Anda di halaman 1dari 12

PROPOSAL TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN
MESIN PENGERING PADI SISTEM ROTARY DENGAN SUMBER
PANAS KOMPOR GAS KAPASITAS 50 KG/ JAM

Disusun Oleh :
1.

ARIS WIJANARTO

3.21.13.3.05 / ME-3H

2.

BURHANUDIN ZAKIYA

3.21.13.5.05 / ME-3A

3.

DYAS YOGA PRATAMA

3.21.13.0.09 / ME-3E

4.

EDU WELLY PRANOTO

3.21.13.3.10 / ME-3E

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK MESIN


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2015
1

LEMBAR PENGESAHAN

a) Judul

: RANCANG BANGUN PENGERING PADI SISTEM ROTARY


DENGAN SUMBER PANAS KOMPOR GAS KAPASITAS
50 KG/ JAM

b) Jurusan/Prodi : Teknik Mesin / DIII Teknik Mesin

Semarang,

Januari 2016

Burhanudin Zakiya

Aris Wijanarto

NIM 3.21.13.5.05

NIM 3.21.13.3.05

Edu Welly Pranoto

Dyas Yoga Pratama

NIM 3.21.13.3.10

NIM.3.21.13.0.09

Calon Pembimbing 1

Kaprodi DIII Teknik Mesin

Bambang Sumiyarso, ST.,MT.

Hartono, ST.,MT.

NIP 19621001.198703.1.002

NIP. 19590328.198903.1.001

PROPOSAL TUGAS AKHIR

A. JUDUL

Rancang Bangun Mesin Pengering Padi Sistem Rotary dengan Sumber


Panas Kompor Gas Kapasitas 50 Kg/ Jam
B. LATAR BELAKANG
Tanaman padi merupakan komoditi strategis nasional. Produksi beras di Indonesia
pada akhir tahun 2000 mencapai 51,899 juta ton GKG. Potensi hasil varietas-varietas
unggul padi sawah telah mencapai titik jenuh, hal ini terbukti bahwa rata-rata produksi
padi persatuan luas telah melanda.
Kehilangan hasil pasca panen masih tinggi yaitu mencapai 20,5% (Anonimus,
1995). Mutu beras yang dihasilkan umumnya sangat rendah. Yang dicirikan oleh beras
pecah (broken) yang lebih dari 15% dengan rasa, warna yang kurang baik dan
menghasilkan ukuran dengan mutu yang rendah serta harga yang fluktuatif yang
cenderung tidak memberikan insentif kepada petani. Kondisi tersebut akan menjadi
ancaman ketahanan pangan, untuk itu perlu antisipasi dengan pola penanganan pasca
panen yang tepat dan tepat, salah satunya adalah dengan memperhatikan sistem
pengeringan.
Umumnya pengeringan dilakukan secara tradisional yaitu dengan penjemuran.
Pengeringan dengan cara ini masih memiliki beberapa kendala dan kekurangan, salah
satunya adalah masalah cuaca di Indonesia. Pada saat musim penghujan, para petani sulit
mendapatkan sumber panas untuk mengeringkan gabah padinya.
Untuk memecahkan masalah pengeringan di atas sekaligus memperbaiki kualitas
dan memperkecil kehilangan produk selama pengeringan, telah diperkenalkan berbagai
teknologi alat mekanis. Permasalahan yang dihadapi pada alat pengering mekanis adalah
semakin langkangya supply bahan bakar minyak tanah sebagai sumber tenaga penghasil
panas.
Maka dari itu, perlu adanya teknologi tepat guna yang dicari dari sumber alternatif
energi lain yang lebih murah bagi masyarakat khususnya para petani, salah satunya
adalah dengan mesin pengering padi dengan sumber panas kompor gas LPG.
3

C. PERUMUSAN MASALAH
Setelah melihat latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana cara membuat mesin pengering gabah padi untuk menggantikan peran
tangan manusia dalam proses pengeringan
2. Bagaimana memodifikasi dan mengatasi kekurangan mesin pengering gabah padi
yang sudah ada
D. BATASAN MASALAH
1. Mesin pengering gabah padi hanya menggunakan motor AC sebagai penggerak
dalam proses pengeringan.
2. Perhitungan hanya difokuskan pada bagian yang berputar.
3. Objek pengeringan adalah bulir-bulir gabah padi.
E. TUJUAN
Adapun tujuan pembuatan mesin pengering padi ini adalah sebagai berikut:
1.

Merancang dan membuat mesin pengering gabah padi yang dapat mengatasi
kekurangan media pengeringan pada musim hujan dan mengatasi mesin yang sudah
ada tanpa peran tangan untuk pengeringan..

2.

Merancang dan membuat mesin yang dapat melakukan pengeringan gabah padi.

3.

Untuk meningkatkan efisiensi dalam proses produksi atau pengerjaan.

F. TINJAUAN PUSTAKA
1

Konduksi
a

Pengertian Fisik dan Persamaan Laju Energi Panas


Bila terdapat gradient atau perbedaan temperatur di dalam media yang
tetap,media bisa berupa benda padat (solid) atau fluida maka akan terjadi
perpindahan energi panas melintasi media tersebut dari temperatur yang tinggi
menuju ke temperatur yang rendah. Secara molekular dapat disebut terjadi
perpindahan energi dari partikel yang energik ke partikel yang kurang energik,
atau bisa dikatakan terjadi difusi energi oleh karena adanya gerakan molekular
secara acak

Gambar 1. Aktivitas Molekular Difusi Energi


b Menghitung laju energi yang dipindahkan secara konduksi
Untuk menghitung laju energi yang dipindahkan secara konduksi
digunakan suatu persamaan yang disebut Hukum Fourier, yaitu :

Gambar 2. Pinerpan

konduksi satu dimensi (difusi

energi)
Keterangan :
qx

(W/m2), laju piner-pan dalam

= fluk panas

arah x persatuan luas yang

tegak lurus

dengan arah
k

lajunya.

= konduktivitas

termal bahan (W/m.K).

dT/dx = gradien temperatur dalam arah x.


Pada kondisi tunak (steady state) seperti pada gambar 2 distribusi temperatur adalah
linier, sehingga gradien temperatur dapat diekspresikan sbb:

atau

1.2

Untuk laju energi panas konduksi

(W) besarnya adalah perkalian fluk panas dengan

luas pemukaan dinding A yaitu qx = A . qx


2

Konveksi
a

Pengertian
Perpindahan energi panas konveksi terjadi antara permukaan dan fluida
yang bergerak bila terdapat perbedaan temperatur diantara keduanya.
Modus pinerpan Konveksi adalah terdiri dari :
a. Gerakan molekular secara random (Difusi energi).
b.

Gerakan makroskopik dari fluida (bulk/curah) atau disebut adveksi


Pinerpan konveksi hanya terjadi di dalam lapisan batas (boundary
layer).
6

Suatu fluida mempunyai kecepatan V dan temperatur T mengalir diatas


suatu permukaan dengan luas As . Permukaan diasumsikan mempunyai
temperatur seragam Ts , bila Ts T maka akan terjadi piner-pan
konveksi.

Gambar 3. Lapisan batas pada pinerpan Konveksi

(W/m2) diekpresikan dengan persamaan Hukum

Laju fluk panas


Newton Pendinginan:

q = h (Ts T )
1.3
= koefisien piner-pan konveksi (W/m2.K).
= perbedaan temperatur antara permukaan dengan fluida.
Koefisien pinerpan konveksi sangat bergantung pada kondisi lapisan batas
(boundary layer) juga dipengaruhi oleh bentuk geometri permukaan,
kecepatan aliran fluida dan bermacam fluida dengan sifat-sifat
termodinamikanya.
Klasifikasi pinerpan Konveksi :
a. Konveksi paksa (forced convection) ,aliran fluida karena pengaruh
eksternal.
b. Konveksi bebas (free convection), aliran fluida karena pengaruh gaya
angkat (buoyancy forces)
Tabel 1. Nilai khusus dari Koefisien piner-pan Konveksi (h)
7

Proses
Konveksi Bebas
GAS
Cairan
Konveksi Paksa
Gas
Cairan
Konveksi dengan Perubahan
Fasa
Pendidihan atau Kondensasi
3

h (W/m2.K)
2 25
50 1000
25 250
50 20000

2500 - 100000

Sprocket
Sprocket (gear) merupakan komponen teknik yang berfungsi untuk
mentransfer daya dan putaran dari penggerak utama (motor, gear box dan laim-lain)
ke komponen lain yang dibutuhkan.
Sprocket biasanya digunakan dalam speed rendah dan mampu mentransfer putaran
dengan sedikit sekali loss speed, dan tahan dalam kondisi yang apapun.

Hubungan dengan daya

G. DESKRIPSI KERJA
Rancang Bangun Mesin Pengering Padi Sistem Rotary dengan Sumber Panas
Kompor

Gas.

dirancang

dengan

sederhana

dalam

pengoprasian

dikarenakan

penggunaannya tidak memerlukan tenaga manusia, namun dengan menggunakan tenaga


dari dapur pemanas yang di hubungkan dengan rantai dan gear.
Prinsip kerja mesin :
Prinsip kerja mesin ini menggunakan proses perpindahan secara konduksi yang
terjadi diantara bulir-bulir padi yang telah mendapatkan panas akan berpindah
melalui panas yang dihasilkan dari dapur pemanas. Akibat dari perpindahan panas
teersebut maka akan terjadi perpindahan panas ke setiap bulir-bulir padi.
Cara kerja mesin :
-

Panas yang bersumber dari kompor ditampung oleh koil / kumparan tembaga
Kemudian, disalurkan ke dalam box pengering padi
Didalam box tersebut, panas yang telah disalurkan sebelumnya akan

disemprotakan ke dalam box penampung padi dengan temperatur antara 43-45 C


Setelah mendapatkan temperature ruangan yang diinginkan, kemudian

memasukkan gabah padi ke dalam box penampung padi


Karena terjadi perbedaan temperatur (temperatur padi rendah) maka panas yang

terdapat di box penampung akan mengkonduksi padi yang basah


Karena adanya gaya gravitasi, padi turun dan masuk ke pipa lalu ditampung oleh

bak penampung
Setelah itu, cawuk yang berputar dengan sistem rotary (conveyor) akan mengambil
ganah padi yang telah ditampung pada bak penampung, kemudian dirotasikan
kembali ke box pengering, lalu terkonduksi lagi oleh udaran panas di dalam box

pengering (di dalam)


Proses tersebut terjadi berulang kali, hingga mendapatkan tingkat kekeringan hasil
gabah padi yang diinginkan
9

Jika hasil gabah padi sudah mendapatkan tingkat kekeringan yang sudah
diinginkan, maka

H. METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam pembuatan Proyek Tugas Akhir ini adalah sebagai
berikut :

Metode Studi Literatur


Metode literatur digunakan untuk memperoleh informasi, dasar teori yang diperoleh
dari buku, internet serta koran yaitu sebagai studi pustaka yang akan mendukung
pembuatan proyek akhir.

Metode Observasi
Metode eksperimen dilakukan secara langsung terhadap proses pembuatan mesin
yang dilakukan oleh para mekanik bengkel dan mesin pengering padi yang sudah
ada.

I.

PERHITUNGAN ANGGARAN BIAYA


Total Anggaran Biaya Produksi
a. Biaya bahan baku

:Rp 3.400.000

b. Biaya komponen standar

: Rp 1.700.000

c. Biaya pembuatan

: Rp 1.800.000

d. Biaya operator

: Rp

800.000

e. Biaya sewa mesin

: Rp

300.000

Total Biaya

: Rp 8.000.000

J. ANGGARAN BIAYA
Perhitungan biaya untuk mengetahui total biaya yang dibutuhkan untuk
membuat mesin ini. Perhitungan ini meliputi :
10

1. Biaya pembelian bahan baku


Biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan dalam pembuatan komponenkomponen mesin ini.
2. Biaya pembelian komponen standar
Biaya yang diperlukan untuk membeli komponen-komponen yang ada di pasaran.
3. Biaya pemesinan
Biaya yang diperlukan sebagai ongkos sewa mesin yang digunakan dalam
pembuatan komponen.
4. Biaya operator
Biaya berdasarkan waktu total pemesinan dikali biaya operator.
5. Biaya pembuatan
Biaya pembuatan merupakan biaya pembuatan mesin di bengkel luar
6. Lain-lain
Biaya yang dikeluarkan di luar perencanaan

DAFTAR PUSTAKA
R.S. Khurmi and J.K. Gupta, 2005.Machine Design, A Textbook for theStudent of
B.E. / B.Tech.,Eurasia Publishing House Ltd.Ram Nagar New Delhi
Anton Budiman, Bambang Priambodo, and M. Hirt, 1986.Elemen Mesin, Jilid1,
Disain dan Kalkulasi dari Sambungan, Bantalan, dan Poros, Edisi
kedua,Penerbit Erlangga, Jakarta.
Incropera, Frank P. & DeWitt David P. 1996.Introduction to Heat Transfer 3rd
Edition.John Wiley & Sons. United States of America

11

12