Anda di halaman 1dari 22

Laboratorium Hidrogeologi 2016

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Air bersih adalah salah satu kebutuhan yang paling pokok bagi manusia.
Syarat-syarat kesehatan harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh
pemerintah. Semakin pesatnya pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan
ekonomi mengakibatkan semakin bertambahnya pula kebutuhan air bersih.
Kebutuhan akan air bersih datang bukan hanya dari masyarakat, melainkan juga
untuk sektor swasta, seperti keperluan hotel, mall, maupun fasilitas fasilitas
umum lainnya yang memerlukan air dengan kapasitas sangat besar. Dengan
adanya kondisi seperti ini menuntut adanya peningkatan dalam pemenuhan
kebutuhan tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan pembuatan sumur air
dengan konstruksi yang tepat, bukan hanya dapat menyediakan air dalam jumlah
besar, namun juga tidak menimbulkan masalah lingkungan yang dapat merugikan
masyarakat sekitar. Namun disisi lain, pembuatan sumur ini memerlukan dana
yang tidak sedikit, sehingga dibutuhkan desain konstruksi sumur yang tepat,
sehingga biaya yang dikeluarkan efisien dan tidak menimbulkan kerugian. Disini
peran seorang geologist, terutama ahli hidrogeologi yang mempersiapkan
konstruksi sumur sesuai dengan kebutuhan, kondisi geologi pada lokasi, hingga
membuat perencanaan biaya seefektif mungkin.
1.2. Maksud dan Tujuan
Tujuan dilakukannya desain konstruksi sumur adalah untuk membuat
desain konstruksi sumur dengan tepat sehingga dapat mengoptimalkan
pemanfaatan air tanah sesuai kebutuhan dalam waktu yang cukup lama, dan
dengan biaya seefektif mungkin dengan memperhatikan kondisi geologi bawah
permukaan pada lokasi tersebut.
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 1

Laboratorium Hidrogeologi 2016

1.3. Batasan Masalah


Batasan masalah pada laporan ini adalah tentang desain konstruksi sumur,
pengertian dan teori yang berkaitan, pemilihan jenis material yang tepat, hingga
perhitungan biaya berdasarkan desain konstruksi sumur yang telah dibuat.
1.4. Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan dalam desain konstruksi sumur adalah
sebagai berikut :
1. Chart Log sumur, berisikan data geofisika
2. Tabel harga material konstruksi
3. Kertas HVS ukuran A4
4. Penggaris 30cm
5. Drawing Pen
6. Pensil Warna
7. Alat Tulis Lengkap
8. Laptop dengan koneksi internet
9. Printer

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 2

Laboratorium Hidrogeologi 2016

BAB II. DASAR TEORI


2.1. Desain Konstruksi Sumur
Perencanaan konstruksi sumur dilakukan setelah diketahui kondisi
geohodrologinya secara teliti berdasarkan hasil penyelidikan baik yang berupa
pemboran eksplorasi beserta pengujiannya maupun dari data log geofisika. Dari
perencanaan konstruksi sumur yang tepat diharapkan dapat memanfaatkan
airtanah secara optimumdalam waktu yang cukup lama. Setelah lubang bor telah
selesai dibuat, tahap pekerjaan selanjutnya adalah konstruksi sumur. Hasil yang
diharapkan adalah dapat menghasilkan konstruksi sumur yang optimal, ada
beberapa aspek yang perlu diperhatikan :
1. Log litologi dan log geofisika.
2. Interpretasi litologi dan fluida berdasarkan log geofisika.
Perencanaan / desain konstruksi sumur yang baik, perlu tersedianya
beberapa informasi data pemboran, antara lain lokasi, kedalaman serta ketebalan
akuifer. Jenis litologi formasi yang ditembus dan kondisi akuifer, dan muka
airtanah (piezometric level) dan kualitas air tanah. Hal-hal tersebut dapat diperoleh
dari data yang direkam selama pemboran, berupa:
1. Diskripsi contoh pemboran (cutting).
2. Rekaman kecepatan laju pemboran.
3. Pengujian geofisika lubang bor.
4. Analisa ayakan butiran penyusun akuifer.
5. Pengamatan muka air tanah selama pemboran.
6. Rekaman data circulation losses jika ada.
7. Data perubahan warna lumpur pemboran.
8. Catatan sejumlah pemakaian campuran lumpur (polymeric) dan rekaman
data pemantauan viskositas dan densitas lumpur bor.
9. Pengukuran dan pengujian lubang bor lainnya, jika ada.

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 3

Laboratorium Hidrogeologi 2016

10. Dari hasil evaluasi data-data tersebut, seorang hidrogeologist yang


berpengalaman dapat menentukan rencana konstruksi sumur dalam, yang
secara teknis mutunya dapat dipertanggung jawabkan.
2.2. Akuifer
Akuifer merupakan formasi geologi yang jenuh air sehingga dapat
dijadikan pemasok air dalam jumlah yang ekonomis (jumlahnya cukup untuk
suatu keperluan seperti domestik, pertanian, peternakan, industri dan lainnya).
Oleh sebab itu formasi ini harus mampu menyimpan dan melewatkan air. Serta
suatu unit geologi yang jenuh dan mampu memasok air kepada sumur atau mata
air sehingga dapat digunakan sebagai sumber air. Batuan yang bertndak sebagai
akuifer, haruslah memiliki porositas dan permeabilitas. Porositas sendiri adalah
kemampuan batuan menyimpan air, yakni fungsi dari jumlah lubang atau pori
pori per volume total. Dan permeabilitas adalah kemampuan suatu batuan untuk
meloloskan air dengan jumlah tertentu per satuan waktu.
Air tanah merupakan air yang tersimpan dibawah permukaan tanah dan
pergerakannya mengikuti hukum-hukum fluida. Keberadaanya di alam sangat
tergantung dari ada tidaknya batuan yang dapat menyimpan dan meloloskan air
dalam jumlah yang bearti atau dalam hal ini disebut sebagai akuifer secara alami
tidak semua batuan dapat bertindak sebagai akuifer mengingat akan sangat
bergantung pada ruang antar butiran (pori-pori batuan) dan permeabilitasnya.
Tentunya batu pasir atau batuan sedimen berbutir kasar memiliki persyaratan
untuk itu, terutama batuan-batuan yang belum terkompakan (unconsolidatet rock),
karena itu juga sangat tergantung pada umur batuan.
Secara umum dalam ilmu hidrogeologi, akuifer merupakan suatu
batuan/formasi yang mempunyai kemampuan menyimpan dan mengalirkan
airtanah dengan jumlah yang berarti (significant). Batuan-batuan yang berumur
tua biasanya telah mengalami kompaksi dan sementasi sehingga ruang antar
butiran menjadi rapat termampatkan, menyebabkan tidak bisa menampung dan
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 4

Laboratorium Hidrogeologi 2016

meloloskan air dalam jumlah banyak dan bahkan menjadi kedap air
(impermeable). Dengan kata lain permeablitas dan porositasnya kecil demikian
juga halnya dengan batuan beku dan batuan metamorfik. Pada zona-zona seperti
ini sangat sulit sekali diharapkannya ada air tanah kecuali batuan-batuan tersebut
banyak mengandung rekahan (fracture) yang selanjutnya disebut sebagai
akuifer rekahan (fracture

akuifer)

Rekahan

dapat

disebabkan

oleh

tiga

kemungkinan yaitu :
(1) Pendinganan yang berlangsung pada saat pembentukan batuan,
(2) erosi batuan dan pelepasan tekanan dari overburden,
(3) efek struktur regional (flexing and faulting).
Batuan beku dan metamorfik memilki porositas yang kecil karena
kristalnya yang saling interlocking. Kombinasi proses pelapukan (weathering) dan
fracturing menyebabkan meningkatnya porositas. Batuan yang memilki rekahan
porositasnya akan meningkat 2-5% sedangkan akibat pelapukan porositasnya
meningkat 30-60%, akibatnya kemampuan air meresap kedalam batuan menjadi
lebih besar.
Berdasarkan litologinya, akuifer dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

Gambar 2.2.1. Ilustrasi hubungan antara akuifer bebas dan tertekan

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 5

Laboratorium Hidrogeologi 2016

1. Akuifer bebas atau akuifer tidak tertekan (Unconfined Aquifer)


Akuifer bebas atau akuifer tak tertekan adalah air tanah dalam akuifer
tertutup lapisan impermeable, dan merupakan akuifer yang mempunyai muka air
tanah. Unconfined Aquifer adalah akuifer jenuh air (satured). Lapisan
pembatasnya yang merupakan aquitard, hanya pada bagian bawahnya dan tidak
ada pembatas aquitard di lapisan atasnya, batas di lapisan atas berupa muka air
tanah. Permukaan air tanah di sumur dan air tanah bebas adalah permukaan air
bebas, jadi permukaan air tanah bebas adalah batas antara zone yang jenuh dengan
air tanah dan zone yang aerosi (tak jenuh) di atas zona yang jenuh. Akuifer jenuh
disebut juga sebagai phriatic aquifer, non artesian aquifer atau free aquifer.
Air tanah ini banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk berbagai
keperluan dengan kedalaman sumur umumnya antara 1 25 meter. Air tanah
bebas masih merupakan sumber utama air bersih bagi sebagian besar penduduk
dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara
pembuatan sumur gali dan sumur pantek pada kedalaman kurang dari 20 meter di
bawah permukaan, umumnya terdapat pada lapisan pasir, pasir kerikilan, tufa
pasiran dan pasir lanauan. Air tanah bebas di dataran aluvial terdapat dalam
lapisan pasir, pasir lempungan, pasir kerikilan dan pasir lempungan.
Mutu air tanah bebas bervariasi dari baik hingga jelek, asin rasa airnya
hingga tawar, berwarna keruh hingga jernih. Kesadahannya berkisar antara 8,5
16,7, pH sekitar 6,7 11,2, sisa kering 353 580, sisa pijar 252 420, kadar
kandungan ion klorida berkisar 25,5 6.685 mg/l, SO4 antara 40,5 246,9 mg/l.
Khususnya untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, kandungan air tanah bebas
di dataran aluvial terkecuali daerah-daerah sekitar pantai, pemanfaatannya masih
dapat dikembangkan. Sedangkan untuk daerah-daerah yang terletak sekitar 1 3
km dari garis pantai, penggunaan air tanah bebasnya sangat terbatas sekali
disebabkan asin hingga payau rasa airnya.
2. Akuifer tertekan (Confined Aquifer)

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 6

Laboratorium Hidrogeologi 2016

Akuifer tertekan adalah suatu akuifer dimana air tanah terletak di bawah
lapisan kedap air (impermeable) dan mempunyai tekanan lebih besar daripada
tekanan atmosfer. Air yang mengalir (no flux) pada lapisan pembatasnya, karena
confined aquifer merupakan akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas
dan bawahnya.
3. Akuifer semi tertekan / akuifer bocor (Leakage Aquifer)

Gambar 2.2.2. Leakage Aquifer

Akuifer ini biasa disebut akuifer setengah tertekan yaitu akuifer yang
sepenuhnya jenuh air yang pada bagian atasnya dibatasi oleh lapisan setengah
kedap air dan terletak pada dasar yang kedap air.Untuk lapisan setengah kedap air
biasanya berupa lapisan batuan yang mempunyai harga kelulusan lebih rendah
daripada akuifer.
Dengan demikian apabila dilakukan pemompaan maka terjadilah
penurunan permukaan pizometrik didalam akuifer. Sebagai akibatnya timbullah
aliran tegak yang menembus dari lapisan penutup atas yang stengah kedap air
tersebut kedalam akuifer, inilah sebabnya akuifer ini dikenal sebagai akuifer
bocor.
4. Akuifer semi bebas / akuifer melayang (Perched Aquifer)
Akuifer yang disebut akuifer melayang jika di dalam zone aerosi terbentuk
sebuah akuifer yang terbentuk di atas lapisan impermeable. Akuifer melayang ini
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 7

Laboratorium Hidrogeologi 2016

tidak dapat dijadikan sebagai suatu usaha pengembangan air tanah, karena
mempunyai variasi permukaan air dan volumenya yang besar. Akuifer jenis ini
mempunyai jenis lapisan penutup dengan nilai kelululsan sedemikian besar akan
tetapi masih lebih kecil dari kelulusan akuifer dibawahnya. Dengan demikian
aliran mendatar dalam lapisan akuifer itu senditidak dapat diabaikan sehingga
akuifer ini disebut juga dengan akuifer setengah bebas.

Gambar 2.2.3. Akuifer semi bebas / akuifer melayang

Sedangkan menurut Kruseman dan deRieder, 1994. Berdasarkan sifat fisik


dan kedudukannya dalam kerak bumi, akifer dapat dibedakan menjadi tiga jenis,
yaitu :

Akuifer bebas, yaitu akifer tak tertekan (unconfined aquifer) dan


merupakan airtanah dangkal (umumnya < 20 m), umum dijumpai pada daerah
endapan aluvial. Air tanah dangkal adalah airtanah yang paling umum
dipergunakan sebagai sumber air bersih oleh penduduk di sekitarnya.

Akifer setengah tertekan, disebut juga akifer bocor (leaky aquifer),


merupakan akifer yang ditutupi oleh lapisan akuitard (lapisan setengah kedap)
di bagian atasnya, dapat dijumpai pada daerah vulkanik (daerah batuan tuf).

Akifer tertekan (confined aquifer), yaitu akifer yang terletak di antara


lapisan kedap air (akuiklud), umumnya merupakan airtanah dalam (umumnya
> 40 m) dan terletak di bawah akifer bebas. Airtanah dalam adalah air tanah
yang kualitas dan kuantitasnya lebih baik daripada air tanah dangkal, oleh

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 8

Laboratorium Hidrogeologi 2016

karenanya umum dipergunakan oleh kalangan industri termasuk di dalamnya


kawasan pertambangan.

Gambar 2.2.4. Ilustrasi tiga jenis akuifer menurut kruseman dan deRieder, 1994

2.3. Interpretasi Log Geofisika dalam Desain Konstruksi Sumur


Maksud utama diadakannya pengujian geofisika lubang bor ini adalah untuk
menentukan kedalaman serta ketebalan akifer dan sususnan lapisan batuan yang
ditembus dan didukung oleh data-data lithologi hasil pemboran, serta rekaman
data lain yang diperoleh selama pemboran. Disamping itu sebagai sasaran yang
tidak kurang penting dari pengujian ini adalah untuk penentuan lokasi saringan
pada konstruksi sumur yang akan dibuat pada umumnya, untuk masing-masing
pemboran sumur dalam, metode pengujian geofisika adalah :
1. Log spontaneus potensial (SP)
Log Spontaneous Potential adalah salah satu log yang dapat digunakan
untuk mengidentifikasi litologi lubang sumur. Pada awalnya log ini digunakan
untuk membedakan litologi shale atau non shale (bed-boundary identification).
Log SP adalah rekaman perbedaan potensial antara elektroda yang bergerak di
dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan. Karenanya, diperlukan suatu
media yang dapat menghantarkan arus listrik di dalam lubang bor. Dalam hal ini,
dipakai lumpur yang konduktif.
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 9

Laboratorium Hidrogeologi 2016

Penyimpangan SP disebabkan oleh adanya aliran listrik di dalam lumpur.


Penyebab utamanya adalah dari dua kelompok tenaga elektromotive di dalam
formasi, yaitu komponen elektrokimia dan elektrokinetik, yang berasal dari
pemboran lubang yang memberikan kontak listrik kepada berbagai jenis cairan
formasi.
Adapun fungsi dari log spontaneus potensial adalah mengidentifikasi zona
permeabel. Ini berarti SP dapat digunakan untuk membedakan batuan reservoir
yang porous dan permeabel dengan lempung yang tidak permeabel. Untuk
menghitung shale content dari tubuh pasir
2. Log gamma ray (GR)
Gamma Ray Log adalah metoda untuk mengukur radiasi sinar gamma yang
dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan di
sepanjang lubang bor. Unsur radioaktif yang terdapat dalam lapisan batuan
tersebut diantaranya Uranium, Thorium, Potassium, Radium, dll. Unsur radioaktif
umumnya banyak terdapat dalam shale dan sedikit sekali terdapat dalam
sandstone, limestone, dolomite, coal, gypsum, dll. Oleh karena itu shale akan
memberikan response gamma ray yang sangat signifikan dibandingkan dengan
batuan yang lainnya.
3. Log resistivity
Adalah metoda untuk mengukur sifat batuan dan fluida pori disepanjang
lubang bor dengan mengukur sifat tahanan kelistrikannya. Besaran resistivitas
batuan dideskripsikan dengan Ohm Meter, dan biasanya dibuat dalam skala
logarithmic dengan nilai antara 0.2 sampai dengan 2000 Ohm Meter. Metoda
resistivity logging ini dilakukan karena pada hakekatnya batuan, fluida dan
hidrokarbon di dalam bumi memiliki nilai resistivitas tertentu.
Nilai resistivitas air garam dapat dibedakan dengan baik dari minyak dan
gas. Karena air garam memiliki nilai resistivitas yang sangat rendah, sedangkan
hidrokarbon (minyak-gas) memiliki nilai resistivitas yang sangat tinggi. Log
resistivitas banyak sekali membantu pekerjaan evaluasi formasi khususnya untuk
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 10

Laboratorium Hidrogeologi 2016

menganalisa apakah suatu reservoir mengandung air garam (wet) atau


mengandung hidrokarbon, sehingga log ini digunakan untuk menganalisis
Hidrocarbon-Water Contact.

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 11

Laboratorium Hidrogeologi 2016

BAB III. PEMBAHASAN


3.1. Persyaratan Teknis Desain Konstruksi Sumur
Perencanaan konstruksi sumur dilakukan setelah diketahui kondisi
geohodrologinya secara teliti berdasarkan hasil penyelidikan baik yang berupa
pemboran eksplorasi beserta pengujiannya maupun dari data log geofisika. Dari
perencanaan konstruksi sumur yang tepat diharapkan dapat memanfaatkan
airtanah secara optimumdalam waktu yang cukup lama.
3.1.1. Jenis Akuifer
Akuifer merupakan suatu batuan/formasi yang mempunyai kemampuan
menyimpan dan mengalirkan airtanah dengan jumlah yang berarti (significant).
Akuifer terbagi atas empat jenis yakni akuifer bebas, akuifer semi bebas, akuifer
semi tertekan, dan akuifer tertekan, dengan pengertian yang telah dijelaskan pada
bab sebelumnya. Pada desain konstruksi sumur, seringkali yang dibutuhkan
adalah jumlah air yang sangat banyak. Maka, agar tidak merusak lingkungan dan
merugikan masyarakat sekitar seperti terjadinya penurunan muka air tanah, maka
sumber air tanah haruslah berada pada akuifer tertekan
3.1.2. Penentuan Lubang Sumur
Sebelum dilakukan pemboran, maka terlebih dahulu haruslah menentukan
titik lubang sumur akan dibuat, untuk selanjutnya dilakukan metode metode
tertentu seperti metode geofisika untuk mengetahui kondisi geologi bawah
permukaan. Perlu juga dilakukan pumping test untuk mengetahui debit dari sumur
tersebut, apabila data debit sumur di dekitar lokasi tidak tersedia. Pemilihan lokasi
sumur yang baik memiliki beberapa pertimbangan antara lain tidak berdekatan
dengan wc, toilet, kamar mandi dan saluran air kotor agar tidak terjadi
kontaminasi saluran pembuangan dengan jaringan sumur air tanah. Dan jarak
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 12

Laboratorium Hidrogeologi 2016

yang tepat untuk memisahkan antara lubang sumur air yang akan dibuat dengan
area resapan toilet yang terdekat adalah minimal 5 meter jika tanah di sekitar
lokasi adalah tanah liat dan minimal 7,5 meter jika tanahnya berpasir.
3.1.3. Penentuan Panjang Screen
Secara umum untuk mendapatkan aitanah yang besar dengan memasang
screen pada seluruh lapisan akuifer yang diketemukan. Akan tetapi perlu pula
dipertimbangkan segi ekonominya karena pipa saringan tersebut relatif mahal
harganya sehiongga pemasangan saringan harus seoptimal mungkin. Pada desain
konstruksi sumur, screen memiliki panjang 4 meter, dan akan disesuaikan dengan
tebal akuifernya. Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam
menentukan panjang screen adalah:
1.

Luas lubang tiap satuan panjang screen.

2.

Karakter hidrolika akuifernya.

3.

Besarnya kapasitas pemompaan.

4.

Harga saringan.

5.

Umur sumur yang direncanakan.

Menurut Malton, 1970; untuk menghitung panjang saringan dengan rumus :

SL = panjang screen (feet)


Q = debit pemompaan (gpm)
Ao = luas lubang efektif dari saringan tiap feet panjang (ft2)
Vc = kecepatan aliran optimum
Dan hubungan kecepatan aliran optimum dengan kelulusan air dari akuifer
menurut Walton, 1970 adalah seperti pada table dibawah ini
Kelulusan Air
Akuifer (m/hari)

Kecepatan
Aliran Optimum (Vc)

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 13

Laboratorium Hidrogeologi 2016

(gpd/ft2)
>6000

(fpm)
12

6000

11

5000

10

4000

3000

2500

2000

1500

1000

500

<500

Tabel 3.1.3.1. Hubungan antara kecepatan aliran optimum dengan kelulusan air
dari akuifer (Walton, 1970)

Besarnya luas lubang efektif rata-rata tinggal 50% dari luas lubang yang
ada, hal ini disebabkan sebagian dari lubang saringan tertutup oleh material
akuifer atau kerikil pembalutnya. Rumus panjang saringan seperti tersebut di atas
tidak mutlak, menurut Johnson,1975 menyatakan bahwa panjang saringan
optimum mempunyai hubungan dengan ketebalan akuifer, draw down, jenis
akuifernya. Dalam hal ini dianjurkan sebagai berikut :
1.

Panjang saringan pada akuifer tertekan yang homogeny. Kira-kira 70%-80%

dari ketebalan akuifernya. Dengan panjang saringan tersebut di atas berartisudah


memperoleh kira-kira 90% atau lebih bila dibandingkan dengan pemasangan
saringan pada seluruh ketebalan akuifer. Penempatan saringan pada bagian tengah
akuifer atau disusun berselang-seling dengan pipa buta.
2.

Panjang saringan pada akuifer tertekan yang tidak homogen, sebaiknya

pemasangan saringan pada seluruh akuifer yang diketemukan.


3.

Panjang

saringan

pada

akuifer

bebas

yang

homogeny

perlu

mempertimbangkan kapasitas jenis yang besar diperoleh jika saringannya cukup


panjang dan jika drawdown yang akan diambil cukup dalam, maka saringan
cukup dipasang pendek saja. Kedua hal tersebut tergantung pada persediaan
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 14

Laboratorium Hidrogeologi 2016

saringan pompa yang akan dipasang dan pertimbangan ekonomi.pemasanagn


optimum jika dipasang pada bagian bawah akuifernya sepanjang sepertiga sampai
setengah panjang akuifer.
4.

Panjang saringan pada akuifer bebas yang tidak homogeny. Prinsip

pemasangannya seperti pada akuifer tertekan yang tidak homogeny, hanya


diletakkan pada posisi paling bawah dari akuifer bebas (setengah bebas) untuk
mendapatkan drawdown yang lebih dalam.
3.1.4. Penentuan Penempatan Pompa Submersible
Pompa submersible adalah jenis pompa air yang dirancang khusus karena
diletakkan didalam cairan dan mendorong cairan melalui pipa salurannya untuk
menuju ke permukaan. Penggunaan pompa ini lebih sering pada sebuah proyek
besar seperti industri maupun bangunan bangunan besar dan tinggi yang
memerlukan pasokan debit air berskala besar. Prinsip kerja pompa submersible
ialah dengan impeller yang diputar dengan kecepatan rotasi yang sangat tinggi
sehingga mengalami gaya sentrifugal. Karena pada dasarnya pompa ini juga
merupakan pompa sentrifugal multistage yang dioperasikan secara vertical.
Pompa submersible tidak memiliki spesifikasi daya hisap selayaknya
model pompa air permukaan, ia hanya memiliki kapasitas total head (meter) dan
power yang di ukur dengan satuan (pk) serta kapasitas debit air yang
menggunakan satuan liter per detik (l/sec). Pada desain konstruksi sumur, pompa
submersible diletakkan sedalam kurang-lebih 2 meter di bawah muka air tanah
terendah, atau muka air tanah saat terjadinya musim kemarau.
3.1.5. Penentuan Pemasangan Gravel Pack
Gravel Pack ada 2 macam yaitu kerikil pembalut alam dan kerikil
pembalut buatan. Pemakaian Gravel Pack sekeliling sumur untuk mendapatkan
aliran air dengan peralihan halus antara lubang saringan dengan akuifer.
Fungsinya yaitu untuk menahan material halus dari akuifer agar tidak masuk
kedalam lubang sumur untuk memperoleh tekanan minimum pada daerah
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 15

Laboratorium Hidrogeologi 2016

sekeliling saringan sumur dan sebagai material pendukung lubang bor agar
formasi batuan tidak runtuh dan menghimpit pipa instalansi sumur bor untuk
mendapatkan aliran tanah.
Gravel Pack terdiri atas material yang bersih dengan bentuk membulat,
keseragamannya rata dan materialnya silikaan, sedikit atau tanpa mengandung
gamping, maksimum gamping yang dijinkan 5 %, shale, anhidrit harus tidak ada.
Ketebalan kerikil pembalut dari percobaan ( Hill Mac Donald and partners dan
hunting technical service, 1965 ). Cukup 0,5 inci asal merata tetapi banyak ahli
yang menganjurkan antara 6 sampai 7 inchi. Sedanagkan johson , 1975. Antara 3
sampai 9 inchi. Ukuran kerikil pembalut menurut Terzanib( Johson, 1975 )
ditentukkan dengan hasil ayakan butiran akkuifer 15% atau D 15, sehingga
ukuran kerikil antara 4 atau 5 kali.
3.1.6. Penentuan Pemasangan Grouting
Grouting merupakan penyemanan pada sumur, yang bertujuan untuk
mempertahankan bentuk sumur agar tetap lurus dan tidak terjadi longsor.
Grouting dilakukan menggunakan material seperti semen Portland. Grouting
dilakukan pada bagian lapisan lapisan yang tidak akan diambil air tanahnya,
baik karena bukan merupakan akuifer, maupun karena lapisan tersebut tidak
cukup ekonomis.

3.2. Daftar Harga Peralatan


Berikut adalah tabel daftar harga material dan peralatan desain konstruksi sumur

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 16

Laboratorium Hidrogeologi 2016

3.3. Perhitungan Anggaran Biaya

Berikut adalah penjabaran anggaran biaya yang dibutuhkan untuk


pembuatan sumur berdasarkan desain konstruksi sumur yang telah direncanakan
1. Pipa Jambang
Panjang pipa jambang 37,8 m
Harga/m : Rp 650.000,Harga total : 37,8 m x Rp 290.000,- = Rp 24.570.000,2. Reducer

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 17

Laboratorium Hidrogeologi 2016

Yang dibutuhkan satu buah


Harga per satuan : Rp 900.000,Harga total : Rp 900.000,3. Pipa black stell
Panjang pipa total : 55,7 m
Harga/m: Rp 550.000,Harga total : 55,7m x Rp 550.000,- = Rp 30.635.000,4. Pipa saringan / Screen
Panjang screen 4 m per buah.
Harga per satuan : Rp 1.200.000,Harga total : 4 x Rp 1.200.000,- =Rp 21.600.000,5. Bottom cup
Yang dibutuhkan satu buah
Harga per satuan : Rp 400.000,Harga Total : Rp 400.000,6. Filter Pack
D1 = 10= 0,254 m. r = 0,127m
D2 = 8 = 0,212 m. r = 0,1015m
D3 = 12 = 0,3048 m. r = 0,1524m
D4 = 13 = 0,3302m. r = 0,17m
V = V1 V2
Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 18

Laboratorium Hidrogeologi 2016

= {3,14 x (0,127)2 x 72} {3,14 x (0,1015)2 x 72}


= 3,62 2,33
= 1,29m3 (Yang dibutuhkan)
Harga per m3 : Rp. 400.500,Harga total : 1,29m3 x Rp. 400.500,- = Rp 516.645,7. Growting
Pada pipa jambang
V = V1 V2
= {3,14 x (0,1524)2 x 37,3} {3,14 x (0,127)2 x 37,3}
= 0,83 0,88
= 1,71m3 (Yang dibutuhkan)
Harga per m3 : Rp. 690.000,Harga total : 1,71m3 x Rp. 450.000,- = Rp 774.000,Pada pipa black steel
V = V1 V2
= {3,14 x (0,127)2 x 37,3} {3,14 x (0,1015)2 x 37,3}
= 1,89 1,21
= 0,0,68m3 (Yang dibutuhkan)
Harga per m3 : Rp. 450.000,Harga total : 0,68m3 x Rp. 450.000,-= Rp 306.000,Harga total keseluruhan = Rp 774.000,- + Rp 306.000,- = Rp. 1.080.000,Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 19

Laboratorium Hidrogeologi 2016

8. Pipa Coloumn
Yang dibutuhkan : 27m
Harga/m : Rp 300.000,Harga total : 27m x Rp 300.000,- = Rp 8.100.000,9. Pompa Submersible
Yang dibutuhkan satu buah
Harga per satuan : Rp 88.000.000,Harga total : Rp 88.000.000,10. Lempung penyekat
V = V1 V2
= {3,14 x (0,127)2 x 8} {3,14 x (0,1015)2 x 8}
= 0,41 0,26
= 0,15m3 (Yang dibutuhkan)
Harga / m3 : Rp. 400.000,Harga total : 0,15m3 x Rp. 400.000,- = Rp 60.000,11. Cor beton
V = V1 V2
= {3,14 x (0,17)2 x 1} {3,14 x (0,127)2 x 1}
= 0,05 0,05
= 0,04m3 (Yang dibutuhkan)
Harga / m3 : Rp. 690.000,Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 20

Laboratorium Hidrogeologi 2016

Harga total : 0,04m3 x Rp. 690.000,- = Rp 27.600,-

Jadi total yang dibutuhkan untuk rekonstruksi sumur


1. Pipa Jambang

Rp 24.570.000,-

2. Reducer

Rp 900.000,-

3. Pipa black stell

Rp 30.635.000,-

4. Pipa saringan / Screen

Rp 21.600.000,-

5. Bottom cup

Rp 400.000,-

6. Filter Pack

Rp 516.645,-

7. Growting

Rp. 1.080.000,-

8. Pipa Coloumn

Rp 8.100.000,-

9. Pompa Submersible Rp 88.000.000,10. Lempung penyekat

Rp 60.000,-

11. Cor beton

Rp 27.600,-

Dengan total biaya sebesar Rp 175.889.245,-

BAB IV. KESIMPULAN


Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah
NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 21

Laboratorium Hidrogeologi 2016

Air merupakan kebutuhan pokok manusia, baik masyarakat maupun


industri swasta, yang mana membutuhkan air dengan jumlah yang sangat besar.
Untuk memenuhi hal itu, dibutuhkan desain konstruksi sumur yang tepat sehingga
air tanah dapat dimanfaatkan secara optimal dengan jangka waktu yang panjang,
menghindari kerusakan lingkungan, kerugian masyarakat, serta dengan biaya
seefisien mungkin.
Penentuan lubang sumur harus ditentukan, dan keadaan geologi bawah
permukaan harus diketahu dengan metode metode geofisika seperti log gamma
ray, beda potensial, dan resistivity. Akuifer yang digunakan adalah akuifer
tertekan. Setelah mengetahui kondisinya, maka perlu ditentukan desain konstruksi
yang tepat, seperti penentuan panjang pipa sesuai kedalaman, panjang screen,
gravel pack, penempatan sumur submersible, grouting, dll. Sehingga biaya yang
dikeluarkan untuk material dapat efisien. Pada perhitungan biaya konstruksi,
didapatkan total biaya yang harus dikeluarkan sesuai desai konstruksi sumur
adalah sebesar Rp 175.889.245,-.

Nama :Muhammad Ryan Hidayatullah


NIM : 111.140.137
Plug : 2

Page 22