Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teknik Geofisika adalah suatu ilmu yang memanfaatkan perpaduan antara
ilmu fisika dan ilmu geologi secara berdampingan. Kedua perpaduan ilmu
tersebut digunakan untuk merekonstruksi keadaan bawah permukaan (subsurface)
seperti struktur, kemenerusan sesar bawah permukaan dan sebagainya. Hal
tersebut sangat terkait terutama pada bidang ekplorasi kebumian seperti
persebaran mineral yang bersifat ekonomis, atau yang mungkin berpotensi untuk
hal-hal yang bersifat ekonomis.

dalam setiap pelaksanaan di lapangan terdapat

beberapa metode geofisika yang dapat digunakan dalam mempekirakan


kenampakan bawah permukaan seperti salah satunya adalah metode Seismik.
Metode ini memanfaatkan sumber getaran buatan (pukulan) atau alami (gempa
bumi) dengan menggunakan parameter kecepatan rambat gelombang seismik.
Metode seismik terbagai menjadi 2 jenis yakni seismik refraksi dan seismik
refleksi. Kedua jenis metode ini sangatlah berbeda. Metode seismic dalam bidang
eksplorasi kebumian biasanya digunakan untuk eksplorasi dangkal seperti
menentukan batas lapisan lapuk, atau untuk geoteknik menentukan basement
batuan, atau jika dalam mitigasi bencana digunakan untuk menggambarkan
bidang gelincir untuk pencegahan longsor.
Seismik refleksi merupakan jenis metode seismic yang membutuhkan
tenaga ahli yang banyak dan menggunakan software khusus dalam pengolahan
datanya sehingga memerlukan biaya yang lebih mahal.

Lain halnya dengan

seismik refraksi yang diukur adalah first break atau sinyal yang pertama
tertangkap oleh geophone, sedangkan gelombang lain seperti gelombang refraksi
yang ikut tertangkap diabaikan. Sesmik refraksi ini pun memiliki harga yang
relative lebih murah dibandingkan dengan seismic refleksi. Metode ini hanya
membutuhkan sedikit tenaga kerja dan daerah pengukuran yang relative lebih
sempit dibandingkan dengan refleksi, serta cara prosesing data yang lebih mudah
tidak memerluka software khusus, namun dalam hal kedalaman seismic refraksi
ini kurang baik, jika ingin melakukan pengukuran kedalaman yang dalam maka

diperlukan bentangan yang panjang pula sehingga dapat terefraksikan jauh ke


bawah permukaan. Dalam metode seismik refraksi terdapat berbagai macam
metode pula seperti metode ABC dan Plus- Minus yang termasuk dalam metode
Delay Time, metode ini adalah metode yang sering dijadikan dasar saat
mempelajari seismik refraksi. Untuk itu penting sekali mempelajari dan
memahami metode tersebut agar asumsi-asumsi seismik dapat dipahami lebih
dalam.
1.2 Maksud dan Tujuan
Praktikum pada pengolahan ini memiliki maksud agar praktikan dapat
mengerti dan memahami setiap proses pengolahan data seismik refraksi
khususnya metode ABC dan Plus-minus, dan teori-teori yang terkait di dalamnya
seperti sifat-sifat Asumsi dasar, parameter yang digunakan dalam kedua metode di
atas, dan sebagainya serta melakukan interpretasi data. Adapun tujuan dari
pembelajaran metode ABC dan Plus-minus ini adalah dapat menghasilkan grafik
T-X lapisan berundulasi, Grafik kedalaman, Peta kecepatan, Peta kedalaman baik
ABC dan Plus-minus.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Seismik Refraksi
Seismik refraksi adalah metoda geofisika eksplorasi yang menggunakan
sifat pembiasan gelombang seismik untuk mempelajari keadaan bawah
permukaan. Asumsi dasar yang digunakan menggunakan pendekatan bahwa batasbatas perlapisan batuan merupakan bidang datar dan miring, terdiri dari satu lapis
atau banyak lapis, serta kecepatan seismik bersifat seragam pada setiap lapisan.
Umumnya seismik refraksi digunakan untuk memperkirakan kedalaman lapisan
batuan yang lapuk, tetapi dapat pula digunakan untuk mendeteksi lapisan lain di
bawah zona pelapukan tersebut.
Pada eksplorasi minyak & gas bumi, penentuan kedalaman zona pelapukan
berguna untuk mengetahui kedalaman geophone pada metode seismik refleksi.
Metode seismik refraksi banyak digunakan pada studi geologi teknik, ekplorasi
mineral, penyelidikan air tanah, pertambangan, geodinamik, arkeologi, pertanian
dan studi regional geologi lainnya. Metode seismik refraksi menggunakan analisis
muka gelombang head wave untuk pendugaan sifat fisis batuan. Metoda ini
memiliki keterbatasan yaitu bahwa metode ini dapat berhasil baik bila harga cepat
rapat gelombang seismik makin besar kearah lapisan bawah, sehingga selalu
terdapat gelombang yang terbiaskan ke permukaan.
Kelemahan lainnya bahwa tebal suatu lapisan harus memenuhi criteria
tertentu supaya tidak menghasilkan Blind Zone, yang diakibatkan oleh lapisan
tipis. Seismik refraksi dilakukan dengan menimbulkan sumber getaran di suatu
titik dan menerima getaran tersebut menggunakan serangkaian geophone. Waktu
tempuh gelombang dari setiap geophone dibaca dan diplot dalam grafik waktu
tempuh Vs jarak. Ketebalan lapisan batuan dan harga cepat rambat gelombang
didapatkan dari analisa grafik tersebut. Interpretasi gelombang seismik refraksi
tersebut dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara antara lain Reciprocal
metods, Hagiwara, Kakeno, dll.
2.2 Hukum Dasar
3

Prinsip dasar metoda seismik refraksi mengikuti prinsip fisika tentang


perambatan gelombang antara lain :
1.

Prinsip Fermat : Penjalaran gelombang dari suatu titik ke titik lainnya akan

melewati lintasan dengan waktu minimum.


2.

Prinsip Huygen: Setiap titik yang dilalui muka gelombang akan menjadi

sumber gelombang baru.


3.

Prinsip Snellius: Gelombang yang dibiaskan atau dipantulkan akan

memenuhi persamaan sebagai berikut (sin i/sin v = V1/V2).


2.3 Asumsi-Asumsi Dasar
Menurut

Sismanto

(1999),

asumsi

dasar

yang

harus

dipenuhi

untuk

penelitianperlapisan dangkal adalah:


1. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan setiap lapisan menjalarkan
gelombang
seismikdengan kecepatan yang berbeda-beda.
2. Semakin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin kompak.
3. Panjang gelombang seismik lebih kecil daripada ketebalan lapisan bumi.
4. Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar, sehingga
mematuhi hokumhukum dasar lintasan sinar.
5. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan
kecepatan pada lapisan
dibawahnya.
6. Kecepatan Gelombang bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman.
7. Gelombang seismik dianggap sebagai cahaya.
2.4 Metode Delay Time
Metode Delay Time digunakan pada bidang batas lapisan dangkal dengan
kontras kecepatan yang besar (untuk mencari ketebalan lapisan lapuk). Disebut
waktu tunda karena terdapat perbedaan waktu yang diperlukan untuk perambatan
pulsa gelombang ke arah atas atau ke arah bawah yang melalui lapisan atas
terhadap waktu yang digunakan untuk merambat di permukaan lapisan kedua

(pembias) sepanjang proyeksi lintasan normal tersebut pada bidang batas. Delay
time (waktu tunda) adalah waktu penjalaran gelombang dari AB pada V1 ke BC
pada V2 (waktu tunda pada source) ataudari DE pada V1 ke DF pada V2 (waktu
tunda pada geophone).

2.3. Metode ABC


Metode ABC merupakan perkembangan dari metode T X lapisan datar
dengan menggunakan pola pertembakan bolak balik (forward dan reverse shot)
dengan asumsi bahwa :

Lapisan pertama adalah homogen


Variasi kedalaman relatif tidak begitu kasar (bidang batas beerundulasi)
Kontras kecepatan cukup besar (V2 >>V1)
Kemiringan lapisan kecil

Gambar 2.1 Ilustrasi penembakan bolak balik menggunakan metode ABC


Pada gambar di atas, A dan B = source ; C = geophone V2>>V1. Lintasan
gelombang refraksi dari A ke C dan B ke C. Sedangkan Waktu

penjalaran

gelombang

A ke C (A-D-E-C) dinotasikan dengan tAC (data waktu penembakan forward)


B ke C (B-G-F-C) dinotasikan dengan tBC (data waktu penembakan reverse)

dan waktu total penjalaran gelombang dari A ke B (A-D-E-F-G-B) dinotasikan


dengan tAB. Tab dapat dicari dengan persamaan :

(II.2)

2.4 Metode Plus-minus


Metode yang digunakan dalam perangkat lunak tersebut untuk menetapkan
ketebalan lapisan pertama adalah plus minus metode Hagedorn (1959), yang
meliputi analisis Plus waktu untuk kedalaman analisa dan waktu analisis minus
untuk penentuan kecepatan (van Ovemeeran,1987). Dasar dari metode plusminus terletak pada timbal balik tempuh, yaitu tempuh dari gelombang seismik
antara dua lokasi di satu arah adalah sama dengan tempuh dalam arah yang
berlawanan. Analisis waktu Plus menggunakan konsep keterlambatan waktu
analisis diperkenalkan oleh Gardner (1939, 1967) dan selanjutnya dikembangkan
oleh Hawkins (1961) dan Barry (1967). Analisis waktu Plus terdiri dari kombinasi
dua keterlambatan analisis waktu dalam arah yang berlawanan. Bahkan, Plus Sisa
nilai pada penerima dalam waktu Plus-minus analisis jendela sesuai dengan
penjumlahan kiri dan hak menunda kali pada penerima (Gambar 2.1).
Untuk dapat menggunakan analisis time Plus, data tersebar timbal balik
yang penting sehingga kedatangan penyebaran meluas ke depan setidaknya posisi
sumber reverse (Sr) dan sebaliknya kedatangan menyebar ke posisi sumber maju
(Sf) (Gambar 1). Kemudian waktu analisis metode plus minus didefinisikan oleh
dua titik crossover (forward menyebar (XF) dan reverse menyebar (Xr)), yang
menentukan batas antara lapisan pertama kedatangan dan kedatangan lapisan
kedua.
Metode plus-minus merupakan turunan dari metode delay time untuk
kasus yang lebih kompleks seperti :

Bidang batas lapisan yang tidak rata


Mencari tebal lapisan lapuk
Untuk menghitng static correction pada data seismik refleksi
Pada metode plus-minus ini juga menggunakan beberapa asumsi untuk

konfigurasi bawah permukaan bumi, yaitu sebagai berikut :

Bidang batas lapisan C-F adalah lurus


Kemiringan dari refraktor tidak terlalu besar atau <100
Dan juga menggunakan dua jenis analisis yaitu :
Analisis plus time dimana untuk mmenganalisa kedalaman (depth)

Analisa minus time yang dugunakan untuk determinasi kecepatan


gelombang

Gambar 2.2 analisis plus time berdasarkan metode plus-minus

Gambar II.2 analisis plus time berdasarkan metode plus-minus

Plus Time adalah jumlah waktu rambatan gelombang dari geophone pada
sumber dan forward dan geophone dari sumber reverse dikurangi dengan travel
time antara sumber keduanya. Tujuannya : untuk analisa kedalaman (depth). Plus
time dapat dirumuskan sebagai berikut :

Masing-masing waktu tempuh raypeth dapat digantikan dengan waktu


tempuh yang lebih kecil dari raypath. Kecepatan lapisan pertama dapat ditemukan
dengan menggunakan kemiringan kebalikan dari lapisan pertama datang. Dari
pendatang lapisan kedua (setelah XF untuk menyebar ke depan dan setelah Xr
untuk penyebaran sebaliknya), kecepatan lapisan kedua dapat diturunkan
menggunakan analisis Minus waktu

Gambar 2.3 Analisa minus time pada metode plus minus

Definisi Waktu Minus di penerima (TD) adalah pengurangan dari waktu


tempuh di penerima dari sumber reverse (THD) dari waktu tempuh pada penerima
dari sumber maju (TAD), dikurangi waktu tempuh antara dua sumber (TAH).
Kecepatan lapisan kedua (V2) sama dengan dua kali kemiringan invers fit terbaik
line melalui variasi waktu minus (DT-D) dihitung untuk setiap penerima dalam
analisis time pada metode Plus-minus.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Pengolahan Data

Data Lapangan
Microsoft. Excell
Grafik & Kurva

Metode Plus minus

Metode ABC

Surfer
Peta Kedalaman, Peta V1, Peta V2
Analisa Dan Pembahasan
Kesimpulan
Selesai

Gambar 3.1. Diagram Alir Pengolahan Data

3.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data


Sebelum dapat memahami proses pengolahan data yang baik dan benar
maka diharuskan melalui beberapa tahap seperti demikian :

Pertama-tama masukan seluruh data seismik yang telah di dapatkan dari hasil

pengukuran ke dalam software Microsoft excel.


Kemudian data mentah tersebut diolah dengan menggunakan 2 metode yang
berbeda, yang pertama dengan menggunakan metode ABC sehingga di
dapatkan nilai kedalaman dan kecepatan rata-rata pada tiap geophone, dan
pada metode Plus-minus dilakukan pengolahan yang sama hingga di dapatkan

nilai kedalaman dan kecepatan pada tiap-tiap geophone.


Setelah di dapatkan nilai kedalaman dan kecepatan buatlah grafik dengan
membandingkan nilai offset atau

disebut jarak antara geophone dengan

sumber dengan nilai waktu tempuh gelombang baik gelombang reverse dan
gelombang forward. Buatlah pula pet kedalaman dengan memasukan nilai

kedalaman dan offset pengukuran.


Setelah itu buatlah penampang kecepatan, peta kedalaman, peta kecepatan
baik kelompok dan seluruh kelompok dengan menggunakan software surfer.
Buatlah peta tersebut di atas dengan teliti dan perlahan agar tidak terjadi

kesalahan.
Lakukan analisa dengan membandingkan nilai yang ada pada peta kecepatan
V1 dengan peta kecepatan pada V2, buatlah pembahaan terkkait grafik T-X
metode ABC dan metode Plus-minus, beserta dengan penampang

kecepatannya pada kedua metode.


Setelah seluruh peta dan grafik dilakukan analisa maka ambillah kesimpulan
yang menjawab rumusan masalah yang terkait dan lakukanlah interpretasi
terhadap seluruh output yang ada. Selesailah proses pembuatan peta.

10

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengolahan Data
4.1.1 Grafik T-X

Grafik T-X
150
100
TIME(ms)

Forward
Reverse

50
0
0

20

40

60

80

100 120

OFFSET (m)

Grafik 4.1 Grafik T-X Metode ABC

Grafik T-X adalah grafik yang menggambarkan nilai perbandingan antara


waktu yang didapatkan dengan offset yang digunakan. Offset adalah jarak antara
sumber dengan geophone atau receiver. Pada grafik di atas terlihat bahwa garis
yang ditunjukan oleh warna biru merupakan grafik penembakan Forward
sedangkan yang berwarna orange merupakan grafik penembakan Reverse. Letak
Cross over pada penembakan reverse berbeda cukup jauh dari grafik penembakan
forward, hal ini mungkin terjadi akibat adanya lapisan yang berundulasi dan tidak
rata. Pada grafik penembakan maju titik cross over berada pada offset 25 meter
dengan waktu yang diperlukan untuk terefraksi sebesar 59,3 ms. Sedangkan pada
penembakan mundur titik cross over atau saat dimana gelombang langsung
didahului oleh gelombang refraksi terletak pada saat nilai offset berada pada jarak
85 meter dengan waktu yang diperlukan 31,9 ms.

11

4.1.2 Pengolahan ABC


Tabel 4.1 Pengolahan Data ABC

4.1.3 Pengolahan Plus-minus


Tabel 4.2 Pengolahan Data Metode Plus minus

12

4.2 Metode ABC


4.2.1 Peta Kecepatan Kelompok 3

Gambar 4.1 Peta Kecepatan Kelompok 3

Peta Kecepatan adalah peta yang menggambarkan nilai kecepatan yang


tersebar di sepanjang line pengukuran atau sepanjang daerah survei. Peta di atas
merupakan peta yang menggambarkan kecepatan pada batas lapisan 1 dan lapisan
2. Peta ini memiliki nilai kecepatan yang berbeda- beda. Sesuai dengan asumsi
seismik bahwa semakin bertambahnya kedalaman maka semakin besar pula
densitas batuannya sehingga kecepatan gelombang seismik saat menjalar semakin
cepat pula. Gelombang seismik akan menjalar menurut asas fermat yakni mencari
lintasan dengan waktu tercepat sehingga walaupun jarak yang dilaluinya akan
semakin jauh karena semakin menuju bawah lapisan namun kecepatannya akan
semakin tinggi sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai geophone
sehingga kemudian dapat terbaca juga semakin singkat.

13

Jika dilihat berdasarkan peta kecepatan baik peta V1 maupun V2 nilai


keceptaan V2 relatif lebih besar dibandingkan V1. Nilai kecepatan V1 tertinggi
bernilai 680 m/s ditandai dengan warna merah sedangkan terendah dengan nilai
300 m/s ditanndai dengan warna ungu. Sedangkan nilai peta V2 tertinggi senilai
1700 m/s dengan kecepatan terendah 550 m/s. Sehingga dengan demikian terbukti
bahwa kecepatan seiring bertambah kedalaman semakin besar. Peta di atas
terdapat beberapa line pengukuran. Kelompok 3 melakukan proses pengolahan
data pada garis linier yang ditandai dengan warna merah pada peta V1 dan warna
Biru pada peta V2. Line 3 pada peta V1 didominasi oleh kecepatan sedang
cenderung rendah bernilai antara 380 m/s hingga 400 m/s . sedangkan pada peta
V2 nilai lintasan 3 memiliki kecepatan senilai 600 m/s hingga 900 m/s.

14

4.2.2 Penampang Kedalaman Kelompok 3

Gambar 4.2 Penampang Kedalaman Metode ABC

Metode ABC adalah suatu metode pengukuran yang berfungsi


menggambarkan keadaan bawah permukaan. Metode ini merupakan penurunan
dari metode CDM. Metode ini memiliki keunggulan dibandingkan metode CDM
yakni dapat menggambarkan lapisan yang berundulasi dengan selisih waktu
tunda. Metode ini termasuk kedalam metode delay time. Delay time yang
dimaksud pada kasus ini adalah nilai tunda saat geophone mencapai lapisan tanpa
undulasi yang lebih tinggi dan lebih rendah. Peta Penampang kedalaman adalah
peta yang dibuat berdasarkan nilai kecepatan, Kedalaman dan offset pengambilan
data. Dari ketiga data tersebut dibuat peta kedalaman ini menggunakan software
surfer dengan menggunakan metode triangulasi. Metode triangulasi digunakan
agar data yang didapatkan tidak mengalami banyak ekstrapolasi diluar data yang
ada. Line pengukuran kelompok 3 berada pada garis yang berwarna hijau toska.
Pada line 3 kedalaman yang terukur memiliki kedalaman hingga -6 meter dengan
kecepatan berkisar antara 300 m/s hingga 500 m/s. Kecepatan pada Lapisan 1
pada lintasan 3 adalah 414.55433558707 m/s sedangkan kecepatan rata-rata
lapisan 2 794.70198675497 m/s. Jika dilihat dari gambar di atas, warna merah
menunjukan kecepatan yang besar dengan densitas yang besar pula. Seperti dalam
hukum fermat, gelombang akan merambat dengan lintasan tercepat hal ini sangat
berhubungan dengan densitas dan kepadatan dari medium yang dilaluinya,
semakin padan dan kompak suatu batuan maka gelombang seismik akan menjalar

15

lebih cepat dibandingkan dengan gelombang yang berada pada bagian permukaan
yang ditandai dengan warna kuning ataupun hijau. Asumsi seismik terbukti
dengan semakin bertambahnya kedalaman maka kecepatan akan semakin
bertambah besar. Dari gambar di atas terlihat nilai kecepatan tertinggi berada pada
warna merah dengan nilai mencapai 800 m/s yang dapat diperkirakan merupakan
batu pasir yang telah mengalami diagenesa. Sedangkan kecepatan terendah
sebesar -50 digambarkan dengan warna ungu memiliki nilai sebesar 50m/s yang
diduga berupa soil.

16

4.3 Metode Plus minus


4.3.1 Peta Kecepatan Kelompok 3

Gambar 4.3 Peta Kecepatan V1 dan V2 Metode Plus minus

Didalam metode geofisika terdapat berbagai macam metode diantaranya adalah


metode ABC dan metode Plus-minus. Metode di atas adalah metode Plus-minus.
Metode ini memiliki banyak manfaat yang pada metode ABC tidak dapat
dilakukan yakni dapat menentukan kedalaman dan memberikan kecepatan tiap
geophone. Nilai kecepatan tidak dirata-ratakan sama namun tetap pada keadaan
sebenarnya. Hal ini dapat terjadi karena perubahan kedalaman sehingga
menghasilkan nilai kecepatan yang berbeda-beda walaupun pada batas lapisan
yang sama dan berada pada lintasan geophone yang sama.
Jika dilihat dari kedua peta di atas nilai kecepatan V2 dan V1 terdapat
perbedaan yang cukup mencolok jika dilihat dari warna yang ada. Pada peta V1
nilai kecepatan berkisar antara 300 m/s hingga 660 m/s sedangkan pada peta
kecepatan 2 nilai tertinggi senilai 2100 m/s dan yang terkecil senilai 300 m/s yang
di gambarkan oleh warna merah hingga ungu. Nilai kecepatan pada lapisan 1 dan
lapisan 2 sangat berbeda hal ini disebabkan karena adanya kedalaman yang
menyebabkan medium yang di laluinya lebih padat akibat tekanan batuan di
atasnya. Semakin dalam suatu lapisan nilai densitas akan semakin besar dan
dengan nilai densitas tersebut menggambarkan batuan yang semakin kompak dan

17

padat sehingga kecepatan untuk menjalarkan gelombang akan semakin besar. Hal
tersebut sesuai dengan asumsi seismik salah satunya menyatakan bahwa nilai
kecepatan suatu gelombang yang menjalar pada permukaan dan bawah permukaan
bumi bergantung pada densitas batuan yang mana semakin padat maka akan
semakin cepat. Jika dilakukan interpretasi secara lanjut, nilai kecepatan tinggi
lebih dari 600 m/s menyatakan bahwa batuan di bawahnya merupakan batuan
yang padat dan keras dapat berupa batuan beku ataupun batuan lain seperti batu
pasir yang telah kompak dan mengalami pemadatan sempurna.

18

4.3.2 Penampang Kedalaman Kelompok 3

Gambar 4.4 Penampang Kecepatan Metode Plus minus

Metode Delay Time adalah metode yang memanfaatkan waktu tunda


menjalarnya gelombang

menuju geophone. Hal ini dapat terjadi disebabkan

karena adanya perbedaan ketinggian saat gelombang akan ditangkap oleh


geophone. Metode Plus-minus merupakan salah satu bagian dari metode Delay
Time. Metode ini merupakan hasil penyempurnaan dari metode baik CDM
maupun ABC. Metode ini memiliki keunggulan dibandingkandengan metode
ABC. Metode ini dapat memberikan nilai kedalaman dan kecepatan yang berbedabeda pada tiap geophone, sedangkan pada ABC hanya kecepatan rata-rata. Jika
dilihat berdasarkan gambar peta di atas kedalaman yang terukur berkisar antara 9
meter hingga 6 meter dibawah permukaan. Dengan nilai kecepatan yang berbedabeda sesuai dengan densitas batuannya. Nilai kecepatan akan bertambah besar
seiring dengan bertambahnya kedalaman sesuai dengan asumsi pertama dalam
metode seismik. sehingga jika disimpulkan maka nilai kedalaman terbesar yang
digambarkan dengan warna merah senilai 1500 m/s merupakan batuan yang keras
dan kompak atau telah mengalami diagenesa seutuhnya, sedangkan kecepatan
yang bernilai 50 m/s ditandai dengan warna ungu dapat dikatakan batuan atau
medium yang dilaluinya merupakan lapisan lapuk ataupun material lepas yang
belum terkompaksi melihat kedalamannya yang hanya disekitar permukaan saja.
19

Line kelompok 3 mengukkur pada sepanjang garis berwarna hitam yang di tandai
dengan warna merah yang berarti bahwa nilai kecepatan tinggi hingga 800 m/s
terlewati pada line 3 ini. Sehingga batuan yang dapat diinterpretasikan adalah
batuan yang keras dan padat seperti batuan beku atau batu pasir yang telah
terkompaksi akibat tekanan batuan diatasnya.

20

4.4. Perbandingan
4.4.1. Penampang Kedalaman Kelompok 3 Metode ABC dan Metode
Plus minus

Gambar 4.5 Penampang Kedalaman Metode Plus minus dan ABC


Metode plus minus merupakan hasil pembaharuan dari metode ABC. Dari kedua ametode
tersebut keduanya dapat memberikan gambaran akan topografi bumi yang tidak merata
dan penuh dengan undulasi. Terdapat perbedaan antara kedua metode tersebut yang
terletak pada nilai kedalaman dan kecepatan, pada metode ABC nilai kedalaman dan
kecepatan dirata-daratan dari masing-masing geophone sehingga jika dilihat pada gambar
di atas batas antara lapisan 1 dengan lapisan dibawahnya relatif lebih linier karena adanya
proses merata-ratakan nilai kedalaman dan kecepatan tersebut. Lain halnya dengan
metode Plus-minus, pada metode ini setiap geophone akan menampilkan dan memberikan
data kecepatan dan kedalaman yang berbeda-beda sesuai kecepatan rambat gelombang
yang ditangkapnya. Sehingga keakurasian lebih tepat menggunakan metode plus-minus.
Pada gambar penampang peta di atas terlihat jelas perbeddan antar kedua peta,
peta dengan metode ABC terlihat lebih rata sedangkan pada peta Plus minus terlihat
undulasi dengan sangat jelas karena setiap geophone mempunyai data yang berbeda-beda.
Berdasarkan data yang ada peta ABC memiliki nilai kecepatan pada lapisan pertama
antara 350 m/s hingga 500 m/s ditandai dengan warna hijau hingga kuning. Sedangkan
kecepatan pada lapisan kedua senilai berada antara 500 m/s hingga 750 m/s dengan line
21

pengukuran senilai 794.41 m/s digambarkan dengan warna erah hingga merah hingga
orange.

22

4.4.2. Peta Kecepatan V2 Semua Kelompok Metode ABC dan Metode


Plus minus

Gambar 4.6 Peta Kecepatan V1 dan V2 Metode Plus minus dan ABC

Peta kecepatan di atas membandingkan antara metode plus mnus dengan


metode ABC. Pada metode ABC nilai kecepatan yang didapatkan dirata-ratakan
dari masing-masing geophone sedangkan pada metode plus minus nilai kecepatan
terekam pada masing-masig geophone, sehingga persebaran peta keceptan yang
didapatkan disepanjang lokasi pengukuran akan mengalami perbedaan. Jika
dilihat pada peta di atas, metode ABC cenderung memiliki nilai kecepatan lebih
rendah dibandingkan dengan metode plus minus. Pada peta ABC range kecepatan
kelompok 3 menggambarkan niali kcepatan yang rendah dengan nilai range antara
700 m/s hingga 850 m/s digambarkan dengan warna biru tua. Sedangkan pada
peta metode Plus minus nilai kecepatan yang ditangkap berada pada range 1350
m/s hingga 1450 m/s dengan warna pada peta biru tua hingga biru kehijauan. Pada
line dan titik yang sama terjadi selisih nilai kecepatan yang besar dengan metode
ABC dan metode Plus minus. Secara keseluruhan nilai kecepatan pada metode
ABC jelas terlihat relatif lebih rendah dari pada peta kecepatan dengan
menggunakan metode Plus minus. Terlihat sekali dengan warna yang

23

mendominasi pada peta ABC adalah Biru tua hanya pada bagian timus terdapat
merah dan hijau, sedangkan pada peta Plus minus banyak sekali warna merah,
kuning, hijau dan juga biru yang menandakan bahwa kecepatan tinggi terekam
dibawah permukaan.

24

4.4.3. Peta Kedalaman Semua Kelompok Metode ABC dan Metode Plus
minus

Gambar 4.7 Peta Kedalaman Metode Plus minus dan ABC

Asumsi yang berbeda dan menggunakan dasar yang berbeda dalam suatu
metode pasti akan menghasilkan kenampakan persebaran peta yang berbeda
pula. Dilihat dari kedua buah peta di atas perbedaan antar kedua metode
tersebut kurang terlihat, hamper disetiap bagian pada metode ABC dimiliki
pula pada metode Plus minus. Hal ini dapat terjadi karena peta di atas
merupakan peta kedalaman, dimana pada metode ABC juga terdapat
kedalaman secara rerata. Sedangkan pada metode Plus minus kedalama
didapatkan pada setiap geophone, namun karena peta di atas berbentung 2
dimensi tanpa kedalaman yang terukur dan spesifik sehingga terlihat seolah
hamper sama. Hanya terdapat perbedaan pada bagian timur peta dimana pada
peta ABC nilai kedalamaan lebih besar dari pada nilai kedalaman pada peta
Plus minus sehingga warna petanya pun berbeda antara hijau dan merah. Nilai
kedalaman peta ABC berada dalam angka antara 0.5 meter hingga -10,5 meter.
Sedangakan peta Plus minus berada pada angka 0.5 meter hingga -9,5 meter.

25

BAB V
PENTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah melaksanakan seluruh rangkaian acara praktikum metode ABC dan
metode Plus minus ini, dapat diambil beberapa kesimpulan penting sebagai
berikut ini :

Pada peta Kecepatan kelompok 3, didapatkan nilai kecepatan V1 tertinggi


bernilai 680 m/s ditandai dengan warna merah sedangkan terendah dengan
nilai 300 m/s ditanndai dengan warna ungu. Sedangkan nilai peta V2 tertinggi
senilai 1700 m/s dengan kecepatan terendah 550 m/s dan . Line 3 pada peta
V1 didominasi oleh kecepatan sedang cenderung rendah bernilai antara 380
m/s hingga 400 m/s . sedangkan pada peta V2 nilai lintasan 3 memiliki

kecepatan senilai 600 m/s hingga 900 m/s.


Pada penampang kedalaman yang berada pada lokasi pengambilan data, Line
pengukuran kelompok 3 berada pada garis yang berwarna hijau toska. Pada
line 3 kedalaman yang terukur memiliki kedalaman hingga -6 meter dengan
kecepatan berkisar antara 300 m/s hingga 500 m/s. Kecepatan pada Lapisan 1
pada lintasan 3 adalah 414.55433558707 m/s sedangkan kecepatan rata-rata

lapisan 2 794.70198675497 m/s.


Pada peta kecepatan plus minus , jika dilihat dari kedua peta di atas nilai
kecepatan V2 dan V1 terdapat perbedaan yang cukup mencolok jika dilihat
dari warna yang ada. Pada peta V1 nilai kecepatan berkisar antara 300 m/s
hingga 660 m/s sedangkan pada peta kecepatan 2 nilai tertinggi senilai 2100
m/s dan yang terkecil senilai 300 m/s yang di gambarkan oleh warna merah

hingga ungu.
Pada peta penampang kedalaman, nilai kedalaman terbesar yang digambarkan
dengan warna merah senilai 1500 m/s merupakan batuan yang keras dan
kompak atau telah mengalami diagenesa seutuhnya, sedangkan kecepatan
yang bernilai 50 m/s ditandai dengan warna ungu dapat dikatakan batuan atau
medium yang dilaluinya merupakan lapisan lapuk ataupun material lepas
yang belum terkompaksi melihat kedalamannya yang hanya disekitar

26

permukaan saja. Line kelompok 3 mengukkur pada sepanjang garis berwarna


hitam yang di tandai dengan warna merah yang berarti bahwa nilai kecepatan

tinggi hingga 800 m/s terlewati pada line 3 ini.


Metode Plus minus dan metode ABC memiliki kegunaannya masing-masing.
Didalam metode geofisika terdapat berbagai macam metode diantaranya
adalah metode ABC dan metode Plus-minus. Metode di atas adalah metode
Plus-minus. Metode ini memiliki banyak manfaat yang pada metode ABC
tidak dapat dilakukan yakni dapat menentukan kedalaman dan memberikan
kecepatan tiap geophone. Nilai kecepatan tidak dirata-ratakan sama namun
tetap pada keadaan sebenarnya. Hal ini dapat terjadi karena perubahan
kedalaman sehingga menghasilkan nilai kecepatan yang berbeda-beda
walaupun pada batas lapisan yang sama dan berada pada lintasan geophone
yang sama.

5.2 Saran
Selama melakukan pengerjaan laporan dan rangakaina proses
pengolahan data sebaikanya tidak terburu-buru agar meminimalisir kesalahan.
Sedangkan saat proses pengerjaan sebaiknya dapat lebih teliti dan kerja sama
antar kelompok sangat diperlukkan.

27