Anda di halaman 1dari 74

HERU MUARA SIDIK

Draft
MANAJEMEN
BISNIS FOTOGRAFI

Penerbit
PicsMasterClass

MANAJEMEN
BISNIS FOTOGRAFI

Oleh: Heru Muara Sidik


Copyright 2011 by Heru Muara Sidik

Penerbit

PicsMasterClass
herusidik@picsmaster.info

Desain Sampul:
.

Diterbitkan melalui:
picsmaster

Pengantar
Rangkaian tulisan ini merupakan sebuah catatan pelajaran yang saya buat saat saya di landa
kesepian akan sebuah aktivitas rutin yang tiba tiba lenyap, manakala Ramadhan 1432H, akan
segera berakhir. Kerinduan akan kesibukan ini, saya tuangkan dari ruang belajar virtual yang
saya ciptakan dalam benak pikiran yang masih serba dangkal. Namun begitu, semua ini
merupakan bagian dari misi dan visi saya tentang masa depan bisnis fotografi yang kelak akan
menjadi bagian hidup saya yang tersisa ketika saya menjalani pensiun kelak.
Rangkuman ini, hanyalah sebuah pembuka inspirasi bagi saya sendiri untuk menulis lebih
lengkap lagi dengan ilustrasi dan detil implementasinya. Untuk bagian tulisan yang lebih
lengkap, tentu saja tidak dapat saya sajikan sekarang, namun akan saya siapkan secara bertahap
agar bisa dipelajari oleh semua orang dari berbagai disiplin ilmu.
Bukan maksud saya untuk menggurui ataupun merasa lebih pandai dari para pembaca tulisan ini,
namun justru untuk mendorong saya belajar dari para profesional dan wirausahawan yang sudah
sukses di dunia fotografi. Untuk itu ijinkan saya untuk belajar dari Anda semua melalui
komentar dan masukan penting mengenai tulisan ini. Anda mendapatkan rangkuman ini, dengan
GRATIS, sehingga tidak ada salahnya jika saya minta sedikit bantuan dari anda. Bantu saya
dengan memberikan masukan dan saran melalui link yang tersebar sepanjang halaman halaman
buku elektronik ini, dan bantu saya dengan sebuah PERTANYAAN, KRITIK dan SARAN,
sehingga saya akan mampu melengkapi semua kekurangan dalam tulisan ini.
Mudah mudahan karya ini bisa bermanfaat buat anda, dan sebarkan buku elektronik ini pada
siapa saja yang anda anggap membutuhkannya, dengan tidak mengurangi atau menambahkan
informasi lain selain yang sudah ada disini.
Terimakasih tak terhingga saya haturkan juga kepada Fotografer.net yang telah sekian lama
menjadi bagian dari proses belajar yang saya lalui, guna mendalami fotografi.
Karya ini kupersembahkan untuk belahan jiwaku Utari Patwinindari dan buah cinta kami, Zahrah
Yuthi Afina, Muhamad Irfan Sidik, Shafira Ayu Ramadhani dan Mutiara Ayu Shakira, yang
senantiasa setia dan senang mendengarkan keluh kesah dan suka cita saya dalam mengarungi
kehidupan yang panjang ini. Begitu juga doa dan semua jerih payah ini kami haturkan untuk
Almarhum orang tua kami yang telah wafat; Bapak Drs. H. Sudarso bin Warjat Wangsamidjaja,
dan Ibu Musliha binti Sudjad, serta Almarhum Mertua kami Bapak Drs. H. Slamet Wahjudi bin
Prawirohardjo, yang ingin agar Anak anaknya menjadi anak yang soleh, dan ilmunya memberi
manfaat, serta amal jariahnya bisa menjadi tabungan di akhirat kelak.
Salam,
Heru M Sidik

Pendahuluan
Ingin Kaya Raya dari Bisnis fotografi?
Boleh percaya boleh tidak, banyak yang ingin kaya dari bisnis fotografi tapi tidak pernah
tercapai, dan banyak yang sudah sangat kaya dari bisnis fotografi tapi kita tidak pernah
tahu rahasia mereka bisa berhasil. Itu yang membuat saya ingin belajar fotografi lebih
banyak lagi, terutama untuk membangun kewirausahaan di bidang fotografi.
Menurut saya:
1. Bisnis membutuhkan pengetahuan manajemen dan keuangan, yang merupakan "sisi
lain" dari sebuah kewirausahaan, sehingga bisa menjual karya seni dengan nilai tambah
yang luar biasa, bukan menjual foto seharga ongkos cetak dan uang lelah.
2. Fotografer adalah seorang seniman, yang sayangnya hidup dalam dunia yang begitu
dicintainya, dengan sedikit pamrih asal bisa hidup dan menikmatinya rasanya sudah
cukup. Banyak saya dengar fotografer yang ingin kaya namun jarang yang belajar
mendalami seluk beluk bisnisnya dari "sisi lain" yang belum dikuasainya.
3. Menggabungkan dua sisi seni+manajemen administratif, bukan suatu yang mudah,
namun bisa dilakukan dengan menyusun bisnis model yang tepat dan mencari mitra yang
tepat untuk menutupi sisi kekurangannya, satu sama lain. Namun begitu, jarang ada
kerjasama yang langgeng dari dua sisi yang berbeda ini, karena ketika berhasil, maka
satu sama lain akan saling meremehkan dengan berkata:"keberhasilan ini adalah hasil
kerja keras saya, tanpa anda saya mampu meraih sukses ini!". Justru kalo gagal malah
gak masalah, karena sama sama saling menyalahkan pihak lain, seolah dirinya sendiri
yang paling benar... he..he..he.. itu manusiawi sih.
4. Kenyataannya, diantara banyak pelaku yang jarang sukses, ada segelintir orang yang
sukses luar biasa, dan punya reputasi hebat untuk terus berkarya dan jadi orang kaya.
Siapa mereka ? Para maestro yang namanya cukup terkenal, banyak menulis, banyak
berkarya, banyak pameran, banyak relasi kelas atas, banyak sponsor dan pekerjaan
datang bertubi tubi, sampai mereka harus menolaknya.
5. Terlepas dari simplifikasi yang saya tuliskan di atas, rasanya memang dunia bisnis

fotografi adalah suatu yang kompleks dan banyak ditulis oleh para fotografer asing,
dalam buku buku mereka secara rinci dan menarik, sayangnya tidak semuanya aplikatif
di Indonesia.
Saya tahu bahwa semua orang akan menjawab YA pada pertanyaan pada judul thread
ini, namun tidak tahu caranya dan bagaimana memulainya. Dari semua pencarian saya
tentang kendala bisnis dalam dunia fotografi, saya mencoba mencari dan menemukenali
permasalahan ini, dengan terus belajar dan salah satunya adalah dengan membuat
dokumentasi dari setiap hasil pencarian saya.
Untuk membuatnya menjadi lebih lengkap dan bermakna, saya mengajak rekan rekan
semua untuk juga melakukan koreksi serta melengkapi segala informasi yang akan saya
tulis secara bertahap di forum ini, jika memang semangat untuk membuat panduan bisnis
fotografi terus bergelora dihati kita semua.... Jangan anggap saya adalah fotografer
terkenal, apalagi profesional, tapi cuma fotografer seperti anda juga yang sedang belajar
untuk merintis karir fotografi tanpa kenal lelah...
Mari kita belajar bersama, nah untuk memulainya, saya coba buatkan outline "Panduan
Bisnis Fotografi di Indonesia" berikut ini;
1. Memulai bisnis dengan sederhana.
Pada bagian ini, kita sama sama membahas mengenai cara memulai bisnis dengan apa
yang kita miliki saat ini. Penempatan pada bagian satu, bertujuan untuk memberikan
dorongan bahwa bisnis tidak selalu harus menyiapkan rencana bisnis yang besar dan
lengkap, apalagi dengan modal kuat, tetap cukup dengan semangat dan kecerdikan
menyiasati keterbatasan yang ada. Pada titik ini, semua orang akan di hadapkan pada
satu keraguan, dan ketika mulai melangkah, makin banyak kebingungan dan keraguan itu
muncul dan buat para fotografer hebat, mereka akan mengatasinya satu persatu dan
melangkah ke jenjang sukes berikutnya.
2. Mempersiapkan bisnis model yang tepat.
Pada bagian ini, saya membayangkan bahwa untuk menjadi besar kita harus tahu arah
dan tujuan kita. Biasanya, kita hanya tahu, bahwa kita ingin sukses, tapi tidak pernah
fokus pada kekuatan yang kita miliki untuk bisa melangkah sukses. Bisnis model akan
mengarahkan kita tentang segala kekuatan dan kelemahan yang kita miliki, mirip dengan
analisis SWOT, tetapi lebih lengkap dan menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa sendiri.

3. Sistem adminstrasi yang baik.


Disini, banyak orang tidak menyadari arti pentingnya sistem kerja yang baik, banyak yang
memulai bisnis dengan "KEPERCAYAAN" namun kenyataannya hanya akan berakhir
pada "KECURIGAAN" yang menyulut pada banyak persoalan lain. Sistem kerja yang
baik, akan membangkitkan nilai "KEPERCAYAAN" dan mengurangi tingkat
"KECURIGAAN" sehingga semua orang bekerja dengan rasa aman serta fokus pada
tugasnya.
4. Sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan.
Memasarkan dan mengelola pelanggan adalah elemen penting dalam mengelola produk
JASA, dan hampir semua seniman (baca:forografer) merasa karyanya adalah kekuatan
marketing, dan pelanggan akan datang membeli dengan sendirinya. Paham ini, hanya
akan terjadi jika karya anda sangat istimewa, tapi untuk seniman yang pasaran seperti
saya, rasanya perlu kemasan dan pengelolaan pelanggan yang mampu memelihara
bisnis dalam jangka panjang.
5. Mengembangkan jaringan bisnis.
Pada bagian ini, sebenarnya adalah bagian yang paling sulit, dan tidak banyak orang
yang berhasil, tapi selalu saja ada segelintir orang yang sukses. Mengembangkan
jaringan bisnis adalah meningkatkan KAPASITAS layanan, sehingga jumlah konsumen
akan berlipat ganda, bagaimana carannya mengKLONING diri anda, menjadi ribuan
orang yang melayani ribuan pelanggan? Oleh karena itu saya mengatakan bahwa ini
adalah bagian yang paling sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin kan?
Sementara baru 5 ide itu yang muncul, walaupun dari setiap ide tersebut, nantinya akan
muncul lagi sub-ide yang lebih rinci dan bisa jadi memerlukan detil yang lebih banyak
lagi. Namun begitu, mudah mudahan ada diantara rekan rekan semua yang bisa
memberikan masukannya. Atau mungkin punya pengalaman dan ingin sharing disini,
sehingga akan semakin lengkap jika kontribusi anda di dokumentasikan disini. Tidak
perlu takut salah atau di cerca oleh orang lain, karena seringkali yang mencerca tersebut
adalah para kritikus handal yang kita butuhkan agar kita bisa semakin baik.
Buat para profesional dan maestro fotografi yang telah sukses, mohon dorongan dan
masukannya agar semua tulisan disini tambah lengkap. Saya tidak bermaksud lancang
untuk menggurui, namun justru sedang belajar dengan cara menyusun ide dan
pemahaman saya tentang bisnis fotografi yang sedang menarik minat saya saat ini.
Siapa tahu kelak, kita semua bisa bergabung dalam satu komunitas bisnis besar yang
punya kode etik dan gelar profesi seperti dokter, pengacara, akuntan dsb. Semoga

proses belajar ini bisa bermanfaat buat yang lain juga.


salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 06:46:46wib


Telah dilihat : 1660 kali
Kategori : Bisnis Fotografi
Keterangan : Topik ini bisa dikomentari oleh Member atau yang levelnya lebih tinggi.
- edit - upload foto

Daftar Isi:
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Memulai Bisnis Dengan Sederhana


Mempersiapkan Bisnis Model yang tepat
Sistem Administrasi yang baik
Sistem Pemasaran dan Pengelolaan Pelanggan
Pengembangan Bisnis
Pengendalian Internal Studio Foto buat suplemen tambahan
Menyusun Rugi Laba Studio Foto secara sederhana, walaupun tidak sempurna
tapi bisa buat praktek...
H. Menghitung Penyusutan Kamera buat para praktisi, bukan teori akuntansi ...
I. Teori penetapan harga jasa fotografi sebagai salah satu cara, dan bukan satu
satunya lho...

Komentar
Penulis:
Heru Muara
Sidik

A. Memulai bisnis dengan sederhana


Memulai dengan sederhana perlu dijabarkan dengan konkrit, apa
saja profesi fotografer yang bisa anda lakukan sebelum benar
benar terjun kedalam bisnis?
- jadi karyawan yang hobi fotografi
- jadi wartawan,
- jadi fotografer di perusahaan fotografi wedding (king, bridal, dsb).
- jadi pengajar tetap di tempat2 kursus atau sekolah,
- jadi asisten fotografer di studio foto (M-Studio, king, tarzan, jonas,
dsb). dan masih banyak profesi lain yang relevan dengan fotografi,
sayangnya itu semua belum menggambarkan bisnis yang
sesungguhnya, tapi lebih mencerminkan kita sebagai KARYAWAN
atau BURUH, padahal kita ingin bisnis bukan?
Nah untuk bisa bisnis kita harus belajar, dan belajar bisa dimulai
dari profesi-profesi tadi. Ketika tiba saat nya untuk bisnis, barulah
kita menyiapkan perangkat minimal yang kita punya yakni:
1. Niat dan semangat juang.
2. Peralatan seadanya plus sewa atau pinjam alat jika diperlukan.
3. Anda punya keahlian di bidang fotografi sambil mengerjakan
sendiri semua urusan, yang mampu kita kerjakan, mulai dari
menjual, mencetak, mencatat, dan melayani pelanggan sebaik
baiknya. Lalu anda bisa menyerahkan segala urusan yang tidak
mampu anda urus kepada orang lain yang lebih ahli dan punya
peralatan yang diperlukan.
4. Jangan berpikir tentang kompetisi, karena kompetisi-lah yang
membuat karya anda berbeda dengan karya orang lain, dan
setiap orang punya pasarnya sendiri, sehingga kita harus fokus
pada bidang fotografi dimana kita adalah ahlinya. Bangun
"trademark" pada karya anda, bukan "watermark" yang
mengotori karya anda. Trademark, akan menyebabkan karya

anda unik dan berkesan. Memang tidak mudah menciptakan


trademark, tapi paling tidak kita bisa belajar dari karya fotografer
terkenal lainnya yang punya karya tampil beda.
Kelihatannya simple ya?
Karena memang tujuannya adalah memulai bisnis dengan
sederhana. Biasanya, reputasi fotografer akan dipertaruhkan disini,
karena kemampuan kita "mengelola dan melayani" sangat
tergantung pada pengalaman yang sudah kita gali dari tempat lain,
atau dari pengalaman jatuh bangunnya kita sendiri dalam
mempelajari bisnis fotografi.
Kapan bisnis itu dimulai?
menurut saya :
Mulailah ketika kita tidak punya beban, masih muda, masih banyak
bantuan yang anda terima dari orang tua dan saudara, atau
mulailah ketika anda masih bekerja dengan tidak mengurangi tugas
dan tanggungjawab kita pada pemberi kerja, usahakan untuk
belajar memulai, agar resiko bangkrut relatif rendah. Semakin awal
anda memulainya semakin besar peluang suksesnya, namun
semakin terlambat anda mulai, semakin banyak stressnya, dan
bikin anda sering sakit sakitan dan bahkan mati merana...
he..he..he... jangan sampai deh... !
Langkah pertama yang bisa dimulai adalah belajar dari para
fotografer profesional dan ikutilah berbagai seminar bisnis Gratis
dan, berbagai seminar-seminar motivasi bisnis yang banyak
ditawarkan. Dari situ kita akan banyak mendapat kan ilmu, dan dari
seminar pernah saya ikuti, banyak yang menyarankan saya untuk
segera TERJUN BEBAS tak perlu takut, karena setelah mengalami
kesulitan biasanya disitu ada kemudahan dan kita akan naik kelas.
Bagi saya, itu seperti JEBAKAN BATMAN supaya orang seperti
saya berhenti kerja, dan mengejar mimpi yang di inginkan. Padahal
mimpi itu belum pasti!

Saya mencoba realistis, dan faktanya:


1. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang benar benar kita geluti,

sehingga segala permasalahan yang muncul benar benar bisa


kita atasi. Melalui proses belajar dan diskusi, sebenarnya kita
juga sedang belajar menggeluti bisnis, oleh sebab itu, jangan
sungkan untuk menuliskan ide dan mencoba mencari teman
diskusi supaya wawasan dan konsep bisnis kita semakin
matang.
2. Jika sudah menguasai, sisik melik bisnis fotografi yang kita
cintai ini, maka kita bisa memulainya dengan menyusun
langkah kecil, untuk menguji PASAR atau paling tidak, mencoba
membangun reputasi agar pasar bisa menerima kita. Berikut ini
adalah langkah langkah sederhana yang bisa kita lakukan
antara lain :

Mengikuti berbagai lomba fotografi, siapa tahu bisa menang,


walaupun juara harapan sekalipun, cukup berharga buat di
pajang, dan dibanggakan. Sesekali saya juga dapat
penghargaan, walaupun lebih banyak gagalnya.

Menjual foto pada majalah atau dimuat di koran, siapa tahu


dimuat dan nantinya bisa jadi portfolio kita juga kan, saya
sendiri mengalaminya pernah dimuat dikompas, dan majalah
elektronik, lumayan bangga lah.

Melayani foto wedding atau prewedd, rekan rekan dekat


anda, dari sini anda akan semakin mampu meyakinkan
pelanggan dan membangun portfolio anda juga. Pekerjaan
ini hampir tidak pernah saya terima secara komersial, paling
paling saya mencoba membantu teman, karena memang
saya tidak ingin mengecewakan mereka, bukan karena tidak
mampu memotret, tapi takut tidak bisa menepati waktu yang
dijanjikan.

Menjual stok foto, terutama foto landscape, foto art dsb.


Karya anda bisa dibungkus dengan bingkai sederhana, dan
bisa dijual sebagai dekorasi interior apartemen atau
perumahan yang saat ini sedang marak dibangun oleh
developer. Sekali waktu pernah juga foto saya di sewa untuk
kalender, yah lumayan lah dapat sedikit uang.

Walaupun gratis, memotretlah pada berbagai liputan acara


kantor, pengajian, ultah maupun reunian, dan usahakan
memotret dengan sebaik baiknya terutama para wanita,

remaja dan anak anak, karena mereka adalah masa depan


anda yang bisa memaksa para pria untuk membayar anda
lebih mahal, dimasa depan. Jadi jangan lupa meninggalkan
kartu nama anda sebagai fotografer.

Masih banyak peluang belajar sambil menghasilkan uang,


melalui karya anda, dengan cara mengajar fotografi,
membuat website, membuat buku, menjadi asisten bagi
fotografer lain yang lebih sukses dari anda, dsb.

Ada saran, bahwa bidang fotografi Corporate, Commercial,


Stock, Food, dll. merupakan sumber pendapatan terbaik,
namun kita harus memahami peran pihak lain spt : ad
agency, produser, stylist,tim produksi, tim creative, dll. Untuk
hal ini, mudah mudahan ada yang mau memberikan
pencerahan, namun jika ingin mengintip masalah fotografi
korporat boleh langsung meluncur ke SINI.

3. Mengukur kekuatan diri pribadi juga perlu, agar kita tidak


terpuruk di tengah jalan. Kekuatan ekonomi adalah ukuran
paling konkrit untuk masalah ini, dan satu satu nya cara untuk
bertahan dari hempasan ekonomi, adalah hanya menggunakan
uang ekstra, atau uang orang lain yang percaya dan mau
menjadi sponsor kita. Ini tidak mudah, karena tidak banyak
orang yang terlalu bodoh mensponsori orang lain yang belum
tentu menghasilkan, apalagi nanti kalo sudah sukses tidak ada
balas budi, malah meninggalkan sponsornya gigit jari. Strategi
untuk memikat sponsor adalah kemampuan kita menulis
proposal, dan proposal yang punya peluang di terima adalah
proposal yang realistis, dan banyak menjabarkan data
kuantitiatif
termasuk
angka-angka
keuangan
yang
"menjanjikan", serta dilengkapi dengan sedikit uraian mengenai
sistem pengendalian internal yang memadai. Untuk masalah
pembuatan proposal, mudah mudahan ada yang mau berbagi
pengalamannya untuk kita semua.
4. Bila kita punya kekuatan ekonomi yang cukup, INGAT, hanya
gunakan 20% saja dari kekuatan tersebut untuk MEMULAI
usaha, karena kegagalan biasanya berangkat dari ambisi yang
berlebihan. Sisa kekuatan yang 80% adalah sisa NAFAS anda
untuk mengantisipasi segala resiko kegagalan dan mengulangi
kesuksesan sedikit demi sedikit. Angka 20% bukanlah angka

keramat yang harus anda patuhi, bisa saja anda seorang yang
lebih percaya diri dengan angka 40% atau bahkan lebih, tetapi
biasanya buat seorang pemula yang tidak berpengalaman,
maka dengan angka 20% dia bisa punya peluang untuk
melakukan 5 kali kegagalan sampai akhirnya benar benar
bangkrut. Seichiro Honda bilang : Sukses adalah 99%
KEGAGALAN, mudah mudah an kita tidak terlalu sering gagal
untuk meraih sukses seperti Seichiro Honda.
5. Nasehat seorang akuntan buat kita semua adalah : Gunakan
setiap rupiah yang anda miliki, hanya untuk membiayai kegiatan
OPERASIONAL, yang punya LEVERAGE (daya ungkit) tinggi
terhadap pendapatan anda. Jangan terjebak pada pengeluaran
MODAL/CAPITAL (seperti pembelian alat yang mahal, sewa
tempat yang mewah), atau pengeluaran TETAP lainnya yang
tidak bisa anda kendalikan, seperti membayar karyawan cantik
yang tidak bisa kerja, membayar fotografer tetap yang banyak
nganggurnya, atau pengeluaran sejenis yang memaksa anda
bangkrut. Mulai lah dengan segala sesuatu yang bisa dikontrol,
antara lain;

Sewa semua peralatan yang relatif mahal dan tidak


terjangkau pada saat awal kita memulai usaha.

Self-employed adalah tenaga kerja paling murah, paling


banter gunakan jasa freelance supaya biaya bisa
disesuaikan dengan budget pendapatannya.

Gunakan iklan GRATIS, dan jadikan pelanggan anda


sebagai tenaga penjualan anda, ajak mereka untuk foto
studio GRATIS, jika membawa pelanggan baru, atau
tawarkan Gimmick lainnya yang menarik.

Cari mitra kerja dan vendor yang pengertian supaya


pembayaran bisa dilakukan setelah tagihan CAIR.

6. Branding, banyak para mentor saya yang menanamkan hal ini,


sayangnya saya bukan ahli branding. Sampai-sampai saya
harus beli buku khususnya untuk self-branding, karena
fotografer lebih banyak "jual diri" dari pada jual "produk jasa",
sehingga saya juga ikut terpengaruh untuk aktif "jual diri". Salah
satunya dengan cara menulis diforum ini. Namun begitu, bagi
saya menjual diri (baca: Self-branding), adalah salah satu

kesalahan terbesar para fotografer untuk sukses dan kaya raya.


Berbeda dengan Dokter Spesialis yang ilmunya melekat pada
sosok sang dokter, sehingga dia harus melayani pasien setiap
saat, sampai sampai tidak bisa tidur nyenyak karena pilihannya
jadi dokter. Saya lebih suka, jika jual diri hanya untuk tahap
awal saja, selebihnya kita harus mampu membangun "Sistem
Kerja" yang mampu meng-KLONING semua fotografer menjadi
satu "produk jasa" yang standar dan mampu beradaptasi
dengan selera pasar tanpa harus dikendalikan oleh seseorang.
Jadi mohon di catat: Self-branding hanya untuk permulaan saja,
sampai kita cukup mapan untuk membangun bisnis yang lebih
besar dan sistematis. Kelemahan self-branding, adalah bisnis
tidak bisa diwariskan, jika kita mati, maka bisnis juga mati, yang
parah adalah jika kita sakit, bisnis sudah pasti mati, tapi biaya
berobat akan meningkat pesat. Jika di umpamakan seorang
dokter, maka dia harus nya bisa punya rumah sakit, atau klinik
bersama yang dikelola secara profesional oleh orang lain yang
lebih mengerti tentang manajemen bisnis. Baru setelah itu dia
bisa lebih menikmati hari tuanya dengan uang berlimpah dan
banyak sedekah.
7. Ini pamungkasnya: Setelah bisnis mulai berjalan, tetap fokus
pada bidang yang jadi keahlian utama kita, jangan coba coba
melirik bidang lain yang belum tentu kita kuasai. Jika di minta
memilih, saya lebih suka sektor konsumen rumah tangga, alias
pasar gurem, daripada korporasi yang duitnya banyak, tapi
banyak maunya dan mesti banyak waktu buat entertain para
pengambil keputusan. Pilih kelas yang sesuai dengan fasilitas
dan kemampuan yang kita miliki, jangan coba coba kelas atas
dengan modal kamera entry level. Bukan saya menghina, tapi
memang orang orang papan atas, cenderung butuh gengsi, jadi
bukan masalah fotografernya, tapi masalah tamu tamu mereka
yang dari kalangan atas juga. Mudah-mudah an pesan saya ini,
tidak di salah artikan sebagai diskriminasi kelas ya, karena
memang masih banyak gaya hidup mewarnai budaya kita
sebagaimana sering kita rasakan dari sinetron yang
ditayangkan di TV lokal.
Melirik bidang lain, hanya dilakukan jika kita sudah punya
UANG EKSTRA yang akan digunakan mengembangkan

LAHAN BARU dengan konsekuensi tersendiri, dan siap siap


GAGAL, BELAJAR dan MENGULANGI LAGI sampai
berhasil, dan seterusnya... ingat, panduan ini hanya tahapan
cara berpikir, dan untuk setiap LAHAN BARU anda harus
memulainya lagi menyusun bisnis modelnya dari AWAL.
Dari semua langkah tersebut di atas, beberapa hal sudah
saya lakukan dan rintis dengan bertahap. Tidak perlu
tergesa gesa untuk sukses, yang penting anda menikmati
prosesnya secara bertahap...
salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:16:35 wib


- edit - upload foto
Penulis:
Heru Muara
Sidik

B. Mempersiapkan bisnis model yang tepat


Bicara soal bisnis model, silahkan googling dulu aja...
Maklum, sebelum saya memulainya lebih jauh, ternyata definisi
bisnis model itu terkadang hanya diterapkan pada perusahaan
besar dan kaya raya, padahal pengertiannya sangat sederhana,
dimana hampir kita semua tahu jika kita berbisnis, maka yang
harus diperhatikan adalah :
1. Produk Jasa apa yang akan dijual (Value Preposition).
Siapa sih yang gak tahu tentang barang dagangannya
sendiri? Pasti semua orang sudah tahu kalo menjual suatu
produk (khususnya jasa) harus tahu dong apa yang akan
ditawarkan kepada pelanggan. Nah disini letak setiap
keunikan produk. Ada yang menawarkan kecepatan layanan,
keramahan layanan, kualitas olah digital, peralatan yang
mahal, studio yang hebat, kompentensi atau spesialisasi
khusus, dsb... semua tawaran tersebut tentu saja akan
mempengaruhi segmen pelanggannya.

Mana yang lebih dulu ditentukan? Segmen pelanggan atau


tawaran nilai yang dijual? Ini pertanyaan yang biasa muncul,
dan jawabannya juga sederhana, anda PUNYA APA?? Kalau
anda punya segalanya, anda boleh menentukan target
pelanggan, tapi kalo anda gak punya apa apa, maka mulailah
dengan kemampuan dasar yang ada, dan pilih segmen pasar
yang tepat. Contoh: Punya kamera DSLR entry level, second
buatan 5 tahun yang lalu. Sudah pasti tampilan anda akan
terlihat CUPU di hadapan pelanggan papan atas. Tapi coba
saja berhadapan dengan pelanggan papan bawah, pasti
kamera anda akan NAIK KELAS, seolah anda adalah satu
satunya fotografer profesional yang harganya paling
terjangkau.
Sebenarnya bukan itu yang saya ingin jelaskan disini, karena
penjelasan diatas hanya sebagai pembuka saja supaya kita
sama sama paham definisi VALUE PREPOSITION, yakni
tawaran yang unik dan sesuai dengan kondisi anda saat ini.
Ayo
kita
mulai
mencoba
mendefinisikan VALUE
PREPOSITION ini, caranya adalah menjawab pertanyaanpertanyan sbb;
Layanan apa yang akan di sajikan kepada pelanggan?
Solusi apa yang akan membantu problem pelanggan?
Paket produk dan jasa seperti apa yang bermanfaat untuk
pelangan?
Kebutuhan pelanggan yang mana yang akan di layani?

Dengan menjawab pertanyaan tersebut, otomatis kita akan


menyajikan suatu KONSEP produk jasa yang akan kita
berikan.

2. Siapa Calon Pelanggan dan bagaimana kita


mengelolanya (Customer segment, channels, customer
relationship).
Setelah langkah pertama di atas selesai dikerjakan, mari kita

mulai dengan langkah berikutnya yakni;

Menentukan segmen pelanggan


Segmentasi pelanggan adalah salah satu cara kita
membedakan diri dengan pesaing, atau boleh dibilang
sebagai salah satu cara menghidari pesaing. Contoh paling
gampang sudah saya tulis di atas, dimana kalo kita ambil
segmen pelanggan papan bawah yang tinggal di perumahan
sederhana, maka otomatis pesaing kita di papan atas, tidak
akan mungkin ikutan bermain di segmen GUREM seperti ini.
Pilihan seperti ini tentu saja punya konsekuensi yang relatif
mempengaruhi pendapatan, yakni DAYA BELI, yang juga
rendah, tapi jangan lupa, pasar pelanggan papan bawah
punya kelebihan yakni: Jarang mengeluh, yang penting
fotonya terang dan jelas, yang penting ada album foto yang
tebal, semakin banyak foto, akan semakin baik. Olah digital,
bukan keharusan, tapi kalo ada akan semakin sempurna.
Peralatan yang digunakan juga sangat sederhana, cukup
menggunakan flash murah, lighting gak terlalu penting, flash
cukup di bounce ke langit langit rumah yang biasanya cukup
rendah, sehingga akan menghasilkan foto yang sangat baik
dan natural.
Berbeda dengan pelanggan papan atas yang banyak
menuntut fasilitas dan kemudahan, cenderung cerewet,
karena merasa sudah bayar mahal, belum lagi minta album
yang tebal dan berkelas, padahal modalnya juga mahal
toh...! Peralatan yang digunakan mesti yang cukup terlihat
canggih, karena akan berguna mengangkat gengsi tuan
rumah, ketika dilihat oleh tamu undangan.

Menentukan kanal distribusi/pemasarannya


Menjual produk jasa tidaklah mudah, untuk itu pilih metode
pemasaran yang murah meriah dan memberi dampak
jangka panjang... Keputusan memilih kanal distribusi sangat
tergantung pada jenis layanan yang anda tawarkan kepada
pelanggan. Untuk foto stok, paling tidak anda harus punya
website untuk menjual dagangan, sementara untuk liputan
pernikahan papan bawah, anda hanya perlu sering sering
silaturahmi dan mengikuti acara sosial di lingkungan target

pasar, sambil menebar kartu nama. Jadi jangan terlalu repot


merancang kanal distribusi yang kompleks dan mahal,
sementara bisnisnya sedang menggeliat, kepanasan
menunggu order....
Bagi seorang fotografer, menjual jasa sangat penting pada
tahap pertama, jika segala sesuatunya sudah berjalan
lancar, selanjutnya anda harus merancang langkah bisnis
untuk naik kelas dengan target konsumen dan kanal
distribusi yang berbeda.

Menentukan cara menjaga hubungan baik dengan


pelanggan
Sekarang tiba saatnya untuk menjaga hubungan baik
dengan pelanggan. Pada prinsipnya, setiap pelanggan pasti
punya hasil karya kita pada album yang sudah pernah
dipesannya. Nah cara paling penting adalah meninggalkan
JEJAK berupa nama dan nomor telepon pada setiap karya
kita tanpa harus mengganggu tampilan album atau karya
foto. Buat stiker-kartu nama yang dilekatkan pada halaman
terakhir album, dan konsekuensinya, gunakan telepon atau
hape yang anda pertahankan nomornya seumur hidup bisnis
anda, jangan ganti ganti nomor hape karena kedaluarsa
atau cari hemat, karena konsumen akan sulit menghubungi
anda, padahal belum tentu anda punya website, atau cukup
terkenal sehingga calon konsumen sibuk menanyakan
alamat dan nomor telepon anda pada rekan dan kerabatnya.

3. Kemampuan ekonomi yang kita punya dan kita


harapkan (financial aspecs - costs structure and revenue
streams).
Pada bagian ini, kita harus sadar dengan semua kemampuan
(baca: keterbatasan) kita, karena faktanya : kita lahir tanpa
modal, hanya orang tua yang kaya raya yang membuat kita
hidup mewah, dan belum tentu kekayaan orang tua kita akan
bertahan seumur hidup kita. Dengan kata lain, kita semua
masih MISKIN karena harapan yang terlalu TINGGI.

Terminologi kaya-miskin, hanya untuk menggambarkan status


kekuatan ekonomi kita, karena itu yang paling mudah di ukur,
bukan untuk mengejek atau melukai perasaan orang lain.
Namun itu semua hanya untuk memberikan gambaran kongkrit
tentang konsep abstrak mengenai struktur biaya dan
pendapatan (baca : modal kerja vs penjualan).
Sekarang mari kita bahas satu persatu:

Struktur biaya (modal kerja) Biaya apa saja yang HARUS


dikeluarkan untuk menjalankan bisnis anda? Biaya apa yang
PALING
MAHAL
dari
setiap kegiatan dan sumber
daya yang digunakan dalam bisnis anda? Jika saya
dihadapkan pada pertanyaan tersebut, pasti jawabannya,
kurang lebih sbb:
o

untuk bisa melayani permintaan pelanggan minimal


saya harus punya barang modal, seperti kamera dan
perlengkapannya. Barang modal ini, harus saya
pelihara dan nilainya makin hari makin merosot,
padahal saya ingin beli kamera baru, lensa baru,
lampu baru, dsb... Disini harus kita catat : Biaya
Modal = PENYUSUTAN, atau bahasa sederhananya,
adalah MENABUNG untuk meremajakan alat yang
kita punya. Bagaimana menghitung penyusutan?
Simak cara dan rumusnya DISINI

Supaya urusan operasional, akomodasi dan teknis


lainnya bisa berjalan lancar, saya perlu biaya juga,
namanya BIAYA OPERASIONAL yang akan
dikeluarkan saat tukang ojek nagih bayaran, saat
warteg sebelah nagih utang, saat asisten freelance
anda minta ongkos jasa, dan sebagainya.

Nah selanjutnya, supaya penjualan saya segera


dibayar, saya harus mengeluarkan biaya mencetak
album, sewa alat, sewa studio, membayar desainer
album, membayar semua ongkos yang berhubungan
dengan HASIL AKHIR produk jasa fotografi yang
saya jual. Ini disebut dengan BIAYA LANGSUNG
atau ada yang bilang HARGA POKOK, ada juga yang

bilang BIAYA VARIABLE, dsb... itu semua tidak


terlalu penting, yang penting adalah konsep bahwa
BIAYA itu harus di CATAT, supaya kita bisa
mengukur UNTUNG-RUGInya bisnis ini.
o

Terakhir, untuk setiap perhitungan biaya (costs) yang


timbul, pelajari karakternya, ada biaya TETAP dan
ada biaya VARIABLE, belum lagi perhitungan masing
masing biaya tersebut, bisa di URAI lagi dalam
satuan unit terkecil, misalnya ongkos per lembar,
ongkos per klik, ongkos per jam, ongkos per hari,
ongkos per kepala, ongkos per proyek, dan
sebagainya. Contoh-contohnya belum bisa saya
uraikan disini, nanti akan saya sambung pada
berbagai topik lain saja, supaya tulisan ini tidak terlalu
panjang.

Penjualan (arus pendapatan) Penjualan, sangat tergantung


pada harga VALUE PREPOSITION yang ditawarkan. Kalo
anda jual karya anda sebagai KOMODITI, maka harganya
adalah ongkos cetak dan material yang terkandung
didalamnya. Tapi jika anda menjualnya sebagai KARYA
SENI didalamnya ada VALUE ADDED yang tinggi, karena
karya seni adalah unik, dan disitu ada yang
namannya CREATION FEE. Konsepnya adalah menjual
JASA jadi bayangkan anda adalah seorang pelukis, dimana
setiap lembar kanvas anda perlu mencurahkan akal-budi
dan kemampuan budaya anda, hasilnya anda akan dibayar
MAHAL untuk karya seni tersebut.
o

Bedakan dengan UPAH KERJA, ini cocok untuk


fotografer BURUH yang berkarya untuk mendapatkan
UPAH. Saya kira kita tidak perlu membahas hal ini
terlalu dalam, cukup fokus pada CREATION FEE
(bisa juga disebut sebagai DESIGN FEE jika kita
menggunakan juga jasa oldig) sebagai salah satu
SUMBER PENDAPATAN kita. Bagaimana kita
menghitung Creation Fee? Coba klik disini.

Selain itu kita juga akan menagih JASA kita kepada

pelanggan dalam bentuk OPE (out of pocket


expenses), yang terkait langsung dengan kegiatan
operasional kita, seperti akomodasi, tranportasi, sewa
alat, dsb. OPE bisa ditagihkan "at cost" namun
dibolehkan juga untuk di "mark up" atau ditambahkan
dengan biaya administrasi 5% -10% saja. Jarang
sekali kita mengajukan tagihan OPE ini kepada klien,
karena budaya pelanggan kita adalah senang dengan
harga BORONGAN. Ada baiknya mulai sekarang kita
semua mulai memperkenalkan OPE ini supaya di
masa depan, semua konsumen kita bisa
menerimanya. Untuk pelanggan papan atas, biasanya
tidak masalah dengan terminologi apapun yang
digunakan, karena pada prinsipnya mereka sudah
punya budget yang cukup untuk meng-cover semua
pengeluaran tersebut.
o

Terakhir; PRINTING FEE, ini adalah tagihan kita


kepada pelanggan untuk biaya pencetakan album,
foto kanvas, bingkai dsb. Pada prinsipnya hampir
semua layanan fotografi selalu menagihkan hal ini,
namun dikemas dalam PAKET, sehingga konsumen
hanya melihatnya sebagai satu harga BORONGAN.
Bagaimana kita menggabungkan semuanya dalam
satu
PAKET
BORONGAN,
itu
tergantung
keterampilan kita menjual, biasanya harga paket itu
relatif mahal, tapi selalu di tawar, nah disini
kesempatan anda untuk menurunkan harga dengan
memisahkan elemen creation fee, OPE, dan Printing
fee, sehingga anda tidak dirugikan karena semua
biaya di cover oleh pelanggan, dan anda di bayar
sesuai dengan apa yang anda JUAL.

Untung-Buntung (laba-rugi)
Sekarang giliran menghitung Laba-rugi, saya lebih senang
menyebutnya UNTUNG-BUNTUNG, karena terdengar lebih
puitis sekaligus provokatif, membuat saya TAKUT
mengalami
BUNTUNG.
Cara menghitungnya mudah kok, hanya menggabungkan
semua total biaya, dan membandingkannya dengan semua

total pendapatan, kalo bisa di lakukan untuk setiap satu


penugasan dari pelanggan, supaya terlihat gambaran
untung-buntungnya setiap proyek. Tapi buat yang males
ngitung, boleh juga dihitung secara akumulatif tiap bulan,
dan hasilnya pasti tidak akurat, namun begitu masih
lumayan bisa terlihat hasil akhirnya. Cara terakhir tidak saya
sarankan, tapi untuk yang baru belajar rasanya itu sudah
cara paling mudah...
Rumusnya kurang lebih sbb:
PENJUALAN - BIAYA = UNTUNG/(BUNTUNG)
Disini seringkali banyak fotografer yang kurang cermat,
karena ketika dapat rejeki berlimpah, lantas lupa kalo dalam
rezeki itu ada komponen tabungan buat peremajaan alat,
tabungan buat antisipasi paceklik, tabungan buat
pengembangan usaha, dan juga buat membayar semua
biaya dan hutang hutang kepada mitra. Belum lagi bayar
Zakat dan berbagai godaan untuk belanja membahagiakan
diri sendiri, serta anak dan istri di rumah yang sudah
senantiasa setia menunggu suaminya. Ini lumrah terjadi,
karena manusia sering LUPA dengan kewajibannya, tapi
tidak pernah lupa akan haknya.

4. Mitra kerja, Sumberdaya, dan Langkah kerja (key-partner,


key-resources,
key-activity).
Pada bagian ini, mirip dengan analisa SWOT (strenght,
weakness, Opportunity and Threats), bedanya hanya pada
fokusnya yang bertujuan menemukenali kekuatan (keyresources) dan kelemahan (key-partners) kita, untuk
selanjutnya menentukan langkah kerja yang tepat (key-activity).
Sebenarnya saya butuh masukan dari rekan rekan semua untuk
melengkapinya, namun sebagai pembuka, saya coba tuliskan
persepsi saya tentang elemen yang melengkapinya berikut ini;

Mitra kerja - key-partners


Semua hal yang tidak kita ketahui, atau dimana kita tidak
menguasainya, namun dibutuhkan untuk bisa menghasilkan

produk jasa yang ditawarkan (value preposition) bisa kita


serahkan kepada mitra kerja yang kita anggap PENTING
(utama) sehingga kepada merekalah kita bergantung karena
segala kelemahan kita ada ditangan mereka. Itu sebabnya
kita tidak boleh menggantungkan segala kelemahan kita
hanya pada SATU mitra saja, tetapi cobalah untuk mengajak
lebih dari satu mitra, agar resiko ketergantungan ini bisa
ditekan. Mitra disini, bisa kita sebut juga sebagai SUPPLIER,
VENDOR, SPONSOR dan bahkan INVESTOR atau siapa
pun yang membantu anda melengkapi kebutuhan anda
dalam mengantarkan hasil karya sebagaimana yang
dijanjikan kepada pelanggan.

Sumber daya -key-resources


Biasanya kita mulai sesuatu dengan segala keterbatasan,
dan satu satunya yang paling berharga adalah keahlian kita
memotret. Nah itu sudah salah satu modal utama, dan bisa
ditambah lagi dengan keahlian photoshop, atau kalo punya
sedikit modal, bisa pamer kamera entry-level atau yang lebih
canggih. Jika anda punya lebih banyak lagi dari yang sudah
saya tuliskan barusan, maka semua itu adalah sebuah
kekuatan yang layak diperhitungkan dan pantas untuk
dibanggakan. Kekuatan ini lah yang dibutuhkan untuk
memulai usaha, namun untuk lebih spesifik, maka hanya
tulis hal hal yang terkait dengan value preposition, karena
untuk itu lah anda akan ber bisnis bukan?

Langkah kerja -key-activity


Bagaimana dengan langkah kerja? Disini letaknya
kewirausahaan dimulai. Mereka yang ragu, tidak pernah
berani berbuat atau mengambil langkah pertama, tetapi
langkah pertama adalah langkah penting yang akan
membius anda untuk fokus dan terus melangkah. Dengan
membuat bisnis model, anda tidak perlu ragu, atau takut
salah!, tulis saja apa yang ingin anda lakukan, dan dari
semua tulisan tersebut, pilih mana yang prioritas utama dan
mana yang bisa dilakukan belakangan, dengan memilih
antara MENDESAK dan PENTING. Buat 4 kuadran prioritas,
yang mengelompokkan pilihan kegiatan yang akan anda

lakukan, dan masukan semua langkah-langkah yang sudah


anda kumpulkan satu persatu kedalam kuadran MENDESAK
dan PENTING tadi, setelah itu, fokuskan pada hal hal yang
memang MENDESAK dan PENTING saja, supaya anda bisa
mulai bekerja.
Semua detil terkait dengan sumber daya, mitra dan langkah kerja
akan dibahas lebih rinci dalam sistem administrasi yang baik
(walaupun sebenarnya tidak ada sistem yang tidak baik!).
Ada yang bertanya, mana dulu yang utama? Jawabnya; tidak
ada rumus baku yang menyatakan salah satu lebih utama dari
lainnya, yang ada adalah, apa daya dan kekuatan yang sudah kita
miliki? Itulah hal utama yang bisa dimanfaatkan untuk memulai
sebuah bisnis! Sisanya dimana kita tidak mampu, serahkan pada
yang lebih tahu, yakni key-partners
Untuk membicarakan semua di atas, perlu ilustrasi dan detil
tersendiri. Mudah mudahan nanti ada kesempatan untuk
melengkapinya.
salam,
heru m sidik...

28 Agustus 2011 08:16:51 wib


- edit - upload foto
Penulis:
Heru Muara
Sidik

C. Sistem administrasi yang baik


Ini bagian yang membosankan...
Pada bagian ini, saya punya banyak pengalaman soal administrasi
bisnis. Pada umumnya, banyak fotografer memandang remeh soal
administrasi ini, sehingga sering kehilangan dokumentasi dan
akurasi dalam menghitung keuntungan atau harga modalnya.
Sudah sering saya diskusi dengan rekan rekan fotografer
profesional yang mengelola sendiri bisnisnya, dan mereka cukup
nyaman sebagai figur "one man show" karena mereka punya kuasa

untuk memutuskan segala sesuatunya tentang "uang". Padahal


masalah administrasi bukan bicara melulu soal uang tapi bicara hal
hal berikut ini;
1. Standarisasi prosedur, manajemen arsip, manajemen
portfolio, manajemen vendor, sistem pelaporan, formulirformulir yang digunakan, dsb.
Sudah sering dengar tentang SOP (Standard Operation
Procedures), atau lebih sering saya singkat dengan sebutan
SISTEM. Banyak seminar tentang tehnik penyusunan SOP dan
saya kira cukup penting untuk di pelajari dan ditekuni. Dalam
setiap seminar ke wirausahaan, elemen SOP adalah salah satu
KATA KUNCI yang paling penting, untuk membuat sebuah
bisnis berkembang dan bisa di KLONING. Sistem, adalah alat
kontrol, sebuah DEVICE (ini sebuah istilah untuk ALAT yang
tidak berwujud), yang mampu mengatur, mendeteksi dan
menggerakan sebuah bisnis. Jangan pernah anggap remeh,
dengan mengatasnamakan WASKAT (pengawasan malaikat)
tidak cukup hanya dengan KEJUJURAN yang langka dan
KEPERCAYAAN yang sudah semakin tipis...
Ahlak dan kepribadian seseorang tidak bisa kita kontrol, tetapi
cara kerja dan produktivitas mereka bisa kita kontrol dengan
sistem. Namun perlu di CATAT bahwa sistem juga bukan suatu
yang SEMPURNA, didalam sistem terbaik sekalipun, ada
kelemahan dan tidak akan pernah mampu menangkal KOLUSI,
atau sering kita cermati di media masa sebagai sekelompok
MAFIA. Ya ... benar sekali, sistem adalah seperti aturan hukum
juga, tidak pernah mampu menangkal yang namanya Mafia.
Namun begitu, bukan berarti sistem itu tidak berguna, justru
karena dia sangat berguna, maka kita memerlukan sistem.
Kegagalan menerapkan sistem, sama dengan kegagalan total
dalam menjalankan bisnis. Dengan sistem, minimal kita bisa
bertahan terhadap resiko FRAUD, dan bisa mendeteksi para
mafia, dengan melakukan pengawasan rutin, dan menetapkan
parameter kontrol yang sesuai.
Membahas soal sistem, tentu saja tidak bisa semuanya
dituangkan disini, tapi akan saya coba berikan poin poin
pentingnya saja, untuk selanjutnya nanti akan saya buatkan

topik terpisah, untuk membahasnya secara rinci.

2. Standarisasi
harga,
penetapan
harga
jual,
struktur/komponen harga pokok, dsb.
Masalah harga, tidak terlepas dari komponen harga pokok.
Banyak fotografer hanya menetapkan harga secara intuitif,
dengan melihat harga pesaing, dan bagaimana keadaan
ekonomi calon kliennya. Hasilnya sudah tentu bisa kita lihat
bersama, banyak yang jualan dengan harga sangat murah dan
bahkan tidak masuk akal, tapi mereka tetap survive untuk
jangka waktu tertentu, dan tetap MISKIN sesuai dengan target
marketnya. Jika mau KAYA tentu saja harus JUAL MAHAL dan
bagaimana supaya klien mau BAYAR MAHAL, itu yang harus
dipelajari, bukan karena takut kehilangan order, maka kita
harus banting harga.
Pada bagian ini, saya hanya akan sedikit menguraikan latar
belakang penetapan standarisasi harga, penetapan harga jual,
struktur/ komponen harga pokok. Itu saja rasanya sudah
banyak, dan tidak selesai dalam satu minggu, tapi saya akan
mencoba menyusunnya secara bertahap. Mari kita lanjutkan...

Standarisasi Harga
Masalah standarisasi harga biasanya sangat tergantung
pada komunitas, atau lembaga yang dominan mengaturnya.
Kalo dalam bidang ketenaga kerjaan ada yang namanya
UMR (upah minimum regional), untuk harga semen ada
yang namanya HET (harga eceran tertinggi), untuk harga
gabah, ada istilahnya sendiri... he...he..he.. saya lupa...
namanya.
Untuk fotografer....???
Coba saja bikin harga standar, pasti banyak yang gak
peduli, apalagi ini masalah persaingan, apalagi sebenarnya
banyak fotografer yang sedang merintis karir, jadi mereka
tidak pernah tahu harga pantas buat jasa mereka, sehingga
harga itu di tetapkan secara intuitif saja, padahal dengan

harga standar, banyak manfaat yang bisa dinikmati oleh


para fotografer, dan bisa jadi industri fotografi akan semakin
menggeliat, membesar dan jadi bisnis yang tahan banting
dalam segala situasi ekonomi. Wah ... ini mungkin terlalu
lebay... tapi gak ada salahnya untuk mencoba dan
menawarkan konsep harga standar ini kepada komunitas
terbesar fotografer ini.
Di dunia ini tidak ada yang mudah untuk mengatur sebuah
komunitas, tetapi semua itu mungkin dilakukan dan bisa jadi
sejarah yang dicatat oleh para fotografer masa depan
nantinya. Untuk memulainya, kita bisa belajar pada
kabupaten JEPARA dengan JEPARA.NET nya yang
menetapkan "standarisasi harga tahun 2011" sebagai
panduan buat belanja rutin pemerintahannya. Ini bisa terjadi
karena para aparat harus belanja, dan diatur supaya tidak
boros. Fotografer.net, bukan sebuah fungsi pemerintahan,
tapi bisa menjadi sebuah fungsi komunal yang mengatur
etika, harga dan cara kerja.
Untuk kelas korporasi, sebenarnya juga bisa menetapkan
standar harga, terutama untuk kelompok fotografer yang
tergabung dalam satu jaringan atau mirip CHAIN-STORE,
franchise, atau segala bentuk entitas lain yang sejenis.
Tujuannya jelas untuk mengatur supaya harga di berbagai
belahan bumi nusantara punya PATOKAN yang bisa
digunakan dalam menetapkan harga jual.
Standarisasi juga diperlukan untuk menetapkan harga
pokok, terutama terkait dengan cara membebankan biaya
tidak langsung kedalam komponen harga jual.
Contoh rincinya kurang lebih adalah;
o

Standar Biaya Penyusutan per Klik, per proyek atau


per hari;

Standar biaya tetap yang dibebankan pada harga


pokok;

Standar biaya tidak langsung lainnya yang dalam


realisasinya bisa berbeda.

Penetapan harga Jual


Harga Jual, ini sih sangat tergantung dari harga pokoknya,
namun yang terpenting adalah faktor KEUNTUNGAN yang
kita harapkan. Makin besar faktor UNTUNG yang
diharapkan, makin tinggi harganya. Orang akuntansi bilang
gross margin, untung kotor, atau selisih uang lebih yang
mudah mudahan akan menambah keuntungan kita. Berapa
sih keuntungan yang diharapkan? 10%, 50%, atau bahkan
100%? Kalo saya ingin sukses, tentu saja saya harus
mampu menghasilkan keuntungan semaksimal mungkin. Ini
bukan RIBA, ini adalah keuntungan wajar yang pantas anda
dapatkan karena anda sudah membantu klien anda
mendapatkan apa yang diharapkan. Dalam keuntungan bisa
saja anda masukkan CREATION FEE tapi ini bukanlah
keuntungan yang sebenarnya, ini adalah sebuah kemasan
atas jerih payah kreatifitas anda, yang lahir dari sebuah
proses panjang.
Diskon, atau Bonus, hanyalah GIMMICK untuk menarik
minat pembeli, jangan sampai kita mengorbankan
Keuntungan yang diharapkan, tapi kalo klien suka dengan
bonus kita, tentu akan ada repeat-order kan....

Struktur harga pokok


Sampai disini pasti sudah semakin membosankan ya? Ayo
tetap semangat, karena saya menulis supaya anda semua
bisa sukses dan kaya raya, sementara saya akan ikut
bangga jika tulisan ini ikut menginspirasi kesuksesan anda.
Sekarang kita akan membahas mengenai struktur harga
pokok, dimana :
o

creation fee = ongkos ide + ongkos desain + dan


ongkos lain yang relevan, tapi belum termasuk
keuntungan yang diharapkan.

Harga pokok = penyusutan alat + out of pocket


expenses + ongkos cetak + sewa wardrobe + biaya
lain yang relevan.

Biaya Administrasi = sewa kantor, listrik telepon, dan


gaji karyawan.

Biaya lain-lain = biaya yang tidak termasuk dalam


kelompok tersebut diatas, tapi masih dikeluarkan
dalam kegiatan operasi anda. Contoh; biaya bunga
bank, biaya iklan, dan biaya biaya tidak langsung
lainnya.

Perlu di catat, bahwa semua komponen harga tersebut, tidak


mudah untuk dihitung dalam satuan proyek, atau unit
tertentu. Dengan kata lain, pembebanan harga pokok perlu
metode perhitungan yang rumit dan njelimet, dan semua itu
hanya bisa dilakukan jika kita punya catatan yang rinci
mengenai semua transaksi kita. Jika catatan kita lengkap
maka kita bisa membuat model harga pokok dengan
membuat;
o

standar pembebanan biaya tetap langsung seperti :


beban penyusutan alat per klik, per projek atau per
hari

standar pembebanan biaya variabel langsung, seperti


: sewa studio, sewa wardrobe, sewa fotografer
freelance, sewa asisten dsb.

standar pembebanan biaya tidak langsung lainnya,


seperti : sewa kantor, listrik, telepon dsb.

Jika semua hitungan standar tersebut sudah dihitung, maka


tinggal menerapkannya dalam PRICE LIST yang kita
tawarkan kepada klien jika mereka NAWAR secara rinci,
baru deh kita keluarkan detilnya, sehingga mereka
disadarkan bahwa harga yang kita tawarkan adalah harga
WAJAR dan bukan harga yang diambil dari LANGIT. Pada
proses tawar-menawar, pemahaman dan pengetahuan
tentang harga pokok ini sangat penting, karena membuat
kita lebih profesional dan tampil percaya diri. Terutama

dalam melakukan penyesuaian diri dengan harga baru yang


diminta klien, dimana elemen-elemen harga pokok tadi bisa
dipisahkan dan dikeluarkan dari tanggungan kita, dan bisa
menjadi beban klien, sepanjang klien memang lebih suka
untuk itu. Contoh: Biaya akomodasi fotografer dan tim,
ketika ada penugasan ke luar kota; biaya sewa tempat;
biaya sewa alat; biaya sewa wardrobe; dsb... itu tandanya
anda punya klien yang baik hati, dan ingin membantu anda
bersusah payah mengerjakan proyek ini. Anda harus
berterimakasih untuk klien seperti ini.
3. Organisasi dan kepangkatan
Untuk organisasi dan kepangkatan, sebenarnya saya hanya
ingin menyampaikan sebuah HIRARKI sebuah bisnis. Banyak
bisnis yang cenderung toleran dalam organisasinya, sehingga
semua orang adalah leader dan semuanya bisa mengambil
keputusan, bisnis seperti ini terkadang juga maju pesat jika
masing masing anggotanya mengambil peran yang tepat dan
saling menguatkan anggota lainnya dalam mencapai tujuan
organisasi. Ini sebuah organisasi ideal yang sulit di laksanakan
tanpa proses panjang yang membutuhkan kepercayaan dan
kompetensi yang memadai. Untuk organisasi pasaran, rasanya
masih diperlukan HIRARKI untuk membedakan mana
Pemimpin, dan mana yang dipimpin. Terlihat birokratis, tapi itu
lah yang paling cocok untukmengawali sebuah bisnis. Bahkan
dalam jangka panjang, organisasi yang birokratis pun tetap
dibutuhkan, baik itu perusahaan sekelas kaki lima ataupun
sekelas microsoft yang modern. Organisasi bukan untuk
membangun FEODALISME tetapi untuk memberikan peran
yang tepat, segendang dan sepenarian dalam irama yang indah
bagi setiap anggotanya. Organisasi seperti sebuah alat kendali
yang mengatur cara kerja organ-organ organisasi lainnya agar
sinergi dan bergerak menuju satu arah yakni SUKSES.

Bagaimana organisasi sebuah bisnis fotografi?


Tidak ada rumus baku, tapi yang jelas hanya ada SATU
pemimpin utama, dan dibawahnya boleh ada lebih dari satu
PEMIMPIN lain yang punya fungsi berbeda beda, begitu pula
pada tingkat dibawahnya lagi. Semua itu disusun dalam satu

BAGAN ORGANISASI supaya semua orang bisa mengambil


peran dan fungsi sebagaimana di amanatkan dalam
JOBDESnya. Mereka yang mengerti tugas dan perannya, akan
mendorong fungsi lain untuk bergerak dan melaksanakan tugas
dan perannya sendiri, itu lah yang menyebabkan organisasi
terus bergerak dengan dinamis. Karakter organisasi sangat
dipengaruhi oleh Pemimpin Utamanya, namun pada prinsipnya
tugas pemimpin utama adalah menentukan arah tujuan, dan
menjadi sutradara yang mengarahkan pemimpin pada fungsi
fungsi lainnya. SIMPEL dan tidak perlu rumit... mulai lah dengan
yang ada, satu orang dua orang tiga orang, dst... sampai
akhirnya anda menjadi organisasi besar.
Banyak karyawan yang fungsinya sebagai bawahan cenderung
melecehkan atasannya sehingga fungsi organisasi malah
terganggu, atau sebaliknya, ada pemimpin yang tidak mampu
mengkomunikasikan peran dan fungsi bawahan sehingga
menimbulkan banyak masalah. Organisasi, juga bicara
kepemimpinan, dan pemimpin yang baik adalah yang tegas
dalam memberikan hukuman setimpal, dan sangat supportive
dalam memberikan apresiasi atas prestasi bawahannya. Itu
yang membuat sebuah organisasi berjalan.
Sekarang saya coba jabarkan peran dan fungsi organisasi kecil
sebuah studio imajiner bikinan saya (kalo ada yang kurang pas
tolong dikoreksi ya)

Kepala Studio
Tugas dan fungsinya adalah menjadi kendali bisnis studio,
boleh dianggap sebagai Manajer Toko, tapi untuk
perusahaan yang sudah cukup besar, biasanya hanya
setingkat Supervisor. Apapun tingkatannya, posisi ini adalah
posisi penting untuk tingkat operasional toko. Kompetensi
yang diharapkan tentu saja menguasai seluk beluk bisnis
fotografi dan lebih bagus lagi jika dia punya talenta fotografi,
supaya bisa jadi backup, atau merangkap jadi fotografernya
juga. Menghemat biaya gaji karyawan, dan sebagai
pimpinan, dia dapat porsi gaji yang makin besar jika
tugasnya merangkap.

Fotografer Utama
Ini adalah satu fungsi yang sudah dipahami oleh semua
fotografer, khususnya untuk melakukan pemotretan baik di
studio, ataupun di lapangan. Sebagai fotografer utama, dia
harus punya kompetensi fotografi yang unggul dibandingkan
dengan staf lainnyal, fungsi ini bisa dirangkap oleh kepala
studio. Lebih bagus lagi jika fotografer utama bisa
menularkan talentanya pada asisten fotografer supaya
bebannya berkurang, dan dia bisa fokus pada ide dan
konsep baru yang menjual. Belum lagi perannya yang utama
akan semakin kuat jika asistennya bisa semakin banyak dan
dia bisa membuat standar proses kerja yang baku.

Asisten Fotografer
Jabatan ini, juga tidak bisa dianggap remeh. Asisten
fotografer harus belajar banyak tentang cara kerja
atasannya, dan selalu siap keluar tenaga ekstra untuk
membantu atasannya sementara dia sendiri ingin ikutan
memotret. Pada prinsipnya sih boleh aja asisten ikut motret,
supaya ada kesempatan belajar, tapi harus di tegaskan
bahwa hasil fotonya hanya untuk kepentingan studio, bukan
untuk publikasi pribadi. Etika ini harus ditanamkan agar klien
juga merasa aman dari resiko foto fotonya beredar di dunia
maya padahal kualitasnya belum tentu sesuai dengan
harapan.

desainer kreatif/photo editor


ini fungsi yang boleh ada boleh tidak, tergantung kompetensi
fotografernya, kalo fotografer dan asistennya sudah bisa
desain kreatif, ya berarti cukup dirangkap. Tetapi kalo
mereka gak punya keahlian olah digital, ya akhirnya harus
menyewa karyawan yang khusus untuk itu, dan biaya
karyawan akan bertambah lagi.

Staf Marketing/Customer Service/Salesman/dsb.


Fungsi staf marketing, dalam organisasi yang kecil
sebenarnya bisa dirangkap oleh fungsi asisten fotografer,
sepanjang memang mereka memahami bisnis fotografi, dan

bisa melayani klien untuk merealisasikan ordernya, dan


menjaga hubungan dengan klien dalam jangka panjang.
Salah satu fungsinya adalah juga mendokumentasikan
administrasi data pelanggan, sehingga kita bisa mengelola
para pelanggan itu dalam jangka panjang.

Staf Administrasi dan keuangan


Staf administrasi, juga sangat penting. Jangan dianggap
remeh, karena dia yang harus menyimpan berkas,
menyusun arsip dengan baik, mencatat semua transaksi
keuangan, mengelola vendor, suplier dan berbagai aspek
administratif lainnya. Fungsi ini harus dipisahkan dari fungsi
lainnya agar, lebih independen dan bisa menghasilkan
catatan yang rapi sebagai kontrol atas kinerja studio foto
tersebut.

Office boy
Ini fungsi tambahan, bisa saja di hilangkan, atau dirangkap
dalam fungsi lain, sepanjang semua setuju untuk bekerja
sama menjaga kebersihan, keamanan dsb, sehingga
suasana kerja di studio bisa berjalan nyaman dan aman.

lainnya
Untuk organisasi yang lebih besar, tentu saja akan lebih
banyak lagi posisi dan jabatan dibutuhkan, untuk itu saya
tidak akan panjang lebar menuliskannya disini, karena
keterbatasan tempat dan format penyajiannya. Mungkin
dalam forum dan format lain, akan kita bahas secara
tersendiri.

4. Sistem penggajian dan remunerasi karyawan


Disini peliknya sebuah bisnis, karyawan yang produktif layak
dapat gaji besar, tapi jika bisnis sedang lesu... bisa bisa tiap
bulan terasa dunia mau kiamat. Pada umumnya, hampir semua
pengusaha cari tenaga kerja murah, itu sebabnya pemerintah
sampai menetapkan UMR, dengan tujuan supaya gaji tidak
terlalu rendah amat. Tapi itu cuma ada di atas kertas,
prakteknya banyak pengusaha cari akal untuk dapat tenaga
kerja murah dan akibatnya mereka memindahkan pabriknya ke

daratan china di sebrang benua sana... .he..he..he.. jangan


ngelantur bicara soal pabrik ya! Kita ini fotografer, yang punya
cita cita dan masa depan, kalo di gaji dengan UMR pasti gak
bakalan bisa punya motor, apalagi mau kaya raya? Nah, sistem
penggajian disini, sebenarnya juga punya prinsip sama, hanya
untuk menjalankan bisnis, dan tidak untuk membuat anda
sebagai pegawai kaya raya, tapi bisa membuat anda sebagai
pengusaha yang kaya raya. Jadi kesimpulannya sistem
penggajian yang saya tulis disini nantinya lebih cocok untuk
pengusaha, bukan untuk fotografer lho..!
Sambil mendengarkan takbir malam idul fitri 1432H, saya coba
menambahkan sedikit tentang konsep penggajian dan
remunerasi. Sistem penggajian terbagi dalam 5 komponen
dasar berikut ini;

Gaji dasar
Ini salah satu komponen dasar yang tidak bisa ditawar, dan
bisa dijadikan acuan untuk penggajian berdasarkan setiap
tingkat kepangkatan. Jumlah tingkatannya pun tergantung
pada besarnya perusahaan dan sejauh mana struktur
pangkat akan dibangun. Ada yang membuat 16 struktur
tingkatan, ada yang sampai 32 struktur tingkatan dengan
harapan karyawan akan bekerja dalam jangka panjang. Gaji
dibayar setiap bulan.

Uang Makan
Uang makan, sengaja dibuat terpisah, karena ini sama
dengan elemen tunjangan, yang dihitung berdasarkan hari
kerja efektif. Besarnya sangat tergantung kebijakan pemberi
kerja, didasarkan pada tingkat kemahalan daerah setempat.
Tidak ada rumus baku, tapi bisa diperkirakan sendiri bahwa
setiap orang akan makan siang dengan beli di WARTEG
dengan budget paling murah kurang lebih Rp10k, kalo bisa
lebih besar lagi lebih baik, tergantung kemampuan unit
bisnis ybs.

Tunjangan Transport
Komponen tunjangan ini juga diberikan berdasarkan hari

kerja efektif, karena memang bertujuan untuk memastikan


bahwa karyawan tidak punya alasan untuk datang terlambat
ke kantor dengan alasan tidak punya uang... jadi, untuk
implementasinya supaya tingkat kehadiran tepat waktu,
maka bisa di kenakan sistem hukuman untuk setiap
keterlambatan dengan memberikan potongan pada elemen
tunjangan transport. Besarnya tunjangan transport
bervariasi, tergantung kebijakan dan kemahalan daerah
setempat. Minimal Rp10k, dengan pertimbangan ongkos
angkot sekali jalan, sekarang paling sedikit Rp3000, pulang
pergi sudah Rp6000, kalo diberikan lebih, tentu lebih baik.

tunjangan pulsa
Ini tunjangan yang sifatnya psikologis, agar karyawan tidak
sungkan kirim sms atau nelpon kepada rekan atau
atasannya. Tidak semua karyawan diberikan fasilitas ini,
hanya mereka yang dipandang memerlukan intensitas
komunikasi tinggi, akan diberikan fasilitas ini.Itu untuk
membedakan antara karyawan fungsional dan struktural.
Biasanya ini melekat pada karyawan struktural, yakni
karyawan yang punya "jabatan" dalam struktur organisasi
unit bisnis kita.

Insentif kinerja
Untuk insentif, ada yang menerapkan sistem bulanan dan
ada juga yang membedakannya dengan bonus, dan juga
THR, tapi pada prinsipnya insentif diberikan untuk memberi
semangat kerja yang tinggi buat karyawan. Insentif bisa
dikaitkan dengan kinerja karyawan, asalkan dibuatkan
serangkaian parameter yang bisa dengan mudah di ukur
dan dipahami oleh karyawan untuk dilaksanakan. Biasanya
saya kaitkan dengan ketepatan waktu dan akurasi
penyusunan laporan bulanan, serta kinerja dari unit usaha
dimana dia bekerja.

Fasilitas Tempat tinggal.


Untuk karyawan tertentu, sebenarnya saya menyediakan
juga fasilitas tempat tinggal, sekalian JAGA TOKO, atau
kontrakan tersendiri, agar mereka bisa membawa

keluarganya lebih dekat dengan tempat kerja, sekaligus


mereka bisa menghemat uang transport. Namun fasilitas ini
hanya saya berikan kepada pejabat tertingginya saja, karena
dia yang paling banyak perlu waktu untuk melakukan
pengawasan lapangan diluar jam kerja normal.
sementara itu dulu ya, detil lainnya nanti saya tambahkan jika
sudah ada bahan yang lebih lengkap ya...
5. Pelatihan dan pengembangan karyawan
Pada bagian ini, semua aspek pelatihan dan pengembangan
diri harus dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam sistem.
Ada yang mengharuskan karyawan untuk mengikuti suatu
seminar secara rutin, yang sesuai dengan bidang tugasnya.
Ada yang membuat pelatihan internal, dengan mewajibkan
karyawan yang lebih terampil mengajar karyawan yang
dibawahnya. Ada juga metode lain, dengan mengundang orang
luar untuk mengikuti pelatihan GRATIS dimana pengajarnya
adalah karyawan kita sendiri. Tujuannya agar mereka belajar
dan mengasah keterampilan teknis, kemampuan komunikasi,
kepemimpinan dan sekaligus ada unsur tanggungjawab sosial
buat warga masyarakat sekitar.
Untuk jenis pelatihan penting, bisa disusun kategorinya berikut
ini;

Pelatihan teknis fotografi


Ini pelatihan dasar, bisa dilakuan dengan mengirim
karyawan ke seminar, workshop atau kursus, bisa juga
mengadakan pelatihan internal supaya kemampuan teknis
terus terasah. Bidangnya jangan hanya teknis fotografi, tapi
juga hal hal lain yang terkait misalnya tentang olah digital,
manajemen database foto, pencetakan album, pembuatan
desain, dsb. Semua pelatihan semacam ini sangat ditunggu
tunggu karyawan, dan biasanya ada saja karyawan yang
ingin "naik kelas" jadi fotografer atau beralih peran, pada
prinsipnya pelatihan semacam ini bisa diberikan pada
semua karyawan, bukan hanya untuk fotografer saja.

Pelatihan manajerial

Nah ini, bukan hanya untuk para manajer lho, banyak yang
salah mengerti, seolah ini adalah pelatihan untuk menjadi
manajer. Bukan! ini adalah pelatihan untuk memberikan
kemampuan "soft skill" yakni kemampuan mengelola bidang
tugasnya dengan lebih baik, bahkan dalam pelatihan
manajerial seringkali terselip nilai nilai, leadership,
enterpreneurship, dan bahkan motivasi karyawan akan
terpompa setelah memahami betapa pentingnya peran yang
jadi bidang tugasnya.

Pelatihan komunikasi
Masalah komunikasi adalah masalah terbesar di negri kita,
maaf kalo ada yang tersinggung, karena para aparat dan
wakil rakyat sudah memberikan banyak contoh buruk. Ilmu
komunikasi bukan ilmu buat "ngeles" - (menghindar) atau
mencari alasan jika ada kesalahan atau kekurangan, tetapi
sebuah ilmu untuk menyelaraskan antara kata dengan
perbuatan, antara janji dengan kenyataan sehingga semua
komitmen yang sudah disampaikan bisa di pahami dan di
mengerti oleh orang lain. Dalam masalah komunikasi, kita
akan belajar menyusun laporan, belajar melakukan greeting
yang baik, belajar menerima telepon dengan benar, belajar
menulis surat komplain yang sopan, belajar menjawab surat
komplai dari pelanggan, belajar banyak hal untuk memahami
orang lain, sebelum kita berbicara atau menulis.

Pembinaan mental spiritual


Untuk masalah spiritual, saya masukkan disini, bukan
sebagai pelengkap tapi sebagai sebuah keutamaan yang
senantiasa harus kita pahami. Dalam pembinaan spiritual,
kita akan membangun akhlak fotografer yang baik, punya
etika, dan profesional. Maklum, dunia seni dengan dunia
spiritual sebenarnya sangat dekat, karena didalamnya
terkandung nilai nilai budaya dan keindahan alam semesta
termasuk jiwa dan raga manusia. Memahami nilai spiritual
seperti menanam benih sukses dan merawatnya menjadi
besar. Kepercayaan dan keteguhan hati untuk terus
membangun diri bisa di mulai dari sini.

6. dan terakhir baru sistem pencatatan keuangan,

untuk mengetahui rugi laba usaha, dan proyeksi arus kas


supaya tidak kelojotan ketika harus bayar kewajiban gaji
karyawan ataupun bayar listrik dan telepon yang terkadang
bikin
kaget
dan
jantungan.
Mengenai pencatatan keuangan, saya akan coba tuliskan
outlinenya lebih dulu sbb;

Sistem pengendalian intern

sistem perbendaharaan (keuangan/kasir)

sistem pembukuan

sistem pengeluaran

sistem pendapatan

sistem pelaporan
o

laporan rekapitulasi harian

laporan biaya tetap lainnya

laporan rugi laba sederhana

catatan: saya tidak akan menuliskan tentang cara membuat


laporan keuangan secara akuntansi lho, tapi hanya menulis
tentang penyusunan laporan sederhana untuk mengukur kinerja
usaha, dan semata mata terbatas pada kegiatan operasional
sederhana dari sebuah bisnis retail yang relatif kecil. Jangan
tanyakan soal perpajakan, laporan spt tahunan atau hal hal
teknis yang biasa di alami oleh perusahaan besar, terutama
terkait dengan klien korporat sebagaimana diharapkan para
profesional papan atas. Maklum tujuan saya menulis memang
ditujukan untuk kalangan fotografer papan bawah dulu, karena
untuk para profesional papan atas biasanya sudah bisa
membayar akuntan yang lebih ahli. Jika nanti ada fotografer
profesional papan atas yang ikut curhat dan kontribusi disini,
mungkin saya akan buatkan satu topik baru mengenai
pelaporan keuangan dan perpajakannya.

Sebagai pembukaan, saya tulis hal hal tersebut di atas dulu,


nanti kalo ada tambahan atau perubahan, baru saya perbaiki
lagi.
salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:17:04 wib


- edit - upload foto
Penulis:
Heru Muara
Sidik

D. Sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan


Untuk sistem pemasaran dan pengelolaan pelanggan, para
fotografer profesional sudah sangat mahir untuk itu. Saya hanya
sekedar menyalin beberapa pengalaman mereka untuk bisa
menjadi
besar
dan
sukses,
antara
lain;
1. Segmentasi pelanggan.
Pada setiap pelajaran marketing, selalu diajarkan bagaimana
menentukan segmentasi pelanggan. Untuk tahap awal, biasanya
banyak orang memulai dari segmen pelanggan retail, seperti terima
jasa foto studio, wedding, prewedding di lingkungan tempat tinggal,
dst... itu berarti kita memilih segmen konsumen dengan daya beli
rendah, tetapi mereka menjadi sumber pendapatan utama. Pada
fotografer yang lebih mapan, biasanya sudah naik kelas, ke fotostok, foto model, foto wedding dan prewed untuk digedung dan
kalangan menengah, dsb... menurut saya ini masuk pelanggan
kelas menengah. Sedangkan untuk segmen atas, biasanya
menyediakan jasa, foto korporat, foto produk, foto kalender, dan
lain sebagainya. Mana yang paling cocok untuk anda, silahkan
tentukan sendiri, semakin spesifik semakin baik, misalnya akan
memotret segmen menengah, khusus hewan peliharaan, atau
khusus bayi dan anak, atau khusus foto keluarga di studio, dsb.
Tujuan dari segmentasi yang lebih spesifik, adalah agar anda bisa
membaca PETA kemampuan anda, dan pasar mana yang COCOK
untuk digeluti. Ini ibarat sebuah TARGET BERGERAK, karena

suatu saat nanti anda akan MELIRIK juga segmen lain yang juga
menarik untuk di coba. Jangan ragu untuk memilih segmen
tertentu, karena akan mempengaruhi kanal distribusi, dan juga
biaya yang ditimbulkan untuk memelihara hubungan dengan
pelanggan anda. Pilih yang baik, akan membuat seluruh
sumberdaya anda akan memberikan daya ungkit maksimal
terhadap
pencapaian
kinerja
bisnis
anda.
2. Kanal distribusi, untuk melayani pelanggan.
Memilih kanal distribusi, agak berbeda dengan memilih Vendor,
Supplier atau Mitra kerja, disini kita membicarakan mengenai
metode dan media yang digunakan untuk menjawab
pertanyaan; "Bagaimana cara membeli Jasa Fotografi anda?".
Mirip dengan pendekatan MARKETING, tapi saya lebih suka
mengatakannya metode penjualan (Sales Method). Apa bedanya
MARKETING dengan SALES? silahkan googling, dan cari
jawabannya. (Menurut saya : Marketing lebih ditujukan kepada
segmen pasar yang belum kenal, belum tahu dan belum perlu
dengan jasa anda, tetapi Sales, lebih dimaksudkan untuk mereka
yang sudah tahu, ingin kenal dan ingin membeli produk jasa anda,
sehingga perlu dilayani dan berinteraksi, baik langsung maupun
tidak langsung. Bedanya sangat tipis, dan bisa dibilang tidak terlalu
terlihat batas perbedaannya, namun merupakan satu rangkaian
proses yang saling berhubungan, dimana setelah program
marketing sukses, akan dilanjutkan dengan program sales, ada
overlap proses dan puncak eksekusi terjadinya penjualan adalah di
titik SALES.)
Banyak fotografer suka PAMER FOTO di fesbuk, atau ikut
PAMERAN DI MALL, atau suka juga bagi bagi kartu nama di
berbagai acara yang ramai di kunjungi orang, suka hadir dan
meliput acara acara kondangan dan sebagainya. Semua keputusan
memilih kanal distribusi, akan menentukan juga biaya yang akan
dikeluarkan. Semakin sedikit kanal distribusi, akan semakin sedikit
juga peluang mendapatkan ORDER, semakin banyak kanalnya,
akan semakin banyak juga peluang dapat ORDER, tapi jangan
lupa, biaya yang timbul juga akan mengikuti cara anda menjual.
Pilih biaya yang paling murah namun punya hasil paling efektif. Itu
disebut dengan biaya yang punya daya ungkit tinggi terhadap
kinerja
bisnis.

Contoh kanal distribusi yang murah namun efektif: Fesbuk, twiter,


website-wedding, website-stok foto, website pribadi dan lain
sebagainya. Namun anda harus kreatif melakukan pemantauan,
dan aktif "menyapa" calon-calon pelanggan anda dengan ramah
dan santun, supaya mereka selalu "ingat" dengan anda. Penjualan
via media lain, seperti iklan koran, iklan majalah, membuat brosur,
membuat mini-portfolio, dsb, bisa menjadi pelengkap dan
membantu anda untuk mendapatkan pelanggan, dan meningkatkan
penjualan, namun pastikan bahwa media lain ini, cukup murah, dan
merupakan salah satu bagian dari proses mendapatkan pelanggan,
dimana tujuan utamanya adalah memastikan bahwa pelanggan
yang tertarik, bisa menandatangani kontrak SERVICE ORDER.
3. Memelihara hubungan dengan pelanggan.
Dalam memelihara hubungan baik dengan pelanggan, banyak cara
dan metode yang unik, dan jelas bahwa tujuan dari kegiatan ini
adalah menjaga hubungan jangka panjang, karena setiap
pelanggan adalah sebuah potensi pendapatan di masa depan,
entah melalui repeat-order, atau mendatangkan klien baru. Semua
itu hanya akan terjadi jika:

Anda senantiasa tetap menjaga hubungan dengan


pelanggan melalui, email, media social, kartu ucapan
selamat hari ulangtahun, mengingat dan mengetahui hari
ulangtahun anak, dan anggota keluarga lainnya, serta tidak
lupa untuk mengundang mereka dalam acara acara
pembukaan atau perkenalan produk baru.

Memelihara nomor telepon, email, alamat tempat tinggal,


alamat kantor dan informasi penting dan personal lainnya
secara rutin, dan nomor telepon anda sendiri tidak berubah
karena pulsa habis dan kedaluarsa, atau pindah alamat
tanpa pernah memberitahukan pelanggan.

Menyimpan foto-foto candid dan personal pelanggan, dan


mencetak kartu ucapan selamat, lengkap dengan nama dan
nomor telepon anda, sebagai bonus KEJUTAN hadiah
ulangtahun, yang tidak pernah mereka duga, karena mereka
tidak pernah menerima foto-foto tersebut dalam proyek yang
anda kerjakan untuk mereka. Ini, jarang sekali dilakukan

oleh fotografer, karena mereka cukup murah hati


menyerahkan semua karya fotonya tanpa pernah
memperkirakan potensi foto-foto tersebut sebagai sebuah
JALINAN persahabatan yang tak akan pernah lekang oleh
waktu.

Meninggalkan "jejak dan identitas", seperti nama dan nomor


telepon anda pada halaman belakang album atau tepi
bingkai foto kanvas, atau berpartisipasi pada berbagai
kegiatan sosial lain, dengan membagikan kartu nama pada
acara acara resepsi pernikahan, undangan ulangtahun,
undangan syukuran, arisan, pengajian dan berbagai
kegiatan lainnya yang mungkin diikuti oleh pelanggan, atau
oleh calon pelanggan anda.

Menghadiri acara di sekolah, kampus, seminar atau


berbagai kegiatan keramaian lain yang di ikuti juga oleh
pelanggan, sehingga jaringan sosial anda akan semakin
luas, dan ajarkan hal ini kepada karyawan anda juga,
supaya mereka bisa lebih berkembang lagi menjadi mitra
kerja anda yang terpercaya. Jangan takut dengan karyawan
yang mengundurkan diri ketika mereka sudah punya
keterampilan memelihara klien sendiri, karena pada
dasarnya mereka bisa anda bimbing menjadi mitra kerja
dengan membantu mereka membuka cabang di tempat lain,
dan anda menjadi salah satu pemegang saham di
perusahaan baru yang didirikan oleh karyawan anda.
Dengan kata lain, suatu saat nanti, karyawan anda adalah
juga pelanggan anda, karena bisa jadi mereka masih
membutuhkan support anda ketika mereka sudah mandiri
sekalipun.

Ketiga poin di atas, adalah bagian dari model bisnis yang harus di
kelola dan dikerjakan secara berkelanjutan. Semakin rajin kita
mengelolanya, semakin baik kinerjanya. Karena setiap langkah
akan membutuhkan biaya, dan biaya terbaik adalah ketika biaya
tersebut menghasilkan kinerja yang paling besar, dengan demikian
setiap biaya harus punya leverage besar terhadap pendapatan
usaha kita.

Sedikit uraian sudah saya tuliskan pada bagian "penyusunan


business model", nanti akan saya ulas lebih rinci lagi pada bagian
ini.
salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:17:20 wib


- edit - upload foto
Penulis:
Heru Muara
Sidik

E. Mengembangkan Jaringan Bisnis?


Bagian ini adalah bagian terakhir yang akan saya bahas, karena
akan banyak polemik dan bukan mustahil akan sarat dengan
perdebatan sengit yang menguras energi dan emosi. Untuk itu
saya akan sisihkan setelah semua bagian bisa saya tulis kan
dengan lebih lengkap.
Maklumlah, untuk masalah pengembangan jaringan bisnis, saya
bukan orang yang berpengalaman, jadi apa yang nanti akan saya
tulis disini, sudah pasti akan sarat dengan segala kekurangannya,
apalagi jika kita bicara jaringan bisnis. Lha wong saya aja belum
punya jaringan bisnis, kok bisa bisa nya mau ngomong soal itu?
Tapi jangan kuatir, saya sendiri hanya menulis ide dan pendapat
saja kok, pastilah ada yang kurang beres, jadi saya harap rekan
rekan semua tetap semangat untuk membereskan hal hal yang
rasanya kurang berkenan, supaya saya juga bisa belajar dari rekan
rekan semua.
Baik lah para sahabat semuanya.... sekarang saya akan buatkan
outlinenya sbb;
1. Penambahan segmen pelanggan
Ketika terjadi perkembangan yang baik dari sebuah bisnis, tentu
saja yang terpikirkan adalah bagaimana cara nya supaya bisnis
bisa tambah besar lagi. Namanya juga pengusaha, pasti banyak
usaha untuk membuatnya jadi lebih besar, untuk itu langkah

paling mudah adalah mencari segmen pelanggan baru. Tadinya


masih retail, sekarang sudah belajar melayani korporasi kecil,
dan lama lama mampu melayani korporasi besar. Ditambah lagi
dengan pengalaman yang tadinya hanya kenal dengan
percetakan, sekarang sudah kenal dengan perusahaan agensi
iklan, perusahaan jasa komunikasi (baca: HUMAS, bukan
telekomunikasi lho), bahkan bisa juga masuk industri yang
berbeda, dengan melayani permintaan videografi, sampai
pembuatan filem.
2. Franchise atau Chain-Studio
Istilah Franchise sudah banyak yang dengar, tapi istilah ChainStudio saya plesetkan dari istilah lama yang disebut dengan
Chain-Store. Dulu sebelum franchise berkembang seperti
sekarang, banyak para pemilik usaha, mengembangkan
usahanya sendiri, dengan modal bank atau modal saham
sendiri, untuk membangun cabang-cabang baru di seantero
dunia. Namun membiayai sendiri Chain-Store mereka, akan
menimbulkan biaya investasi yang MAHAL. Oleh karena itu lah,
sekarang banyak berkembang Franchise, yang lebih banyak di
maksudkan untu berbagi risiko bisnis. Sayangnya ketentuan
tentang Franchise di Indonesia, belum ditaati dengan baik,
banyak franchisor yang pengalamannya kurang dari 3 tahun
sudah pasang iklan franchise, dan ketika terjadi perselisihan,
posisi franchisee adalah posisi yang paling dirugikan, sehingga
banyak franchisor yang MELAHAP para franchiseenya tanpa
mereka menyadari efek jangka panjang yang terjadi, dimana
tingkat kepercayaan terhadap BRAND Franchise akan merosot.
Franchise adalah suatu pendekatan yang bagus, untuk
mengembangkan bisnis fotografi secara lebih cepat, murah, dan
efektif dalam biaya pemasaran, termasuk pelatihan dan
standarisasi produk. Franchisor yang baik, adalah yang
memberikan support kepada franchisee untuk membangun
usahanya dengan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Saya
punya sedikit pengalaman soal franchise, jadi untuk masalah
ini, nanti akan saya share secara terpisah.
3. Kerjasama Modal Ventura
Ini istilah buat kerjasama yang sifatnya syariah, dimana

keuntungan pemberi modal ventura, adalah bagi hasil yang


wajar dari bisnis yang dimodali. Bisa saja modal ventura itu
kemudian di konversi menjadi saham perusahaan, dan
biasanya hal itu merupakan salah satu opsi yang ditawarkan
pada awal perjanjian kerjasama modal ventura ditandatangani.
Buat bisnis fotografi, belum ada yang berani menjadi pemodal
ventura, karena banyak fotografer adalah PENGUSAHA
PRIBADI yang tidak punya administrasi keuangan yang baik,
sehingga mereka juga tidak bisa meyakinkan para pemodal
ventura untuk mensponsori bisnis fotografer. Bagaimana
mendapatkan modal ventura di Indonesia? Saya lihat banyak
BUMN dan perusahaan besar yang sekarang diwajibkan untuk
mengembangkan UKM, dan mereka bisa memberikan modal itu
untuk anda, sepanjang anda cukup meyakinkan mereka bahwa
bisnis anda punya potensi maju.
Sayangnya lagi, lagi....
saya bleum pernah dengar ada fotografer gurem yang dimodali
oleh BUMN, yang ada adalah fotografer korporat dapat order
dari BUMN karena koneksinya bagus.
Barangkali saya salah, tolong dibantu koreksinya ya...
Mungkin FN bisa membentuk sebuah ENTITAS LSM yang
membangun suatu sistem kerja standar, untuk menjadi
SPONSOR, yang bertanggungjawab MENYALURKAN programprogram pemerintah, baik yang berasal dari BUMN maupun
perusahaan besar lainnya, dan mendorong fotografer
anggotanya yang sedang merintis bisnis, sehingga pembinaan
para fotografer tersebut bisa berlangsung dalam jangka panjang
dengan tingkat kesuksesan yang lebih tinggi.

4. Mengembangkan bisnis lain pendukung fotografi


Bisnis fotografi bukan cuma memotret wedding, prewed, stok
foto, korporat dsb, tapi juga printing, album, desain kreatif, video
editing, photo editing, kursus, seminar, workshop, dan bahkan
penjualan kamera, asesoriesnya, perlengkapan studio dan

berbagai peluang bisnis lainnya, anda bisa memilih atau


menekuni salah satunya. Begitu beragamnya peluang bisnis
pendukungnya, bisa dilihat pada BURSAN FN. Seandainya
komunitas FN ini bisa digerakkan ke arah yang lebih strategis,
sebuah ENTITAS LSM, bisa jadi kita nanti akan bersatu padu
mengatur harga pasar yang wajar, dan bahkan bisa mendorong
harga pasar kamera dan perlengkapannya yang murah,
khususnya buat anggotanya, karena ENTITAS semacam ini
bisa melakukan kegiatan EKONOMI yang lebih efektif.
5. dsb...
Kemanapun arah tujuan yang anda cari, silahkan melanjutkan
pengembangan bisnis tersebut, namun harus memperhatikan
syarat syarat berikut:

Sedapat mungkin bisnis baru harus memiliki keterkaitan erat


dengan kemampuan dan sumber daya yang sudah ada,
atau paling tidak kita punya partner kerja sama yang
kompeten dalam mengembangkan bidang baru tersebut.
Meninggalkan bisnis yang lama dan mengembangkan bisnis
yang sama sekali baru, juga boleh sepanjang memang
sudah dipertimbangkan dengan baik. Petunjuk SUKSES,
tidak selalu terlihat JELAS, kita hanya bisa memperkirakan,
dan mempersiapkannya, sedangkan hasilnya baru terlihat
setelah PENGORBANAN terjadi.

Buat sebuah simulasi BUSINESS MODEL CANVAS untuk


memastikan bahwa bisnis baru tersebut, mampu anda
kerjakan dan secara finansial memberikan keuntungan
ekonomi buat bisnis anda, bukan malah jadi beban yang
menyedot kinerja bisnis yang sudah jalan.

Semua bisnis baru, mengalami proses GROWING PAINS,


dan tidak terkecuali apapun yang anda lakukan juga ada
momentum yang memaksa anda untuk bekerja ekstra
tenaga untuk mengatasi setiap masalah yang timbul. Oleh
karena itu, pastikan semua masalah tersebut sudah di
antisipasi dengan baik, melalui MANAJEMEN RISIKO yang
memadai.

Banyak orang yang ingin TUMBUH dengan ambisi yang luar

biasa besar, tanpa dukungan TENAGA yang memadai, oleh


karena itu, memilih MITRA KERJA yang tepat adalah salah
satu langkah penting bagi suksesnya bisnis anda. Dengan
kata lain, tidak ada orang yang SUKSES dengan jalan
SENDIRI, tapi banyak orang SUKSES yang meraihnya
dengan bantuan ORANG LAIN.
Mohon kesabarannya ya, karena tingkat kesulitannya yang
relatif tinggi dan butuh banyak referensi supaya tulisan ini
banyak manfaatnya. Semoga....
salam,
heru m sidik

28 Agustus 2011 08:17:30 wib


- edit - upload foto
Penulis:
Heru Muara
Sidik

What NEXT?
reserved page 6 ..
halaman halaman ini saya cadangkan untuk, membahas topik topik
yang sudah saya buatkan outline tsb di atas, sekaligus untuk
mendokumentasikan masukan dan saran rekan rekan semua yang
tentu saja akan memperkaya tulisan ini.
Ini bukan artikel, ini adalah forum diskusi, yang mudah mudahan
nilainya akan lebih baik jika kita semua memberikan kontribusi.
sambil jalan secara bertahap, saya coba catat dulu beberapa
masukan dan harapan teman teman disini;

Irvan Airlangga
yup semoga nanti ada bahsan ttg 'pengembangan bisnis'
dgn detail bagaimana "memeliharaKaryawan" agar kita bisa
naik level menjadi Bisnis Owner. bukan hanya 'self
branding'; juga cara mengatasi 'konflik internal'.... ya seperti
klo partner yg ud jago keluar dr grup ato hubungan dgn Sub

vendor..sperti percetakan, frame..dLL

Ali Usman
Tertarik membaca judulnya. Setelah membaca saya dengan
seksama, saya sedikit ingin nimbrung pendapat. Mengapa
pembahasan berikut contoh kasusnya lebih mengupas
tentang retail business (photography) atau lebih khusus ke
foto pernikahan/wedding saja. Bukan secara general.
bagian dibawah ini sudah saya masukan dalam poin
ilustrasi di atas
Padahal bidang fotografi itu sangat luas. Ada Corporate,
Commercial, Stock, Food, dll. Dan kalo boleh jujur, justru
bidang2x tersebut yang justru lebih banyak menghasilkan
fotografer yang sukses secara materi. Kan judulnya
mengambil kata "Kaya Raya". Apalagi rekan2x disini banyak
yang belum paham tentang bisnis fotografi yang melibatkan
pihak lain spt : ad agency, produser, stylist,tim produksi, tim
creative, dll. Mungkin yang punya pengalaman boleh
nyumbang sharing disini..

Pengendalian Internal Studio Foto buat suplemen tambahan

Menyusun Rugi Laba Studio Foto secara sederhana,


walaupun tidak sempurna tapi bisa buat praktek...

Menghitung Penyusutan Kamera buat para praktisi, bukan


teori akuntansi ...

Teori penetapan harga jasa fotografi sebagai salah satu


cara, dan bukan satu satunya lho...

Penulis:
Heru Muara
Sidik
(10253)

F. Pengendalian internal buat studio foto


Dear photographers,
Sebelumnya saya permisi dulu dengan bapak-bapak moderator dan
semua pengelola studio foto profesional, disini saya ingin sedikit
sharing tentang "sistem pengendalian intern" untuk studio foto agar
kinerja studio foto dapat terjaga dan terus berkembang. Terus terang
pengalaman saya membuka studio foto memang masih seumur
jagung, maklum saja karena studio foto yang saya dirikan adalah
masih sebuah langkah kecil yang dirintis untuk masa depan saya
pensiun nanti.
Untuk memulainya dalam bahasa sederhana, saya coba terangkan
dulu tentang apa itu "sistem pengendalian intern" merupakan suatu
sistem yang dirancang untuk menjaga aman harta perusahaan melalui
perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan. Untuk penjelasan
lebih rinci lagi silahkan lihat di wikipedia supaya lebih memahami
teknisnya. Sebenarnya sistem itu sendiri sudah bapak dan ibu kenali
dan lakukan sejak awal mendirikan usaha, bahkan dalam mengelola
rumah tangga pun sudah ada yang namanya pengendalian intern.
Namun demikian, sistem ini baru akan meningkat menjadi lebih rumit
manakala kegiatan bapak dan ibu semakin meningkat pesat, sehingga
tidak adalagi ruang dan waktu yang tersedia untuk turut mengendalikan
jalannya perusahaan secara penuh. Sejak saat itu pula sistem mulai
berkembang dan menjadi lebih kompleks dan rinci.
Sebagaimana diungkapkan dalam berbagai literatur, ternyata sistem
pengendalian intern itu terdiri dari berbagai pernak-pernik dunia
administrasi, akuntansi sampai masalah perijinan dan peraturan adalah
produk dari pengendalian intern itu. Khusus untuk studio foto, saya
coba menjelaskan komponen-komponen yang terkait seperti :
1. Komputer billing kasir (untuk mencatat penerimaan uang)
2. kasir utama (petugas yang dipercaya dan diharapkan dapat
mencatat semua pemasukan)
3. kasir-studio (petugas yang mengoperasikan sistem billing)
4. absensi (peraturan untuk menjamin kehadiran dan jam buka/tutup
gerai studio foto)
5. laporan harian (ikhtisar yang dihasilkan dari billing studio foto)
6. laporan bulanan (laporan keuangan yang disusun dengan
akuntansi sederhana)
7. buku kas/buku bank (buku yang mencatat semua penerimaan dan
pengeluaran biaya)
8. daftar aset (buku yang berisi daftar komputer dan peralatannya
sampai pada meja kursi, ac dan kelengkapan studio)

9. rekening bank (untuk menampung pendapatan supaya uang tidak


menumpuk di laci kasir)
10. peraturan kepegawaian (ketentuan sederhana yang terkait dengan
sistem penggajian)
11. kebijakan operasional (termasuk kebijakan terkait dg target pasar,
cara marketing, pemilihan paket produk, dsB )
12. terakhir adalah kontrol rutin (tugas dari pemilik studio foto untuk
melakukan kunjungan atau pengawasan berkala, termasuk
menugaskan
mistery
shoper
ataupun
sidak)
penulisan diatas tidak saya urutkan secara sistematis, agar dapat
ditambahkan lagi jika ada kekurangan tanpa harus takut salah
mengenai urutan ataupun maksud dari uraian yang tertulis dalam
tanda kurung.
Untuk memudahkan saya membagi kelompok pengendalian intern
khusus studio foto dalam 3 kelompok fungsi yakni sbb;
1. Fungsi Keuangan
Fungsi keuangan meliputi kasir, sistem billing sampai penyetoran
kebank dan pembayaran biaya operasional termasuk gaji. Didalam
fungsi keuangan, saya hanya menunjuk satu orang yang dapat
dipercaya (tentu saja dan kalo bisa diurus sendiri oleh pemilik -- jika
ada waktu) khususnya jika skala struktur organisasi studio foto
memang sangat sederhana (maklum untuk studio foto kecil dengan 510PC tentu sangat terbatas jumlah orangnya.

Pertama
Bedakan antara kasir yang memegang keuangan dengan kasir
yang mencatat langsung dari sistem billing (ini saya sebut kasiroperator) karena kasir adalah orang yang dipercaya, sehingga
dia bisa merangkap sebagai kasir-operator tapi kasir-operator
tidak bisa merangkap kasir. Sampai disini, jangan sampai
bingung ya, karena fungsi kasir yang saya bicarakan adalah
kasir untuk pemegang buku kas besar, dan kasir-operator
adalah pemegang kas kecil.

kedua
Kasir harus menyetorkan uang pendapatan ke rekening bank
yang ditunjuk, agar dicatat oleh bank setiap hari atau paling
sedikit seminggu 2 kali, yakni pada hari jum'at pagi (untuk
pendapatan dari senin sampai dengan kamis -- 4 hari) dan pada
hari senin pagi (untuk pendapatan dari jumat, sabtu dan minggu)
-- jika hari senin dan jumat jatuh pada hari libur, maka
penyetoran harus dilakukan pada hari kerja berikutnya. Jika

kasir menyetorkan secara tunai, langsung kepada pemilik, maka


sebaiknya pemilik mempunyai buku penerimaan kas tersendiri
yang mencatat penerimaan tersebut secara rutin.
Tujuan dari cara ini, adalah untuk menghindari penumpukan
uang di laci kasir (karena itu cara terbaik adalah harus dilakukan
setiap hari) sehingga untuk selanjutnya jumlah penerimaan tunai
ini akan dibandingkan dengan catatan pendapatan menurut
sistem billing. Pencocokan dilakukan secara berkala, paling
sedikit seminggu sekali yakni pada hari jumat (atau pilih saja
hari yang paling senggang, agar tidak mengganggu jalannya
operasi)

ketiga
Akses terhadap sistem billing harus dibatasi agar kasir-studio
tidak dapat melihat jumlah total pendapatan pada hari itu, dalam
hal ini, kasir-studio hanya diberikan tugas untuk mencatat setiap
transaksi kedalam sistem billing, dan setiap transaksi
dikeluarkan struk belanja. Tugas kasir-operator hanyalah
mencatat fisik kas yang diterimanya, dan melaporkannya secara
harian dalam formulir standar yang sudah dibuat, tanpa pernah
tahu berapa jumlah diangka penerimaan di billing sistem.
Maksud dari cara ini, adalah agar kasir tidak cuma
mencocokkan penerimaan uang dengan billing sistem, dan
"kelebihan uang" akibat lupa pendapatan lupa dicatat langsung
diklaim sebagai pendapatan pribadi. Untuk itu secara periodik,
pemilik studio foto dapat menghitung total jumlah laporan harian
kas, dan membandingkannya dengan total pendapatan pada
periode yang sama yang dicatat dalam billing system. Apabila
ada perbedaan maka setiap "selisih lebih" adalah pendapatan
lain2 atau kasir yang sering lupa mencatat pendapatan, jika ada
"selisih kurang" maka terdapat tamu yang tidak membayar, atau
ada pengeluaran yang tidak dicatat dalam laporan harian. Jika
selisihnya terlalu kecil, tentu saja kita terima sebagai selisih
uang kecil, karena sistem billing menghitung dalam satuan
rupiah, sementara mata uang yang tersedia paling kecil adalah
Rp50,-

keempat
Pengeluaran operasional hanya dapat dilakukan setelah
mendapatkan persetujuan dari pemilik, kecuali untuk
pengeluaran rutin yang sudah diketahui oleh pemilik secara
pasti. Setiap pengeluaran yang dapat dilakukan oleh kasir
adalah pengeluaran seperti;

pembayaran utilities -- listrik, telepon, internet, dan atk


yang nilainya kecil.
b) pembayaran gaji karyawan -- kalau jumlahnya besar
harus disiapkan sendiri oleh pemilik.
c) pembayaran
maintenance
peralatan,
kerusakan,
perbaikan dsb yang nilainya kecil (maksimal sekitar
Rp500ribu).
d) pengeluaran lain terkait dengan kegiatan operasional
seperti iuran kebersihan, keamanan, sumbangan hari
besar dsb.
a)

Semua jenis pengeluaran harus dicatat dalam buku kas secara


jelas, dimana dalam catatan tersebut setidaknya dibuat kolomkolom untuk mengelompokkan pengeluaran tersebut dengan
detil sbb; (a) tanggal (b ) keterangan (c) jenis pengeluaran (d)
jumlah rupiah -- (pengelompokan ini sifatnya sederhana dan
dapat diperluas atau ditambah lagi dengan informasi lain sesuai
kebutuhan masing-masing, misalnya referensi nomor bukti;
nama operator/orang yang belanja; atau informasi lain yang
mungkin diperlukan.
Pencatatan ini, harus didukung oleh bukti-bukti pengeluaran,
sehingga jangan lupa untuk menugaskan pegawai menyusun
dan menempelkan bukti-bukti pengeluaran dalam satu lembar
kerta A4 yang sudah bekas, berdasarkan tanggal transaksi.
(biasanya satu halaman A4 cukup untuk mencatat seluruh
transaksi tersebut). Jika bukti tidak ada, tapi pemilik yakin
bahwa pengeluaran tersebut memang terjadi, maka bisa ditulis
langsung pada lembar A4 tersebut mengenai rincian biaya yang
dikeluarkan. Hal ini biasanya terjadi pada pembayaran secara
elektronik, seperti telpon, dan listrik.

Kelima
Pengeluaran investasi, seperti pembelian komputer baru,
renovasi, pembelian ac, pembelian perabotan dan peralatan lain
yang masa pakainya lebih dari satu tahun, dan atau
memperpanjang umur aktiva. Kurang lebihnya semua
pengeluaran ini adalah investasi yang harus dikembalikan
kepada pemilik studio foto. Oleh karena itu harus dicatat dengan
baik, dan diperhitungkan umur penyusutannya. Cara
menghitungnya adalah dengan
(a) memperkirakan masa pakai efektif (bisa umur ekonomis
bisa umur teknis, tergantung kebutuhan, karena biasanya
usaha studio foto yang sewa selama 5 tahun, tentu saja
memperhitungkan umur asetnya selama 5 tahun juga, atau

mengikuti ketentuan standar akuntansi yang berlaku atau


ketentuan penyusutan menurut pajak)
(b) memperkirakan nilai sisa (ini Cuma estimasi harga jual
seandainya investasi itu dijual pada akhir masa pakai efektifnya)
(c) nilai perolehan dari investasi bapak-ibu. Selanjutnya
dilakukan perhitungan sbb;
(d) biaya penyusutan = [(c)-(b )]/(a)
Jadi biaya penyusutan adalah semacam upaya pengembalian
modal yang sudah ditanamkan saat pendirian studio foto bapakibu sekalian, dan umurnya dibatasi pada seberapa lama studio
foto bapak ibu dapat dipertahankan operasinya. Kalo menurut
prinsip akuntansinya sih going concern artinya sepanjang
masa tidak boleh direncanakan untuk ditutup, tapi dalam
prakteknya, paling panjang umur studio foto yang tempatnya
sewa, ya selama masa sewa itu masih ada, dan setelah ada
kenaikan maka tidak layak lagi untuk diteruskan, kecuali skala
ekonomisnya memungkinkan.
Biaya penyusutan ini adalah biaya yang tidak memerlukan
pembayaran kas, jadi sifatnya administratif sehingga disebut
non-cash expenditure, tapi uangnya bisa bapak ibu tabung
untuk melakukan peremajaan studio foto, atau persiapan buka
studio foto ditempat lain.

Keenam
Sewa ruko, merupakan pengeluaran dimuka yang terkait
dengan operasi studio foto. Pengeluaran semacam ini memang
makin hari makin tinggi, dan tidak terjangkau, sehingga
cenderung biaya sewa ruko dibayarkan untuk periode 5 tahun,
atau paling sedikit dalam periode dimana tercapai satu titik
break-even (titik impas tidak rugi tidak untung).
Biaya sewa, mirip dengan biaya penyusutan, tapi tidak punya
nilai sisa, yang ada juga security deposit (dan deposit ini
biasanya dikembalikan setelah penyewa menyerahkan kunci
properti kepada pemiliknya). Perhitungan biaya sewa dilakukan
dengan cara sebagai berikut;
(a) masa sewa dalam hitungan bulan
(b) besarnya uang sewa
(c) amortisasi = (B )/(a)

Jadi disini, amortisasi adalah pembebanan biaya dibayar dimuka


yang harus dikumpulkan atau dikembalikan kepada pemilik
studio foto, guna menyiapkan tabungan untuk memperpanjang
sewa atau mencari tempat sewa baru. Ini juga termasuk noncash expenditure.
2. Fungsi Administratif/akuntansi
Nah sekarang kita lanjutkan untuk fungsi administrasi atau akuntansi,
sehingga apa yang sudah dijelaskan pada fungsi keuangan dapat
dicatat dalam satu sistem administrasi yang tertib dan bisa
memberikan gambaran kinerja studio foto bapak ibu sekalian.
Untuk itu saya akan coba memberikan gambaran tentang formula
akuntansi neraca, dimana
(x) = aset ;
(y) = hutang ;
(z) = modal
maka (x) = (y)+(z),
jadi jika (y) = 0 (berarti semua investasi pake modal sendiri) maka
(x)=(z), nah jika (z) =0 (ini namanya bikin studio foto dengan modal
dengkul alias ngutang semuanya hehe..he..) maka (x)=(y)
Sampai disitu masih ada lagi kelanjutannya yakni, yakni formula
akuntansi rugi/laba, dimana strukturnya dapat saya rinci sbb;
(e) Pendapatan (ini adalah pendapatan dari foto studio, proyek foto,
desain dan cetak album, dsb.)
(f) Harga pokok (ini adalah biaya langsung yang terkait dengan foto
studio, proyek foto, desain dan cetak album,dsb).
(g) Biaya administrasi (yang meliputi : Gaji Pegawai, Biaya listrik,
telepon, PAM, ATK, iuran sampah, keamanan, dan biaya lain yang
tidak secara langsung menunjang operasi studio foto)
(h) Biaya amortisasi dan penyusutan (ini biaya amortisasi sewa tempat,
dan biaya penyusutan perabotan, AC, komputer, dan renovasi)
(i) Pendapatan Kotor = (a)-(B )
(j) Pendapatan sebelum amortisasi dan penyusutan = (e)-(c)
(k) Pendapatan bersih sebelum pajak = (f)-(d)

(untuk pajak saya tidak jelaskan lebih lanjut, karena nanti bikin
pusing... he..he..he..)
Selanjutnya (g) tadi jika ditambahkan dengan (z) modal, maka akan
menambah aset studio foto bapak ibu sekalian, sehingga total formula
neraca yang tadi (x)=(y)+(z)+(g)
Demikian sedikit tentang teori akuntansinya sebelum saya lanjutkan
pada tahapan berikutnya, dimana fungsi keuangan dari urutan kesatu,
kedua dan ketigaharus dicatat dan dilaporkan secara harian untuk
selanjutnya dibukukan sebagai (A)PENDAPATAN, dan fungsi
keuangan keempat dicatat sebagai (B ) HARGA POKOK dan (C)BIAYA
ADMINISTRASI, terakhir fungsi keuangan yang kelima dan keenam
akan dicatat sebagai (D) BIAYA AMORTISASI DAN PENYUSUTAN.
Atau saya ulang dengan ringkas jadi sbb;
(a), (B ), (c) = pendapatan
(d) = harga pokok dan biaya administrasi
(e), (f) = biaya amortisasi dan penyusutan
Dengan cara pencatatan seperti ini, kunci utamanya terletak pada buku
kas dan buku bank yang bapak ibu miliki, karena dari situ, semua
transaksi bisa dicocokkan dan direkonstruksi secara sistematis menjadi
laporan keuangan dan rugi laba. Sementara itu, kinerja keuangan akan
terlihat apakah usaha bapak ibu sudah cukup menguntungkan, atau
hanya ada keuntungan tunai, karena tidak lagi nombok dan sudah
bisa operasional secara mandiri, namun tingkat pengembalian
investasinya masih rendah, sehingga saat tiba waktunya bayar sewa
atau peremajaan komputer, kantong kita kebobolan lagi .
3. Fungsi Pengawasan
Sekarang tiba saat melakukan pengawasan. Disini saya coba untuk
menjelaskan teknik pengawasan dengan cara melihat dulu skenario
kecurangan yang mungkin terjadi dalam pengelolaan studio foto,
sehingga bapak ibu dapat langsung mempraktekkan sistem
pengendalian intern seperti apa yang tepat.

Pendapatan tidak disetorkan


untuk masalah ini, hanya perlu dilakukan rekonsiliasi antara
catatan pendapatan menurut billing dengan catatan penerimaan
kas/bank, dan setiap terdapat selisih harus cocok dengan

catatan biaya yang sudah dikeluarkan. Teknik ini, hampir pasti


biasa dilakukan oleh semua pemilik studio foto dan terlalu
mudah diketahui oleh pegawai studio foto, sehingga kalaupun
terjadi, biasanya akibat jarangnya pemilik studio foto melakukan
pengawasan. Untuk itu disarankan untuk melakukan rekonsiliasi
semacam ini, setidaknya sebulan sekali, atau lebih baik lagi jika
dilakukan setiap minggu.

Order di kerjakan sendiri oleh pegawai


Kecurangan semacam ini paling sering terjadi, karena antara
GAJI dan harga PROYEK foto ternyata berbeda banyak.
Solusinya tidak mudah, namun bisa disiasati dengan melihat
absensi karyawan yang jarang masuk, atau setiap hari-hari
keramat dimana banyak order foto justru dia tidak bisa hadir.
Ciri lainnya, adalah karyawan jadi tidak semangat ketika
mendapat tugas memotret, belum lagi ybs. Sering membawa
alat produksi keluar studio tanpa ijin.
Solusi:
o

Setiap pemakaian peralatan fotografi harus mengisi


formulir peminjaman, dan setiap hari kamera dan lensa
harus di simpan di studio.
Ada kemungkinan karyawan punya kamera dan
perlengkapan sendiri, untuk hal ini bisa disiasati dengan
penandatanganan code of conduct yang mengatur
standar perilaku karyawan agar setiap karyawan, baik
fotografer, kasir maupun staf lainnya, tunduk dan taat
untuk menjaga seluruh kepentingan perusahaan, dan
menjaga integritasnya agar tidak melakukan usaha atau
kegiatan komersial lainnya yang bersifat menyaingi
usaha utama perusahaan. Bila kontrak semacam ini di
langgar, hukumannya jelas bahwa perusahaan dirugikan,
jadi lakukan beberapa langkah sbb;
Peringatan tertulis pertama
Peringatan tertulis dan denda (nilainya terserah)
Pemecatan

Biaya produksi meningkat


Praktek ini, seringkali terjadi dan sangat sulit dikontrol, sehingga
pegawai yang nakal sangat betah untuk bekerja pada jam-jam
ramai. Ini sama dengan buka toko didalam studio foto kita,

sehingga biaya-biaya operasional dibebankan kepada studio


foto, sementara pendapatan di kantongin oleh pegawai nakal
tersebut.
Solusi :
o

Mengatasi praktek kecurangan seperti ini adalah dengan


mengirimkan mistery shopper yang tugasnya sama
seperti pelanggan biasa, tapi akan melaporkan semua
kelakuan
pegawai
nakal.
Cara
lain
untuk
menanggulanginya
adalah
dengan
menggunakan
teknologi yang lebih mahal, mulai dari kamera pengintai,
dan memasang GPS pada kendaraan operasional.
Jika berbagai cara tidak juga berhasil, maka lakukan
pengawasan khusus dengan menggantikan fungsi
pegawai tersebut untuk kurun waktu tertentu misalnya
satu minggu dengan pegawai lain yang dipercaya,
sehingga ditemukan perbedaannya.

pelanggan studio foto tidak membayar


Biasanya karena pelanggan tersebut adalah kerabat atau
kenalan dekat dari pegawai, maka mereka seperti mendapat
keistimewaan dengan tidak membayar melalui kasir.
Solusi:
Sistem billing kasir-studio tidak bisa melihat total jumlah
penjualan di akhir hari, maka jumlah tunai yang dilaporkan bisa
saja lebih kecil dari jumlah pendapatan menurut billing sistem.
Jika hal ini terjadi, maka biasanya pegawai akan mengatakan
bahwa ada pelanggan yang lari tidak membayar. Untuk studio
foto yang berada dilingkungan perumahan, hal seperti ini
terkadang terjadi, dengan alasan ada pelanggan yang
berhutang. Hal-hal semacam ini hanya bisa ditetapkan dengan
kebijakan, bahwa selisih kas tersebut harus dibayar oleh
pegawai yang bersangkutan dan dipotong pada gaji bulan
depan.

pemakaian listrik/telepon meningkat


pemakaian listrik dan telepon yang meningkat harusnya
merupakan pertanda baik jika diikuti dengan peningkatan
pendapatan, namun jika tidak diikutin dengan peningkatan
pendapatan, maka ada indikasi kecurangan, misalnya studio
foto digunakan saat sedang tutup, atau telepon digunakan untuk
kepentingan pribadi secara berlebihan. Solusinya adalah buat

peraturannya, dan lakukan kunjungan rutin atau dengan mistery


shopper, sehingga pegawai tidak bisa lagi sembarangan
melakukan kecurangan yang merugikan pemilik.
Terakhir, saya harus mengatakan bahwa internal kontrol studio foto ini
tidak mudah untuk diterapkan, karena pemahaman karyawan
pelaksana dan perbedaan kebutuhan atau varian jenis usaha yang
digeluti dalam bisnis studio foto.
Sedangkan untuk bapak ibu yang merupakan karyawan studio foto,
internal control ini, bisa menunjukkan kinerja karyawan dengan jelas,
sehingga jika studio foto yang dikelola mengalami kemajuan, sudah
tentu karyawan juga berhak untuk menikmati sukses ini dengan
mendapatkan fasilitas atau kenaikan gaji.
Catatan:Topik ini akan lebih baik jika dicetak dan dibaca sambil minum
teh manis, sore hari, saat sedang santai, karena jika dibaca sambil
bekerja, dapat menimbulkan efek mual pening, letih dan lesu
he..he..h.e Selamat berkarya ..
Salam,
Heru Muara Sidik
31 Agustus 2011 13:04:14wib
Telah dilihat : 355 kali
Kategori : Bisnis Fotografi
Keterangan : Topik ini bisa dikomentari oleh Member atau yang
levelnya lebih tinggi.

Penulis:
Heru Muara
Sidik
(10253)

G. Menyusun rugi laba studio foto


Sudah beberapa orang bertanya mengenai cara menyusun laporan
keuangan studio foto. Apakah anda juga punya pertanyaan sama?
Kalo memang begitu, mari kita lanjutkan dengan pertanyaan lain,
apakah anda juga sudah tahu artinya Laporan Keuangan?
Baiknya sebelum saya memulai, perlu di pastikan bahwa kita punya
pengertian yang sama tentang laporan keuangan. Maklum jaman
sekarang definisi Laporan Keuangan bisa cari di google, atau kalo
males ngetiknya, ya tinggal KLIK AJA DISINI.
Jadi jelas kalo laporan keuangan dasar adalah Neraca dan Laba Rugi ,
tapi kalo akuntan akan bilang bahwa ada satu lagi yang namanya Cash
Flow Statement, atau laporan arus kas. Jadi setelah jelas apa itu
laporan keuangan, disini saya akan coba jelaskan tentang cara
penyusunan sebagian dari laporan keuangan, yakni Laporan Laba
Rugi. Langkah-langkah penyusunan laporan laba rugi ini saya coba
sajikan secara sederhana dengan bahasa non akuntan, jadi mohon
maaf kalo ada istilah yang kurang berkenan, mudah-mudahan bisa
diluruskan jika perlu.
Langkah penyusunan laporan laba rugi ;

Buat kelompok akun laba rugi (akun riil) yang terdiri dari ;
o

Pendapatan
Ini merupakan akun untuk menampung semua jenis
pendapatan yang diterima dari pelanggan, mulai dari hasil
penjualan jasa fotografi prewed, foto wedding, foto studio,
cetak album dan sebagainya. Untuk detilnya sendiri
terserah
masing-masing
orang,
yang
penting
pengelompokkan tersebut dapat di perbandingkan
dengan biaya langsung yang terkait. Dengan cara ini,
maka setiap aktivitas produksi dapat di lihat secara
individual kontribusinya terhadap keuntungan yang di
hasilkan.

Biaya Operasional Langsung


Rincian biaya di sini harus memperhatikan kelompok
rincian pendapatan, artinya jika di kelompok pendapatan
ada 3 jenis, maka disini juga dibuat 3 jenis, sehingga bisa
di cari keterkaitan antara pendapatan dan biayanya.
Tujuan dari pengelompokan ini adalah untuk mengukur
besarnya kontribusi masing-masing jenis pendapatan
terhadap keuntungan yang diperoleh. Untuk jasa fotografi

yang bersifat proyek coba buatkan tabulasi terpisah,


untuk mencatat setiap pendapatan dan biayanya,
sehingga laba rugi operasional per proyek bisa dihitung
lebih akurat, sebelum dimasukan dalam laporan rugilaga
keseluruhan.
o

Biaya Umum dan Administrasi


Masuk dalam kelompok biaya umum dan adminstrasi
adalah semua jenis biaya tidak langsung, yang menjadi
pengeluaran rutin baik secara harian, mingguan atau
bulanan sepanjang biaya tersebut memang bersifat
umum, karena memberikan kontribusi tidak lansung
kepada aktivitas produksi. Untuk biaya pemasaran dan
promosi, sebenarnya ada dua pendapat, ada yang
mengelompokkan dalam jenis biaya terpisah, ada yang
mengelompokkan
kedalam
biaya
Umum
dan
Administrasi. Namun untuk contoh ini, saya kelompokan
dalam biaya Umum dan Administrasi, biar mudah, karena
memang jenis biaya ini masuk kategori tidak langsung.

Biaya Penyusutan dan Amortisasi


Untuk biaya jenis ini, dimaksudkan agar pembebanan
biaya bisa didistribusikan ke periode lain dimana manfaat
atas pengeluaran atau pembelian aktiva tersebut masih
dinikmati. Contohnya ; saat kita beli kamera, tentu saja
dipake selama periode dimana umur aktiva tersebut
secara ekonomis masih wajar. Misalnya 4 tahun, maka
setiap bulan dapat dihitung dengan formula sebagai
berikut:
P = (Bi - S)/U
P = Biaya Penyusutan per bulan
Bi = Harga Beli Komputer
S = Nilai Sisa
U = umur manfaat (4 tahun x 12 bulan = 48bulan)
Dimana nilai sisa merupakah perkiraan hasil penjualan
perangkat computer tersebut saat umur ekonomisnya
berakhir.
Sedangkan contoh amortisasi adalah Biaya sewa tempat
yang dibayar untuk 4 tahun kedepan, atau 2 tahun
kedepan, atau bahkan 6 bulan ke depan. Nah
bagaimanapun lamanya masa sewa, kita akan sesuaikan
besaranya dengan rumus sbb;
As = Wa / M

As = Biaya Amortisasi Sewa/bln


Wa = Biaya Sewa yang dibayarkan sekaligus dimuka
M = Masa sewa dalam satuan bulan, misalnya 2 tahun
maka M = 24
Sedangkan untuk biaya yang sifatnya memberikan
manfaat jangka panjang, atau lebih dari satu periode
operasi normal (paling sedikit satu tahun/12 bulan) maka
bisa di kapitalisasikan dengan mendistribusikan bebanya
kedalam periode dimana manfaatnya diharapkan masih
bisa dinikmati. Contohnya adalah saat kita merenovasi
studio saat akan di dirikan, yang bisa dihitung mulai dari
biaya renovasi studio, instalasi listrik, instalasi AC dsb.
Nah biaya-biaya ini masuk dalam kategori, biaya yang
boleh di amortisasi karena di tujukan untuk kepentingan
jangka panjang, yakni selama masa sewa, atau sampai
masa dimana diperlukan lagi biaya renovasi yang relative
besar.
Contoh perhitungannya sebagai berikut;
Ab = R/Um
Ab = Amortisasi Biaya Renovasi/bln
R = Biaya Renovasi yang dikeluarkan
Um = Umur manfaat yg diharapkan
o

Selanjutnya masing-masing akun tadi di pecah lagi sesuai


dengan rincian jenis masing masing sumber atau asalnya
transaksi, misalnya sebagai berikut;
a. Pendapatan
i.
Pendapatan Studio
ii.
Pendapatan Proyek foto
iii.
Pendapatan Desain dan cetak album
b. Biaya Operasional Langsung
i. Biaya Sewa Studio
ii. Biaya Pengerjaan Proyek foto
iii. Biaya Desain dan cetak album
c. Biaya Umum dan Administrasi
i. Biaya Gaji Pegawai
ii. Biaya Kebersihan dan Keamanan lingkungan
iii. Biaya Pemeliharaan dan perbaikan
iv. Biaya lain-lain

d. Biaya Penyusutan
i. Biaya Penyusutan Peralatan Fotografi
ii. Biaya Amortisasi Sewa Tempat
iii. Biaya Amortisasi ongkos renovasi

Pengelompokan tersebut tentu saja punya maksud dan agar


setiap aktivitas produksi dapat di ukur kontribusinya terhadap
keuntungan yang dihasilkan, sehingga masing-masing
rinciannya perlu di sepakati di sini. Namun demikian mengingat
masing-masing studio punya keterbatasan serta kondisi alamiah
yang berbeda-beda, jadi bila perlu boleh saja rincian akunnya di
rubah dan disesuaikan dengan kebutuhan, sepanjang
pengelompokannya masih sesuai. Mudah bukan?

Langkah berikutnya adalah membuat buku kas , yakni buku


yang digunakan untuk mencatat semua penerimaan dan
pengeluaran harian. Ini adalah catatan sederhana yang nanti
akan saya modifikasi supaya bisa jadi laporan laba rugi. Untuk
memulainya, silahkan beli ukuran folio, dan buat kolom-kolom
sesuai kebutuhan, nah disini saya sarankan untuk membuat
kolom-kolom utama sebagai berikut;
a. Nomor Urut transaksi
b. Tanggal transaksi
c. Keterangan jenis transaksi
d. Nomor Akun (untuk kepentingan pencatatan akuntansi)
e. Jumlah Rupiah transaksi
f. Saldo
Kolom-kolom tersebut nanti saya berikan contohnya dalam
bentuk excel dan bisa di download pada link KLIK DISINI

Langkah terakhir adalah menyusun laporan laba rugi


berdasarkan buku kas yang sudah dibuat, dimana setiap
transaksi yang sudah diberi nomor akun, di kelompokkan sesuai
dengan kelompok yang tepat, dan selanjutnya whoala
jadilah laporan laba rugi, dimana masing-masing aktivitas
produksi bisa di tampilkan kinerjanya, serta berapa besar uang
kas yang masuk, dan keuntungan bersih yang diterima oleh
pengusaha studio.
Sampai disini masih bingung? Jangan kuatir, karena saya akan
terus berusaha menjelaskan kepada anda.
Saat pengelompokan, perhatikan bahwa susunan laba rugi di
buat secara rinci dengan detil sbb;

a. Pendapatan Rp. (A)


i.
Pendapatan Studio
Rp. XXXXXXX
ii.
Pendapatan Proyek foto Rp. XXXXXXX
iii. Pdptn DesainCtk album Rp. XXXXXXX
b. Biaya Operasional Langsung
i.
Biaya Sewa Studio
ii.
Biaya Pengrjaan Pryk
iii.
Biaya DesnCtkAlbum

Rp. (B )
Rp. XXXXXXX
Rp. XXXXXXX
Rp. XXXXXXX

Margin Kontribusi Rp. (C)=(A)-(B)


c. Biaya Umum & Administrasi Rp. (D)
i.
Biaya Gaji Pegawai
Rp. XXXXXXX
ii.
Bi Kebrshn & Kmn
Rp. XXXXXXX
iii.
Biaya Pmlhrn & pbaik
Rp. XXXXXXX
iv.
Biaya lain-lain
Rp. XXXXXXX
Pendapatan kas Rp.(E) = (C)(D)
d. Biaya Penyusutan Rp. (F)
i.
Biaya Penyusutan Komputer Rp. XXXXXXX
ii.
Bi Amrtis Sewa Tmp
Rp. XXXXXXX
iii.
Bi Amrtis renovasi
Rp. XXXXXXX
Laba / (rugi) hasil usaha Rp.(G)= (E) (F)

Dengan format di atas, jelas bahwa posisi Pendapatan Kas harus


benar-benar dijaga. Artinya jika Pendapatan Kas hasilnya NEGATIF,
maka bisa dipastikan anda sebagai pemilik akan nombok biaya
operasional, dan sebaliknya jika POSITIF anda belum tentu
memperoleh laba, namun anda masih punya kemampuan daya hidup
(survival) untuk bisa melanjutkan usaha sampai mendapat keuntungan
layak.
Jika Pendapatan Kas punya nilai POSITIF lebih besar dari Biaya
Penyusutan, maka bisa dipastikan anda mendapatkan keuntungan,
namun jika nilai POSITIFnya lebih kecil dari Biaya Penyusutan, maka
bisa dipastikan kemampuan anda mengembalikan modal, sangat
lemah tapi tetap survive untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Nah sekarang jelaas kan bahwa ternyata menyusun Laporan Laba
Rugi Warnet itu mudah ya. Bagian yang paling sulit adalah membayar

pajak dan menyusun neraca masih minat untuk belajar lebih lanjut?
Saat ini, lebih baik kita istirahatkan dulu otak kita supaya bisa lebih
tenang dan menyerap materi penjelasan di atas, dan jika perlu .
Segera ulangi membaca artikel ini, paling sedikit 1 kali sehari
tergantung kondisi pengetahuan yang di miliki. Jika kebingungan masih
berlanjut, hubungi akuntan terdekat. Untuk konsultasi dan mendapat
bimbingan yang lebih baik.
Contoh Buku Kas
salam
heru m sidik
31 Agustus 2011 12:02:52wib
Telah dilihat : 348 kali
Kategori : Bisnis Fotografi
Keterangan : Topik ini bisa dikomentari oleh Member atau yang
levelnya lebih tinggi.

Penulis:
Heru Muara
Sidik
(10253)

H. Menghitung Penyusutan Kamera - penting buat bisnis


Tulisan ini saya buat untuk melengkap tulisan lain yang saya
buat disini.
Banyak fotografer yang tidak pernah memperhitungkan biaya
penyusutan alat, karena harga kamera yang relatif makin murah, dan
harga jual kembali yang juga relatif tinggi, sehingga boleh dibilang nilai
penyusutannya cukup rendah, padahal dalam bisnis, kita harusnya
berpikir konservatif, artinya kita harus memperhitungkan biaya setinggi
mungkin untuk mengantisipasi kerugian di masa depan.
Pada prinsipnya semua perhitungan penyusutan menurut akuntansi,
mengandung yang namanya "ESTIMASI", atau supaya jelas saya rinci,
beberapa hal berikut yang memerlukan estimasi, yakni;

Umur teknis kamera/aset - biasanya diukur berdasar jumlah


shuttercount
Umur ekonomis kamera/aset - tergantung persepsi dan juga
teknologi
Umur teknologi kamera/aset - pada jaman sekarang makin
pendek
Nilai sisa/harga bekas kontinuitas suatu usaha - kadang terbatas
oleh masa kontrak tempat usaha tsb.
Inflasi - ini jarang dipertimbangkan, tapi kalo mau dihitung boleh
aja, dengan menganggapnya sebagai faktor index kemahalan [i].

Kenapa saya sebutkan sebagai sebuah estimasi? karena berapapun


angka yang ditulis, masih bisa diperdebatkan akurasinya. Oleh karena
itu, biasanya segala sesuatu yang disebut sebagai estimasi, ditetapkan
dalam "kebijakan akuntansi". Estimasi bersifat subjektif, dan sangat
tergantung dari karakter agan dalam melihat masa depan, dimana
proyeksi setiap orang terhadap masa depannya tidak lah sama.
Buat fotografer, pengetahuan ini penting karena akan berlanjut pada
keputusan bisnisnya dalam menetapkan harga, menetapkan kebijakan
ekspansi, dan menetapkan langkah-langkah bisnis lainnya.
Sedikit saya tambahkan, bahwa umur teknis, ekonomis ataupun
teknologi hanya sebuah cara pandang subjektif atas "persepsi" pelaku
bisnis dalam menghitung "biaya penyusutan". Mana yang akan dipilih?
- jika agan seorang yang konservatif, agan akan memilih umur yang
PALING PENDEK, tapi jika agan seorang yang progresif, tentu akan
memilih yang PALING LAMA, karena dampaknya akan berbeda.
Berikut dampak dari pemilihan umur aset tersebut;

Contoh ;
Umur teknis = 150.000 shuttercount, kalo perminggu memotret
sebanyak 500 klik, umur teknis akan tercapai dalam 300minggu atau
5,7tahun.
Umur ekonomis = faktanya shutter release bisa tetap bekerja melebihi
150.000 shuttercount, atau paling tidak mencapai 200.000 klik, maka
dengan asumsi setiap minggu memotret sebanyak 500klik, maka umur
ekonomis akan tercapai dalam 400minggu atau 7,7tahun - ini lebih
lama lagi.
Umur teknologi = setiap 2tahun sekali, rata-rata keluar produk baru
yang lebih unggul secara teknologi, lebih murah dan lebih berkualitas.
Apakah agan akan ganti kamera setiap 2 tahun? Kalo jawabannya iya,
berarti umur teknologi kamera agan, ya cuma 2 tahun.
Nilai sisa/harga bekas - Untuk menghitung penyusutan, memang perlu
menghitung nilai sisa, tapi jangan salah. Perkiraan nilai sisa biasanya
jauh lebih kecil dari harga belinya, atau rata-rata sekitar 20% dari harga
barunya. Padahal dipasaran sekarang, kamera D70 kit yang dulunya
dijual dengan harga 12juta, harga bekasnya sekarang sekitar 3juta
(25%). Begitu juga lensa, yang dulunya harga Sigma 50-500 = Rp9juta,
bekasnya sekarang bisa dijual dengan harga Rp9juta juga, atau sama
dengan tidak ada penurunan, maklum harga barunya sekarang
mencapai Rp15juta.
kontinuitas suatu usaha - akuntansi mengasumsikan bahwa semua
bisnis akan hidup berkelanjutan sepanjang masa, namun dalam
prakteknya, tidak semua usaha bisa bertahan lama. Ada yang hanya
mampu bertahan selama masa sewa masih berjalan, setelah itu tidak
sanggup lagi bayar sewa. Ada juga yang sewa belum berakhir, tapi
sudah kesulitan uang tunai, akibatnya bangkrut sebelum kontrak
berakhir. Disini, fotografer mesti punya VISI jangka panjang, apakah
akan terus atau hanya sekedar uji nyali, guna mengasah bakat
wirausaha? Batas umur bisnis bisa lebih pendek atau lebih lama
daripada masa kontrak, oleh karena itu saya sarankan untuk
mempertimbangkan masa kontrak sebagai umur penyusutan. Inflasi,
karena penyusutan aset tidak pernah mempertimbangkan inflasi, maka
saya akan masukan sebagai perbandingan atau contoh saja, supaya
nanti terlihat perbedaannya, apakah ini layak untuk diperhitungkan atau
tidak, saya kira itu semua tergantung subyektivitas masing-masing aja
ya. Pada contoh ini, ane pake 0.25% per bulan biar simpel, walaupun
pada kenyataaanya sangat bervariasi dan bahkan bisa aja malah
deflasi.

Nah dari contoh-contoh tersebut diatas, sekarang kita perkirakan biaya


penyusutannya, dimana nilai penyusutan terbesar adalah ketika kita
memilih umur terpendek, dengan nilai sisa yang paling rendah. Lebih
jelasnya bisa ane kasih ilustrasi berikut ini;
(A) Harga Kamera = 10juta
(B ) Nilai sisa = pilih 20%, 25%, atau 0% dari harga beli kamera
(C) Umur kamera = pilih 12 bulan, 24 bulan, 5,7tahun, atau 7,7tahun
(D) Faktor inflasi = saya masukan karena cukup masuk akal buat di
perhitungkan, jadi saya anggap aja sebagai faktor [i] atau indeks
kemahalan. Dalam contoh ini, anggap aja 0.25%perbulan.
Jadi inflasi = [i] x (C)
dimana :
(C) = periode penyusutan/umur kamera
[i] = 0.25%
Inflasi sendiri akan berdampak langsung pada harga beli pada saat
barang dihapus bukukan. Jadi harga barang baru ketika barang lama
dihapus bukukan adalah (A) * [1+(D)]
nah kalo inflasi dihitung maka :
[(A) *[1+(D)]-(B )]/(C) = biaya penyusutan per periode
Jadi:
menurut pendekatan PROGRESIF :
[(10juta*123%)(Rp2.5juta)]/(92bulan)=Rp106.521,73/bulan
pendekatan KONSERVATIF :
[(10juta*103%)-(Rp1)]/(12bulan)=Rp858.333,25/bulan
nah kalo tanpa inflasi maka
[(A)-(B )]/(C) = biaya penyusutan per periode
jadi :
pendekatan PROGRESIF :
[(10juta)-(Rp2.5juta)]/(92bulan)=Rp81.521,73/bulan
pendekatan KONSERVATIF :
[(10juta)-(Rp1)]/(12bulan)=Rp833.333,25/bulan

Baik dengan inflasi maupun tanpa inflasi, jika (B ) dipilih nilai yang
paling kecil, dan (C) dipilih nilai yang paling singkat, sudah bisa
dipastikan bahwa biaya penyusutan terbesar adalah yang terbaik buat
anda yang konservatif. Dengan demikian harga jual anda akan
mempertimbangkan harga penyusutan yang memang mahal.
Tujuannya supaya anda bisa memulihkan kemampuan ekonomi anda,
supaya naik kelas jadi fotografer yang lebih mapan, dan pasar yang
lebih mahal dengan kualitas lebih unggul lagi. Dengan pandangan ini,
anda akan mendapat arus kas yang lebih besar karena biaya
penyusutannya terlihat besar, namun sifatnya non-cash. Kalo penjualan
meningkat, dan perkiraan anda atas umur aset ternyata "salah"
(baca: umurnya lebih singkat dari perkiraan) maka anda malah di
untungkan karena kesalahan itu berarti anda punya kemampuan
ekonomi lebih kuat untuk membeli aset yang lebih baik lagi.
Buat anda yang progresif dan yakin bahwa hari esok akan selalu lebih
baik, maka anda bisa dapat harga penyusutan paling rendah, karena itu
bisa jualan dengan harga sangat murah. Jika ini yang anda mau, anda
harus siap menghadapi resiko kegagalan memulihkan kemampuan
investasi anda di masa depan, dan tetap jadi fotografer golongan
ekonomi lemah sepanjang masa. Dengan pandangan ini, biaya
penyusutan relatif rendah, dan kelihatannya ada keuntungan lumayan
besar, walaupun harga jual relatif murah, namun sebagian pengeluaran
sifatnya tunai, sehingga sebesar apapun peningkatan penjualan,
kemampuan likuiditas kas anda tetap lemah. Apalagi jika perkiraan
anda atas umur aset ternyata "salah" maka anda akan dirugikan karena
kesalahan tersebut berarti kemampuan anda memupuk tabungan untuk
mengganti atau menambah aset produktif akan makin lemah.
Oh iya, sebelum saya terlupa... (maklum sudah tua...) perlu di beri
CATATAN, bahwa semua uraian diatas adalah pendekatan manajemen
akuntansi, jangan samakan dengan teori akuntansinya ya. Prinsipnya
sih sama, tapi manajemen akuntansi lebih menjembatani antara bisnisakuntansi, sehingga banyak menggunakan pendekatan yang keluar
dari teori dasarnya, atau bahkan menggabungkan berbagai aspek
keuangan supaya tingkat akurasinya sesuai dengan ekspektasi setiap
individu. Kalo untuk teori akuntansi tentang penyusutan, coba googling
aja, nanti juga ketemu kok, bahwa penyusutan aset itu punya beberapa
metode , seperti: straight-line method, declining method, doubledeclining method, sum of the year digit - method, unit of production
method, dan lain sebagainya... semua metode itu bertujuan untuk
kepentingan pencatatan akuntansi. Sedangkan yang saya tuliskan di
atas hanyalah sebuah ilustrasi untuk menyadarkan banyak rekan
fotografer yang sering pasang harga murah, padahal ada nilai aset
yang dikorbankan.

semoga bermanfaat.
salam,
heru m sidik
29 Agustus 2011 13:42:40wib
Telah dilihat : 680 kali
Kategori : Bisnis Fotografi
Keterangan : Topik ini bisa dikomentari oleh Member atau yang
levelnya lebih tinggi.

Penulis:
Heru Muara
Sidik
(10253)

I. Teori Penetapan harga jasa fotografi


Saya dulu pernah bikin workshop kecil-kecilan dengan para fotografer
professional, mengenai manajemen akuntansi untuk fotografer.
Sayangnya memang saya gak lanjutin lagi pembahasannya sampai
tuntas, karena saya disibukkan dengan berbagai kegiatan yang
sifatnya kedinasan, jadi tentu saja saya utamakan masalah kedinasan
ini dulu, mengingat saya cuma pegawai yang sudah terima gaji dari
perusahaan.
Nah sekarang, saya jadi tertarik untuk membahasnya setelah saya
baca topic di FN yang mengeluhkan tentang harga jasa fotografi yang
cenderung murah meriah, sehingga banyak orang bisnis di bidang
fotografi dengan mudah. Akibatnya harga pasaran jasa fotografi
langsung merosot dan banyak fotografer yang kehilangan pelanggan,
atawa omsetnya turun terus, sementara itu banyak fotografer
pendatang baru yang banting harga dan terus meroket jadi juragan.
Semua yang saya ceritakan di atas, sebenarnya bukan hal baru,
karena namanya bisnis, pasti kalo menguntungkan akan mengundang
banyak pemain, dan akibatnya supply bertambah sementara
demand relative bertambah tidak secepat supplynya. Akibatnya
harga merosot turun kan (ini teori ekonomi demand-supply).
Nah sekarang saya mau jelasin mengenai Teori penetapan harga
jasa fotografi dimana teori ini menganut paham pribadi, dengan
asumsi dan pendekatan rasionalitas yang terbatas. Asumsi yang
dibuat pun juga relative sederhana dan tentu saja mengandung
banyak kesalahan atau kekurangan disana sini. Namun begitu, jika
anda semua berkenan sharing pengalaman dan pengetahuan di sini,
pastinya Teori penetapan HJF ini akan makin sempurna dan
membekali kita semua dengan pengetahuan dasar tentang Kebijakan
Harga.
Mari kita mulai
Hampir semua fotografer yang memahami pergerakan harga pasar,
akan menerapkan istilah Creation Fee atau Upah Kreasi dimana
fotografer dibayar atas jasanya berkreasi. Ada juga yang menyebut
sebagai Assignment Fee atau Upah Penugasan karena
fotografer berhasil melaksanakan tugasnya untuk memotret dengan
baik. Apapun namanya, perlu di catat bahwa Upah Kreasi/Penugasan
adalah UMR (Upah Minimum Regional) yang harus di jadikan ukuran
untuk bisa hidup layak. Masalahnya standar UMR yang dipakai yang
mana?

Jawabnya : Terserah Anda!!, karena kalo mengikuti aturan


pemerintah, paling banter anda hanya di hargai kurang lebih Rp1juta
perbulan atau cuma Rp40k/hari. Padahal anda bekerja tidak sebulan
(25 hari kerja) penuh, jadi kalau anda hanya bekerja 3 hari seminggu,
maka anda hanya bekerja 12 hari perbulan, jadi tarip yang pantas
tentunya akan mencapai Rp83k/hari.
Contoh jawaban di atas, Cuma buat ilustrasi saja, alias pemanasan
sebelum mulai berhitung dengan angka-angka ajaib nantinya.
Apakah masih mau lanjut??
Dengan asumsi dan teori yang sama, maka kalo anda menetapkan
biaya hidup anda selama sebulan adalah Rp15juta, dengan jumlah
hari kerja produktif mencapai 15 hari kerja, maka tarip anda minimal
adalah Rp1juta/hari. Betul gak? Coba deh hitung sendiri.
Sekarang terserah anda, pengennya punya penghasilan berapa?
Masalahnya harus di hitung juga, kemampuan anda jualan telah
menghasilkan berapa klien dalam satu bulan, dan berapa banyak
jumlah hari kerja yang tersita untuk setiap klien.
Jadi kalo dituangkan dalam rumus adalah sebagai berikut:
UK = Upah Kreasi per hari kerja
(a) = Jumlah Klien dalam satu bulan (misal: 3 klien perbulan)
(b) = Jumlah hari kerja dalam satubulan untuk setiap klien (misal: 5
hari per klien)
(c) = UMR yang diharapkan (misal 15juta perbulan)
Maka :
UK = (c) / [ (a) x (b) ]
UK = 15juta / [3 klien perbulan X 5 hari per klien]
UK = 15juta/15 = Rp 1juta per hari.
Dari penjelasan diatas, berarti kalo untuk melayani setiap klien anda
memerlukan waktu 5 hari efektif, mulai dari persiapan, pelaksanaan
pekerjaan, sampai pengolahan hasil akhirnya, maka dalam 5 hari
efektif itu anda harusnya bisa mengenakan biaya/tarip minimal
Rp1juta X 5 Hkerja =Rp5juta/projek.

Itu baru asumsi, bahwa semua biaya operasional, biaya cetak dan
biaya sewa alat ditanggung oleh pemberi kerja, alias, kita cuma
terima creation fee doang, kalo kita kerja dengan harga paket
borongan tentu saja perhitungannya beda! Bedanya terletak dari
komponen yang tadinya ditanggung oleh pemberi kerja, sekarang
dihitung secara keseluruhan untuk dijumlahkan dengan creation fee
tadi, hasilnya akan membutuhkan nilai proyek yang lebih mahal lagi.
Nah, sekarang apa kita mau jual jasa dengan harga murah? Jika mau
harga murah harus bisa menjual lebih banyak alias menambah jumlah
proyeknya lebih banyak lagi.
Untuk melengkapi pemahaman, sekaligus melengkapi juga materi
diskusinya, saya tambahkan dengan jawaban atas kasus yang
disampaikan oleh Uda Etoy, pada postingan di bawah, pada
prinsipnya ketika menghitung komponen harga jual terkandung
didalamnya antara lain sbb;
1. Keuntungan
2. Creation Fee (bisa juga ini disatukan dengan keuntungan)
3. Biaya Operasional Langsung
a) Tetap = Penyusutan Alat, Sewa Alat
b) Variabel = Sparepart habis pakai, Akomodasi dan Transport,
honor pilot, honor porter, dsb.
4. Biaya Operasional Tidak langsung
a) Tetap = Amortisasi R&D, Asuransi kecelakaan pihak lain dan
biaya sejenis
b) Variabel = Kurir/shipping, Biaya alat tulis kantor,
telekomunikasi, dsb
5. Biaya Lain lain
a) Tetap = umumnya tidak ada biaya tetap lain lain, tapi untuk
kasus tertentu bisa saja terjadi, seperti misalnya biaya asuransi
jiwa/kecelakaan yang dialokasikan untuk proyek ini.
b) Variabel = biaya perijinan, keamanan,
penundaan karena sebab alamiah, dsb.

pawang

hujan,

Dari kelompok biaya biaya tersebut, Uda bisa memisahkan antara


biaya tetap dan variabel, dengan tujuan untuk mengetahui mana
jumlah biaya minimal yang akan dibebankan kepada klien, dan mana
biaya yang sekiranya ada pekerjaan tambahan akan menjadi beban
klien.

Contoh perhitungannya kurang lebih sbb:


A=1+2+3a+4a+5a=total biaya tetap plus margin keuntungan dan fee
B=3a+4a+5a = total biaya variabel
A + B = Total biaya minimal yang dibebankan kepada klien, untuk
sejumlah foto yang dijanjikan untuk di berikan kepada klien, misalnya
hasil foto nya akan diserahkan sebanyak 5 lembar foto ukuran A3 dan
file RAWnya.
Tanya:
Sekarang berapa biaya tambahan untuk setiap lembar foto yang
diminta diluar perjanjian dasar tersebut di atas?
Jawab:
Total B / 5 lembar foto = RpXXX/lembar foto
Tanya:
Mengapa untuk harga foto tambahan hanya dihitung dari biaya
variabel saja?
jawab:
Biaya variabel adalah biaya yang secara langsung akan bertambah
sehubungan dengan bertambahnya produk jasa yang dihasilkan,
sedangkan biaya tetapnya, sudah di cover oleh kontrak pada produk
jasa utamanya, jadi tidak terpengaruh apakah akan ada order
tambahan atau pun tidak ada order tambaha, biaya tetap sudah
"terbayar lunas".
CATATAN: Pada kasus ini, saya masukan biaya R&D karena
beberapa kisah yang disampaikan Uda banyak tentang bagaimana
besarnya ONGKOS BELAJAR yang dikeluarkan dalam proses riset
dan pengembangannya sudah memakan sebagian besar UANG
JAJAN Uda, sehingga cukup signifikan untuk diperhitungkan dan di
kapitalisasi jadi biaya R&D, anggaplah nilainya RpXXX,- dan
diamortisasi dalam 30kali penugasan, maka setiap penugasan, akan
dikenakan biaya tetap sebesar [1/30]* RpXXX,- = RpXXX,-/30 untuk
setiap penugasannya.
Kalau anda ingin dapat penghasilan lebih besar lagi, ya silahkan
masukan komponen perhitungannya dalam rumus di atas. Kelihatan
simple ya, tapi memang kita harus belajar berpikir yang simple supaya
bisa melayani klien dengan baik.
Terimakasih buat rekan-rekan yang sudah berkenan mampir, jangan

cuma sekedar lewat, tapi biasakan untuk meninggalkan komentar,


supaya saya merasakan bahwa tulisan ini cukup berharga untuk
dibaca. Selain itu, komentar anda akan membantu posting ini, untuk
terus bertahan di deret atas, tanpa harus di sticky oleh moderator,
sehingga bisa bermanfaat buat rekan lain yang membutuhkannya.
Anggap saja ini amal kecil yang kita lakukan buat berbagi
pengetahuan ...
Kalau mau yang lebih njelimet, ada lagi ulasan yang bakal bikin
kepala makin keriput... coba aja cek disini
salam,
heru m sidik

30 Agustus 2011 10:42:39wib


Telah dilihat : 643 kali
Kategori : Bisnis Fotografi
Keterangan : Topik ini bisa dikomentari oleh Member atau yang
levelnya lebih tinggi.