Anda di halaman 1dari 2

Perbedaan Compliance Test dan Substantive Test (Materi Kuliah Auditing) ~KamuBisa iO.

Kita sering
mendengar istilah Compliance Test dan Substantive Test dalam mempelajari auditing, namun apa pengertian dari
masing-masing? Di bawah ini merupakan ulasan singkat tentang keduanya.

Perbedaan Compliance Test dan Substantive Test (Materi Kuliah


Auditing)
Pengertian compliance testadalah tes yang dilakukan atas bukti-bukti transaksi perusahaan dalam rangka untuk
menilai apakah transaksi-tansaksi yang ada dari perusahaan sudah dicatat sesuai dengan sistem dan prosedur
yang telah ditetapkan pihak maanajemen. Apabila ditemukan suatu penyimpangan dalam compliance tes ini
terjadi penyimpangan meskipun jumlahnya tidak material namun auditor harus tetap memperhitungkan efek dari
penyimpangan tersebut terhadap efektifitas pengendalian intern.
Hal yang perlu diperhatikan oleh auditor dalam melakukan compliance test adalah sebagai berikut:
1.

kelengkapan dari bukti pendukung

2.

kebenaran dari perhitungan matematis

3.

otorisasi dari pihak yang berwenang dari pihak manajemen

4.

kebenaran nomor perkiraan

5.

kebenaran memposting ke buku besar atau ke sub buku besar.

Proses compliance test biasanya dipakai untuk transaksi di bawah ini :

Penjualan

Penerimaan kas

Pengeluaran kas

Pembelian

Pembayaran gaji dan upah

Jurnak koreksi/ penyesuaian.

Sedangkan pengertian substantive test adalah test yang dilakukan untuk menilai kewajaran dari saldo perkiraan
laporan keuangan. Prosedur audit yang dilaksanakan dalam substantive test antara lain:

inventarisasi aktiva tetap

observasi atas perhitungan fisik persediaan

konfirmasi terhadap bang, utang, piutang

subsequent collection dan subsequent payment

perhitungan fisik kas

pemeriksaan terhadap rekonsiliasi bank, dll.

Pada saat melakukan substantive test auditor menemukan suatu kesalahan, maka harus dipertimbangkan
apakah jumlahnya material atau tidak. Jika kesalahan jumlahnya adalah material maka perlu dilakukan usulan
penyesuaian tertulis. Apabila auditor yakin akan usulan penyesuaian tersebut namun klien tidak menyetujuinya
maka auditor tidak diperkenankan memberi opini unqualified terhadap hasil auditnya. Namun apabila kesalahan

tersebut tidak material makaauditot tetap mengajukan usulan penyesuaian (adjusment) namun tidak peru
dipaksakan karena tidak akan mempengaruhi pendapat auditor.