Anda di halaman 1dari 2

a.

Tuhan dalam Perspektif Psikologis


Adanya keterbukaan pada Yang Adikodrati adalah fitrah manusia sejak dia lahir ke
dunia. Manusia secara nature dapat merasakan yang gaib karena di dalam dirinya
ada unsure roh yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam diri manusia sebagai potensi
untuk membentuk karakter yang terpuji. Karena adanya roh, manusia mempunyai
bakat bertuhan, artinya roh-lah yang membuat manusia mengenal Tuhan sebagai
potensi bawaan lahir. Dengan adanya roh manusia mampu merasakan dan
meyakini keberadaan Tuhan dan kehadiran-Nya dalam setiap fenomena di alam
semesta ini.
Keterbukaan pada yang Gaib semakin menguat dengan adanya pengalaman
ketidakberdayaan dan pengalaman mistik. Pengalaman ketidakbedayaan adalah
pengalam hidup yang membuat seseorang merasakan bahwa dirinya memiliki
kekurangan dalam memahami fenomena alam, social, budaya, dan psikis. Dengan
pengalaman ini, menyadarkan manusia bahwa ada aspek dari realitas yang
dihadapi, yang masih menjadi misteri dan belum dipahaminya.
Pengalaman lain yang membuat manusia terbuka kepada sesuatu yang gaib yaitu
pengalaman batin, ketika seseorang berada dalam kondisi focus sehingga seolaolah ia menyatu dengan peristiwa atau fenomena yang dialaminya.
b. Tuhan Disembah oleh Masyarakat dalam Perspektif Sosiologis
Sosiologi memandang agama tidak berdasarkan teks keagamaan (kitab suci dan
sejenisnya), tetapi berdasarkan pengalaman konkret pada masa kini dan pada masa
lampau. Manusia dalam hidupnya senantiasa bergumul dengan ketidakpastian akan
hari esok, keberuntungan, kesehatan maupun ketidakmampuannya untuk mencapai
keinginan yang diharapkan, baik yang bersifat sehari-hari maupun yang ideal. Hal
ini disebabkan oleh keterbatasan manusia.
Sosiologi agama merupakan bagian dari kajian sosiologi yang tidak mempelajari
ajaran-ajaran moral, doktrin, wahyu dari agama-agama itu, tetapi hanya
mempelajari fenomena yang muncul dari masyarakat beragama tersebut.
Sebagian ilmuan mengajukan tesis bahwa kebertuhanan umat manusia dimulai dari
tahap animism, politeisme, henoteisme, dan monoteisme. Dalam literature sejarah
agama, dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses
dari kepercayaan yang amat sederhana meningkat menjadi sempurna.

c. Tuhan Dirasionalisasikan dalam Perspektif Filosofis


Menurut Ibn Rusyd, penyelidikan terhadap alam semesta tidak bisa berjalan sendiri
tanpa mengikuti metode penyelidikan yang digariskan Al-Quran. Ibn Rusyd
mencoba membuktikan Tuhan dengan 2 penjelasan. Pertama, fasilitas yang dibuat
untuk kenyamanan dan kebahagiaan manusia dibuat untuk kepentingan manusia
dan menjadi ukti akan adanya rahmat Tuhan. Kedua, keserasian alam seharusnya
ditimbulkan oleh sebuah agen yang sengaja melakukannya dengan tujuan tertentu
dan bukan karena kebetulan.
Para filosuf muslim klasik mengantakan bahwa tuhan adalah pencipta dari segala
sesuatu yang ada di alam yan gnyata ini . Tuhan menjadi sebab utama dar isegala
akibat yang kita lihat saat ini . Tuhan merupakan wujud yang niscaya , yang artinya
Allah adalah wujud yang ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan
sesuatupun untuk meng-aktualkannya .
D. Tuhan dalam Perspektif Teologis
Dalam perspektif teologis , masalah ketuhanan , kebenaran , dan keberagamaan
harus dicari penjelasannya dari sesuatu yang dianggap sacral dan dikultuskan
karena dimulai dari atas (dari tuhan sendiri melalui wahyu Nya) . Artinya ,
kesadaran tentang Tuhan baik buruk, cara beragama hanya bisa diterima kalau
berasal dari tuhan sendiri . Melalui wahyu yang diberikan Tuhan , manusia dapat
mengenal Tuhan , manusia mengetahui cara beribadah , dan cara memuji serta
mengagungkan Tuhan.
Tanpa inisiatif dari atas (dari Tuhan), manusia tidak dapat beriman, beribadah,
dan beragama. Dalam agama islam, tuhan menurunkan wahyu kepada, nabi
Muhammad SAW, melalui wahyu yang diterimanya Muhammad SAW mengajarkan
dan menekankan Monoteisme ditengah Politeisme yang terjadi di Arab. Umat
dituntun menyembah hanya kepada DIA, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Hal lain
adalah memiliki keyakinan untuk membuat orang orang Arab yang menyembah
banyak Tuhan atau dewa untuk bertaubat dan mampu membentuk suatu umat yang
beragama, dan beribadah, dan beriman kepada Tuhan YME. Kesimpulannya dalam
perspekstif teologis tidak terjadi atas prakarsa manusia, tetapi terjadi atas dasar
wahyu dari tuhan tanpa inisiatif tuhan melalui wahyu-Nya manusia tidak mampu
menjadi mahkluk yang bertuhan dan beribadah kepadanya.

Anda mungkin juga menyukai