Anda di halaman 1dari 9

Borang Portofolio Kasus Medikolegal

Nama Peserta : Lefi Mikaningtyas


Nama Wahana : RS Muhammadiyah Lamongan
Topik : Persetujuan Tindakan Medik
Tanggal Kasus : 29 Maret 2015
Nama Pasien : Tn. H

No RM :

Tanggal Presentasi :

Nama Pendamping : dr. Suhariyanto, Sp.BS

Tempat Presentasi : RSML


Obyektif Presentasi :
Keilmuan

Ketrampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi : Pasien laki-laki datang dengan keluhan mencret cair sejak 1 bulan yang lalu, ampas(-) lendir(-) darah(-) . 10 kali dalam sehari,
napsu makan menurun. Pasien mengaku berat badan menurun drastis sejak januari 2015 (pasien tidak pernah menimbang berat badan nya).
Riwayat MRS di RSML selama 25 hari lalu pulang paksa. MRS di RSML atas rujukan dari puskesmas Payaman dengan diagnosa DHF karna
trombosit yang semakin menurun tiap harinya.
Tujuan : mengetahui tata cara persetujuan tindakan medik
Bahan bahasan :

Tinjauan Pustaka

Riset

Kasus

Audit

Cara Membahas :

Diskusi

Presentasi dan diskusi

Email

Pos

Data pasien

Nama : Ny. M

Usia : 45 tahun

Nama RS : RS Muhammadiyah Lamongan

Telepon :

Terdaftar sejak :

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Pasien laki-laki 42 tahun datang dengan keluhan mencret cair sejak 1 bulan yang lalu, ampas(-) lendir(-) darah(-) . 10 kali dalam sehari,
napsu makan menurun. Pasien mengaku berat badan menurun drastis sejak januari 2015 (pasien tidak pernah menimbang berat badan
nya). Riwayat MRS di RSML selama 25 hari lalu pulang paksa. MRS di RSML atas rujukan dari puskesmas Payaman dengan diagnosa
DHF karna trombosit yang semakin menurun tiap harinya.
2. Saat dilakukan pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : tampak sakit berat
Kesadaran : 3-4-6
Vital sign

: TD: 90/50, nadi : 84x/menit, RR: 20x/menit, temp:36,7C

Kepala/leher
A/I/C/D

:+/-/-/-

Pembesaran KGB : Cavum oris

: oral thrust ( + )

Thorax
Pulmo :
Inspeksi

: Bentuk normochest, pergerakan nafas simetris

Palpasi

: Pergerakan nafas simetris, fremitus raba dada kanan dan kiri simetris, nyeri ( - )

Perkusi

: Sonor di seluruh lapangan paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler di seluruh lapangan paru, Rhonki - / -, wheezing - / -

Cor :
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba di MCL ICS IV Sinistra

Perkusi

Batas jantung kanan : Parasternal line ICS IV dextra


Batas jantung kiri
Auskultasi

: Mid-Clavicular line ICS IV Sinistra

: S1, S2 tunggal, murmur ( - ), Gallop ( - )

Abdomen
Inspeksi

: Cekung simetris

Auskultasi : Bising usus ( + ) Normal


Palpasi

: Supel, Nyeri tekan ( - ), H/L/R sulit dievaluasi

Perkusi

: timpani

Extremitas
Akral hangat +

oedema -

Daftar Pustaka :
1. Buku Ajar Ilmu Forensik dan Medikolegal. SMF Ilmu Forensik & Medikolegal RSUD Dr. Soetomo. Universitas Airlangga
Hasil Pembelajaran :
1. Persetujuan Tindakan Medis Pengambilan sampel darah

Persetujuan Tindakan Medis di Indonesia

Pengertian Informed consent


Terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti
persetujuan atau memberi ijin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi.

Dengan demikian Informed consent dapat didefinisikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya harus menghormati hak pasien. Hak pasien antara lain :
-

Hak informasi

Hak untuk memberikan persetujuan

Hak atas rahasia kedokteran

Hak mendapat pendapat kedua

Manfaat persetujuan tindakan medis (pertindik) bagi tenaga kesehatan : tenaga kesehatan mempunyai bukti yang sah bahwa tindakan medik
yang dilakukan terhadap pasien sudah mendapat persetujuan sebelumnya, sehingga tidak dapat dituduh telah bertindak semena-mena
Manfaat petindik bagi pasien : melindungi pasien dari tindakan semena-mena dari pihak tenaga kesehatan

Jenis Persetujuan

Persetujuan yang tersirat

Persetujuan yang tersurat

Semua petindik harus penjelasan yang lengkap dan jelas mengenai :


-

Diagnosis

Terapi dengan kemungkinan alternatif terapi

Cara kerja dan pengalaman dokter

Resiko kemungkinan perasaan sakit atau perasaan yang lain

Keuntungan terapi

Prognosis

Yang berhak memberikan petindik setelah mendapat informasi


a. Pasien sendiri (umur 21 tahun atau telah menikah)
b. Bagi pasien di bawah umur 21 tahun (sesuai urutan hak) :
1. Ayah/ ibu kandung
2. Saudara-saudara kandung
c Bagi pasien di bawah umur 21 tahun dan tidak mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan hadir :
1. Ayah/ibu adopsi
2. Saudara-saudara kandung
3. Induk semang
d. Bagi pasien dewasa dengan gangguan mental :
1. Ayah/ibu kandung
2. Wali yang sah
3. Saudara-saudara kandung

e. Bagi pasien dewasa yang berada di bawah pengampunan :


1. Wali
2. Kurator
f. Bagi pasien dewasa yang telah menikah / orang tua :
1. Suami / istri
2. Ayah / ibu kandung
3. Anak-anak kandung
4. Saudara-saudara kandung

Kapan petindik tidak diperlukan ?


1. Pasien tidak sadar/ pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat dan atau
darurat
2. Perluasan operasi yang tidak diduga sebelumnya, dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien
3. Tindakan medik yang harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah dimana tindakan medik tersebut untuk kepentingan
masyarakat banyak

Hak atas persetujuan tindakan medis

UU Kesehatan no.36 tahun 2009 pasal 56 :


a. Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan sebagian atau seluruh tindakan pertolongan
yang akan diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi mengenai tindakan tersebut secara lengkap
b. Hak menerima atau menolak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku pada :

Penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke dalam masyarakat yang lebih luas

Keadaan seseorang yang tidak sadarkan diri

Gangguan mental berat

Sanksi Hukum Penyimpangan Petindik


Sanksi pidana (pasal 351 KUHP)
1. Penganiayaan dihukum penjara paling lama 2 tahun 8 bulan atau denda paling banyak Rp 4500
2. Jika perbuatan itu berakibat luka berat, dipidana penjara paling lama 5 tahun
3. Jika perbuatan itu berakibat matinya orang, dipidana paling lama 7 tahun
4. Dengan penganiayaan disamakan dengan merusak kesehatan dengan sengaja
5. Percobaan melakukan kejahatan itu tidak dipidana
Sanksi perdata : tenaga kesehatan atau sarana kesehatan yang mengakibatkan kerugian bagi pasien, dapat digugat untuk mengganti kerugian
yang diderita tersebut berdasarkan pasal 1365, 1367, 1370, atau pasal 1371 KUHP

Sanksi administratif (pasal 13 permenkes) : dokter yg melakukan tindakan medik tanpa persetujuan pasien atau keluarganya, dapat dikenakan
sanksi administratif berupa pencabutan izin praktek.