Anda di halaman 1dari 8

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

PENDEKATAN KONTINJENSI PADA RANCANGAN SISTEM


INFORMASI AKUNTANSI

Chapter 2

OLEH :
KELOMPOK 1
NI PUTU EVA FERDAYANI
NI PUTU BUDIADNYANI
NI KETUT KARTIKA AMANDA ASTITI
DEWA AYU MAS PUTRIARI NUSANTARI
NI PUTU DESY RATNA DEWI

1591661006
1591661013
1591661020
1591661034
1591661044

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
PENDEKATAN KONTINJENSI PADA RANCANGAN SISTEM INFORMASI
AKUNTANSI
Esensi dari teori kontijensi adalah tidak ada sistem akuntansi yang bisa diterapkan untuk
semua keadaan, semua tergantung dari situasi dan kondisi suatu perusahaan. Berikut ini akan
dijelaskan mengenai pendekatan kontinjensi dan untuk diterapkan pada penelitian teoretis dan
empiris.
A. TEORI KONTINJENSI

Pendekatan teori kontinjensi untuk merancang sistem akuntansi menyatakan bahwa


tidak ada suatu strategi umum bisa digunakan untuk semua organisasi. Perumusan kontinjensi
telah mempertimbangkan pengaruh dari teknologi, struktur organisasi dan teori, dan lingkungan
dalam upaya untuk menjelaskan bagaimana sistem akuntansi berbeda dalam berbagai situasi.
1. Kerangka Kerja Waterhouse dan Tiessen
Waterhouse dan Tiessen mengusulkan suatu rancangan efisien dari sistem akuntansi
manajemen dan suatu mekanisme dari kontrol yang tergantung pada struktur dan
konteks dari suatu organisasi. Tipe dari struktur organisasi diduga akan
memengaruhi proses akuntansi manajemen, seperti perencanaan, alokasi sumber
daya, dan pengukuran penampilan.
2. Kerangka Kerja Gordon dan Miller
Gordon dan Miller mengusulkan suatu kerangka kerja kontinjensi untuk rancangan
sistem informasi yang melakukan perhitungan terhadap lingkungan, atribut
organisasional dan jensi pembuatan keputusan manajerial. Gordon dan Miller
menyatakan bahwa dalam kenyataannya, pola tampak lingkungan, organisasional
dan jenis keputusan tidak tersebar secara acak tetapi bergabung bersama untuk
membentuk pengaturan umum.
3. Kerangka Kerja MacIntosh dan Daft
MacIntosh dan Daft menyelidiki hubungan antara satu karakteristik organisasi dan
rancangan sistem pengendalian. Dengan interdependensi yang mereka temukan,
suatu perluasan dimana departemen tergantung satu sama lain dan bertukar
informasi dan sumber daya untuk menyelesaikan suatu tugas. Interdependensi bisa
1) dicurangi ketika suatu departemen relatif otonom dan terdapat sedikir aliran kerja
di antara mereka, 2) berangkaian ketika departemen berkaitan suatu seri, dengan
hasil suatu departemen digunakan sebagai masukan departemen berikutnya, dan 3)
berbalasan ketika departemen bekerja suatu proyek dan arus kerja kembali dan
berkumpul di antara kedua departemen tersebut. Sistem pengendalian manajemen
dipandang dari istilah ketika kontrol subsistem: dana operasional, laporan statistik,
dan prosedur operasional standar dan peraturan. Hasil dari studi lapangan
MacIntosh dan Daft menunjukkan bahwa ketika interdependensi rendah, kontrol
difokuskan pada penggunaan prosedur operasional standar, ketika menengah,
kontrol diserahkan pada pendanaan dan laporan statistik, ketika tinggi peranan dari
sistem pengendalian ditiadakan.
2

4. Kerangka Kerja MacIntosh


MacIntosh mengusulkan suatu model kontekstual dari sistem informasi. Dasarnya,
model menggabungkan tipe keputusan pribadi, teknologi, dan struktur organisasi
untuk menurunkan suatu jenis sistem informasi. Variabel-variabelnya dijabarkan
dari model jenis keputusan Driver dan Mock dan kategori Perrow.
Model jenis keputusan Driver dan Mock digunakan untuk menentukan variabel
jenis keputusan, dimana model ini menunjukkan dua dimensi dari pemrosesan
informasi (jumlah informasi yang digunakan dan derajat fokus dalam penggunaan
data). Data dimensi ini digabung sehingga didapat empat jenis yang berlainan, yaitu
jenis desisif (menyatakan penggunaan suatu jumlah minimum dari data untuk
menghasilkan hasil yang berbeda pada waktu yang berbeda), jenis fleksibel
(menyatakan penggunaan sejumlah kecil data untuk menghasilkan hasil yang
berbeda pada waktu yang berbeda), jenis hierarki (penggunaan banyak daya untuk
menghasilkan satu opini perusahaan), jenis integratif (penggunaan banyak data
untuk menghasilkan solusi yang memungkinkan).
Kategori Perrow digunakan untuk menentukan variabel teknolog, yang dinyatakan
dengan dua dimensi teknologi (pengetahuan tugas dan keragaman tugas). Dua
dimensi ini diturunkan dari kategori pengetahuan yang berbeda, yaitu teknologi
keahlian, teknologi rutin, teknologi penelitian, dan teknologi teknis profesional.
Empat jenis informasi dibedakan dalam dua dimensi, yaitu jumlah dan ambiguitas.
MacIntosh menjelaskan mereka dengan cara berikut:
a) Sistem Informasi Ringkas
Sejumlah kecil sampai menengah informasi yang tepat dan tidak ambigu, dan
digunakan dalam cara yang cepat dan teliti.
b) Sistem Informasi Teliti
Sejumlah besar informasi, sering kali dalam bentuk database atau model
simulasi, yang cenderung terperinci dan tepat.
c) Sistem Informasi Kursori
Sejumlah kecil informasi, tidak tepat, tidak pula terperinci dan sering kali
hanya dipermukaan, mereka digunakan dalam cara yang biasa namun diteliti.
d) Sistem Informasi Difuse
Informasi menengah sampai besar, seringkali sangat tidak jelas dan tepat,
umumnya digunakan dengan cara yang lambat dan penuh pertimbangan.
5. Kerangka Kerja Ewusi-Mensah
Ewusi menyelidiki dampak lingkungan organisasi eksternal terhadap sistem
informasi

manajemen.

Variasi

dalam

lingkungan

organisasi

diasumsikan
3

memerlukan proses keputusan yang berbeda, dan oleh karenanya, memiliki


karakteristik informasi yang berbeda, termasuk kualitas informasi, dampak terhadap
pembuatan keputusan, interaksi organisasional, penelusuran organisasional, waktu
respons, cakrawala waktu, sumber informasi, dan jenis informasi.
B. PENGGUNAAN TEKNIK PEMBIAYAAN MODAL
Teori ekonomi keuangan menunjukkan bahwa penampilan perusahaan yang ditingkatkan
(pengukuran data pasar saham) tidak secara signifikan berkaitan dengan teknik cash flow yang
didiskontokan. Hubungan antara penggunaan teknik pembiayaan permodalan dan penampilan
perusahaan diringankan oleh kontijensi, karakteristik spesifik perusahaan. Perspektif ini
mengembangkan dan menguji suatu teori kontijensi yang bisa memprediksi perusahaan mana
yang tampak paling diuntungkan dengan menggunakan teknik pembiayaan permodalan. Adapun
karakteristik eksternal yang digunakan dalam model adalah :
a. Strategi perusahaan (bertahan atau prospektor)
b. Prediktabilitas lingkungan (stabil atau dinamis)
c. Keragaman lingkungan (homogen atau heterogen)
Karakteristik internal yang digunakan adalah :
a. Sistem informasi
b. Struktur penghargaan
c. Derajat desentralisasi
Survei yang telah dilakukan memberikan bukti hubungan positif antara efektivitas dari
teknik pembiayaan permodalan rumit dan lingkungan yang bisa diprediksi, penggunaan dari
sistem jangka panjang, dan derajat desentralisasi.
C. STRATEGI BISNIS DAN SISTEM PENGENDALIAN
Govindarajan dan Gupta dalam Belkaoui (1989) mengamati keterkaitan antara strategi,
sistem bonus insentif, dan efektifitas pada level strategic business unit (SBU) di dalam
perusahaan yang berbeda-beda. Suatu survei umum dari manajer tentang strategic business unit
(SBU) terdiversifikasi menghasilkan hal-hal berikut :
Ketergantungan lebih besar terhadap kinerja jangka panjang seperti halnya juga
ketergantungan lebih besar terhadap pendekatan subjektif (bukan rumusan) untuk
menentukan SBU manajer umum, bonus berperan untuk efektifitas dalam kasus
membangun SBU, tetapi lambat dalam memanen SBU.

Hubungan dari perluasan dari ketergantungan terhadap sistem bonus pada kriteria
pendek dan efektivitas SBU secara maya berdiri sendiri dari strategi SBU.

Hasil pertama berdiri di atas alasan yang memberikan pengharapan dimana unit pembangun akan
menghadapi ketidakpastian lingkungan yang lebih besar dibandingkan dengan yang dihadapi unit
permanen.
Menggunakan tipologi Miles dan Snow (1978), strategi diklasifikasikan menjadi
defender prospektor, dan analiser. Tipe ini dijelaskan sebagai berikut defender beroperasi
dalam area produksi yang relatif stabil, dan berkompetisi dengan mempertaruhkan
kepemimpinan, kualitas, dan pelayanan. Mereka melakukan sedikit perkembangan produk/pasar.
Hasil dari studi ini membuktikan proporsi di mana perusahaan bergantung pada strategi berbeda
menggunakan Sistem Pengendalian Akuntansi dengan cara yang berbeda pula.
D. PENTINGNYA PENGAMATAN DAN PENGGUNAAN KONTROL PEMBIAYAAN
Literatur empiris dalam teori kontijensi mencoba untuk menjelaskan variasi dalam
pentingnya pengamatan dan/atau menggunakan kontrol pembiayaan pada berbagai variabel
kontijensi. Pengawas manajer menggunakan kontrol pembiayaan flexibel merupakan suatu
fungsi positif dari kompetisi yang dihadapi oleh organisasi mereka. Dia menyimpulkan hal itu
sebagai berikut:
Saat kompetisi diintensifkan, keuntungan yang diharapkan dari penerapan kontrol ini cenderung
memberatkan biaya mereka. Oleh karena itu, untuk mereka yang dipercayakan dengan sistem
pengendalian, penting untuk mengetahui derajat kompetisi yang dihadapi oleh perusahaan yang
tidak menghadapi kompetisi serius juga bisa membuat lebih merugikan daripada mendatangkan
keuntungan.
Burns dan Waterhouse (1975) menemukan bahwa kepentingan dan penggunaan sistem
pengendalian pembiayaan adalah lebih tinggi dalam organisasi yang lebih besar, lebih
desentralisasi dan lebih menggunakan teknologi yang terdapat prosedur operasional resmi
standar.
E. PILIHAN DARI TINDAKAN SISTEM PENGENDALIAN
Kemampuan anggota organisasi untuk merancang dan memelihara sistem pengendalian
untuk sesuai dengan keseluruhan struktur juga bisa menjadi kontinjen pada berbagai faktor
lainnya. Sebagai contoh Das menggunakan suatu pengaturan simulasi, menemukan bahwa
5

seseorang yang bekerja dalam suatu organisasi organik lebih suka memilih strategi kontrol yang
memotivasi secara instrinsik , dan mereka yang bekerja dalam organisasi mekanis lebih suka
memilih strategi kontrol yang memotivasi secara ekstrinsik.
Berdasarkan pada bukti penelitian terbaru, hal ini tampaknya merupakan perubahan
umum dalam gaya manajerial terutama dalam proses kontrol, tidak bisa diharapkan untuk
muncul sebagai beberapa perubahan penting dalam persepsi dari sifat-sifat organisasional dan
titik jenuh telah terjadi.
Hasil studi Belkaoui (1989) yang melibatkan 55 manajer pembelian dari departemen
supply and services dalam pemerintahan Kanada dan berdasarkan pada penggunaan istrumen
keterbukaan pribadi menunjukkan bahwa prilaku untuk akuntansi yang bertangggung jawab
secara positif berhubungan dengan jumlah dan faktor kendali dari keterbukaan diri dan
berhubungan negatif dengan positif-negatif, cukup tepat, dan mencoba untuk terbuka. Belkaoui
menyimpulkan sebagai berikut:

Hasil pertama menunjukkan bahwa subjek tersebut bersedia bicara tentang dirinya
tampak menerima salah satu kondisi dari sistem akuntansi yang bertanggung jawab
dimana bertanggung jawab terhadap keseluruhan biaya terkontrol.

Hasil kedua menyatakan bahwa subjek yang sama akan menjadi kurang berkenan untuk
menerima kondisi di atas dari sistem akuntansi yang bertanggung jawab jika kehendak
untuk membuka adalah untuk mengungkapkan hal negatif lawan positif tentang diri
mereka, atau untuk mengukur kesungguhan dari pernyataan mereka.

F. PENDEKATAN KONTINJENSI UNTUK MENGUKUR PENAMPILAN


Suatu pendekatan kontinjensi untuk mengukur penampilan didemonstrasikan dalam studi
Hayes (1977) dalam Belkaoui (1989). Hasilnya menunjukkan bahwa:

Faktor internal merupakan penjelasan utama untuk penampilan pada departemen


produksi.

Lingkungan sebagaimana juga halnya variabel interdependensi memberikan kira-kira


sumbangan sementara terhadap penjelasan terhadap penampilan pada departemen
penjualan.
Govindarajan mengamati hubungan antara ketidakpastian lingkungan dan gaya evaluasi

penampilan. Hasilnya mendukung pernyataan berikut:


6

Atasan dari unit bisnis yang menghadapi ketidakpastian lingkungan yang lebih
tinggi akan menggunakan suatu penampilan yang lebih subjektif, yaitu
pendekatan pujian, sedangkan atasan dari unit bisnis yang menghadapi
ketidakpastian lingkungan yang rendah akan menggunakan lebih banyak rumusan
yang didasarkan pendekatan evaluasi penampilan.

Kecocokan kuat antara ketidakpastian lingkungan dan gaya evaluasi penampilan


berkaitan dengan penampilan unit bisnis yang lebih tinggi.

Hasil ini digunakan untuk menguji temuan berlawanan dari Otley dengan berpendapat
bahwa studi Otley mungkin dilakukan dalam kondisi lingkungan yang relative stabil, sementara
Hopwood mungkin mengamati unit yang beroperasi dalam kondisi lingkungan yang relative
tidak pasti.
G. PENENTUAN SISTEM INFORMASI AKUNTANSI
Kritikan terhadap penelitian kontinjensi lebih banyak diarahkan dalam desain rerangka
kontijensi, terutama pada aspek metode pengujian. Drazin dan Van de Ven (1985)
mengusulkan tiga pendekatan penting dalam penelitian kontijensi, meliputi: seleksi, interaksi
dan sistem. Kenyataan bahwa dalam pendekatan seleksi dan interaksi memunculkan
sejumlah kelemahan baik dalam konsep maupun konsekwensi hasil, arah metode pendekatan
kemudian difokuskan terhadap pendekatan system.
Terdapat tiga pendekatan dalam konsep fit sebagaimana dikemukakan oleh Drazin dan
Van de Ven (1985), yang meliputi seleksi, interaksi, dan system. Pendekatan seleksi
menghubungkan antara variabel kontekstual dengan variabel organisasional, namun tidak
secara jelas mengorelasikan hubungan kedua variabel tersebut dengan kinerja organisasi.
Pendekatan multiple interaction memandang bahwa pengaruh fit antara variabel kontekstual
dengan variabel organisasional dalam model regresi. Koefisien signifikansi dari order
tertinggi dari interaksi dalam persamaan regresi menunjukkan adanya dukungan terhadap
hipotesis yang dikembangkan.
H. PENDEKATAN RESIDUAL ANALYSIS
Pendekatan residual analysis mengacu pada konsep nilai residual dari persamaan regresi.
Dalam pendekatan ini, residual diasumsikan sebagai unfit dari persamaan regresi. Terdapat
tiga tahap dalam uji ini. Tahap pertama adalah penentuan desain hubungan variabel
organisasional dengan kontekstual. Dalam hal ini, system pengendalian didesain sebagai
variabel dependen dan PEU sebagai variabel independen.
7

Pendekatan seleksi dan interaksi dalam fit memfokuskan pada bagaimana faktor tunggal
dari variabel kontekstual berpengaruh terhadap faktor-faktor organisasional dan bagaimana
pasangan variabel kontekstual organisasional tersebut berinteraksi dalam memengaruhi
kinerja. Oleh kalangan reductionism, cara ini dipandang sebagai dekomposisi dari variabelvariabel organisasional dan kontekstual yang secara efektif dapat menjelaskan hubungan
keseluruhan organisasi.

Anda mungkin juga menyukai