Anda di halaman 1dari 11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi dari masa ke masa semakin maju, kemajuan teknologi


sangat membantu manusia dan memberikan kemudahan dalam melakukan segala
sesuatunya. Berbagai bidang kehidupan manusia sangat bergantung pada
teknologi seperti transportasi, komunikasi, bangunan dan peralatan elektronik
rumah tangga. Suatu teknologi akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila
terbuat dari bahan atau material yang baik pula. Produk-produk elektronik, alat
transportasi dan bahan bangunan akan memiliki fungsi baik apabila bahan
penyusunnya merupakan bahan dengan sifat mekanik yang baik.
Salah satu sifat mekanik material adalah keuletannya, tingkat keuletan material
menentukan fungsinya ketika digunakan. Tingkat kegetasan material terpengaruh
oleh beberapa hal, seperti beban kejut, tekikan, suhu dan lain-lain. Untuk
mengetahui keuletan daripada suatu material perlu dilakukan suatu pengujian
bahan. Pengujian yang dilakukan untuk mengetahui keuletan material adalah
pengujian impak. Pengujian dilakukan pada beberapa sampel atau spesimen dari
suatu jenis material. Pengujian impak dapat dilakukan dengan dua metode yaitu
dengan metode charpy dan metode izzod. Metode charpy banyak dilakukan di
Amerika Serikat, sedangkan metode izzod banyak dilakukan di Eropa. Dengan
mengetahui sifat suatu material melalui pengujian, maka dapat meminimalisir
resiko kegagalan fungsi dari produk yang diciptakan dari material tersebut.
Keuletan material dapat diketahui apabila terjadi perpatahan. Ada dua golongan
patahan yaitu patah getas danpatah ulet. Maka daripada itu, praktikum pengujian
impak ini sangat diperlukan oleh mahasiswa agar mengetahui cara melakukan
pengujian keuletan material dan mengetahui cara melakukan perhitungan tingkat
keuletan material.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam percobaan uji impact adalah
1. Bagaimana menentukan energy yang dapat diserap logam terhadap
beban yang mendadak?
2. Bagaimana pengaruh temperature terhadap ketahanan impact?

1.3

Tujuan Percobaan

Adapun tujan dari percobaan ini adalah


1. Menentukan energy yang dapat diserap logam terhadap beban yang
mendadak
2. Pengaruh temperature terhadap ketahanan impact
1.4

Batasan Masalah

Dalam percobaan uji impak terdapat batasan masalah yaitu pengujian


menggunakan specimen ASTM A131. Metode pengujian dan specimen
berdasarkan standar JIS Z 2242 dengan tiga variable percobaan yaitu -20 , 0

1.5

dan 100

Sistematika Penulisan

Penulisan laporan ini dibagi menjadi lima bab. Bab I menjelaskan mengenai latar
belakang,rumusan masalah, tujuan percobaan, batasan masalah, sistematika
penulisan. Bab II menjelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berisi mengenai
teori singkat dari percobaan yang dilakukan, Bab III menjelaskan mengenai
metode penelitian, Bab IV menjelaskan mengenai data percobaan, dan Bab V
menjelaskan mengenai kesimpulan dari percobaan.

BAB 2
DASAR TEORI
2.1 Uji Impak
Pengujian Impak merupakan pengujian yang mengukur ketahanan baan terhadap
beban kejut. Inilah yang membedakan pengujian impak dengan pengujian tarik
dan kekerasan dimana pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan. Pengujian
impak merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material
yang sering ditemui dalam perlengkapan konstruksi dan treansportasi dimana
beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan dating secara tibatiba, contoh deformasi pada bumper mobil pada saat kecelakaan.
Dasar pengujian impak ini adalah penyerapan energi potensial dari pendulum
beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji
sehingga benda uji mengalami deformasi maksimum hingga mengakibatkan
perpatahan. Pada pengujian impak ini banyaknya energy yang diserap oleh bahan
untuk terjadinya perpatahan merupakan ukuran ketahanan impak atau
ketangguhan bahan tersebut. Suatu material dikatakan tangguh bila memiliki
kemampuan menyerap beban kejut yang besar tanpa mengalami retak atau
deformasi dengan mudah.

Gambar dibawah ini memberikan ilustrasi suatu

pengujian impak dengan metode charpy.

Gambar 2.1 Ilustrasi uji impak dengan metode charpy

Pada pengujian impak, energi yang diserap oleh benda uji biasanya dinyatakan
dalam satuan joule dan dibaca langsung pada skala (dial) petunjuk yang telah
dikalibrasi yang terdapat pada mesin penguji. Harga impak (HI) suatu bahan yang
diuji dengan metode Charpy diberikan oleh :

HI =
E/A
dimana E adalah energi yang diserap dalam satuan joule dan A luas penampang di
bawah takik dalam satuan mm2.

E = P (H0-H1)
dimana :
P = beban yang diberikan (Newton)
H0 = ketinggian awal bandul (mm)
H1 = ketinggian akhir setelah terjadi perpatahan benda uji (mm)
Benda uji impak dikelompokkan kedalam dua golongan sampel standar (ASTM
E-23) yaitu batang uji Charpy ( metode Charpy - USA) dan batang uji Izod
(metode Izod Inggris dan Eropa ).
1. Batang Uji Charpy
Sampel uji memiliki dimensi ukuran yaitu 10x10x55 mm (tinggi x lebar x
panjang). Dengan posisi takik (notch) berada di tengah, kedalaman takik 2 mm
dari permukaan benda uji, dan sudut takik 45 derajat. Bentuk takik berupa huruf
U, V , key hole (seperti lubang kecil). Benda diletakkan pada tumpuan dengan
posisi horizontal dan tidak dijepit. Hal ini meneybabbkan pengujian berlangsung
lebih cepat, sehingga memudahkan untuk melakukan pengujian pada temperatur

transisinya. Sedangkan ayunan bandul dari arah belakang takik dengan


pembebanan dilakukan dari arah punggung takik.

Gambar 2.2 Batang uji charpy


2. Batang Uji Izod
Sampel uji memiliki dimensi ukuran yaitu 10x10x75 (tinggi x lebar x panjang).
Dengan posisi takik berada pada jarak 28 mm dari ujung benda uji, kedalaman
takik 2 mm dari permukaan benda uji, dengan sudut takik 45 derajat. Bentuk takik
berupa huruf U, V , key hole (seperti lubang kecil). Benda diletakkan dengan
tumpuan posiisvertikal dan dijepit menyebabkan pengujian berlangsung lama,
sehingga tidak cocok digunakan pada pengujian dengan temperatur yang
bervariasi. Sedangkan ayunan bandul dari arah depan takik dengan pembebanan
dilakukan dari arah muka takik.

Gambar 2.3 Batang Uji Izod


Pengukuran lain yang ?ela dilakukan dalam pengujian impak charpy adalah
penelaahan permukaan untuk menentukan jenis perpatahan (fractografi) yang
terjadi. Secara umum sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji ?elat
maka perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis perpatahan, yaitu :

o Perpatahan berserat (fibrous fracture), yang melibatkan


mekanisme pergeseran bidang-bidang Kristal di dalam
material / logam (logam) yang ulet (ductile).
o Perpatahan granular / kristalin, yang dihasilkan oleh
mekanisme pembelahan cleavage pada butir-butir dari
material / logam (logam) yang rapuh (brittle).
o Perpatahan campuran, merupakan kombinasi kedua jenis
perpatahan di atas.
Informasi lain yang dapat diperoleh dari pengujian impak adalah
temperatur transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang
menunjukkan transisi perubahan jenis temperature yang berbeda-beda maka akan
terlihat bahwa pada temperature tinggi material akan bersifat ulet (ductile).
Sedangkan pada temperatur rendah material akan bersifat rapuh atau getas
(brittle). Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada
temperature yang berbeda dimana pada temperature kamar vibrasi itu berada
dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila
temperature dinaikkan (ingatlah bahwa energy panas merupakan suatu driving
force terhadap pergerakkan partikel atom bahan). Vibrasi atom inilah yang
berperan sebagai suatu penghalang (obstacle) terhadap pergerakan dislokasi pada
saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar.
Dengan semakin tinggi vibrasi itu maka pergerakan disklokasi menjadi
relative sulit sehingga dibutuhkan energy yang lebih besar untuk mematahkan
benda uji. Sebaliknya pada temperature dibawah 0 derajat celcius, vibrasi atom
relative sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi
menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan dengan
energy yang relative lebih rendah. Informasi mengenai temperature transisi
menjadi demikian penting bila suatu material akan didesain untuk aplikasi yang
melibatkan rentang temperature yag besar, misalnya dari temperature dibawah 0
derajat celcius hingga temperature tinggi diatas 100 derajat celcius. Contoh
system penukar panas (heta exchanger). Hamper semua logam berkekuatan
rendah dengan struktur Kristal F seperti tembaga dan alumunium bersifat ulet

pada semua temperature sementara bahan dengan kekuatan luluh yang tinggi
bersifat rapuh.
Bahan keramik, polimer dan logam-logam BCC dengan kekuatan luluh
yang rendah dan sedang memiliki transisi rapuh-ulet bila temperature dinaikkan.
Hampir semua baja karbon yang dipakai jembatan, kapal, jaringan pipa dan
sebagainya bersifat rapuh pada temperature rendah.

Gambar 3.3 Efek temperature terhadap ketangguhan impak beberapa bahan.

BAB 3
LANGKAH PERCOBAAN

3.1 Alat
Alat yang digunakan untuk melakukan uji impact adalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mesin merk FRANK type 580 M


Dry ice
Gergaji besi
Es batu
Water heater
Air (aquades)
Jangka sorong
Stopwatch

3.2 Bahan
Bahan yang digunakan untuk melakukan uji impact adalah specimen ASTM A131
dengan pengujian stanar JIS Z 2242
3.3 Langkah Percobaan
Langkah percobaan untuk melakukan uji impact adalah sebagai berikut
1. Percobaan ini di lakukan pada kondisi temperature -20 , 0 dan
100
2. Ukur dimensi specimen (panjang, lebar dan tebal) sampai tiga kali
3. Untung menghitung energy secara teoritis seperti yang telah di
rumuskan dalam hokum kekekalan tenaga, maka terlebih dahuu harus
dihitung panjang batang bandul (1) dan berat bandul (W)
4. Bentuk U notch dengan menggunakan gergaji besi
5. Letakkan specimen pada landasan, specimen diletakkan sesuai dengan
metode charpy
6. Bandul dinaikkan setinggi h atau sebesar sudut 156
7. Atur posisi jarum penunjuk skal pada posisi nol
8. Bandul di lepas

9. Catat sudut akhir bandul dan energy yang dibutuhkan untuk


mematahkan specimen
10. Hitung energy dan impact strength
11. Gambarkn pola ptahan dari ketiga variasi temperature

3.4 Flowchart

mula
specimen ASTM A131

Ukur dimensi awal

Buat U notch dengan


gergaji

Pasang spesimen
Pada landasan sesuai
Metode charpy

1. Bandul dinaikkan setinggi h


2. atau sebesar sudut 156

Atur posisi jarum penunjuk

Bandul di lepas

Catat sudut akhir specimen

Hitung energy dan impact strength

Gambarkn pola ptahan dari


ketiga variasi temperature

selesai

DAFTAR PUSTAKA

Modul Praktikum Destructive Test. 2011. Depok : Laboratorium Metalografi dan


HST Departemen Metalurgi dan Material FTUI.

Callister, William D. 2007. Materials Science and Engineering: an Introduction.


New York: John Wiley & Sons, Inc.