Anda di halaman 1dari 11

Eksplorasi

PT TIMAH sebagai sebuah perusahaan tambang yang utamanya di Pertambangan timah, secara
terus menerus melakukan kegiatan eksplorasi timah baik di darat maupun dilaut. Luas seluruh
IUP yang dimiliki oleh PT TIMAH di darat 331,580 hektar, sedangkan luas IUP dilaut 184,400
hektar. Kegiatan eksplorasi lebih dari 50 tahun, saat ini maih dapat melakukan pengembangan

kegiatan ekplorasi untuk memperbesar jumlah sumber daya yang dimiliki.


Secara umum kegiatan eksplorasi meliputi beberapa kegiatan berikut yaitu:
Indentifikasi Daerah Potensial; untuk mendapatkan informasi geologi regional
Penyelidikan Umum: untuk mengetahui sumber daya inferred
Pemboran Prospeksi: untuk mengetahui sumber daya indicated
Pemboran Produksi: untuk mengetahui sumber daya measured
Selanjutnya sumber daya terukur (measured) yang diperolih di serahkan ke satuan kerja
perencanaan penambangan, untuk dibuat studi kelayakan.
I . Konsep Dasar Eksplorasi
EKSPLORASI bahan tambang merupakan penjelajahan untuk menemukan sesuatu yang telah
ada namun belum pernah diketahui keberadaannya (DISCOVER), eksplorasi
bukanlah FIND (menemukan barang hilang) dan bukan pulaINVENTION (membuat sesuatu yang
baru). Dengan demikian kegiatan eksplorasi diminimalisir dari batasan syarat-syarat ekonomi,
tetapi tetap berdasarkan konsep-konsep geologi yang baik.
Bagi perusahaan tambang, EKSPLORASI seharusnya merupakan komitmen jangka
panjang dengan perencanaan yang matang untuk mencapai visi perusahaan,
terutama jaminan kepemilikan cadangan dan penentu arah masa depan(Riddler, 1989). Oleh
karena itu eksplorasi harus merupakan komitmen jangka panjang bagi perusahaan pertambangan,
yang tentunnya membutuhkan perencanaan yang matang.
PT TIMAH sebagai perusahaan pertambangan memiliki komitmen yang kuat untuk terus
melakukan kegiatan eksplorasi, guna terus menemukan sumber daya baru untuk pengembangan
perusahaan. Hasil kegiatan eksplorasi diharapkan akan menjadi factor penting dalam
menentukan arah kebijakan perusahaan.
II . Konsep Geologi Endapan Timah
PT TIMAH yang memiliki core bussines di bidang pertambangan timah telah menerapkan
konsep-konsep geologi yang dapat digunakan dalam melakukan kegiatan eksplorasi timah.
Endapan timah secara umum terdiri dari dua macam, yaitu endapan timah primer dan endapan
timah tempatan (placer).Endapan timah primer merupakan endapan bijih timah yang masih
berada pada batuan pembawa timah atau batuan tempat bijih timah terbentuk. Batuan pembawa
timah yang ada di Indonesia adalah batuan granit yang berumur Trias, dengan penyebaran

membentang dari China, Thailand, Malaysia, Kepulau Bangka Belitung hingga bagian barat
Kalimantan. Jalur ini sering disebut dengan sabuk timah asia (tin belt zone). Sedangkan endapan
timah placer adalah jenis endapan timah yang sudah bergeser dari batuan sumbernya dan
terendapakan di tempat yang baru akibat proses perlapukan, transportasai dan pengendapan
kembali.
A . Proses terbentuknya endapan timah primer
Endapan timah primer terbentuk sebagai bagian dari proses magmatisme pembentukan batuan
beku granit yang merupakan batuan bersifat asam. Pada saat-saat akhir pembentukan batuan,
yaitu pada suhu sekitar 800o sd 400 ocelcius, kondisi magma banyak mengandung gas sebagai
larutan sisa, yang diantarannya adalah senyawa SnF4. Senyawa tersebut kemudian bereaksi
dengan air (H2O) membentuk mineral SnO2 (Casiterite) dan HF. Mineral casiterite inilah
sebagai mineral pembawa endapan timah di Indonesia.
Sebagai larutan sisa yang banyak mengandung gas maka mudah bergerak mengisi rongga dan
celah batuan yang ad adi atasnya. Dengan demikian endapan timah primer terjebak di bagian atas
tubuh batuan granit, di celah-celah retakan dan rongga batuan yang berada di atasnya.
Sebagian besar endapan timah primer di Bangka dan Belitung sebagian besarnya saat ini
diketemukan pada batuan yang sudah lapuk, sehingga mudah dikakukan kegiatan pemanbangan
(penggalian).
B . Proses terbentuknya endapan timah placer
Endapan timah placer sering disebut juga sebagai endapan timah alluvial, karena sebagian
besarnya berupa endapan sedimen yang terbentuk di daratan (alluvial). Meskipun saat ini
keberadaannya banyak di laut, namun pada saat terendapkan kondisinya masih berupa daratan.
Factor-faktor yang mengontrol terbentuknya endapan timah placer adalah: keberadaan bantuan
sumber pembawa timah (granit tipe S), terjadinya proses perlapukan, erosi, transportasi dan
sedimentasi, serta adanya cekungan atau lembah yang menjadi tempat terendapkannya material
hasil perlapukan.
Tipologi endapan timah placer terdiri dari endapan elluvial, coluvial, endapan kipas, endapan
sungai, endapan rawa dan endapan pantai. Sebagian besar endapan timah yang ditemukan di
kepulauan Indonesia adalah timah endapan sungai (alluvial).
II . Kegiatan eksplorasi timah
Saat ini, selain kegiatan survey geologi, saat ini PT TIMAH mengoperasikan beberapa peralat
geofisika, peralatan bor Bangka, peralatan bor mekanik dan beberapa kapal bor sebagai
pendukung kegiatan eksplorasi. Peralatan geofisika yang dimiliki yaitu seismic, magnetic dan

geolistrik, peralatan bor mekanik ada beberapa unit untuk melakukan pemboran coring di darat
dan beberapa kapal bor digunakan untuk melakukan kegiatan pemboran di laut.
Konsep kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh PT TIMAH untuk mencari endapan timah pimer
adalah menggunakan pendekatan struktur geologi, petrologi dan geokimia. Sedangkan konsep
dalam melakukan kegiatan eksplorasi adalah dengan pendekatan penelusuran batuan sumber
(mather rock hunting), peneluasuran lembah (valley hunting) dan penelusuran keberadaan gravel
(gravel pact hunting). Konsep ini telah dilakukan selama bertahun-tahun dan masih cukup baik
untuk digunakan hingga saat ini. Pemanfaatan konsep-konsep lain seperti penelusiran lingkungan
pengendapan (facies), sekuensial mineralisasi dan sekuensial stratigrafi juga digunakan sebagai
tambahan dan pengembangan.
Keterdapatan timah di dalam endapan alluvial inilah yang menjadikan paradigma
eksplorasi timah berkembang dimulai dari teori kaksa, teori mother rock hunting dan teori valey
hunting.
Teori tersebut berkembang karena untuk mendapatkan endapan alluvial yang kaya akan
potensi mineral (dalam hal ini timah) maka harus ada sumber yang menghasilkan mineral
tersebut (timah) selanjutnya harus ada proses pelapukan, erosi dan transportasi serta yang
terpenting adalah adanya tempat terjadinya akumulasi (perangkap). Dengan demikian tidak
semua endapan alluvial kaya akan kandungan timah, dengan kata lain tidak semua lembah
menjadi perangkap timah yang ekonomis. Dengan kata lain bahwa kita akan mendapatkan timah
alluvial jika terpenuhi tiga kriteria yaitu adanya batuan sumber pembawa timah, media
transportasi dan tempat akumulasi (perangkap).

Eksplorasi Timah
Gambar 1.3. Peta Pulau Bangka (Valentyn 1724)

Sutejdo Sujitno di dalam bukunya Sejarah Penambangan Timah di


Indonesia Abad 18 Abad 20 menyebutkan bahwa penggunaan timah di
dunia sudah ada sejak 3.700 SM, ditemukan di daerah Mesir. M.F.H Pareler
(1880) menyebutkan penduduk pribumi Bangka telah menerapkan peleburan
timah pada awal abad ke 10. Pada awal abad dikenalnya timah di pulau ini,
Dr. Osberger (1958). Sementara Ir. Horvic (1863) menyebutkan bahwa
penggalian timah di Singkep jauh lebih tua daripada di Bangka. Pada
awalnya timah ditemukan secara tidak sengaja, dan pada abad ke 18
dimulailah kegiatan eksplorasi timah di Indonesia, hal ini dibuktikan bahwa
pada tahun 1724 Valentyn telah menyelesaikan peta Pulau Bangka. Pada
awalnya eksplorasi timah dilakukan dengan cara dan metoda yang sangat
sederhana, namun seiring dengan kemajuan zaman maka kegiatan
eksplorasi timah berkembang baik dalam segi peralatan metoda maupun
paradigma yang ada.
Awal kegiatan eksplorasi dan eksploitasi timah adalah timah alluvial darat
kemudian berkembang ke arah timah alluvial laut yang lebih dalam dan juga
ke arah timah primer. Perkembangan kegiatan eksplorasi ditandai dengan

makin majunya jenis peralatan terutama peralatan sampling yang


digunakan.

Gambar 1.4. Bor Meka Bangka

Kegiatan eksplorasi timah di darat pada tahun 1724 banyak dijumpai


menggunakan alat bor cina Tsiam atau Cam disebut juga Chinese Stick
atau Steek Boor atau Bor Tusuk, (gambar 1.4). Dengan keinginan untuk
mendapatkan hasil timah yang maksimal maka pada tahun 1872 Dr.
Arkeringa berhasil menciptakan Bor Bangka atau disebut juga sebagai
Arkeringa Bor yang mudah dipindahkan dan sampel yang lebih teliti.
Perkembangan selanjutnya untuk mendapatkan data eksplorasi pada
daerah alluvial dalam, maka berkembanglah Bor Bangka yang dimekanisasi
(semi mekanik), salah satunya adalah tipe CPP (Conrad Power Pionee) dan
untuk mengeksplorasi daerah alluvial dalam PT Timah (Persero) Tbk
menggunakan bor mekanik yaitu Bourne Drill. Sedangkan kegiatan pada
eksplorasi timah primer menggunakan peralatan-peralatan bor mekanik
yang bisa melakukan coring, antara lain : Winky, YBM, Kokken, dll.

Gambar 1.5. Rekaman data Geofisika (geolistrik dan


seismik)

Kegiatan eksplorasi berkembang dari daratan ke arah laut. Untuk


eksplorasi pendahuluan di laut biasanya digunakan metoda tidak langsung
yaitu dengan survei seismik (geofisika), hal ini disebabkan tidak bisa
dilakukan pemetaan geologi secara langsung. Pekerjaan survei eksplorasi
lepas pantai dengan metoda geofisika dimulai pada tahun 1955 dengan
sonic survei di perairan Belitung.
Pada tahun 1965 dilakukan eksplorasi di laut dengan seismic SONIA
menggunakan metoda Sparker dengan kapal survei PEGASUS. Kegiatan
penambangan laut sebenarnya sudah ada sejak awal abad 20 dimana pada
tahun 1916 penambangan di Teluk Klabat telah menjorok 500 m dari garis
pantai sebagai pengembangan dari kegiatan eksploitasi di darat.
Perkembangan teknologi eksplorasi di laut dapat digambarkan sebagai
berikut : pemboran eksplorasi sebelum tahun 1950 menggunakan alat bor
bangka yang dioperasikan di atas ponton/drum. Pada tahun 1954 atau 1955
ditemukan bor semi mekanik yang disebut Bor Mesin Semprot (BMS) dengan
metoda direct flush dengan ponton tipe Kontiki dan Tahiti (Katamaran). Mulai

tahun 1972 kita mengenal dimulainya penggunaan ponton bor mekanik


dengan metoda direct flush. Selanjutnya berkembang menjadi kapal bor
survei dimana yang sekarang dimiliki oleh PT Timah (Persero) Tbk adalah
kapal bor Geotin 1 dan Geotin 2 (dalam proses pembangunan). Kapal bor
survei ini selain peralatan pemboran juga dilengkapi dengan peralatan survei
geofisika.
Perkembangan kegiatan eksplorasi tidak hanya ditunjukkan dengan
adanya perkembangan di bidang peralatan eksplorasi namun juga diikuti
oleh perkembangan paradigma di dalam eksplorasi itu sendiri.
Perkembangan paradigma eksplorasi timah dimulai dengan pemahaman
tentang teori kaksa kemudian berkembang ke arah teori mother rock
hunting, teori valey hunting dan gabungan diantara keduanya. Hal ini akan
berkembang terus seiring dengan kemajuan teknologi eksplorasi dan
eksploitasi serta semakin sulitnya mencari daerah prospek.
Kegiatan utama eksplorasi saat ini adalah guna mendapatkan
cadangan baru minimal sejumlah cadangan yang ditambang pada waktu
yang sama (sebagai pengganti), sehingga diharapkan umur perusahaan akan
bertambah panjang.
Pada dasarnya kegiatan eksplorasi yang dilakukan di dalam KP timah
saat ini antara lain :
-

Survei dan pemetaan : pemetaan geologi, pemetaan geofisika

Pengukuran dan pemboran

Pengolahan data

Gambar 1.6. Kegiatan pemetaan geologi

Gambar 1.8. Kegiatan pendulangan

Gambar 1.10. Pemboran, Bor Bangka

Gambar 1.7. Pembuatan parit uji

Gambar 1.9. Kegiatan pengukuran

Gambar 1.11. Pemboran, Bor CPP

Gambar 1.12. Bourne Drill

Gambar 1.14. PB Kontiki danTahiti

Gambar 1.13. Bor Koken

Gambar 1.15. Kapal Bor Bintang

Gambar 1.16. Kapal Bor Survei Geotin 1