Anda di halaman 1dari 104

SEKILAS MATERI PADI

dan
TRYOUT 0
EDISI 2016

TIM MATERI PADI

Terima kasih Anda telah membaca buku ini sebelum memulai bimbingan
di PADI.
Dengan membaca buku ini terlebih dahulu, Anda telah mendapatkan
gambaran materi ringkas untuk persiapan UKMPPD Anda.

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Sekilas Materi PADI dan TryOut 0


Edisi 2016
2016 PADI
PADI Matraman Jakarta
PADI Kelapa Gading Jakarta
PADI Jogjakarta

Disclaimer / Wewanti
Semua nama dan skenario kasus dalam buku ini adalah karangan belaka. Adanya
kesamaan tempat, nama, atau kasus adalah sebuah ketidaksengajaan.
Semua informasi di dalam buku ini hanya untuk tujuan pendidikan saja.
Informasi di dalam buku ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran
tenaga medis.
Ilmu kedokteran adalah ilmu yang berkembang dengan sangat cepat. Apa yang
benar saat ini belum tentu benar di masa yang akan datang. Kami sedapat
mungkin memberikan informasi yang benar dan paling mutakhir. Namun
demikian, apabila buku ini digunakan sebagai rujukan pengambilan keputusan,
maka klinisi bertanggung jawab penuh terhadap keputusan tersebut.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI......................................................................................................................... 3
TIPS DAN TRIK.................................................................................................................... 4
KARDIOVASKULAR.............................................................................................................. 5
RESPIROLOGI................................................................................................................... 14
GASTROINTESTINAL......................................................................................................... 23
NEFRO-UROLOGI.............................................................................................................. 28
HEMATOLOGI.................................................................................................................... 32
IMUNOLOGI...................................................................................................................... 33
INFEKSI TROPIK................................................................................................................ 35
ENDOKRINOLOGI DAN NUTRISI........................................................................................45
NEUROLOGI...................................................................................................................... 49
THT.................................................................................................................................. 54
OFTALMOLOGI.................................................................................................................. 60
DERMATOLOGI................................................................................................................. 64
VENEREOLOGI.................................................................................................................. 67
PSIKIATRI.......................................................................................................................... 68
REPRODUKSI.................................................................................................................... 74
MUSKULOSKELETAL.......................................................................................................... 77
NEONATOLOGI.................................................................................................................. 79
FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL.........................................................................................82
BIOETIKA DAN KODE ETIK KEDOKTERAN..........................................................................85
RISET DAN BIOSTATISTIK.................................................................................................. 89
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS.......................................................................................94
TRYOUT 0......................................................................................................................... 99

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

" a journey of thousand miles begins with a single step "

Lao-Tzu

Yakinlah, dengan membuka halaman pertama buku ini, Anda telah memulai
langkah awal Anda untuk lulus UKMPPD.

TIPS DAN TRIK

Susun jadwal belajar Anda.

Berlatilah dengan soal-soal. Pelajari setiap pilihan jawaban dari A


sampai E. Dengan demikian Anda mendapatkan banyak informasi
untuk setiap soal.

Ulang materi yang menurut Anda paling sulit.

Jangan lupa bahwa imbangi diri Anda dengan kegiatan sosial dan
kegiatan fun lainnya!

TENTANG BUKU SEKILAS MATERI


Buku sekilas materi ini merupakan satu buku referensi singkat. Isi di buku ini
telah kami seleksi sehingga hanya menampilkan informasi - informasi penting
untuk menjawab soal-soal UKMPPD.
Karena itu buku ini hanya berisi hal - hal penting dan kata kunci untuk
menjawab soal, superfisial namun esensial. Kami sangat berterima kasih jika
Anda membaca dan mempelajari buku ini sebelum bimbingan dimulai.
Tetapkan pada diri Anda bahwa Anda harus lulus UKMPPD. Selamat belajar!

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

KARDIOVASKULAR
Auskultasi
Jantung

Di mana auskultasi dilakukan?


Katup aorta
Katup
pulmonal
Sela iga kedua Sela iga kedua
kanan
kiri

Katup mitral

Katup
trikuspid
Lower
left
sternal
border
(LLSB) sela iga
ke-4

Sela iga ke-4 di


linea
midklavikularis
kiri (apex cordis)
Apa suara jantung yang terdengar secara normal?
S1 suara jantung yang terjadi di fase sistol, akibat penutupan katup
dan trikuspid
S2 suara jantung yang terjadi di fase diastol, akibat penutupan
aorta dan pulmonal (pada keadaan fisiologis, terdapat sedikit jeda
penutupan katup aorta dan pulmonal, yang dikenal dengan
physiological splitting of S2).

mitral
katup
antara
istilah

Cara praktis menentukan kelainan pada jantung dari auskultasi:


1.
Tentukan di mana katup yang terlibat lihat tabel di atas
2.
Tentukan jenis murmur yang terdengar.
Selama S1 dan Setelah
S1 Selama
S2dan Setelah S2 (late
S2 (pansistolik) (systolic
S1
(diastolic diastolic
ejection
murmur)
murmur)
murmur)
Jika terdengar di Jika terdengar di Jika terdengar di Jika terdengar di
katup
mitral: katup
aorta: katup
aorta: katup
mitral:
regurgitasi
stenosis aorta
regurgitasi
stenosis mitral
mitral
aorta
Jika terdengar di
Jika terdengar di
Jika terdengar di katup pulmonal: Jika terdengar di katup pulmonal:
katup trikuspid: stenosis
katup pulmonal: stenosis
regurgitasi
pulmonal
regurgitasi
pulmonal
trikuspid
pulmonal

ACS
(Acute
Coronary
Syndrome)
= Sindroma
Koroner
Akut

Murmur lain banyak ditemukan di penyakit jantung bawaan. Silakan merujuk


ke sub-bab terkait.
Kebutuhan oksigen miokardium > suplai oksigen oleh pembuluh koroner
akibat adanya sumbatan.
Klasifikasi Gejala tipikal
EKG
Enzim Jantung
Unstable
Nyeri dada pertama ST
depresi,
T Normal
angina
kali,
memberat, inversi, atau EKG
(UAP)
jumlah
serangan tidak spesifik
meningkat
STEMI
Nyeri dada substernal ST elevasi, LBBB Meningkat
menjalar,
keringat baru
dingin, muntah, durasi
dan severitas nyeri
lebih lama dan intens
NSTEMI
Nyeri dada substernal ST
depresi,
T Meningkat
menjalar,
keringat inversi
dingin, muntah
Penanda serum (enzim jantung) untuk infark miokard:
1. Mioglobin : paling pertama meningkat setelah onset(dalam 1 jam), kembali
normal dalam 6-12 jam,tidak spesifik untuk infark miokard (jarang
dipilih dalam pemeriksaan)
2. CPK (Creatinin Phospokinase): meningkat dalam 4-8 jam, tidak spesifik
3. CK isoenzim MB (CK-MB) : meningkat dalam 3 jam, spesifik, bertahan < 1
minggu.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

4.

Troponin T/I : meningkat dalam 3 jam, spesifik, bertahan sampai > 1


minggu, false positive pada penderita gangguan ginjal berat.

Angina stabil tidak termasuk dalam ACS. Angina stabil muncul saat
beraktivitas, frekuensi dan berat nyeri relatif tetap sama, membaik dengan
istirahat / pemberian nitrat sublingual. Umumnya EKG tidak menunjukkan
kelainan yang bermakna.
Lokasi infark, dan kelainan EKG yang muncul
Daerah yang patologis
Kelainan EKG muncul
di sadapan...
Septal
V1 V2
Anterior
V3 V4
Anteroseptal
V1 V4

Lateral
V5 V6, I, avL
Anterolateral (anterior
V1 V6
luas)
Inferior
II, III, aVF
Posterior
V7 V9
Tatalaksana awal untuk ACS:
1. Anti-iskemik : oksigen, nitrat sublingual, morfin intravena (bila tidak
membaik dengan nitrat).
2. Antiplatelet dan antikoagulan : aspirin (325 mg dosis awal), klopidogrel,
dan heparin
Ingat: MONACO (Morfin, oksigen, Nitrat, Aspirin, Clopidogrel, Obat Lain).
Tatalaksana definitif untuk ACS : Revaskularisasi dengan PCI (percutaneous
coronary intervention), CABG (bypass), maupun trombolitik dengan
streptokinase / rt-PA - perhatikan kontraindikasi sebelum memulai trombolitik!
Modifikasi faktor risiko pada pasien : merokok, DM, dislipidemia, hipertensi

Gagal
Jantung
Kongestif

Gagalnya jantung memompa darah secara efektif ke jaringan.


1.
2.
3.

Gagal jantung kiri menyebabkan kongesti vena paru pada akhirnya


mempengaruhi sirkulasi sistemik gejala dominan di paru (sesak napas)
Gagal jantung kanan menyebabkan kongesti vena sistemik (perifer)
gejala dominan di perifer, seperti ascites dan edema ekstremitas bawah.
Pada akhirnya gagal jantung kiri dan kanan saling memengaruhi, seperti
gagal jantung kiri pada akhirnya mengakibatkan gagal jantung kanan.

Kriteria Framingham untuk gagal jantung


Gagal Jantung Kiri
Gagal Jantung Kanan
Ortopnea
Distensi vena jugular
Paroksismal Nokturnal Edema perifer
Dispnea
Dispnea on Exertion
Hepatomegali
Gallop
Asites
Pemeriksaan penunjang
1. Foto toraks : kardiomegali, gambaran edema paru akut (bat-wing
appearance, Kerley-B lines)
2. Ekokardiogram : penurunan fraksi ejeksi (EF), gambaran hipokinetik
3. Laboratorium: Brain Natriuretik Peptide (BNP): meningkat
Klasifikasi NYHA untuk gagal jantung
NYHA I
Tanpa limitasi aktivitas fisik
NYHA II
Limitasi derajat ringan (gejala muncul

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

pada aktivitas fisik berat)


Limitasi bermakna (gejala pada aktivitas
minimal, tidak muncul saat istirahat)
NYHA IV
Limitasi berat (gejala muncul bahkan
pada saat istirahat)
Tatalaksana non-medikamentosa: restriksi garam dan air, olahraga,
menghindari alkohol.
NYHA III

Tatalaksana medikamentosa :
ACE Inhibitor
memperbaiki gejala dan
menurunkan mortalitas
Beta Bloker
memperbaiki gejala dan
menurunkan mortalitas

Edema
akut

Henti
Jantung

paru

Diuretik

tiazid
untuk
retensi
ringan, furosemid untuk
retensi
bermakna.
Biasanya lebih teprilih
furosemid.

Digoxin

mengurangi
gejala,
tetapi tidak menurunkan
mortalitas

Spironolakton
(antagonis
aldosteron)
diuretik hemat
kalium

menurunkan mortalitas

Biasa diberikan pada NYHA II


IV
Biasa diberikan pada NYHA II
III.
Diberikan
setelah
ACE
inhibitor
dan
diuretik
ditolerir.
Biasa diberikan pada NYHA II
IV dengan retensi cairan

Biasa diberikan pada NYHA


III-IV.
Efektif bila disertai atrial
fibrilasi. Risiko intoksikasi
pada pasien hipokalemia
akibat diuretik.
NYHA III-IV
Hati-hati peningkatan kalium
bila digunakan bersama ACE
inhibitor.

Keadaan dekompensasi fungsi ventrikel kiri secara cepat (akut).


Etiologi tersering : infark miokard, aritmia, pasien tidak taat terhadap terapi
medikamentosa
Gejala dan tanda edema paru akut (acute lung edema) kongesti paru akut
misalnya : ronki basah basal paru, distensi vena-vena lehar karena sesak
berat.
Pemeriksaan penunjang : Foto toraks (kardiomegali, garis Kerley-B,
gambaran bat wing kranialisasi)
Tatalaksana akut :
Diuretik (furosemid), nitrat , oksigen, morfin, posisi (1/2 duduk, atau duduk
tegak).
Ingat: LMNOP (lasix/furosemid morfin nitrat oksigen posisi)
Penurunan kesadaran, henti nafas, dan tidak adanya denyut karotis.
Pertolongan pertama : panggil bantuan, lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP)
dan bantuan nafas 30 : 2.
Yang perlu diperhatikan pada kasus henti jantung :
1. Irama Ventrikel Takikardi, Ventrikel Fibrilasi defibrilasi 200 J bifasik
atau 360 J monofasik
2. Irama asistol, PEA (Pulseless Electrical Activity) lanjut RJP,
epinefrin 1 mg.
3. Kombinasi tepat antara kompresi dada dengan pemberian nafas
meningkatkan harapan kembalinya sirkulasi normal.
4. Atasi kemungkinan penyebab : hipovolemia, hipotermia, hipokalemia,

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

toksin, tamponade, dll.

Penyakit
Jantung
Bawaan
Asianotik
(Left
to
Right shunt)

Semula pasien tidak biru. Kondisi ini terjadi pada:

VSD murmur pansistolik di garis sternalis kiri bawah (area katup


trikupsid), tanpa penjalaran ke aksila.

ASDfixed-split S2

PDAmachinary like murmur (murmur kontinyu) di infraklavikula


terkait dengan rubella kongenital atau bayi lahir prematur
Penyakit jantung bawaan lain:

Koarktasio aorta tekanan darah ekstremitas atas > ekstremitas


bawah.

Kondisi penyakit jantung bawaan ini jika tidak ditatalaksana makan akan dapat
berubah menjadi penyakit jantung sianosis, yang dikenal dengan istilah
sindroma eisenmenger).
Pasien sianosis sejak lahir atau sesaat setelah lahir.
Tetralogy of Fallot (TOF)
1. Yang terjadi: stenosis pulmonal, VSD, overriding aorta, hipertrofi ventrikel
kanan (ada 4/tetra patologi)
2. Saat serangan (tet spell): pasien jongkok
to 3. Foto toraks khas : boot shape appearance

Penyakit
Jantung
Bawaan
Sianotik
(Right
Left shunt)

Transposition of Great Arteries(TGA)


1. Arteri pulmonal keluar dari ventrikel kiri, aorta keluar dari ventrikel kanan.
2. Gambaran khas: oval-shaped heart

Hipertensi

Klasifikasi JNC VII:


1. Grade I : >140/90 mulai dengan satu obat dahulu
2. Grade II : > 160 / 100 boleh langsung kombinasi dua obat
Krisis hipertensi : > 180 / 120, terbagi menjadi:
1. Hipertensi emergensi : ada kerusakan organ (otak, retina, jantung, ginjal)
secara objektif. turunkan tekanan darah segera dengan anti-hipertensi
intravena (, nikardipin, nitroprussid, klonidin). Target penurunan TD
adalah 25% MAP (mean arterial pressure).
2. Hipertensi urgensi : tidak ada kerusakan organ turunkan tekanan darah
dengan antihipertensi oral (calcium channel blocker, ACE-inhibitor,
klonidin).
Cara menghitung MAP: (sistolik + 2 diastolik) / 3
sebagai contoh TD 120/90, maka MAP = (120 + 2 x 90) / 3 = 100 mmHg
Farmakologi Anti-hipertensi :
1. ACE inhibitor (cth: captopril) : menurunkan aktivitas sistem reninangiotensin-aldosteron (RAAS). Pilihan utama pada HT yang disertai
dengan DM untuk mencegah terjadinya mikroalbuminuria dan komplikasi
gagal
ginjal
kronik.
Efek samping : batuk kering akibat peningkatan bradikinin bisa diganti
dengan ARB (cth: valsartan). Kontraindikasi : ibu hamil, stenosis arteri
renal bilateral.
2. Tiazid(contoh: hidroklorotiazid/HCT) Efek samping: hipokalemia,
hiperurisemia. Kontraindikasi relatif pada gout, dislipidemia, dan DM.
3. Beta bloker (propanolol): hambatan reseptor beta-1 jantung Efek
samping : bronkospasme. Kontraindikasi pada asma dan AV Blok. Beta
bloker selektif jantung : bisoprolol, karvedilol, atenolol.
4. Metildopa bekerja secara sentral obat hipertensi terpilih pada ibu
hamil. Alternatif pada kondisi ibu hamil: nifedipin.
5. Calcium channel bloker golongan dihidropiridin (nifedipin) : Efek
samping: edema, flushing karena bersifat vaskuloselektif. Golongan
nondihropiridin (verapamil, diltiazem) : efek samping: bradikardi karena
dapat bekerja langsung di jantung.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Syok

Syok hipovolemik
Syok kardiogenik
Syok hemoragik
(secara
teori
merupakan bagian
dari
syok
hipovolemik)
Syok anafilaktik

Tamponade
jantung

Kehilangan cairan (misal:


muntah,
diare,
perdarahan).
Gangguan pompa jantung
Perdarahan
Fraktur tulang panjang

resusitasi kristaloid 20
cc / BB bolus cepat.
kristaloid,
inotropik
(dobutamin)
resusitasi
kristaloid,
atasi perdarahan

epinefrin / adrenalin
IM/SK , oksigen, steroid,
antihistamin
Syok sepsis
fokus infeksi.
kristaloid,
antibiotik,
dopamin, norepinefrin
Syok neurogenik
trauma spinal
kristaloid,
metilprednisolon
Syok juga dapat timbul pada kelainan endokrin misal krisis adrenal maupun
koma hipotiroid.
Terisinya ruang potensial antara jantung dan perikardium dengan cairan (atau
darah = hemoperikardium).
Gejala
1.
2.
3.

reaksi anafilaksis
(hipersensitivitas tipe 1)

klinis ditandai dengan Trias Beck :


Hipotensi
Distensi vena jugularis
Suara jantung melemah (muffled heart sound)

Tatalaksana awal : perikardiosentesis; tatalaksanadefinitif : torakotomi

Memahami EKG Secara Sistematis


Untuk membaca strip EKG secara sistematis, dapat menggunakan langkah berikut:
Langkah 0
Perhatikan identitas pasien, tanggal EKG diperoleh,
Perhatika dan kecepatan dan voltase mesin
n kertas
EKG
Kecepatan normal kertas EKG berjalan: 25 mm/detik.
1 detik adalah 5 kotak besar (garis merah tebal). 1
kotak besar adalah 5 kotak kecil (garis merah tipis).
Sedangkan 1 kotak kecil adalah 1 mm.
Dengan demikian: 1 detik = 25 mm = 25 kotak kecil =
5 kotak besar. 1 kotak besar = 0,2 detik. 1 kotak kecil
= 0,04 detik.

Langkah 1
Tentukan
irama

Secara vertikal, secara default 1 mV = 10 mm. Oleh


karena itu 1 kotak kecil = 1 mm = 0,1 mV.
Irama normal: sinus, dengan syarat:
1.
gelombang P diikuti QRS
2.
laju QRS 60 100 x/menit (lihat langkah 2)
3.
Interval R R teratur
4.
P di sadapan II positif, di aVR negatif
Mengenal gelombang pada EKG:

Perhatikan bahwa
gelombang U hampir tidak
ditemukan pada kondisi
fisiologis
Apa yang terjadi saat...
Gelombang P: depolarisasi
atrium
Gelombang QRS:
depolarisasi ventrikel (dan

Satu Tujuan: Lulus!

10

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

repolarisasi atrium)
Gelombang T: repolarisasi
ventrikel

Langkah 2
Tentukan
laju QRS

Normalnya: laju QRS 60-100x/menit. >100x/menit:


takikardia; <60x/menit: bradikardia

Langkah 3
Tentukan
aksis QRS

Contoh di atas: antara R-R terdapat kurang dari 5


kotak besar - namun lebih dari 4 kotak besar.
Dengan demikian range laju jantung kira-kira: 300 / 5
sampai 300 / 4 = 60 - 75 x/menit.
Secara sederhana, aksis QRS menggambarkan apakah
terdapat pembesaran ventrikel kiri atau kanan.
Normalnya: aksis ada di zona kanan bawah (antara
-30o sampai +90o)

300 dibagi jumlah kotak


sedang di antara R R
atau
1500 dibagi jumlah kotak
kecil di antara R - R
Jika irama jantung iregular,
tentukan jumlah QRS di
dalam 6 detik (30 kotak
besar), lalu kalikan 10.

Cara menentukan aksis:


Perhatikan sadapan I dan
aVF. Di II, dominan positif
(defleksi ke atas);
sedangkan di avF, dominan
negatif (defleksi ke bawah).
Pada contoh di samping,
dengan menggunakan
kuadran di atas, zona aksis
ada di daerah kuadran
kanan atas - menandakan
terjadinya LAD (left axis
deviation).

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Langkah 4
Nilai
gelomban
gP

11

Gelombang P menggambarkan depolarisasi atrium,


sehingga baik menggambarkan kelainan atrium.
Perhatiakn apakah terdapat P mitral atau P pulmonal.'
Apabila terjadi:
Right atrial hyperthropy: maka tampak bentuk P
pulmonal
Left atrial hyperthropy: maka tampak bentuk P mitral

Langkah 5
Nilai
interval
PR

Normal: 0,12 - 0,20 detik - berapa kotak kecil-kah


ini??

Langkah 6
Nilai
morfologi
QRS

Normalnya, QRS dikatakan sempit: yakni 0,05 - 0,11


(kira-kira berapa kotak kecilkah ini??)

Pemanjangan interval PR
dapat ditemukan pada
kondisi seperti AV blok
tipe I. Sementara
pemendekan interval PR
terjadi pada kondisi
sindroam pra-eksitasi,
seperti sindroma WolffParkinson-White (WPW)
Perhatikan
bentuk
gelombang QRS, apakah
terdapat
abnormalitas
seperti
Q
patologis,
hipertrofi ventrikel kanan
dan kiri (lihat langkah 3 menentukan aksis QRS),
dan lebar-sempitnya QRS.

Contoh gelombang QRS yang lebar (sekitar 5 kotak:


0,20 detik) - melebarnya QRS dapat menggambarkan
konduksi ke ventrike tidak normal. Pada gambar ini,
pasien mengalami RBBB (right bundle branch block).

Langkah 7
Nilai
segmen
ST

Segmen ST normalnya isoelektrik. Elevasi atau depresi


segmen ST dapat menggambarkan infark miokardium.

Terdapat kondisi lain yang


mengakibatkan gangguan
segmen ST, misalnya pada
perikarditis (ST elevasi
persisten di hampir seluruh
lead), dan LV-strain (akibat
terjadi pembesaran
ventrikel kiri secara
abnormal)

Contoh gambaran EKG ST elevasi pada kondisi infark


miokardium akut.
Perhatikan bahwa gambaran EKG yang khas untuk
infark miokardium akut memerlukan gambaran di lead
yang terkait (lihat di bagian acute coronary
syndrome).

Satu Tujuan: Lulus!

12

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Langkah 8
Nilai lainlain

Sebagai contoh, pada gambar ini, ST elevasi konsisten


ditemukan pada V1 sampai V6, konsisten dengan
infark miokard regio anterolateral (anterior ekstensif).
Dengan demikian lead I dan aVL juga terpengaruh.
Seperti interval QT, gelombang U, dan lain-lainnya.

EKG serial diperlukan pada


beberapa kasus, karena EKG
awal belum tentu
menunjukkan kelainan.

Contoh gambaran EKG:

Fibrilasi atrium, khas: gelombang P


tidak jelas, QRS tidak teratur. Sering
pada kondisi hipertiroid.

Atrial flutter (kepak atrium), P jelas,


QRS teratur. Dalam hal ini: 4
gelombang P untuk tiap QRS (4:1)

Supraventrikular takikardia (SVT).


QRS teratur dan sempit, P tidak
jelas.

Ventrikular takikartida (VT): dapat


dengan nadi atau tanpa nadi.
Perhatikan QRS lebar.

Fibrilasi ventrikel (VF)


Ventrikel "bergetar", praktis tidak
mampu memompa darah - terjadi
henti jantung.

Asistol - jantung berhenti dan tidak


ada aktivitas listrik. Sebelum
mengatakan asistol, pastikan lead
terpasang dengan benar :)

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

13

RESPIROLOGI
Tuberkulosis
Update informasi: Pedoman Pengendalian TB Nasional, 2014
Anamnesis: Batuk berdahak 2 minggu (disertai dahak atau batuk darah), sesak napas, nyeri
dada, demam meriang >1 bulan, malaise, nafsu makan turun, berat badan turun, keringat malam
tanpa kegiatan fisik.
Pemeriksaan Fisik: Demam (umumnya sub-febris, demam tidak terlalu tinggi, maupun keringat
malam), frekuensi napas meningkat, berat badan turun, suara napas bronkial/amforik/ronki
basah/suara napas melemah (umumnya di apeks paru).
Pemeriksaan Penunjang: Sputum
infiltrat/kavitas di apeks paru.

BTA

3x

SPS

wajib

dikerjakan,

foto

toraks

berupa

Jika pasien mengalami TB paru dan ekstraparu, diklasifikasikan sebagai TB paru.

Diagnosis
Kondisi TB ekstra-paru: termasuk di antarnya limfadenitis TB, pleura, dan efusi pleura TB.
TB milier termasuk TB paru.

Pasien TB baru: sebelumnya tidak pernah berobat ATAUpernah menelanobat <28 hari (<1 bulan).
Jika pernah menelan obat >28 hari (>1 bulan), selanjutnya diklasifikasikan sebagi:
Kambuh: sebelumnya sudah dinyatakan sembuh, tetapi BTA kembali positif atau klinis kembali
positif.
Diobati kembali setelah gagal:pernah diobati, dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir
Diobati kembali setelah putus berobat (lost-to-follow up): pernah diobati dan dinyatakan
lost-to-follow up (dahulu disebut dengan putus berobat / default)
Lain-lain: pernah diobati, hasil akhir pengobatan tidak diketahui
Jika riwayat penobatan tidak jelas, maka tergolong pasien dengan riwayat pengobatan tidak
diketahui.

Variasi Tipe Kasus, berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya


Contoh: jika pasien minum obat 3 minggu lalu berhenti, pasien ini masih termasuk kasus baru tidak mempertimbangkan hasil pemeriksaan
Kategori 1 : 2(RHZE)/4(RH)3. Diberikan untuk pasien TB paru kasus baru, yang terkonfirmasi
secara bakteriologis, klinis, maupun ekstraparu.
Kategori 2 : 2(RHZE)S /RHZE/5(RH)3E3. Diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati
sebelumnya, lalu: kambuh; gagal dengan OAT kategori 1; atau diobati kembali setelah putus obat
(lost-to-follow up)
Obat
TB

Dosis
(mg/kgBB/har
i)

Dosis (mg) / BB (kg)


<40
40-60
>60

R
H
Z

8-12 (10)
4-6 (5)
20-30 (25)

300
150
750

450
300
1000

600
450
1500

Satu Tujuan: Lulus!

14

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

E
S

15-20 (15)
12-18 (15)

750
1000
1500
Sesuai
750
1000
BB
Pemberian streptomisin >60 tahun atau BB <50 kg maksimal 500 mg/hari.
Evaluasi sputum setelah akhir fase intensif dan 1 bulan sebelum regimen selesai.

Tatalaksana
Jika menggunakan KDT:
30 - 37 kg: 2 tab
38 - 54 kg: 3 tab
55 - 70 kg: 4 tab
>70 kg: 5 tab
Pemantauan kemajuan terapi TB dilakukan dengan pemeriksaan ulang dahak mikroskopik.
*Minimal dilakukan dua kali pemeriksaan (S - P), dan dinyatakan positif jika minimal satu
diantaranya positif.
Jika pasien dalam pengobatan OAT kategori 1 lalu...
pemeriksaan
BTA* negatif
segera mulai tahap lanjutan,
akhir tahap
ulang BTA bulan ke-5 dan akhir
awal(2 bulan)...
pengobatan

bulan ke-5 atau


lebih (selesai
pada bulan ke6)

BTA* positif

mulai tahap lanjutan, TANPA


SISIPAN (pedoman baru),
periksa ulang satu bulan
kemudian - pikirkan uji resistensi

BTA* negatif

lanjutkan pengobatan sampai


selesai, periksa BTA di akhir
pengobatan (bulan ke-6)

BTA* positif

GAGAL - jika fasilitas ada, uji


kepekaan obat - jika tidak ada
lanjut ke kategori 2,
TERDUGA MDR

Jika pasien dalam pengobatan OAT kategori 2, lalu...


pemeriksaan
BTA* negatif
segera mulai tahap lanjutan,
akhir tahap
ulang BTA 1 bulan sebelum akhir
awal (3 bulan)
pengobatan
BTA* positif
TERDUGA MDR
Uji kepekaan, jika tidak ada
fasilitas, lanjutkan OAT tahap
lanjutan TANPA SISIPAN, periksa
ulang akhir bulan ke-5
bulan ke-5 atau BTA* negatif
lanjutkan pengobatan sampai
lebih (selesai
selesai, periksa BTA di akhir
pada bulan kepengobatan (bulan ke-8)
8)
BTA* positif
TERDUGA MDR
gagal - rujuk ke pusat rujukan TB
MDR

Pemantauan Terapi Tuberkulosis


Isoniazid neuropati perifer atasi dengan pemberian vit B6 100 mg/hari - sifat: bakterisidal
Rifampisin mewarnai urin jadi merah, memengaruhi efektivitas KB hormonal, interaksi dengan
obat anti-diabetik, gangguan menstruasi, flu-like syndrome, trombositopenia, skin rash, sesak
napas, anemia hemolitik - sifat: bakterisidal
Pirazinamid paling hepatotoksik, dapat meningkatkan kadar asam urat - sifat: bakterisidal

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

15

Etambutol buta warna dan gangguan penglihatan, neuritis perifer - hati-hati pada anak - sifat:
bakteriostatik
Streptomisin ototoksik dan nefrotoksik, gangguan keseimbangan, renjatan anafilaktik, anemia,
agranulositosis, trombositopenia - sifat: bakterisdal

Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis


OAT pada TB + hepatitis akut / klinis ikterik DITUNDA sampai hepatitis akut sembuh.
Pada hepatitis kronis, periksa faal hati sebelum mulai pengobatan. Jika SGOT/SGOT >3 x normal,
paduan yang bebas hepatotoksik dihindari.
2 obat hepatotoskik: 2 RHSE / 6 HR ATAU 9 HRE
1 obat hepatotoksik: 2 HES / 10 HE
0 obat heptotoksik: 18-24 SE + satu obat floroukuinolon selain siprofloksasin

TB dan Hepatitis

Bila klinis (+) ikterik, mual, muntah stop OAThepatotoksik.


Bila klinis (-) dan SGOT/SGPT >5x, stop OAThepatotoksik.
Kondisi lainnya: OAT lanjutkan dengan pengawasan ketat.
Sambil menunggu normalisasi klinis dan lab, berikan strptomisin DAN etambutol.
Setelah klinis normal dan lab mendekati normal: mulai obat yang paling tidak hepatotoksik, yakni
R, lalu 3-7 hari kemudian berikan H.Jika R dan /atau H bisa diberikan, hindari pemberian Z
karena paling hepatotoksik. Selalu evaluasi klinis dan lab. Apabila kemudian terbukti, bahwa:
Jika R penyebabnya, maka regimen akhir menjadi 2HES/10HE
Jika H penyebabnya, maka regimen akhir menjadi 6-9 RZE
Gangguan fungsi hati berat dan tidak dapat menerima salah satu dari R atau H, regimen akhir
menjadi 18-24 SE + satu obat fluorokuinolon selain siprofloksasin.

Hepatitis Imbas Obat (Drug-Induced Hepatitis)


MDR-TB (Multidrug Resistant TB): resisten pada setidaknya rifampisin + INH.
XDR-TB (Extensive Drug Resistant TB): MDR-TB yang juga resisten pada 3 dari 6 obat second-line.

Kasus TB MDR dan TB XDR


TIDAK BERBEDA dengan kondisi tidak hamil
OAT aman, kecuali aminoglikosida
Piridoksin 50 mg/hari dan vitamin K 10 mg/hari dianjurkan pada trimester ke-3 menjelang partus
TIDAK BERBEDA denga nkondisi menyusui

TB pada kehamilan dan menyusui


TIDAK BERBEDA, kecuali jika gula darah tidak terkontrol dapat diperpanjang sampai 9 bulan
Rifampisin mengurangi efektivitas sulfoniiluria (seperti glibenklamid)

TB dan DM
Tuberkulosis pada Anak

Gejala klinis TB pada anak tidak khas dan bakteri sulit ditemukan pada pemeriksaan BTA sehingga
digunakan sistem skoring TB anak.Anak didiagnosis TB jika jumlah skor >6 atau 6 dengan
klinis mendukung (Update 2014).

Diagnosis

Satu Tujuan: Lulus!

16

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Tabel Skor TB Anak


Perhatikan bahwa pemeriksaan BTA bukan pemeriksaan utama pada anak, karena
gejala klinis batuk bukan gejala klinis utama pada anak, dan pada umumnya BTA negatif.
Perhatikan bahwa jika skor = 6, maka perlu pertimbangan gejala klinis lain sebelum
menentukan TB anak atau infeksi laten TB
(Update 2014).
NB: PP-INH = program profilakasis dengan INH
Regimen pengobatanjika terdiagnosis TB (anak sakit TB, skor >6 atau 6 dengan klinis
mendukung): 2RHZ/4RH. Pada kasus berat dapat diberikan etambutol, misalnya pada kasus BTA
positif pada anak maupun meningitis TB.

Satu Tujuan: Lulus!

Derajat Asma

Gejala

Gejala malam

I.
Intermiten

* Gejala < 1x/minggu


SEKILAS
* Tanpa gejala di luar
serangan
* Serangan singkat

II.
Persisten
Ringan

Mingguan
* Gejala > 1x/minggu, <
1x/ hari
* Serangan dapat
mengganggu aktivitas
dan tidur

* VEPDAN
nilai
1 80%
MATERI
PADI
TRYOUT
0
*2
kali
sebulan

Jika

Harian
III.
Persisten
Sedang

* Gejala setiap hari


* Serangan mengganggu
aktivitas dan tidur
*Bronkodilator setiap hari

Faal paru
APE 80%

Bulanan

*>2
kali
sebulan

prediksi
APE 80% nilai
terbaik
* Variabilitas APE <
20%
APE > 80%
* VEP1 80% nilai
prediksi
APE 80% nilai
terbaik
* Variabilitas APE 2030%
APE 60 80%

17

tidak

* VEP1 60-80% nilai


* > 1x / prediksi
seming APE 60-80% nilai
terbaik
gu
* Variabilitas APE >
30%

Kontinyu
* Gejala terus menerus
* Sering kambuh
* Aktivitas fisik terbatas

APE 60%
*
VEP1 60% nilai
IV.
prediksi
Persisten
*
APE 60% nilai
Berat
Sering
terbaik
* Variabilitas APE >
30%
terdiagnosis TB, tetap dapat diberikan profilaksis dengan INH. Ada dua macam profilaksis:
Profilaksis primer (anak kontak TB tapi tidak sakit, dibuktikan dengan tuberkulin negatif): INH
5-10 mg/kgBB/hari selama 6 bulan.
Profilaksis sekunder (anak terinfeksi TB tanpa sakit TB, dibuktikan dengan tuberkulin positif
tapi skor TB tidak mencapai 6 atau secara klinis tidak sakit TB): INH 5-10 mg/kgBB/hari selama
6-9 bulan.

Terapi
Mulai dengan OAT, lalu setelah 2-8 minggu (setelah toleransi) lanjutkan dengan ARV. Dengan
demikian ARV diberikan tidak bergantung pada jumlah hitung CD4.
Berdasarkan Pedoman Terapi ARV 2011 dan 2013

Koinfeksi Tuberkulosis + HIV


Asma

Anamnesis: Sesak napas, batuk berdahak biasanya kronik, mengi, ada faktor pemicu (pejamu:
riwayat atopi, lingkungan).
Pemeriksaan Fisik: Ekspirasi memanjang, wheezing, penggunaan otot bantu napas pada
serangan berat.
Pemeriksaan Penunjang: APE (arus puncak ekspirasi), lebih baik lagi dengan spirometri.
Diagnosis lengkap asma memerlukan klasifikasi asma dan serangan akut. Sebagai contoh: asma
persisten rengan dengan serangan sedang.

Diagnosis
Klasifikasi Asma
Ringan: Bisa bicara kalimat utuh, sesak saat berjalan.
Sedang: Antara ringan dan berat.
Berat: Bicara kata demi kata terputus-putus, cenderung duduk, terlihat penggunaan otot bantu
pernapasan.

Satu Tujuan: Lulus!

18

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Status asmatikus: ancaman gagal napas. Perlu perawatan di ICU.

Klasifikasi Serangan Akut


Kendalikan faktor pemicu.
2 macam terapi medikamentosa untuk asma adalah terapi pelega (reliever) yang digunakan
hanya jika serangan, dan terapi pengontrol (controller) yang dapat digunakan walaupun tidak
dalam serangan.
Reliever / pelega: Salbutamol inhalasi dan/atau ipratropium bromida. Bila tidak membaik, dapat
diberikan aminofilin IV. Pada serangan berat, dapat diberikan steroid IV.
Controller / pengontrol: Steroid inhalasi. Dapat pula diberikan antagonis
(montelukast, zafirlukast) sebagai pengganti steroid inhalasi sebagai pengontrol.

leukotrien

Bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan, lalu turunkan bertahap
sampai mencapai terapi minimal. Pemantauan dengan kuesioner ACT (asthma control test).

Terapi
Pneumonia

Anamnesis: Batuk berdahak mukoid/purulen, sesak, demam tinggi, nyeri dada.


Pemeriksaan Fisik: Demam, takikardi, takipneu, sianosis, napas cuping hidung, retraksi
interkostalis, bagian dada yang sakit tertinggal, palpasi fremitus meningkat, perkusi redup,
bronkovesikular/bronkial/ronki basah halus/ronki basah kasar.
Pemeriksaan Penunjang: Foto toraks terdapat infiltrat/konsolidasi, leukositosis, sputum gram.

Diagnosis
Ditentukan berdasarkan skor PORT.

Dilakukan rawat inap pada pasien pneumoia apabila:


Skor PORT >70
Skor PORT <70 dengan salah satu kriteria berikut: frekuensi napas >30 x/menit, Pa02/FiO2 <250
mmHg, foto toraks paru terdapat kelainan bilateral/2 lobus, sistolik <90 mmHg, diastolik <60
mmHg
Pneumonia pada pengguna NAPZA.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

19

Kriteria Rawat Inap


Rawat jalan: makrolid (azitromisin) sebagai first-line, amoksisilin-klavulanat; alternatif:
kotrimoksazol.
Rawat inap: beta-laktam (sefotaksim) IV, makrolid IV, sefalosporin IV, fluorokuinolon IV.

Terapi
Bronkiolitis

Anamnesis: Pikirkan pada anak <2 tahun dengan episode mengi (wheezing) untuks pertama kali,
umumnya didahului dengan gejala ISPA bagian atas (batuk, pilek, subfebris/tanpa demam), sesak.
Pemeriksaan Fisik: Demam, sesak, ekspirasi memanjang, retraksi, wheezing/rhonki basah halus,
perkusi hipersonor.
Pemeriksaan Penunjang: Foto toraks normal/hiperinflasi paru dengan diameter anteroposterior
membesar pada foto lateral/konsolidasi tersebar.

Diagnosis

Oksigen
Cairan dan kalori yang cukup
Antibiotik (ampisilin, kloramfenikol, sefotaksim) boleh diberikan jika tanda infeksi sekunder
cukup jelas.
Bronkodilator (salbutamol inhalasi) - dapat diberikan, namun bukan pilihan utama

Terapi
Bedakan dengan croup (laringotrakeobronkitis): batuk seperti menggonggong. Didahului infeksi
sebelumnya. Terapi: steroid.

Diagnosis Banding
PPOK

Anamnesis: Batuk berdahak, sesak, eksaserbasi akut, riwayat perokok >20 tahun.
Pemeriksaan Fisik: Wheezing, barrel chest, ekspirasi memanjang.
Pemeriksaan Penunjang: Spirometri FEV1 <80; foto polos gambaran emfisema (lebih lusen,
batas paru turun dan mendatar), jantung pendulum.

Diagnosis

Stop rokok.
Bronkodilator (salbutamol [beta agonis] dan ipratropium[antagonis muskarinik]ipratroprium adalah first choice dibandingkan dengan beta agonis pada kasus PPOK).
Steroid inhalasi.
Oksigen. Menjaga saturasi oksigen sampai kadar 88-92%.
Antibiotik (amoksiklav/doksisiklin/sefalosporin - untuk eksaserbasi akut dan tanda infeksi)

Terapi
Bedakan dengan bronkiektasis (gambaran honey-comb appearance).

Diagnosis Banding
Pneumotoraks

Anamnesis: Sesak tiba-tiba, riwayat trauma, jejas di daerah dada, bullae akibat TB yang pecah,
atau pada pasien PPOK.
Pemeriksaan Fisik: Takipnea, perkusi hipersonor, auskultasi suara napas menurun.
Pemeriksaan Penunjang: Foto toraks daerah lusen, trakea terdorong ke sisi sehat.

Diagnosis
WSD (chest tube) di sela iga ke-5 linea aksilaris anterior

Terapi
Tension Pneumotoraks

Keadaan gawat darurat yang memerlukan intervensi segera.

Satu Tujuan: Lulus!

20

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Udara yang masuk ke rongga pleura terjebak. Mediastinum terdorong ke kontralateral, vena besar
tertekan, mengakibatkan instabilitas hemodinamik.

Pengertian
Pemeriksaan Fisik: Sesak berat, takikardi, hipotensi, vena leher distended, trakea deviasi, suara
napas menghilang.Tanda vital atau hemodinamik tidak stabil.

Diagnosis
Torakosentesis (tusuk dengan jarum besar) di sela iga ke-2 garis midklavikula, lalu lanjutkan
dengan pasang WSD (seperti kasus pneumotoraks non-tension).

Terapi
Efusi Pleura

Cairan di dalam rongga pleura, biasanya disebabkan TB, bisa juga


lain/keganasan.Jika cairan berupa nanah/pus disebut dengan empiema.

karena

infeksi

Pengertian
Anamnesis: Nyeri dada saat bernapas, khas pleuritik (saat menarik napas misalnya).
Pemeriksaan Fisik: Pleural friction rub, fremitus melemah, perkusi redup, auskultasi suara napas
menurun.
Pemeriksaan Penunjang: Foto polos sudut kostofrenikus tumpul. Mintakan foto lateral untuk
efusi pleura yang lebih minim.

Diagnosis
Pungsi pleura.
Cairan pleura dikultur dan tes resistensi. Pengobatan berdasarkan hasil kultur dan tes
resistensi.Jika berulang, pikirkan untuk pleurodesis (obliterasi ruang potensial pleura).

Terapi

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

21

Alur diagnosis TB paru dewasa, menurut Pedoman Pengendalian TB, 2014

Satu Tujuan: Lulus!

22

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

GASTROINTESTINAL

GERD

Refluks asam lambung karena sfingter esofagus bawah menutup tidak


adekuat.
Gejala khas : rasa terbakar di dada, hipersalivasi, mulut terasa asam. GERD
kronik dapat mencetuskan LPR (Laringo Pharyngeal Reflux) : suara serak, rasa
mengganjal di tenggorokan. Diagnosis sederhana dengan klinis dan dengan
kuesioner GERD-Q. Terapi empiris dengan PPI selama 2 minggu dengan gejala
yang membaik menegakkan diagnosis GERD. Jika ada fasilitas endoskopi,
dilakukan terutama pada pasien dengan tanda bahaya (turun BB, gangguan
menelan hebat, usia tua, dan lain-lain).
Tatalaksana :
1. PPI (omeprazol), atau ranitidin. PPI merupakan first choice.
2. Modifikasi faktor risiko : obesitas, pola makan, hindari pajanan
terhadap kopi, jangan langsung tidur setelah makan.
Komplikasi jangka panjang: esofagitis kronis, Barrets esofagus, karsinoma
esofagus.

Hernia

Berdasarkan sifatnya :
Hernia reponibel
Hernia ireponibel
Hernia inkarserata
Hernia strangulata

bisa masuk kembali


tidak dapat masuk
kembali
obstruksi (kembung,
muntah, bising usus
meningkat).
nyeri, nekrosis

Operasi elektif
Operasi elektif
Operasi cito
Operasi cito

Klasifikasi berdasarkan lokasi:


1. Hernia inguinalis di atas lipatan abdominokruris
Indirek(lateralis) : bisamencapai skrotum, namun tidak harus (jika
mencapai skrotum, dinamakan hernia skrotalis, yang otomatis
merupakan hernia inguinalis lateralis), akibat defek di kanalis
inguinalis
Direk(medialis) : tidakbisa mencapai skrotum, akibat defek di
dinding perut
2. Hernia femoralis di bawah lipatan abdominokruris
3. Hernia umbilikalis (faktor risiko: hipotiroid kongenital, sirosis hepatis dan
keadaan peningkatan tekanan vena porta)
4. Hernia diafragmatika --> terdengarnya suara/bising usus di rongga
toraks. Defek pada dinding diafragma.
Tatalaksana : Operasi herniotomi, herniorafi, hernioplasti; baik cito maupun
elektif.
Gangguan pasase usus

Ileus

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Apendisitis
akut

23

Ileus obstruksi
Ileus paralitik
Tidak
bisa
BAB,
kembung, Tidak bisa BAB, kembung, nyeri
muntah, nyeri perut
perut (-)
Bising usus meningkat, dapat Bising usus menghilang
menghilang jika sudah lama
Dilatasi usus proksimal saja, Dilatasi usus proksimal distal
distal cenderung tidak ada
udara
Gambaran foto khas: step
ladder, herring bone
Dekompresi
dengan
NGT, Atasi
penyebabnya,
misal
laparotomi
imbalans elektrolit (hipokalemia)
Gejala dan tanda khas:
1. Inisial: nyeri perut periumbilikal kemudian ke kanan bawah perut, mual
muntah, demam
2. Nyeri tekan dan lepas di titik McBurney, Psoas sign +, Obturator sign +,
Rovsing sign +, Dunphy Sign (nyeri saat batuk) +
Penunjang : CT scan, USG, dan pemerksaan darah perifer lengkap
(leukositosis) - dapat dilkukan skoring dengan Skor Alvarado.
Tatalaksana : Apendektomi jika belum ada komplikasi.
Komplikasi : Peritonitis umum akibat perforasi, jika terjadi peritonitis, harus
menjalani tatalaksana berupa laparotomi

Peritonitis

Radang peritonium
Gejala dan tanda khas : nyeri seluruh perut, Bloomberg sign (nyeri tekan dan
nyeri lepas), defans muskular pada otot perut.
1. Peritonitis primer : peritonitis TB, peritonitis bakterial spontan pada sirosis.
Fenomena papan catur khas pada peritonitis TB.
2. Peritonitis sekunder : peritonitis karena perforasi

Ulkus
peptikum

Nyeri ulu hati berulang, dipengaruhi makanan. Bisa disertai hematemesis dan
melena (gastritis erosif) hingga penurunan berat badan.
Etiologi tersering : pemakaian kronik NSAID dan infeksi kronis Helicobacter
pylori
1. Ulkus duodenum : nyeri berkurang dengan makanan, sering terbangun di
malam hari
2. Ulkus gaster : nyeri bertambah dengan makanan
Tatalaksana : PPI (omeprazol) atau antagonis reseptor H2 (ranitidin).
Bila dicetuskan oleh infeksi H. pylori (urea breath test +), maka
tatalaksana : triple therapy dengan PAC (PPI + Amoksilin + Clarythromicin)
atau bila alergi amoksilin : berikan PMC (PPI + Metronidazol + Clarythromicin).

Sirosis
hepatis

Tanda sirosis (stigmata) : asites, palmar eritem, spider nevi, kaput medusa.
Etiologi tersering : hepatitis kronik (B dan C), alkoholisme
Komplikasi :
1. Ruptur varises esofagus hematemesis melena. Diagnosis pasti :
endoskopi. Tatalaksana : stabilisasi hemodinamik: cairan, NGT, pemberian
PPI, cairan vasopresor, obat-obatan penurun tekanan vena porta (okreotid,
somatostatin), hingga yang definitif berupa ligasi melalui fasilitas
endoskopi.
2. Ensefalopati hepatikum akibat peningkatan amonia dalam darah terjadi gangguan fungsi luhur hingga yang paling berat penurunan
kesadaran (koma hepatikum). Tatalaksana profilaksis: laktulosa dan
antibiotik.
3. Peritonitis bakterial spontan (SBP), akibat terjadi translokasi bakteri ke
cairan ascites
4. Hepatoma (hepatocellular carcinoma), tumor marker untuk hepatoma:
AFP (alfa-fetoprotein). Komplikasi akhir dari sirosis hepatis.

Diare

Akut : < 7 hari, melanjut (prolonged) : 7-14 hari, persisten : > 14 hari
Pembeda berdasarkan etiologinya:
Diare cair, kekuningan
Rotavirus
Rehidrasi + zink
Diare lendir darah (disentri),
Shigella (disentri
Kotrimoksazol

Satu Tujuan: Lulus!

24

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

kram perut, demam


Diare lendir darah + bau
busuk
Diare berlemak mengkilap
(steatore)
Diare cucian beras
Diare terkait pemakaian
antibiotik kronik
Diare akut
Tanpa
dehidrasi
Dehidrasi
ringan sedang

basiler)
Entamoeba hystolitica
(disentri amoeba)
Giardia lamblia
Vibrio cholerae
Bakteri anaerob
Clostridium difficile

Klinis baik
Anak rewel,
haus, mata
cekung

Dehidrasi
berat

Anak malas
minum, turgor
sangat lambat

Metronidazol
Metronidazol
Doksisiklin
Metronidazol

Terapi A
Rehidrasi oral setiap diare/muntah
Terapi B
Rehidrasi oral 75 cc/BB/3 jam
Alternatif lain :
1. Anak umur < 12 bulan :
rehidrasi parenteral 70 cc/ BB /
5 jam
2. Anak umur > 12 bulan :
rehidrasi parenteral 70 cc/BB/
2,5 jam
Terapi C
Rehidrasi parenteral
1. Anak umur < 12 bulan :
rehidrasi parenteral 30 cc/ BB / 1
jam dilanjutkan dengan 70 cc/
BB / 5 jam
2. Anak umur > 12 bulan :
rehidrasi parenteral 30 cc/BB/
jam dilanjutkan dengan 70
cc/BB/ 2,5 jam

5 Pilar tatalaksana diare akut untuk kasus diare anak :


1. Rehidrasi (terapi A, B, C)
2. Zink : anak < 6 bulan 10 mg selama 10-14 hari, anak > 6 bulan
20 mg selama 10-14 hari
3. Edukasi orang tua pasien tentang bahaya dehidrasi dan pentingnya
higieni
4. Gizi lanjutkan pemberian ASI bila masih ASI eksklusif, berikan
makanan bergizi rendah serat. Pada anak yang lebih besar, susu free
laktosa hanya diberikan pada kasus intoleransi laktosa maupun diare
dehidrasi berat.
5. Obat-obat lain sesuai indikasi misal antibiotik.

Hepatitis

Hepatitis A : akut, penularan fekal dan oral, serologi IgM anti HAV +
Hepatitis B : akut maupun kronik, penularan lewat darah maupun kontak
seksual, Hbs Ag +
Serologi hepatitis B :
HBsAg
Hepatitis B
akut
Hepatitis B
kronik
infeksius
Hepatitis B
kronik noninfeksius
Pasca
imunisasi
Sembuh dari

Satu Tujuan: Lulus!

IgG anti
HBc
-

Anti HBs

HBeAg

IgM anti
HBc
+

+/-

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

25

hepatitis B
Hepatitis C : cenderung kronik, penularan lewat darah dan kontak seksual,
anti-HCV +

Kolelitiasis
dan
kolesistitis

Kolelitiasis
Faktor risiko : Fat, Forty, Fertile, Female. Secara klinis dapat dijumpai tanda
kolik bilier yang terutama dipengaruhi makanan berlemak.
Penunjang : USG abdomen
Komplikasi: Kolelitiasis proses peradangan terjadi kolesistitis akut.
Kolelitiasi
s

Koledoko
litiasis

Kolesistitis

Kolangitis

Nyeri kolik

+/-

+/-

Murphys
sign

pasti +

bisa positif,
jika disertai
kolesistisis

Demam

+ (lowgrade)

+ (highgrade)

Ikterus

*Murphy Sign: nyeri tekan kuadran kanan atas abdomen, terlebih saat
penderita menarik napas.

Pankreatitis

Pankreatitis akut:
Nyeri tekan epigastrium, demam tinggi, muntah, hipotensi, amilase dan
lipase meningkat.
Faktor risiko : kolelitiasis, hipertrigliseridemia berat, alkoholisme berat.
Pasien harus dipuasakan, NGT, pemberian antibiotik, dan penatalaksanan
suportif.
Pankreatitis kronis: kerusakan jangka panjang pankreas, manifestasi utama
adalah gangguan absorpsi (seperti mudah kembung, diare) karena gagalnya
pankreas memproduksi enzim pencernaan.

Hemoroid

Kelainan
kongenital
pada Sistem
Gastrointesti
nal Anak

Hemoroid eksterna pelebaran pleksus v. hemoroidalis inferior, nyeri,


dilapisi epitel skuamosa
Hemoroid interna pelebaran pleksus v. hemoroidalis superior dan media,
dilapisi epitel silindris.
Derajat hemoroid interna:
1. Berdarah menetes tanpa nyeri
2. Benjolan masih dapat masuk sendiri
3. Dimasukkan dengan tangan
4. Tidak dapat dimasukkan
Tatalaksana :
1. Derajat 1 dan 2 medikamentosa, Sitz-Bath (tindakan merendam daerah
bokong dengan air hangat untuk memperbaiki gejala hermoroid)
2. Derajat 3 dan 4 yang mengganggu operasi
Kondisi

Apa yang dialami pasien?

Morbus
Hirschprung

Pasase mekonium terlambat


akibat segmen aganglionik,
colok dubur menyemprot
Muntah menyemprot berisi
bercak kopi, teraba massa
epigastrium seperti

Stenosis pilorus

Temuan PF, lab, atau


radiologis?
Biopsi : aganglionik
pleksus meissner dan
Auerbach
String sign pada
pemeriksaan radiologi

Satu Tujuan: Lulus!

26

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Atresia
esofagus
Atresia
duodenum
Hernia
diafragmatika
Intususepsi
Volvulus

"zaitun"/olive
Hipersalivasi, tersedak pada
usia neonatus. Dapat
ditemukan riwayat
polihidramnion pada ibu.
Muntah hijau (bilier) di usia
awal kelahiran
Sesak, bising usus pada
auskultasi paru
Kolik perut, diare red currant
jelly
Distensi abdomen,
kembung, muntah, bising
usus meningkat

Single bubble sign,


gambaran coiling NGT
pada pemeriksaan
radiologi
Double bubble sign
Gambaran udara usus di
paru
Target sign, porsio like
sign
Coffee bean appearance

Semua kondisi kelainan kongenital pada anak memerlukan tatalaksana


suportif, dan definitif berupa bedah.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

27

NEFRO-UROLOGI
Gagal
Akut
Kronis

Ginjal
dan

Gagal ginjal akut: perburukan fungsi ginjal yang


cepat dan tiba-tiba, ditandai dengan oliguria/anuria,
peningkatan kreatinin. Biasanya disebabkan oleh
hipovolemik (karena nekrosis tubular akut).
Gagal ginjal kronis: penurunan fungsi ginjal dan
tanda kerusakan dalam imaging yang bertahan selama
3 bulan.
Hitung Klirens Kreatinin dari Kreatinine Serum:

Pengertian

Kriteria RIFLE untuk Gagal Ginjal Akut:

Klasifikasi

Diagnosis

Klasifikasi Gagal Ginjal Kronik berdasarkan GFR (ml/1,73 m2 luas


permukaan tubuh):
Grade I: >90
Grade II: 60-89
Grade III: 30-59
Grade IV: 15-29
Grade V: <15

Sindrom
Nefrotik

Indikasi dialisis CITO: Asidosis <7,2, hiperkalemia


berat, uremia >200, overload cairan (sesak karena
edema paru berat).

Terapi

Proteinuria (>3 g/24 jam atau


hipoalbuminemia,
pitting
hiperkolesterolemia. ( = trias).

Diagnosis

+3

dipstik),
edema,

...pada
kasus Remisi: proteinuria (-) 3 hari berturut-turut dalam 1
minggu.
sindroma
nefrotik, dapat Relaps: proteinuria (2+) 3 hari berturut-turut dalam
1 minggu.
ditemukan
o Relaps jarang: relaps <2x dalam 6 bulan pertama
istilah berupa...

Klasifikasi Kasus

setelah respons awal atau <4x dalam periode


setahun.
o Relaps sering: relaps 2x dalam 6 bulan pertama
setelah respons awal atau 4x dalam periode
setahun.
Dependen steroid: relaps 2x berurutan pada saat

Satu Tujuan: Lulus!

28

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

dosis steroid diturunkan atau dalam 14 hari setelah


pengobatan dihentikan.
Resisten
steroid:
tidak
terjadi
remisi
pada
pengobatan prednison dosis penuh 2 mg/kgBB/hari
selama 4 minggu.
Sensitif steroid: remisi terjadi pada pemberian
prednison dosis penuh selama 4 minggu.

Infeksi
Saluran
Kemih

Kortikosteroid (prednison). Jika resisten, gunakan


siklofosfamid.
Nutrisi tinggi kalori tinggi protein.

Terapi

ISK atas: demam tinggi, menggigil, mual, muntah,


nyeri pinggang dan ketok CVA, dipstik nitrit (+), dan
leukosit esterase (+).

Diagnosis

ISK bawah: disuria, urgensi, frekuensi, nyeri tekan


suprapubik, dipstik nitrit (+), dan leukosit esterase (+).
Ditemukan 105 bakteri pada kultur mid-stream urine:
pada anak laki-laki: >104, anak perempuan: >105
pada ibu hamil: ISK dengan gejala>103, ISK
tanpagejala>105.
Non-komplikata: hanya pada kasus sistitis pada
wanita tidak hamil.
Komplikata: ISK lainnya (termasuk sistitis pada wanita
hamil dan segala jenis ISK pada pria).

Klasifikasi

Tergantung hasil kultur sambil menunggu hasil


kultur,
terapi
empiris:
kotrimoksazol,
siprofloksasin.Awas kontraindikasi siprofloksasin pada
usia anak-anak.

Terapi

Pada
wanita
hamil
(meskipun
asimtomatik
bakteriuria, tetap diobati): amoksisilin, sefadroksil.
Risiko pada wanita hamil jika tidak diatasi meliputi
ketuban pecah dini dan persalinan pre-term.

Glomerulonefr
itis Akut

Kriptorkismus
(undesensus
testis)

Sindrom nefritik: hematuria, proteinuria, hipertensi,


penurunan fungsi ginjal, silinder eritrosit.
Pada anak-anak, didahului infeksi streptokokus hemolitikus grup A (faringitis, impetigo). Reaksi:
hipersensitivitas tipe III (melibatkan komplemen C3).
Disebut sebagai GNAPS (glomerulonefritis akut poststreptokous).

Diagnosis

Terapi suportif (antihipertensi, diuretik)


Terapi
Salah satu atau kedua testis tidak berada dalam kantong skrotum, tetapi
berada di sepanjang jalur desensus normal. Bedakan dengan testis
ektopik.Sering disertai hernia inguinal indirek, maupun torsio testis.
Tatalaksana: observasi selama maksimal 6 bulan pertama kehidupan, jika
tidak ada lakukan orkidopeksi dalam usia 18 bulan pertama kehidupan.
(Guideline AUA).

Fimosis

Prepusium tidak dapat diretraksi, nyeri saat berkemih, perlu mengedan dan
ujung penis menggembung saat berkemih.
Tatalaksana : sirkumsisi

Parafimosis

Preputium menjepit batang penis, saat teretraksi tidak dapat dikembalikan


lagi kegawatan. Tatalaksana : dorsumsisi.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

29

Hipospadia

Orifisium uretra eksternum terletak di sisi ventral (bawah) penis.


Kontraindikasi untuk sirkumsisi karena kulit digunakan untuk rekonstruksi
kelak.

Epispadia

Orifisium uretra eksternum terletak di sisi dorsal (atas) penis. Kontraindikasi


untuk sirkumsisi karena kulit akan digunakan untuk rekonstruksi kelak.

BPH dan
Adenokarsino
ma Prostat

Gejala obstruksi (pancaran miksi lemah, miksi tidak lampias)


Gejala iritasi (frekuensi, nokturia, urgensi)
Pemeriksaan fisik : Rectal touche pembesaran prostat konsistensi
kenyal, nyeri (-), nodus (-), pool atas tidak teraba. Penunjang USG.
Tatalaksana :
1. Alfa bloker (tamsulosin, terazosin)
2. 5-alfa-reduktase inhibitor (finasterid)
3. Bedah
Pikirkan diagnosis banding kanker prostat jika pada palpasi RT
konsistensi prostat padat, tanda umum keganasan positif.Pemeriksaan
penunjang: PSA (prostat specific antigen), spesifik untuk prostat namun
ditemukan pada banyak kondisi lain seperti BPH, pasca-rectal touche, atau
prostatitis.

Batu saluran
kemih

Nefrolitiasis : nyeri kolik terutama di daerah pinggang, hematuria


Ureterolitiasis : nyeri kolik pinggang menjalar sampai ke kemaluan
Vesikolitiasis : BAK dipengaruhi perubahan posisi gejala kencing
terputus-putus (interupted)
Uretrolitiasis : batu di uretra nyeri di penis saat kencing, retensi urin
Penunjang : BNO-IVP, USG
Tatalaksana : medikamentosa (alfa bloker) / MET (medical expulsion
therapy), anjuran minum air >2 liter /hari, minimal-invasif seperti ESWL
(pemecahan batu dengan ultrasound), hingga bedah tergantung ukuran
batu
Batu saluran kemih : radioopak (calsium, struvit) maupun radiolusen
(asam urat, sistin)

Adenokarsino
ma prostat

Lelaki paruh baya dengan keluhan sulit kencing, bisa disertai kakeksia.
Pemeriksaan fisik khas : rectal touche prostat bernodul (+), keras
Penunjang : PSA, biopsi
Tatalaksana : bedah
Metastasis paling sering ke tulang.

Infeksi
saluran kemih

Pielonefritis

Sistitis

Uretritis
Prostatitis

demam menggigil, keluhan


kencing tidak terlalu dominan,
urinalisis : nitrit +, leukosit
esterase +, nyeri ketok CVA +
demam (-), keluhan kencing
seperti disuria, frekuensi, dan
urgensi, nyeri tekan suprapubik
+.
demam (-), disuria, frekuensi,
nyeri tekan suprapubik (-).
Demam (+), discharge (+),
nyeri kencing, rectal touche:
nyeri tekan prostat abses
(fluktuasi +)

antibiotik Intravena
(seftriakson)
antibiotik oral
(kotrimoksasol,
siprofloksasin)
antibiotik oral
(kotrimoksasol,
siprofloksasin)
Antibiotik oral
(kotrimoksasol,
siprofloksasin)

Klasifikasi :
Non-komplikata: sistitis pada wanita tidak hamil.
Komplikata: ISK lainnya (termasuk wanita hamil dan pria).
Wanita hamil dengan asimtomatik bakteriuria perlu diterapi.
Pilihan : amoksisilin, sefalosporin, eritromisin.

Satu Tujuan: Lulus!

30

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Penunjang : kultur urin pancar tengah ditemukan kuman bermakna


(biasanya 105)

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

31

HEMATOLOGI
Anemia

ITP

Hemofilia

Anemia
mikrositik

MCV <<

1.

Anemia defisiensi besi


Feritin <<, TIBC >>, serum besi <<,
gambaran sel pensil.
Tatalaksana : suplementasi besi
Transfusi PRC (indikasi)
2. Anemia penyakit kronik
Feritin N / >>, TIBC <<
3. Thalasemia
Ikterik, organomegali, facies cooley,
gambaran sel target, penunjang :
elektroforesis Hb.
Tatalaksana : transfusi PRC, obat
pengikat besi.
Anemia
MCV
1. Anemia karena perdarahan
normositik
normal
Namun, bila perdarahan berlangsung
lama mikrositik
2. Anemia aplastik
Pansitopenia,
organomegali
(-),
penunjang : pungsi sumsum tulang
(gambaran hipoplastik)
Anemia
MCV >>
Anemia defisiensi B12
makrositik
Anemia defisiensi folat
Petekia, purpura, biasa didahului infeksi virus sebelumnya.
Organomegali (-), trombositopenia (+). Tatalaksana : steroid. Splenektomi jika
tidak respons terhadap steroid.
Perdarahan sulit berhenti, perdarahan spontan di sendi (hemartrosis). Khas:
delayed-bleeding (perdarahan sempat berhenti, kemudian keluar darah lagi).
Hemofilia A : defisiensi faktor VIII
Hemofilia B : defisiensi faktor IX
Penunjang : PT normal, aPTT memanjang
Tatalaksana :
Hemofilia A : konsentrat faktor VIII, kriopresipitat, hemofilia B : FFP (fresh
frozen plasma)
Jika di soal mengarah ke hemofilia namun tidak jelas A atau B, pilih hemofilia
A karena prevalensi penyakit jauh lebih sering dibanding hemofiia B

Leukemia

Keganasan sel darah (leukosit meningkat pesat)


Leukemia akut : sel blas +(blast > 20%) , infiltrasi organ relatif jarang
Leukemia kronik : sel blas -, infiltrasi organ sering organomegali
Jadi, pembedanya bukan berdasar onset waktumelainkan keberadaan sel
blast.
Baik leukemia akut maupun kronik dibedakan menurut asal selnya yakni galur
mieloid maupun limfoid.
Tatalaksana: suportif dan kemoterapi

Satu Tujuan: Lulus!

32

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

IMUNOLOGI
SLE

Kriteria diagnostik :
MD SOAP BRAIN, 4 dari 11 gejala dan tanda berikut:
1. Malar rash
2. Discoid rash
3. Serositis (pleuritis, perikarditis)
4. Oral ulcer (sariawan, biasanya tanpa nyeri)
5. Artritis
6. Photosensitivity
7. Blood (gangguan hematologi, misalnya anemia hemolitik autoimun)
8. Renal impairment (misal: nefritis lupus)
9. ANA positif
10. Imunologi (anti dsDNA +)
11. Neurologi (gangguan neurologi dan psikiatri)
Tatalaksana : steroid, sitostatik (metotreksat, siklofosfamid)

HIV - AIDS

Penularan melalui darah, hubungan seksual.


Diagnosis: dengan konseling sukarela (VCT) maupun diinisiasi petugas
kesehatan (PITC). Alur diagnostik: dengan tiga tes serologi, jika tersedia
lakukan tes protein HIV.
Tahapan infeksi:

Infeksi akut (acute retroviral syndrome): 2-6 minggu setelah


terinfeksi.

Window period: sampai 3 bulan setelah terinfeksi. Pasien sudah


dapat menularkan HIV walaupun antibodi masih negatif.

Infeksi HIV asimptomatik (masa laten): tanpa gejala, antibodi


sudah positif. Dapat berlangsung sampai 10 tahun setelah infeksi.

Infeksi HIV simptomatik (lihat bagian stadium klinis).


Stadium klinis:

Stadium 1: asimptomatik atau limfadenopati generalisata persisten

Stadium 2: BB turun <10%, herpes zoster, ulkus oral berulang,


dermatitis seboroik, infeksi jamur kulit

Stadium 3: BB turun >10%, diare kronik >1 bulan, demam >1 bulan,
kandidiasis oral, TB paru

Stadium 4: HIV wasting syndrome (BB turun >10% disertai diare


kronik >1 bulan dan demam > 1 bulan), PCP, dan TB ekstraparu
Tatalaksana:

Kapan memulai? Jika CD4 <350 sel/mm3, ada/tidak ada gejala klinis
ATAU langsung jika ada gejala klinis berat (stadium 2 dan 3)
berapapun CD4-nya.

Regimen: 2NRTI + 1NNRTI


2 NRTI
NNRTI
AZT
3TC
NVP
(zidovudin)
(lamivudin)
(nevirapin)
TDF
FTC
EFZ
(tenofovir)
(emtricitabin (efavirenz)
e)

contoh regimen: AZT + 3TC + NVP


Profilaksis dengan kotrimoksasol pada pada pasien:

Stadium klinis 2, 3, dan 4 ATAU

CD4 <200 sel/mm3

Kotrimoksasol terbukti efektif mencegah infeksi Toxoplasma dan


Pneumocystis carinii pneumonia (P. jiroveci - PCP).
Koinfeksi TB-HIV: lihat di bagian respirologi - TB
Koinfeksi HBV-HIV: berapapun CD4/stadium klinis, mulai terapi ARV. Paduan

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

33

ARV dengan tenofovir (TDF) dan lamivudin (3TC)/emtricitabin (FTC)


ODHA yang hamil: mulai ARV kapanpun pada semua ibu hamil. Hindari
efavirenz (EFV) selama trimester I.
HIV pada anak: interpretasi uji serologi sama jika usia >18 bulan. Jika <18
bulan: perlu pemeriksaan virus HIV karena antibodi ibu dapat menembus
sawar anak.
Pemantauan berupa klinis, imunologi (CD4+), dan virologi (HIV RNA).
(Sumber: Pedoman Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi
Antiretroviral, 2011)

Hipersensitiv
itas

Keadaan di mana terjadi intoleransi sistem imun tubuh terhadap antigen diri
(menyerang tubuh sendiri). Klasifikasi menurut Coombs and Gell*:
1.
2.

3.

4.

Tipe 1: Immediate contoh: anafilaksis, asma, atopi. Diperantarai oleh


IgE. Ciri khas: respons cepat menit sampai jam. Diuji dengan skin test
atau pengukuran IgE total dan IgE spesifik
Tipe 2: sitotoksik (antibody-dependent) contoh: anemia hemolitik
autoimun, penyakit jantung reumatik, miastenia gravis, penyakit graves.
Terjadi karena IgM dan IgG berikatan dengan sel target. Diuji dengan tes
Coombs direk dan indirek
Tipe 3: kompleks imun contoh: rheumatoid arthritis, glomerulonefritis
post-streptotoccus terjadi karena antibodi IgG berikatan dengan
antigen, terjadi kompleks imun, terdeposit di pembuluh darah dan
menginisiasi inflamasi lokal.
Tipe 4: delayed-type contoh: tuberkulosis (tes mantoux), dermatitis
kontak - melibatkan sel T

*belakangan, dikenal pula tipe 5, di mana memisahkan penyakit seperti


miastenia gravis dan penyakit graves ke dalam kelompok ini.

Satu Tujuan: Lulus!

34

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

INFEKSI TROPIK

Satu Tujuan: Lulus!

Demam
Tifoid

Disentri

Minggu 1: Demam perlahan-lahan bertambah tinggi, Manifestasi


menggigil, anoreksia, malaise, nyeri kepala frontal, lidah Klinis
kotor, konstipasi, kembung (timpani), nyeri abdominal
ringan difus, hepatosplenomegali.
SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Minggu 3: Tampilan klinis bertambah berat, status


tifoid (penurunan kesadaran dan/atau psikosis).
Perforasi adalah komplikasi yang jarang, tetapi terjadi
di minggu 3.

Darah tepi: leukopenia, trombositopenia, anemia.

Widal: Mulai positif pada akhir minggu 1. Diagnosis


demam tifoid ditegakkan apabila terdapat peningkatan
titer 4x lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 57 hari atau peningkatan titer O sebanyak 1:200.

Lini pertama: fluorokuinolon


untuk
usia
<18
tahun),
kotrimoksazol.

Lini kedua: Kloramfenikol (kontraindikasi bila leukosit


<2000/mm3), pilihan lain seperti seftriakson dan
sefiksim.

Kultur: Darah (dalam agar empedu) untuk minggu 1-2,


feses untuk minggu 2-3, urin untuk minggu 3-4. Kultur
merupakan baku emas.

Penyebab: bakteri
hystolytica.

Shigella

(DOC, kontraindikasi
amoksisilin/ampisilin,

atau

parasit

Entamoeba

Diare berdarah berlendir, kram perut, demam.


Disentri bakteri umumnya akut (3 hari-1 minggu),
sedangkan disentri amuba terjadi perlahan-lahan (2
minggu/lebih).

Disentri bakteri:
dilakukan).

Disentri amuba: Pemeriksaan mikroskopik ditemukan


trofozoit berisi eritrosit multipel (patognomonik).
Trofozoit memiliki satu nukleus dengan kariosom kecil
yang terletak di sentral. Bila tidak ditemukan trofozoit,
anggap disentri bakteri.

Umumnya
semua
kotrimoksazol.

Tetanus

35

Minggu 2: Demam mencapai plateau, insomnia,


mengigau, bradikardi relatif, diare, perdarahan GI.

kultur

feses

disentri

(umumnya

dianggap

tidak

bakterial

Pemeriksaan
Penunjang

Terapi

Konsep Dasar
Manifestasi
Klinis

Pemeriksaan
Penunjang

Terapi

Bila 2 hari tidak ada perbaikan pemeriksaan tinja.


Ditemukan
trofozoit

metronidazol.
Tidak
ditemukan siprofloksasin, sefiksim, atau asam
nalidiksat.

Trismus, kaku leher, disfagia, kekakuan abdomen,


opistotonus, fleksi lengan, ekstensi tungkai, disfungsi
otonom.
Kejang, baik akibat rangsangan maupun spontan.
Tetap sadar dan kesakitan. Demam jarang.
Tes spatula.

Manifestasi
Klinis

Metronidazol (membunuh bakteri yang memproduksi


toksin) atau amoksisilin.
ATS/anti-tetanus serum (serum kuda) atau TIG/tetanus
imunoglobulin(mengikat toksin bebas).
TT (menginduksi imunitas).
Diazepam (meringankan gejala spasme) jika gejala
spasme dominan dan hebat.

Terapi

Penunjang

Satu Tujuan: Lulus!

36

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


No.
1

Jenis Infeksi
Askariasis

Obat Pilihan I
Pirantel pamoat
Mebendazol

Obat Pilihan II
Piperazin sitrat
Albendazol

Cacing kremi

Mebendazol
Pirantel pamoat

Albendazol

Cacing
tambang

Mebendazol
Pirantel pamoat

Albendazol

T. trichiura

Mebendazol

Albendazol

S. stercolaris

Ivermektin

Albendazol
Tiabendazol

T. solium

Prazikuantel
Niklosamid

T. saginata

Prazikuantel
Niklosamid

Filaria

Dietilkarbamazi
n (DEC)

O. volvulus

Ivermektin

10

S.
haematobium

Prazikuantel

Metrifonat

11

S. mansoni

Prazikuantel

Oksamnikuin

Mebendazol

37

Dosis
Pirantel pamoat: dosis tunggal 10
mg/kgBB basa
Mebendazol: 2 x 100 mg sehari
selama 3 hari
Albendazol: dosis tunggal 400 mg
Mebendazol: dosis tunggal 100 mg
Pirantel pamoat: dosis tunggal 10
mg/kgBB (maksimum 1 g) sebagai
pirantel basa
Albendazol: dosis tunggal 400 mg
Mebendazol: 2 x 100 mg selama 3
hari
Pirantel
pamoat:
untuk
A.
duodenale, dosis tunggal pirantel
basa 10 mg/kgBB (maksimum 1g);
untuk N. americanus, selama 3 hari
Albendazol: dosis tunggal 400 mg
Mebendazol: 2 x 100 mg selama
3-4 hari
Albendazol: dosis tunggal 400 mg
Ivermektin: dosis tunggal 200
g/kgBB
Albendazol: 2 x 400 mg/hari
selama 7-14 hari
Tiabendazol: 2 x 25 mg/kgBB per
hari selama 2-3 hari berturut
Prazikuantel: dosis tunggal 10
mg/kgBB (khusus untuk T. solium,
dianjurkan pencahar 2 jam sesudah
terapi)
Niklosamid: untuk orang dewasa
dan anak di atas 8 tahun, diberikan
2 dosis @ 1 g selang waktu 1 jam;
untuk anak-anak dosis dewasa
Prazikuantel: seperti untuk T.
solium
Niklosamid: seperti untuk
T.
solium
Mebendazol: 2 x 300 mg/hari
selama 3 hari
Untuk W. brancofti, B. malayi, dan
Loa loa: 3 kali sehari 2 mg/kgBB
bersama makan selama 10-30 hari*
Dosis 150 g/kgBB diminum dengan
air pada saat perut kosong, diulang
setiap 3 bulan selama 12 bulan, dan
selanjutnya diulang setiap tahun
sampai cacing dewasa mati (dapat
berlangsung sampai 10 tahun atau
lebih)
Prazikuantel:
dosis
tunggal
sebanyak 40 mg/kgBB atau dosis
tunggal 20 mg/kgBB yang diulangi
lagi sesudah 4-6 jam
Metrifonat: dosis tunggal 7,5-10
mg/kgBB
diberikan
per
oral
sebanyak 3 x dengan interval 14
hari
Prazikuantel:
dosis
tunggal
sebanyak 40 mg/kgBB atau 3 kali
20 mg/kgBB selang 4-6 jam

Satu Tujuan: Lulus!

38

12

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

S. japonicum

Prazikuantel

Oksamnikuin:
dewasa,
dosis
tunggal 15 mg/kgBB; anak, 20
mg/kgBB dibagi dua dosis selang 28 jam
Prazikuantel: 2 kali 30 mg/kgBB
selang 4-6 jam

*) Pada pengobatan massal, jika menggunakanDECdiberikan dengan dosis 6 mg/kgBB/hari dan jika
menggunakanalbendazoldiberikan dengan dosis 400 mg dosis tunggal (anjuran WHO).

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

39

ENDOKRINOLOGI DAN NUTRISI


Diabetes
Melitus

Kriteria diagnosis :
Gejala 3P (polidipsi, poliuria, polifagi) disertai Gula darah puasa > 126 mg/dL,
atau Gula darah sewaktu > 200 mg/dL.
Alur diagnosis

Obat
Sulfonilurea
(glibenklamid)

Mekanisme
Meningkatkan
sekresi insulin

Efek samping
Hipoglikemia,
kenaikan BB

Biguanid
(Metformin)

Menghambat
glukoneogenesis
hati
Menghambat
absorbsi glukosa

Mual, muntah

Tiazolidinedio
n
(pioglitazon)

Meningkatkan
sensitivitas
insulin di reseptor
perifer

Edema

DPP-4
inhibitor
(sitagliptin)

Menghambat
enzim DPP-4
memperpanjang
kerja GLP-1
Insulin
sekretagog
singkat

Muntah

Akarbose

Glinid
(Nateglinid)

flatus

Perhatian
Hindari
pada
gangguan
fungsi
ginjal
Hindari
bila
kreatinin > 1,5
Hindari
pada
gangguan ginjal /
hati.
Hindari
pada
pasien
dengan
CHF,
gangguan
jantung, gangguan
fungsi hati
Pengawasan ketat
pada
gangguan
fungsi ginjal

Sama seperti
sulfonilurea

Sama
seperti
sulfonilurea

Satu Tujuan: Lulus!

40

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

SGLT-2
inhibitor
(canagliflozin)
-->golongan
obat baru

Menurunkan
reabsorpsi
glukosa
saluran kemih

Infeksi saluran
kemih

Gangguan
ginjal

fungsi

di

Indikasi insulin :
1) DM T1
2) Kegawatan hiperglikemia
3) Alergi obat oral
4) DM gestasional
5) Gangguan fungsi ginjal
6) Tidak terkontrol dengan obat oral
HbA1c tiap 3 bulan menilai gula darah terkontrol atau tidak.
Target : HbA1c < 7.
Gula Darah Puasa Terganggu : GDP 110-125
Toleransi Gula Terganggu : TTGO 140-199
Komplikasi DM (Kronik):
1. Mikrovaskular : retinopati, nefropati
2. Makrovaskular: stroke, PJK, penyakit arteri perifer
3. Neuropati
Kegawatan Diabetik (Komplikasi Akut) :
1. KAD, HHS
KAD (ketoasidosis diabetik) : keton urin (+), asidosis metabolik
(nafas kussmaul, pH < 7,35), gula darah >.
HHS (hiperosmolar hiperglikemik state): keton urin (-) atau (+)
lemah, gula darah >>>(umumnya >600 mg/dl), osmolaritas plasma
>>.
Tatalaksana : cairan (NaCl) adalah terapi awal, koreksi elektrolit,
koreksi gangguan asam basa, insulin.
2. Hipoglikemia
Etiologi tersering: sulfonilurea, insulin, asupan makan kurang.
Hipoglikemia gula darah < 60 atau gula darah < 80 + gejala
(berdebar, keringat dingin, sakit kepala, penurunan kesadaran).
Tatalaksana :
1. Bila sadar air gula
2. Tidak sadar D40 bolus 50 mL tiap 15 menit hingga sadar
dilanjutkan infus D10 / 8 jam. Observasi gula darah tiap jam.

Tiroid

Hipertiroid
Peningkatan hormon tiroksin
Berat badan <<, palpitasi,
tremor, berkeringat
TSH <<, fT4 fT3 >>
Etiologi :
Grave (struma difus toksik)
Khas : eksoftamul, bruit
pada auskultasi struma
Mekanisme : autoimun yang
menstimulasi TSH reseptor
Tatalaksana :
PTU, beta bloker

Hipotiroid
Penurunan hormon tiroksin
Berat badan >>, edema
TSH >>, fT4 fT3 <<
Etiologi :
Tiroiditis hashimoto
Khas : muka sembab
Mekanisme : autoimun yang
memblok enzim TPO
Tatalaksana :
Levotiroksin

Hipotiroid lain :
1. Hipotiroid kongenital (kretinisme): perlu screening di usia 2 hari.
Tatalaksana
dengan
levotiroksin.
Keterlambatan
screening
mengakibatkan kretinisme (retardasi mental dan gangguan
pertumbuhan).

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

41

2. Goiter nutrisional / endemik: tatalaksana dengan suplementasi


yodium pada garam dapur.

Malnutrisi
pada Anak

Marasmus
Wajah seperti orang tua

Kwashiorkor
Edema, kaki dan tungkai, pitting -->
salah satu kriteria terpenting
Rambut seperti jagung
Crazy pavement dermatosis

Iga gambang
Baggy pants
Tatalaksana :
1. Fase stabilisasi : F75, atasi hipotermi, hipoglikemi, dehidrasi
2. Fase transisi
3. Fase rehabilitasi

Sindrom
metabolik

Atasi infeksi, berikan suplementasi mineral. Tunda pemberian besi


sampai infeksi teratasi (umumnya dalam waktu 1 minggu setelah mulai
terapi).
Kriteria :
1. Lingkar pinggang (>40 inchi pada pria, > 35 inchi pada wanita)
2. Gula darah puasa (> 110 mg/dL)
3. Tekanan darah (> 130 / 85 mmHg)
4. HDL (<40 pada pria, < 50 pada wanita)
5. Trigliserid (>150 mg/dL)
Bila memenuhi > 3 kriteria : perlu modifikasi gaya hidup untuk mencegah
risiko PJK, DM, dan kelainan metabolik lainnya di kemudian hari.

Dislipidemia

Target penatalaksanaan umumnya menggunakan pengukuran LDL.


Untuk pasien dengan risiko tinggi, seperti DM dan infark miokard, target LDL
<100 mg/dL, bahkan lebih agresif lagi , yakni<70 mg/dL. Selain terapi
farmakologi, terapi diet dan gaya hidup perlu disampaikan kepada penderita.
Golongan
Contoh
mekanisme
Efek samping
Statin
Simvastatin
HMG CoA
Peningkatan
reduktase
enzim hepar,
inhibitor
rabdomiolisis.
Risiko makin
tinggi jika
digabungkan
dengan fibrat
(terutama
gemfibrozil).
Niasin
Vitamin B3
Menghambat
Flushing,
lipolisis, VLDL
hiperglikemi,
sirkulasi <<
hiperurisemia
Resin asam
Kolestiramin
Menghambat
flatulens
empedu
reabsorbsi asam
empedu
Inhibitor reseptor Ezetimibe
Menghambat
Jarang,
kolesterol
absorbsi
meningkatkan
kolesterol di usus enzim hepar
halus
Fibrat
Gemfibrozil,
Meningkatkan
Meningkatkan
Fenofibrat (lebih
LPL trigliserid
enzim hepar
terpilih)
<<

Satu Tujuan: Lulus!

42

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

NEUROLOGI
Nyeri
Kepala
(Headache)

Jenis nyeri kepala primer yang sering dijumpai adalah:


Tension Type Headache
Migrain
Cluster Heahache

Mengenal
Variannya

Tension
Type
Headache

Nyeri bilateral, rasa seperti tertekan dan diikat, lokasi


frontal dan oksipital.

Diagnosis

Akut: Ibuprofen (DOC), aspirin, atau parasetamol


Preventif: Antidepresan trisiklik (mis. amitriptilin)

Terapi

Nyeri
unilateral,
rasa
berdenyut,
lokasi
di
frontotemporal dan okular, mual, muntah, fotofobia,
fonofobia.
Bisa disertai aura (klasik) maupun tanpa aura
(common).

Diagnosis

Akut: Ergot atau triptan.


Preventif: Asam valproat.

Terapi

Nyeri unilateral, terasa sangat berat seperti ditusuk,


mata seperti didorong keluar, lokasi di orbital dan
temporal.
Lakrimasi, mata merah, rinorea, dan perspirasi di
dahi ipsilateral.

Diagnosis

Akut: Ergot atau triptan + metoklopramid, oksigen.


Preventif: Calcium channel blockers.

Terapi

Iskemia otak yang tidak menyebabkan infark.

Etiologi

Transient ischemic attack (TIA): Defisit neurologis


akut, membaik/kembali menjadi normal dalam 24 jam.
Reversibel ischemic neurologic deficit (RIND):
Gejala berlanjut melewati 24 jam, tetapi membaik
dalam 72 jam setelah onset.

Diagnosis

Aspirin atau klopidogrel.


Stroke Iskemik
Stroke Hemoragik
Perdarahan Subarakhnoid

Terapi
Mengenal
Variannya

Trombus atau emboli yang menyebabkan infark serebri.

Etiologi

Anamnesis:
Defisit
neurologis
akut
(biasanya
hemiparesis), berlangsung >72 jam, biasanya kesadaran
tidak menurun.
Pemeriksaan Fisik: Tanda lesi UMN (hiperrefleksia,
refleks patologis).
Pemeriksaan Penunjang: CT-Scan daerah hipodens
di serebrum.
Trombolitik (dengan rt-PA) untuk pasien yang datang
dalam 3-4,5 jam setelah onset dan tidak ada
kontraindikasi.
Aspirin untuk pasien lain.
Antihipertensi tidak selalu dibutuhkan, kecuali

Diagnosis

Migrain

Cluster
Heahache

TIA
RIND

dan

Stroke

Stroke
Iskemik

Satu Tujuan: Lulus!

Terapi

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

43

pada TD>220 mmHg.

Stroke
Hemoragik

Perdarahan
Subarakhnoi
d

Bells Palsy

Vertigo

Perdarahan intraserebral akibat pecahnya pembuluh


darah.
Anamnesis: Defisit neurologis akut, ada penurunan
kesadaran, nyeri kepala, mual, muntah.
Pemeriksaan Fisik: Tanda lesi UMN, biasanya
hipertensi.
Pemeriksaan Penunjang: CT-Scan daerah hiperdens
di serebrum.

Etiologi

Bedah (untuk evakuasi hematoma).


Antihipertensi (jangan turunkan TD >25% MAP).
Agen-agen diuretik osmotik (mis. manitol).

Terapi

Pecahnya sebuah aneurisma yang menyebabkan


perdarahan ke dalam ruangan subarachnoid.

Etiologi

Anamnesis: Nyeri kepala yang dirasakan paling berat


seumur hidup (thunderclap headache).
Pemeriksaan Fisik:Tanda meningismus (mis. kaku
kuduk).
Pemeriksaan Penunjang: CT-Scan hiperdensitas di
dalam sulkus dan fisura serebri.

Diagnosis

Beta-bloker apabila MAP> 130 mmHg.


Bedah (untuk menutup aneurisma).
Paralisis akut nervus VII perifer unilateral,
biasanya karena terkena angin/udara dingin dalam
waktu lama.

Terapi

Dahi dan pipi tidak bisa digerakkan, kelopak mata tidak


bisa menutup (lagoftalmus), bibir tertarik ke sisi yang
sehat.

Diagnosis

Steroid, plester mata ketika tidur, rehabilitasi fisik.


Artificial tears untuk mata yang lagoftalmus.

Terapi

Vertigo Perifer (Vestibular)


Rasanya seperti berputar, serangan episodik, sering
disertai mual dan muntah.
Contoh penyakitnya: BPPV, penyakit Meniere.

Diagnosis

Etiologi

Mengenal
Variannya

Vertigo Sentral (Nonvestibular)


Rasanya
seperti
melayang/hilang
keseimbangan,
serangan kontinyu, jarang disertai mual dan muntah.
Bisa disertai defisit neurologis fokal.

BPPV

Etiologi: kanalith di dalam kanalis semisirkularis.


Klinis: Vertigo yang dipicu oleh perubahan posisi.
Pemeriksaan Penunjang: Manuver Dix-Hallpike.
Tatalaksana: Manuver Epley.

Konsep Utama

Penyakit
Meniere

Etiologi: Terlalu banyak cairan endolimfe di dalam


kanalis semisirkularis.
Klinis: Vertigo disertai gangguan pendengaran dan
tinitus.
Tatalaksana: Diazepam saat serangan, HCT dan
steroid untuk pencegahan.

Konsep Utama

Parkinson

Degenerasi neuron dopaminergik di dalam substansia


nigra.

Etiologi

Satu Tujuan: Lulus!

44

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Epilepsi

TRAP

Tremor,
rigiditas
(tubuh
kaku),
akinesia/bradikinesia
(gerakan
lambat),
postural
instabilitas.
Ditegakkan bila ada 2 dari 3 tanda kardinal (tremor saat
istirahat, rigiditas, dan bradikinesia).
Bedakan sindroma parkinson (etiologi jelas: misal
stroke, atau penggunaan obat antipsikotik) dengan
penyakit parkinson (umumnya idiopatik)

Diagnosis

Levodopa + Bensazerid.
Seringkali idiopatik; bisa juga sebagai bagian dari
sebuah sindrom keturunan, malformasi kongenital,
infeksi, trauma kepala, stroke, tumor, penyakit
degeneratif lain.

Terapi
Etiologi

Kejang parsial (fokal) Berasal dari bagian tertentu


dalam korteks serebri:
Sederhana: Tidak ada penurunan kesadaran. Gejala
bisa sensoris, motoris, otonom, atau psikis,
tergantung bagian korteks yang terlibat.
Kompleks: Ada penurunan kesadaran (ditandai dengan
amnesia).
Gejala
biasanya
berupa
bengong
mendadak yang diikuti dengan automatisme dan
kebingungan pasca-serangan.
Tonik klonik umum sekunder: Kejang parsial yang
berlanjut menjadi kejang tonik klonik umum.

Klasifikasi

Kejang umum Berasal dari seluruh hemisfer korteks


serebri (kiri dan kanan):
Absens/lena (petit mal): Bengong mendadak, tanpa
aura,
tanpa
kebingungan
pasca-serangan.
Berlangsung sebentar (<20 detik), bisa disertai
automatisme maupun tidak.
Mioklonik: Kedutan motorik aritmik (tidak teratur).
Klonik: Kedutan motorik ritmik (teratur), lebih lama dari
mioklonik.
Tonik: Ekstensi/fleksi tonik mendadak pada kepala,
badan, atau ekstremitas.
Tonik klonik umum primer(grand mal): Berawal
sebagai ekstensi tonik ekstremitas atas dan bawah
yang berlangsung beberapa detik, kemudian menjadi
gerakan klonik ritmik dengan kebingungan pascaserangan.
Atonik: Hilangnya tonus postural tubuh secara
mendadak (tiba-tiba jatuh).

Hernia
Nukleus
Pulposus

Klinis: Kejang berulang tanpa demam.


Pemeriksaan Penunjang: Elektroensefalografi.

Diagnosis

Asam valproat, karbamazepin, fenitoin.


Etosuksimid khusus untuk kejang lena.

Terapi

Diskus intervertebralis mengalami


menekan radiks saraf perifer.

herniasi

dan

Anamnesis: Nyeri punggung bawah menjalar ke paha,


sering disertai kelemahan otot dan rasa kebas.
Pemeriksaan Fisik: Tes Lasegue (+), perubahan refleks,
penurunan sensibilitas.
Pemeriksaan Penunjang: MRI.

Satu Tujuan: Lulus!

Etiologi
Diagnosis

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Tirah baring (tatalaksana awal).
Paracetamol,
NSAID,
dan/atau
(benzodiazepin).
Operasi jika gejala berat.

Carpal
Tunnel
Syndrome

Meningitis

relaksan

otot

Kompresi nervus medianus di dalam carpal tunnel.

Etiologi

Anamnesis: Nyeri di pergelangan tangan bagian ventral,


kebas di telapak tangan bagian radial dan jari 1-4.
Pemeriksaan Fisik: Tinel sign (rasa kesemutan saat
carpal tunnel diketuk) dan Phalen sign (rasa kesemutan
saat pergelangan tangan fleksi maksimal).

Diagnosis

Bidai pergelangan tangan saat tidur (tatalaksana awal).


Injeksi steroid ke dalam carpal tunnel.
Pembedahan untuk kasus yang refrakter.

Terapi

Inflamasi lapisan meningen


umumnya karena infeksi.

Etiologi

sistem saraf pusat,

Anamnesis: Demam tinggi, sakit kepala.


Pemeriksaan Fisik: Kaku kuduk (+), tanda rangsang
meningeal (+) (Kernig, Brudzinski I, Brudzinski II).
Analisa cairan serebrospinal:
Bakteri keruh, leukosit tinggi (1000/mm 3), banyak sel
netrofil, protein meningkat, glukosa rendah.
Virus jernih, leukosit rendah (<100/mm3), banyak sel
limfosit, protein normal, glukosa normal.
Tuberkulosis xantokrom, jumlah leukosit variabel,
banyak sel limfosit, protein meningkat (tidak setinggi
bakteri), glukosa rendah.

Ensefalitis

Cedera
Kepala

Terapi

Manifestasi
Klinis
Pemeriksaan
Penunjang

Sesuai patogen penyebab.


Khusus meningitis bakterial diberikan deksametason.

Terapi

Biasanya virus atau TB (meningoensefalitis TB).


Anamnesis: demam, kejang, penurunan kesadaran.
Pemeriksaan Fisik: Tanda rangsang meningeal (-).
Pemeriksaan Penunjang: Analisa CSS + PCR.

Etiologi
Diagnosis

Asiklovir: terapi empirik karena tingginya insidensi


ensefalitis herpes simpleks.
Setelah hasil PCR CSS diketahui, disesuaikan sesuai
patogen.

Terapi

Cedera kepala ringan: GCS 13-15 setelah


observasi, dapat dipulangkan.
Cedera kepala sedang: GCS 9-12 harus
dirawat 2x24 jam, dilakukan CT-Scan.
Cedera kepala berat: GCS 8 koma, harus
dilakukan intubasi dan CT-Scan.

Klasifikasi
berdasarkan
GCS

Komosio serebri (concussion atau gegar otak):


Penurunan kesadaran tanpa disertai kerusakan
anatomis. CT-Scan normal.
Kontusio serebri: Memar pada jaringan otak. CT-Scan
hiperdensitas serebri, tidak semencolok perdarahan
intraserebral.
Perdarahan intraserebral: Pecahnya pembuluh darah

Klasifikasi
berdasarkan
Patologi

Satu Tujuan: Lulus!

45

46

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

yang lebih besar. CT-Scan hiperdensitas serebri yang


mencolok.
Perdarahan epidural: Pecahnya a. meningea media.
Tampilan klinis berupa interval lusid. CT-Scan
hiperdens bikonveks.
Perdarahan subdural: Pecahnya bridging veins. CTScan hiperdensitas seperti bulan sabit. Prognosis
lebih buruk dibandingkan perdarahan epidural.
Perdarahan
subarakhnoid: sakit kepala tidak
tertahankan, kaku kuduk (+). CT-Scan hiperdensitas
di sulkus, fisura, dan falks serebri.
Perdarahan intraventrikular: Tampilan klinis paling
buruk
dengan
prognosa
malam.
CT-Scan
hiperdensitas (darah) di dalam ventrikel otak.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

47

THT
Serumen
Prop

Sumbatan serumen mengakibatkan klinis tuli konduktif.


Tatalaksana dengan irigasi toilet, seruminolitik (misal:
karbogliserin) untuk melunakkan serumen.

Definisi

Otitis Media
Akut (OMA)

Sebagian besar akibat S. pneumonia dan H. influenzae.


Salah satu penyebab demam pada anak yang cukup
sering terjadi.

Definisi

1.
2.
3.

Oklusi: membran timpan retraksi


Hiperemis: membran timpani hiperemis
Supurasi: membran timpani menonjol (bulging),
nyeri hebat disertai demam
Perforasi: tampak perforasi, sekret mengalir
keluar, nyeri berkurang, demam berkurang
Resolusi: sekret mengering, perforasi mulai
membaik. Bisa berlanjut ke OMSK bila resolusi
tidak adekuat.

Stadium Klinis
dan Gejala

Dekongestan (efedrin HCl 0,5%) pada stadium


klinis awal (oklusi, hiperemis)
Antibiotik: amoxicillin terbaik, 5-7 hari. Alternatif:
amoksisilin + clavulanat atau cefalosporin. Dapat
diberikan di semua stadium klinis.
Miringotomi jika fase supurasi
Cuci telinga dengan H2O2 3% jika sudah perforasi

Tatalaksana

Infeksi telinga luar (kanalis auditorius/liang telinga) akibat


bakteri, jamur virus.

Definisi dan
Klasifikasi
Kasus

4.
5.

1.
2.
3.
4.

Otitis
Eksterna

1.
2.
3.

Otitis Media
Supuratif
Kronik
(OMSK)

Otitis eksterna sirkumsripta: furunkel ("bisul") di


1/3 liang telinga bagian luar. Penyebab: S. aureus,
S. albus.
Otitis eksterna difusa: infeksi di 2/3 liang telinga
bagian dalam. Penyebab: Pseudomonas sp.
Otitis eksterna maligna: infeksi yang dapat
berkomplikasi hingga menyebabkan paresis n. VII
dan destruksi tulang temporal. Penyebab:
Pseudomonas
sp.
Faktor
risiko:
DM,
imunokompromais.

Nyeri tekan
mastoid dapat
ditemukan.

Nyeri tekan tragus atau perikondrium, nyeri saat


membuka mulut, penurunan pendengaran, dan sekret
yang berbau (terutama pada kasus OE difusa dan OE
maligna). Paresis n. fasialis mungkin ditemukan pada
kasus OE maligna.
Otitis eksterna sirkumskripta: antibiotika (polimiksin B /
basitrasin)
Otitis eksterna difusa: ear toilet, tampon antibiotik
(kadang antibiotik sistemik)
Otitis ekterna maligna: kultur dan pemberin antibiotika
per oral/parenteral (fluoronkuinolon), debridement radikal.

Gejala klinis

Biasanya kelanjutan dari OMA yang tidak mengalami


resolusi secara sempurna. Misalnya: akibat infeksi
berulang, atau akibat penatalaksanaan kasus OMA yang
tidak adekuat.

Definisi

Tatalaksana

Satu Tujuan: Lulus!

48

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Keluar sekret > 6 minggu (hilang - timbul atau terus


menerus), membran timpani perforasi, dengan penurunan
pendengaran. Tidak ada nyeri.
1.
2.

Otitis
Efusi

Media

Vertigo

Tatalaksana

Transudasi cairan serosa (non-infeksi) di telinga tengah.


Penyebab: kelanjutan OMA, disfungsi tuba, barotrauma
(setelah naik pesawat terbang), maupun alergi.

Definisi

Gangguan pendengaran (telinga "kemasukan air"), tanpa


rasa nyeri. Pada PF ditemukan memran timpani
suram, tidak hiperemis, mobilitas terganggu (tes
Toynbee / Valsava negatif).

Gejala Klinis

Swasirna (self-limiting) dalam 3 bulan. Jika tidak ada


perbaikan, miringotomi dilanjutkan pemasangan grommet
tube (pipa timpanostomi). Dekongestan dapat diberikan.

Tatalaksana

Pusing berputar (pasien berputar atau lingkungan yang


berputar). Dapat disebabkan proses sentral maupun
perifer.

Definisi

Keluhan subjektif pusing berputar. disertai dengan mualmuntah.


Pada kasus vertigo perifer keluhan mual-muntah lebih
hebat dibandingkan vertigo sentral. Vertigo sentral sering
disertai defisit neurologi.

Gejala Klinis

2.

Penyakit

Tipe

Benigna: antibiotik topikal (neomisin + polimiksin),


H2O2 3%
Maligna:
operasi
eradikasi
kolesteatoma,
timpanoplasti / miringoplasti.

1.

BPPV
(Benign
Paroxysmal
Positional
Vertigo)

OMSK tipe benigna (jinak): jika perforasi terletak


di sentral dari membran timpani.
OMSK tipe maligna (ganas): jika perforasi
terletak di attic atau perifer dari membran
timpani. Berisiko menimbulkan komplikasi seperti
mastoiditis, kolesteatoma, paresis n. VII, hingga
destruksi ke jaringan sekitarnya.

Gejala klinis

Vertigo perifer: disebabkan oleh organ vestibular


hingga n. VIII. Contoh penyebab: BPPV, meniere,
neuronitis vestibular.
Vertigo sentral: disebabkan oleh batang otak
hingga otak. Contoh penyakit: tumor sudut
serebelopontin, stroke batang otak.

Klasifikasi

Terjadi
akibat
kanalitiasis
atau
kupolitiasis
(keberadaan
"batu"
di
sistem
vestibular)
yang
menimbulkan sensasi vertigo apabila pasien melakukan
perubahan posisi. Sebagian besar disebabkan oleh proses
degeneratif. Sering pada kanalis posterior.

Definisi

Vertigo saat perubahan posisi kepala, sangat berat


namun hanya singkat. Mual dan muntah hampir pasti
ada. Nistagmus dijumpai Diagnosis dengan manuver DixHallpike.

Gejala Klinis

Manuver Epley, Liberatory, dan Brandt-Daroff. Manuver


dilakukan sendiri oleh pasien.

Tatalaksana

Hidrops endolimfe (kelebihan cairan di endolimfe)

Definisi

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Meniere

kanalis semisirkularis.
Trias: vertigo, tinitus, tuli sensorineural
pendengaran) pada nada rendah.

Epistaksis

Rinitis Alergi

(turun

Gejala Klinis

Simpatomatik: diazepam saat serangan. Diuretik (seperti


HCT atau furosemid) dan kortikosteroid (oral dan injeksi
intratimpani) untuk pengendali. Edukasi diet rendah
garam.

Tatalaksana

Epistaksis anterior: perdarahan dari pleksus Kisselbach,


a. ethmoidalis anterior.
Epistaksis posterior: perdarahan dari a. ethmoidalis
posterior, a. sphenopalatina. Perdarahan lebih hebat,
jarang berhenti sendiri, darah menetes ke belakang
tenggorok.
Cari faktor risiko: trauma (mengorek hidung), infeksi,
tumor, hipertensi, gangguan pembekuan darah.

Etiologi

Epistaksis anterior: (ikuti alur di bawah)


tekan hidung 10-15 menit --> kaustik dengan AgNO 3 2530% jika sumber perdarahan terlihat --> tampon anterior
(dengan pelumas vaselin/salap antibiotik + epinefrin)
selama 2 hari.
Epistaksis posterior: tampon posterior (bellocq) selama
3 hari. Tampon anterior sebaiknya juga dipasang.

Tatalaksana

Dimediasi oleh IgE dan histamin. Alergen inhalan paling


sering.
Bersin berulang, rinorea, hidung gatal (dominan),
kadang dapat diikuti konjungtivitis, hiposmia, dan postnasal drip. Gejala pagi hari dominan.
PF: allergic shiners (stasis vena di bawah mata), crease
(garis di hidung), dan salute (gerakan menggosok-gosok
hidung). DItemukan mukosa edema yang pucat/livide,
sekret cair.
Menurut ARIA (Allergic Rhintis and Its Impact on Asthma),
dibagi menjadi:
Sifat berlangsungnya
1. Inetermiten (<4 hari/minggu atau <4 minggu)
2. Persisten (>=4 hari/minggu dan >=4 minggu)

Etiologi

Beratnya penyakit:
1. Ringan:
tidak
ada
gangguan
berolahraga, maupun istirahat
2. Sedang-berat:
ada
gangguan
berolahraga, maupun istirahat

Rinitis
Vasomotor

49

Gejala Klinis
dan Klasifikasi

aktivitas,
aktivitas,

Penunjang: uji cukit kulit (skin-prick test) atau IgE


RAST (in-vitro). Pemeriksaan tidak spesifik: eosinofil dan
IgE total).
Medikamentosa:
antihistamin,
jika
gejala
berat
tambahkan steroid intranasal.

Tatalaksana

Non-alergi, umumnya akibat saraf parasimpatis yang


hiperaktif.

Etiologi

Keluhan mirip rinitis alergi, namun yang dominan


adalah hidung tersumbat bergantian kiri-kanan, jarang
disertai kelainan mata. Memburuk pagi hari. Pemicu
non-spesifik: seperti udara dingin, bau, parfum,
kelembaban, dan emosional.

Gejala Klinis

Satu Tujuan: Lulus!

50

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Rinitis
Medikament
osa

Sinusitis

Tonsilitis

Skin prick test negatif, IgE RAST negatif, IgE dan


eosinofil darah tidak meningkat.

Penunjang

Hindari pencetus.
Simptomatik: dekongestan oral atau topikal. Apabila
sangat berat pertimbangakan operasi dan neurektomi n.
vidianus.

Tatalaksana

Gangguan
respons
vasomotor
akibat
riwayat
penggunaan vasokonstriktor topikal (tetes/semprot
pelega hidung).

Etiologi

Gejala utama hidung tersumbat, dengan riwayat


penggunaan obat tetes/semprot hidung. Dapat terjadi
sekret berair dengan edema/hipertrofi konka.

Gejala Klinis

Hentikan obat vasokonstriktor topikal.


Berikan kortikosteroid oral dosis tinggi jangka pendek,
atau dekongestan oral

Tatalaksana

Terdapat 4 pasang sinus paranasal: maksila, frontal,


ethmoid, dan sphenoid.
Inflamasi sinus paranasal akibat infeksi terutama viral
dan bakterial dengan gangguan klirens mukosiliar.
Penyebab tersering: S. pneumoniae, H. influenzae, dan M.
catarrhalis.
Faktor risiko: ISPA, polip hidung, kelainan anatomi,
infeksi tonsil/gigi, hipertrofi adenoid. Infeksi kronik
terutama akibat sinusitis akut yang tidak terobati
dengan adekuat.

Etiologi

Sering disertai rinitis pula, sehingga disebut dengan


rinosinusitis.

Akutjika <4 minggu

Subakut jika 4 minggu - 3 bulan

Kronis jika >3 bulan

Klasifikasi

Nyeri pada muka, sekret hidung yang purulen, sering


turun ke tenggorok (post-nasal drip), disertai demam.

Gejala klinis

Baku emas: CT-scan


Alternatif:
foto
posisi
Waters
(dtemukan
perselubungan, air-fluid level, dan penebalan mukosa).

Penunjang

Sinusitis akut: simpatomatik (dekongestan, analgesik),


antibiotik jika bakterial (amosksiilin / amoksisilin +
klavulanat)
Sinusitis kronik: tidak responsif terhadap antibiotik
(kuman gram negatif), definitif: bedah sinus endoskopi
fungsional (FESS).

Tatalaksana

Radang (tonsil faringeal/adenoid dan palatinal). Tersering


disebabkan viral dan bakterial.

Etiologi

Tonsilitis akut: sering didahului common cold, disertai


dengan nyeri tenggorok. Pada infeksi bakterial, dapat
timbul detritus (kumpulan leukosit mati). Demam, nyeri
menelan, otalgia dapat ditemukan. Pembesaran KGB
dapat pula ditemukan.
Tonsilitis akut menjadi kronis jika faktor predisposisi
tidak teratasi. Tampak pelebaran kripta yang dapat
terisi detritus disertai napas berbau.

Gejala klinis

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Tonsilitis
Difteri

Abses
Peritonsil
"Quincy"

Karsinoma
Nasofaring

Angiofibrom
a Nasofaring
Belia

51

Tonsilitis akut viral: analgesik, antibiotik jika bakterial


Tonsilitis akut bakterial: antibiotik (penisilin), obat
kumur desinfektan.
Tonsilitis kronis: ada indikasi untuk tonsilektomi jika
>3x serangan/tahun, maloklusi gigi, sumbatan jalan
napas, hingga rinosinutisi kronis.

Tatalaksana

Infeksi C. difficile, bakteri gram positif berbentuk basil.


Umumnya
infeksi
pada
anak-anak
yang
tidak
mendapatkan imunisasi DPT.

Etiologi

Demam, nyeri tenggorok, disfagia, dapat disertai sesak


napas. PF ditemukan pseudomembran yang berwarna
abu-abu, mudah berdarah apabila pseudomembran
diambil. Pembesaran KGB dapat menyebabkan bull's
neck appearance.

Gejala Klinis

Antibiotik (DOC: penisilin, eritromisin), ADS (serum antidifteri)


Suportif (antipiretik jika demam, intubasi jika ada
ancaman gagal napas)
Vaksinasi setelah pasien sembuh (difteri tidak
menimbulkan kekebalan)

Tatalaksana

Komplikasi dari tonsilitis yang tidak teratasi dengan


baik.

Etiologi

Demam, nyeri tenggorok, disfagia, hot potato voice.


Tampak uvula terdorong ke sisi kontralateral.

Gejala klinis

Insisi/drainase abses disertai dengan pemberian


antibiotik.
Infeksi virus EBV, konsumsi makanan pengawet
(mengandung nitrosamin), iritasi baan kimia, herediter.

Tatalaksana

Gejala dibagi menjadi gejala nasofaring, telinga, mata,


dan saraf. Gejala utama timbul akibat tumbuhnya tumor
di fossa Rossenmuller.

Nasofaring: epistaksis ringan, sumbatan hidung.

Telinga: tinitus, rasa tidak nyaman di telinga,


otalgia.

Mata: diplopia akibat paresis n. III, IV, VI

Saraf: neuralgia trigeminalis, destruksi tulang


tengkorak.
Metastasis ke kelenjar getah bening leher adalah fase
lanjutan.

Gejala Klinis

Baku emas: biopsi nasofaring. Dapat ditunjang dengan


CT scan.
Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk EBV

Diagnosis

Radioterapi
adalah
pengobatan
kemoterapi untuk fase lanjutan.

Tatalaksana

utama,

disertai

Etiologi

Tumor jinak pembuluh darah nasofaring, memiliki


kemampuan destruksi tulang. Ditemukan pada
anak/remaja laki-laki.

Definisi

Hidung tersumbat progresif, epistaksis masif berulang.


Rinoskopi posterior: massa kenyal, warna abu hingga
merah muda. Tumor sangat mudah berdarah.

Gejala Klinis

Satu Tujuan: Lulus!

52

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Benda Asing
Saluran
Cerna

CT scan dan arteriografi.


Operasi merupakan pilihan utama, disamping hormonal
dan radioterapi.

Diagnosis
Tatalaksana

Benda asing dapat masuk ke saluran cerna (mulut - faring


- esofagus - hingga melewati esofagus). Kejadian ini
sering pada anak-anak.

Definisi

Prinsip utama adalah menduga apakah benda asing


tersebut radiopak atau radiolusen.
Gejala umum berupa disfagia/odinofagia, senssi benda
asing, nyeri di leher/tenggorok/dada.

Gejala Klinis

Benda asing yang radiopak: minta foto polos 2 posisi.

Jika di esofagus: endoskopi untuk mengambil


benda asing

Jika distal dari esofagus dan simptomatik:


observasi klinis dan tinja, atau evaluasi berkala
dengan radiologi (setiap 3-4 hari)

Jika distal dari esofagus dan asimptomatik


Benda asing yang radiolusen:

Kecurigaan di esofagus: laringoskopi atau


endoskopi atau esofagogram barium

Kecurigaan bukan di esofagus: amati gejala dan


tinja

Tatalaksana

Sumber: AAFP, 2005

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

53

OFTALMOLOGI
Konjungtiviti
s

Mata merah, visus tidak menurun, tampak pelebaran


pembuluh darah konjungtiva.
Viral

Keratitis

Sekret jernih, ditemukan folikel, paling


mudah menular, dapat ditemukan papila.
Tx: simptomatik, kortikosteroid jika perlu.
Bakteria Sekret purulen, perlengketan kelopak
l
mata. Tx: antibakterial.
Alergi
Mata
gatal
dominan,
sekret
cair,
ditemukan papila. Tx: antihistamin dan
mast-cell stabilzer.
Vernal
Cobblestone appearance. Tx: antihistamin
dan mast-cell stabilzer.
Trakoma Infeksi
C.
trachomatis.
Dapat
menyebabkan sikatriks dan entropion. Tx:
antibiotik (azithromisin PO, atau salep
mata tetrasiklin).
Mata merah, visus menurun, tampak pelebaran
pembuluh darah silier. Nyeri (+) disertai dengan
fotofobia.

Hordeolum

Kalazion

Tipe dan
Penatalaksanaan

Gejala Klinis

Lesi dengan defek epitel disertai infiltrat


dan edema. Tx: antibaktrial topika,
sikloplegia, kortikosteroid.
Herpes
Lesi dendritik. Tx: antiviral topikal.
simpleks sikloplegia, kortikosteroid.
Herpes
Dengan lesi herpes zoster di wajah
zoster
unilateral. Tx: antiviral topikald an oral,
sikloplegia, kortikosteroid.
Fungal
Riwayat trauma dengan tmbuhan. Lesi
hipopion dan satelit. Tx: antifungal topikal,
kontraindikasi kortikosteroid.
Amoeba
Acanthamoeba sp., riwayat berenang dan
penggunaan lensa kontak. Tx: amoebisida
dan kortikosteroid topikal.
Tampilan klinis mirip keratitis.
Tes fluorosein positif (tampak defek epitel)

Tipe dan
Penatalaksanaan

Infeksi Staphylococcus aureus.


Eksternum pada kelenjar Zeis (sebasea) atau Moll
(apokrin).
Internum pada kelenjar Meibom (sebasea).

Etiologi
Klasifikasi

Nodul di tepi (eksternum) atau di balik kelopak mata


(internum), terasa nyeri.

Gejala Klinis

Kompres hangat.
Antibiotik topikal.
Insisi dan drainase bila hordeolum besar/pengobatan
konservatif tidak berhasil.

Tatalaksana

Bakteria
l

Ulkus
Kornea

Gambaran klinis

Radang

granulomatosa

yang

mengakibatkan

Satu Tujuan: Lulus!

54

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

timbulnya nodul tanpa nyeri. Salah satu diagnosis


banding dari hordeolum.

Glaukoma
Akut

Glaukoma
Kronik

Katarak

Retinopati

Peningkatan tekanan intraokular, biasanya akibat


sudut bilik mata depan tertutup (oklusi trabekula oleh
iris).

Definisi

Mata merah mendadak, visus turun, nyeri hebat


(dapat berdenyut), sering disertai mual-muntah.
PF: tekanan intraokular tinggi (>21 mmHg), injeksi
konjungtiva, edema kornea, pupil dilatasi non-reaktif.

Gejala Klinis

Gonioskopi (untuk mengukur sudut bilik mata depan)


Awal: asetazolamid (oral atau IV), timolol tetes,
steroid tetes, pilokarpin (konstriktor pupil).
Definitif: iridotomi perifer

Penunjang
Tatalaksana

Neuropati optik yang disebabkan oleh peningkatan


tekanan
intraokular
secara
menahun
(kronik).
Penyebabnya adalah disfungsi trabekula (sudut
terbuka).

Definisi

Cenderung asimptomatik, pada fase lanjut ditemukan


penyempitan lapang pandang (tunnel vision).
PF: TIO dapat meningkat namun dapat pula normal
(glaukoma normotensi), rasio cup-to-disc (CDR) >0,5;
pemeriksaan
kampimetri
(perimetri)
ditemukan
menyempit.

Gejala Klinis

Timolol
topikal.
trabekulektomi.

Tatalaksana

Definitif:

trabekulopasti

atau

Mata tenang, visus turun perlahan. Sering disertai silau.


Imatur
Matur
Hipermatur
Kekeruhan
Sebagian
Seluruh
Lensa jatuh
Shadow test
Positif
Negatif
Pseudopositif
Visus
> 6/60
< 6/60
<6/60
Katarak kongenital:
umumnya karena infeksi intrauterin (mis. rubella)
pemeriksaan fisik: refleks merah abnormal, leukokoria
bisa menyebabkan ambliopia berat bahkan kebutaan
bedah dilakukan sebelum usia 2 bulan (memastikan
perkembangan visus tidak terganggu).
Katarak traumatik: trauma tumpul, opasitas khas
berbentuk bintang (stellata).

Varian Lainnya

Bedah

beberapa
cara:
ekstraksi
katarak
ekstrakapsular,
ekstraksi
katarak
intrakapsular,
fakoemulsifikasi.

Terapi

Kelainan pada retina yang disebabkan akibat hipertensi


(retinopati
hipertensi)
atau
diabetes
mellitus
(retinopati diabetik).

Etiologi

Mata tenang, dengan visus turun perlahan.

Gambaran Klinis

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Retinopati Hipertensi
Gambaran pembuluh darah copper wiring dan av
crossing.
Retionpati Diabetik
Kadang disertai dengan floaters. Pada funduskopi dapat
digolongkan menjadi:

non-proliferatif
(NPDR)
dengan
mikroaneurisma, perdarahandot and blot, flame,
maupun cotton wool spot.

proliferatif dini (PDR) adalah NPDR ditambah


dengan neovaskularisasi.

proliferatif lanjut (PDR) adalah PDR dini


ditambah dengan perdarahan pada vitreous
hingga dapat terjadi ablasio retina.

Miopia

Hipermetero
pia

Presbiopia

Ambliopia

Trauma
Kimia Mata

Kendalikan faktor risiko.


Fotokoagulasi laser terutama pada diabetik retinopati.

Tatalaksana

Bayangan jatuh di depan retina. Bisa disebabkan bola


mata terlalu panjang (miopia aksial), lensa terlalu
kuat ,atau kornea yang terlalu cekung (miopia
kurvatura).

Definisi

Jika timbul pada anak usia sekolah, prestasi belajar yang


menurun, duduk di depan, memicingkan mata.

Gejala Klinis

Koreksi dengan lensa negatif terlemah.


Bayangan jatuh di belakang retina. Bisa disebabkan bola
mata terlalu pendek (hipermeteropia aksial), lensa
terlalu lemah, atau kornea yang kurang cekung
(hipermeteropia kurvatura).

Tatalaksana
Definisi

Mata yang sering lelah (karena akomodasi terus


menerus).
Koreksi dengan lensa positif terkuat.
Daya akomodasi lensa mata yang mulai melemah.
Koreksi dengan lensa positif, perkiraan kebutuhan
lensa sesuai dengan usia.
40-45
45-50
50-55
55-60
>60 thn
thn
thn
thn
thn
+1 D
+1,5 D
+2 D
+2,5 D
+3 D
"Mata malas", yakni kelainan akibat supresi sistem
saraf pusat terhadap salah satu mata yang
misalnya disebabkan oleh anisometeropia (perbedaan
refraksi antara kedua mata jauh berbeda) atau
strabismus.

Gejala Klinis

Visus turun pada salah satu mata, dan bagaimanapun


upaya koreksi tidak dapat mencapai visus normal
(6/6 atau lebih baik).

Gejala Klinis

Sedini mungkin terdeteksi dan diobati, semakin baik


prognosis.

Tatalaksana

Trauma Kimia Asam


Koagulatif, penetrasi asam tidak terlalu dalam.

Jenis

Tatalaksana
Definisi
Tatalaksana

Definisi

Satu Tujuan: Lulus!

55

56

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Trauma Kimia Basa


Likuefaktif (mencairkan jaringan), sehingga penetrasi
basa dapat menjadi sangat dalam dan sangat
berbahaya. Secara umum trauma basa lebih bahaya
dibandingkan trauma asam.
Baik asam maupun basa, penatalaksanaan adalah:
1. Irigasi dengan air mengalir atau garam
fisiologis yang banyak.
2. Berikan anestesi (seperti tetrakain tetes mata)
untuk mengurangi gejala nyeri. Dapat pula
diberikan kortikosteroid dan sikloplegia.
3. Konsul ke dokter Sp.M untuk penatalaksanaan
lebih lanjut.

Satu Tujuan: Lulus!

Penatalaksanaan

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

57

DERMATOLOGI
Infeksi
Bakterial
Kulit

Impetigo

Erisipelas
dan Selulitis

Folikulitis
Furunkel dan
Karbunkel

Infeksi
Jamur Kulit

Tinea

Kandidiasis
(intertriginos
a)

Pitiriasis
versikolor

Infeksi Viral
Kulit

Varicella

Herpes
Zoster

Krustosa,
biasa
akibat
Streptococcus
hemolyticus.
Predileksi
di
wajah,
sekitar
lubang
hidung
dan
mulut.
Tampak krusta tebal kuning
seperti madu.
Bulosa,
biasa
akibat
Staphylococcus aureus. Kelainan
kulit
berupa
eritema,
bula,
hipopion yang dapat memecah.
Erisipelas:
Infeksi
jaringan
subkutis
superfisial
dengan
eritema batas tegas.Penyebab
umumnya Streptococcus sp.
Selulitis: batas tidak tegas.
Radang folikel rambut, dengan
papul/pustul yang di tengahnya
terdapat rambut.
Furunkel: radang folikel rambut
dan sekitarnya, berupa nodus
eritematosa ("bisul").
Kumpulan
furunkel
adalah
karbunkel.
Jamur
dermatofita,
seperti
Microsporum, Epidermophyton.
Tergantung
lokasi:
kapitis
(kepala),
korporis
(badan),
kruris
(selangkangan),
dan
pedis
(telapak
kaki/antarjari
kaki).
Penunjang:
tes
KOH
10%
(rambut), 20% (kulit-kuku): hifa
panjang bersekat.
Makula/plakat eritema dengan
lesi sateliti di sekelilingnya akibat
Candida
albicans.
Predileksi:
lipatan (intertriginosa), seperti
inframamae dan selangkangan.
Pseudohifa dengan artospora
Makula
hipopigmentasi
(kadang
hiperpigmentasi)
dengan skuama halus, akibat
Malassezia furfur.
Tes KOH: Hifa pendek + spora
bergerombol, sphagetti and
meatball appearance

Antibiotik topikal.
Perbaiki
faktor
predisposisi,
seperti
banyak berkeringat dan
ventilasi.

Virus
varicella
zoster.Ruam
yang multiform (dalam satu
waktu ada vesikel, papul, dan
lainnya) disertai dengan gejala
konstitusi seperti demam.Tes
Tzanck (+)
Reaktivasi virus varicella zoster
yang dorman.
Vesikel multipel dengan dasar
eritema,
dengan
distribusi

Acyclovir 5 x 800
mgper oral.
Bedak
salisil
untuk
mengurangi
kemungkinan
vesikel
pecah.
Acyclovir 5 x 800 mg
per oral selama 7 hari,
bisa
mengurangi
insidens neuralgia post-

*contoh
Ab
topikal:
basitrasin-polimiksin,
kloramfenikol, lain-lain.
Antibiotik sistemik perlu
diberikan.

Antibiotik topikal atau


sistemik.
Antibiotik
sistemik.

topikal

dan

Kapitis:
griseofulvin
oral
Korporis, cruris, pedis:
antifungal
topikal
(misal:
mikonazole).
JIka lesi luas dapat
dipertimbangkan
antifungal oral.
Antifungal topikal.

Selenium sulfida
Antifungal topikal
Pada lesi luas gunakan
antifungal oral.

Satu Tujuan: Lulus!

58

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Veruka
vulgaris
Moluskum
kontagiosum

Infestasi
Parasit Kulit

Skabies

Pedikulosis
Cutaneous
larva
migrans

dermatomal. Riwayat varicella


(+)
Tes Tzanck (+)
Lesi verukosa akibat infeksi HPV.
Predileksi
di
ekstremitas
ekstensor.
Papul dengan delle ("cekungan"
di tengah papul), jika dipijat
mengeluarkan
massa
putih
seperti
nasi
akibat
infeksi
Poxvirus.
Tanda kardinal: gatal malam,
terowongan, tungau, terjadi
pada
orang
berkelompok.
Akibat
Sacroptes
scabiei.
Tampilan klinis: papul, vesikel,
eritema multipel dengan lokasi
tangan-kaki.
Penunjang: burrow ink test dan
mikroskopik.
Varian: kapitis (di kepala),
corporis (di badan), dan pubis.
Akibat
larva
Ancylostoma
caninum
atau
braziliense,
mengakibatkan lesi serpiginosa
(seperti ular) di telapak kaki.

herpetik.
Bedah kaustik, beku,
skalpel.
Dapat
pula
dengan
tinctura
podofilin.
Mengeluarkan massa
dengan
ekstraktor
komdeo.
Alternatif:
kauter dan bedah beku.
Permetrin
5%dosis
tunggal, diulang minggu
depan, relatif aman,
jangan digunakan untuk
usia <2 bulan.
Alternatif:
sulfur
presipitatum
6%
(gunakan 3 hari).
Malathion
0,5%Alternattif:
gameksan 1%.
Albendazol 1 x 400 mg
selama 3 hari. Lainnya:
cryotherapy, kloretil.

Dermatitis

Kontak alergi
Bahan "sehari-hari", akibat hipersensitivitas tipe IV ("ingat, bukan tipe I!"),
biasanya muncul setelah paparan kedua dan ada riwayat alergi. Lesi
umumnya gatal, dengan eritema, vesikel, dan bula yang dominan. Batas
cenderung tegas.
Kontak iritan
Bahan yang dicurigai iritatif, dapat mengenai semua orang setelah pajanan
secara kronik. Lesi umumnya gatal dengan likenifikasi dan fisura, dengan
batas tidak tegas.
Atopi
Kronik residif, polimorfik (eritema, skuama). Kulit sering kering. Terbagi
menjadi fase infantil, anak, dan dewasa. Predileksi utama infantil adalah di
wajah, sementara pada anak dan dewasa biasa lesi di lipat siku daerah fleksor.
Tatalaksana dengan pelembab dan kortikosteroid topikal sedang-kuat.

Acne

Sumbatan keratin pada muara keluar folikel rambut.


Lesi dapat berupa closed comedo (sewarna kulit), open comedo (warna
hitam karena oksidasi zat sebum), hingga papul hingga pustul yang
menandakan inflamasi.
Tingkat keparahan: dari ringan hingga akne konglobata.
Tatalaksana bergantung jenis lesi dan tingkat keparahan. Umumnya
mengikuti urutan: retinoid (derivat vitamin A) topikal --> antibiotik topikal -->
antibiotik oral --> retinoid oral.

Psoriasis

Plak eritematosa dengan skuama tebal putih keperakan, menyerang


ekstensor (siku, lutut). Penyakit yang kronik residif, sering dipicu oleh stres.
Tanda khas:

tetes lilin (lesi digores tapak seperti lilin)

auspitz (bintik perdarahan jika lesi digores)

koebner (kulit yang trauma dapat menjadi psoriasis)


Tatalaksana dengan kortikostesroid topikal, kalsipotrien (analog vitamin D),
ter, maupun terapi ultraviolet.

Miliaria

Kristalina: sewarna dengan kulit, gatal dengan nyeri minimal

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

59

(cenderung tanpa nyeri). Obstruksi saluran kelenjar keringat yang


paling superifisial.

Rubra: eritema, nyeri dominan, lebih profunda dan menginduksi


inflamasi.

Profunda: dengan bentuk papul yang dominan, rasa gatal hampir


tidak ada.
Tatalaksana dengan menjaga kulit tetap kering, lotio calamine, dapat
diberikan antihistamin untuk mengurangi gatal.

Alergi
dan
Urtikaria

Akut (<6 minggu) vs Kronik (>6 minggu)


Hipersensitivitas tipe I (dimediasi IgE dan mast cell) dengan tampilan klinis
plakat eritematosa gatal yang pucat di tengahnya.
Dapat dipicu dengan ice cube test. Penunjang lain berupa skin prick test
dan IgE RAST.
Tatalaksana dengan antihistamin.

Keadaan
Kulit Lain

Liken simpleks kronikus (neurodermatitis sirkumskripta)


Lesi kulit berupa likenifikasi (penebalan kulit dengan relief kulit yang semakin
jelas), gatal, dengan predileksi di lokasi yang mudah terjangkau. Umumnya
diperberat dengan stres psikologis.
Tatalaksana: atasi gatal, kortikosteroid potensi kuat (misal: betametason)
karena lesi kulit cenderung tebal).
Pitiriasis rosea
Etiologi belum jelas. Gambaran makula eritematosa dengan skuama
halus di sekitarnya, dapat memiliki satu makula yang paling besar
(Herald patch), dikelilingi makula lebih kecil membentuk konfigurasi pohon
cemara terbalik. Tatalaksana dengan antihistamin (dan kortikosteroid potensi
sedang).

Tumor Kulit

Karsinoma sel skuamosa


Karsinoma sel basal
Melanoma maligna

Dermatotera
pi

Salep adalah obat topikal dengan penetrasi terkuat, diperlukan untuk kasus
dermatosis yang disertai penebalan kulit (misal: liken simpleks kronikus).
Salep tidak untuk daerah berambut.

Satu Tujuan: Lulus!

60

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

VENEREOLOGI
Duh
Pria

Tubuh

Gonorea (Neisseria gonorrhea), inkubasi 2-7 hari. Keluhan kencing


bernanah, dengan atau tanpa nyeri berkemih (uretritis).
Penunjang: gram (diplokokus gram negatif seperti biji kopi) dari sampel
sekret uretra.
Tatalaksana:

Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal atau Cefixime 400 mg PO dosis


tunggal untuk mengatasi infeksi Neisseria gonorrhea.

Harus dianggap pula menderita uretritis non-gonorea sehingga juga


diberikan azitromisin 1 gram PO dosis tunggal atau doksisiklin 2 x
100 mg PO selama 7 hari
Gonorea juga dapat menginfeksi wanita (sekret vagina), dan neonatus
(konjungtivitis gonorea dengan komplikasi sampai kebutaan).

Duh
Tubuh
Wanita

Trichomoniasis: Trichomonas sp., dengan duh tubuh warna kehijauan berbau


busuk, tampak strawberry cervix. Tatalaksana dengan metronidazol 1 x 2
gram single dose.
Candidiasis vulvovaginal: Candida sp., dengan duh tubuh warna putih
kental seperti susu (atau keju), dengan gatal yang dominan sehingga
tampak lesi garukan (ekskoriasi). Tatalaksana dengan antifungal (nistatin,
klotrimazol).
Cari
faktor
risiko
seperti
DM.
Tatalaksana
dengan
mikonazol/klotrimazol 200 mg intravagina setiap hari selama 3 hari ATAU
flukonazol 150 mg PO dosis tunggal ATAU itrakonazol 200 mg PO dosis
tunggal.
Bacterial vaginosis: Gardenella vaginalis dan bakteri lain. Cenderung kronis,
sekret putih keabu-abuan, berbau tidak enak. "Whiff test" dengan KOH
menghasilkan bau "amis" (fishy-like odor). Tatalaksana dengan metronidazol
1 x 2 gram single dose.

Ulkus
Genital

Sifilis (Treponema pallidum), ulkus soliter tidak nyeri dengan dasar relatif
bersih.Perjalanan klinis: primer (ulkus di genitalia eksterna, soliter tidak nyeri
dengan perabaan keras = ulkus durum), sekunder (ruam multipel pada kulit,
mukosa, organ tubuh lain), laten (umumnya tanpa gejala klinis), dan lanjut
(gumma, neurosifilis, dan sifilis kardiovaskuler).
Diagonsis dengan mikroksop lapangan gelap atau serologi (non-spesifik:
VDRL/RPR, dilanjutkan spesifik: TPHA/FTA-ABS).
Penatalaksanaanstadium dini (primer, sekunder, laten dini <2 tahun) dengan
penisilin G benzatin 2,4 juta unit satu kali suntik; stadium lanjut (>2
tahun) adalah penisilin G benzatin 2,4 juta unit setiap minggu, selama 3
minggu berturut-turut.
Chancre (Hemophilus ducreyi), ulkus multipel nyeri dengan dasar kotor.
Pemeriksaan gram: basil kecil gram negatif berderet seperti rantai, pewarnaan
lain: Wright, Unna-Papanheim. Tatalaksana dengan siprofloksakin 2 500
mg PO 3 hari atau eritromisin 4 x 500 mg PO 7 hari atau injeksi seftriakson
250 mg IM dosis tunggal.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

61

PSIKIATRI
F0

Gangguan mental organik


Demensia dan delirium

Demensia

Alzheimer: berhubungan dengan usia tua. Gejala:


penurunan kognitif yang bertahap dan makin
memburuk.Terapi: asetilkolinesterase inhibitor
Vaskular: berhubungan dengan gangguan vaskular
seperti riwayat stroke, DM, hipertensi
Pick Disease (frontotemporal demensia): ditandai
dengan perubahan kepribadian (paling khas) dan
gangguan bahasa
Dementia with lewy bodies: ditandai dengan
kesadaran yang fluktuatif dan gangguan pada postur
dan cara berjalan.

Varian

Delirium

Kondisi kebingungan akut. Hampir pasti selalu ada


kondisi yang mendasarinya, misalnya operasi besar,
penyakit berat, rawat inap, penggunaan zat.
Terapi: haloperidol jika gaduh gelisah, orientasi waktu
dan tempat kepada pasien.

Definisi

Demensia vs
Delirium

Demensia perjalanan penyakitnya lebih panjang


(hitungan bulan hingga tahun) dan ditandai dengan
lupa (lupa jalan pulang, lupa kalau sudah makan, lupa
meletakkan barang)
Delirium perjalanan penyakitnya lebih cepat (jam
sampai hari) dan ditandai dengan kegelisahan
(mencabut infus di ruang rawat inap, mencabut NGT,
marah-marah)

Beda
perjalanan
penyakit

Demensia VS
Delirium

Demensia: kesadaran adekuat


Delirium: penurunan kesadaran atau fluktuatif

Beda
kesadaran

F1

Penggunaan zat
Opioid, stimulan, depresan

Penggunaan zat

Intoksikasi: akiabt dosis berlebih, efek yang muncul


sesuai dengan farmakologis obat. Misalnya: obat
golongan depresan (benzodiazepin) membuat menjadi
rileks, tenang, nadi turun, nafas turun, tensi turun.
Withdrawal: akibat penghentian obat secara tiba-tiba,
efek yang muncul berlawanan dengan farmakologis
obat. Misalnya: withdrawal obat golongan depresan
(benzodiazepin) membuat menjadi gelisah, tidak bisa
diam, takikardi, nafas cepat, dan tensi meningkat

Beda
intoksikasi
dengan
withdrawal

Stimulan

Contoh:
amfetamin,
kokain,
kafein,
efedrin,
pseudoefedrin
Gejala: meningkatkan fisiologis secara umum (nadi,
nafas, suhu, tensi), menghilangkan ngantuk, dan
membuat semangat

Jenis, gejala

Depresan

Contoh: benzodiazepine, opioid, alkohol


Gejala:
membuat
tenang,
mengurangi
nyeri,
menurunkan fisiologis secara umum (nadi, nafas, suhu,
tensi)
Putus obat: gelisah, nyeri, peningkatan nadi, nafas,
tensi

Jenis, gejala,
putus obat

Satu Tujuan: Lulus!

62

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Contoh: morfin, tramadol, kodein


Gejala:
membuat
tenang,
mengurangi
nyeri,
menurunkan fisiologis secara umum (nadi, nafas, suhu,
tensi)

Jenis, gejala

Paling khas: intoksikasi menyebabkan pinpoint


pupil (miosis)
Tatalaksana: naloxone

Intoksikasi

Halusinogen

Contoh: ganja/kanabis, LSD


Gejala: mengalami halusinasi, misalnya menjadi tibatiba teriak takut akan sesuatu

Jenis, gejala

F2
Skizofrenia

Skizofrenia
Gejala
positif:
Halusinasi,
waham
Gejala negatif: Menarik diri, perawatan diri buruk
Durasi: lebih dari satu bulan

Opioid

Skizofrenia paranoid: dengan dominan waham kejar,


waham kebesaran, waham rujukan. Hampir sebagian
besar skizofrenia adalah golongan ini
Skizofrenia katatonik: dengan dominan gejala
postur/motorik, misalnya mempertahankan postur
aneh, tidak bergerak
Skizofrenia disorganized (hebefrenik): dengan
gambaran proses pikir yang tidak terorganisasi,
tertawa patologis (giggling), buang air sembarangan

Psikotik akut

Sindroma
Ekstrapiramidal

Diagnosis

Varian

Gejala psikotik yang terjadi dalam waktu kurang dari


satu bulan
Antipsikotik generasi kedua: Risperidone
Antipsikotik generasi pertama sudah mulai ditinggalkan
karena efek samping ekstrapiramidalnya (haloperidol,
CPZ)

Terapi

Sindroma ekstrapiramidal (EPS) adalah efek samping


ekstrapiramidal, berhubungan dengan gangguan
pergerakan akibat obat antipsikotik generasi pertama.
Akathisia: perasaan subjektif tidak bisa diam, gelisah
Parkinsonism: menunjukkan gejala parkinson seperti
tremor, rigiditas, muka topeng
Distonia akut: leher seperti terpuntir ke belakang
(seperti menengok ke arah belakang terus), bisa juga
mata yang mendelik terus ke atas

Pengertian

Per oral: triheksifenidil (antikolinergik)

Tatalaksana
EPS

F3

Gangguan Mood
Depresi, bipolar

Depresi

Gangguan suasana perasaan berupa mood yang turun,


berlangsung minimal dua minggu
Gejala paling utama:
MLM
M-ood turun
L-elah terus
M-inat hilang

Konsep utama

Ringan: gangguan ringan dalam keseharian


Sedang: gangguan dalam beberapa aspek kehidupan,

Perbedaan

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

63

biasanya muncul beberapa gejala somatis seperti


gangguan seksual, keluhan tubuh, sakit kepala, dll.
Berat: biasanya ada gejala psikotik (waham,
halusinasi) atau upaya bunuh diri

Bipolar

Antidepresan:SSRI adalah pilihan utama. (contoh:


fluoxetine 1x20 mg)
Bila ada gejala psikotik: tambahkan antipsikotik
risperidone.
Bila ada upaya bunuh diri: rawat inap
Gangguan suasana perasaan, ada fase mood mania
dan ada fase mood depresi

Terapi

Bipolar 1: ada satu episode mania. Walaupun tidak


ada riwayat depresi sebelumnya, tetap bisa disebut
sebagai bipolar 1.
Bipolar 2: ada satu episode hipomania dan satu
episode depresi mayor.TIDAK BOLEH ada riwayat
episode mania

Diagnosis

Mania: senang berlebih, tidak tidur, berdandan


berlebihan dan cerah, membagi-bagikan uang dan
barang, mudah marah atau tersinggung.
Depresi: sedih, mengurung diri di kamar

Gambaran
klinis

Tatalaksana: mood stabilizer (lithium, valproat). Jika


sedang
depresi,
dapat
diberikan
antidepresan
(antimania tetap diberikan selama fase depresi).

Tatalaksana

Konsep utama

F4
Gangguan
anxietas

Gangguan neurotik, cemas, somatoform


Gangguan cemas menyeluruh
Serangan panik
Fobia
Post traumatic stress disorder

Gangguan
cemas
menyeluruh

Rasa cemas yang menetap, lebih dari 6 bulan, tanpa


pemicu yang jelas. Seolah pasiennya khawatir akan
semua hal (mulai dari pekerjaan, keluarga, kondisi
negara, kondisi dunia, dll). Bisa dibilang kalau pasien
tidak pernah merasa tenang

Pengertian

Panik

Adanya serangan yang singkat, sangat kuat, rasa


berdebar, sesak, terasa seperti akan mati, disertai
keringat dingin, tapi kalau sedang tidak dalam
serangan maka pasien merasa tenang dan baik-baik
saja.

Pengertian

Fobia

Ketakutan berlebihan yang tidak rasional, disertai


perilaku menghindar

Pengertian

Claustrophobia: takut di tempat tertutup dan sempit


Agorafobia: takut dengan tempat yang ramai
misalnya di stasiun, di tengah mal
Fobia sosial: takut ketika disuruh untuk berbicara,
presentasi di depan umum atau di kantor
Fobia spesifik: takut terhadap satu hal yang spesifik,
misalnya takut kucing (namanya ailurophobia), takut
kecoa, takut warna merah, dan sebagainya

Jenis
yang
sering keluar

Rasa cemas yang sering timbul setelah mengalami


suatu kejadian (baik dirinya yang mengalami atau hal
yang menimpa orang lain misalnya anaknya),
disertainya adalah flashback (sering membayangkan

Pengertian

PTSD (post
traumatic stress
disorder)

Mengenal
variannya

Satu Tujuan: Lulus!

64

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

kembali)
Contoh: orang yang hampir tenggelam di laut atau
menyaksikan anaknya tenggelam di laut menjadi
sering berdebar-debar, gelisah bila melihat gambar
atau film tentang laut, dan disertai ada flashback,
mengingat kembali adegan ketika anaknya meninggal
tersebut.
Gangguan somatisasi
Hipokondriasis
Konversi
Psikosomatis

Mengenal
variannya

Somatoform adalah kondisi psikiatri di mana pasien


memunculkan keluhan somatis. (Somato=tubuh ;
form=bentuk). Jadi, keluhan-keluhannya dirasakan di
tubuh, seperti orang sakit biasa

Pengertian

Somatisasi

Pasien datang dengan banyak keluhan fisik, yang tidak


bisa dibuktikan pada saat pemeriksaan.
Kata kuncinya: pasien koleksi gejala
Dok, saya sakit kepala, sakit perut, mual, kesemutan

Pengertian

Hipokondriasis

Pasien yakin bahwa dirinya menderita suatu penyakit


tertentu, walaupun sudah dibuktikan tidak ada
penyakitnya.
Kata kuncinya: pasien bawa diagnosis
Dok, saya pasti sakit ginjal nih

Pengertian

Konversi

Gangguan somatoform yang mengambil bentuk dalam


keluhan gangguan neurologis.
Jadi, pasien bisa buta padahal tidak buta, lumpuh
padahal tidak lumpuh, dan sebagainya. Biasanya
berhubungan dengan kondisi stresor psikologis
misalnya melihat orangtua bertengkar

Pengertian

Psikosomatis

Gangguan somatoform yang sesuai namanya (psiko -->


somatis), dari stresor psikis diubah menjadi keluhan
somatis.
Di soal, pasien mengeluhkan kalau sedang stres
misalnya menjelang ujian atau mau rapat maka
menjadi mulas.

Pengertian

F5

Gangguan
perilaku
berhubungan
dengan
fisiologis
Anorexia nervosa: tidak mau makan, tubuh kurus,
adanya persepsi keliru tentang tubuhnya (sudah
sangat kurus tapi masih merasa gemuk). Berat badan
sangat kurus.

Gangguan
somatoform

Gangguan
makan

Varian

Bulimia nervosa: tidak dapat menahan nafsu makan,


setelah makan akan merasa bersalah sehingga ada
perilaku memuntahkan atau minum pencahar. Berat
badan biasanya normal atau berlebih.

Gangguan tidur
Insomnia

Early: susah memulai tidur


Middle: terbangun berkali-kali sepanjang tidur, tapi
bisa tidur lagi
Late: bangun sangat awal sekali (misalnya jam 3 pagi)
lalu tidak bisa tidur lagi

Satu Tujuan: Lulus!

Varian

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

65

F6
Gangguan
Kepribadian

Gangguan kepribadian dan perilaku pada dewasa


Cluster A
Cluster B
Cluster C

Cluster A

A = Aneh
Skizoid: menyendiri, sama sekali tidak tertarik untuk
bergabung dengan kelompok lain
Paranoid: tidak percaya dan selalu curiga
Skizotipal:
memiliki
pikiran,
persepsi,
dan
kepercayaan aneh misalnya sangat percaya dengan
UFO atau hal-hal gaib

Pengertian

Cluster B

B = "Berisik"
Antisosial: perilaku preman, melanggar peraturan
(HATI-HATI, bukan antisosial dalam artian anti dengan
suasana sosial! Orang dengan perilaku antisosial ini
anti dengan ATURAN SOSIAL)
Ambang: impulsivitias, hubungan yang tidak stabil,
mudah mencap orang sebagai baik atau jahat.
Histrionik: drama queen/king, suka menjadi pusat
perhatian, heboh, berlebihan
Narsisistik: suka melebih-lebihkan diri, suka dipuji,
merendahkan orang lain

Pengertian

Cluster C

C = Cemas
Cemas menghindar: pemalu, merasa tidak layak
untuk bergabung dengan kelompok lain. Sebenarnya
ingin bisa berkumpul dengan orang lain tapi takut
ditolak
Dependen: merasa selalu perlu orang lain, tidak bisa
bergantung pada dirinya sendiri
Obsesif-kompulsif (anankastik): keteraturan yang
berlebihan, perfeksionis berlebihan
Transeksual: merasa dirinya memiliki identitas lawan
jenis, contoh: laki-laki merasa bahwa dirinya lebih
cocok sebagai wanita sehingga berpakaian seperti
lawan jenis
Transvestisme:
kepuasan
seksual
dengan
menggunakan pakaian lawan jenis. Contoh: laki-laki
sering menggunakan pakaian dalam istrinya, tapi
sehari-hari tetap menganggap dirinya laki-laki dan
berpakaian laki-laki

Pengertian

Gangguan
seksual

Varian

Ekshibisionis: perilaku menunjukkan alat kelamin


kepada orang lain, kepuasan diperoleh saat melihat
orang tersebut takut atau teriak
Voyeurisme: kepuasan seksual yang didapat dari
perilaku mengintip
Sadisme: kepuasan seksual yang diapat dengan cara
menyakiti orang lain
Masokisme: kepuasan seksual yang diapat dengan
cara disakiti (atau menyakiti diri sendiri) secara fisik
atau mental, misalnya memasukkan kawat ke dalam
uretra

F7
Retardasi
mental

Retardasi mental
Penurunan kemampuan kognitif secara umum
Ringan 50-74
Sedang: 35-49
Berat: 20-34
Sangat berat: <20

Definisi,
pembagian
berdasar IQ

Satu Tujuan: Lulus!

66

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

F8
Autisme

Gangguan perkembangan psikologis


Terjadi pada anak pada usia perkembangan (paling
sering sebelum usia 7 tahun).
Penarikan diri dari aktivitas sosial, perilaku
repetitif, gangguan berbahasa. Fungsi kognitif lain
biasanya baik

Satu Tujuan: Lulus!

Definisi

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

67

REPRODUKSI
Proses
Persalinan
Fisiologis

Kala I : proses membukanya serviks


Fase laten : bukaan < 4 cm (selama 8 jam)
Fase aktif : bukaan 4-10 cm (lengkap) selama kira-kira 6 jam
(1 cm/jam)
Kala II: proses melahirkan bayi
Dimulai sejak bukaan serviks lengkap hingga lahirnya bayi
Batas waktu 60 menit pada nullipara dan 30 menit pada multipara
Kala III: proses melahirkan plasenta
Dimulai sejak lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta
Batas waktu 30 menit
Kala IV: pemantauan keadaan ibu (tanda-tanda vital)
Dimulai sejak lahirnya plasenta sampai 2 jam setelahnya

Hiperemesis
gravidarum

Muntah-muntah sering terjadi pada trimester 1 kehamilan pengaruh


hormon HCG
Bila timbul manifestasi klinis (penurunan BB, dehidrasi) hiperemesis
gravidarum.
Komplikasi : hiponatremia, hipokalemia, alkalosis metabolik, ketosis.
Tatalaksana :
1. Small frequent feeding
2. Bila ringan, antimuntah terpilih : B6 (piridoksin)
3. Bila berat, cairan + antimuntah IV (ondansentron, metoklopramid,
difenhidramin)
Domperidon dikontraindikasikan pada ibu hamil.

Perdarahan
dini

Perdarahan sebelum usia gestasi 20 minggu


Penyakit
Karakteristik
Penunjang
Abortus
Abortus iminens
USG
Inspekulo :
Beta HCG
Ostium tertutup
Ekspulsi (-)
TFU tetap
Abortus insipiens
Inspekulo :
Ostium terbuka
Ekspulsi (-)
TFU tetap
Abortus inkomplit
Inspekulo :
Ostium terbuka
Ekspulsi sebagian
TFU <<
Abortus komplit
Inspekulo :
Ostium tertutup
Ekspulsi total
TFU <<
Abortus septik
Demam,
nyeri,
sekret vagina
Mola
Perdarahan
Beta
HCG
hidatidosa
pervaginal,
mual >>>
muntah, uterus lebih USG
:
besar
dari
usia gambaran
gestasi
snowstorm
Kehamilan
Perdarahan
Beta HCG >
ektopik
pervaginam,
nyeri USG

Terapi
Tirah baring

Dilatase
kuretase

dan

Dilatase
kuretase

dan

Suportif

Dilatasi,
kuretase,
antibiotik
Dilatase
dan
kuretase

Laparotomi

Satu Tujuan: Lulus!

68

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

terganggu

Perdarahan
antepartum

Hipertensi
dalam
kehamilan

perut
bawah,
abdomen tegang

Perdarahan setelah usia gestasi > 20 minggu


Penyakit
Karakteristik
Penunjang
Plasenta previa
Plasenta
USG
menutupi
jalan Tidak
boleh
lahir.
dilakukan VT.
Perdarahan
pervaginam,
nyeri (-)
Solusio plasenta
Plasenta
lepas USG
sebelum
waktunya.
Faktor risiko : ibu
hipertensi
Perdarahan
pervaginam,
nyeri (+), syok,
gawat janin.
Vasa previa
Pembuluh darah USG
korda umbilikalis
menutupi
jalan
lahir.
Perdarahan berat
ketika
ketuban
pecah

Penyakit
Hipertensi kronik
Hipertensi gestasional
Preeklamsia

Eklamsia

Superimposed
preeklamsia

Perdarahan
postpartum

Diagnosis (ingat 4T)


Tone(atonia uteri)

Satu Tujuan: Lulus!

Terapi
SC

Stabilisasi
hemodinamik,
SC

Stabilisasi
hemodinamik,
SC

Definisi
Hipertensi
yang
terdiagnosa
sebelum
kehamilan atau sebelum usia gestasi 20
minggu.
Hipertensi yang terdiagnosa setelah usia
gestasi 20 minggu tanpa proteinuria.
Hipertensi gestasional + proteinuria
Ringan :
TD > 140/90, proteinuria +1
Terapi : tirah baring, metildopa
Berat :
TD > 160/ 110, proteinuria +3
Oliguria, edema paru, gangguan
penglihatan, HELLP sindrom
Terapi : nifedipin, MgSO4
Kejang pada pasien yang diketahui
mengalami preeklamsia
Terapi : MgSO4
Syarat pemberian :
Refleks patela (+)
Urin output > 0,5 cc/BB/ jam
Depresi nafas (-)
Antidotum Ca glukonas tersedia
Hipertensi kronik + proteinuria

Tanda
Uterus
syok

lembek,

Terapi
Cairan, masase fundus,
rangsang
puting,

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Tear (robekan jalan


lahir)
Tissue (sisa jaringan)
Trombosit (gangguan
koagulasi)

Infeksi (endometritis)

Kontraksi
baik,
plasenta lengkap
Plasenta
tidak
lengkap,
terdapat
jaringan pada OUE
SINDROM
HELLP
(Hemolisis,
elevated
liver
enzymes,
low
platelet)
Demam,
sekret
vagina
berbau,
nyeri suprapubik

69

oksitosin.
Hentikan
sumber
perdarahan
Keluarkan sisa jaringan
Cairan,
bimanual,
trombosit.
Cairan,
uterotonika

kompresi
transfusi

Antibiotik,

Satu Tujuan: Lulus!

70

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

MUSKULOSKELETAL
Osteoartritis

Nyeri saat berjalan, onset perlahan, inflamasi (-),


proses degeneratif.
Jumlah sendi yang terkena banyak (poli), sendi kecil
dan besar. Predileksi: pinggang, lutut, vertebra, CMC
1, DIP, PIP. Temuan khas: nodus Bouchard, nodus
Heberden.

Manifestasi Klinis

Radiologi: Osteofit.
Laboratorium: Normal.

Pemeriksaan
Penunjang

Step-up therapy: Parasetamol NSAID


glukosamin & kondroitin sulfat tramadol.

Terapi

Nyeri saat bangun pagi yang membaik dengan


aktivitas, onset perlahan, inflamasi (+), proses
autoimun.
Jumlah sendi yang terkena banyak (poli), sendi kecil.
Predileksi: MCP, PIP, pergelangan tangan, kaki,
pergelangan kaki. Temuan khas: deviasi ulnar, swan
neck, boutonniere.
Dapat ditemukan nodul SC, pulmonal, kardiak,
splenomegali.
Radiologi: Osteopenia, erosi.
Laboratorium: RF (+) (faktor reumatoid).

Manifestasi Klinis

Inisial: NSAID dan kortikosteroid.


Definitif: DMARD (obat terpilih: metotreksat).

Terapi

Nyeri mendadak, bengkak, onset akut, inflamasi (+),


penumpukan tofus.
Jumlah sendi yang terkena mono, sendi kecil dan
besar.
Predileksi:
MTP
1
(podagra),
kaki,
pergelangan kaki, lutut. Temuan khas: kristal urat.
Dapat ditemukan tofus, bursitis olekranon, batu
ginjal.

Manifestasi Klinis

Radiologi: Erosi.
Laboratorium: Asam urat .

Pemeriksaan
Penunjang

Akut: NSAID/kortikosteroid (lini pertama), kolkisin (lini


kedua).
Preventif: Allopurinol (lini pertama), probenesid (lini
kedua).

Terapi

Sistem pengklasifikasian fraktur os maksila.

Konsep Utama

Le Fort I
Le Fort II
Le Fort III

Mengenal
Variannya

Le Fort I

Fraktur maksila horizontal (fraktur Guerin),


memisahkan gigi dari wajah bagian atas.
Garis fraktur berjalan sepanjang maksila bagian
bawah sampai dengan bawah rongga hidung.

Pengertian

Le Fort II

Fraktur piramid, dengan gigi sebagai dasar dan


sutura nasofrontalis sebagai puncak.

Pengertian

Reumatoid
Artritis

Artritis Gout

Fraktur
Fort

Le

Satu Tujuan: Lulus!

Pemeriksaan
Penunjang

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Garis fraktur dimulai dari sutura nasofrontalis,
berjalan ke prosesus frontalis maksila, lalu ke tulang
lakrimalis dan dasar orbita, ke dinding anterior sinus
maksilaris, ke bawah os zigoma, sampai mencapai
lempeng pterigoid.

Le Fort III

Fraktur transversal (craniofacial dysjunction).


Garis fraktur dimulai dari sutura nasofrontalis,
memanjang ke belakang melewati dinding medial
orbit (os etmoid). Di bagian posterior orbita, garis
fraktur
melewati
fisura
orbita
inferior,
lalu
memanjang ke depan mencapai dinding lateral orbit
(os zygoma).

Pengertian

Fraktur
Radius-Ulna

Fraktur
Fraktur
Fraktur
Fraktur

Mengenal
Variannya

Fraktur
Colles

Fraktur
radius
distal
dengan
dislokasi
pergelangan tangan ke arah posterior dorsal
(dinner fork deformity).
Penyebab: jatuh dengan telapak tangan menahan
badan.

Pengertian

Fraktur
Smith

Fraktur
radius
distaldengan
dislokasi
pergelangan
tangan
ke
arah
anterior
(ventral/volar); reverse Colles fracture.
Penyebab: jatuh dengan punggung tangan menahan
badan.

Pengertian

Fraktur
Galeazzi

Fraktur radius disertai dislokasi sendi radio-ulna


distal.
Penyebab: jatuh dengan lengan dalam posisi
hiperpronasi.

Pengertian

Fraktur
Montegia

Fraktur ulna proksimal disertai dislokasi kaput


radius
Penyebab: jatuh dengan lengan hiperpronasi.

Pengertian

Colles
Smith
Galeazzi
Montegia

Satu Tujuan: Lulus!

71

72

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

NEONATOLOGI
Resusitasi
neonatus

Ikterik

Catatan : beberapa algoritma mulai menggunakan CPAP bila bayi tidak apnea,
tetapi terlihat dalam keadaan distress pernafasan.
Ikterik menurut sumbernya :
1. Prehepatik : misalkan disebabkan oleh hemolisis
2. Intrahepatik : misalkan disebabkan oleh kerusakan hati (hepatitis)
3. Posthepatik : misalkan disebabkan oleh obstruksi (atresia bilier)
Ikterus setelah hari pertama sebagian besar fisiologis:
o terjadi pada bayi aterm (5-6 mg/dL)
o onset ikterus setelah 24 jam pertama
o puncak ikterus pada hari ke 3-5
o ikterus membaik dalam 1 minggu.
Ikterus dalam 24 jam pertama kehidupan selalu patologis: sepsis,
inkompatibilitas Rhesus (ibu Rh -, anak Rh +), inkompatibilitas ABO (ibu O,
anak A/B, ibu A anak B dan sebaliknya), G6PD.
Ikterus yang bertahan >14 hari: sepsis, hipotiroid, atresia bilier (tinja
pucat/dempul).
Bilirubin indirek yang meningkat pesat risiko kerusakan otak (kernikterus).

Skala
Kramer

Kramer I: Kepala (bil. total 5-7)


Kramer II: Dada-pusat (bil. total 7-10)
Kramer III: Bawah pusat-lutut (bil. total 10-13)
Kramer IV: Ekstremitas-pergelangan
(bil. total 13-17)
Kramer V: Telapak (bil. total >17)

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

73

Terapi
sinar dan
transfusi
tukar

Trauma
Lahir
Ekstrakrani
al
Kaput
suksadenu
m
Sefal
hematoma
Hematoma
subgaleal

Distres
pernafasan

Penyakit
membran
hialin
Sepsis
neonatorum
(onset dini : <3

Pembengkaka
n ekstrakranial

Melintas
i
garis
sutura

Meningkat
kehilanga
n
darah
akut

Lunak, lekukan

Ya

Tidak

Padat, tegang

Tidak

Tidak

Padat berair

ya

Ya

Tatalaksana

Observasi

Bayi
prematur
<34 minggu
Ibu
faktor
(pecah

dengan
risiko
ketuban

Rontgen
:
gambaran
retikulogranuler
Septik marker :
Neutrofil
imatur/total (I/T

Observasi
Vitamin K,
resusitasi
bila syok

Stabilisasi
hemodinamik,
Surfaktan
Antibiotik
empirik
(ampisilin
+

Satu Tujuan: Lulus!

74

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

hari,
onset
lambat
:
>
3hari )
Transient
Takipnea
of
newborn

Kelainan
genetik

dini)

ratio),
CRP,
kultur darah

gentamisin)

Bayi SC

Rontgen normal
AGD normal

Observasi
membaik
dalam 72 jam

Sindrom down

Trisomi 21

Sindrom
Turner
Sindrom
Cri
du chat
Sindrom
marfan
Sindrom
Klinefelter
Sindrom
Jacobs
Fenilketonuria

45 XO

Satu Tujuan: Lulus!

Delesi kromosom
5
Kelainan jaringan
ikat
47 XXY
47 XYY
Ketiadaan enzim
yang mengubah
fenilalanin
menjadi
tirosin
(fenilalanin
hidroksilase)

Retardasi mental, mongoloid face,


simian palmar crease
Perempuan, pendek, steril, webbed
neck
Tangisan kucing
Ekstremitas panjang, aneurisma
aorta
Laki-laki, atrofi testis, ginekomastia
Sering
dihubungkan
dengan
perilaku agresif
Retardasi mental, kencing dan
keringat berbau menyengat, albino

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


Tanda Pasti
Kematian

Algor Mortis
Livor Mortis/Lebam Mayat
Rigor Mortis/Kaku Mayat
Cadaveric Spasme/Instantenous Rigor Mortis
Decomposition
Adiposera
Mumifikasi

Mengenal
Variannya

Algor Mortis

Penurunan suhu tubuh mayat akibat terhentinya


produksi panas dan pengeluaran panas terus-menerus.

Pengertian

Livor Mortis /
Lebam Mayat

Bercak atau noda besar merah kebiruan/merah ungu


(livide) pada lokasi terendah tubuh mayat akibat
penumpukan eritrosit.
Mulai tampak 20-30 menit setelah meninggal, menetap
setelah 8-12 jam.

Pengertian

Rigor Mortis /
Kaku Mayat

Kekakuan otot yang terjadi setelah periode pelemasan/


relaksasi primer.
Mulai tampak setelah 2 jam, dari luar ke tengah,
lengkap setelah 12 jam, dipertahankan setelah 12 jam,
kemudian menghilang dalam urutan yang sama.

Pengertian

Cadaveric
Spasme /
Instantenous
Rigor Mortis
Decompositio
n

Kekakuan otot segera setelah kematian somatis tanpa


relaksasi primer. Disebabkan oleh deplesi ATP saat
menjelang kematian.

Pengertian

Proses degradasi jaringan terutama protein akibat


autolisis dan kerja bakteri pembusuk terutama
Klostridium welchii.
Mulai tampak 24 jam setelah mati berupa warna
kehijauan pada perut kanan bawah. Larva lalat muncul
36-48 jam setelah kematian, menetas 24 jam
kemudian.

Pengertian

Adiposera

Terbentuknya bahan yang berwarna keputihan,


lunak/berminyak, berbau tengik dalam jaringan lunak
tubuh pascakematian.

Pengertian

Mumifikasi

Akibat penguapan jaringan dan dehidrasi jaringan yang


cukup berat.

Pengertian

Visum et
Repertum

VeR Hidup
VeR Jenazah

Mengenal
Variannya

VeR Hidup

Definitif: dibuat seketika. Korban tidak memerlukan


perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak
menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi luka
ditulis derajat I.
Sementara:
dibuat
sementara
waktu.
Korban
memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan
sehingga menghalangi pekerjaan korban. Kualifikasi
luka tidak ditulis.
Lanjutan: dibuat saat luka korban telah sembuh/pindah
rumah sakit/pindah dokter/pulang paksa. Kualifikasi
luka ditulis.

Pengertian

Satu Tujuan: Lulus!

75

76

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

VeR Jenazah
Penjelasan
Kematian

Terhadap korban yang sudah meninggal.


Penyebab Kematian
Mekanisme Kematian
Cara Kematian

Pengertian
Konsep Utama

Penyebab
Kematian

Perlukaan/penyakit
yang
menimbulkan
kekacauan fisik sehingga menghasilkan kematian.
Contoh: luka tembak, luka tusuk, kanker, aterosklerosis.

Pengertian

Mekanisme
Kematian

Kekacauan fisik yang dihasilkan oleh penyebab


kematian.
Contoh: perdarahan, kerusakan jaringan otak.
Beberapa penyebab bisa memiliki mekanisme yang
sama (perdarahan bisa disebabkan oleh luka tusuk,
luka tembak, atau kanker). Sebaliknya, satu penyebab
bisa
menghasilkan
kematian
melalui
beberapa
mekanisme
(luka
tembak
bisa
menghasilkan
perdarahan, bisa juga menghasilkan kerusakan jaringan
otak).

Pengertian

Cara
Kematian

Menjelaskan bagaimana penyebab kematian itu


datang.
Dikelompokkan menjadi: wajar, pembunuhan, bunuh
diri, kecelakaan, atau tidak dapat dijelaskan.

Pengertian

Derajat Luka

Luka Ringandasar hukum Pasal 352 KUHP


Luka Sedang dasar hukum Pasal 351 (1), 353 (1)
Luka Beratdasar hukum Pasal 90 KUHP

Klasifikasi Luka

Luka Ringan
Luka Sedang

Luka yang tidak membutuhkan perawatan.


Luka yang membutuhkan perawatan, tetapi
memenuhi kriteria luka berat.

Pengertian
Pengertian

Luka Berat

Pembunuhan
Anak Sendiri
= PAS =
Infantisida

tidak

Memenuhi salah satu kriteria di bawah ini:


Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi
harapan akan sembuh sama sekali.
Menimbulkan bahaya maut.
Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan
tugas jabatan/pekerjaan pencarian.
Kehilangan salah satu pancaindera.
Mendapat cacat berat.
Menderita sakit lumpuh.
Terganggunya daya pikir selama >4 minggu.
Gugur/matinya kandungan seorang perempuan.
Ibu kandung membunuh anak sendiri pada
saat/tidak lama setelah dilahirkan. Motif: "takut
ketahuan bahwa ia melahirkan".
Perhatikan bahwa untuk memenuhi kriteria infantisida,
bayi harus:

viabel (usia gestasi >28 minggu; BB>1000


gram; lingkar kepala>32 cm; panjang tumitkepala >35 cm, tidak ada kelainan bawaan
bert).

lahir hidup (dada mengembang, konsistensi


paru seperti spons, permukaan paru seperti
marmer, uji apung paru positif)

tanpa tanda perawatan (plasenta ada, tali


pusat belum dipotong,verniks kaseosa masih
ada, atau tanpa adanya makanan/susu dan
tidak adanya pakaian yang dikenakan bayi)

Satu Tujuan: Lulus!

Pengertian

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0


Jika tanpa tanda lahir hidup: mati dalam kandungan
Jika sudah ada tanda perawatan: pembunuhan
biasa.

Luka tembak

Luka tembak tempel: jejas laras


Luka tembak sangat dekat (<15 cm): kelim api
Luka tembak dekat (15 - 30 cm): kelim jelaga; (30 60 cm): kelim tato
Luka tembak jauh: kelim kesat dan kelim lecet

Klasifikasi

Kelim lecet: kulita ri hilang di sekeliling lubang


Kelim kesat: pelumas, jelaga, elemen mesiu pada tepi
lubang
Kelim tato: butir mesiu yang tidak habis terbakar
sekitar kelim lecet
Kelim jelaga: jelaga/asap pada permukaan kulit sekitar
lubang
Kelim api: daerah hiperemis di tepi lubang

Satu Tujuan: Lulus!

77

78

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

BIOETIKA DAN KODE ETIK KEDOKTERAN


Beneficence

Prinsip bioetik dimana seorang dokter melakukan


suatu tindakan untuk kepentingan pasiennya.
Biasanya dalam kasus di mana dokter memiliki
banyak pilihan, sehingga dapat memutuskan
mana yang paling baik untuk pasien (bandingkan
dengan non-maleficence: di mana dokter memiliki
pilihan yang terbatas karena keadaan yang
mendesak, misalnya).

NonMaleficence:

Memberi obat generik, tidak polifarmasi - jika


sesuai dengan kondisi pasien.

Menyempatkan edukasi ke pasien.

Pemberian obat anti-nyeri pada pasien


terminal (untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien).

Menolong anak yang diduga menjadi korban


kekerasan dalam keluarga.

Membuat rujukan yang dianggap perlu, jika


tidak sesuai lagi dengan kompetensi.
Prinsip
gawat
darurat,
atau
dokter
menghindarkan diri dari tindakan yang dapat
memperburuk dan membuat kondisi pasien
lebih jelek atau dalam posisi yang tidak
menguntungkan (first do no harm).

Autonomy

Menolak aborsi tanpa indikasi medis (mis.


hamil di luar nikah - karena dapat
meningkatkan risiko bagi pasien).
Tidak melakukan eutanasia.
Mengutamakan
pasien
yang
dalam
keadaangawat.
Tidak
melakukan
rujukan
laboratorium
/memberi obat yang sebenarnya tidak
diperlukan demi mendapat komisi dan
gratifikasi.

Dokter wajib menghormati


martabat dan
hak manusia, terutama hak untuk menentukan
nasibnya sendiri. Pasien diberi hak untuk berpikir
secara logis dan membuat keputusan sesuai dengan
keinginannya sendiri.

Melakukan informed consent.


Menjaga rahasia pasien bila orang lain tidak
ada kaitannya (mis. tetangga, atau orang tua
bertanya tentang sakit sang anak pada
keadaan anak sudah dewasa secara hukum).
Memberi pasien hak untuk memutuskan
sendiri (asal dewasa secara hukum dan sehat
mental serta kompeten dalam pengambilan
keputusan),
mis:
keluarga
tidak
mau
transfusi/operasi, dokter tidak memaksa
Melibatkan keluarga dalam pengambilan
keputusan apabila pasien tidak kompeten,
terkait keadaan yang bukan gawat-darurat

Satu Tujuan: Lulus!

Konsep Utama

Contoh

Konsep Utama

Contoh

Konsep Utama

Contoh

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Justice

Tidak berbohong walau demi kebaikan pasien,


mis. jujur mengatakan kalau peluang sembuh
sangat kecil.

Tindakan yang memegang prinsip sama rata, tidak


membeda-bedakan pasien atas dasar SARA, status
sosial, dll. Termasuk melindungi kelompok yang
rentan.

Tidak
membeda-bedakan
pelayanan
walaupun beda suku/agama/ras/golongan.
Pemerintah menyebarkan tenaga kesehatan
secara merata sampai ke daerah.
Diperbolehkan membongkar rahasia pasien
dalam keadaan menyangkut kepentingan
banyak orang, seperti mengungkap rahasia
medis sopir bis yang mengalami epilepsi
kepada atasannya.
Membuka rahasia medis terkait kondisi
penyakit yang digolongakn sebagai kejaadian
luar biasa, seperti kondisi pasien yang
didiagnosis flu burung atau ebola.

Dalam soal UKMPPD, Anda harus cermat melihat


aspek mana yang ditekankan dalam soal. Dapat saja
secara sekilas kasus termasuk ke dalam satu aspek
kaidah dasar bioetik tertentu, namun jika melihat
konteks soal, sesungguhnya kaidah dasar tertentu
yang lebih ditekankan.

Macammacam
Consent

79

Beberapa kondisi kaidah dasar bioetik juga tidak


menemukan jawaban yang pasti, oleh karena itu
diskusi antar-rekan dan kepada pengajar sangat
dibutuhkan dalam memutuskan kerancuan yang
mungkin ditimbulkan.
Expressed Consent
Implied Consent
Informed Consent
Presumed Consent
Mandatory Consent

Konsep Utama

Contoh

Catatan

Mengenal
Variannya

Expressed
Consent

Pasien menunjukkan persetujuannya secara lisan dan


tertulis.

Pengertian

Implied
Consent

Pasien menunjukkan persetujuan


lakunya, mis. mengangguk.

tingkah

Pengertian

Informed
Consent

Persetujuan yang diberikan setelah diberi penjelasan


mengenai tindakan, tujuan, dan efek samping.
Biasanya untuk tindakan medis tertentu dan
umumnya tertulis.

Pengertian

Presumed
Consent

Dokter menganggap pasien memberi persetujuan


meskipun pasien tidak menunjukkan baik secara
expressed atau implied (pasien tidak menolak, jadi
dianggap menerima).

Pengertian

Mandatory
Consent

Keadaan-keadaan yang mutlak dokter tidak boleh


melakukan apa pun sebelum ada persetujuan.
Biasanya merupakan suatu prosedur yang besar dan
invasif, seperti tindakan pembedahan mayor.

Pengertian

dari

Satu Tujuan: Lulus!

80

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Efektivitas
Jalan Keluar

Tetapkan nilai efektifitas untuk setiap alternatif jalan


keluar dengan memberikan angka 1 (paling tidak
efektif) sampai dengan angka 5 (paling efektif).
Prioritas jalan keluar: nilai efektifitasnya paling tinggi.

Efisiensi Jalan
Keluar

Besarnya masalah (Magnitude) Makin besar


masalah yang dapat diatasi, makin tinggi
prioritas jalan keluar tersebut.
Pentingnya jalan keluar (Importancy)
Dikaitkan dengan kelanggengan masalah;
makin lama masa bebas masalahnya, makin
penting jalan keluar tersebut.
Sensitivitas jalan keluar (Vulnerability)
Dikaitkan dengan kecepatan jalan keluar
mengatasi masalah; makin cepat masalah
teratasi, makin sensitif jalan keluar tersebut.

Kriteria
Tambahan

Tetapkan nilai efisiensi untuk setiap alternatif jalan


keluar.
Biasanya dikaitkan dengan biaya (cost) yang
diperlukan untuk melaksanakan jalan keluar: makin
besar biaya yang diperlukan, makin tidak efisien jalan
keluar tersebut.

Konsep Utama

Berikan angka 1 (biaya paling sedikit) sampai dengan


angka 5 (biaya paling besar).
Nilai prioritas (P) untuk setiap alternatif jalan keluar
ditentukan dengan membagi nilai hasil perkalian M x I
x V dengan C.

Cara
Penghitungan

P
KODE ETIK
KEDOKTERAN
INDONESIA

Konsep Utama

(M x I x V )/ C

Nilai P tertinggi: prioritas jalan keluar yang terpilih.


Kode Etik Kedokteran Indonesia, 2012

Pasal 1: menjunjung tinggi dan menghayati


sumpah dokter.

Pasal 2: pengambilan keputusan secara


profesional.

Pasal 3: tidak boleh dipengaruhi sesuatu


yang
menghilangkan
kebebasan
dan
kemandirian profesi.

Pasal 4: perbuatan yang memuji diri


sebaiknya dihindarkan.

Pasal 5: persetujuan pasien/keluarga untuk


nasihat yang melemahkan daya tahan fisik
dan psikis.

Pasal 6: Berhati-hati dalam menerapkan


penemuan/pengobatan baru.

Pasal 7: Surat keterangan hanya jika


diperiksa.

Pasal 8: pelaynaan kompeten, dengan kasih


sayang.

Pasal 9: bersikap ujur.

Pasal 10: menghormati hak pasien, sejawat,


tenaga kesehatan lain.

Pasal 11: melindungi hidup makhluk insansi.

Pasal 12: aspek promotif, preventif, kuratif,


rehabilitatif, dan fisik-psiko-sosiio-kultural.

Pasal 13: kerjasama lintassektoral.

Pasal 14: tulus ikhlas untuk kepentingan


pasien, merujuk jika tidak mampu.

Satu Tujuan: Lulus!

Rangkuman
pasal
Silakan baca
kode etik
kedokteran
Indonesia
secara lengkap.

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Kedokteran
Keluarga

Hubungan
DokterPasien

Organisasi
Kedokteran

81

Pasal 15: memberikan kesempatan pasien


berinteraksi
dengan
keluarga/penasihat,
beribdah.
Pasal 16: merahasiakan segala sesuatu
tentang pasiennya.
Pasal
17:
pertolongan
darurat
wajib
dilakukan.
Pasal 18: memperlakukan teman sejawat
sebagaimana ingin diperlakukan.
Pasal 19: tidak boleh mengambil alih pasien,
kecuali secara etis.
Pasal 20: wajib memelihara kesehatan diri
sendiri.
Pasal 21: mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

Nilai yang dianut oleh kedokteran keluarga:


Pendektan holistik - tidak hanya fisik tapi psikologi
dan sosial
Pendekatan komprehensif - meliputi promosi,
prevensi, terapi, dan rehabilitasi
Berpusat pada pasien (patient-centered care)
Mencakup semua usia (seluruh life-cycle)
Mengutamakan kedokteran pencegahan dibandingkan
kedokteran kuratif
Paternatlisik: berpusat pada dokter
Konsumeristik: dokter dipaksa mengikuti pasien
Default: dokter berusaha patient-centered, namun
pasien tidak kooperatif
Mutualistik: dokter dan pasien sebagai mitra
(hubungan yang baik)
Satu-satunya organisasi profesi. Menghimpun
para
dokter,
bersifat
bebas,
tidak
mencari
keuntungan, dijiwai oleh Sumpah Dokter Indonesia,
serta anggotanya mematuhi Kode Etik Kedokteran
Indonesia.

Prinsip dasar

Registrasi terhadap semua dokter dan dokter


gigi, mengesahkan standar profesi dokter dan
dokter gigi

Konsil
Kedokteran
Inodnesia (KKI)

Tipe

Ikatan Doker
Indonesia (IDI)

Satu Tujuan: Lulus!

82

SAKIT
(KASUS)

SEHAT
(KONTROL)

YA

TIDA
K

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

RISET DAN BIOSTATISTIK


Desain
Penelitian

Secara garis besar, dibagi sebagai berikut:


1. Observasionaltidak
ada
perlakuan/intervensi; kemudian dibagi menjadi:
a. Deskriptif tidak ada pembanding, terdiri
atas:
Laporan kasus (case report).
Seri kasus (case series).
Survei (cross-sectional).
b. Analitik ada pembanding, terdiri atas:
Kasus-kontrol (case-control).
Kohort (cohort).
2. Eksperimentalada
perlakuan/intervensi
(dapat dibagi menjadi deskriptif dan analitik juga,
tetapi tidak dibahas lebih lanjut).

Konsep Utama

Laporan lengkap mengenai profil penyakit seorang


penderita.
Biasanya
penyakit
langka;
dapat
mengawali
penemuan kasus baru.

Laporan Kasus
(Case Report)

Gambaran dari beberapa


penyakit yang sama.

Seri
Kasus
(Case Series)

penderita

dengan

Penilaian sewaktu terhadap individu.


Menilai hubungan asosiasi, bukan kausalitas.
("contoh: rokok berhubungan dengan kanker paru,
BUKAN rokok menyebabkan kanker paru").
Cepat dan murah.
Menghitung relative risk (RR).

Potong lintang
(Crosssectional)

Bersifat retrospektif, sewaktu.


Terdiri dari 2 kelompok:
kasus kelompok yang mengalami hasil jadi/
outcome (sakit, keadaan/gejala suatu penyakit,
dll);
kontrol kelompok yang tidak mengalami hasil jadi/
outcome.
Dapat melihat kausalitas.
Umum digunakan pada kasus langka.
Menghitung odds ratio (OR).
Subjek diikuti untuk periode tertentu (followup).
Terdiri dari 2 kelompok: terpajan dan tidak terpajan.
Sangat baik menilai kausalitas.
Relatif lama dan mahal.
Menghitung relative risk (RR).

Kasus-kontrol
(Case-control).

Relatives
Risk dan
Odds Ratio
FAKTOR RISIKO

HASIL (OUTCOME)

Satu Tujuan: Lulus!

Kohort (Cohort)

Konsep Utama

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

RR

KASUS DI KELOMPOK BERISIKO

Relatives
(RR)

83

Risk

KASUS DI KELOMPOK TANPA RISIKO

A+B

C+D
Odds Ratio (OR)

OR

= KASUS DENGAN RISIKO : KASUS TANPA RISIKO


KONTROL DENGAN RISIKO : KONTROL TANPA RISIKO
A

C
:

A+C

A+C
D

B
:
B+D

AxD
BxC

B+D

Variabel

Variabel Bebas (Independen)


Variabel
yang
menyebabkan/memengaruhi
(faktor-faktor yang dimanipulasi).
Variabel Terikat (Dependen)
Variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas
hasil jadi (outcome).
Variabel Perancu
Variabel yang memengaruhi variabel bebas dan
variabel terikat. Sebagai contoh, jenis kelamin
merupakan variabel perancu pada penelitian
hubungan antara merokok dan penyakit jantung
koroner, karena jenis kelamin berhubungan
dengan merokok (misal: laki-laki lebih senang
merokok), dan jeis kelamin juga berhubungan
dengan variabel terikatnya (misal: laki-laki
umumnya lebih mungkin mengalami penyakit
jantung koroner).

Konsep Utama

Populasi dan
Sampel

Populasi Target
Kumpulan individu yang dibatasi kriteria klinis
dan demografis.
Populasi Terjangkau
Kumpulan individu yang dibatasi tempat dan
waktu.

Sampel
Berasal dari populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria seleksi (kriteria inklusi, eksklusi, dan
drop-out).
Contoh:

populasi target penderita MH

populasi terjangkau = penderita MH yang


berobat ke RSU X selama Januari - Desember
2015

sampel:
populasi
terjangkau
yang
memenuhi kriteria inklusi, tanpa kriteria
eksklusi

Konsep Utama

Satu Tujuan: Lulus!

84

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Skala
Pengukuran
(Jenis
Variabel)

NU-RI (+) KA-NO


[NUmerik Rasio Interval (+) KAtegorik Nominal
Ordinal]
Dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Numerik angka; dibagi lagi menjadi:
a. Rasio tidak bisa nilai minus. Contoh: berat
badan, tinggi badan.
b. Interval bisa nilai minus. Contoh: suhu
tubuh.
2. Kategorik data; dibagi lagi menjadi:
a. Nominal
sederajat.
Contoh:
gender,
sembuh-tidak sembuh, hidup-mati, golongan
darah, status pernikahan.
b. Ordinal bertingkat. Contoh: baik-sedangburuk, pendidikan, stadium penyakit, kadar
kolesterol (rendah-normal-tinggi).

Konsep Utama

Metode
Pengambilan
Sampel

Dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Probability sampling (pengambilan sampel
acak)
a. Acak sederhana (simple random sampling)
b. Acak sistematik (systematic random sampling)
c. Acak
distratifikasi
(stratified
random
sampling)
d. Klaster sederhana (simple cluster sampling)
2. Nonprobability sampling (pengambilan sampel
tidak acak)
a. Convenient/accident sampling
b. Consecutive sampling
c. Purposive/judgmental sampling
d. Snowball sampling
e. Quota sampling

Konsep Utama

Semua memiliki kesempatan yang sama.


Syarat: populasi homogen.
Cara acak sederhana: mengocok kertas yang sudah
diberiangka di dalam kaleng, memakai dadu atau
uang logam.

Acak
Sederhana
(Simple
Random
Sampling)

Setelah dirandomisasi, diambil berdasarkan


urutan atau pola tertentu.

Acak
Sistematik
(Systematic
Random Sampling)
Acak Distratifikasi
(Stratified
Random Sampling)

Dibagi menjadi sub-populasi berdasarkan strata/


tingkatan, kemudian dirandomisasi setiap strata
dirandomisasi.
Cocok pada populasi heterogen.
Dibagi menjadi subpopulasi (cluster)
terbagi alami, seperti wilayah.
Cluster terpilih yang dirandomisasi.

yang

Memilih siapa saja yang kebetulan ada.


Orang yang datang pertama dipilih sebagai subjek
(first come first chosen subject).
Subjek dipilih karena memenuhi karakteristik
yang diinginkan.
Contoh: sampel diambil dari pasien yang datang ke
klinik pada minggu II.

Satu Tujuan: Lulus!

Kluster Sederhana
(Simple
Cluster
Sampling)
Convenient/
Accident Sampling
Consecutive
Sampling
Purposive/
Judgmental
Sampling

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

85

Subjek dipilih secara berantai.


Subjek terpilih selanjutnya memilih subjek
berikut.
Contoh: kasus langka, kasus yang "tabu" (contoh:
kasus multipel sklerosis, AIDS, homoseksual).

Snowball
Sampling

Jumlah subjek ditentukan sejak awal (quota-based),


contohnya 50 orang dewasa.

Quota Sampling
Konsep Utama

Uji
Diagnostik

PPV =

A
A+ B

Positive Predictive
Value (PPV)

Dari yang hasilnya positif, berapa yang benar-benar


sakit.

NPV =

D
C +D

Negative
Predictive
(NPV)

Dari yang hasilnya negatif, berapa yang benarbenar tidak sakit.

Se=

A
A+C

Value

Sensitivity

Dari yang sakit, berapa yang hasilnya positif.

Sp=

D
B+ D

Spesificity

Dari yang tidak sakit, berapa yang hasilnya negatif.

Uji Hipotesis
1

Konsep Utama
Uji Komparatif Membandingkan antar-kelompok.
NB: jangan terkecoh dengan istilah membandingkan, karena soal dapat
menggunakan istilah membandingkan padahal sebenarnya menginginkan
uji korelatif, demikian pula sebaliknya.
Langkah:
No
Lakukan....
Contoh
kasus
samping.

di

Pastikan
yang
diminta adalah uji
komparatif

Tentukan variabel
bebas
dan
tergantung

Contoh
Apa uji hipotesis untuk menentukan apakah
terdapat perbedaan antara kadar kolesterol
(data dalam mg/dl) penduduk di kota dengan
di desa?
Soal ini ingin menentukan apakah kadar
kolesterol penduduk di kota berbeda
dengan di desa. Dengan demikian soal ini
akan "meng-compare". Ya, ini adalah uji
komparatif.
Dihipotesiskan bahwa kota/desa --> kadar
kolesterol. Jadi:
variabel bebas: penduduk kota vs penduduk

Satu Tujuan: Lulus!

86

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

3
4
5

Uji Hipotesis
2

Tentukan
jenis
dan
jumlah
variabel bebas
Tentukan
jenis
variabel
tergantung
Tentukan apakah
berpasangan/tida
k berpasangan

Tentukan
hipotesis
sesuai

uji
yang

desa
variabel tergantung: kadar kolesterol
Variabel bebas: kota vs desa
Jenis: kategorik
Jumlah kelompok: 2
Variabel tergantung: kadar kolesterol (dalam
mg/dl)
Jenis: numerik
Data berpasangan hanya jika: data variabel
tergantung berasal dari individu yang sama
ATAU dilakukan matching. Jika tidak, maka data
tidak berpasangan.
Dalam kasus ini, data variabel tergantung dari
individu
yang
berbeda
(tidak
mungkin
penduduk di desa adalah penduduk di kota
secara bersamaan). Dengan demikian, ini
adalah tidak berpasangan.
Lihat tabel di bawah ini
Kategorik --> 2 kelompok --> numerik --> tidak
berpasangan.
Jawaban: T-unpair

Variabel tergantung
jenis
tidak
berpasanga
Jumlah variabel bebas
variabel
berpasanga
n
tergantung
n
2
nominal
x
McNemar
Mann
2 kelompok
ordinal
Wilcoxon
Whitney
numerik
T-unpair
T-pair
Variabel
bebas:
nominal
x2
Cochran
kategorik
Kruskalordinal
Friedman
>2 kelompok
Wallis
Relatednumerik
ANOVA
ANOVA
Kenali dulu kedua konsep perbedaan antara korelasi dan regresi di bawah
ini:
Uji Korelasi Seberapa besar hubungan/korelasi antar-kelompok
(contoh: seberapa kuat Y berhubungan dengan X)
Uji RegresiPrediksi hasil dari variabel bebas (contoh: jika variabel X
nilainya sekian, berapa nilai variabel Y?)
Jenis
Korelasi

Variabel
Tergantung
Ordinal
Numerik
Nominal

Regresi

Satu Tujuan: Lulus!

Numerik 1
variabel
Numerik >1
variabel

Uji Hipotesis
Spearman
Pearson
Regresi
logsitik
Regresi linear
Regresi
multipel

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

87

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


Five-Star
Doctor
menurut
WHO

Millenium
Developme
nt Goals

Penyedia pelayanan kesehatan & perawatan (careprovider).


Pengambil keputusan (decision-maker).
Komunikator yang baik (communicator).
Pemimpin masyarakat (community leader).
Pengelola manajemen (manager).

Konsep Utama

Penanganan menyeluruh: fisik, mental, dan sosial.


Preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Pengobatan yang diterima pasien adalah yang terbaik
(highest quality).

Care-Provider

Mempertimbangkan:
cost
effective,
benefit-risk
(manfaat-risiko).
Penerapan teknologi penunjang secara etik.

Decision-Maker

Promosi individu, keluarga, dan komunitas menuju


gaya hidup sehat.
Memberdayakan masyarakat menjadi partner dalam
promosi kesehatan.

Communicator

Mampu menempatkan diri sehingga mendapatkan


kepercayaan masyarakat.
Mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama
individu dan masyarakat.
Mampu melaksanakan program sesuai kebutuhan
kesehatan masyarakat.

Community
Leader

Bekerjasama harmonis dengan individu, organisasi,


dan bidang nonmedis untuk kebutuhan pasien dan
komunitas.
Memanfaatkan data kesehatan dengan tepat.

Manager

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Memberantas kemiskinan dan kelaparan.


Mencapai pendidikan untuk semua.
Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan
perempuan.
Menurunkan angka kematian anak.
Meningkatkan kesehatan ibu.
Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit
menular lainnya.
Memastikan kelestarian lingkungan hidup.
Mengembangkan
kemitraan
global
untuk
pembangunan.

No. 4 Menurunkan angka kematian anak dibawah 5


tahun sebesar dua pertiga hingga tahun 2015.
No. 5 Menurunkan angka kematian ibu proses
melahirkan sebesar dua pertiga hingga tahun 2015.
No. 6 Menghentikan dan mencegah penyebaran
HIV/AIDS, malaria, dan lain-lain.

Level of
Prevention

Primary Prevention
Secondary Prevention
Tertiary Prevention

Konsep Utama (8
Sasaran)

Sasaran terkait
Kesehatan

Konsep Utama

Satu Tujuan: Lulus!

88

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Sasaran
Promosi
Kesehatan

Barriers of
Communicati
on
(Penghalang
dalam
Komunikasi)

Reduksi faktor risiko sebelum penyakit muncul NO


DISEASE PRESENT.
Mengurangi insiden dan prevalensi.
Yang termasuk: Health Promotion dan Spesific
Protection.
Contoh: Edukasi dan promosi gaya hidup sehat,
program kesehatan lingkungan.

Primary
Prevention

Gejala muncul dan penyakit sudah terjadi, tetapi


pasien belum mengetahuinya DISEASE HAS
OCCURED.
Yang termasuk: Early Diagnosis and Prompt
Treatment.
Contoh: Mamografi untuk deteksi Ca mammae,
pengobatan hipertensi untuk mencegah komplikasi,
imunisasi.

Secondary
Prevention

Penanganan
untuk
menurunkan
progresivitas
penyakit,
mencegah
komplikasi,
meningkatkan
kualiltas hidup DISEASE HAS ADVANCED.
Yang
termasuk:
Disability
Limitation
dan
Rehabilitation.
Contoh: Penanganan penyakit jantung kronik melalui
obat, diet, olahraga, dan pemeriksaan berkala.

Tertiary
Prevention

Sasaran Primer
Sasaran Sekunder
Sasaran Tersier

Konsep Utama

Sasaran disesuaikan dengan permasalahan kesehatan


suatu kelompok.
Contoh:
Kesehatan ibu dan anak untuk ibu hamil.
Kesehatan reproduksi untuk usia subur.
Sanitasi diri untuk anak sekolah.

Diberikan misalnya kepada tokoh masyarakat, tokoh


agama, tokoh adat.

Sasaran Primer

Sasaran
kepada
pembuat
keputusan/penentu
kebijakan (tingkat pusat/daerah). Misalnya, dinas
kesehatan daerah.

Sasaran Tersier

Sasaran Sekunder

Physical Barriers
Cultural Barriers
Language/Semantic Barriers
Perceptual Barriers
Interpersonal Barriers
Gender Barriers
Emotional/Psychological Barriers

Konsep Utama

Penghalang yang terlihat wujud fisiknya.


Contoh:
Lingkungan suasana ruangan bangsal terlalu ramai
sehingga memengaruhi fokus pasien terhadap
penjelasan dokter.
Jarak tempat duduk dokter-pasien terlalu
jauh/posisinya tidak nyaman.

Physical Barriers

Penghalang dalam hal perbedaan budaya.

Satu Tujuan: Lulus!

Cultural Barriers

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

89

Contoh:
Dokter bersuku Jawa (budaya berkata halus) merasa
tertekan untuk menjelaskan keadaan penyakit
kepada pasien bersuku Batak (budaya berkata
keras).

Family Life
Cycle
(Duvall
1977)

Penghalang berupa perbedaan jenis bahasa, tata


bahasa, simbol bahasa (jargon/istilah medis).
Contoh:
Pengadaan bakti sosial di daerah Jawa Barat dengan
tenaga paramedis yang tidak mengerti Bahasa
Sunda sama sekali.
Dokter berkata, Pak, keadaan paraplegia yang Bapak
alami merupakan gejala pada Caisson Disease
yang dikenal juga dengan penyakit Decompression
Syndrome. Pasien menyimak dengan sangat
tenang.

Language/Semant
ic Barriers

Penghalang berupa persepsi/dugaan yang belum


tentu benar.
Contoh:
Pasien hendak bertanya kepada dokter dengan
berkata, Dok, permisi, saya mau tanya. Dokter
melihat pasien dengan pandangan tajam sambil
memicingkan mata. Pasien menjadi enggan
bertanya karena merasa dokternya galak, Eh,
tidak jadi, Dok.
Penghalang berupa ketidakmampuan pribadi untuk
mengetahui/menyampaikan maksud yang jelas.
Contoh:
Kurang/tidak ada keinginan untuk berpartisipasi
pasien enggan untuk menceritakan keluhannya
kepada dokter.
Kurang/tidak
ada
keinginan
untuk
menggali
keterangan lebih dalam dokter yang hemat
bicara, kurang/tidak menanyakan detail keadaan
penyakit pasien.

Perceptual
Barriers

Penghalang berupa perbedaan jenis kelamin.


Contoh:
Pasien perempuan dengan benjolan di payudara
menolak untuk diperiksa oleh dokter laki-laki.

Gender Barriers

Penghalang berupa keterlibatan emosi pemberi


informasi, penerima informasi, atau keduanya.
Contoh:
Kemarahan Pasien dengan Ca kolon stadium akhir
dalam fase denial mengalami rasa marah kepada
dokter yang merawat sehingga mempersulit dokter
untuk menindaklanjuti keadaan pasien.
Kecemasan Dokter internsip cemas dan ragu
dengan kemampuan klinisnya sehingga tidak
memberikan pelayanan maksimal kepada pasien di
awal masa internsipnya.

Emotional/Psychol
ogical Barriers

1.
2.
3.

8 Siklus

4.
5.

Pasangan baru menikah (tanpa anak).


Keluarga dengan bayi (anak tertua 0-30 bulan).
Keluarga dengan anak prasekolah (anak tertua 30
bulan-5 tahun).
Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua 612 tahun).
Keluarga dengan remaja (anak tertua 13-20

Interpersonal
Barriers

Satu Tujuan: Lulus!

90

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

6.
7.
8.

tahun).
Keluarga dengan dewasa muda (anak pertama
mulai meninggalkan rumah hingga anak terakhir).
Keluarga paruh-baya (tidak ada anak tinggal
serumah hingga masa pensiun).
Aging family members (masa pensiun hingga
kematian).

Diagnosis
Komunitas

Langkap dalam menentukan diagnosis komunitas:


1. Identifikasi masalah pada suatu komunitas.
2. Tentukan prioritas masalah.
3. Analisis penyebab masalah.
4. Memilih/menentukan
alternatif
solusi
pemecahan masalah.
5. Implementasi solusi.
6. Follow-up.

Konsep Utama

Bahaya
Potensial
(Potential
Hazard)

Faktor
Faktor
Faktor
Faktor
Faktor

Konsep Utama

Jenis
Rujukan
AntarDokter

Jenis
Rujukan
AntarInstansi

Fisik
Kimia
Biologik
Fisiologik (Ergonomik)
Psikologik

Yang termasuk: getaran, kebisingan, tekanan panasdingin, radiasi ionisasi (sinar-X, sinar gamma), radiasi
nonionisasi (gelombang elektromagnetik dan suara),
tekanan
udara
(hiper-/hipobarik),
penerangan/pencahayaan.

Faktor Fisik

Yang termasuk: pestisida, pelarut organik (benzena,


toluen, alkohol) dan zat korosif (sabun/detergen),
pupuk, debu, logam berat (krom, arsen, merkuri,
timbal).

Faktor Kimia

Yang termasuk: semua makhluk hidup (bersel satu


sampai bersel banyak, mikroorganisme sampai
hewan).

Faktor Biologik

Interval Referral
Split Referral
Collateral Referral
Cross Referral

Konsep Utama

Wewenang kepada satu dokter konsultan rujukan


untuk jangka waktu tertentu tanpa ikut campur
dokter primer pada jangka waktu tersebut.

Interval Referral

Wewenang kepada beberapa dokter konsultan


rujukan untuk jangka waktu tertentu tanpa ikut
campur dokter primer pada jangka waktu tersebut.

Split Referral

Wewenang dan tanggung jawab diserahkan kepada


dokter lain khusus untuk satu masalah tertentu.

Collateral Referral

Wewenang
penanganan
penderita
kepada dokter lain alih rawat.

Cross Referral

sepenuhnya

Horizontal
Puskesmas A ke Puskesmas B dalam satu strata.
Vertikal
Puskesmas A ke Rumah Sakit B atau sebaliknya.

Satu Tujuan: Lulus!

Konsep Utama

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Rate

91

JUMLAH PENDERITA YANG SAKIT


DISEASE ATTACK RATE =
JUMLAH POPULASI BERISIKO
INCIDENCE RATE =

KASUS BARU DALAM SUATU WAKTU

JUMLAH POPULASI BERISIKO PERTENGAHAN TAHUN


Perhatian:
Jumlah populasi hanya untuk pasien yang masih potensial terkena.
Pada penyakit yang hanya satu kali terkena, misalnya campak.

KASUS BARU DAN LAMA DALAM SUATU WAKTU

PREVALENCE RATE =

JUMLAH POPULASI BERISIKO PERTENGAHAN TAHUN

ANGKA KEMATIAN IBU =

JUMLAH KEMATIAN IBU


100.000 BAYI LAHIR HIDUP

JUMLAH KEMATIAN IBU= kematian karena kehamilan, persalinan sampai 42


hari

ANGKA KEMATIAN BAYI =

JUMLAH KEMATIAN BAYI <1 TAHUN


100 BAYI LAHIR HIDUP

Kami senantiasa terbuka dengan masukan Anda terkait sekilas materi. Jika Anda memiliki
kritik, saran, dan masukan yang konstruktif bagi sekilas materi, silakan sampaikan
kepada pengajar Anda atau silakan hubungi kami melalui email
padiukdi@gmail.com.

Satu Tujuan: Lulus!

92

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

TRYOUT 0
Terima kasih karena Anda telah mengerjakan soal ini sebelum
bimbingan dimulai. Dengan mengerjakan soal ini terlebih dahulu, Anda
memiliki banyak keuntungan, di antaranya:
1. Saat pembahasan, Anda tidak terfokus membaca soal.
2. Anda memiliki lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi pada diskusi.
3. Anda sudah tahu apa yang ingin Anda tanyakan kepada pengajar.
Jawaban dituliskan di lembar jawaban yang tersedia.
1

Tn. Sonar, 38 tahun, datang kepada Anda dengan keluhan sering merasa tidak
enak di dada sebelah kiri setiap kali habis naik-turun tangga. Keluhan sejak 3
bulan terakhir, berlangsung selama 5 menit dan membaik dengan istirahat. Anda
kemudian melakukan pemeriksaan EKG, dan didapatkan bahwa hasil EKG normal.
Diagnosis Tn. Sonar kemungkinan adalah...
A. Angina pektoris stabil
B. Unstable angina pektoris
C. STEMI
D. NSTEMI
E. Gagal jantung kongestif

Ny. Desi, 52 tahun, datang ke dokter karena sesak napas yang menggangu
aktivitas. Jika naik tangga ia merasa kehabisan napas. Beberapa bulan terakhir
harus tidur dengan 2-3 bantal, dan sering terbangun. Pasien punya riwayat darah
tinggi yang tidak diobati. DM, penyakit jantung sebelumnya disangkal. Berikut ini
yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pasien, kecuali...
A. diuretik
B. oksigen
C. morfin
D. posisi 1/2 duduk
E. levodopa

Tn. Bram, berusia 65 tahun, dibawa keluarganya karena tidak sadar secara
mendadak. Dari pemeriksaan tekanan darah didapatkan tekanan darah 220/160
mmHg, frekuensi nadi 100 kali/menit, frekuensi napas 22 kali/menit. Didapatkan
pada CT scan perdarahan intraserebral. Tatalaksana untuk hipertensi yang
paling tepat untuk pasien ini adalah...
A. nikardipin intravena
B.klonidin intravena
C. propanolol per-oral
D. tiazid per-oral
E. simvastatin per-oral

An. Doni, 5 tahun, dibawa ke IGD dengan keluhan diare sejak 10 jam yang lalu.
Diare 8x bewarna kuning. Buang air kecil sekitar 5 jam yang lalu. Anak tampak
mengantuk, tidak mau minum, disertai pula mual dan muntah. Hasil pemeriksaan
ditemukan kesadaran apatis, TD 70/60mmHg, frekuensi nadi 132x/menit, frekuensi

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

93

napas 26x/menit. Tugor kulit sangat turun, perut cembung, mukosa mulut kering,
mata sangat cekung, akral dingin. CRT>3 detik. Apa diagnosis pasien
tersebut?
A. Syok kardiogenik
B. Syok hipovolemik
C. Syok anafilaktik
D. Syok hemoragik
E. Syok neurogenik
5

Tn. Brastyo, 58 tahun, ditemukan tidak sadar di tepi jalan. Paramedis kemudian
datang meraba nadi karotis, hasilnya tidak ada. Kemudian ia melakukan rekaman
EKG dengan hasil sebagai berikut:

Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah...


A. Melakukan defibrilasi 360 joule monofasik
B. Melakukan kardioversi 120 joule bifasik
C. Melakukan kompresi dada dengan bantuan napas
D. Memberikan oksigen dosis tinggi
E. Melakukan pemeriksaan denyut nadi karotis
6

Tn. Ridwan, usia 43 tahun, datang berobat dengan keluhan batuk lebih dari 3
minggu. Keluhan disertai dengan penurunan berat badan. Pemeriksaan BTA
sputum 2x menunjukkan hasil (+), rontgen toraks didapatkan infiltrat pada apeks
paru. Riwayat mendapatkan pengobatan TB disangkal pasien. Regimen apa
yang tepat diberikan kepada pasien?
A. 2RHZE/4(RH)3
B. 2RHZES/RHZE/5(RHE)3
C. 2RHZ/4RH
D. RHZE
E. 4RHZES

Anak Ahmad, 2 tahun, dibawa ke dokter dengan keluhan BB tidak kunjung naik
dan tampak kurus. Anak belum bisa berjalan, PB 73 cm, BB 8,5 kg. Ayah pasien
BTA positif. Dokter memutuskan untuk melakukan tes mantoux dan hasilnya
positif. Berdasarkan skoring TB, di antara pilihan berikut yang paling
meningkatkan kemungkinan anak terdiagnosis TB paru berdasarkan skor
TB anak adalah...
A. gizi buruk
B. kontak dengan BTA positif
C. foto rontgen paru yang sugestif TB
D. limfadenopati generalisata
E. ditemukan destruksi pada vertebra torakalis

Tn. Panjul, usia 26 tahun, datang dengan keluhan sesak yang disertai bunyi ngikngik. Saat serangan pasien masih dapat tidur terlentang dan pasien masih dapat
berbicara kalimat. Dalam 3 bulan terakhir, pasien mengalami serangan 3x dalam
seminggu tapi masih dapat diatasi dengan obat asma yang dibelinya dari warung.
Satu Tujuan: Lulus!

94

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Apakah diagnosis pasien ini?


A. Asma persisten sedang dengan serangan sedang
B. Asma persisten sedang dengan serangan ringan
C. Status asmatikus
D. Asma persisten ringan dengan serangan ringan
E. Asma persisten ringan dengan serangan sedang
9

Ny. Sari, usia 34 tahun datang dengan tanda-tanda hipertiroid. Pada pemeriksaan
fisik, didapatkan eksoftalmus, tiroid membesar dan kenyal, takikardi. Lab TSH
menurun, T4 meningkat. Apa diagnosis yang paling mungkin?
A. Goiter non toksik
B. Penyakit Graves
C. Tiroiditis Hashimoto
D. Adenoma folikular tiroid
E. Kista tiroid

10

Tn. Julio, usia 45 tahun, tertusuk pisau di dada kanan. Napas cepat dan tampak
sesak berat, gerakan dada kanan tertinggal, trakea bergeser ke kiri, perkusi
hemitoraks dekstra hipersonor, suara paru kanan berkurang. Tanda vital tidak
stabil.Tindakan apa yang harus segera dilakukan?
A. Pemberian oksigen sungkup
B. Resusitasi jantung paru
C. Foto rontgen thorax
D. Head-tilt dan chin-lift
E. Needle decompression

11

Tn. Sule, usia 47 tahun, sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan mengeluh
muntah dan kembung. Pasien mengaku sering keluar benjolan pada lipat paha
yang bisa masuk kembali jika berbaring sejak 4 tahun yang lalu. Baru sejak tadi
pagi benjolan tidak dapat kembali. Apakah diagnosis kasus di atas?
A. Hernia inkarserata
B. Hernia inguinalis reponibilis
C. Hernia femoralis
D. Hernia direk ireponibilis
E. Hernia strangulata

12

Bayi Joanna, usia 5 bulan, mengalami diare sejak 4 hari yang lalu. Sejak kemarin
BAB sampai 6x sehari. Bayi ASI eksklusif, menurut ibu masih minum seperti biasa.
Dari pemeriksaan ditemukan ubun-ubun datar, turgor kembali cepat, perut
kembung, dan anus kemerahan.Terapi yang tepat adalah....
A. Terapi B+lanjutkan ASI+ tunda pemberian Zinc
B. Terapi B+lanjutkan ASI+pemberian Zinc 10 mg/hari slm 10-14 hari
C. Terapi A+ hentikan ASI sampai diare sembuh+ zinc 10 mg/ hari slm 10-14 hari
D. Terapi B+ hentikan ASI sampai diare sembuh+ zinc 10 mg/ hari slm 10-14 hari
E. Terapi A+lanjutkan ASI+pemberian Zinc 10 mg/hari slm 10-14 hari

13

Tn. Hercules, 42 tahun, datang ke dokter dengan keluhan muntah darah sebanyak
2 kali. Darah warna merah-kehitaman, jumlah sekitar 300 cc. Sejak 6 bulan yang
lalu, pasien mengatakan perut makin membesar dan badan terasa lemas terus.
Riwayat sakit kuning sebelumnya disangkal. Pasien gemar mengonsumsi alkohol.

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

95

Pada PF ditemukan ascites, hepar sulit dinilai. Tanda vital stabil. Diagnosis
pasien ini adalah...
A. ruptur Mallory-Weiss
B. pecah varises esofagus e.c hipertensi porta
C. gastritis erosiva
D. adenokarsinoma kolon
E. ileus obstruksi
14

Ny. Henny, usia 35 tahun, mengeluh nyeri perut disertai mual muntah sejak 2
minggu yang lalu. Pasien tidak nafsu makan, perut terasa begah. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal, sklera ikterik, dan
hepatomegali. Pada pemeriksaan marker hepatitis diperoleh HBsAg +, HBeAg +,
dan IgM Anti HBc +. Makna pemeriksaan marker hepatitis pasien ini adalah

A. Hepatitis B kronis
B. Hepatitis B akut dan infeksius
C. Pasien menderita Hepatitis B dan Hepatitis E
D. Pasien dulu pernah Hepatitis B dan pernah imunisasi Hepatitis B
E. Hepatitis B carrier dan mendapatkan imunitas

15

Tn. Nanda, 48 tahun, mengeluhkan muncul benjolan dari anus. Benjolan sejak 3
bulan lalu, namun kemarin benjolan keluar dan tidak dapat masuk dengan sendiri.
Saat dokter coba memasukkan, benjolan dapat masuk. Diagnosis pasien ini
adalah...
A. prolaps ani
B. hemoroid grade I
C. hemoroid grade II
D. hemoroid grade III
E. hemoroid grade IV

16

Tn. Desta, 17 tahun, mengeluhkan nyeri di pinggang disertai kencing berwarna


merah. Kencing juga dirasakan berkurang. Mual dan muntah disangkal. Makanan
yang mungkin dikonsumsi oleh Tn. Desta adalah...
A. jeruk dan buah yang asam lainnya
B. jengkol
C. singkong
D. tempe bongkrek
E. makanan kaleng

17

An. Alfonsius, usia 8 tahun, datang dengan keluhan urin berwarna gelap,
sebelumnya pasien menderita demam dan sakit tenggorokan, dari pemeriksaan
BP 136/94, muka sembab, edema pretibial, urinalisis: eritrosit (+) penuh,
leukosit(+). Diagnosis yang mungkin adalah...
A. Sindrom nefritik akut
B. Nefrolitiasis
C. Pielonefritis
D. Sindrom nefrotik
E. Hidronefrosis

18

Tn. Riko, 40 tahun datang dengan keluhan. Badan demam, menggigil serta nyeri
pada pinggang kiri hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan demam
Satu Tujuan: Lulus!

96

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

38,9oC, disertai nyeri ketok kostovertebra kiri. Pada pemeriksaan urin sedimen
eritrosit negatif, leukosit esterase (+), nitrit (+). Diagnosis pasien ini adalah?
A. Nefrolitiasis
B. Pielonefritis akut
C. Sistitis
D. Glomerulonefritis akut
E. Uretritis
19

An. Tison, berusia 6 tahun diantar oleh orang tuanya dengan benjolan pada ujung
penis. Saat diperiksa frenulum penis melingkar di bawah glans penis dan tidak
dapat dikembalikan. Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
A. Parafimosis
B. Hipospadia
C. Fimosis
D. Epispadia
E. Striktur uretra

20

Tn. Prasojo, usia 74 tahun, datang dengan keluhan tidak bisa BAK sejak 1 hari
sebelumnya, riwayat seperti ini sebelumnya disangkal, sebelumnya kencing
normal dan tidak ada riwayat trauma. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien
tampak kesakitan. Didapatkan bulging dan nyeri tekan suprapubik. Setelah
dilakukan kateterisasi dan colok dubur didapatkan prostat teraba membesar,
konsistensi kenyal, permukaan rata. Apakah diagnosis pasien tersebut?
A. Benign prostate hypertrophy
B. Adenokarsinoma prostat
C. Prostatitis
D. Abses prostat
E. Adenokarsinoma buli-buli

21

Tn. Abu, usia 55 tahun, datang ke IGD dengan nyeri pada punggung atasnya sejak
3 hari yang lalu, nyeri dirasakan hilang timbul. BAK lancar namun sedikit
berkurang dan tidak ditemukan demam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri
ketok kostovertebra (+), urin berwarna kekuningan, ureum 50, kreatinin 1.4, kristal
oksalat +3, endapan leukosit 2-4/LPB. Pada pemeriksaan foto abdomen didapatkan
gambaran radioopak seperti tanduk rusa di paravertebra setinggi lumbal 2-3.
Apakah diagnosis pasien diatas?
A. Nefrolitiasis
B. Ureterolitiasis
C. Sistitis
D. Pankreatitis
E. Uretrolitiasis

22

Tn. Miko, usia 40 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan badan lemas sejak
2 minggu yang lalu. Ia sering merasakan nyeri pada ulu hati. Diketahui riwayat
konsumsi jamu pegal linu sejak 2tahun belakangan, dan 1 bulan terakhir sering
BAB warna hitam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva pucat, nyeri
tekan epigastrium. Pemeriksaan laboratorium: Hb 6 g/dl, leukosit 2100/mm 3. Apa
pemeriksaan selanjutnya yang perlu dilakukan untuk menentukan jenis
anemianya?
A. Biopsi sumsum tulang

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

97

B. MCV, MCH, MCHC


C. Elektroforesis hemoglobin
D. Pemeriksaan HbA1c
E. Pemeriksaan retikulosit
23

An. Soni, laki-laki, usia 3 bulan datang diantar oleh ibunya ke RS dengan keluhan
perdarahan pada bekas suntikan pasca imunisasi Hepatitis B. Perdarahan muncul
setelah beberapa menit suntikan diberikan setelah sebelumnya sempat berhenti.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan anak tampak rewel, pernapasan 40x/menit,
nadi 130x/menit, dan suhu afebris. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan
trombosit 350.000/mm3, BT normal, CT meningkat, PT normal, APTT meningkat,
kadar aktivitas FVIII 2%, dan kadar aktivitas FIX normal. Apakah kemungkinan
diagnosis pasien ini?
A. Von Willebrand Disease
B. Hemofilia A
C. Hemofilia B
D. Defisiensi Vitamin K
E. DIC

24

Tn. Ronaldinho, berusia 28 tahun, datang dengan keluhan demam dan diare
kurang lebih 2 minggu. Pasien juga mengeluh berat badan berkurang drastis.
Semula berat badan pasien 70 kg namun saat ini beratnya hanya 58 kg. Pasien
mengatakan hal itu karena nafsu makannya berkurang sejak 3 bulan terakhir.
Pasien menjalani pola hidup bebas, tetapi penggunaan jarum suntik disangkal. BTA
sputum (-), Anti HIV (+) dalam tiga kali pemeriksaan. Stadium klinis HIV
manakah yang sesuai dengan kondisi pasien saat ini?
A. Stadium 1
B. Stadium 2
C. Stadium 3
D. Stadium 4
E. Stadium belum dapat diklasifikasikan

25

Tn. Somad, 38 tahun, datang dengan keluhan sakit kepala. Perut dirasakan tidak
enak dan belum BAB sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan demam yang
tidak terlalu tinggi, sejak 2 minggu yang lalu. Komplikasi yang paling
dikhawatirkan pada pasien ini adalah...
A. syok anafilaktik
B. peritonitis umum akibat perforasi
C. kejang demam
D. perdarahan intrakranial
E. sirosis hepatis

26

An. Dimas, berusia 12 tahun, datang dibawa RS dengan keluhan mimisan 1 jam
yang lalu. Sebelumnya, pasien mengalami demam sejak 3 hari yang lalu. Pada
pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 17 g/dl, hematokit 49%, leukosit 4,500/l,
trombosit 46.000/l, IgM anti-dengue (-), IgG anti-dengue (+), uji Widal titer O 1/80
dan titer H 1/80, AO (-), AH (-), BO (-), BH (-). Apa kemungkinan penyakit yang
diderita pasien?
A. Demam Berdarah Dengue
B. Leptospirosis

Satu Tujuan: Lulus!

98

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

C. Malaria
D. Demam Tifoid
E. Demam Dengue
27

Ny. Andrea, 32 tahun, datang dengan keluhan BAB berdarah sejak 3 hari yang lalu.
Diketahui sebelumnya ia makan makanan yang tidak terlalu bersih. Pada analisa
tinja ditemukan tinja dengan darah (+). Tatalaksana terbaik pada pasien ini
adalah...
A. amoksisilin PO
B. kotrimoksasol PO
C. ceftriakson intravena
D. eritromisin PO
E. vankomisin intravena

28

Nn. Nina, 22 tahun, datang dengan keluhan demam berselang 3 hari. Keluhan
lainnya ia juga mengalami nyeri kepala, berkeringat, dan satu minggu yang lalu
pergi ke Papua selama 1 minggu. Ia telah diperiksa menggunakan rapid test dan
didiagnosis mengalami malaria. Kemungkinan penyebab malaria dalam
kasus ini adalah Plasmodium jenis?
A. Malariae
B. Vivax
C. Ovale
D. Falciparum
E. Belum dapat ditentukan

29

An. Koko, 4 tahun, terlihat sering menggaruk bagian anus setiap kali tidur.
Diagnosis pasien ini adalah...
A. askariasis
B. taeniasis
C. enterobiasis
D. bilharziasis
E. amoebiasis

30

Tn. Samuel, usia 42 tahun, mengeluh sering mengantuk sejak 1 bulan terakhir.
Pasien juga merasa berat badannya cenderung turun. Diakui pasien, akhir-akhir ini
pasien merasa sering lapar, sering haus, dan sering kencing. Pada pemeriksaan,
pasien tampak gemuk. Ditemukan hasil GDS 230 mg/dl. Diagnosis pasien ini
adalah...
A. DM tipe 2
B. Gula darah puasa terganggu
C. Toleransi glukosa terganggu
D. Diagnosis belum tegak sebelum melakukan pemeriksaan GDS ulang
E. Diagnosis belum tegak sebelum melakukan pemeriksaan TTGO

31

Ny. Lita, 39 tahun, datang dengan keluhan rahang bawah kiri terasa nyeri saat
makan maupun dengan perabaan. Nyeri terasa seperti ditusuk. Keluhan ini sudah
dirasakannya selama tiga tahun. Pasien sudah diperiksa dokter gigi dan tidak ada
kelainan. Riwayat sakit cacar disangkal. Pada pemeriksaan MRI juga tidak
ditemukan kelainan. Diagnosis yang paling tepat adalah?
A. Cluster headache

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

99

B. Migraine
C. Tension type headache
D. Trigeminal neuralgia
E. Post-herpetic syndrome
32

Ny. Nani, berusia 68 tahun, datang dengan dengan keluhan tiba-tiba terjatuh saat
sedang membersihkan rumah karena mengalami sakit kepala hebat. Dalam
perjalanan ke rumah sakit, pasien mengalami muntah menyemprot serta
penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisis didapatkan kesadaran pasien sopor
dengan TD 220/120 mmHg. Kaku kuduk (-). Pada CT scan didapatkan lesi
hiperdens pada lobus frontal. Diagnosis yang tepat pada pasien adalah?
A. Stroke Iskemik
B. Stroke Hemoragik
C. Transient Ischemic Attack (TIA)
D. Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
E. Perdarahan subaraknoid

33

An. Shinta, 5 tahun, datang karena mengeluhkan telinga yang sakit. Sejak 1
minggu lalu ia batuk-pilek yang tidak kunjung sembuh. Pada PF: tidak ditemukan
sekret, ditemukan membran timpani hiperemis. Tatalaksana terbaik untuk
Shinta adalah...
A. pemberian dekongestan oral
B. pemberian antibiotik oral
C. timpanosentesis
D. pemasangan pipa Grommet
E. melakukan tes audometri

34

An. Jaya, usia 6 tahun, dibawa ibunya ke dokter dengan keluhan tidak mau makan.
Sehari-harinya pasien hanya tidur di kamar dan malas makan. Pada pemeriksaan
fisis tampak anak sangat kurus, atrofi otot dan lemak di kedua lengan dan tungkai,
rambut mudah tercabut, serta perut membuncit. Apakah diagnosis yang tepat
pada kasus ini?
A. Gizi kurang
B. Gizi baik
C. Gizi buruk kwashiorkor
D. Gizi buruk marasmus
E. Gizi buruk marasmik-kwashiorkor

35

Tn. Ali, 65 tahun, datang dengan keluhan pandangan kabur perlahan sejak 2 bulan
yang lalu. Ia merasa penglihatannya seperti berkabut. Pada pemeriksaan
didapatkan visus OD 5/60 OS 2/60; lensa kedua mata keruh, shadow test negatif
pada kedua mata. Riwayat hipertensi maupun diabetes disangkal. Diagnosis
yang tepat untuk pasien tersebut adalah...
A. Katarak imatur
B. Katarak matur
C. Retinopati diabetik
D. Retinitis pigmentosa
E. Retinopati hipertensi

36

Ny. Sharini, 48 tahun, datang karena pandangan mata kiri mendadak kabur,
disertai mata merah dan nyeri di belakang mata yang berdenyut. Ini adalah
Satu Tujuan: Lulus!

10
0

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

keluhan pertama. Pada PF ditemukan edema kornea dan pupil OS yang tidak
bereaksi terhadap cahaya. Terdapat riwayat darah tinggi pada pasien. Diagnosis
pasien ini adalah...
A. cluster headache
B. edema otak
C. glaukoma akut
D. glaukoma kronik
E. retinopati hipertensi
37

Tn. Amir, 21 tahun, datang kepada Anda karena terdapat bercak gatal di
selangkangan kiri. Awalnya muncul sejak 3 minggu yang lalu, namun semakin
lama semakin gatal. Pada PF ditemukan plakat dengan tepi yang tampak lebih
aktif. Pada pemeriksaan KOH, yang dapat ditemukan adalah...
A. hifa sejati panjang bersekat
B. hifa pendek bersekat
C. blastospora
D. hifa pendek tidak bersekat dengan gerombolan spora
E. spora multipel

38

Ny. Neni, 50 tahun datang ke poliklinik RS dengan keluhan terdapat bintik-bintik


berisi cairan di pinggang sebelah kiri disertai rasa nyeri di daerah tersebut. Saat
masih anak-anak, pasien pernah mengalami sakit cacar air. Pada pemeriksaan fisis
ditemukan vesikel berkelompok makulopapular eritema pada sisi lateral kiri
setinggi thorakal X. Diagnosa kasus tersebut adalah?
A. Acyclovir 3 x 200 mg selama 5-7 hari
B. Acyclovir 5 x 200 mg selama 5 - 7 hari
C. Acyclovir 5 x 400 mg selama 5 - 7 hari
D. Acyclovir 5 x 800 mg selama 5 - 7 hari
E. Acyclovir 5 x 1000 mg selama 5 - 7 hari

39

Tn. Donny, 28 tahun, mengeluhkan rasa panas saat BAK. 3 hari yang lalu sempat
mengeluarkan seperti nanah dari ujung penis. Riwayat berganti pasangan seksual
(+). Penatalaksanaan yang tepat untuk pasien adalah...
A. cefixime 400 mg PO dosis tunggal
B. azitromisin 1 gram PO dosis tunggal
C. cefixime 400 mg + azitromisin 1 gram PO dosis tunggal
D. ciprofloksasin 2 x 500 mg PO selama 14 hari
E. doksisiklin 2 x 100 mg PO selama 14 hari

40

Ny. Sulastri, berusia 56 tahun, dibawa keluarganya dalam keadaan mengamuk


karena merasa mendengar suara-suara yang menjelek-jelekkannya. Keluhan ini
mulai dialami sejak 2 bulan terakhir. Ia juga merasa orang lain selalu berusaha
membuatnya gagal sejak dulu. Ia menjadi selalu merasa ketakutan untuk keluar
rumah karena takut orang berbuat jahat padanya. Ia juga menjadi takut
menyalakan televisi karena ia yakin di televisi telah dipasang kamera khusus oleh
kekuatan lain yang akan berbuat jahat padanya. Diagnosis yang tepat pada
kasus ini adalah?
A. Skizofrenia Katatonik
B. Skizofrenia Paranoid
C. Skizofrenia Hebefrenik

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

101

D. Psikotik Akut
E. Gangguan Panik
41

Nn. Kiara, berusia 27 tahun, datang dengan keluhan tiba-tiba mengalami


ketakutan hebat 1 jam yang lalu. Keluhan lainnya ialah berdebar-debar dan
berkeringat dingin. Keluhan dirasakan saat pasien sedang beristirahat, tidak
sedang dalam keadaan emosi. Kejadian ini telah terjadi beberapa kali dan
menghilang dengan sendirinya. Diagnosis yang tepat pada pasien ini adalah?
A. Gangguan cemas menyeluruh
B. Serangan panik
C. Bipolar episode kini manik
D. Gangguan stress pasca trauma
E. Reaksi stress akut

42

Ny. Donita, 37 tahun, G1P0A0 dirujuk dari bidan kepada Anda karena tekanan
darah tinggi. Saat ini usia kehamilan 38 minggu. TD 180/110. Riwayat kejang
disangkal. Proteinuria (+++). Saat usia kehamilan 11 minggu tekanan darah
pasien 150/100 mmHg. Diagnosis pasien ini adalah...
A. preeklampsia ringan
B. preeklampsia berat
C. superimposed preeklampsia
D. hipertensi dalam kehamilan
E. hipertensi kronik

43

Ny. Sulastri, 38 tahun, baru saja melahirkan anak ketiga (P3A0), kemudian saat
melahirkan plasenta, keluar darah dari jalan lahir yang tidak berhenti. Uterus
teraba lembek. Tidak terlihat massa dari jalan lahir. Diagnosis pasien ini yang
paling mungkin adalah...
A. robekan porsio
B. ruptur perineum
C. atonia uteri
D. sisa jaringan plasenta
E. inversio uteri

44

Anda menolong persalinan bayi dengan usia gestasi 30 minggu. Ketika ketuban
pecah tampak air ketuban keruh. Saat lahir bayi tidak menangis. Setelah bayi
diposisikan, dikeringkan, dan dihangatkan, didapati frekuensi jantung bayi 84 kali
per menit. Tindakan apa yang Anda lakukan selanjutnya?
A. Lakukan kompresi dada
B. Berikan epinefrin intravena
C. Pasang kateter umbilikal
D. Berikan ventilasi tekanan positif
E. Berikan dekstrosa 10%

45

Bayi Tri, berusia 4 hari datang keluhan terlihat kuning sejak kemarin. Pada
pemeriksaan didapatkan sklera ikterik, ikterik sampai dada, tampak aktif masi
mau menyusu walaupun jumlah ASI masih sedikit, golongan darah ibu dan bayi
keduanya O Rh (+). Bil total: 11,5. Apa diagnosis yang paling mungkin pada
bayi ini?
A. Breastmilk jaundice

Satu Tujuan: Lulus!

10
2

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

B. Breastfeed jaundice
C. Atresia bilier
D. Hepatitis neonatal
E. Sepsis neonatorum
46

Polisi membawa jenazah pria dewasa muda tidak dikenal yang terlibat dalam
tawuran. Pada pemeriksaan, ditemukan lima luka tusuk di daerah toraks terutama
di sela iga 3-5 dan pakaian korban bersimbah darah. Apa kemungkinan
mekanisme kematian pada kasus ini?
A. Pembunuhan
B. Perdarahan
C. Luka tusuk
D. Luka tembak
E. Tidak dapat dijelaskan

47

Pada Puskesmas kecamatan Kao Teluk terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) berupa
kasus diare meningkat hingga dua kali dari bulan sebelumnya. Ditemukan juga
seorang bayi meninggal karena diare. Kepala Puskesmas berencana melakukan
penentuan diagnosis komunitas dalam menghadapi KLB tersebut. Apakah
langkah pertama kali yang dilakukan dalam pembuatan diagnosis
komunitas?
A. Mencari masalah yang ada di daerah tersebut
B. Menentukan perencanaan tindakan
C. Menentukan alternatif pemecahan masalah
D. Memilih alternatif pemecahan masalah
E. Melaksanakan intervensi

48

Dokter Soni akan melakukan penelitian faktor risiko tentang penyakit multipel
sklerosis dengan riwayat konsumsi makanan yang mengandung alkohol. Desain
penelitian yang paling tepat adalah...
A. case control
B. cohort
C. eksperimental
D. cross sectional
E. uji diagnostik

49

Anda ingin melakukan pengujian terhadap kuesioner depresi yang baru Anda
kembangkan. Baku emas untuk diagnosis adalah wawancara psikiatri oleh
psikiater. 100 pasien terdiagnosis depresi oleh psikiater dan kuesioner baru Anda
menemukan 60 pasien depresi. Sementara dari yang tidak terdiagnosis depresi
oleh psikiater, kuesioner baru Anda menghasilkan 150 pasien tidak depresi.
Berapakah sensitivitas alat ukur Anda?
A. 40%
B. 62,5%
C. 60%
D. 75%
E. 90%

50

Sebuah penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta


mengenai pentingnya mencuci tangan. Penilaian pengetahuan peserta dilakukan

Satu Tujuan: Lulus!

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

103

sebelum pemberian penyuluhan dan setelah penyuluhan. Skala pengetahuan


peserta dibagi dalam kriteria pengetahuan baik, sedang, dan buruk. Pada
penelitian ini, uji hipotesis apakah yang tepat digunakan?
A. Uji T Berpasangan
B. Uji Wilcoxon
C. Uji Spearman
D. Uji One Way Anova
E. Uji Chi Square

Satu Tujuan: Lulus!

10
4

SEKILAS MATERI PADI DAN TRYOUT 0

Catatan

Satu Tujuan: Lulus!