Anda di halaman 1dari 2

-PENGERTIAN FAKTOR KONDISI

Faktor kondisi adalah suatu keadaan yang menyatakan kemontokan ikan (Effendie, 1979)
Faktor kondisi merupakan derivat dari pertumbuhan yang sering disebut sebagai Faktor K.
(Fauzi et. al., 2013)
Faktor kondisi adalah suatu indikator untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap kondisi
fisik yang diukur dari fungsi berat tubuh dibandingkan dengan panjangnya. Secara teoritis untuk
mengetahui faktor kondisi digunakan perbandingan diameter dengan berat individu. Apabila
kondisi lingkungan buruk maka akan menyebabkan berkurangnya berat tubuh dan bila kondisi
lingkungan baik dan cukup nutrisi maka berat badan akan bertambah. Faktor kondisi dapat
dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, umur, sex rasio dan tingkat kematangan gonad
(Effendie, 1979).
-METODE
Ikan sampel yang diperoleh diambil dan diukur panjang total, yaitu mengukur mulai ujung
terdepan dari kepala sampai ujung sirip ekor yang paling belakang dengan menggunakan mistar
berketelitian 1 cm. Pengukuran bobot ikan menggunakan timbangan. Kemudian ikan contoh
dibedah untuk mengetahui jenis kelamin dan tingkat kematangan gonadnya (Suwarni, 2009)
-PENJELASAN HASIL PRATIKUM
Tabel 1. Kriteria pertumbuhan berdasarkan nilai b
No. Kondisi nilai b Sifat Keterangan
1 b = 3 isometrik pertumbuhan panjang sama dengan pertumbuhan bobot
2 b > 3 allometrik positif pertambahan bobot lebih cepat dari pertambahan panjang
3 b < 3 allometrik negatif pertambahan panjang lebih cepat dari pertambahan bobot
(Fauzi et. al., 2013)
Menurut Effendie (1997) bahwa untuk ikan yang nilai faktor kondisinya 0 1, maka ikan
tersebut tergolong ikan yang pipih atau tidak gemuk.
- FAKTOR2 YANG MEMPENGARUHI NILAI FAKTR KONDISI
Penentuan faktor kondisi dilakukan untuk mendeteksi perubahan yang terjadi secara mendadak
di suatu perairan
yang mempengaruhi kondisi ikan. (Prihatiningsih et. al., 2013).
Umur dan pertumbuhan ikan digunakan untuk memahami komposisi umur dari populasi, umur
kematangan, rentang hidup yang merupakan dasar dalam perhitungan pertumbuhan, mortalitas,
rekrutmen dan parameter populasi lainnya (Prihatiningsih et. al., 2013).
Menurut Effendie (1997), nilai faktor kondisi berkaitan dengan makanan (indeks relative
penting), umur, jenis kelamin dan indeks kematangan gonad (IKG).

Menurut Aziz et al. (1992), dalam Prihatiningsih et. al., (2013) perbedaan parameter
pertumbuhan disebabkan perbedaan lama waktu, musim, ukuran ikan, alat tangkap yang
digunakan dan daerah penangkapan pada saat sampling.
Widodo (1988) dalam Prihatiningsih et. al., (2013) menyatakan perbedaan nilai parameter
pertumbuhan lebih dipengaruhi oleh komposisi ikan contoh dengan cara atau metode yang
digunakan. Jika ikan-ikan muda lebih banyak tertangkap maka koefisien pertumbuhan akan
tinggi dan sebaliknya jika ikan-ikan berumur tua yang banyak tertangkap, maka koefisien
pertumbuhan akan rendah
.
Sparre & Venema (1999) dalam Prihatiningsih et. al., (2013) menyatakan perbedaan nilai K
dapat juga disebabkan oleh kondisi lingkungan
perairan
-HUBUNGAN AKU DAN KAMU -____- :V
HUBUNGAN FAKTOR KONDISI DENGAN ANLISIS BERAT DAN PANJANG
Nikolsky (1963) dalam (Suwarni, 2009) apabila pada suatu perairan terdapat perbedaan ukuran
dan jumlah dari salah satu jenis kelamin, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pola
pertumbuhan, perbedaan ukuran pertama kali matang gonad, perbedaan masa hidup, dan adanya
pemasukan jenis ikan / spesies baru pada suatu populasi ikan yang sudah ada.
Ketersediaan makanan, tingkat kematangan gonad, dan variasi ukuran tubuh ikan ikan sampel
dapat menjadi penyebab perbedaan nilai b tersebut. Blueweis (1978 dalam Tresnati, 2001)
menyatakan bahwa hubungan antara parameter panjang dan bobot dapat menggambarkan
beberapa fenomena ekologis yang dialami oleh suatu organisme dalam daur hidupnya, misalnya
hubungan alometrik dan isometrik dapat saja berubah dari suatu populasi akibat faktor
lingkungan yang berbeda.

Suwarni. 2009. Hubungan Panjang Bobot dan Faktor Kondisi Ikan Butana Acanthurus
mata (Cuvier, 1829) yang Tertangkap Di Sekitar Perairan Pantai Desa Mattiro
Deceng, Kabupaten Pangkajene Keplauan, Provinsi Sulawesi Selatan. Torani. 19
(3) : 160 -165
Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yogyakarta
Tresnati, J. 2001. Kajian Aspek Biologi Ikan Sebelah Langkau (Psettodes arumei) di
Perairan Kepulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Disertasi Program Pasca
Sarjana. Universitas Hasanuddin. Makassar
Prihatiningsih, B. Sadhotomo dan M. Taufik. 2013. Dinamika Populasi Ikan Swanggi
(Priacanthus tayenus) Di perairan Tangeran Banten. BAWAL. 5 (2) : 81 -87
Fauzi, M., A. P. Prasetyo, I. t. Hagiyatno, F. Satria dan A. A. Utama. 2013. Hubungan
Panjang Berat dan Faktor Kondisi Lobster Batu (Panulirus penicillatus) Di Perairan
Selatan Gunung Kidul dan Pacitan. BAWAL. 5 (2) : 97-102