Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. DEFENISI
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala yang timbul
akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang didapat, disebabkan oleh infeksi
human immunodeficiency virus (HIV). AIDS ini bukan merupakan suatu penyakit saja,
tetapi merupakan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh infeksi berbagai jenis
mikroorganisme seperti, infeksi bakteri, virus, jamur, bahkan timbulnya keganasa
akibat menurunnya daya tahan tubuh penderita (Murtiastutik, 2008).
1.2. EPIDEMIOLOGI
Kasus HIV/AIDS pertama di dunia dilaporkan pada tahun 1981. Menurut UNAIDS,
salah satu bagian dari WHO yang mengurus tentang AIDS menyebutkan bahwa
perkiraan jumlah penderita yang terinfeksi HIV/AIDS di seluruh dunia sampai dengan
akhir tahun 2010 mencapai 34 juta. Dilihat dari tahun 1997 hingga tahun 2011 jumlah
penderita HIV/AIDS mengalami

peningkatan hingga 21%.

Pada

tahun

2011,

UNAIDS memperkirakan jumlah penderita baru yang terinfeksi HIV/AIDS sebanyak


2,5 juta. Jumlah orang yang meninggal karena alasan yang terkait AIDS pada tahun
2010 mencapai 1,8 juta, menurun dibandingkan pada pertengahan tahun 2000
yang mencapai puncaknya yaitu sebanyak 2,2 juta Di Indonesia, jumlah penderita
HIV/AIDS terus meningkat dari tahun ke tahun tetapi jumlah kasus baru yang terinfeksi
HIV/AIDS relatif stabil bahkan cenderung menurun.
Menurut Laporan HIV-AIDS Triwulan II Tahun 2012, didapatkan jumlah kasus
baru HIV pada triwulan kedua (April-Juni 2012) sebanyak 3.892 kasus dan jumlah
kasus kumulatif HIV pada Januari 1987 - Juni 2012 sebanyak 86.762 kasus. Sedangkan
kasus baru AIDS pada triwulan kedua (April-Juni 2012) sebanyak 1.673 kasus dan
jumlah kasus kumulatif AIDS pada Januari 1987 - Juni 2012 sebanyak 32.103 kasus.
Pada kasus baru HIV, Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ke 7 se-Indonesia
dan pada kasus baru AIDS, Provinsi Jawa Tengah menduduki peringkat ke 2 seIndonesia. Kasus HIV menurut usia pada Januari-Juni 2012 terbanyak pada 25 - 49
tahun. Pada kasus AIDS, terbanyak pada usia 30-39 tahun. Jenis kelamin pada kasus
HIV adalah laki-laki sebanyak 57% dan wanita sebanyak 43%. Jenis kelamin
pada kasus AIDS adalah laki-laki sebanyak 61,8% dan perempuan sebanyak 38,1%.
Jadi dapat disimpulkan, kasus HIV dan AIDS menurut jenis kelamin lebih banyak pada

laki-laki. Pada tahun 2012 angka kematian AIDS mengalami penurunan menjadi 0,9%
dibandingkan dengan tahun 2011
1.3. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dianggap sebagai virus penyebab AIDS.
Virus ini termaksuk dalam retrovirus anggota subfamili lentivirinae. Ciri khas
morfologi yang unik dari HIV adalah adanya nukleoid yang berbentuk silindris dalam
virion matur. Virus ini mengandung 3 gen yang dibutuhkan untuk replikasi retrovirus
yaitu gag, pol, env. Terdapat lebih dari 6 gen tambahan pengatur ekspresi virus yang
penting dalam patogenesis penyakit. Satu protein replikasi fase awal yaitu protein Tat,
berfungsi dalam transaktivasi dimana produk gen virus terlibat dalam aktivasi
transkripsional dari gen virus lainnya. Transaktivasi pada HIV sangat efisien untuk
menentukan virulensi dari infeksi HIV. Protein Rev dibutuhkan untuk ekspresi protein
struktural virus. Rev membantu keluarnya transkrip virus yang terlepas dari nukleus.
Protein Nef menginduksi produksi khemokin oleh makrofag, yang dapat menginfeksi
sel yang lain (Brooks, 2005).
Gen HIV-ENV memberikan kode pada sebuah protein 160-kilodalton (kD) yang
kemudian membelah menjadi bagian 120-kD(eksternal) dan 41-kD (transmembranosa).
Keduanya merupakan glikosilat, glikoprotein 120 yang berikatan dengan CD4 dan
mempunyai peran yang sangat penting dalam membantu perlekatan virus dangan sel
target Setelah virus masuk dalam tubuh maka target utamanya adalah limfosit CD4
karena virus mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4. Virus ini
mempunyai kemampuan untuk mentransfer informasi genetik mereka dari RNA ke
DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse transcriptase. Limfosit CD4
berfungsi mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya
fungsi tersebut menyebabkan gangguan respon imun yang progresif. Setelah infeksi
primer, terdapat 4-11 hari masa antara infeksi mukosa dan viremia permulaan yang
dapat dideteksi selama 8-12 minggu. Selama masa ini, virus tersebar luas ke seluruh
tubuh dan mencapai organ limfoid. Pada tahap ini telah terjadi penurunan jumlah sel-T
CD4.
Respon imun terhadap HIV terjadi 1 minggu sampai 3 bulan setelah infeksi, viremia
plasma menurun, dan level sel CD4 kembali meningkat namun tidak mampu
menyingkirkan infeksi secara sempurna. Masa laten klinis ini bisa berlangsung selama
10 tahun. Selama masa ini akan terjadi replikasi virus yang meningkat. Diperkirakan
sekitar 10 milyar partikel HIV dihasilkan dan dihancurkan setiap harinya. Waktu paruh

virus dalam plasma adalah sekitar 6 jam, dan siklus hidup virus rata-rata 2,6 hari.
Limfosit TCD4 yang terinfeksi memiliki waktu paruh 1,6 hari. Karena cepatnya
proliferasi virus ini dan angka kesalahan reverse transcriptase HIV yang berikatan,
diperkirakan bahwa setiap nukleotida dari genom HIV mungkin bermutasi dalam basis
harian (Brooks, 2005). Akhirnya pasien akan menderita gejala-gejala konstitusional dan
penyakit klinis yang nyata seperti infeksi oportunistik atau neoplasma. Level virus yang
lebih tinggi dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut. HIV
yang dapat terdeteksi dalam plasma selama tahap infeksi yang lebih lanjut dan lebih
virulin daripada yang ditemukan pada awal infeksi (Brooks, 2005). Infeksi oportunistik
dapat terjadi karena para pengidap HIV terjadi penurunan daya tahan tubuh sampai
pada tingkat yang sangat rendah, sehingga beberapa jenis mikroorganisme dapat
menyerang bagian-bagian tubuh tertentu. Bahkan mikroorganisme yang selama ini
komensal bisa jadi ganas dan menimbulkan penyakit (Zein, 2006).
1.4. TRANSMISI HIV/AIDS
Transmisi HIV/AIDS terjadi melalui cairan tubuh yang mengandung virus HIV yaitu
melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun heteroseksual, jarum suntik pada
pengguna narkotika, transfusi komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi HIV ke
bayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS
dapat diketahui, misalnya pengguna narkotika, pekerja seks komersial dan
pelanggannya, serta narapidana.
1.1.
Transmisi Seksual
Transmisi HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina
atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran
mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih
berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan
seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Kekerasan
seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung
umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina
yang memudahkan transmisi HIV Cara hubungan seksual ano-genital merupakan
perilaku seksual dengan risiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra
seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seorang pengidap HIV. Hal ini
disebabkan karena tipisnya mukosa rektum sehingga mudah sekali mengalami
perlukaan saat berhubungan seksual ano-genital. Risiko perlukaan ini semakin
bertambah apabila terjadi perlukaan dengan tangan (fisting) pada anus/rektum.

Tingkat risiko kedua adalah hubungan oro-genital termasuk menelan semen dari
mitra seksual pengidap HIV. Tingkat risiko ketiga adalah hubungan genital
genital/hetero seksual, biasanya terjadi pada hubungan suami istri yang salah
seorang telah mengidap HIV.
1.2.

Transmisi Non Seksual


HIV dapat menular melalui transmisi parenteral yaitu akibat penggunaan jarum
suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi HIV.
Penggunaan jarum suntik yang

berganti-gantian menyebabkan tingginya kasus

HIV/AIDS pada kelompok pengguna napza suntik (IDU).Pada umumnya, ibukota


dan kota-kota metropolitan mempunyai jumlah pengguna napza suntik yang besar.
Di negara berkembang, cara ini juga terjadi melalui jarum suntik yang dipakai oleh
petugas kesehatan.Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik yang
mengandung darah yang terkontaminasi merupakan penyebab sepertiga dari semua
infeksi baru HIV. Transmisi parenteral lainnya adalah melalui donor/transfusi darah
yang mengandung HIV. Risiko tertular infeksi HIV lewat transfusi darah adalah
>90%, artinya bila seseorang mendapat transfusi darah yang terkontaminasi HIV
maka dapat dipastikan orang tersebut akan menderita HIV sesudah transfusi itu. Di
negara maju resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil, hal
ini dikarenakan pemilihan donor yang semakin bertambah baik dan pengamatan HIV
telah dilakukan. Namun demikian, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses
terhadap darah yang aman. Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui
rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan
dan saat persalinan.HIV tidak menular melalui peralatan makanan, pakaian, handuk,
sapu tangan, toilet yang dipakai secara bersama-sama, ciuman pipi, berjabat tangan,
hidup serumah dengan penderita HIV yang bukan mitra seksual dan hubungan sosial
lainnya. Air susu ibu pengidap HIV, saliva/air liur, air mata, urin serta gigitan
nyamuk belum terbukti dapat menularkan HIV/AIDS
1.5. PATOFISIOLOGI
Dasar utama terinfeksinya HIV adalah berkurangnya jenis Limfosit T helper yang
mengandung marker CD4 (Sel T4). Limfosit T4 adalah pusat dan sel utama yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi imunologik.
Menurun atau menghilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena virus HIV
menginfeksi sel yang berperan membentuk antibodi pada sistem kekebalan tersebut,
yaitu sel Limfosit T4. Setelah virus HIV mengikatkan diri pada molekul CD4, virus

masuk ke dalam target dan melepaskan bungkusnya kemudian dengan enzim reverse
transkriptase virus tersebut merubah bentuk RNA (Ribonucleic Acid) agar dapat
bergabung dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid) sel target.
Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengandung bahan genetik virus.
Infeksi HIV dengan demikian menjadi irreversible dan berlangsung seumur hidup.
Pada awal infeksi, virus HIV tidak segera menyebabkan kematian dari sel yang
diinfeksinya, tetapi terlebih dahulu

mengalami replikasi sehingga ada kesempatan

untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut dan lambat laun akan merusak
limfosit T4 sampai pada jumlah tertentu. Masa ini disebut dengan masa inkubasi. Masa
inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai
menunjukkan gejala AIDS. Pada masa inkubasi, virus HIV tidak dapat terdeteksi
dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih 3 bulan sejak. tertular virus HIV
yang dikenal dengan masa window period.
Setelah beberapa bulan sampai beberapa tahun akan terlihat gejala klinis pada
penderita sebagai dampak dari infeksi HIV tersebut. Pada sebagian penderita
memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut, 3-6 minggu setelah
terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri menelan, pembengkakan kelenjar
getah bening, ruam, diare, atau batuk. Setelah infeksi akut, dimulailah infeksi HIV
asimptomatik (tanpa gejala). Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung selama 8-10
tahun, tetapi ada sekelompok kecil penderita yang memliki perjalanan penyakit amat
cepat hanya sekitar 2 tahun dan ada juga yang sangat lambat (non-progressor).Secara
bertahap sistem kekebalan tubuh yang terinfeksi oleh virus HIV akan menyebabkan
fungsi kekebalan tubuh rusak. Kekebalan tubuh yang rusak akan mengakibatkan daya
tahan tubuh berkurang bahkan hilang, sehingga penderita akan menampakkan gejalagejala akibat infeksi oportunistik.
1.6. PENCEGAHAN HIV/AIDS
1. Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya agar orang sehat tetap sehat atau
mencegah orang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer merupakan hal yang paling
penting, terutama dalam merubah perilaku. Beberapa hal yang perlu diperhatikan
antara lain :
Pencegahan dilakukan dengan tindakan seks yang aman dengan pendekatan
ABC yaitu, Abstinence, artinya absen seks ataupun tidak melakukan
hubungan seks bagi orang yang belum menikah merupakan metode paling
aman untuk mencegah penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual, jika

tidak memungkinkan pilihan kedua adalah Be Faithful, artinya tidak bergantiganti pasangan. Jika kedua hal tersebut tidak memungkinkan juga, maka
pilihan berikutnya adalah penggunaan kondom secara konsisten (Use

Condom).
Berhenti menjadi pengguna NAPZA terutama narkotika suntikan, atau
mengusahakan agar selalu menggunakan jarum suntik yang steril serta tidak

mengunakannya secara bersama-sama.


Di sarana pelayanan kesehatan harus dipahami dan diterapkan kewaspadaan
universal (universal precaution) untuk mengurangi risiko penularan HIV
melalui darah. Kewaspadaan universal ini meliputi cuci tangan dengan sabun
dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan,
penggunaan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan, pengelolaan dan
pembuangan alat tajam secara hati-hati, pengelolaan alat kesehatan bekas
pakai dengan melakukan dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi dengan

benar.
Pencegahan penyebaran melalui darah dan donor darah dilakukan dengan
skrining adanya antibodi HIV, demikian pula semua organ yang akan
didonorkan, serta menghindari transfusi, suntikan, jahitan dan tindakan invasif

lainnya yang kurang perlu.


WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan vertikal dari
ibu kepada anak yaitu dengan cara mencegah jangan sampai wanita terinfeksi
HIV/AIDS, apabila sudah terinfeksi HIV/AIDS mengusahakan supaya tidak
terjadi kehamilan, bila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak
menular dari ibu kepada bayinya dan bila sudah terinfeksi diberikan dukungan
serta perawatan bagi ODHA dan keluarganya.

2. Pencegahan Sekunder
Infeksi HIV/AIDS menyebabkan menurunnya sistem imun secara progresif
sehingga muncul berbagai infeksi opurtunistik yang akhirnya dapat berakhir pada
kematian. Sementara itu, hingga saat ini belum ditemukan obat maupun vaksin yang
efektif. sehingga pengobatan HIV/AIDS dapat dibagi dalam tiga kelompok sebagai
berikut :
Pengobatan suportif yaitu pengobatan untuk meningkatkan keadaan umum
penderita. Pengobatan ini terdiri dari pemberian gizi yang baik, obat
simptomatik dan pemberian vitamin.

Pengobatan infeksi opurtunistik merupakan pengobatan untuk mengatasi


berbagai penyakit infeksi dan kanker yang menyertai infeksi HIV/AIDS. Jenisjenis mikroba yang menimbulkan infeksi sekunder adalah protozoa
(Pneumocystis

carinii,

Toxoplasma,

dan

Cryptotosporidium),

jamur

(Kandidiasis), virus (Herpes, cytomegalovirus/CMV, Papovirus) dan bakteri


(Mycobacterium TBC, Mycobacterium ovium intra cellular, Streptococcus,
dll). Penanganan terhadap infeksi opurtunistik ini disesuaikan dengan jenis

mikroorganisme penyebabnya dan diberikan terus-menerus.


Pengobatan antiretroviral (ARV), ARV bekerja langsung menghambat enzim
reverse transcriptase atau menghambat kinerja enzim protease. Pengobatan
ARV terbukti bermanfaat memperbaiki kualitas hidup, menjadikan infeksi
opurtunistik menjadi jarang dan lebih mudah diatasi sehingga menekan
morbiditas dan mortalitas dini, tetapi ARV belum dapat menyembuhkan pasien
HIV/AIDS ataupun membunuh HIV

3. Pencegahan Tersier
Orang yang didiagnosis HIV biasanya banyak menerima diskriminasi saat
membutuhkan pengobatan HIV ataupun bantuan dari fasilitas rehabilitasi obat,
selain itu juga dapat mendatangkan trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya.
ODHA perlu diberikan dukungan berupa dukungan psikososial agar penderita dapat
melakukan aktivitas seperti semula/seoptimal mungkin. Misalnya :
Memperbolehkannya
untuk
membicarakan
hal-hal
tertentu

dan

mengungkapkan perasaannya
Membangkitkan harga dirinya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau

mengenang masa lalu yang indah


Menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya
Mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan

diri dan tidak menyalahkan diri atau orang lain


Selain itu perlu diberikan perawatan paliatif (bagi pasien yang tidak dapat
disembuhkan atau sedang dalam tahap terminal) yang mencakup : pemberian
kenyamanan (seperti relaksasi dan distraksi, menjaga pasien tetap bersih dan
kering, memberi toleransi maksimal terhadap permintaan pasien atau
keluarga), pengelolaan nyeri (bisa dilakukan dengan teknik relaksasi,
pemijatan, distraksi, meditasi, maupun pengobatan antinyeri), persiapan

menjelang kematian meliputi penjelasan yang memadai tentang keadaan


penderita, dan bantuan mempersiapkan pemakaman.
1.7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK