Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi ini masih banyak perusahaan baik sektor formal
maupun informal yang belum menempatkan ergonomi sebagai prioritas dalam
merancang lingkungan kerja. Hal ini karena ergonomi dianggap tidak penting
bahkan disangka sebagai pemborosan keuangan. Padahal sebagai sumber daya
terpenting dalam organisasi, pekerja sudah seharusnya dijamin aksesnya untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan semaksimal
mungkin sekaligus dilindungi dari pengaruh buruk yang merugikan karena
pemajanan yang bahaya potensial terhadap kesehatan di tempat kerja.
Pertumbuhan industri saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup
tinggi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Pertumbuhan industri
akan diikuti dengan bertambahnya tenaga kerja. Berdasarkan data media industri
2011, penyerapan tenaga kerja di tingkat nasional sebesar 104.555.275 pada
tahun 2009, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 108.207.767 atau terjadi
peningkatan sebesar 3,49% yang menyebar di berbagai industri di Indonesia.
Meningkatnya jumlah tenaga kerja tentunya akan menambah permasalahan
ketenagakerjaan

yang

terkait

dengan

keamanan,

kenyamanan

dan

kesehatan, sehingga tingkat kecelakaan akibat kerja cenderung tinggi. Di


Indonesia, tingkat kecelakaan kerja relatif tinggi dan mengalami kenaikan setiap
tahun. Hal ini disebabkan bertambahnya jumlah tenaga kerja dengan tidak diikuti
pengawasan yang baik, sehingga muncul persoalanpersoalan yang memicu
terjadinya kecelakaan kerja (Purnomo, 2013:1).
Berdasarkan hal tersebut, perlu dikembangkan dan ditingkatkan upaya
promosi dan preventif dalam rangka menekan serendah mungkin risiko penyakit
yang timbul akibat pekerjaan atau lingkungan kerja misalnya salah satunya yakni
membenahi dari sektor ergonomi karena tingkat keamanan, kenyamanan, dan
kesehatan pekerja harus diperhatikan untuk meningkatkan produktivitas kerja.

1.2 Rumusan Masalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apakah yang dimaksud dengan ergonomi?


Apa sajakah ruang lingkup ergonomi?
Bagaimana yang dimaksud dengan pelatihan ergonomi?
Apa sajakah metode ergonomi?
Bagaimana aplikasi atau penerapan ergonomi?
Bagaimana yang dimaksud dengan ergonomi anthropometri?
Bagaimana yang dimaksud dengan perilaku kerja?

1.3 Tujuan Penulisan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Mendeskripsikan pengertian ergonomi.


Mendeskripsikan ruang lingkup ergonomi.
Mendeskripsikan pelatihan-pelatihan ergonomi.
Mendeskripsikan metode-metode ergonomi.
Mendeskripsikan aplikasi atau penerapan ergonomi.
Mendeskripsikan ergonomi anthropometri.
Mendekripsikan perilaku kerja.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ergonomi
2

Ergonomi berasal dari kata-kata dalam bahasa yunani yaitu ergos yang
berarti kerja dan nomos yaitu berarti ilmu, sehingga secara harfiah dapat dikatakan
sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan pekerjaannya.
Sedangkan beberapa ahli mendefinisikan ergonomi sebagai berikut (Solichin,
2014:153-156):
1. Menurut Sri Tomo W.S ergonomi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari
manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.
2. Menurut Mc Coinick ergonomi dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya
dalam fokus,tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi.
3. Capains mengatakan bahwa ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan
mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan,
keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan,
sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas,
keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.
4. Menurut Mc Cormicks dan Sanders membagi ergonomi ke dalam tiga
pendekatan yaitu:
a. Fokus utama yaitu mempertimbangkan manusia dalam perancangan benda
kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja.
b. Tujuan yaitu ergonomi mempunyai dua tujuan yaitu meningkatkan
efektifitas dan efisiensi pekerjaan dan aktifitas-aktifitas lainnya serta
meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut.
c. Pendekatan utama yaitu mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang
relevan tentang kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan
motivasi manusia terhadap desain produk dan prosedur yang digunakan serta
lingkungan tempat menggunakannya.
Ditinjau dari fakta historis, ergonomi telah menyatu dengan manusia sejak
zaman megalitik, dalam proses perancangan dan pembuatan benda-benda seperti

alat kerja dan barang buatan sesuai dengan kebutuhan manusia pada zamannya
(Kuswana, 2014:1-2).
Jadi ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam
kaitannya dengan pekerjaan mereka. Atau bisa diartikan dengan penyesuaian
tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia yang berkaitan tentang aspekaspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, psikologi,
enginerring, dan manajemen.
2.2 Ruang Lingkup Ergonomi
Aktifitas kerja dalam jabatan, dituntut sesuai kemampuan dan keterbatasan
yang dimiliki para pegawai. Oleh karena itu, para perancang sistem pelayanan
melakukan berbagai analisis terkait dengan jenis tugas, gerakan tubuh yang
diperlukan dan batas kemampuan menerima beban.
Ditinjau dari kepentingan praksis, manajemen sumber daya manusia di
industri adalah sebagai berikut (Kuswana, 2014):
1. Menentukan prasyarat terkait dengan kebutuhan calon tenaga kerja.
2. Upaya peningkatan kapasitas kebutuhan pekerja selaras dengan tuntutan
kompetensi kerja, melalui pendidikan dan pelatihan tertentu.
3. Upaya perbaikan kinerja sesuai dengan hasil identifikasi dan penilaian pekerja.
4. Upaya peningkatan kesigapan dan kewaspadaan dalam melaksanakan
keselamatan dan kesehatan kerja.
5. Memelihara fisik dan mental sebagai sumber dan tujuan kesejahteraan pekerja
dalam upaya pencapaian produktivitas.
Ditinjau dari kepentingan ilmiah yang dapat memberikan kontribusi pada
praksis industri melalui penelitian adalah sebagai berikut (Kuswana, 2014):
1. Penelitian Interface
Interface (perangkat antara), yang mengidentifikasi, menganalisis, dan
mengkaji

mengenai

informasi

tentang

suatu

lingkungan

serta

mendeskripsikannya dengan simbol-simbol, tanda-tanda, lambang, dan angkaangka, peta dan variabel (waktu dan jarak) serta konstanta lainnya
2. Kekuatan Fisik Pekerja
Penelitian tentang aktifitas pelayanan sistem kerja, melalui pengukuran dan
menganalisis gerakan fisik, beban yang diterima, dan peralatan yang diperoleh

dalam objek pekerjaan. Data yang diperoleh dijadikan bahan perancangan


peralatan kerja sesuai dengan rata-rata kemampuan fisik para pekerja.
3. Dimensi dan Bentuk Tempat Kerja
Penelitian mengenai dimensi dan bentuk ruang tempat kerja, dimensi
ukuran kebutuhan para pekerja, jenis pekerjaan, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi karakteristik aktifitas kerja.
4. Lingkungan Kerja
Penelitian mengenai kondisi lingkungan tempat kerja, seperti pengaturan
pencahayaan, ventilasi udara, dan faktor yang mempengaruhi fisik pekerja
seperti kebisingan, getaran, temperatur, dan limbah cairan kimia.
Menurut Napitupulu (2009), ruang lingkup ergonomi tebagi menjadi 4,
yakni sebagai berikut:
1. Ergonomi fisik
Berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, anthropometri, karakteristik
fisiologi dan biomekanikan yang berhubungan dengan aktifitas fisik.
2. Ergonomi kognitif
Berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya yakni
persepsi, ingatan, dan reaksi sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap
pemakaian elemen sistem.
3. Ergonomi organisasi
Berkaitan dengan optimalisasi struktur organisasi, kebijakan dan proses.
4. Ergonomi lingkungan
Berkaitan dengan pencahayaan, temperatur, kebisingan, dan getaran.
2.3 Pelatihan Ergonomi
Pelatihan bidang ergonomi sangat penting, sebab ahli ergonomi umumnya
berlatarbelakang pendidikan teknik, psikologi, fisiologi atau dokter, meskipun ada
juga yang dasar keilmuannya tentang desain, manajer dan lain-lain. Akan tetapi
semuanya ditujukan pada aspek proses kerja dan lingkungan kerja.

Cara kerja yang ergonomis adalah:


a. Menghindari kelelahan
b. Mengurangi ketidak efisienan sehingga diperoleh:
1. Tidak membuang waktu dan energi secara sia-sia
2. Suasana kerja yang aman dan tidak melelahkan
3. Efisiensi kerja optimum dapat dicapai
4. Selamat dan sehat
Kemampuan manusia dibatasi dengan potensi mental:
a.
b.
c.
d.
e.

Kesanggupan menetapkan suatu suasana kerja dan kemampuan mencapainya


Rasa tanggung jawab
Pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya
Latar belakang sosiologi
Pandangan hidup
Dengan adanya pelatihan ergonomi tersebut, diharapkan tujuan0tujuan
ergonomi akan tercapai, antara lain sebagai berikut (Napitupulu, 2009):

1. Angka cedera dan kesakitan dalam melakukan pekerjaan tidak ada/dapat


2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

dikurangi;
Biaya terhadap penanganan kecelakaan atau kesakitan menjadi berkurang;
Kunjungan untuk berobat bisa berkurang;
Tingkat absentisme/ketidakhadiran bisa berkurang;
Produktivitas/kualitas dan keselamatan kerja meningkat;
Pekerja merasa nyaman dalam berkerja;
Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental;
Meningkatkan kesejahteraan sosial;
Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis,
antropologis, dan budaya dari setiap sistem kerja.

2.4 Metode Ergonomi


Menurut Solichin dkk. (2014:158), metode ergonomi terbagi menjadi 3
yakni sebagai berikut:
1. Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi
tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomic checklist dan
pengukuran lingkungan kerja lainnya.
2. Treatment, pemecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada saat
diagnosis. Terkadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak

pencahayaan atau jendela yang sesuai, serta membeli furniture sesuai dengan
dimensi fisik pekerja.
3. Follow-up, dengan evaluasi yang subjektif atau objektif, subjektif misalnya
dnegan menanyakan keamanan, bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku,
keletihan, sakit kepala, dan lain-lain. Secara objektif misalnya dengan
parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan, dan lain-lain.
2.5 Aplikasi/Penerapan Ergonomi
1. Kerja Duduk
Ditinjau dari aspek kesehatan, bekerja ada posisi duduk yang memerlukan
waktu lama dapat menimbulkan otot perut semakin elastis, tulang belakang
melengkung, otot bagian mata terkonsentrasi sehingga cepat merasa lelah.
Kejadian tersebut jika tidak diimbangi dengan tempat duduk yang tidak
memberikan keleluasaan gerak atau alih pandang yang memadai tidak menutup
kemungkinan terjadi gangguan bagian punggung belakang, ginjal, dan mata.
Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan pekerjaan
dengan duduk (Kuswana, 2014):
a. Duduk bergantian dengan berdiri dan berjalan, duduk dalam waktu yang relatif
lama harus dihindari karena akan berpengaruh pada kesehatan. Saat duduk,
leher dan punggung mengalami tekanan berkepanjangan yang dapat
menyebabkan keluhan leher dan punggung. Tugas yang membutuhkan duduk
berkepanjangan harus diselingi dengan tugas-tugas yang dilakukan dengan
postur berdiri atau berjalan.
b. Ketinggian kursi dan sandaran kursi harus disesuaikan, ketinggian kursi harus
dipilih sedemikian rupa sehingga ketika duduk, bagian belakang lutut tidak
sempit. Sandaran harus memberikan kenyamanan terutama untuk punggung
bagian bawah (untuk orang dewasa di Inggris, rentang pengaturan minimal
harus 10 cm antara ketinggian 20 dan 30 cm). bagian bawah sandaran harus
diberi bentuk cembung untuk menjaga lekukan punggung bawah. Selain itu,
kursi juga harus dapat berputar untuk mengurangi kebutuhan memutar tubuh.
c. Karakteristik kursi secara spesifik ditentukan oleh jenis tugas, sebuah kursi
dengan sandaran lengan dapat dipilih jika dipandang tidak mengahambat
kegiatan. Sandaran lengan pada kursi berfungsi untuk mendukung berat lengan
dan berguna ketika bangkit dari kursi. Sandaran lengan harus endek untuk

memungkinkan dekat ke meja. Untuk tugas dimana tubuh tehindarkan


membungkuk ke depan, miring ke depan terbatas (maksimum 20 o) dianggap
menguntungkan karena mencegah punggung bawah melengkung.
d. Ketinggian bekerja bergantung pada tugas
Tipe Tugas
Penggunaan mata: sering; penggunaan
tangan/lengan: jarang
Penggunaan mata: sering; penggunaan
tangan/lengan: sering
Pernggunaan mata: jarang; penggunaan
tangan/lengan: sering

Ketinggian Kerja
10-30 cm di bawah ketinggian mata
0-15 cm di atas tinggi siku
0-30 cm di bawah tinggi siku

e. Gunakan sandaran kaki jika tinggi pekerjaan tetap, jika ketinggian kerja tidak
dapat disesuaikan oleh pengguna, seperti pada mesin, permukaan kerja yang
relative tinggi harus dipilih sesuai dengan tinggi pengguna. Ketinggian kursi
kemudian harus disesuaikan dengan permukaan kerja.. ketinggian kaki juga
harus disesuaikan dengan menggunakan pijakan kaki yang cocok.
f. Hindari jangkauan berlebihan, benda kerja, alat, dan kontrol yang digunakan
secara teratur harus ditempatkan di depan atau di dekat tubuh. Jangkauan yang
ditoleransi dalam pekerjaan duduk maupun berdiri maksimal 50 cm.
g. Pilih permukaan kerja miring untuk membaca, sebuah permukaan kerja miring
membawa pekerjaan ke mata bukan sebaliknya. Dalam tugas yang tidak
memerlukan pekerjaan manual, seperti membaca, membungkukkan kepala dan
batang leher ke depan dapat dikurangi dengan menggunakan kemiringan
permukaan kerja minimal 45o untuk melihat. Untuk tugas yang menggunakan
mata dan tangan, kemiringan permukaan kerja sekitar 15o.
h. Berikan ruang kaki yang memadai, ruang kaki yang cukup harus disediakan di
bawah permukaan tempat kerja. Lebar sekitar 60 cm, kedalaman minimal 40
cm dan bagian lutut sekitar 100 cm. hal ini digunakan untuk meregangkan kaki
sesekali duduk untuk waktu yang lama. Untuk memiliki ruang yang cukup
antara bawah permukaan kerja dan bagian atas kaki, ketebalan permukaan kerja
tidak boleh lebih dari 3 cm.
2. Kerja Berdiri

Postur tubuh dalam pekerjaan berdiri merupakan suatu totalitas perilaku


kesiagaan dalam menjaga keseimbangan fisik dan mental. Kecenderungan lainnya
adalah memerlukan tenaga yang lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk
mengingat kaki sebagai tumpuan tubuh. berikut ini hal-hal yang harus
diperhatikan dalam posisi kerja berdiri (Kuswana, 2014):
a. Berdiri bergantian dengan duduk dan berjalan. Tugas yang harus dilakukan
dalam waktu lama dengan posisi berdiri harus diselingi dengan tugas yang
dapat dilakukan dengan duduk dan berjalan.
b. Ketinggian meja kerja harus disesuaikan. Ketinggian meja kerja harus
disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Ketinggian meja maksimal untuk pria
adalah 110 cm dan wanita adalah 105 cm, sedangkan ketinggian meja minimal
untuk pria adalah 90 cm dan untuk wanita adalah 85 cm.
c. Menyediakan cukup ruang untuk kaki. Antara bagian tengah meja harus lebih
lebar 5 cm dengan tumpuan meja. Antara sandaran meja dan jarak lantai
minimal 75 cm.
d. Hindari jangkauan berlebihan. benda kerja, alat, dan kontrol yang digunakan
secara teratur harus ditempatkan di depan atau di dekat tubuh. Jangkauan yang
ditoleransi dalam pekerjaan duduk maupun berdiri maksimal 50 cm. pilih
permukaan kerja yang miring untuk membaca tugas.
e. Postur tangan dan lengan. Bekerja untuk jangka waktu yang lama dengan
tangan dan lengan dalam sikap tubuh yang buruk dapat menyebabkan keluhan
spesifik dari pergelangan tangan, siku, dan bahu. Masalah ini timbul terutama
dari handling alat.
f. Pilih model alat yang tepat. Sebuah alat tertentu sering tersedia dalam berbagai
model. Pilih model yang palin cocok untuk tugas dan postur tubuh agar tidak
terjadi permasalahan di persendian. Bila menggunakan alat genggam,
pergelangan tangan harus dijaga selurus mungkin.
g. Alat genggam tidak boleh terlalu berat. Alat genggam yang masih bisa
ditoleransi beratnya adalah sekitar 2 kg.
h. Penjagaan alat. Alat kerja harus dijaga kualitasnya agar tidak membutuhkan
kekuatan yang besar dalam penggunaannya.
i. Bentuk genggaman. Bentuk dan lokasi genggaman di troli, mesin, dan
sebagainya harus mempertimbangkan posisi tangan dan lengan. Jika seluruh
tangan digunakan untuk mengerahkan kekuatan, handgrip harus memiliki

diameter sekitar 3 cm dan panjang sekitar 10 cm. pegangannya harus agak


cembung untuk meningkatkan kontak permukaan dengan tangan.
j. Hindari melaksanakan tugas di atas bahu. Tangan dan siku harus berada jauh di
bawah bahu ketika melaksanakan tugas. Jika pekerjaan di atas permukaan bahu
tidak dapat dihindari, durasi kerja harus terbatas dengan diselingi oleh istirahat
teratur.
k. Hindari bekerja dengan tangan di belakang tubuh. Posisi tangan dan lengan di
belakang tubuh menimbulkan gangguan, misalnya nyeri pada bagian lengan
atas dan dikhawatirkan terjadi disposisi sendi (terkilir).
2.5.1 Prinsip Dasar Ergonomi dalam Aktifitas Kerja
1. Bekerja di postur netral
Memposisikan S-kurva tulang
belakang.

Ketika berdiri, meletakkan satu kaki di


atas sandaran kaki membantu untuk
menjaga tulang belakang dalam
keselarasan.
Lumbar support yang baik sering
membantu untuk menjaga kurva yang
tepat di punggung anda.
Membungkuk menciptakan banyak
tekanan pada tulang belakang.

Menggunakan kondisi miring untuk


membaca

Menjaga leher tetap selaras. Lama


postur memutar dan membungkukkan
leher dapat menyebabkan stress.

10

Menjaga siku tetap dalam kondisi netral


untuk membuat siku dan bahu santai.

Seharusnya melakukan pekerjaan


dengan tidak membungkukkan bahu
dan tidak megeluarkan siku.

Pada saat memainkan mouse,


pergelangan tangan harus sejajar
dengan mouse, bila perlu menggunakan
bantalan yang empuk.
Memegang kemudi mobil yang baik.

Prinsip pemakaian alat yang


disesuaikan dengan postur tubuh.

2. Mengurangi angkatan beban berlebihan


Kekuatan yang berlebihan pada sendi dapat membuat potensi kelelahan
dan cedera. Metode mengangkat beban menurut Solichin dkk. (2014) adalah
sebagai berikut:
a. Otot lengan lebih banyak digunakan daripada otot punggung;
b. Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum berat badan.
3. Jangkauan
Konsep semilingkaran yang membuat
lengan mudah menjangkau
benda/objek.

11

Posisi siku yang tidak sesuai.

Seharusnya permukaan meja sesuai


standard.

Mengusahakan cara untuk tidak bekerja


dengan mengangkat bahu.

4. Bekerja pada ketinggian siku


Sebagian besar pekerjaan seharusnya
dilakukan pada sekitar tinggi siku, baik
duduk maupun berdiri.
Pekerjaan yang lebih berat sering lebih
baik dilakukan dengan lebih rendah
dari siku.
Menyesuaikan kondisi dengan
menggunakan pijakan kaki.

5. Mengurangi gerakan berlebihan


Mengganti alat manual dengan alat
listrik.
Mengubah layout peralatan untuk
menghilangkan gerakan.

12

Menghilangkan atau mengubah


permukaan yang tidak rata.

6. Meminimalkan kelelahan dan beban statis


Tidak perlu memegang pensil atau
bullpoin terlalu erat dalam jangka
waktu yang lama.

Menggunakan fixture menghilangkan


kebutuhan untuk memegang bagian.

Dapat menambahkan extender untuk


alat sehingga tidak menambah beban
statis pada otot bahu.
Sebaiknya menggunakan sandaran kaki
agar tidak mengalami kelelahan saat
berdiri.

7. Meminimalkan tekanan pada satu titik

Menambahkan pegangan empuk pada


alat.

13

Menyandarkan lengan pada tepian meja


yang tidak runcing.

Seharusnya duduk antara paha dan


bagian bawah meja. Kursi yang baik
adalah kursi yang memiliki bantalan.

Menggunakan sol yang tepat apabila


bekerja di lantai yang keras.

8. Memiliki cukup clearance


Wilayah kerja perlu diatur sehingga
memiliki ruang yang cukup untuk
kepala, lutut, dan kaki.
Tidak ada sesuatu yang menghalangi
pandangan saat melakukan pekerjaan.

9. Pindah gerak dan peregangan


Otot harus dilatih dan detak jantung
membutuhkan elevasi periodik.
Perlu menggeser postur ketika duduk
dalam jangka waktu yang lama.
Bergantian antara duduk dan berdiri
pada saat melakukan pekerjaan.

14

10. Menjaga kenyamanan lingkungan

Pencahayaan yang baik.

Menggunakan task lighting

Alat getar, misalnya bor

11. Meningkatkan organisasi kerja


Pekerjaan harus diatur dengan berbagai cara, misalnya:
a.
b.
c.
d.

Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun;


Frekuensi pergerakan diminimalisasi;
Jarak mengangkat beban dikurangi;
Dalam membawa beban perlu diingat

bidangnya

tidak

licin

dan

mengangkatnya tidak terlalu tinggi;


e. Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
2.6 Ergonomi Anthropometri
Menurut Napitupulu (2009), anthropometri akan secara luas digunakan
sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi
manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara
luas antara lain dalam hal berikut:
a.
b.
c.
d.

Perancangan areal kerja;


Perancangan peralatan kerja;
Perancangan produk-roduk konsumtif seperti pakaian, meja, kursi, dll.
Perancangan lingkungan kerja fisik.
Sedangkan menurut Solichin dkk. (2014), anthropometri terbagi 2 bagian,

yakni:
a. Anthropometri statis
Pengukuran manusia dalam posisi diam dan linear pada permukaan tubuh. ada
beberapa faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia diantaranya:

15

1. Umur
Ukuran tubuh manusia akan berkembang. Semakin bertambahnya umur
manusia, maka ukuran tubuhnya juga akan berkembang.
2. Jenis Kelamin
Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada
dan pinggul yang dipengaruhi oleh:
a.
b.
c.
d.
e.

Suku bangsa (etnis);


Sosio ekonomi;
Konsumsi gizi;
Pekerjaan;
Aktifitas sehari-hari.

b. Anthropometri Dinamis
merupakan pengukuran keadaan dan cirri-ciri fisik manusia dalam keadaan
bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja
tersebut

melaksanakan

kegiatannya.

Terdapat

tiga

kelas

pengukuran

anthropometri dinamis antara lain:


1. Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti
keadaan mekanis dari suatu aktifitas, misalnya pengukuran performasi atlet;
2. Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat bekerja. Misalnya
jangkauan dari gerakan tanagn dan kaki efektif pada saat bekerja, yang
dilakukan dengan berdiri atau duduk;
3. Pengukuran variabilitas kerja. Misalnya analisis kinematika dan kemampuan
jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator komputer.
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam
anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu akan sangat besar manfaatnya
pada saat suatu rancangan pproduk atau fasilitas kerja akan dibuat. Mengingat
bahwa keadaan dan cirri fisik dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga berbeda
satu sama lainnya, maka terdapat tiga prinsip dalam pemakai data tersebut, antara
lain (Solichin, 2014):

16

1. Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim terbagi atas dua


yaitu perancangan berdasarkan individu terbesar dan perancangan fasilitas
berdasarkan individu terkecil.
2. Perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip ini digunakan untuk
merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut bisa menampung atau bisa
dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin
memerlukannya.
3. Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakainya. Prinsi ini
hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak
mungkin dilaksanakan dan tidak layak jika menggunakan prinsip
perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan. Prinsip ini tidak mungkin
dilaksanakan apabila lebih banyak rugi daripada untungnya. Sedangkan jika
fisilitas tersebut dirancang berdasarkan fasilitas yang bisa disesuaikan, tidak
layak karena terlalu mahal harganya.
2.7.Perilaku Kerja
Perilaku kerja adalah perilaku diterjemahkan dari kata bahasa inggris
behavior dan kata tersebut sering dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, namun
seringkali pengertian perilaku ditafsirkan secara berbeda-beda antara satu orang
dengan yang lainnya. Perilaku juga sering diartikan sebagai tindakan atau
kegiatan yang ditampilkan seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan
lingkungan di sekitarnya, atau bagaimana manusia beradaptasi terhadap
lingkungannya. Perilaku, pada hakekatnya adalah aktifitas atau kegiatan nyata
yang ditampilkan seseorang yang dapat teramati secara langsung maupun tidak
langsung . perilaku kerja adalah tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan
faktor-faktor kerja. Perilaku kerja ada dua yaitu: perilaku kerja yang baik dan
perilaku kerja yang buruk.
a. Perilaku kerja yang baik
Jenis dan perilaku kerja yang harus diperhatikan oleh para pekerja untuk
mencapai keberhasilan di dalam kerja atau bisnisnya antara lain meliputi hal-hal
berikut ini :
1. Kerja ikhlas
17

Kerja

ikhlas

adalah

bekerja

dengan

bersungguh-sungguh,

dapat

menghasilkakn sesuau yang baik dan dilandasi dengan hati yang tulus. Contoh:
seorang buruh pabrik yang bekerja dengan upah yang pas-pasan, namuun tetap
bekerja dengan baik melaksanakan pekerjaan dengan tulus dan semata-mata
merupakan pengabdian kepada pekerjaannya yang menghasilkan uang untuk
keperluan hidup keluarga.
2. Kerja Mawas Terhadap Emosiaonal
Kerja mawas terhadap emosional adalah bekerja dengan tidak terpengaruh
oleh perasaan/kemarahan yang sedang melanda jiwanya. Seorang pekerja, di
rumah mempunyai masalah dengan keluarganya. Di perusahaannya, ada
pegawainya yang melakukan kesalahn. Maka sebagai pemimpin atau pemilik
usaha maka dapat membedakan maslah pribadi dengan maslah pekerjan. Cara
pemecahannya harus tetap rasional dan tidak emosioanl.
3. Kerja Cerdas
Kerja cerdas adalah bahwa

di dalam bekerja kita harus pandai

memperhitungkan resiko, mampu melihat peluang dan dapat mencari solusi


sehingga dapat mencapai keuntungan yang diharapkan. Perilaku/sikap cerdas
dalam melakukan pekerjaannya menggunakan teknologi yang tepat, menggunakan
konsep hitung menghitung, memakai atau menggunakan bahasa global, pandai
berkomunikasi dan pandai pula mengelola informasi.
4. Kerja Keras
Kerja keras adalah dalam bekerja kita harus mempunyai sifat mampu
bekerja keras atau gila kerja untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Mereka
dapat memanfaatkan waktu yang optimal sehingga kadang-kadang tidak mengenal
waktu, jarak serta kesulitan yang dihadapi. Dalam bekerja mereka penuh
semangat dan berusaha keras untuk meraih hasil yang baik dan maksimal.
5. Kerja Tuntas

18

Kerja tuntas adalah di dalam berkerja mmapu mengorgaisasikan kerjanya


secara terpadu dari awal sampai akhir untuk dapat menghasilkan hasil kerja yang
maksimal.

b.

Perilaku kerja yang buruk


Perilaku kerja yang buruk adalah perilaku kerja yang tidak baik ditujukan
oleh perkerja. Berikut adalah 5 perilaku buruk yang dikemukaan dalam buku
karangannya Sylvia La Fair yaitu:
1. Penganiaya (Persecutor)
Orang jenis ini tak segan mengatur hal-hal kecil dan memperhatikan
pelanggaran-pelanggaran orang lain. Beberapa cirinya adalah email pasif-agresif
yang cenderung menyalahkan orang lain. Mengapa terjadi? Orang seperti ini
tumbuh dengan pelecehan atau pengabaian dari orang tua
2. Pura-pura (denier)
Karyawan tioe ini tidak realistis dan berpura-pura tidak ada masalah dalam
pekerjaan kantor maupun kondisi kantor. Saat keuangan kantor mengalami
kerugian dan krisis berat, pendapat sebagian besar orang adalh Perusahaan akan
bangkrut. Mereka akan keukeuh dengan ucapan, Akan ada bonus untuk semua
orang! Kemungkina terbesar dari tipe orang ini adalh mreka berasal dari eluarga
yang takut membicarakan hal-hal tidak menyenangkan.

3.

Penghindar (Avoider)
Dia adalh orang pertama yang menghindar atau keluar kantor setiap kali
akan berlangsung rapat yang akan menyampaikan berita buruk atau menjelang
deadline. Sebabnya, di masa kanak-kanak, orang tua mereka terlau menghakimi
atau tidak memliki hubungan kuat dengan orang tua.
4. Si Berprestasi (Super Achiever)

19

Orang seperti ini mendorong diri agar terus unggul dalam segala hal.
Mereka memimpikan untuk selalu meraih keuntungan bagi dirinya. Orang sepeeti
ini akan merasa gagal jika ada hal yang menyiratkan bahwa mereka telah
melakukan kesalahan. Jadi, sekuat tenaga, tipe seperti ini akan beurusaha
membuat orang lain terlihat buruk. Di masa kecil, biasanya orang seperti ini
memiliki pengalaman rasa malu atau tragedi dalam keluarga. Maka mereka
berusaha menebusnya dengan sgala cara.
5. Martir
Orang ini melakukan pekerjaan semua orang. Mereka datang lebih awal
setiap har dan bekerja lembur setiap malam. Mereka juaga bangga dan selalu
menceritakannya kepada semua orang. Alasan utama dari perilaku pekerja jenis
ini adalah di masa kecil mereka mencoba untuk menyenangkan orang tua yang
tidak menyukai impian mereka.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

20

3.1 Simpulan
Ergonomi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah
manusia dengan pekerjaannya. Ergonomi pada makalah ini dibahas menjadi
beberapa sub-bab, yakni pengertian ergonomi, ruang lingkup ergonomi, pelatihan
ergonomi, metode ergonomi, penerapan ergonomi, ergonomi anthropometri, serta
perilaku kerja yang berguna bagi terlaksananya sistem ergonomi di perusahaan
untuk meningkatkan produktivitas kerja, laba, serta kelangsungan hidup tenaga
kerja.
3.2 Saran
Ergonomi sering kali terabaikan karena masih kurangnya pengertian dan
pemahaman, di samping sikap acuh tak acuh, baik dari engusaha maupun
pekerjanya sendiri. Seharusnya, penerapan ergonomi untuk memperbaiki
produktivitas kerja, kesehatan dan keamanan, harus dimiliki oleh para pengusaha
atau pimpinan perusahaan. Demikian juga para teknisi yang merencanakan proyek
industry, termasuk perencanaan pembangunan dan fungsi sarana kerja, sesuai
dengan kemampuan tenaga kerja.
Penggalakan partisipasi harus mencakup semua pihak, dimulai dari
kebijakan yang diciptakan dalam peraturan perundangan, kemauan baik dari
pengusaha atau pimpinan perusahaan, para tenaga kerja serta lainnya yang terkait
seperti para perancang alat, teknisi, dan sebagainya. Masing-masing bergerak
dalam bidang maupun keahliannya sehingga ergonomi dapat menopang gerakan
produktivitas dalam pembangunan nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Kuswana, Wowo Sunaryo. 2014. Ergonomi dan Kesehatan Keselamatan Kerja.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

21

Napitupulu, Natassia. 2009. Gambaran Penerapan Ergonomi, (Online),


(http://www.digilib.ui.ac.id/file?file=digital/126790-S-5669-Gambaran
%20penerapan-Literatur.pdf), diakses 28 Maret 2015.
Purnomo, Hari. 2013. Pemahaman Industri Terhadap Ergonomi Relatif Rendah,
(Online),
(http://www.industrial.uii.ac.id/id/kegiatan-akademik/learningislamic-values/16-id/berita/188-pemahaman-industri-terhadap-ergonomirelatif-rendah.html), diakses 24 Maret 2015.
Solichin dkk. 2014. Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Malang:
Universitas Negeri Malang.

22