Anda di halaman 1dari 5

DISKUSI

Berdasarkan hasil dari studi ini, perawatan ortodonti yang ideal harus
mencapai stabilitas dari susunan gigi insisivus dalam waktu panjang.
Terdapat kontroversi mengenai pilihan jenis perawatan ekstraksi atau non
ekstraksi yang dapat menghasilkan stabilitas tersebut. Maka dari itu, penting
untuk melakukan investigasi terhadap perubahan jangka panjang dari gigi
geligi pasien yang dirawat dengan kedua regimen perawatan tersebut.
Terdapat perbedaan usia 1 tahun 2 bulan pada T1 antara kelompok
ekstraksi dan kelompok non ekstraksi. Berdasarkan usia pada T1, sebagian
besar subjek pada sampel mengalami atau berada pada masa pubertas.
Meskipun demikian, setelah perawatan ortodonti (sekitar 2 tahun), tidak
terdapat perbedaan yang signifikan yang berasal dari perubahan
pertumbuhan skeletal.
Rata-rata indeks ketidakteraturan insisivus lebih kecil pada kelompok non
ekstraksi dibandingkan dengan kelompok ekstraksi. Kedua kelompok
menunjukan kemajuan dengan perawatan. Hal ini sudah
jelas untuk
pemilihan perawatan ekstraksi dan non ekstraksi. Obervasi pada T3 tidak
berhubungan dengan pra perawatan ketidakteratuan insisif atau insisif
berjejal. Sependapat dengan Litte et al, kami menemukan tidak adanya
korelasi pada peningkatan post retensi pada ketidakteraturan dengan
keparahan gigi berjejal sebelum perawatan.
Pada T3, susunan gigi pada maksila dalam keadaan stabil, namun gigi
insisivus mandibula mengalami relaps dengan rata-rata sebesar 1 mm pada
kedua kelompok. Hal ini dianggap sebagai relaps yang minimal oleh Little,
dan hal ini lebih kecil dibandingkan dengan hasil dari studi lain. Hal ini
mungkin dikarenakan observasi post-retensi pada studi lain berlangsung
lebih lama. Terdapat kecenderungan peningkatan gigi anterior berjejal pada
mandibula seiring berjalannya
waktu. Sebaliknya, Ludwig melaporkan
bahwa semua relaps pada gigi insisivus terjadi dalam kurun waktu 1 atau 2
tahun setelah retensi berakhir. Gardner dan Chaconas berpendapat bahwa 1
tahun merupakan waktu yang cukup untuk terjadinya relaps. Rossouw et al
dan Artun et al juga melaporkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
signifikan dari kedua kelompok. Sebaliknya, Uhde et al dan Paquette et al
menyatakan bahwa pasien non ekstraksi memiliki relaps yang paling besar.
Kahl-Nieke et al melaporkan bahwa kelompok ekstraksi mengalami lebih
banyak relaps dibandingkan dengan kelompok non ekstraksi.

Lebar intercaninus mengalami ekspansi selama perawatan, tetapi, pada


T3, lebar intercaninus mandibula mengalami relaps pada kedua kelompok.
Lebar intercaninus mandibula meningkat dengan rata-rata 1.13 mm pada
sampel pasien ekstraksi dan 0.74 mm pada sampel pasien non ekstraksi
dengan perawatan. Hasil kami sebanding dengan hasil dari Paquette et al,
Luppanapornlap dan Hohnson,, Uhde at al, BeGole et al. Menurut Gianelly,
peningkatan yang sedikit lebih besar pada pasien dengan ekstraksi premolar
ini menggambarkan pergerakan lateral karena caninus bergerak ke arah
distal menuju tempat premolar. Serupa dengan hasil studi dari Artun et al,
kami melihat tidak terdapat perbedaan antara kelompok yang signifikan
pada T3. Lebar interkaninus maksila lebih stabil dibandingkan dengan
mandibula dari T2 ke T3. Bishara et al melaporkan hasil yang serupa. Kami
menemukan tidak terdapat korelasi antara peningkatan ketidakteraturan
insusivus dan penurunan pada lebar interkaninus. Temuan ini sesuai dengan
laporan sebelumnya.
Dengan perawatan, lebar intermolar memberikan respon berbeda pada
pasien ekstraksi dan pasien non ekstraksi. Pada pasien non ekstraksi, lebar
intermolar meningkat sebagai hasil dari perawatan,
dengan sedikit
peningkatan selama periode post-retensi. Pada pasien ekstraksi, lebar
intermolar menurun selama perawatan dan sedikit meningkat pada postretensi. Pada periode post-retensi, kedua kelompok menunjukan perubahan
yang serupa. Perbedaan antara kelompok tidak terlalu signifikan. Ekstraksi
premolar menyebabkan pergerakan ke depan dari molar ke bagian yang
lebih sempit dari soket alveolarn, hal ini menyebabkan penyempitan dari
lebar intermolar. Kami melihat hanya sedikit perubahan pada T3, hal ini
mendukung konsep dari stabilitas lebar intermolar.
Lebar premolar kedua untuk pasien ekstraksi menunjukkan penurunan
dengan perawatan dan penambahan penurunan pada tahap post-retensi.
Pada kelompok non ekstraksi, peningkatan lebar dengan perawatan sedikit
berbalik pada post-retensi. Rata-rata perubahan antara kedua kelompok
tidak signifikan, hal ini serupa dengan observasi Gardner dan Chaconas.
Ada penurunan signifikan secara statistic di kedalaman lengkung dari T2 ke T3
pada kedua kelompok. Tidak ada korelasi yang tegak lurus dari gigi incisive dan gigi
incisive yang tidak teratur.
Peningkatan signifikan secara statistik pada overbite dari T2 ke T3. Penemuan ini
setuju dengan studi sebelumnya. Meningkatnya overbite pada post retensi
dilaporkan terkait dengan jumlah menurunnya selama perawatan, hanya dengan

30% sampai 50% dari koreksi dipertahankan. Saat itu sekitar 27% dalam sample
kami.
Tidak ada perubahan pada SN/MP dari T1 ke T2 dalam group non ekstraksi dan
hanya sedikit penurunan dalam group ekstraksi. Mungkin disebabkan karena
ekstraksi premolar, pergerakan gigi premolar ke arah mesial, dan rotasi
mandibula. Namun, ada penurunan signifikan pada kedua kelompok ini.
Penurunan ini mungkin karena perubahan pertumbuhan seperti yang di
laporkan oleh Nanda. Nanda juga menyatakan bahwa pasca perawatan
perubahan tulang dapat melemahkan, berlebihan, atau mempertahankan
hubungan dento-skeletal.
Sakuda dan Freitas melaporkan bahwa tingkat relapse dalam crowding
terkait dengan pola wajah. Sampel kami rata-rata sebagian besar
berdasarkan bidang mandibula dan tinggi anterior wajah. Kami tidak
menemukan korelasi antara pola pertumbuhan dan relapse pada crowding.
Inklinasi aksial pada gigi incisive rahang bawah menunjukan perbedaan
antara dua group. Pada akhir perawatan aktif, gigi incisive rahang bawah
lebih tegak pada kelompok ekstraksi dan lebih proklinasi pada kelompok
non-ekstraksi. Selama post retensi, dalam kelompok ekstraksi, gigi yang
tegak menunjukkan proklinasi sedikit, dan, dalam kelompok non-ekstraksi,
gigi seri retroklinasi. Ada kecenderungan pada gigi incisive rahang bawah
untuk kembali lagi, terutama pada pasien dengan peningkatan inklinasi
aksial. Penemuan ini dapat diartikan untuk mendukung anggapan dari Blake
dan Biby bahwa posisi awal gigi incisive rahang bawah adalah panduan
terbaik untuk posisi stabil labiolingual. Beberapa peneliti mencatat efek
kembalinya untuk gigi incisive yang salah tempat. Pada kelompok non
ekstraksi, sudut antar insisal secara signifikan menurun dengan perawatan,
dan, karena kembali lagi dari posisi gigi incisive, sudut ini secara signifikan
meningkat pada T3 . Pada kelompok ekstraksi, gigi rahang atas dan rahang
bawah menjadi tegak selama perawatan, dan sudut antar insisal lebih stabil
pada kelompok ekstraksi di T3. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada
hubungan positif finalisasi dari inklinasi gigi incisive rahang bawah dan
relapse pada crowding.
Ketidakteraturan indeks post-retensi tidak berhubungan secara signifikan
dengan variabel pengukuran atau perubahan dalam pengukuran melalui
waktu. Ini menguatkan hasil Little, yang melaporkan bahwa tidak ada
karakteristik deskriptif, seperti kelas Angle, panjang retensi, usia saat awal
perawatan, atau jenis kelamin, dan tidak ada variabel yang diukur, seperti

awal atau akhir penjajaran perawatan aktif, overbite, overjet, lebar lengkung,
atau panjang lengkung, adalah nilai dalam memprediksi hasil jangka
panjang.
Keberhasilan perawatan ortodontik dinilai oleh hasil dari stabilitas jangka
panjang. Dalam penelitian ini, kedua perawatan ekstraksi dan non ekstraksi
menunjukkan stabilitas yang baik. Namun, pasien non ekstraksi dimulai
dengan ketidakteraturan anterior minimal, sedangkan pasien ekstraksi
memiliki hasil crowding sedang. Hasil kami tidak boleh ditafsirkan sebagai
mendukung perawatan non ekstraksi untuk pasien dengan crowding sedang
ke parah. Keputusan untuk non-ekstraksi atau ekstraksi tergantung pada
diagnosis dokter dan rencana perawatan. Dari hasil ini, semua yang dapat
kita katakan adalah bahwa hasil perawatan dan stabilisasi post-retensi sama
pada kedua kelompok. Kami sebut data rata-rata, dan pasien individu
mungkin berbeda berperilaku. Parameter yang diamati pada T2 dan T3
secara klinis tetap dalam batas-batas yang stabil dapat diterima. Perubahan
minimal memperlihatkan penjajaran gigi incisive dapat dianggap berasal dari
perubahan yang natural. Hal ini diasumsikan bahwa, jika gigi terlepas dari
perawatan, ditempatkan dengan benar, hasil gigi-geligi akan cukup stabil.
Tapi gigi manusia dalam keadaan yang dinamis, terus berubah sepanjang
hidup. Tingkat relapse yang dikacaukan oleh peristiwa normal pertumbuhan
dan penuaan yang selalu mengikuti perawatan. Perubahan kraniofasial cukup
terjadi di luar 17 tahun dan disertai dengan perubahan kompensasi dalam
gigi-geligi. Ortodontis memiliki sedikit kontrol atas proses-proses biologis.
Pasien dan orang tua mereka harus diberitahu, pada awal perawatan,
diharapkan perubahan posisi gigi dalam jangka panjang. Jika ortodontis dan
pasien mereka menginginkan hasil perawatan yang stabil, retensi harus
menjadi proses seumur hidup yang menjadi tanggung jawab pasien.

RINGKASAN :

Dari hasil ini, semua yang dapat kita katakan adalah bahwa hasil
perawatan dan stabilisasi post-retensi sama pada kedua kelompok. Kami
sebut data rata-rata, dan pasien individu mungkin berbeda berperilaku.
Parameter yang diamati pada T2 dan T3 secara klinis tetap dalam batasbatas yang stabil dapat diterima. Perubahan minimal memperlihatkan
penjajaran gigi incisive dapat dianggap berasal dari perubahan yang natural.
Hal ini diasumsikan bahwa, jika gigi terlepas dari perawatan, ditempatkan

dengan benar, hasil gigi-geligi akan cukup stabil. Tapi gigi manusia dalam
keadaan yang dinamis, terus berubah sepanjang hidup. Tingkat relapse yang
dikacaukan oleh peristiwa normal pertumbuhan dan penuaan yang selalu
mengikuti perawatan. Perubahan kraniofasial cukup terjadi di luar 17 tahun
dan disertai dengan perubahan kompensasi dalam gigi-geligi. Ortodontis
memiliki sedikit kontrol atas proses-proses biologis. Pasien dan orang tua
mereka harus diberitahu, pada awal perawatan, diharapkan perubahan posisi
gigi dalam jangka panjang. Jika ortodontis dan pasien mereka menginginkan
hasil perawatan yang stabil, retensi harus menjadi proses seumur hidup
yang menjadi tanggung jawab pasien.