Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat
sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering
menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.1
Situasi TB paru di dunia semakin memburuk dengan jumlah kasus yang terus meningkat,
terutama negara-negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB paru
besar (high burden countries), sehingga pada tahun 1993 World Health Organization
(WHO) mencanangkan TB paru sebagai salah satu emerging diseases yaitu penyakit yang
gawat dan memerlukan penanganan segera.1
Secara epidemiologi, jumlah kasus terbanyak adalah regio Asia Tenggara (35%),
Afrika (30%) dan regio Pasifik Barat (20%). Sebanyak 11-13% kasus TB adalah human
immunodeficiency virus (HIV) positif, dan 80% kasus TB-HIV berasal dari regio Afrika.
Pada tahun 2009, diperkirakan kasus TB multidrug-resistant (MDR) sebanyak 250.000
kasus, tetapi hanya 12% atau 30.000 kasus yang sudah terkonfirmasi. Dari hasil data
WHO tahun 2009, lima negara dengan insidens kasus terbanyak yaitu India (1.6-2.4
juta), China (1.1-1.5 juta), Afrika Selatan (0.4-0.59 juta), Nigeria (0.37-0.55 juta) dan
Indonesia (0.35-0.52 juta). India menyumbangkan kira-kira seperlima dari seluruh jumlah
kasus didunia (21%).2
Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan, tiga
kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan di perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada
pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. Di Sulawesi Utara, penderita TB paru
pada tahun 2009 yaitu 423 dan meningkat pada tahun 2010 yaitu 466 penderita. 1
Case Detection Rate TB paru di Indonesia per Juni 2012 terdapat sekitar 60,81% kasus
TB paru di Sulawesi Utara dan angka ini menunjukkan kasus paling tertinggi di seluruh
provinsi di Indonesia.3

Semakin tingginya prevalensi TB di Indonesia dan perkiraan adanya peningkatan


di tahun-tahun mendatang, menyebabkan perlunya antisipasi dan tindakan segera dalam
penatalaksanaan TB. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) adalah organisasi
profesi kedokteran di Indonesia yang menerima Internasional Standar for Tuberkulosis
Care (ISTC) sebagai acuan untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan TB. Salah satu
pasal ISTC menyebutkan bahwa setiap mengobati pasien TB harus dievaluasi anggota
keluarga terutama anak dibawah umur lima tahun dan anggota keluarga dengan gangguan
imunologi seperti HIV dan diabetes melitus. Dengan demikian dalam pengobatan TB
sekarang ini lebih proaktif mencari kasus-kasus TB dalam keluarga yang kemungkinan
tertular dari pasien tersebut. Diharapkan dengan melakukan penemuan kasus secara aktif
yang terbatas ini cakupan pasien TB yang didiagnosis dan diobati akan lebih banyak
sehingga angka prevalensi TB dapat diturunkan di waktu mendatang. 2
B. Tujuan
Penulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada tenaga medis dan
dokter mengenai penyakit TB paru sehingga dengan mengetahui lebih dini, maka untuk
penegakkan diagnosis dalam perjalanan penyakitnya bisa terdiagnosa secara cepat dan
tepat serta mendapatkan penanganan yang lebih baik, efektif dan efisien sehingga dapat
mencegah komplikasi lebih lanjut.

BAB II
LAPORAN KASUS

Seorang pasien laki laki Tn J.J, umur 79 tahun, suku Minahasa, sudah menikah,
pendidikan tamatan SD, agama Kristen Protestan, alamat Tumpaan I jaga IV masuk
rumah sakit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tanggal 04 November 2014 jam 15.25
dengan keluhan utama batuk campur darah. Batuk campur darah dialami pasien sejak
satu hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS), Volume + satu gelas aqua dalam sehari.
Pasien mengakui bahwa batuk sudah dialami sejak satu tahun terakhir dan sebelumnya
tidak ada strep darah, berlendir, warna hijau kekuningan dan tidak berbau. Batuk
dirasakan memberat pada saat pagi dan malam hari atau saat cuaca dingin, pasien
sebelumya sudah pernah beberapa kali berobat ke dokter umum dan diberikan obat batuk
tetapi batuk tidak sembuh. Pasien mengeluh sering berkeringat pada malam hari selain itu
pasien juga mengalami penurunan nafsu makan sejak satu minggu SMRS dan
mengalami penurunan berat badan 8 kg dalam kurun waktu empat bulan, sebelumnya
berat badan penderita 45kg dan setelah MRS menjadi 37kg. Demam sumer sumer
dialami pasien sejak satu minggu SMRS dan tidak minum obat penurun panas, ada mual,
tidak ada muntah, sakit kepala dan sesak nafas. Buang air besar (BAB) sulit, terakhir
BAB satu minggu SMRS, buang air kecil (BAK) biasa.
Riwayat penyakit dahulu, darah tinggi sejak satu tahun yang lalu, tidak minum
obat darah tinggi. Asam urat sejak satu tahun yang lalu dan tidak minum obat. Riwayat
penyakit jantung, paru, ginjal, kencing manis, kolesterol dan liver disangkal.
Riwayat sosial, merokok sejak 64 tahun yang lalu, 16 - 20 batang rokok perhari
dan berhenti sejak satu minggu SMRS. Konsumsi alkohol sejak 64 tahun yang lalu, dua
gelas perhari, berhenti sejak satu minggu SMRS. Pasien sehari- hari bekerja sebagai
wiraswasta.

Riwayat penyakit keluarga, menantu pasien berumur 62 tahun yang tinggal


serumah dengan pasien juga menderita batuk lama dan sampai sekarang belum pernah
berobat.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum sedang, kesadaran compos
mentis. Tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 78x / menit teratur, respirasi 22x/ menit, suhu
badan 36,9 C. Tinggi badan 156 cm dengan berat badan 37 kg, Indeks Massa Tubuh
(IMT) 15,3. Keadaan gizi : gizi kurang). Bentuk badan mesomorf dan mobilitas aktif.
Warna kulit sawo matang, suhu raba hangat, lapisan lemak kurang, turgor kulit kembali
cepat, demam tidak ada, pertumbuhan rambut hitam, tidak mudah dicabut. Ekspresi
wajah wajar, simetris, tekanan bola mata normal pada perabaan, kelopak mata : ptosis (-),
konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-), gerakan bola mata normal, mata cowong (-).
Pada pemeriksaan telinga didapatkan lubang kiri dan kanan, sekret (-) nyeri tekan
procesus mastoideus (-), tophi (-). Pada pemeriksaan hidung, didapatkan deformitas
bagian luar (-), deviasi septum (-), sekret (-), penyumbatan (-), epistaksis (-). Pada
pemeriksaan mulut, didapatkan bibir sianosis (-), selaput lendir basah, caries gigi (-),
lidah kotor (-), ekimosis (-), tonsil T1-T1 tidak hiperemis, bau pernapasan normal. Pada
pemeriksaan leher, tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, JVP 5+0 cmH2O.
Pemeriksaan dada, didapatkan pergerakan dada simetris kiri dan kanan, stem fremitus kiri
sama degan kanan, suara pernafasan vesikuler, wheezing (-), rhonki (+) di daerah apex
paru kiri dan kanan, pada pemeriksaan jantung didapatkan suara jantung I-II regular,
normal, bising (-), gallop (-). Pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen datar, lemas,
nyeri tekan abdomen regio epigastrium, bising usus (+), hepar dan lien tidak teraba.
Pemeriksaan ekstremitas, akral teraba hangat, oedem (-).
Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 04 November 2014 diperoleh hasil,
hemoglobin 10,4 g/dL, hematokrit 30,2 %, leukosit 6700/mm3, eritrosit 3,19 x10 6/mm3,
trombosit 226000/mm3, LED 110, GDS 105 mg/dL, creatinin 0,8mg/dL, ureum
40mg/dL, SGOT 22U/L, SGPT 25U/L, natrium 130mEq/L, kalium 3,6 mEq/L, klorida 99
mEq/L.

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang maka


pasien ini kami diagnosa kerja dengan hemoptisis ec. suspek TB paru, hiponatremia,
sindrom dispepsia, konstipasi.
Penatalaksanaan penyakit ini dengan IVFD NaCL 0,9% diberikan 14 tetes/menit,
injeksi asam tranexamat tiga kali 500mg IV, injeksi ranitidin dua kali satu ampul IV,
kapsul garam tiga kali satu kapsul, kodein 10mg tiga kali satu tablet, dulcolax sirup tiga
kali dua sendok makan. Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali, EKG, X-fto thorax
PA.
Hasil pemeriksaan radiologi X-foto thorax PA, kesan : gambaran infiltrat di apex
paru kiri dan kanan.

Pada hari perawatan kedua tanggal 05 November 2014, keluhan batuk (+) darah
(-), lemah badan, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit sedang. Kesadaran compos
mentis. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88x/m, respirasi 24x/m, suhu 36,7 oc. Pada
pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada pemeriksaan thoraks;
Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru : Suara paru vesikuler,

rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan abdomen : datar,
lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien tidak teraba. Pada
ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Hasil EKG dalam batas normal.
Diagnosis pasien dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi.
Diterapi dengan IVFD NaCL 0,9% diberikan 14 tetes/menit, injeksi ranitidin dua kali
satu ampul IV, kapsul garam tiga kali satu kapsul, kodein 10mg tiga kali satu tablet,
dulcolax sirup tiga kali dua sendok makan. Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali,
UL.
Pada hari perawatan ketiga tanggal 06 November 2014, keluhan batuk (+) darah
(-), lemah badan, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit sedang. Kesadaran compos
mentis. Tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 72x/m, respirasi 20x/m, suhu 36 oc. Pada
pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada pemeriksaan thoraks;
Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru : Suara paru vesikuler,
rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan abdomen : datar, lemas, nyeri
tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien tidak teraba. Pada ekstremitas
ditemukan akral hangat, oedema (-).
Pada pemeriksaan laboratorium urinalisa lengkap tanggal 06 November 2014,
Warna kuning muda, kekeruhan jernih, epitel 1-2/lpk, silinder (-)/lpk, eritrosit 0-1/lpb,
leukosit 1-2/lpb, berat jenis 1,010 null, pH 6, leukosit (-), nitrit (-), protein (-), glukosa
normal, keton (-), urobilinogen normal, bilirubin (-), eritrosit (-).
Diagnosis pasien dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia,
konstipasi. Terapi dilanjutkan. Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.
Pada hari perawatan keempat tanggal 07 November 2014, keluhan batuk (+) darah
(-), lemah badan mulai berkurang, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit sedang.
Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 80x/m, respirasi 22x/m,
suhu 36oc. Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada
pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru :
Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan
abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien
tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis pasien

dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi dilanjutkan.

Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.


Pada hari perawatan kelima tanggal 08 November 2014, keluhan batuk (+) darah
(-), lemah badan mulai berkurang, sulit tidur, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit
sedang. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 84x/m, respirasi
22x/m, suhu 36,8oc. Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-).
Pada pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-).
Paru : Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan
abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien
tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis pasien
dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi dilanjutkan.
Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.
Pada hari perawatan keenam tanggal 09 November 2014, keluhan batuk (+) darah
(-), lemah badan mulai berkurang, sulit tidur, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit
sedang. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 88x/m, respirasi
22x/m, suhu 36,7oc. Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-).
Pada pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-).
Paru : Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan
abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien
tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis pasien
dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi dilanjutkan.
Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.
Pada hari perawatan ketujuh tanggal 10 November 2014, keluhan batuk (+) strep
darah (-), lemah badan mulai berkurang, sulit tidur, susah BAB. Keadaan umum tampak
sakit sedang. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/70 mmHg, nadi 84x/m,
respirasi 20x/m, suhu 36,3oc. . Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera
ikterik (-). Pada pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-),
gallop (-). Paru : Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada
pemeriksaan abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal.
Hepar / lien tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis
pasien dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi
8

dilanjutkan. Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.


Pada hari perawatan kedelapan tanggal 11 November 2014, keluhan batuk (+)
darah (-), lemah badan mulai berkurang, sulit tidur, susah BAB. Keadaan umum tampak
sakit sedang. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 74x/m,
respirasi 22x/m, suhu 36,8oc. . Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera
ikterik (-). Pada pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-),
gallop (-). Paru : Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada
pemeriksaan abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal.
Hepar / lien tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis
pasien dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi
dilanjutkan. Rencana pemeriksaan sputum BTA tiga kali.
Pada hari perawatan kesembilan tanggal 12 November 2014, keluhan batuk (+)
darah (-), lemah badan mulai berkurang, susah BAB. Keadaan umum tampak sakit
sedang. Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 76x/m, respirasi
22x/m, suhu 36,6oc. Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-).
Pada pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-).
Paru : Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan
abdomen : datar, lemas, nyeri tekan epigastrium, bising usus (+) normal. Hepar / lien
tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis pasien
dengan suspek TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi. Terapi dilanjutkan.
Rencana pemeriksaan DL, GDS, Ur, Cr, Na, K, CL.
Hasil pemeriksaan sputum BTA tiga kali didapatkan hasil positif tiga
Pada hari perawatan kesepuluh tanggal 13 November 2014, keluhan batuk (+)
darah (-), lemah badan mulai berkurang. Keadaan umum tampak sakit sedang. Kesadaran
compos mentis. Tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 80x/m, respirasi 22x/m, suhu 36, oc.
Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada pemeriksaan
thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru : Suara paru
vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan abdomen : datar,
lemas, bising usus (+) normal. Hepar / lien tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral
hangat, oedema (-).
9

Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 13 November 2014 diperoleh hasil,


hemoglobin 11,2 g/dL, hematokrit 32,3 %, leukosit 6000/mm3, eritrosit 4,04 x10 6/mm3,
trombosit 421000/mm3, GDS 187 mg/dL, creatinin 0,7mg/dL, ureum 36mg/dL, natrium
133mEq/L, kalium 3,3 mEq/L, klorida 92 mEq/L.
Diagnosis pasien dengan TB paru. Diterapi dengan IVFD NaCL 0,9% diberikan
14 tetes/menit, OAT empat Fixed Drug Combination (FDC) dua tablet pada malam hari.
Pada hari perawatan kesebelas tanggal 14 November 2014, keluhan batuk (+)
darah (-), lemah badan mulai berkurang. Keadaan umum tampak sakit sedang. Kesadaran
compos mentis. Tekanan darah 130/70 mmHg, nadi 80x/m, respirasi 24x/m, suhu 36, oc.
Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada pemeriksaan
thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru : Suara paru
vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan abdomen : datar,
lemas, bising usus (+) normal. Hepar / lien tidak teraba. Pada ekstremitas ditemukan akral
hangat, oedema (-). Diagnosis pasien dengan TB paru. Terapi dilanjutkan. Rencana rawat
jalan.
Pada hari perawatan keduabelas tanggal 15 November 2014, keluhan batuk (+)
strep darah (-), lemah badan mulai berkurang. Keadaan umum tampak sakit sedang.
Kesadaran compos mentis. Tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80x/m, respirasi 22x/m,
suhu 36,3oc. Pada pemeriksaan kepala, konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-). Pada
pemeriksaan thoraks; Jantung: Bunyi jantung I II reguler, bising (-), gallop (-). Paru :
Suara paru vesikuler, rhonki (+/+) bagian apex, wheezing (-/-). Pada pemeriksaan
abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal. Hepar / lien tidak teraba. Pada
ekstremitas ditemukan akral hangat, oedema (-). Diagnosis pasien dengan TB paru.
Diterapi dengan OAT empat FDC dua tablet pada malam hari. Pasien rawat jalan.

10

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium
tuberculosis complex.2
A. Etiologi
Penyebab penyakit tuberkulosis adalah Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini
mempunyai ciri sebagai berikut : bakteri berbentuk basil / batang, berukuran panjang 1-4
mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, bersifat aerob, terdiri atas asam lemak (lipid)
peptidoglikan dan arabionomanan, hidup berpasangan atau berkelompok, tahan asam,
dapat bertahan hidup lama pada udara kering maupun pada udara dingin dan suasana
lembab dan gelap dapat bertahan sampai berbulan-bulan, mudah mati dengan sinar
ultraviolet dan dapat tahan hidup lama pada suhu kamar, mudah mati pada air mendidih
(5 menit pada suhu 800C dan 20 menit pada suhu 600C), penularan tuberkulosis terjadi
karena kuman dibatukkan keluar menjadi droplet nuklei dalam udara.
B. Klasifikasi Tuberkulosis
Kasus TB diklasifikasikan berdasarkan :
1. Letak anatomi penyakit

Tuberkulosis paru

TB ekstraparu

2. Hasil pemeriksaan dahak atau bakteriologi (termasuk hasil resistensi)

TB BTA positif

TB BTA negatif

Kasus Bekas TB

3. Riwayat pengobatan sebelumnya

Pasien baru

11

Pasien dengan riwayat pengobatan sebelumnya

4. Status HIV pasien.2


C. Patogenesis
a. Tuberkulosis primer
Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik yang disebut sarang
primer atau afek primer atau sarang fokus Ghon. Sarang primer ini mungkin timbul di
bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivitas. Dari sarang primer akan
kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis regional).
Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis
regional). Sarang primer limfangitis lokal dan limfadenitis regional dikenal sebagai
kompleks primer. Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer ini
selanjutnya dapat menjadi :2,4,5
1. Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat. Ini banyak terjadi.
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik, kalsifikasi di
hilus, keadaan ini terdapat pada lesi pneumonia yang luasnya >5 mm dan 10%
diantaranya dapat terjadi reaktivitas lagi karena kuman yang dormant.
3. Berkomplikasi dan menyebar secara:
- per kontinuitatum yakni menyebar ke sekitarnya
- secara bronkogen pada paru yang bersangkutan maupun paru di sebelahnya. Kuman
dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus.
- secara limfogen ke organ tubuh lainnya.
- secara hematogen ke organ tubuh lainnya.
b. Tuberkulosis Post-Primer (Tuberkulosis Sekunder)
Kuman yang dormant pada TB primer akan muncul bertahun-tahun kemudian
sebagai infeksi endogen menjadi TB dewasa. Mayoritas reinfeksi mencapai 90%. TB
sekunder terjadi karena imunitas menurun seperti malnutrisi, alkohol, penyakit maligna,
diabetes, AIDS, gagal ginjal. Tuberkulosis post-primer ini dimulai dengan sarang dini
yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior).
12

Invasinya adalah ke daerah parenkim paruparu dan tidak ke nodus hiler paru. 2,4,5
Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. Dalam 3-10 minggu
sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan
sel Datia-Langerhans (sel-sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel
limfosit dan bermacam-macam jaringan ikat. Tuberkulosis post primer juga dapat berasal
dari infeksi eksogen dari usia muda menjadi TB usia tua tergantung dari jumlah kuman,
virulensinya dan imunitas pasien, sarang dini dapat menjadi : 2,4,5
1. Direabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat.
2. Sarang yang mula-mula meluas, tetapi segera menyembuh dengan serbukan jaringan
fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras menimbulkan perkapuran. Sarang
dini yang meluas sebagai granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat
sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek membentuk
jaringan seperti keju. Bila jaringan ini dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas.
Kavitas ini mula-mula berdinding tipis, lama-lama dindingnya menebal karena
infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar, sehingga menjadi kavitas sklerotik
(kronik). Terjadinya kavitas adalah karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat
oleh enzim yang diproduksi oleh makrofag, dan proses yang berlebihan antara sitokin
dengan TNF-nya.
D. Diagnosis
Diagnosis TB dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnnya.
a. Gejala Klinis
Gejala klinis TB dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan gejala
sistemik. Bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala respiratori
(gejala lokal sesuai organ yang terlibat).
1. Gejala respiratori

Batuk 2 minggu

Batuk darah

13

Sesak napas

14

Nyeri dada

2. Gejala sistemik

Demam

Gejala sistemik lain adalah malaise, keringat malam, anoreksia dan berat badan
menurun

3. Gejala TB ekstraparu
Gejala TB ekstraparu tergantung dari organ yang terlibat.
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik kelainan yang akan kita jumpai tergantung dari organ yang
terlibat.
Pada awal perkembangan penyakit umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan
kelainan.2 Tempat kelainan lesi TB paru paling dicurigai adalah bagian apex (puncak
paru). Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan perkusi yang redup
dan auskultasi suara napas bronkial. Akan didapatkan juga suara napas tambahan berupa
ronki basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura,
suara napasnya menjadi vesikuler melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup besar,
perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara
amforik.
Pada TB paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan
retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi
mediastinum atau paru lainnya. Paru yang sehat menjadi lebih hiperinflasi. Bila TB
mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru yang sakit terlihat agak tertinggal
dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara pekak. Auskultasi memberikan suara napas
yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali.7
c. Pemeriksaan Bakteriologi
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman TB mempunyai arti yang
sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan dan pemeriksaan bakteriologi ini
dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquour cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan
lambung, kurasan bronkoalveolar, urin, feses, dan jaringan biopsi.2

15

d. Pemeriksaan Radiologi

16

Pemeriksaan standar ialah foto thoraks PA. pemeriksaan lain atas indikasi yaitu
foto lateral, oblik atau CT-Scan. Pada pemeriksaan foto toraks, TB dapat memberi
gambaran bermacam-macam bentuk.
1. Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :

Bayangan berawan / nodular di segmen apical dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah

Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular

Bayangan bercak milier

Efusi pleura unilateral dan bilateral.

2. Gambaran radiologi yang dicurigai lesi TB inaktif

Fibrotik

Kalsifikasi

Schwarte

e. Pemeriksaan penunjang
1. Analis cairan pleura
2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
3. Pemeriksaan darah7
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
TB. Pada saat TB baru mulai (aktif) didapatkan jumlah leukosit sedikit meninggi, jumlah
limfosit masih dibawah normal, Laju Endap Darah (LED) mulai meningkat. Bila
penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal, limfosit masih tinggi dan LED
mulai turun kearah normal lagi. Hasil pemeriksaan lain didapatkan juga anemia ringan
dengan gambaran normokrom dan normositer, gama globulin meningkat, kadar natrium
darah menurun.7

17

E. Penatalaksanaan
1. Tujuan pengobatan penderita tuberkulosis adalah :
- Menyembuhkan penderita
- Mencegah kematian
- Mencegah kekambuhan atau timbulnya resistensi terhadap OAT
- Memutuskan rantai penularan
2. Prinsip Pengobatan
Obat TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat selama 6 8 bulan, agar semua kuman (termasuk kuman
persisten) dapat dibunuh. Apabila panduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis,
dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman TB akan berkembang menjadi kuman kebal
obat (resisten).8
Pengobatan TB terbagi menjadi dua fase yaitu fase intensif dan fase lanjutan.
Pada umumnya lama pengobatan adalah 6-8 bulan.

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
- INH
- Rifampisin
- Pirazinamid
- Streptomisin
- Etambutol
- Streptomisin
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) :
- Kanamisin
- Kapreomisin
- Amikasin
- Kuinolon

18

- Sikloserin
- Etionamid/Protionamid
- Para-Amino Salisilat (PAS)
Obat-obatan

yang

efikasinya

belum

jelas

(Makrolid,

amoksisilin+asam

klavulanat, linezolid, Clofazimin). OAT lini kedua hanya digunakkan untuk kasus resisten
obat, terutama TB multidrug resistant (MDR).
Dosis OAT
Tabel 1. Jenis dan dosis OAT
Oba
t

Dosis

Dosis yg dianjurkan

DosisMaks
(mg)

Dosis (mg) / berat


badan (kg)

(Mg/Kg
BB/Hari
)

R
H
Z
E

8-12
4-6
20-30
15-20

Harian
Intermitten
(mg/
(mg/Kg/BB/kali)
kgBB /
hari)
10
10
5
10
25
35
15
30

< 40

40-60

>60

600
300

300
450 600
150
300 450
750
1000 1500
750
1000 1500
Sesuai
S
15-18
15
15
1000
750 1000
BB
Pasien berusia lebih dari 60 tahun tidak bisa mendapatkan dosis lebih dari 500mg perhari
Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang penting
untuk menyembuhkan pasien dan menghindari MDR TB. Pengembangan strategi
Directly Oserved Treatment Short Course (DOTS) untuk mengontrol epidemi TB
merupakan prioriti utama WHO. International Union Against Tuberculosis and Lung
Disease (IUALTD) dan WHO menyarakan untuk menggantikan panduan obat tunggal

19

dengan kombinasi dosis tetap dalam pengobatan TB primer pada tahun 1998.
Dosis obat tuberkulosis kombinasi dosis tetap berdasarkan WHO seperti terlihat pada
tabel diatas. Keuntungan kombinasi dosis tetap antara lain:
1. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal
2. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan
pengobatan yang tidak disengaja
3. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan yang benar dan
standar
4. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit
5. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal dan MDR akibat penurunan
penggunaan monoterapi
Tabel 2. Dosis obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap

BB

Fase intensif
2-3 bulan
Harian

Fase lanjutan
4 bulan
Harian
3x/minggu

(RHZE)
150/75/400/275
30-37
38-54
55-70
> 71

2
3
4
5

(RH)
150/75

2
3
4
5
Panduan Obat Anti Tuberkulosis

(RH)
150/150
2
3
4
5

Pengobatan TB standar dibagi menjadi :

Pasien baru
Panduan obat yang dianjurkan 2HRZE/4HR dengan pemberian dosis setiap hari.

Bila menggunakan program OAT, maka pemberian dosis setiap hari pad afase intensif
dilanjutkan dengan pemberian dosis tiga kali seminggu dengan OAT 2HRZE/4H3R3.

20

Pada pasien dengan riwayat pengobatan TB lini pertama.


Pengobatan sebaiknya berdasarkan hasil uji kepekaan secara individual. Selama
menunggu hasil uji kepekaan, diberikan panduan obat 2HRZES/HRZE/5HRE.

Pasien multi-drug resistant (MDR).

F. Pencegahan
A. Terhadap Infeksi tuberkulosis
1. Pencegahan terhadap sputum yang infeksius
- Case finding
- Isolasi penderita dan mengobati penderita
- Ventilasi harus baik, kepadatan penduduk dikurangi.
2. Pasteurisasi susu sapi dan membunuh hewan yang terinfeksi oleh Mikobakterium
bovis akan mencegah tuberkulosis bovin pada manusia.
B. Meningkatkan daya tahan tubuh
1. Memperbaiki standar hidup
2. Usahakan peningkatan kekebalan tubuh dengan vaksinasi BCG, Imunisasi BCG
diberikan dibawah usia 2 bulan, jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes
Mantoux dahulu. Vaksinasi dilakukan bila hasil tes tersebut negatif.4

G. Komplikasi
Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi.
Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.

Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, usus, Poncets arthropathy.

Komplikasi lanjut : Obstruksi jalan napasSOPT (Sindrom Obstruksi Pasca


Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat SOPT/fibrosis paru, kor pulmonal,
amiloidosis, karsinoma paru, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sering
terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

21

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pasien ini didiagnosa TB paru, hiponatremia, sindrom dispepsia, konstipasi.
Penegakan diagnosis ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang sebagai berikut. Dari anamnesis riwayat penyakit sekarang didapatkan keluhan
utama batuk campur darah dua hari SMRS, dan pasien juga mempunyai riwayat
menderita batuk sejak satu tahun terakhir dan sebelumnya tidak disertai dengan darah,
lendir (+) berwarna hijau kekuningan. Batuk dirasakan memberat pada saat pagi dan
malam hari atau saat cuaca dingin. Sering berkeringat pada malam hari, penurunan nafsu
makan sejak satu minggu SMRS, penurunan berat badan 8 kg dalam kurun waktu
empat bulan, sebelumnya berat badan penderita 45kg dan setelah MRS menjadi 37kg.
Demam sumer sumer sejak satu minggu SMRS. Buang air besar sulit, terakhir BAB
satu minggu SMRS. Pada riwayat sosial didapatkan pasien mengkonsumsi rokok sejak
64 tahun yang lalu, 16 - 20 batang rokok perhari dan berhenti sejak satu minggu SMRS.
Pada riwayat penyakit keluarga, menantu pasien yang tinggal serumah dengan pasien
juga menderita batuk lama dan sampai sekarang belum pernah berobat. Hal ini sesuai
dengan kepustakaan dimana kecurigaan terhadap TB paru perlu dicurigai apabila terdapat
gejala gejala lokal atau respiratorik seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk darah,
sesak nafas, nyeri dada dan gejala sistemik lain berupa demam, malaise, keringat malam,
anorexia dan penurunan berat badan.8
Pada pemeriksaan fisik dada, didapatkan suara pernafasan vesikuler,

rhonki

basah di daerah apex paru kiri dan kanan. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa
tempat kelainan lesi TB paru paling dicurigai adalah bagian apex (puncak paru). Bila
dicurigai adanya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan perkusi yang redup dan
auskultasi suara napas bronkial. Akan didapatkan juga suara napas tambahan berupa
ronki basah, kasar dan nyaring.6
Pada pemeriksaan penunjang, pemeriksaan bakteriologi didapatkan sputum BTA
tiga kali positif tiga. Pada pemeriksaan radiologi didapatkan lesi TB aktif yaitu infiltrat
pada apex paru kiri dan kanan. Hal ini sesuai dengan kepustakaan diagnosis TB
22

ditegakkan apabila dua atau lebih hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau satu
hasil pemeriksaan dahak positif dan didukung oleh hasil pemeriksaan foto thoraks sesuai
dengan gambaran TB yang ditetapkan oleh klinis (dalam kasus ini adalah gambaran TB
aktif Bayangan berawan nodular di segmen apical dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah,

kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh

bayangan opak berawan atau nodular, bayangan bercak milier, efusi pleura unilateral dan
bilateral) atau satu hasil pemeriksaan dahak positif ditambah hasil kultur Mycobacterium
tuberculosis positif.2,6
Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 4 November 2014 didapatkan hasil
Natrium 130 mEq/L hal ini menunjukan bahwa pasien mengalami hiponatremia dan
sesuai dengan kepustakaan bahwa pada penderita TB paru biasanya terjadi hiponatremia.
Hasil LED 110. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa pada saat TB mulai aktif maka
akan terjadi peningkatan LED.
Pada pemeriksaan laboratorium urinalisa lengkap tanggal 05 September 2014
tidak ditemukan kelainan.
Terapi yang diberikan pada pasien berupa :
1. Infus NaCL 0,9% diberikan 14 tetes tiap menit ditujukan untuk menggantikan
kehilangan akut cairan tubuh.
2. Injeksi ranitidin satu ampul/12 jam IV
Diberikan sebagai terapi pemeliharan untuk mencegah stress ulcer.
3. Injeksi asam tranexamat tiga kali 500mg/8 jam IV
Diberikan untuk membantu mengatasi perdarahan akibat fibrinolisis yang berlebihan
4. Kodein
Untuk mengobati nyeri sedang hingga berat, batuk (antitusif).
5. Kapsul garam satu kapsul/8 jam
Pada kasus ini kapsul garam digunakan sebagai terapi hiponatremia.
6. Dulcolax sirup dua sendok makan/8 jam
Pada kasus ini dugunakan untuk melancarkan BAB

23

7. Obat Anti Tuberculosis (OAT) 4FDC dua tablet pada malam hari
Pada kasus ini diberikan FDC yang terdiri dari Tablet 4FDC mengandung 4 macam
obat yaitu: 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg Pirazinamid, dan 275
mg Etambutol. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap
intensif dan untuk sisipan.

24

BAB V
KESIMPULAN
Telah dilaporkan pasien laki - laki usia 79 tahun dengan batuk berdahak sejak
satu tahun SMRS dan bercampur darah 2 hari SMRS.
Pada pemeriksaan fisik pasien ini didapatkan keadaan cukup. Pada pemeriksaan
fisik dada, suara pernafasan vesikuler, rhonki basah (+) di daerah apex paru kiri dan
kanan.
Pada pemeriksaan penunjang, pemeriksaan bakteriologi didapatkan sputum BTA
tiga kali positif tiga. Pada pemeriksaan radiologi didapatkan lesi TB aktif yaitu bayangan
infiltrat pada apex paru kiri dan kanan.
Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 04 November 2014 didapatkan hasil
Natrium 130 mEq/L. Hal ini menunjuka bahwa pasien mengalami hiponatremia.
Pada pemeriksaan laboratorium urinalisa lengkap tanggal 05 September 2014
tidak ditemukan kelainan. Hasil Pemeriksaan EKG: dalam batas normal.
Terapi pada pasien ini bersifat simtomatis dengan mengurangi gejala klinis. Pada
pasien ini telah dilakukan penanganan terapi simtomatik yang maksimal, dan diharapkan
pasien ini dapat patuh mengkonsumsi OAT sehingga pengobatan dapat maksimal dan bisa
mencegah komplikasi lebih lanjut.

25

DAFTAR PUSTAKA

1. Junaidi I, (2010).Penyakit Paru dan Saluran Napas. Buana Ilmu Populer. Jakarta.
2. Izbaniah F, Zubaedah T, Priyanti Z, Erlina B, Revino, Soedarso, Yani J, dkk. 2011.
Tuberkulosis : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta :

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Hal:2-30.


3. Dinas Kesehatan provinsi Sulawesi Utara, (2012). Profil kesehatan Sulawesi Utara,
Manado.
4. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, edisi 9.Jakarta, Departemen
Kesehatan Repoblik Indonesia, 2005.
5. Braunwald E. Harrisons Manual of Medicine. Mcgraw Hill Book Company; 2002.
6. Amin Z, Bahar A. 2006. Tuberkulosis Paru. Dalam Sudoyo A W, Setiyohadi B, Alwi
I, Simadibrata K M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi keempat.
Jakarta: Interna Publishing. Hal: 988-992.
7. Hudoyo A. 2007. Kematian Pada Penderita Tuberkulosis Paru. Jakarta: Jurnal
Tuberkulosis Indonesia. Hal: 19-24.
8. H, Amin M, Wibisono M J, Hasan H. 2012. Dasar Dasar Diagnostik Fisik Paru.
Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga. Hal:1 75.

26