Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS

Nama

: Tn. MD

Jenis kelamin : laki-laki


Usia

: 48 tahun

Alamat

: Jl. Ngandongan Rt 02/02 Kel. Kalisalak Kec.Salaman Magelang

Pekerjaan

: Penyabit Rumput

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Status

: Menikah

No RM

: 07-46-93

Masuk RS

: 25 September 2012

II.

Keluhan Utama
Terdapat Benjolan di buah zakar kiri hilang timbul sejak kurang lebih 10 tahun sebelum
masuk rumah sakit.

III.

Anamnesa Lengkap
Telah dilakukan Anamnesa pada tanggal 25 September 2012 jam 07.00
A Riwayat penyakit sekarang
Pasien laki-laki datang ke Poliklinik Bedah karena terdapat benjolan di buah zakar
kiri pada sejak 10 tahun yang lalu. Benjolan dirasakan semakin membesar dan timbul
saat berdiri terutama 3 tahun terakhir, kemudian hilang saat beristirahat. Benjolan
timbul saat os lama berdiri dan mengangkat karung rumput. Pasien mengaku benjolan
tidak nyeri dan dapat dimasukkan secara manual menggunakan jari. Awalnya
benjolan tidak nyeri,namun sejak 3 hari lalu pasien merasakan berupa nyeri pada
perut kiri bawah dan buah zakar kiri, susah buang air besar, buang air kecil yang
sedikit. Seringkali pasien merasa mual namun tidak ada muntah. Pasien tidak

mengeluh demam, nafsu makan pasien juga baik, pasien tidak memiliki riwayat
penyakit batuk yang lama ataupun buang air besar yang keras.
B Riwayat penyakit dahulu
Penyakit diabetes melitus : disangkal
Penyakit asma
: disangkal
Penyakit alergi
: disangkal
Pasien tidak pernah operasi sebelumnya
C Riwayat penyakit keluarga
Pasien menyangkal adanya riwayat DM, hipertensi, asma, dan penyakit jantung.
D Riwayat pribadi dan sosial ekonomi
Pasien adalah seorang Pria dengan status gizi cukup, Perokok berat (1 bungkus
perhari) dan tidak ada riwayat menggunakan obat-obatan terlarang. Pasien
mempunyai status ekonomi menengah dan telah menikah.

II.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Status gizi

: Kesan gizi cukup

Tanda vital

Tekanan darah : 160/110 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Suhu

: 36,7oC

Pernafasan

: 18 x/menit

Status generalis
1. Kulit
Warna

: sawo matang, tidak ikterik dan tidak terdapat hipopigmentasi maupun


hiperpigmentasi

Lesi

: tidak terdapat lesi primer seperti macula, papul vesikuler, pustule maupun lesi
sekunder seperti jaringan parut atau keloid pada bagin tubuh yang lain.

Rambut

: tumbuh rambut permukaan kulit

Turgor

: baik

Suhu raba : hangat

2. Kepala
Ekspresi

: ekspresif

Simetris wajah : simetris


Nyeri tekan sinus : tidak terdapat nyeri tekan sinus
Rambut

: distribusi merata, warna hitam

Pembuluh darah : tidak terdapat pelebaran pembuluh darah


Deformitas

: tidak terdapat deformitas

3. Mata
Bentuk
Palpebra

: normal, kedudukan bola mata simetris


: normal, tidak terdapat ptosis, lagoftalmus, oedema, perdarahan, blefaritis,
maupun xanthelasma

Gerakan

: normal, tidak terdapat strabismus, nistagmus

Konjungtiva : tidak anemis


Sklera

: tidak ikterik

Pupil

: bulat, didapatkan isokor, diameter 4 mm, reflex cahaya langsung positif pada
mata kanan dan kiri, reflex cahaya tidak langsung positispada mata kanan dan
kiri

Eksoftalmus : tidak ditemukan


Endoftalmus : tidak ditemukan
4. Telinga
Bentuk

: normotia

Liang telinga : lapang


Serumen : tidak ditemukan serumen pada telinga kanan maupun kiri
Nyeri tarik auricular : tidak ada nyeri tarik pada auricular kiri maupun kanan
Nyeri tekan tragus : tidak ada nyeri tekan pada tragus kanan maupun kiri
5. Hidung
Bagian luar : normal, tidak terdapat deformitas

Septum

: terletak ditengah, simetris

Mukosa hidung : tidak hiperemis, konka nasalis eutrofi


Cavum nasi : tidak ada perdarahan
6. Mulut dan tenggorok
Bibir

: normal, tidak pucat, tidak sianosis

Gigi-geligi : hygiene baik


Mukosa mulut : normal, tidak hiperemis
Lidah

: normoglosia, tidak tremor, tidak kotor

Tonsil

: ukuran T1/T1, tenang, tidak hiperemis

Faring

: tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di tengah

7. Leher
Bendungan vena : tidak ada bendungan vena
Kelenjar tiroid : tidak membesar, mengikuti gerakan, simetris
Trakea

: di tengah

8. Kelenjar getah bening


Leher

: tidak terdapat pembesaran di KGB leher

Aksila

: tidak terdapat pembesaran di KGB aksila

Inguinal

: tidak terdapat pembesaran di KGB inguinal

9. Thorax
Paru-paru

Inspeksi : simetris, tidak ada hemithorax yang tertinggal pada saat statis dan dinamis

Palpasi : gerak simetris vocal fremitus sama kuat pada kedua hemithorax

Perkusi : sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar pada sela iga VI pada linea
midklavikularis dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa, batas paru-lambung pada sela iga
ke VIII pada linea axilatis anterior sinistra.

Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing pada kedua lapang
paru

Jantung

Inspkesi : tidak tampak pulsasi ictus cordis

Palpasi : terdapat pulsasi ictus cordis pada ICS V, di linea midklavikularis sinistra

Perkusi :
Batas jantung kanan : ICS III - V , linea sternalis dextra
Batas jantung kiri : ICS V , 2-3 cm dari linea midklavikularis sinistra
Batas atas jantung : ICS III linea sternalis sinistra

Auskultasi : bunyi jantung I, II regular, tidak terdengar murmur maupun gallop


10. Abdomen
Inspeksi : abdomen simetris, datar, tidak terdapat jaringan parut, striae dan kelainan kulit,
tidak terdpat pelebaran vena
Palpasi : teraba supel, hepar dan lien tidak teraba, tidak ada nyeri tekan, maupun nyeri lepas,
pada pemeriksaan ballottement didapatkan hasil negative
Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen, tidak ada nyeri ketok CVA.
Auskultasi : bising usus positif 2x/menit, normal
11. Genitalia
(dibahas lebih lanjut dalam status lokalis)
12. Ekstremitas
Tidak tampak deformitas
Akral hangat pada keempat ekstremitas
Tidak terdapat oedema pada keempat ekstremitas
Status lokalis genitalia
Inspeksi

: terdapat massa dengan bentuk agak bulat dengan ukuran 12 x 6 x 5 cm di daerah


skrotum sinistra, berwarna seperti warna kulit disekitarnya dan tidak terdapat tandatanda radang

Palpasi

: teraba massa di daerah skrotum sinistra dengan ukuran 10 x 5 x 4 cm, permukaan


rata, tidak nyeri, massa teraba lunak, fluktuasi (-), testis tidak teraba.

III.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN

Hasil pemeriksaan laboratorium pre-operasi pada tanggal 25 September 2012


Pemeriksaan
Hemoglobin
Hematokrit
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
Bleeding time
Clotting time
Gula darah sewaktu

Hasil
12,8 g/dl
39 %
4,3 juta / L
10100 /L
230.000 /mm3
2 menit
10 menit
111 mg%

Nilai normal
14 18 g/dl
43 51 %
4,5 5,5 juta / L
5000 10000 /L
150.000 400.000 /mm3
1 5 menit
1 16 menit
< 200 mg%

Hasil pemeriksaan rontgen thorax pada tanggal 25 September 2012

Kesan : Bronchitis
IV.

DIAGNOSA KERJA
Hernia Scrotalis Sinistra Irreponible

V.

PENATALAKSANAAN (26 September 2012)


1.

Operasi : hernioplasty
Laporan Operasi :
a. OS dalam spinal anesthesia
b. Desinfeksi lapangan operasi
c. Insisi kanan bawah abdomen

d. Herniotomi (isi kantung usus halus)


e. BP (IV)
f. Tutup luka operasi
g. Operasi selesai
2. Instruksi post-operasi

Bed rest total

Infuse dextrose 5% + ringer laktat = 3:1

Obat :

Injeksi ceftriakson 2 x 1 gram (iv)

Injeksi ketorolac 3 x 1 amp / drip

Paracetamol 3 x 500 mg

Sadar, tidak mual muntah, boleh minum

Obat pulang :

ceftriakson 2 x 500 mg

As. mafenamat 3 x 500 mg


VI.

PROGNOSIS
Ad vitam

: Ad bonam

Ad sanationam

: Dubia ad bonam

Ad fungsionam

: Ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hernia Secara Umum
Definisi

Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (fascia dan muskuloaponeurotik) yang
memberi jalan keluar pada alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan
muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas 3 hal : cincin, kantong dan isi
hernia.1,2
Klasifikasi
Berdasarkan terjadinya, hernia terbagi atas hernia kongenital dan akuisita.
Menurut letaknya bisa disebut hernia inguinal, umbilical, femoral, insisional (sering) dan
hernia epigastrik, gluteal, lumbal, obturator (jarang).1,3
Dari sifatnya dikenal hernia reponibel dan ireponibel. Reponibel bila isi kantung
bisa direposisi kembali bila berbaring atau didorong dengan tangan. Sedangkan bila tidak
bisa direposisi disebut ireponibel. Biasanya hernia ireponibel disebabkan oleh perlekatan
isi kantong pada peritoneum kantong hernia, yang disebut hernia akreta. Tidak ada
keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus.1
Bila terjadi gangguan pada pasase usus yang terjepit hernia yang ireponibel, maka
disebut hernia inkarserata. Sementara bila hernia tersebut mengakibatkan gangguan
vaskularisasi maka disebut hernia strangulata.1
Berikut adalah pembagian hernia yang terjadi secara congenital dan didapat
(acquired) :
1. Kongenital
Kanalis inguinalis normal pada fetus :
Pada bulan ke-8 kehamilan terjadi desensus testis, yaitu masuknya testis dari
abdomen ke scrotum melalui canalis inguinalis, sehingga terjadi penarikan
peritoneum ke daerah scrotum, dan terjadi penonjolan (prosesus vaginalis peritonei).
Pada bayi yang sudah lahir akan mengalami obliterasi sehingga isi perut tidak dapa
masuk melalui kanal.
Karena testis kiri turun lebih dahulu daripada kanan, maka kanalis inguinalis kanan
lebih sering terbuka. Pada keadaan normal, kanalis inguinalis menutup pada usia 2
tahun. Bila prosesus terbuka terus (tidak mengalami obliterasi) menyebabkan
terjadinya hernia inguinalis lateralis kongenital.
2. Acquired / didapat

Disebabkan oleh :

Adanya prosesuss vaginalis yang terbuka


Adanya annulus inguinalis inetrnus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui

kantong dan isi hernia


Dapat juga disebabkan oleh peninggian tekanan intraabdomen yang kronik
(batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, ascites) yang akan mendorong isi

hernia ke annulus inguinalis internus


Kelemahan dinding otot perut yang disebabkan oleh usia, atau kerusakan n.
illioinguinalis dan n. illiofemoralis setelah appendiktomi

B. Hernia Inguinalis
Anatomi Regio Inguinalis

Gbr 1. Dinding Abdomen

Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang


merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan aponeurosis m. transverses
abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus
inguinalis eksternus, yaitu bagian terbuka dari aponeurosis m. oblikus eksternus. Atapnya
adalah aponeurosis m. oblikus eksternus, dan dasarnya adalah ligamentum inguinale.
Akanal ini berisi funiculus spermaticus pada laki-laki dan ligamentum rotundum pada
perempuan.1

Gbr 2. Kanalis
Inguinalis

Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis, karena keluar
melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika
inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan bila cukup panjang
keluar di annulus inguinalis eksternus. Jika berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum
dan disebut hernia skrotalis. Kantong hernia terletak di dalam m. kremaster, anteromedial
terhadap vas deferens dan struktur lain dalam funiculus spermaticus.1
Sementara itu hernia inguinalis direk atau disebut juga medial menonjol langsung
ke depan melalui trigonum hasselbach. Daerah yang dibatasi ligamentum inguinal di
inferior, a/v. epigastrika inferior di lateral dan tepi otot rektus di bagian medial. Dasar
segitiga hasselbach ini dibentuk oleh fascial transversal yang diperkuat oleh aponeurosis
m. transverses abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna, sehingga potensial untuk
menjadi lemah. Karena hernia medialis ini tidak melalui kanalis umumnya tidak
mengalami strangulasi karena cincinnya cenderung longgar.1

Etiologi

Gbr 3. Bagian dalam regio


inguinal

Hernia inguinalis dapat terjadi akibat anomali kongenital atau sebab lain yang
didapat (missal akibat insisi). Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada
lelaki dibanding perempuan. Hal ini mungkin karena annulus inguinalis eksternus pada
pria lebih besar dibanding wanita. Selain itu juga karena perjalanan embriologisnya
dimana testis pada pria turun dari rongga abdomen melalui kanalis inguinalis. Seringkali
kanalis tidak menutup sempurna setelahnya. Berbagai faktor penyebab berperan pada
pembentukan pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga bisa
dimasuki oleh kantong dan isi hernia. Selain itu diperlukan juga faktor yang bisa
mendorong isi hernia melalui pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu.1,3,4,5
Ada tiga mekanisme yang seharusnya bisa mencegah terjadinya hernia inguinalis.
Yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m. ablikus internus yang
menutup annulus internus ketika berkontraksi, dan fascia transversa yang menutup
trigonum hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot. Gangguan pada mekanisme ini
bisa menyebabkan terjadinya hernia.1
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis yang
terbuka, peninggian tekanan intra abdomen lebih lanjut, dan kelemahan otot dinding
perut karena usia. Akibatnya isi intraabdomen keluar melalui celah tersebut.1,3
Tekanan intraabdomen yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik, mengedan
saat miksi atau defekasi (missal karena hipertrofi prostat atau konstipasi), ascites,
obesitas atau mengangkat beban berat sering mendahului hernia inguinalis.1,6

Patofisiologi
Pada keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus
intenus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis
inguinalis berjalan lebih vertical. Sebaliknya jika otot dinding perut berkontraksi, kanalis
inguinalis berjalan lebih transversal dan annulus inguinalis tertutup sehingga mencegah
masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.
Tetapi dalam keadaan prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di
dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena usia dapat membentuk pintu
masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar. Sehingga dapat dilalui oleh
kantong dan isi hernia. Di samping itu diperlukan pula factor yang dapat mendorong isi
hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut. 1,7
Bila cincin hernia sempit, kurang elastic atau lebih kaku maka akan terjadi jepitan
yang menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi
bendungan vena sehingga terjadi oedem organ atau struktur di dalam hernia dan
transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya oedem menyebabkan jepitan pada cincin
hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia
menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus. 1
Gejala Klinis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul
pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan, dan menghilang waktu berbaring.
Keluhan nyeri jarang dijumpai, bila ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau
para umbilical berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau
muntah, afflatus dan tidak BAB baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau
strangulasi karena nekrosis atau gangren. 1
Diagnosis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul

waktu berdiri, batuk, bersin, mengangkat benda berat atau mengedan, dan menghilang
saat berbaring. Pasien sering mengatakan sebagai turun berok, burut atau kelingsir.
Keluhan nyeri jarang dijumpai; kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau
paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu
segmen usus halus masuk ke dalam kantong. Nyeri yang disertai mual dan muntah baru
muncul kalau terjadi inkarserata karena ileus atau strangulasi karena nekrosis.1,2,6
Pada inspeksi, saat pasien diminta mengedan dalam posisi berdiri dapat dilihat
hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan
dari lateral atas ke medial bawah. Perlu diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi
lipat paha, skrotum atau labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien lalu diminta
mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan yang asimetri dapat dilihat. 1,2,4
Pada palpasi, dilakukan saat ada benjolan hernia, diraba konsistensinya, dan
dicoba mendorong apakah dapat direposisi. Bila hernia dapat direposisi, waktu jari masih
berada di annulus internus, pasien diminta mengedan, kalau ujung jari menyentuh hernia
berarti hernia inguinalis lateral, sementara jika bagian sisi jari yang menyentuh, berarti
hernia inguinalis medialis. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada
funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi
gesekan dua kain sutera. Disebut tanda sarung tangan sutera. Kalau kantong hernia berisi
organ, palpasi mungkin meraba usus, omentum (seperti karet) atau ovarium.1,2
Diagnosis pasti hernia umumnya sudah bisa dilakukan dengan pemeriksaan klinis
yang teliti.2
Berdasarkan anatomi, hernia dapat dibagi menjadi :
1. Hernia inguinalis medialis (direk)
Disebut direk karena menonjol langsung ke depan melalui trigonum
hasselbach. Disebut medialis karena tidak keluar melalui kanlis inguinalis dan tidak
ke scrotum.
Tipe ini hampir selalu disebabkan oleh faktor peninggian tekanan
intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum hasselbach. Oleh
karena itu hernia ini umumnya bilateral. Hernia inguinalis medialis memiliki leher
yang lebar, sulit direposisi dengan penekanan jari tangan. Jarang bahkan hampir tidak

pernah terjadi inkarserata dan strangulata (hanya 0.3% mengalami komplikasi). Lebih
sering pada pria usia tua.1,3
Hernia direk tidak dikontrol oleh tekanan pada annulus internus, secara khas
mengakibatkan benjolan kedepan, tidak turun ke skrotum.3
2. Hernia inguinalis lateralis
Tipe ini disebut juga indirek karena keluar melalui dua pintu yaitu annulus dan
kanalis inguinalis. Tidak seperti hernia medialis yang langsung menonjol di trigonum
hasselbach. Tonjolan pada tipe lateralis biasanya lonjong, sementara tipe medialis
biasanya bulat. Hernia indirek ini bisa dimasukkan dengan tekanan jari di sekitar
annulus eksternus (bila tidak ada inkarserata), mungkin seperti leher yang sempit.
Banyak terjadi pada usia muda. 3% kasus mengalami komplikasi strangulata.1,3
Hernia indirek dikontrol oleh tekanan annulus internus sehingga seringkali turun
ke dalam skrotum.3
Pada anak sering akibat belum menutupnya prosesus vaginalis peritoneum
sebagai akibat proses penurunan testis.1,4
Tatalaksana
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia dan membentuk
corong, tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan
perlahan yang tetap sampai terjadi reposisi.1
Pada anak-anak reposisi spontan lebih sering terjadi dan gangguan vitalitas lebih
jarang disbanding orang dewasa. Hal ini disebabkan cincin hernia yang lebih elastis pada
anak-anak. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan
kompres es di atas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil, anak disiapkan operasi hari
berikutnya. Bila tidak berhasil, operasi segera.1
Pemakaian penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan
tidak pernah menyembuhkan, sehingga harus dipakai seumur hidup. Ini tidak dianjurkan
karena merusak kulit dan tonus otot di daerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap
mengancam.1

Yang penting diperhatikan untuk memperoleh keberhasilan terapi maka factorfaktor yang meningkatkan tekanan intra abdomen juga harus dicari dan diperbaiki.
Misalnya batuk kronis, prostat, tumor, ascites, dan lain-lain). Dan defek yang ada
direkonstruksi.2
Langkah operatif adalah pengobatan satu-satunya yang rasional. Indikasi operasi
sudah ada sejak diagnosa ditegakkan. Prinsip dasar operasi terdiri dari herniotomi dan
hernioplasti.1
Herniotomi adalah membebaskan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong
dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong
hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu dipotong.1
Hernioplasti ialah melakukan tindakan memperkecil annulus inguinalis internus
dan memperkuat dinding posterior kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting dalam
mencegah terjadinya residif. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil
annulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia
transversa, dan menjahitkan pertemuan antara m. oblikus internus abdominis dan m.
transverses internus abdominis (conjoint tendon) ke ligamentum inguinale poupart
menurut Bassini, atau menjahitkan fasia transversa, m. transverses abdominis, m. oblikus
internus abdominis ke ligamentum cooper menurut McVay.1

Gbr 4. Herniotomi dan


Hernioplasti

Kelemahan teknik Bassini dan teknik variasi lain adalah adanya regangan
berlebihan dari otot-otot yang dijahit. Karena itu dipopulerkan metode penggunaan

prosthesis mesh untuk memperkuat fasia transversalis yang menjadi dasar kanalis
inguinalis, tanpa menjahit otot-otot ke inguinal.1
Pada bedah darurat, misalnya sudah terjadi komplikasi, prinsipnya sama dengan
yang elektif. Cincin hernia dicari dan dipotong. Usus halus dinilai apakah vital atau tidak.
Bila vital direposisi, bila tidak dilakukan reseksi dan anastomosis.2
Komplikasi
Komplilkasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada kasus ireponibel; ini dapat terjadi kalau
isi terlalu besar, atau terjadi perlekatan. Dalam kasus ini tidak ada gejala klinis.1
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi
strangulasi yang menimbulkan gejala obstruksi sederhana. Sumbatan dapat terjadi parsial
atau total seperti pada hernia richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau kaku,
sering terjadi jepitan parsial.1
Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi ke jaringan isi hernia.
Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur di
dalam hernia.

Timbulnya udem mengakibatkan jepitan semakin bertmbah sehingga

suplai darah terhambat. Akibatnya jaringan isi akan nekrosis dan hernia akan berisi cairan
transudat serosanguinis. Bila isi jaringan adalah usus, bisa terjadi perforasi yang
menimbulkan abses lokal, fistel, hingga peritonitis.1,4
Gambaran klinis hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai dengan
gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam
basa. Bila telah strangulasi, bisa terjadi toksik akibat gangrene dan gambaran menjadi
sangat serius. Penderita akan mengeluh nyeri hebat di tempat hernia dan akan menetap
karena rangsang peroitoneal.1
Pada pemeriksaan local ditemukan benjolan yang tidak dapat dimasukkan
kembali disertai nyeri tekan dan dapat ditemukan tanda peritonitis atau abses local.
Dalam hal ini hernia strangulate merupakan kegawatdaruratan dan butuh penanganan
segera.1

Daftar Pustaka
1. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. 2004. Jakarta : EGC
2. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Ed.3. 2000. Jakarta : Media
Aesculapius FKUI
3. Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. At A Glance : Ilmu Bedah. Ed.3. 2006. Jakarta :
Erlangga Medical Series
4. Inguinal Hernia. Wikipedia the free encyclopedia. Last Updated : April 24 th 2011.
(Available from http://en.wikipedia.org/wiki/Inguinal_hernia, cited on Sept 25th 2012)
5. Inguinal Hernia. National Digestive Disease Information Clearinghouse. Last Updated
December 2008.
(Available from http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/inguinalhernia. cited on
Sept 25th 2012)
6. Balentine, Jerry R. dan Stoppler, Melissa Conrad. Hernia. eMedicine Health.
(Available from http://www.emedicinehealth.com/hernia/article_em.htm cited on sept 25th
2012)
7. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa Laniyati Celal,
editor Linda Chandranata Jakarta, EGC, 2000, hal 509-515