dibutuhkan


untuk membangun produksi inilah yang menyebabkan rendahnya t
kat pendapatan per kapita sekaligus menghambat negara berkembang begitu
miskin akan faktor faktor produksi yang dibutuhkan untuk membangun
perindustrian modern, khususnya modal. Instabilitas politik, tak terjaminnya hakhak kepemilikan dan kebijakan-kebijakan ekonomi yang salah arah acapkali
menyurutkan arus investasi modal dan keahlian.
Sifat-sifat Struktural Negara Berkembang
Negara berkembang yang mereformasikan ekonominya sehingga struktural kian
menyerupai apa yang ada dalam perekonomian negara-negara industri maju.
Meskipun demikian prosesnya sendiri belum rampung, dan masih banyak negara
berkembang yang struktur ekonominya dicirikan oleh paling tidak sebagian dari
unsur-unsur berikut ini:

a. Adanya sejarah control langsung pemerintah yang luas dalam perekonomian, termasuk
pembatasan terhadap perdagangan internasional, kepemilikan pemerintah dalam berbagai
perusahaan industri besar, kontrol pemerintah terhadap transaksi-transaksi keuangan internal
dan besarnya belanja pemerintah sebagai persentase GNP. Cakupan atau tingkatan hal-hal
tersebut berbeda di tiap negara-negara berkembang.
b. Adanya sejumlah inflasi yang tinggi.
c. Pasar financial domestic yang rapuh
d. Kurs biasanya dibakukan, atau paling tidak dikendalikan secara ketat, oleh pemerintah.
e. Produk alam atau produk pertanian merupakan bagian penting dari ekspor banyak negara
berkembang.
f. Keperluan untuk menghindari kontrol, pajak atau peraturan pemerintah mudah
menumbuhkan praktek-praktek korupsi, mulai dari penyuapan, penggelapan, hingga
pemerasan.
Berbagai Bentuk Arus Masuk Modal
Apabila negara-negara berkembang mengalami defisit neraca transaksi berjalan, ia harus
menjual aset-asetnya kepada luar negeri untuk menutup kekurangan pendapatan bagi
pembelanjaanya . Dari penjualan aset ini secara sederhana diistilahkan penarikan pinjaman.
Tapi sebenarnya arus modal masuk permodalan untuk membiayai defisit negara berkembang
itu ( juga defisit negara manapun) terdiri dari beberapa bentuk. Perbedaan antara masingmasing bentuk itu perlu diketahui karena masing-masing menimbulkan kewajiban yang
berbeda-beda bagi pihak penerima pinjaman. Ada lima pokok bentuk, yaitu:
a. Penerbitan Obligasi
b. Kredit Bank
c. Bantuan Resmi
d. Investasi luar negeri langsung
e. Investasi portofolio dalam kelemilikan perusahaan
Tingkat kesejahteraan dan pendapatan per kapita antar negara sangat bervariasi, sesui dengan
tingkat kemajuan pembangunan ekonominya. Di antara negara-negara berkembang sendiri
sudah tercipta banyak perbedaan. Sebagian mulai maju pesat dan mengejar ketertinggalannya
dari negara maju, seperti beberapa negara asia timur sejak 1960-an; sedangkan sebagian lagi
yang lebih banyak tetap stagnan atau bahkan kian terpuruk.
Negara negara berkembang merupakan sebuah kelompok yang heterogen, terutama karena
banyak diantaranya yang mulai melakukan reformasi ekonomi secara besar-besaran dalam
beberapa tahun terakhir ini. Namun kebanyakan dari mereka memiliki semua atau sebagian
dari ciri-ciri ini: peran aktif pemerintah dalam perekonomian; besarnya pangsa belanja public
dalam GNP; sejarah inflasi yang tinggi, yang biasanya mencerminkan upaya

pemerintahannya memanfaatkan seigniorage akibat belum efektifnya sistem perpajakan;


lemahnya lembaga-lembaga kredit dan belum cukup berkembangnya pasar modal;
pengalaman penerapan kurs baku atau kontrol permodalan.
https://www.academia.edu/10071035/BAB_2_TEORI_PERDAGANGAN_INTERNASIO
NAL