Anda di halaman 1dari 23

SKENARIO

KELAINAN PADA LIDAH


Oleh: Ayu Mashartini, drg., Sp.PM
Seorang laki-laki berusia 20 tahun datang ke RSGM FKG Universitas
Jember dengan keluhan rasa pedih pada lidah. Berdasarkan anamnesis, keluhan
tersebut diperparah saat pasien makan makanan berbumbu tajam dan minum
minuman bersoda, belum pernah diobati oleh pasien sejak keluhan tersebut
timbul. Sebelumnya pasien pernah mengalami keluhan serupa dan membiarkan
saja hingga sembuh dengan sendirinya. Pemeriksaan klinis pada lidah dijumpai
depapilasi multiple berbentuk sirkuler dengan peninggian pada tepinya berwarna
putih kekuningan. Pada bagian anterior lidah dijumpai fisura, multiple, panjang
kurang lebih 3 cm, kedalaman kurang lebih 6 mm disertai eritema.
Berdasarkan riwayat kesehatan, pasien 2 bulan sebelumnya pernah ke
dokter gigi untuk memeriksakan lidahnya karena keluhan tidak nyaman pada
bagian belakang lidah karena adanya kemerahan dan beberapa benjolan. Menurut
dokter gigi benjolan tersebut tidak dapat hilang dan sudah ada sejak kecil, hanya
pasien tidak menyadari sebelumnya. Pemeriksaan klinis pada saat itu dijumpai
eritema pada bagian sentral disertai permukaan yang berlobus di daerah posterior
lidah.

STEP 1
Clarifiying Unfamiliar Term
1. Depapilasi Multipel
Arti kata De adalah suatu penurunan, Papilasi Jumlah Papila

dapat di katakan Depapilasi adalah Penurunan Jumlah Papila


Depapilasi adalah penurunan pada papila lidah desertai peninggian

dan ditandai bercak putih disekitarnya


2. Berbentuk Sirkuler
Dari kata Circle, bentukan bulat yang multiple, lebih dari satu dan
letaknya bisa menjalar, diarea tengah dorsum lidah hingga posterior
lidah.
STEP 2
Problem Definition
1. Mengapa keluhan pasien diperparah saat makan makan berbumbu tajam
dan minum minuman bersoda ?
2. Mengapa pada pemeriksaan klinis ditemukan eritema pada bagian sentral
disertai permukaan yang berlobus di posterior lidah?
3. Mengapa beberapa benjolan hanya ditemukan di posterior, bisakah di
anterior?
4. Mengapa benjolan tidak dapat hilang? Dan bagaimana bisa sudah ada
sejak kecil?
5. Mengapa ditemukan depapilasi multipel berbentuk sirkuler dengan
peninggian, dan pada tepinya berwarna putih kekuningan?

STEP 3
Brainstorming

1. Keluhan pasien diperparah saat makan makan berbumbu tajam dan minum
minuman bersoda dikarenakan
Pada lidah terdapat inflamasi atau infeksi karena banyak sisa
makanan yang terjebak dalam fisur dan membusuk, maka akan
menimbulkan gejala rasa sakit. Disamping itu keadaan lidah yang
struktur lapisannya menipis mengenai nosireseptor (saraf yang ada
pada

lidah)

apabila

sesuatu

masuk

mengenai

lidah

akanmenyebabkan rangsangan nyeri


2. Pada pemeriksaan klinis ditemukan eritema pada bagian sentral disertai
permukaan yang berlobus di posterior lidah dikarenakan
hilangnya papilla lidah, sehingga dihasilkan lidah yang gundul
dan berlobus, kemudian gerakan lidah keika melakukan kegiatan
seperti makan maupun berbicara mengakibatkan adanya gesekan
yang secara terus menerus menjadi eritema
3. Beberapa benjolan hanya ditemukan di posterior, bisakah di anterior
dikarenakan
Bisa, alasannya apabila kita melakukan proses pengunyahan tidak
hanya lidah bagian anterior saja yang berperan, itu artinya dari
anterior dapat menjalar ke posterior lidah
4. Benjolan tidak dapat hilang dikarenakan
Adanya faktor herediter, karena didalam skenario benjolan muncul
sejak kecil dan tidak sakit. Saat terjadi inflamasi benjolan menjadi
membesar dan adanya kemerahan
5. Ditemukan depapilasi multipel berbentuk sirkuler dengan peninggian, dan
pada tepinya berwarna putih kekuningan dikarenakan
Pada bagian lidah terutama pada bagian sedikit ke anterior
dominan yang menyebar adalah papila filiformis yang memiliki
struktur tipis, sehingga mudah teriritasi dan menyebabkan
depapilasi. Dan juga pada bagian anterior itu umumnya sering
menyentuh makanan terlebih dahulu baru menjalar ke posterior.
STEP 4
Analysing the Problem

LIDAH

Faktor Predisposisi

Depapilasi Multiple

Etiologi

Eritema

Fissure

Normal
Kelainan

Macam macam
Macam macam

Pengertian

Pemeriksaan

Pengertian

STEP 5
Learning Objective
1. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji definisi serta proses
terjadinya fisura, eritema dan depapilasi

2. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji histopatologis dari fisura,


eritema dan depapilasi
3. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji etiologi dan faktor
predisposisi kelainan lidah
4. Mahasiswa mampu memahami dan mengkaji macam-macam kelainan
lidah secara normal dan patologis
STEP 6
Self Study
STEP 7
Reporting / Generalisation
Learning Objective 1 : Mahasiswa Mampu Mengetahui Dan Memahami
Definisi serta Proses Terjadinya Fisura, Eritema dan Depapilasi
Eritema multiforme digambarkan oleh Ferdinand von Hebra pada tahun 1866
sebagai penyakit kulit akut yang bersifat self-limited. Erythema multiformis
dianggap sebaga syndrom hipersensitivitas Eritema Multoforme terjadi karena
adanya peningkatan kadar kompleks antigen-antibodi (imun) yang menyebabkan
vaskulitis.

Erythema multiformis adalah suatu jenis reaksi kulit yang secara

histologis ditandai mula mula adanya infiltrat limfohistiositik pada batas antara
dermis dan epidermis, dan kemudian dengan adanya vesikulasi sub-epidermis.
Eritema multiforme merupakan hasil dari T-cell mediated immune
reactions sebagai agen pencetus terjadinya cytotoxic immunological attack pada
keratinosit yang mengekpresikan non-self antigen yang kemudian akan terjadi
vesikulasi subepitelial dan intraepitelial dan akhirnya terjadilah blister dan erosi
yang meluas (Scully,2007).
Klasifikasi
Eritema multiforme minor

Terjadi pada kira-kira 80% kasus. Secara klinis lesi berbentuk makular,
papular, atau urtikarial, serta iris klasik atau lesi target, yang tersebar di distal
ekstremitas.
Eritema multiforme major
Merupakan bentuk penyakit yang lebih parah dengan lesi target yang lebih
besar dengan keterlibatan membran mukosa. Onset biasanya tiba-tiba, meskipun
kemungkinan karena adanya masa prodromal selama 1-13 hari sebelum erupsi
muncul.
Faktor Predisposisi
a)

Infeksi virus

Herpes simpleks

Mumps

b) Infeksi bakteri

Rickettsia

c)

Infeksi jamur

Histoplasmosis

Vaksinasi

d) reaksi obat
Pemakaian obat-obatan juga dapat memicu terjadinya EM, penelitian
melaporkan 59% terjadinya Eritema multiformal oleh karena hal ini. Peningkatan
yang tajam terjadi karena penggunaan cephalosporin. Hal ini dipicu oleh
metabolit obat-obatan reaktif dan adanya peningkatan apoptosis keratinosit oleh
karena peningkatan TNF- yang dirilis oleh keratinosit, makrofag dan monosit
menyebabkan kerusakan jaringan. Penyebab EM lainnya adalah penggunaan
phenytoin dan pemberian terapi radiasi kranial (Scully, 2007).

Learning Objective 2 : Mahasiswa Mampu Mengetahui Dan Memahami


histopatologis dari fisura, eritema dan depapilasi

a. Fisura
Fissure Tongue merupakan celah pada permukaan dorsum 2/3 anterior
lidah.Pada umumnya fissure tongue tidak menunjukkan gejala, namun
terkadang makanan terjebak dalam celah yang nantinya bakteri akan
berkembang kemudian memicu terjadinya inflamasi dan bau tidak sedap.
Histopatologi fisura lidah menunjukan adanya gambaran
1.
2.
3.
4.

Hilangnya papila filiformis dari permukaan mukosa


Pembentukan mikroabses neutrofil dengan epithel
Hiperplasia rete peg dan meningkatnya ketebalan lamina propria
Infiltrasi sel inflamatori campuran di dalam connective tissue fibroma

b. Depapilasi dan eritema


Pada atrofi lidah didapat gambaran dimana lidah tampak berwarna merah
dari biasanya, perubahan warna pada lidah disebabkan oleh variasi ujung
kapiler dibawahnya dan kepadatan lapisan lidah yang bbiasanya tergantung
pada panjang papila filiformis yang dominan. Secara histopatologi, daerah
yang semula pada dorsum lidah diliputi papila yang bermacam macam
bentuknya akan menjadi daerah yang mengalami atrofi akan terlihat seperti
daerah radang (glositis) karena berwarna merah daging dan sedikit cekung.
Secara mikroskopis pada daerah ini ditemukan degenerasi sel epitel atau atrofi
papila dan deskuamasi keratin serta serbukan sel radang terutama limfosit dan
sel plasma pada jaringan ikat subepitel. Kadang-kadang tampak sel radang akut
atau sel polimorfonuklear bermigrasi ke lapisan permukaan epitel.
Jika atrofi papila terjadi, p. filiformis atrofi lebih dahulu baru p. fungiformis.
Jika kondisi ini tidak terlalu lama maka akan dapt regenerasi lagi. Mula-mula
p. fungiformis kemudian diikuti p. filiformis.P. foliata dan p. circumvallata
tidak terlibat. Mekanisme atrofi papila dijelaskan oleh Waldenstrom dkk.
Perubahan atrofi merupaka akibat dari defisiensi satu atau lebih sistem ensim
oksidase. Kekurangan besi atau ketidak mampuan menggunakan besi akan
mengganggu ensim sitokhrom. Ariboflavinosis atau defisiensi nicotinic acid
akan menghambat sistem ensim flavine dan pyridine.

Gambaran histologi lidah normal

c.
c.
Geographic tongue
Secara histologi, ini ditandai dengan hilangnyapapilla filiformis yang
menyebabkan permukaan mukosa menjadi pipih dengan retepeg tidak
beraturan. Garis melingkar putih menunjukkan hyperkeratosis periferal
danakantosis.

Area

kemerahan

tengah

menujukkan

deskuamasi

parakeratin daneksositosis polymorphonuclear leukosit dan limfosit dalam


epitel, degenerasi selepitel, dan pembentukan mikroabses dekat permukaan.
8

Terdapat penipisan supra-papillary. Campuran infiltasi radang limfosit, sel


plasma, dan neutrofil terlihat padajarigan ikat dibawahnya.

Gambar 1 histologi geographic tongue

Gambar 2 histologi geographic tongue

Gambar 3

histologi
geographic tongue

d. Median rhomboid glossitis


Median rhomboid glossitis dikenal juga sebagai central papillary atrophy
dan posterior midline atrophic candidiasis adalah jenis eritematosa kandidiasis
unik pada posterior garis tengah lidah. Hal ini terjadi sebanyak 1% pada orang
dewasa.
Kondisi ini pernah dianggap mewakili cacat perkembangan. Lidah pada
masa embrio terbentuk ketika proses lateral yang bertemu di garis tengah dan
penggabungan tuberculum impar. Di beberapa kasus, titik posterior dorsal
terjadi fusi abnormal, sehingga pengembangan menjadi daerah halus,
eritematosa mukosa karena kurangnya papila. daerah ini lebih rentan terhadap
kandidiasis atrofi kronis yang berulang.Namun, sebagian besar penulis tidak
setuju tehadap teori embriogenesis. Sebaliknya, mereka percaya bahwa median
rhomboid glossitis berhubungan dengan suatu infeksi Candida albicans, yang
merupakan organisme jamur yang paling umum dari rongga mulut.
Kandidiasis adalah kejadian yang sangat umum. C albicans adalah
komponen dari flora mulut pada sampai dengan 50% dari populasi; sebagian
besar orang-orang ini tidak menunjukkan bukti klinis penyakit. Gejala
kandidiasis dikaitkan dengan berbagai kondisi, termasuk kekurangan gizi,
diabetes, xerostomia, dan adanya gangguan

atau menurunnya daya tahan

tubuh. Kandidiasis mempunyai gejala yang dapat terjadi pada orang sehat yang

10

tidak memiliki faktor predisposisi. Pria lebih sering terkena daripada wanita (3:
1), dan orang dewasa lebih sering daripada anak-anak.
Secara klinis, median rhomboid glossitis bermanifestasi sebagai area
eritematosa yang terletak sepanjang dorsal lidah garis tengah posterior hanya
bagian anterior dari papila sirkumvalata .
Daerah ini merupakan zona atrofi filiform papila. Bentuk rhomboid yang
biasanya "poin" dari arah anteroposterior. Selain itu, tidak jarang di median
rhomboid glossitis memiliki "kissing lesion" atau daerah kekasaran, paling
sering di daerah langit-langit palatum keras dan lunak di mana lidah umumnya
terletak ke langit-langit.
Figure

2.

Remarkable

pseudoepitheliomatous
hyperplasia
squamous
seen

of

the

epithelium

is

on

intermediate

magnification.
Parakeratosis

is

noted,

and mixed inflammation is


predominant in the stroma
of this H&E-stained material.
Papila fungiform dan filiform menghilang. organisme candida umumnya
diidentifikasi pada pewarnaan hematoxylin konvensional dan eosin (H & E).
Namun, untuk melihat dinding jamur , pewarnaan dengan periodik acid-Schiff
(PAS) atau Gomori methenamine silver (GMS). hifa berbentuk tubular,
panjang bervariasi, dan menunjukkan percabangan.

11

Figure 3. Candida fungal hyphae are seen in median rhomboid glossitis. The
organisms (arrows)can be seen on an H&E-stained section (A) (original
magnification 300), but they are usuallyeasier to identify with PAS/light green
(B) or another fungal stain.
Learning Objective 3 : Mahasiswa Mampu Mengetahui Dan Memahami
etiologi dan faktor predisposisi kelainan lidah
Ada banyak kondisi yang dijumpai pada lidah yang termasuk kedalam
istilah anomali lidah. Beberapa diantaranya tidak menunjukkan gambaran klinis
yang signifikan meskipun cukup sering terjadi. Akibatnya sering dianggap sebagai
suatu variasi yang normal. Beberapa kelainan yang lain menunjukkan kondisi
klinis yang jelas pada lidah, dan pada beberapa kasus dapat membantu untuk
menentukan sejumlah kelainan akibat faktor genetik. Anomali lidah yang
dijumpai juga bisa membuktikan bahwa kelainan lidah dapat disebabkan oleh
kelainan perkembangan.
Lidah bukan hanya tempat bagi lesi lokal, tetapi juga merupakan cerminan
dari keberadaan beberapa penyakit sistemik. Lesi lokal dapat dikelompokkan
sebagai congenital atau developmental (fissured tongue, lingual thyroid,
lymphangioma, hemangioma, dll), traumatik (traumatic ulser, neuroma dll),

12

infeksi (herpes simplex infections, apthous ulcers, candidiasis, dll), neoplastik


(papilloma, lipoma, squamous cell carcinoma, dll) atau idiopatik (hairy tongue,
geographic tongue, dll). Sedangkan lesi mulut yang berasal dari kondisi sistemik
dapat dikelompokkan menjadi lesi yang berkaitan dengan infeksi sistemik
(siphilis, tuberculosis, dll), blood dyscrasias (anemia,leukemia), penyakit
metabolik (diabetes mellitus, defisiensi vitamin B, dll) dan gangguan immunologi
(pemphigus, erythema multiform, lichen planus, dll).
Etiologi Kelainan Lidah
1. Genetik
Telah diyakini bahwa factor genetic merupakan factor etiologi
primer sedangkan factor lain merupakn factor etiologi sekunder. Separuh
dari kasus geographic tongue dapat dikaitkan dengan factor keturunan atau
herediter yang mempunyai latar belakang geographic tongue , yang akan
diturunkan pada generasi generasi berikutnya dengan factor pencetus
adanya kondisi sistemik tertentu (Syafitri,2002)
2. Defisiensi Nutrisi
Zat besi merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Jika zat besi
berkurang maka sintesa hemoglobin juga berkurang dan akhirnya kadar
hemoglobin akan menurun. Hemoglobin adalah unsur yang sangat vital.
Hemoglobin berperan penting untuk mengangkt oksigen dan respirasi sel.
Apabila Fisiologi dari hemoglobin terganggu maka dapat menyebabkan
kerusakan sel yang awalnya ditandai dengan hilangnya fosfolipid dinding
sel, perubahan permeabilitas dan kerusakan dinding sel. Hal tersebut dapat
mempermudah terjadinya infeksi
3. Psikologi
Banyak peneliti yang mencoba menghubungkan geographic
tongue dengan keadaan psikosomatik penderita. Menurut Redman et al.,
(1972) mengungkapkan lesi ini sering ditemukan pada penderita yang
dalam keadaan stress, gugup dan tempramen emosional.
Pelajar yang menderita
geographic tongue

memiliki

kecenderungan untuk mengalami lesi yang lebih parah apabila mereka


sedang dalam kondisi stress emosional daripada mereka dalam keadaan

13

tenang. Diantara oenderita psikiatri terdapat prevalensi geographic tongue


enam kali lebih tinggi pada mereka yang menderita gangguan jiwa
daripada pelajar (Pinborg, 1994).
4. Atopi
Geographic tongue merupakan suatu kondisi inflamasi rekuren
yang dikarakteristikkan cenderung mudah teriritasi oleh kontak dengan
iritan dari lingkungan luar seperti panas, makanan,asam dan lain-lain.
Menurut Regezzi et al(1999) terjadi peningktan prevalensi geographic
tongue pada pasien atopy yang mempunyai asma dan rhinitis dimana ada
pengaruh dari factor antigen HLA_15.
Predisposisi pada Geographic Tongue
Geographic tongue merupakan perubahan spesifik pada mukosa lingua.
Lesi ini jarang mengenai mukosa labial, bukal atau palatal.11Pada dasarnya
etiologi dari Geographic tongue belum diketahui secara pasti. Berbagai faktor
telah diajukan oleh para peneliti untuk menjelaskan faktor penyebab dari kondisi
ini walaupun dapat dikatakan bahwa hal ini belum jelas kepastiannya.
Faktor-faktor tersebut antara lain :
Genetik
Menurut Prinz dan Baum (1939), separuh dari kasus Geographic
tongue yang terjadi dapat dikaitkan dengan faktor keturunan atau herediter
yang mempunyai latar belakang Geographic tongue, yang kemudian akan
diturunkan pada generasi-generasi berikutnya dengan faktor pencetus
adanya kondisi sistemik tertentu.
Defisiensi Nutrisi
Faktor defisiensi nutrisi juga dapat menjadi salah satu faktor
penyebab dari kondisi ini. Defisiensi zat besi, asam folat dan vitamin B12
dapat mengakibatkan depapilasi lingua dan kondisi ulseratif.
Psikosomatik
Banyak peneliti yang mencoba menghubungkan Geographic
tongue dengan keadaan psikosomatik penderita, dimana lesi ini sering
14

ditemukan pada penderita yang dalam keadaan stress, gugup dan


temperamen

emosional.

Keadaan

psikis

yang

seperti

ini

dapat

menimbulkan perubahan pada tubuh dan organ-organ visceral sehingga


fungsi normal sel-sel tubuh mudah terganggu sebagai akibat dari
kecemasan ataupun stress emosional yang berlangsung lama. Salah satu
literatur menyatakan bahwa pelajar yang menderita Geographic tongue
memiliki kecenderungan untuk mengalami lesi yang lebih parah apabila
mereka sedang dalam kondisi stress emosional daripada bila mereka dalam
keadaan

tenang.

Diantara

penderita

psikiatri

terdapat

prevalensi

Geographic tongue 6 kali lebih tinggi pada mereka yang menderita


gangguan jiwa daripada diantara pelajar.
Hormonal
Lesi ini dapat muncul pada awal menstruasi atau lebih jelas pada
masa menstruasi. Hal ini dikaitkan dengan adanya perubahan hormonal.
Atopy
Geographic tongue merupakan suatu kondisi inflamasi rekuren
yangdikarakteristikkan cenderung mudah teriritasi oleh kontak dengan
iritan dari lingkungan luar seperti panas, makanan, asam dan lain-lain.
Asma dan rhinitis terbagi kedalam dua bentuk yaitu ekstrinsik dan
intrinsik dan cenderung bahwa asma ekstrinsik dan rhinitis ekstrinsik
terjadi pada orang yang atopy sedangkan asma intrinsic dan rhinitis
intrinsic terjadi pada orang yang non atopy. Burkett telah menyatakan
bahwa individu dengan latar belakang atopy tampaknya lebih sering
menunjukkan manifestasi kondisi ini. Meskipun demikian, Geographic
tongue merupakan suatu tanda umum dalam rongga mulut pada pasien
asma dan rhinitis, tidak masalah atopy atau tidak.
Psoriasis dan Penyakit Reiters
Lesi Geographic tongue digambarkan berhubungan dengan
penyakit kulit tertentu seperti psoriasis dan penyakit Reiters. dimana
dinyatakan bahwa Geographic tongue merupakan salah satu manifestasi di
rongga mulut yang terjadi pada penderita dengan psoriasis kulit dan
15

penyakit Reiters, karena ditemukannya gambaran histopatologis yang


sama. Beberapa penulis mengelompokkan psoriasis, penyakit Reiters,
Geographic tongue dan geographic stomatitis kedalam suatu kelompok
yang disebut lesi oral psoriasis.
Infeksi Jamur dan Bakteri
Beberapa literatur mengaitkan kemungkinan adanya kaitan infeksi
jamur dan bakteri dengan terjadinya Geographic tongue.
Fissure Tongue
Geographic tongue sering muncul bersamaan dengan Fissure
tongue yang dinyatakan mempunyai hubungan klinis yang positif.
Menurut perkiraan, 50% dari penderita Geographic tongue juga memiliki
Fissure tongue. Bentuk lidah ini terlihat merupakan suatu kelainan
herediter dan genetic yang saling berhubungan satu sama lain. Menurut
Kulla-Mikkonen (1986), Geographic tongue dapat merupakan pengaruh
dari Fissure tongue. Hal ini mungkin terjadi akibat iritasi dari
mikroorganisme yang tersembunyi di dalam Fissure.
Ibu Hamil dan Menyusui
Sebuah hasil studi di skotlandia menemukan bahwa pada ibu hamil
maupun ibu yang sedang menyusui akan meningkatkan resiko terjadinya
Geographic tongue. Hal ini diyakini berkaitan dengan kebutuhan nutrisi
dan zat besi yang ekstra pada ibu hamil maupun menyusui. Saat ibu hamil
kebutuhan nutrisi akan menjadi 2 kali lipat lebih banyak, dan sama halnya
pada ibu yang menyusui.
Alergi
Kata alergi dapat digunakan untuk mendefinisikan reaksi imun
spesifik terhadap satu atau lebih zat atau bahan penyebab alergi. Alergi
tipe IV menurut Gawkroder pada tahun 2005 merupakan jenis alergi yang
paling sering mucul diwilayah orofasial.
Geographic tongue diyakini juga bisa muncul sebagai efek alergi terhadap bahan
mercuri dan emas. Seperti yang kita ketahui kedua jenis bahan ini lazim dijumpai
di dunia kedokteran gigi pada masa lampau maupun sekarang.
16

Learning Objective 4 : Mahasiswa Mampu Mengetahui Dan Memahami


macam-macam kelainan lidah secara normal dan patologis
1. Anomali perkembangan lidah
a. Ankyloglossia / tongue tie
Ankyloglossia disebabkan karena frenulum linguae yang pendek.
True tongue tie merupakan anomali yang jarang terjadi, biasanya yang
sering terjadi hanya pemendekan frenulum yang ringan atau sedang. Jika
keadaan ini mengganggu proses bicara, bisa dilakukan tindakan bedah
untuk memperbaikinya.
b. Bifid tongue / cleft tongue
Merupakan kelainan yang jarang terjadi, biasanya bifid terjadi pada
ujung lidah yang disebabkan tidak sempurnanya fusi kedus bagian lidah.
c. Fissured tongue / Scrotal tongue / Grooved tongue
Merupakan kelainan yang paling sering dijumpai. Pola fisur sangat
bervariasi, dari pola yang tidak beraturan, atau simetris seperti tulang
daun. Juga jumlah dan kedalaman fisur bervariasi. Biasanya tanpa gejala,
tetapi jika terdapat inflamasi atau infeksi karena banyak sisa makanan
yang terjebak dalam fisur dan membusuk, maka akan menimbulkan gejala
rasa sakit dan pasien baru menyadari keberadaan fisured tongue tersebut
d. Median rhomboid glossitis ( MRG )
Kelainan terletak ditengah sebelah anterior dari inverted V shaped
dari papila circumvallata berbentuk diamond atau rhomboid. Pada area ini
terjadi depapilasi, agak meninggi, kadang berlobus.
e. Makroglossia
Makroglossia merupakan kelainan lidah dimana ukuran lidah lebih
besar dari normal. True makroglossia karena genetik jarang ditemui. Yang
sering dijumpai adalah makroglossia karena cretinism dan mongolism
serta pada amylod disease general atau localized. Pembesaran lidah juga
dapat terjadi karena hemangioma atau lymphangioma. Lidah yang besar

17

pada masa kanak-kanak akan menimbulkan problem pada pertumbuhan


rahang dan oklusi gigi. Perawatan tergantung pada penyebabnya.
f. Mikroglossia
Merupakan kelainan yang jarang dijumpai, dimana ukuran lidah
lebih kecil dari normal
g. Aberrant thyroid gland
Kelenjar thyroid mengalami aberrasi , berkembang dibagian
anterior dari inverted V shaped dari papila circumvallata
h. Thyroglossal duct cyst
Merupakan kista yang berkembang pada bagian lingual dari duktus
thyroglossus.
2. Glossopyrosis glossodynia
Painfull burning tongue (PBT) merupakan simptom yang sangat
membingungkan baik pasien maupun dokter/dokter gigi yang memeriksa. Pada
garis besarnya ada 2 macam katagori yaitu pada pemeriksaan klinis terdapat
observable changes atau non observable changes pada lidah.
a. Observable clnical changes
Sebanyak 25 % dari pasien yang mempunyai keluhan ini
merupakan katagori observable changes disebabkan karena tongue
coating. Ini penyebabnya karena faktor lokal maupun sistemik. Perubahan
pada lidah dapat disebabkan karena bermacammacam kelainan sistemik.
Yang paling sering adalah karena defisiensi vitamin B kompleks( def
nicotinic acid pellagra ), anemia pemiciosa, anemaia defisiensi besi,
diabetes, defisiensi oestrogen, atau yang jarang terjadi adalah. Sindroma
Sjogren's. Faktor lokal berupa iritasi, termasuk disini adalah tongue habits,
posisi gigi mandibula yang tak teratur biasanya terdapat banyak kalkulus,
protesa, alat ortodonsi, obatobatan, pasta gigi dan kosmetik. Lokasi dan
distribusi lesi iritatif serta perubahan atrofi meruapakan faktor penting
untuk menentukan faktor penyebabnya.
Jika pada simptom PBT ini pada lidah terdapat perubahan
menyeluruh, baik warna, atrofi papila pada dorsum lidah maka

18

kemungkinan besar penyebabnya adalah faktor sistemik. Pada beberapa


kasus perubahan warna dan distribusi kelaian dapat membantu determinasi
penyebabnya. Pada anemia perniciosa ujung dan pinggir lidah benvarna
merah menyala dan sakit. Pada defisiensi vitamin B kompleks atrofi papila
lidah lebih ekstensif dan menyeluruh, lidah berwarna merah menyala atau
merah keunguan, pada pinggir lateral terdapat ulkus erosi karena gigi.
Pada defisiensi oestrogen gejalanya hampir sama seperti defisiensi
vitaminB kompleks yang ringan.
Pasien dengan diabetes ringan yang belum terdiagnose sering
mengeluhkan rasa burning pada lidah dan mukosa, biasanya lidah
berwarna merah daging. Anemia defisiensi besi juga menyebabkan sensasi
burning pada lidah dan atrofi menyeluruh papila, coating, tonus lidah turun
serta pucat.
b. Non Observable clinical changes
Hampir 75 % pasien memeriksakan diri karena keluhan ini. Sering
terjadi pada kehidupan dekade 4 sampai 7 dan kebanyakan adalah wanita
pada usia menopause. Manifestasi rasa sakit mungkin merupakan simptom
dari sesuatu yang dipendam di alam bawah sadamya, biasanya disertai
dengan keluhan sulit tidur, dan gangguan pencecapan. Beberapa
mempunyai problem dalam perkawinan dan kehidupan seks yang kurang
baik. Biasanya mereka mempunyai ketakutan yang individual. Klinisi
hams ingat bahwa lidah diduga merupakan tempat yang sering terkena
kanker.
3. Tongue coating
Evaluasi tongue coating ( TC ) sangat erat hubungannya dengan
pemeriksaan tubuh keseluruhan. Dapat dipercaya bahwa penampilan lidah
mencerminkan status kesehatan dan saluran pencernaan. Keadaan yang
memperparah TC adalah sewaktu bangun tidur, puasa dan diet lunak. TC
mengindikasikan adanya ke tidak beresan fisiologi oral.
Atrofi papila

19

Jika atrofi papila terjadi, p. filiformis atrofi lebih dahulu baru p.


fungiformis. Jika kondisi ini tidak terlalu lama maka akan dapt regenerasi lagi.
Mula-mula p. fungiformis kemudian diikuti p. filiformis.P. foliata dan p.
circumvallata tidak terlibat. Mekanisme atrofi papila dijelaskan oleh Waldenstrom
dkk. Perubahan atrofi merupaka akibat dari defisiensi satu atau lebih sistem ensim
oksidase. Kekurangan besi atau ketidak mampuan menggunakan besi akan
mengganggu ensim sitokhrom. Ariboflavinosis atau defisiensi nicotinic acid akan
menghambat sistem ensim flavine dan pyridine.
Pada anemia defisiensi besi pinggir lidah merah kemudian papila
mengalami atrofi, warna lidah menjadi lebih pucat. Lidah mengalami atrofi dan
berwama merah magentaterjadi pada defisiensi riboflavin. Atrofi lidah berwarna
merah terang diduga terdapat hiponutrisi nicotinic acid atau pellagra. Atrofi papila
pada TC juga dapat terjadi pada sprue, anemia perniciosa. Atrofik glossitis dapat
dijumpai pada khronik alkoholisme dan sindroma Plummer-Vinson.
Keparahan tongue coating.
Komposisi coating pada dorsal lidah terdiri dari papila dengan keratinisasi
yang mengalami deskuamasi, sedikit partikel food debries dan mikroorganisme
yangterdapat pada papila atau diantara p. filiformis, papila ini selanjutnya
mengalami atau tidak mengalami elongasi. Keparahan TC bervariasi dari individu
dengan individulain juga dari waktu ke waktu. Keparahan TC meningkat seiring
dengan usia.Kondisi lokal atau sistemik yang menganggu fisiologi normal oral
akan berakibat TC yang abnormal. Demam, diet cair, kesulitan melakukan oral
hygiene pada pasienbed rest, berkurangnya aliran saliva, dehidrasi karena demam
merupakan kondisi yang akan menyebabkan kenaikan papilary lingual coating.
Dekomposisi atau fermentasi partikel sisa makanan pada papila yang mengalami
elongasi akan menyebabkan halitosis. Obat-obatan dan rokok akan mengakibatkan
diskolorisasi papila yang elongasi.TC yang abnormal sering dihubungkan dengan
kelainan fungsi gastro intestinal, tetapi menurut beberapa penelitian terbukti tidak
ada hubungan.Hidrogen peroksida atau sodium perborat yang menstimulasi
pertumbuhan p. filiformis dapat menyebabkan TC. Pada kondisi tertentu terdapat

20

perubahan mikrobial flora yang akan meyebabkan black tongue. Mouth breathing
juga dapat menyebabkan TC.
4. Kelainan lidah akibat trauma
Trauma pada lidah dapat disebbkan karena kecelakan kendaraan, olah
raga, berkelahi, epilepsi atau pada praktek dokter gigi. Karakteristik pada trauma
lidah adalah perdarahan, karena lidah adalah organ yang kaya pembuluh darah.
Perawatan adalan dengan penekanan dan agent hemostatik serta jahitan.
5. Krenasi lidah (indentation marking of the tongue)
Krenasi terjadi pada pinggir lidahyang dalam keadaan istirahat menempel
pada bagian lingual gigi-gigi. Krenasi ini bukan suatu diagnose spesifik untuk
penyakit lokal maupun sistemik, akan tetapi berhubungan dengan beberapa
kelainan atau habit. Kebiasan menekan-nekankan lidah pada deretan gigi- gigi jika
sedang stress dapat meyebabkan krenasi.
Krenasi sering berhubungan dengan stomatitis akut yang menyebabkan
pembengkakan lidah, yaitu pada acute necrotioc gingivostomatitis, herpetic
stomatitis dan eritema multiforme. Pada bismuth stomatitis yang berat terdapat
pigmentasi pada krenasi. Pasien dengan makroglossia biasanya mengalami
krenasi, krenasi akan lebih nyata jika posisi gigi ireguler.
Kondisi sistemik yang dapat mengakibatkan krenasi adalah defisiensi
vitamin B kompleks, diabetes dan myxedema. Yang jelas semua kondisi yang
menyebabkan turunnyatonus otot lidah akan berakibat timbulnya krenasi.

6. Varikositi sublingual
Vena lingual yang terletak pada bagian ventral lidah sering dijumpai., biasanya
terjadi pada usia lanjut di atas 40 tahun.Varikositi sublingual harus dibedakan
dengan hemangioma atau neoplasma Iainnya.

21

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dari semua learning objective yang telah kami
diskusikan, maka diperoleh kesimpulan, yaitu:
1. Erythema multiformis adalah suatu jenis reaksi kulit yang secara
histologis ditandai mula mula adanya infiltrat limfohistiositik pada
batas antara dermis dan epidermis, dan kemudian dengan adanya
vesikulasi sub-epidermis.
2. Fissura, eritema, dan depapilasi multiple memiliki gambaran hpa
masing-masing.
3. Faktor-fator yang menyebabkan kelainan lidah, meliputi genetic,
defisiensi nutrisi, psikologi, atropi, dan lain-lain.
4. Kelainan-kelainan pada lidah dapat sebagai keadaan normal maupun
keadaan patologis.

DAFTAR PUSTAKA
Abubaker. AO, Benson KJ. 2007. Oral and Maxilofacial Surgery Secrets
2nd ed. ST. Louis : Mosby Elsivier :264.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 9.
Jakarta:EGC
Nelson, Brenda L.DDS, dkk.2005.Median rhomboid glossitis. From the
Department of Pathology, Naval Medical Center, San Diego (Dr. Nelson), and the
Department of Pathology, Woodland Hills Medical Center, Southern California
Permanente.Medical Group, Woodland Hills, Calif. (Dr. Thompson).
Nirwanda, D. 2010. Prevalensi dan Distribusi Kelainan dan Penyakit Lidah
pada Pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumatera Utara. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera
Utara.
P.J Dhanrajani and O. Jonaidel. 2002. Trismus: Aetiology, Differential
Diagnosis and Treatment. Jurnal of Dental Update.
Price, Sylvia and Wilson, Lorraine. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. EGC.
Purkait, Swapan Kumar. 2011. Essential of Oral Pathology 3rd Ed.New
Delhi : Jaypee Brothers
Salmiah, Siti. 2010. Jurnal Retardasi Mental. Departemen Kedokteran Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi USU.

Anda mungkin juga menyukai