Anda di halaman 1dari 56

Makalah

PEMERIKSAAN DARAH RUTIN

Oleh :
Bima Kusuma Jati
G99151038
Pembimbing :
drg. Shinta Kartikasari

.
KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU GIGI DAN MULUT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Sebagai

seorang

dokter,

perlu

keterampilan

dalam

melakukan

pemeriksaan dan menentukan diagnosa. Pemeriksaan fisik kadang dirasa kurang


mampu menegakkan diagnosa atau menyingkirkan diagnosa banding, untuk itu
diperlukan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan seorang dokter adalah pemeriksaan darah (Brown, 1993).
Darah mempunyai peran penting dalam tubuh manusia. Hasil
pemeriksaan darah secara tidak langsung dapat memantau keadaan dalam
tubuh. Darah merupakan suatu suspensi partikel dalam suatu larutan kolid cair
yang mengandung elektrolit dan merupakan suatu medium pertukaran antar sel
yang terfikasi dalam tubuh dan lingkaran luar (Silvia A. Price & Lorraine M.
Wilson, 2005). Pemeriksaan darah yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan
darah rutin dan darah lengkap.
Pemeriksaan darah rutin/hematologi rutin adalah pemeriksaan rutin dan
yang mencakup sel-sel darah dan bagian-bagian lain dari darah, yang meliputi
pemeriksaan haemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit, leukosit, dan trombosit
(Niki Diagnostic Center, 2011).
Pemeriksaan hematologi lengkap (complete blood count) terdiri dari
pemeriksaan darah rutin ditambah pemeriksaan morfologi sel (ukuran,
kandungan hemoglobin, anisositosis, poikilositosis, polikromasi). Pemeriksaan
hematologi lengkap penting untuk mengetahui morfologi dan fungsi dari
berbagai sel yang ada di dalam darah, contohnya sel darah putih yang
berperan dalam imunitas tubuh dan sel darah merah yang berperan dalam
oksigenasi tubuh (Brown, 1993, Perkins 2003; Adamson, Longo, 2005).
Pada makalah ini akan dijelaskan mengenai pemeriksaan darah rutin
yang sering dilakukan oleh seorang dokter dalam pemeriksaan penunjang untuk
membantu menegakkan diagnosa maupun menyingkirkan diagnosa banding.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Darah adalah suatu suspensi partikel dalam suatu larutan
kolid cair yang mengandung elektrolit dan merupakan suatu
medium pertukaran antar sel yang terfikasi dalam tubuh dan
lingkaran luar (Silvia A. Price & Lorraine M. Wilson : 2005).
Spesimen darah sering digunakan untuk pemriksaan hematologi
rutin. Hematologi rutin adalah pemeriksaan rutin dan lengkap
yang mencakup sel-sel darah dan bagian-bagian lain dari darah,
yang

meliputi

pemeriksaan

haemoglobin,

jumlah

eritrosit,

hematokrit, MCV, MCH, MCHC, RDW, leukosit, hitung jenis dan


trombosit (Niki Diagnostic Center, 2011). Pada pemeriksaan
hematologi rutin (darah lengkap) selalu menggunakan sampel
darah segar.
Darah segar ( fresh whole blood ) merupakan kontrol yang
ideal untuk pemeriksaan darah lengkap karena secara fsik dan
biologi identik dengan material yang akan diperiksa (Van Dun,
2007).
Pemeriksaan
penunjang

yang

laboratorium

diperlukan

merupakan

oleh

dokter

pemeriksaan

untuk

membantu

menegakkan diagnosis. Salah satu pemeriksaan laboratorium


yang

sering

mempunyai

dilakukan
peran

adalah

penting

pemeriksaan

dalam

tubuh

darah.

Darah

manusia.

Hasil

pemeriksaan darah secara tidak langsung dapat memantau


keadaan dalam tubuh. Pemeriksaan darah atau pemeriksaan
hematologi secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu
pemeriksaan

hematologi

rutin

dan

hematologi

lengkap

(Brown,1993).
Pemeriksaan hematologi rutin terdiri dari hemoglobin,

hematokrit, hitung jumlah eritrosit, hitung jumlah leukosit,


hitung jenis leukosit, hitung jumlah trombosit dan nilai-nilai ratarata eritrosit. Pemeriksaan hematologi lengkap (complete blood
count)

terdiri

dari

pemeriksaan

darah

rutin

ditambah

pemeriksaan morfologi sel (ukuran, kandungan hemoglobin,


anisositosis, poikilositosis, polikromasi). Pemeriksaan hematologi
lengkap penting untuk mengetahui morfologi dan fungsi dari
berbagai sel yang ada di dalam darah, contohnya sel darah
putih yang berperan dalam imunitas tubuh dan sel darah merah
yang berperan dalam oksigenasi tubuh (Brown, 1993, Perkins
2003; Adamson, Longo, 2005).
Pemeriksaan darah hematologi lengkap (biasanya dirujuk
sebagai hitung darah lengkap), mencakup indeks sel darah
merah, hitung leukosit dan jenis hitung trombosit, pemeriksaan
apus darah, dan Laju Endap Darah (LED) (Niki Diagnostic center,
2013). Hasil normal lengkap pada pemeriksaan darah lengkap
dan profil biokimia, menunjukkan tampaknya tidak ada penyakit
infeksi atau peradangan. Adanya penyakit keganasan yang
samar-samar, yang menyebabkan gejala sistemik, hampir selalu
menghasilkan perubahan hematologi reaktif.
Seiring dengan kemajuan teknologi, alat-alat yang dipakai
dalam pemeriksaan hematologi

juga semakin berkembang.

Para peneliti mengembangkan alat untuk menganalisa populasi


sel darah secara otomatik. Alat ini dapat digunakan untuk
pemeriksaan hitung eritrosit, hitung leukosit, Hb, Ht, platelet
dan nilai-nilai rata- rata eritrosit. Metode yang banyak dipakai
pada alat-alat untuk pemeriksaan hematologi adalah metode
flow cytometri (Kearns & LaMonica, 2001; Koeswardani dkk.,
2001).
Pemeriksaan hematologi dengan metode flow cytometri

sekarang sudah popular dilakukan.

Metode

flow cytometri

memiliki prosedur yang relatif mudah dan hasilnya dapat


diperoleh dalam waktu yang singkat. Namun, menurut Perkins
metode ini mempunyai tingkat false positive yang cukup tinggi,
yaitu 10-25%.
Pemeriksaan hematologi lain yang cukup sering dilakukan
adalah pembuatan Sediaan Apus Darah Tepi (SADT). SADT
atau

blood

smear

adalah

salah

satu pemeriksaan untuk

mengetahui keadaan populasi sel-sel darah atau kelainan darah


lainnya. Pada SADT dapat diketahui morfologi sel-sel darah yaitu
ukuran, bentuk, kesan jumlah, apakah ada sel-sel muda dan
sebagainya. SADT dapat digunakan sebagai kontrol terhadap
pemeriksaan hematologi lain seperti nilai rata-rata eritrosit, Hb,
dan

lain-lain

(Kearns

&

LaMonica,

2001;

Wyrick-Glatzel,

Hughes, 2001)

B. Pemeriksaan Darah Rutin


1. Hemoglobin
a. Definisi hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah
merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari
paru-paru

keseluruh

jaringan

tubuh

dan

membawa

karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru. Kandungan


zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah
berwarna merah.
Saat ini pengukuran kadar hemoglobin dalam darah
sudah

menggunakan

mesin

otomatis

selain

mengukur

hemoglobin mesin pengukur akan memecah hemoglobin


menjadi sebuah larutan. Hemoglobin dalam larutan ini

kemudian dipisahkan zat lain dengan menggunakan zat


kimia bernama nilai sinar yang berhasil diserap oleh
hemoglobin.
Hemoglobin

adalah

metaloprotein

pengangkut

oksigen yang mengandung besi dalam sel darah merah


mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari
: globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul
organik dengan satu atom besi.
b. Fungsi hemoglobin
Fungsi hemoglobin dalam darah adalah :
1) Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di
dalam jaringan tubuh.
2) Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa
keseluruh jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan
baku.
3) Membawa carbondioksida dari jaringan tubuh sebagai
hasil metabolisme ke paru-paru untuk dibuang.
Satu gram hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen.
Kapasitas angkut ini berhubungan dengan kadar Hb bukan
jumlah sel darah merah.
Penurunan protein Hb normal tipe A1, A2, F (fetal)
dan S berhubungan dengan anemia sel sabit. Hb juga
berfungsi

sebagai

dapar

melalui

perpindahan

klorida

kedalam dan keluar sel darah merah berdasarkan kadar O 2


dalam plasma (untuk tiap klorida yang masuk kedalam sel
darah merah, dikeluarkan satu anion HCO3).
Untuk mengetahui apakah seseorang kekurangan
darah atau tidak dapat diketahui dengan pengukuran kadar
Hb. Penurunan kadar Hb dari normal berarti kekurangan

darah. Kekurangan darah berarti anemia. Selain kekurangan


Hb juga disertai dengan eritrosit yang berkurang serta nilai
hematokrit dibawah normal (Kresno, 1988).
c. Jenis - jenis hemoglobin (Hb)
Pada manusia telah dikenal kurang dari 14 macam Hb
yang

dipelajari

secara

mendalam

dengan

bantuan

elektrokoresis. Hb diberi nama dengan simbol alfabeta


misalnya ; Hb A, Hb C, Hb D, Hb E, Hb F, Hb G, Hb I, Hb M,
Hb S, dan sebagainya (Joice, 2008).
Kadang-kadang Hb diberi nama menurut kota tempat
ditemukan jenis Hb atau orang yang menemukannya,
misalnya ; Hb New York, Hb Sydney, Hb Bart, Hb Gower, dan
lain-lain. Hb A (Adult Dewasa) mulai diproduksi pada usia 5 6 bulan kehidupan intrauterine janin, pada usia 6 bulan
postnatal kosentrasi Hb A 99%. Hb A terdiri dari 2 rantai
dan 2 rantai . Hb F (Foetus janin) mulai ditemukan dalam
darah pada minggu ke dua puluh usia kehamilan. Pada bayi
Hb F dan sebelum usia 2 tahun jumlah tinggal sedikit,
diganti oleh Hb A. Karena sifatnya yang resisten terhadap
alkali, Hb F ini mudah dipisahkan dari Hb A. Hb F terdiri dari
2 rantai dan 2 rantai T.
d. Sintesis hemoglobin
Fungsi utama sel darah merah adalah mengangkut
O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke
paru-paru. Untuk mencapai pertukaran gas ini, sel darah
merah mengandung protein khusus, yaitu hemoglobin dan
setiap hemoglobin dewasa normal (Hb A) terdiri atas empat
rantai polipeptida 2 2, masing-masing dengan gugus

haemnya sendiri. Berat molekul Hb A adalah 68.000 darah


dewasa normal juga berisi jumlah kecil dua hemoglobin lain,
Hb F dan Hb A2 yang juga mengandung rantai y dan rantai s
masing-masing sebagai pengganti . 65% hemoglobin
disintesis dalam eritroblas dan tiga puluh lima persen
hemoglobin disintesis pada stadium retikulosit.
Sintesis haem, terjadi banyak dalam mitokondria oleh
sederet reaksi biokimia yang dimulai dengan kondensasi
glisin dan suksinil. Koenzim A dibawah aksi enzim kunci
data-amino laevulinic acid (Ala) sintase yang membatasi
kecepatan. Pridoksal fosfat (Vitamin B) adalah koenzim
untuk reaksi ini yang diransang oleh eritro protein dan
dihambat oleh hacm. Akhirnya protoporfrin bergabung
dengan besi untuk membentuk hacm yang masing-masing
molekulnya bergabung dengan rantai globin yang terbuat
pada poliribosom. Kemudian tetramer empat rantai globin
dengan masing-masing gugus hacmnya sendiri terbentuk
dalam kantong untuk membangun molekul hemoglobin.
(Hoffbrand, 2005)
e. Struktur hemoglobin
Pada pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang
dikenal dengan porifn yang menahan satu atom besi. Atom
besi ini merupakan situs/lokal ikatan oksigen. Hb tersusun
dari globin (empat rantai protein yang terdiri dari dua unit
alfa dan dua unit beta) dan heme (mengandung atom besi
dan

porphyrin:

suatu

pigmen

merah).

Pigmen

besi

hemoglobin bergabung dengan oksigen. Hemoglobin yang


mengangkut oksigen darah (dalam arteri) berwarna merah
terang sedangkan hemoglobin yang kehilangan oksigen

(dalam

vena)

mengandung

berwarna
besi

disebut

merah
heme.

tua.

Porifn

Nama

yang

hemoglobin

merupakan gabungan dari heme dan globin. Globin sebagai


istilah generik untuk protein globural. Ada beberapa protein
mengandung heme, dan hemoglobin adalah yang paling
dikenal dan paling banyak dipelajari.
Setiap molekul hemoglobin memiliki 4 gugus hem
identik yang melekat pada 4 rantai globin. Keempat rantai
globin itu merupakan rantai polipeptida yang terdiri atas dua
buah rantai alfa () dan dua buah rantai beta (). Selain itu,
hemoglobin uga memiliki 4 molekul nitrogen protoporphyrin
IX, dan 4 atom besi dalam bentuk ferro (Fe 2+) yang
berpasangan dengan protoporphyrin IX untuk membentuk 4
molekul hem.
Hem disintesis di mitokondria eritrosit. Hem terdiri
dari 4 struktur 4-karbon berbentuk cincin simetris yang
disebut cincin pirol, yang membentuk satu molekul porfrin.
Gugus karbon tersebut berasal dari asam amino glisin dan
suknisil koenzim A. perbentuka hem teradi secara bertahap,
dimulai dari pembentukan kerangka porfrin, disusul dengan
insersi atau pelekatan besi (Fe) ke masing-masing gugus
hem. Ugus hem selanutnya akan melekat ke gugus globin,
penggabungan ini teradi di sitoplasma eritrosit.
Pembentuka hemoglobin memerlukan bahan-bahan
penting, yaitu besi (Fe), vitamin B12 (siano-kobalamin), dan
asam folat (asa pteroilglutamat).
Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa tetramer
(mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masingmasing dua sub unit mirip secara struktural dan berukuran
hampir sama. Tiap sub unit memiliki berat molekul 16,000

Dalton, sehingga berat molekul total tetramernya menjadi


sekitar

64,000

Dalton.

Tiap

sub

unit

hemoglobin

mengandung satu heme, sehingga secara keseluruhan


hemoglobin memilki kapasitas empat molekul oksigen.
(Hariono, 2006 )

Gambar 2.1, Struktur Hemoglobin


(Sumber : Hoffbrand, 1995)
f. Pemeriksaan Hemoglobin
Penetapan kadar hemoglobin ditentukan dengan
bermacam-macam

cara

dan

yang

banyak

dipakai

di

laboratorium klinik ialah cara fotoelektrit dan kolorimetrik


visual.
1) Cara sahli
Prinsip hemoglobin diubah mejadi asam hematin,
kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual
dengan standar dalam alat itu. Cara Sahli banyak dipakai
di Indonesia, walau cara ini tidak tepat 100%, mengalami
kurang

darah

pemeriksaan

atau
ini

darahnya

factor

masih

kesalahan

normal,
kira-kira

pada
10%,

kelemahan cara ini berdasarkan kenyataan bahwa asam


hematin itu bukanlah merupakan larutan sejati dan juga
alat hemoglobimeter itu sukar distandarkan, selain itu

10

tidak semua macam hemoglobin dapat diubah hematin


misalnya

karboxyhemoglobin,

methemoglobin,

sulfahemoglobin.
2) Cara cyanmethemoglobin
Prinsipnya

adalah

hemoglobin

diubah

menjadi

cyanmethemoglobin dalam larutan drabkin yang berisi


kalium sianida dan kalium ferisianida. Absorbensi larutan
diukur pada panjang gelombang 540 nm. Larutan drabkin
yang

dipakai

untuk

mengubah

hemoglobin,

oxyhemoglobin, methemoglobin, dan karboxymoglobin


menjadi

cyanmethemoglobin,

sedang

sulfhemoglobin

tidak berubah karena tidak diukur. Cara ini sangat bagus


untuk laboratorium rutin dan sangat dianjurkan untuk
penetapan kadar hemoglobin dengan teliti karena standar
cyanmethemoglobin yang ditanggungkan kadarnya stabil
dan dapat dibeli. Larutan drabkin teridri atas natrium
bikarbonat

gram,

kalium

sianida

50

mg,

kalium

ferisianida 200 mg, aqudest 100 ml. (Gandasoebrata,


2001)

3) Cara tallquist
Prinsipnya

adalah

membandingkan

darah

asli

dengan suatu skala warna yang bertingkat-tingkat mulai


dari warna merah muda sampai warna merah tua.
Cara ini hanya mendapatkan kesan dari kadar
hemoglobin saja, sebagai dasar diambil darah = 100% =
15,8

gr

hemoglobin

per

100

ml

darah.

Tallquist

mempergunakan skala warna dalam satu buku mulai dari

11

merah muda 10% di tengah-tengah ada lowong dimana


darah

dibandingkan

dapat

dilihat

menjadi

darah

dibandingkan secara langsung sehingga kesalahan dalam


melakukan pemeriksaan antara 25-50%.
4) Cara sulfat
Cara ini dipakai untuk menetapkan kadar
hemoglobin dari donor yang diperlukan untuk transfuse
darah. Hasil dari metode ini adalah persen dari
hemoglobin. Perlu diketahui bahwa kadar hemoglobin
cukup kira-kira 80% hemoglobin. Kadar minuman ini
ditentukan dengan setetes darah yang tenggelam dalam
larutan kufrisulfat dengan berat jenis. (Bakri S, 1989)
g. Kesalahan dalam pemeriksaan Hb
1) Hemolisis darah.
2) Obat dapat meningkatkan dan menurunkan kadar
hemoglobin.
3) Mengambil darah dari lengan yang terpasang cairan invus
dapat mengencerkan sampel darah.
4) Membiarkan turniket terpasang terlebih dahulu lebih dari
satu menit akan menyebakan hemokosentrasi.
5) Tinggal di daratan tinggi dapat menyebakan peningkatan
kadar hemoglobin.
6) Penurunan asupan cairan atau kehilangan cairan akan
meningkatkan kadar Hb dan kelebihan asupan cairan akan
mengurangi kadar Hb. (Kee, 2007)
h. Nilai Rujukan Hb
Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L
Wanita : 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 9,9 mmol/L

12

Penetapan anemia didasarkan pada nilai hemoglobin


yang berbeda secara individual karena berbagai adaptasi
tubuh (misalnya ketinggian, penyakit paru-paru, olahraga).
Secara umum, jumlah hemoglobin kurang dari 12 gm/dL
menunjukkan anemia. Pada penentuan status anemia,
jumlah total hemoglobin lebih penting daripada jumlah
eritrosit.
i. Implikasi Klinik
1) Penurunan nilai Hb dapat terjadi pada anemia (terutama
anemia

karena

kekurangan

zat

besi),

sirosis,

hipertiroidisme, perdarahan, peningkatan asupan cairan


dan kehamilan.
2) Peningkatan nilai Hb dapat terjadi pada hemokonsentrasi
(polisitemia, luka bakar), penyakit paru-paru kronik, gagal
jantung kongestif dan pada orang yang hidup di daerah
dataran tinggi.
3) Konsentrasi Hb ber uktuasi pada pasien yang mengalami
perdarahan dan luka bakar.
4) Konsentrasi Hb dapat digunakan untuk menilai tingkat
keparahan anemia, respons terhadap terapi anemia, atau
perkembangan

penyakit

yang

berhubungan

dengan

anemia.
j. Faktor pengganggu
1) Orang

yang

tinggal

di

dataran

tinggi

mengalami

peningkatan nilai Hb demikian juga Hct dan sel darah


merah.
2) Asupan cairan yang berlebihan menyebabkan penurunan
Hb

13

3) Umumnya nilai Hb pada bayi lebih tinggi (sebelum


eritropoesis mulai aktif)
4) Nilai Hb umumnya menurun pada kehamilan sebagai
akibat peningkatan volume plasma
5) Ada banyak obat yang dapat menyebabkan penurunan
Hb.

Obat

yang

dapat

meningkatkan

Hb

termasuk

gentamisin dan metildopa


6) Olahraga ekstrim menyebabkan peningkatan Hb
k. Hal yang harus diwaspadai
1) Implikasi klinik akibat kombinasi dari penurunan Hb, Hct
dan sel darah merah. Kondisi gangguan produksi eritrosit
dapat menyebabkan penurunan nilai ketiganya.
2) Nilai Hb <5,0g/dL adalah kondisi yang dapat memicu
gagal jantungdan kematian. Nilai >20g/dL memicu kapiler
clogging sebagai akibat hemokonsenstrasi
l. Tatalaksana
Manajemen

anemia

bertujuan

untuk

mengatasi

penyebab rendahnya nilai hemoglobin. Dalam situasi terjadi


penurunan darah yang akut, transfusi merupakan terapi
pilihan. Dalam situasi terjadi kekurangan atau penurunan
nutrisi maka diperlukan penggantian besi, vitamin B12 atau
asam folat. Pada penurunan fungsi ginjal dan penggunaan
sitostatika, anemia biasanya terjadi karena menurunnya
produksi eritropoetin sehingga terapi yang tepat adalah
pemberian eritropoetin, namun apabila ada kendala biaya
yang mahal, dapat diganti dengan tranfusi darah. Jika
anemia terjadi akibat menurunnya produksi eritropoetin

14

maka terapi penggantian eritropoetin dapat mengurangi


kebutuhan tranfusi.
2. Hematokrit
a. Definisi
Hematokrit berasal dari kata haimat yang artinya
darah dan krinein yang berarti pemisahan (Dep Kes RI, 1989).
Hematokrit adalah nilai yang menunjukan persentase zat
padat dalam darah terhadap cairan darah. Hematokrit
menunjukan persentase sel darah merah tehadap volume
darah total.
Dengan demikian, bila terjadi perembesan cairan
darah keluar dan pembuluh darah, sementara bagian
padatnya tetap dalam pembuluh darah, akan membuat
persentase

zat

padat

darah

terhadap

cairannya

naik

sehingga kadar hematokritnya juga meningkat (Hardjoeno,


H. 2007).
b. Manfaat pemeriksaan hematokrit
Mafaat pemeriksaan hematokrit untuk mengukur
derajat anemi dan polisetemia. Untuk mengetahui adanya
ikterus yang dapat diamati dari warna plasma. Di mana
plasma terbentuk warna kuning atau kuning tua (R. Ganda S,
1989).
Pemeriksaan hematokrit juga dapat digunakan untuk
menentukan rata-rata volume eritrosit, merupakan tes
screening dalam mendeteksi adanya hiperbilirubinemia.
(Maxwell M. Wintrobe, 1974).
Warna plasma yang diperoleh dari pemusingan yang
berwarna kuning atau kuning tua baik dalam keadaan

15

fisiologi atau patologi merupakan indikasi naiknya bilirubin


dalam darah, misalnya pada infeksi hepatitis.

Naiknya

kolesterol juga dapat diketahui dari warna plasma yang


berwarna seperti susu, misalnya pada penderita Diabetes
Militus. Plasma yang berwarna merah merupakan indikasi
adanya hemolisis dari eritrosit seperti penggunaan spuit
yang

belum

kering,

pada

pengambilan

darah

atau

hemolisis intravascular. Serta untuk mengetahui volume


rata-rata eritrosit dan konsentrasi hemoglobin rata-rata di
dalam eritrosit. (Dep Kes RI, 1989).
c. Metode Pemeriksaan Hematokrit
Proses

pemisahan

darah

melalui

uji

hematokrit

dilakukan dengan cara mengambil beberapa mili volume


darah

baik

darah

memasukannya

vena

kedalam

ataupun
suatu

darah

tabung

kapiler,

lalu

khusus,

dan

memutarnya didalam alat centrifuge dalam waktu dan


kecepatan tertentu.
Untuk pemeriksaan hematokrit darah tidak boleh
dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi antikoagulan.
Setelah tabung tersebut diputar dengan kecepatan dan
waktu tertentu, maka eritrosit akan mengendap (Sadikin, M.
2002). Tabung khusus yang di gunakan untuk proses
hematokrit disebut tabung Wintrobe. Tabung ini mempunyai
skala khusus pula yang di sebut dengan skala hematokrit.
Karena menggunakan tabung wintrobe, maka hematokrit
dengan

cara

ini

sering

di

sebut

dengan

istilah

hematokrit metode wintrobe atau metode mikro.


1) Pemeriksaan Hematokrit Secara Manual

16

Metode pengukuran hematokrit secara manual dikenal


ada 2, yaitu :
a) Metode makrohematokrit
Pada metode makro, sebanyak 1 ml sampel
darah (darah EDTA atau heparin) dimasukkan dalam
tabung Wintrobe yang berukuran panjang 110 mm
dengan diameter 2.5-3.0 mm dan berskala 0-10 mm.
Tabung kemudian disentrifus selama 30 menit dengan
kecepatan 3.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit adalah nilai
hematokrit yang dinyatakan dalam %.
Prinsip :
Sampel darah yang di sentrifusdalam waktu
tertentu kemudian dibaca volume dari masa erirosit yan
telah dipadatkan didasar tabung dan dinyatakan dalam
sekian % dari volume semula (volume %)
b) Metode mikrohematokrit
Pada metode mikro, sampel darah (darah
kapiler,

darah

EDTA,

darah

heparin

atau

darah

amonium-kalium-oksalat) dimasukkan dalam tabung


kapiler yang mempunyai ukuran panjang 75 mm
dengan diameter 1 mm. Tabung kapiler yang digunakan
ada 2 macam, yaitu yang berisi heparin (bertanda
merah) untuk sampel darah kapiler (langsung), dan
yang tanpa antikoagulan (bertanda biru) untuk darah
EDTA/heparin/amonium-kalium-oksalat.
Prosedur pemeriksaannya adalah : sampel darah
dimasukkan ke dalam tabung kapiler sampai 2/3
volume tabung. Salah satu ujung tabung ditutup
dengan dempul (clay) lalu disentrifus selama 5 menit
dengan kecepatan 15.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit

17

diukur

dengan

alat

pembaca

hematokrit,

nilainya

dinyatakan dalam vol %.


Prinsip : Sejumlah darah dimasukkan kedalam tabung
kapiler lalu dilkukan sentrifugasi untuk mendapatkan
nilai hematokrit yang diukur menggunakan Ht Reader.
Prinsip pengukuran
(metode

mikro)

hematokrit

adalah

darah

cara manual
vena

dengan

menggunakan antikoagulan, kemudian dimasukkan ke


dalam tabung kapiler yang salah satu ujungnya ditutup
dengan

bahan

dengan

khusus

kecepatan

(malam)

tertentu

dan

dipusingkan

sehingga

terjadi

pemadatan sel-sel darah merah. Tingginya sel darah


merah diukur dengan menggunakan skala hematokrit
yang

dinyatakan

dalam

persen

terhadap

seluruh

darah. (Dep Kes RI, 1989).


Alat

yang

dipakai

untuk

pemeriksaan

hematokrit sendiri adalah tabung mikrokapiler, tabung


tersebut dibuat khusus untuk mikro hematokrit dengan
panjangnya

75 mm

dan

diameter

dalamnya

1,2

sampai 1,5 mm. Ada pula tabung yang sudah dilapisi


heparin, tabung tersebut dapat dipakai untuk darah
kapiler dan terdapat juga tabung kapiler tanpa heparin
yang dipergunakan untuk darah oxalat atau darah
EDTA dari vena. (Gandasoebrata, 2007).
Cara mikro ini cepat dan mudah tetapi daya
sentrifugal harus dikontrol dan posisi tabung saat
membaca dengan skala harus tepat.
Metode

tersebut

memungkinkan

untuk

memperkirakan volume lekosit dan trombosit yang


menyusun buffy coat diantara eritrosit dan plasma,

18

plasma harus pula diamati terhadap adannya ikterus


atau hemolisis. (Frances K. Widmann, 1989).
Keuntungan

pengukuran

hematokrit

dengan

metoda mikro antara lain volume sampel darah yang


digunakan

sedikit,

mendapatkan

waktu

endapan

sel

pemusingan
darah

merah

untuk
singkat

sehingga sesuai untuk kepentingan rutin, serta dapat


digunakan sampel darah kapiler yang lebih mudah.
2) Pemeriksaan Hematokrit Secara Automatik
Pemeriksaan

hematokrit

secara

automatik

menggunakan alat analisis sel darah automatik. BC-2600


Auto Hematology Analyzer merupakan suatu penganalisis
hematologi

multi

parameter

untuk

pemeriksaan

kuantitatif maksimum 19 parameter dan 3 histogram


yang meliputi WBC (White Blood Cell), Lymphocyte, Mid
sized cell, Granulocyte, Limphocyte persentage, Mid-sized
cell persentage, granulocyte persentage, RBC (Red Blood
Cell),

HGB

(Hemoglobin),

MCV

(Mean

Cospuscular

Volume), MCH (Mean Cospuscular Hemoglobin), MCHC


(Mean Cospuscular Hemoglobin Concentration), RDW-CV
(Red

Blood

Cell

Distribution

Width

Coeffcient

of

Variation), RDW-SD (Red Blood Cell Distribution Width


Standard Deviation), HCT (Hematocrit), PLT (Platelet),
MPV (Mean Platelet Volume), PDW (Platelet Distribution
Width), PCT (Plateletcrit), WBC Histogram (White Blood
Cell

Histogram),

RBC

Histogram

(Red

Blood

Cell

Histogram), PLT Histogram (Platelet Histogram).


Pengukuran RBC (Red Blood Cell) dihitung dan
diukur

dengan

metode

impedansi,

metode

ini

berdasarkan pada pengukuran perubahan daya tahan

19

elektris yang di produksi sebuah partikel, dalam hal ini


partikelnya

adalah

sel

darah.

Setiap

partikel

yang

melewati celah akan mengalami perubahan pada daya


tahannya diantara elektroda-elekrtoda yang di produksi.
Perubahan

yang

dihasilkan

dapat

diukur

getaran

elektrisnya. Setiap getaran diperkuat dan di bandingkan


dengan saluran voltasi yang diterima oleh getaran
dengan

amplitude

tertentu.

Jika

getaran

yang

di

bandingkan melebihi range terendah RBC, maka dihitung


sebagai RBC.
Analyzer dalam penghitungan RBC menggunakan
unit penghitungan volumetrik yang terdiri dari tabung
pengukuran dengan 2 sensor optik yang terpasang diatas
tabung

yaitu

sensor

atas

dan

sensor

bawah

penghitungan dimulai saat cairan melewati miniskus


sensor yang tinggi dan berhenti ketika mencapai sensor
yang rendah, waktu yang dibutuhkan untuk melewati
sensor tinggi ke sensor rendah disebut jumlah waktu RBC.
Ini diukur dalam detik, jumlah waktu yang terukur
dibandingkan dengan referensi jumlah waktu. Jika hasil
waktunya kurang dari atau lebih dari 2 detik maka
analyzer akan melaporkan RBC bergelembung atau error.
Reagen
hematokrit

yang

cara

diperlukan

automatik

dalam

dengan

pemeriksaan
menggunakan

analyzer BC-2600 antara lain diluent sebagai larutan


pengencer dan sebagai medium penghantar.
BC-2600 adalah suatu penganalisis spesimen yang
berisi

perangkat

keras

untuk

menganalisis

setiap

spesimen darah secara keseluruhan serta bagian data


yang meliputi komputer, monitor, keyboard, printer.

20

Keuntungan

pemeriksaan

hematokrit

secara

automatik antara lain : waktu pemeriksaan yang singkat,


penggunaan

sampel

yang

sedikit,

data

hasil

pemeriksaan segera diperoleh tetapi harga alat yang


mahal.

Hasilpemeriksaan

bisa

menunjukkan

19

parameter pemeriksaan sekaligus, dalam 1 jam dapat


melakukan 30 kali pemeriksaan.
d. Nilai Rujukan
Nilai normal: Pria : 40% - 50 % SI unit : 0,4 - 0,5
Wanita : 35% - 45%

SI unit : 0.35 - 0,45

(Kemenkes, 2011)
e. Implikasi Klinik:
1) Penurunan nilai Hct merupakan indikator anemia (karena
berbagai

sebab),

reaksi

hemolitik,

leukemia,

sirosis,

kehilangan banyak darah dan hipertiroid. Penurunan Hct


sebesar 30% menunjukkan pasien mengalami anemia
sedang hingga parah.
2) Peningkatan nilai Hct dapat terjadi pada eritrositosis,
dehidrasi, kerusakan paru-paru kronik, polisitemia dan
syok.
3) Nilai Hct biasanya sebanding dengan jumlah sel darah
merah pada ukuran eritrosit normal, kecuali pada kasus
anemia makrositik atau mikrositik.
4) Pada pasien anemia karena kekurangan besi (ukuran sel
darah merah lebih kecil), nilai Hct akan terukur lebih
rendah karena sel mikrositik terkumpul pada volume yang
lebih kecil, walaupun jumlah sel darah merah terlihat
normal.

21

5) Nilai normal Hct adalah sekitar 3 kali nilai hemoglobin.


6) Satu unit darah akan meningkatkan Hct 2% - 4%.
f. Faktor Pengganggu
1) Individu yang tinggal pada dataran tinggi memiliki nilai
Hct

yang

tinggi

demikian

juga

Hb

dan

sel

darah

merahnya.
2) Normalnya, Hct akan sedikit menurun pada hidremia f
siologis pada Kehamilan
3) Nilai Hct normal bervariasi sesuai umur dan jender. Nilai
normal untuk bayi lebih tinggi karena bayi baru lahir
memiliki banyak sel makrositik.
4) Nilai Hct pada wanita biasanya sedikit lebih rendah
dibandingkan laki-laki.
5) Juga terdapat kecenderungan nilai Hct yang lebih rendah
pada kelompok umur lebih dari 60 tahun, terkait dengan
nilai sel darah merah yang lebih rendah pada kelompok
umur ini.
6) Dehidrasi parah karena berbagai sebab meningkatkan
nilai Hct.
g. Hal yang harus diwaspadai
Nilai Hct <20% dapat menyebabkan gagal jantung
dan kematian; Hct >60% terkait dengan pembekuan darah
spontan.
3. Eritrosit
a. Definisi
Sel darah merah atau eritrosit merupakan sel yang
paling sederhana yang ada di dalam tubuh. Eritrosit tidak

22

memiliki nukleus dan

merupakan sel terbanyak dalam

darah (Komariah, 2009).


b. Struktur Eritrosit
Sel darah merah normal, berbentuk lempeng bikonkaf dengan
diameter kira- kira 7,8 mikrometer dan dengan ketebalan pada bagian yang
paling tebal 2,5 mikrometer dan pada bagian tengah 1 mikrometer atau
kurang. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90 sampai 95
mikrometer kubik. Eritrosit yang berbentuk cakram bikonkaf
mempunyai area permukaan yang luas sehingga jumlah
oksigen yang terikat dengan Hb dapat lebih banyak. Bentuk
bikonkaf juga memungkinkan sel berubah bentuk agar lebih
mudah melewati kapiler yang kecil.
Sel darah merah merupakan suatu kantung yang dapat diubah
menjadi berbagai bentuk. Selanjutnya, karena sel normal mempunyai
membran yang sangat kuat untuk menampung banyak bahan material di
dalamnya, maka perubahan bentuk tadi tidak akan meregangkan membran
secara hebat, dan sebagai akibatnya, tidak akan memecahkan sel, seperti
yang akan terjadi pada sel lainnya (Komariah, 2009).
c. Fungsi Eritrosit
Fungsi utama eritrosit adalah untuk mengangkut
oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh dan mengangkut
CO2 dari jaringan tubuh ke paru-paru oleh Hb. Oleh karena
itu eritrosit sangat diperlukan dalam proses oksigenasi
organ tubuh.
Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga
mempunyai fungsi lain. Contohnya, ia mengandung banyak sekali karbonik
anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida dan air,
sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali
lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah bereaksi dengan banyak

23

sekali karbon dioksida, dan dengan demikian mengangkutnya dari jaringan


menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-).

d. Metabolisme Eritrosit
Jika kadar oksigen menurun hormon eritropoetin akan
menstimulasi produksi eritrosit. Eritrosit, dengan umur 120
hari, adalah sel utama yang dilepaskan dalam sirkulasi. Bila
kebutuhan eritrosit tinggi, sel yang belum dewasa akan
dilepaskan kedalam sirkulasi. Pada akhir masa hidupnya,
eritrosit

yang

lebih

tua

keluar

dari

sirkulasi

melalui

fagositosis di limfa, hati dan sumsum tulang (sistem retikuloendotelial).


Proses eritropoiesis pada sumsum tulang melalui
beberapa tahap, yaitu: 1.Hemocytoblast (prekursor dari
seluruh sel darah); 2. Prorubrisit (sintesis Hb); 3.Rubrisit (inti
menyusut,

sintesa

Hb

meningkat);

4.

Metarubrisit

(disintegrasi inti, sintesa Hb meningkat; 5. Retikulosit (inti


diabsorbsi); 6. Eritrosit (sel dewasa tanpa inti).
e. Pemeriksaan Eritrosit
Dengan mengetahui keadaan eritrosit, secara tidak
langsung dapat diketahui juga keadaan

organ

tubuh

seseorang (Brown, 1993; Hoffbrand, Petit; 1996; Gaspard,


1998; Uthman, 2000; Perkins, 2003).
Beberapa pemeriksaan yang dapat menggambarkan
parameter penting dari fungsi dan struktur eritrosit di dalam
tubuh

antara

lain

hitung

eritrosit,

hemoglobin

dan

hematokrit. Hitung eritrosit atau red blood cell count (RBC)


adalah menghitung jumlah total eritrosit dalam darah..
Hemoglobin (Hb) adalah protein dalam eritrosit yang
24

bertugas mengangkut oksigen. Hematokrit (Ht) adalah


jumlah eritrosit dalam 100 ml darah (Perkins, 2003). Ketiga
parameter di atas biasa digunakan untuk menegakkan
adanya anemia (Glader, 2003).
Anemia
penurunan

secara

massa

fungsional

eritrosit

didefinisikan

dengan

akibat

sebagai

oksigenasi

jaringan tidak dapat terpenuhi (Evatt et al, 1992; Gaspard,


1998; Glader, 2003; Perkins, 2003; Syafrizal Syafei, 2004).
Secara praktis ada 3 parameter untuk menegakkan adanya
anemia yaitu: kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah
eritrosit. Dari perhitungan ketiga parameter tersebut dapat
diperoleh nilai rata-rata eritrosit. Nilai rata-rata eritrosit
terdiri

dari

Mean

Corpuscular

Corpuscular Hemoglobin

Volume

(MCV),

Mean

(MCH) dan Mean Corpuscular

Hemoglobin Concentration (MCHC) (Evatt et al, 1992;


Desai, Isa-Pratt, 2000; Davey & Elghetany, 2001; Glader,
2003; Perkins, 2003; Rachmawati dkk., 2003).
f. Nilai Rujukan
Nilai normal: Pria: 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3 SI unit: 4,4 - 5,6 x
1012 sel/L Wanita: 3,8-5,0 x 106 sel/mm3 SI unit:
3,5 - 5,0 x 1012 sel/L
g. Implikasi klinik :
1) Secara

umum

nilai

Hb

dan

Hct

digunakan

untuk

memantau derajat anemia, serta respon terhadap terapi


anemia
2) Jumlah sel darah merah menurun pada pasien anemia
leukemia, penurunan fungsi ginjal, talasemin, hemolisis
dan lupus eritematosus sistemik. Dapat juga terjadi

25

karena obat (drug induced anemia). Misalnya: sitostatika,


antiretroviral.
3) Sel darah merah meningkat pada polisitemia

vera,

polisitemia sekunder, diare/dehidrasi, olahraga berat, luka


bakar, orang yang tinggal di dataran tinggi.
4. Leukosit
a. Definisi
Sel darah putih, leukosit (bahasa Inggris: white blood
cell,

WBC,

leukocyte)

adalah

sel

yang

membentuk

komponen darah. Sel darah putih ini berfungsi untuk


membantu

tubuh

melawan

berbagai

penyakit

infeksi

sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel darah putih


tidak

berwarna,

memiliki

inti,

dapat

bergerak

secara

amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler/diapedesis.


Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109
sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang
sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes. Pada setiap
milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata
8000) sel darah putih. Pada kasus leukemia, jumlahnya
dapat meningkat hingga 50000 sel per tetes.
b. Fungsi Leukosit
Fungsi

utama

leukosit

adalah

melawan

infeksi,

melindungi tubuh dengan memfagosit organisme asing dan


memproduksi atau mengangkut/mendistribusikan antibodi.
c. Metabolisme Leukosit
Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan
organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti
organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan
26

berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau


mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau
bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk
dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang.
Bentuk dan sifat leukosit berlainan dengan sifat eritrosit apabila
kita lihat di bawah mikroskop maka akan terlihat bentuknya yang dapat
berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu
(pseudopodia), mempunyai bermacam- macam inti sel sehingga ia dapat
dibedakan menurut inti selnya, warnanya bening (tidak berwarna).
Leukosit terbentuk di sumsum tulang (myelogenous),
disimpan dalam jaringan limfatikus (limfa, timus, dan tonsil)
dan diangkut oleh darah ke organ dan jaringan. Umur
leukosit adalah 13-20 hari. Vitamin, asam folat dan asam
amino dibutuhkan dalam pembentukan leukosit. Sistem
endokrin mengatur produksi, penyimpanan dan pelepasan
leukosit. Lekosit berasal dari sel bakal (stem cell) dan kemudian
mengalami diferensiasi (mengalami pematangan). Lekosit di angkut oleh
darah ke berbagai jaringan tubuh tempat sel-sel tersebut melakukan fungsi
fisiologiknya.
Perkembangan granulosit dimulai dengan myeloblast
(sel yang belum dewasa di sumsum tulang), kemudian
berkembang menjadi promyelosit, myelosit (ditemukan di
sumsum tulang), metamyelosit dan bands (neutrof l pada
tahap

awal

kedewasaan),

dan

akhirnya,

neutrof

l.

Perkembangan limfosit dimulai dengan limfoblast (belum


dewasa) kemudian berkembang menjadi prolimfoblast dan
akhirnya menjadi limfosit (sel dewasa). Perkembangan
monosit

dimulai

dengan

monoblast

(belum

dewasa)

kemudian tumbuh menjadi promonosit dan selanjutnya


menjadi monosit (sel dewasa).

27

d. Macam-macam Leukosit
Ada dua tipe utama sel darah putih: Granulosit: neutrofl,
eosinofl dan basofl; Agranulosit: limfosit dan monosit
1) Limfosit
Limfosit merupakan sel utama pada sistem getah bening yang
berbentuk sferis, berukuran yang relatif lebih kecil daripada makrofag
dan neutrofil. Selain itu, limfosit bergaris tengah 6-8 m, 20-30% dari
leukosit darah, memiliki inti yang relatif besar, bulat sedikit cekung pada
satu sisi. Sitoplasmanya

sedikit dan

kandungan basofilik dan

azurofiliknya sedikit. Limfosit-limfosit dapat digolongkan berdasarkan


asal, struktur halus, surface markers yang berkaitan dengan sifat
imunologisnya, siklus hidup dan fungsi.
Limfosit dibagi ke dalam 2 kelompok utama yakni Limfosit B
dan Limfosit T. Limfosit B berasal dari sel stem di dalam sumsum tulang
dan tumbuh menjadi sel plasma, yang menghasilkan antibody sedangkan
Limfosit T terbentuk jika sel stem dari sumsum tulang pindah ke kelenjar
thymus, dimana mereka mengalami pembelahan dan pematangan.
Di dalam kelenjar thymus, limfosit T belajar membedakan mana
benda asing dan mana bukan benda asing. Limfosit T dewasa
meninggalkan kelenjar thymus dan masuk ke dalam pembuluh getah
bening dan berfungsi sebagai bagian dari sistem pengawasan kekebalan.

2) Monosit
Monosit merupakan sel leukosit yang besar 3-8% dari jumlah
leukosit normal, diameter 9-10 um tapi pada sediaan darah kering
diameter mencapai 20 m atau lebih. Inti biasanya eksentris, adanya
lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda. Sitoplasma relatif banyak
dengan pulasan wrigh berupa bim abu-abu pada sajian kering. Granula
azurofil, merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil.

28

Ditemui retikulim endoplasma sedikit. Juga ribosom, pliribosom sedikit,


banyak mitokondria. Aparatus Golgi berkembang dengan baik,
ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah identasi inti.
Monosit terdapat dalam darah, jaringan ikat dan rongga tubuh. Monosit
tergolong

fagositik

mononuclear

(system

retikuloendotel)

dan

mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya. Untuk


imunoglobulin dan komplemen.
3) Eosinofil
Eosinofil (eosinophil, acidophil) adalah sel darah putih dari
kategori granulosit yang berperan dalam sistem kekebalan dengan
melawan parasit multiselular dan beberap infeksi pada makhluk
vertebrata. Bersama-sama dengan sel biang, eosinofil juga ikut
mengendalikan mekanisme alergi.
Eosinofil terbentuk pada proses haematopoiesis yang terjadi
pada sumsum tulang sebelum bermigrasi ke dalam sirkulasi darah.
Eosinofil mengandung sejumlah zat kimiawi antara lain
histamin, eosinofil peroksidase, ribonuklease, deoksiribonuklease, lipase,
[plasminogen] dan beberapa asam amino yang dirilis melalui proses
degranulasi setelah eosinofil teraktivasi. Zat-zat ini bersifat toksin
terhadap parasit dan jaringan tubuh. Eosinofil merupakan sel substrat
peradangan dalam reaksi alergi. Aktivasi dan pelepasan racun oleh
eosinofil diatur dengan ketat untuk mencegah penghancuran jaringan
yang tidak diperlukan.
Individu normal mempunyai rasio eosinofil sekitar 1 hingga 6%
terhadap sel darah putih dengan ukuran sekitar 12 17 mikrometer.
Eosinofil dapat ditemukan pada medulla oblongata dan
sambungan antara korteks otak besar dan timus, dan di dalam saluran
pencernaan, ovarium, uterus, limpa dan lymph nodes. Tetapi tidak
dijumpai di paru, kulit, esofagus dan organ dalam lainnya, pada kondisi
normal, keberadaan eosinofil pada area ini sering merupakan pertanda

29

adanya suatu penyakit. Eosinofil dapat bertahan dalam sirkulasi darah


selama 8-12 jam, dan bertahan lebih lama sekitar 8-12 hari di dalam
jaringan apabila tidak terdapat stimulasi
4) Neutrofil
Neutrofil

(neutrophil,

polymorphonuclear

neutrophilic

leukocyte, PMN) adalah bagian sel darah putih dari kelompok granulosit.
Bersama dengan dua sel granulosit lain: eosinofil dan basofil yang
mempunyai granula pada sitoplasma, disebut juga polymorphonuclear
karena bentuk inti sel mereka yang aneh. Granula neutrofil berwarna
merah kebiruan dengan 3 inti sel.
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap
infeksi bakteri dan proses peradangan kecil lainnya, serta menjadi sel
yang pertama hadir ketika terjadi infeksi di suatu tempat. Dengan sifat
fagositik yang mirip dengan makrofaga, neutrofil menyerang patogen
dengan serangan respiratori menggunakan berbagai macam substansi
beracun yang mengandung bahan pengoksidasi kuat, termasuk hidrogen
peroksida, oksigen radikal bebas, dan hipoklorit.
Rasio sel darah putih dari neutrofil umumnya mencapai 50-60%.
Sumsum tulang normal orang dewasa memproduksi setidaknya 100
miliar neutrofil sehari, dan meningkat menjadi sepuluh kali lipatnya juga
terjadi inflamasi akut.
Setelah lepas dari sumsum tulang, neutrofil akan mengalami 6
tahap morfologis: mielocit, metamielocit, neutrofil non segmen (band),
neutrofil segmen.Neutrofil segmen merupakan sel aktif dengan kapasitas
penuh, yang mengandung granula sitoplasmik (primer atau azurofil,
sekunder, atau spesifik) dan inti sel berongga yang kaya kromatin. Sel
neutrofil yang rusak terlihat sebagai nanah.
5) Basofil
Basofil adalah granulosit dengan populasi paling minim, yaitu
sekitar 0,010,3% dari sirkulasi sel darah putih. Basofil mengandung
banyak granula sitoplasmik dengan dua lobus. Seperti granulosit lain,

30

basofil dapat tertarik keluar menuju jaringan tubuh dalam kondisi


tertentu. Saat teraktivasi, basofil mengeluarkan antara lain histamin,
heparin, kondroitin, elastase dan lisofosfolipase, leukotriena dan
beberapa macam sitokina. Basofil memainkan peran dalam reaksi alergi
(seperti asma).
e. Pemeriksaan Leukosit
Indikasi di lakukannya pemeriksaan hitung lekosit adalah tes rutin
sebagai bagian dari tes darah lengkap (full blood count), untuk menentukan
lekositosis atau leukopenia, dan pemantauan penyakit atau pengobatan.
Hitung lekosit menyatakan jumlah lekosit perliter darah (lesysteme
international dUnites = SI Unit) atau per millimeter kubik atau mikroliter
(unit konvensional). Lekosit atau sel darah putih adalah sel yang bulat
berinti dengan ukuran 9 20 m.
Spesimen yang digunakan pada pemeriksaan hitung jumlah lekosit,
yaitu:
1) Darah kapiler atau darah vena EDTA;
2) Tidak ada pembatasan asupan makanan dan minuman pada penderita;
3) Darah tidak boleh diambil pada lengan yang terpasang jalur intra-vena.

Metode pemeriksaan hitung lekosit ada dua, yaitu cara manual dan
cara elektronik/otomik.
1) Cara Manual
Cara manual dilakukan dengan menghitung lekosit secara visual
dengan mikroskop. Darah terlebih dahulu diencerkan dengan larutan
asam lemah dan perhitungan dilakukan menggunakan bilik hitung
(counting chamber). Kesalahan cara ini adalah sebesar 15%.
Prinsip dasar pemeriksaan manual, yaitu: darah diencerkan
dengan asam lemah, sel-sel selain lekosit akan dilisiskan dan darah
menjadi encer sehingga lekosit lebih mudah dihitung. Jumlah lekosit per
31

mikroliter darah ditentukan dengan menghitung sel-sel di bawah


mikroskop dan kemudian mengalikannya dengan menggunakan faktor
pengali tertentu.
2) Cara Elektronik
Cara elektronik dewasa ini telah banyak dilakukan dengan
menggunakan sebuah mesin penghitung sel darah (hematology analyzer).
Prinsip dasar digunakan yaitu impedansi (resistensi elektrik) dan
pembauran cahaya (light scattering/optical scatter). Prinsip impedansi
didasarkan pada deteksi dan pengukuran perubahan hambatan listrik
yang dihasilkan oleh sel-sel darah saat mereka melintasi sebuah flow cell
yang dilalui cahaya. Hasil hitung lekosit dengan analyzer ditampilkan
pada lembar hasil sebagai WBC (White Blood Cell).
Penggunaan cara elektronik dengan alat penghitung sel darah
lebih menguntungkan karena mampu menghitung sel dalam jumlah yang
jauh lebih besar, menghemat waktu dan tenaga serta hasil cepat diterima
oleh klinisi untuk kepentingan terapi pada pasien. Namun harga tersebut
mahal, prosedur pemakaian dan pemeliharaannya harus dilakukan
dengan sangat cermat. Disamping itu upaya penjaminan mutu juga harus
selalu dilakukan.

f. Nilai Rujukan
Nilai normal : 3200 10.000/mm3 SI : 3,2 10,0 x 109/L
Neutrofil
Nilai normal:

Segment : 36% - 73% SI unit : 0,36

0,73
Jumlah absolute 1.260-7.300/mm3
Bands : 0% - 12% SI unit : 0,00 0,12
Jumlah absolute 0-1440/mm3
Eosinofil
Nilai normal :

0% - 6%

Jumlah absolute 0-500/mm3

32

Basofil
Nilai normal

: 0% - 2%

Jumlah absolute 0-150/mm3

Monosit
Nilai normal

: 0%-11% Jumlah absolute 800-40.000/mm3

Limfosit
Nilai normal

: 15% - 45%

Jumlah absolute 100-

800/mm3
(Kemenkes, 2011)
g. Implikasi klinik
1) Nilai krisis leukositosis: 30.000/mm3.
2) Lekositosis hingga 50.000/mm mengindikasikan
gangguan di luar sumsum tulang (bone marrow). Nilai
leukosit yang sangat tinggi (di atas 20.000/mm3) dapat
disebabkan oleh leukemia. Penderita kanker post-operasi
(setelah menjalani operasi) menunjukkan pula
peningkatan leukosit walaupun tidak dapat dikatakan
infeksi.
3) Biasanya terjadi akibat peningkatan 1 tipe saja (neutrof
l). Bila tidak ditemukan anemia dapat digunakan untuk
membedakan antara infeksi dengan leukemia
4) Waspada terhadap kemungkinan leukositosis akibat
pemberian obat.
5) Perdarahan, trauma, obat (mis: merkuri, epinefrin,
kortikosteroid), nekrosis, toksin, leukemia dan keganasan
adalah penyebab lain leukositosis.
6) Makanan, olahraga, emosi, menstruasi, stres, mandi air
dingin dapat meningkatkan jumlah sel darah putih
7) Leukopenia, adalah penurunan jumlah leukosit
<4000/mm3. Penyebab leukopenia antara lain:

33

a) Infeksi virus, hiperplenism, leukemia.


b) obat (antimetabolit, antibiotik, antikonvulsan,
kemoterapi)
c) Anemia aplastik/pernisiosa
d) Multipel mieloma
8) Prosedur pewarnaan: Reaksi netral untuk netrof l;
Pewarnaan asam untuk eosinof l; Pewarnaan basa untuk
basof l
9) Konsentrasi leukosit mengikuti ritme harian, pada pagi
hari jumlahnya sedikit, jumlah tertinggi adalah pada sore
hari
10)

Umur, konsentrasi leukosit normal pada bayi adalah

(6 bulan-1 tahun) 10.000-20.000/mm3 dan terus


meningkat sampai umur 21 tahun
11)

Manajemen neutropenia disesuaikan dengan

penyebab rendahnya nilai leukosit


5. Trombosit
a. Definisi
Trombosit (keping-keping darah) adalah fragmen
sitoplasmik tanpa inti berdiameter 2-4 mm yang berasal dari
megakariosit.
Trombosit adalah elemen terkecil dalam pembuluh
darah.

Trombosit

diaktivasi

setelah

kontak

dengan

permukaan dinding endotelia. Trombosit terbentuk dalam


sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari.
Sebesar 2/3 dari seluruh trombosit terdapat disirkulasi dan
1/3 nya terdapat di limfa.
b. Fungsi Trombosit

34

Trombosit

berperan

penting

dalam

mengontrol

perdarahan. Apabila terjadi cedera vaskuler, trombosit


mengumpul pada tempat cedera tersebut. Fungsi utama
trombosit adalah pembentuk sumbatan mekanis selama
respon haemostati normal terhadap luka vaskular. Tanpa
trombosit, dapat terjadi kebocoran darah spontan melalui
pembuluh darah kecil.
Trombosit memiliki banyak fungsi, khususnya dalam
mekanisme

hemostasis.

Berikut

fungsi

dari

trombosit

(Hoffbrand et al, 2005): mencegah kebocoran darah spontan


pada pembuluh darah kecil dengan cara adhesi, sekresi,
agregasi, dan fusi (hemostasis).
Cara

kerja

trombosit

dalam

hemostasis

dapat

dijelaskan sebagai berikut : Adanya pembuluh darah yang


mengalami trauma maka akan menyebabkan sel endotelnya
rusak dan terpaparnya jaringan ikat kolagen (subendotel).
Secara alamiah, pembuluh darah yang mengalami trauma
akan mengerut (vasokontriksi). Kemudian trombosit melekat
pada jaringan ikat subendotel yang terbuka atas peranan
faktor von Willebrand dan reseptor glikoprotein Ib/IX (proses
adhesi).
trombosit
heparin,

Setelah

itu

mencakup
fbrinogen,

terjadilah
ADP,

pelepasan

serotonin,

lisosom

isi

granula

tromboksan

(degranulasi).

A2,

Trombosit

membengkak dan melekat satu sama lain atas bantuan ADP


dan tromboksan A2 (proses agregasi). Kemudian dilanjutkan
pembentukan kompleks protein pembekuan (prokoagulan).
Sampai tahap ini terbentuklah hemostasis yang permanen.
Pada suatu saat bekuan ini akan dilisiskan jika jaringan yang

35

rusak telah mengalami perbaikan oleh jaringan yang baru.


(Candrasoma,2005; Guyton,1997; Hoffbrand et al, 2005).

c. Struktur Trombosit
Trombosit adalah elemen terkecil dalam pembuluh
darah dengan diameter 2-4 m. Trombosit memiliki zona luar yang
jernih dan zona dalam yang berisi organel-organel sitoplasmik. Permukaan
diselubungi reseptor glikoprotein yang digunakan untuk reaksi adhesi &
agregasi yang mengawali pembentukan sumbat hemostasis.
Membran plasma dilapisi fosfolipid yang dapat mengalami
invaginasi membentuk sistem kanalikuler. Membran plasma ini memberikan
permukaan reaktif luas sehingga protein koagulasi dapat diabsorpsi secara
selektif. Area submembran, suatu mikrofilamen pembentuk sistem skeleton,
yaitu protein kontraktil yang bersifat lentur dan berubah bentuk. Sitoplasma
mengandung beberapa granula, yaitu: granula densa, granula a, lisosome
yang berperan selama reaksi pelepasan yang kemudian isi granula
disekresikan melalui sistem kanalikuler. Energi yang diperoleh trombosit
untuk kelangsungan hidupnya berasal dari fosforilasi oksidatif (dalam
mitokondria) dan glikolisis anaerob.
d. Metabolisme Trombosit
Trombosit

diaktivasi

setelah

kontak

dengan

permukaan dinding endotelia. Trombosit terbentuk dalam


sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari.
Sebesar 2/3 dari seluruh trombosit terdapat disirkulasi dan
1/3

nya

terdapat

di

limfa.

Trombosit

dibentuk

oleh

fragmentasi sel raksasa sumsum tulang, yang disebut


megakariosit.

Megakariosit ini melakukan reikasi inti

endomitotiknya kemudian volume sitoplasma membesar


seiring

dengan

penambahan

lobus

inti

menjadi

36

kelipatannya, kemudian sitoplasma menjadi granula dan


trombosit dilepaskan dalam bentuk platelet/keping-keping.
Enzim

pengatur

utama

produksi

trombosit

adalah

trombopoetin yang dihasilkan di hati dan ginjal, dengan


reseptor C-MPL serta suatu reseptor lain, yaitu interleukin11.

Trombosit

berperan

penting

dalam

hemopoesis,

penghentian perdarahan dari cedera pembuluh darah.


Trombosit

atau

platelet

sangat

penting

untuk

menjaga hemostasis tubuh. Adanya abnormalitas pada


vaskuler,

trombosit,

menggangu

koagulasi,

hemostasis

atau

sistem

fbrinolisis

akan

vaskuler

yang

mengakibatkan perdarahan abnormal/gangguan perdarahan


(Sheerwood, 2001).
Produksi

trombosit

diatur

oleh

trombopoetin

(Brunner & Suddarth, 2002). Produksi trombosit mengikuti


pembentukan mikrovesikulus dalam sitoplasma sel yang
bersatu (koalesensi) membentuk membrane batas pemisah
(demarkasi) trombosit. Produksi trombosit berada dibawah
kontrol zat humoral yang dikenal sebagai trombopoietin.
e. Pembekuan darah
Darah yang sudah tersimpan lebih dari 24 jam tidak
lagi mengandung trombosit yang masih berfungsi atau
faktor koagulan V dan VIII. Reaksi trombosit berupa adhesi,
sekresi, agregasi, dan fusi serta aktivitas prokoagulannya
sangat penting untuk fungsinya. (Brunner & Suddarth,
2002).
Setelah terjadi adhesi trombosit, selanjutnya akan
dilepas ADP. Proses ini bersifat reversibel, yang terlihat
sebagai gelombang pertama pada tes agregasi trombosit.

37

Bila konsentrasi ADP makin meningkat, terjadilah agregasi


trombosit.

Selain

menyebabkan
kesempatan

ADP,

juga

dilepas

vasokonstriksi,
untuk

menyiapkan

serotonin,

sehingga

yang

memberi

pembentukan

sumbat

hemostatik primer, yang terdiri atas trombosit dan fibrin.


Pada kondisi dimana kadar ADP mencapai titik kritis,
terjadilah

pengaktifan

membran

fosfolipid

(PF3),

yang

bersifat ireversibel dan tampak sebagai gelombang kedua


dalam grafik tes agregasi trombosit. Membran fosfolipid ini
memfasilitasi

pembentukan

kompleks

protein

koagulasi

yang terjadi secara berurutan.

Gambar 2.2. Fungsi Trombosit


f. Pemeriksaan Trombosit
Beberapa uji laboratorium yang digunakan untuk menilai kualitas
trombosit adalah agregasi trombosit, retensi trombosit, retraksi bekuan, dan

38

antibody anti trombosit. Sedangkan uji laboratorium untuk menilai kuantitas


trombosit adalah masa perdarahan (bleeding time) dan hitung trombosit
Metode untuk menghitung trombombosit telah banyak dibuat dan
jumlahnya jelas tergantung dari kenyataan bahwa sukar untuk menghitung
sel-sel trombosit yang merupakan partikel kecil, mudah aglutinasi dan
mudah pecah. Sukar membedakan trombosit dengan kotoran.
Hitung trombosit dapat dilakukan secara langsung dan tidak
langsung. Metode secara langsung dengan menggunakan kamar hitung yaitu
dengan mikroskop fase kontras dan mikroskop cahaya (Rees-Ecker)
maupun secara otomatis. Metode yang dianjurkan adalah penghitungan
dengan mikroskop fase kontras dan otomatis. Metode otomatis akhir-akhir
ini banyak dilakukan karena bisa mengurangi subyektifitas pemeriksaan dan
penampilan diagnostik alat ini cukup baik.
Hitung trombosit secara tidak langsung yaitu dengan menghitung
jumlah trombosit pada sediaan apus darah yang telah diwarnai. Cara ini
cukup sederhana, mudah dikerjakan, murah dan praktis. Keunggulan cara
ini adalah dalam mengungkapkan ukuran dan morfologi trombosit, tetapi
kekurangannya adalah bahwa perlekatan ke kaca obyek atau distribusi yang
tidak merata di dalam apusan dapat menyebabkan perbedaan yang mencolok
dalam perhitungan konsentrasi trombosit. Sebagai petunjuk praktis adalah
bahwa hitung trombosit adekuat apabila apusan mengandung satu trombosit
per duapuluh eritrosit, atau dua sampai tiga trombosit per lapang pandang
besar (minyak imersi). Pemeriksaan apusan harus selalu dilakukan apabila
hitung

trombosit

rendah

karena

penggumpalan

trombosit

dapat

menyebabkan hitung trombosit rendah palsu.


g. Nilai Rujukan
Hitung trombosit normal adalah
170 380x103/mm3

SI : 170 380x109/L

(Kemenkes, 2011)

39

h. Implikasi Klinik
1) Trombositosis berhubungan dengan kanker, splenektomi,
polisitemia vera, trauma, sirosis, myelogeneus, stres dan
arthritis reumatoid.
2) Trombositopenia berhubungan dengan idiopatik
trombositopenia purpura (ITP), anemia hemolitik, aplastik,
dan pernisiosa. Leukimia, multiple myeloma dan
multipledysplasia syndrome.
3) Obat seperti heparin, kinin, antineoplastik, penisilin, asam
valproat dapat menyebabkan trombositopenia
4) Penurunan trombosit di bawah 20.000 berkaitan dengan
perdarahan spontan dalam jangka waktu yang lama,
peningkatan waktu perdarahan petekia/ekimosis.
5) Asam valproat menurunkan jumlah platelet tergantung
dosis.
6) Aspirin dan AINS lebih mempengaruhi fungsi platelet
daripada jumlah platelet.
i. Kelainan Fungsi Trombosit
Kelainan

perdarahan

dapat

disebabkan

oleh

kekurangan trombosit ataupun faktor pembekuan dalam


sirkulasi darah. Fungsi trombosit dalam plasma darah dapat
terganggu akibat insufisiensi sumsum tulang, kerusakan
limfa meningkat, atau abnormalitas trombosit beredar
(Brunner & Suddarth, 2002).
Kelainan fungsi trombosit dicurigai pada pasien yang
memperlihatkan perdarahan kulit dan mukosa serta pada
orang dimana waktu perdarahan memanjang walaupun
hitung trombosit normal. Kelainan ini bisa oleh karena
herediter atau akuisita. Kelainan herediter jarang dapat

40

menghasilkan cacat pada setiap fase berbeda reaksi


trombosit

yang

trombosit.

menyebabkan

Kelainan

herediter

pembentukkan
seperti:

sumbat

penyakit

Pool

simpanan trombosit, trombastenia (penyakit Glanzmann),


syndrome Bernard-Soulier, dan penyakit Von Willebrand.
Sedangkan untuk kelainan akuisita pada terapi
aspirin,

terapi

bersamaan

sulfinpirazon,

dengan

myeloma

hiperglobulinemia
multiple

atau

yang

penyakit

Weldenstorm, uremea pada penyakit hati dan kelainan


mieloproliferatif. Pada klien dengan tidak ada riwayat obat,
jumlah megakariosit sumsum normal atau berlebihan dan
tak ada abnormalitas sumsum lainnya, ITP merupakan
diagnosis biasanya.
j. Faktor Pengganggu
Ada beberapa faktor pengganggu dari hitung jenis trombosit,
diantaranya yaitu :
1) Jumlah trombosit umumnya meningkat pada dataran
tinggi, setelah olahraga, trauma atau dalam keadaan
senang dan dalam musim dingin.
2) Kontrasepsi oral menyebabkan sedikit peningkatan
3) Nilai

trombosit

umumnya

menurun

sebelum

menstruasi dan selama kehamilan.


k. Hal yang harus diwaspadai
1) Pada 50% pasien yang mengalami peningkatan platelet
ditemukan keganasan
2) Pada pasien yang mengalami peningkatan jumlah platelet
yang

ekstrim

(>1000

103/mm3)

akibat

gangguan

41

myeloproliferatif,

lakukan

penilaian

penyebab

abnormalnya fungsi platelet.


3) Nilai kritis: penurunan platelet hingga < 20 x 10 3/mm3
terkait

dengankecenderungan

pendarahan

spontan,

perpanjangan waktu perdarahan,peteki dan ekimosis


4) Jumlah platelet > 50 x 10 3/mm3 tidak secara umum terkait
dengan perdarahan spontan

l. Trombositopenia
Dalam kesehatanan penurunan jumlah trombosit
dikenal

dengan

trombositopenia.

Trombositopenia

didefinisikan sebagai kondisi terjadinya penurunan jumlah


trombosit dari rentang normal populasi sehat. Umumnya
rentang

trombosit

400.000/L.

normal

Kriteria

adalah

penggolongan

sekitar

150.000-

berat

ringannya

trombositopenia telah dikembangkan oleh National Cancer


Institute (NCI). Kriteria ini menggolongkan berat ringannya
trombositopenia sebagai:
Derajat

satu

jika

jumlah

trombosit

sekitar

75.000-

jika

jumlah

trombosit

sekitar

50.000-

jika

jumlah

trombosit

sekitar

25.000-

150.000/L,
Derajat

dua

<75.000/L,
Derajat

tiga

<50.000/L, dan
Derajat empat jika jumlah trombosit < 25.000/L (Sysmex,
2013).
3
3
Sedangkan jumlah trombosit > 50 x 10 /mm tidak secara
umum terkait dengan perdarahan spontan.
Ketika
pemeriksaan

ditemukan
darah

hasil

subyek

trombositopenia

tanpa

tanda

dan

pada
gejala
42

trombositopenia, maka sangat diperlukan pengetahuan


seorang pemeriksa dalam menentukan apakah subyek
tersebut

benar-benar

hanya

suatu

menderita

kasus

trombositopenia

trombositopenia

atau
palsu

(pseudothrombocytopenia).
Kasus

trombositopenia

palsu

dipemeriksaan

laboratorium umumnya disebabkan karena trombosit yang


diperiksa menggumpal karena terpapar antikoagulan EDTA.
Oleh sebab itu perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan
sediaan apus darah tepi dan jika telah dipastikan maka
perlu pengambilan sampel darah kedua untuk pengulangan
pemeriksaan

namun

Mekanisme

terjadinya

disebabkan

karena

dengan

antikoagulan

trombositopenia

gangguan

sitrat.

umumnya

produksi

bisa

trombosit

di

sumsum tulang ataupun bisa juga disebabkan karena


pemakaian trombosit yang berlebihan karena berbagai
sebab (Sysmex, 2013).
Pasien

dengan

trombositopenia,

jika

trombosit menurun sampai dibawah 20.000/mm


gejala

klinis

yang

akan

muncul

seperti:

hasil
3

maka

petekia,

perdarahan hidung dan pendarahan setelah pembedahan


atau pencabutan gigi. Jika trombosit kurang dari 5000/
3
mm , dapat terjadi perdarahan system saraf pusat dan
gastrointestinal yang fatal (Brunner & Suddarth, 2002).

m. Trombositosis
Sedangkan

pada

pasien

dengan

peningkatan

jumlah trombosit dari nilai normal atau dikenal dengan


istilah trombositosis, memiliki gejala klinis seperti : anemi

43

ringan, lekositosis, perdarahan (epistaksis, easy bruising,


petekie,

spenonegali

splenonegali

ringan

moderate

pada

pada

40%

penderita,

20-50%

penderita,

hepatomegali, limfadenopati, ulkus peptikum,varises gaster


dan esofagus, Gout (Brunner & Suddarth, 2002).
Trombopoietin,

suatu

pertumbuhan

ligan

reseptor

megakariosit

faktor

(c-mpl/murine

myeloproliferative leukemia virus), saat ini dikenal sebagai


regulator

humoral

trombosit.

utama

Trombopoietin

megakariosit

mulai

dari

produksi

megakariosit

mempengaruhi
sel

induk

dan

pertumbuhan

sampai

produksi

trombosit.
Trombosit matur berperan penting dalam regulasi
kadar

trombopoietin

plasma.

Trombosit

mempunyai

reseptor terhadap trombopoietin (c-mpl) dan memobilisasi


trombopoietin dari plasma. Pada keadaan trombositopeni,
terjadi peningkatan kadar trombopoietin plasma karena
berkurangnya pengikatan trombopoietin oleh trombosit.
Peningkatan

kadar

trombopoietin

plasma

ini

akan

merangsang megakariopoiesis. Sebaliknya pada keadaan


tombositosis,
menurunkan

deplesi

plasma

megakariopoiesis.

trombopoietin
Mekanisme

akan

regulasi

ini

mengatur produksi trombosit.


n. Tata Laksana Trombositopenia
Pada kondisi rendahnya platelet yang kritis, transfusi
platelet dapat dilakukan untuk memberikan peningkatan
sementara. Transfusi platelet biasanya memiliki waktu paruh
yang lebih pendek dan kecuali jika kondisi penyebab sudah
diatasi, maka sering diperlukan transfusi ulang.

44

Dalam kondisi nilai platelet yang rendah secara signif


kan (kurang dari 50 x 109/L) penting memastikan tidak ada
obat

yang

mempengaruhi

fungsi

platelet

yang

ada.

Termasuk semua obat antiplatelet dan obat antiin amasi


non steroid.
Trombositopenia

yang

terkait

dengan

auto-imun

biasanya diatasi dengan kortikosteroid. Jika diduga terjadi


reaksi karena alergi obat, maka hentikan obat yang diduga
menyebabkan reaksi alergi tsb.
o. Tatalaksana Trombositosis
Jika terjadi inamasi dapat diberikan kortikosteroid
dan bila terjadi infeksi diberikan antibiotik dan harus
dilakukan pemantauan ketat munculnya efek samping yang
tidak diinginkan. Pada kondisi terjadi peningkatan produksi
platelet di atas 1500 x 109/ L, dapat diberikan obat
antiproliferatif, namun dapat mengalami trombosis. Oleh
karena itu pemberian aspirin atau obat antiplatelet lain
dapat

dipertimbangkan

mengalami

risiko

bagi

pemberian

kardiovaskular,

pasien

serebrovaskular,

yang
atau

pasien yang pernah mengalami trombotik karena tingginya


nilai platelet.
C. Faktor yang Mempengaruhi Pemeriksaan Laboratorium
Ada dua faktor yang mempengaruhi proses pemeriksaan
laboratorium. Faktor- faktor tersebut yaitu : variasi analitik dan
non analitik. Yang termasuk dalam variasi analitik adalah
peralatan, metode, bahan pemeriksaan dan reagen. Yang
termasuk variasi non analitik terbagi menjadi tiga : preanalitik,
analitik dan pasca analitik.

45

Preanalitik

merupakan

tahap

awal

yang

sangat

menentukan kualitas sampel yang didapat, kemudian akan


sangat mempengaruhi proses berikutnya yaitu proses analitik
dan

pasca

analitik

(Buletin

preanalitik sering terjadi

Prodia,

kesalahan.

2007).
yang

Dalam
terjadi

proses
sebelum

spesimen pasien diperiksa untuk analit oleh sebuah metode


atau instrument tertentu. Kegiatan yang terkait dengan proses
preanalitik adalah ketatausahaan (clerical), persiapan pasien
(patient

preparation),

collection)

serta

pengumpulan

penanganan

spesimen

sampel

(sampling

(spesimen
handling)

(Sukorini, dkk, 2010).


Analitik

adalah

tahap

pengerjaan

sampel

sampai

diperolehnya hasil pemeriksaan (Buletin Prodia, 2007). Sama


halnya dengan preanalitik, pada tahap analitik juga rentan terjadi
kesalahan. Kesalahan- kesalahan analitik yang terjadi selama
proses pengukuran sering disebabkan oleh kesalahan sistematis.
Kegiatan yang terkait dengan proses analitik adalah reagen
(reagent), peralatan (instrumens), control dan bahan bakuan
(control

and

standart),

serta

ahli

teknologi

(technologist)

(Sukorini dkk, 2010).


Pasca analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang
dikeluarkan untuk meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang
dikeluarkan benar- benar valid (Buletin Prodia, 2007). Kesalahan
pasca analitik terjadi setelah pengambilan sampel, proses
pengukuran

dan

mencakup

kesalahan

seperti

kesalahan

penulisan (Sukorini, dkk, 2010).


Banyak faktor pada pasien yang dapat mempengaruhi
hasil laboratorium sehingga persiapan pasien perlu diperhatikan.
Pengirim pasien mempunyai tugas memberitahukan kepada
pasien mengenai persiapan yang perlu dilakukan sebelum

46

datang ke laboratorium.
Faktor-faktor pada pasien yang dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan yaitu:
1. Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan laboratorium pada beberapa jenis pemeriksaan,
baik

secara

langsung

maupun

tidak

langsung.

Seperti

pemeriksaan laju endap darah, dipengaruhi secara tidak


langsung

oleh

makanan

dan

minuman

karena

akan

mempengaruhi reaksi dalam proses pemeriksaan sehingga


hasilnya menjadi tidak benar. Konsumsi alkohol juga dapat
menyebabkan perubahan cepat dan lambat pada kadar
analit. Perubahan cepat dapat terjadi dalam waktu 2 4 jam
setelah konsumsi alkohol dan akibat yang terjadi adalah
peningkatan kadar glukosa, laktat, asam urat dan terjadinya
asidosis metabolik.
Perubahan lambat berupa peningkatan aktiftas gamma
glutamyl transferase (gamma-GT), GOT, GPT, trigliserida,
kortisol, dan MCV. Cafein menyebabkan hampir
pemeriksaan
meningkat

substrat
karena

dan

terjadi

enzim

dalam

seluruh

darah

hemokonsentrasi,

akan

terutama

pemeriksaan hemoglobin, hitung jenis lekosit, hematokrit,


elektrolit. Beberapa makanan yang memiliki kandungan zat
besi yang lebih banyak dari yang lain, seperti daging merah
memiliki kadar zat besi lebih tinggi daripada susu sapi
(Estridge et al. 2000). Zat besi tersebut akan digunakan untuk
membentuk gugus heme dari haemoglobin oleh sel darah
merah dalam sumsum tulang belakang (Silverthorn, 2009).
2. Obat-Obatan

47

Obat yang diberikan baik secara oral, maupun cara


lainnya akan menyebabkan terjadinya respon tubuh terhadap
obat tersebut. Ada beberapa contoh obat yang mempengaruhi
hasil

pemeriksaan

menurunkan
aspirin,

hasil

obat-obat

Indometasin
trimetadion

laboratorium.

Obat-obat

hemoglobin

diantaranya:

antineoplasma,

(Indocin),

doksapram

sulfonamida,primaquin,

(Tridione). Sedangkan

meningkatkan

hasil

yang

haemoglobin

dapat

antibiotika,
(Dopram),
rifampin,

obat-obat yang dapat


diantaranya:

metildopa

(Aldomet), gentamisin (Kee, 2012).


Obat-obatan yang dapat menurunkan nilai leukosit
yaitu:

Antibiotik

asetaminofen

(Penicillin,

(Tylenol),

sefalotin,
sulfonamid,

kloramfenikol),
propiltiourasil,

barbiturate, agen kemoterapi kanker, diazepam (valium),


diuretic

(furosemide;Lasix,

asam

etakrinik;

Edecrin,

klordiazepoksid (Librium), agen hipoglikemi oral, indometasin (Indocin),


metildopa (Aldomet), rifampin, fenotiazin. Untuk obat-obatan yang dapat
meningkatkan nilai leukosit diantaranya: Aspirin, antibiotic (Ampicillin,
eritromisin, kanamisin, metisillin, tetrasiklin, vankomisin, streptomisin),
komponen emas, prokainamid (Pronestil), triamteren (Dyrenium), alopurinol,
kalium yodin, hidantoin derivative, sulfonamide (kerja lama), heparin,
digitalis, epinefrin, litium (Kee, 2012).
Obat-obatan yang terbukti mempengaruhi fungsi trombosit seperti:
Aspirin, digunakan luas pada trombositosis di mana ini nyata efektif dalam
mencegah thrombosis. Pada orang yang telah menderita serangan iskhemik
selintas (transientischaemic attack), aspirin ditunjukkan mengurangi secara
bermakna insiden serangan selanjutnya, major stroke, dan kematian. Sulfin
pirazon dapat menurunkan frekuensi kematian mendadak pada pasien yang
mrninggalkan rumah sakit setelah infark miokard. Dipiridamol telah
ditunjukkan mengurangi komplikasi tromboemboli pada pasien dengan klep
jantung buatan dan memperbaiki hasil dalam mencakup operasiby pass
48

(Kee, 2012). Selain itu obat seperti heparin, kinin, antineoplatik, penisilin,
asam valproat juga dapat menyebabkan trombositopenia. Kontrasepsi oral
menyebabkan sedikit peningkatan (kementrian Kesehatan RI, 2011)
3. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik dapat menyebabkan perubahan kadar substrat dan
enzim pada laju endap darah, hemoglobin dan hitung sel darah. Aktifitas fisik
dapat menyebabkan shift volume antara kompartemen di dalam pembuluh
darah dan interstitial, kehilangan cairan karena berkeringat, dan perubahan
kadar hormon. Akibatnya akan terjadi perbedaan besar antara kadar glukosa
darah di arteri dan vena, serta terjadi perubahan konsentrasi gas darah, asam
urat, kreatinin, creatin kinase, GOT, LDH, hemoglobin, hitung sel darah dan
produksi urine.
Olahraga

berat

dapat

menguras

energi

yang

menghasilkan

persenyawaan, adenosine Triphosphate (ATP) dari sel otot. Aktivitas fisik


seperti berlari, naik turun tangga dalam jangka waktu lama atau melakukan
aktivitas berat (olahraga gym atau marathon) pada malam hari sebelum
pengambilan darah (Narayanan, 2000).
Aktifitas fisik menurut Recommenden Dietary Allowances (RDA)
dalam Penelitian yang berjudul Aktifitas Fisik, Konsumsi Makanan Cepat Saji
(Fastfood), dan Keterpaparan Media Serta Faktor-Faktor Lain Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Obesitas Pada Siswa SD Islam Al-Azhar 1
jakarta Selatan oleh Nuri Rahmawati tahun 2009, aktifitas fisik dibedakan
dalam beberapa kategori seperti :istirahat, sangat ringan, ringan, sedang dan
berat.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dikelompokkan dalam kategori
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Istirahat : tidur, berbaring atau bersandar
b. Sangat ringan : duduk dan berdiri, melukis, menyetir mobil, pekerja
laboratorium, mengetik, menyapu, menyetrika, memasak, bermain kartu
dan bermain alat music

49

c. Ringan : berjalan dengan kecepatan 2,5-3 mph, bekerja di bengkel,


pekerjaan yang berhubungan dengan listrik, tukang kayu, pekerjaan yang
berhubungan dengan restoran, membersihkan rumah, mengasuh anak, golf,
memancing dan tenis meja.
d. Sedang : berjalan dengan kecepatan 3,5-4 mph, mencabut rumput dan
mencangkul, menangis dengan keras, bersepeda, ski, tenis dan menari.
e. Berat : berjalan mendaki, menebang pohon, menggali tanah, basket,
panjat tebing dan sepak bola
Aktivitas fisik yang mempengaruhi hasil trombosit adalah aktifitas
ringan-berat. Sesuai dengan penjelasan kegiatan-kegiatan yang dikategorikan
dalam aktivitas fisik ringan-berat, merupakan kegiatan-kegiatan yang
menghabiskan energy dan bisa memicu lelah, berkeringat, perubahan tanda
vital seperti nadi bahkan mungkin tekanan darah.
Untuk mengetahui aktivitas fisik pasien, petugas menanyakan kepada
pasien aktivitas fisik yang dilakukan sebelum pengambilan darah.
4. Trauma
Trauma

yang

dimaksud

adalah

trauma

yang

menyebabkan

perdarahan. Luka perdarahan akan menyebabkan antara lain terjadinya


penurunan kadar substrat maupun aktivitas enzim yang akan diukur
termasuk kadar haemoglobin dan hematokrit. Hal ini disebabkan karena
terjadi pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah sehingga
mengakibatkan terjadinya pengenceran darah. Konsentrasi Hemoglobin
berfluktuasi pada pasien yang mengalami perdarahan dan luka bakar. Sel
darah merah dan leukosit juga akan meningkat pada paien dengan trauma luka
bakar.
Trauma yang mengakibatkan perdarahan spontan dalam jangka waktu
yang lama akan mengakibatkan penurunan trombosit dibawah 20.000. Pasien
dengan

peningkatan

waktu

perdarahan

petekia/ekimosis

akan

dapat

menurunkan konsentrasi trombosit dalam darah (Kementrian Kesehatan, 2011).


Keadaan tubuh yang mengalami trauma (perdarahan), trombosit berperan

50

mencegah tubuh kehilangan darah akibat perdarahan dan melakukan fungsi


utamanya didinding pembuluh darah.
5. Variasi Harian
Pada tubuh manusia terjadi perbedaan kadar zat-zat tertentu dalam
tubuh dari waktu ke waktu yang disebabkan oleh fluktuasi harian (variasi
diurnal). Variasi ini bisa berpengaruh pada eosinofil yang jumlahnya akan
lebih rendah pada malam sampai pagi hari dibandingkan pada siang hari
(Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2004). Variasi
diurnal yang terjadi antara lain :
a) Besi serum. Besi serum yang diambil pada sore hari akan lebih tinggi
kadarnya daripada pagi hari.
b) Glukosa. Kadar insulin akan mencapai puncaknya pada pagi hari,
sehingga apabila tes toleransi glukosa dilakukan pada siang hari, maka
hasilnya akan lebih tinggi daripada bila dilakukan pada pagi hari.
c) Enzim. Aktifitas enzim yang diukur akan berfluktuasi disebabkan oleh
kadar hormon yang berbeda dari waktu ke waktu.
d) Eosinofil. Jumlah eosinofil menunjukkan variasi diurnal, jumlahnya akan
lebih rendah pada malam hari sampai pagi hari daripada siang hari.
e) Kortisol, kadarnya akan lebih tinggi pada pagi hari daripada pada malam
hari
f) Kalium, Kalium darah akan lebih tinggi pada pagi hari daripada siang hari.
Variasi diurnal dapat diketahui dengan melihat jam pengambilan
darah. Karena dari keterangan tersebut dapat diketahui bagaimana variasi
diurnal pasien. Dari penjelasan diatas, variasi diurnal tidak dijelaskan
bahwa dapat mempengaruhi trombosit.
6. Stress
Ketika seseorang mengalami stress yang berat, akan memperlihatkan
tanda-tanda cepat lelah, sakit kepala, mudah lupa, bingung, gugup,
kehilangan gairah seksual, kelainan pencernaan, dan tekanan darah tinggi.
51

Stress yang bersifat konstan dan terus menerus akan mempengaruhi kerja
kelenjar adrenal dan tiroid dalam memproduksi hormon. Adrenalin, tiroksin,
dan kortisol sebagai hormon utama stress akan naik jumlahnya dan
berpengaruh secara signifikan terhadap system homeostasis. Kortisol atau
biasa disebut dengan steroid hormon mempengaruhi sebagian besar dari
system pertahanan tubuh, termasuk sel darah putih dan molekul-molekul lain
yang bertanggung jawab terhadap system imunitas. Perasaan cemas
merupakan salah satu respon individu dalam menghadapi stress.
Klasifikasi

stress

menurut

Stuart

dan

Sundeen

(2005)

mengklasifikasikan tingkat stress menjadi tiga, yaitu :


a. Stress ringan yang sering terjadi pada kehidupan sehari-hari
dan kondisi ini dapat membantu individu menjadi waspada
dan bagaimana mencegah berbagai kemungkinan yang
terjadi.
b . Stress sedang, pada tingkat ini individu lebih memfokuskan
hal penting saat ini dan mengesampingkan yang lain
sehingga mempersempit lahan persepsinya.
c. Stress berat, pada tingkat ini lahan persepsi individu sangat
menurun dan cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal
lain. Semua prilaku ditujukan untuk mengurangi stress dan
keadaan ini individu memerlukan banyak pengarahan.

52

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Pemeriksaan darah/hematologi merupakan salah satu pemeriksaan
penunjang yang diperlukan oleh dokter untuk membantu
menegakkan diagnosis dan menyingkirkan diagnosis banding.
2. Pemeriksaan darah rutin meliputi pemeriksaan haemoglobin, hematokrit,
jumlah eritrosit, leukosit, dan trombosit.
3. Pemeriksaan hematologi lengkap (complete blood count) terdiri dari
pemeriksaan darah rutin ditambah pemeriksaan morfologi sel.
4. Hasil dari pemeriksaan darah dapat menunjukkan kondisi tubuh seseorang.
Pemeriksaan darah rutin dapat dilakukan secara manual maupun otomatis
dengan alat.
B. SARAN
1. Perlu dilakukan pengendalian faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan laboratorium agar hasil yang didapatkan lebih akurat
2. Perlu adanya peningkatan pemahaman klinisi dalam hal pemeriksaan
penunjang
3. Diharapkan fasilitas pendukung untuk melakukan pemeriksaan penunjang
tersedia di seluruh wilayah Indonesia agar dokter dapat lebih mudah
menangani pasien

53

DAFTAR PUSTAKA
Adamson J W, Longo L D. 2005. Anemia and Polycythemia. In L
D Kasper, S A Fauci, L D Longo et al. Editors: Harrisons
th
Principle of Internal Medicine. Volume I. 16
ed. USA:
McGraw-Hill. p.329-336
Bakri Syamsul. 1989. Practical Hematologi. Penerbit ELBS.
th

Brown B. 1993. Hematology: Principles and Procedures, 6


& Febiger. 119-20, 350-55.

ed. America: Lea

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal


Bedah., Volume 2 Edisi 8. Jakarta : EGC
Burns C. 2004. Peripheral Blood Smear. In B S Mckenzie.
Editor: Clinical Laboratory Hematology. USA: Pearson
Education Inc.
Estridge, Barbara H, Anna P.R. dan Norma J. W., 2000, Basic
Medical Laboratory Techniques, 4th ed., Thomson Learning,
United States of America, 125-134, 165-170.
Evatt L B, Gibbs N W, Lewis S M, McArthur R J. 1992.
nd
Fundamental Diagnostic Hematology Anemia. 2
ed.
Atlanta, Georgia: U. S
Department of Health and
Human Services ; Geneva: World Health Organization.
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. cetakan
ke-10. Jakarta: Dian Rakyat.1-3,7-8,15-21.
Glader B. 2003. Anemia: General Consideration. In P J Greer,
J Foerster, N J Lukens, M G Rodgers, F Paraskevas, B
Glader. Editors: Wintrobes Clinical Hematology. Volume
th
1A. 11
ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins. P.947-975
Guyton & Hall. 1997. Sel-sel darah, Imunitas dan Pembekuan
Darah. Dalam Buku Ajar Fisiologi kedokteran. edisi 9.
Jakarta: EGC.

54

Hardjoeno H. 2003. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium


Dianognostik. Hasanuddin Universitas Press. Makassar.
Hoffbrand, A.V., J.E Pettit, dkk. 2005. Kapita Selekta Hematologi.
Jakarta: EGC.Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
2011.
Pedoman
Interpretasi
Data
Klinik.
binfar.kemkes.go.id
Kearns H E, LaMonica A L. 2001. Principles of Automated
Differential Analysis. In M D Harmening.
Editor:
Clinical Hematology and Fundamentals of Hemostasis.
th
4 ed. Philadelphia: F A Davis Company. P. 594-603
Kee L. J. 1997.Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan
Diagnosis Dengan Implikasi Keperawatan. EGC, Jakarta.
Kee L. J. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan
Diognostik. Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Iman Noegroho. 1989. Hematologi. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.
Koeswardani R, Boentoro, Budiman. 2001. Flow Cytometri
dan Aplikasi Alat Hitung Sel Darah Otomatik Technicon
H-1 dan H3. Malang: Laboratorium Patologi Klinik FK
Unibraw RSUD Dr. Syaiful Anwar.
Komariah, Maria. 2009. Metabolisme Eritrosit. Bandung : Fakultas
Keperawatan Universitas Padjajaran
Kresno, Siti Boedina. 1988. Hematologi dan Imunohematologi.
Jakarta: FKUI. 11,118-.
Price, Sylvia A & Wilson, Lorraine M. 2005. Patofsiologi Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Riswanto.
2013.
Pemeriksaan
Laboratorium
Hematologi.
Yogyakarta: Alfamedia dan Kanal Media.
Sadikin, Mohammad.H, 2001, Biokimia Darah, Penerbit Widya
Midika, Jakarta
Sherwood L, 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Edisi 2,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

55

Silverthorn, D.U., 2009, Human Physiology : An Integrated


Approach , 4thed., Pearson, San Fransisco.
Siswandono dan Soekardjo B., 2000, Kimia Medisinal 2, ed. 2,
Airlangga University Press, Surabaya, 283,291-292.
Sodikin, Muhammad DSC. 2002.Biokimia Darah, Jakarta : Widya
Medika Sukorini, U., 2010. Pemantapan Mutu Internal
Laboratorium Klinik. Yogyakarta : Kanalmedika dan
Alfamedia.
Stuart, G.W & Laraia,M.T. (2005). Principles and Practice of
Psychiatric Nursing. (7thEdition). St.Louis: Mosby.
Sutedjo, AY. 2008. Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books.
Tjokronegoro, Arjatmo & Utama, Hendra. 1992. Pemeriksaan
Laboratorium Hematologi Sederhana. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Uthman O E. 2000. Understanding Anemia. USA: University
Press of Mississipi.
World Health Organization. 2003. Pedoman Teknik Dasar Untuk
Laboratorium
Kesehatan.
Jakarta:
Penerbit
Buku
Kedokteran EGC.

56

Anda mungkin juga menyukai