Anda di halaman 1dari 11

MM47

WE/P4/G4

MANAJEMEN MODAL

Pengertian.
Modal merupakan dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam rangka pendirian badan
usaha, dengan tujuan untuk membiayai kegiatan usaha bank disamping memenuhi
peraturan yang ditetapkan.
Modal bank merupakan salah satu sumber penting dalam memenuhi kebutuhan dana
bank, tetapi juga posisi modal bank akan mempengaruhi keputusan-keputusan
manajemen dalam hal pencapaian tingkat laba, di satu pihak dan kemungkinan
timbulnya risiko di pihak lain.

Komponen - komponen Modal Bank


1.

Modal Inti (primary capital)

Komponen modal inti pada prinsipnya terdiri atas modal disetor dan cadangan-cadangan
yang dibentuk dari laba setelah pajak. Dengan perincian sebagai berikut :
a) Modal disetor, yaitu modal yang disetor secara efektif oleh pemiliknya.
b) Agio saham, yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai
akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.
c) Cadangan Umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, dan mendapat persetujuan Rapat
Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota sesuai dengan ketentuan pendirian
atau anggaran dasar masing -masing bank.
d) Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk
tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham atau
Rapat Anggota.

MM47
WE/P4/G4

e) Laba yang ditahan (retained earnings), yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi
pajak yang oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota diputuskan
untuk tidak dibagikan.
f) Laba tahun lalu, yaitu laba bersih tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak, dan
belum ditetapkan penggunaannya oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat
Anggota.
g) Laba tahun berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah
dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan yang
diperhitungkan sebagai modala inti hanya sebesar 50%.
h) Bagian kekayaaan bersih anak perusahaan yang

laporan

keuangannya

dikonsolidasikan (minority interest), yaitu modal inti anak perusahaan setelah


dikompensasikan dengan nilai penyertaan bank pada anak perusahaan tersebut.

2.

Modal Pelengkap (secondary capital)

Modal pelengkap terdiri atas cadangan-cadangan yang dibentuk tidak

dari laba setelah

pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Secara rinci modal
pelengkap dapat berupa :
a. Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian
kembali aktiva tetap yang telah medapat persetujuan Direktorat Jendral Pajak.
b. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, yaitu cadangan yang dibentuk
dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan, denga maksud untuk menampung
kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali
sebagain atau seluruh aktiva produktif.
c. Modal kuasi yang menurut BIS disebut hybrid (debt/equity) capital instrumen, yaitu
modal yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal
atau utang dan mempunyai ciri-ciri :

MM47
WE/P4/G4

1)

Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan, dipersamakan dengan modal

2)

(subordinated) dan telah dibayar penuh.


Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan Bank

3)

Indonesia.
Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank
melebihi retained earnings dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti,
meskipun bank belum dilikuidasi pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila
bank dalam keadaan rugi atau laba tidak mendukung untuk membayar bunga
tersebut. Dalam pengertian modal kuasi ini termasuk cadangan modal yang
berasal dari penyetoran modal yang efektf oleh pemilik bank yang belum
didukung oleh modal dasar (yang sudah mendapat pengesahan dari instansi yang
berwenang) yang mencukupi.

d. Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman yang mempunyai syarat-syarat sebagai


berikut :
1) Ada perjanjian tetulis antara bank dengan pemberi pinjaman.
2) Mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia. Dalam hubungan ini
pada saat bank mengajukan permohonan persetujuan, bank harus menyampaikan
program pembayaran kembali pinjaman subordinasi tesebut. Tidak dijamin oleh
bank yang bersangkutan dan telah dibayar penuh.
3) Minimal berjangka waktu 5 (lima) tahun.
4) Pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari BI, dan dengn
pelunasan tersebut permodalan bank tetap sehat. Hak tagihnya dalam hal
terjadinya likuidasi berlaku paling akhir dari segala pinjaman yang ada
(kedudukannya sama dengan modal).

MM47
WE/P4/G4

Jumlah pinjaman subordinasi yang diperhitungkan sebagai modal untuk sisa jangka
waktu 5 (lima) tahun terakhir adalah jumlah pinjaman subordinasi dikurangi amortisasi
yang dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (prorata).
Maksimum pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal pelengkap
adalah sebesar 50% dari modal inti.

Fungsi Modal Bank


Modal bank pada prinsipnya memiliki tiga macam fungsi utama yaitu : fungsi
operasional, fungsi perlindungan dan fungsi pengaturan.
Dari tiga fungsi utama tersebut, maka fungsi modal dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Untuk melindungi deposan dengan menyanggah semua kerugian atau bila terjadi
insolvensi dan dilikuidasi, terutama bagi sumber dana yang tidak diasuransikan.
b. Untuk memenuhi kebutuhan gedung, inventaris guna menunjang kegiatan
operasional dan aktiva tidak produktif lainnya.
c. Memenuhi ketentuan permodalan minimum yaitu untuk menutupi kemungkinan
terjadi kerugian pada aktiva yang memiliki risiko yang tidat dapat diperkirakan
sehingga operasi bank dapat tetap berjalan tanpa mengalami gangguan yang
berarti.
d. Untuk meningkatkan kepoercayaan masyarakat mengenai kemampuan bank
memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo dan memberi keyakinan
mengenai kelanjutan operasi bank meskipun terjadi kerugian.

Kebutuhan Modal Bank


Empat langkah dalam menentukan kebutuhan modal bank, yaitu :

MM47
WE/P4/G4

1. Perencanaan keuangan secara menyeluruh


Jumlah modal bank yang dibutuhkan, dipengaruhi oleh rencana keuangan bank,
dan rencana keuangan ini selanjutnya dipengaruhi dan dibatasi oleh tersedianya
jumlah modal yang dapat diperoleh bank.
Proses perencanaan keuangan bank ini dimulai dengan analisis yang harus betulbetul cermat mengenai posisi dan kinerja bank saat itu
Analisis Bank meliputi antara lain :

Analisis Kinerja Bank.


Posisi dan kinerja bank dapat dipelajari melalui pengalaman kegagalan,
kekuatan dan kelemahannya. Sebelum memproyeksikan arah strategi bank di
waktu yang akan datang, Bank harus menganalisis segala aspek yang penting
mengenai keadaan bank, meskipun sasaran pokoknya adalah untuk

mengukur kebutuhan modal bank.


Perkiraan Variabel tertentu
Memperkirakan variabel pokok, yang penting untuk diperhatikan antara
lain : jumlah dana pihak ketiga yang dapat dihimpun melalui rekening giro,
tabungan, deposito berjangka, dan dana-dana lainnya.
Memperkirakan faktor-faktor yang dapat dikontrol, yang bisa meningkatkan
jumlah dana misal, promosi, pelayanan, dan tingkat bunga. (Faktor yang
tidak dapat dikontrol misal, pesaing, kondisi ekonomi, dll)
Memperkirakan jumlah kredit yang akan disalurkan, apakah sesuai dengan
target atau sama dengan perkiraan jumlah dana. Perkiraan tersebut harus
memperhatikan kondisi ekonomi.
Memperkirakan faktor-faktor penyebab keterbatasan kegiatan operasi bank
selama periode perkiraan, misal sumber daya manusia yang terlatih dan

berpengalaman, target laba (ROA), jumlah cabang.


Mengembangkan proyeksi secara keseluruhan dari variabel pokok

MM47
WE/P4/G4

Manajemen bank menyusun angka-angka proyeksi berdasarkan pengalaman


tahun sebelumnya. Perkiraan neraca harus meliputi semua pos aktiva dan
pasiva bank.
Dalam memperkirakan pos modal, harus diingat bahwa aktiva bank naik
karena adanya tambahan modal yang biasanya berasal dari laba ditahan.

2. Penetapan jumlah modal yang wajar


Penetapan modal bank adalah menentukan jumlah modal yang dianggap wajar
atau layak dalam struktur keuangan bank.
Faktor Utama yang mempengaruhi jumlah modal Bank :

Penggunaan modal bank


Menetapkan jumlah kebutuhan modal merupakan masalah yang cukup
kompleks. Kesulitan tersebut antara lain, misal menentukan penggunaan dan
kebutuhan modal . Karena modal berfungsi sebagai pengaman bila terjadi
kerugian, dan jumlah modal dapat mempengaruhi dan meningkatkan

kepercayaan kreditur dan nasabah.


Pengaruh financial leverage
Financial leverage diperlukan untuk mempertinggi keuntungan bagi pemilik
bank.
Financial Leverage, merupakan variabel untuk mengukur kemampuan
manajemen dalam mengelola aktiva yang dimilikinya.
Salah satu unsur risiko yang digunakan dalam menilai efisiensi usaha adalah

leverage multiplier (Total aktiva : Total Modal)


Ketentuan minimal bank.
Ketentuan minimal bank, yaitu jumlah modal minimum yang ditentukan
oleh penguasa moneter (Bank sentral).

MM47
WE/P4/G4

Ketentuan jumlah modal minimum di berbagai negara berbeda-beda,


tergantung ketentuan yang ditetapkan oleh badan atau pengawas bank negara
ybs.
Rasio permodalan yang umum digunakan untuk mengukur kemampuan dan
kecukupan modal bank adalah :
a. Rasio modal terhadap dana pihak ketiga
b. Rasio modal terhadap total aktiva berisiko
c. Rasio modal terhadap total aktiva
d. Rasio kredit terhadap modal
e. Rasio aktiva yang diklasifikasi terhadap total modal
f. Rasio aktiva tetap terhadap modal
g. Rasio tingkat pertumbuhan aktiva terhadap pertumbuhan modal.
Faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam menilai kecukupan modal bank
adalah :
a. Kualitas manajemen
b. Likuiditas
c. Kualitas aktiva
d. Hasil usaha dan laba ditahan
e. Kualitas dan integritas manajemen bank.
f. Pembebanan biaya.
g. Fluktuasi struktur simpanan masyarakat.
h. Kualitas prosedur operasi
i. Kemampuan bank memenuhi kebutuhan keuangan dalam kaitannya dengan
kompetisi yang dihadapi.

MM47
WE/P4/G4

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan


penambahan modal bank :
1. Laba per lembar saham (Earning per share)
2. Pengendalian (control) pemegang saham lama
3. Ketepatan waktu penambahan modal
4. Risiko (insovensi, dan penurunan harga pasar saham)
5. Fleksibilitas, penjualan saham merupakan alternatif yang favorable, tetapi
penjualan obligasi akan mengurangi fleksibilitas keuangan.

3. Pemenuhan modal secara intern


Tingkat pertambahan modal intern atau Internal Capital generation Rate
(ICGR), memberikan suatu cara yang dapat digunakan untuk menghindari
penambahan modal yang berasal dari luar.
Bank dapat memperkirakan jumlah kebutuhan modal dari luar setelah
menetapkan variabel-variabel sbb :
a) Leverage ratio (Total Aktiva : Total Modal)
b) Return On Asset Ratio (EAT : Total aktiva)
c) Earning Retention Ratio (laba ditahan : EAT)
Setelah menentukan Leverage ratio, Return On Asset Ratio, dan Earning Retention
Ratio, manajemen dapat menentukan penambahan jumlah modal tanpa menurunkan
rasio modal dengan menggunakan persamaan (george Hempel) :
Internal Capital Generation Rate ICGR) = Leverage ratio x ROA x Earning retention
ratio
Contoh :

MM47
WE/P4/G4

Jika leverage ratio 20 ( rasio modal terhadap aktiva = 5%), ROA = 1% dan
retention ratio 0,7 (menunjukkan dividend payout ratio 30%)
Tingkat Pertambahan Modal Internal (TPMI) =

20 x 1% x 0,7 = 14%

Artinya jumlah maksimum penambahan aktiva bank tanpa mengurangi rasio modal
adalah 14%.
Manajemen menyadari bahwa penambahan modal dari luar dapat dihindari, dengan
cara meningkatkan ROA atau dengan menaikkan retention ratio.

4. Pemenuhan modal secara ekstern


Sumber Ektern Modal Bank :
a) Capital Notes : Pinjaman subordinasi dengan jangka waktu 10-15 th dan
dapat dijual pada nasabah atau pemegang saham. Denominasi relatif kecil,
tingkat bunga tetap.
b) Capital debenture : Pinjaman subordinasi jangka waktu diatas 15 th, jumlah
dan denominasi besar, dijual pada pemegang saham besar.
c) Convertible Debt : Pinjaman subordinasi yang dapat dikonversikan menjadi
saham biasa bank yang bersangkutan atas opsi pemegang saham.
d) Leasing arrangement : Financial lease, sale and lease back, yang umumnya
dapat dikapitalisasi dan beberapa diantaranya dapat dianggap sebagai modal
atau hutang.
e) Covertible Preferred Stock : Saham preferen yang dapat dikonversi atas opsi
ke dalam saham biasa, dengan harga yang ditetapkan lebih dahulu.
f) Common Stock : Saham biasa yang diterbitkan dan dijual di bursa efek atau
lewat right issue

MM47
WE/P4/G4

Tingkat Pertambahan Modal Intern (TPMI) dapat digunakan untuk memperkirakan


jumlah kebutuhan modal ekstern untuk menutup capital gap (perbedaan antara TPMI
dengan perkiraan pertumbuhan aktiva) dengan menaikkan retention ratio.
Misal Pada awal tahun :
Aktiva Rp.100 M dan modal Rp.5M. Jika TPMI 14% dan kenaikan aktiva 20%,
maka manajemen bank dapat mengantisipasi kenaikan kebutuhan modal Rp.300 juta
dalam bentuk modal baru.
Akhir Tahun :
Aktiva = 120% x Rp.100 M = Rp. 120 M
Modal = Rp.5 M + (14% x Rp. 5 M) = Rp. 5,7 M
Jika aktiva menjadi Rp.120 M, maka modal bank harus dipertahankan
= Rp.5 M + perkiraan kenaikan aktiva
= Rp.5 M + (20% x Rp.5 M )
= Rp. 6 M
Peningkatan modal yang dibutuhkan Rp. 6 M.
Dengan TPMI 14%, tersedia modal intern
Rp. 5,7 M, sehingga kekurangan modal Rp. 300 juta, yang bisa dipenuhi dari sumber
eksternal.

Modal Minimum Bank


Perhitungan penyediaan modal minimum (capital Adequacy) didasarkan pada aktiva
tertimbang menurut risiko (ATMR).
Yang dimaksud aktiva, meliputi aktiva yang tercantum dalam neraca maupun aktiva
yang bersifat administratif, yang tercermin pada kewajiban yang masih bersifat

MM47
WE/P4/G4

kontinjen dan atau komitmen yang disediakan bank bagi pihak ke tiga. Masing-masing
aktiva diberi bobot sesuai dengan risikonya, yang didasarkan pada golongan nasabah,
penjamin atau sifat barang jaminan.