Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat serta hidayahNya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah tentang Keanekaragaman Mikroorganisme.
Walaupun masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini,namun kami berharap agar
makalah ini dapat dipergunakan dan di manfaatkan baik di dalam kampus atau diluar kampus.
Dalam melaksanakan makalah ini banyak pihak yang terlibat dan membantu sehingga dapat
menjadi satu makalah yang dapat di baca dan dimanfaatkan .
Akhirnya kritik yang membangun dan saran sangat kami harapkan. Akhir kata semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca umumnya . Sekian
dari kami mengucapkan banyak terima kasih .

RUMUSAN MASALAH

Indonesia merupakan salah satu Negara terkaya akan plasma nutfah, termasuk
mikroorganisme yang hidup dan berkembang biak di tanah nusantara nan subur. Negara yang
kaya ini memiliki sekurangnya 10 ribu jenis mikroorganisme yang diperkirakan hidup secara
alami dalam ekosistem yang ramah untuk berkembangbiak. Pada dasarnya dari seluruh
mikroorganisme yang ada di alam, hanya sebagian kecil saja yang merupakan patogen.
Patogen adalah organism atau mikroorganisme yang menyaebabkan penyakit pada organisme
lain.
Kemampuan patogen untuk menyebabkan penyakit disebut dengan patogenitas
Pertumbuhan pada bakteri didefinisikan sebagai pertumbuhan berat sel. Karena berat sel
relatif sama pada setiap siklus sel, maka pertumbuhan dapat di definisikan sebagai
pertambahan jumlah sel. Mempelajari pertumbuhan bakteri merupakan faktor terpenting
dalam mengetahui beberapa aspek fisiologi suatu bakteri (Purwoko, 2007).
Pertumbuhan bakteri dapat diukur dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Pengukuran pertumbuhan bakteri secara langsung dapat dilakukan dengan metode
total count, turbidikmetrik, berat kering, electronic counter, plating techique, fltrasi membran.
Sedangkan pengukuran pertumbuhan bakteri secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
metode viable count, aktivitas metabolik dan berat sel kering.
1.1 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya praktikum pengukuran pertumbuhan
mikroorganisme ini, yaitu :
a)
b)
c)
d)

Untuk mengetahui kondisi fisik mikroorganisme


Untuk mengetahui kebutuhan unsure kimia mikroorganisme
Untuk mengetahui pertumbuhan mikroorganisme
Untuk mengetahui metode yang digunakan untuk pengukuran pertumbuhan
mikroorganisme.

DAFTAR ISI

Contents
KATA PENGANTAR.............................................................................................................................1
RUMUSAN MASALAH.......................................................................................................................2
1.1 Tujuan..........................................................................................................................................2
PEMBAHASAN................................................................................................................................4
A.

Kondisi Fisik.........................................................................................................................4

B.

Jenis Nutrisi..........................................................................................................................5

C.

Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme........................................................................10

D.

Pengukuran sel....................................................................................................................13

KESIMPULAN................................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................................17

PEMBAHASAN
A. Kondisi Fisik
1. Suhu
Proses pertumbuhan tergantung pada reaksi kimiawi dan laju reaksi kimia dipengaruhi
oleg suhu. Sehingga pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh suhu.
Berdasarkan suhu, bakteri dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu :
- Psikrofil yaitu bakteri yang tumbuh pada suhu 0 o sampai 30o C.
- Mesofil merupakan kelompok bakteri yang tumbuh pada suhu 20 o sampai 40 oC.
- Termofil yaitu bakteri yang tumbuh pada suhu 50o C atau lebih.
2. Oksigen
Gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri ialah oksigen dan karbon
dioksida. Berdasarkan kebutuhan oksigen, bakteri dikelompokkan menjadi :
- Bakteri aerob
Bakteri aerob adalah bakteri yang membutuhkan oksigen untuk merombak
makanannya menjadi energi. Contoh : Nitroso monas sp., Nitrosococcus sp ., dan Nitrobacter
sp .
- Bakteri anaerob
Bakteri anaerob adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen bebas untuk
merombak makanannya menjadi energinya. Energi diperoleh dari proses perombakan
senyawa organik tanpa menggunakan oksigen. Bakteri anaerob dikelompokkan menjadi:
- Bakteri anaerob obligat
Bakteri anaerob obligat (sejati) hanya hidup jika tidak ada oksigen. Oksigen
merupakan racun. Contoh : bakteri belerang, Methanobacterium sp. Micrococcus
denitrificans, Clostridium botulinum,Clostridium tetani.
- Bakteri anaerob fakultatif

Bakteri anaerob fakultatif dapat hidup jika ada ataupun tidak ada oksigen. Contoh E.
Coli dan Lactobacillus sp .
- Bakteri mikroaerofilik
Bakteri mikroaerofilik adalah bakteri yang tumbuh baik bila ada oksigen yang sedikit.
3. Derajat Keasaman (pH)
Untuk pertumbuhan bakteri membutuhkan pH optimum terletak antara 6,5 dan 7,5.
Tetapi ada beberapa bakteri yang dapat tumbuh pada pH rendah, atau tumbuh pada pH tinggi
(basa).
Kondisi fisik perlu dipertimbangkan di dalam penyediaan kondisi optimum untuk
pertumbuhan bakteri. Pada kondisi lain, yaitu pada konsentrasi garam tinggi dikenalbakteri
halofilik yaitu bakteri yang dapat hidup pada air asin di laut. Mikroorganisme yang
memerlukan konsentrasi garam tinggi untuk pertumbuhannya disebut halofil obligat. Bakteri
yang dapat tumbuh pada keadaan tanpa garam maupun mengandung garam disebut halofil
fakultatif.

B. Jenis Nutrisi
Nutrien dalam media perbenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting
untuk sintesis biologik organisme baru. Nutrient diklasifikasikan berdasarkan elemen yang
mereka suplai.
a) Sumber Karbon
Tumbuhan-tumbuhan dan beberapa bakteri mampu mengunakan energi fotosintetik
untuk mereduksi karbondioksida pada penggunaan air. Organisme ini termasuk kelompok
autotrof, makhluk hidup yang tidak membutuhkan nutrient organik untuk pertumbuhannya.
Autotrof lain adalah khemolitotrof, organisme yang menggunakan substrat anorganik seperti
hidrogen atau thiosulfat sebagai reduktan dan karbondioksida sebagai sumber karbon.
Heterotrof membutuhkan karbon organik untuk pertumbuhannya, dan karbon organik
tersebut harus dalam bentuk yang dapat diasimilasi. Contohnya, naphthalene dapat
menyediakan semua karbon dan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan respirasi

heterotropik, tetapi sangat sedikit organisme yang memiliki jalur metabolik yang perlu untuk
asimilasi naphthalene. Sebaliknya, glukosa, dapat membantu pertumbuhan fermentatif atau
respirasi dari banyak organisme. Adalah penting bahwa substrat pertumbuhan disuplai pada
tingkatan yang cocok untuk galur mikroba yang akan ditumbuhkan. Karbondioksida
dibutuhkan pada sejumlah reaksi biosintesis. Banyak organisme respiratif menghasilkan lebih
dari cukup karbondioksida untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi yang lain membutuhkan
sumber karbondioksida pada medium pertumbuhannya (Jawetz, 2001).
1) Keperluan akan Zat Karbon
Organisme yang berfotosintesis dan bakteri yang memperoleh energi dari oksidasi
senyawa organik menggunakan secara khas bentuk karbon yang paling teroksidas, CO ,
sebagai satu-satunya sumber utama karbon selular. Perubahan CO , menjadi unsur pokok sel
organik adalah proses reduktif, yang memerlukan pemasukan bersih energi. Karena itu, di
dalam golongan faali ini, sebagian besar dari energi yang berasal dari cahaya atau dari
oksidasi senyawa anorganik yang tereduksi harus dikeluarkan untuk reduksi CO sampai
kepada tingkat zat organik.
Semua organisme lain memperoleh karbonnya terutama dari zat gizi organik. Karena
kebanyakan substrat organik adalah setingkat dengan oksidasi umum sebagai unsur pokok sel
organik, zat-zat itu biasanya tidak usah menjalani reduksi pertama yang berguna sebagai
sumber karbon sel. Selain untuk memenuhi keperluan biosintetik akan karbon, maka substrat
organik harus memberikan keperluan energetik untuk sel itu. Akibatnya sebagian besar
daripada karbon yang terdapat pada substrat organik memasuki lintasan lintasan metabolisme
yang menghasilkan energi dan akhirnya dikeluarkan lagi dari sel, sebagai CO (hasil utama
dalam metabolisme pernapasan yang menghasilkan energi atau sebagai campuran CO dan
senyawa organik). Jadi, substrat organik biasanya mempunyai peran gizi yang lengkap.
Mikroorganisme teramat beragam baik dalam hal macam maupun jumlah senyawa
organik yang dapat mereka gunakan sebagai sumber utama karbon dan energi.
Keanekaragaman ini diperlihatkan secara nyata bahwa tidak ada senyawa organik yang
dihasilkan secara alamiah yang tidak dapat digunakan sebagai sumber karbon dan energi oleh
beberapa mikroorganisme. Karena itu, tidaklah mungkin untuk memberikan secara singkat
sifat-sifat kimiawi sumber karbon organik untuk mikroorganisme.

Kebanyakan (dan barangkali semua) organisme yang bergantung pada sumber- sumber
karbon organik memerlukan CO pula sebagai zat gizi dalam jumlah yang sangat kecil, karena
senyawa ini digunakan dalam beberapa reaksi biosentitik. Akan tetapi, karena CO biasanya
dihasilkan dalam jumlah banyak oleh organisme yang menggunakan senyawa organik,
persyaratan biosintetik dapat terpenuhi melalui metabolisme sumber karbon organik dan
energi.
Sekalipun demikian, peniadaan CO sama sekali sering kali menangguhkan atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media organik, dan beberapa bakteri dan
cendawan memerlukan konsentrasi CO yang relatif tinggi di dalam atmosfer (5-10 %) untuk
pertumbuhan yang memadai dalam media organik.
2) Sumber Nitrogen dan Belerang
Nitrogen merupakan komponen utama protein dan asam nukleat, yaitu sebesar lebih
kurang 10 persen dari berat kering sel bakteri. Nitrogen mungkin disuplai dalam bentuk yang
berbeda, dan mikroorganisme beragam kemampuannya untuk mengasimilasi nitrogen.
Hasil akhir dari seluruh jenis asimilasi nitrogen adalah bentuk paling tereduksi yaitu
ion ammonium (NH ).Banyak mikroorganisme memiliki kemampuan untuk mengasimilasi
nitrat (NO ) dan nitrit (NO ) secara reduksi dengan mengubahnya menjadi amoniak (NH ).
Jalur asimilasi ini berbeda dengan jalur dissimilasi nitrat dan nitrit. Jalur dissimilasi
digunakan oleh organisme yang menggunakan ion ini sebagai elektron penerima terminal
dalam respirasi, proses ini dikenal sebagai denitrifikasi, dan hasilnya adalah gas nitrogen (N ),
yang dikeluarkan ke atmosfer.
Kemampuan untuk mengasimilasi N secara reduksi melalui NH , yang disebut fiksasi
nitrogen, adalah sifat untuk prokariota, dan relatif sedikit bakteri yang memiliki kemampuan
metabolisme ini. Kebanyakan mikroorganisme dapat menggunakan NH sebagai sumber
nitrogen utama, dan banyak organisme memiliki kemampuan untuk menghasilkan NH dari
amina (R-NH ) atau dari asam amino (RCHNH COOH). Produksi amoniak dari deaminasi
asam amino disebut ammonifikasi. Amoniak dimasukkan ke dalam bahan organik melalui
jalur biokomia yang melibatkan glutamat danglutamine.
Seperti nitrogen, belerang adalah komponen dari banyak substansi organik sel.
Belerang membentuk bagian struktur beberapa koenzim dan ditemukan dalam rantai samping
cisteinil dan merionil protein. Belerang dalam bentuk asalnya tidak dapat digunakan oleh

tumbuhan atau hewan. Namun, beberapa bakteri autotropik dapat mengoksidasinya menjadi
sulfat (SO ). Kebanyakan mikroorganisme dapat menggunakan sulfat sebagai sumber
belerang, mereduksi sulfat menjadi hidrogen sulfida (H S). Beberapa mikroorganisme dapat
mengasimilasi H S secara langsung dari medium pertumbuhan tetapi senyawa ini dapat
menjadi racun bagi banyak organisme.
Kedua unsur ini yaitu belerang dan nitrogen terdapat dalam sel dalam bentuk
tereduksi, sebagai gugus sulfhidril dan amino. Sebagian besar mikroorganisme mampu
menampung unsur-unsur ini dalam bentuk oksida dan mereduksi sulfat dan juga nitrat.
3) Keperluan Akan Nitrogen dan Belerang
Nitrogen dan belerang terdapat pada senyawa organik sel terutama dalam bentuk yang
terinduksi masing-masing sebagai gugus amino dan sulfhidril. Kebanyakan organisme
fotosintetik mengasimilasi kedua unsur ini dalam keadaan anorganik yang teoksidasi, sebagai
nitrat dan sulfat, jadi penggunaan biosintetiknya meliputi reduksi pendahuluan. Banyak
bakteri nonfotosintetik dan cendawan dapat juga memenuhi keperluannya akan nitrogen dan
belerang dari nitrat dan sulfat. Beberapa mikroorganisme tidak dapat mengadakan reduksi
salah satu atau kedua anion ini dan harus diberikan unsur dalam bentuk tereduksi. Keperluan
akan sumber nitrogen yang tereduksi agak umum dan dapat dipenuhi oleh persediaan nitrogen
sebagai garam-garam ammonium. Keperluan akan belerang tereduksi lebih jarang, bahan itu
dipenuhi dari persediaan sulfida atau dari senyawa organik yang mengandung satu gugus
sulfhidril (misalnyasisteine).
Persyaratan akan nitrogen dan belerang sering kali juga dapat diperoleh dari zat gizi
organik yang mengandung kedua unsur ini dalam kombinasi organik yang tereduksi (asam
amino atau hasil penguraian protein yang lebih kompleks, seperti pepton). Tentu saja,
senyawa-senyawa seperti itu dapat menyediakan sumber karbon organik dan energi, sekaligus
memenuhi keperluan selular akan karbon, nitrogen, belerang, dan energi.
4) Sumber Phospor
Fosfat (PO ) dibutuhkan sebagai komponen ATP, asam nukleat dan sejumlah koenzim
seperti NAD, NADP dan flavin. Selain itu, banyak metabolit, lipid (fosfolipid, lipid A),
komponen dinding sel ( teichoic acid ), beberapa polisakarida kapsul dan beberapa protein
adalah bergugus fosfat. Fosfat selalu diasimilasi sebagai fosfat anorganik bebas (P ).

5) Sumber Mineral
Sejumlah besar mineral dibutuhkan untuk fungsi enzim. Ion magnesium (Mg ) dan ion
ferrum (Fe ) juga ditemukan pada turunan porfirin yaitu: magnesium dalam molekul klorofil,
dan besi sebagai bagian dari koenzim sitokrom dan peroksidase. Mg dan K keduanya sangat
penting untuk fungsi dan kesatuan ribosom. Ca dibutuhkansebagai komponen dinding sel
gram positif, meskipun ion tersebut bebas untuk bakteri gram negatif. Banyak dari organisme
laut membutuhkan Na untuk pertumbuhannya. Dalam memformulasikan medium untuk
pembiakan kebanyakan mikroorganisme, sangatlah penting untuk menyediakan sumber
potassium, magnesium, kalsium, dan besi, biasanya dalam bentuk ion-ion (K , Mg , Ca , dan
Fe ). Banyak mineral lainnya (seperti Mn , Mo , Co , Cu , dan Zn ) dibutuhkan: mineral ini
kerapkali terdapatdalam air kran atau sebagai kontaminan dari kandungan medium lainnya.
Pengambilan besi dalam bentuk hidroksida yang tak larut pada pH netral, difasilitasi
pada banyak bakteri dan fungi dengan produksi senyawa siderofor yang mengikat besi dan
mendukung trasnportasinya sebagai kompleks terlarut. Semua ini meliputi hydroxymates (CONH OH) yang disebut sideramines , dan turunan catechol (seperti 2,3dihydroxybenzolyserine ). Siderofor yang dibentuk plasmid memainkan peranan utama dalam
sifat invasi beberapa bakteri patogen.
6) Sumber Oksigen
Untuk sel oksigen tersedia dalam bentuk air. Selanjutnya oksigen juga terdapat dalam
CO dan dalam bentuk senyawa organik. Selain itu masih banya organisme yang tergantung
dari oksigen molekul (O atau dioksigen). Oksigen yang berasal dari molekul oksigen hanya
akan diinkorporasi ke dalam substansi sel kalau sebagai sumber karbon digunakan metana
atau hidrokarbon aromatic yang berantai panjang. Menilik hubungannya dengan oksigen
dapat dibedakan sekurang-kurangnya tiga kelompok organisme: organisme aerob obligat yang
mampu menghasilkan energi hanya melalui respirasi dan dengan demikian tergantung pada
oksigen. Organisme anaerob obligat hanya dapat hidup dalam lingkungan bekas oksigen.
Untuk organisme ini O bersifat toksik. Mikroorganisme anaerob fakultatif tumbuh dengan
adanya O udara, jadi bersifat aerotoleran; tetapi organisme ini tidak dapat memanfaatkan O ,
tetapi memperoleh energi semata-mata dari peragian. Jenis bakteri anaerob fakultatif lain
( Enterobacteriaceae ) dan banyak ragi dapat beralih dari peroleh energi Dengan respirasi
(dengan adanya O ) ke peragian (tanpa O ).

C. Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme


Secara umum fase-fase pertumbuhan mikroorganisme adalah sebagai berikut.
1. Fase lag (fase masa persiapan, fase adaptasi, adaptation phase)
Pada fase ini laju pertumbuhan belum memperlihatkan pertumbuhan ekponensial,
tetapi dalam tahap masa persiapan. Hal ini tergantung dari kondisi permulaan, apabila
mikroorganisme yang ditanami pada substrat atau medium yang sesuai, maka pertumbuhan
akan terjadi. Namun sebaliknya apabila diinokulasikan mikroorganisme yang sudah tua
meskipun makanannya cocok, maka pertumbuhannya mikroorganisme ini membutuhkan
masa persiapan atau fase lag. Waktu yang diperlukan pada fase ini digunakan untuk
mensintesa enzim.
Sehingga mencapai konsentrasi yang cukup untuk melaksanakan pertumbuhan
ekponensial. Fase ini berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung dari jenis
mikroorganisme serta lingkungan yang hidup. Selama fase ini perubahan bentuk dan
pertumbuhan jumlah individu tidak secara nyata terlihat. Karena fase ini dapat juga
dinamakan sebagai fase adaptasi (penyesuaian) ataupun fase-pengaturan jasad untuk suatu
aktivitas didalam lingkungan yang mungkin baru. Sehingga grafik selama fase ini umumnya
mendatar.
Kalau G ( = waktu generasi rata-rata ) sama dengan t ( = waktu yang dibutuhkan dari
jumlah a menjadi b ) dibagi oleh a ( = jumlah keturunan ) sehingga:
G = t / n= 0,301
log10a -log10b
2. Fase tumbuh dipercepat (fase logaritme, fase eksponensial, logaritma phase)
Pada setiap akhir persiapan sel mikroorganisme akan membelah diri.masa ini disebut
masa pertumbuhan, yang setiap selnya tidak sama dalam waktu masa persiapan.Sehingga
secara berangsur-angsur kenaikan jumlah populasi sel mikroorganisme ini mencapai masa
akhir fase pertumbuhan mikroorganisme.
Setelah setiap individu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru selama fase lag,
maka mulailah mengadakan perubahan bentuk dan meningkatkan jumlah individu sel

sehingga kurva meningkat dengan tajam (menanjak). Peningkatan ini harus diimbangi dengan
banyak faktor, antara lain:
Faktor biologis, yaitu bentuk dan sifat jasad terhadap lingkungan yang ada, serta
assosiasi kehidupan di antara jasad yang ada kalau jumlah jenis lebih dari sebuah.
Faktor non-biologis, antara lain kandungan sumber nutrien di dalam media,
temperatur, kadar oksigen, cahaya, dan lain sebagainya. Kalau faktor-faktor di atas optimal,
maka peningkatan kurva akan nampak tajam seperti gambar. Pada fase ini pertumbuhan
secara teratur telah tercapai. Maka pertumbuhan secara ekponensial akan tercapai. Pada fase
ini menunjukkan kemampuan mikroorganisme berkembang biak secara maksimal. Setiap sel
mempunyai kemampuan hidup dan berkembang biak secara tepat.
Fase pengurangan pertumbuhan akan terlihat berupa keadaan puncak dari fase
logaritmik sebelum mencapai fase stasioner, dimana penambahan jumlah individu mulai
berkurang atau menurun yang di sebabkan oleh banyak faktor, antara lain berkurangnya
sumber nutrien di dalam media tercapainya jumlah kejenuhan pertumbuhan jasad. Fase
tumbuh reda akan terlihat dimana fase logaritma mencapai puncaknya, maka zat-zat makanan
yang diproduksi oleh setiap sel mikroorganisme akan mengakibatkan pertumbuhan
mikroorganisme, sehingga pada masa pertumbuhan ini reda atau dikatakan sebagai fase
tumbuh reda.
3. Fase stasioner
Pengurangan sumber nutrien serta faktor faktor yang terkandung di dalam jasadnya
sendiri, maka sampailah puncak aktivitas pertumbuhan kepada titik yang tidak bisa dilampaui
lagi, sehingga selama fase ini, gambaran grafik seakan mendatar. Populasi jasad hidup di
dalam keadaan yang maksimal stasioner yang konstan.
Pada fase ini terjadi penumpukan produk beracun dan atau kehabisan nutrien.
Beberapa sel mati sedangkan yang lain tumbuh dan membelah. Jumlah sel hidup menjadi
tetap (Pelczar 2005). Fase ini menunjukan jumlah bakteri yang berbiak sama dengan jumlah
bakteri yang mati, sehingga kurva menunjukan garis yang hampir horizontal (Dwidjoseputro,
1998).
Alasan bakteri tidak melakukan pembelahan sel pada fase statis bermacam-macam.
Beberapa alasan yang dapat dikemukan akan adalah :

Nutrien habis
Akumulasi metabolit toksik (misalnya alkohol,asam, dan basa)
Penurunan kadar oksigen
Penurunan nilai aw (ketersediaan air)
Bentuk kasus kedua dijumpai pada fase fermentasi alcohol dan asam laktat, untuk
kasus ketiga dijumpai pada bakteri aerob dan untuk kasus keempat dijumpai pada
fungi/jamur (Purwoko, 2007).

Pada fase statis biasanya sel melakukan adaptasi terhadap kondisi yang kurang
menguntungkan. Adaptasi ini dapat menghasilkan senyawa yang di inginkan manusia
misalnya antibiotika dan antioksidan (Purwoko, 2007).

4. Fase kematian
Fase ini diawali setelah jumlah mikroorganisme yang di hasilkan mencapai jumlah
yang konstan, sehingga jumlah akhir mikroorganisme tetap maksimum pada masa tertentu.
Setelah masa dilampaui, maka secara perlahan-lahan jumlah sel yang mati melebihi jumlah
sel yang hidup. Fase ini disebut fase kematian dipercepat. Fase kematian dipercepat
mengalami penurunan jumlah sel, karena jumlah sel mikroorganisme mati. Namun penurunan
jumlah sel tidak mencapai nol, sebab sebagian kecil sel yang mampu beradaptasi dan tetap
hidup dalam beberapa saat waktu tertentu. Pada fase ini merupakan akhir dari suatu kurva
dimana jumlah individu secara tajam akan menurun sehingga grafik tampaknya akan kembali
ke titik awal lagi.
.

Pada fase ini sel menjadi mati lebih cepat dari pada terbentuknya sel-sel baru, laju

kematian mengalami percepatan menjadi eksponensial bergantung pada spesiesnya, semua sel
mati dalam waktu beberapa hari atau beberapa bulan (Pelczar, 2005).
Penyebab utama kematian adalah autolisis sel dan penurunan energi seluler. Beberapa
bakteri hanya mampu bertahan beberapa jam selama fase statis dan akhirnya masuk ke dalam
fase kematian, sementara itu beberapa bakteri hanya mampu bertahan sampai harian dan
mingguan pada fase statis dan akhirnya masuk ke fase kematian. Beberapa bakteri bahkan
mampu bertahan sampai puluhan tahun sebelum mati, yaitu dengan mengubah sel menjadi
spora (Purwoko, 2007).
D. Pengukuran sel

Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur berdasarkan konsentrasi sel (jumlah sel


per satuan isi kultur) ataupun destilasi sel (berat kering dari sel-sel persatuan isi kultur). Dua
parameter ini tidak selalu sama karena berat kering sel rata-rata bervariasi pada tahap
berlainan dalam pertumbuhan kultur, kedua para meter tersebut juga tidak bermakna sama
dalam penelitian mengenai biokimia mikroorganisme atau gizi mikroorganisme. Densitas sel
adalah kuantitas yang lebih bermakna, sedangkan dalam penelitian mengenai inaktivitas
mikroorganisme, kosentrasi sel adalah kuantitas yang bermakna (Pratiwi, 2008).
Pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dengan dua cara, yaitu secara langsung
dan tidak langsung. Pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara langsung dapat
dilakukan dengan beberapa cara,yaitu :
1. Metode Total Count
Pada metode ini sampel ditaruh di suatu ruang hitung (seperti hemasitometer) dan
jumlah sel dapat ditentukan secara langsung dengan bantuan mikroskop (Hadioetomo, 1993).
Jika setetes kultur dimasukkan kedalam wadah (misalnya hemasitometer) yang diketahui
volumenya, maka jumlah sel yang dapat dihitung. Akan tetapi cara tersebut memiliki
keterbatasan, yaitu tidak dapat membedakan sel hidup atau mati dan tidak dapat digunakan
pada jumlah sel yang sangat sedikit (kurang dari 10 2 sel/ml) (Purwoko, 2007).
Kelemahan lainnya ialah sulitnya menghitung sel yang berukuran sangat kecil seperti
bakteri karena kekebalan hemositometer tidak memungkinkan digunakannya lensa objektif
celup minyak. Hal ini dibatasi dengan cara mencernai sel sehingga menjadi lebih mudah
dilihat. Kelemahan lain lagi ialah kadang-kadang cenderung bergerombol sehingga sukar
membedakan sel-sel individu. Cara mengatasinya ialah mencerai-beraikan gerombolan
sehinggga tersebut dengan menambahkan bahan anti gumpalan seperti dinatrium
etilanadiamina tetra asetat dan tween-80 sebanyak 0,1%. Keuntungan metode ini ialah
pelaksanaannya cepat dan tidak memerlukan banyak peralatan (Hadioetomo, 1993).
2. Metode Turbidimetrik
Bila kita harus memeriksa kosentrasi sel jumlah besar biakan, maka metode cawan
bukanlah pilihan yang baik karena tidak hanya memakan waktu tetapi juga memerlukan
media dan pecah-belah dalam jumlah besar. Untuk kasus demikian tersedia metode yang lebih
cepat dan praktis, yaitu pengukuran kekeruhan biakan dengan fotokilometer (Hadioetomo,
1993).

Secara rutin jumlah sel bakteri dapat dihitung dengan cara menghitung kekeruhan
(turbiditas) kultur. Semakin keruh suatu kultur, semakin banyak jumlah sel. Prinsip dasar
metode turbidimeter adalah jika cahaya mengenai sel, maka sebagian cahaya diserap dan
sebagian cahaya diteruskan. Jumlah cahaya yang diserap propisional (sebanding lurus dengan
jumlah sel bakteri). Ataupun jumlah cahaya yang diteruskan berbanding terbalik dengan
jumlah sel bakteri. Semakin banyak jumlah sel, semakin sedikit cahaya yang diteruskan.
Metode ini memiliki kelemahan tidak dapat membedakan antara sel mati dan sel hidup
(Purwoko, 2007).
sampel. Perhitungan sel dengan metode turbidimetri. Suspensi mikroba menerima
cahaya dari lampu. Ketika cahaya mengenai sel mikroba, cahaya diserap (garis panah
membelok l o ) dan jika cahaya tidak mengenai sel mikroba maka cahaya diteruskan (garis
panah lurus l) (Purwoko, 2007).
3. Metode Berat Kering
Cara yang paling cepat mengukur jumlah sel adalah metode berat kering. Metode
tersebut relatif mudah dilakukan, yaitu kultur disaringan atau disentrifugasi, kemudian bagian
yang disaring atau yang mengendap hasil sentrifugasi dikeringkan. Pada metode ini juga tidak
dapat membedakan sel yang hidup dan mati. Akan tetapi keterbatasan itu tidak mengurangi
manfaat metode tersebut dalam hal mengukur efesiensi fermentasi, karena pertumbuhan
diukur dengan satuan berat, sehingga dapat diperhitungkan dengan parameter konsumsi
substrat dan produksi senyawa yang diinginkan (Purwoko, 2007).
4. Metode Elektronic Counter
Pada pengukuran ini, suspensi mikroorganisme dialirkan melalui lubang kecil (orifice)
dengan bantuan aliran listrik. Elektroda yang ditempatkan pada dua sisi orifice mengukur
tekanan listrik (ditandi dengan naiknya tekanan) pada saat bakteri melalui orifice. Pada saat
inilah sel terhitung. Keuntungan metode ini adalah hasil bisa diperoleh dengan lebih cepat dan
lebih akurat, serta dapat menghitung sel dengan ukuran besar. Kerugiannya metode ini tidak
bisa digunakan untuk menghitung bakteri karena adanya gangguan derbit, filamen, dan
sebagainya, serta tidak dapat membedakan antara sel hidup dan sel mati (Pratiwi, 2008).
5. Metode Plating Techique

Metode ini merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak (visible) dan di
dasarkan pada asumsi bahwa bakteri hidup akan tumbuh, membelah dan memproduksi satu
koloni tunggal. Satuan perhitungan yang dipakai adalah CFU (colony forming unit) dengan
cara membuat seri pengenceran sampel dan menumbuhkan sampel pada media padat.
Pengukuran dilakukan pada plat dengan jumlah koloni berkisar 25-250 atau 30-300.
Keuntungan metode ini adalah sederhana, mudah dan sensitive karena menggunakan colony
counter sebagai alat hitung dapat digunakan untuk menghitung mikroorganisme pada sampel
makanan, air ataupun tanah. Kerugiannya adalah harus digunakan media yang sesuai dan
perhitungannya yang kurang akurat karena satu koloni tidak selalu berasal dari satu individu
sel (Pratiwi, 2008).
6. Metode filtrasi membran
Pada metode ini sampel dialirkan pada suatu sistem filter membran dengan bantuan
vaccum. Bakteri yang terperangkap selanjutnya ditumbuhkan pada media yang sesuai dan
jumlah koloni dihitung. Keuntungan metode ini adalah dapat menghitung sel hidup dan sistem
perhitungannya langsung, sedangkan kerugiannya adalah tidak ekonomis (Pratiwi, 2008).
Metode pengukuran pertumbuhan mikroorganisme secara tidaklangsung dapat
dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut :
1. Metode Viable Count
Kultur diencerkan sampai batas yang di inginkan. Kultur encer ditumbuhkan kembali
pada media, sehingga di harapkan setiap sel tumbuh menjadi 1 koloni beberapa saat
berikutnya, biasanya 4-12 jam. Akan tetapi cara ini memiliki keterbatasan, yaitu jumlah sel
terhitung biasanya lebih dari sebenarnya (kemungkinan besar 1 koloni dapat berasal dari 2
sel) dan tidak dapat di aplikasikan pada bakteri yang tumbuh lambat.
Pada metode tersebut yang perlu diperhatikan adalah jumlah sel bakteri harus
mendekati kelipatan 10 pada setiap pengencerannya. Jika tidak pengenceran di anggap gagal.
Misalnya cawan yang dapat dihitung jumlah selnya adalah yang mempunyai jumlah sel
sekitar 2-4 untuk sampel pengenceran (10 -x ), 20-40 untuk sampel pengenceran (10 (x+1) )
dan 200-400 untuk sampel pengenceran (10 -(x+2) ) (Purwoko, 2007).
2. Metode Aktivitas Metabolik

Metode ini di dasarkan pada asumsi bahwa produk metabolit tertentu, misalnya asam
atau CO 2 , menunjukkan jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam media. Misalnya
pengukuran produksi asam untuk menentukan jumlah vitamin yang di hasilkan
mikroorganisme (Pratiwi, 2008).
3. Metode Berat Sel Kering
Metode ini umum digunakan untuk mengukur pertumbuhan fungi berfilamen.
Miselium fungi dipisahkan dari media dan dihitung sebagai berat kotor. Miselium selanjutnya
dicuci dan dikeringkan dengan alat pengering (desikator) dan ditimbang beberapa kali hingga
mencapai berat yang konstan yang dihitung sebagai berat sel kering (Pratiwi, 2008).

KESIMPULAN

Kondisi fisik mikroorganisme dipengaruhi oleh suhu, oksigen danPH.


Skebutuhan unsure kimia mikroorganisme antara lain adalah Sumber
Karbon,Keperluan akan Zat Karbon, Sumber Nitrogen dan Belerang, Keperluan Akan
Nitrogen dan Belerang, Sumber Phospor, Sumber Mineral, Sumber Karbon, Keperluan
akan Zat Karbon, Sumber Nitrogen dan Belerang, Keperluan Akan Nitrogen dan

Belerang, Sumber Phospor, Sumber Mineral


Fase-Fase Pertumbuhan Mikroorganisme terdiri dari 4 fase yaitu Fase lag (fase masa
persiapan, fase adaptasi, adaptation phase) , Fase tumbuh dipercepat (fase logaritme,

fase eksponensial, logaritma phase), Fase stasioner,Fase kematian


Pengukuran sel menggunakan berbagai macam metode diantaranya adalah : Metode
Total Count,Metode Turbidimetrik,Metode Berat Kering, Metode Elektronic
Counter,Metode Plating Techique, Metode filtrasi membran

DAFTAR PUSTAKA
mahasiswa.ung.ac.id/613412100/home/2013/1/5/makalah_mikroorganisme.html
maulidafarmasi.blogspot.com/2012/02/pengukuran-pertumbuhan-mikroorganisme.html?m=1
http://andyismyname4.blogspot.com/2012/04/faktor-lingkungan-yangmempengaruhi.html?m=1
http://asfarsyafar.blogspot.com/2013/10/tugas-mikrobiologi-bakteri.html?m=1
https://zaifbio.wordpress.com/2010/11/08/pertumbuhan-mikroorganisme/
http://imampeternakanunhas.blogspot.com/2013/12/faktor-faktor-yangmempengaruhi.html?m=1

MAKALAH
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
MIKROORGANISME

AENI HALAWIYA
PO7134114049

D-IV/B
ANALIS KESEHATAN
POLTEKKES KEMENKES MATARAM

Anda mungkin juga menyukai