Anda di halaman 1dari 2

Tahap Post Analitik

Tahap post analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang berupa lembar hasil
pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan laboratorium merupakan bahan penunjang
atau

penentu

diagnosis suatu

penyakit.

Tahap

ini

meliputi pembacaan hasil

( penghitungan, pengukuran, identifikasi dan penilaian) dan pelaporan hasil.


Tahap post analitik adalah tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan untuk
meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar-benar valid atau dapat
dipertanggung jawabkan. Kegiatan pencatatan dan pelaporan di laboratorium harus dilakukan
dengan cermat dan teliti karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat
mengakibatkan kesalahan dalam penyampaian hasil pemeriksaan
Menurut Charles (2007), kegiatan tahap post analitik di laboratorium antara lain :
1. Rekaman Analisis (Catatan Pengujian = CP)
Rekaman analisis atau catatan pengujian adalah rekaman orisinil pengujian yang
direkam oleh personel penguji. Suatu rekaman analisis minimal merekam informasi hasil
pemeriksaan. Format rekaman analisis dapat berupa buku catatan atau lembaran analisis.
Suatu laboratorium, rekaman analisis direkam terlebih dahulu dalam buku catatan dan
kemudian informasi itu dipindahkan ke lembar catatan pengujian(CP) sebagai bentuk
pelaporan dari personel penguji kepada penyelia atau manajer teknis. Buku catatan
pengujian disimpan oleh personel penguji sebagai arsipnya. Catatan pengujian setelah
diperiksa oleh penyelia atau manajer teknis, menjadi sumber data untuk laporan hasil uji
(LHU) dan catatan pengujian menjadi arsip laboratorium yang dijadikan satu berkas
dengan salinan laporan hasil uji bersama-sama dengan dokumen lainnya yang berkaitan
dengan pengujian sampel tersebut. Jadi, catatan pengujian adalah penghubung utama
antara pekerjaan analitik itu sendiri dan informasi yang disajikan kepada pasien dalam
laporan hasil uji akhir.
2. Pelaporan Hasil Pengujian
Suatu laboratorium, yang terpenting dalam melayani pasien adalah cara pelaporan
hasil uji yang perlu disetujui lebih dulu. Format dari laporan, unit dari pengukuran dan
dasar perhitungan yang dibuat harus dapat dimengerti oleh pasien, sehingga mempermudah
pasien menginterpretasi hasilnya.

3. Pengiriman Hasil
Hasil pemeriksaan laboratorium hematologi, kimia klinik, imunoserologi, urinalisis
dan parameter lainnya sesuai dengan permintaan dicatat dan dilaporkan dalam bentuk blanko
hasil pemeriksaan yang terpisah dan ditanda tangani oleh penanggung jawab laboratorium
atau petugas laboratorium yang memeriksa.
Kesalahan-Kesalahan Tahap Post Analitik
Setiap hasil pengujian mengandung kesalahan yang tidak dapat dihindari.
Pengetahuan dan perhatian kepada sumber kesalahan akan membantu mengurangi
terjadinya kesalahan dan menemukan penyebabnya lebih cepat dari suatu kesalahan yang
timbul.
Menurut Charles (2007), jika suatu proses post analitik digunakan secara rutin,
kesalahan yang timbul dapat diatasi dan digolongkan sebagai berikut :
1)

Kesalahan Perhitungan (perhitungan dan pemindahan data tidak dicek ulang oleh

personel lain, kesalahan rumus dalam prosedur atau instruksi kerja, satuan yang tidak
benar, kesalahan pembulatan, mengabaikan penggunaan data estimasi ketidakpastian
pengukuran yang tertera pada sertifikat kalibrasi alat

yang

digunakan,

mengabaikan

penggunaan faktor pengenceran atau menggunakan faktor pengenceran yang tidak


benar, tidak memahami komponen ketidakpastian dalam perhitungan, dan ketidakpastian
pengukuran dalam suatu pengujian).
2)

Kesalahan dalam pelaporan hasil (informasi yang kurang dalam laporan hasil,salah

penulisan hasil pemeriksaan, tidak ada tanda tangan personel yang berwenang,
interpretasi yang tidak sesuai tentang hasil pemeriksaan, dan salah alamat penerimaan
hasil pemeriksaan).

Anda mungkin juga menyukai