Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

KULTUR BIJI KACANG MERAH

Disusun oleh:
Wulan Novitasari

(13308141062)

Hana Widiyanti

(13308144006)

Irfan Hanis Prasetya

(13308144015)

Kelompok 3/Biologi E

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian
tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam
media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah
tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Pada umumnya, kacang merah ditanam pada musim kemarau, karena pada musim
penghujan tanaman akan londot. Hal ini di karenakan terlalu banyak air yang di serap.
Pada musim kemarau pun penyiraman tanaman juga harus diperhatikan, misalnya
penyiraman 2 hari sekali. Kacang merah memiliki kandungan gizi yang sangat baik, hal
ini sangat menguntungkan bagi kesehatan tubuh manusia apalagi jika diolah secara baik
dan benar. Kacang merah kering merupakan sumber protein nabati, karbohidrat
kompleks, serat, vitamin B, folasin, tiamin, kalsium, fosfor, dan zat besi. Folasin adalah
zat gizi esensial yang mampu mengurangi resiko kerusakan pada pembuluh darah.
Teknik kultur jaringan melalui biji atau embrio (seksual) dilakukan dengan alasan
biji tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan) atau biji berukuran sangat kecil.
Selain itu, teknik kultur jaringan juga bertujuan untuk mendapatkan keseragaman bibit
dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat. Dari kultur jaringan ini diharapkan
pula memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul (Widiastoety, 2003 dalam Tuhuteru,
2012). Namun dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik kultur biji kacang
merah pada medium yang mengandung unsur hara. Oleh karena itu, untuk
mengoptimalkan produksi dan kualitas kacang merah, serta untuk mempelajari teknik
kultur biji maka dilakukan percobaan teknik kultur biji kacang merah.
B. Tujuan
Mengetahui teknik kultur biji kacang merah pada medium yang mengandung unsur hara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian
tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam
media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah
tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah
perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan
media buatan yang dilakukan di tempat steril (Gunawan 1987).
Teknik kultur jaringan melalui biji atau embrio (seksual) dilakukan dengan alasan
biji tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan) atau biji berukuran sangat kecil.
Selain itu, teknik kultur jaringan juga bertujuan untuk mendapatkan keseragaman bibit
dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat. Dari kultur jaringan ini diharapkan
pula memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul (Widiastoety, 2003 dalam Tuhuteru,
2012).
Medium yang digunakan dalam kultur in vitro tanaman dapat berupa medium
padat atau cair. Untuk memudahkan pembuatan medium kultur sebagian besar komponen
disiapkan dalam bentuk larutan beku. Bahan seperti sukrosa, agar, dan beberapa
komponen tertentu tidak dibuat larutan baku, tetapi langsung ditambahkan ke dalam
campuran untuk pembuatan medium.

Medium padat umumnya digunakan untuk

menghasilkan kalus yang selanjutnya diinduksi membentuk tanamanyang lengkap


(planlet), sedangkan medium cair biasanya digunkan untuk kultur sel. Media tumbuh
dapat mengandung lima komponen utama yaitu senyawa anorganik (unsur makro dan
unsur mikro), zat pengatur tumbuh, sumber karbon, vitamin, dan suplemen organik.
Terdapat 13 komposisi media dalam kultur jaringan, antara lain: Murashige dan Skoog
(MS), Woody Plant Medium (WPM), Knop, Knudson-C, Anderson dan sebagainya.
Media yang sering digunakan secara luas adalah MS (Yuwono 2008).
Pada umumnya komposisi utama media tanam kultur jaringan, terdiri dari hormon
(zat pengatur tumbuh) dan sejumlah unsur yang biasanya terdapat di dalam tanah yang
3

dikelompokkan ke dalam unsur makro, unsur mikro. Hasil yang lebih baik akan dapat
kita peroleh bila, kedalam media tersebut, ditambahkan vitamin, asam amino, dan
hormon, bahan pemadat media (agar), glukosa dalam bentuk gula maupun sukrosa, air
destilata (akuades), dan bahan organik tambahan (Gunawan, 1992).Zat pengatur tumbuh
adalah persenyawaan organik selain dari nutrient yang dalam jumlah yang sedikit (1mM)
dapat merangsang, menghambat, atau mengubah pola pertumbuhan dan perkembangan
tanaman (Moore, 1979 dalam Gunawan, 1992).
Medium New Phalaenopsis (NP) adalah suatu formulasi medium yang
dikhususkan untuk kultur in vitro anggrek, terutama anggrek Phalaenopsis sp. (Tabel
1). Setiap tanaman membutuhkan paling sedikit 16 unsur untuk pertumbuhannya
yang normal. Tiga unsur diantaranya adalah C, H, O yang diambil dari udara, sedangkan
13 unsur yang lain berupa pupuk yang dapat diberikan melalui akar atau melalui
daun. Ada unsur yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar yang disebut unsur
makro, ada pula yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah sedikit tetapi harus
tersedia yang disebut unsur mikro (www.e-journal.uajy.ac.id).

Eksplan yang dikulturkan harus selalu bersinggungan atau terkena dengan


medianya. Bahan pemadat media yang paling banyak digunakan adalah agar-agar. Agaragar adalah campuran polisakarida yang diperoleh dari beberapa spesies algae. Dalam
analisa unsur, diperoleh data bahwa agar-agar mengandung sedikit unsur Ca, Mg, K, dan
Na (Debergh, 1982 dalam Gunawan, 1992).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Praktikum
Hari dan tanggal

: Rabu, 20 April 2016

Waktu

: 07:30 09 :00 WIB

Tempat

: Laboratorium Kultur Jaringan Biologi FMIPA UNY

B. Prosedur Kerja
Alat dan bahan :
a

Alat :
1
2
3
4
5

Petridish steril
Kantong plastik
Skalpel steril
Kareng gelang
Plastik wrap

6
7
8
9
10

Bahan :
1 Detergen
2 Bayclin 10% dan 15%
3 Media NP0
4 Biji kacang merah
5 Alkohol 70% dan 96%
6 Aquadest

Lampu bunsen
Sarung tangan karet
Pinset steril
Masker
Botol jam

Prosedur kerja:

Mencuci biji kacang merah pada air dan dicampur detergen sedikit, dengan cara
menggoyang botol erlenmesyer secara mendatar dan berputar selama kurang
lebih 2-3 menit

Biji kacang merah direndam dengan bayclin 15%, 10% secara bergantian
masing-masing 5 dan 10 menit. Setiap setelah perendaman biji dibilas dengan
aquadest steril.

Biji kacang merah yang telah steril dan dibilas aquadest siap untuk dikultur pada
media NP0

Alat dan bahan yang akan digunakan dimasukkan ke dalam LAF disterilisasi
terleih dahulu dengan cara membasahi bagian luarnya dengan kain yang telah
dibasahi dengan alkohol 70%

Sterilisasi sarung tangan yang akan dipakai dengan alkohol 70%

Mengeluarkan biji kacang merah dari dalam botol, kemudian meletakkan pada
petridish
Menanam biji pada media NP0 dalam botol kultur

Menutup botol kultur dengan plastik dan mengikatnya dengan karet

Memberi label dan plastik wrap pada botol kultur

Menyimpan botol kultur dalam ruang inkubasi

Semua langkah kerja dilakukan di LAF, dekat dengan lampu bunzen, serta
aseptik
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada praktikum kultur biji ini bertujuan untuk mengetahui teknik kultur biji
kacang merah pada medium yang mengandung unsur hara. Biji yang digunakan yaitu biji
kacang merah. Niji dicuci terlebih dahulu dengan detergen kemudian biji kacang merah
direndam dengan bayclin 15%, 10% secara bergantian masing-masing 5 dan 10 menit.
Setiap setelah perendaman biji dibilas dengan aquadest steril.
Biji yang telah direndam dan steril siap untuk dikultur. Teknik kultur biji
dilakukan secara aseptik, alat-alat yang akan digunakan untuk kultur disterilisasi terlebih
dahulu, yaitu dengan cara memasukkan kedalam alkohol 70% lalu dilalukan di atas nyala
api bunzen. Biji kacang merah dikultur pada media NP0. Setiap tanaman membutuhkan
paling sedikit 16 unsur untuk pertumbuhannya yang normal. Tiga unsur diantaranya
adalah C, H, O yang diambil dari udara, sedangkan 13 unsur yang lain berupa pupuk
yang dapat diberikan melalui akar atau melalui daun. Ada unsur yang dibutuhkan
tanaman dalam jumlah besar yang disebut unsur makro, ada pula yang dibutuhkan
oleh tanaman dalam jumlah sedikit tetapi harus tersedia yang disebut unsur mikro
(www.e-journal.uajy.ac.id).
Teknik kultur jaringan melalui biji atau embrio (seksual) dilakukan dengan alasan
biji tidak mempunyai endosperm (cadangan makanan) atau biji berukuran sangat kecil.
Selain itu, teknik kultur jaringan juga bertujuan untuk mendapatkan keseragaman bibit
dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat. Dari kultur jaringan ini diharapkan
pula memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul (Widiastoety, 2003 dalam Tuhuteru,
2012). Namun dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui teknik kultur biji kacang
merah pada medium yang mengandung unsur hara.
Proses perkecambahan pada kultur biji dimulai dari benih menyerap air melalui
testa, embrio mengalami imbibisi, membengkak, pembelahan sel dimulai, dan embrio
menembus kulit biji, protocorm terbentuk dari massa embrio, diferensiasi organ dimulai
dg pembentukan meristem tunas & rhizoid, jika ada cahaya, daun terbentuk, diikuti oleh
akar sejati. Rhizoid & protocorm tidak berfungsi lagi dan terdegenerasi (Slater et.al.,
2003).

Syarat utama dalam kegiatan kultur jaringan adalah kondisi yang aseptis atau
steril untuk semua komponen dalam kultur jaringan. Kegiatan kultur diawali dengan
sterilisasi alat dan bahan. Sterilisasi alat dan bahan adalah perlakuan untuk menjadikan
suatu alat atau bahan yang bebas dari mikroorganisme yang tidak diingikan seperti jamur
dan bakteri. Alat- alat yang digunakan yaitu botol kultur, cawan petri, erlenmeyer, batang
pengaduk, gelas piala, pipet serta peralatan glass ware lainnya harus bersih dan steril.
Sterilisasi alat yang dilakukan pada praktikum ini adalah menggunakan autoclave. Selain
alat, media kultur jaringan juga harus disterilisasi sehingga bebas dari kontaminan, dalam
praktikum ini, media kultur disterilisasi dengan autoclave.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, kultur biji 2 praktikan
kelompok 3 mengalami kontaminasi, sedangkan satu praktikan lainnya berhasil. Kultur
yang mengalami kontaminasi terlihat dari medium yang telah ditumbuhi oleh fungi dan
mikroorganisme. Menurut kami, beberapa hal yang menyebabkan kontaminasi pada
kultur biji ini, yaitu sterilisasi yang belum optimal, baik itu pada alat maupun dari
praktikun itu sendiri, sehingga masih terdapat mikroorganisme kontaminan yang dapat
tumbuh pada media dan kultur. Sedangkan hal yang menyebabkan kultur biji tidak
tumbuh, menurut kami disebabkan karena kualitas media yang belum memenenuhi
nutrisi yang dibutuhkan oleh biji dan faktor dari biji itu sendiri.
Salah satu pembatas dalam keberhasilan kultur jaringan adalah kontaminasi yang
dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur. Kontaminasi dapat berasal dari eksplan,
organisme kecil yang masuk ke dalam media, lingkungan kerja dan ruang kultur yang
kotor, kecerobohan dalam pelaksanaan serta botol kultur atau alat-alat tanam yang kurang
steril. Keanekaragaman sumber kontaminasi menyebabkan prosedur aseptik yang harus
diperhatikan meliputi: sterilisasi lingkungan kerja, sterilisasi bahan tanam dan sterilisasi
alat-alat dan media.
Menurut Moeso Suryowinoto (2000), berhasil tidaknya kultur jaringan sangat
bergantung pada keadaan aseptic atau sterilnya komponen-komponen kultur jaringan
yang meliputi eksplan (bagian tanaman yang akan dikultur), peralatan yang digunakan,
pekerja yang melakukan kultur maupun ruangan yang digunakan untuk kultur jaringan.
Sterilisasi peralatan yang terbuat dari gelas seperti erlenmeyer, test tube, petridish
disterilkan dengan autoclave. Sebelum digunakan peralatan dicuci dan disikat dengan

detergen kemudian dibilas air tawar, tunggu kering, setelah itu ditutup rapat dengan
alumunium foil dan plastik Setelah itu diatur rapi dalam autoclave, autoclave ditutup
rapat dan dioperasikan pada suhu 121C dengan tekanan 1 atm, selama 15 untuk
sterilisasi media dan 15-20 menit untuk sterilisasi alat, karena pada tekanan ini bakteri
dan jamur yang terdapat dalam peralatan akan mati.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teknik kultur biji yang dilakukan yaitu pada biji kacang merah untuk merangsang
perkecambahan pada proses selanjutnya. Biji yang telah direndam dan steril siap untuk
dikultur. Teknik kultur biji dilakukan secara aseptik, mulai dari sterilisasi biji kacang
merah pada berapa larutan, yaitu detergen, bayclin dan aquadest. Kultur biji kacang
merah pada media NP0 dengan menggunakan alat yang disterilisasi terlebih dahulu, yaitu
dengan cara memasukkan kedalam alkohol 70% lalu dilalukan di atas nyala api bunzen.
Kultur disimpan di tempat inkubasi untuk melihat proses perkecambahannya
B. Saran
1. Kultur biji dilakukan secara aseptik, sebaiknya sterilisasi alat, bahan, dan pakaian
praktikan harus diperhatikan lagi karena berpengaruh langsung terhadap proses
kultur, sehingga kontaminasi dari mikroorganisme dapat dihindari.
2. Media kultur harus sesuai dengan kultur eksplan, sehingga dalam proses kultur biji,
eksplan dapat tumbuh dengan baik karena kebutuhan nutrisi dan lingkungannya
sesuai.

DAFTAR PUSTAKA
http://e-journal.uajy.ac.id/4837/3/2BL01097.pdf Diakses pada 6 Juni 2016 pukul 08:12
WIB.
Gunawan LW. 1992. Teknik Kultur Jaringan. Bogor: Laboratorium Kultur Jaringan
Tanaman PAU Bioteknologi IPB.
Slater, A., N. Scott. & M. Fowler. 2003. Plant Biotechnology. Oxford university Press, inc,
New York.
Suryowinoto, Moeso. 2000. Pemuliaan Tanaman Secara In-Vitro. Kanisius, Yogyakarta.
Tuhuteru, dkk. 2012. Pertumbuhan dan perkembangan anggrek Dendrobium anosmum
Pada media kultur in vitro dengan beberapa Konsentrasi air kelapa. Maluku:
Universitas

Pattimura.

Diakses

dari

http//:www.ejournal.unpatti.ac.id/ppr_iteminfo_lnk.php?id=245 pada tanggal 6 Jinu


2016 pukul 06:42 WIB.
Yuwono, T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

LAMPIRAN

Gambar 1. Detergen, Bayclin dan Aquadest (untuk sterilisasi biji kacang merah)

Gambar 2. Kultur Biji kacang Merah

Gambar 3. Biji kacang merah mulai muncul


radikula

Gambar 4. Biji kacang merah mulai berkecambah

Gambar 5. Kultur biji kacang merah tidak


tumbuh