Anda di halaman 1dari 8

PERCOBAAN II

UJI STATISTIK RADIASI LATAR BELAKANG (NATAR)


Oleh
Irnawati Widya Hastuti
NIM 13306141023
ABSTRAK
Percobaan pencacahan latar belakang radiasi ini dilakukan dengan menggunakan
detektor Geiger-Muller dan bertujuan untuk mengetahui berapa kali cacah natar terjadi ketika
jumlah cacah dalam 10 detik diukur 100 kali. Percobaan ini menggunakan udara sebagai bahan
percobaan dimana kita tahu bahwa udara terdiri dari berbagai macam gas yang tersusun dari
proton elektron neutron yang dapat memancarakan radiasi. Percobaan ini dilakukan dengan
mencatat data setiap 10 detik, dimana dilakukan sebanyak 100 kali pencacahan. Masing-masing
tiap 10 cacah dibuat grafik data tersebut yang kemudian dianalisis termasuk kedalam distribusi
Gauss atau Poisson. Hasil menunjukkan bahwa seluruh grafik mengikuti kurva distribusi Gauss.
Kata kunci : Radiasi, Detektor Geiger-Muller, Distribusi Gauss, Distribusi Poisson

A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
B.

Pengukuran intensitas radiasi

dadu di atas mengikuti distribusi binomial.


Bila distribusi binomial tersebut mempunyai
probabilitas sangat kecil maka akan berubah

yang dilakukan secara berulang pasti akan

menjadi distribusi Poisson.

memperoleh hasil pengukuran yang berbeda-

aktivitas zat radioaktif bersifat acak maka

beda. Sehingga dalam pengukuran intensitas

intensitas radiasi yang terukurpun akan

radiasi harus dilakukan secara berulang, baik

bersifat

beberapa kali atau dalam selang waktu cukup

pengukurannya

panjang, yang berarti akumulasi nilai dari

distribusi Gauss atau poisson.

pengulangan waktu beberapa detik. Nilai


ukur sebenarnya diduga

berada di dalam

acak

sehingga
juga

akan

Oleh karena

data

hasil

mengikuti

2. TINJAUAN PUSTAKA
D. Distribusi Gauss (Normal)
E.

Sifat acak suatu pengukuran

rentang nilai rata-rata nilai simpangannya.


C.
Sifat acak suatu pengukuran

selalu mengikuti suatu distribusi tertentu,

selalu

mengikuti suatu distribusi tertentu,

sebagai contoh eksperimen uang logam dan

sebagai contoh eksperimen uang logam dan

dadu di atas mengikuti distribusi binomial.

Bila distribusi binomial tersebut mempunyai

besaran yang mengikuti distribusi Gauss.

probabilitas sangat kecil maka akan berubah

Terlihat

menjadi distribusi Poisson, sedangkan bila

dihasilkannya dapat bermacam-macam,

distribusi Poisson tersebut menghasilkan

dengan

nilai ukur yang besar (beberapa literatur


menuliskan > 40) maka berubah menjadi
distribusi

Gauss

(Normal).

Tiga

bahwa

nilai

probabilitas

ukur

terbesar

yang
adalah

terletak pada nilai rata-ratanya.


I.

jenis

distribusi tersebut memang tidak dibahas


pada tulisan ini, bagi yang berminat untuk
mempelajari lebih lanjut silahkan membaca
literatur statistik.
F.
Zat

radioaktif

mempunyai

konstanta peluruhan ( ) yang sangat kecil,


misalnya U-238 adalah 4.88 10-18 dan
aktivitas sumber biasanya bernilai sangat
besar dalam orde Bq (peluruhan per detik),
misalnya aktivitas 1 Ci setara dengan 3.7
104 peluruhan per detik. Oleh karena itu

Gambar 2: intensitas radiasi yang

pancaran radiasi mengikuti distribusi Gauss

dipancarkan suatu sumber radiasi


J.
Oleh karena aktivitas zat

(Normal).
G.

radioaktif bersifat acak mengikuti distribusi


Gauss (Normal) maka intensitas radiasi
yang terukurpun akan bersifat acak sehingga
data

hasil

pengukurannya

juga

akan

mengikuti distribusi Gauss. Pengukuran


intensitas radiasi yang dilakukan secara
berulang pasti akan memperoleh hasil
pengukuran

yang

berbeda-beda.

Yang

menjadi pertanyaan adalah berapakah nilai


H. Gambar di atas menunjukkan probabilitas
nilai ukur yang mungkin dihasilkan oleh

ukur yang sebenarnya.


K.
Dengan fenomena tersebut di

pengukuran

atas maka pengukuran intensitas radiasi

berulang

terhadap

suatu

harus dilakukan secara berulang, baik

beberapa kali atau dalam selang waktu

Q.

cukup panjang, yang berarti akumulasi nilai


dari pengulangan waktu beberapa detik.
Nilai ukur sebenarnya diduga
dalam

rentang

nilai

berada di

rata-rata

simpangannya.
L.
Sebagaimana

nilai

perhitungan

matematika biasa, nilai rata-rata dapat


dihitung dengan persamaan berikut

M.
Sedangkan nilai simpangan ( )
dari pengukuran tunggal suatu
besaran yang mengikuti distribusi
Gauss adalah akar dari nilai
ukurnya.

R.
1. Set alat percobaan seperti terlihat
pada Gb.1 dan Gb.2.
2. Geser tutup pelindung

counter

berjendela -tipis dengan hati-hati dan


N.

O. METODE PENELITIAN
1. ALAT
- 1 unit counter seperti GeigerMuller counter S
- Pengeras suara
- Counter berjendela-tipis
- Penjepit tabung counter
- Panel percobaan RAD
- Pencatat waktu
P.
2. LANGKAH PERCOBAAN

jangan menyentuh bagian

jendela

tipisnya karena mudah pecah.


3. Penggunaan counter:
Pertama-tama hentikan counter
dengan menekan tombol STOP
lalu RESET sehingga tertulis
angka 0 pada layar display.
Pengukuran: tekan tombol
START pada counter dan
pencatat waktu secara
bersamaan.
Untuk mengakhiri

pengukuran

tekan tombol STOP pada counter.


S.

T. DATA PERCOBAN
U. No
W. 1
Y. 2
AA.
AC.
AE.
AG.
AI.7
AK.
AM.
AO.
AQ.
AS.
AU.
AW.
AY.
BA.
BC.
BE.
BG.
BI. 20
BK.
BM.
BO.
BQ.
BS.
BU.
BW.
BY.
CA.
CC.
CE.
CG.
CI. 33
CK.
CM.
CO.
CQ.
CS.
CU.
CW.
CY.
DA.

3
4
5
6
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
34
35
36
37
38
39
40
41
42

V. N0/10s
X. 5
Z. 7
AB.
4
AD.
4
AF.
3
AH.
7
AJ.
2
AL.
1
AN.
3
AP.
5
AR.
3
AT.
5
AV.
5
AX.
4
AZ.
3
BB.
4
BD.
2
BF.
5
BH.
2
BJ.0
BL.
7
BN.
3
BP.
6
BR.
1
BT.
5
BV.
4
BX.
4
BZ.
3
CB.
1
CD.
2
CF.
5
CH.
7
CJ.7
CL.
4
CN.
3
CP.
4
CR.
4
CT.
4
CV.
3
CX.
8
CZ.
4
DB.
6

DC.
DE.
DG.
DI.46
DK.
DM.
DO.
DQ.
DS.
DU.
DW.
DY.
EA.
EC.
EE.
EG.
EI. 59
EK.
EM.
EO.
EQ.
ES.
EU.
EW.
EY.
FA.
FC.
FE.
FG.
FI. 72
FK.
FM.
FO.
FQ.
FS.
FU.
FW.
FY.
GA.
GC.
GE.
GG.
GI.85
GK.
GM.

43
44
45
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
86
87

DD.
DF.
DH.
DJ.
DL.
DN.
DP.
DR.
DT.
DV.
DX.
DZ.
EB.
ED.
EF.4
EH.
EJ. 1
EL.
EN.
EP.1
ER.
ET.
EV.
EX.
EZ.
FB.
FD.
FF.3
FH.
FJ. 1
FL.
FN.
FP.5
FR.
FT.2
FV.
FX.
FZ.
GB.
GD.
GF.
GH.
GJ.
GL.
GN.

5
2
6
5
3
1
7
1
5
4
6
6
5
6
3
4
7
7
6
5
2
3
3
3
5
7
8
1
0
4
2
2
4
1
1
4
2
2

GO.
GQ.
GS.
GU.
GW.
GY.
HA.
HC.
HE.
HG.
HI.98
HK.
HM.

88
89
90
91
92
93
94
95
96
97

GP.
GR.
GT.
GV.
GX.
GZ.
HB.
HD.
HF.
HH.
HJ.
HL.
HN.

99
100

dihasilkan

2
3
4
2
7
7
4
4
4
6
0
4
1

HS.

geiger

cacah dalam 10 detik sebanyak 100


kali. Pada percobaan ini digunakan
alat dan bahan yaitu seperangkat
muller

yang

berfungsi untuk menangkap radiasi


cacah latar atau udara bebas. Dalam
percobaan ini detector Geiger muller
hanya dapat menangkap sinar alfa
dan sinar beta. Dalam percobaan ini
stopwatch

yang

berfungsi untuk menghitung waktu


pancaran radiasi serta digunakan
yang

yang

kemudian

dan hasilnya akan dapat terlihat pada

cacah natar terjadi ketika jumlah

counter

muller

diproses dalam rangkaian counter

yaitu untuk mengetahui berapa kali

pula

dari

latar )akan diterima oleh detektor

latar belakang ini mempunyai tujuan

digunakan

kerja

luar atau lingkungan terbuka ( cacah

Pada percobaan yang

Geiger

Prinsip

alpha dan beta ( dan ) pada udara

berjudul statistika pencacahan radiasi

detector

Geiger

percobaan ini adalah dimana radiasi

HP.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
HR.

detector

muller.

HO.
HQ.

oleh

berfungsi

untuk

menampilkan jumlah cacahan yang

display di counter.
HT. Detektor
bekerja

dengan

cara

radiasi
mengukur

perubahan yang terjadi di dalam


medium karena adanya penyerapan
energi radiasi oleh medium tersebut.
Sebenarnya
mekanisme

terdapat
atau

interaksi

banyak
yang

terjadi di dalam detektor tetapi yang


sering

dimanfaatkan

untuk

mendeteksi atau mengukur radiasi


adalah proses ionisasi dan proses
sintilasi.

Proses

Ionisasi

adalah

peristiwa terlepasnya elektron dari


ikatannya di dalam atom. Peristiwa
ini dapat terjadi secara langsung oleh
radiasi alpha atau beta dan secara
tidak langsung oleh radiasi sinar-X,
gamma dan neutron. Jadi dalam
proses ionisasi ini, energi radiasi
diubah menjadi pelepasan sejumlah
elektron (energi listrik). Bila diberi

medan listrik maka elektron yang

detector setiap selang waktu 10

dihasilkan dalam peristiwa ionisasi

sekon hingga waktu mencapai 1000

tersebut akan bergerak menujuk ke

sekon.

kutub positif. Proses sintilasi adalah

HV.
Dari data tersebut selanjutnya
dihutung dan ditulidkan dalam tabel
berikut.

terpencarnya sinar tampak ketika


terjadi transisi elektron dari tingkat
energi (orbit) yang lebih tinggi ke
tingkat energi yang lebih rendah di
dalam bahan penyerap. Dalam proses
ini, sebenarnya, yang dipancarkan
adalah radiasi sinar-X tetapi karena
bahan

penyerapnya

(detektor)

dicampuri dengan unsur aktivator,


yang berfungsi sebagai penggeser
panjang gelombang, maka radiasi

HW. N0/10s
HX. Frekuensi
HY. 0
HZ. 3
IA.
1
IB.
12
IC.
2
ID.
13
IE.
3
IF.15
IG.
4
IH.
22
II. 5
IJ. 14
IK.
6
IL.
8
IM.
7
IN.
11
IO.
8
IP.2
IQ.
Dan dianalisis menggunakan
grafik dengan plot Gaussian.
IR.

yang dipancarkannya berupa sinar

B
Gauss fit of Data1_B

25

tampak.
HU.

Data: Data1_B
Model: Gauss

Pada percobaan ini

20

Chi^2/DoF
= 13.30933
R^2 = 0.78173

radiasi yang ditangkap oleh detector

y0
xc
w
A

15
frekuensi

akan dibaca dan ditampilkan oleh


counter sehingga dapat diketahui

-4.65543
23.47924
3.74398
0.32577
5.6935 4.81156
160.04283
292.57084

10

berapa banyak jumlah cacahan yang


diperoleh.

Dalam

pencacahan

percobaan

radiasi

ini

dengan

0
0

menggunakan system integral yaitu

No/10 s

mengukur kuantitas atau jumlah


radiasi
Jumlah

yang

mengenai

cacahan

ini

detector.

IS. Chi^2/DoF 13,30933

dihitung

IT. R^2 0,78173

sebanyak 100 data. Pencacahan ini

IU.

dlakukan

IV. Area Center Width Offset Height

dengan

cara

mencacat

jumlah radiasi yang diterima oleh

IW. --------------------------------------------------------------------------

IX. 160,04

3,7440 5,6935 -4,6554 22,428

3. Nilai dari rata-rata untuk semua

IY.
IZ.

cacah natar adalah 3,84.


4. Gambar grafik cacah latar

Dari

data

tersebut

kemudian dibuat grafik hubungan

JC.

antara data ke N (sumbu x) dan


frekuensi cacahan (f)(sumbu y).
Grafik

ini

mengetahui

bertujuan
bagaimana

untuk
system

distribusi yang diikuti oleh data


tersebut. Sifat acak suatu pengukuran

B
Gauss fit of Data1_B

25

selalu mengikuti suatu distribusi

Data: Data1_B
Model: Gauss

20

tertentu. Bila distribusi binomial


mempunyai probabilitas sangat kecil
akan

berubah

menjadi

y0
xc
w
A

15
frekuensi

maka

Chi^2/DoF
= 13.30933
R^2 = 0.78173
-4.65543
23.47924
3.74398
0.32577
5.6935 4.81156
160.04283
292.57084

10

distribusi Poisson, sedangkan bila


distribusi

Poisson

tersebut

menghasilkan nilai ukur yang besar

0
0

(beberapa literatur menuliskan > 40)


maka berubah menjadi distribusi
Gauss (Normal).
JA.
Dari

grafik

terbentuk

menyerupai

grafik

distribusi gaussian. Hal ini mungkin


terjadi karena kondisi udara bebas
yang ada di tempat pengambilan data
banyak gangguan, semisal angin.
JB.EVALUASI
1. Range cacah latar per 10 detik antara
0 sampai 8.
2. Cacah natar yang sering muncul
adalah 4.

5. Harga

rata-rata

sebesar

3,82

dibukatkan menjadi 4 maka hargana

diatas

menunjukkan bahwa grafik yang

No/10 s

sama dengan harga yang sering


muncul.
JD.
JE. KESIMPULAN
JF.
Cacah natar

yang terjadi

ketika jumlah cacah dalam 10 detik


adalah
JG.
JI. 0
JK.
JM.
JO.
JQ.
JS.

N0/10s
1
2
3
4
5

JH.
JJ. 3
JL.
JN.
JP.15
JR.
JT.

Frekuensi
12
13
22
14

JU.
6
JV.
8
JW. 7
JX.
11
JY.
8
JZ.
2
KA.
KB.
DAFTAR PUSTAKA
KC. Munir, Rinaldi. 2010. Beberapa

KF. Serway R.A., Jawett J.W., 2010.


PHYSICS

For

Scientists

and

Engineers With Modern Physics


Book 3. Salemba teknika. Jakarta.

Distribusi Peluang Kontinu Bahan

581-584.
KG. The American Nuclear Society

Kuliah II2092 Probabilitas dan

Chapter. Geiger-Muller Detector:

Statistik. Sekolah Teknik Elektro

Operational

dan Informatika ITB. Bandung.


KD.Purwanto
A.,
2007.
FISIKA
STATISTIK.

Gava

Yogyakarta.
KE.Santoso, Agus

dan

Media.
Surakhman.

Pengaruh Tekanan Isian terhadap


Operasi Detektor Geiger Muller.
Yogyakarta.

Directions

And

Experiments for Students.


Ohio State University. USA.
KH. Wardhana, Wisnu Arya. 2007.
Teknologi Nuklir Proteksi Radiasi dan
Aplikasinya. Yogyakarta: Andi Offset.
KI.

The