Anda di halaman 1dari 12

PEMETAAN KONLIK SEBAGAI LANGKAH AWAL MEMAHAMI KONFLIK

(KAJIAN DIKLAT PEMETAAN KONFLIK TAHUN 2015)


Adi Riyanto Suprayitno1
Abstract
Conflict is a social phenomenon that inevitably arise in human life and can not be avoided
because of their differences in interests, including conflicts in forest management. Conflicts
in forest management must be faced and managed properly so that it leads to a situation
constructively. To articulate, bright and detailed forest management conflicts that is being
occurred is required preliminary assessment (initial study) in the form of conflict mapping.
Mapping the conflict gave a preliminary description of the attitudes, behaviors and situations
that develop in the dynamics of conflict
Key worrds: forest management, conflict mapping, preliminary assessment

Pendahuluan
Indonesia memiliki masyarakat yang terdiri dari beragam etnis, budaya, agama,
kepercayaan, cara pandang, dan cara hidup.. Keragaman ini melahirkan berbagai
kepentingan. Keragaman kepentingan ini dapat menjadi potensi bagi kemajuan bangsa atau
kemajuan bersama apabila dapat dikelola dengan baik dan berjalan harmonis. Namun
apabila tidak dapat dikelola dengan baik dapat mengarah pada terciptanya situasi yang
dilematis. Situasi yang sulit dan membingungkan. Situasi sulit yang mengharuskan orang
menentukan pilihan antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak menyenangkan atau
tidak menguntungkan. Situasi dilematis yang muncul karena perbedaan kepentingan yang
tidak dikelola dengan baik akan mengarah pada munculnya konflik destruktif. Konflik ini
dapat terjadi di level antar individu, antar kelompok masyarakat, antar masyarakat dengan
pemerintah, dan sebagainya.
Munculnya konflik akan menciptakan keresahan dalam masyarakat. Konflik juga
menciptakan perubahan interaksi di antara pihak-pihak berkonflik yaitu pihak-pihak yang
merasa memiliki kepentingan terhadap obyek yang sama. Interaksi ini terkadang-kadang
bersifat radikal dan tiba-tiba. Sering muncul ketidakpastian terhadap situasi dan terjadi
peningkatan emosi. Konflik tidak boleh dihindari dan dibiarkan berlarut, tetapi harus dikelola
dengan baik, harus dihadapi dan ditangani serta diselesaikan dengan baik oleh pihak yang
posisinya sebagai pihak yang terlibat di dalam konflik maupun oleh pihak ketiga
1 WI Madya BDK Makassar

(interventeor) yang tidak terlibat tetapi berusaha untuk membantu pihak yang terlibat agar
keluar dari jebakan konflik itu. Konflik yang ditangani dan dikelola dengan baik dapat
menghasilkan keluaran-keluaran yang membangun dan positif.
Dalam usaha menangani konflik ini diperlukan langkah-langkah pendahuluan
(initial stage) yang harus dilakukan sebelum penentuan strategi dan pengambilan tindakan
yang berkait dengan konflik tersebut. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah pemetaan
konflik. Pemetaan konflik merupakan langkah pertama dari serangkaian langkah atau
tahapan dalam pengelolaan konflik. Pemetaan konflik adalah salah satu alat-alat penting
yang akan memberikan pemahaman berkaitan dengan kejelasan dan struktur dari situasi
konflik yang terjadi. Pemetaan konflik akan membantu untuk menavigasi riak-riak konflik ke
arah yang konstruktif, efisien dan lebih terkendali.
Tanpa pemahaman awal yang menjadi pondasi penyelesaian konflik, seringkali
keputusan dalam rangka penyelesaian konflik ditetapkan secara kurang bijak bahkan terjadi
pengorbanan (biaya, waktu, tenaga) yang tinggi. Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat
konflik atau yang peduli terhadap penyelesaian konflik harus memiliki pemahaman sejelas
dan sedetail mungkin tentang apa yang sedang terjadi. Pihak-pihak tersebut harus terlebih
dahulu melakukan pemetaan terhadap konflik tersebut. Perlu disadari bahwa konflik adalah
sebuah proses sosial yang berubah terus menerus. Karenanya, pemetaan konflik juga harus
dilakukan berulang-ulang.
Di sektor kehutanan, sampai dengan saat ini, konflik dalam pengelolaan hutan masih
terus terjadi terjadi. Menurut Fuad dan Maskanah (2000), konflik pengelolaan hutan yang
paling sering terlihat adalah konflik vertikal yang terjadi antara masyarakat di dalam dan di
tepian hutan, dengan berbagai pihak di luarnya yang dianggap memiliki otoritas dalam
mengelola sumberdaya hutan. Pihak-pihak yang di luar masyarakat masyarakat tersebut
antara lain: pemerintah pusat dan/atau daerah, p0engusahan hutan swasta dan BUMN,
pengusaha kayu, pengusaha hasil hutan non kayu, pengelola kawasan konservasi, dan
aparat keamanan.
Demi tercapainya kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat, maka konflik
pengelolaan hutan perlu diselesaikan secara baik dan adil (proporsional) dengan
memperhatikan kepentingan para pihak secara obyektif. Para pelaku konflik, termasuk
pemerintah, atau pihak yang peduli tehadap konflik harus terlibat dalam penyelesaian
konflik. Sebagai upaya penyelesaian konflik diperlukan pemahaman obyek konflik lebih
dalam dan komprehensif. Dalam rangka peningkatan kompetensi para pihak dalam
pemetaan konflik diperlukan adanya diklat Pemetaan Konflik.

Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pelaksanaan diklat pemetaan konflik tahun 2015
yang telah dilaksanakan ditinjau dari aspek beberapa mata diklat yang menjadi pokok
pembahasan dalam diklat pemetaan konflik tersebut.
Sekilas tentang Diklat Pemetaan Konlik
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pusdiklat Kehutanan Nomor. SK.35/Dik2/2014 tentang Kurikulum dan Silabus Diklat Pemetaan Konflik dinyatakan bahwa maksud
dari diklat pemetaan konflik adalah untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap
kepada para pemangku kepentingan tentang pemetaan konflik, analisis penyelesaian
konflik, dan pendokumentasian data konflik. Tujuan dari dilat ini adalah agar peserta dapat
memetakan konflik sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan resolusi
konflik
Materi yang didiskusikan dalam diklat pemetaan konflik adalah kebijakan kehutanan
terkait tenurial, konflik pengelolaan sumber daya hutan, analisis sosial, rapid land tenurial
assessment (RaTA),

pengelolaan data konflik, analisis gaya bersengketa (agata) dan

analisis gender dalam pengelolaan konflik sumberdaya hutan. Metode pembelajaran yang
digunakan pada diklat ini adalah metode pembelajaran orang dewasa meliputi diskusi,
simulasi, penugasan kelompok, ceramah, praktik lapangan, penyajian data lapangan dan
pembuatan laporan konflik.
Balai Diklat Kehutanan Makassar pada tahun 2015 telah menyelenggarakan diklat
Pemetaan Konflik yang berlangsung mulai tanggal 7 12 Sepetember 2015. Peserta diklat
diklat ini berasal dari UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Dinas yang
mengurusi Kehutanan di Provinsi/Kabupaten/Kota. Jumlah peserta yang mengikuti diklat
diklat pemetaan konflik berdasarkan kurikulum di atas maksimal sebanyak 20 orang PNS.
Konsep Dasar Pemetaan Konflik
Pemetaan konflik, sebagaimana telah disebutkan di atas, merupakan suatu usaha
untuk memberikan gambaran awal mengenai berbagai sikap, perilaku dan situasi yang
berkembang dalam dinamika konflik. Secara paradigmatis, pemetaan konflik didefinisikan
sebagai suatu proses menganalisis berbagai hal serta hubungan apa saja yang terdapat
dalam situasi konflik yang memungkinkan tersusunnya peta konflik. Pada dasarnya
pemetaan ini dilakukan berdasarkan sejumlah refleksi dan deskripsi yang didasarkan atas

pertanyaan-pertanyaan seperti: apa yang harus dilaukan?, mengapa dilakukan? untuk apa
dilakukan? Dan kapan harus dilakukan? (Dalmases, 2014). Pemetaan ini meliputi pemetaan
pihak berkonflik dan berbagai aspirasi dari pihak-pihak yang ada. Ketika masyarakat yang
memiliki sudut pandang berbeda memetakan situasi mereka secara bersama, mereka saling
memperlajari pengalaman dan pandangan masing-masing.
Secara operasional, pemetaan konflik merupakan salah satu teknik dari sederetan
teknik dan alat yang sangat membantu dalam menganalisa dan memecahkan konflik. Dalam
buku-buku teks tentang resolusi konflik disebutkan bahwa pemetaan konflik membuat para
pihak yang berkonflik maupun interventor (yang melakukan intervensidalam arti positif
mediator, dalam arti negatif provokator) mendapatkan pemahaman yang lebih jelas
mengenai akar konflik, nature (sifat) dan dinamika konflik serta berbagai kemungkinan untuk
mengakhiri atau memperpanjang konflik. Melalui pemetaan konflik maka dapat diketahui
secara lebih mudah dan akurat hal-hal sebagai berikut :
1. Identitas para pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
konflik. Pihak berkonflik adalah kelompok yang berpartisipasi dalam konflik meliputi
pihak utama yang langsung berhubungan dengan kepentingan, pihak sekunder yang
tidak secara langsung berhubungan dengan kepentingan, dan pihak tersier yang tidak
berhubungan dengan kepentingan konflik. Pihak tersier ini yang sering dijadikan
sebagai pihak netral untuk mengintervensi konflik.
2. Jenis relasi para pihak yang terlibat dalam konflik. Untuk melihat dengan lebih jelas
hubungan antara para pihak yang terlibat atau terkait, baik langsung maupun tidak
langsung dalam konflik, bahkan di mana posisi pihak ketiga yang berusaha untuk
melakukan mediasi berada. Dengan tergambarkannya sifat dan keadaan hubungan
antar para pihak yang terlibat dalam konflik, secara otomatis akan mempermudah
pemetakan para pihak dalam kelompok-kelompok atau kategori-kategori tertentu,
misalnya mana sekutu dan mana lawan dari para pihak yang terlibat dalam konflik. Di
sisi lain dengan terpetakannya para pihak dan hubungan antara pihak yang berkonflik,
maka secara mudah dapat diketahui kekuatan masing-masing pihak di dalam
mempengaruhi (baik positif maupun negatif) terhadap keadaan dan perkembangan
konflik.
3.

Berbagai kepentingan yang terlibat dalam konflik. Konflik terjadi karena adanya
perbedaan kepentingan atau kebutuhan dari para pihak yang berkonflik. Kepentingankepentingan ini harus tergambar dengan jelas termasuk berbagai latar yang mendasari
kepentingan-kepentingan tersebut.

4.

Berbagai isu yang terlibat dalam konflik. Isu merupakan wacana atau tema yang
berkembang dalam situasi konflik. Isu ini menunjuk pada adanya saling keterkaitan
tujuan-tujuan yang tidak sejalan di antara pihak yang bertikai. Isu ini dikembangkan oleh
semua pihak yang bertikai dan pihak lain yang tidak teridentifikasi sebagai sumber
konflik.

Proses Pembelajaran Pada Diklat Pemetaan Konflik Tahun 2015


Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pusdiklat Kehutanan Nomor. SK.35/Dik2/2014 tentang Kurikulum dan Silabus Diklat Pemetaan Konflik, terdapat beberapa mata
diklat yang dinilai penting yaitu analisis sosial, rapid land tenurial assessment (rata), analisis
gaya bersengketa (agata) dan analisis gender dalam pengelolaan konflik sumberdaya
hutan. Efektivitas proses pembelajaran mata-mata diklat tersebut sangat bergantung dari
kualitas interaksi widyaiswara dengan peserta diklat. Respon positip peserta diklat sangat
berkaitan dengan kemampuan widyaiswara memfasilitasi proses pembelajaran.
Proses pembelajaran diklat pemetaan konflik tahun 2015, dilaksanakan dengan
konsep experiental learning. Pelaksanaan pembelajaran dengan konsep experiental
learning berupaya melibatkan peserta diklat secara aktif untuk berpartisipasi dalam proses
pembelajaran. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam experiental learning adalah
simulasi, kajian kasus, diskusi serta latihan menggunakan tool yang disediakan untuk
mengananalisis data-data yang terkait dengan konflik yang dikaji. Experiental learning
mengajak peserta diklat belajar sambil bekerja (learning by doing) sehingga peserta diklat
segera dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan. Kegiatan pembelajaran
dibagi menjadi dua segmen yaitu teori dan praktek. Teori dilaksanakan di kelas, sedangkan
praktek lapang dilaksanakan selama 2 hari di di dusun Padang Pare dan Dusun Batu Putih
Desa Tabo-Tabo Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep. Tema yang dijadikan isu untuk
praktek pemetaan konflik di kedua dusun tersebut adalah konflik yang terjadi antara Balai
Diklat Kehutanan Makassar dengan masyarakat kedua dusun tersebut terhadap obyek
hutan diklat Tabo-tabo.
Proses Pembelajaran Mata Diklat Analisis Sosial
Dalam kegiatan pembelajaran mata diklat analisa sosial (ansos), peserta diklat diajak
memahami makna ansos yaitu usaha untuk menganalisis sesuatu keadaan atau masalah
sosial (kemasyarakatan) secara objektif. Dengan memahami ansos maka peserta diklat
dapat menempatkan suatu masalah tertentu, termasuk konflik, dalam konteks realitas sosial
yang lebih luas yang mencakup konsep waktu (sejarah), konteks struktur ekonomi, sosial,
politik, budaya, konteks nilai, dan konteks tingkat atau aras lokasi, yang dalam prosesnya

ansos merupakan usaha untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai hubunganhubungan struktural, kultural dan historis, dari situasi sosial yang diamati.
Pada peserta diklat ditekankan bahwa ansos bukanlah suatu bentuk pemecahan
masalah melainkan diagnosis yang bisa dijadikan acuan yang lengkap dalam pengambilan
keputusan atau tindakan sebagai pemecahan yang tepat. Secara spesifik, ansos dapat
membantu peserta diklat sebagai pemeta konflik untuk memahami dan mengidentifikasi: 1)
manakah permasalahan kunci yang ada dalam masyarakat, 2) manakah kelompok dalam
masyarakat yang mempunyai akses dalam sumber-sumber daya, 3) keterkaitan berbagai
sistem dalam masyarakat, 4) potensi-potensi yang ada dalam masyarakat, dan 5) tindakantindakan yang dapat mengubah situasi dan yang memperkuat situasi
Proses pembelajaran mata diklat ansos dilaksanakan di kelas dan berjalan dengan
antusias dan dinamis karena diterapkannya metode diskusi, brainstorming dan tanya jawab
dalam rangka mendapatkan masukan dari berbagai sudut pandang peserta diklat mengenai
analisa sosial dikaitkan dengan konflik pengelolaan hutan. Melalui kegiatan ini, tergambar
pula sejauh mana penyerapan peserta diklat terhadap materi analisa sosial terkait dengan
konflik.
Proses Pembelajaran Mata Diklat rapid land tenurial assessment (RaTA)
Persoalan kepemilikan lahan (land tenure) seringkali menjadi penyebab utama
terjadinya beberapa konflik komunal atau konflik separatis yang penuh kekerasan, termasuk
disektor kehutanan. Konflik sistem kepemilikan lahan dalam pengelolaan hutan di Indonesia
telah terjadi secara terbuka antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah, dan terkadang
berakhir dengan kekerasan atau berakhir di meja hijau. Sebagian besar konflik terjadi
karena tumpang tindih penguasaan/kepemilikan lahan (land tenure) dan pemanfaatan lahan
(land use).
Konflik kepemilikan lahan merupakan hasil dari persaingan perebutan kekuasaan,
ideologi dan sejarah lokal, yang mengakibatkan terjadinya pola ketidakmerataan yang terus
berubah. Dalam rangka menjawab konflik tersebut, diperlukan pengaturan kepemilikan
lahan secara tepat dalam pengelolaan sumber daya hutan bagi terwujudnya pengelolaan
hutan lestari. Galudra dkk (2013) menyatakan pentingnya penilaian kepemilikan lahan
sebagai bagian dari analisis atas konfliknya. Penilaian kepemilikan lahan dibutuhkan bukan
hanya untuk mengetahui penyebab sesungguhnya dari konflik yang terjadi, tetapi juga
dibutuhkan untuk menjalankan program yang ditujukan untuk membantu komunitas lokal
untuk mewujudkan penataan sumber daya hutan dengan lebih baik.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian atas
kepemilikan lahan yang disengketakan adalah RaTA. RaTA merupakan akronim dari Rapid
Land Tenure Assessment (Penilaian Sistem Kepemilikan Lahan Secara Cepat). RaTA
adalah pendekatan sistematis untuk memahami kompleksitas berbagai status kepemilikan
lahan para pihak, kepentingan dan klaim para pihak, dan hak dan kekuatan para pihak untuk
menjustifikasi klaim dan konflik yg diciptakan. Galudra dkk (2013) menyatakan bahwa RaTA
lebih bersifat recognisance study, yaitu sebuah kegiatan penelitian pendahuluan untuk
menegaskan bahwa konflik sistem kepemilikan lahan telah terjadi di lokasi tertentu dan
berlangsung dalam kurun waktu tertentu.
Kegiatan pembelajaran mata diklat RaTA, dilaksanakan secara teori dan praktek
lapang. Pada pembelajaran teori di kelas, peserta diklat diajak untuk membahas dan
mendiskusikan langkah-langkah yang ada dalam kegiatan RaTA yaitu: 1) memetakan
daerah (pemilihan lokasi), 2) analisi konflik tenurial meliputi dimensi dan sejarah konflik, 3)
analisis para aktor dan hubungan kekuatan, 4) memahami perspektif aktor local, 5) Analisis
kebijakan, dan 6) Dialog kebijakan. Sekurang-kurangnya dalam diskusi tersebut, terdapat
tiga hal yang harus dipahami peserta diklat dalam kegiatan RaTA yaitu: 1) Siapa yang
menguasai/ memliki/ mengklaim atas sumber daya alam? (SUBJEK), 2) Apa yg dikuasai/
dimiliki/ diklaim? (OBJEK), 2) Bagaimana pengklaim ini melihat klaim pihak lain? (muncul
konflik/ tumpang tindih klaim atas sda) (HUB. ANTAR SUBJEK)
Agar teori RaTA dapat lebih dipahami oleh peserta diklat maka dilakukan kegiatan
praktek. Kegiatan praktek lapang mata diklat RaTA dilaksanakan selama 2 hari bersamaan
dengan mata diklat lainnya. Pada kegiatan praktek lapang dilakukan pengumpulan data baik
data primer maupun sekunder. Pengambilan data primer dilakukan secara partisipatif
melalui kegiatan FGD dengan tujuan merekonstruksi konflik sistem kemepilikan lahan yang
terjadi dari perspektif masyarakat. Karena keterbatasan waktu praktek, tahap ini hanya
dilakukan satu kali. Dari hasil praktek lapang, diketemukan bahwa permasalahan konflik
tenurial antara BDK Makassar dan masyarakat sekitar hutan diklat Tabo-Tabo, di lihat dari
perspektif masyarakat, terletak pada tata kuasa. Masyarakat merasa bahwa secara sejarah
mereka memiliki hak atas tanah yang diklaim sebagai hutan diklat.
Terdapat hal yang menarik dalam praktek lapang diklat pemetaan konflik yang dapat
dijadikan pembelajaran. Ketika proses pengambilan data di lapangan atau bertemu
langsung dengan masyarakat di lahan/tempat kerja mereka, ada reaksi kecurigaan dari
masyarakat dusun Batu Putih terhadap peserta diklat. Masyarakat cenderung menolak
interaksi karena menduga bahwa peserta diklat adalah pihak dari BDK Makassar. Hal ini
dapat diantisipasi oleh peserta diklat dengan memberikan penjelasan bahwa mereka bukan
pegawai BDK Makassar melainkan pihak yang datang dari berbagai daerah di Sulawesi

untuk belajar kepada masyarakat. Pada saat pengambilan data tersebut identitas atau
attribut yang ada kaitannya dengan BDK Makassar untuk sementara ditanggalkan. Dari
peristiwa ini dapat ditarik kesimpulan bahwa di waktu mendatang diperlukan pihak ketiga
yang diangap netral atau yang tidak memiliki kepentingan, untuk menjadi mediator dalam
rangka membantu penyelesaian konflik penguasaan dan pengelolaan hutan antara BDK
Makassar dengan Masyarakat.
Proses Pembelajaran Mata Diklat Analisa Gaya Bersengketa (AGATA)
Seberapa efektif konflik dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat atau
dengan bantuan pihak lain, dipengaruhi oleh gaya dari masing-masing pihak yang berkonflik
dalam menghadapi dan mengelola konflik. Gaya-gaya tersebut dalam konteks penyelesaian
konflik oleh Ford Foundation diperkenalkan dengan terminologis Gaya Bersengketa (GATA).
Sebenarnya setiap gaya bersengketa punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Dalam proses pembelajaran mata
diklat Analisis Gaya Bersengketa (AGATA),
peserta

diklat

pemetaan

konflik

diperkenalkan pada 5 (lima) GATA. Marshall


(1995)

dalam

Tadjudin

(2000)

mengkategorikan gaya bersengketa dengan


bersandarkan pada dua variabel, yaitu
cooperativeness (derajat upaya satu pihak
untuk memuaskan kepentingan pihak lain
dan assertiveness (derajat upaya satu pihak
untuk memuaskan kepentingannya sendiri).
Perpaduan

dua

variabel

tersebut

menghasilkan lima gaya tanggapan konflik.


1. Pengabaian (Penghindaran)
Ciri utama gaya ini adalah perilaku yang tidak asertif dan pasif. Biasanya mereka
mengalihkan perhatian dari konflik atau justru menghindari konflik. Individu menjadi tidak
peduli dengan permasalahan dan cederung melihat konflik sebagai sesuatu yang merugikan
dan membahayakan dirinya maka harus dihindari. Konflik dinilai akan menindas atau
menciptakan konflik yang berkepanjangan dan merugikan dirinya.

2. Akomodasi
Ditandai dengan perilaku non asertif namun kooperatif. Individu cenderung
mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan orang lain. Suatu tindakan untuk meredakan tekanan pihak lain dengan cara
menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Tindakan ini lazim
diambil oleh pihak yang lebih lemah dalam situasi konflik. Dengan kata lain pihak yang
bersangkutan kalah sedangkan pihak lain menang. Ini berarti pihak yang bersangkutan
berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain.
3. Kompetisi (Menang/Kalah)-Agitasi
Pada gaya kompetitif, individu cenderung agresif dan sulit untuk bekerjasama,
menggunakan kekuasaan untuk melakukan konfrontasi secara langsung; dan berusaha
untuk menang tanpa ada keinginan untuk menyesuaikan tujuan dan keinginannya dengan
orang lain. Tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk memuaskan kepentingannya
tanpa mempertimbangkan pengaruhnya terhadap kepentingan pihak lain, dengan kata lain
satu pihak memastikan bahwa dia yang memenangkan konflik dan pihak lain kalah.
Keputusan berkompetisi ini lazimnya muncul jika: (a) pihak yang bersangkutan menilai
bahwa dirinya memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan kompetisi. (b) pihak yang
bersangkutan menilai bahwa pihak lain akan bersikap sama dengan dirinya. Pihak yang
bersangkutan menggunakan kekuasaan atau pengaruhnya untuk memastikan bahwa dalam
konflik tersebut ia yang keluar sebagai pemenang. Seperti yang digambarkan pada grafik,
gaya kompetitif lebih memperhatikan diri sendiri daripada orang lain.
4. Kolaborasi (Penyelesaian Masalah)
Individu dengan collaborative style memiliki sikap asertif dan perhatian terhadap
orang lain. Tindakan yang diambil oleh semua pihak yang berkonflik untuk menghasilkan
tindakan yang memuaskan semua pihak yang terlibat. Tindakan kolaborasi dilakukan melalui
proses klarifikasi perbedaan dan bukan sekedar mengakomodasi kepentingan. Kolaborasi
merupakan tindakan: menang-menang. Dengan demikian, tujuannya adalah mengatasi
konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama
yang mengikat semua pihak yang bertikai. Orang dengan collaborative style bersedia
menghabiskan waktu banyak untuk menyelesaikan konflik dengan tuntas. Proses ini
biasanya yang paling lama memakan waktu karena harus dapat mengakomodasi kedua
kepentingan yang biasanya berada di kedua ujung ekstrim satu sama lainnya.

5. Kompromi
Tindakan bersama yang bersifat mencari jalan tengah yang dapat diterima oleh
pihak-pihak yang berkonflik. Dalam tindakan ini, tidak jelas siapa yang menang dan siapa
yang kalah. Gaya kompromi lebih terbuka dibandingkan dengan avoidance, tetapi masalah
yang terungkap tidak sebanyak gaya kolaborasi. Yang membedakan antara gaya kompromi
dengan gaya kolaborasi adalah waktu. Waktu yang dibutuhkan gaya kompromi untuk
menyelesaikan konflik lebih sedikit, namun solusi yang dihasilkan bisa jadi bukan solusi
yang terbaik untuk semua pihak. Dalam tindakan kompromi kepuasan yang sejati biasanya
tidak tercapai.
Gaya bersengketa, sebagaimana diuraikan di atas, yang dimanifestasikan oleh
pihak-pihak yang berkonflik sangat menentukan dalam menetapkan pendekatan apa yang
paling memungkinkan dilakukan dalam rangka pengelolaan dan penanganan konflik. Oleh
karena itu, idealnya seorang pemeta konflik harus mampu memetakan gaya-gaya
bersengketa dari pihak-pihak yang terlibat konflik.
Proses pembelajaran mata diklat AGATA dilaksanakan dalam dua segmen yaitu teori
dan praktek. Pada kegiatan pembelajaran teori selain diperkenalkan 5 (lima) GATA peserta
diklat juga diperkenalkan tentang tool atau instrumen untuk menganalisis GATA. Instrumen
AGATA yang dikenal sebagai istrumen Thomas Kilman adalah alat sederhana untuk
menganalisis gaya berkonflik dari seseorang atau pihak tertentu. Selama proses
pembelajaran teori, peserta diklat dibimbing oleh widyaiswara untuk menggunakan
instrument AGATA. Instrumen AGATA berupa daftar pertanyaan yang diberi skor. Terdapat
25 pertanyaan yang didesain untuk mengukur kelima gaya bersengketa. Oleh Gamal Pasya
instrument AGATA dikemas kedalam bentuk EXCEL sehingga menjadi lebih sederhana
dalam penggunaannya.
Walaupun waktu pelaksanaan praktek lapang sangat singkat yaitu hanya 2 (dua)
hari, namun selama praktek di dusun Padang Pare dan Dusun Batu Putih, peserta diklat
setidaknya telah mampu menggali beberapa informasi berdasarkan pertanyaan yang ada
dalam instrumen. Dengan data yang terbatas ditemukan gaya bersengketa dari masyarakat
sekitar hutan Tabo-Tabo yaitu cenderung ke arah gaya menghindar dan agitasi (menyerangkompetisi).

Proses Pembelajaran Mata Diklat Analisa Gender


Analisis gender adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui tentang konflik
atau potensi konflik dilihat dari keterlibatan perempuan dalam konflik dan atau yang ikut
menyelesaikan konflik. Secara spesifik, analisis ini bertujuan untuk: 1) mengetahui peran
perempuan dalam menciptakan konflik atau ikut menyelesaikan konflik atau sebagai korban
dari konflik, 2) mengetahui keterlibatan perempuan dalam konflik tersebut, 3) mengetahui
pola patriarkhi (kekuasaan menurut garis laki-laki) yang terjadi dalam masyarakat yang
cenderung membuat konflik gender.
Dalam pembelajaran mata diklat ini, peserta diklat diajak mendiskusikan hal-hal di
atas. Pada proses pembelajaran di kelas (teori) dibahas pula cara melakukan analisa
gender yang kemudian dijadikan bekal untuk pelaksanaan praktek lapang oleh peserta
diklat. Cara-cara tersebut secara garis besar antara lain: 1) melakukan wawancara dengan
perempuan tentang perannya dalam menciptakan konflik, korban konflik atau menciptakan
perdamaian, 2) mengidentifikasi keterlibatan perempuan dalam konflik dan yang potensial
menciptakan perdamaian, dan 3) menanyakan pandangan antara perempuan dan laki-laki
dalam menghadapi konflik.
Dari hasil praktek lapang, ditemukan bahwa peran perempuan tidak terlalu signifikan
pada terciptanya konflik. Perempuan lebih berperan untuk mengurus rumah tangga, dan
membantu suami di kebun atau ladang. Namun, secara prinsip, mereka juga merasa tidak
puas dan jengkel pada BDK Makassar karena merasa bahwa tanah atau lahan suami
mereka yang telah dimiliki secara turun temurun tidak lagi dapat dikelola lagi karena sudah
menjadi hutan diklat.
Penutup
Konflik adalah fenomena sosial yang pasti muncul dalam kehidupan manusia dan
tidak mungkin dihindari karena adanya perbedaan kepentingan, termasuk konflik dalam
pengelolaan hutan. Konflik dalam pengelolaan hutan harus dihadapi dan dikelola dengan
baik sehingga mengarah pada situasi konstruktif. Untuk memahami secara jelas, terang dan
detail konflik pengelolaan hutan yang sedang terjadi diperlukan kajian awal (initial study)
berupa pemetaan konflik. Pemetaan konflik memberi gambaran awal mengenai berbagai
sikap, perilaku dan situasi yang berkembang dalam dinamika konflik.

REFERENSI
Dalmases LC. 2014. Mapping Conflict: Theory and Metodology, Practical application in
Juvenile Justice. Barcelona: Department de Justicia
Fuad FH, Maskanah S. 2000. Inovasi Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Sumber Daya
Hutan. Bogor: Putaka LATIN.
Galudra G, dkk. 2013. RaTA: Manual Penilaian

Cepat Konflik Pertanahan. Yogyakarta:

STPN Press.
Tadjudin D. 2000. Manajemen Kolaborasi. Bogor: Pustaka LATIN.

Anda mungkin juga menyukai