Anda di halaman 1dari 19

SEMINAR ASUHAN

SUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA An. R


DENGAN DIAGNOSA DEMAM TIFOID DI RT 9 RW 9 KELURAHAN
DARMO KECAMATAN SAWAHAN

OLEH:
1.

GEOVANI FEBRIANO

(200902037)

2.

IMELDA FENERANDA TAMBI

(201102064)

3.

NI LUH PUTU SURATNI

(201102070)

4.

SEPTY NOVA LEDIANI LIFU

(200902069)

5.

SERAVINA ANGELINA SURA

(200902071)

6.

THERESIA AVILA KURNIA

(200902073)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KATOLIK
ST. VINCENTIUS A PAULO
SURABAYA
2013

LEMBAR PERSETUJUAN

Asuhan Keperawatan Keluarga An. R Dengan Diagnosa Medis Demam Tifoid


Di Puskesmas Pakis Kelurahan Pakis Kecamatan Sawahan Surabaya ini telah
disetujui pada tanggal 20 November 2013
Menyetujui,

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Ni Nyoman W. Lestarina,S.Kep.,Ns.
NRK: 11-041

Dedy Kurniawan, S. Kep.,Ns.


NIP: 19820403 200801 1 008

Mengetahui,

Ketua Program Studi S1 Keperawatan

Yustina Kristianingsih, M.Kep.


NRK: 06-2789

LAPORAN KASUS

1.

Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada hari Jumat, tanggal 7 November 2013.

1.1

Pengumpulan Data

1.1.1 Biodata
1)

2)

Nama Kepala Keluarga : Tn. F


Umur

: 28 tahun

Alamat

: Surabaya

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan

: SMA

Agama

: Islam

Suku bangsa

: Jawa/Indonesia

Jarak dengan pelayanan kesehatan terdekat


Puskesmas

: 350 m

Posyandu

:5m

3) Susunan Anggota Keluarga

No.

Nama

L/
P

Umur

1.

Tn. F

2.

Ny. A

3.
4.
5.
6.

Agama

Pendidikan

Pekerjaan

28 thn

Islam

SMA

30 thn

Islam

SMA

An. R
An. F
Tn. A

P
L
L

6 thn
9 bln
68 thn

Islam
Islam
Islam

TK B
SMA

Ny. T

60 thn

Islam

SMA

Wiraswasta
Ibu rumah
tangga
Swasta
Ibu rumah
tangga

Hubungan
Keluarga

Ket

KK

Sehat

Istri

Sehat

Anak
Anak
Ayah

Sakit
Sehat
Sehat

Ibu

Sehat

4) Genogram
Tn. A
68 th

32 th

31 th

30 th

Ny. T
60 th

Tn. F
28 th

27 th

59 th

26 th

Ny. A
30 th

54 th

27 th

An. F
9 bln

An. R
6 th

Keterangan :
: Laki-laki

: Hubungan menikah

: Perempuan

: Tinggal serumah

:Klien

5)

Tipe Keluarga
Keluarga ini termasuk keluarga besar (extended family) dimana keluarga ini

terdiri dari keluarga inti yaitu: suami (kepala keluarga), istri, dan anak ditambah
kakek dan nenek.
6)

Status Sosial Ekonomi


Dalam keluarga ini sumber penghasilan hanya berasal dari Tn. F yang bekerja

sebagai wiraswasta (pedagang) dan Tn. A yang bekerja sebagai penyiar radio, yaitu
gaji Tn. F Rp. 1.500.000,-/bulan dan gaji Tn. A Rp. 800.000,-/bulan, karena Ny. A
dan Ny. T adalah ibu rumah tangga. Keluarga Tn. F tidak memiliki tabungan untuk
tunjangan kesehatan dan kartu untuk jaminan kesehatan. Menurut Tn. F, pendapatan
yang diperoleh sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fasilitas yang
dimiliki adalah TV, kulkas, mesin cuci, dan satu motor.
7)

Aktivitas Rekreasi Keluarga


Keluarga Tn. F sering berkumpul saat makan malam dan menonton tv dan

sering menyempatkan waktu untuk pergi berekreasi bersama di dalam kota.


8)

Kegiatan Dalam Kehidupan Sehari-hari

(1)

Kebiasaan Kebersihan Perorangan


An. R melakukan Hygiene perseorangan secara mandiri, mandi 2 kali sehari

dan ganti pakaian setiap kali mandi dan saat mau tidur malam, menyikat gigi 2 kali

sehari, mencuci rambut setiap hari. Ny. A mengungkapkan tidak pernah


membiasakan An. R untuk mencuci tangan sehingga An. R jarang untuk mencuci
tangannya sebelum dan sesudah makan. Dan kebiasaan kebersihan perorangan
keluarga yang lain yaitu menyikat gigi 2 kali sehari, mencuci rambut 2-3 kali
semingggu, mengganti baju setiap habis mandi.
(2)

Kebiasaan Tidur / Istirahat


An. R bangun pagi pukul 08.00 WIB. Ny. A mengungkapkan, An. R jarang

untuk istirahat siang. Waktu tidur siang digunakan untuk bermain bersama temanteman seumurnya. An. R tidur malam hari pukul 22.00 WIB.
(3)

Kebiasaan Makan dan Minum


An. R makan 3x sehari dengan menu nasi dan lauk saja, karena An. R tidak

suka makan sayuran. Ny. A mengungkapkan An. R lebih suka makan jajanan yang
dijual di depan sekolah (di pinggir jalan) seperti ciki-ciki, sosis, naget. An. R setiap
hari (24 jam) menghabiskan air

putih 5 gelas dan setiap pagi dan sore

mengkonsumsi teh manis. Saat sakit An. R merasa mual dan muntah sehingga tidak
mau makan tapi saat pengkajian An. R sudah mulai makan seperti biasanya.
Kebiasaan makan keluarga yang lain yaitu 2-3 kali sehari dengan menu yang sama
dengan An. R.
(4)

Eliminasi
An. R BAK (Buang Air Kecil) dalam sehari 5 x/hari warna kuning jernih. An.

R BAB (Buang Air Besar) 3-4 x/minggu dengan konsistensi lembek, warna kuning.
Keluarga An. R yang lain biasanya BAK (Buang Air Kecil) 7 x sehari dan BAB
(Buang Air Besar) 1x sehari.
(5)

Aktivitas
An. R ke sekolah (TK B) pukul 09.30-12.00 WIB. Waktu sore hari setelah

mandi digunakan untuk nonton bersama keluarga. An. R jarang belajar malam hari,
biasanya ia mengerjakan pekerjaan rumah setelah pulang dari sekolah. Selain ke
sekolah, An. R juga mengikuti kegiatan pengajian di masjid setiap hari senin dan
jumat. Saat sakit, An. R diistirahatkan di rumah selama 2 hari.

1.1.2 Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1)

Tahap Perkembangan Keluarga


Keluarga Tn. F saat ini sedang memasuki tahap perkembangan keluarga ke-4

yaitu tahap perkembangan keluarga dengan anak sekolah.


2)

Tugas Perkembangan Keluarga


Pada tahap ke 4 ini keluarga memiliki tugas perkembangan yaitu

mensosialisasikan anak-anak misalnya dengan mengijinkan anaknya untuk bermain


3

bersama teman-teman seusianya di sekitar rumah, termasuk meningkatkan prestasi


sekolah dengan memberikan pujian dan hadiah jika anaknya memperoleh prestasi di
sekolah, mempertahankan hubungan pernikahan yang memuaskan, dan memenuhi
kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga. Pemenuhan tugas pekembangan
keluarga Tn. F sudah dapat terpenuhi.
3)

Riwayat Kesehatan Anggota Keluarga

(1)

Riwayat kesehatan dahulu


Ny. A mengungkapkan An. R sering sakit batuk dan pilek sejak ia kecil dan Ny.

A sering membawanya untuk berobat ke Puskesmas. Saat usia 30 bulan (2 tahun)


An. pernah di diagnosa oleh dokter menderita penyakit demam typhoid. Setelah
melakukan pengobatan, kemudian An. A sembuh.
(2)

Riwayat kesehatan keluarga


Tn. F mengungkapkan keluarganya tidak pernah mengalami penyakit serius

selain ayahnya yang menderita DM sejak 10 tahun yang lalu. Di dalam keluarga
terdapat 1 balita yaitu An. F. Imunisasi dasar An. F sudah lengkap tapi saat ini sedang
dalam keadaan sehat.
(3)

Riwayat kesehatan sekarang


An. R mulai demam sejak tanggal 2 November 2013 dan oleh Ny. A pasien

diberikan kompres air hangat. Karena demamnya tidak turun, Ny. A pun membeli
obat penurun panas di warung. Pada tanggal 4 November 2013, Ny. A membawa An.
R ke puskesmas karena demamnya belum turun juga, batuk dan pilek, kadang
muntah, oleh dokter dianjurkan untuk memeriksa Laboratorium dengan hasil DL
(darah lengkap): Hb 11,6, Leukosit 8.700, PCV 34,5 %, Trombosit 334.000 dan
Widal: Typus O 1/160, Typhus H Negative, PA Negative, dan PB 1/160 dan pasien
diberikan obat Cotrimoxasol syrup dengan dosis 2x1, Pamol 3x tab, GG 3x tab,
dan CTM 3x tab. Berdasarkan hasil Laboratorium An. R di diagnosis terkena
demam tifoid. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 7 November 2013 An. R sudah
tidak demam lagi.
(4)

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum:
Kesadaran : komposmentis
BB

: 20 Kg

TB

: 121 cm

TTV :
a.

Nadi

: 78x/menit

b.

Suhu

: 36,90 C

c.

RR

: 21x/menit
4

1.

Kepala dan Leher

Rambut

: bersih, lurus dan tidak rontok, tidak ada nyeri tekan pada kepala,
dan tidak teraba massa atau benjolan.

Mata

: konjungtiva tidak anemi, sklera putih.

Hidung

: hidung bersih, simetris, tidak ada nodul, tidak ada nyeri tekan.

Telinga

: bersih, simetris.

Mulut

: bersih, terdapat karies gigi, terdapat gigi yang tanggal, lidah


tampak kotor.

Leher

: tidak terjadi deformitas pada trakea, tidak teraba pembesaran


kelenjar tiroid arteri karotis teraba kuat.

2.

Dada

Bentuk dada : bentuk dada tampak normal,


Paru-paru

(1)

Inspeksi

: tidak tampak adanya retraksi dinding dada

(2)

Auskultasi

: terdengar bunyi vesikuler pada semua lapang


paru.

(3)

Perkusi

: terdengar suara sonor pada kedua lapang paru

(4)

Palpasi

: tidak teraba nodul, tidak ada nyeri tekan, teraba


getaran yang sama pada pemeriksaan fremitus vokal.

Jantung

: Suara jantung terdengar lup dup pada mid


clavikula sinistra ICS 4-5.

(5)

Abdomen

Inspeksi

: tidak terdapat distensi abdomen, tidak ada asites, tiadak ada lesi

Auskultasi

: bising usus 25x/menit,

Perkusi

: terdengar bunyi timpani.

Palpasi

: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa.

(6)

Muskuloskeletal

Ekstremitas atas

: tidak terdapat adanya deformitas

Ektremitas bawah

: tidak terdapat adanya deformitas

Skala kekuatan otot:

(7)

Integumen : kulit teraba hangat dan kering.

1.1.3 Lingkungan
1)

Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati Tn. F sekeluarga adalah sebuah rumah yang dibuat

permanen berukuran 21x5 m2 yang hanya terdiri dari 1 lantai dan lantai terbuat dari
keramik. Atap rumah terbuat dari genteng. Dinding rumah tersebut terbuat dari
tembok bata yang di cat. Pencahayaan didalam rumah cukup terang. Di dalam rumah
tersebut terdapat 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruang tengah, 1 ruang makan, 1
dapur, 1 kamar mandi dan 1 toilet . Setiap kamar memiliki jendela tapi jendelanya
tidak bisa dibuka karena berbenturan dengan tembok pembatas rumah. Di sebelah
belakang kamar tidur tersebut terdapat dapur, dan sebelah kanan dapur terdapat kamar
WC dan kamar mandi. Air yang digunakan oleh keluarga ini adalah air PDAM yang
digunakan untuk memasak, mencuci piring, mencuci peralatan masak, mencuci
pakaian, dan mandi, sedangkan air untuk minum, Tn. F sekeluarga menggunakan air
isi ulang. Sampah dibuang di tempat sampah yang setiap 2 kali dalam seminggu akan
diangkut oleh petugas sampah.
Denah rumah Tn. F:

Septi Tank
Teras Rumah
Kamar Tidur 1

Ruang Tamu

Ruang Tengah
Kamar Tidur 2
Kamar Makan
Kamar Tidur 3

WC

2)

Kamar
Mandi

Dapur

Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW


Keluarga Tn. F tinggal di komunitas masyarakat yang mayoritas dari suku jawa

dengan jarak antara rumah satu dengan rumah lain berdempetan. Jalan menuju rumah
Tn. F berpaving sehingga memudahkan keluarga untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dan pendidikan. Lingkungan RT tempat Tn. F tinggal, memiliki kerukunan
hidup yang baik antara warga. Tn. F mengungkapkan bila ada salah satu tetangga
memiliki hajatan/syukuran, maka tetangga yang lain akan ikut berpartisipasi
membantu. Rata-rata warga RT berprofesi sebagai karyawan swasta dan pedagang.
6

3)

Mobilitas Geografi
Keluarga Tn. F menempati tempat tinggal mereka yang sekarang ini sudah

lama. Rumah tersebut merupakan rumah kedua orangtuanya. Sedangkan saudarasaudara lainnya sudah pergi meninggalkan rumah untuk menempati tempat tinggal
yang baru.
4)

Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Ny. A mengungkapkan apabila ada hari raya, seluruh keluarga besar sering

berkumpul untuk merayakannya bersama. Keluarga Tn. F juga sering mengikuti


kegiatan di masyarakat seperti kerja bakti, acara hajatan, dan Ny. T juga mengikuti
arisan ibu-ibu di lingkungannya.
5)

Sistem Pendukung Keluarga


Keluarga Tn. F tidak memiliki kartu jaminan kesehatan seperti ASKES,

JAMKESMAS maupun SKTM sehingga berobat ke pelayanan kesehatan dengan


biaya sendiri.

1.1.4 Struktur Keluarga


1)

Pola Komunikasi Keluarga


Dalam berkomunikasi, keluarga ini menggunakan bahasa indonesia dan bahasa

daerah (jawa), pola komunikasi yang dipakai dalam keluarga Tn. F adalah sistem
terbuka (musyawarah), Tn. F mengungkapkan bila ada masalah dalam keluarga selalu
dibicarakan dengan kedua orangtua dan istrinyanya dan diselesaikan secara bersama.
2)

Struktur Kekuatan Keluarga


Tn. F mengungkapkan ia berperan sebagai kepala keluarga, tapi pengambilan

keputusan dilakukan setelah dibicarakan dengan Ny. T. Dalam menangani kesehatan


An. R, keputusan diambil oleh kedua orangtua.

1.1.5 Fungsi Keluarga


1)

Fungsi Afektif
Tn. F mengungkapkan dalam keluarga hubungan kasih sayang antar anggota

keluarga terjalin baik. Tn.F sangat dekat dengan anak-anaknya. Tn. F selalu
mendukung semua kegiatan istrinya dan anaknya asal bersifat positif. Tn. F juga
sering mengajarkan anak-anaknya untuk saling menyayangi dan menghormati orang
usianya yang lebih tua.
2)

Fungsi Sosialisasi
Hubungan antara keluarga baik, di dalam keluarga ini tampak kepedulian

anggota keluarga dan saling menyayangi satu sama lain. Tn. F selalu mengajarkan
anaknya untuk bersahabat dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan status sosial.
7

Selain itu hubungan antara Tn. F dengan kerabat yang lain juga terjalin akrab hal itu
dibuktikan dengan seringnya Tn. F sekeluarga berkunjung ke rumah saudarasaudaranya yang lain. Keluarga ini juga membina hubungan baik dengan tetangga di
sekitar rumahnya, terbukti Tn. F selalu menyempatkan untuk mengikuti kegiatan
yang diadakan oleh masyarakat sekitar.
3)

Fungsi Perawatan Kesehatan


Keluarga mengungkapkan bahwa seseorang dikatakan sakit apabila badan

terasa tidak enak dan tidak bisa bekerja. Sedangkan sehat adalah dapat melakukan
kegiatan seperti biasanya.
(1)

Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan


Ny. A mengungkapkan tidak pernah mendapat informasi tentang demam tifoid

dan ia tidak tahu tentang pengertian, penyebab, tanda dan gejala, dan pencegahan dari
penyakit yang dialami An. R (demam tifoid). Jika suhu anaknya meningkat atau pun
anaknya mulai terlihat lemah ia segera membawa anaknya berobat ke puskesmas.
(2)

Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan


Ny. A mengungkapkan bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit akan

langsung berobat ke puskesmas atau hanya dengan membeli obat penurun panas yang
dijual di warung.
(3)

Kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit


Ny. A mengungkapkan sudah memberikan obat kepada An. R sesuai dengan

anjuran dokter serta makanan lunak. Saat sakit, An. R diistirahatkan di rumah (2 hari
tidak masuk sekolah).
(4)

Kemampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan


Keluarga Tn. F dapat menyediakan tempat yang nyaman dan aman untuk

keluarga, seperti menggunakan air PDAM sebagai sumber air bersih dan mengelola
air yang dikonsumsi dengan cara dimasak terlebih dahulu. Selain itu, tempat
penampungan air juga ditutup.
(5)

Kemampuan memanfaatkan fasilitas kesehatan


Jarak puskesmas dari rumah Tn. F 350 m, jika ada keluarga yang sakit

langsung dibawa ke puskesmas. Dan keluarga ini juga tidak memiliki pengalaman
yang tidak menyenangkan dengan pelayanan kesehatan.
4)

Fungsi Reproduksi
Tn.F dan Ny. T merupakan pasangan usia subur. Ny. A merupakan

akseptor KB dengan jenis KB Pil.

1.1.6 Stress dan Koping Keluarga


1)

Stressor Jangka Panjang


Tn.F mengungkapkan sangat cemas dan khawatir dengan keadaan anaknya
yang sering sakit.

2)

Stressor Jangka Pendek


Saat dikaji Tn. F mengungkapkan cemas jika sakit An. R akan kambuh lagi.

3)

Strategi koping dalam mengatasi stressor.


Tn.F mengungkapkan saat ini hanya bisa berdoa semoga selalu diberi kesehatan
bagi keluarganya khususnya anak-anaknya dan berusaha memberikan yang
terbaik untuk kesehatan anaknya.

1.1.7 Harapan Keluarga


Keluarga Tn. F berharap agar An. R tidak sakit-sakit lagi dan juga berharap
semoga semua anggota keluarganya tetap diberi kesehatan oleh Tuhan Yang Maha
Esa.

1.2

Analisa Data
No.

1.

2.
NO.
1.

Data

Masalah

. Subjektif:
Ny.
A
mengungkapkan tidak
pernah
mendapat
informasi
tentang
demam tifoid.
Ny.
A
mengungkapkan
ia
tidak tahu tentang
pengertian, penyebab,
tanda dan gejala, dan
pencegahan
dari
penyakit yang dialami
An. R (demam tifoid).
Ny.
A
mengungkapkan tidak
pernah membiasakan
An. R untuk mencuci
tangan
Objektif:
An. R jarang mencuci
tangan sebelum dan
sesudah makan.
An.
A
pernah
menderita
demam
tipoid saat berusia 2
tahun.

Defisiensi
Pengetahuan

Kemungkinan
Penyebab
Kurangnya
terpajan oleh
informasi
kesehatan

Ketidakmampuan
Keluarga
mengenal masalah
kesehatan

Defisiensi
pengetahuan

Diagnosa Keperawatan
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam mengenal masalah kesehatan yang ditandai dengan Ny. A
mengungkapkan tidak pernah mendapat informasi tentang demam tifoid,
Ny. A mengungkapkan ia tidak tahu tentang pengertian, penyebab, tanda
dan gejala, dan pencegahan dari penyakit yang dialami An. R (demam
tifoid).

10

3.

PERENCANAAN

Tujuan
DP

1.

Defisiensi
pengetahuan
berhubungan
dengan kurangnya
terpajan
oleh
informasi kesehatan
tentang
demam
typhoid
yang
ditandai dengan Ny.
A mengungkapkan
tidak
pernah
mendapat informasi
tentang
demam
tifoid,
Ny.
A
mengungkapkan ia
tidak tahu tentang
pengertian,
penyebab, tanda dan
gejala,
dan
pencegahan
dari
penyakit
yang
dialami
An.
R

Kriteria/Evaluasi

Umum

Khusus

Setelah dilakukan
kunjungan rumah
selama
3
kali
pertemuan
diharapakan pasien
dan keluarga pasien
mampu mencegah
terjadinya
kekambuhan
penyakit
demam
tifoid pada An. R.

Setelah
di
berikan
informasi
kesehatan
diharapkan pasien dan
keluarga pasien mampu:
1. Menjelaskan tentang
pengertian
dan
penyebab
terjadinya
demam thypoid.
2. Menjelaskan tentang
tanda dan gejala dari
demam thypoid.
3. Menjelaskan tentang
cara penularan demam
thypoid.
4. Menjelaskan tentang
penatalaksanaan
demam thypoid.
5. Mempraktekkan cara
mencuci tangan yang
benar dengan tepat.

Kriteria

Verbal

Verbal

Verbal

Standar

Rencana/ Intervensi

Pasien dan keluarga pasien


mampu:
1. Menjelaskan
tentang 1. Jelaskan tentang pengertian dan
pengertian dan penyebab
penyebab demam thypoid.
terjadinya
demam
typhoid, yaitu infeksi akut
yang menyerang saluran
pencernaan yang disertai
demam selama 1 minggu
dan
disebabkan
oleh
kuman Salmonella typhi.
2. Menyebutkan
5-6 dari 2. Jelaskan tentang tanda gejala
tanda dan gejala dari
demam thypoid.
demam thypoid yaitu
adanya demam selama 1
minggu, nyeri perut di
daerah ulu hati, mual
muntah, pusing, lidah
tampak
putih,
nafsu
makan menurun.
3. Menyebutkan 3 dari 5 3. Jelaskan tentang penularan
cara penularan demam
demam thypoid.
thypoid, yaitu Penularan
melalui
makanan,

11

No.

(demam tifoid).

Verbal

Psikomotor

12

minuman serta alat makan


yang
sudah
terkontaminasi
dengan
kumam salmonella, lewat
lalat, lewat BAB.
4. Menyebutkan 2 dari 3
4. Jelaskan pada pasien dan
penatalaksanaan
pada
keluarga
tentang
pasien dengan demam
penatalaksanaan pada pasien
typhoid yaitu perawatan di
dengan demam typhoid.
rumah (misalnya, tirah
baring sampai minimal 7
hari
bebas
demam,
aktivitas dilakukan secara
bertahap sesuai dengan
pulihnya
kekuatan
pasien), diet makanan
lunak (makanan rendah
serat) dan lauk pauk yang
rendah
selulosa,
dan
pengobatan
yang
dikonsumsi sesuai dengan
anjuran dokter.
5. Mempraktekkan
cara
5. Ajarkan pasien dan keluarga
mencuci tangan yang
pasien cara mencuci tangan yang
benar dengan tepat, yaitu
benar.
mencuci tangan dengan
sabun dengan 6 langkah
cuci tangan yang benar.
6. Observasi tingkat pengetahuan
dan kemampuan pemahaman
keluarga pasien.

4.

PELAKSANAAN

No.

Tujuan Khusus

Tanggal

Implementasi

Evaluasi

1.

Setelah
di
berikan
informasi
kesehatan
diharapkan pasien dan
keluarga pasien mampu:
1. Menjelaskan tentang
pengertian
dan
penyebab terjadinya
demam thypoid.
2. Menjelaskan tentang
tanda dan gejala dari
demam thypoid.
3. Menjelaskan tentang
cara penularan demam
thypoid.
4. Menjelaskan tentang
penatalaksanaan
demam thypoid.
5. Mempraktekkan cara
mencuci tangan yang
benar dengan tepat.

8 November 2013

1. Menjelaskan tentang pengertian demam


thypoid infeksi akut yg menyerang saluran
pencernaan yg disertai demam selama 1
minggu dan disebabkan oleh kuman
Salmonella typhi.
2. Menjelaskan tentang tanda gejala demam
thypoid tandanya adanya nyeri perut di
daerah ulu hati, mual muntah, pusing, demam
sore hingga malam hari, (> 3 hari), sakit
kepala, lemah, nafsu makan menurun, dapat
pula terjadi kesulitan BAB, nyeri sendi, nyeri
telan, berak berdarah, dapat terjadi
pembesaran hati atau pembesaran limpa,
lidah tampak putih
3. Menjelaskan tentang penularan demam
thypoid yaitu penularan melalui makanan
dan minuman serta alat makan yang sudah
terkontaminasi dgn kuman salmonella, jari,
muntahan, BAB, lalat.
4. Menjelaskan tentang penatalaksanaan pada
pasien dengan demam typhoid yaitu
perawatan di rumah (misalnya, tirah baring
sampai minimal 7 hari bebas demam,
aktivitas dilakukan secara bertahap sesuai
dengan pulihnya kekuatan pasien), diet
makanan lunak (makanan rendah serat)

Tanggal 12 November 2013


S:
- Ibu
pasien
mampu
mempraktekkan kembali
cara mencuci tangan yang
benar
yang
telah
diajarkan dengan tepat.
O: A: Masalah teratasi.

13

karena adanya peradangan pada intestinal,


makanan yang tidak merangsang dan tidak
menimbulkan banyak gas, lauk pauk yang
rendah
selulosa
untuk
menghindari
komplikasi perdarahan usus atau perforasi
usus, dan pengobatan yang dikonsumsi sesuai
dengan anjuran dari dokter.
5. Mengajarkan cara mencuci tangan yang
benar dengan tepat, yaitu mencuci tangan
dengan sabun dengan 6 langkah cuci tangan
yang benar.
6. Mengobservasi tingkat pengetahuan dan
kemampuan pemahaman ibu pasien.

14

5.

CATATAN PERKEMBANGAN

Diagnosa Keperawatan

Defisiensi pengetahuan
berhubungan dengan
kurangnya
terpajan
oleh
informasi
kesehatan
tentang
demam typhoid yang
ditandai dengan Ny. A
mengungkapkan tidak
pernah
mendapat
informasi
tentang
demam tifoid, Ny. A
mengungkapkan
ia
tidak tahu tentang
pengertian, penyebab,
tanda dan gejala, dan
pencegahan
dari
penyakit yang dialami
An. R (demam tifoid).

Tanggal
11 November 2013

15

S.O.A.P.I.E
S:
- Ibu pasien mampu
menjelaskan pengertian
dan 6 tanda dan gejala
demam typhoid yaitu
mual muntah, pusing,
demam sore hingga
malam hari (> 3 hari),
sakit kepala, lemah,
nafsu makan menurun.
- Ibu pasien mampu
menyebutkan
3
penatalaksanaan pasien
demam typhoid yaitu
diet makanan lunak,
tirah baring sampai
minimal 7 hari bebas
demam,
dan
pengobatannya
diminum secara teratur
sesuai anjuran.
- Ibu
pasien
mengungkapkan lupa
tentang penyebab, cara
penularan, dan dan
hanya menyebutkan 1
cara
pencegahan
terjadinya
demam
typhoid.
- Ibu
pasien
dan
mengungkapkan lupa
cara mencuci tangan
yang benar yang telah
diajarkan.
O: A:
Masalah
teratasi
sebagian.
P: Lanjutkan intervensi 1,
2, 4.
I:
1.Menjelaskan
tentang
penyebab
demam
typhoid yaitu kuman
Salmonella typhi.
2.Menjelaskan
tentang
penularan
demam
thypoid
Penularan
melalui
makanan,
minuman serta alat
makan
yg
sudah
terkontaminasi
dgn
kumam salmonella.
4. Mengajarkan
cara
mencuci tangan yang
benar dengan tepat,

Defisiensi pengetahuan
berhubungan dengan
kurangnya
terpajan
oleh
informasi
kesehatan
tentang
demam typhoid yang
ditandai dengan Ny. A
mengungkapkan tidak
pernah
mendapat
informasi
tentang
demam tifoid, Ny. A
mengungkapkan
ia
tidak tahu tentang
pengertian, penyebab,
tanda dan gejala, dan
pencegahan
dari
penyakit yang dialami
An. R (demam tifoid).

12 November 2013

16

yaitu mencuci tangan


dengan sabun dengan 6
langkah cuci tangan
yang benar.
E: ibu pasien mampu
mnyebutkan
penyebab
demam typhoid yaitu
kuman salmonella typhi,
cara penularan demam
typhoid yaitu makanan
dan minuman serta alat
makan
yang
sudah
terkontaminasi
dgn
kuman salmonella, jari,
lalat
dan
cara
pencegahannya
yaitu
masak makanan hingga
matang dan cuci tangan
dengan sabun sebelum
dan sesudah makan, ibu
pasien
dan
pasien
mengungkapkan
masih
lupa cara mencuci tangan
yang benar yang telah
diajarkan.
S:
- Ibu pasien dan pasien
mampu
mempraktekkan
kembali cara mencuci
tangan yang benar yang
telah diajarkan dengan
tepat.
O: A: Masalah teratasi.

PEMBAHASAN

Menurut jurnal Typhoid Fever: Hurdles To Adequate Hand Washing For


Disease Prevention Among The Population For A Peri-Urban Informal Settlement In
Fiji menunjukan penyakit tifoid adalah endemik di Fiji ditunjukan oleh 1847 kasus
yang dilaporkan oleh laboratorium pada Januari 2008 sampai Juli 2012, sedangkan
penduduk Fiji sendiri berjumlah 840.00 hal ini dikarenakan kurangnnya akses untuk
air bersih. Mayoritas kasus demam tifoid (93%) yang ditampilkan pada rumah sakit
pada 2008 adalah mayoritas laki-laki. Bagi sebagian responden pengetahuan
mengenai faktor resiko tifoid baru diperoleh dari media massa, namun beberapa
responden masih bingung mengenai faktor resiko umum dalam kasus tifoid dan
dalam tindakan mencuci tangan. Meskipun banyak responden yang dapat membaca
pesan kesehatan masyarakat namun perilaku mereka tidak konsisten untuk berubah.
Pada saat pengkajian didapatkan data bahwa orang tua maupun anak tidak tahu
cara mencuci tangan yang benar, sehingga pada salah satu intervensi dalam kasus
tifoid dengan diagnosa defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
terpajan oleh informasi kesehatan yang dilakukan adalah tindakan cuci tangan melalui
metode penyuluhan dan demonstrasi 6 langkah cuci tangan yang benar. Pada saat
dilakukan implementasi klien dapat mengerti dan menunjukan cara cuci tangan yang
benar sesuai yang diajarkan. Terdapat kesesuaian antar fakta dan teori dimana dengan
adanya pendidikan mengenai kesehatan serta demonstrasi langsung maka diharapkan
masyarakat atau pasien dapat mengerti dengan baik.

17