Anda di halaman 1dari 5

Komplikasi terapi dialisis dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:

Hipotensi, dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan dikeluarkan.


Emboli udara, merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat terjadi jika udara

memasuki sistem vaskuler pasien.


Nyeri dada, dapat terjadi karena PCO 2 menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi

darah di luar.
Pruritus, dapat terjadi karena selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme

meninggalkan kulit.
Gangguan keseimbangan dialisis, terjadi karena perpindahan cairan serebral dan
muncul sebagai serangan kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadinya lebih besar

jika terdapat gejala uremia yang berat.


Kram otot, terjadi karena cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang

ekstrasel.
Mual dan muntah, merupakan peristiwa yang sering terjadi.
1) Hemodialisa
Diperkirakan terdapat lebih dari 100.000 pasien yang akhir-akhir ini menjalin
hemodialisa. Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien
dalam keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa
hari hingga beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir atau
end stage renal disease (ESRD) yang memerluka terapi jangka panjang atau
permanen.
Tujuan hemodialisis adalah untuk mengeluarkan zat-zat nitrogen yang toksik dari
dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Terdapat 3 prinsip yang
mendasari kerja hemodialis yaitu: difusi, osmosis, dan ultrafiltrasi.
Toksin dan zat limbah di dalam darah dikeluarkan melalui proses difusi dengan cara
bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi tinggi, ke cairan dialisat dengan
konsentrasi tinggi, ke cairan dialisat dengan konsentrasi ekstrasel yang ideal.
Kelebihan cairan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran
air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradient tekanan, dimana air bergerak dari
daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke takanan yang lebih rendah
(cairan dialisat). Gradient ini dapat ditingkatkan melalui penambahan tekanan
negative yang dikenal sebagai ultrafiltrasi pada mesin dialisis. Tekanan negative
diterapkan pada alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran dan menfasilitasi
pengeluaran air.

Akses pada sirkulasi darah pasien


Kateter subklavia dan femoralis
Akses segera ke dalam sirkulasi darah pasien pada hemodialisis darurat dicapai
melalui kateterisasi subklavikula untuk pemakaian sementara. Kateter femoralis dapat
dimasukkan ke dalam pembuluh darah femoralis untuk pemakaian segera dan
sementara.
Fistula
Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan (biasanya dilakukan pada
lengan bawah). Dengan cara menghubungkan atau menyambung (anastomosis)
pembuluh darah arteri dengan vena secara side-to-side (dihubungkan antara ujung dan
sisi pembuluh darah). Fistula tersebut membutuhkan waktu 4 sampai 6 minggu untuk
menjadi matang sebelum siap digunakan. Waktu ini diperlukan untuk memberi
kesempatan agar fistula pulih dan segmenvena fistula berdilatasi dengan baik
sehingga dapat menerima jarum berlumen besar dengan ukuran 14-16. Jarum
ditusukkan ke dalam pembuluh darah agar cukup banyak aliran darah yang akan
mengalir melalui dialiser. Segmen-arteri-fistula digunakan untuk aliran darah arteri
dan segmen vena fistula digunakan untuk memasukkan kembali (reinfus) darah yang
sudah didialisis.
Tandur
Dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukkan jarum dialisis, sebuah tandur
dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau vena dari sapi,
material Gore-Tex (heterograft) atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Biasanya
tandur tersebut dibuat bila pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan
fistula.
Suatu mesin ginjal buatan atau hemodialyzer terdiri dari membrane semipermiabel
dan cairan dialisis.
Terdapat 2 (dua) tipe dasar dialyzer, yaitu:
a. Parallel plate dialyzer
Parallel plate dialyzer, terdiri dari dua lapisan selotan yang dijepit oleh dua
penyokong. Darah mengalir melalui lapisan-lapisan membran, dan cairan dialisis
dapat mengalir dalam arah yang sama seperti darah, atau dengan arah berlawanan.
b. Hollow Fiber atau capillary dialyzer
Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil, dan cairan dialisis
berlawanan dengan arah aliran darah.

Suatu sistem dialisis terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi untuk
cairan dialisis. Bila sistem ini bekerja, darah mengalir dari penderita melalui
tabung plastik (jalur arteri), melalui dialyzer hollow fiber dan kembali ke
penderita melalui jalur vena.
Dialisat kemudian dimasukkan ke dalam dialyzer , dimana cairan akan mengalirdi
luar serabut berongga sebelum keluar melalui drainase. Keseimbangan antara
darah dan dialisat terjadi di sepanjang membrane dialisis melalui proses difusi,
osmosis dan ultrafiltrasi.
Komposisi cairan dialisis diatur sedemikian rupa sehingga mendekati komposisi
ion darah normal, dan dimodifikasi agar dapat memperbaiki gangguan cairan dan
elektrolit yang sering menyertai gagal ginjal. Unsur-unsur yang umum terdiri dari
Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, asetat dan glukosa.
Urea, kreatinin, asam urat, dan fosfat dapat berdifusi dengan mudah dari darah ke
dalam cairan dialisis karena unsur-unsur ini tidak terdapat dalam cairan dialisis.
Natrium asetat yang lebih tinggi konsentrasinya dalam cairan dialisis, akan
berdifusi ke dalam darah. Tujuan menambahkan asetat adalah untuk mengoreksi
asidosis penderita uremia. Asetat dimetabolisme oleh tubuh penderita menjadi
bikarbonat. Glukosa dalam konsentrasi yang rendah (200 mg/100 ml)
ditambahkan ke dalam bak dialysis yang dapat mengakibatkan kehilangan kalori.
Heparin secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus lambat
untuk mencegah pembekuan. Bekuan darah dan gelembung udara dalam jalur
vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke aliran darah.
Waktu yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan hemodialisa adalah tiga kali
seminggu, dengan setiap kali hemodialisa 3 sampai 5 jam.
Pendidikan bagi pasien hemodialisa
Hal-hal penting dalam program pendidikan bagi pasien hemodialisa mencakup:
1. Alasan rasional dan tujuan terapi dialisis.
2. Hubungan antara obat-obat yang diresepkan dan dialisis.
3. Efek samping obat dan pedoman kapan harus memberikan dokter mengenai
efek samping tersebut.
4. Perawatan akses vaskuler: pencegahan, pendeteksian, dan penatalaksanaan
komplikasi yang berkaitan dengan akses vaskuler.
5. Dasar pemikiran untuk diet dan pembatasan cairan: konsekuensi akibat
kegagalan dalam mematuhi pembatasan ini.

6. Pedoman pencegahan dan penatalaksanaan berlebihan volume cairan.


7. Strategi untuk pendeteksian, penatalaksanaan dan pengurangan gejala pruritus,
neuropati serta gejala-gejala lainnya.
8. Penatalaksanaan komplikasi dialisis yang lain dan efek samping terapi
(dialisis, pembatasan diet, dan obat-obatan).
9. Strategi untuk menangani atau mengurangi kecemasan serta ketergantungan
pasien sendiri dan anggota keluarga mereka.
10. Pengaturan financial untuk dialisis: strategi untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber-sumber financial.
11. Strategi untuk mempertahankan kemandirian dan mengatasi kecemasan
anggota keluarga
Proses keperawatan pada pasien yang mengalami hemodialisa
a. Pengkajian
1) Aktifitas dan istirahat :
Gejala
: kelelahan, kelemahan, dan malaise.
Tanda
: kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2) Sirkulasi :
Gejala
: riwayat hipertensi lama atau berat; palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda
: hipertensi; nadi kuat; edema jaringan dan pitting pada kaki, dan
telapak tangan.
Disritmia jantung;
Friction rub pericardial (respons terhadap akumulasi cairan)
Pucat; kulit coklat kehijauan, kuning.
Kecenderungan perdarahan.
3) Integritas ego :
Gejala
: faktor stres (misalnya financial, hubungan dan sebagainya), perasaan
tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
Tanda
: menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan
kepribadian.
4) Eliminasi
Gejala
: penurunan frekuensi urine, oliguri, atau anuri, distensi abdomen,
diare dan konstipasi.
Tanda
: perubahan warna urine (kuning pekat, merah, atau coklat), oliguri
atau anuri.
5) Makanan dan cairan :
Gejala
: peningkatan berat badan cepat (edema), penurunan berat badan
(malnutrisi), anoreksia, nyeri epigastrium, mual/muntah, napas bau amoniak.
Tanda
: distensi abdomen (asites), pembesaran hati (hepatomegali)
Perubahan turgor kulit, lembab.

Edema.
Ulserasi gusi, perdarahan gusi atau lidah.
Penurunan kekuatan otot, penurunan lemak subkutan, penampilan tidak bertenaga.
6) Neurosensori :
Gejala
: sakit kepala, penglihatan kabur
Kram otot (kejang), rasa terbakar pada telapak kaki.
Kesemutan dan kelemahan, khususnya ekstremitas bawah (neuropati perifer)
Tanda
: gangguan status mental (misalnya penurunan lapang perhatian,
ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, penurunan kesadaran,
stupor atau koma.
Tanda chvostek dan trousseau positif
Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.
Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
7) Nyeri dan kenyamanan :
Gejala
: nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki.
Tanda
: perilaku berhati-hati (distraksi), gelisah.

Anda mungkin juga menyukai