Anda di halaman 1dari 5

D.

PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING


Kelainan yang dapat dijumpai pada kelenjar getah bening berupa pembesaran
kelenjar itu dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
1. Infeksi:
Akut
Kronis : Nonspesifik dan Spesifik
2. Neoplasma :
Primer
Sekunder
Berikut ini akan diuraikan aspek klinis dari kelainan pembesaran kelenjar getah
bening tersebut.
I.a. Pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi akut..
Peradangan kelenjar getah bening ini menyebabkan hiperplasia kelenjar tersebut
hingga secara klinis teraba membesar. Pembesaran / peradangan ini ditentukan
pula oleh derajat virulensi kuman hingga dapat berupa abses supuratif.
Secara klinis akan ditemukan :
1.Lesi Primer sumber infeksi.
2.Pembesaran kelenjar getah bening regioner, yang disertai tanda tanda umum
peradangan berupa dolor, robor, kolor, tumor dan funsio laesa.
Misalnya :
Ada sakit gigi atau karies dentis atau infeksi stomatitis sering diikuti pembesaran
kelenjar getah bening submandibuler ( limfadenitis submandibuler )
Ada plgmon atau infeksi di telapak tangan akan menimbulkan limfadenitis
daerah aksila dari tangan tersebut yang nyeri dan mengganggu gerakan tangan.
Paronichya di ibu jari kaki atau infeksi di kaki bagian bawah menyebabkan
adanya limfadenitis dan inguinal, yang sering membuat rasa nyeri untuk
berjalan.
Apabila lesi infeksi primer sudah diobati, maka limfadenitis akuta inipun akan
sembuh secara berangsur.
Dapat terjadi karena virulensi kuman yang hebat, di samping tanda infeksi
sistematis ( sepsis ) dapat pula dijumpai kelenjar getah bening yang sudah
berubah menjadi abses. Untuk abses ini perlu dilakukan terapi abses berupa
insisi
1.b. Limfadenitis Kronis
Disebabkan oleh infeksi kronis. Infeksi kronis nonspesifik misalnya pada keadaan
seseorang dengan faringitis kronis akan ditemukan pembesaran kelenjar getah
bening leher ( limfadenitis ). Pembesaran di sini ditandai oleh tanda radang yang
sangat minimal dan tidak nyeri.
Pembesaran kronis yang spesifik dan masih banyak di Indonesia adalah akibat
tuberkulosa. Limfadenitis tuberkulosa ini ditandai oleh pembesaran kelenjar
getah benng, padat / keras, multiple dan dapat berkonglomerasi satu sama lain.
Dapat pula sudah terjadi perkijuan seluruh kelenjar, sehingga kelenjar itu
melunakseperti abses tetapi tidak nyeri seperti abses banal. Apabila Abses ini

pecah ke kulit, lukanya sukar sembuh oleh karena keluar secret terus menerus
sehingga seperti fistula.
Limfadenitis tuberculosa pada kelenjar getah bening dapat terjadi sedemikian
rupa, besar dan konglomerasi sehingga leher penderita itu disebut seperti bull
neck.
Pada keadaan seperti ini kadang kadang sukar dibedakan dengan limfoma
malignum.
Limfadenitis tuberkulosa diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan
histopatologi, terutama yang tidak disertai oleh tuberkulosa paru.
Pada gambaran histopologi yang spesifik adalah perkijuan dan sel datia Langhan
s.
2.Neoplasma
a. Primer
Limfoma malignum ( Hodgkin dan Non Hodgkin )
Penyakit ini merupakan neoplasma ganas primer pada kelenjar getah
bening/system limfatis, dan ditandai oleh pembesaran kelenjar getah bening
yang terkena.
Dapat dibedakan limfoma malignum Hodgkin dan Non Hodgkin limfoma
Secara epidemiologis apabila dilihat dari distribusi umur, maka penyaklit
Hodgkin ditemukan pada dua puncak golongan umur, yaitu pada usia 20 40
tahun dan sesudah 50 tahun. Sedangkan limfoma Non Hodgkin pada umumnya
pada usia tua dengan puncak diatas 60 tahun.
Gejala klinis.
1.Pembengkakan kelenjar getah bening leher, kelenjar tidak sakit, multiple,
bebas atas konglomerasi satu sama lain.
Pada non Hodgkin limfoma, dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening
lain (G. 1 ) misalnya pada traktus digestivus atau pada organ organ
parenkhima.
2.Demam tipe pel Ebstein.
3.Gatal gatal.
4.Keringat malam.
5.Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 6 bulan terakhir tanpa diketahui
sebabnya.
6.Kurang nafsu makan.
7.Daya kerja menurun drastis
8.Kadang-kadang disertai sesak nafas.
9.Nyeri setelah mendapat intake alkohol ( 15-20 %)
10.Pola perluasan Hodgkin sistematis secara sntripetal, dan relatif lebih lambat
dan Non Hodgkin tidak sistematis dan relatif lebih cepat bermetasis ketempat
yang jauh.

Diagnosis
Ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis.
Pada Morbus Hodgkin di samping sel-sel limfosit, ditemukan granulosit, sel

plasma, histiosit dan sel Reed Sternberg merupakan patognomonis untuk


golongan ini.
Secara histopatologik limfoma Non Hodgkin menurut Rappaport (1966 ) dibagi
atas :
1.Limfosit, diferensiasi baik.
2.Limfosit, diferensiasi buruk
3.Stern cell ( termasuk limfoma burkitt )
4.Limfositik histiositik
5.Mixed cell
1s/d 5 dapat ditemukan dalam bentuk noduler atau difus.
Pembagian histologik limfoma Hodgkin sebagai berikut :
Limfositik predominant
Mixed cell
Limphositic depletion
Nodular sclerotic
Stadium
Penentuan stadium penting sekali untuk menentukan jenis pengobatan,
prognosis dan evaluasi hasil pengobatan.
Untuk itu perlu dilakukan :
1.Anamnesisi yang lengkap dari riwayat penyakit dan keluhan-keluhan penderita.
2.Pemeriksaan fisik yang teliti meliputi group kelenjar getah bening di
permukaan seperti leher, aksila, inguinal dan lain-lain termasuk waldeyerring.
Periksaan hati dan limpa.
Pemeriksaan penunjang :
Laoratorium darah tepi lengkap, faal hati lengkap
Imaging
Foto toraks
USG abdomen
CT jika perlu.
Biopsi sumsung tulang
Beberapa pemerikasaan atas indikasi seperti :
Biopsi hati
Laparotomi / splenektomi
Bone survey
Kavografi
Mediastinoskopi
Tomografi
Dengan kemajuan teknik imaging sekarang ini seperti USG, CT atau MRI banyak
hal-hal yang bersifat invasif dapat digantikan seperti laprotomi untuk staging.

Stadium Klinik dibedakan :


Stadium I : Bila tumor terdapat pada satu kelompok kelenjar getah bening (I)
atau pada satu organ ekstralimfatik selama masih soliter (IE).
Stadium II : Bila tumor didapat pada dua atau lebih grup kelenjar getah benig
pada pihak yang sama dari diafragma (II) atau bila terdapat pada satu atau lebih
kelompok klenjar getah bening disertai tumor soliter ekstralimfatik namun masih
dalam satu pihak diafrgma ( IIE).
Stadium III : Bila terkena kelenjar getah bening pada dua pihak diafragma (III)
dan apabila ada organ ekstralimfatik terkena, masih soliter (IIIE).
Stadium VI : Bila penyakit ditemukan difuse pada satu organ atau lebih dengan
atau tanpa terserangnya kelenjar getah bening.
Pengobatan
I.Radiasi
Untuk stadium
Untuk stadium
Untuk stadium
Untuk stadium

I dan II secara mantel radikal


IIIA/Bsecara total nodal radioterapi.
III B secara subtotal body irradiation.
IV secara total body irradiation..

II.Khemoterapi untuk stadium III dan IV


Untuk stadium I dan II dapat pula diberi khemoterapi preradiasi atau pasca
radiasi.
Khemoterapi yang sering dipakai adalah kombinasi :
COP untuk Limfoma Non Hodgkin
C : Cyclophosphamide 800 mg/m2 hari pertama.
O : Oncovin 1,4 mg/m2 i.v.hari pertama
P : Prednison 60 mg/m2 hari 1 s/d 7 lalu tapering off.
MOPP ( untuk limfoma Hodgkin)
M. : Nitrogen mustard 6 mg/m2 hari 1 dan 8
O : Oncovin 1,4 mg/m2 hari1 dan 8
P : Prednison 60 mg/m2 hari 1 s/d 14
P : Procarbazin 100 mg/m2 hari 1 s/d 14
Peranan pembedaan pada penatalaksanaan limfoma malignum terutama hanya
untuk diagnostik (biopsi) dan laparotomi splenektomi bila ada indikasi.

b. Neoplasma sekunder ( metastasis).


Metastasisi dari suatu proses keganasan secara limfogen pertama-tama akan
mengenai kelenjar getah bening regioner sebelum samapai ke tempat-tempat
lain yang lebih jauh. Dan keadaan ini akan menyebabkan pembesaran kelenjar
getah bening tersebut.
Kelenjar getah bening yang mengandung metastasis akan teraba lebih padat /
keras, tidak nyeri, dapat digerakkan dan dapat multipel. Apabila sudah
menembus kapsul maka akan lebih terfiksir pada jaringan lunak sekitar dan
dapat terjadi konglomerasi satu sama lain. Kadang-kadang sukar dibedakan

dengan limfadenitis tuberkulosa, secara klinis perabaan.


Pada suatu proses keganasan misalnya karsinoma mamma atau karsinoma
rongga mulut / lidah atau yang lainnya, disamping memeriksa lesi primer untuk
menentukan besar tumor (T), juga selalu diperiksa kelenjar getah bening
regioner untuk melihat adakah pembesaran kelenjar getah bening tersebut ( N)
yang merupakan metastasisi limfogen.
Sebaliknya apabila kita menemukan pembesaran kelenjar getah bening setelah
infeksi disingkirkan maka pikirkan metastasisi pada kelenjar getah bening, dan
cari tumor primernya atau limfoma.