Anda di halaman 1dari 39

A.

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG


STRATEGI GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER

DENGAN

TERHADAP HASIL

BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN LISTRIK DINAMIS KELAS X DI SMA


NEGERI 3 LAMONGAN

B.

LATAR BELAKANG
Fisika adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala alam berupa fakta, konsep, prinsip,
dan hukum yang teruji kebenarannya melalui kegiatan ilmiah. Fisika merupakan mata
pelajaran dalam sains yang memegang peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Pembelajaran fisika di sekolah harus dikelola dengan baik, agar dapat
menciptakan siswa-siswa sekolah yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Belajar fisika dapat mengembangkan kemampuan berpikir analitis, induktif,
dan deduktif siswa dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam.
Belajar fisika juga dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri
siswa.
Pembelajaran fisika di Indonesia masih memiliki beberapa permasalahan. Salah satu
permasalahan sampai saat ini adalah mata pelajaran fisika sebagai momok mata pelajaran
yang sulit, penuh dengan rumus, dan tidak menarik bahkan membosankan sehingga siswa
tidak bersemangat belajar fisika. Menurunnya semangat belajar fisika siswa dikarenakan
pembelajaran fisika pada umumnya lebih menekankan pada penyelesaian soal-soal berupa
hitungan matematis (bersifat kuantitatif), bukan pada pemahaman gejala alam yang ada
dalam kehidupan sehari-hari (bersifat kualitatif).
Pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang dirancang secara khusus
untuk membelajarkan siswa tentang pengetahuan prosedural yang dibutuhkan untuk
melaksanakan keterampilan komplek dan sederhana serta pengetahuan deklaratif yang
terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan langkah demi langkah. (Muhammad Nur ,
2005:26)
Pembelajaran Langsung memerlukan perencanan dan pelaksanaan yang efektif.
Meskipun pembelajaran berpusat pada guru tidak berarti guru mendominasi kegiatan
pembelajaran, melainkan kesempatan menemukan informasi, pengetahuan, keterampilan
dalam melakukan percobaan dan melakukan tanya jawab tetap pada siswa. Hal ini berarti
bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai

hasil belajar dengan baik sehingga prestasi belajar siswa juga meningkat. Pada dasarnya
pengajaran langsung diperuntukkan pada pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan dasar
tentang sesuatu dan pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana
melakukan

sesuatu.

Penggunaan

pengetahuan

prosedural

memerlukan

penguasaan

pengetahuan prasyarat yang berupa pengetahuan deklaratif. Para guru sering menghendaki
agar siswa-siswa memperoleh kedua macam pengetahuan tersebut supaya mereka dapat
melakukan suatu kegiatan dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil.
Strategi giving question and getting answer dikembangkan untuk melatih peserta
didik memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya. Proses pembelajaran tidak harus
berasal dari guru menuju siswa, karena belajar bukanlah memberikan seluruh informasi yang
diperlukan guru kepada siswanya. Setiap guru juga harus memperhatikan bahwa siswa tidak
bisa diberi muatan-muatan informasi apa saja yang dianggap perlu oleh guru.
Tipe giving question and getting answer (adalah salah satu teknik instruksional dari
belajar aktif (active learning). Tipe ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
mengenai hal yang tidak dimengerti dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menjelaskan hal yang sudah dimengerti kepada temannya yang lain. Tipe ini akan
meningkatkan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya dan memberikan sikap
saling menghargai antar siswa.
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar
(Abdurrahman dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 14). Belajar itu sendiri merupakan
suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan
perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional,
biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang
berhasil mencapai tujuantujuan pembelajaran atau tujuan instruksional (Asep Jihad dan
Abdul Haris, 2008: 14).
Berdasarkan

uraian

di

atas,

maka

Pengembangan Model Pembelajran Langsung

peneliti

mengajukan

judul

penelitian

Dengan Strategi Giving Question And

Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X
di SMA Negeri 3 Lamongan.
C.

RUMUSAN MASALAH
Secara umum rumusan masalah pada penelitian ini adalah : Bagaimanakah keefektifan
Pengembangan Model Pembelajran Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting
Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA

Negeri 3 Lamongan. Agar penelitian ini lebih mudah dianalisis, maka rumusan masalah
tersebut dirinci sebagai berikut:
1.

Bagaimanakah validitas Pengembangan Model Pembelajran


Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan yang

dikembangkan?
2.

Bagaimanakah keterlaksanaan RPP (Rencana Pelaksanaan


Pembelajaran) selama proses penerapan Pengembangan Model Pembelajran Langsung
Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok
Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan ?

3.

Bagaimanakah hasil belajar siswa setelah proses Pengembangan


Model Pembelajaran Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap
Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan ?

Bagaimanakah respon siswa kelas X terhadap pelaksanaan

4.

Pengembangan Model Pembelajran Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting
Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA
Negeri 3 Lamongan ?

TUJUAN PENELITIAN

D.

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini secara umum
memiliki tujuan yaitu Mendapatkan Perangkat Model Pembelajaran Langsung Dengan
Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok
Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan. Agar penelitian ini lebih
mudah dideskripsikan, maka tujuan penelitian tersebut dirinci sebagai berikut:
1.

Untuk mengetahui validitas Pengembangan Model Pembelajran


Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa
Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan yang dikembangkan

2.

keterlaksanaan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)


selama proses penerapan Pengembangan Model Pembelajran Langsung

Dengan Strategi

Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik
Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan yang dikembangkan

3.

hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran

Model

Pembelajaran Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap Hasil

Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan yang

dikembangkan
respon siswa kelas X terhadap pelaksanaan Pengembangan

4.

Model Pembelajaran Langsung Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer Terhadap
Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis Kelas X di SMA Negeri 3 Lamongan

yang dikembangkan

E.

MANFAAT PENELITIAN
Adapun dari penelitian ini diharapkan akan didapatkan Perangkat Model Pembelajaran

Langsung

Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer dan layak digunakan

sebagai perangkat pembelajaran fisika pada materi listrik dinamis sehingga akan memberikan
manfaat kepada:
1.

Guru, terutama guru fisika yaitu sebagai masukan dalam


memberikan alternatif pemecahan masalah untuk perbaikan proses belajar mengajar
sehingga hasil belajar siswa meningkat.

2.

Lembaga atau sekolah, yaitu dapat dijadikan sebagai tolak ukur


keberhasilan sekolah yang berkaitan dengan hasil belajar sehingga dapat digunakan
untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan pengembangan kurikulum.

3.

Siswa, yaitu dapat membantu mempermudah siswa dalam


mendapatkan sendiri pengetahuan beserta ketrampilan-ketrampilan lain yang terkait
materi pembelajaran terutama materi listrik dinamis.

4.

Orang tua siswa, yaitu sebagai bahan informasi dalam


memberikan motivasi belajar yang terkait dengan cara tentang bagaimana proses putraputrinya dalam mendapatkan suatu pengetahuan agar lebih lama tersimpan di dalam
otaknya.

5.

Pembaca, sebagai bahan informasi mengenai dunia pendidikan


beserta pengembangannya dan sebagai literatur dalam melaksanakan penelitian
selanjutnya.

F.

KAJIAN PUSTAKA
1. Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang dirancang secara


khusus untuk membelajarkan siswa tentang pengetahuan prosedural yang dibutuhkan
untuk melaksanakan keterampilan komplek dan sederhana serta pengetahuan
deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan langkah demi langkah.
(Muhammad Nur , 2005:26)
Para pakar teori belajar pada umumnya membedakan dua macam pengetahuan
pada Model Pembelajaran Langsung yaitu pengetahuan deklaratif dan pengetahuan
prosedural. Pengetahuan deklaratif merupakan pengetahuan tentang sesuatu
sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan
sesuatu.
Pembelajaran Langsung memerlukan perencanan dan pelaksanaan yang
efektif. Meskipun pembelajaran berpusat pada guru tidak berarti guru mendominasi
kegiatan pembelajaran, melainkan kesempatan menemukan informasi, pengetahuan,
keterampilan dalam melakukan percobaan dan melakukan tanya jawab tetap pada
siswa. Hal ini berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan
tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik sehingga prestasi belajar siswa
juga meningkat. Pada dasarnya pengajaran

langsung diperuntukkan pada

pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan dasar tentang sesuatu dan pengetahuan


prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Penggunaan
pengetahuan prosedural memerlukan penguasaan pengetahuan prasyarat yang berupa
pengetahuan deklaratif. Para guru sering menghendaki agar siswa-siswa memperoleh
kedua macam pengetahuan tersebut supaya mereka dapat melakukan suatu kegiatan
dan melakukan segala sesuatu dengan berhasil.
Pada Model Pembelajaran Langsung terdapat lima sintaks atau fase yang
penting. Guru mengawali kegiatan belajar mengajar dengan menjelaskan tentang
tujuan dan latar pengajaran, serta mempersiapkan siswa untuk menerima penjelasan
guru dengan baik. Fase persiapan dan motivasi ini kemudian diikuti oleh presentasi
materi ajar yang diajarkan atau demonstrasi tentang keterampilan tertentu. Pelajaran
itu termasuk pemberian kesempatan pada siswa untuk melakukan pelatihan dan
pemberian umpan balik terhadap keberhasilan yang dilakukan oleh siswa. Rangkuman
kelima fase dapat dilihat pada tabel model pembelajaran langsung
Tabel 1.Sintaks Model Pembelajaran Langsung

Fase

Peran guru

Fase 1

Menjelaskan tujuan pembelajaran, latar

Menyampaikan tujuan dan belakang pelajaran, pentingnya pelajaran,


mempersiapkan siswa
Fase 2

mempersiapkan siswa untuk belajar.


Mendemonstrasikan
keterampilan

Mendemonstrasikan

dengan benar, atau menyajikan informasi

pengetahuan

atau tahap demi tahap, serta mengarahkan

keterampilan

siswa dalam kegiatan eksperimen.

Fase 3

Merencanakan dan memberi bimbingan

Membimbing pelatihan.

pelatihan

Fase 4

eksperimen.
Mengecek apakah siswa telah berhasil

awal

dalam

kegiatan

Mengecek pemahaman dan melakukan tugas dengan baik, dan


memberikan umpan balik
Fase 5
Memberikan

memberi umpan balik.


Mempersiapkan kesempatan melakukan

kesempatan pelatihan lanjutan, dengan perhatian

untuk pelatihan lanjutan dan khusus pada penerapan kepada situasi


penerapan

lebih kompleks dan kehidupan seharihari.


(Muhamad Nur, 2005: 36)

Pelaksanaan Model Pembelajaran Langsung memerlukan tindakan-tindakan


dan keputusan-keputusan yang jelas dari guru selama berlangsungnya perencanaan
pada saat melakukan proses belajar mengajar dan pada waktu menilai hasilnya.
Jadi Model Pembelajaran Langsung merupakan model pengajaran yang
dirancang secara khusus untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar siswa
tentang pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang sesuatu dan pengetahuan
prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu melalui 5 fase,
menjelaskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan siswa, mendemonstrasikan atau
menjelaskan materi yang akan dipelajari oleh siswa, melakukan kegiatan eksperimen,
mengecek pemahaman konsep siswa dan memberikan balikan, serta memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berlatih sendiri dan menerapkan hasil belajar.
2. Giving Question and Getting Answer
Strategi giving question and getting answer dikembangkan untuk melatih
peserta didik memiliki kemampuan dan ketrampilan bertanya. Proses pembelajaran

tidak harus berasal dari guru menuju siswa, karena belajar bukanlah memberikan
seluruh informasi yang diperlukan guru kepada siswanya. Setiap guru juga harus
memperhatikan bahwa siswa tidak bisa diberi muatan-muatan informasi apa saja yang
dianggap perlu oleh guru.
Tipe giving question and getting answer (adalah salah satu teknik
instruksional dari belajar aktif (active learning). Tipe ini memberikan kesempatan
pada siswa untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengerti dan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan hal yang sudah dimengerti kepada
temannya yang lain. Tipe ini akan meningkatkan keberanian siswa dalam
mengemukakan pendapatnya dan memberikan sikap saling menghargai antar siswa.
Tipe ini sangat baik digunakan untuk melibatkan siswa dalam mengulangi
materi pelajaran yang telah dipelajari. Penggunaan tipe ini sekaligus dapat melatih
siswa untuk bertanya, mengemukakan pendapat, bahkan menjelaskan bahan pelajaran
yang telah dipelajari kepada teman sekelasnya.
Langkah-langkah pelaksanaan tipe giving question and getting answer ini
sebagai berikut :
1) Membuat potongan-potongan kertas sebanyak dua kali jumlah siswa.
2) Meminta setiap siswa untuk melengkapi pernyataan berikut ini;
Kertas 1 : saya masih belum paham tentang...........
Kertas 2 : saya dapat menjelaskan tentang..............
3) Membagi siswa ke dalam kelompok kecil 4 atau 5 orang
4) Masing-masing kelompok memilih pertanyaan pertanyaan yang ada (kartu 1), dan
juga topik-topik yang dapat mereka jelaskan (kertas 2).
5) Meminta setiap kelompok untuk membacakan pertanyaan-pertanyaan yang telah
mereka seleksi. Jika ada diantara siswa yang bisa menjawab, diberi kesempatan
untuk menjawab. Jika tidak ada yang bisa menjawab, guru harus menjawab.
6) Meminta setiap kelompok untuk menyampaikan apa yang dapat mereka jelaskan
dari kertas 2, selanjutnya minta mereka untuk menyampaikannya ke kawan-kawan.
7) Melanjutkan proses ini sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada.
8) Mengakhiri pembelajaran dengan menyampaikan rangkuman dan klarifikasi dari
jawaban-jawaban dan penjelasan siswa.
( Hisyam Zaini, dkk., 2008: 69 )

3. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui
kegiatan belajar (Abdurrahman dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 14). Belajar
itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh
suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran
atau kegiatan instruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang
berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuantujuan pembelajaran
atau tujuan instruksional (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 14).
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni
faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan (Nana Sudjana, 2009: 39). Faktor yang datang dari diri siswa terutama
kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa sangat besar sekali
pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Selain faktor kemampuan yang
dimiliki siswa juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap
dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Hasil belajar
yang diraih masih juga bergantung dari lingkungan. Salah satu lingkungan belajar
yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di sekolah adalah kualitas
pengajaran yaitu efektif tidaknya proses pembelajaran dalam mencapai tujuan
pengajaran. Faktor kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan
berbanding lurus dengan hasil belajar siswa, artinya makin tinggi kemampuan siswa
dan kualitas pengajaran maka makin tinggi pula hasil belajar siswa Nana Sudjana,
2009: 40).
Oleh karena itu, dalam proses penilaian hasil belajar siswa hendaknya
mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor yang merupakan satu
kesatuan yang tidak terpisahkan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan siswa sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor baik secara
individu maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu yang dinyatakan dengan
nilai.
a. Hasil belajar bidang kognitif
1) Kognitif produk

a) Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (knowledge)


Pengetahuan hafalan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata
knowledge dari Bloom. Cakupan dalam pengetahuan hafalan termasuk
pula pengetahuan yang sifatnya faktual, di samping pengetahuan yang
mengenai hal-hal yang perlu dingat kembali seperti batasan,peristilahan,
pasal, hukum, bab, ayat, rumus, dan lain-lain. Tipe hasil belajar ini
termasuk tipe hasil belajar tingkat rendah jika dibandingkan dengan tipe
hasil belajar lainnya. Tingkah laku operasional khusus yang berisikan tipe
hasil belajar hafalan antara lain; menyebutkan, menjelaskan kembali,
menuliskan, memilih, mengidentifikasi dan mendefinisikan (Nana
Sudjana, 2009: 50).
b) Tipe hasil belajar pemahaman (comprehention)
Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari tipe
hasil belajar pengetahuan hafalan. Pemahaman memerlukan kemampuan
menangkap makna atau arti dari sesuatu konsep. Ada tiga macam
pemahaman yang berlaku umum; pertama pemahaman terjemahan, yakni
kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kedua
pemahaman penafsiran, misalnya memahami grafik, menghubungkan dua
konsep yang berbeda, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.
Kata-kata operasional untuk merumuskan tujuan instruksional dalam
bidang pemahaman antara lain; membedakan, menjelaskan, meramalkan,
menafsirkan, memperkirakan, memberi contoh, mengubah, membuat
rangkuman, menuliskan kembali, melukiskan dengan kata-kata sendiri
(Nana Sudjana, 2009: 50-51).
c) Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi)
Aplikasi adalah kesanggupan menerapkan dan mengabstraksikan
suatu konsep, ide, rumus dalam situasi yang baru. Tingkah laku
operasional

untuk

merumuskan

tujuan

instruksional

biasanya

menggunakan kata-kata; menghitung, memecahkan, mendemonstrasikan,


mengungkapkan,
mengerjakan,

menjalankan,
mengubah,

menggunakan,

menunjukkan

proses,

mengurutkan dan lain-lain (Nana Sudjana, 2009: 51).

d) Tipe hasil belajar analisis/sintesis

menghubungkan,
memodifikasi,

Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu integritas


menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian yang mempunyai arti atau
mempunyai tingkatan. Kata-kata operasional yang lazim dipakai untuk
analisis antara lain; menguraikan, memecahkan, membuat diagram,
membedakan, menghubungkan dan lain-lain (Nana Sudjana, 20099: 52).
Sedangkan sintesis merupakan lawan dari analisis. Sintesis adalah
kesanggupan menyatukan

unsur atau bagian menjadi satu integritas.

Sintesis memerlukan kemampuan hafalan, pemahaman, aplikasi dan


analisis. Beberapa tingkah laku operasional biasanya tercermin dalam
kata-kata; mengkategorikan, menggabungkan, menghimpun, menyusun,
merancang, menyimpulkan, menghubungkan dan lain-lain (Nana Sudjana,
2009: 52).
e) Tipe hasil belajar evaluasi
Evaluasi adalah kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai
sesuatu berdasarkan judgment yang dimilikinya dan kriteria yang
dipakainya. Tingkah laku operasional dilukiskan dalam kata-kata; menilai,
membandingkan,

mempertimbangkan,

menyimpulkan,

memberikan

pendapat dan lain-lain (Nana Sudjana, 2009: 52-53).


f) Tipe hasil belajar kreasi
Menciptakan merupakan kesanggupan untuk menghasilkan sesuatu
produk dari kegiatan pembelajaran. Tahap pengetahuan kreasi mencakup
menggeneralisasikan, merencanakan dan menghasilkan. Menciptakan
merupakan tingkatan tertinggi dari penilaian kognitif karena dalam
pengetahuan

menciptakan

memerlukan

kemampuan

menghafal,

pemahaman, penerapan, analisis/sintesis dan evaluasi.


Pada penelitian ini penilaian hasil belajar bidang kognitif yang dicapai
mencakup semua tipe hasil belajar kognitif yaitu pengetahuan hafalan
(knowledge),

pemahaman

(comprehention),

penerapan

(aplikasi),

analisis/sintesis, evaluasi dan kreasi. Tipe hasil belajar kognitif terlihat pada
soal pre-test, post-test dan evaluasi.
2) Kognitif proses
Kognitif proses berkaitan erat dengan kognitif produk. Kognitif proses
merupakan sarana untuk mencapai kognitif produk Penilaian kognitif proses
merupakan penilaian tahapan-tahapan atau prosedur yang dilakukan untuk
mencapai hasil belajar kognitif produk.

b. Hasil belajar bidang afektif


Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif
tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perilaku karakter dan
keterampilan sosial. Perilaku karakter siswa dapat berupa rasa ingin tahu, terbuka
pada ide baru, teliti, cermat dan jujur sedangkan keterampilan sosial siswa berupa
kerja sama dengan teman, menghargai pendapat teman, bertanya dan
mengemukakan ide.
Nana Sudjana (2009: 53-54) mengemukakan ada beberapa tingkatan bidang
afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar. Tingkatan tersebut dimulai tingkat
yang dasar/sederhana sampai tingkatan yang kompleks.
1) Receiving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan
dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi, gejala.
Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus,
kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar.
2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap
stimulus yang datang dari luar. Dalam hal ini termasuk ketepatan reaksi,
perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang pada
dirinya.
3) Valuing (penilaian) yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap
gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan
menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai, dan
kesepakatan terhadap nilai tersebut.
4) Organisasi yakni pengembangan nilai ke dalam satu sistem organisasi,
termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan
dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Yang termasuk dalam organisasi
adalah konsep tentang nilai, organisasi dari pada sistem nilai.
5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai yakni keterpaduan dari semua sistem
nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan
tingkah lakunya. Di sini termasuk keseluruhan nilai dan karakteristiknya.
Penilaian hasil belajar afektif terlihat pada saat pembelajaran berlangsung
diantaranya pada saat guru menjelaskan materi, kegiatan percobaan dan kegiatan
diskusi antar siswa. Pada saat pembelajaran berlangsung guru dapat mengamati
perilaku karakter dan keterampilan sosial dari tiap siswa yang sedang mengikuti
kegiatan belajar mengajar sesuai dengan aspek yang akan diamati yang ada pada
lembar pengamatan afektif siswa.

c. Penilaian hasil belajar bidang psikomotor


Penilaian hasil belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk
keterampilan (skill) yang berhubungan dengan gerakan siswa.
Menurut Nurul Mufidah (2010: 65) terdapat enam tingkatan keterampilan
psikomotor yaitu:
1) Gerakan refleks, merupakan basis semua perilaku gerak dengan responsi
terhadap stimulus tanpa dasar.
2) Gerakan dasar, merupakan gerakan terpola yang dapat dijebak yang tidak
memerlukan latihan tetapi dapat diperhalus melalui praktik
3) Gerak persepsi, merupakan gerakan yang sudah lebih meningkat karena
dibantu kemampuan perseptual.
4) Gerakan kemampuan fisik, merupakan gerakan lebih efisien yang berkembang
melalui kematangan dan belajar.
5) Gerakan terampil, merupakan gerakan yang dapat mengontrol berbagai
tingkatan gerak. Terampil, tangkas, cekatan melakukan gerakan yang sulit dan
rumit.
6) Gerakan indah dan kreatif, merupakan gerakan yang mengkomunikasikan
perasaan.
Gerak estetik : Gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah
Gerak kreatif
: Gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk
mengkomunikasikan perasaan.
Penilaian hasil belajar psikomotor terlihat pada saat pembelajaran
berlangsung terutama saat unjuk kerja atau kegiatan laboratorium. Pada saat
kegiatan laboratorium guru dapat mengamati psikomotor dari tiap siswa sesuai
dengan aspek yang akan diamati yang ada pada lembar pengamatan psikomotor
siswa. Pada penilaian aspek psikomotor ini akan terlihat siswa yang mengusai
materi tidak hanya pada teori tetapi juga pada prakteknya.
4. Listrik Dinamis
a. Kuat Arus
Arus listrik adalah jumlah total muatan yang melewati suatu rangkaian
tertutup per satuan waktu pada suatu titik (walau sesungguhnya elektron-elektron
bermuatan negatiflah yang mengalir melalui konduktor). Rangkaian tertutup
adalah suatu rangkaian yang jalannya mulai dari suatu titik, berkeliling dan
akhirnya kembali lagi ke titik tersebut (Giancoli, 2001: 64).
Kuat arus listrik (I) didefinisikan sebagai banyaknya muatan listrik positif
(Q) yang mengalir melalui suatu penghantar per satuan waktu (t), atau secara
matematis ditulis :

Q dQ

t 0 t
dt

I lim

...............................................................................(1)
(Giancoli, 2001: 64)

Lebih tepatnya arus listrik pada kawat didefinisikan sebagai jumlah total
muatan yang melewatinya persatuan waktu pada satu titik (Giancoli, 2001: 65).

Dengan demikian arus rata-rata I didefinisikan sebagai :


I

Q
t

...............................................................................................(2)
(Giancoli, 2001: 65)

dimana

adalah jumlah muatan yang melewati konduktor pada suatu lokasi

selama jangka waktu

. Arus listrik diukur dalam coulomb perdetik; satuan

ini diberi nama khusus Ampere (disingkat amp atau A). Pada rangkaian tunggal
seperti pada gambar 1 dibawah ini ,arus pada setiap saat sama pada satu titik
B

(misalnya A) seperti pada titik yang lain (misalnya B). Hal ini sesuai dengan
hukum kekekalan muatan listrik / muatan tidak hilang(Giancoli, 2001: 65).
A
Arus

Alat
+

(a)

(b)

Gambar 1: (a) Rangkaian listrik sederhana


(b) Gambar skematis dari gambar yang sama

a. Beda Potensial

(Giancoli, 2001: 65)


b. Beda Potensial
Perhatikan medan listrik antara dua pelat sejajar bermuatan sama tetapi
berlawanan serta jarak antara kedua pelat kecil dibandingkan dengan lebar dan

tingginya sehingga medan akan seragam pada sebagian besar daerah seperti pada
gambar dibawah ini.

+
ab

EP tinggi
EP rendah

Gambar 2. Kerja dilakukan oleh medan listrik pada waktu memindahkan

muatan positif dari posisi b ke posisi a.


2001:
Sebuah titik muatan positif q yang kecil yang(Giancoli,
diletakkan
pada33).
titik b
dengan sangat dekat dengan muatan pelat positif seperti pada gambar diatas. Jika
muatan tersebut dilepaskan, gaya listrik akan melakukan kerja pada muatan dan
mempercepatnya menuju pelat negatif. Pada proses ini, energi kinetik partikel
bermuatan tersebut akan bertambah. Energi potensial akan menurun dengan besar
yang sama, sama dengan kerja negatif yang dilakukan oleh gaya listrik. Sesuai
dengan kekekalan energi, energi potensial listrik diubah menjadi energi kinetik dan
energi total tetap kekal (Giancoli,2001: 33)
Potensial listrik didefinisikan sebagai energi potensial persatuan muatan.
Potensial listrik dinyatakan dengan symbol V. Jika titik muatan q memiliki energi
potensial listrik EPa pada titik a, potensial listrik Va pada titik ini adalah
Va

EPa
q

.............................................................................................(3)
(Giancoli, 2001: 33)

Potensial listrik tidak dapat diukur secara fisik dan hanya selisih pada
potensial atau beda potensial antar dua titik a dan b yang dapat diukur. Karena
selisih energi potensial sama dengan negatif dari kerja Wb, yang dilakukan oleh

gaya listrik untuk


memindahkan muatan dari titik b ke titik a, maka beda potensial
R
V
Vba sebesar:

Vba Vb Va

Wba
q

............................................................................(4)
(Giancoli, 2001:33)
Satuan potensial listrik dan beda potensial adalah joule/coulomb dan diberikan
nama khusus volt (disingkat V). Pada gambar 3 pelat positif lebih tinggi daripada
pelat negative berarti benda yang bermuatan positif bergerak secara alami dari
potensial tinggi ke potensial rendah. Muatan negatif melakukan yang sebaliknya.
Beda potensial karena diukur dalam volt disebut juga voltase atau tegangan
(Giancoli, 2001: 33).
c. Hukum Ohm
George Simon Ohm (1787-1854) menentukan dengan eksperimen bahwa arus
pada kawat logam sebanding dengan beda potensial yang di berikan ke ujungujungnya:
IV

Gambar 3. Gambar skema hukum Ohm

Dari penentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa beda potensial berbanding


lurus dengan arus listrik. Akan tetapi besar besar aliran arus pada kawat tidak
hanya tergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat
terhadap aliran elektron. Makin tinggi hambatan ini, maka makin kecil aliran arus
listrik untuk suatu tegangan V. Kemudian hambatan didefinisikan sebagai arus
yang berbanding terbalik dengan hambatan. Sehingga bila digabungkan dengan
pernyataan arus listrik berbanding lurus dengan hambatan, maka dapat dirumuskan
dari hukum Ohm tersebut sebagai berikut:

V
R

I=
...........................................................

V
R

.............................. (5)

(Giancoli, 2001: 68)


I

Persamaan (5) diatas lebih dikenal dengan hukum Ohm. Namun hubungan

tersebut tidak berlaku untuk alat lain seperti diode, tabung hampa udara , transistor
dan sebagainya. Dengan demikian hukum Ohm bukan merupakan hukum dasar
tetapi lebih berupa deskripsi mengenai kelas bahan (konduktor logam) tertentu
(Giancoli, 2001: 68).
d. Rangkaian Seri
Ketika dua atau lebih resistor dihubungkan dari ujung ke ujung seperti pada
gambar 1, dapat dikatakan mereka dihubungkan secara seri. Resistor-resistor
tersebut bisa merupakan Rek
resistor biasa atau resistor komponen listrik seperti lampu.
Muatan yang melalui R1 pada gambar 4 juga akan melewati R2 dan kemudian R3.
Dengan demikian arus I yang sama melewati setiap resistor (jika tidak hal ini
berarti bahwa muata terakumulasi pada beberapa titik pada rangkaian, yang tidak
terjadi dalam keadaan stabil). Untuk mengukur tegangan V pada ketiga resistor,
kita anggap semua resistor yang lain pada rangkaian dapat diabaikan, dan sehingga
V sama dengan tegangan baterai. Untuk menentukan besarnya V1, V2, dan V3 serta
R1, R2, dan R3 dapat menggunakan hukum Ohm. Karena resistor-resistor tersebut
dihubungkan ujung ke ujung, kekekalan energi menyatakan bahwa tegangan total
V sama dengan jumlah semua tegangan dari masing-masing resistor.
V = V1 + V2 + V3 = IR1 + IR2 + IR3...................................................(6)
Karena I sama maka: R = R1 + R2 + R3...............................................(7)

Gambar 4. a) Rangkaian hambatan listrik disusun seri


b) hambatan ekivalen tunggal Rek

(Giancoli, 2001 : 95)

R1

e. Rangkaian Paralel
Pada rangkaian paralel, arus total yang meninggalkan baterai terbagi menjadi
tiga cabang. Maka untuk menentukan I1, I2, dan I3 serta R1, R2, dan R3 dapat
menggunakan hukum Ohm. Karena muatan arus listrik kekal, arus yang masuk ke
dalam titik cabang (di mana kawat atau konduktor yang berbeda
bertemu) harus
V3 V2 V1
sama dengan arus yang dari keluar titik cabang. Dengan demikian:
V
R1

I = I 1 + I2 + I 3 =

V
R2

1
Rek

Karena V sama maka:

V
R3

.....................................................(8)
1
R2

1
R1

1
R3

.....................................(9)

Gambar 5. (a) Rangkaian hambatan listrik disusun parallel


(b) hamabtan ekivalen tunggal Rek

(Giancoli, 2001 : 96)


).

f. Hukum I Kirchhoff
1) Kuat Arus Dalam Rangkaian Yang Tidak Bercabang
Pada rangkaian tidak bercabang atau pada rangkaian seri pada gambar 4
di atas. Kuat arus yang melalui tiap komponen (baterai atau lampu) adalah
sama besar.
2) Kuat Arus Dalam Rangkaian Bercabang
Bunyi hukum I Kirchhoff yang berbunyi :
Pada rangkaian listrik yang bercabang, jumlah kuat arus yang masuk pada
suatu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik cabang
itu.
Secara matematis dituliskan : I masuk = I keluar....................(10)
(Tipler, 2001: 184)

g. Hambatan Jenis
I1

Resistivitas (resistivity) sebuah material didefinisikan sebagai rasio dari


besarnya medan listrik dan kerapatan arus:

E
J

.. (11)
(Sears & Zemansky, 1992: 654)

Tinjaulah sebuah penghantar silinder dengan luas penampang A dan


panjangnya L, yang mengangkut sebuah arus I yang tetap. Apabila perbedaan
I3

potensial dikenakan terhadap ujung-ujung penghantar tersebut dan penampangpenampang silinder pada setiap ujung adalah permukaan-permukaan ekipotensial
maka medan listrik E dan rapat arus J akan konstan untuk semua titik di dalam
silinder dan secara matematis dapat dituliskan:
E

V
L

J
dan

I
AI2
.. (12)
(Halliday & Resnick, 1988: 189)

maka dapat dituliskan resistivitas tersebut sebagai


V
E
L
I
J
A

(13)

(Halliday & Resnick, 1988: 189)


R2

dimana V/I adalah R sehingga persamaan di atas menjadi


R

L
A

.. (14)

(Halliday & Resnick, 1988: 190)


Persamaan (27) membuktikan hasil eksperimen bahwa hambatan R kawat
logam berbanding lurus dengan panjang L dan berbanding terbalik dengan luas
penampang A. Dimana merupakan konstanta pembanding yang disebut
hambatan jenis (resistivitas) dan bergantung pada jenis bahan yang digunakan.
Nilai tipikal satuannya adalah .m, nilainya untuk berbagai bahan diberikan
pada tabel 2 Nilai-nilai tersebut sebagian bergantung pada kemurnian, perlakuan
kalor, temperatur, dan faktor-faktor lainya (Giancoli, 2001: 69).
Tabel 2.Hambatan jenis dan koefisien temperature (pada 20oC)
Bahan
Konduktor
Perak
Tembaga
Emas
Aluminium
Tungsten
Besi
Platina
Air Raksa
Nikrom
Semikonduktor
Karbon
(grafit)
Germanium
Silikon
Isolator
Kaca
Karet padatan

Hambatan Jenis,
(.m)
1,59 x 10-8
1,68 x 10-8
2,44 x 10-8
2,65 x 10-8
5,6 x 10-8
9,71 x 10-8
10,6 x 10-8
98 x 10-8
100 x 10-8

(3-60) x 10-5
(1-500) x 10-3
0,1-60

109-1012
10-13-1015

Temperatur,
Koefisien (Co)-1
0,0061
R3
0,0068
0,0034
0,00429
0,0045
0,00651
0,003927
0,0009
Sumber:
Giancoli, 2001: 70
0,0004

-0,0005
-0,05
-0,07

Hambatan jenis suatu bahan sebagian bergantung pada temperatur. Pada


umunya hambatan logam bertambah terhadap temperatur. Pada temperatur yang
lebih tinggi, atom-atom bergerak lebih cepat dan tersusun dengan tidak begitu
teratur, sehingga cenderung mengganggu elektron bergerak karena adanya
tumbukan. Jika perubahan temperatur tidak terlalu besar, hambatan logam
biasanya naik hampir linier terhadap temperature, sehingga dapat dituliskan
persamaan:

t 0 [1 (T T0 )]
. (15)
Di mana 0 adalah hambatan jenis pada temperatur acuan T0 (misalnya
0oC atau 20oC), t adalah hambatan jenis pada temperatur T dan adalah
koefisien temperatur hambatan jenis (lihat Tabel 2).
Karena hambatan R berbanding lurus dengan hambatan jenis, maka
berlaku:

Rt R0 [1 (T T0 )]
. (16)

5. Penelitian Relevan
a) Deni Sofyan, (2010). Pengaruh penerapan scaffolding dalam model pembelajaran
langsung terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri Torjun pada pokok
bahasan listrik dinamis. Berdasarkan analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa
siswa mempunyai respon yang baik dengan kegiatan pembelajaran.
b) Sri Cacik, (2010). Pengaruh penerapan model pengajaran langsung dengan metode
guided note taking (catatan terbimbing) terhadap hasil belajar siswa ranah kognitif
dan psikomotor pada materi kalor di kelas X SMA Negeri 1 Papar. Berdasarkan
analisis dan pembahasan disimpulkan bahwa model pembelajaran langsung
berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

G. KERANGKA KONSEPTUAL
Fakta:
mata pelajaran fisika sebagai momok mata
pelajaran yang sulit, penuh dengan rumus,
dan tidak menarik bahkan membosankan
sehingga siswa tidak bersemangat belajar
fisika
Menurunnya semangat belajar fisika siswa
dikarenakan pembelajaran fisika pada
umumnya
lebih
menekankan
pada
penyelesaian soal-soal berupa hitungan
matematis (bersifat kuantitatif), bukan pada
pemahaman gejala alam yang ada dalam
kehidupan sehari-hari (bersifat kualitatif).

Harapan:
1. Siswa lebih aktif dalam dalam bertanya,
mengemukakan pendapat, menjawab
pertanyaan,mengerjakan soal ke depan
kelas, dan mengerjakan soal-soal latihan
yang diberikan oleh guru.

2. Siswa berani mengerjakan soal


didepan kelas dengan mandiri tanpa
guru harus memotivasi siswa terlebih
dahulu dengan memberikan berupa nilai
tambahan.

3. Aktivitas yang ditunjukkan siswa


lebih

teratur
mendengarkan
guru,sehingga kondisi pembelajaran
yang terjadi di kelas kondusif

Masalah
Bagaimanakah keefektifan Perangkat Pengajaran Langsung Dengan Strategi Giving Question And
Getting Answer Untuk Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis?

TEORI
1. Pembelajaran langsung adalah model pembelajaran
yang
dirancang
secara
khusus
untuk
membelajarkan siswa tentang pengetahuan
prosedural yang dibutuhkan untuk melaksanakan
keterampilan komplek dan sederhana serta
pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan
baik dan dapat diajarkan langkah demi langkah.
(Nur M, 2005: 26).
2. Giving Question and Getting Answer Adalah strategi
yang memberikan kesempatan pada siswa untuk
bertanya mengenai hal yang tidak mereka mengerti
dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menjelaskan hal yang sudah dimengerti kepada
temannya yang lain.

PENELITIAN YANG RELEVAN


1. Deni Sofyan, (2010). Pengaruh penerapan scaffolding
dalam model pembelajaran langsung terhadap hasil
belajar siswa kelas X SMA Negeri Torjun pada
pokok bahasan listrik dinamis. Berdasarkan analisis
dan pembahasan disimpulkan bahwa siswa
mempunyai respon yang baik dengan kegiatan
pembelajaran.
2. Sri Cacik, (2010). Pengaruh penerapan model
pengajaran langsung dengan metode guided note
taking (catatan terbimbing) terhadap hasil belajar
siswa pada materi kalor di kelas X SMA Negeri 1
Papar. Berdasarkan analisis dan pembahasan
disimpulkan bahwa model pembelajaran langsung
berpengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.

Hasil Yang Diharapkan


Mendapatkan PerangkatPembelajaran yang layak pada Pengajaran Langsung Dengan Strategi Giving
Question And Getting Answer Untuk Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Listrik Dinamis

H. METODE PENELITIAN
1.
Definisi Operasional Variabel
a. Pengertian variabel
1) Variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasi untuk mengetahui pengaruhnya
tehadap variabel terikat.
2) Variabel terikat adalah variabel yang diamati untuk mengetahui efek dari variabel
bebas.
3) Variabel kontrol adalah variabel yang dijaga tetap, baik pada kelompok
eksperimental maupun kelompok kontrol sehingga tidak berpengaruh terhadap
penelitian.
b. Definisi operasional variabel
1) Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Pengembangan Model Pembelajaran
Langsung

Dengan Strategi Giving Question And Getting Answer, dimana dalam

perangkat pengajran ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya

mengenai hal yang tidak di mengerti dan memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menjelaskan hal yang sudah di mengerti kepada temannya yang lain.
2) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa, hasil belajar yang
digunakan pada ranah kognitif yaitu hasil tes yang diujikan pada materi listrik
dinamis, dan hasil belajar kinerja siswa diperoleh melalui lembar pengamatan
aspek psikomotor siswa.
3) Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah

Siswa kelas X SMA Negeri 3 Lamongan adalah siswa yang tercatat di SMA
Negeri 3 Lamongan sebagai kelas X.

Listrik Dinamis adalah materi mata pelajaran fisika yang mempelajari arus listrik
tegangan listrik dalam kehidupan sehari-hari.

Model pembelajaran langsung adalah Model pembelajaran yang digunakan untuk


membelajarkan siswa tentang pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan
dapat diajarkan selangkah demi langkah yang dapat membantu siswa mempelajari
keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan tahap demi
tahap. (Nur M, 2005: 36).

Pengajar adalah peneliti yang bertindak sebagai guru yang memberikan pelajaran
dalam kelas.

2.

Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMA 3 LAMONGAN.

3.

4.

Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah jumlah kelas yaitu 2 kelas yaitu kelas X IPA 1 dan
X IPA 2
Instrumen Penelitian
Untuk pengumpulan data dalam rangka uji coba perangkat pembelajaran,
maka digunakan instrumen penelitian. Menurut Sugiyono (2012:305) instrumen
dalam penelitian kualitatif dapat berupa test, pedoman wawancara, pedoman
observasi, dan kuesioner. Pada penelitian ini akan dilakukan modifikasi yaitu dengan
menambahkan hal-hal yang dianggap perlu dan mengganti atau menghilangkan yang
dianggap tidak perlu atau tidak sesuai dengan penelitian menggunakan model

Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting answer. Adapun
dalam penelitian ini menggunakan instrumen yang terdiri atas: lembar pengamatan
(keterlaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran, psikomotor siswa, dan afektif
siswa), tes penguasaan konsep, dan angket respon siswa.
a. Lembar Pengamatan
Lembar pengamatan digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan
dengan pelaksanaan penelitian dengan menggunakan model Pembelajaran Langsung
dengan strategi giving question and getting answer. Adapun lembar pengamatan
tersebut terdiri atas:
1)

Lembar pengamatan keterlaksanaan rencana pelaksanaan


pembelajaran
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran
model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting
answer.

2)

Lembar pengamatan psikomotor siswa


Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang ketrampilan siswa
dalam melakukan percobaan.

3)

Lembar pengamatan afektif siswa


Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang sikap siswa selama
pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Langsung dengan
strategi giving question and getting answer.

b. Lembar Tes Penguasaan Konsep


Tes penguasaan konsep dilakukan untuk mendapatkan data tentang kemampuan
siswa sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran
Langsung dengan strategi giving question and getting answer yang merupakan
penilaian kognitif siswa. Adapun bentuk tes yang digunakan adalah berupa tes pilihan
ganda dan menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan) yang didasarkan KKM yang
dimiliki oleh sekolah tempat penelitian. Agar tes yang disusun berkualitas, maka
dilakukan analisis butir. Analisis butir tersebut meliputi: uji validitas (validitas butir
tes dan validitas faktor), uji sensitivitas, dan uji reliabilitas.
1) Validitas Butir Tes

Menurut Arikunto (2010:211) validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan


tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang
valid atau sahih mempunyai validitas cukup tinggi.
2) Validitas Faktor
Validitas faktor digunakan untuk mengetahui seberapa besar dukungan butir-butir
faktor pada tiap sub-bab tersebut terhadap skor total.
3) Sensitivitas Butir Tes
Sensitivitas butir digunakan untuk mengetahui efek dari suatu pembelajaran.
Indeks sensitivitas suatu butir menunjukkan kemampuan butir tes membedakan
antara siswa yang telah dengan yang belum mengikuti pembelajaran model
Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting answer.
4) Reliabilitas Butir Tes
Suatu alat ukur akan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila instrumen tersebut
memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Adapun yang dimaksud konsisten
adalah suatu hasil pengukuran yang relatif serupa meskipun instrumen tersebut
diuji cobakan berulang kali pada sampel yang sama dan dilakukan oleh orang
yang berbeda.
c. Lembar Angket Respon Siswa
Lembar angket respon siswa ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang
pelaksanaan pembelajaran model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving
question and getting answer serta perangkatnya yang meliputi: Buku Ajar Siswa
(BAS) dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Data respon siswa diperoleh dari lembar
angket respon siswa.
d. Lembar Pengamatan Hambatan
Instrumen ini digunakan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemukan
selama berlangsungnya proses pembelajaran model Pembelajaran Langsung dengan
strategi giving question and getting answer serta solusi yang digunakan untuk
mengatasi berbagai kendala tersebut.
5.

Desain Uji Coba Hasil Pengembangan Perangkat


Pembelajaran
Rancangan uji coba ini digunakan untuk mengujicobakan hasil pengembangan
perangkat pembelajaran fisika model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving

question and getting answer. Adapun rancangan tersebut menggunakan rancangan


eksperimental semu yaitu One Group Pretest-Posttest Design (Suryabrata, 2011:101).
Dalam pelaksanaan uji coba ini menggunakan tiga kelompok subjek. Pertama-tama
dilakukan pengukuran, lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu,
kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya. Rancangan ini dapat
digambarkan sebagai berikut:
Tabel 3.1 Desain Uji Coba Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Pre-test

Perlakuan

Post-test

T1
T1
T1

(Treatment)
X
X
X

T2
T2
T2

Keterangan
Replikasi yang pertama
Replikasi yang kedua
Replikasi yang ketiga

Keterangan:
T1

: Pre-test

T2

: Post-test

: Perlakuan
Adapun dalam penelitian ini dilakukan replikasi sebanyak tiga kali. Hal ini

dilakukan sebagai data pertimbangan apabila didapatkan data dari hasil kedua replikasi
yang hasil datanya saling berlawanan, maka data dari hasil replikasi lainnya dapat
dijadikan sebagai data pertimbangan.
6.

Prosedur Penelitian
Pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini mengadopsi 9 unsur
dari model pengembangan Kemp et al (1994). Pemilihan model ini dikarenakan tiaptiap langkah pengembangannya berhubungan langsung dengan aktivitas revisi. Selain
itu, pengembangan perangkat ini dapat dimulai dari tahap manapun sesuai di dalam siklus
tersebut. Namun, karena kurikulum yang berlaku secara nasional di Indonesia
berorientasi pada tujuan, maka proses pengembangan itu dimulai dari tujuan dan
berakhir pada evaluasi.
Keseluruhan pada penelitian ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu : tahap pertama
pengembangan perangkat pembelajaran (yang meliputi Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), Buku Ajar Siswa (BAS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), tes
penguasaan konsep, lembar pengamatan psikomotor siswa, dan lembar pengamatan

afektif siswa). Tahap kedua adalah mengujicobakan perangkat yang telah


dikembangkan dengan siswa yang terbatas. Tahap ketiga, melakukan revisi perangkat
dan menguji dengan siswa lebih banyak. Adapun urutan langkah-langkah
pengembangan perangkat pembelajaran dengan model Pembelajaran Langsung dengan
strategi giving question and getting answer dideskripsikan pada diagram alur pada
Gambar berikut:

Permasalahan dalam pembelajaran dan Analisis Tujuan

Analisis karakteristik siswa


Analisis konsep

Analisis isi

Menyusun urutan konsep

Merumuskan tujuan pembelajaran

Merancang strategi pembelajaran

Pemilihan media pembelajaran


Menentukan layanan penunjang
Menyusun instrumen evaluasi

Desain awal perangkat pembelajaran (Draft I)

Revisi I : Draft 2

Validasi perangkat

Uji Coba I

Uji Coba II

Revisi II : Draft 3

Draft akhir (Draft 4)

Analisis hasil uji coba I

Laporan

Gambar. Diagram alur pengembangan perangkat pembelajaran yang


digunakan peneliti di adaptasi dari Model Kemp (1994)

Adapun

uraian

dari

langkah-Iangkah

pengembangan

perangkat

pernbelajaran sebagai berikut:


a) Permasalahan dalam pembelajaran dan analisis tujuan
Analisis ini digunakan untuk mengidentifikasi adanya permasalahan tentang
pembelajaran dan analisis tujuan yang didasarkan pada kurikulum yang berlaku
dengan fakta yang terjadi di lapangan, baik yang menyangkut model, pendekatan,
metode, teknik, maupun strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran.
b) Analisis karakteristik siswa
Analisis karakteristik siswa digunakan untuk menelaah karakteristik siswa yang
meliputi: kemampuan akademik, usia, dan tingkat kedewasaan, serta motivasi
terhadap pelajaran.
c) Analisis tugas

Analisis tugas merupakan pemahaman tugas dalam pembelajaran yang


dilakukan untuk mengidentifikasi struktur materi yang dipilih dan digunakan untuk
merinci isi mata ajar dalam bentuk garis-garis besar isi pokok bahasan. Analisis tugas
pada materi listrik dinamis meliputi: analisis isi pelajaran yang merupakan perincian
dari materi pokok ajar dan analisis konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi
konsep-konsep utama dari pokok bahasan.
d) Merumuskan tujuan pembelajaran
Tahap ini digunakan untuk merumuskan tujuan pembelajaran apa saja yang
dapat dilakukan oleh siswa yang didasarkan hasil analisis tugas, analisis konsep,
analisis siswa, serta juga didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar.
e) Strategi Pembelajaran
Kegiatan

ini

digunakan

untuk

memilih

dan

merencanakan

kegiatan

pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang meliputi: pemilihan


model, pendekatan, metode, pemilihan format, yang diharapkan dapat memberikan
pengalaman belajar kepada siswa sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.
f) Memilih media untuk mendukung pembelajaran
Kegiatan pemilihan media ini merupakan suatu langkah untuk memilih media
yang sesuai dengan pembelajaran yang disajikan sehingga dapat membantu
ketercapaian tujuan pembelajaran. Proses ini meliputi penyesuaian antara analisis
tugas dan analisis konsep, karakteristik siswa, strategi atau metode pembelajaran, dan
sumber belajar.
g) Pemilihan layanan penunjang
Layanan penunjang ini digunakan membantu dalam proses pembelajaran.
Menurut Kemp et al (1994) ada enam bidang layanan penunjang yang harus
diperhatikan selama pengembangan perangkat pembelajaran yaitu: anggaran, fasilitas,
bahan, perlengkapan, tenaga penunjang, dan penjadwalan. Dalam pengembangan
perangkat ini, peneliti hanya mempertimbangkan jenis layanan penunjang yang
berupa fasilitas, bahan, tenaga penunjang, dan penjadwalan.
h) Penyusunan instrumen evaluasi
Langkah selanjutnya dalam pengembangan perangkat adalah penyusunan
instrumen evaluasi. Tujuan penyusunan instrumen evaluasi ini adalah untuk
mengembangkan butir soal yang paling cocok untuk mengukur ketercapaian tujuan
pembelajaran. Penyusunan evaluasi ini diawali dengan pembuatan kisi-kisi soal,

instrumen penilaian yang berupa tes yang dibuat berdasarkan pada tujuan
pembelajaran, dan rubrik penilaian.
i) Validasi Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan peneliti selanjutnya dikonsultasikan
dengan validator agar diperoleh perangkat pembelajaran yang efektif dan dapat diterapkan
dalam pembelajaran.
7.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data digunakan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan,
akurat, dan dapat digunakan dengan tepat sesuai tujuan penelitian. Adapun teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah: (a) pengamatan; (b) tes; (c) dokumentasi; (d) angket
respon siswa.
a.

Pengamatan
Pada penelitian ini pengamatan dilakukan untuk menilai keterlaksanaan Rencana
Pelaksanaan Pembalajaran (RPP), psikomotor siswa, dan afektif siswa selama
pembelajaran dengan model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and
getting answer dan dalam pelaksanaannya menggunakan pedoman pengamatan sebagai
instrumen dalam pengamatannya. Pengamatan ini akan dilakukan oleh rekan peneliti yang
terdiri atas 2 orang.

b.

Tes
Teknik ini digunakan untuk mengetahui penguasaan konsep fisika siswa yang
merupakan hasil belajar kognitif. Tes diberikan kepada siswa meliputi pre-test dan posttest yang masing-masing digunakan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan untuk
mengetahui penguasaan konsep fisika siswa setelah pembelajaran dengan model
Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting answer.

c.

Dokumentasi
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data berupa: nama siswa sebagai subyek
penelitian, nilai ulangan harian siswa sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran, foto
siswa pada saat pembelajaran, serta data pendukung lain yang mungkin diperlukan.

d.

Angket

Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang respon siswa terhadap
pelaksanaan pembelajaran model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question
and getting answer serta perangkatnya yang meliputi: Buku Ajar Siswa (BAS) dan Lembar
Kegiatan Siswa (LKS).
8. Teknik Analisis Data

1.

Analisis Kelayakan Perangkat

a.

Analisis Data Validasi Ahli


Perangkat yang akan divalidasi meliputi: RPP, LKS, BAS, tes penguasaan konsep,

lembar pengamatan psikomotor, dan lembar pengamatan afektif siswa. Proses validasi
tersebut dilakukan oleh 2 orang pakar sehingga akan menghasilkan data yang selanjutnya
dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini skor rerata (P) dari hasil penilaian
para pakar dan praktisi disesuaikan dengan kriteria penilaian perangkat sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kriteria Pengkategorian Penilaian Validasi Perangkat Pembelajaran


Interval Skor
3,6 P < 4
2,6 P < 3,5
1,6 P < 2,5
1 P < 1,5

Kategori Penilaian
Sangat valid
Valid
Kurang valid
Tidak Valid

Keterangan
Dapat digunakan tanpa revisi
Dapat digunakan dengan sedikit revisi
Dapat digunakan dengan banyak revisi
Belum dapat digunakan dan masih
memerlukan konsultasi
Diadaptasi dari (Ratumanan dan Laurens, 2006)

Perhitungan reliabilitas instrumen penilaian perangkat menggunakan rumus sebagai berikut:


R

A
x100%
A D

Keterangan:
R = Reliabilitas Instrumen (percentage of agreement)
A = Frekuensi kecocokan antara kedua penilai (agree)
D = Frekuensi ketidakcocokan antara kedua penilai (disagree)
Borich (dalam Ibrahim, 2005:46) menyatakan setelah dihitung reliabilitasnya, maka
instrumen tersebut dikatakan reliabel apabila memiliki reliabilitas 75%.
e.

Analisis Keterbacaan Perangkat

Nilai keterbacaan merupakan tingkat pemahaman siswa terhadap hasil pengembangan


perangkat yang dalam penelitian ini adalah buku ajar siswa. Untuk mendapatkan nilai
keterbacaan perangkat tersebut, maka digunakan semua subjek penelitian sebagai responden
dan kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan level tingkat keterbacaan perangkat
yaitu sebagai berikut:
Level bebas (di atas 60 %)

: Materi terlalu mudah

Level pembelajaran (40 % - 60%)

: Materi tepat untuk pembelajaran

Level tekanan (di bawah 40 %)

: Materi terlalu sulit


Taylor (dalam Winarni, 2011:68)

2.

Analisis Data Observasi

a. Analisis Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Pengamatan terhadap keterlaksanaan rencana pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh
2 orang pengamat yang sebelum melakukan pengamatan sudah diberi teknik untuk
memberikan penilaian yang tepat dan benar. Dalam pelaksanaan pengamatan masing-masing
pengamat memberikan tanda () pada kolom keterlaksanaan (iya atau tidak) dan kolom
penilaian (4 : baik sekali, 3 : baik, 2 : cukup baik, dan 1 : kurang baik). Adapun kriteria
penilaian yang diperoleh yaitu dengan membandingkan rata-rata skala penilaian yang
diberikan kedua pengamat dengan kriteria penilaian di bawah ini:
1,00 1,49

: Tidak baik

1,50 2,49

: Kurang baik

2,50 3,49

: Cukup baik

3,50 4,00

: Baik
Diadaptasi dari (Ratumanan dan Laurens, 2011)

b. Analisis Data Hasil Belajar Siswa


1) Analisis Data Hasil Belajar Kognitif Siswa
a) Validitas Butir Tes
Untuk menguji validitas alat ukur, maka terlebih dahulu dicari harga korelasi antara
bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkorelasikan setiap butir
alat ukur dengan skor total yang merupakan jumlah skor tiap butir dengan menggunakan
rumus Pearson Product Momen. Adapun rumus tersebut adalah sebagai berikut:

rhitung

n xy x y

n x x n y y
2

. (Riduwan, 2006:110)

Dimana:

rhitung
= Koefisien korelasi antara skor butir dengan skor total
n = Jumlah peserta tes.
x

= Skor butir

= Skor total
Kemudian menurut Arikunto (1999:75) hasil dari perhitungan koefisien korelasi tersebut
diinterprestasikan sebagai berikut:
Antara 0,800 sampai dengan 1,000, maka validitas sangat tinggi.
Antara 0,600 sampai dengan 0,799, maka validitas tinggi.
Antara 0,400 sampai dengan 0,599, maka validitas cukup.
Antara 0,200 sampai dengan 0,399, maka validitas rendah.
Antara 0,000 sampai dengan 0,199, maka validitas sangat rendah.
b) Validitas Faktor
Validitas faktor dihitung untuk mengetahui seberapa besar dukungan skor butir soal
pada masing-masing sub-bab terhadap skor total. Adapun teknik perhitungan yang digunakan
sama dengan menghitung validitas butir soal.
c) Sensitivitas Tes
Sensitivitas tes dihitung untuk mengetahui pengaruh dari suatu pembelajaran. Indeks
sensitivitas dari suatu butir soal pada dasarnya merupakan ukuran seberapa baik butir soal itu
membedakan antara siswa yang telah menerima dengan siswa yang belum menerima
pembelajaran dengan model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and
getting answer. Suatu butir soal dikatakan peka terhadap pembelajaran apabila S 0,30.
Untuk menghitung sensitivitas butir soal, maka digunakan rumus sebagai berikut:
S

Ra Rb
N

.(Ibrahim, 2005 : 50)

Keterangan:
S
N

: Indeks sensitivitas butir soal


: Banyaknya siswa yang mengikuti tes

Ra

: Banyaknya siswa yang menjawab benar pada akhir tes

Ra

: Banyaknya siswa yang menjawab benar pada awal tes

d) Reliabilitas Tes
Untuk mengetahui reliabilitas tes maka digunakan KR-20. Teknik ini digunakan karena
butir soalnya adalah pilihan ganda. Adapun rumus tersebut adalah sebagai berikut :
n

n 1

r11

i2

i2

.(Arikunto, 2010:109)

Dengan:
r11

: Realibitas Instrumen

: Banyaknya butir tes

i2
: Jumlah varians skor tiap-tiap item

i2
: Varians skor total
Selanjutnya menurut Arikunto (2010:109) hasil dari perhitungan reliabilitas soal tersebut
dikategorikan sebagai berikut:
Apabila 0,80 < r11 1,00, maka derajat realibilitas sangat tinggi
Apabila 0,60 < r11 0,79, maka derajat realibilitas tinggi
Apabila 0,40 < r11 0,59, maka derajat realibilitas cukup
Apabila 0,20 < r11 0,39, maka derajat realibilitas rendah
Apabila 0,00 < r11 0,19, maka derajat realibilitas sangat rendah
e) Analisis Penguasaan Konsep
Teknik untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar dalam penelitian ini menggunakan
teknik normalized gain. Penggunaan teknik ini dikarenakan untuk mengetahui keefektifan
peningkatan hasil belajar dari masing-masing siswa yang ditunjukkan dengan nilai G
(normalized gain) dan dengan rumus sebagai berikut:
g

Spost Spre
S max Spre

.(Hake, 2008:1)
Dengan

:
g

= Nilai gain
Spost = Nilai post-test

Spre

= Nilai pre-test

Smax = Nilai maksimal


Selanjutnya dari hasil perhitungan N-gain tersebut kemudian dikonversi dengan kriteria
sebagai berikut:
Tabel 3.5 Kriteria Normalized Gain
Skor N-Gain
0,70 < N-Gain
0,30 N-Gain 0,70
N-Gain < 0,30

2)

Kriteria Normalized Gain


Tinggi
Sedang
Rendah
Hake (1998:26)
Analisis Data Hasil Belajar Psikomotor Siswa

Teknik analisis data untuk menentukan persentase hasil belajar psikomotor siswa
selama penerapan model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting
answer secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik persentase sebagai berikut:
P

A
N

Keterangan:
P = Konversi nilai ranah psikomotor siswa
A
N

= Skor total ranah psikomotor siswa yang teramati


= Skor maksimum ranah psikomotor siswa

Dalam menentukan reliabilitas instrumen lembar pengamatan psikomotor siswa, maka


digunakan rumus percentage of agreement sebagai berikut:

A B

R 1
x100%
A B

Keterangan:
R = Koefisien reliabilitas
A = Frekuensi ranah psikomotor yang teramati oleh pengamat dengan
memberikan frekuensi tinggi
B = Frekuensi ranah psikomotor yang teramati oleh pengamat dengan
memberikan frekuensi rendah

Borich (dalam Ibrahim, 2005:46) menyatakan setelah dihitung reliabilitasnya, maka


instrumen tersebut dikatakan reliabel apabila memiliki reliabilitas 75%.

3)

Analisis Data Hasil Belajar Afektif Siswa


Adapun teknik analisis data untuk menentukan persentase hasil belajar siswa selama

penerapan model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving question and getting answer
secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik persentase sebagai berikut:
P

K
N

Keterangan:
P = Konversi nilai ranah afektif siswa
K
N

= Skor total ranah afektif siswa yang teramati


= Skor maksimum ranah afektif siswa

Untuk menentukan reliabilitas instrumen lembar pengamatan afektif siswa, maka digunakan
rumus percentage of agreement sebagai berikut:

A B

R 1
x100%
A B

Keterangan:
R = Koefisien reliabilitas
A = Frekuensi aspek tingkah laku yang teramati oleh pengamat dengan
memberikan frekuensi tinggi
B = Frekuensi aspek tingkah laku yang teramati oleh pengamat dengan
memberikan frekuensi rendah
Borich (dalam Ibrahim, 2005:46) menyatakan setelah dihitung reliabilitasnya, maka
instrumen tersebut dikatakan reliabel apabila memiliki reliabilitas 75%.
Dari analisis ketiga hasil belajar di atas, maka akan didapatkan hasil belajar siswa
secara keseluruhan dengan didasarkan penjumlahan persentase dari 50% kognitif, 20%
psikomotor, dan 30% afektif yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran dari hasil
pengembangan perangkat pembelajaran fisika model Pembelajaran Langsung dengan strategi
giving question and getting answer.

c. Analisis Data Respon Siswa


Untuk menganalisis data angket respon siswa, maka digunakan analisis dengan
menggunakan skala Guttman. Apabila siswa menjawab Ya bernilai (1) dan apabila siswa
menjawab Tidak bernilai (0). Kemudian dianalisis berdasarkan kelompok responden yang
menjawab Ya dan kelompok responden yang menjawab Tidak. Dan secara matematis
dapat ditulis sebagai berikut:

Persentase respon siswa =

A
N

x 100%

Keterangan :
A = Proporsi siswa yang memilih Ya atau Tidak
N = Jumlah siswa yang mengisi angket
Selanjutnya dari hasil persentase respon siswa dikonversi dengan kriteria sebagai berikut:
Angka 0

% - 20 % = Sangat lemah

Angka 21 % - 40 % = Lemah
Angka 41 % - 60 % = Cukup
Angka 61 % - 80 % = Kuat
Angka 81 % - 100 % = Sangat kuat
(Riduwan, 2010:15)
d. Analisis hambatan
Hambatan selama pelaksanaan pembelajaran dianalisis dengan deskriptif kualitatif yaitu
pengamat dan peneliti memberikan catatan tentang hambatan atau kendala yang terjadi pada
saat pelaksanaan pembelajaran model Pembelajaran Langsung dengan strategi giving
question and getting answer.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2003. DasarDasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta:
Bumi Aksara.
_________________. 2006. Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, BS. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Giancoli, Douglas. 2001. Fisika Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Halliday dan Resnick. 1988. Fisika Jilid 2. Bandung: Erlangga.
Ibrahim, M. (2008). Pembelajaran kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.
Ibrahim, M. (2010). Dasar-dasar proses belajar mengajar. Surabaya: Unesa University
Press.
Nur, Muhammad. 2005. Guru yang Berhasil dan Model Pembelajaran Langsung.
Surabaya: Unipres-Unesa.
______________. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan
Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya: Unipres-Unesa.
______________. 2001a. Teori Belajar. Surabaya: Unipres-Unesa.
______________. 2001b. Teori Perkembangan Konstruktivis. Surabaya: Unipres-Unesa.
Pascasarjana. (2012). Pedoman penulisan tesis dan disertasi. Surabaya: Universitas
Negeri Surabaya.
Ratumanan T.G. dan Laurens, T. (2006). Evaluasi hasil belajar yang relevan dengan
kurikulum berbasis kompetensi. Surabaya: PSMS Unesa University Press.
Ratumanan, T.G. dan Laurens, T. (2011). Penilaian hasil belajar yang relevan pada
tingkat satuan pendidikan. Surabaya: PSMS Unesa University Press.
Riduwan. 2003. Skala Pengukuran Variabel Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sanjaya, W. (2012). Perencanaan dan desain sistem pembelajaran. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.

Sofyan, Deni. 2010. Pengaruh Penerapan Scaffolding Dalam Model Pembelajaran


Langsung Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Torjun Pada
Pokok Bahasan Listrik Dinamis. Surabaya: Unesa
Sudjana. 2005. Metode Statistik. Bandung: Tarsito.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Tipler. 2001. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga.
Zaini, Hisyam dkk. 2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta : Insan Madani.