Anda di halaman 1dari 19

Pembacaan Jurnal RSPAD

Pengaruh Elektroakupuntur pada Penyembuhan


Jaringan Lunak
Sumber : J Acupunct Meridian Stud 2014;7(5):243e249

Penulis

: dr. Lydwina Juvanni Callestya

Pembimbing : dr. Dharmawan P, Sp. Ak

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA


PROGRAM STUDI SPESIALIS-1 AKUPUNKTUR MEDIK
JAKARTA
2016

Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari
elektroakupunktur bipolar (EA) pada jaringan lunak yang rusak pada kelinci.
Sepuluh kelinci putih Selandia Baru yang sehat dibagi menjadi dua kelompok:
kelompok kontrol (Grup C, n = 5) dan kelompok eksperimental /EA (Group T, n =
5). Selama neuroleptanalgesia, kerusakan jaringan lunak (kulit dan otot) dibuat
pada sisi dorsum kelinci pada kedua kelompok, dan kerusakan jaringan tersebut
dirangsang menggunakan EA. Sampel biopsi dikumpulkan pada hari ke-2, hari
ke-4, dan hari ke-6, dipersiapkan untuk histologi, dan diperiksa secara
mikroskopis. Pada hari ke-2, di Grup C, derajat inflamasi terlihat lebih tinggi
daripada di Grup T; pada hari-hari berikutnya, derajat inflamasi terlihat lebih
rendah atau identik pada kedua kelompok. Aktivitas proliferasi fibrosa meningkat
pada hari ke-4 untuk kelompok T dan identik untuk kedua kelompok pada hari ke6. Dinamika dari ketebalan epidermis ditandai dengan tingkat yang tinggi pada
hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke-6 untuk Grup T. EA memfasilitasi stres mekanik
pada jaringan yang rendah dan memiliki efek positif pada penyembuhan
kerusakan otot. EA meningkatkan proses penyembuhan, tanpa efek samping.

1. Pendahuluan
Penggunaan akupunktur dalam terapi medis sebagian besar didasarkan
pada efek analgesik dan anti-inflamasi yang ingin dicapai ketika jaringan lunak
tersebut dirangsang dengan menggunakan jarum.1,2 Jaringan lunak merupakan
salah satu jembatan yang paling penting antara efek yang dipicu oleh jarum
akupunktur dan sistem saraf.
Studi eksperimental tentang penggunaan elektroakupunktur (EA) dalam
proses penyembuhan jaringan menunjukkan hasil yang bertentangan berkaitan
dengan meningkatkan dan mempercepat penyembuhan jaringan lunak. 3-6 EA yang
dilakukan segera setelah intervensi bedah pada jaringan lunak anjing, tidak
memiliki pengaruh pada tingkat penyembuhan.7 Penggunaan stimulus EA pada
2

berbagai tipe jaringan bertujuan untuk menemukan apakah ada hasil yang tidak
memuaskan.8 EA telah terbukti secara eksperimental memiliki pengaruh yang
signifikan pada regenerasi dan rekonstruksi fungsi saraf dan otot.9 Studi terbaru
menunjukkan bahwa respon inflamasi awal mengarah kepada peningkatan
neutrofil dan makrofag, yang memainkan peran penting dalam mensuplai sitokin
dari faktor pertumbuhan dan asam nitrat, sehingga menentukan migrasi keratinosit
pada epitel yang tekena kerusakan.10
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rangsangan EA bipolar selama
20 menit pada tiap sesi; yaitu, aliran muatan listrik diinduksi dalam dua arah
dominan yang berbeda, polaritasnya diubah secara manual. Meskipun
perlengkapan pada EA yang modern dirancang untuk memancarkan stimulus dua
arah selama rangsangan untuk menghindari elektrolisis, di beberapa perlengkapan
EA, intensitas stimulus listrik pada satu sisi lebih tinggi daripada muatan
listriknya, yang menyebabkan arus bergerak ke satu arah. Pergerakan arus yang
lebih tinggi ke satu arah menyebabkan stimulasi listrik cenderung untuk bergerak
ke arah tersebut. Sepengetahuan terbaik dari peneliti, efek stimulasi listrik bipolar
yang diterapkan pada kerusakan jaringan belum pernah disebutkan dalam
penelitian lain yang melibatkan kerusakan jaringan.
Penelitian ini melibatkan efek EA bipolar dalam studi eksperimental
kerusakan jaringan (kulit dan otot) pada kelinci. Tujuan penting dari penelitian ini
adalah untuk menunjukkan pengaruh EA bipolar pada kulit dan lapisan otot
superfisial yang terlibat dalam penyembuhan kerusakan jaringan, dengan
menganalisis pentingnya proses inflamasi, proliferasi fibrosis, dan proliferasi
epitel dalam manajemen luka.

2.

Material dan Metoda


Penelitian ini dilakukan sesuai dengan pedoman dalam menggunakan

hewan hidup pada penelitian. Semua percobaan telah disetujui oleh Komite Etik

dari Fakultas Kedokteran Hewan, Cluj-Napoca, Rumania (No. 10473/


24.07.2012).
Percobaan dilakukan dengan menggunakan kelinci putih New Zealand
yang berusia 102 tahun (kelinci Micro-farm, Mr. Petru Pestean, Cluj-Napoca,
Rumania) dengan berat antara 2,5 kg dan 2,8 kg. Kelinci dipisahkan menjadi dua
kelompok: lima kelinci di kelompok eksperimental EA (kelompok percobaan) dan
lima kelinci pada kelompok kontrol (NLA). Pada kelinci dipastikan terdapat area
kulit yang besar untuk penempatan kedua jarum akupunktur untuk penusukan
dalam (kedalaman 2 cm) dan elektroda untuk memantau parameter fisik. Hasil
yang diperoleh pada kelinci ini juga dapat digunakan sebagai acuan pada spesies
lainnya (misalnya kuda). Pada kelinci, peneliti berhasil membentuk kelompok
yang homogen berdasarkan asal genetik, usia, berat badan, dan lain-lain.
Fungsi klinis, termasuk suhu internal (t, 0C), aktivitas jantung (HR), dan
aktivitas pernafasan (RR) direkam menggunakan sistem Infinity Delta (Draeger
Medis Systems, Inc, Telford, USA). Perangkat EA yang digunakan adalah AWQ104E acupunctoscope elektronik serbaguna (T.E.N.S. (TENS PLUS IND. CO.,
Kln., Hong Kong)). Perlengkapan lain yang diperlukan dalam penelitian ini
termasuk jarum akupunktur (Natural 0,2 / 25 mm (Shanghai Xinhua E-General
Merchandise Co, Ltd, Shanghai, Cina)), instrumen untuk biopsi yaitu 4 mm
(Integra Miltex, Plainsboro, USA), anestesi (halotan, ketamin 50 mg/kg,
intramuskular, dan xylazine 5 mg/kg, intramuskular), antibiotik (enrofloxacin 5%,
5 mg / kg, subkutan (SC Pasteur, Rumania)) dan larutan formaldehida untuk
mengawetkan sampel biopsi.
Rencana eksperimental dirancang untuk memastikan bahwa anestesi
umum dapat digunakan untuk membentuk kerusakan jaringan dan untuk
mengumpulkan sampel biopsi dalam tiga tahap yang berbeda dari penyembuhan
luka (hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke-6). Hal ini juga memungkinkan kerusakan
beberapa jaringan (3/kelinci), termasuk kerusakan kulit dan otot, yang akan
dibentuk di kelinci dan akan dirangsang oleh EA di sisi kerusakan jaringan.

Berdasarkan program tersebut, sampel biopsi dikumpulkan pada hari ke-2, hari
ke-4, dan hari ke-6 setelah stimulasi EA; dua teknik pewarnaan secara histologis
digunakan untuk mendapatkan luas struktur sel dan histopatologi pada
pemeriksaan (kulit dan otot) yang dapat digunakan untuk menilai tingkat
inflamasi, proliferasi subepitel, dan ketebalan epidermis.
Untuk kedua kelompok (kontrol dan percobaan), neuroleptanalgesia
penting untuk membentuk kerusakan jaringan pada awal percobaan setelah kelinci
dibius umum dan dirangsang dengan menggunakan EA untuk kerusakan
jaringannya. Halotan digunakan sebagai anestesi umum untuk mengumpulkan
sampel biopsi pada hari ke-2, hari ke-4 dan hari ke-6.
Eksperimental kerusakan jaringan lunak dibentuk dengan menggunakan
instrumen biopsi untuk memotong suatu fragmen dari jaringan kulit dan otot
(diameter 4 mm, kedalaman 5 mm) (Gbr. 1A). Topografi kerusakan jaringan
dibentuk pada paravertebra (1,5 cm dari garis tengah) yaitu pada daerah dorsal
thorak antara T1 dan T8. Garis imajiner dibuat pada tiga jarum yang ditusukkan
berparalel dengan garis tengah. Segera setelah kerusakan jaringan telah terbentuk,
semua kerusakan jaringan diapit oleh dua jarum akupunktur. Setting dari
perangkat EA dan prosedur stimulasi lokal untuk jaringan lunak dirancang khusus
untuk penelitian ini (Tabel 1).
Kerusakan jaringan tidak dijahit. Pada kedua kelompok di hari yang sama,
diberikan antibiotik (enrofloxacin 5%) untuk mencegah infeksi lokal. Sampel
biopsi dikumpulkan pada hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke- 6 setelah stimulasi EA.
Sampel biopsi yang diperoleh dari kerusakan kutaneus kulit difiksasi dengan
larutan formalin fosfat-buffer 10% selama 24 jam, dan difiksasi dalam lilin
parafin, dipotong menjadi bagian berukuran 4 m, dan diwarnai dengan
hematoxylin dan eosin. Pewarnaan trichrome Masson juga digunakan untuk
mengevaluasi serat kolagen. Tiga preparat dari masing-masing sampel biopsi
dikumpulkan secara acak, dan potongan melibatkan daerah jaringan yang utuh,

termasuk kerusakan jaringan atau hanya jaringan utuh, dari daerah dengan radius
0,3 cm dari sekitar kerusakan jaringan.

Gambar 1. EA pada eksperimen kerusakan jaringan: (A) kerusakan jaringan yang


dibentuk dari instumen biopsi, (B) perangsangan EA lokal pada kerusakan jaringan no.1
(T1-2), no.2 (T5) dan no.3 (T8), dan (C) stimulasi EA

Preparat dianalisis menggunakan mikroskop Olympus BX51, dan foto


diperoleh dengan menggunakan kamera digital Olympus SP 350. Perangkat
pencitraan dasar Sel B (Olympus) digunakan untuk menghitung secara semiotomatis untuk parameter inflamasi. Infiltrat proses inflamasi diklasifikasikan
sebagai kelas 0 (tidak ada sel-sel inflamasi, atau sel mast dan limfosit yang
tersebar / high power field (HPF)), kelas 1 (1-10 heterophils dan makrofag / HPF),
kelas 2 (11-30 heterophils dan makrofag / HPF), dan kelas 3 (> 30 heterophils dan
makrofag / HPF). Jaringan fibrosis dinilai pada skala 0 sampai 4: kelas 0 (tidak
ada fibrosis subepitel), kelas 1 (proliferasi jaringan fibrosa ringan termasuk aspek
fibroblas, serat kolagen, dan kapiler), kelas 2 (Proliferasi moderat jaringan fibrosa
pada dermis yang terdiri dari fibroblas, kerusakan serat kolagen, dan beberapa
kapiler yang memiliki diameter kecil), dan kelas 3 (proliferasi berat jaringan
fibrosa pada dermis dan lapisan dalam yang terdiri dari fibrocytes, beberapa serat
kolagen, dan beberapa kapiler memiliki diameter besar). Pengukuran kedua
parameter inflamasi dan fibrosis dilakukan secara acak. Stream Basic software
(Olympus) digunakan untuk pengukuran ketebalan epidermal.

Tabel 1. Detail pada eksperimen, termasuk pemasangan dari alat elektroakupunktur dan
stimulasi lokal pada jaringan lunak

3. Hasil
Hasil penelitian ini meliputi penilaian morphopathologic dan histologis
dari sampel jaringan. Evaluasi mikroskopis yang dilakukan pada hari ke-2
menunjukkan adanya lesi inflamasi akut yang ditandai dengan nekrosis kulit yang
mempengaruhi semua lapisan kulit dan lebih berat pada tingkat epidermal /
dermal, hyperemia, edema, proliferasi jaringan fibrosa sedang sampai berat (kelas
2/3), heterophils polimorfonuklear, makrofag, vaskulitis akut, dan trombosis
sekunder di dermis. Selain itu, pada zona epidermis, di daerah yang sesuai dengan
kerusakan jaringan, ditandai dengan terdapatnya krusta fibrin-leukosit. Secara
statistik, tahap ini ditandai dengan perbedaan berikut (Tabel 2 dan 3). Pada
kelompok kontrol, derajat inflamasi ditandai dengan peningkatan standar deviasi
(s) sebesar 0,54 dibandingkan dengan pada kelompok percobaan (s=0). Tidak
ada tanda-tanda dari proliferasi jaringan fibrosa pada kedua kelompok. Rata-rata
ketebalan epidermis terukur lebih tinggi pada kelompok percobaan dibandingkan
pada kelompok kontrol.

Tabel 2. Penilaian mikroskopis terhadap inflamasi dan derajat proliferatif jaringan


fibrosa, termasuk rerata (x), standar deviasi (s), dan standard error rerata, (SE) pada
kelompok kontrol (C) dan kelompok percobaan (T)

Tabel 3. Ketebalan epidermis, termasuk rerata (x), standar deviasi (s), dan standard
error rerata (SE) dari ketiga pengukuran, pada kelompok kontrol (C) dan kelomok
percobaan (T)

Dalam penilaian tahap kedua (hari ke-4), peneliti mengamati dinamika


pada aspek histopatologi dan kelinci pada kedua kelompok ditemukan penurunan
dari respon inflamasi (kelas 1/3), proses perbaikan jaringan yang terpisah,
proliferasi fibroblast, serat kolagen yang jarang, beberapa kapiler dengan diameter
kecil, dan sel-sel endotel yang tidak teratur dengan inti vesikuler besar. Secara
statistik, tahap ini ditandai dengan perbedaan berikut (Tabel 2 dan 3). Derajat
inflamasi jauh berkurang pada kedua kelompok (s=0). Derajat proliferasi fibrotik

pada jaringan dan ketebalan epidermis terukur meningkat dan lebih tinggi di
kelompok percobaan dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Pada hari ke-6, penilaian histologi menunjukkan adanya proses inflamasi
ringan (kelas 1/3) yang ditandai dengan hiperemia dan sel-sel inflamasi yang
terdiri dari makrofag dan heterophils yang tersebar. Sebaliknya, proses regenerasi
jaringan lebih signifikan dibandingkan pada penilaian tahap kedua, yang
ditunjukkan oleh adanya jaringan granulasi, dan dalam beberapa area ditunjukkan
oleh jaringan yang matur dengan beberapa serat kolagen dan kapiler besar yang
matur (Gambar. 25). Secara statistik, tahap ini ditandai dengan perbedaan berikut
(Tabel 2 dan 3). Derajat inflamasi mirip seperti pada hari ke-4 untuk kedua
kelompok. Derajat proliferasi jaringan fibrosis meningkat secara identik pada
kedua kelompok. Rata-rata ketebalan epidermis terukur lebih tinggi pada
kelompok percobaan dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Gambar 2. Pemeriksaan histologi dari kerusakan jaringan kulit menunjukkan krusta


fibrin leukosit (panah hitam), hiperplasia epidermal (panah biru) dan fibroplasia
subepitelial (panah putih) pada kulit kelinci di kelompok kontrol setelah 6 hari.
Pewarnaan yang digunakan H & E, dan lapang pandang = 200 micrometer.

Gambar 3. Pemeriksaan histologi dari kerusakan jaringan kulit menunjukkan


hiperplasia epidermal (panah hitam) dan fibroplasia subepitelial (panah biru) pada kulit
kelinci di kelompok kontrol setelah 6 hari. Pewarnaan yang digunakan M & T, dan
lapang pandang = 100 micrometer.

Gambar 4. Pemeriksaan histologi dari kerusakan jaringan kulit menunjukkan krusta


fibrin leukosit (panah hitam) dan fibroplasia di lapisan dalam (panah biru) pada kulit
kelinci di kelompok percobaan setelah 6 hari. Pewarnaan yang digunakan H & E, dan
lapang pandang = 200 micrometer.

10

Gambar 5. Pemeriksaan histologi dari kerusakan jaringan kulit menunjukkan


hiperplasia epidermal (panah hitam) dan fibroplasia subepitelial (panah biru) pada kulit
kelinci di kelompok percobaan setelah 6 hari. Pewarnaan yang digunakan M & T, dan
lapang pandang = 100 micrometer.

4.

Diskusi
Proses penyembuhan luka mengacu pada kemampuan tubuh untuk

merperbaiki jaringan lunak dan dikarakterisasi oleh proses regenerasi dan


perbaikan jaringan.11 Proses luka penyembuhan terdiri dari empat tahap yang
berbeda: hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling jaringan.12
Tahap hemostasis merupakan reaksi lokal pertama dari jaringan dalam
waktu yang relatif singkat (6-8 jam). Faktor agregasi dan permukaan jaringan
yang terlibat memiliki dampak yang besar pada proses ini. Dalam kondisi normal,
ada proses vasodilatasi awal yang diikuti oleh vasokonstriksi persisten selama
durasi reaksi inflamasi.
Dalam penelitian ini, kerusakan jaringan lunak (kulit dan otot)
menghasilkan perdarahan lokal kecil, yang mengharuskan untuk menempatkan
tampon yang lembut pada luka terbuka tersebut. Selama percobaan dan setelah
stimulasi EA, secara klinis, tidak ada perbedaan yang tercatat dalam hal
perdarahan lokal yang berlebihan antara kedua kelompok. Stimulasi EA pada
11

kerusakan jaringan menginisiasi vasokonstriksi (3 menit), yang diikuti dengan


vasodilatasi lokal.13 Respon vasodilatasi pada akupunktur dsebagian disebabkan
oleh sistem saraf simpatik.14 Dapat ditarik kesimpulan bahwa stimulasi EA yang
dilakukan segera pada kerusakan jaringan tidak mempengaruhi perdarahan pada
luka, meskipun EA berfungsi untuk meningkatkan vasodilatasi lokal. Dalam
akupunktur, penghancuran mastosit diduga mengakibatkan pelepasan sejumlah
histamin, yang juga berperan penting dalam vasodilatasi. Vasodilatasi kapiler
lokal memperpanjang masa perdarahan, dan membantu proses infiltrasi darah
antara lapisan jaringan interstitial. Perdarahan lokal antar jaringan yang patologis
dikonfirmasi oleh adanya lapisan tipis infiltrat hemoragik, dengan perlekatan
antara jaringan subkutan dan otot-otot di daerah yang dirangsang EA (Tabel 4).
Reaksi vasoaktif lokal memperpanjang terbatasnya perdarahan secara sementara,
yang merupakan tahap penting untuk suatu kontra-reaksi yang diperlihatkan oleh
penyerapan cairan biologis (plasma, antar, dan intraseluler komponen) secara
hebat. Reabsopsi darah secara lokal membangun sebuah matriks jaringan penting
antara lapisan (kulit dan otot), tetapi bangunan matriks tersebut tidak terbentuk
kecuali pada penilaian tahap ketiga (hari ke-6) pada kelompok kontrol (Tabel 4).
Kesimpulannya, inisiasi vasodilatasi dan keberadaan microhemorrhages lokal
yang terbatas ini merupakan tahap penting dalam pembentukan matriks baru yang
nantinya mempengaruhi perlekatan antara kulit dan otot, dan memainkan peran
mekanis penting dalam menstabilkan lapisan tiap jaringan dan mengurangi
mobilitasnya.
Pada stimulasi lokal dry needling, penyisipan jarum akupunktur di sekitar
luka disebut fencing the dragon atau surrounding the dragon yang merupakan
metode pengobatan tradisional cina. Dengan menggunakan stimulasi EA lokal,
jumlah jarum akupunktur dapat dibatasi yaitu hanya dua jarum dengan stimulus
menggunakan intensitas dan frekuensi yang lebih tinggi. Stimulasi jarak jauh
menggunakan titik akupuntur jauh yang umum dan terutama diterapkan untuk
kondisi dermatologi berdasarkan imunomodulator, anti-inflamasi, dan efek
analgesik. Dengan menggunakan stimulasi EA tertentu dalam penelitian ini,

12

peneliti bertujuan untuk mengkonsentrasikan muatan listrik pada jaringan dengan


area yang kecil, sehingga sebanyak mungkin melewati jaringan yang mengalami
kerusakan dan membuat gerakan elektron dari kedua arah antara jarum menjadi
sama. Jika stimulasi EA perifer tunggal dirancang untuk penelitian ini, maka akan
mempengaruhi migrasi elektron jarak jauh dan untuk area yang luas, menstimulasi
semua kelompok otot dan lapisan kulit di daerah itu, dan memungkinkan untuk
memperkirakan besarnya stimulus yang harus diterapkan untuk setiap kerusakan
jaringan. Hasilnya, pilihan terbaik untuk mengukur efek stimulasi EA lokal adalah
dengan menusukkan jarum dekat dengan kerusakan jaringan, pada jarak yang
sama dari kerusakan jaringan untuk kedua jarum. Sebuah frekuensi tinggi (80 Hz)
digunakan dalam penelitian ini untuk menginduksi sedasi lokal, 15 yang digunakan
untuk pengobatan nyeri pada hewan atau untuk analgesia bedah. 16 Dengan
menyesuaikan frekuensi f1 dan f2 (f1<f2), peneliti memperoleh komposisi
gelombang frekuensi f1 dan f2 yang memiliki karakteristik gelombang densdisperse. Dalam gelombang dens-disperse, stimulus yang dikirimkan membuat
jaringan dapat beradaptasi secara bertahap dengan impuls yang berulang dan
diikuti oleh penurunan jumlah impuls, yang mengalirkan stimulasi terus menerus
yang konstan, dengan tidak ada menimbulkan dampak yang merugikan pada sel.

Tabel 4. Aspek morphopathologik dari kerusakan jaringan lunak dan sampel biopsi yang
dikumpulkan selama penelitian

13

Fase inflamasi adalah fase penting dalam proses perbaikan dan terjadi
dengan cepat (dalam beberapa jam) dengan reaksi maksimal di hari 2-3 (Gbr. 6).
Proses inflamasi melibatkan dua proses penting yang ditandai oleh pembuluh
darah dan kaskade sel. Mediator yang dikeluarkan adalah mastosit, trombosit, dan
basophil yang merupakan inti dari respon pembuluh darah. Fibrin dan fibronektin
membentuk substrat untuk memfasilitasi akses berbagai sel. Dasar dari efek
vasodilatasi yang diinduksi oleh akupunktur digambarkan oleh serangkaian
mediator yaitu antihistamin, leukotrien, prostaglandin, bradikinin, kinin protease,
asetilkolin, peningkatan sel imun, dan fase stimulasi vasoaktif.17 Dalam penelitian
ini, vasodilatasi yang diinduksi oleh EA membuat permeabilitas lokal untuk
sirkulasi sistem limfatik dan sekitar jaringan menjadi lebih mudah. Proses
humoral yang ditandai oleh daya tarik dari fagosit dan dengan mekanisme
rangsangan itu sendiri meningkatkan pengangkatan sel mati dari luka. Leukosit
berperan dalam mekanisme fagositosis partikel asing (sel-sel mati, bakteri)
sedangkan monosit berubah menjadi makrofag.18 Makrofag dilepas sebagai akibat
dari pendarahan lokal dan kerusakan jaringan. Makrofag menghasilkan mediator
yang mempunyai efek stimulatif pada fase proliferatif.11 Sel darah putih dan
sejumlah kecil sel darah merah meninggalkan pembuluh darah dalam proses
pasif.19
Mekanisme aktivasi vasodilatasi lokal menentukan penurunan fase
inflamasi ketika EA diterapkan. Kadar kortisol dalam sirkulasi sistemik sebagai
respon dari hipotalamus-hipofisis-adrenal axis19 menentukan penurunan pada fase
inflamasi. Meskipun penggunaan halotan sebagai anestesi umum dapat
meningkatkan hormon adrenokortikotropik, aspartat aminotransferase, alanine
transaminase, nitrogen urea darah, kortisol, glukosa, dan kreatinin, 20 paparan gas
anestesi ini hanya untuk waktu yang singkat di bagian yang sama untuk kedua
kelompok (kontrol dan percobaan). Kesimpulannya, penurunan fase inflamasi
diinisiasi dalam tahap awal fase proliferasi.
Fase proliferasi melibatkan produksi jaringan (bahan kolagen). Hal ini
dimulai setelah 24 jam atau 48 jam, dengan puncaknya pada minggu 2-3, dan

14

dapat berlangsung selama beberapa bulan. Fibroblas dan sel endotel bermigrasi
dari jaringan sehat ke tempat luka. Proliferasi fibroblas dan aktivitasnya yang
intens

memfasilitasi

interposisi

dari

serat

kolagen

dan

angiogenesis. 21

Myofibroblasts menginisiasi kontraksi dini dari luka. Analisis histologis dari


fibroblas tidak menunjukkan adanya perbedaan antara dua kelompok. Penilaian
dari tingkat proliferasi fibrosa menunjukkan aktivitas yang rendah pada tahap
pertama (hari ke-2), periode ini didominasi oleh reaksi inflamasi yang mendahului
fase proliferasi.

Gambar 6. Grafik menunjukkan perubahan dari inflamasi, proliferasi fibrous, dan


ketebalan epidermal di tiga tahap (hari ke-2, ke-4, dan ke-6) pada kelompok kontol (C)
dan kelompok percobaan (T)

Pada tahap kedua (hari ke-4), aktivitas proliferasi ringan terlihat dalam
kelompok percobaan dengan perbedaan dengan kecenderungan yang berbeda
antara kelompok (Gambar. 2). Dalam tahap percobaan terakhir (hari ke-6),
proliferasi meningkat pada kedua kelompok dengan kecenderungan yang sama.
Pada lapisan otot yang mengalami kerusakan, focal mineralisasi, infiltrasi
makrofag terjadi di sekitar daerah jaringan nekrotik, dan teridentifikasi
penggantian sel-sel otot dengan sel granulasi secara mikroskopis. Dikedua
kelompok, terlihat mineralsisai basophilia granular distrofi di otot. Fenomena ini

15

terjadi sebagai efek sekunder dari nekrosis sel. Mineralisasi fokal digambarkan
dengan melihat reaksi granulomatosa baru dari benda asing endogen (garam
mineral) dengan infiltrasi makrofag moderat. Proses elektrolisis biasa ditemui
dalam jaringan yang electricallystimulated dalam satu arah untuk waktu yang
lama. Ketika EA bipolar diterapkan pada kerusakan jaringan, proses elektrolisis
yang diekspresikan oleh jaringan lokal yang nekrosis tidak diamati oleh peneliti.
Tahap perubahan histologis pada kerusakan jaringan dikaitkan dengan
peningkatan jumlah jaringan ikat fibrosa dan dengan berkurangnya peradangan
neutrofil, eosinofil, dan sel darah mononuklear. Kurangnya perlekatan antara
lapisan jaringan menjelaskan karena terlepasnya kulit dari otot di sampel biopsi
pada kelompok kontrol. Karena meningkatnya mobilitas kulit dari daerah anatomi
dalam penelitian ini, proses pemulihan menjadi tertunda pada kelompok kontrol,
yang menunjukkan kurangnya pelekatan; namun, proses terlihat pada tahap awal
(hari ke-2) pada kelompok percobaan, yang telah menjalani stimulasi dengan
menggunakan EA (Tabel 4). Pada kelompok percobaan, stres mekanik berkurang
di jaringan daerah anatomi yang terlibat dalam penelitian ini, yang telah menjalani
stimulasi dengan menggunakan EA bipolar. Penelitian ini tidak mencakup analisis
tahap remodelling, yang biasanya dimulai pada minggu 2-3.
Berikut dapat disimpulkan: (1) EA bipolar mengurangi derajat inflamasi
dari tahap inflamasi; (2) derajat proliferatif fibrosa ditingkatkan oleh penggunaan
EA bipolar pada hari ke-4; (3) perubahan dinamika epidermal dalam kelompok
percobaan menunjukkan bahwa ketebalan terjadi di semua tahapan (hari ke-2, hari
ke-4, dan hari ke-6), yang meningkat dengan menggunakan EA bipolar; (4) EA
bipolar memfasilitasi stres mekanik rendah pada jaringan dan memiliki efek
positif pada penyembuhan kerusakan otot; (5) EA bipolar tidak memiliki efek
samping di proses penyembuhan jaringan lunak; dan (6) EA bipolar meningkatkan
penyembuhan luka.

16

Konflik Kepentingan
Peneliti mengatakan tidak ada kepentingan pribadi dan kepentingan
finansial yang berhubungan dengan penelitian ini.

Ucapan Terima Kasih


Penelitian ini tidak didukung secara finansial.

17

Referensi

1. Allen MS. Veterinary acupuncture. New York: Mosby; 1994.


2. Gabriel S, Brian B, Bruce P. Basics of acupuncture. 5th ed.Wurzburg:
Springer; 2003.
3. Bayat M, Asgari-Moghadam Z, Maroufi M, Rezaie FS, Bayat M, Rakhshan M.
Experimental wound healing using microamperage electrical stimulation in
rabbits. J Rehabil Res Dev. 2006;43 219e226.
4. Forest L. Current concepts in soft connective tissue woundhealing. Br J
Surgery. 1983;70:133e140.
5. Reger SI, Hyodo A, Negami S, Kambic HE, Saghal V. Experimentalwound
healing with electrical stimulation. ArtificialOrgans. 1999;23:460e462.
6. Steckel RR, Page EH, Geddes LA, Van VJF. Electrical stimulationon skin
wound healing in the horse: preliminary studies.Am J Vet Res. 1984;45:800e803.
7. Saarto EE, Hielm-Bjorkman AK, Hette K, Kuusela EK, Brandao CV, Luna
SP. Effect of a single acupuncture treatment on surgical wound healing in dogs: a
randomized, single blinded, controlled pilot study. Acta Vet Scand. 2010;10:52e57
[Article in Chinese].
8. Ayne MH, Julia MM, Franklin AS, Caterina M, Silvia RGC. Evaluationof
electroacupuncture in bone healing of radius-ulnafractures in dogs. Braz J Vet Res
Anim Sci. 2008;45:339e347.
9. Li QW, Yisidatoulawo, Guo Y, Masidabenhaqi, Ma DM, Li GL,et al. The effect
of different frequency electroacupuncture onmorphological analysis of nerve
tissues and gastrocnemiusafter rats sciatic nerve transection. J Tianjin Instit Phys
Educ.2012;7:7 [Article in Chinese].
10. Hackam DJ, Ford HR. Cellular, biochemical, and clinical aspectsof wound
healing. Surg Infect (Larchmt). 2002;3:23e35.
11. Thomas L. Acupuncture mechanism in tissue healing: contributionof NO and
CGRP. Acupunct Med. 2013;0:1e2.
12. Gosain A, DiPietro
Surg.2004;28:321e326.

LA.

Aging

and

wound

healing.

World

18

13. Omura Y. Patho-physiology of acupuncture treatment. Effectsof acupuncture


on cardiovascular and nervous systems. AcupElectrotherap Res. 1975;1:51e140.
14. Zhen C, Yan J. Effects of acupoint-nerve block on mast cell activity, manual
acupuncture- and electroacupunctureinduced analgesia in adjuvant arthritis rats.
Zhen Ci Yan Jiu. 2009;34:31e56 [Article in Chinese].
15. Chan P. Electro-acupuncture: its clinical application in therapy.Los Angeles:
Chans Books; 1974.
16. Valentin P. Electroacupuncture analgesia in a rabbit ovariohysterectomy.J
Acupunct Merid Stud. 2013;7:15e24.
17. Barker AT, Jaffe LF, Vanable Jr JW. The glabrous epidermis ofcavies contains
a powerful battery. Am J Physiol. 1982;242:358e366.
18. Ying D, Qing Y, Jing WR, Yan QZ, Wen JLi, Yu JZ, et al.Electro-acupuncture
promotes survival, differentiation of thebone marrow mesenchymal stem cells as
well as functionalrecovery in the spinal cord-transected rats BMC.
Neuroscience.2009;10:35.
19. Bossut DF, Leshin LS, Stromberg MVV, Malven PV. Plasmacortisol and betaendorphin in horses subjected to electroacupuncturefor cutaneous analgesia.
Peptides. 1983;4:501e507.
20. Gil AG, Silvan G, Illera JC. Pituitary-adrenocortical axis, serumserotonin and
biochemical response after halothane or isofluraneanaesthesia in rabbits. Lab
Anim. 2007;41:411e419.
21. Yan Q, Ruan JW, Ding Y, Li WJ, Li Y, Zeng YS. Electroacupuncturepromotes
differentiation of mesenchymal stemcells, regeneration of nerve fibers and partial
functional recoveryafter spinal cord injury. Exp Toxicol Pathol. 2011;63:151e156.

19