Anda di halaman 1dari 5

1.

Pengertian Penelitian Yuridis Empiris


Penelitian yuridis empiris ini terdiri dari kata yuridis yang berarti hukum dilihat
sebagai norma atau das sollen, karena dalam membahas permasalahan penelitian ini
menggunakan bahan-bahan hukum (baik hukum yang tertulis maupun hukum yang tidak
tertulis atau baik bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder). Dan juga berasal
dari kata empiris yang berarti hukum sebagai kenyataan sosial, kultural atau das sein,
karena dalam penelitian ini digunakan data primer yang diperoleh dari lapangan. Jadi,
pendekatan yuridis empiris dalam penelitian ini maksudnya adalah bahwa dalam
menganalisis permasalahan dilakukan dengan cara memadukan bahan-bahan hukum
(yang merupakan data sekunder) dengan data primer yang diperoleh di lapangan.
2. Jenis Pendekatan dalam Penelitian Yuridis-Empiris
a. Penelitian terhadap identifikasi hukum (hukum tidak tertulis)
Dimaksudkan untuk mengetahui hokum yang tidak tertulis berdasarkan hokum yang
berlaku dalam masyarakat (di Indonesia dikenal hukum adat dan hukum Islam).
Dalam penelitian tersebut, peneliti harus berhadapan dengan warga masyarakat yang
menjadi objek penelitian sehingga banyak peraturan-peraturang yang tidak
tertulisberlaku dalam masyarakat.
b. Penelitian terhadap efektivitas hukum
Merupakan penelitian yang membahas bagaimana hukum beroperasi dalam
masyarakat, penelitian ini sangat relevan di Negara berkembang seperti Indonesia,
penelitian ini mensyaratkan penelitinya disamping mengetahui ilmu hukum juga
mengetahui ilmu sosial, dan memiliki pengetahuan dalam penelitian ilmu sosial
(social science research). Dan factor-faktor yang dapat mempengaruhi hukum itu
berfungsi dalam masyarakat, yaitu; (1) kaidah hukum; (2) penegak hukum; (3) sarana
atau fasilitas yang digunakan oleh penegak hukum; (4) kesadaran masyarakat.
c. Penelitian perbandingan hukum
Adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan membandingkan
undang-undang suatu Negara dengan undang-undang dari satu atau lebih Negara
lainnya mengenai hal yang sama. Selain itu dapat juga dibandingkan putusan
pengadilan di beberapa Negara mengenai kasus yang sama. Kegunaan pendekatan
tersebut, untuk memperoleh persamaan dan perbedaan diantara undang-undang
tersebut dan/atau perbedaan dan persamaan mengenai putusan pengadilan. Dengan
demikian, peneliti akan mengetahui filosofi hukum yang terkandung di dalam setiap

peraturan perundang-undangan yang menjadi objek perbandingan dan/atau filosofi


beberapa putusan pengadilan mengenai kasus yang serupa. Selain itu perlu
dikemukakan bahwa setiap kegiatan ilmiah lazim menerapkan perbandingan.
d. Penelitian Sejarah Hukum
Merupakan suatu metode dalam melakukan penelitian terhadap suatu hukum. Sebagai
metode, sejarah hukum berusaha untuk mengadakan identifikasi terhadap tahap-tahap
perkembangan hukum yang dapat dipersempit ruang lingkupnya menjadi sejarah
perundang-undangan. Kalau peraturan perundang-undangan di Indonesia hendak
diteliti dengan menggunakan metode sejarah, biasanya diadakan penahapan dahulu
atau periodisasiperkembangan hukum atau peraturan perundang-undangan. Sesudah
periodisasi penahapan disusun, dilakukan identifikasi beberapa permasalahan yang
ingin diteliti. Selain itu perlu diungkapkan bahwa penelitian sejarah hukum dilakukan
dengan menelaah latar belakang perkembangan pengetahuan mengenai isu yang
dihadapi oleh perancang suatu perundangan-undangan. Telaah tersebut, diperlukan
oleh peneliti untuk mengungkapkan filosofi hukum dan pola piker yang melahirkan
suatu peraturan perundang-undangan. Contoh UU No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan, Undang-Undang tersebut mengatur tentang poligami. Filosofi hukum
yang terkandung dalam hal tersebut adalah undang-undang itu lahir di zaman
pemerintahan Soeharto, yaitu istri Soeharto mempunyai pengaruh yang tidak
menginginkan bahwa suaminya untuk menikah lagi, hal ini bermakna pengaruh istri
Soeharto amat mempengaruhi mengenai aturan poligami.
e. Penelitian Psikologi Hukum
Merupakan penelitian yang mengamati tingkah laku manusia yang menjadi objek
manusia sehingga mengamati tingkah laku manusia yang sesuai dengan hukum
(norma) dan tingkah laku manusia yang menyimpang dari ketentuan hukum (tidak
normal). Penelitian psikologi hukum bukan hanya mengamati perilaku manusia yang
sesuai hukum dan tidak sesuai hukum, melainkan lebih jauh mengamati hal-hal
apakah yang menyebabkan orang taat dan tidak taat terhadap hukum. Hal inilah yang
diidentifikasi dan kemudian diteliti oleh peneliti.
3. Teknik Analisa Bahan Hukum dalam Penelitian Yuridis-Empiris
Untuk mendapat data yang akurat dan faktual, maka diperlukan data primer dan data
sekunder.
1. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objeknya. Data primer
diperoleh atau dikumpulkan dengan melakukan studi lapangan (field research) dengan
cara wawancara.
2. Data sekunder.
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan kepustakaan. Pengumpulan data
ini dilakukan dengan studi atau penelitian kepustakaan (library research) yaitu dengan
mempelajari peraturan-peraturan, buku-buku yang berkaitan dengan penelitian. Data
sekunder yang dikumpulkan terdiri dari data sekunder dari bahan hukum primer dan
bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
a. Data sekunder dari bahan hukum primer
Menurut Soerjono Soekanto bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang
mengikat dan terdiri dari norma atau kaidah dasar yaitu Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang
tidak dikodifikasikan misalnya hukum adat, yurisprudensi, traktat dan KUHP.
b. Data sekunder dari bahan hukum sekunder
Data dimaksud berwujud :
1) buku-buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan
yang diteliti.
2) Dokumen atau arsip resmi
c. Data sekunder dari bahan hukum tersier dapat berupa buku kamus.
4. Teknik Penentuan Sampling dalam Penelitian Yuridis-Empiris
Probability sampling
Probability sampling adalah teknik sampling dimana setiap anggota populasi
memiliki peluang sama dipilih menjadi sampel. Dengan kata lain, semua anggota tunggal
dari populasi memiliki peluang tidak nol. Teknik ini melibatkan pengambilan acak
(dikocok) dari suatu populasi. Ada bermacam-macam metode probability sampling
dengan turunan dan variasi masing-masing, namun paling populer sebagai berikut:
1. Sampling Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Random sampling adalah metode paling dekat dengan definisi probability
sampling. Pengambilan sampel dari populiasi secara acak berdasarkan frekuensi
probabilitas semua anggota populasi.
2. Sampling Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
Pengambilan sampel melibatkan aturan populasi dalam urutan sistematika
tertentu. Probabilitas pengambilan sampel tidak sama terlepas dari kesamaan
frekuensi setiap anggota populasi.
3. Sampling Stratifikasi (Stratified Sampling)

Populasi dibagi ke dalam kelompok strata dan kemudian mengambil sampel dari
tiap kelompok tergantung kriteria yang ditetapkan. Misalnya, populasi dibagi ke
dalam anak-anak dan orang tua kemudian memilih masing-masing wakil dari
keduanya.
4. Sampling Rumpun (Cluster Sampling)
Populasi dibagi ke dalam kelompok kewilayahan kemudian memilih wakil tiaptiap kelompok. Misalnya, populasi adalah Jawa Tengah kemudian sampel diambil
dari tiap-tiap kabupaten. Bisa juga batas-batas gunung, pulau dan sebagainya.
5. Sampling Bertahap (Multistage Sampling)
Pengambilan sampel menggunakan lebih dari satu teknik probability sampling.
Misalnya, menggunakan metode stratified sampling pada tahap pertama kemudian
metode simple random sampling di tahap kedua dan seterusnya sampai mencapai
sampel yang diinginkan.
6. Probabilitas Proporsional Ukuran Sampling (Probability Proportional to Size
Sampling)
Probabilitas pengambilan sampel sebanding dengan ukuran sampling bahwa
sampel dipilih secara proporsional dengan ukuran total populasi. Ini adalah bentuk
multistage sampling di tahap pertama dan kemudian random sampling di tahap kedua,
tapi jumlah sampel sebanding dengan ukuran populasi.
5. Teknik non-probability sampling
Teknik non-probability sampling bahwa setiap anggota populasi memiliki peluang
nol. Artinya, pengambilan sampel didasarkan kriteria tertentu seperti judgment, status,
kuantitas, kesukarelaan dan sebagainya.
Ada bermacam-macam metode non-probability sampling dengan turunan dan variasinya,
tapi paling populer sebagai berikut:
1. Sampling Kuota (Quota Sampling)
Mirip stratified sampling yaitu berdasarkan proporsi ciri-ciri tertentu untuk
menghindari bias. Misalnya, jumlah sampel laki-laki 50 orang maka sampel perempuan
juga 50 orang.
2. Sampling Kebetulan (Accidental Sampling)
Pengambilan sampel didasarkan pada kenyataan bahwa mereka kebetulan muncul.
Misalnya, populasi adalah setiap pegguna jalan tol, maka peneliti mengambil sampel dari
orang-orang yang kebetulan melintas di jalan tersebut pada waktu pengamatan.
3. Sampling Purposive (Purposive or Judgemental Sampling

Pengambilan sampel berdasarkan seleksi khusus. Peneliti membuat kriteria tertentu


siapa yang dijadikan sebagai informan. Misalnya, Anda meneliti kriminalitas di Kota
Semarang, maka Anda mengambil informan yaitu Kapolresta Semarang, seorang pelaku
kriminal dan seorang korban kriminal.
4. Sampling Sukarela (Voluntary Sampling)
Pengambilan sampel berdasarkan kerelaan untuk berpartisipasi dalam penelitian.
Metode ini paling umum digunakan dalam jajak pendapat.
5. Sampling Snowball (Snowball Sampling)
Pengambilan sampel berdasarkan penelusuran sampel sebelumnya. Misalnya,
penelitian tentang korupsi bahwa sumber informan pertama mengarah kepada informan
kedua lalu informan ke tiga dan seterusnya.