Anda di halaman 1dari 22

A.

B.
C.
D.
E. MANIFESTASI KLINIK
Beberapa manifestasi klinik yang terlihat diantaranya :
Fibroadenoma

Mammary
dysplasia
(fibrocystic disease
of the breast)
Galactocel

Tumor Phylloides

Gejala dan Tanda Kanker Payudara


Adanya benjolan di ketiak
Adanya benjolan di payudara
Adanya penebalan kulit d sekitar payudara

Muncul rasa nyeri pada payudara


Cairan puting susu meningkat secara mendadak
Retraksi putting dan kulit
Oedema kulit di sekitar payudara

F. DIAGNOSIS
1) Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik
Keluhan Utama
1. Benjolan di payudara
2. Kecepatan tumbuh dengan/tanpa rasa sakit
3. Nipple discharge, retraksi puting susu, dan krusta
4. Kelainan kulit, dimpling, peau dorange, ulserasi,venektasi
5. Benjolan ketiak dan edema lengan
Keluhan Tambahan
1. Nyeri tulang (vertebra, femur)
2. Sesak dan lain sebagainya
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan status lokalis,
regionalis, dan sistemik.Biasanya pemeriksaan fisik dimulai
dengan menilai status generalis (tanda vital-pemeriksaan
menyeluruh tubuh) untuk mencari kemungkinan adanya
metastase dan atau kelainan medis sekunder.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan untuk menilai status
lokalis dan regionalis.Pemeriksaan ini dilakukan secara
sistematis, inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakukan dengan
pasien duduk, pakaian atas dan bra dilepas dan posisi lengan di
samping, di atas kepala dan bertolak pinggang.Inspeksi pada
kedua payudara, aksila dan sekitar klavikula yang bertujuan
untuk mengidentifikasi tanda tumor primer dan kemungkinan
metastasis ke kelenjar getah bening.( lihat gambar 1 )

Palpasi payudara dilakukan pada pasien dalam posisi


terlentang (supine), lengan ipsilateral di atas kepala dan
punggung diganjal bantal. kedua payudara dipalpasi secara
sistematis, dan menyeluruh baik secara sirkular ataupun radial.
Palpasi aksila dilakukan dilakukan dalam posisi pasien duduk
dengan lengan
pemeriksa menopang lengan pasien. Palpasi juga dilakukan
pada infra dan supraklavikula.

Kemudian dilakukan pencatatan hasil pemeriksaan fisik


berupa :

Status generalis (Karnofsky Performance Score)


Status lokalis :
- Payudara kanan atau kiri atau bilateral
- Massa tumor :
Lokasi
Ukuran
Konsistensi
Bentuk dan batas tumor
Terfiksasi atau tidak ke kulit, m.pectoral atau dinding

dada
Perubahan kulit
Kemerahan, dimpling, edema/nodul satelit
Peau de orange, ulserasi
Perubahan puting susu/nipple
Tertarik
Erosi
Krusta
Discharge
Status kelenjar getah bening
o Kgb aksila: Jumlah, ukuran, konsistensi, terfiksir
terhadap sesama atau jaringan sekitar
o Kgb infraklavikula
o Kgb supraklavikula
Pemeriksaan pada daerah metastasis
o Lokasi : tulang, hati, paru, otak
o Bentuk
o Keluhan
2) Pemeriksaan Laboratorium
Dianjurkan:
Pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan kimia

darah sesuai dengan perkiraan metastasis


Tumor marker : apabila hasil tinggi, perlu diulang
untuk follow up

3) Pemeriksaan Pencitraan
- Mamografi Payudara

Mamografi adalah pencitraan menggunakan sinar X


pada jaringan payudara yang dikompresi.Mamogram adalah
gambar hasil mamografi.Untuk memperoleh interpretasi
hasil pencitraan yang baik, dibutuhkan dua posisi
mamogram dengan proyeksi berbeda 45 derajat
(kraniokaudal dan mediolateralobligue).
Mamografi dapat bertujuan skrining kanker payudara,
diagnosis kanker payudara, dan follow up / kontrol dalam
pengobatan. Mammografi dikerjakan pada wanita usia
diatas 35 tahun, namun karena payudara orang Indonesia
lebih padat maka hasil terbaik mamografi sebaiknya
dikerjakan pada usia >40 tahun. Pemeriksaan Mamografi
sebaiknya dikerjakan pada hari ke 7-10 dihitung dari hari
pertama masa menstruasi; pada masa ini akan mengurangi
rasa tidak nyaman pada wanita pada waktu di kompresi dan
akan memberi hasil yang optimal. Untuk standarisasi
penilaian dan pelaporan hasil mamografi digunakan BIRADS
yang dikembangkan oleh American College of Radiology.
Tanda primer berupa:
1. Densitas yang meninggi pada tumor
2. Batas tumor yang tidak teratur oleh karena adanya
proses infiltrasi ke jaringan sekitarnya atau batas yang
3.
4.
5.
6.

tidak jelas (komet sign).


Gambaran translusen disekitar tumor
Gambaran stelata.
Adanya mikrokalsifikasi sesuai kriteria Egan
Ukuran klinis tumor lebih besar dari radiologis.

Tanda sekunder :
1. Retraksi kulit atau penebalan kuli
2. Bertambahnya vaskularisasi

3. Perubahan posisi putting


4. Kelenjar getah bening aksila (+)
5. Keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak
teratur
6. Kepadatan jaringan sub areolar yang berbentuk utas.

4) USG Payudara
Salah satu kelebihan USG adalah dalam mendeteksi massa
kistik.
Gambaran USG pada benjolan yang harus dicurigai ganas
di

antaranya:
Permukaan tidak rata
Taller than wider
Tepi hiperekoik
Echo interna heterogen
Vaskularisasi meningkat, tidak beraturan dan masuk ke
dalam tumor membentuk sudut 90 derajat.

Penggunaan USG untuk tambahan mamografi


meningkatkan akurasinya sampai 7,4 %. Namun USG tidak
dianjurkan untuk digunakan sebagai modalitas skrining
oleh karena didasarkan penelitian ternyata USG gagal
menunjukan efikasinya.
5) MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan CT-SCAN
Walaupun dalam beberapa hal MRI lebih baik daripada
mamografi, namun secara umum tidak digunakan sebagai
pemeriksaan skrining karena biaya mahal dan memerlukan
waktu pemeriksaan yang lama. Akan tetapi MRI dapat
dipertimbangkan pada wanita muda dengan payudara
yang padat atau pada payudara dengan implant,
dipertimbangkan pasien dengan risiko tinggi untuk
menderita kanker payudara. (level 3)

6) Diagnosa Sentinel Node


Biopsi kelenjar sentinel ( Sentinel lymph node
biopsy ) adalah mengangkat kelenjar getah bening aksila
sentinel sewaktu operasi. (Kelenjar getah bening sentinel
adalah kelenjar getah bening yang pertama kali menerima
aliran limfatik dari tumor, menandakan mulainya terjadi
penyebaran dari tumor primer).
Biopsi kelenjar getah bening sentinel dilakukan
menggunakan blue dye, radiocolloid, maupun kombinasi
keduanya. Bahan radioaktif dan atau blue dye disuntikkan
disekitar tumor; Bahan tersebut mengalir mengikuti aliran
getah bening menuju ke kelenjar getah bening ( senitinel ).
Ahli bedah akan mengangkat kelenjar getah bening
tersebut dan memintah ahli patologi untuk melakukan
pemeriksaan histopatologi. Bila tidak ditemukan sel kanker
pada kelenjar getah bening tersebut maka tidak perlu
dilakukan diseksi kelenjar aksila.Teknologi ideal adalah
menggunakan teknik kombinasi blue dye dan radiocolloid.
Perbandingan rerata identifikasi kelenjar sentinel antara
blue dye dan teknik kombinasi adalah 83% vs 92%.
Namun biopsi kelenjar sentinel dapat dimodifikasi
menggunakan teknik blue dye saja dengan isosulfan blue
ataupun methylene blue. Methylene blue sebagai teknik
tunggal dapat mengindentifikasi 90% kelenjar sentinel.
Studi awal yang dilakukan RS Dharmais
memperolehidentifikasi sebesar 95%. Jika pada akhir studi
ini diperoleh angka identifikasi sekitar 90% maka
methylene blue sebagai teknik tunggal untuk identifikasi
kelenjar sentinel dapat menjadi alternatif untuk rumah
sakit di Indonesia yang tidak memiliki fasilitas radiocoloid.
(level 3)

7) Pemeriksaan Patologi Anatomi


Pemeriksaan patologi pada kanker payudara meliputi
pemeriksaan sitologi, morfologi (histopatologi),
pemeriksaan immunohistokimia, in situ hibridisasi dan
gene array (hanya dilakukan pada penelitian dan kasus
khusus).
Cara Pengambilan Jaringan:
Biopsi Jarum Halus, Biopsi Apus dan Analisa Cairan
Biopsi jarum halus, biopsi apus dan analisa cairan akan
menghasilkan penilaian sitologi. Biopsi jarum halus atau
yang lebih dikenal dengan FNAB dapat dikerjakan secara
rawat jalan (ambulatory). Pemeriksaan sitologi merupakan
bagian dari triple diagnostic untuk tumor payudara yang
teraba atau pada tumor yang tidak teraba dengan bantuan
penuntun pencitraan. Yang bisa diperoleh dari pemeriksaan
sitologi adalah bantuan penentuan jinak/ganas; dan
mungkin dapat juga sebagai bahan pemeriksaan ER dan
PgR, tetapi tidak untuk pemeriksaan HER2Neu.
Tru-cut Biopsi atau Core Biopsy
Tru-cut biopsi dan core biopsyakan menghasilkan
penilaian histopatologi. Tru-cut biopsi atau core biopsy
dikerjakan dengan memakai alat khusus dan jarum khusus
no G12-16. Secara prinsip spesimen dari core biopsysama
sahihnya dengan pemeriksaan biopsi insisi.
Biopsi Terbuka dan Spesimen Operasi
Biopsi terbuka dan spesimen operasi akan
menghasilkan penilaian histopatologi. Biopsi terbuka
dengan menggunakan irisan pisau bedah dan mengambil
sebagian atau seluruh tumor, baik dengan bius lokal atau
bius umum. Pemeriksaan histopatologi merupakan baku

emas untuk penentuan jinak/ ganas suatu jaringan; dan


bisa dilanjutkan untuk pemeriksaan imunohistokimia.
8) Pemeriksaan Immunohistokimia
Pemeriksaan Imunohistokimia (IHK) adalah metode
pemeriksaan menggunakan antibodi sebagai probe untuk
mendeteksi antigen dalam potongan jaringan (tissue
sections) ataupun bentuk preparasi sel lainnya. IHK
merupakan standar dalam menentukan subtipe kanker
payudara. Pemeriksaan IHK pada karsinoma payudara
berperan dalam membantu menentukan prediksi respons
terapi sistemik dan prognosis.
Pemeriksaan imunohistokimia yang standar
dikerjakan untuk kanker payudara adalah:
1. Reseptor hormonal yaitu reseptor estrogen (ER) dan
reseptor progesteron (PR)
2. HER2
3. Ki-67
Pemeriksaan ER dan PR dilakukan pada material dari
blok parafin (spesimen core biopsy dan eksisi), dan dapat
juga dari hapusan sitologi atau cell block. Pemeriksaan
harus dilakukan pada spesimen yang difiksasi dengan
Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%.Hasil dinyatakan positif
apabila > 1% inti sel terwarnai (baik dengan intensitas
lemah, sedang, ataupun kuat). Pemeriksaan status HER2
(c-erbB-2, HER2/neu) saat ini telah direkomendasikan
untuk karsinoma payudara invasif (DCIS tidak dievaluasi
untuk HER2). Pemeriksaan HER2 harus dilakukan pada blok
paraffin dari jaringan yang difiksasi dengan NBF 10% dan
tidak dapat dilakukan dari hapusan sitologi. Hasil
dinyatakan
HER2 positif pada HER2 +3, sedangkanHER2 +2

memerlukan pemeriksaan lanjutan berupa hibridisasi in


situ.
Saat ini kanker payudara sudah tidak bisa dipandang
sebagai
gambaran morfologi patologi anatomi saja. Subtipe kanker
payudara seharusnya dibagi menurut gambaran profil
genetik,
tetapi dalam praktik sehari-hari dipakai pendekatan
pemeriksaan
imunohistokimia seperti pada tabel di bawah ini:

G. FAKTOR RESIKO
Diantara faktor resiko terjadinya kanker mammae adalah :
- Umur > 30 th
- Anak pertama lahir setelah usia 35 th
- Tidak kawin
- Menarche < 12 th
- Menopause datang terlambat (>55 th)
- Pernah operasi tumor jinak payudara
- Adanya kanker pada payudara kontralateral
- Mendapat terapi hormonal yang lama (oral kontrasepsi)
- Operasi ginekologi
- Radiasi dinding dada, 2-3 kali lebih tinggi
- Riwayat keluarga, 2-3 kali lebih tinggi
H. TERAPI NON FARMAKOLOGI
a. Operasi/Pembedahan/Mastektomi
Dilakukan untuk menghilangkan tumor primer. Operasi
diindikasikan pada kanker payudara stadium dini (stadium I
dan II), kanker payudara stadium lanjut lokal dengan
persyaratan tertentu, keganasan jaringan lunak pada
payudara. Operasi dikontraindikasikan pada kondisi tumor
melekat dinding dada, edema lengan, nodul satelit yang luas,
mastitis inflamator.
Terapi kanker payudara banyak menggunakan operasi,
hampir 92% dari total terapi yang digunakan. Terapi

menggunakan operasi dapat dikombinasikan dengan terapi


lain, seperti terapi radiasi, terapi hormon, khemoterapi.
Terapi operasi merupakan penatalaksanaan lokal pada
kanker payudara. Operasi yang akan digunakan tergantung
pada stadium kanker, ukuran tumor, ukuran payudara, dan
keterlibatan nodus limfe (American Cancer Society, 2007).
Terapi operasi pada kanker payudara meliputi:
1. Lumpektomi
Lumpektomi adalah pengambilan benjolan dan
sedikit jaringan normal payudara yang mengelilingi
benjolan tersebut. Lumpektomi dilakukan apabila daerah
atau jaringan yang terkena kanker kecil/sedikit.
Lumpectomy biasanya diikuti dengan terapi radiasi. Terapi
radiasi dapat dilakukan ke seluruh area payudara atau
hanya pada bagian tertentu payudara. Terapi radiasi
biasanya dilakukan selama 7 hari. Kombinasi lumpectomyradiasi disebut breast-conserving therapy (Lindley, 2005).
Radioterapi biasanya diberikan setelah lumpectomy.
Jika sedang menjalani kemoterapi adjuvant maka radiasi
ini ditunda sampai kemoterapi selesai. Kelebihan
Lumpectomy yaitu payudara dapat dipertahankan,
sedangkan kekurangannya yaitu kemungkinan besar
dilanjutkan dengan terapi radiasi. Sedangkan Mastectomy
mempunyai kelebihan kemungkinan kecil dilakukan terapi
radiasi, tetapi kekurangannya yaitu kehilangan payudara
(kecuali partial mastectomy).
Beberapa wanita tidak diperbolehkan memilih
lumpectomy karena kondisi berikut:
Pernah menjalani terapi radiasi payudara
Mempunyai 2 atau lebih lokasi kanker pada payudara
yg sama. Pernah menjalani initial lumpectomy dengan
re-ekscisi belum sempurna menghilangkan kanker
Mempunyai penyakit yang sensitif terhadap terapi
radiasi, contoh skleroderma, lupus sistemik, dermatitis.

Wanita hamil karena terapi radiasi beresiko terhadap


janin
Mempunyai kanker > 5 cm (2 inches)
Mempunyai kanker yang relatif besar bila dibandingkan
ukuran payudara
Mempunyai risiko tinggi timbul kanker lagi.
Operasi ini ditujukan untuk kanker payudara stadium
I dan II. Pada beberapa kasus, stadium lanjut juga bisa
memilih lumpectomy tetapi harus dilakukan kemoterapi
sebelum operasi untuk mengurangi ukuran tumor dan
mencegah kesepatan kanker bermetastase. Angka survival
operasi ini sama dengan mastectomy (Medline Plus, 2006).
2. Mastektomi Total atau Sederhana
Mastektomi Total atau Sederhana adalah pengambilan
keseluruhan payudara termasuk puting susu, beberapa dari
nodus limfe di bawah ketiak seringkali diambil pada
prosedur ini untuk dilakukan biopsi. Kadang-kadang operasi
dilakukan untuk kedua payudara (double mastectomy) yang
dilakukan sebagai upaya preventif untuk wanita dengan
risiko tinggi kanker payudara.
Operasi pembentukkan payudara setelah total
mastectomy jauh lebih mudah dibandingkan modified
radical dan radical mastectomy. Pasca operasi ini jarang
menimbulkan pembengkakkan (Beliefnet, 2006).
3. Mastektomi Radikal
Mastektomi radikal adalah pengambilan keseluruhan
payudara, nodus limfe aksila, dan otot pektoral (dinding
dada) di bawah payudara. Operasi ini pernah menjadi
operasi yang sering digunakan karena anggapan bahwa
mengambil otot di bawah payudara dapat mencegah
metastasis kanker. Setelah diteliti ternyata radical

mastectomy tidak meningkatkan prognosis dan tidak perlu


dilakukan operasi ini jika kanker ditemukan lebih dini (early
stage). Juga karena efek samping yang ditimbulkan dan bisa
memilih modified radical mastectomy yang sama efektifnya
dengan radical mastectomy, sehingga radical mastectomy
saat ini jarang digunakan (Bland, 2006).
Efek samping yang bisa terjadi antara lain :
Terkadang lengan tidak dapat digerakkan
Bekas operasi meninggalkan jurang pada dada (bekas
operasi), sehingga sulit dilakukan operasi pembentukan
payudara.
infeksi pada luka
Hematoma (pendarahan pada pada lokasi yang dioperasi)
Seroma (lokasi yang dioperasi mengeluarkan cairan
bening)
lymphedema

4. Mastektomi Radikal Termodifikasi


Mastektomi Radikal Termodifikasi melibatkan
pengambilan keseluruhan payudara dan beberapa nodus
limfe aksila, tetapi otot pektoral masih dipertahankan. Operasi
ini paling banyak dilakukan untuk wanita dengan kanker
payudara yang keseluruhan payudaranya harus dibuang.
b. Radiasi
Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar atau
partikel berenergi tinggi. Terapi dengan menggunakan radiasi/
penyinaran digunakan untuk membunuh sel-sel kanker di tempat
pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya, termasuk kelenjar
getah bening (kelenjar limfe) regional yang tidak dapat direseksi
pada kanker lanjut; pada metastasis tulang, metastasis kelenjar
limfe aksila. Ini dilakukan pada pasien yang telah menjalani
operasi untuk tumor yang terlokalisasi pada suatu area. Radiasi
memberikan efek samping berupa peradangan otot, kelelahan,

kulit menjadi gatal, kering, dan kemerahan. Efek samping radiasi


yang jarang terjadi adalah cacat paru-paru, lymphoedema,
kerusakan hati, sarkoma (kanker jenis lainnya).
Terapi radiasi disebut juga radioterapi merupakan salah
satu cara penanganan kanker payudara yang memiliki ketepatan
target dan keefektifan yang tinggi dalam menghancurkan sel
kanker yang tidak terangkat setelah operasi. Radiasi dapat
mengurangi risiko timbulnya kanker kembali hingga 5066 %.
Terapi radiasi ini relatif mudah untuk ditoleransi oleh tubuh dan
kemungkinan munculnya efek samping terbatas pada daerah
yang terkena radiasi saja. Sinar radiasi yang berenergi tinggi
diarahkan ke daerah payudara yang terkena kanker.
Radiasi ini kemungkinan dapat ikut merusak sel atau
jaringan yang terlewati oleh sinar. Meskipun demikian, efek
radiasi terhadap sel kanker lebih buruk daripada sel normal
karena sel kanker lebih sensitif terhadap radiasi daripada sel
normal. Pertahanan sel kanker lemah karena aktivitas sel kanker
difokuskan pada pertumbuhan dan pembuatan sel kanker baru.
Selain itu pengaturan di dalam sel kanker tidak sebaik sel normal
sehingga lebih sulit bagi sel kanker untuk memperbaiki
kerusakan sel yang timbul akibat radiasi. Dengan demikian sel
kanker mudah hancur sementara sel normal yang sehat dapat
memperbaiki kerusakan akibat radiasi dan tetap bertahan. Ada
dua cara terapi radiasi, yaitu radiasi eksternal dan internal.
Terapi radiasi ada dua jenis yaitu:
o Radiasi eksternal
Radiasi diberikan secara eksternal (dari luar tubuh) dimana
radiasi ini dihasilkan oleh mesin sinar-X berenergi tinggi yang
disebut linear accelerator. Radiasi eksternal biasanya tidak
diberikan sebelum jaringan payudara yang dioperasi sembuh.
Apabila pasien diberi kemoterapi, terapi radiasi biasanya
ditunda sampai kemoterapi telah selesai. Prosedur radiasi

eksternal ini tidak sakit, dan hanya menghabiskan waktu


beberapa menit. Umumnya radiasi eksternal diberikan 5 kali
seminggu selama 6-7 minggu. Dosis radiasi yang diberikan
adalah 45-50 Gy dengan 1,2-2 Gy/fraksi atau 42,5 Gy dengan
2,66 Gy/fraksi.
o Radiasi internal (Brachytherapy)
Brachytherapy atau radiasi internal menggunakan zat
radioaktif yang ditempatkan secara langsung ke dalam
jaringan payudara dekat dengan daerah kanker. Radiasi
internal umumnya digunakan sebagai booster dengan dosis
10-16 Gy dengan 2 Gy/fraksi. Metodenya ada dua yaitu
Intracavitary brachytherapy (dengan menggunakan balon
berisi radioaktif yang ditanam dalam jaringan payudara) dan
Interstitial brachytherapy (menggunakan kateter yang
diberikan pelet radioaktif).
Terapi radiasi dapat diberikan:
Whole breast Radiation
Terapi radiasi ke seluruh bagian payudara ini hanya
diberikan melalui terapi radiasi eksternal menggunakan
dua sumber sinar.
Partial-breast Radiation
Partial-breast irradiation (PBI) disebut juga limitedfield radiation therapy. Terapi radiasi ini dikembangkan
untuk mengurangi risiko munculnya kanker kembali,
memperpendek jangka waktu terapi radiasi, dan
membatasi dosis radiasi pada jaringan sekitar yang
sehat. Terapi ini dapat diberikan kembali pada pasien
yang telah diradiasi kemudian didiagnosis kanker
kembali, asalkan daerah yang akan diterapi berbeda dari
sebelumnya.

Kanker dapat menyerang kembali terutama di daerah yang


berdekatan dengan kanker sebelumnya. Risiko munculnya
kanker di daerah yang berbeda pada payudara yang sama cukup
kecil. Berdasarkan hal tersebut, pendekatan terapi radiasi baru
telah dikembangkan yaitu radiasi hanya difokuskan pada daerah
yang dekat dengan daerah yang pernah terkena kanker. Dengan
demikian jangka waktu terapi dapat diperpendek menjadi satu
minggu saja.
Partial-breast radiation dapat diberikan secara internal
maupun eksternal pada saat atau setelah operasi. Radiasi secara
internal dilakukan dengan menanam senyawa radioaktif pada
saat operasi, proses ini disebut intraoperative radiation.
Radiasi secara internal disebut brachytherapy dimana
digunakan senyawa radioaktif dengan pemaparan radiasi yang
lambat. Ada dua jenis brachytherapy yaitu multi-catheter
brachytherapy dan balloon-catheter brachytherapy. Pada multicatheter brachytherapy, kateter/tube ditanam di bawah kulit
pada daerah yang terkena kanker. Ujung tube dikeluarkan
melalui lubang kecil pada kulit. Tube ditahan menggunakan
stitches agar posisi tidak berubah. Senyawa radioaktif
kemudian dimasukkan ke tube tersebut sesuai dengan dosis
yang ditentukan oleh dokter. Proses ini akan berjalan selama
beberapa hari sehingga pasien harus dirawat di rumah sakit.
Pada saat proses dilakukan, tidak seorang pun diizinkan untuk
berada dekat dengan pasien. Perawat, dokter, dan pengunjung
(keluarga) hanya boleh berada di dekat pasien dalam jangka
waktu yang sangat pendek. Apabila proses perawatan telah
selesai, tube yang ditanam akan dilepas dari payudara. Apabila
dosis radioaktif yang digunakan besar, proses dapat berjalan
lebih cepat yaitu sekitar 10 menit.

Pada balloon-catheter brachytherapy (mammosite system)


digunakan tube khusus dengan balon pada ujungnya. Balon
tersebut ditempatkan pada daerah yang terkena kanker
kemudian tube dikeluarkan melalui lubang kecil pada kulit.
Stitches tidak diperlukan karena balon diisi oleh cairan untuk
menahan balon dan tube agar tetap pada posisinya. Balon
tersebut dibiarkan tetap di payudara selama satu setengah
minggu. Perencanaan yang matang diperlukan untuk
memastikan balon cocok dengan payudara. Pada setiap
prosesnya, senyawa radioaktif ditempatkan di tengah-tengah
balon selama 5-10 menit. Total perawatan yang diberikan
sebanyak 10 kali selama 5 hari yang berarti 2 kali proses setiap
harinya dengan jarak waktu 6 jam antar proses. Apabila
perawatan telah selesai, balon dan tube dikeluarkan dari
payudara..
Jika dibandingkan dengan whole-breast radiation, partialbreast radiation memiliki beberapa keuntungan :
Waktu perawatan lebih pendek (1 minggu lawan 7 minggu).
Intraoperative partial-breast radiation membutuhkan waktu
yang lebih pendek lagi karena dilakukan pada saat operasi.
Radiasi hanya diberikan pada daerah yang memiliki risiko
besar timbulnya kanker apabila kanker kembali menyerang.
Bagian tubuh yang menerima radiasi lebih sedikit, sehingga
efek samping pun lebih sedikit.
Penelitian menunjukkan sampai saat ini kecilnya risiko
munculnya kembali kanker setelah menerima partial-breast
radiation.
Adapun Kekurangan partial-breast radiation, antara lain :

Track record partial-breast radiation pendek. Penelitian baru


dilakukan terhadap beberapa ratus orang dalam jangka waktu
yang pendek sehingga keuntungan dan efek sampingnya belum
dipahami dengan pasti.
Teknik partial-breast radiation membutuhkan pelatihan khusus
dan pengalaman tertentu.
Berikut ini ada sepuluh poin kunci tentang terapi radiasi yang perlu
diperhatikan diantaranya :
1) Radiasi bersifat lokal, terapi didisain untuk membunuh sel kanker
yang kemungkinan masih ada setelah operasi. Radiasi diberikan
pada daerah munculnya kanker atau ke bagian tubuh lainnya
apabila kanker telah menyebar.
2) Perawatan dengan radiasi tidak menimbulkan rasa sakit. Akan
tetapi, kemungkinan radiasi akan menimbulkan sedikit rasa
ketidaknyamanan selama beberapa waktu.
3) Perawatan dengan radiasi eksternal, terapi yang biasa dilakukan,
tidak membuat tubuh menjadi radioaktif.
4) Perawatan biasanya diberikan 5 hari seminggu selama 7 minggu.
Kadangkala radiasi diberikan sehari dua kali selama seminggu.
5) Pasien masih dapat melakukan rutinitas harian selama perawatan
karena perawatan harian hanya berlangsung sekitar 30 menit.
6) Radiasi tidak merontokkan rambut, kecuali radiasi diberikan ke
kepala.
7) Pada daerah yang menerima radiasi, kulitnya dapat berubah
menjadi pink, kemerahan, kecoklatan yang sensitif dan teriritasi.
Gejala ini dapat dikurangi dengan pemberian krim atau obatobatan lain.
8) Selama perawatan, pasien biasanya cepat merasa lelah. Kondisi ini
dapat berlangsung selama beberapa minggu, bahkan bulan setelah
perawatan selesai.
9) Efek samping radiasi kebanyakan bersifat sementara.
10) Terapi radiasi dapat menurunkan secara signifikan risiko
munculnya kembali kanker setelah operasi.

Efek Samping Radiasi


Setiap perawatan pasti akan menghasilkan keuntungan
maupun efek samping. Respon setiap orang akan berbeda pada
setiap jenis perawatan, sehingga sulit untuk memperkirakan apa
yang mungkin atau tidak mungkin timbul setelah perawatan. Yang
perlu diperhatikan yaitu bahwa radiasi yang digunakan dalam
perawatan kanker payudara memiliki fokus dan kontrol yang tinggi
serta relatif aman. Efek samping yang biasa terjadi, yaitu kulit
kemerahan, iritasi pada kulit, ketidaknyamanan, rasa lelah, dan
sebagainya. Pada umumnya efek samping tersebut akan hilang
setelah 2-4 minggu pascaradiasi.
c. Pola hidup yang sehat
Mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan terutama yang

mengandung vitamin C
Menghindari rokok dan alkohol
Berolah raga secara teratur.
Mengurangi lemak.
Mengkonsumsi suplemen antioksidan.
Makan lebih banyak serat.
Makan lebih banyak tahu dan makanan yang mengandung

kedelai.
Mengurangi terlalu banyak makanan gorengan dan juga yang
mengandung protein dan lemak tinggi serta jeroan.
Membatasi makanan yang diolah dengan suhu tinggi dan lama
atau dengan pengolahan tertentu yang dapat menimbulkan
prokarsinogen seperti makanan yang diasinkan, diasap, dibakar,
dipanggang sampai keluar arang (gosong) . Yang terbaik adalah
makanan yang direbus.
Hati-hati dengan penggunaaan pemanis buatan, pewarna
makanan serta zat pengawet yang berlebihan. Makanan terbaik
adalah makanan segar.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2007. Surgery for Breast Cancer. Available


online at:
http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI.

Beliefnet. 2006. Surgical Procedures for Breast Cancer. Available online


at: http://www.beliefnet.com/healthandhealing/getcontent.aspx?.

Bland, Kirby I, et al. 2006. The Breast in Schwartz Manual Surgery, 8th
edition. F. Charles Brunicardi (Editor). New York : McGRAW HILL
Medical Publishing Division. page 357-363.

Lindley,Celeste and Laura Boehnke Michau. 2005. Breast Cancer in


Pharmacotherapy, A Patophysiology Approach, 6th edition.
Joseph T. DiPiro (Editor). page 2340-2342.

MedlinePlus. 2006. Medical Encyclopedia, Lumpectomy. Available


online at:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/17030.ht
m

Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. 2015. Kementerian


Kesehatan: Komite Penanggulangan Kanker Nasional