Anda di halaman 1dari 18

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

ASPEK ONTOLOGI ILMU PENGETAHUAN

OLEH KELOMPOK V:
1. Putu Diah Putri Utami

1590661029

2. Putu Melati Purbaningrat Yo

1590661030

3. I Made Dwi Wira Ardana

1590661031

4. Ni Putu Ayu Widyastuti

1590661032

5. Made Ayu Desy Geriadi

1590661033

6. Ayu Larasati

1590661034

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
1

4.1 Aspek Ontologi Ilmu Pengetahuan


Pendahuluan
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang komprehensif merupakan usaha dalam memahami
persoalan-persoalan yang timbul di dalam keseluruhan ruang lingkup pengalaman manusia. Ada
beberapa toeri kebenaran menurut pandangan filsafat dalam bidang ontologi, epistemologi dan
aksiologi (Jalaludin dan Abdullah, 2007: 125). Menurut Atmaja, Nengah Bawa dan Atmaja,
Anantawikrama (2014: 139), kita dapat melihat Gambar 1.1 yang akan menjelaskan Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi yang Melandasi Keberanaran Ilmu dan Pengembangannya.
Gambar 1.1 Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi yang Melandasi Keberanaran Ilmu dan
Pengembangannya.

Sumber:Diadaptasi dari Mustansyir dan Munir (2006) serta Suriasumatri (2001) dalam
Atmadja, Nengah Bawa dan Atmadja, Anantawikrama Tungga (2014).

Pada Gambar 1.1, menjelaskan bahwa eratnya hubungan antara ontologi, epistemologi
dan aksiologi dalam melandasi kebenaran dan pengembangan ilmu, dapat dicermati dari
Suriasumantri dalam Atmadja, Nengah Bawa dan Atmadja, Anantawikrama Tungga (2014: 139),
bahwa setiap jenis ilmu pengetahuan memiliki tiga ciri tersebut dan ketiganya saling berkaitan,
sehingga dengan cara ini dimungkinkan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh tentang
hakikat ilmu pengetahuan secara, tidak saja filosofis dan akademik, tetapi juga mempraktis. Dan
fokus pembahasan kita akan masuk pada dimesi ilmu Ontologi.
4.1.1

Definisi Ontologi
Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada.

Istilah Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti yang berada dan logos berarti
ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, Ontologi berartiilmu pengetahuan atau ajaran
tentang yang berada. Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan
yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di
bidang Ontologi. Dalam persoalan Ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita
menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertamakali orang dihadapkan pada adanya dua
macam kenyataan. Yang pertama kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua,
kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). (Susanto, 2016:90)
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada
yakni realitas, reality adalah keriilan, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat ada
adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu,
juga bukan kenyataan yang berubah.Pembahasan tentang Ontologi sebagai dasar ilmu berusaha
untuk menjawab apa yang menurut Aristoteles merupakan the first philosophy dan merupakan
ilmu mengenai esensi benda. Kata Ontologi berasal dari perkataan Yunani on sama dengan
being, dan logos sama dengan logic. Jadi, Ontologi adalah the theory of being qua being (teori
tentang keberadaan sebagai keberadaan). Ontologimenyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata
secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang
berlainan (objek-objik fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam kerangka
tradisional Ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada,
sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini Ontologi dipandang sebagai teori mengenai
apa yang ada.(Susanto, 2016:90)
3

Menurut Endraswara, Suwardi (2015: 91), menyatakan bahwa istilah ontologi pertama
kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M, untuk menamai hakikat yang ada
bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolf (1679-1754) dalam Endraswara,
Suwardi (2015: 92), membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan khusus.
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.2 Skema Metaphysica.
Gambar 1.2 Skema Metaphysica.

Metaphysica generalis

Metaphysica

(Ontologia)

Cosmologia
Psichologia
Theologia

Sumber:Surajiwo (2012: 117)

Pada Gambar 1.1, menunjukkan bahwa metafisika dapat dibagi yaitu metafisika umum
adalah istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah
cabang filsafat yang membahas mengenai prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala
sesuatu yang ada. Sedangkan, metafisika khusus masih terbagi dalam cosmologia, psichologia
dan theologia. Ontologi sendiri cendrung dekat dengan metafisika yaitu ilmu tentang keberadaan
di balik yang ada.

4.2 Objek Kajian Ontologi Manajemen Berdasarkan Metode dalam Ontologi Metafisika
dan Asumsi-Asumsi yang Digunakan.
Objek yang menjadi kajian utama dalam ontologi tersebut adalah realitas yang ada. Ontologi
sendiri merupakan studi tentang yang ada secara universal, dengan mencari pemikiran semesta
universal. Ontologi mencoba mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan yang ada dalam
setip bentuknya. Jadi dapat disimpulkan, bahwa ontologi merupakan studi yang mendalam dari
setiap hakikat kenyataan, seperti misalnya (a) Dapatkah manusia sungguh-sungguh memilik
suara yang tepat (b) Apakah ada Tuhan di dunia ini, (c) Apakah nyata dalam hakikat material
atau spritual, (d) Apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dengan badan dan (e) Apakah hidup dan
mati itu, dan sebagaiannya. Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami
secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu ilmu empiris. Orang yang
belajar ontologi akan paham terhadap hakikat suatu ilmu. Tentu saja hakikat itu perlu disadari,
diresapi, dan dinikmati. Tiap-tiap aliran ontologi tentu memiliki objek keilmuan yang berbedabeda.
Berkaitan mengenai objek ontologi yang mendasar perlu dijelaskan secara tegas. Objek
tersebut terkait dengan aliran-aliran yang muncul. Menurut Endraswara, Suwardi (2015: 98),
Objek termaksud ada dua macam, yaitu.
(1) Objek Formal.
adalah hakikat seluruh realitas. Objek formal merupakan cara pandang, cara meninjau
yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang
digunakannya. Objek formal pada suatu ilmu tidak hanya memberikan keutuhan suatu
ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lainnya. Suatu
objek materialdapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menimbulkan ilmuilmu yang berbeda-beda.
(2) Objek Material.
Adalah sesuatu hal yang yang dijadikan sasaran pemikiran sesuatu hal yang diselidiki
atau sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mencakup hal konkret misalnya manusia,
tumbuhan, ataupun hal-hal abstrak seperti ide-ide dan nilai-nilai.

Kedua objek tersebut, akan membingkai pada berbagai penelitian. Penelitian akan
menyangkut dua metode besar antara lain metode kualitatif dan kuantitatif.
Dasar dari ontologi ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh
pancaindera manusia. Jadi, masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris.
Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan, binatang, batubatuan, dan manusia itu sendiri. Ontologi sendiri merupakan salah satu objek lapangan penelitian
kefilsafatan yang paling kuno. Untuk memberi arti suatu objek ilmu ada beberapa asumsi yang
perlu diperhatikan menurut Endraswara, Suwardi (2015: 104), antara lain.
(1) Asumsi Pertama. Suatu objek bisa dikelompokkan berdasarkan kesamaan bentuk, sifat,
struktur atau komparasi dan kuantitatif asumsi.
(2) Asumsi Kedua.Kelestarian relatif artinya ilmu tidak mengalami perubahan dalam periode
tertentu (dalam waktu singkat).
(3) Asumsi Ketiga. Determinasi artinya ilmu menganut pola tertentu atau tidak terjadi secara
kebetulan.

4.3 Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif Ontologi


Pengetahuan dan ilmu pengetahuan tentu berkaitan dengan realitas. Orang yang mempelajari
pengetahuan dan ilmu pengetahuan akan menelusuri realitas dengan cermat. Dalam (Suwardi :
2015) menyebutkan hakikat kenyataan atau realitas memang bias didekati dari sisi ontologi
dengan dua macam sudut pandang yaitu :
1. Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak.
Contohnya :
- Berapa banyaknya daun pohon beringin kurung di Keraton Yogyakarta?
- Ada berapa jenis daun di dunia ini?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki
kualitas tertentu.
Misalnya, daun yang memiliki warna kehujauan, bunga mawar yang berbau harum.
Menurut Ali Mudhofir (1996) dalam (Surajiyo :

2012) persoalan dalam realitas terdapat

pandangan dari segi kuantitas dan segi kualitas, yang masing-masing menimbulkan aliran yang
berbeda.

1. Realitas Dipandang dari Segi Jumlah (Kuantitas)


Realitas dipandang dari segi jumlah (kuantitas) artinya seberapa banyak kenyataan yang
paling dalam itu. Pandangan ini melahirkan beberapa aliran filsafat sebagai jawabannya
anatar lain :
a. Monisme yaitu aliran yang menyatakan bahwa hanya satu kenyataan fundamental
b. Dualisme yaitu aliran yang menganggap adanya dua substansi yang masing-masing
berdiri sendiri.
c. Pluralisme yaitu aliran tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi
melainkan banyak substansi.
2. Realitas Dipandang dari Segi Sifat (Kualitas)
Realitas dipandang dari segi sifat (kualitas) menimbulkan beberapa aliran antara lain :
a. Spiritualisme yaitu aliran yang menyatakan realitas yang beraneka ragam ini
semuanya berasal dari roh (sukma), yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak
menempati ruang. Sedangkan materi atau zat itu hanya satu jenis dari penjelmaan
rohani.
b. Materialisme yaitu aliran atau pandangan yang meyatakan bahwa tidak ada sesuatu
yang nyata kecuali materi, sedangkan yang lain dari materi seperti roh (jiwa),
tidaklah suatu kenyataan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan hakikat daripada
proses gerakan kebendaan dengan salah satu cara tertentu.
4.4 Aliran- Aliran dalam Metafisika Ontologi
Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara
menyeluruh yang mengkaji persoalan-persoalan, seperti hubungan akal dengan benda,
hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan, dan lainnya. Menurut Susanto, (2016:94)
bahwa di dalam pemahaman atau pemikiran Ontologi dapat ditemukan pandanganpandangan pokok pemikiran, seperti: monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan
agnotisisme.
A. Aliran Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dan seluruh kenyataan ini
hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik
yang asal berupa materi maupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing
bebas dan berdiri serdiri. Haruslah satu hakekat saja sebagai sumber asal, baik yang asal
tersebut berupa materi atau berupa suatu ide. Materi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang

diciptakan atau telah tercipta sedangkan ide merupakan gagasan atau hal yang dapat
memunculkan dan menciptakan sesuatu, dalam hal ini terbatas pada kemampuan manusia.
Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham monoisme
kemudian terbagi ke dalam dua aliran (Susanto, 2016:94) :
1. Aliran materiialisme. Aliran materialisme menganggap bahwa sumber yang asal itu
adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme.
Menurutnya hahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu..
2. Aliran idealism
Sedangkan aliran idealisme dinamakan juga spiritualisme, Idealisme berarti serba cita
sedang spiritualisme berarti serba ruh, idealism diambil dan kata idea yaitu sesuatu yang
hadir dalam jiwa. Alinan ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam
ini semua berasal dan ruh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Materi atau zat itu hanyalah suatu jenis dan penjelmaan ruhani.
Menurut Rapar (2005:45) dalam (Susanto, 2016:95), aliran materialisme menolak hal-hal
yang tidak terlihat. Bagi materialisme ada yang sesunguhnya adalah yang keberadaannya
semata-mata bersifat material atau sama sekali bergantung pada material.Dengan demikian
bagi materialisme realitas yang sesungguhnya adalah alam kebendaan sesuatu yang riil atau
nyata. Menurut Susanto (2016:95), Beberapa flosof atau tokoh yang tergolong dada aliran
materialisme adalah:
- Thales 62545 SM.) menurut Thales air adalah pangkal pokok (asas) dan dasar
(prinsip) dari segala-galanya.
- Anaximandris (645 SM.), yang berpandang tenrang asas pemula dan segala sesuatu
adalah hanya satu, yaitu yang tak terbaras (to aperoin). Anaximandris tidak mengakui
pandangan Thales yang mengemuka bahwa asas pertama adalah air. Sebab air tidak
mungkin berada di mana-mana di tempar kering, tempat basab, tinggi, rendah,
termasuk juga api. Air adilah hal yang terbatas. Oleh karena itu, anasir utama yang
menyusun alam adalah yang tak terbatas.
- Anaximenes (538-480 SM.) Anaximenes memberikan pandangan bahwa asas pemula
seluruh alam semestadengan segala isinya adalah hawa dan udara. Dengan alasan
bahwa udara itu meliputi seluruh jagat raya.
B. Aliran Dualisme
8

Aliran dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang
saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme.Menurut aliran dualisme materi
maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh,
begitu pun ruh muncul bukan karena materi. Akan tetapi, dalam perkembangan
selanjutnya aliran ini masih memiliki masalah dalam menghubungkan dan menyeleraskan
kedua aliran tersebut.
Aliran dualisme memandang bahwa alam terdiri dan dua macam hakikat sebagai
sumbernya. Aliran dualisme merupakan paham yang serba dua, yaitu antara materi dan
bentuk. Menurut paham dualisme, di dalam dunia ini selalu dihadapkan kepada dua
pengertian yaitu yang ada sebagai potensi dan yang ada secara terwujud. Keduanya
adalah sebutan yang melambangkan materi (hule) dan bentuk (eidos).
Menurut Susanto (2016:95), Tokoh-tokohnya aliran Dualisme adalah:
- Plato (427 348), yang membedakan dua dunia yaitu dunia indera (dunia bayingbayang) dan dunia metafisik (dunia ide).
- Descartes (1596-1650) yang membedakan subtansi pikiran dan substansi keluasan.
- Leibniz (1646 1716) yang membedakan antara dunia yang sesungguhnya dan dunia
yang mungkin.
- Imanuel kant (1724 1804) yang membedakan antara dunia gejala (Penomena) dan
dunia hakiki (noumena).
Pengertian materi dalam Pandangan aliran dualisme ini tidak sama dengan
pengertian materi yang dipahami sekarang ini. Menurut Aristoteles (hule) adalah dasar
terakhir segala perubahan dari hal-hal yang berdiri sendiri dan unsur bersama yang
terdapat di dalam segala yang menjadi dan binasa. Materi dalam arti mutlak adalah asas
atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum Tiap benda yang dapat diamati disusun
dari materi oleh karena itu, materi mutlak diperlukan bagi pembentukan segala
sesuatu.nDilain pihak dapat dijelaskan bahwa materi adalah kenyataan yang belum
terwujud, yang belum ditentukan, tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi
terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk. Padanya ada kemungkinan untuk menjadi
nyata, karena kekuatan yang membeentuknya.mSedangkan bentuk (eids) adalah pola
segala sesuatu yang temmpatnya di luar dunia ini, yang berdiri sendiri lepas dan benda
yang konkret, yang adalah penerapannya. Bagi Acistoreles eidos adalah asas yang berada
di dalam benda yang konkret yang secara sempurna menentukan jenis benda itu, yang
9

menjadikan benda yang konkret itu disebut demikian (misalnya disebut meja, kursi, dan
lain-lain) Jadi, segala pengertian yang ada pada manusia, seperti meja, kursi tersebut
bukanlah sesuai dengan realitas ide yang berada di dunia ide, melainkan sesuai dengan
jenis henda yang tampak pada benda konkret.Demikianlah materi dan bentuk tidak dapat
dipisahkan Materi tidak dapat terwujud tanpa bentuk, sehaliknya benttuk tidak dapat
berada tanpa materi. Tiap bernda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi.
(Susanto , 2016:97).
C. Aliran Pluralisme
Pluralisme berpandangan bahwa segenap yang ada terdiri dari unsur air, api,
udara, dan tanah (Empedocles), bahkan lebih dari empat unsr yaitu sebanyak sifat dari
yang ada (Anaxagoras) artinya yang ada tidak disebabkan oleh satu atau dua unsur.
Pemikiran filsuf modern, William James (1842-1910) bahkan hakikat yang ada tiada
ada kebenaran nutlak, berlaku umum, bersifat tetap, dan berdiri sendiri-sendiri , lepas dari
akal sehat. Sebab pengalaman kita berjalan terus, dan segala yang kita anggap benar
dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam prakteknya apa
yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu,
tiada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran pada masanya yang
setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.

D. Aliran Nikhilisme
Aliran nikhilisme nihilism adalah suatu paham, kata kerjanya adalah annihilate,
meniadakan,

membasmi,

memusnahkan,

menghapuskan,

melenyapkan

segenap

eksistensi. Nihilism menyatakan bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreatifitas
manusia. Nihilism sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche (dikenal sebagai
pembunuh tuhan). Nihilism biasanya memiliki beberapa pandangan ini, yaitu tidak ada
bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika
secular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memili arti, dan tidak ada
tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Aliran ini tidak mengakui validitas
alternative positif. Dalam pandangan nikhilisme, tuhan sudah mati, manusia bebas

10

berkehendak dan berkreatifitas. Karakteristik nihilism yaitu memahami bahwa realitas


yang ada di alam ini hanyalah keburukan dan beranggapan bahwa fenomena-fenomena
yang ada pada manusia tidak lain adalah penderitaan, kemalangan, kemiskinan, dan
kehancuran. Pemikiran nihilism dapat dilihat pada karya-karya pengikut nihilism seperti
Jean Paul Sartre, Franz Kafka, Albert K, Samuel B, Arthur A. Penulis-penulis ini
mengungkapkan ketidak bermaknaan kehidupan dan nihilism dalam bentuk cerita dimana
penulis berusaha untuk membangun argumentasi rasional atas ketidakberartian kehidupan
manusia dan nihilism. Nihilism adalah kecendrungan baru dizaman modern. Mayoritas
manusia yang hidup di Barat tidak mengetahui mengapa dan bagaimana seharusnya
menjalani kehidupan.
Beberapa faktor menyebabkan kecendrungan manusia pada nihilism, adalah :
1. Faktor internal, seperti ketiadaan atau kesalahan pendidikan, perasaan terhina dan
aspek kejiwaan lain.
2. Faktor eksternal, kerusakan lingkungan social, perubahan nilai-nilai manusia,
pandangan dunia, dll.
Alasan paham nihilism, antara lain.
1.
2.
3.
4.
5.

Putus asa dan kehilangan kepercayaan


Kehidupan manusia semakin terjepit dan gelap
Memandang kehidupan ini dengan pikiran negative dan terjebak dalam pesimisme
Manusia merasa asing di alam eksistensi
Perubahan nilai-nilai kemanusiaan

Faktor-faktor penting dan mendasar yang menyebabkan hadirnya kecendrungan manusia


dan keterjebakannnya dalam nihilism, adalah:
1. Dilemma penciptaan
2. Rahasia kematian
3. Keraguan
4. Ketiadaan cita-cita dan ideology
5. Perubahan nilai
6. Materialism
7. Lingkungan social
8. Pendidikan
9. Kegagalan merai cita-cita
10. Perasaan rendah diri

11

E. Aliran agnotisisme
Aliran agnotisisme menganut paham bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat
sesuatu di balik kenyataannya. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api, dan
sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin
tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh pikirannya. Paham ini
mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi
maupun hakikat ruhani.
Agnostisisme adalah suatu pandangan filsafat bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu
klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisikakeberadaan Tuhan, dewa, dan
lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas.Seorang agnostik
mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan
tentang "Yang-Mutlak"; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif
dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi dasar
yang dapat diverifikasi secara rasional. Filsuf William L. Rowe menyatakan bahwa dalam arti
sempit, bagaimanapun agnostisisme adalah pandangan bahwa manusia saat ini tidak memiliki
pengetahuan yang diperlukan dan/atau alasan untuk memberikan landasan secara rasional yang
cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa dewa/tuhan baik melakukan atau tidak ada.Dalam
kedua hal ini maka agnostikisme mengandung unsur skeptisisme.
Jenis-jenis agnostisisme.
12

1. Ateisme, pandangan yang tidak percaya keberadaan tuhan, tetapi tidak mengklaim tahu
apakah tuhan itu ada atau tidak.
2. Teisme, pandangan mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan tuhan, tapi masi
percaya pada keberadaan tersebut.
3. Pragmatis, pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya tuhan, tapi karena
setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta
atau kesejahteraan penghuninya.
4. Agnostisisme kuat, pandangan bahwa pertanyaan tentang ada atau tisak adanya tuhan,
dan sifat realistis tidak dapat diketahui dengan alsan ketidakmampuan alamiah kita untuk
memverifikasi pengalaman dengan apapun selain pengalaman subyektif lain. saya tidak
bias tahu apakah tuhan itu ada atau tidak, begitu juga kamu.
5. Agnostisisme lemah, pandangan bahwa ada atau tidaknya tuhan saat ini tidak diketahui,
tetapi belum tentu untuk kemudian hari, sehingga orang akan menahan penilaian sampai
muncul bukti yang menurutnya bias menjadi alasan untuk percaya. saya tidak tahu
apakah tuhan ada atau tidak, tapi mungkin suatu hari, jika ada bukti, kita dapat
menemukan sesuatu

4.5 Aliran- Aliran Dalam Metafisika Ontologi


4.5.1 Paham Materialisme
Paham ini memandang bahwa yang ada sesungguhnya adalah bersifat materil
(kebendaan) atau realitas yang dapat dijelaskan secara materialistis. Paham ini mengatakan
bahwa alam termasuk isinya, segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada (Susanto
2016:39). Paham ini berasal dari pemikiran Thales, Anaximander dan Anaximenes. Filsuf
Demokritos (460-370 SM) berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang
banyak jumlahnya, tak dapat dihitung dan sangat halus. Atom-atom inilah yang merupakan asal
kejadian alam (Noor, 2013:57).
Bentuk materialisme dapat dibagi menjadi dua yaitu:
(i)

Materialisme mekanik
Materialisme mekanik menyatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan
menurut hukum materi dan gerak. Semua proses alam dapat dipastikan dan dapat
diramalkan jika segala fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui.
13

(ii)

Materialisme dialektik
Materialisme dialektik menyatakan bahwa dunia misterius ini konstan, baik dalam
gerak, perkembangan maupun regenerasinya. Materi merupakan yang primer
sedangkan ide atau kesadaran adalah sekunder. Tokoh utamanya adalah Karl
Marx (1818 1883)

4.5.2 Paham Idealisme


Paham idealisme menyatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal atau
jiwa, bukan benda materil dan kekuatan. Menurut Susanto (2016:40) Paham ini berpandangan
bahwa beraneka ragamnya hakikat kenyataan berasal dari jiwa, sesuatu yang tidak terbentuk dan
tidak menempati ruang. Idealisme menekankan bahwa akal adalah yang lebih terdahulu daripada
materi, dan akal itu adalah riil, sementara materi hanyalah produk sampingan.
Menurut Torang (2014:62) Paham Idealisme dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
(i)

Idealisme subjektif immaterialisme


Menurut aliran ini, akal, jiwa, dan persepsi-persepsinya merupakan segala yang
ada. Namun, hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya. Pandangan ini
dipelopori Plato (427-347 SM) dengan teorinya yang menyatakan bahwa yang ada

(ii)

di alam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu.
Idealisme objektif
Menurut aliran ini, pikiran merupakan esensi alam, dan alam adalah keseluruhan
jiwa yang diobjektifkan. Tokoh pertama idealism objektif adalah Plato yang
membagi dunia dalam dua bagian: - dunia persepsi dan dunia alam di atas alam

(iii)

benda yaitu alam konsep, ide, universal atau esensi yang abadi.
Idealisme subjektif-immaterialisme
Menurut George Berkeley (1685-1753), realitas yang sesunguhnya adalah aku
yang subjective subjective

4.5.3 Paham Teologis


Dalam bahasa Latin, teologi berarti ilmu mencari pemahaman di mana dengan
menggunakan sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan filsafat, teologi selalu mencari dan
tidak pernah sampai pada tujuan terakhir dan pemahaman yang selesai (Susanto, 2016: 98).
Paham ini melihat pokok kebenaran pada kejadian bahwa semua kejadian di dunia ini
berlaku dengan sendirinya menurut paham sebab-akibat, sedangkan paham yang lainnya
14

berkeyakinan bahwa kejadian yang satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan hukum
sebab-akibat (Noor , 2013:57).
Dalam pandangan filsafat metafisika, Thomas Aquinas (1225-1274) menyatakan bahwa
manusia dapat mengenal Tuhan melalui dukungan akal pikirannya. Dengan akal pikirannya,
manusia dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada dan sekaligus mengetahui sifat-sifatnya
(Susanto, 2016: 99). Pada abad 20, Henri Bergson berpikiran bahwa terdapat dua macam agama
yaitu (Susanto, 2016:101):
(i)

Agama statis
Ini timbul karena hasil karya perkembangan pemikiran otak atau akal manusia. Di
dalam perkembangan ini, alam telah menciptakan pada manusia kecakapan, di
mana melalui akalnya, manusia mengetahui bahwa ia harus mati. Selain itu,
karena akalnya, manusia mengetahui bahwa ada rintangan yang merintangi usaha
untuk mencapai tujuannya, maka timbul agama sebagai alat bertahan terhadap

(ii)

segalanya yang menjadikan manusia putus asa.


Agama dinamis
Ini adalah agama yang diberikan oleh intuisi. Melalui perantara agama ini,
manusia dapat berhubungan dengan asas yang lebih tinggi, yang lebih kuasa
dibandingkan dirinya sendiri.

Selain tokoh-tokoh tersebut yang percaya akan adanya Tuhan, ada pula yang menentang.
Ludwig Feuerbach (1804-1872) menyatakan bahwa agama tercipta oleh hakikat manusia itu
sendiri, yaitu egoism dan hasrat akan kebahagiaan. Oleh karena itu, Tuhan hanyalah gambaran
dari keinginan manusia yang dianggap dan diyakini ada. David Hume (1711 1776) menyatakan
bahwa akal budi manusia tidak akan mampu mengenal adanya Tuhan, sehingga ia menolak
ajaran agama serta gagasan tentang Tuhan.

15

Kesimpulan
Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada.
Istilah Ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti yang berada dan logos berarti
ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, Ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran
tentang yang berada. Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang
mungkin ada yakni realitas, reality adalah keriilan, riil artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi,
hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang
menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.
Objek yang menjadi kajian utama dalam ontologi tersebut adalah realitas yang ada.
Ontologi sendiri merupakan studi tentang yang ada secara universal, dengan mencari pemikiran
semesta universal. Objek tersebut ada objek formal dan objek material. Objek formal merupakan
cara pandang, cara meninjau yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materialnya serta
prinsip-prinsip yang digunakannya sedangkan Objek material mencakup hal konkret misalnya
manusia, tumbuhan, ataupun hal-hal abstrak seperti ide-ide dan nilai-nilai. Kedua objek tersebut,
akan membingkai pada berbagai penelitian. Penelitian akan menyangkut dua metode besar antara
lain metode kualitatif dan kuantitatif.
Dalam pemahaman atau pemikiran Ontologi dapat ditemukan pandangan-pandangan
pokok pemikiran, seperti: monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisisme. Paham
16

monoisme kemudian terbagi ke dalam dua aliran materialism dan idealism. Aliran dualisme
adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu
materialisme dan idealism. Paham Materialismememandang bahwa yang ada sesungguhnya
adalah bersifat materil (kebendaan) atau realitas yang dapat dijelaskan secara materialistis.
Paham ini mengatakan bahwa alam termasuk isinya, segala materi dan energi selalu ada dan akan
tetap ada. Paham idealisme menyatakan bahwa realitas terdiri atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal
atau jiwa, bukan benda materil dan kekuatan. Dalam bahasa Latin, teologi berarti ilmu mencari
pemahaman di mana dengan menggunakan sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan
filsafat, teologi selalu mencari dan tidak pernah sampai pada tujuan terakhir dan pemahaman
yang selesai.

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, Nengah Bawa dan Atmadja, Anantawikrama Tungga. 2014. Filsafat Ilmu
Pengetahuan: Perspektif Proses dan Produk. Cetakan Pertama. Denpasar: Pustaka
Larasan.
Endraswara, Suwardi. 2015. Filsafat Ilmu (Edisi Revisi). Cetakan Pertama. Yogyakarta: GAPS
(Center for Academic Publishing Service).
Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2007. Filsafat Pendidikan. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Noor, J. (2013). Penelitian Ilmu Manajemen Tinjauan Filosofis dan Praktis. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, pp.57 - 58.
Surajiyo. 2012. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Cet.5. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Susanto. (2016). Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis.
Jakarta: Bumi Aksara, pp. 39-40; 98-102.
Torang, S. (2014). Filsafat Ilmu Administrasi, Manajemen & Organisasi. Bandung: Alfabeta, pp.62-63.

17

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/19751230200
1121-CEPI_RIYANA/06_Filsafat_Nihilisme.pdf. Diunduh tanggal 16 Maret 2016.

18