Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

PRAKTIKUM FARMASI FISIKA


(PENENTUAN BOBOT JENIS DAN KERAPATAN ZAT)
Dosen Pembimbing : Adithama Asmal, S.Si, M.Kes, Apt

Kelompok IV :

Yuliana Kl
Eirene Yanse Patasik
Mery Barira
Tri Megi Senolinggi

AKADEMI FARMASI TORAJA


TANA TORAJA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengetahuan tentang massa jenis dalam sebuah praktikum sangat penting mengingat

bahwa pengetahuan tentang massa jenis akan selalu dibutuhkan dalam dunia farmasi
terutama untuk mengetahui kemurniaan dari suatu zat.
Setiap zat memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi fisik maupun
kimia. Sifat fisik yaitu sifat yang dapat kita amati secara langsung seperti Cairan, gas, dan
padat, Serta sifatnya yang dapat diukur seperti massa dan volume, dan warna. Sedangkan
sifat kimia yaitu sifat yang tidak dapat diamati secara langsung seperti seperti kelarutan, dan
kerapatan.
Keadaan bahan secara keseluruhan dapat dibagi menjadi zat gas,padat,dan
fluida. Zat padat tentu mempertahankan bentuknya, sedangkan fluida tidak mempertahankan
bentuknya, serta gas mengembang menempati semua ruang tanpa memperdulikan
bentuknya. Teori fluida sangat kompleks, sehingga dimulai dari yang paling dasar yaitu
Penentuan Bobot jenis dan Kerapatan zat.
Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat terhadap air dengan
volume yang ditimbang di udara pada suhu yang sama. Penetapan bobot jenis digunakan
hanya untuk senyawa berbentuk cairan, kecuali dinyatakan pada perbandingan bobot zat di
udara pada suhu yang telah ditetapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis yaitu
suhu dan konsentrasinya.
Adapun sifat dari zat cair diantaranya:
1. Bentuk mengikuti tempat dan volumenya tetap.
2. Molekulnya dapat bergerak tetapi tidak semudah gerak molekul gas.
3. Jarak partikelnya lebih dekat daripada gas sehingga lebih sukar di mampatkan.
4. Dapat diuapkan dengan memerlukan energi.
Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan
volume. Kerapatan juga merupakan suatu sifat zat yang berbeda, misalnya Air dan minyak
ketika dicampur akan terjadi perbedaan kerapatan. Bila kerapatan benda lebih besar dari
kerapatan air, maka benda tersebut akan tenggelam dalam air. Namun bila kerapatannya
lebih

kecil

maka

benda

tersebut

akan

mengapun.

Selain

itu

peristiwa

mengapung,melayang,dan tenggelam itu dipengaruhi oleh perbandingan bobot jenis zat-zat


tersebut. Untuk mengetahui cara mengukur bobot jenis dan kerapatan zat pada beberapa
sampel dengan menggunakan piknometer.

Di bidang farmasi, selain bobot jenis juga digunakan untuk mengetahui


kemurnian suatu zat cair dengan menghitung berat jenisnya. Jika berat jenisnya mendekati
maka dapat dikatakan zat tersebut memiliki kemurnian yang tinggi. Oleh karena itu
percobaan ini dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dan kerapatan zat.
Di samping itu dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan
mempermudah kita untuk memformulasi obat. Karena dengan mengetahui bobot jenisnya
maka kita dapat menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat
lainnya. Maka di lakukanlah percobaan penentuan bobot jenis dan kerapatan zat.
I.2 Tujuan Percobaan
1. Menentukan bobot beberapa cairan,yaitu Parafin Cair, alkohol, gliserin, dan
minyak goreng Fitri.
2. Menentukan kerapatan padatan, yaitu asam sitrat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori


Di bidang farmasi, selain bobot jenis juga digunakan untuk mengetahui kemurnian
suatu zat cair dengan menghitung berat jenisnya. Jika berat jenisnya mendekati maka dapat
dikatakan zat tersebut memiliki kemurnian yang tinggi. Oleh karena itu percobaan ini
dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dan kerapatan zat ( Ansel, 2006).
Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya
sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal. Penting untuk membedakan
antara kerapatan dan bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu bobot
zat per satuan volume. Misalnya, satu milliliter raksa berbobot 13,6 g, dengan demikian
kerapatannya adalah 13,6 g/mL. jika kerapatan dinyatakan sebagai satuan bobot dan
volume,maka bobot jenis merupakan bilangan abstrak. Bobot jenis menggambarkan
hubungan antara bobot suatu zat terhadap sebagian besar perhitungan dalam farmasi dan
dinyatakan memiliki bobot jenis 1,00 sebagai perbandingan, bobot jenis gliserin adalah
1,25,artinya bobot gliserin 1,25 kali bobot volume air yang setara ,dan bobot jenis alkohol
adalah 0,81 kali bobot volume air yang setara. ( Ansel, 2006).
Zat yang memiliki bobot jenis lebih kecil dari 1,00 lebih ringan daripada air.
Sedangkan zat yang memiliki bobot jenis lebih besar dari 1,00 lebih berat daripada air.
Bobot jenis dinyatakan dalam desimal dengan beberapa angka di belakang koma sebanyak
akurasi yang diperlukan pada penentuannya. Pada umumnya, dua angka di belakang koma
sudah mencukupi. Bobot jenis dapat dihitung atau untuk senyawa khusus dapat ditemukan
dalam United States Pharmacopeia (USP) atau buku acuan lain. Bobot jenis suatu zat dapat
dihitung dengan mengetahui bobot dan volumenya ( Ansel, 2006)
Bobot jenis suatu zat dapat di hitung dengan mengetahui bobot dan volumenya
melalui persamaan berikut (Ansel,2004 )
Bobot jenis =

bobot zat ( g )
bobot sejumlah volume air yang setara( mL)

Kerapatan adalah massa per unit volume suatu zat pada temperatur tertentu. Sifat ini
merupakan salah satu sifat fisika yang paling sederhana dan merupakan salah satu sifat fisika
yang paling definitive,dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan kemurniaan
suatu zat (Ansel,2004 ).
Rapatan diperoleh dengan membagi massa suatu obyek dengan volumenya
(Petrucci,1985)

massa (m)
volume (v)

Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki
disebut sifat ekstensif. Baik massa maupun volume adalah sifat-sifat ekstensif. Suatu sifat
tergantung pada jumlah bahan adalah sifat intensif. Rapatan yang merupakan perbandingan
antara massa dan volume, adalah sifat intensif. Sifat-sifat intensif umumnya dipilih oleh para
ilmuwan untuk pekerjaan ilmiah karena tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang
diteliti (Petrucci,1985)
Kerapatan atau densitas adalah massa per satuan. Satuan umumnya adalah
kilogram per meter kubik, atau ungkapan yang umum, gram per sentimeter kubik, atau
gram per milliliter. Pernyataan awal mengenai kerapatan adalah bobotjenis. Satuannya
sudah kuno dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Penjelasan berikut diberikan sebagai
petunjuk (Brescia,1975).
British standard 2955 (1958) mendefenisikan tiga istilah yang berlaku untuk
partikel itu sendiri. Partikel kepadatan massa partikel dibagi dengan volumenya. Istilah
yang berbeda muncul dari cara dimana volume didefenisikan (Gibson, 2004)
1. Kerapatan partikel sejati adalah ketika volume diukur tidak termasuk baik terbuka
dan tertutup pori-pori dan merupakan property fundamental dari suatu material.
2. Kerapatan partikel jelas adalah ketika volume diukur meliputi intrapartikel pori-pori
3. Kerapatan partikel yang efektif adalah volume dilihat oleh fluida bergerak melewati
partikel. Itu sangat penting dalam proses seperti sedimentasi atau fluidization tetapi
jarang digunakan dalam bentuk sediaan padat.
Hubungan antara massa dan volume tidak hanya menunjukan ukuran dan bobot
molekul suatu komponen, tetapi juga gaya-gaya yang mempengaruhi sifat karakteristik
pemadatan (Packing Characteristic). Dalam sistem matriks kerapatan diukur dengan
gram/milimeter (untuk cairan) atau gram/cm2 ( Martin,1990)
Ahli farmasi sering kali mempergunakan besaran pengukuran ini apabila mengadakan
perubahan antara massa dan volume. Kerapatan adalah turunan besaran karena menyangkut
satuan massa dan volume. Batasannya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan
tekanan tertentu, dan dinyatakan dalam sistem cgs dalam gram per sentimeter kubik
(gram/cm3). Berbeda dengan kerapatan, berat jenis adalah bilangan murni tanpa dimensi,
yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Berat jenis

didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat terhadap kerapatan air, harga
kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama, jika tidak dengan cara lain yang
khusus. Istilah berat jenis, dilihat dari definisinya, sangat lemah, akan lebih cocok apabila
dikatakan sebagai kerapatan relatif ( Martin,1990).
Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan
massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4 oC atau
temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis:
25oC/25oC, 25oC/4oC, dan 4oC/4oC. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara di
mana zat ditimbang; angka di bawah garis miring menunjukkan temperatur air yang dipakai.
Buku-buku farmasi resmi menggunakan patokan 25oC /25oC untuk menyatakan berat jenis.
Berat jenis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai tipe piknometer, neraca MohrWestphal, hidrometer dan alat-alat lain. Pengukuran dan perhitungan di diskusikan di buku
kimia dasar, fisika dan farmasi ( Martin,1990)
II.2 Uraian Bahan
a. Aquadest (FI III : 96)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain
: Air suling
BM/RM
: 18.02 /H2O
Pemerian
: Cairan jernih; tidak berwarna;tidak berbau; tidak mempunyai rasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
b. Alcohol (FI III : 65)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain
: Alcohol, Etanol
Pemerian
: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak;
bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memeberikan nyala
biru yang tidak berasap.
Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p dan dalam eter p.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat sejuk,
jauh dari nyala api.
Khasiat
: zat tambahan
c. Asam sitarat ( FI III : 50)
Nama resmi :ACIDUM CITRICUM
RM/BM
: C6H8O7.H2O / 210.14
Pemeriaan
: hablur tidak berwarna atau serbuk putih; tidak berbau; rasa sangat
Kelarutan

asam; agak higroskopik, merapuh dalam udara kering dan panas.


: larut dalam kurang satu bagian air dan dalam 1.5 bagian etanol (95%)

p; sukar larut dalam eter p.


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Khasiat
: zat tambahan

d. Paraffin cair (FI III : 474)


Nama Resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama Lain
: Parafin Cair
Pemerian
: Cairan kental, transparan, tidak berflouresensi; tidak berwarna; hampir
Kelarutan

tidak berbau; hamper tidak mempunyai rasa.


: Praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) p; larut dalam kloroform

p dan dalam eter p.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Khasiat
: Laksativum.
e. Gliserin (FI III : 271)
Nama Resmi : GLYCEROLUM
Nama Lain : Gliserol, Gliserin
RM/BM
: C3H8O3/92.10
Pemerian
: Cairan seperti sirop; jernih, tidak berwarna; tidak berbau; manis
diikuti rasa hangat. Higroskopik. Jika disimpan beberapa lama pada
suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna
Kelarutan

yang tidak melebur hingga suhu mencapaikurang lebih 200.


: Dapat campur dengan air, dan dengan etanol (95% ) p; praktis tidak

larut dalam kloroform p, dalam eter p dan dalam minyak lemak.


Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Penggunaan : Tambahan
f. Minyak goreng
Nama
: Minyak goreng sawit Fitri
Deskripsi
: Minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit pilihan, warna kuning
jernih.
Netto
: 900 ml
Diproduksi : BKP PT BINA KARYA PRIMA, Bekasi 17131-Indonesia
Kode Produksi : BPOM RI MD 208110002078

BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1 Alat dan bahan
Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Gelas ukur 25 ml
Piknometer 25 ml
Timbanagan analitik
Timbanagan digital
Pipet tetes
Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Aquadest
Gliserin
Parafin cair
Alkohol
Minyak kelapa
Asam sitrat

III.2 langkah percobaan


1. Menentukan kerpatan bulk
Ditimbang zat padat 10 gram, dimasukkan kedalam gelas ukur 50 ml
Diukur volume zat padat
Dihitung kecepatan bulk
Kerapatan Bulk=

bobot zat padat ( g )


Volume bulk ( mL )

2. Menentukan kerapatan mampat


Ditimbang zat padat sebanyak 10 gram
Dimasukkan kedalam gelas ukur
Diketuk sebanyak 50 kali ketukan
Diukur volume yang terbentuk
Dihitung kerapatan mampat
bobot zat padat ( g )
Kerapatan Mampat = Volume mampat ( mL )
3. Menentukan kerapatan sejati
Ditimbang piknometer yang bersih dan kering bersama tutupnya
Diisi piknometer dengan zat padat 1/3 volumenya
Dimasukkan parafin cair perlahan-lahan kedalam piknometer yang berisi
zat padat

Dikocok dan diisi hingga penuh sampai tidak ada gelembung udara
didalamnya kemudian ditimbang.
Dibersihkan piknometer
Diisi kembali piknometer dengan parafin cair hingga tidak ada gelembung
Ditimbang piknometer bersama parafin cair
Dihitung kerapatan zat
(W3-W1)
padatan
= (W2-W1)-(W4-W3)

4. Menentukan bobot jenis cairan


Digunakan piknometer yang kering
Ditimbang piknometer kosong lalu diisi dengan air suling
Dibuang air suling tersebut. Setelah piknometer kering, kemudian diisi

dengan cairan minyak goreng fitri


Dibersihkan piknometer. Setelah bersih dimasukkan alkohol hingga batas

penuh piknometer. Lalu ditimbang


Dibersihkan piknometer. Setelah bersih dimasukkan gliserin hingga batas

penuh piknometer. Lalu ditimbang


Dihitung bobot jenis cairan
W3-W1
Dt =
W2-W1

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1

Hasil dan Perhitungan


1. Menentukan kerapatan bulk
Bobot zat padat (gram)

10

Volume bulk (ml)

15

Perhitungan :

Kerapatan bulk =

bobot zat padat(g)


volume bulk (ml)
2. Menentukan Kerapatan mampat
Ketukan
Bobot zat
padat (gram)
Volume
mampat (ml)

II

III

IV

VI

VII

VIII

IX

XI

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

10

15

13.1

12.9

12.5

12.3

12.0

11.8

11.5

11.0

10.5

10.2

9.8

Perhitungan :
a. Ketukan I
Kerapatan mampat =

bobot zat padat( g)


volume mampat (ml)
b. Ketukan II
Kerapatan mampat =

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)
=

10 gram
12.9 ml

= 0.775 g/ml

c. Ketukan III
Kerapatan mampat =
=

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)
10 gram
12.5 ml

= 0.8 g/ml

d. Ketukan IV
Kerapatan mampat =

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)

10 gram
12.3 ml

= 0.813 g/ml

e. Ketukan V
bobot zat padat ( g)
volume mampat (ml)

Kerapatan mampat =

10 gram
12.0 ml

= 0.833g/ml

f. Ketukan VI
Kerapatan mampat =

bobot zat padat( g)


volume mampat (ml)
10 gram
11.8 ml

= 0.85g/ml

g. Ketukan VII
Kerapatan mampat =
=

bobot zat padat( g)


volume mampat (ml)
10 gram
11.5 ml

= 0.87g/ml

h. Ketukan VIII
Kerapatan mampat =
=

bobot zat padat( g)


volume mampat (ml)
10 gram
11.0 ml

= 0.9 g/ml

i. Ketukan IX
Kerapatan mampat =
=

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)
10 gram
10.5 ml

= 0.952g/ml

j. Ketukan X
Kerapatan mampat =
=

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)
10 gram
10.2 ml

= 0.980g/ml

k. Ketukan XI
Kerapatan mampat =

bobot zat padat ( g)


volume mampat (ml)

10 gram
9.8 ml

= 1.02g/ml

3. Menentukan kerapatan sejati


Bobot piknometer kosong + tutupnya (gram )

M1

31.57

Bobot piknometer + parafin cair (gram )

73.68

Bobot piknometer + asam sitrat (gram )

M3

47.71

Bobot piknometer + air (gram )

M2

81.40

Bobot piknometer + zat padat+ zat cair (gram )

M4

81.39

Perhitungan :
M

3M 1

2M 1

4M 3
padatan =
4. Menentukan bobot jenis cairan M

M
(gram )
Bobot piknometer kosong + tutupnya

(gram )
Bobot piknometer kosong + air suling

W1

31.57

W2

81.40

Bobot piknometer kosong + alkohol (gram )

W3

72.46

Bobot piknometer kosong + gliserin (gram )

W3

94.64

Bobot piknometer kosong + minyak goreng fitri (gram )

W3

76.49

Perhitungan :
a. Minyak goreng fitri
Dt =

W 3W 1
W 2W 1

76.4931.57
81.4031.57

b. Alkohol
Dt =

W 3W 1
W 2W 1

72.4631.57

c. Gliserin 81.4031.57
Dt =

W 3W 1
W 2W 1

94.6431.57
81.4031.57

Pembahasan
63.07

=1.265 gram

= perbandingan
Massa jenis adalah
antara massa suatu zat dengan volume air pada suhu
49.83

tertentu, sedangkan bobot jenis adalah perbandingan antara bobot zat dengan volume tertentu
dengan bobot air dengan volume yang sama pada suhu yang sama. Kerapatan memiliki
dimensi yaitu M.L-3, sedangkan bobot jenis tidak. Seperti yang diketahui bahwa air pada suhu
0 oC sampai 4 oC memiliki sifat istimewa yang disebut anomali air. Pada rentang suhu ini, air
memiliki densitas

1g/cm3.

Bobot jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi
massa jenis suatu benda, maka semakin tinggi atau besar pula massa setiap volumenya.
Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda,
dan zat berapapun massanya, berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.
Dalam percobaan ini akan dilakukan penentuan bobot jenis dan rapat jenis dari
sampel cairan dengan menggunakan piknometer. Bobot jenis adalah perbandingan antara
bobot sampel dengan volume sampel, jadi satuannya adalah g/mL.
Metode yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu metode piknometer. Pada metode
piknometer, bobot jenis suatu zat cair ditentukan dengan berdasarkan pada selisih
penimbangan piknometer kosong dengan penimbangan piknometer berisi sampel yang
kemudian hasilnya dibagi dengan volume dari yang tertera pada piknometer yang digunakan.
Sebelum memulai percobaan, terlebih dahulu piknometer dibersihkan dengan
menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan alkohol untuk mempercepat pengeringan
piknometer kosong tadi.
Setelah itu barulah piknometer ditimbang pada timbangan analitik dalam keadaan
kosong tentunya, tanpa pemasukan sampel.Dari hasil penimbangan ini dapat dicari bobot

jenis sampel nantinya, yakni dengan menimbang piknometer berisi sampel terlebih dahulu,
kemudian bobot jenis diperoleh dengan memperkurangkannya dengan berat piknometer
kosong tadi.
Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yaitu paraffin cair, asam sitrat,
alkohol,gliserin dan minyak goring Fitri.
Pada percobaan pertama, yang dilakukan terlebih dahulu yaitu ditimbang zat padat zat
padat sebanyaak 10 gram kemudian dimasukkan kedalam gelas ukur 50 ml, di perolehhasil
ukuran volume zat padat 12 ml. Setelah diperoleh hasil bobot zat padat dan ukuran
volumenya, selanjutnya tentukan kerapatan bulk, dan diperoleh hasil 0.667 gram.
Pada percobaan kedua, yaitu menentukan kerapatan mampat, yang perlakuannya
hampir sama dengan percobaan pertama. Akan tetapi, dalam percobaan ini dilakukan
pengetukan pada gelas ukur yang terdapat zat padat selama 50 kali hingga diperoleh ukuran
volume mampat, yaitu 11 ml. Kemudian, dihitung kerapatan mamapat dan diperoleh hasil 0.9
gram.
Pada percobaan ketiga, yang dilakukan terlebih dulu yaitu menimbang piknometer
kosong harus dalam keadaan bersih dan kering agar tidak membiaskan hasil penimbangan,
diperolehbobot 31.57 gram. lalu piknometer diisi dengan zat padat kira-kira 1/3 volumenya,
lalu ditimbang dan diperoleh hasil 47.71 gram. Kemudian dimasukkan parafin cair kedalam
piknometer yang berisi zat padat dengan menggunakan pipet tetes. Kemudian dikocok dan
diisi hingga penuh hingga tidak terdapat gelembung udara didalamnya, lalu ditimbang dan
diperoleh hasil 81.39 gram.dibersihkan kembali piknometer, lalu diisi parafin cair hingga
penuh hingga tak terlihat gelembung udara didalamnya, lalu ditimbang dan diperoleh hasil
73.68. setelah itu di hitung kerapatan sejati, dan diperoleh hasil 1.0 gram.
Percobaan terakhir yaitu penenetuan bobot jenis cairan, pada percobaan ini kami
menggunakan minyak goreng fitri, alkohol dan gliserin untuk ditentukan kerapatannya. Yang
dilakukan terlebih dahulu yaitu menimbang pinometer yang bersih dan kering, diperoleh hasil
31.57 gram. Kemudian diisi air suling hingga batas leher piknometer, lalu ditimbang dan
diperoleh hasil 81.40. setelah itu, dibuang air suling. kemudian dimasukkan cairan minyak
goreng kedalam piknometer yang telah kosong, lalu ditimbang dan diperoleh hasil 76.49.
dilakukan perlakuan yang sam terhadap alkohol dan gliserin, diperoleh hasil bobot jenis
alkohol yaitu 72.46 gram dan gliserin 94.69 gram. Selanjutnya, ditentukan bobot jenis cairan
yaitu minyak goreng fitri 0,901 gram, alkohol 0.82 gram dan gliserin 1.265 gram.
Penyimpangan-penyimpangan ini antara lain disebabkan oleh karena berbagai
kesalahan pada saat melakukan praktikum. Kesalahan penimbangan, cara penutupan

piknometer yang salah, pengaruh perubahan suhu yang terlalu cepat, piknometer belum
benar-benar kering dan bersih, volume air yang di masukkan ke dalam piknometer tidak
tepat, kebersihan, sampel yang terkontaminasi.
a. Penimbangan
Kesalahan akibat penimbangan ini bisa disebabkan karena timbangan yang digunakan
berganti-ganti. Sehingga hasil penimbangan antara timbangan yang satu dengan yang lain
belum tentu sama.
b. Cara penutupan piknometer yang salah
Cara penutupan piknometer yang terlalu cepat dapat menyebabkan air yang tumpah
terlalu banyak sehingga tentu mempengaruhi berat pada penimbangan.
c. Pengaruh perubahan suhu
Perubahan suhu yang terlalu cepat dapat menyebabkan cairan di dalam
piknometer memuai/menyusut dengan tidak semestinya, sehingga pada waktu ditimbang zat
tersebut memberikan hasil yang berbeda dengan yang telah ditentukan.
d. Piknometer yang belum kering dan bersih
Piknometer yang demikian belum bisa digunakan untuk penentuan kerapatan dan
bobot jenis, karena masih ada cairan/kontaminan yang tertinggal di dalamnya sehingga tentu
saja akan mempengaruhi hasil akhir.
e. Volume air yang tidak tepat
Volume air yang dimasukan ke dalam piknometer harus tepat dengan yang telah
ditentukan, karena jika terlalu banyak atau terlalu sedikit maka akan mempengaruhi hasil
akhir.
f. Sampel yang terkontaminasi
Sampel yang terkontaminasi tentu saja akan memberikan hasil yang menyimpang,
karena kemurnian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan yaitu :

a. Bobot jenis zat cair yang diamati yaitu bobot jenis minyak goring fitri yang memiliki
bobot jenis sebesar 0.901 g/ml, bobot jenis gliserin sebesar 1.265 g/ml, bobot jenis
alcohol sebesar o.82 g/ml.
b. Kerapatan zat padat yang diamati dalam percobaan yaitu kerapatan bulk sebesar 0.67
g/mL, kerapatan mampat sebesar (0,763, 0.775, 0.8, 0.813, 0.85, 0.9, 0.952, 0.980,
1.02) g/ml dan kerapatan sejati yaitu sebesar 1.0 g /ml .
V.2 Saran
Perlunya keseriusan dan ketelitan praktikan dalam melakukan suatu percobaan untuk
meminalisasikan kesalahan agar percobaan ini dapat memberikan hasil yang baik. Dan
sebaiknya praktikan melakukan prosedur kerja dengan baik dengan pengawasan dan
bimbingan dari asisten.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2014.Penuntun praktikum FARMASI FISIKA I.Universitas Muslim
Indonesia.Makassar.
Ansel, C Howard, 2006. Kalkulasi Farmasetik. EGC : Jakarta.

Ansel ,C Howard, 2004. Kalkulasi Farmasetik. EGC.: Jakarta.


Brescia, Arents dan Meislich, 1975. Fundamental Chemistry. New York.
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Gibson, M., 2004, .Pharmaceutical Preformulation and formulation. HIS Health Group,
Tailor dan Prancis.
Martin,Alfred. 1990. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Petrucci, R. H., 1985. General Chemistry, Principles and Application 4th Ed. Collier Mac
Inc., New York.