Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Penelitian Kualitatif

Deskripsi Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad


Dalam Pembelajaran Matematika Di Kelas V SDN 6
Bulango Selatan Kabupaten Bone Bolango
Fitria Ismail
Dra. Samsiar RivaI, S.Pd, M.Pd1
Dra. Martianty Nalole, M.Pd2
Universitas Negeri Gorontalo
Fakultas Ilmu Pendidikan
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
2013
ABSTRAK
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dalam pembelajaran matematika, telah dilaksanakan dengan baik,
terdiri dari 6 (enam) langkah utama yaitu: Menyampaikan tujuan pembelajaran
dan memberi motivasi,

menyajikan materi, mengorganisasikan siswa dalam

kelompok belajar, membimbing kelompok bekerja dan belajar, memberikan


evaluasi, dan memberikan penghargaan. Dampak dari pembelajaran tersebut dapat
dilihat atau diamati dengan jelas ketika proses pembelajaran berlangsung, yaitu
guru ataupun siswa sudah

menerapkan langkah-langkah model pembelajaran

kooperatif tipe STAD dengan

benar, sehingga proses pembelajaran berjalan

dengan baik, interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa terlihat baik, selain
itu siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam kelompok.
Kata kunci : Penerapan, Model pembelajaran kooperatif tipe STAD,
pembelajaran

matematika.

PENDAHULUAN
Pendidikan

di

sekolah

dasar

merupakan

penanaman

seperangkat

pengetahuan yang diperoleh siswa melalui pengalaman belajarnya di sekolah.


Dengan kata lain pendidikan di sekolah dasar (SD) merupakan pengetahuan dasar
untuk melanjutkan kejenjang pendidikan berikutnya. Pendidikan menjadi

Jurnal Penelitian Kualitatif

kebutuhan yang primer, karena dengan arus globalisasi yang semakin pesat,
manusia harus dapat mengikuti perkembangan zaman. Salah satu cara yang
ditempuh adalah dengan belajar. Dengan belajar, manusia diharapkan dapat
menyerap informasi sebanyak-banyaknya melalui pembelajaran dan dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan merupakan bagian yang
sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab dengan pendidikan, manusia
dapat hidup sesuai dengan tujuan dan fungsinya sebagai manusia. Oleh karena itu,
perlu upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak. Keterlibatan semua pihak
dalam pendidikan akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan.
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang harus dipelajari siswa,
dengan belajar matematika diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai macam
bekal dalam menghadapi tantangan dalam era global. Hakikat belajar merupakan
salah satu bentuk kegiatan individu dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan.
Tujuan setiap kegiatan pembelajaran adalah untuk memperoleh hasil yang
optimal. Kegiatan ini akan tercapai jika siswa sebagai subjek terlibat secara aktif
baik fisik maupun emosinya dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran aktif siswa
dipandang sebagai subjek bukan objek dan belajar lebih dipentingkan daripada
mengajar.
Di samping itu, siswa ikut berpartisipasi, ikut mencoba dan melakukan
sendiri yang sedang dipelajari. Pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran
aktif adalah jika guru mampu menciptakan suatu kondisi belajar yang
memungkinkan

siswa

berkembang

secara

optimal.

Salah

satu

metode

pembelajaran yang biasa diterapkan guru dalam kelas di SDN 6 Bulango Selatan
adalah metode ceramah. Pembelajaran matematika dengan metode ceramah
cenderung meminimalkan keterlibatan siswa dalam belajar dan siswa menjadi
kurang aktif. Kebiasaan bersikap pasif dalam pembelajaran dapat mengakibatkan
sebagian besar siswa takut dan malu bertanya kepada guru mengenai materi yang
kurang atau belum dipahami. Dengan demikian, suasana pembelajaran di kelas
menjadi sangat monoton dan kurang menarik.

Jurnal Penelitian Kualitatif

Kenyataan ini nampak pada siswa kelas V di SDN 6 Bulango Selatan,


sebagian siswa mengalami kesulitan belajar terutama pada mata pelajaran
matematika. Banyak soal-soal matematika yang diberikan guru tidak dapat
dijawab dengan baik dan benar. Hal ini menyebabkan pembelajaran belum
maksimal dan menimbulkan anggapan dari siswa bahwa matematika sangat sukar
dan sulit sehingga ketuntasan belajar siswa tidak tercapai. Padahal matematika
merupakan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan
dalam menempuh pendidikan lebih lanjut. Bahkan diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari sebagai alat bantu dalam memecahkan masalah. Agar ketuntasan
belajar siswa dapat tercapai salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif yang di maksud adalah model pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah salah satu
model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana,dan merupakan model yang
paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan
kooperatif (Slavin, 2010:143).
Slavin (dalam Asma, 2006:51) menjelaskan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions), siswa ditempatkan
dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang siswa yang
merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam
setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang dan rendah atau
variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, atau kelompok sosial lainnya.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memegang peranan penting
dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal, dan merupakan pelengkap dari
proses pembelajaran secara keseluruhan.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka peneliti mengangkat judul
Deskripsi

penerapan

model

pembelajaran

kooperatif

tipe

stad

dalam

pembelajaran matematika di kelas V SDN 6 bulango selatan kabupaten bone


bolango

Jurnal Penelitian Kualitatif

KAJIAN TEORETIS
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kooperatif yang dikemukakan
oleh ahli pendidikan. Slavin (dalam Asma, 2006:11) mendefinisikan bahwa dalam
belajar kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pemikiran dan
bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun
kelompok.
Sementara itu, Newman (dalam Asma, 2006:11) memberikan definisi
belajar kooperatif adalah suatu pendekatan yang mencakup kelompok kecil dari
siswa yang bekerja sama sebagai suatu team untuk memecahkan masalah,
menyelesaikan suatu tugas,atau menyelesaikan suatu tujuan bersama.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dikatakan bahwa belajar
kooperatif mendasarkan pada suatu ide bahwa siswa bekerja sama dalam belajar
kelompok sekaligus masing-masing bertanggung jawab pada aktivitas belajar
anggota kelompoknya, sehingga seluruh anggota kelompok dapat menguasai
materi pelajaran dengan baik.
Pembelajaran kooperatif menekankan kerja sama antar siswa dalam
kelompok. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa siswa lebih mudah
menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan
masalah tersebut dengan temannya. Banyak anggota suatu kelompok dalam
belajar kooperatif biasanya terdiri dari empat sampai enam orang dimana anggota
kelompok

yang terbentuk

diusahakan heterogen berdasarkan perbedaan

kemampuan akademik, jenis kelamin dan etnis.


Asma (2006:12) mengemukakan bahwa pengembangan pembelajaran
kooperatif bertujuan untuk :
1) Pencapaian hasil belajar
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
3) Pengembangan keterampilan sosial

Jurnal Penelitian Kualitatif

Johnson & Johnson (dalam Asma, 2006:16) mengemukakan bahwa ada lima
unsur dasar yang terdapat dalam struktur pembelajaran kooperatif yaitu sebagai
berikut:
1) Saling ketergantungan positif
2) Tanggung jawab perseorangan
3) Tatap muka
4) Komunikasi antar anggota
5) Evaluasi proses kelompok
Pembelajaran kooperatif memiliki lima prinsip dasar. Prinsip-prinsip dasar
pembelajaran kooperatif (dalam Asma 2006:14) adalah sebagai berikut:
1. Belajar siswa aktif
2. Belajar kerjasama
3. Pembelajaran partisipatorik
4. Reactive Teaching
5. Pembelajaran yang menyenangkan
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut
Ibrahim (dalam Triyanto) adalah sebagai berikut:
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
b. Menyajikan atau menyampaikan informasi
c. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar
d. Membimbing siswa bekerja dan belajar
e. Evaluasi
f. Memberikan penghargaan
Adapun kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut
Slavin (dalam Asma,2006:26) menyatakan pembelajaran kooperatif dapat
menimbulkan motivasi sosial siswa karena adanya tuntutan untuk menyelesaikan
tugas.

Demikian

juga

dengan

siswa,

mereka

akan

berusaha

untuk

mengaktualisasikan dirinya, misalnya melakukan kerja keras yang hasilnya dapat


memberikan sumbangan bagi kelompoknya. Sedangkan kekurangan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Johnson, dkk (dalam Asma,
2006:27) menyatakan bahwa beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para

Jurnal Penelitian Kualitatif

ahli pendidikan ditemukan bahwa siswa yang berkemampuan tinggi merasakan


kekecewaan ketika mereka harus membantu temannya yang berkemampuan
rendah.
Hakikat pembelajaran matematika, Pembelajaran adalah suatu kegiatan
yang dilakukan secara sadar dan sengaja. Sugandi, dkk (2004:9) menyatakan
bahwa pembelajaran terjemahan dari kata instruction yang berarti self
instruction (dari internal) dan eksternal instructions (dari eksternal). Pembelajaran
yang bersifat eksternal antara lain datang dari guru yang disebut teacing atau
pengajaran.
Sagala (2006:61) pembelajaran adalah proses komunikasi dua arah,
mengajar dilakukan oleh guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh
siswa atau murid. Pada proses belajar mengajar, siswa bukan dipandang sebagai
objek tetapi dipandang sebagai subjek. Konsep matematika tidak dipandang
sebagai barang jadi yang sebagai bahan informasi untuk siswa. Namun, guru
diharapkan

merancang

pembelajaran

matematika

sehingga

memberikan

kesempatan yang seluas-luasnya pada siswa untuk berperan aktif dalam


membangun konsep secara sendiri atau bersama-sama.
Berdasarkan Pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
matematika adalah proses komunikasi antara guru dengan siswa melalui interaksi
belajar mengajar sehingga terjadi perubahan sikap dan pola pikir siswa.
Cockroft (dalam Wardhani, 2008:25) menyatakan bahwa matematika
merupakan alat komunikasi yang sangat kuat, teliti, dan tidak membingungkan.
Komunikasi ide-ide, gagasan pada operasi atau pembuktian matematika banyak
melibatkan kata-kata, lambang matematis, dan bilangan.
Belajar matematika pada hakikatnya adalah suatu aktivitas mental untuk
memahami arti dari struktur-struktur, hubungan-hubungan, simbol-simbol, dan
manipulasikan konsep-konsep yang dihasilkaan kesituasi yang nyata, sehingga
menyebabkan perubahan. Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan
siswa dapat menata nalarnya, membentuk kepribadiannya serta dapat menerapkan
matematika dalam kehidupannya sehari-hari atau dapat digunakan sesuai dengan
jenjang pendidikannya masing-masing (Soedjadi, 2000:45).

Jurnal Penelitian Kualitatif

Menurut Depdiknas (dalam http://nopiwanabadi.blogspot.com/2011/5


/hakikat-pembelajaran-matematika.html) mengemukakan tujuan pembelajaran
matematika adalah sebagai berikut :
1) Matematika sebagai cara komunikasi yaitu matematika memiliki lambanglambang, nama-nama, istilah-istilah yang dapat dijadikan unsur bahasa, yang
dapat diterjemahkan suatu ungkapan bahasa Indonesia menjadi ungkapan
matematika.
2) Matematika sebagai cara berfikir nalar
3) Matematika sebagai alat memecahkan masalah
Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut, siswa harus
balajar secara aktif untuk memaksimalkan pengetahuan yang dimilkinya.
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, ada beberapa
langkah yang harus dilakukan oleh guru, sebagai berikut.
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Dalam belajar kooperatif dengan menggunakan model STAD, guru
menyampaikan tujuan pembelajaran, dan memotivasi siswa agar antusias dalam
mengikuti pembelajaran.
b. Penyajian Materi
Penyajian materi ini menggunakan waktu sekitar 20-45 menit. Setiap
pembelajaran dengan model ini, selalu dimulai dengan penyajian meteri oleh
guru. Sebelum menyajikan materi pelajaran, guru dapat memulai dengan
menjelaskan tujuan pelajaran. Dalam penyajian kelas dapat digunakan model
ceramah, tanya jawab, diskusi, dan sebagainya, disesuaikan dengan bahan ajar.
c. Mengorganisasikan siswa dalam kelompok belajar
Guru

menempatkan siswa ke dalam kelompok yang masing-masing

kelompok terdiri dari empat orang, dengan cara mengurutkan siswa dari atas
kebawah berdasarkan kemampuan akademiknya. Kelompok yang sudah dibentuk
diusahakan berimbang selain menurut kemampuan akademik juga diusahakan
menurut jenis kelamin dan etnis
d. Membimbing siswa bekerja dan belajar

Jurnal Penelitian Kualitatif

Setelah menyerahkan lembar kegiatan dan lembar tugas, guru menjelaskan


tahapan dan fungsi belajar kelompok dari model pembelajaran kooperatif tipe
STAD. Guru membimbing siswa untuk bekerja dan belajar. Hal ini dilakukan
untuk memastikan bahwa anggota kelompok benar-benar belajar.
e. Evaluasi
Guru melakukan evaluasi agar setiap siswa menunjukkan apa yang
diperoleh pada kegiatan kelompok, dengan cara menjawab pertanyaan dari guru.
Jawaban dari siswa dapat menambah nilai kelompoknya. Dalam hal ini guru
memberikan evaluasi dalam bentuk kuis.
f. Memberikan penghargaan
Kelompok yang mendapat nilai tertinggi akan mendapatkan penghargaan
dari guru, penghargaan yang diberikan dapat membuat sebuah kelompok lebih
kompak dan lebih aktif lagi dalam belajar.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan metode pendekatan fenomenologis dengan
jenis penelitian kualitatif, maksudnya bahwa dalam penelitian ini peneliti
berusaha memahami arti sebuah peristiwa dan kaitannya terhadap objek
penelitian.
Jenis penelitian kualitatif atau disebut penelitian naturalistik, dimana data
pada penelitian jenis ini didasarkan pada peristiwaperistiwa yang terjadi secara
alamiah, dilakukan dalam situasi yang wajar tanpa dipengaruhi dengan sengaja
oleh peneliti. Penelitian deskriptif kualitatif ini sangat tepat terhadap hal yang
diteliti dengan tujuan agar mendapat gambaran yang jelas tentang deskripsi
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SDN 6 Bulango
Selatan.
Dalam penelitian ini data yang terkumpul terdiri atas data primer dan data
sekunder.
1. Data primer, merupakan informasi utama dalam penelitian, meliputi seluruh
data kualitatif yang diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara dan
dokumentasi. Dalam hal ini, yang menjadi data penelitian adalah deskripsi

Jurnal Penelitian Kualitatif

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran


matematika di kelas V SDN 6 Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango.
2. Data sekunder, merupakan data yang diperoleh melalui bukubuku referensi
berupa pengertianpengertian dan teoriteori yang ada hubungannya dengan
permasalahan yang sedang diteliti. Yang menjadi sumber data adalah guru dan
siswa.
Adapun prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain
observasi, wawancara dan dokumentasi.
1. Observasi
Observasi merupakan langkah awal dalam melakukan penelitian, observasi
dilakukan untuk mengetahui secara detail tentang lokasi maupun kondisi tempat
(sekolah) yang akan di teliti baik dari segi siswa, guru bahan ajar, sumber belajar,
lingkungan belajar dan sebagainya.
2. Wawancara
Wawancara sebagai alat penilaian digunakan untuk mengetahui pendapat,
aspirasi, harapan, prestasi, keinginan, keyakinan dan proses belajar siswa.
Kegiatan wawancara dilakukan secara langsung yaitu mengadakan tanya jawab
dengan responden seperti guru, siswa dan ditunjang dari berbagai data lainnya.
Instrumen pedoman wawancara dilakukan secara terstruktur untuk mendapatkan
informasi yang dibutuhkan.
3. Dokumentasi
Dokumen diartikan sebagai suatu catatan tertulis/gambar yang tersimpan
tentang sesuatu yang sudah terjadi. Dokumentasi merupakan bukti fisik berupa
foto yang diambil pada saat mengadakan penelitian, dalam kegiatan observasi,
wawancara, dan pengamatan proses pembelajaran.
Sedangkan analisis data dalam penelitian ini, Milles dan Hubberman (dalam
Tohirin, 2012 : 141) menjelaskan bahwa analisis data merupakan langkah-langkah
untuk memproses temuan penelitian yang telah ditranskripkan melalui proses
reduksi data, yaitu data disaring dan disusun lagi, dipaparkan, diverifikasi atau
dibuat kesimpulan.

Jurnal Penelitian Kualitatif

10

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada hari Kamis, 16 Mei 2013.
Maka peneliti mengamati bahwa guru sudah baik dalam menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD, mulai dari menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa terlihat sangat baik, menyajikan materi, mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok kooperatif, evaluasi, dan sampai pada penghargaan
kelompok terlihat baik. Meskipun dalam kegiatan membimbing kelompok bekerja
dan belajar masih cukup, namun penerapan model pembelajaran kooperatif ini
dapat terlaksana dengan baik, karena sebagian besar langkah-langkah dari model
kooperatif tipe STAD, dilaksanakan dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi kegiatan siswa tentang penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD, peneliti mengamati bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe STAD ini membawa dampak positif bagi siswa.
Berdasarkan pengamatan, siswa sangat baik dalam mendengarkan materi yang
dijelaskan guru, siswa merespon baik model pembelajaran kooperatif tipe STAD
ini. Interaksi siswa, kerjasama siswa dan kegiatan siswa dalam mempersentasikan
hasil kegiatan kelompok sudah terlihat baik. Namun keaktifan siswa dalam
kelompok masih terlihat cukup, karena masih terdapat sebagian siswa yang tidak
mengerjakan tugas kelompok.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V SDN 6 Bulango Selatan,
mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah pernah
digunakan sebelummya, khususnya dalam pembelajaran matematika dalam materi
pecahan. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini sudah diterapkan dengan
baik, karena sebagian besar langkah-langkahnya sudah terlaksana dengan baik.
Dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini siwa dapat berperan aktif
dan mampu berinteraksi dengan teman-teman lain sehingga siswa terlihat aktif
dan hanya sebagian kecil saja siswa yang pasif.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan AH, siswa kelas V SDN 6
Bulango Selatan, mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD
sudah pernah digunakan dalam pembelajaran matematika, model pembelajaran
kooperatif tipe STAD ini dapat melatih siswa mengerjakan tugas dengan penuh

Jurnal Penelitian Kualitatif

11

tanggung jawab, pembagian kelompok dilakukan secara heterogen (campuran


menurut prestasi, jenis kelamin suku dan lain-lain). Sehingga terlihat cukup adil
karena setiap kelompok terdapat perwakilan siswa yang prestasinya menonjol
dalam kelas, hal ini untuk memudahkan anggota-anggota kelompok untuk saling
berinteraksi tidak hanya dalam kelompok, tetapi juga berdiskusi dengan kelompok
lain. Setelah itu siswa dapat mempersentasikan hasil kerja kelompoknya di depan
kelas, dan masing-masing anggota memperoleh bagian dalam menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh anggota kelompok lain, sehingga semua siswa
dapat berpartisipasi dan berperan aktif dalam kelompok.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di kelas V SDN 6 Bulango
Selatan, model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat tepat digunakan dalam
pembelajaran matematika. Guru ataupun siswa sudah mengikuti langkah-langkah
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan

benar, sehingga proses

pembelajaran berjalan dengan baik, interaksi guru dengan siswa, siswa dengan
siswa terlihat baik, selain itu siswa dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam
kelompok. Namun dalam proses pembelajaran guru sering mendapati siswa yang
sulit untuk diatur, terlihat hanya bermain dan tidak aktif dalam mengerjakan tugas
kelompok, sehingga seringkali teman-teman kelompoknya, ataupun kelompok
yang lain merasa terganggu. Sedangkan untuk siswa, dalam mengerjakan tugas
kelompok terkadang siswa merasa sulit atau kurang paham dalam mengerjakan
tugas yang diberikan oleh guru, hal ini karena guru belum maksimal dalam
membimbing kelompok untuk bekerja dan belajar. Karena guru hanya sesekali
membimbing siswa dalam kelompok, guru kebanyakan hanya duduk di depan
kelas dan menyuruh siswa bertanya apabila ada yang belum dipahami.
Berdasarkan

hasil

observasi,

wawancara

dan

pengamatan

proses

pembelajaran yang dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 16 mei, peneliti


mengamati bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam
pembelajaran matematika, pada materi pecahan telah dilaksanakan dengan baik,
terdiri dari 6 (enam) langkah utama yaitu: Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa, menyajikan/menyampaikan materi, mengorganisasikan siswa dalam
kelompok belajar, membimbing kelompok bekerja dan belajar, evaluasi, dan

Jurnal Penelitian Kualitatif

12

memberikan penghargaan. Dampak dari pembelajaran tersebut dapat dilihat atau


diamati dengan jelas ketika proses pembelajaran berlangsung, yaitu guru ataupun
siswa sudah menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dengan

benar, sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik,

interaksi guru dengan siswa, siswa dengan siswa terlihat baik, selain itu siswa
dapat berinteraksi dan bekerja sama dalam kelompok.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah
satu model pembelajaran yang tepat diterapkan guru di dalam kelas, khususnya
dalam pembelajaran matematika untuk memudahkan anggota-anggota kelompok
berinteraksi secara aktif, serta bekerja sama dalam proses pembelajaran. terutama
adanya penghargaan yang diberikan guru pada kelompok terbaik. Pemberian
penghargaan ini telah memunculkan efek positif pada siswa sehingga siswa
semakin antusias untuk mengikuti pelajaran.
Adapun kegiatan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dalam pembelajaran matematika yaitu, menyampaikan tujuan
pembelajaran dan memotivasi siswa, menyajikan materi, mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok kooperatif, pemeriksaan terhadap hasil kegiatan
kelompok, evaluasi, dan

penghargaan kelompok. Sedangkan kegiatan siswa

terdiri dari, mendengarkan materi yang dijelaskan guru, respon siswa, interaksi
siswa,

keaktifan

siswa,

serta

kerjasama

siswa

dalam

kelompok

dan

mempersentasikan hasil kegiatan kelompok di depan kelas. Untuk perbaikan


dimasa yang akan datang, peneliti memberikan saran, kepada guru kelas V
khususnya dalam pembelajaran matematika agar dapat menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai salah satu alternatif model
pembelajaran, sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat lebih bermakna.
DAFTAR PUSTAKA
Asma, Nur. 2006. Model pembelajaran kooperatif. Jakarta: Depertemen
Pendidikan Nasional
http://nopiwanabadi.blogspot.com/2011/5/hakikat-pembelajaranmatematika.html

Jurnal Penelitian Kualitatif

13

Jonson, D. W., & Johnson, R.1991, Learning Together and Alone, Cooperative
and individualisti learning. Boston: Allyn and Bacon.
Sagala, Syaiful, 2009, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu
Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, Alfabeta, Bandung
Tohirin. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Pendidikan dan Bimbingan
Konseling Pendekatan Praktid untuk Peneliti Pemula dan Dilengkapi
dengan Contoh Transkip Hasil Wawancara Serta Model Penyajian Data.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep,
Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Madia Group
Wardhani, Sri. 2008. Paket fasilitasi pemberdayaan kkg/mgmp matematika
Analisis si dan skl mata pelajaran matematika smp/mts untuk optimalisasi
tujuan mata pelajaran matematika. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Dan
Pemberdayaan Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Matematika.