Anda di halaman 1dari 26

CASE REPORT

TINGGINYA TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PADA PASIEN DENGAN


TUBERKULOSIS PARU
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS BANGETAYU
PERIODE 30 JULI 2012- 29 SEPTEMBER 2012

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat


Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Pada Bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang

..

Disusun oleh:
1. Aji Setiyo Budi

01.202.4310

2. Manik Permatasari

01.207. 5517

3. Reza Rahardian

01.208.5762

4. Ryan Dwi Prabowo

01.208.5776

5. Erlita Yuliana

01.208.5647

6. Nian Puspita KW

01.208.5732

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2012

HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat
Puskesmas Bangetayu 30 JULI 2012- 29 SEPTEMBER 2012
Telah Disahkan

Semarang, 23 Agustus 2012

Mengetahui
Kepala Puskesmas Bangetayu

Pembimbing

dr. Ninik Relaningsih

dr. Yuni Susanti

Mengetahui,
Pembimbing Kepanitraan Klinik

Kepala Bagian IKM Fk Unissula

Siti Thomas Zulaikah, SKM

Dr. Budioro Broto Saputro, MPH

KATA PENGANTAR
Alhamdulilah, puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah
memberikan rahmat karunia dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
laporan kasus yang berjudul TB Paru.
Laporan kasus ini dapat terselesaikan atas kerjasama tim dan bantuan dari
berbagai pihak. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
yang terhormat :
1. Prof. dr. Budioro Broto Saputro, MPH, pembimbing bagian IKM FK Unissula
Semarang.
2. dr Ophi Indria Desanti, MPH, Kepala Bagian IKM FK Unissula Semarang.
3. dr. Hj.Anneke, MPH, pembimbing bagian IKM FK Unissula Semarang.
4. dr. Kristanto Muliana, pembimbing bagian IKM FK Unissula Semarang.
5. Siti Thomas, SKM, M.Kes, pembimbing bagian IKM FK Unissula Semarang
6. dr. Ninik Relaningsih, Kepala Puskesmas Bangetayu Semarang.
7. Seluruh Staf Puskesmas Bangetayu Semarang.
8. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kasus ini.
Kami menyadari bahwa hasil penulisan laporan kasus ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu diperlukan kritik dan saran yang membangun guna
kesempurnaan dan perbaikan laporan kasus ini agar lebih baik. Semoga laporan kasus
TB Paru ini bermanfaat ini bermanfaat bagi semua pihak.
Semarang, 23 Agustus 2012
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kabupaten/ Kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu/ sebagian
wilayah kecamatan. Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya
kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika
ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu upaya
kesehatan wajib (meliputi promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan
ibu dan anak serta keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan
dan pemberantasan penyakit menular, pengobatan) dan upaya kesehatan
pengembangan.
Di Puskesmas Bangetayu penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang
telah menunjukkan hasil yang baik, namun masih banyak tantangan yang
dihadapi untuk tercapainya visi Puskesmas yaitu sebagai tempat pelayanan
kesehatan adalah menjadikan Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan
dasar yang ramah dan prima. Tantangan tersebut antara lain disebabkan oleh
meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih baik,
sumber daya yang terbatas dan adanya perilaku kesehatan dari warga masyarakat
yang berbeda

Tuberkulosis adalah penyakit menular disebabkan oleh kuman


Mycobacterium tuberculosis. Kuman tersebut masuk tubuh melalui udara
pernafasan yang masuk ke dalam paru, kemudian kuman menyebar dari paru ke
bagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe,
melalui saluran nafas atau penyebaran langsung ke tubuh lainnya (DepKes RI,
1997). Sumber penularan adalah TB BTA positif, pada waktu batuk atau bersin,
pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet
nuclei). Sekali batuk dapat dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
Di Puskesmas Bangetayu, hasil pencapaian program penemuan kasus TBC
BTA positif merupakan masalah karena cakupan hasil kegiatannya 62,9%
( penemuan pasien TBC BTA (+) : 17 pasien, dengan target penemuan : 27
pasien ) artinya masih dibawah target tahun 2010 yaitu 100%. Hal ini yang
mendasari disusunnya laporan yang berjudul Laporan Manajemen Puskesmas dan
Mutu Pelayanan Dalam Penemuan dan Penanganan Penyakit TB BTA(+) Di
Puskesmas Bangetayu Kota Semarang.
Penyakit tuberkulosis atau TB paru menjadi masalah kesehatan di dunia dan
di Indonesia. Penderita tuberkulosis di Indonesia pada tahun 1995 berjumlah
460.190, angka ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara lain dan
menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di Indonesia.
Penemuan penderita TB paru menurut Profil kesehatan Jawa Tengah
tahun 2002 sebesar 8.648 penderita dengan angka penemuan penderita
(CDR) 22%. Penemuan penderita BTA positif tahun 2003 sebanyak 10.390
penderita yang dilaporkan dari 35 Kabupaten / Kota, 11 BP4 dan 1 Rumah
Sakit Paru dengan angka penemuan penderita (CDR) 28,5% dan ditemukan

jumlah penderita baru BTA positif 39.061 kasus. Angka tersebut meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1.742 kasus.
Upaya penanggulangan TB sudah dikembangkan sejak tahun 1995 oleh
WHO, yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Shortcourse) dan telah terbukti sebagai penanggulangan yang secara ekonomis paling
efektif.

2. Rumusan Masalah
Faktor faktor apa saja yang mempengaruhi rendahnya cakupan kasus TB
Paru di puskesmas Bangetayu ?

3. Tujuan
3.1. Tujuan umum
Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
penemuan penyakit Tuberkulosis BTA (+) dari aspek lingkungan, perilaku,
pelayanan kesehatan dan kependudukan.

3.2. Tujuan khusus


3.2.1. Mengetahui kondisi lingkungan pasien yang berpengaruh terhadap
terjadinya penyakit tuberkulosis
3.2.2. Mengetahui perilaku pasien yang berpengaruh terhadap terjadinya
penyakit tuberkulosis
3.2.3. Mengetahui jarak pelayanan kesehatan dengan rumah pasien
3.2.4. Mengetahui keadaan genetik pasien

3.2.5. Menganalisis penyebab masalah penyakit tuberculosis pada pasien


dengan pendekatan HL Blum
3.2.6. Mencari alternative pemecahan masalah untuk mengatasi penyakit
tuberkulosis

4.

Manfaat Penelitian
4.1 Bagi Masyarakat :
4.1.1 Masyarakat mengetahui manfaat perilaku hidup bersih dan sehat
4.1.2

Masyarakat jadi tahu apa itu penyakit TB Paru

4.2 Bagi Mahasiswa


4.2.1 Mahasiswa mengetahui secara langsung permasalahan yang ada di
lapangan
4.2.2 Mahasiswa menjadi terbiasa melaporkan masalah mulai penemuan
masalah sampai pembuatan Plan of Action.

BAB II
ANALISIS SITUASI

BAB III
PEMBAHASAN

1. Daftar Penderita (Pasien )


1.1. Identitas pasien
-

Nama

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 21 tahun

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Belum Kawin

Pendidikan

: Mahasiswa

Alamat

: Bangetayu Sari RT 03 RW 05

Semarang
-

Tanggal mulai berobat

: 25 Mei 2011

2. Data Perkesmas
2.1. Identitas keluarga
Tabel 1. Identitas Keluarga
No.

Anggota

Hub. Dgn

Jenis

Umur

Pendidikan

Pekerjaan

Agama

1.
2.

Keluarga
Supriyanto
Sri

pasien
Ayah
Ibu

Kelamin
Laki-laki
Perempuan

46 Th
46 Th

SLTA
SLTA

Wiraswasta
Ibu Rumah

Islam
Islam

3.

Murwani
Sigit

Kakak

Laki-laki

23 Th

SLTA

Tangga
Polisi

Islam

4.

Murwanto
Agusman

Pasien

Laki-laki

21 Th

Mahasiswa

Mahasiswa

Islam

5.

Riyanto
Trisofa

Adik

Laki-laki

14 Th

2 SLTP

Pelajar

Islam

6.

Novianto
Silfi

Adik

Perempuan

12 Th

6 SD

Pelajar

Islam

Rahmawati

2.2 Data Lingkungan


1) Data Individu :
Pasien anak ke 2 dari 4 bersaudara, pasien tinggal serumah dengan kedua
orang tuanya, 1 kakak dan 2 adik kandung. Pasien sebelumnya sering sakit
batuk. Nenek penderita dulu pernah menderita penyakit yang sama seperti
pasien derita sekarang. Dan nenek pasien dulu juga mendapat pengobatan
TB dan sekarang sudah meninggal. Kesadaran akan kebersihan pada
keluarga pasien masih kurang.

2) Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi dapat mempengaruhi lingkungan dan perilaku
yang dapat berpengaruh pada penularan tuberkulosis. Sosial ekonomi yang
kurang dapat membuat orang tidak dapat hidup layak dengan memenuhi
syarat-syarat

kesehatan.

Berdasarkan

hasil

survei,

pasien

adalah

mahasiswa. Orangtua pasien bekerja sebagai pedagang air keliling dengan


gaji 750.000 harus menanggung biaya kehidupan 6 orang. Pasien berobat
dengan menggunakan kartu jamkesmas.
3) Lingkungan Rumah
Kepadatan rumah
Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan
ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi
10

syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah
penghuni 10 m2/ orang. Berdasarkan data hasil pengamatan didapatkan
luas tanah 6m x 7m = 42 yang dihuni oleh 6 orang dengan jumlah kamar
3 sehingga didapatkan kepadatan rumah 7m2/orang. Hal ini menunjukkan
kepadatan rumah pasien tidak memenuhi syarat yang seharusnya.
Kepadatan penghuni dalam satu rumah akan memberikan pengaruh bagi
penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak
sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga
bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi yang menular
maka anggota keluarga yang lain akan tertular juga.
Lingkungan rumah
Berdasarkan survei lingkungan rumah pasien masih terdapat genangan air
disekitar rumah yang terdapat pada pot-pot kosong dan ember-ember.
Pekarangan rumah kurang bersih
1. Ventilasi
Fungsi ventilasi adalah untuk proses pertukaran aliran udara dan
sinar matahari yang masuk kedalam rumah, agar kuman tidak
berkembang dengan cepat.
Menurut indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang
memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan luas
ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10% luas
lantai rumah. Pada kasus ini rumah penderita memiliki jendela tetapi

11

jendela tersebut tidak dibuka sehingga udara didalam ruangan terasa


pengap. Ventilasi didapat dari pintu rumah yang dibuka.

2. Pencahayaan
Pada rumah pasien, pencahayaan masih kurang, karena cahaya
yang masuk hanya berasal dari pintu rumah yang dibuka. Kamar tidur
pasien dan keluarga kurang mendapat cahaya matahari yang cukup
karena tidak terdapat jendela yang bisa dibuka.
3. Kelembaban
Rumah pasien kelembabannya tinggi karena udara yang masuk
terbatas dan pencahayaan juga kurang.
4) Sosial
Pasien adalah mahasiswa dan tinggal di rumah bersama kedua orang
tuanya. Pasien lebih sering berada di rumah, pasien jarang bermain. Pasien
tidak mengetahui teman kuliahnya ada yang menderita TB atau tidak.
5) Masyarakat
Keluarga pasien hubungan dengan tetangganya baik, dan hubungan
dengan orang lain baik. Tetangga pasien tidak ada yang menderita sakit
TBC.
2.3 Data Perilaku
Data tentang perilaku pasien diperoleh dari anamnesa kepada pasien dengan
melakukan kunjungan ke rumah pasien. Perilaku pasien sangat erat
12

hubungannya dengan

mudahnya terkena infeksi kuman tuberkulosis.

Berdasarkan data, terdapat beberapa perilaku yang berpengaruh terhadap


terjadinya kasus Tuberkulosis antara lain :
-

Anggota keluarga (Nenek pasien pernah mengidap TB) sering batuk


didalam ruangan rumah dan meludah disembarang tempat.

Pasien dan anggota keluarga makan 3x sehari dengan menu seadanya


(tidak memenuhi 4 sehat 5 sempurna)

Pasien dan anggota keluarga memiliki kebiasaan membersihkan rumah


tidak teratur dilihat dari keadaan rumah yang berdebu dan genangan air
dimana-mana.

Kurangnya kesadaran pasien dan anggota keluarga akan pentingnya


membuka jendela setiap hari

2.4 Data Akses Pelayanan yang Terdekat


Rumah pasien dekat dengan tempat pelayanan kesehatan yaitu di
dekat dengan rumah bidan ( 500 m) dan dekat dengan Puskesmas
Bangetayu ( 2 km), Klinik 24 jam, Rumah Sakit Islam Sultan Agung dan
Kader kesehatan cukup aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan atau
pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Akan tetapi di Puskesmas Bangetayu
kekurangan tenaga kesehatan yang menangani kasus TB.

ANALISA PENYEBAB MASALAH


Berdasarkan perjalanan penyakit Pasien mengeluh batuk berdahak campur
darah sejak 1minggu yang lalu sebelum pasien berobat ke Puskesmas. Pasien
sebelumnya sering sakit batuk semenjak kurang lebih 6 bulan yang lalu. Pasien sudah
13

sering berobat ke Puskesmas dan dokter kemudian sembuh namun kambuh lagi.
Selain batuk berdahak pasien juga mengeluarkan bercak darah saat batuk, pasien juga
mengeluh badannya panas dan berkeringat saat malam hari, nafsu makan menurun,
berat badan menurun. Kemudian pasien berobat ke Puskesmas Bangetayu dan
disarankan untuk cek BTA. Setelah dites hasilnya BTA (+) kemudian disarankan
mengikuti pengobatan selama 56 hari dan pasien setuju. Pengobatan pasien termasuk
kategori 1, dengan KDT 3 tablet/hari (sesuai BB= 50kg dan TB 168cm), yang terdiri
RHZE (150/75/400/275) (tahap intensif tiap hari selama 56 hari), karena merupakan
kasus baru TB paru BTA positif. Pasien sering kontak dengan nenek yang dulu pernah
menderita TB paru. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka yang ada.
Untuk pengawasan minum obat (PMO) dipercayakan kepada Ibu pasien selain
dekat dengan pasien, Ibu pasien mempunyai pengalaman, nenek pasien dulu terkena
TB paru dan sekarang nenek pasien sudah meninggal, oleh karena ketekunan ibu
pasien untuk selalu mengingatkan minum obat.
Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi TB maupun
timbulya penyakit TB pada kasus ini :

1.

Perilaku
Data tentang perilaku pasien diperoleh dari anamnesa kepada pasien dengan
melakukan kunjungan ke rumah pasien. Perilaku pasien sangat erat hubungannya
dengan mudahnya terkena infeksi kuman tuberkulosis. Berdasarkan data, terdapat
beberapa perilaku yang berpengaruh terhadap terjadinya kasus Tuberkulosis antara
lain :
14

Anggota keluarga (Nenek pasien pernah mengidap TB) sering batuk didalam

ruangan rumah dan meludah disembarang tempat.


Pasien dan anggota keluarga makan 3x sehari dengan menu seadanya (tidak

memenuhi 4 sehat 5 sempurna)


Pasien dan anggota keluarga memiliki kebiasaan membersihkan rumah tidak
teratur dilihat dari keadaan rumah yang berdebu dan genangan air dimana-

mana.
Kurangnya kesadaran pasien dan anggota keluarga akan pentingnya membuka
jendela setiap hari

2.

Lingkungan
2.1. Kepadatan rumah
Secara umum penilaian kepadatan Penghuni dengan menggunakan
ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi
syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah
penghuni 10m2/ orang.
Berdasarkan data hasil pengamatan didapatkan luas tanah 6mx7m =
42 yang dihuni oleh 6 orang dengan jumlah kamar 3 sehingga didapatkan
kepadatan rumah 7m2/orang. Hal ini menunjukkan kepadatan rumah
pasien tidak memenuhi syarat yang seharusnya.
Kepadatan penghuni dalam satu rumah akan memberikan pengaruh
bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah
penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak
sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga
bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi yang menular
maka anggota keluarga yang lain akan tertular juga.
2.2. Lingkungan rumah
Berdasarkan survey lingkungan rumah pasien masih terdapat
genangan air disekitar rumah yang terdapat pada pot-pot kosong dan
ember-ember. Pekarangan rumah kurang bersih
15

2.2.1. Ventilasi
Fungsi ventilasi adalah untuk proses pertukaran aliran udara
dan sinar matahari yang masuk kedalam rumah, agar kuman tidak
berkembang dengan cepat.
Menurut indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang
memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan
luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah <
10% luas lantai rumah. Pada kasus ini rumah penderita memiliki
jendela tetapi

jendela tersebut tidak dibuka sehingga udara

didalam ruangan terasa pengap. Ventilasi didapat dari pintu


rumah yang dibuka.
2.2.2. Pencahayaan
Pada rumah pasien, pencahayaan masih kurang, karena
cahaya yang masuk hanya berasal dari pintu rumah yang dibuka.
Kamar tidur pasien dan keluarga kurang mendapat cahaya
matahari yang cukup karena tidak terdapat jendela yang dibuka.
2.2.3. Kelembaban
Rumah pasien kelembabannya tinggi karena udara yang
masuk terbatas dan pencahayaan juga kurang.
2.3. Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi dapat mempengaruhi lingkungan dan
perilaku yang dapat berpengaruh pada penularan tuberkulosis. Sosial
ekonomi yang kurang dapat membuat orang tidak dapat hidup layak
dengan memenuhi syarat-syarat kesehatan. Berdasarkan hasil survey,
pasien adalah mahasiswa. Orangtua pasien bekerja sebagai pedagang air
keliling dengan gaji 750.000 harus menanggung biaya kehidupan 6
orang. Pasien berobat dengan menggunakan kartu jamkesmas.
3. Pelayanan kesehatan

16

Rumah pasien dekat dengan tempat pelayanan kesehatan yaitu di


dekat dengan rumah bidan ( 500 m) dan dekat dengan Puskesmas
Bangetayu ( 2 km), Klinik 24 jam, Rumah Sakit Islam Sultan Agung dan
Kader kesehatan cukup aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan atau
pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Akan tetapi di Puskesmas Bangetayu
kekurangan tenaga kesehatan yang menangani kasus TB.
4. Kependudukan / Genetik
Kasus TB tidak dipengaruhi oleh genetik, karena tuberkulosis bukan
penyakit keturunan melainkan penyakit menular yang dapat ditularkan
melalui droplet di udara dan menggunakan peralatan yang sama dengan
penderita. Dalam anggota keluarga pasien tidak ada yang mengalami gejalagejala seperti pasien.
PRIORITAS PENYEBAB MASALAH DAN ANALISIS PENYEBAB MASALAH

1.

Lingkungan

rumah

yang

tidak

memenuhi syarat kesehatan.


2.

Kurangnya tenaga kesehatan dalam


penanganan TB

3.

Kurangnya pengetahuan pasien dan


anggota keluarga tentang TB.

Dari beberapa penyebab masalah di atas dibuat prioritas penyebab masalah


dengan menggunakan Hanlon Kualitatif dengan kriteria sebagai berikut :
1. Penetapan prioritas masalah berdasarkan kriteria Urgency ( U )
Tabel 15 Tabel Kriteria Urgency
1

Horizontal
17

1
2
3
Vertikal
0
Horizontal 0
TOTAL
0

1
1
2

1
0
1

0
1
0

2. Penetapan prioritas masalah berdasarkan kriteria Seriousness ( S )


Tabel 16. Tabel 18riteria seriousness
1

1
2
3
Vertikal
0
Horizontal 2
TOTAL
2

+
-

0
0
0

1
0
1

Horizontal
2
0
0

3. Penetapan prioritas masalah berdasarkan Kriteria Growth ( G )


Tabel 17 Tabel 18Kriteria growth
1

1
2
3
Vertikal
0
Horizontal 1
TOTAL
1

0
0
0

2
0
2

Horizontal
1
0
0

Tabel 18. Hasil penilaian USG


N0

Total

Persentase

Prioritas Masalah

33,33%

II

22,22%

III

18

44,44%

100

Urutan Prioritas Masalah:


1.

Kurangnya pengetahuan pasien dan anggota keluarga tentang TB.

2.

Lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

3.

Kurangnya tenaga kesehatan dalam penanganan TB

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


1.

Masalah Individu/Perilaku
1.1. Tujuan :
1.1.1. Meningkatkan pengetahuan pasien dan anggota keluarga

tentang

TBC (penyebab, gejala, faktor risiko, cara penularan, pengobatan,


komplikasi dan pencegahan)
1.1.2. Meningkatkan kesadaran pasien dan anggota keluarga agar
berperilaku hidup sehat
1.2. Sasaran
Pasien dan anggota keluarga
1.3. Strategi pelaksanaan
Memberikan informasi dan edukasi tentang TB dan pola hidup sehat.
1.4. Pengembangan alternatif kegiatan

2.

Penyuluhan mengenai penyakit TBC


Memotivasi pasien untuk menutup mulutnya saat batuk dan tidak meludah

sembarangan
Memotivasi pasien untuk meningkatkan asupan gizi yang cukup
Masalah Lingkungan
19

2.1. Tujuan :
2.1.1. Memperbaiki sirkulasi udara di dalam rumah
2.1.2. Mengurangi kelembaban udara
2.1.3. Memperbaiki ventilasi dan pencahayaan di dalam rumah
2.2. Sasaran
Rumah pasien
2.3. Strategi pelaksanaan
Memberikan informasi dan edukasi tentang manfaat membuka jendela.
2.4. Pengembangan alternatif kegiatan

Menyarankan pada pasien dan keluarga untuk membuka jendela pada pagi

hari sampai sore hari dan menutup jendela saat petang


Memotivasi untuk menata rumah dengan baik dan membuat ventilasi udara

agar sirkulasi udara di dalam rumah baik


Memotivasi untuk memasang genteng kaca agar pencahayaan yang masuk
rumah cukup

3.

Masalah pelayanan kesehatan


3.1. Tujuan :
3.1.1. Meningkatkan kualitas dan jumlah tenaga kesehatan dalam
penanganan TB
3.1.2. Membentuk pengawas minum obat (PMO)
3.2. Sasaran
Pasien, petugas kesehatan dan keluarga
3.3. Strategi pelaksanaan

Menambah tenaga kesehatan dalam penanganan TB

Menunjuk seseorang yang memenuhi persyaratan sebagai PMO seperti


petugas kesehatan, kader, PKK, tokoh masyarakat atau anggota keluarga.
20

3.4. Pengembangan alternatif kegiatan


3.4.1. Mengambil salah satu petugas dari bagian lain yang lebih petugasnya
dengan dipindahkan kebagian tenaga kesehatan dalam penanganan TB.
3.4.2. Menunjuk seseorang untuk menjadi PMO yang bertugas :
Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai
selesai masa pengobatan
Memberikan dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur
Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu
yang telah ditentukan

Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang


mempunyai gejala-gejala tersangka TB untuk segera memeriksakan
diri ke Unit Pelayanan Kesehatan

21

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

1. SIMPULAN
Dari laporan manajemen Puskesmas dan mutu pelayanan dalam penemuan
dan penanganan penyakit TB BTA (+) didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1.1. Kondisi lingkungan pasien yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit
tuberkulosis
-

Luas tanah 6mx7m = 42 yang dihuni oleh 6 orang dengan jumlah


kamar 3 sehingga didapatkan kepadatan rumah 7m2/orang

Rumah pasien memiliki jendela tetapi jendela tidak dibuka sehingga


udara didalam ruangan terasa pengap. Ventilasi didapat dari pintu rumah
yang dibuka

Pencahayaan berasal dari pintu rumah yang dibuka.

Rumah pasien kelembabannya tinggi karena udara yang masuk terbatas


dan pencahayaan juga kurang

1.2. Perilaku pasien yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit tuberkulosis


22

Anggota keluarga (Nenek pasien pernah mengidap TB) sering batuk


didalam ruangan rumah dan meludah disembarang tempat.
- Pasien dan anggota keluarga makan 3x sehari dengan menu seadanya
(tidak memenuhi 4 sehat 5 sempurna)
- Pasien dan anggota keluarga memiliki kebiasaan membersihkan rumah
tidak teratur dilihat dari keadaan rumah yang berdebu dan terdapat
genangan air dimana-mana.
- Pasien dan anggota kelurga memiliki kebiasaan tidak membuka jendela
setiap hari

1.3. Jarak pelayanan kesehatan dengan rumah pasien dekat yaitu Rumah pasien
dekat dengan rumah bidan ( 500 m) dan dekat dengan Puskesmas
Bangetayu ( 2 km), Klinik 24 jam, Rumah Sakit Islam Sultan Agung dan
Kader kesehatan cukup aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan atau
pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Akan tetapi di Puskesmas Bangetayu
kekurangan tenaga kesehatan yang menangani kasus TB.
1.4.

Keadaan genetik pasien


Kasus TB tidak dipengaruhi oleh genetik. Dalam anggota keluarga pasien
tidak ada yang mengalami gejala-gejala seperti pasien.

2. SARAN
2.1. Untuk Puskesmas
2.1.1. Agar meningkatkan kegiatan kunjungan rumah-rumah warga terutama
yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas yang kegiatan ini dirasa

23

efektif untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai


usaha mencegah timbulnya penyakit tuberkulosis
2.1.2. Meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit
tuberculosis
2.1.3. Menambah petugas kesehatan untuk penanganan penyakit tuberkulosis
2.2. Untuk pasien
2.2.1. Memotivasi pasien agar patuh mengikuti pengobatan TB sampai akhir
pengobatan
2.2.2. Memotivasi pasien agar tidak rendah hati dengan penyakitnya dengan
memberitahu pasien bahwa tuberkulosis bisa sembuh jika minum obat
sesuai jadwal yang telah ditentukan
2.2.3. Memberitahu pasien agar makan-makanan yang bergizi agar membantu
mempercepat proses penyembuhan penyakitnya
2.2.4. Memberitahu

pasien agar tidak meludah disembarang tempat dan

menutup mulut saat bersin atau batuk


3.1. Untuk Keluarga
3.1.1. Memotivasi penderita agar minum obat dan kontrol secara teratur
3.1.2. Memotivasi keluarga pasien untuk membuka jendela rumah, agar
sirkulasi udara lebih baik
3.1.3. Memotivasi keluarga pasien untuk memasang genteng kaca rumah,
agar pencahayaan cukup

24

3.1.4. Memberitahu anggota keluarga agar saat bersin, batuk, sebaiknya


menutup mulut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan


Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat,
DEPKES RI, Jakarta, 2003
2. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia,

2002.

Pedoman

Nasional

Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke 8, Jakarta, 2002


3. Entjang, Indan., 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat, cetakan 13, Bandung
4. Puskesmas Bangetayu, Profil Kesehatan Puskesmas Bangetayu Kota Semarang
tahun 2008, Semarang, 2008
5. Puskesmas Bangetayu, Rencana Tingkat Puskesmas, Semarang, 2010
6. Soehardi R., Karnaini, Tedjo SaputroW., et al.Ed : Pedoman Praktis Pelaksaan
Puskesmas, Balai Pelatihan Kesehatan Salaman Magelang

25

26