Anda di halaman 1dari 6

Gangguan pada sistem peredaran darah manusia

Gangguan pada Sistem Peredaran Darah Manusia adalah kelainan atau penyakit yang terjadi
pada sistem peredaran atau sirkulasi darah manusia baik yang disebabkan oleh faktor internal
maupun faktor eksternal.[1] Sistem peredaran darah berfungsi mengangkut makanan dan zat sisa
hasil metabolisme.[2] Sistem peredaran darah manusia terdiri dari darah, jantung, dan pembuluh
darah.[3] Sistem peredaran darah dapat mengalami gangguan (penyakit) dan kelainan bawaan
(faktorgenetis).[3] Gangguan atau kelainan peredaran darah manusia dapat dikelompokkan
menjadi kelainan pada darah dan kelainan pada pembuluh darah.[3]
Penyebab Masalah pada Pembuluh Darah
Berbagai masalah yang terjadi pada Pembuluh Darah disebabkan oleh pola makan dan gaya
hidup yang tidak sehat. [4] Sistem peredaran darah terdiri atas jaringan dari organ, darah, dan
pembuluh darah. [4] Organ dan pembuluh darah bertanggung jawab untuk mengalirkan darah
yang berisi, nutrisi, oksigen, hormon dan gas-gas lain menuju sel.
Kolesterol dan Pola Makan
Kolesterol adalah senyawa lemak kompleks, yang 80% dihasilkan oleh tubuh (organ hati) dan
20% dihasilkan dari luar tubuh berupa zat makanan.[4] Kolesterol yang berasal dari zat makanan
dapat meningkatan kadar kolesterol dalam darah.[4] Tetapi jika konsumsi seimbang dengan
kebutuhan, maka tubuh akan tetap sehat.[4] Kolesterol tidak larut dalam darah.[4] Untuk itu, agar
dapat dikirim ke seluruh tubuh, kolesterol dikemas bersama protein menjadi partikel lipoprotein.
[4]
Kolesterol terbagi menjadi dua jenis, yaitu Low Density Lipoprotein (LDL) dan High Density
Lipoprotein.[4]
Banyaknya kolesterol atau kadar lemak ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi.[4] Semakin
banyak konsumsi makanan berlemak, maka akan semakin besar kadar kolesterol.[4] Contoh
makanan dengan kadar lemak yang menghasilkan kolesterol tinggi adalah gorengan, minyak
kelapa atau kelapa sawit, alpukat, durian, daging berlemak, jeroan,kacang tanah, dan sejenisnya.
[4]

Kolesterol disebabkan oleh makanan cepat saji yang rendah serat dan tinggi lemak.[4] Selain itu,
Kolesterol juga disebabkan oleh faktor keturunan.[4]
Kolesterol total tersusun dari trigliserida, LDL kolesterol, dan HDL kolesterol.[4]

Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap usus setelah
mengalami hidrolisis (terurainya garam dalam air yang menghasilkan garam atau basa).
[4]
Trigliserida merupakan lemak darah yang cenderung naik seiring dengan
konsumsi alkohol, peningkatan berat badan, makanan tinggi gula atau lemak, serta gaya
hidup.[4] Trigliserida tinggi dapat menyebabkan gangguan tekanan darah dan risiko diabetes.
[4]

LDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan rendah dikenal sebagai


kolesterol jahat karena kolesterol LDL melekat pada dinding arteri dan bisa menyebabkan
terjadinya penutupan arteri serta menyebabkan peyempitan dan penyumbatan aliran darah.
[4]
Akibatnya, jantung kesulitan untuk memompa darah dan akhirnya berlanjut ke gejala
serangan jantung.[4] Bila penyumbatan itu terjadi di otak, maka akan menyebabkan stroke.[4]

HDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan tinggi dikenal sebagai kolesterol
baik karena membawa kembali kolesterol buruk ke organ hati untuk pemrosesan lebih lanjut.
[4]

rokok
Bahaya rokok bukan saja berdampak pada perokok aktif, namun juga pada perokok pasif.
[6]
Perokok aktif adalah orang yang merokok, sedangkan perokok pasif adalah orang yang terkena

imbas secara langsung dari kegiatan merokok.[6] Saat merokok, segala zat beracun yang ada
dalam rokok akan mengalir dalam darah dan juga menyebabkan terkontaminasinya zat-zat
penting dalam darah.[4] Dan akan terjadi penggumpalan dalam pembuluh darah, sehingga aliran
darah menjadi tidak lancar dan tersumbat.[4] Rokok terbuat dari tembakau(Nicotiana Tobaccum
L.).[4] Asap rokok mengandung kurang lebih 4000 bahan kimia berbahaya.[7] Zat kimia yang
dikeluarkan terdiri dari komponen gas (85%) dan partikel.[7]
Komponen penyusun rokok dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:[4]
Komponen gas
Komponen gas dapat melewati filter ataupun hasil dari pembakaran tidak sempurna.
Seperti CO2, CO, oksida nitrogen, amonia, gas N-nitrosamine, sianogen, peroksida, oksidan
senyawa belerang, aldehid, dan keton.[4]
Komponen Padat
Komponen padat adalah bagian dari hasil saringan yang tertinggal pada filter rokok, sebagian
besar terdiri dari unsur nikotin dan tar.[4] Selain itu, komponen-komponen lain yang terdapat
dalam rokok adalah sebagi berikut:[4]

Fenol (bahan pembersih lantai)

Aseton (bahan pembersih cat kuku)

Arsen (bahan racun tikus)

Merkuri (penyebab penyakit minamata)

Hidrogen Sianida

Formalin (bahan pengawet mayat)[4]

Di antara zat-zat kimia tersebut, yang paling berbahaya dan menimbulkan berbagai penyakit
akibat merokok adalah:[4]
- Tar
Tar mengandung bahan kimia beracun perusak sel paru dan penyebab kanker.[4] Tar berupa
hidrokarbon yang lengket pada paru-paru.[7]
- Nikotin
Nikotin merupakan jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah
(disfungsi endotelial) serta dapat menyebabkan ketergantungan.[4]
- Karbon Monoksida (Co)
Karbon monoksida merupakan gas beracun yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan sel
darah merah mengangkut oksigen.[4] Selain dihasilkan dari pembakaran rokok, gas ini juga
dihasilkan oleh asap dari mesin-mesin pabrik, dan asap kendaraaan.[4] CO adalah zat yang
mengikat hemoglobin dalam darah dan membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.[7] Jika
ada asap rokok, maka kadar oksigen dalam darah akan berkurang karena terdesak oleh gas CO,
hingga berakibat sel darah merah akan semakin kekurangan oksigen.[4] Darah pun hanya akan
mengangkut gas CO dan bukan oksigen.[4] Sel tubuh yang kekurangan oksigen akan berusaha
meningkatkan kinerjanya, yaitu melalui kompensasi pembuluh darah dengan jalan menciut atau
spasme.[4] Bila proses spasme berlangsung lama dan terus-menerus, maka pembuluh darah akan
mudah rusak dengan terjadinya aterosklerosis (penyempitan).[4]
Bahaya rokok bagi pembuluh darah:

Merokok dapat menyebabkan bertambahnya kadar karbon monoksida di dalam darah,


sehingga meningkatkan risiko terjadinya cedera pada lapisan dinding arteri.[4]

Merokok dapat mempersempit arteri yang sebelumnya telah menyempit karena


aterosklerosis.[4]

Merokok menimbulkan kecenderungan pembekuan darah, sehingga dapat meningkatkan


risiko terjadinya penyakit arteri perifer, arteri koroner, dan stroke.[4]

Merokok dapat mengurangi kadar kolesterol baik (kolesterol HDL) dan meningkatkan
kadar kolesterol jahat (kolesterol LDL).[4]

Gangguan pada Pembuluh Darah


Aterosklerosis
Aterosklerosis disebabkan oleh tumpukan lemak di bagian bawah lapisan dinding
arteri. Aterosklerosis bisa terjadi di otak, jantung, ginjal, organ vital lainnya,
dan lengan sertatungkai. Jika aterosklerosis terjadi di arteri yang menuju otak (arteri karotid),
maka bisa menyebabkan stroke.[4] Jika arterosklerosis terjadi dalam arteri yang menuju jantung
(arteri koroner), maka bisa menyebabkan serangan jantung. Aterosklerosis bermula saat sel
darah putih (leukosit) pindah dari aliran darah ke dinding arteri dan berubah menjadi sel-sel
penumpuk lemak.[4] Penumpukan ini menyebabkan penebalan di lapisan arteri.
Serangan Jantung
Serangan jantung terjadi saat rusaknya otot jantung (myocardium) akibat kurangnya pasokan
darah karena penyumbatan dan terganggunya aliran darah secara mendadak.[4]Serangan jantung
adalah puncak dari kerusakan yang berlangsung lama, yang menimbulkan kejutan emosional,
kekacauan fisiologis, dan kelelahan mental.[4] Serangan jantung pertama kali digambarkan pada
tahun 1912 sebagai rasa sakit di bagian dada yang terjadi terus-menerus hingga setengah jam,
dan kemudian menjalar ke tangan kiri danrahang.[4] Akibatnya, muncul perasaan takut yang
begitu besar dan kesulitan bernapas.[4]
Gejala-gejala serangan jantung:

Kelelahan atau kepenatan

Jantung tidak efektif memompa aliran darah ke otot selama melakukan aktivitas akan berkurang,
sehingga menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah.[4]

Palpitasi (jantung berdebar-debar)

Pusing dan pingsan

Disebabkan oleh penurunan aliran darah karena denyut jantung yang abnormal atau karena
ketidakmampuan jantung memompa dengan baik.[4]
Tumor Jantung
Tumor adalah suatu pertumbuhan abnormal, bisa berupa kanker ganas ataupun nonkanker
(benigna, jinak).[4] Tumor di jantung dibagi menjadi dua kelompok:
Tumor Primer
Tumor primer berasal dari dalam jantung dan bisa terjadi pada bagian mana pun dari jaringan
jantung.[4]
Tumor Sekunder
Tumor sekunder berasal dari bagian tubuh lain (biasanya paru-paru, payudara, dan kulit) yang
menyebar ke jantung.[4]

Sebagian besar tumor jantung berbentuk miksoma.[8] Miksoma adalah tumor jinak, dimana
bentuknya seperti agar-agar dan tidak teratur.[8] 75% dari miksoma berada di atrium kiri (bilik
jantung yang menerima darah yang kaya akan oksigen dari paru-paru).[8]
Gejala miksoma:

Penurunan berat badan

Demam

Pilek

Nyeri pada jari-jari tangan dan kaki karena cuaca dingin

Jumlah trombosit darah rendah.[8]

Stroke
Stroke adalah gangguan fungsi sistem saraf yang terjadi mendadak dan disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak.[9] Gangguan peredaran darah otak dapat berupa tersumbatnya
pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah. [9] Hal ini menyebabkan kekurangan pasokan
oksigen ke otak.[9] Gangguan fungsi otak ini yang menyebabkan gejala stroke.[9]
Jenis-jenis Stroke
Stroke Sumbatan (Stroke Iskemik)
Stroke sumbatan terjadi saat pembuluh darah ke otak tersumbat.[9] Stroke sumbatan terbagi dua,
yaitu sumbatan akibat thrombus dan sumbatan akibat emboli.[9] Thrombus terjadi di dinding
pembuluh darah sebagai bagian dari proses pengerasan dinding pembuluh darah
(atherosklerosis).[9] Emboli adalah gumpalan darah yang berasal dari organ lain (misalnya
gumpalan darah dari jantung).[9]
Stroke Perdarahan
Stroke perdarahan dibagi menjadi dua, yaitu:

Stroke Perdarahan Intraserebal

Stroke Perdarahan Intraserebal (pada jaringan otak) terbagi menjadi dua, yaitu perdarahan
intraserebal primer yang disebabkan oleh hipertensi dan perdarahan intraserebal sekunder yang
disebabkan oleh kelainan pembuluh darah, penggunaan obat pengencer darah, penyakit hati, dan
leukimia.[9]

Stroke Perdarahan Subarachnoid (di bawah jaringan pembungkus otak).[9]

Faktor Risiko Stroke


1. Faktor Risiko Stroke yang Tidak Dapat Diubah
Faktor risiko stroke yang tidak dapat diubah adalah usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga,
dan riwayat stroke sebelumnya.[9] Orang dengan riwayat keluarga stroke mudah terkena penyakit
stroke.[9]
2. Faktor Risiko Stroke yang Dapat Diubah
Faktor risiko stroke yang dapat diubah adalah hipertensi, diabetes, obesitas.[9]
Hipertensi
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi.[4] Seseorang mengalami hipertensi apabila tekanan
darahnya lebih dari 140/90 mmHg.[9] Hipertensi merupakan faktor risiko stroke, dan serangan
jantung.[9]

Diabetes Melitus
Diabetes melitus dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat.[9] Peningkatan kadar gula
berhubungan lurus dengan risiko stroke (semakin tinggi kadar gula dalam darah, semakin mudah
terkena stroke).[9]
Obesitas
obesitas
Obesitas adalah berat badan berlebih memiliki risiko yang tinggi.[9] Penelitian menghubungkan
kegemukan (terutama kegemukan sentral) dengan peningkatan risiko stroke (Olsen, 2003).
[9]
Kegemukan sentral didefenisikan sebagai lingkar pinggang 120 cm atau lebih pada lakilaki dan 88 cm atau lebih pada perempuan.[9]
Gangguan pada Darah
Anemia
Anemia adalah penyakit akibat kekurangan hemoglobin dalam darahh.[3] Penyebab anemia
adalah kurangnya kandungan hemoglobin dalam eritrosit, kurangnya eritrosit dalam darah, dan
atau kurangnya volume darah dari volume normal.[3] Anemia dapat terjadi pada tubuh seseorang
yang terluka dan mengeluarkan banyak darah, misalnya akibat kecelakaan.[3] Anemia juga dapat
terjadi karena kekurangan ion besi, atau kekurangan vitamin B12, anemia ini disebut
anemia pernisiosa.[3]
Thalasemia
Thalasemia adalah kondisi kelainan genetika dimana tubuh tidak mampu
memproduksikan globin (protein pembentuk hemoglobin).[3] Jika penderita thalasemia mampu
memproduksi eritrosit, biasanya usia sel darahnya lebih singkat dan lebih mudah rusak.[3]
Thalasemia dibedakan menjadi 3 tingkatan:
Thalasemia Mayor
Penderita penyakit ini mengalami anemia berat, mulai umur 3-6 bulan setelah lahir dan tidak
dapat hidup tanpa transfusi darah.[3] Ciri fisik dari penderita thalasemia adalah kelainan tulang,
berupa tulang pipi masuk ke dalam dan batang hidung menonjol, penonjolan dahi dan jarak
kedua mata menjadi lebih jauh, serta tulang menjadi lemah dan keropos.[3] Gejala lain yang
tampak adalah lemah, pucat, berat badan kurang, perut membuncit, dan pertumbuhan fisik tidak
sesuai umur.[3]
Thalasemia Intermedia
Thalasemia Intermedia gejalanya lebih ringan.[3] Namun gejala seperti thalasemia mayor baru
tampak pada masa dewasa.[3]
Thalasemia Minor
Thalasemia ini umumnya tidak memiliki gejala klinis yang khas, hanya ditandai dengan anemia
ringan.[3]
Leukimia (Kanker Darah)
Leukimia atau kanker darah adalah penyakit yang disebabkan oleh bertambahnya sel darah putih
yang tak terkendali.[10] Disamping itu, sel darah putih akan memakan sel darah merah (eritrosit)
sehingga penderita mengalami anemia berat.[3] Gejala leukimia yaitu: demam, kedinginan, badan
lemah dan sakit kepala, sering mengalami infeksi, penurunan berat badan, nyeri tulang dan sendi,
berkeringat terutama di malam hari.[10]
Hemofilia
penyakit hemofilia
Hemofilia adalah penyakit darah yang sulit membeku.[3] Luka sedikit saja darah dapat mengucur
terus, sehingga penderita mengalami kurang darah, bahkan bisa menyebabkan kematian.

[3]

Penyakit ini bersifat menurun, diwariskan orang tua kepada anaknya.[3] Kaum laki-laki besar
kemungkinan mendapat warisan penyakit ini, karena gen hemofilia cenderung menampakkan
pengaruhnya pada laki-laki.[3] Hemofilia bersifat mematikan sehingga kaum perempuan akan
mati sebelum dewasa jika menderita penyakit ini.[3]