Anda di halaman 1dari 21

A.

PENGERTIAN MASAIL FIQHIYAH


Secara etimologi, masail al-fiqhiyah merupakan susunan kata
dalam bentuk kata majmuk (idhafah) yang berasal dari kata masail
dan fiqh. Kata masail merupakan bentuk plural (jama) dari kata
mas-alah yang merupakan bentuk kata abstarak (mashdar) dari
akar kata bahasa Arab sa-ala, yas-alu, sualan wa mas-alatan yang
berarti meminta atau mempertanyakan tentang suatu perkara.1
Secara terminologis dari kata al-masail adalah perkaraperkara yang dapat dijadikan sebagai dasar pengetahuan yang
bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang komprehensif
atas perkara-perkara tersebut atau dengan kata lain data-data
faktual

yang

dapat

dijadikan

sebagai

dasar

penelitian

dan

pengkajian. Jadi masail fiqhiyah menurut pengertian bahasa adalah


permasalahan-permasalahan yang baru yang bertalian dengan
masalah-masalah

atau

jenis-jenis

hokum

(fiqh)

dan

dicari

jawabannya. Maka ia juga berarti masail fiqhiyah merupakan


persoalan hukum islam yang selalu dihadapi oleh umat islam
sehingga mereka beraktifitas dalam sehari-hari selalu bersikap dan
berperilaku sesuai dengan tuntutan islam.2
Masail

fiqhiyah

merupakan

masalah-masalah

baru

yang

muncul setelah turunnya Al-quran dan hadits dan setelah wafatnya


Rasulullah Saw yang belum ada ketentuan hukum secara pasti,
sehingga dalam mencari jawabannya memerlukan kesepakatan
para ulama dalam menentukan hukum yang diambil dari Al-quran,
Hadits, Ijma, qiyas. Masail fiqhiyyah disebut juga masail fiqhiyyah
al-haditsah (persoalan hukum Islam yang baru), atau masail
fiqhiyyah

al-ashriyyah

(persoalan

Abdurrohman Kasdi.
B. OBJEK KAJIAN MASAIL FIQHIYAH

hukum

Islam

kontemporer).

Dengan lahirnya masail fiqhiyah atau persoalan-persoalan


kontemporer,

baik

yang

diselesaikan,

bahkan

sudah

prediksi

terjawab

maupun

munculnya

sedang

persoalan

baru

mendorong kaum muslimin belajar dengan giat meneliti dan


memahami berbagai metodologi penyelesaian masalah yang dilalui
oleh para ulama baik klasik (mutaqddimin) maupun kontemporer
(muta-akhkhirin). 1 Abu Abdullah Muhammad al-Baly, al-Mathla
ala Alfazh al-Muqni (Cet. I; Maktabah al-Sawady, 1423 H), h. 368 2
Abdurrohman

Kasdi.

2011.

Masail

Fiqhiyah;

kajian

fiqh

atas

masalah-masalah kontemporer. Kudus : Nora Art. Hlm 6


Dari sudut fiqh penyelesaian suatu masalah dikembalikan
kepada sumber pokok yaitu; al-Quran dan al-Sunnah, kemudian
ijma, qiyas dan seterusnya. Sehingga produk hukum (istinbath alhukm) yang dihasilkan senantiasa berada dalam koridor yang benar.
C. TUJUAN MASAIL FIQHIYAH
Tujuan mempelajari masail fiqhiyah secara garis besar
diorientasikan kepada mengetahui jawaban proses penyelesaian
masalah melalui metodologi ilmiah, sistematis dan analisis. Dari
sudut fiqh penyelesaian suatu masalah dikembalikan kepada
sumber pokok ( Al- Quran dan Al-Sunnah), ijma, qiyas dan
seterusnya.3

Tujuan

Mempelajari

Masail

Fiqhiyah

1.

Untuk

Beribadah 2. Untuk mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia.


3. Untuk mengetahui jawaban syariat Islam tentang berbagai
persoalan-persoalan

kontemporer

4.

Untuk

menyelesaikannya

melalui metodologi ilmiah secara sistematis dan analitis. 5. Untuk


mengetahui
berkembang

dan

mengidentifikasi

ditengah

masyarakat

masalah-masalah
6.

Untuk

fiqh

mengkaji

yang
dan

merumuskan persoalan-persoalan atau permasalahan yang bersifat


amaliyah.
D. MANFAAT MASAIL FIQHIYAH

Manfaat Mempelajari Masailul Fiqh 1. Menambah wawasan


bagi intelektual dalam menyelesaikan suatu permasalahan fiqh
kontemporer.

2.

Menjawab

pertanyaan

masyarakat.4

http://www.hendraanisman.web.id/2014/03/tujuan-dan-manfaatmasail-fiqh.html 4 T.M. Hasby Ash-Shiddiq, Falsafah Hukum Islam,


(Yogyakarta : Bulan Bintang, 1974 ), Hal. 181 183
E. Ruang lingkup Masail Fiqiyah
Hukum Islam terkandung didalamnya sasaran pasti yaitu mewujudkan
kemaslahatan. Tidak ada hal yang sia-sia di dalam syariat melalui Al-Quran dan alSunnah kecuali terdapat kemaslahatan hakiki di dalamnya.
Ruang lingkup pembahasan Masail fiqhiyah meliputi :
1. Hubungan manusia dengan Allah SWT
Ilmu fiqih mengatur tentang ibadah yaitu ibadah mahdzah dan ghairu
mahdzah. Ibadah mahdzah adalah ajaran agama yang mengatur perbuatan-perbuatan
manusia yang murni mencerminkan hubungan manusia itu dengan sang pencipta
yaitu Allah SWT. Sedangkan ibadah ghairu mahdzah adalah ajaran agama yang
mengatur perbuatan antar manusia itu sendiri serta manusia dengan lingkungan.
Contoh masail fiqhiyyah yang berhubungan dengan ibadah yaitu hukum fiqh
menyikapi shalat jumat lebih dari satu tempat (taadud al jumat). Pada zaman
sekarang dalam pelaksanaan shalat jumat sering memunculkan beberapa fenomena
menarik. Semisal aturan lokasi pelaksanaan shalat jumat yang menurut sebagian
kalangan harus terpusat di satu tempat. Hal ini terkadang menimbulkan masalah
disaat keadaan menuntut sebagian masyarakat membuat lokasi alternatif. Mungkin
anggapan mereka hal itulah yang terbaik dengan alasan kondisi pemukiman, kapasitas
tempat peribadatan dan interaksi sosial di tengah-tengah mereka adalah faktor-faktor
potensial pemicu kejadian semacam itu. Menyikapi perkembangan di atas, statement
mayoritas ulama secara tegas menghukumi wajib melakukan shalat jumat di satu
tempat dalam sebuah balad atau qaryah. Al-Syafii dalam hal ini berpendapat bahwa
shalat jumat jelas tidak diperkenankan lebih dari satu tempat, baik ada hajat atau

tidak. Namun istinbath (penggalian) dari ulama syafiiyyah dalam permasalahan ini
akhirnya memperbolehkan dengan batas hajat tertentu.[2]
Faktor pemicu terjadinya taadud al-jumat di atas sangat luas pemahamannya
apabila kita dalami satu persatu. Hanya saja syariat mempermudah kita dengan
memberikan sebuah standar yang lebih fokus dengan mengembalikan kepada batasan
urfi (tradisi mayoritas masyarakat) yang ditopang rasionalisasi tinggi, yaitu semua
faktor yang sudah sampai pada tingkat kesulitan yang diluar batas kemampuan.
Artinya semisal konflik masyarakat dalam satu daerah sudah sampai menyebabkan
antar pihak sulit berkumpul hingga pada taraf hampir mustahil atau semisal kapasitas
tempat shalat yang terbatas dan tidak memungkinkan menampung seluruh masyarakat
di daerah tersebut, disitulah taadud al-jumat diperbolehkan.[3]
2. Hubungan manusia dengan sesama manusia
Sebagai contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan
sesama manusia yaitu mendonorkan organ tubuh. Pendapat pertama mengatakan
bahwa transplantasi seperti hukumnya haram. Meskipun pendonoran tersebut untuk
keperluan

medis

bahkan

sekalipun

telah

sampai

dalam

kondisi

darurat.

Dalil pendapat yang pertama yang Artinya adalah : Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan
janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.
Kelompok kedua berpendapat bahwa transplantasi hukumnya jaiz (boleh)
namun memiliki syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah : adanya kerelaan dari si
pendonor, kondisi si pendonor harus sudah baligh dan berakal, organ yang
didonorkan bukanlah organ vital yang menentukan kelangsungan hidup seperti
jantung dan paru-paru serta merupakan jalan terakhir yang memungkinkan untuk
mengobati orang yang menderita penyakit tersebut.
Dalil pendapat kedua yang artinya adalah : Mengapa kamu tidak mau
memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika
menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa
yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan

Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang


lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
Dari fatwa Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa dalam kondisi
tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka pengambilan organ tubuh orang yang
sudah meninggal untuk kepentingan orang yang masih hidup dapat dibenarkan oleh
hukum Islam dengan syarat ada izin dari yang bersangkutan dan izin dari keluarga
atau ahli waris.
3. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
Contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya
sendiri yaitu tentang hukum rebonding. Rebonding adalah meluruskan rambut agar
rambut jatuh lebih lurus dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. Pertama, rambut diberi
krim tahap pertama untuk membuka ikatan protein rambut. Kemudian rambut
dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti disetrika dengan alat pelurus rambut bersuhu
tinggi. Kedua, rambut diberi krim tahap kedua untuk mempertahankan pelurusan
rambut.
Proses rebonding melibatkan proses kimiawi yang mengubah struktur protein
dalam rambut. Proses rebonding menghasilkan perubahan permanen pada rambut
yang terkena aplikasi. Namun rambut baru yang tumbuh dari akar rambut akan tetap
mempunyai bentuk rambut yang asli. Jadi, rebonding bukan pelurusan rambut biasa
yang hanya menggunakan perlakuan fisik, tapi juga menggunakan perlakuan kimiawi
yang mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen. Inilah fakta (manath)
rebonding.
Rebonding hukumnya haram, karena termasuk dalam proses mengubah
ciptaan Allah (taghyir khalqillah) yang telah diharamkan oleh nash-nash syara. Dalil
keharamannya adalah keumuman firman Allah.
Artinya : Dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan
Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya. (QS An-Nisaa` [4] : 119).
Ayat ini menunjukkan haramnya mengubah ciptaan Allah, karena syaitan tidak
menyuruh manusia kecuali kepada perbuatan dosa. Mengubah ciptaan Allah (taghyir

khalqillah) didefinisikan sebagai proses mengubah sifat sesuatu sehingga seakan-akan


ia menjadi sesuatu yang lain (tahawwul al-syai` an shifatihi hatta yakuna ka`annahu
syaiun akhar), atau dapat berarti menghilangkan sesuatu itu sendiri (al-izalah).
Dari definisi tersebut, berarti rebonding termasuk dalam mengubah ciptaan
Allah (taghyir khalqillah), karena rebonding telah mengubah struktur protein dalam
rambut secara permanen sehingga mengubah sifat atau bentuk rambut asli menjadi
sifat atau bentuk rambut yang lain. Dengan demikian hukum rebonding adalah haram.
Selain dalil di atas, keharaman rebonding juga didasarkan pada dalil Qiyas.
Dalam hadis Nabi SAW, diriwayatkan oleh Ibnu Masud RA, dia berkata,Allah
melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan
yang minta dicabutkan bulu alisnya, serta wanita yang merenggangkan giginya untuk
kecantikan,

mereka

telah

mengubah

ciptaan

Allah.

(HR

Bukhari).

Sebagian ulama telah menyimpulkan adanya illat dalam hadis tersebut, sehingga
mereka mengambil kesimpulan umum dengan jalan Qiyas, yaitu mengharamkan
segala perbuatan yang memenuhi dua unsur illat hukum, yaitu mengubah ciptaan
Allah dan mencari kecantikan. Abu Jafar Ath-Thabari berkata dalam hadis terdapat
dalil bahwa wanita tidak boleh mengubah sesuatu dari apa saja yang Allah telah
menciptakannya atas sifat pada sesuatu itu dengan menambah atau mengurangi, untuk
mencari kecantikan, baik untuk suami maupun untuk selain suami. (Imam Syaukani,
Nailul Authar, 10/156; Ibnu Hajar, Fathul Bari, 17/41; Tuhfarul Ahwadzi, 7/91).
Adapun meluruskan atau mengeriting rambut tanpa perlakuan kimiawi yang
mengubah struktur protein rambut secara permanen, yakni hanya menggunakan
perlakuan fisik, seperti menggunakan rol plastik dan yang semisalnya, hukumnya
boleh. Sebab tidak termasuk mengubah ciptaan Allah, tapi termasuk tazayyun
(berhias) yang dibolehkan bahkan dianjurkan syara, dengan syarat tidak boleh
ditampakkan kepada yang bukan mahrom.
4. Hubungan manusia dengan alam sekitar
Islam menekankan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan
berlaku arif terhadap alam (ecology wisdom). Akan tetapi, doktrin tersebut tidak
diindahkan. Perusakan lingkungan tidak pernah berhenti. Eksplorasi alam tidak
terukur dan makin merajalela. Dampaknya, ekosistem alam menjadi limbung. Ini

tentunya sangat mengkhawatirkan. Alam akam menjadi amcaman yang serius. Fiqh
Islam pun tumpul. Fiqh belum mampu menjadi jembatan yang mengantarkan norma
Islam kepada perilaku umat yang sadar lingkungan. Sampai saat ini, belum ada fiqh
yang secara komprehensif dan tematik berbicara tentang persoalan lingkungan. Fiqhfiqh klasik yang ditulis oleh para imam mazhab hanya berbicara persoalan ibadah,
muamalah, jinayah, munakahat dan lain sebagainya. Sementara, persoalan
lingkungan (ekologi) tidak mendapat tempat yang proporsional dalam khazanah islam
klasik. Karena itulah, merumuskan sebuah fiqh lingkungan (fiqh al-biah) menjadi
sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yaitu, sebuah fiqh yang
menjelaskan sebuah aturan tentang perilaku ekologis masyarakat muslim berdasarkan
teks syari dengan tujuan mencapai kemaslahatan dan melestarikan lingkungan.[4]
Di kalangan NU masail fiqhiyyah dibahas dalam forum khusus yang disebut
Bahtsul Masail. Bahtsul masail atau lembaga bahtsul masail diniyah (lembaga
masalah-masalah keagamaan) di lingkungan NU adalah sebuah lembaga yang
memberikan fatwa-fatwa hukum keagamaan kepada umat Islam.[5]
Rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar dalam penetapan hukum
adalah :
1. Tidak boleh merusak akidah
2. Tidak boleh mengurangi/menghilangkan martabat manusia
3. Tidak boleh mendahulukan kepentingan peroangan atas kepentingan
umum
4.

Tidak

boleh

mengutamakan

hal-hal

yang

masih

samar-samar

kemanfaatanyya atas hal-hal yang sudah nyata kemanfaatannya


5. Tidak boleh melanggar ketentuan dasar akhlaq al-karimah (moralitas
manusia).[6]
Abdurrohman Kasdi, Masail Fiqhiyyah, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011,
hal.5-6.
[2]
http://velliezardiansyah.blogspot.com/2012/11/masail-fiqhiyyah.html diakses
pada tanggal 02 September 2015 pada pukul 19.22 WIB.
[1]

Qomaruzzaman, Paradigma Fiqh Masail Kontekstualisasi Hasil Bahtsul Masail,


Tim Pembukuan Manhaji Bahtsul Masail, Kediri, 2003, hal.55-56.
[4] http://velliezardiansyah.blogspot.com/2012/11/masail-fiqhiyyah.html diakses pada
tanggal 02 September 2015 pada pukul 19.22 WIB.
[3]

Imdadun Rahmat, Kritik Nalar Fiqih NU : Transformasi Paradigma Bahtsul


Masail, Lakperdas, Jakarta, 2002, hal.3.
[6] Abdurrohman Kasdi, Masail Fiqhiyyah, Nora Media Enterprise, Kudus, 2011,
hal.6.
[5]

Faktor Penyebab Terjadinya Perbedaan Pendapat dalam


Hukum

Islam

Jika kita memasuki kawasan hukum Islam (fikih), maka kita tidak
akan lepas dari terjadinya perbedaan pendapat dalam suatu
masalah. Hal ini disebabkan obyek bahasan fikih biasanya adalah
masalah-masalah ijtihadiyah, yaitu masalah yang untuk menentukan

hukumnya

harus

dilakukan

ijtihad

lebih

dahulu.

Sebagai contoh, dalam masalah hukum membaca Quran bagi orang


yang sedang haid, terjadi perbedaan pendapat di kalangan para
ulama. Ada yang mengatakan hukumnya tidak boleh, dengan
alasan bahwa pada saat sedang haid, manusia dalam keadaan tidak
suci

dan

ada

Hadis

yang

melarangnya.

Ada

pula

yang

membolehkannya, dengan alasan tidak ada dalil yang menunjukkan


ketidakbolehannya. Contoh lainnya adalah seorang istri yang ditalak
tiga oleh suaminya. Istri yang dalam keadaan seperti ini tidak boleh
dirujuk oleh suaminya kecuali jika ia telah menikah dengan suami
baru dan suaminya yang baru itu telah menceraikannya. Inilah
hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Quran surat alBaqarah (2): 230. Yang diperselisihkan adalah apakah istri dan
suaminya yang baru itu harus melakukan persetubuhan terlebih
dahulu sebelum mereka bercerai. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa sebelum diceraikan, istri harus disetubuhi dahulu oleh
suaminya

yang

baru.

Akan

tetapi

Saied

ibn

Musyayyab

berpendapat bahwa suami pertama boleh menikah kembali dengan


istrinya itu setelah diceraikan oleh suami barunya, walaupun belum
disetubuhi. Kedua contoh ini merupakan masalah yang masuk

dalam wilayah fikih. Oleh karena itu, dalam menetapkan hukumnya,


keduanya

tidak

luput

dari

terjadinya

perbedaan

pendapat.

Faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat dalam fikih sangat


banyak,

sehingga

di

antara

para

ulama

terjadi

perbedaan

argumentasi tentang faktor apa saja yang menjadi penyebab


terjadinya perbedaan-perbedaan itu dalam fikih. Dalam makalah ini
penulis

mencoba

menggabung

argumentasi-argumentasi

ulama

para

tersebut.

Di antara faktor penyebab terjadinya perbedaan pendapat itu


adalah:
.

1.

(terpercaya) tidaknya seorang perawi, lemah tidaknya matan dan


sanad suatu Hadis jika dibandingkan dengan matan dan sanad lain.
Ada seorang mujtahid yang menggunakan suatu Hadis sebagai
hujjah karena perawinya ia anggap dapat dipercaya, tetapi oleh
mujtahid lainnya Hadis tersebut ditolak, karena, menurutnya,
perawi Hadis itu tidak dapat dipercaya. Kesahihan suatu nash
(dalam hal ini Hadis) kadang-kadang diperdebatkan. Ada ulama
yang mau menerima kesahihan suatu nash dan ada pula yang
menolaknya. Hal ini terjadi karena mereka berbeda pendapat dalam
menilai
.2.
) dalam surah al-Baqarah (2): 228 mempunyai 2 arti, suci dan
haid, sehingga dalam menafsirkan ayat tersebut para mujtahid
berbeda pendapat. Di samping itu, perbedaan pemahaman ini juga
disebabkan perbedaan kemampuan mereka satu sama lain. (), dan
kata majazi (kiasan), sehingga arti yang terkandung dalam nash itu
tidak jelas. Terhadap nash yang demikian ini, para ulama berbedabeda dalam memahaminya. Misalnya kata Dalam suatu nash, baik
Quran

maupun

Hadis,

kadang-kadang

terdapat

kata

yang

mengandung

makna

ganda

3.

Dalam suatu masalah kadang-kadang terdapat dua atau lebih nash


yang bertentangan, sehingga hukum yang sebenarnya dari masalah
tersebut sulit diputuskan. Untuk memutuskannya biasanya para
ulama memilih mana nash yang lebih kuat () di antara nash-nash
itu, atau mencari titik temu di antara nash-nash tersebut. Dalam
mengambil keputusan dan mencari titik temu inilah biasanya para
ulama

berbeda

pendapat.

.4.
Para mujtahid, dalam memilih suatu Hadis atau mencari suatu dalil,
mempunyai cara pandang dan metode yang berbeda-beda. Suatu
Hadis, yang oleh seorang mujtahid dijadikan sebagai dalil dalam
suatu masalah, mungkin saja ditolak oleh mujtahid lain dalam
masalah yang sama. Hal ini disebabkan sudut pandang mereka
terhadap Hadis itu tidak sama. Ada mujtahid yang mengambil
perkataan atau fatwa seorang sahabat Nabi dalam memecahkan
suatu masalah, tetapi ada pula mujtahid yang menolaknya, tidak
mau mengambil fatwa sahabat tersebut. Begitu pula ada mujtahid
yang menjadikan amaliah penduduk Medinah sebagai hujjah, tetapi
oleh mujtahid lainnya ditolak. Hal ini karena mereka mempunyai
metode

yang

berbeda

dalam

menentukan

suatu

hukum.

5.
Di antara para sahabat, kemungkinan besar, banyak yang koleksi
Hadisnya tidak sama dengan sahabat lainnya. Hal ini karena tidak
mungkin

mereka

selalu

bersama-sama

berkumpul

atau

mendampingi Nabi. Mungkin saja pada saat sahabat yang satu


sedang bersama Nabi sedangkan sahabat yang lain tidak hadir,
sehingga pada saat Nabi mengemukakan suatu masalah ia tidak
tahu. Oleh karena di antara para sahabat sendiri koleksi Hadisnya

tidak sama, maka sudah barang tentu di antara para mujtahid pun
akan terjadi hal yang sama. Perbedaan koleksi Hadis yang dimiliki
para mujtahid ini pada gilirannya akan menyebabkan mereka
berbeda

pendapat.

6.
=sebab) dari suatu hukum juga merupakan salah satu sebab
terjadinya perbedaan pendapat dalam fikih. Sebagai contoh, dalam
Islam kita diperintahkan untuk berdiri jika bertemu dengan usungan
jenazah. Para mujtahid berbeda pendapat tentang siapa jenazah itu,
orang Islam, orang Kafir, atau kedua-duanya. Sebagian besar
mujtahid berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah keduaduanya,

jenazah

orang

Islam

dan

Kafir.

Jadi,

umat

Islam

diperintahkan untuk berdiri jika bertemu dengan usungan jenazah,


baik jenazah orang Islam maupun orang Kafir. Akan tetapi ada yang
berpendapat bahwa perintah untuk berdiri itu hanya terhadap
jenazah orang Kafir. Hal ini karena di dalam sebuah Hadis
diterangkan bahwa pada suatu hari, ketika sedang berjalan,
Rasulullah saw. bertemu dengan jenazah orang Yahudi, lalu beliau
berhenti dan berdiri.Perselisihan para mujtahid mengenai ilat (
Sikap Kita Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat Dalam
Hukum

Islam

Perbedaan pendapat mengenai masalah-masalah yang ada dalam


fikih harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Kita tidak boleh
bersikap apriori dengan langsung menyalah-kan satu pendapat dan
membenarkan pendapat lainnya. Sikap apriori yang semacam ini
dapat memicu terjadinya perpecahan di kalangan umat. Masalah
yang biasanya menimbulkan perbedaan pendapat dalam fikih
adalah masalah furuiyah (cabang), bukan masalah pokok. Oleh

karena itu, mempertajam pertentangan atau perbedaan pendapat


dalam maslah cabang ini hanyalah membuang-buang waktu dan
energi.
Sebenarnya di antara para imam mazhab sendiri tidak ada satu pun
yang merasa pendapatnya paling benar. Mereka tidak saling
menyalahkan, apalagi menjatuhkan. Bahkan di antara mereka tidak
ada yang menyuruh orang untuk hanya mengikuti pendapat
mazhabnya, karena mereka menyadari bahwa mereka hanyalah
manusia biasa yang tidak luput dari salah dan lupa. Imam Malik
pernah

berkata

Saya ini tidak lain, melainkan manusia biasa. Saya boleh jadi salah
dan boleh jadi benar. Maka oleh sebab itu, lihatlah dan pikirlah baikbaik pendapat saya. Apabila sesuai dengan Kitab (Al Quran) dan
Sunnah, maka ambillah ia dan jika tidak sesuai dengan Kitab dan
Sunnah,
Imam

maka
Syafii

pernah

tinggalkanlah
berkata

kepada

ia.

Imam

Ar-Rabi:

Apa saja yang telah berlaku menurut sunnah Rasulullah s.a.w.


padahal

bersalahan

dengan

mazhabku,

maka

tinggalkanlah

mazhabku itu karena sunnah itulah mazhab yang sebenarnya.


Jadi jelaslah bahwa di kalangan imam mazhab sendiri tidak terjadi
perselisihan, apalagi perpecahan. Mereka sebenarnya telah benarbenar

memahami

Hadis

Rasulullah

saw.

yang

berbunyi:

Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah suatu rahmat.


Di sini Rasulullah memberikan isyarat kepada umatnya bahwa
perbedaan pendapat itu pasti terjadi di antara sesama umat Islam.
Dalam Hadis itu pula beliau mengajarkan umatnya bagaimana
menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Di sini tam-pak bahwa

beliau ingin agar perbedaan pendapat itu justru mempersatukan


umat, bu-kan masalah memecah-belah mereka. Carilah hikmah di
balik perbedaan-perbedaan itu.
Pengertian Ikhtilaf
Ikhtilaf menurut bahasa adalah perbedaan. Berasal dari bahasa Arab yang asal
katanya adalah khalafa, yakhlufu, khilafa, mukhalafah dan ikhtalafa, yakhtalifu,
ikhtilafa yang makna keduanya, tidak adanya kecocokan. Dua perkara berbeda
apabila tidak ada kecocokan.1[1] Maknanya lebih umum dari pada al-didd
(lawan), sebab setiap hal yang berlawanan pasti akan saling bertentangan.2[2]
Manusia yang sedang berdebat (berbeda pendapat) seringkali berkobar api
amarah di dadanya. Mereka saling berbantah yang biasa disebut dengan perang
mulut. Terhadap perkara seperti ini Allah menegaskan dalam Alquran:





















3
[3] .

Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka


kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.




[4]4.













Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi
mereka senantiasa berselisih pendapat.

[5]5.







Sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda pendapat.




[6]6.















Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa
yang mereka perselisihkan itu.

Pernyataan Allah dalam beberapa ayat tersebut di atas sering terjadi pada diri
manusia, karena ikhtilaf memang sering kali menimbulkan perbadaan total, baik
dalam ucapan, pendapat, sikap maupun pendirian.
Ikhtilaf menurut istilah adalah berlainan pendapat antara dua atau beberapa orang
terhadap suatu obyek (masalah) tertentu, baik berlainan dalam bentuk tidak sama
ataupun bertentangan secara diametral.7[7]

1
2
3
4
5
6
7

Jadi, ikhtilaf adalah tidak samanya atau bertentangannya penilaian hukum


terhadap suatu obyek hukum. Ketika perbedaan tersebut dikaitkan dengan
konteks mazhab hukum Islam berarti tidak samanya atau bertentangannya
penilaian hukum terhadap suatu obyek hukum oleh masing-masing ulama
mazhab.
Ikhtilaf yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah perbedaan pendapat di
antara fukaha dalam menetapkan sebagian hukum Islam yang bersifat furuiyah,
bukan pada masalah yang bersifat ushuliyah, disebabkan perbedaan pemahaman
atau perbedaan metode dalam menetapkan suatu hukum.
2. Sebab-sebab Timbulnya Ikhtilaf
Dalam sejarah perkembangan hukum Islam, perbedaan pendapat mengenai
penetapan hukum telah terjadi di kalangan para sahabat Nabi ketika beliau masih
hidup. Tetapi perbedaan pendapat itu segera dapat dipertemukan dengan
mengembalikannya kepada Rasulullah SAW. Setelah beliau wafat, maka
perbedaan pendapat sering timbul di kalangan sahabat dalam menetapkan hukum
kasus tertentu, misalnya Zaid ibn Tsabit, Ali, dan Ibn Masud memberikan harta
warisan antara al-jadd (kakek) dan ikhwah (saudara), sedangkan Abu Bakar tidak
memberikan warisan kepada para saudara si mayat, jika mereka mewarisi
bersama-sama dengan kakek si mayat, karena kakek dia jadikan seperti ayah.8[8]
Perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi itu, relatif tidak banyak
jumlahnya, karena masalah yang terjadi pada masa itu tidak sebanyak yang
timbul pada generasi berikutnya.
Terjadinya perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum Islam, di samping
disebabkan oleh faktor yang bersifat manusiawi, juga oleh faktor lain karena
adanya segi-segi khusus yang bertalian dengan agama. Faktor penyebab itu
mengalami perkembangan sepanjang pertumbuhan hukum pada generasi
berikutnya. Makin lama makin berkembang sepanjang sejarah hukum Islam,
sehingga kadang-kadang menimbulkan pertentangan keras, utamanya di kalangan
orang awam.
Mahmud Ismail Muhammad Misyal dalam bukunya, Atsar al-Khilaf al-Fiqhi fi
al-Qawaid al-Mukhtalif fiha 9[9] menyebutkan ada empat sebab pokok terjadinya
ikhtilaf di kalangan fukaha: (a) Perbedaan dalam penggunaan kaidah ushuliyah
dan penggunaan sumber-sumber istinbath (penggalian) lainnya, (b) Perbedaan
yang mencolok dari aspek kebahasaan dalam memahami suatu nash, (c)
Perbedaan dalam ijtihad tentang ilmu hadis, (d) Perbedaan tentang metode
kompromi hadis (al-jamu) dan mentarjihnya (al-tarjih) yang secara zahir
maknanya bertentangan.
8
9

Sedangkan Muhammad al-Madani dalam bukunya, Asbab Ikhtilaf al-Fuqaha,


sebagaimana dikutip Huzaemah,10[10] membagi sebab-sebab ikhtilaf menjadi
empat macam juga, yaitu: (a) Pemahaman Alquran dan Sunnah Rasulullah, (b)
Sebab-sebab khusus tentang Sunnah Rasulullah, (c) Sebab-sebab yang berkenaan
dengan kaidah-kaidah ushuliyah, (d) Sebab-sebab yang khusus mengenai
penggunaan dalil di luar Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW.
Sebab-sebab yang dikemukakan dua ulama tersebut tidak jauh berbeda, demikian
juga dalam buku lain yang penulis sempat baca.11[11] Penulis akan
menspesifikkan penjelasan sebab-sebab ikhtilaf tersebut sebagai berikut:
a. Pemahaman Alquran dan Sunnah
Sebagaimana kita maklumi bahwa sumber utama syariat Islam adalah
Alquran dan Sunnah Rasul. Keduanya berbahasa Arab. Di antara kata-katanya
ada yang memiliki arti lebih dari satu (musytarak). Selain itu, dalam
ungkapannya terdapat kata umum tetapi yang dimaksudkan khusus. Ada pula
perbedaan perspektif dari aspek lughawi (kebahasaan) dan urfi (tradisi) serta
dari segi manthuq, mafhum dan lainnya.
Berikut ini akan dikemukakan contoh mengenai kata musytarak dalam nas
Alquran yang meimbulkan ikhtilaf:




[12]12.








Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'.

Sebagian ulama menafsiri kata quru dengan suci, sedangkan yang lain
menafsiri haid. Dengan demikian, ulama Malikiyah dan Hanabilah
berpendapat bahwa wanita yang ditalak harus beridah dengan tiga kali suci,
sedangkan kalangan ulama Hanafiyah dengan tiga kali haid.13[13]
Selanjutnya akan dikemukakan contoh pemahaman terhadap Sunnah terkait
dengan isinya yang umum dan khusus.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang nisab zakat pertanian. Imam
Abu Hanifah mengatakan bahwa setiap jenis hasil pertanian yang sedikit atau
banyak wajib dikeluarkan zakatnya berdasarkan pada keumuman suatu
hadis:14[14]

10
11
12
13
14

















15


[15] .






Sesuatu (hasil pertanian) yang pengairannya dengan air hujan, air sumber atau
menyerap air hujan, zakatnya sepersepuluh, sedangkan yang diairi dengan jasa unta
zakatnya setengah dari sepersepuluh.

Sedangkan pendapat jumhur fukaha berbeda dengan pendapat Imam Abu


Hanifah tersebut bahwa hasil pertanian yang tidak mencapai satu nisab tidak
wajib dikeluarkan zakatnya. Satu nisab adalah lima awsaq ( 300 gantang).
Mereka berhujah bahwa hadis tersebut dikhususkan dengan hadis Abu Said
Al-Khudri bahwa Nabi SAW bersabda:


[16]16.









Sesuatu yang kurang dari lima awsaq tidak wajib zakat.

Golongan Hanafi menakwili bahwa hadis ini tertuju pada zakat harta
perdagangan, bukan pertanian.17[17]
b. Sebab-sebab Khusus Mengenai Sunnah Rasul
Sebab-sebab khusus mengenai Sunnah Rasul yang menonjol antara lain: (1)
Perbedaan dalam penerimaan hadis; sampai atau tidaknya suatu hadis kepada
sebagian sahabat, (2) Perbedaan dalam menilai periwayatan hadis, (3)
Perbedaan mengenai kedudukan kepribadian Rasul.
1) Perbedaan dalam Penerimaan Hadis
Para sahabat yang menerima dan menyampaikan hadis, kesempatannya
tidak sama. Ada yang banyak menghadiri majis Rasul, tentunya mereka
inilah yang banyak menerima hadis sekaligus meriwayatkannya. Tetapi
bayak pula di antara mereka yang sibuk dengan urusan-urusan pribadinya,
sehingga jarang menghadiri majlis Rasul, padahal dalam majlis itulah
Rasul menjelaskan masalah-masalah yang ditanyakan atau menjelaskan
hukum sesuatu; memerintah atau melarang dan menganjurkan sesuatu.
Contoh mengenai ini sebagai berikut:







Aisyah mendengar bahwa Abdullah ibn Umar memberi fatwa bahwa wanita
yang mandi janabah hendaknya membuka (mengudar) sanggulnya.

Setelah mendengar fatwa ini Aisyah merasa heran dan berkata:


15
16
17




- -









[18]18 .







Aisyah berkata, Sungguh aneh Ibn Umar ini memerintahkan kaum wanita
apabila mereka mandi janabah untuk mengudar sanggul. Jika demikian, apakah
tidak lebih baik menyuruh mereka untuk mencukur rambutnya saja?
Sesungguhnya aku pernah mandi bersama Rasulullah SAW dari satu bejana dan
aku menyiram rambut kepalaku tidak lebih dari tiga siraman.

Contoh kasus pada kalangan ulama mujtahid, yaitu tentang Abu Hanifah
dan kawan-kawannya dalam memutuskan suatu hukum. Ada suatu cerita
dari Abdul Warits ibn Said: Pada suatu waktu saya berada di Makkah
bertemu dengan Abu Hanifah, Ibn Abi Laila dan Ibn Syabramah. Saya
berkata kepada Abu Hanifah: Bagaimana pendapatmu tentang orang
menjual sesuatu dengan syarat tertentu? Abu Hanifah menjawab: Jual
belinya batal dan syaratnya juga batal. Kemudian saya bertanya kepada
Ibn Abi Laila lalu ia menjawab: Jual belinya sah dan syaratnya batal.
Kemudian saya bertanya kepada Ibn Syabramah lalu ia menjawab: Jual
belinya sah dan syaratnya juga sah. Lalu saya berucap: Subhanallah!
Tiga fukaha Irak berbeda pendapat begitu tentang satu masalah.
Saya kembali kepada mereka, menanyakan alasan mereka masingmasing. Abu Hanifah berkata: Aku tidak tahu apa alasan mereka berdua,
yang jelas saya menerima hadis dari Amr ibn Syuab dari ayahnya dari
kakeknya bahwa Nabi SAW melarang jual beli bersyarat; jual belinya
batal syaratnya juga batal.
Saya kembali kepada Ibn Abi Laila menginfokan tentang itu, dia berkata:
Aku tidak tahu alasan mereka berdua, namun yang jelas aku menerima
hadis dari Hisyam ibn Urwah dari bapaknya dari Aisyah ia berkata, Aku
pernah disuruh Rasulullah membeli budak dan ada syarat dari
keluarganya supaya nanti dimerdekakan, maka Nabi SAW membatalkan
syarat itu dan meneruskan jual itu. Jadi jual beli itu sah dan syaratnya
batal.
Kemudian saya mendatangi Ibn Syabramah mengabarkan tentang hal itu,
ia berkata: Aku tidak tahu alasan mereka berdua, aku pernah mendengar
tentang hadis Jabir bahwa ia pernah menjual unta kepada Nabi SAW lalu
beliau mensyaratkan agar unta itu dibawakannya ke Madinah. Berarti jual
beli itu sah dan syarat juga sah.19[19]
18
19

2) Perbedaan dalam Menilai Periwayatan Hadis


Perbedaan pendapat di kalangan fukaha terkait dengan hadis dari berbagai
segi. Perbedaan itu terjadi setidak-tidaknya ada tiga sebab. 20[20] Pertama,
perbedaan mereka tentang keterbatasannya dalam memiliki kuantitas
koleksi hadis secara penuh, sebagaimana contoh di atas. Sebagaimana kita
maklum bahwa tidak semua tokoh-tokoh sahabat Nabi selalu mengetahui
terhadap semua apa yang disabdakan Nabi pada suatu waktu. Kedua,
perbedaan mereka dalam memberi penilaian terhadap kualitas suatu hadis.
Ketiga, perbedaan mereka dalam menerima-tidaknya terhadap kualitas
hadis daif.
3) Perbedaan tentang Kedudukan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW di samping keberadaannya sebagai Rasul, juga sebagai
manusia biasa. Karena itu, tindakan dan ucapan yang dilakukan beliau
tidak sama kedudukannya kalau dikaitkan dengan keberadaan pribadinya
ketika melakukannya. Misalnya mengenai hadis berikut:


[21]21.







Barangsiapa menggarap tanah tak bertuan, maka dialah pemiliknya.

Mengenai hadis ini ulama berbeda pendapat tentang apakah hal itu
dinyatakan oleh Rasul sebagai kepala negara. Jika demikian, tidak setiap
kepemilikan tanah yang belum ada pemiliknya itu secara otomatis
menjadi miliknya, melainkan harus melalui prosedur yang berlaku pada
waktu itu dan pada negara di mana orang itu hidup. Sebaliknya, jumhur
fukaha memandang hadis yang dinyatakan Rasul itu dalam kedudukannya
sebagai Rasul, berpendapat bahwa kepemilikan tanah mati itu tidak lagi
harus melalui prosedur-prosedur negara tertentu, tetapi secara otomatis
menjadi milik penggarap.22[22]
c.

Sebab-sebab Berkenaan dengan Kaidah Ushuliyah


Kaidah ushuliyah merupakan metodologi hukum Islam yang digunakan oleh
ulama untuk menggali suatu hukum pada abad kedua hijriyah. Keberadaannya
efektif untuk menghasilkan suatu produk hukum. Metodologi ini digagas oleh
Imam Syafii, bermula dari sebuah inspirasi setelah beliau menelaah keilmuan
yang diwarisi oleh para sahabat Nabi, tabiin dan ulama fikih sebelumnya,
terutama ketika adanya persinggungan yang dinamis antara model fikih
Madinah yang diperoleh dari Imam Malik dengan fikih Irak yang diperoleh
dari Imam Ibn Al-Hasan, demikian juga fikih Makkah yang beliau pernah
hidup dan bermukim di situ. Hal itulah yang melatarbelakangi Imam Syafii
20
21
22

mengadakan standarisasi untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang
salah. Standarisasi itulah yang disebut ushul fiqh23[23] (usul fikih).
Sejarawan, seperti Ibn Khaldun mencatatat bahwa orang pertama kali yang
mengkodifikasi ilmu usul fikih adalah Imam Syafii. Sebelum Imam Syafii
tidak didapati secara jelas di kalangan ulama mujtahid adanya model
penggunaan usul fikih
dalam ijtihad mereka, artinya mereka tidak
mempublikasikan model usul fikih yang mereka gunakan dalam berijtihad.
Imam Syafiilah satu-satunya orang yang memulainya dan memiliki pengaruh
setelah itu sehingga banyak bermunculan kitab-kitab usul fikih di tataran
mazhab-mazhab yang ada dengan sistematika penulisannya menurut
perkembangan zaman. Banyak dari kalangan peneliti berpendapat bahwa usul
fikih kalangan Hanafi berpijak pada apa yang digagas Imam Syafii.24[24]
Berikut akan dikemukakan contoh ikhtilaf di kalangan ulama dalam
memahami suatu teks berdasarkan metode mereka masing-masing:

25
[25] .
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan
mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang
menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka
buat selama-lamanya. dan mereka itulah orang-orang yang fasik.

2]26.

[6
Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari surat An-Nur ayat ke-4 itu dapat disimpulkan bahwa hukuman bagi
orang yang menuduh zina tanpa membuktikan dengan empat orang saksi
adalah : (a) dera 80 kali, (b) dicabut haknya untuk menjadi saksi apapun, (c)
orang itu dinyatakan fasik. Sedangkan ayat ke-5 mengkhususkan dengan
pengecualian ayat ke-4 itu. Para ulama berbeda pendapat tentang cakupan
pengecualian itu. Mayoritas ulama memahami pengecualian itu menyangkut
ketiganya, hanya saja karena ayat ini menyatakan sesudah itu dan yang
dimaksud adalah sesudah pemcambukan, maka pengecualian itu hanya
mencabut sanksi b dan c. Dengan demikian, apabila terbukti dia bertaubat dan
melakukan perbaikan, maka kesaksiannya dapat diterima dan dia tidak lagi
wajar dinamai fasik.
23
24
25
26

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa pengecualian itu hanya tertuju kepada
yang terakhir disebut, walau dia bertaubat dan berbuat baik, kesaksiannya
tetap tidak dapat diterima. Sanksi pencambukan yang disebut di sini, ada yang
memahaminyaantara lain Abu Hanifahsebagai hak Allah. Sehingga yang
dicemarkan nama baiknya tidak berhak memaafkan dan yang bersangkutan
tetap harus dicambuk. Sedangkan Imam Malik dan Imam Syafii menilainya
hak yang dicemarkan namanya, sehingga bila ia memaafkan maka gugurlah
pencambukan itu.27[27]
d. Perbedaan Penggunaan Dalil di Luar Alquran dan Sunnah
Perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih juga disebabkan perbedaan
penggunaan dalil di luar Alquran dan Sunnah, seperti amal ahli madinah,
dijadikan dasar fikih oleh Imam Malik, tidak dijadikan dasar oleh Imam yang
lain. Begitu pula perbedaan dalam penggunaan ijmak, kias, istislah, istihsan,
sad adz-dzariah, tradisi dan sebagainya, yang oleh sebagian ulama dijadikan
dasar, sedangkan sebagian ulama yang lain tidak menjadikannya dasar dalam
menggali hukum.
3.

Hikmah Adanya
Masyarakat

Ikhtilaf dan Implementasinya dalah Kehidupan

Khilafiah dalam hukum Islam merupakan khazanah. Bagi orang yang memahami
watak-watak kitab fikih yang memuat masalah-masalah yang diperselisihkan
hukumnya, sering menganggap bahwa fikih itu sebagai pendapat pribadi yang
ditransfer ke dalam agama. Padahal jika mereka mau mengkaji secara mendalam,
pasti mereka menemukan bahwa ketentuan hukum Islam itu bersumber dari AlQuran dan Sunnah. Ikhtilaf merupakan suatu hal yang lumrah dalam dunia fikih,
sehingga benar apa yang dikatakan Qatadah: Barangsiapa tidak mengetahui
ikhtilaf maka hudungnya belum pernah mencium bau fikih, Hisyam Ar-Razi
juga mengatakan: Barangsiapa tidak mengetahui perselisihan fukaha, maka ia
bukan ahli fikih.28[28]
Fikih sebagai hasil ijtihad ulama dan tidak lepas dari sumbernya, yaitu Alquran
dan Sunnah, otomatis akan mengandung keragaman hasil ijtihad itu. Namun
demikian, nampak pada jati diri ulama mazhab adanya sikap sportif dan toleran
apabila dihadapkan pada fenomina tersebut, serta tetap konsisten kepada prinsip
firman Allah bahwa apabila terjadi perselisihan hendaknya dikembalikan kepada
Allah dan Rasul-Nya.
4. Tujuan Mengetahui Sebab Terjadinya Ikhtilaf
27
28

Mengetahui sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat para imam mazhab


sangat penting untuk membantu kita agar keluar dari taklid buta, karena kita akan
mengetahui dalil-dalil yang mereka pergunakan serta jalan pemikiran mereka
dalam penetapan hukum suatu masalah. Dengan demikian, akan terbuka
kemungkinan untuk memperdalam kajian tentang hal yang diperselisihkan,
meneliti sistem dan cara yang baik dalam menggali suatu hukum, juga dapat
mengembangkan kemampuan dalam hukum fikih bahkan akan terbuka
kemungkinan untuk menjadi mujtahid.